[ Oneshoot ] FF YoonHae – Falling For You

yh-falling-for-you

Title : Falling For You

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15

Words : 8000+

Haii, aku balik lagi bawa FF. oneshoot !!! lagi… haduh oneshoot lagi hmmm -__-

Sebelumnya aku mau berpesan kalau saat ini aku lagi gaje hoho, aku aja nggak tahu lagi nulis apa ini(?)  untunglah otak aku nggak aneh2,  ide ceritanya kali ini cukup simple jadi lebih mudah aku selesaikan—tentang cinta2an alay gitu deh mwehehehe. Tapi sebenarnya aku nulis ini cuma pengen buang galau aja, jadi kalo ceritanya gaje ngalor – ngidul – wetan kemana tahu, yaaa aku juga nggak tahu hahaha #disambit

Tapi Yesungdahlah…

Happy Reading ^^

.

.

.

.

Hembusan angin berayun kencang menyelimuti kota Seoul.  Suhu udara diperkirakan mulai melewati angka minus tiga. Butir – butir berwarna putih mulai berjatuhan dari langit yang tersebar rata diseluruh wilayah pun sejak  beberapa jam lalu tampak bergerumul membentuk hamparan gundukan es dipermukaan tanah. Jalan – jalan di ibukota tampak sepi, hanya ada berapa kendaraan dan pejalan kaki yang berlalu lalang memperlekas perjalanan mereka disamping berhati – hati menyusuri jalanan licin.

Kini semuanya  beku.  Segelas kopi panas tidak lagi menarik satu menit kemudian sebab ikut pula membeku, namun berbeda dengan keyakinan yang dienyam oleh seorang lelaki muda yang tidak kunjung membeku. Keyakinan itu seolah terbungkus rapih didalam kehangatan tekadnya yang bulat.

Sejak angka menunjukkan pukul tiga sore waktu setempat hingga kini bergeser merunjuk pada angka Sembilan malam, seorang lelaki berjaket abu – abu yang kira – kira berkisar tiga lapis dengan kepala berbalut hoodie dan topi hitam, duduk seorang diri disebuah bangku memanjang. Fokus perhatiannya tertuju pada hiruk pikuk pengunjung taman di lokasi Namsan Tower. Lelaki itu memeriksa arlogi yang mengitari pergelangan kirinya berkali – kali, berharap sebentar lagi seseorang yang dinantinya akan tiba, namun hingga bermenit – menit kemudian seseorang itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sesuatu berbisik – bisik didalam dirinya agar berhenti menunggu seseorang itu. Belakangan ini orang – orang lebih memilih menghabiskan waktu mereka dibawah selimut hangat, bukannya menunggu tanpa kepastian yang membuat napasnya sesak. Lelaki itu hampir saja menyerah dan pulang. Sayang, betapa bodohnya dirinya ketika mengingat wajah seseorang itu… bibirnya beragsur – angsur menyunggingkan garis lengkungan, keyakinan untuk menunggu bertambah puluhan kali lipat. Seseorang itu pasti akan datang menemuinya, mungkin beberapa menit lagi…

Siapapun boleh mencaci maki kebodohannya saat ini, sebab lelaki itu pun tidak habis pikir tentang sesuatu yang melatarbelakangi kebodohannya. Namun jika pun ada  seseorang yang  bersih keras menanyakannya maka ia akan menjawab  bahwa semua ini berawal dari obrolan serius mereka beberapa waktu lalu, ya dirinya dan seseorang itu… Seorang teman wanita yang sangat cantik dan manis dimata orang –orang, terlebih dimatanya. Obrolan serius yang terjalin diantara mereka pada akhirnya menjebaknya untuk tidak beranjak dari tempat ini.

Sore menjelang petang, Lee Donghae baru saja selesai berlatih dance lagu terbaru mereka sebagai persiapan comeback bulan depan bersama boyband sehidup sematinya, Super Junior. Ditengah perjalanannya menyusuri koridor gedung SM Entertaiment lelaki itu tidak sengaja melihat seorang gadis yang begitu menarik perhatiannya. Gadis itu sedang bersandar dipinggir ruang latihan, kebetulan pintu ruang latihan tempat gadis itu berada terbuka setengahnya memudahkan Donghae lebih leluasa megamatinya dari luar.

Senyuman dibibir Donghae merekah sempurna. Terkadang ia merasa sangat beruntung berada dibawah managemet yang sama dengan gadis itu. Menggeleluti bidang profesi yang serupa dengannya, gadis itu adalah salah satu member girlband yang ikut dinaungi oleh agensinya, SM Entertaiment. Gadis itu bernama Im Yoona, salah satu member Girls Generation.

Satu hal yang lebih menggembirakan lagi baginya adalah menyadari bahwa gadis itu sedang berada ditengah waktu luangnya saat ini. Tampaknya Yoona baru saja menyelesaikan prosesi latihan dance lagu terbaru girls groupnya. Layaknya Super Junior, Girls Generation sebentar lagi akan melakukan comeback. Beberapa member GG lain tampak baru saja keluar dari ruang latihan. Satu persatu dari mereka menyapa Donghae yang berdiri seperti orang gila didepan pintu, member lain seperti Taeyeon dan Sunny tersenyum begitu lebarnya. Namun bila ditelisik lebih lanjut, senyuman mereka sesungguhnya menebarkan sebuah makna tersembunyi. Taeyeon beberapa kali mengedip jahil kearah Donghae dengan sesekali melirik salah satu temannya yang masih sibuk bersandar dan memankan ponsel didalam ruang latihan. Ulah Taeyeon itu membuat Donghae salah tingkah. Pada akhirnya Donghae memutuskan untuk menghampiri Yoona.

“Yoong.” Sapa Donghae sembari berjalan menyuarakan panggilan tersayangnya untuk gadis itu.

 Ne, Sunbae ?” gadis itu mendongak. Mendengar panggilan Yoona untuknya yang sangat mejengahkan Donghae berdecak. Ia memposisikan dirinya duduk disamping Yoona dan menatap gadis itu frustrasi.

“Ayolah, aku bosan mengatakan ini beribu kali, Jangan memanggilku Sunbae, cukup panggil aku Oppa !”

Protes keras Donghae ditanggapi Yoona dengan senyum tanpa dosa. Gadis itu menjauhan ponselnya sejenak, lantas kali ini ia benar – benar fokus menatap lelaki disampingnya, “Oh ya, aku lupa hehe. Mianhae Oppa, Donghae Oppa.”

Donghae tidak tega mengalihkan pandangannnya sedetik pun dari wajah Yoona yang seolah – olah memancarkan cahaya menyilaukan yang menaburi sekitarnya. Tiba – tiba Donghae dibuat bingung bagaimana cara menghadapi gadis itu terlebih bagaiamana cara memulai percakapan dengannya agar mereka bisa tertahan lebih lama berdua ditempat ini. Donghae mencoba berbasa basi menanyakan keadaan Yoona hingga keadaan para member GG, Yoona lantas menceritakan semuanya dengan wajah antusias, tentang bagaimana para Eonninya, Tiffany dan Yuri melakukan banyak kesalahan dance dan membuat member lainnya frustrasi. Donghae tinggal disampingnya, cukup menyaksikan bagaimana rekahan senyum Yoona  maka disitulah letak kebahagiaan untuknya.

Didetik – detik terakhir saat keduanya terdiam lama, Donghae akhirnya menemukan sebuah wangsit berupa topik pembicaraan yang diduganya menarik. Topik yang diangkat Donghae kali ini seputar cerita konyol dari para member super junior tepatnya kejadian saat kura – kura tersayang milik Yesung tidak sengaja diinjak oleh Leeteuk. Meski awanya Leeteuk memfitnah anjing Ryeowook yang sangat innoncent sebagai tersangka,  Leader Super Junior itu pun akhinya melakukan pengakuan dosa bahwa dirinya lah tersangka utama penginjakan hewan malang tersebut, namun fakta sebenarnya tidak sampai disitu, setelah mengasingkan diri di tempat pertapaannya selama beberapa hari akhirnya Yesung ikut pula mengakui fakta sebenarnya bahwa mendiang kura – kura dengan harga fantastis tersebut didapatkannya dari proses pembelian menggunakan kartu kredit, bukan kartu kreditnya melainkan milik Leeteuk, ya milik Hyungnya. Maka terjadilah lelaki yang paling dituakan diantara member Super Junior itu pun sesak napas nyaris kejang – kejang dengan mulut berbusa (?) tidak, Donghae hanya bercanda soal mulut berbusa. Yoona tertawa lebar mendengar cerita Donghae,  tampak masing masing sudut matanya ikut pula mengeluarkan beberapa butir tetesan, sesekali gadis itu memegangi perutnya kegelian.

Obrolan mereka pada sesi berikutnya dibuka oleh  Yoona yang mempertanyakan bagaimana cara Donghae selama seminggu ini bersenang – senang. Donghae tersenyum. Sebagian pertanyaan Yoona dijawabnya dalam hati, tentu dengan cara memikirkanmu sepanjang hari…

Donghae bercerita tentang inspirasi yang datang akhir – akhir ini untuk membuat lagu tentang seorang lelaki yang menyimpan perasaan terpendamnya selama bertahun – tahun kepada seorang gadis. Yoona terheran – heran seolah bertanya – tanya sendiri lewat matanya, ‘kenapa kau menatapku, seperti itu…’ Yoona mengalihkan pandangannya kearah lain dan mulai berbicara tetang banyak hal yang lebih umum dari sebelumnya tentang fenomena cuaca ekstrim di musim dingin akhir – akhir ini. Donghae menanggapi topik pembicaraan yang didengungkan Yoona seperti biasa. Mula – mula mereka membahas tentang penyakit flu yang mulai menjangkiti anak – anak hingga orang dewasa. Sampai akhirnya obrolan mereka berputar – putar melingkupi banyak hal mulai dari tubuh yang tidak fit hingga mencakup obrolan seputar teman – teman mereka di sekolah dasar, menengah, atas hingga teman – teman mereka lainnya dan entah bagaimana awal mulanya, baik Donghae maupun Yoona tidak menyangka bahwa obrolan mereka akhirnya berlabuh memperbincangkan sesuatu yang sakral dan serius—setidaknya bagi Donghae.

“Yoong, selama tujuh tahun lebih bahkan saat kita berdua masih dalam masa trainee aku memperhatikanmu. Apakah ini hanya perasaanku saja tapi aku mengamatimu sesekali… Aku menganggap bahwa selama ini kau selalu bersikap ramah terhadap semua orang termasuk kepada pria – pria disekitarmu tapi… aku tidak pernah melihatmu memperlakukan salah satu diantara mereka secara khusus. Maksudku, tatapanmu ketika menatap mereka terbilang biasa dimataku.” Donghae menarik napas memkirkan kata = katanya. Ia Berharap pertanyaannya barusan tidak sampai menyinggung Yoona.

Tampak gadis itu menaikkan sebelah alisnya, “Oh ya ?”

“Aku sedikit… bukan, aku sangat penasaran apakah gadis sepertimu lebih mudah mengungkapkan isi hati atau menunjukkan perasaan yang berbeda kepada seseorang ?” Donghae menatap Yoona sesantai mungkin, namun siapa sangka didalam hatinya muncul degupan – degupan tak terkendali.

“Hmm sudah berapa jam kita mengobrol ?” tanya Yoona tiba – tiba. Gadis itu memeriksa layar ponselnya dan melihat angka yang tertera disana.

“Hampir dua jam ?” simpulnya sambil berpikir, cukup lama.

Sekilas Yoona tersenyum, “Aku tidak pernah seperti ini kepada pria lain… selain dirimu.  Apakah perilaku seperti ini sudah masuk dalam kategori, khusus ?”

Donghae tidak berkata apa – apa. Betapa ia ingin berteriak saat ini… Donghae hanya tidak ingin menarik sebuah kesimpulan dini yang terlalu gegabah dari pernyataan Yoona. Donghae takut bahwa ketika ia merasa diangkat keatas langit, gadis itu akan menghempaskannya kembali kedasar bumi.

“Aku tidak tahu perasaan apa namanya, mungkin karena aku merasa nyaman duduk berdua denganmu.” Yoona tersenyum, seperti biasa senyuman yang mampu meluluh lantahkan perasaan lelaki itu dalam sekejap.

“Lalu, menurutmu seberapa khusus diriku dibanding pria – pria lain yang kau kenal, tentunya diluar keluargamu dan para tetuah diluar sana. Apakah aku yang pertama… kedua… ketiga… atau  berapa ?” Donghae berpikrir pertanyaannya saat ini terlalu lancang untuk Yoona, terdengar mengintimidasi. Namun apa daya ia tidak punya pilihan lain, ia membutuhkan sebuah kepastian dan ketegasan. Setidaknya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yoona— gadis yang selama ini ia kagumi menganggapnya nyata, bahwa perjuangannya selama ini tidak sia- sia. Jika pun Yoona tidak memberikan jawaban sesuai keinginannya,  Donghae akan berusaha menerima bencana tersebut dengan lapang dada, namun dengan catatan, ia mungkin akan sakit hati namun begitulah resiko dari sebuah kejujuran. Donghae tidak ingin terombang ambing dan dipermainkan oleh perasaannya sendiri seperti orang bodoh. Sekali lagi, dirinya adalah seorang lelaki dan seorang lelaki membutuhkan kepastian.

“Sunb—maksudku Donghae Oppa… aku tahu maksudmu ? kau sedang mempertanyakan bagaimana aku menganggapmu ? bagaimana perasaanku terhadapmu yang kuanggap sebagai lelaki khusus?” Yoona mencoba menatap Donghae setelah beberapa menit berkelana memikirkan maksud dari pertanyaan lelaki itu.

Yoona menghela napas, penuh sesal, “Mianhae, aku tidak sekali pun berpikir tentang hubungan seperti itu…”

Donghae menggigit bibir bawahnya, merasakan sesautu yang perih dan hancur, tepatnya dibagian dada sebelah kiri.

“Kau tahu aku punya sedikit ketakutan.” Yoona tertunduk, wajahnya berubah mendung. Donghae menyusuri berbagai titik diwajah Yoona, entah kemana perginya seulas senyum yang kerap kali terpatri dibibir gadis itu sepanjang waktu.

“Tidak bisakah kita tetap seperti ini ? maksudku… sebenarnya aku tidak mau kehilanganmu, kau adalah teman terbaikku. Setiap kali bertemu atau mengobrol denganmu aku tidak henti – hentinya berharap agar waktu berjalan lambat, meskipun yang kurasakan justru sebaliknya. ” Yoona tersenyum seolah mengumbar seulas makna yang berbeda, makna penolakan sekaligus penyesalan mendalam.

Donghae membalas senyum Yoona, miris. Jawaban Yoona terdengar seperti tarik ulur yang menyakitkan.

“Apakah berarti kau mempunyai rasa yang lebih terhadapku ?” Pertanyaan itu melayang dari bibir Donghae secara spontan maka terdengar agak datar layaknya isi kepalanya yang blank.

“Tentu, aku menganggapmu sebagai Oppa terbaik… bukankah itu sudah cukup ?”

“Ya, sudah cukup,” Donghae tersenyum pedih, “Sudah cukup bagimu…”

Yoona menatap Donghae dengan sejumlah kernyitan dikeningnya.

“Karena masih banyak yang belum kumengerti, tentangmu.” sambung Donghae membalas tatapan Yoona serius, “Apa yang membuatmu ragu tentang menjalin hubungan khusus diantara pria dan wanita ?”

Yoona terdiam. Tiba – tiba wajahnya berubah kaku, “Aku… kau tahu bukan ? Aku memiliki trauma pada hubungan semacam itu…” ungkapnya.

Donghae menarik napas sejenak guna menetralkan jantungnya. Yoona pernah bercerita kepadanya dengan rasa emosional mendalam, tepatnya dua tahun yang lalu Yoona mengungkapkan sebuah fakta kepadanya bahwa setelah orang tuanya bercerai gadis itu dihadapkan pada sebuah ketakutan dalam menjalin sebuah hubungan. Tentu, Donghae mengerti keputusan Yoona menutup hatinya selama ini, bahwa tidak mudah baginya mempercayai seorang pria yang ingin menjalin hubungan percintaan, sebab hubungan seperti itu tidak lebih dari tayangan picisan dimatanya, terlebih fakta bahwa banyak pria – pria dari lingkungan entertainment kerap kali menggonda setiap wanita yang ditemuinya atau pun menjalin hubungan dengan idol lainnya sekedar untuk bermain – main  atau pun melepaskan penat. Donghae bisa mengerti kehawatiran terbesar Yoona. Namun satu hal yang perlu diketahuinya bahwa ia tidak boleh begitu saja menyamakan setiap orang.

“Jadi, kau menganggap aku seperti mereka ?” Simpul Donghae membuat Yoona terkejut menatapnya.

“Tidak bukan begitu… aku hanya belum yakin dengan perasaan ini, aku takut mengecewakanmu karena sikapku yang labil.” Yoona menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Donghae merasa bahwa dirinya benar – benar bodoh membiarkan Yoona seolah – olah ketakutan menanti reaksinya. Ia tidak bermaksud jahat, sungguh. Apalagi memaksakan sesuatu yang jelas – jelas bahwa Yoona menolanya.

Lalu, apakah salah jika seorang lelaki ingin menegaskan perasaannya terhadap seorang gadis dan ia menginginkan gadis itu melakukan hal serupa ? Salahkah jika seorang lelaki ingin mengembangkan perasaannya kedalam tahap yang lebih serius ?

Karena Donghae merasa bahwa Yoona sangat dekat dengan semua orang. Donghae menginginkan Yoona berstatus sebagai miliknya, kalau perlu ia akan mengumumkan kepada semua orang mengenai kenyataan itu dan tidak ada lagi pria – pria diluar sana yang mencoba mengganggunya dengan seribu satu rayuan gombal yang terdengar memuakkan.

Karena Donghae merasa hal itulah yang justru membuat Yoona semakin trauma. Kehadiran pria – pria tidak jelas disekitarnya mulai tampak meresahkan. Yoona sedikit banyak dikerumuni oleh mahluk – mahluk seperti itu yang tanpa sadar membentuk sebuah pola pikir yang menyimpang dikepalanya, bahwa kebanyakan pria berperilaku kurang ajar. Dan pada akhirnya simpang siur dari ketakutan yang menderanya semakin menjadi – jadi, berujung, Yoona harus menimbang sejuta kali sebelum akhirnya memutuskan untuk terjun kedalam sebuah hubungan.

Karena Donghae ingin menunjukkan diri sebagai satu – satunya. Satu yang terbaik dimata gadis itu…

“Tidak bisakah kau membuka hatimu untuk seseorang ?” tanya Donghae lebih tajam dan serius.

Yoona bergeleng lemah, “Sekali lagi aku tidak yakin, aku tidak ingin mengecewakamu Oppa…”

Donghae merenung beberapa saat. Lelaki itu ingin tertawa memikirkan sebuah kekonyolan yang ditimbulkannya hingga berujung membingungkan gadis itu. Donghae mencoba terseyum selah tega berdiri ditengah kepedihannya. Lelaki itu menepuk pundak Yoona memaklumi.

“Yak, memangnya berapa lama kita saling mengenal ? Meski pun tidak banyak yang kuketahui, aku cukup mengerti tentang sifatmu. Begitu sebaliknya.”

Donghae menjeda sejenak, “Kecewa…” lelaki itu terkekeh lalu mengacak rambut Yoona, “Aku hanya akan kecewa jika kau membohongi dirimu. Selama ini aku tidak pernah menutupi apa pun darimu bahkan detik ini, saat aku memintamu menegaskan sesuatu untukku. Sebenarnya aku malu mengatakan ini Yoong, namun rasanya aku mulai lelah. Sejujurnya aku lelah memendam rasa yang sekian lama meledak – ledak didalam tubuhku. Dan itu semua karenamu.” jelasnya.

“Jadi, sebelum aku benar – benar meledak, kumohon, pastikan sesuatu, aku butuh jawabanmu, tidak hanya sebagai Oppa terbaik… Aku ingin menjadi lebih dari seorang teman dan sahabat.”

“Oppa—“

“Ya atau… tidak…”

Yoona terdiam, lantas membiarkan Donghae mengira – ngira seorang diri.

“Besok Sore, apa jadwalmu kosong ?”

Yoona menatapnya bingung, “Mwo ?”

“Besok sore apakah kau punya, sedikit waktu luang ?” Ulang Donghae lebih jelas.

Yoona memikirkan sesuatu namun ia tidak berniat mengungkapkannya, “Aku tidak tahu… W-wae ?”

“Aku menunggu jawabanmu di taman Namsan Tower.” Putus Donghae terdengar semena – mena, “Aku mengerti kau sangat sibuk tapi apa pun itu aku akan menunggumu disana jam empat sore. Meski pun itu hanya satu menit, kedatanganmu sangat berarti bagiku, Yoong.”

“Begini sebenarnya…” Yoona menelan ludah, “Tidak bisakah kita tetap berhubungan dengan cara seperti ini ?”

Donghae memikirkan permintaan Yoona sejenak lalu tersenyum, “Kau tahu ? selama ini aku menganggapmu sebagai seorang perempuan, maka akan sangat sulit menjadikan seorang perempuan yang telah lama kau inginkan sebagai gadismu berakhir ‘hanya’ sebagai teman biasa.”

Yoona menatap kedalam mata Donghae tanpa tahu apa yang harus dilakukannya dalam menaggapi setiap kata yang meluncur dari lisan lelaki itu.

“Mianhae jika sikapku tergolong egois, aku hanya butuh kepastian darimu, Yoona-ya. Ingat, besok jam empat sore di taman Namsan Tower. Sebaiknya kau memikirkan hal ini baik – baik karena nasibku ditentukan oleh keputusanmu dan jika berkenan aku ingin menitipkan pesan terakhirku ; cobalah agar membuka hatimu untuk seseorang. Jatuh cinta bukanlah sesuatu yang buruk dan mustahil.”

Sejak itu Yoona tidak pernah berkata apa – apa lagi.

Bayangan mengenai percakapannya dengan Yoona kemarin sore sesungguhnya telah menjelma sebagai pondasi kuat dari keputusannya menunggu gadis itu hingga detik ini. Sekarang telah sampai pukul Sembilan malam diamana butiran – butiran salju tampak berhamburan dari langit lebih padat dari sebelumnya. Cuaca dingin semakin menusuk. Entah berapa banyak gelas kopi panas yang dihabiskannya atau berapa ratus kali lelaki itu menggosok – gosok telapak tangannya mencari kehangatan, Donghae seolah  mengerahkan segala daya dan upayanya agar ia bisa terus bertahan di tengah ruang terbuka yang semakin beku.

Donghae meyusuri pemandangan disekitarnya, berharap gadis itu bersedia menemuinya namun nihil. Sungguh rasanya ia ingin secepatnya, detik ini juga mengibarkan bendera putih tanda tak sanggup. Sosok Yoona lagi – lagi menyihirnya agar ia mengurungkan niat itu. Kehawatiran mengenai, jika seandainya ia pulang dan Yoona datang kemari, apa yang terjadi ? Donghae tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya gadis itu. Meski pun pada akhirnya Yoona berkata tidak sebagai jawabannya, Donghae besikukuh tetap harus menunggu ditempat ini, ditempat yang telah ia janjikan untuk menunggu sebuah jawaban, apapun jawaban gadis itu.

Sementara di tempat lain, seorang gadis yang saat ini tengah dinanti – nantikan kedatangannya oleh Donghae tampak termenung sendiri. Seperti yang terlihat Yoona sedang berbaring diatas ranjangnya, sesekali menghafalkan naskah CF yang harus dibintanginya esok hari. Yoona berusaha fokus membayangkan adengan didalam CF, namun yang terjadi pikirannya justru berkelana ketempat lain.

Yoona bangun dari tidurnya dan mengacak – ngacak rambutnya frustrasi.

Janji… janji… oke, bukankah dia tidak berjanji untuk  itu ? Donghae sendirilah yang menyimpulkannya tanpa meminta persetujuan, bukan ?

Yoona memegangi kepalanya berpikir dan terus memutar otak. Peraaannya bagai berperang dengan logika. Yoona berusaha keluar dari pertikaian pelik yang serasa memporak – porandakan isi kepalanya. Rasanya campur aduk. Perasaan bersalah itu seolah berkembang biak dengan proses yang luar biasa pesat disisi lain Yoona merasa tidak mempunyai kewajiban apa pun saat ini. Yoona bingung apa yang sebaiknya ia lakukan saat ini. Lagi pula sudah terlalu malam untuk sebuah pertemuan dengan seseorang. Lelaki itu pasti sudah pergi dari sana dan meyerah, bukan ?

Yoona melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya, pukul Sembilan lewat lima belas menit ?  Ya, benar sekali, cuaca diluar sana sudah tidak kondusif untuk menunggu seseorang. Bisa – bisa tubuh lelaki itu membeku dan Yoona tahu Donghae tidak bodoh.

Atau sebaiknya ia menanyakan posisi lelaki itu ? Yoona mulai berpikir untuk memastikan sesuatu. Gadis itu meraih ponsel miliknya yang tergeletak diatas nakas, lantas ia mulai menyiusuri berbagai kotak pesan yang rupanya sudah menumpuk.

Dari Lee Donghae…

Yoong, aku menunggumu…

Kau pasti akan datang iya kan ? Still waiting…

Gwenchana ? kalau ada waktu luang, sempatkanlah datang kemari, walau hanya berkata Ya, atau tidak, bukan masalah untukku…

Sore berganti malam. Selamat petang ^^

Aku benar – benar ingin melihatmu malam Ini Yoona…

Salju mulai turun… aku menyukainya. Mereka sangat indah, tidakkah kau ingin melihatnya bersamaku Yoong ?

Aku mulai kedinginan… apakah kau mempunyai saran bagaimana cara membuat tubuhmu lebih hangat ?

Yoona…

Masih menunggumu dan akan selalu…

Serentetan pesan yang bertumpuk dari Lee Donghae. Dada Yoona mendadak sesak membaca satu – persatu tumpukan pesan itu. Yoona ingin menangis, bukan karena sedih tapi lebih dari itu, namun hingga kini air matanya tak kunjung tertumpah. Yoona hanya tinggal disini, tersiksa seorang diri bersama keraguannya memikul jawaban dari pertanyaan yang diajukan Donghae. Lalu apa ? Yoona berpikir hanya tinggal memberikan sebuah jawaban maka semuanya akan selesai.

Sangat berharap… Please…

Satu lagi pesan menyambangi ponselnya. Pesan dari Donghae. Pesan dari… siapa ?

“Ishhhh.”

Yoona kembali mengacak – ngacak rambutnya. Rupanya lelaki itu benar – benar gila ! Donghae masih mengiriminya pesan hingga detik ini dan itu berarti lelaki itu masih berada disana bahkan ini sudah hampir jam sepuluh malam ?!

Yoona menahan napas berusaha menjernihkan pikirannya. Ya atau tidak… bisakah memutuskan jawaban semacam ‘ditengah tengah antara Ya atau Tidak ? teman atau lebih atau diantaranya ?

Yoona bergeleng. Bagaiamana pun, ia harus memutuskan sebuah jawaban. Secepatnya ! sebab entah bagaimana pertanyaan Donghae sedikit membebaninya… tapi apa ? siapa pun jawabbb…

Yoona menggetuk – ngetukkan jemarinya di permukaan layar ponsel sebelum akhirnya mengetikkan sesuatu disana.

To : Lee Donghae ‘Oppa’

Donghae Oppa, jangan menungguku lagi, udara diluar sana sangat dingin. Sepertinya aku tidak akan datang. Mianhae, aku akan memberikan jawabanku nanti.

Klik. Selesai dan terkirim.

Yoona lantas membuang ponselnya kesembarang arah seolah baru saja melakukan tindak kejahatan. Beruntung ponsel itu terslip dibawah bantal.

Drt… drt… drt…

Sebuah pesan masuk. Mungkinkah pesan balasan dari Donghae ? Kalau pun benar… Lelaki itu pasti akan marah… lalu meninggalkannya. Yoona bergeleng kasar, tidak, itu tidak mungkin.

Yoona meraih ponselnya dnegan hati – hati yang tertimbun dibawah bantal. Gadis itu memejamkan mata, dan baru dibukanya ketika menatap layar ponselnya yang menyala.

From : Leader Super Junior

Yoona tercenung. Leader Super Junior ? Leeteuk ?

Ada apa ini ?

Cepat – cepat Yoona membuka pesan itu.

‘Ciee ada apa nieh ? kenapa tiba – tiba salah kirim ? gugup ya ? Ini aku, Leeteuk Oppa, bukan Lee Donghae ? kkk~ wae ? Apakah saat ini Donghae menunggumu ? pantas saja selesai latihan dance anak itu menghilang entah kemana sampai sekarang pun belum pulang ? ngomong- ngomong kemana dia ? apa kah Donghae baru saja melamarmu ? diterima tidak ?! Dari pesanmu barusan, sepertinya negative, sudah kuduga, kau saja tidak pernah mengingat hari ulang tahunnya apalagi memberinya kado, kau saja tidak pernah menunjukkan perhatianmu yang sangat diharapkannya… hmmm malang sekali nasib anak itu, padahal kupikir dia sedang tidak enak badan, sudah jatuh tertimpa tangga pula wkwk.’

Mata Yoona berhenti pada satu titik fokus. Apa ini ?! siapa ? Leeteuk ?! salah kirim, tidak mungkin… Yoona memeriksa perginya pesan itu gemetaran.

Seketika Yoona memelototi layar ponselnya dengan wajah super tegang. Ternyata benar, penerima pesan itu bulan Donghae tapi orang lain… Wajah gadis itu berubah memucat. Ia ingin berteriak saat ini juga. Namun seluruh niatan itu lenyap. Yoona tertegun mendadak,  tiba – tiba  terpikirkan olehnya sesuatu yang janggal.

Kenapa rasanya aneh. Padahal dia sedang tidak enak badan—seperti kata Leeteuk— dan lelaki itu sempat – sempatnya menunggu jawaban seorang gadis yang belum pasti. Bukankah ini konyol ?

Dan apa kata Leeteuk barusan ? Tidak pernah mengingat hari ulang tahun ? Yoona seolah tersengat listrik mencerna anggapan seperti itu dilayangkan kepadanya. Bagaiama pun ia sudah menandai tanggal ulang tahun Donghae tapi dua bulan lalu tepatnya dipertengahan oktober, kegiatan Girls Groupnya sangat padat, mulai dari rekaman lagu hingga video clip, lagi pula saat itu Donghae juga sangat sibuk dengan kegiatan groupnya. Yoona tidak sempat memberikan ucapan dihari itu karena ia terlalu fokus dengan pekerjaannya, lagi pula… apakah setiap kali seseorang berulang tahun,  orang lain harus mengucapkan sesuatu atau melakukan perayaan tertentu? Apakah hanya itu satu – satunya bentuk perhatian ?

Bagaimana jika seseorang terus berdoa menyelipkan harapannya setiap hari untuk seseorang disana yang telah diam – diam memenuhi pikirannya ? Apakah tindakan itu disebut sebagai bentuk perhatian ? dan… meski nyatanya tidak berbentuk.

Lalu, masalah kado. Yoona menganggap bahwa ia bisa memberikan sebuah kado atau sesuatu kepada seseorang kapan saja, bukan hanya saat moment ulang tahun. Menurutnya ulang tahun hanyalah nama dari sebuah perayaan untuk bersenang – senang, bukan semata – mata menjadi indikator bahwa seseorang perhatian atau tidak perhatian.

Mendadak napas Yoona terasa berat. Gadis itu bertanya – tanya dalam hati yang pada akhirnya berujung frustrasi. Batinnya bagai menronta – ronta tanpa kendali. Kenapa ia harus semarah ini hanya karena dianggap kurang perhatian kepada Donghae ? kenapa ia harus merasa paling bersalah dalam hal ini karena tidak pernah mengucapkan sepatah atau dua kata kalimat Saengil Chukae kepada Donghae padahal lelaki itu sangat diharapkannya ? Memangnya Lee Donghae siapa… Teman… ya teman.

Baiklah, Yoona menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan – lahan. Gadis itu  memutuskan, kalau begitu ia akan mengirimi Donghae pesan sekali lagi. Kali ini Yoona akan memastikan seteliti mungkin bahwa pesan itu benar – benar sampai ke nomer Donghae.

To : Lee Donghae ‘Oppa’

Oppa, asal kau tahu yang sebenarnya, aku selalu mengingatmu dan terus memperhatikanmu, bukan hanya pada tanggal 15 Oktober tapi setiap hari, camkan !

Send. Tidak… pesan itu berakhir sebagai draft. Yoona merasa kalimat seperti itu sangat melenceng dari masalah yang dihadapinya saat ini. Sekarang bukan saatnya membahas ulang tahun atau apa…

Yoona meremas ponselnya disamping otaknya yang mencoba mencerna sesuatu.

Mungkin… sekaranglah saatnya memutuskan.

To : Lee Donghae ‘Oppa’

Donghae Oppa, jangan menungguku lagi, udara diluar sana sangat dingin. Sepertinya aku tidak akan datang. Mianhae, aku sangat sibuk jadi aku hanya bisa menjawabmu melalui ponsel, dan… jawabanku adalah Tidak, sekali lagi, Mianhae… Aku berharap kita berdua akan tetap menjalin hubungan baik seperti biasa, sebagai sahabat terbaik.

Send. Ya… pesan itu akhirnya benar – benar terkirim.

Sekian lama, tidak ada balasan darinya.

Mungkin, lelaki itu sudah menyerah ? entahlah. Yoona menatap layar ponselnya dengan wajah kusut. Terlutis cuaca hari ini mendekati angka minus lima. Wajah lelaki itu terbayang – bayang layaknya arwah penasaran yang menuntut balas dedam. Donghae tengah berada dibawah cuaca sedingin ini. Yoona  mengutip pengakuan tidak sengaja Leeteuk kepadanya yang mengatakan bahwa Donghae sedang tidak enak badan. Ya benar saja, pengakuan tersebut seolah membuat Yoona nyaris gila.

“Akhh othokhae…” racau Yoona mengacak – ngacak rambutnya tidak jelas.

…………….

Tepat didalam layar ponsel miliknya tertulis sebuah pesan singkat dari seseorang. Donghae tersenyum miris. Ia benar – benar merasa seperti orang bodoh, menanti seorang gadis selama hampir lima jam tanpa kepastian. Lebih bodohnya lagi ia membiarkan tubuhnya kedinginan nyaris beku hanya karena ingin melihat wajah gadis itu malam ini, dengan harapan semu Donghae berandai – andai bahwa Yoona akan datan ketempa ini sebagai wujud kepeduliannya. Nyantanya tidak. Seluruh keyakinannya yang telah terpupuk berakhir sia – sia. Yoona tidak akan datang.

Donghae menghela napas lantas mendongak keatas langit gelap, butiran salju yang halus seras membelai wajahnya, “Mungkin aku tidak akan pernah bisa menggapaimu…”

Seperti halnya langit diatas sana, Donghae merasa percuma mengulurkan tangannya dari bawah sini untuk menyentuh langit, sebab ia tidak akan pernah bisa menjangkaunya. Bertahun – tahun mengenal Yoona, ia sangat menanti saat – saat seperti ini. Rasanya ia ingin seterusnya menunggu Yoona, entah sampai kapan. Tapi rasanya pula tindakan itu sangat tidak masuk akal.

Donghae menarik napas sebelum akhirnya bangkit berdiri dari bangku yang telah didudukinya sekian lama. Lelaki itu menyelipkan earphone dimasing – masing lubang telinganya. Me and Broken Heart by Rexton. Donghae sengaja men-setting lagu itu dalam mode repeat agar ia bisa mendengarnya secara berulang – ulang. Donghae terus mendengarnya tanpa sadar ia mulai terhanyut kedalam lirik – liriknya yang begitu mewakili perasaannya saat ini;

All I need’s a little love in my life ( Yang kubutuhkan hanyalah sedikit cinta dalam hidupku )

All I need’s a little love in the dark ( Yang kubutuhkan hanyalah sedikit cinta dalam kegelapan )

A little but I’m hoping it might kick start ( Sedikit saja tapi kuharap cinta itu bisa menyalakan )

Me and my broken heart (Aku dan hatiku yang remuk )

I need a little loving tonight ( Aku butuh kasih sayang malam ini )

Hold me so I’m not falling apart ( Dekaplah aku agar aku tak hancur )

A little but I’m hoping it might kick start ( Sedikit saja tapi kuharap cinta itu bisa menyalakan )

Me and my broken heart ( Aku dan hatiku yang remuk )

I try to run away but your eyes ( Kuberusaha lari tapi matamu )

Tell me to stay, oh why… (Menyuruhku untuk tinggal, oh mengapa…)

Hati yang remuk, seolah lagu itu diciptakan untuk mewakili perasaannya… perasaannya yang perih dan butuh penyembuhan. Mungkin kedengarannya alunan musik yang menaburi telinganya ini bermanfaat sebagai terapi jiwa.

“Oppa ! Donghae Oppa…”

Donghae terus berjalan tanpa mengindahkan panggilan dari seseorang yang berkali – kali dilayangkan kearahnya.

“Oppa, tunggu !!!!” sahut Yoona lebih mengencangkan suaranya. Gadis itu berusaha berlari mengejar Donghae, namun lelaki itu terus berjalan. Yoona yakin lelaki didepan sana adalah Donghae, seratus persen. Meski pun kini pakaiannya tertutup rapat dari ujung rambut sampai kaki,  Yoona dapat dengan mudah mengenali lelaki itu hanya dengan melihat punggungnya.

“Donghae Oppa !!!” panggilnya sekali lagi. Dalam jarak beberapa langkah Yoona menyadari bahwa saat ini Donghae tengah menggunakan earphone. Gadis itu mendesah  putus asa, pantas saja…

Langkah Donghae berangsur – angsur memelan sementara itu Yoona terus memacu langkahnya. Tidak sampai hitungan kesepuluh, Yoona sudah berada tepat dibelakang Donghae, memeluk lelaki itu, merasakan hangat punggunya dan menyandarkan kepala disana. Yoona merapatkan pelukanya tidak ingin lelaki itu pergi, semakin jauh.

 “Bukankah kau bilang, kau akan menungguku ?”

Donghae berbalik badan yang otomatis mengaburkan pelukan Yoona. Tampaklah wajah gadis itu yang berdiri dihadapannya dengan napas terengah – engah. Donghae masih terdiam, tidak berekasi. Lelaki itu termangu seolah – olah mempertanyakan apakah ini nyata atau justru sebaliknya.

Yoona mengibas – ibaskan tangannya didepan wajah Donghae. Gadis itu berpura – pura memasang wajah cemberut ketika usahanya berakhir sia – sia, karena sampai sekarang Donghae masih termangu.

“Yoong…” Donghae akhirnya menyipit yang berarti kesadarannya mulai utuh. Donghae melepaskan earphone yang terselip dimasing – masing telinganya selagi menatap Yoona.

Mimik wajah Yoona berubah kecewa, “Kupikir kau akan menungguku…”

“Itu karna, kau bilang tidak akan datang…” Donghae tersenyum masam.

Yoona terdiam gelagapan merangkai kalimat selanjutnya, mengenai keberadaannya ditempat ini yang terbilang tiba – tiba. Donghae memicing memperhatikan bahasa tubuh Yoona yang tampak gusar.

“Ada ap—“

 “Aku menghawatirkanmu.” Sergah Yoona. Donghae terdiam. Gadis dihadapannya menatap tanpa kedipan. Sekian lama berlalu pupilnya semakin melebar berusaha meyakinkan bahwa ia serius, dan kini napasnya terengah – engah menanti reaksi Donghae yang sesungguhnya tidak ia mengerti namun cukup membuatnya penasaran. Sementara Donghae hanya membalasnya; ungkapan kehawatiran itu dengan senyum.

Kali ini giliran Yoona yang terdiam.

“Oh ya benarkah ?” ucap Donghae memecah kesunyian.

“Bukankah kau sibuk ?”

Setidaknya begitulah yang dipikrikan Donghae tentang Yoona ketika atau seandainya gadis itu tidak datang menyambangi ajakannya.

“Kehawatiranku lebih besar.” Tandas Yoona. Sekarang ia tidak ingin berpura – pura bahwa pikiran mengenai sosok lelaki itu  mengganggunya detik ini, beberapa jam kebelakang, bahkan sepanjang hari.

 “Aku mendengar dari Leeteuk Oppa, katanya kau sedang tidak enak badan.”

Sebelah alis Donghae terangkat mempertanyakan kalimat barusan, “Aku baik – baik saja. Terkadang Leeteuk Hyung memang terlalu berlebihan.”

 “Mungkin karena Leeteuk Oppa adalah Leader, wajar kalau dia seperti itu. Tapi syukurlah kau baik – baik saja.”

Donghae manggut – manggut mendengar jawaban Yoona. Ya, bisa jadi seperti itu.

Usai percakapan terakhir mereka, segalanya berubah menjadi hening. Sesungguhnya ada banyak hal yang menumpuk didalam kepala Donghae mengenai kedatangan Yoona. Jauh didalam hatinya Donghae mnginginkan Yoona mengungkapkan alasan mengenai kedatangannya lebih dari sekedar menghawatirkan. Donghae ingin mengorek lebih jauh mengenai alasan Yoona bersedia menemuinya, namun setelah dipikir – pikir hal seperti itu terkesan memaksa, bagaimana pun kehadiran Yoona ditempat ini pada menit – menit terakhir sudah cukup membuatnya bersyukur.

“Ini…”

Yoona membuka tas punggungnya yang bermotif boneka rusa, lalu mengeluarkan sebuah benda persegi yang terbungkus kertas kado bergambar ikan nemo.

“Apa ini ?”

“Kado untukmu.” Jawab Yoona tersenyum menyerahkan benda itu. Donghae meraihnya dengan wajah bingung.

 “Kado ?” Donghae mengernyit, “Sebelumnya terima kasih, tapi… hari ini aku tidak merayakan apa pun.”

“Anggaplah sebagai permintaan maafku…” ucap Yoona merasa tidak enak. Sebenarnya ia hawatir Donghae akan menganggap kado itu sebagai sogokan.

“Mmm, mianhae  karena membiarkanmu menunggu lama.” Sesalnya berusaha mempertahankan garis lengkung dibibirnya, meski pun sedikit sulit.

Donghae menatap kado pemberian Yoona, selagi menebak – nebak isinya. Benda itu berbentuk persegi datar, sepertinya bingkai foto ? entahlah.

“Dingin yaa…” Yoona tertawa mencairkan suasana. Dibalik basa basi itu sesungguhnya Yoona tidak berbohong. Ia merasa cuaca dingin bersalju mulai menusuk – nusuk  kulitnya seperti jarum.

“Itu karena kau tidak memakai pakaian yang layak.” Terka Donghae yang memang benar adanya.

“Oh ya, mianhae, tadi sebenarnya aku buru – buru…” Yoona menyadari pakaiannya yang tidak mendukung ditengah cuaca dingin. Bayangkah ia hanya memakai kaos dan sweater tipis ditambah celana jeans hitam seadanya. Terbiasa dengan penghangat  ruangan didalam kamarnya membuat Yoona melupakan cuaca dingin yang ekstrim, namun sesungguhnya alasan itu tidak mendasar, faktanya yoona terlalu mengahwatirkan Donghae hingga ia berlari keluar dormnya tanpa mempersiapkan apapun, kecuali kado itu…

Yoona baru saja merasakan benda hangat tersampir dilehernya. Seuntai Syal dikalungkan lelaki itu membuat Yoona mendongak. Donghae ikut pula menanggalkan lapisan luar jaketnya lantas menyampirkan benda itu kepundak Yoona. Gadis itu diam terpaku.

“Kau sudah makan ?” sela Donghae tiba – tiba.

Yoona bergeleng, kemudian ia mulai berpikir mengenai keanehan pertayaan Donghae. Bukankah selazimnya dirinyalah yang menanyakan pertanyaan semacam itu ? Bagaiamana pun ia sudah membuat Donghae menunggu terlalu lama ditempat ini.

“Kalau begitu ayo kita makan, aku yang traktir.” Donghae tersenyum mengusap kepala Yoona.

Nyaris Yoona tidak bisa bernapas karena ulah lelaki itu yang terlalu mendebarkan jantungnya. Fokus perhatian Yoona tertuju sepenuhnya menyelami tatapan teduh lelaki itu sebelum akhirnya menggangguk.

“Baiklah… Oppa.”

…………..

Kira – kira lima belas menit lagi proyek pemotretan brand kosmetik innisfree akan segera dilakukan. Masing – masing kru sibuk mempersiapkan diri dan mengatur berbagai property pendukung yang akan mereka gunakan untuk menunjang tema pemotetan kali ini yaitu pure nature.  Diantara  kerumunan kamera dan perlengkapan lainnya tiga orang stylish tengah merapikan penampilan model utama mereka yang tengah berdiri menanti aba – aba, Im Yoona. Rambut gadis itu ditata acak – acakan agar terlihat sealami mungkin semetara itu Yoona memilih pasrah dengan perlakuan para stylish terhadap penampilannya, Yoona tidak ingin mengurusi lebih jauh karena menganggap mereka lebih professioanal. Selagi mengisi waktu kosong Yoona menyempatkan diri mengecek ponselnya, lalu melihat – lihat sesuatu didalam galeri penyimpanan media. Kejadian kemarin malam cukup jelas terngiang – ngiang didalam kelapalanya, dan sampai saat ini belum luntur sedikit pun.

yoonhae-edit-selca

Kejadian saat foto itu diabadikan, Yoona tidak mampu menahan diri untuk tidak tersenyum mengingat kisah – kisah manis yang mereka lalui, mulai dari berselisih mengenai menu makanan dimusim dingin hingga ketika ia hendak mengembalikan syal milik lelaki itu yang berkalung dilehernya. Tentu saja Donghae menolaknya mentah – mentah, meski begitu Yoona tetap kekeuh memaksa Donghae memakainya karena Yoona merasa lelaki itu jauh lebih membutuhkannya hingga pada akhirnya mereka sepakat untuk saling bertukar syal itu lima menit sekali. Haha.

Yoona menyempatkan diri mengambil selca bersama Donghae saat mereka berdua tengah berada di restoran. Tidak ada alasan khusus bagi Yoona berfoto. Ia hanya ingin sekali didalam hidupnya mengenang lewat sebuah potret dimana ada seorang lelaki di dunia ini yang rela menungguinya selama berjam – jam dibawah salju tanpa kepastian. Entah lelaki itu bodoh atau sesuatu mengganggu otaknya tapi jauh sebelum ini Yoona pernah membayangkan suatu saat nanti ia bertemu dengan seorang lelaki yang rela berbuat bodoh untuknya. Dan kini lelaki yang pernah dibayangkannya itu berdiri dihadapannya sebagai lelaki bodoh pertama, Lee Donghae.

Selesai makan malam, energy Yoona seolah bertambah puluhan kali lipat. Gadis itu berlari menyusuri lokasi Namsan Tower. Yoona tertawa – tawa menadah butiran salju yang meluncur dari langit tanpa memperdulikan cuaca dingin yang menusuknya detik itu. Dari jarak beberapa langkah Donghae berdiri memperhatikannya. Bibirnya melengkung semakin lebar seiring tingkah Yoona yang semakin  menjadi –jadi. Bahkan kini gadis itu menarikan lagu kissing you—salah satu single girl groupnya— tanpa merasa risih dengan tatapan beberapa pengunjung yang sesekali menertawakannya diam – diam.

“Bagaiamana ? keren tidak ?” bangga Yoona usai menghampiri Donghae. Lelaki itu tergelak, “Aku tidak menyangka ternyata kau sangat memalukan seperti ini.”

“Mwo ?” Yoona memasang wajah cemberut. Lantas Donghae menangkup wajah gadis itu dan menarik paksa kedua sudut bibirnya.

“Yak, ada apa dengan wajahmu ? kemana Im Yoona yang anggun ?”

Yoona berdecak, lalu menepis tangan Donghae, “Berhenti menyuruhku bersikap seperti itu. Aku hanya akan melakukannya didepan kamera.”

Donghae tertawa. Sebagai sesama idol ia cukup mengerti tanggung jawab yang harus dipikul Yoona sebagai visual girlgroup, terutama dihadapan penggemarnya. Dongahe tidak ingin menghakimi lebih lanjut, Ia tergerak merapatkan syal dileher Yoona yang agak berantakan.

“Sekarang giliranmu.” Perintah Yoona tidak jelas.

“Apa ?”

Gadis itu menghela napas turut serta mengepulkan asap tipis dari dalam mulutnya.

“Persembahkan penampilanmu untukku.”

“Mwo ?”

“Kau tidak lihat tadi bagaimana aku menari seperti orang gila didepanmu ?” ucap Yoona setengah menuntut, “Kita berdua harus impas, mengerti ?”

Donghae berpikir sebentar, lantas membayangkan sesuatu. Haruskah ia  menari – nari ditengah jalan seperti yang dilakukan Yoona ? tapi hal seperti itu terasa aneh untuknya.

“Aku melakukan sesuatu untukmu kau juga harus melakukannya. Ayolah kalau tidak seperti itu, tidak seru…” gadis itu beralih membujuk. Donghae menatapnya sambil berpikir.

“Baiklah, tapi aku tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk menari sepertimu.”

Yoona mengangkat bahu tidak perduli, “Kalau begitu lakukan sesuatu yang bisa kau lakukan, beres kan ?”

Seperti permintaan gadis itu, Donghae melakukan sesuatu untuknya. Seusai membujuk mati – matian salah seorang pemusik di lokasi Namsan Tower untuk meminjamkannya gitar, Donghae sebisa mungkin berjuang meyakinkan Yoona agar mereka bersama – sama menaklukkan Namsan Tower. Dari berbagai fasilitas untuk mencapai  Namsan Tower selain menggunakan kereta gantung, disediakan pula tangga yang memungkinkan para pengunjung berjalan – jalan menikmati pemandangan indah disekitar Namsan sebelum akhirnya sampai didepan menara. Donghae mengajak Yoona mengarungi satu – persatu anak tangga. Kira – kira dibutuhkan waktu 20 menit. Yoona akhirnya bersedia. Rintangan panjang mengarungi anak tangga diisii dengan obrolan panjang mereka seputar hal – hal yang tidak penting namun terdengar seru dan cukup menghibur, setidaknya bagi keduanya, hingga perjalanan mereka harus tertunda sejenak, saat ini mereka memutuskan untuk beristirahat mendudukkan diri disalah satu anak tangga, sekedar untuk mengambil napas.

Pemandangan dari tempat mereka terbilang lumayan menakjubkan mengingat posisi mereka nyaris menjangkau posisi menara, tepatnya tinggal dua deretan tangga lagi yang harus mereka taklukkan.

“Yoona…” panggil Donghae, sementara seseorang yang dipanggilnya sibuk berselonjor sambil mengatur napas.

Yoona sontak menoleh, “hmmm…”

“Bagaimana ? apa kau menyukai tempat ini ?”

Gadis itu tersenyum sumringah, ia mengangguk, “Sudah lama aku terkurung di didalam layar TV dan aku sangat menikmati tempat ini. Dan… Gomawo karena telah membawaku kesini, pemandangannya sangat indah.”

Yoona terkagum – kagum menyaksikan lampu – lampu kota Seoul menyala berpadu dengan bulir – bulir salju yang berjatuhan serta tumpukan putih yang  menyangkut dipepohonan dan atap – atap bangunan. Gadis itu tersenyum – senyum seolah membayangkan sesuatu yang menyenangkan.

“Jadi, untuk menambah keindahan itu, bolehkan aku melakukan sesuatu untukmu sekarang ?” ucap Donghae lantas memposisikan gitar yang dibawanya sedemikian rupa, memangku gitar itu dan menyerong kearah Yoona.

Gadis itu tersenyum, lantas ia menyandarkan punggungnya dipermukaan dinding tangga seraya menanti.

Raut wajah Donghae berubah serius mencoba berkonsentrasi hanya kepada gitar yang saat ini digenggamnya. Yoona tampak santai memperhatikannya, meski pun didalam hati, debar – debar dijantungnya mulai tidak terkendali. Dari sudut lain, Donghae memejam lama, lelaki itu tersenyum sekilas membayangkan desir – desir nada indah yang seolah menari – nari secara otomatis didalam kepalanya.

Pilihan Donghae jatuh memainkan sebuah Lagu dari Bryan Adams yang berjudul Everything I do I do it for you. Seperti halnya isi lagu itu, Donghae ingin menegaskan semuanya dihadapan Yoona bahwa ia bersungguh – sungguh, agar gadis itu menggunakan segenap hatinya untuk melihat jauh kedasar lubuk yang terdalam, sebab  Donghae yakin perasaan mereka seimbang.

Look into my eyes – you will see ( Tataplah mataku – kau kan melihat )

What you mean to me ( Arti dirimu bagiku )

Search your heart – search your soul ( Carilah di hatimu – carilah di jiwamu )

And when you find me there you’ll search no more ( Dan saat kau temukan aku di situ kau tak perlu lagi mencari )

Donghae berhenti mengoreskan senar gitarnya, sejenak ia menatap Yoona dalam diam. Gadis itu membisu. Ketika Donghae memulai permainannya sekali lagi, gadis itu tertunduk bingung dan… perasaannya semacam ingin mengutarakan sesuatu namun rangkaian kata dikepalannya seolah mengabur.

Donghae tersenyum samar.

Don’t tell me it’s not worth tryin’ for ( Jangan katakan itu tak layak dicoba )

You can’t tell me it’s not worth dyin’ for ( Jangan katakan itu tak layak diperjuangkan sampai mati )

You know it’s true ( Kau tahu benar adanya )

Everything I do – I do it for you ( Segala yang kulakukan – kulakukan untukmu )

Ya know it’s true ( Ya, Kau tahu benar adanya )

Everything I do ( Segala yang kulakukan…. )

……I do it for you ( Kulakukan untukmu )

Sekian lama menyelesaikan permainannya, Donghae memberikan kelonggaran agar Yoona berpikir jauh lebih lapang mengenai maksud tersembunyi dari lagu yang dinyanyikannya. Donghae tidak berharap lebih ataupun merasa terlalu percaya diri, hanya saja tekadnya untuk mencari sebuah jawaban dari hubungan mereka  sudah tak lagi bisa dibendung.

“Bagaimana menurutmu ?”

Yoona menoleh kearah suara yang menyadarkannya dari lamunan. Namun sepertinya kesadaran gadis itu belum terkumpul sepenuhnya.

“Bagaimana apa ?” Yoona tampak berpikir, atau mungkin lebih tepatnya, ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya.

“Keren tidak ?” Donghae melayangkan sebuah kesan untuk Yoona yang seingatnya pertanyaan itu  ikut pula dilayangkan Yoona seusai menari di lokasi taman. Jadi kali ini mereka benar – benar impas, bukan ?

Gadis itu menimbang – nimbang. Diam – diam Donghae memperhatikan Yoona yang tampak gelisah meremas jemarinya, “Eumm, ya…”

Yoona menarik napas, lantas menukar seluruh ekspresinya menjadi riang gembira. Benar – benar acting yang bagus menurut Donghae.

Gadis itu bertepuk tangan girang, hanya saja Donghae tidak menanggapi dan tidak pula berkutik dalam posisi memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Sekarang bolehkah aku bertanya sesuatu ?”

Yoona menangakat bahunya santai, “Bertanya saja, lagi pula kita sedang tidak berada di acara talkshow, kau tidak perlu meminta izin sebelumnya.”

“Sebenarnya pertanyaan ini sudah sejak tadi ingin kutanyakan tapi aku takut kau akan merasa tidak nyaman.” Donghae terdiam sebentar.

“Apa ?” tatapan gadis itu berubah penasaran, wajahnya maju sekitar dua senti. Donghae menatapnya penuh kegundahan yang sekian lama terpendam, “Kenapa kau memutuskan untuk menemuiku ? Selain karena hawatir, apakah kau memiliki maksud lain ?”

Yoona tidak langsung menjawab, gadis itu tersenyum seolah semuanya baik – baik saja, “Kenapa kau menanyakannya ?”

“Karena aku penasaran dan aku… butuh kepastian…”

Yoona termangu seolah menduga – duga.

“Saranghae…”

Pernyataan itu seketika menyihir situasi menjadi hening…

“Saranghae Im Yoona.” Ulangnya menatap Yoona lurus – lurus tanpa berpaling. Donghae menyusuri mata bulat gadis itu dalam diam. Lelaki itu menemukan adanya keresahan tersembunyi didalam sana yang membuatnya merasa bersalah. Ada kalanya Donghae ingin memeluk Yoona dan menenangkan gadis itu dalam dekapannya dan berkata bahwa ia tidak perlu merasa tertekan.

Tapi keinginan itu hanya sebatas angan – angan. Karena hingga detik ini Yoona bahkan tidak bersedia menatapnya.

“Aku… akan memberikan jawabannya setelah kau… membuka kado yang kuberikan padamu itu.”

Akhirnya gadis itu menarik seuntai garis dibibirnya—seperti basa – basi. Sesaat Donghae terdiam. Kerutan samar memenuhi kening lelaki itu  kala ia menangkap bahwa apa yang dikatakan Yoona ialah pertanda sesuatu… kado?

“Eum udaranya semakin dingin.” Yoona menggososok – gosok kedua telapaknya mencari kehangatan. Gadis itu tersenyum lebar menarik matanya mengukir goresan bulan sabit, “Sebaiknya kita pulang saja. Dan…”

~Chup ~

Donghae terpatung, merasa seperti mimpi namun sesungguhnya nyata. Lelaki itu meraba – raba pipi kirinya sedikit menggosoknya dan seketika ia menyadari bahwa ini bukan mimpi. Kecupan Yoona serasa hangat membekas.

“Gomawo karena sudah mengundangku kemari dan atas lagunya.”  Seulas senyum lebar masih terpaku dibibir gadis itu. Yoona tampak tenang dan santai, padahal saat itu Donghae merasa bahwa tubuhnya nyaris meledak.

Yoona bangkit dari posisinya. Gadis itu memutuskan untuk melangkah pergi, mengarungi anak tangga kebawah satu – persatu. Sempat ia menoleh kebelakang, menatap Donghae yang masih terpatung ditempatnya.

‘Kira – kira apa yang dipikirkan lelaki itu ? tentangnya…’

Yoona terus berpikir, berpikir hingga detik ini sebab sampai sekarang ia belum mengetahui reaksi Donghae mengenai jawabannya. Apakah senang atau lebih dari itu. Yoona sangat penasaran mengetahuinya dan entah bagaimana ia ingin sekali bertemu lelaki itu secepatnya. Namun apa daya jadwal mereka sama – sama terbilang padat, jadi sepertinya ia harus sedikit bersabar.

“Para kru bersiap – siaplah.” Seseorang lelaki setengah baya yang memimpin proyek pemotretan kali ini memberikan aba – aba. Yoona lantas memasukkkan ponselnya kedalam tas. Tidak hanya ponselnya, Yoona terpaksa mengesampingkan sosok Donghae untuk sementara. Gadis itu mencoba bersikap seprofesional mungkin. Namun bukan berarti Yoona mampu melupakan sosok lelaki itu begitu saja, nyatanya kini bibirnya tidak bisa berhenti menyunggingkan seulas senyum, untunglah nuansa pemotretan kali ini dipenuhi keceriaan. Mood yang sangat mendukung, ia tidak harus membuat senyumnya tampak dipaksakan, sebab senyuman itu tersungging dibibirnya secara alami sepanjang hari.

Mungkin semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana. Yoona optimis bahwa ia bisa melewati hari – harinya dengan baik. Mungkin, terkecuali menebak sesuatu yang paling mengganggu pikirannya hingga detik ini;  ‘Jantungnya terus berdebar – debar. Apakah dia merasakan hal yang sama ?’

……..

Terhitung hampir belasan kali Donghae berusaha mencuri waktu untuk membuka sebuah kado persegi yang diberikan oleh Yoona tempo lalu. Setiap kali ia hendak membukannya, ada – ada saja yang sengaja melakukan pemergokan. Dimata Donghae, setiap orang seolah berubah menjadi pengganggu berbahaya dan mereka harus diwaspadai. Contohnya Heechul yang pernah tertangkap basah oleh Donghae hendak mencuri kado itu dari dalam tasnya, beruntung sebelum hyungnya berhasil mencuri benda itu, Donghae lebih dulu berteriak dan menarik barangnya yang sangat berharga. Donghae berkilah tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh benda itu selain dirinya. Sikap over protective inilah yang membuat para member groupnya terbingung – bingung bahkan mereka mulai penasaran dengan seseorang yang memberikan kado itu. Mereka mulai menebak – nebak. Sabagian salah, sebagian benar.

“Apakah itu dari Yoona…” entah dari mana sumbernya tiba – tiba Leeteuk berbicara dengan sangat yakin.

“Lihatlah kau tertangkap basah. Wajahmu sudah seperti kepiting rebus.” Lelaki tua itu menunjuk – nujuk wajah Donghae dan mengutarakan ledekannya yang menggelikan itu.

Donghae berdecak, cenderung salah tingkah. Tanpa basa basi ia langsung mendorong Leeteuk keluar dari kamarnya lantas menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Suara Leeteuk masih tertangkap ditelinganya, namun ia tidak perduli.

Donghae duduk ditepi ranjangnya yang menghadap kearah jendela. Dari luar ia menatap bulir – bulir salju berhamburan. Lelaki itu tersenyum tanpa sadar mengingat sesuatu. Lantas pandangannya jatuh kearah kado yang berada dibawah bantal. Donghae meraihnya. Lelaki itu menghirupnya dalam – dalam seolah wangi Yoona masih tertinggal disana.

Kado pemberian gadis itu sesungguhnya tidak pantas dirobek. Donghae merasa tidak tega melakukan hal itu. Sayangnya, ia tidak punya pilihan lain.

Dengan segenap keyakinan, Donghae merobek kertas kado bergambar ikan nemo itu.  Gerakan tangan Donghae terbilang lekas dan buru – buru sebab ia terlampau penasaran dengan isinya.

Ternyata isi dari bungkusan kado itu adalah… sebuah buku diary.

Buku diary berwarna biru muda. Masing – masing covernya bermotif rusa yang berada ditengah salju. Donghae tersenyum. Desain motifnya sangat manis, mengingatkannya pada seseorang.

Donghae memutar kunci pada gembok diary itu. Pengaitnya terbuka. Lantas ia bergegas menyibak halaman pertama. Donghae tidak berharap Yoona  meninggalkan tulisannya berupa sepatah kata disana namun ia memiliki firasat akan itu.

Lengkungan halus dibibir Donghae tersungging kala ia benar – benar menemukan tulisan tangan Yoona menorehkan goresannya pada lembaran pertama.

Hai Lee Donghae—Oppa…

Aku tidak pandai merangkai kata – kata, ditambah lagi ketika aku menuliskan ini, aku sedang berada didalam taksi. Mungkin tulisanku sangat berantakan. Ya, katakanlah begitu, aku minta maaf.

Donghae tersenyum membaca parangraf pertama yang dituliskan Yoona. Penilaiannya mengenai tulisan Yoona tergambar secara otomatis, tulisan Yoona terbilang rapih. Gadis itu terlalu berlebihan.

Kalau begitu mari kita mulai… ekhmm, baiklah Oppa…

Mungkin aku tidak bisa mengucapkan selamat ulang tahun untukmu disetiap tahunnya namun detik ini izinkan aku menyambutmu dengan segenap jiwa, selamat datang didunia ini, dan terima kasih sudah dilahirkan sehingga aku bisa mengenalmu lebih jauh ^^

Sesuai keinginanmu, aku ingin menanggapi sebuah kepastian yang kau tawarkan waktu itu.

Kau berkata bahwa perasaanmu sudah tidak terbendung dan ingin menegaskan sesuatu tentang hubungan kita. Baiklah setelah kupikir – pikir tidak ada salahnya mencoba. Selama ini aku sering kali membuatmu kebingungan karena sikapku yang cenderung menghindari segala pembahasan soal cinta. Tanpa menjelaskan alasannya kau pasti tahu bukan ? Aku belum sanggup menjalin suatu hubungan ketika membayangkan bahwa hubungan itu harus berakhir tragis seperti halnya hubungan kedua orang tuaku yang akhirnya saling membenci.

Dari matamu aku bisa melihat bahwa tidak sedikit pun kebencian yang memancar dari sana. Aku percaya, sangat percaya bahwa kita berdua tidak akan pernah saling membenci.

Kau adalah satu – satunya lelaki yang membuatku hawatir sekaligus frustrasi. Aku memikirkanmu sepanjang hari dan kuharap saat ini kau merasakan hal yang sama.

Oppa…

Mulai sekarang aku ingin memulainya denganmu karena aku percaya. Mohon jangan pernah menyalahgunakan kepercayaanku.

Seperti lembaran didalam buku diary ini yang bersih tanpa noda, aku ingin kita berdua memulai semuanya tanpa ikut membawa celah – celah di masa lalu yang berpotensi melukai. Sekali lagi aku mempercayaimu.

Berharap kita berdua akan bahagia bersama – sama.

Sekian.

Dari seorang gadis yang tidak bisa berhenti memikirkanmu.

Im Yoona.

Baiklah, Donghae hanya berharap bahwa semua ini bukanlah mimpi. Lelaki itu menutup sampul buku diarynya. Bahkan setelah buku itu ditutup, Donghae tidak lagi mampu bersikap biasa. Tulisan tangan Yoona bagai menghantui kepalanya terus menerus. Donghae tersenyum sendiri seperti orang bodoh.

Menatap buku diary yang masih digenggamnya sekali lagi, Donghae manatap dengan penuh tekad yang membara.

Im Yoona, akan kupastikan kau akan menjadi milikku selamanya !!!

Malam ini Donghae akan menemui Yoona, dan ia sudah memikirkan hal pertama yang akan dilakukannya, memeluk gadis itu. Donghae akan memeluk Yoona seerat mungkin. Donghae berjanji tidak akan melapas Yoona sampai kapan pun. Donghae berjanji akan menjadikan Yoona wanita paling beruntung karena pada dasarnya Donghae merasa jauh lebih beruntung memiliki gadis itu disisinya.

Ya, Donghae berjanji akan melakukan apa pun untuk membahagiakan Yoona.

He will do anything – He would do this for someone…

………The End……….

Udah ^^

Jangan pada demo soal endingnya ya ahahhahaha. Aku juga bingung bagaimana cara mengakhiri kisah ini. Seperti yang aku bilang diatas, aku aja nggak tahu lagi nulis apa hahaha, jadi terimalah FF yang hancur lebur ini wkwkwk.

Semalaman aku nulis ini dan akhirnya selesai dan bisa dipublish, sekalian mengeyahkan sisa – sisa galau kemarin hoelll… Efeknya badan ini kayaknya udah nggak sehat karena kebanyakan begadang ga jelas deh gue, lah numpang curhat wkwk

Sebenarnya gak niat nulis FF sih, aku maunya langsung publish poto editan di facebook aku ( foto editan yang ono noh diatas, tahu kan ?) nah tapi… aku takutnya ada yang sotoy bilang inilah, lebayy, begitu begini, begindas n ngehong (?) kan lagi jaman tuh orang2 yang merasa sakit hati karena poto editan, iya gak sih ahhahhaha, aku mah sellowww aja deh…

So, aku akhirnya berpikir untuk nulis FF, supaya nanti poto editannya lebih bernilai nggak ngegembel2 amat di beranda FB haha

Okey udah segitu dulu yaa…

Keep fighting, keep strong and keep smile Pyros !!!

Bye bye ^^^^

30 thoughts on “[ Oneshoot ] FF YoonHae – Falling For You

  1. ichus berkata:

    Etcieee cieeeee…. akhirnya Yoona juga mengakui perasaannya. Cerita yg manis 😍
    dan pictnya ituu, aku sukaaaaaaaa sekaleeeehh
    klo mau dibikin sequel juga boleh itu..
    ditunggu pokokx 😁

  2. idaa ziiosay berkata:

    Ecie cie so sweet bnget ah ya ampun bang ga dsangka perasaan ya kebales juga haha manis bngt smpe2 diabetes bacanya hehe
    Berharap dkehidupan nyata mereka bakalan begini juga 😄, tapi lebih mantel lagi ada sequelnya ini

  3. novi berkata:

    menurut ak alur ny kayak ny kecepatan thor ntah knpa ak kurang greget baca ny moment romence ny kurang😔mian..keep faithing thor di tunggu next ff

  4. tryarista w berkata:

    akhirnya jdian jg,,,,
    pi pgennya yg chapter,,,
    pi g apalah buat ngsi kekosongan nungguin ff laennya yg blm clear,,,,hehehehe

  5. novasusmala46 berkata:

    huweee baper dibuat sm endingnyaa..
    dikira bklan ad yoonhae moment. etapi gpp deh. lanjutin sndri2 dikepala masing2.. kkkkk
    fotonya juga bkn baper ye, pdhl udh diedit sedemikan rupa, tp ttp ajj keinget foto asli.
    ttep semangat..!!

  6. uly assakinah berkata:

    thor ceritanya bikin aku nangis mulu. akhirnya yoona unnie nerima donghae oppa juga. tidak ada penantian yang akan sia-sia. SEQUEL thor

  7. Nurul hidayah berkata:

    Sweet bgt lihatnya, conflict.nya bikin gemes , hae ama yoong bener2 sesuatu🙂
    Sering2 buat ff yg conflictnya soft2 aja eon, soalnya gemesin,
    Next ff d tnggu, suka deh kalau rajin update gini😀
    Sweet legacy n next ff d tnggu ne? Fighting

  8. nha elna berkata:

    elaaah foto itu yg kmaren bikin galau,walaupun udh di edit ttp ada krenyes2 di hatiku *lebay..
    ending’y kurang greget,sikap yoona malah yg bikin greget di sini,tapi ttp keren sering2 ya unn post ff nya,sweet legacy jg cepet di post…

  9. Tya berkata:

    Donghae emg bodoh, mau nungguin sampe 5 jam
    Tp kebodohan dy bikin melting
    Untung aja, akhirnya yoona mau mencoba memulai sebuah hubungan
    Tp kenapa endingnya gantung, yoonhaenya belum pelukan wkwk 😂😂

  10. detolyhhun berkata:

    hebat donghae rela nunggu yoona selama itu di cuaca yg begitu dingin.. tpi akhirnya gak sisa2.. yoona pun memiliki rasa yg sama… next ff di tunggu kak.. terlebih sweet legacy nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s