FF YeFany – Beautiful Days (2/2 – End)

Image

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Title : Beautiful Days

Cast : SNSD Tiffany, Super Junior Yesung

Genre : Romance

Rating : PG-15

Part 2 — End

Yesung tidak masuk sekolah.

Tiffany berpikir, ini aneh. Yesung tidak pernah absen walau bumi terbelah dua sekali pun. Dan kalau sekarang namja itu tidak masuk sekolah…. Mungkinkah ? Mungkinkah karena kejadian semalam?

Tapi masa iya?!

‘Apakah dirinya sudah keterlaluan ?’

Sedikit rasa sesal menghinggapi Tiffany. Yesung, dia teman baik. Meskipun sikapnya menyebalkan. Yeah, dia sangat menyebalkan. Sikap menyebalkannya bahkan terlanjur menumpuk hingga mengubur sikap baiknya selama ini. Terlalu banyak kekacauan yang berakar dari ulah Yesung semalam. Mulai dari masalah Heechul sampai kalimat seronohnya didepan Tiffany. Mengingat itu, kekesalan dalam diri Tiffany langsung mencuat kembali.

‘Tiffany tidak suka membenci Yesung tapi namja itu memang pantas menerima kebenecian darinya, bukan?’
Yesung sudah keterlaluan. Tiffany membencinya, membenci Yesung, Kim Jong woon, si kepala besar, manusia jadi – jadian atau apalah namanya ! Titik.

Berniat menyegarkan matanya yang mulai berkunang – kunang, Tiffany bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju kamar mandi. Setelah berjalan terhuyung dan sampai di kamar mandi, Tiffany berdiri didepan cermin westafel, menatap wajahnya sendiri yang terlihat suntuk. Tiga detik kemudian, Tiffany menyalakan kran dan mencuci wajahnya.

“Kalung bintang yang diberikan Heechul Oppa sudah aku kembalikan. Yah aku lelah menjadi pacar bayangan, selama ini kami berhubungan tapi murid – murid disekolah tidak ada yang tahu satu pun, karena dia terlalu cuek jadi kuputuskan saja hubungan itu. kulihat dia terpukul tapi kudengar dia sedang mendekati yeoja lain…”

Tiffany berhenti membasuh wajahnya ketika dua orang yeoja tiba – tiba masuk. Tiffany menoleh kebelakang, melihat Mereka yang sudah berdiri didepan cermin westafel dibelakangnya.

“Benarkah Heechul Oppa mendekati yeoja lain? Siapa?!”

“Mmmm, Siapa ya namanya, Steph… Tiff.. aku lupa.”

“Kukira Heechul Oppa ingin mencari suasana baru, maksudku mencari sebuah pelampiasan, iya kan?”

“Entahlah ! Tapi kurasa dia harus meluangkan sedikit waktu untuk yeojachingunya dan jangan terlalu sibuk dengan kegiatan organisasi kalau menginginkan yeoja itu bertahan dengannya.”

“Taeyeon-ah, sayang sekali, padahal kalian sudah setahun lebih ya…”

“Ck, Biarkan saja.”

‘Yeoja tadi adalah Taeyeon?’

Tiffany berdiri kaku didepan westafel. Ia menatap sekali lagi wajahnya didepan cermin. Dua bola matanya sudah tertutup oleh genangan. Lalu Tiffany memejamkan mata. Genangan – genangan yang tadi Ia lihat tertumpah. Genangan itu sudah mengalir bersama kesesakan dalam dadanya.

Jadi benar? Kalung itu benarkah milik Taeyeon? Dan tentang Heechul, benarkah orang itu tidak sebaik yang Tiffany kira…
Penuturan Yesung, benarkah?

……………..

“Boleh aku tahu kenapa Yesung tidak masuk sekolah ?” Tiffany memberanikan diri untuk bertanya pada Ryeowook dan Eunhyuk setelah jam istirahat. Mereka menatap Tiffany lamat – lamat. Tiffany langsung menunduk tidak berani bertemu mata dengan mereka.

“Dia mungkin sedang ada urusan…”

Tiffany mendongak, “Benarkah ?”

“Mungkin.” Eunhyuk mengangkat bahu, “Kenapa tiba – tiba kau menghawatirkannya ? Bukankah—“

“Miane.” Potong Tiffany menunduk menyesal, ia tahu Eunhyuk akan membahas kejadian semalam. Lalu Eunhyuk menarik napas.

“Dia hanya ingin lebih dekat denganmu seperti saat kalian masih kanak – kanak.” Eunhyuk menyambung, “Maksudku mencari perhatian dengan menggodamu. Yeah, dia tidak bisa memikirkan cara lain, selain membuatmu kesal. Dia memang tidak kreatif dan aneh… Jadi kalau ada kata – katanya yang menyinggungmu, jangan diambil hati.”

Tiffany mengangguk, “Aku tahu..” ucapnya menghela napas kemudian berbalik menuju bangkunya.

“Tiffany-ah..”
Suara Ryeowook memekikkan namanya. Tiffany menoleh.

“Kami juga minta maaf karena selama ini sering mengganggumu… Mianhae.”

“Nde, gamawo.” Balas Tiffany tersenyum. Ia kembali berjalan lemas setelahnya lalu duduk menelungkupkan wajanya diatas meja.

Harusnya Tiffany tidak menganggap serius ucapan Yesung semalam. Yesung memang suka membual. Dan Tiffany tidak harus berbuat sejauh itu…
………..

Sore hari pada jam ketiga pelajaran berlangsung, Tiffany melompati pagar belakang sekolahnya. Ia nekad melakukan hal itu karena sudah meminta izin secara baik – baik sejak tadi bahkan berpura – pura sakit agar diperbolehkan pulang, tapi hasilnya nihil. Para sosaengnim disekolahnya seolah punya indra keenam untuk mendeteksi kebohohan. Tapi untunglah aksi kabur secara illegal yang dilakukan Tiffany sukses. Ini juga tidak lepas dari bantuan Ryeowook dan Eunhyuk. Setelah dipaksa, mereka akhirnya bersedia membantu Tiffany untuk mengalihkan perhatian satpam sekolah sehingga dirinya bisa kabur.

Selama satu jam, Tiffany hanya duduk gelisah di halte bus. Saat bus berwarna merah datang, Tiffany bangkit untuk menaiki bus yang siap mengantarkannya kerumah Yesung. Namun Ia kembali duduk di kursi halte, membiarkan bus tersebut dan angkutan lainnya pergi begitu saja.

Tiffany terus menimbang – nimbang di halte. Begitu seterusnya hingga sudah empat bus terlewatkan.
Sekarang sudah lima bus… tidak maksudnya enam bus.

Tiffany bagaikan orang linglung yang kehilangan arah. Tanpa mengingat apa yang sudah dilakukannya sepanjang perjalanan tadi, tahu – tahu Tiffany sudah berdiri didepan pintu apartemen Yesung. Tangannya menggantung diudara ketika akan memenecet bel pintu. Tiffany mengambil napas sebanyak mungkin seraya memikirkan kalimat yang akan Ia ucapkan didepan Yesung nanti.

‘Ting Tong’

Suara bel akhirnya terdengar. Tiffany menggigit birbir bawahnya, menunggu tuan rumah didalam membukakan pintu untuknya. Ia memencet bel sekali lagi ketika tidak ada sahutan dari dalam.

Tiffany mulai merasa aneh ketika Ia berkali – kali memencet bel pintu tetapi belum ada satu pun yang membukanya, bahkan nada sahutan saja tidak ada.

‘Apa mereka sedang keluar?’

‘Ceklekk’  Tiffany terlonjak karena ternyata pintunya tidak dikunci. Tiffany menengok kanan kiri. Tidak ada orang lewat satu pun. Ia lalu menyembulkan kepalanya dari daun pintu. Menilik suasana ruangan itu memang terlihat sepi.
“Annyeong…” sahut Tiffany tetapi keadaan masih sama. Sepi.

Karena begitu penasaran, Tiffany mendorong langkahnya untuk masuk kedalam ruangan. Ia mulai mengamati barang – barang disekitarnya. Ekspresi wajahnya masih biasa namun ketika langkahnya sudah sampai diruang tengah, ekspresi biasa – biasa itu berubah menjadi tercengang. Tiffany mematung tidak percaya. Matanya sulit berkedip melihat sesuatu menakjubkan didepan wajahnya.

Berantakan. Posisi sofa merah disamping televisi yang miring. Barang – barang lain seperti buku, kaos bahkan sendok tergeletak dilantai. Ditambah lagi lantainya basah seolah apartemen ini baru saja kebanjiran.

Mata Tiffany memicing kearah sisi dinding. Benda aneh yang menggantung didinding itu tampak seperti…
Tanpa basa – basi, Tiffany bergagas menyentuh tali tambang yang tergantung disamping jendela. Tali tambang itu berbentuk bulat diujungnya. Tiffany kemudian meremas tali itu dengan tangan bergetar, mungkinkah ?

Lagi – lagi jantung Tiffany berpacu, Ia melihat vas yang pecah disamping meja televisi. Disebelahnya tampak pula beberapa tetes cairan merah mengalir berceceran dilantai. Tiffany mendekat lagi kearah cairan merah itu dan mengamatinya. Tiffany sesak napas mengetahui kalau Cairan merah kental itu tampak seperti… AKhh Tiffany mengerang frustasi dan terus mencoba berpikir positif. Yesung tidak mungkin melakukan perbuatan terlarang itu…

Masa iya, gara – gara Tiffany meninju wajahnya, Yesung … BUNUH DIRI ?!

“Andwae !!!” Tiffany bersimpuh menelungkupkan wajahnya dan berteriak, “Yesung-ah kenapa kau lakukan ini padaku ?! Katakan ini tidak benar ! Katakan kalau kau masih bernapas didunia ini ?! Hikzz…” tangisnya tersedu – sedu sambil memegang lehernya karena terbatuk berkali – kali.

“Tuhan, Tolong kembalikan Yesung. Kalau pun dia sudah berada disisi-Mu sekarang tolong hidupkan lagi…”

“Tapi Tuhan, kalau pun Engkau tidak mau mengembalikan Yesung, aku mohon ampunilah dosa – dosanya, terutama dosa – dosanya padaku hikz….” Tiffany menyeka air matanya.

“Tuhan, Engkau pasti tahu kalau dulu sejak usia kanak- kanak aku selalu bermain dengan Yesung Hikzz… Kami sudah seperti kembar identik dan… dan suatu saat aku bilang kalau aku menyukai Yesung, Aku bilang ‘saranghae’ padanya tapi apa?! Dia menolakku. Jahat bukan ?!”

“Dia bilang kalau aku masih terlalu kecil dan… DAN AKU TIDAK TERIMA…”

Tiffany Histeris sendiri. Ia menetralkan detak jantungnya lalu berbicara sendiri sambil meratap, “Sampai dewasa aku sudah berjanji kalau aku… Kalau aku ‘tidak akan’ pernah bilang suka lagi padanya sampai kapan pun.”

“Demi janjiku itu, aku mulai berusaha membencinya meski dia mendekatiku beberapa kali, aku berusaha tidak tergoda. Aku hanya ingin rasa sayangku untuknya lenyap tapi… tapi… Huaaaa….”

“Dan sekarang dia sudah Tidak ada… Yesung sudah menghilang dari dunia ini !!!”

“Tiff…”

Tiffany menahan isakannya ketika terdengar nada panggilan dari belakang. Tiffany menoleh, ia mengerjapkan mataya berkali – kali.

“Ye-yesung?”

Tiffany bangkit. Ia berlari kearah Yesung lalu meraba – raba wajah namja itu, “Apa ini benar benar kau ?!” pekik Tiffany membuat Yesung sedikit tidak nyaman. Beberapa detik kemudian, Ia lalu memeluk namja dihadapannya seerat mungkin. Tiffany melepaskan pelukan itu beberapa detik lagi setelahnya.

“Kau masih hidup, kan?!”

“Huh?”Yesung kian menatap bingung. Tiffany yang menyadari kebingungan Yesung lalu tertegun. Memory otaknya mulai memutar ulang peristiwa sebelumya, tentang tujuan Ia datang ke apartemen Yesung sampai menemukan ketidakberesan dalam apartemen itu. Tiffany berteriak seperti orang gila karena mengira… lalu…

O-omo !” Tiffany menutup wajahnya yang Ia yakini sudah seperti tomat rebus. Kenapa dirinya sangat bodoh. ‘Baboo-ya’ batin Tiffany sambil menggetok kepalanya sendiri. Sedangkan Yesung, namja itu sibuk mencerna sikap Tiffany.
………………..

“Kau mendengarnya ?”

“Mendengar apa?”

Yesung nampak serius mengobati luka ditelunjuk Tiffany akibat tergores vas pecah yang berserakan dilantai. Tiffany memang bersimpuh disamping pecahan itu ketika dirinya histeris tadi. Memalukan. Sangat memalukan karena tenyata Yesung masih ada didunia ini dan tidak melakukan hal- hal aneh, seperti dalam pikiran Tiffany.

“Kau pasti mendengar apa yang kukatakan tadi bukan ? Jujurlah, please.” Ujar Tiffany dengan wajah memelas. Ia juga memasang aegyo-nya agar Yesung bisa meyakinkannya. Tiffany lebih berharap Yesung berkata, ‘Tidak ! aku tidak dengar.’

“Aku mendengarmu.” Timpal Yesung setelah menghela napas. Tiffany mendelik kearahnya. Yesung lalu buru – buru menambahkan,

“Tapi ucapanmu tadi samar – samar ditelingaku, pu-as?”

Tiffany mengerucukan bibirnya. Ia mengangguk seraya mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan Yesung adalah hal sebenarnya. Yesung hanya mendengar jeritan Tiffany, sama – samar.
Setelah Yesung selesai membalut luka Tiffany. Namja itu berdecak dan berkata, “Dasar anak nakal, ck! Lain kali berhati – hatilah.”

Tiffany tiba – tiba saja menyentuh kening Yesung, menyingkirkan poni yang menutupi sepertiga wajahnya. Tiffany mencoba mencari luka memar akibat hantaman tinjunya semalam.

“Kau sendiri, bagaimana keningmu?!”

“Kalau lukanya bersentuhan dengan tanganmu, kurasa akan langsung sembuh.” Yesung terkekeh. Tiffany menjitak kening Yesung, membuat namja itu mengaduh kesakitan.

“Ngomong – ngomong kenapa rumahmu berantakan sekali ?” Tiffany memajukan wajahnya ingin tahu.
Yesung menatap Tiffany sambil berpikir sebentar,“Eumm… Itu karena keponakanku datang kemari dan aku harus menjaganya seorang diri. Kau tahu ? Anak itu sangat merepotkan. Ia main air, menumpahkan cat pewarna bahkan sampai memecahkan vas. Dia lompat – lompat diatas meja dan aku sampai harus menggantung tali tambang di samping jendela untuk menakut – nakutinya.”

Tiffany manggut – manggut mendengar penuturan Yesung yang sudah sepanjang tembok China. Jadi, tali tambang itu hanya untuk menakut – nakuti anak kecil ?!

“Tapi tenanglah, sekarang anak itu sudah kukurim keasalnya. Untunglah, aku hampir gila. Saking bandelnya aku bahkan sampai lupa mengunci pintu ketika akan menuju parkiran. Aku heran kakakku itu menyidam apa sampai anaknya bisa jadi superhero macam begitu. Aneh bukan?”

“Itukah alasanmu tidak masuk sekolah ?”

Yesung mengangguk, “Bisa jadi.” Jawabnya santai, tidak lama ia menggerling, “Kenapa ? Menghawatirkanku ya?!”

“Andwaeyooo.” Tiffany membulatkan mata. Ia mendorong pundak Yesung, membuat namja itu berdecak.

“Ei… kau cemberut terus dari tadi.” Yesung mencolek dagu Tiffany. Lalu Tiffany menepisnya mentah – mentah.

“Bagaimana kalau kita nonton film?”

Tiffany berpikir seraya melipat kedua tangannya, “Aku tidak berselera nonton—“

“Ayolah, jangan sok jual mahal.” Yesung menarik tangan Tiffany sebelum yeoja itu menyelesaikan kalimatnya. Tiffany berteriak minta dilepas. Jujur saja, melihat keadaan apartement Yesung yang berantakan membuat Tiffany kehilangan mood.

“Kukira kau akan suka film-nya.”
Tiffany menahan suara kekehannya dalam hati, “Sincahh?!” pekik Tiffany seraya memasang ekspresi tidak ikhlas yang menyebalkan,

“Kalau begitu mari, biar kulihat seberapa me-na-riknya-kah film itu.”

………………

Guncangan tawa dari dalam perut Tiffany nampaknya sudah menyumbat lubang telinga orang disampingnya. Penyebab utama dan satu – satunya sampai Tiffany terpingkal tanpa henti layaknya over dosis hormon kegembiraan itu adalah karena menonton film komedi sketsa (?) Film yang kata Tiffany ‘tidak berselera’ untuk ia tonton. Yesung merasa kalau Tiffany tidak begitu pandai mempertahankan gengsinya. Mati – matian bilang tidak berselera, tapi reaksinya sangat berlebihan ketika menonton film itu.

“Hahaha,,, aduhh… aduh ..…Aku sesak napas..” Tiffany memegang pinggangnya sambil bungkuk – bungkuk. Ia tertawa kembali setelahnya. Tertawa lepas, lagi – dan lagi bahkan sampai menepuk lantai sekaligus orang disekitarnya. Yesung benar – benar jadi pelampiasan dari pukulan refleks Tiffany yang tidak mampu lagi menahan tawa.

“Yak Tiff, berhenti memukulku.” Protes Yesung tidak tahan karena terus – menerus dipukuli. Bahkan Tiffany sampai menjambak rambutnya.

“Mian heeehhe…Miane… Mianhaeyo.” Tiffany berbicara tersendat – senadat karena Ia masih berusaha meminimalisir tawanya. Tiffany menarik napas sambil menetralkan detak jantungnya yang berdebar – debar akibat getaran tawa di perutnya.
Yesung baru saja akan menanggapi permintaan maaf itu, tapi semua percuma, Yesung serasa menelan pita suaranya sendiri begitu menyambar wajah Tiffany yang terlanjur mengunci pandangannya. Yesung terhanyut menikmati moment langka, menatap Tiffany dari samping entah yeoja itu sadar atau tidak.

“Wa-wae?” Tiffany menatap Yesung takut – takut. Bagaimanapun, tatapan dari ekor matanya juga didukung oleh insting seorang yeoja, membuat Tiffany tahu kalau Yesung sedang menatapnya lama sampai membatu seperti itu.

“Wae? Ada sesuatu diwajahku?”

“Eoh ?” Ia keget, “Anio… Hanya saja…” Yesung menggantung ucapannya, Ia menatap Tiffany serius, “Hanya saja aku senang kau ada disini. Anu… Kukira hari ini akan menjadi hari yang membosankan… Maksudku mungkin kau menghawatirkanku—“ungkapnya masih menatap Tiffany yang kelihatan menunggu kalimat lagi sesudah itu.

“Kau memang selalu senang kalau ada aku, bukan ?” Tiffany terkekeh sebelum menimpali. Lagi – lagi bibirnya melengkung seperti itu. Yesung tertegun kembali. Kalau saja dari tadi Yesung menyampaikan dengan jujur apa yang ada dalam pikirannya, bahwa ia ‘ingin tiffany terus berada disisinya, bukan karena kasihan atau karena rasa hawatir, tapi lebih dari itu’. Andai kata Yesung mengucapkannya, apakah Tiffany masih bisa terkekeh seperti tadi ? Tiffany kemungkinan menjerit histeris kemudian kabur detik ini juga, atau meninjunya lagi seperti semalam.

“Bagaimnana pun gomawo.” Yesung mengacak rambut Tiffany seraya berusaha menepis bayangan Tiffany dari benaknya.

“Tidak, jangan begitu…” runtuk Tiffany tiba – tiba. Ia menggigit bibir bawahnya lalu berkata penuh sesal, “Aku.. Aku benci mengatakan ini tapi akulah yang seharusnya berterima kasih, padamu.” Tiffany menelungkupkan wajah, “Heechul sunbae…” ucapnya menarik napas lalu berkata lagi, “ Heechul sunbae, nyatanya tidak sebaik yang aku kira. Mungkin dia baik tapi.. Tapi bukan namja seperti itu yang kuinginkan.”

“Heechul ?”

“Kalung pemberian Heechul adalah kalung Taeyeon. Kau benar, kalung bintang itu punya Taeyeon. Taeyeon adalah mantan Heechul sunbae.” Tiffany berdehem ketika situasi hening menyelimuti mereka, “Dan tentang kejadian semalam, aku memukulmu miane.”

Yesung mengerutkan kening. Tiffany tersenyum nanar, “Kupikir aku hanya salah paham dengan kata – katamu yang mau mengerjaiku mungkin…” jelasnya lalu tiba – tiba memasang wajah cemberut, “Dan itu juga karenamu ! Siapa juga yang menyuruhmu memasang tampang pervert—“

Tiffany menggantung ucapannya lalu menekuk wajah, “Se-semalam wajahmu berubah dingin dan menyeramkan. Bukan hanya semalam, bahkan kemarin siang saat Heechul sunbae selesai menemuiku dikantin, kau tidak menegurku sama sekali, dan semalam kau juga berkata begini, ‘kalau aku mengucapkan saranghae Tiffany, apa tanggapanmu ?’ itu membuatku gugup, kau tahu?!” Aishh … Jebal, sebaiknya jangan lagi bersikap seperti itu—”

“Diamlah.” Yesung menginterupsi. Tiffany membatu ketika Yesung menatapnya dalam hening, “Bisakah kau… berhenti berpikir kalau aku main – main ? Bisakah ?!”

“Huh?”

Tiga detik berikutnya, Yesung menunduk, merasa bersalah melihat ekspresi Tiffany yang berubah takut. “Miane Aku, aku tidak suka Heechul, aku tidak suka kau menerima benda apa pun darinya… Aku cemburu, kupikir yeah..”
Tiffany bergeleng. Ia tidak mau percaya kalau dunia terbelah dua setelah benaknya merekam peryataan Yesung. Tiffany juga tidak merasa kalau nadinya berhenti berdenyut.

Karena sekarang bumi masih utuh dan Tiffany masih bernapas bahkan jantungnya terus berpacu. Hanya saja Tiffany merasa kalau ini seperti lelucon, Yesung cemburu.

“Aku sungguh – sungguh, Tiffany-ah.”

Tiffany mendongak. Yeoja itu terlambat menyadari kalau tatapan Yesung kembali menguncinya beberapa detik lalu.

“Selama ini aku sadar kalau aku tidak suka.… seandainya ada namja yang dekat denganmu atau mencoba mendekatimu. Maksudku… aku ingin kau mempercayaiku, percaya kalau aku memang..”

Tiffany mencoba membuka bibirnya yang bergetar, sementara Yesung buru – buru menarik napas lalu menghembuskannya keras,

“Lupakan saja!”

“Apah?” Kedua mata Tiffany membulat seolah meminta penjelasan lebih. Yesung terlalu bertele- tele dan Tiffany ingin agar semua lebih nyata.

Sekali lagi Yesung menatap wajah Tiffany yang masih terpaku didepannya. Yesung tahu kalau tidak ada yang salah dari mata Tiffany yang bersinar seperti purmana , bibirnya yang ranum juga seperti kepunyaan yeoja pada umumnya, tapi ada sesuatu hal yang membuat Yesung merasakan sensasi aneh.

Perasaan yang terpasung lama akan meronta beribu kali lipat. Dan itu sakit.

Tiba – tiba Tiffany merasakan puncak kepalanya tertimpa sesuatu. Tiffany memejamkan mata, meresapi benda hangat menyapu telinganya juga sentuham halus menggapai rambutnya. Yesung mencium… dia menciumnya?
Beberapa detik terlewati…

Tiffany menyentuh puncak kepalanya ketika Yesung bergerak menjauh. Ia berdehem, “Aku ingin membuatkanmu sup kentang kalau kau mau…” Ucap Tiffany sedikit gugup. Yesung lantas mengangguk.

“Silahkan.”

Lebih dari sekedar menyenangkan. Tiffany memasak sup kentang untuk Yesung. Namja itu menawarkan diri untuk membantunya di dapur tapi Ia menolak mentah – mentah karena apa?, Yesung kemungkinan besar akan menghancurkan dapurnya sendiri. Dipenghujung sore, tubuh Tiffany membutuhkan asupan lebih, persisnya Tiffany kelaparan. Begitu pula dengan Yesung. Dan Tiffany tidak mau gara – gara mereka lapar, apartemen Yesung hancur apalagi sampai terbakar.

Tiffany tahu sejak kecil Yesung sangat menyukai kentang. Setiap hari menu makanannya tidak lepas dari benda satu itu. Bibi Jung, pembantu keluarka Kim sering memasak untuknya. Orang tua Yesung sendiri tengah sibuk dengan pekerjaan mereka jadi baru pulang saat malam.

Bagaikan mengulang memori dua belas tahun lalu ketika. Dirinya dan Yesung menikmati sup kentang berdua. Tiffany menghirup kepulan – kepulan asap yang menguar diatas sup kentang dengan nikmatnya dan bilang, “Sekarang aku sudah bisa memasak sup kentang. Kita tidak perlu lagi pergi jauh untuk menikmati sup yang enak ini.”

“Aku tidak yakin ini enak.” Yesung berkata dengan tampang ragu, meski tampak dibuat –buat. Ia ingat saat kanak – kanak, mereka pernah naik bus berdua ketempat yang jauh hanya untuk menikmati sup kentang paling enak di Seoul. Orang tua mereka tentu saja hawatir. Nyonya Hwang, umma Tiffany menangis dan hampir saja pingsan karena anaknya yang kala itu masih berusia enam tahun belum juga diketemukan.

Ei… Coba dulu ! Akan kubuat kau menyesal dengan kata – katamu.” Tiffany tidak mau kalah.

Yesung terkekeh sebelum ia memakan sup kentang dihadapannya yang ternyata lumayan… enak. Yesung mengagguk lalu menatap

Tiffany dengan senyuman,”Rasanya dibawah standard.”

Tiffany tersedak, “M-Mwoo?!” Ia lalu mencicipi sup kentangnya sendiri dengan rakus.

Belum selesai Tiffany menemukan rasa aneh dari sup kentangnya, Yesung tersenyum lagi, “Anio… aku berbohong. Ini enak, Gomawo.” Yesung mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Tiffany. Yeoja itu tidak jadi marah pada akhirnya, ia menghela napas.

“Kau sangat berharap aku menyukai masakanmu, bukan?”

“Ten— ehh…” Tiffany meralat. Ia tidak mau Yesung besar kepala karena namja itu pasti akan merespon berlebihan, “Biasa saja.” Jawab Tiffany mengangkat bahu.

Yesung tertawa dan mulai menikmati makanan dihadapannya itu tanpa bersuara. Tiffany mengerutkan kening memperhatikan Yesung sedikit demi sedikit. Sambil melahap makannya, Tiffany mencuri pandang kearah Yesung. Biasanya kalau sudah seperti itu, Yesung akan balik menatapnya, tatapan mereka kerap bertemu dan Tiffany hampir saja terjengkal dari kursinya.
Tiba – tiba Yesung mengeluarkan suaranya. Ia mulai bercerita tentang teman – teman mereka dikelas. Ia juga bertanya tentang pendapat Tiffany tentang dirinya selama ini. Tiffany tentu saja langsung mengutarakan kekesalannya, termasuk tingkah Yesung yang selalu menggodanya ketika dikelas. Yesung sempat terdiam sebelum Ia meminta maaf kepada Tiffany, membuat Yeoja itu tidak jadi melanjutkan aksi kesalnya.

Sudah pulang pukul enam sore, Tiffany merasa tubuhnya sedikit lelah. Ia pamit lebih dulu kemudian Yesung mengantarnya sampai kedepan pintu. Ketika sudah di depan, Tiffany berbalik dan menemukan Yesung berdiri sambil tersenyum.

“Mianhae, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Jaga dirimu baik – baik, arasseo?” Yesung menepuk kepala Tiffany. Tiffany menepis tangan Yesung. Ia berkacak pinggang sambil menatap selidik,

“Kenapa sekarang sikapmu berbeda? Tersenyum lembut padaku, mengacak rambutku, men-nencium kepalaku… kau… kau benar – benar menyukaiku ?” Tiffany memberanikan diri untuk bertanya meski lehernya serasa tercekat. Yesung terkejut. Matanya yang sipit semakin membesar, dan wajahnya yang kekanakan mulai menitihkan butiran peluh.

“Aku…”

“Bilang saja, kau suka padaku atau tidak?!” Tiffany mendesak, Yesung mengacak rambutnya sendiri lalu membentak Tiffany.

Aishh dasar, bagaimana mungkin seorang yeoja membahas tentang hal seronoh seperti itu?”

“Kenapa? Sekarang kan sudah zaman emansipasi.” Tiffany menjulurkan lidahnya.
Bibir Yesung yang gemetaran mulai terbuka sedikit. Ia ingin berkarta sesuatu tapi akhirnya malah berdecak, “Sudahlah pulang sana. Sampai besok, annyeong!”

Yesung menutup pintunya dan… Braakk !

Tiffany menghela napas. Ia memajukan bibirnya sambil meruntuki dirinya berkali – kali. Bodoh, bodoh, bodoh ! Untuk apa Ia berbicara seperti itu didepan Yesung ? Setelah penolakan Yesung atas dirinya ketika mereka masih kanak – kanak, Tiffany sudah berjanji tidak akan berbicara ‘tentang perasaan suka’ didepan Yesung, tapi sekarang ?

Mungkin seharusnya Tiffany tidak datang kemari ! Yeoja itu menunduk lemas pada akhirnya dan mulai berjalan menuju pintu lift. Tiba – tiba langkahnya tertahan. Tiffany membatu ditempat, dua matanya sulit berkedip. Dua tangan Tiffany kemudian meraba dengan kaku lengan seseorang yang mengitari lehernya.

“Aku memang menyukaimu, kenapa harus bertanya lagi ? Selama ini aku berusaha menunjukkannya lalu, bagaimana dengan sikapku ? Tidak bisakah kau melihat itu?” Yesung mendekap pundak Tiffany dari belakang. Yesung memejamkan mata, berusaha mengontrol debaran jantungnya yang seolah akan melompat sebentar lagi sedangkan Tiffany masih diam membeku. Dua kata yang berhasil Ia cerna. Kalau Yesung benar – benar membuatnya… sesak napas.

Buru – buru Yesung melepaskan dekapannya. Ia mundur selangkah, tidak berani menatap wajah Tiffany yang belum juga bergerak. Tiffany pasti terkejut karena sikap mendadak itu. Yesung membuang napas bersalah, “Mianhae… Mian.”

“Mungkin, lebih baik aku menjauh sekarang.” Putus Yesung setelah lima detik kemudian Tiffany belum juga merespon. Yesung mulai berbalik kearah pintu apartemennya sebelum suara Tiffany menginterupsi.

“Tunggu…”sahut suara itu diiringi suara tepakan langkah yang mendekat, “Tunggu.” Tiffany menggenggam lengan Yesung dan memaksa namja itu berbalik secepatnya.

~Chup~

Tiba – tiba Tiffany mengecup pipi Yesung, membuat namja itu mematung. Ia menatap Tiffany tidak percaya.

“Apakah kau berpikir aku tidak menyukaimu ? Lalu bagaimana dengan sikapku barusan, tidak bisakah kau melihat itu?” Tiffany mengulangi kalimat Yesung saat mendekapnya tadi. Tiffany berusaha menatap serius. Mendengar ocehan Tiffany, Yesung malah tertawa seraya sibuk menyentuh pipinya, “Aigooo… Apa-apaan kau ini…”

“Hanya mencoba mengulang kata – katamu.”

“Jadi kau menyukaiku?”

Tiffany mengangguk, “Aku menyukaimu dari saat kita kanak- kanak sampai hari ini, ingat ?”

Yesung memicingkan matanya sambil menerawang. Beberapa detik namja itu masih sibuk meraba – raba maksud dari ucapan Tiffany. Masa kanak – kanak? Tiffany menyukainya sejak kanak – kanak… Dan tiba – tiba Yesung ingat kalau Tiffany yang pernah mengutarakan rasa sukanya dulu. Tapi Ia tolak.

Yesung tertawa. Tiffany melipat tangannya didada sambil menatap cemberut, “Sudah puas menertawaiku ?”

“Kau marah ?”

“Menurutmu ?”

Yesung berpikir sejenak “Baiklah meskipun sedang marah, Kau harus mengingat hari ini, aresseo ?!” Yesung maju selangkah lalu menepuk pipi Tiffany. Pipinya yang merah itu sudah seperti tomat rebus, “Joahaeyo, Tiffany Hwang.”
Tiffany menatap Yesung tanpa berkedip. Entah mengapa kekesalan dalam dirinya menghilang dan tertutup oleh segores senyum sumringah. Tiffany mengatur napas seraya memperlihatkan lengkungan matanya yang lebar, “Na – Nado.”
Sesudah itu, Yesung mengacak – ngacak rambut Tiffany tanpa ampun, membuat yeoja itu meniup ubun – ubunnya pasrah,

“Sudahsana, masuk !”

“Kau mengusirku?!” Yesung menatap tidak terima.

“Apartemenmu sangat berantakan. Bereskan sebelum orang tuamu pingsan.”

Yesung tertawa membayangkan penuturan Tiffany. Ia tiba – tiba teringat sesuatu disela tawanya, “Eh Tiffany ngomong – ngomong, bagaimana kau bisa sampai kesini siang – siang. Kau bilang apa pada guru – guru disekolah ? Biasanya mereka sangat selektif.”

“Oh, benarkah ?” Tiffany meringis canggung. Yesung mengangguk menatapnya.

“Itu… Ahhahaa.. tidak penting, maksudku bukankah sebaiknya aku pulang—” Tiffany menelan ludah, Yesung mungkin curiga dengan sikapnya yang mendadak gelisah. Sekarang namja itu malah mengangkat sebelah alisnya. Sedikit tersudut, Tiffany mengambil inisiatif mengecup pipi… bukan dipipi karena nyatanya , Tiffany beralih mengecup bibir Yesung. Namja itu membalasnya perlahan sebelum suara aneh menimpali dan membuat suasana terpecah.

‘Click.’ Suara aneh itu terdengar lagi kali ini dibarengi oleh kilatan blitz yang menyilaukan mata.

“Ehhmmm… ada yang habis jadian nichh…” Dari belakang sapuan suara mengagetkan Yesung dan Tiffany. Sepasang mata mereka menyipit kearah sumber suara. Tampak dua orang namja yang salah satunya sedang memegang ponsel. Mereka Eunhyuk dan Ryeowook, sahabat Yesung.

“Tiffany-ah kau harus traktir, Bagaimana pun kamilah yang membantumu kabur dari sekolah. Para sosaengnim menyuruh kami berjalan jongkok dan mereka memulangkan kami lebih awal.” Eunhyuk buka suara ketika sudah berdiri didepan dua orang yang masih tercenung. Yesung menatap kedua sahabatnya dan Tiffany tidak mengerti sedangkan Tiffany hanya mengangkat bahu membalas tatapan Yesung.
Lalu Tiffany menunduk bersalah didepan Eunhyuk. Tiffany mengingat kalau akibat permintaannya, Eunhyuk dan Ryeowook harus berpura – pura berkelahi agar Ia bisa kabur dari sekolah.

“Yakk Eunhyuk, Ryeowook ! Sedang kapan kalian berdiri disana?” Yesung berteriak mengalihkan ketidakmengetiannya akan tingkah orang – orang ini.

“Sejak kau memeluk Tiffany.” Eunhyuk teretawa lalau Ryeowook ikut menimpali, “Dan sejak aku mengabadikan moment – moment kalian.”

“Mwo?!” Tiffany dan Yesung memekik secara bersamaan.

Eunhyuk lalu menyenggol siku Ryeowook yang langsung menunjukkan layar ponselnya pada Tiffany dan Yesung. Tampak disana, foto seorang namja sedang memeluk seorang yeoja dari belakang. Ryeowook menggeser layar ponselnya lagi dan tampaklah disana yeoja yang sama, sedang berjinjit dan mencium pipi namja dihadapannya. Tiffany menyipitkan mata, dalam sedetik mata sipit itu berubah membulat. Dua orang dalam foto itu adalah… dirinya dan Yesung ?!

Saat itu Mereka sadar kalau Ryeowook dan Eunhyuk sudah mengambil gambar secara diam – diam.

“Bagaimana ? Ini berita bagus bukan? Kalian akan menjadi trending topic di kelas.” Eunhyuk menerawang sambil tertawa. Ia lalu melakukan High-five dengan Ryeowook dan tersenyum puas.

“Ryeowook, Eunhyuk, Berikan ponselnya ?!” Yesung yang mulai gerah dengan tingkah dua sahabatnya mulai berusaha merebut ponsel itu dari tangan Ryeowook, tapi tangannya terhalang olah Eunhyuk yang buru – buru menepis. Tidak sampai disitu, Yesung masih berusaha merampas ponsel yang terlempar kesana – kemari. Ponsel yang sedetik lalu ditangan Ryeowook dan sedetik kemudian ditangan Eunhyuk. Yesung berlari mengejar Eunhyuk dan Ryeowook layaknya adengan dalam film india. Suara mereka terdengar, sangat gaduh. Hingga diujung koridor mereka masih melanjutkan aksi kekanak – kanakan itu.

“Pabo-ya…” Gumam Tiffany masih terdiam ditempatnya. Ia memilih untuk tidak melakukan apa – apa dan membiarkan aksi kejar – kejaran itu berlangsung. Bagaimana pun pertunjukan tadi terlihat cukup menggelikan. Tiffany mula – mula tersenyum menatap tingkah Yesung dan kedua sahabatnya. Senyuman itu perlahan mengembang menjadi kekehan kecil. Lama – lama kekehan itu melahirkan suara tawa yang tidak mampu lagi disembunyikannya.

……………….

“Aku mencarimu – carimu tadi, ternyata kau sudah pulang.” Terdengar suara Yesung dari seberang sana. Tiffany memindahkan ponsel dari telinga kiri ketelinga kanan lalu menelungkupkan kepalanya diatas meja belajar, “Aku pulang duluan karena malas bertemu dengan dua temanmu itu.”

“Ya ya ya, aku tahu kau alergi dengan mereka…”

Tiffany tertawa geli mendengar penuturan Yesung. Ia membayangkan kalau Ryeowook dan Eunhyuk seperti halnya bakteripenyakit. Tapi kalau dipikir – pikir sepertinya mendekati. Mereka memang selalu meninggalkan masalah dimana – mana. Tiffany keluar dari gedung apartement Yesung ketika namja itu masih asik berkejar – kejaran dengan Eunhyuk dan Ryeowook. Tiffany bersyukur karena ia tidak harus mendengarkan kembali ledekan gila dari kedua orang itu. Entah besok akan bagaimana.

“Tiff…”

“Ya ?”

“Aku ingin memenuhi janjiku.”

Tiffany mengerutkan kening, Ia mengangkat wajahnya lalu menatap cahaya rembulan dari balik jendela kamarnya dilantai dua,

“Janji ? Janji apa?”

“Malam itu, kau bertanya ‘keuntungan apa yang bisa kau dapatkan kalau kita berkencan’ bukan?”

“Huh—“ Tiffany menahan suaranya ketika teringat sesuatu dimasa lalu. Otaknya secara otomatis memutar mundur kejadian malam itu.

***( “A-apa, apa yang kau lakukan ?!”
“Kau sedang bertanya, keuntungan apa yang bisa kau dapatkan kalau kita berkencan ?”
“Kau… Kau akan kulayani setiap malam.”
Tiffany tercengang. Me-laya-ni… Setiap malam ? “A-pa mak-sud—“
“YAKKKK!!!”
Buanghhh)***

“Aku akan memenuhinya sekarang.”

“MWOOOO?!” Kedua mata Tiffany membola, mulutnya menganga lebar. Tiffany benar – benar tidak percaya ini ! Bukankah Yesung hanya bercanda? Kalimat itu hanya bercandaan bukan? BERCANDA ?!

“Ehumm.. Eh kalau be—“

“Oh Baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I ….”

Tiffany tidak jadi bicara. Ia terperangah lebar ketika sesuatu menyihirnya. Ia tidak bisa memikirkan apa pun, tidak bisa mendengarkan apa pun selain… selain suaranya.

“And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine
You’ll be mine …
And I want you to be mine …
And I want you to be mine …
You’ll be mine … “

Hingga lantunan lembut dari seseorang diseberang sana berhenti, dua mata Tiffany belum juga berkedip secara normal. Tiffany tersedak oleh suaranya sendiri tidak lama kemudian. Ia membekap mulutnya untuk menahan suara aneh yang menjalar ditenggorokannya, antara suara isakan atau kekehan tawa, Tiffany sendiri belum bisa memastikan. Hanya saja, Tiffany cukup bisa memaskitan kalau sekarang dua bola matanya yang memanas dan berkaca – kaca itu sebentar lagi akan meleleh.

“Yoboseo ?Apa kau menyukainya… lagu yang kunyanyikan tadi ?” Suara Yesung berkali – kali menghentakkan Tiffany dari situasi hening beberapa detik lalu, “Tiffany-ah, kau masih hidup?”

“Eh… Nde… Mwo?” Tiffany meracau sendiri dan berusaha mencerna kalimat Yesung barusan, “Mwo- ya? Masih hidup? Memangnya aku sudah—“

“Lihat kebawah.”

“Huh?”

“Aku melihat jendela kamarmu, Disana aku juga bisa melihatmu.”

Tiffany meliukkan alisya bingung. Ia lalu tersadar akan sesuatu. Tiffany cepat cepat berdiri dan menggeser gorden kamaranya yang sejak awal hanya terbuka setengah.

Detik itu juga, mata Tiffany membelalak sempurna.

Tampak diseberang jalan sana, Yesung sedang melambai lambaikan tangannya sambil memegang sebuah ponsel. Ia tersenyum kearah Tiffany. Yeoja itu ikut melambai – lambaikan tangannya dengan gerakan ragu.
Tiffany kaget, sampai sekarang pun pikirannya belum bisa memproses apa yang sebenarnya terjadi. Tiffany masih sibuk menatap Yesung tidak habis pikir.

“Tuhan, kenapa ada orang seperti itu di dunia ini…” Ratap Tiffany. Beberapa detik kemudian Ia terkekeh ketika Yesung berbalik sambil menurunkan reusleting jaket lalu memperlihatkan punggung kaos hitamnya yang bergambar hati, kemudian gambar berwarna pink itu menyala – nyala ditengah gelap.

Yesung berbalik kembali dan mendapati Tiffany sudah membuka jendelanya. Tiffany mengangkat kedua tangangannya lalu melengkungkan benda itu dikepalanya hingga berbentuk seperti hati sambil tertawa.

“Tiff…” Suara Yesung kembali mengalun ditelepon.

“Ya?”

“Aku ingin bertemu denganmu tapi ini sudah terlalu malam. Kupikir dengan melihat wajahmu saja sudah cukup.” Yesung terdiam sebelum berkata lagi, “Tiffany-ah, Aku akan bernyanyi untukmu disetiap malam, menemanimu sampai kau memimpikanku, bolehkan?” Ucapnya terdengar penuh harap.
Tiffany menggigit bibir bawahnya guna menguatkan pijakannya dibumi. Permohonan Yesung tadi benar – benar sukses membuat Tiffany seolah meroket kelangit, “Baiklah terserahmu.” Putus Tiffany pura – pura berpikir keras . Yesung memang bercita – cita menjadi penyanyi sejak kecil dan Tiffany selalu menjadi pendengar setianya dulu… Detik ini juga… detik selanjutnya lagi, mungkin.

Yesung tersenyum cerah, kali ini nada suaranya terdengar menggebu – gebu,“Kalau begitu tidurlah tapi sebelum itu, tunggu telepon dariku… Aku akan bernyanyi untukmu sekali lagi.”

Tiffany mengangguk lekas. Sesekali Ia meyingkirkan sapuan rambut yang menghalangi wajahhnya.

“Tiff…”

“Ya?”
“Saranghaeyoo.”

“Ya.”

Terdengar decakan Yesung dari seberang sana. Tiffany tertawa dalam hati, namja itu pasti sedang memamerkan tampang jeleknya ><

“Ya sudah kalau begitu tutup jendelamu, nanti sakit.”

“Oke.”

Pelan – pelan Tiffany menutup jendela kamarnya. Benda persegi itu menutup, Tiffany langsung menekan kedua pipinya yang memanas. Tanpa sadar Ia mulai mengamati siluet Yesung yang semakin lama semakin hilang ditelan gelap. Tiffany tersenyum sesaat kemudian memegang dadanya yang serasa akan melompat keluar. Sebisa mungkin Tiffany berusaha mengatur napasnya. Ia berhitung dari satu sampai lima sebelum akhirnya menggeser gorden jendela dan menutupnya rapat – rapat.

Yeah… Tiffany menghempaskan tubuhnya dikasur lalu berguling – guling kesana kemari sambil tertawa – tawa. Merasa lelah sendiri dengan tingkahnya, Tiffany kemudian mengarahkan tatapannya kearah langit – langit kamar. Ia menghirup udara sebanyak – banyaknya dan menghembuskannya perlahan. Tiffany memejamkan mata, meresapi kebahagiaan yang Ia peroleh hari ini. Kebahagian yang dulu Ia anggap sebagai lubang kegelapan, perlahan kini menutup. Lubang itu mulai bersinar lalu berpendar mengukir wajah seseorang. Dan Tiffany akan berupaya mempertahankan seseorang itu, selama – lamanya.

Jadi, Tiffany tidak akan menyesal bertemu dengan Yesung juga melewatkan sesuatu bersama – sama hari ini, besok dan seterusnya.

“Nado saranghaeyo… Yesungie.”

  ………THE END……….

 HUhu maav kalo kepanjangan hehe…

Maav juga kalo ceritanya mengecewakan…

Semoga terhibur ><

 

8 thoughts on “FF YeFany – Beautiful Days (2/2 – End)

  1. Uni berkata:

    Uhh yeppa takut ama tiffany ya? hayoo ngaku… Nah nah akhrnya ngaku jg dehh.. Lucu wkt yeppa bilang cemburu =)
    So sweet dehh.. Ditunggu ff selanjutnya yg yefany ya eonnn ^_~

  2. HaeNy Choi93 berkata:

    Huuuyyyeeaaaah!!
    Ceritaya bener2 daebak..
    Baca part 2 ini berasa nonton drama korea.
    Percakapannya, semuanya pokoknya.. Suka,
    and well.. Akhirnya Yesung berani juga nyatain perasaan dia ke Tiffany, yeah walauun di pancing dulu, kkk ~
    q suka karakternya Tiffany disini, sediki Frontal, bawel tapi juga bisa tersipu.
    Endingnya juga tdk mengecewakan.. Pokoknya 2 Jempol deh buatmu chingu, udah bikin ff yg Daebak, keren kayak gini.
    Ditunggu FF YoonHaenya..
    Pleaseee jangan lama2 ne??
    Semangaaattt!

  3. Im Eunmi berkata:

    ASTAGAAAAAAAAA KENAPA ADA FLUFFNYA GINI? YA AMPUN TUH KAN AKU JADI SENYUM SENYUM GAJE LAGI ASTAGA!!!!
    Suka banget sama endingnya! Author daebak!! SEQUEL BOLEH YA??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s