[ Oneshoot ] FF YoonHae – Not A Bad Thing

Title : Not A Bad Thing

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15

Words : 7300+

Haiii… Mumpung ada waktu luang aku kejar tayang nulis FF kilat dan syukurlah bisa publish hari ini !!! kebetulan momennya pas di hari ultah Donghae Oppa ^^

Saengil Chukkae Donghae Oppa yang ke-31 !!!

Btw FF ini nggak ada hubungannya sama ultah gitu2 loh. Aku nulis ya nulis aja hahahaha. FF ini terinspirasi dari lagu Justin Timberlake _ Not A Bad Thing. Thanks buat Justin Ahjussi (?) atas lagunya yang membangkitkan mood aku dalam menulis FF ini.

Sekian cing cong nya, Happy Reading ^^

.

.

.

“Donghae Oppa!”

Ya Tuhaan. Donghae mendengus. Tidak salah lagi, suara gadis itu. Jelas, ini adalah  pertanda bahwa dunianya yang saat ini diliputi kedamaian akan terbengkalai sebentar lagi.

Lelaki itu membuka matanya mengakhiri tidur paginya dihari minggu yang sudah jauh –jauh hari direncanakannya. Samar – samar ia menangkap senyum lebar kebangaan gadis itu tersungging. Gadis itu…namanya teridentifikasi secara otomatis dikepala Donghae…. Yoona. Entah bagaimana cara yang ditempuh Yoona hingga berhasil masuk kedalam kamarnya, lalu dengan seenak hati  mengambil posisi duduk ditepi ranjang. Donghae berbalik badan memunggungi Yoona, seraya bergegas menutupi telinganya dengan bantal. Kalau saja detik ini ia dihadiahi satu permintaan yang akan dikabulkan oleh seorang pesulap,  Donghae akan meminta sang pesulap untuk segera melenyapkan senyuman gadis itu yang beberapa detik lalu tertangkap oleh matanya dan  kini terbayang – bayang seperti halnya mimpi buruk tak berkesudahan.

“Donghae Oppa.. Oppa.. Oppa..” bisik Yoona berulang ulang diatas telinga Donghae. Lelaki itu mendengus  dan memututar tubuhnya menjadi tengkurap

“Pergilah! Kau mengganggu istirahatku. Jangan pernah masuk kekamarku seenaknya. Dan berhenti memanggilku, Oppa.”

Tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya, Yoona cekikikan..

“Hmmm kalau bukan Oppa, lalu apa?” Bibir Yoona mengerucut beberapa sendti ketika ia sedang sibuk berpikir, “Donghae-ssi? Ah menurutku kau mirip ikan, jadi bagaimana kalau Prince nemo?”

“Nemo… Nemo… Nemo…”

Donghae mulai geram. Ya ampun Gadis gila itu, kadar kegilaannya semakin bertambah. Dan apa tadi kataya? Prince Nemo? Panggilan aneh macam apa itu?

Donghae bangun dari posisinya, membuang bantal ditangannya kesembarang arah, lalu menatap Yoona penuh kekesalan.

“Aishhh gadis berisik! ! Aku tidak mau dipanggil apapun olehmu, jangan pernah menyebut –  nyebut namaku apalagi memanggilku dengan sebutan kekanak – kanakan itu.” Tandas Donghae berapi – api. Sebenarnya ada banyak sumpah serapah yang ingin Ia semburkan hingga detik ini, terhadap siapa pun orang yang menghancurkan mimpi indahnya. Sayangnya, Donghae merasa tidak punya cukup tenaga dan selera untuk meladeni gadis itu.Ia hanya ingin agar  gadis bernama Im Yoona itu segera angkat kaki dari rumahnya.

“Sekarang pergi dari sini , bocah !”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Tidak mau, sebelum kau mengizinkanku memanggilmu Oppa, aku akan tetap disini..” kukuhnya melipat kedua lengannya dibawah dada.

Donghae mengacak rambutnya frustrasi dan menarik napas panjang guna menetralisir perasaan sesaknya yang berubah kronis..

“Eomma !!! kenapa gadis ini bisa ada dikamarku ?!” teriak Donghae sekencang – kencangnya agar sang Eomma yang sepertinya sedang memasak didapur mendengarnya. Donghae yakin ketika Eommanya sibuk berkutat dengan urusan dapur, disitulah Yoona menyusup masuk.

“Hae-ya, kenapa berteriak – teriak seperti itu,” sahut Nyonya Lee sambil lalu. “Tidak baik bersikap kasar pada tetangga baru kita. Yoona tidak punya teman di Seoul, kasihan dia !”

“Tapi Eomma…”

Tiba – tiba Nyonya Lee muncul diambang pintu, “Eomma yang menyuruh Yoona membangunkanmu. Dari pada bermalas – malasan di hari minggu, lebih baik kau ajak Yoona jalan – jalan.”

Donghae baru saja akan berbicara sepatah kata, namun sang Eomma lebih dulu mengacungkan telunjuknya pertanda diam.

“Tidak ada bantahan atau… Eomma akan memotong burungmu !” ancam Nyonya Lee kemudian menghilang.

“Andwae andwae…” teriak Donghae kelabakan. Yoona terkesiap oleh sesuatu yang mulai terbayang – bayang. Tanpa sadar mulutnya menganga sedikit demi sedikit, menyusul  napasnya yang tertahan  kala mengamati lelaki itu.

“Mwo-ya ? a-apa yang kau lihat ?” sungut Donghae mulai risih menilai tatapan Yoona yang aneh menurutnya.

Yoona bergeleng kaku, “A-ni… hanya saja kupikir ancaman Eommamu sedikit mengerikan…” ia meringis.

“Mengerikan ? Maksudmu ?!” Donghae mengernyit semakin tidak mengerti.

“Maksudku.. eummm…” Yoona menggigit bibir bawahnya, “Bagaimana ya cara mengatakannya…Eummm maksudku bagaimana pun barang  yang menurutmu sangat berharga harus dijaga sedemikian rupa agar nantinya dimasa depan menghasilkan keturunan. ”

“Kyaaa.” Donghae berjegit lalu ia bergegas melipat kedua tangannya didepan dada, “Apa yang sedang kau pikirkan ?!”

“Aku…” Yoona memutar – mutar bola matanya keatas, “Burung, kan ? punyamu.”

Wajah Donghae berangsur pucat pasi sementara itu Yoona masih sibuk berpikir. Tatapannya yang polos justru sibuk menerka – nerka, “Siapa namanya ? Lili ? Lion ?”

Yoona tersenyum lebar, “Kau memelihara sepasang merpati berwarna putih, bukan ?”

Sepasang merpati… Donghae mematung seperti orang bodoh, “Ya…”

“Nah itu maksudku… Eommamu sangat kejam jika berniat menyembelih merpati itu, bagaimana pun mereka adalah mahluk hidup yang harus dilindungi, lagi pula bukankah nantinya mereka akan menghasilkan keturunan yang lucu – lucu ? Ya kupikir begitu.”

Donghae menganga mendengar penjelasan Yoona, lantas mengerjap dengan rasa tidak percaya. Kau benar – benar bodoh Lee Donghae. Gadis itu serba tahu, tentu saja ia sudah tahu tentang merpati yang sering berterbangan disekitar rumahmu. Lalu… sial, sebenarnya siapa  diantara mereka yang justru berpikiran kotor ?

“Jadi kita mau kemana hari ini ?” lanjut Yoona masih setia menyunggingkan senyumnya yang rigan..

Sementara itu Donghae disibukkan oleh isi kepalanya yang berantakan, Lelaki itu menjambak rambutnya jengah memikirkan kebodohannya barusan. Dan lagi – lagi karena Yoona.  Biasanya ia akan langsung mengusir secara langsung orang – orang yang membuatnya sakit kepala. Namun entah mengapa kebiasaan  itu tidak berlaku pada gadis ini.

Im Yoona, gadis aneh yang selalu menghiasi bibirnya dengan segores lengkungan bulan sabit. Bocah mengerikan yang dua minggu ini berstatus  tetangga barunya. Gadis aneh yang sedang mencari pekerjaan. Gadis itu terbilang memasuki usia dewasa namun bagi Donghae berbeda. Ia kekuh menyebutnya ‘bocah’ karena ada saja tingkah gadis itu yang membuatnya kesal sepanjang hari. Gadis itu kerap kali melontarkan berbagai pertanyaan mulai dari pembahasan mengenai kota Seoul hingga urusan pribadinya, bahkan tanpa tahu malu, gadis itu sering kali memohon lalu merengek – rengek agar Donghae melakukan ini dan itu sesuai permintaannya..

Hingga detik ini penyesalan itu  kerap kali menghadang perasaannya kala Donghae mengingat kejadian itu. Kejadian yang menjadi penyebab awal mula menempelnya Yoona seperti perangko dimana pun ketika mereka bertemu. Sebelas hari lalu,  Donghae tanpa sengaja menolong Yoona. Menolong ? sebutan itu terdegar dibuat – buat. Sebenarnya Donghae menghajar seorang lelaki berandalan tukang mabuk  yang mengganggu Yoona didepan gang sepi saat jam 12 malam. Jujur, bukannya karena ia ingin menjadi pahlawan untuk Yoona apalagi menolongnya, tapi karena teriakan gadis itu yang nyaring sangat memekakkan telinganya. Lantas Donghae berinisiatif memusnahkan akar keributan. Tanpa basa – basi, Donghae mengarahkan tinjunya kearah  brandalan pemabuk yang mengganggu Yoona hingga pingsan ditengah jalan. Tidak disangka – sangka, Yoona memeluknya sambil menangis. Yoona berkata bahwa ia tersesat. Donghae menanyakan alamat tempat tinggal Yoona yang  setelah ditelisik lebih rinci alamat yang diberikannya adalah… alamat tetangganya. Oke, mereka pulang bersama.

Dan sejak malam naas yang menimpanya, bocah itu  menganggap bahwa Donghae adalah dewa penolongnya. Yoona lebih sering mengunjungi rumahnya setiap hari, bahkan gadis itu mulai bersikap sok akrab dengan seluruh anggota keluarganya, dari situ  Yoona lebih mudah mengumpulkan segala informasi mengenai Lee Donghae. Fakta bahwa Yoona sangat mudah bergaul dan disukai banyak orang adalah mimpi buruk baginya.

“Sekali – kali kau bisa mengajakku bermain dengan Lili dan Lion ?” Suara Yoona  menyadarkan Donghae dari lamunan.

Yoona  menatap Donghae memohon, wajahnya tampak innocent terutama dibagian matanya yang seolah berkaca – kaca. Andaikan saja pembawaan gadis itu  lebih kalem… oke lupakan.

“Jebal, Oppa…”

“Sudah kubilang, aku tidak mau dipanggil oppa olehmu, itu menggelikan.”

Donghae mendengus lalu ia segera turun dari ranjang melewati tubuh Yoona yang tampak terdiam kaku. Masa bodoh. Sekarang ini waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Sebenarnya Donghae masih mengantuk karena semalam ia harus bekerja lembur di kantornya, tapi demi menghindari kemarahan sang Eomma, ia harus memaksa dirinya untuk bangun pagi.

“Ah, pagi yang cerah.” sambut Yoona tersenyum riang usai menginjakkan kaki di pekarangan belakang rumah keluarga Lee.

“Woahh, langitnya sangat indah, lihat itu disana.” Girangnya menunjuk – nunjuk keatas.

Donghae mendongak sekilas, lalu berpaling kearah Yoona tanpa  ekspresi. Selain kekanak – kanankan, gadis itu sangat norak. Bagaimana mungkin langit yang terlihat biasa – biasa saja dimatanya  berubah mengangumkan dimata gadis itu ?

“Awannya seperti permen kapas ! Aku ingin kesana hihi !” Pekiknya.

Donghae mengorek telinganya yang mulai berdengung. Bingung, apa yang harus dilakukannya agar gadis itu berhenti mengoceh ?

“Awannya bergerak satu demi satu, kau lihat yang tadinya membentuk gumpalan, sekarang terpisah menjadi tiga….”

“Dan itu… wah bentuknya seperti hati. Langit di Seoul daebakkk !!!”

Yoona melompat – lompat kegirangan, kedua tangannya menangkup didepan dada. Sambil mendongak ia memejam, “Awan selalu disana setia dibawah langit yang biru. Mereka berdua melewati banyak cobaan, mendung, petir, badai semua bergerumul menyakiti angkasa, namun bukan berarti mereka berpisah. Awan dan langit akan tetap disana, menemani satu sama lain menunggu secercah cahaya menyinari bumi. Suatu saat nanti aku akan menjadi seperti mereka. Aku dan dia, lelaki masa depanku. Aku ingin menemukan langitku sendiri.”

Slaaasshh….. Semprotan air mengenai wajah Yoona. Gadis itu berpaling mengibas – ibaskan tangannya. Terdengar suara tertawaan puas yang mengiringi kepanikan gadis itu.

“Bagaimana, sudah sadar dari mimpimu ?” Ucap Donghae setengah mengejek. Yoona terperangah menyadari tubuhnya setengah basah.

“Berhentilah berhayal – hayal, Nona. Ini.” Tanpa rasa bersalah sedikitpun Donghae menghampiri Yoona lantas meletakkan sebuah gunting kebun diatas telapak tangan Yoona. Begitu tergenggam sempurna, Donghae membalik tubuh gadis itu lalu mendorongnya kearah tanaman disudut pagar, “Bantu aku menggunting daun kering.”

Yoona mendengus namun ia tidak berkata apa – apa. Yoona segera melakukan apa yang diperintahkan lelaki  itu.

Dari jarak beberapa langkah Donghae melirik Yoona yang tengah sibuk memeriksa kondisi dedaunan yang merambat dipagar.  Gadis itu tersenyum – senyum entah karena apa. Mungkin saat itu ia tidak sengaja menemukan semut atau kupu – kupu dan mengajak mereka bertelepati—kecuali jika mahluk yang ditemukannya sejenis ulat, ia pasti akan berlari terbirit – birit detik ini. Selain tersenyum seperti orang bodoh, ia juga tampak menggumamkan sesuatu. Berbicara sendiri, tertawa sendiri, sungguh gila.

Sekelebat ide terbersit dikepalanya. Donghae menatap semprotan air yang saat ini berada dibawah kuasanya. Menyiram tanaman mulai terasa membosankan. Tiba – tiba lelaki itu ingin menyelipkan variasi lain…

Donghae melangkah kearah posisi Yoona sedikit demi sedikit…

Slashhh…

“Aaaaaa…” Sambil berteriak Yoona berlari menghindari sempotan air. Donghae tidak tinggal diam, lelaki itu ikut mengejar Yoona. Mangsa tidak boleh dilepas begitu saja, pikir Donghae.

Serangan Donghae bertubi – tubi menghantam Yoona hingga percikan  – percikan itu serasa bagaikan air terjun. Yoona berteriak sambil berlari kesana – kemari namun bagi Donghae hal tersebut tidak lain adalah inti keseruan. Menyenangkan rasanya, Donghae memiliki kepuasan tersendiri ketika ia melihat Yoona kelabakan.

Hanya saja… tanpa Donghae sadari, tatapan gadis itu menajam… Yoona menerjang Donghae lantas merampas serang air dari tangan lelaki itu. Donghae tidak begitu saja melepaskan hingga terjadilah aksi tarik menarik.

“A-awwwhh…”

Satu gigitan Yoona menyengat jemari Donghae. Lelaki itu mengaduh kesakitan, genggamannya terlepas merelakan selang  air yang otomatis menjadikan Yoona sebagai pemenang. Kini posisi mereka berbalik. Giliran Yoona yang menyemprotkan air kewajah Donghae. Tubuh lelaki itu ikut basah kuyup namun tampaknya Yoona tidak kunjung berniat menyudahi acara balas dendamnya.

“Yoona- aishh hentikan !” protes lelaki itu. Yoona menjulurkan lidah, “Tidak mauuu bwee…”

“Donghae-ya kenapa ribut sekali !!!”

Donghae terkesiap mendengar teriakan Eommanya dari dalam rumah. Semakin lama suara Eommanya beranjak mendekati mereka. Donghae segera menarik tangan Yoona berlari ke sebuah sudut tembok. Gadis itu mendadak bingung mempertanyakan sikap Donghae, seolah  ia tidak menyadari bahaya yang sebentar lagi mengancam mereka. Donghae yakin Eommanya akan megomel panjang lebar melihat keadaan mereka yang basah kuyup.

“Stt diam disini.” Desis Donghae meletakkan telunjuknya diatas bibir. Lelaki itu pergi untuk melihat keadaan dibalik tembok. Saat ini  ia berhasil mengajak Yoona bersembuyi dibagian sisi rumahnya.

Dari jarak lima belas meter Donghae menangkap pergerakan Eommanya. Eommanya berjalan kearah selang air yang masih menyala sambil menatap bertanya – tanya. Segera ia mematikan keran air sebelum akhirnya kembali memasuki rumah.

Donghae menghela napas, berutung mereka tidak tertangkap.

“Apakah sudah aman ?” Yoona hendak mengintip seperti Donghae namun lelaki itu buru – buru mendorongnya kebelakang hingga membentur tembok.

“Sekarang lebih baik kau pulang dan ganti baju. Aku tidak mau jika kau akhirnya sakit dan merepotkanku tahu ?!” peringat Donghae mewanti – wanti. Bagaimana pun ia beberapa kali menangkap cerita yoona bahwa ayah dan Ibunya tidak tinggal di Seoul dan hanya berniat mengunjungi gadis itu dua minggu sekali. Donghae tidak mau mengorbankan hari harinya yang indah demi sebuah mimpi buruk yang menyeramkan. Bayangkan saja bagaimana nasibnya jika ia harus memenuhi rengekan gadis itu sepanjang hari hanya karena penyakit demam yang tidak seberapa. Benar – benar neraka.

“Hua, ide bagus !” cetus Yoona tiba – tiba. Donghae mengernyit bingung.

“Kalau aku sakit berarti aku punya alasan untuk merepotkanmu, bukan ? Kalau begitu aku ingin sakit !” Pupil mata Yoona melebar seolah menemukan sesuatu yang menarik untuk dibayangkan.

Pluk. Sekepal jitakan Donghae mendarat dikepala Yoona. Gadis itu mengusap – ngusap kepalanya  sambil menggerutu.

“Kau pikir sakit itu enak, hah ?!”

Seolah sibuk sendiri, gadis itu mengendus – endus udara dan mematung, “Hachinn…”

Donghae menepuk keningnya frustrasi. Tenyata benar, kekebalan tubuh gadis itu lemah sekali.

Yoona mengusap – usap hidungnya seraya tersenyum. Senyum tanpa dosa yang membuat Donghae semakin putus asa.

Donghae terdiam sejenak untuk berpikir. Ada sesuatu yang mendadak terbersit dikepalanya. Ia pernah membaca sebuah artikel bahwa cara untuk mendongkrak sistem imun tubuh seseorang, salah satunya adalah dengan…

“Yoona, kau tidak berniat untuk sakit bukan ?” Donghae mendesak tubuh Yoona kesisi tembok. Gadis itu tambak bingung.

“Eumm….” Usai menimbang – nimbang sekian detik seraya menatap wajah Donghae yang tidak biasa, Yoona menjawab, “Baiklah tidak…”

“Oke kalau begitu tenanglah, jangan berteriak oke ?”

“W-wae ?”  Bola mata Yoona bergerak gelisah, terlebih ketika Donghae menjulurkan kedua lengannya hingga mengukung tubuh Yoona.

“Aku akan melakukan sesuatu agar kau tidak sakit.” Jelas Donghae.

Gadis itu tampak menelan ludah, “Apa maksudmu—“

Kalimat yang berakhir sia – sia. Alasannya karena Ia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara lebih jauh. Donghae lebih dulu mengunci bibirnya yang sedikit menganga. Yoona mematung tidak percaya menyadari keadaan ini. Gadis itu mengerjap kaku seiring pembiarannya terhadap ulah Donghae menyesap bibirnya dan membangun sebuah tautan yang mempersatukan bibir mereka tanpa jarak. Yoona merasakan dengan jelas gerakan bibir Donghae yang menggeliat diatas bibirnya, seketika membuat Yoona sesak tak bertenaga. Gadis itu  menarik napas panjang,  tak ayal memberinya cukup energy untuk menguatkan pijakannya, tanpa sadar kedua matanya menutup. Sensasi manis bibir Donghae semakin nyata. Donghae bagai memangut bibirnya sedalam yang bisa ia lakukan.

Sapuan angin yang membasuh tubuh mereka yang basah kuyup kian menambah sensasi dingin dan sejuk. Dorongan misterius dari dalam dirinya membawa Yoona mengarahkan kedua tangannya berkalung mengitari leher Donghae. Suasana bagai memanas ketika Donghae mendorong tengkuk Yoona semakin dalam dan penuh tuntutan. Bibir Donghae berputar – putar menekan bibir Yoona disetiap sudutnya, melumat dan menyesapnya; segala rasa manis yang merebak dari sana. Beberapa menit mengarungi penyatuan panjang, ciuman mereka akhirnya menemukan sebuah pangkal , baik Donghae mau pun Yoona perlahan melepaskan diri satu sama lain, penyebab utamanya adalah karena kehabisan napas.

“Maaff…” ucap Donghae penuh sesal. Ia mencoba mengatur suaranya, “Dan tarimakasih atas kerjasama-mu untuk tidak berteriak…”

Lelaki itu menarik napas panjang , “Jangan salah paham aku… aaku hanya mencoba meningkatkan kekebalan tubuhmu agar kau tidak sakit… baiklah kuharap kau mengerti.”

Detik – detik berjalan Yoona hanya mematung. Jangankan berteriak, ia hampir tidak percaya bahwa perlakuan Donghae semata – mata  hanya untuk mencegah agar dirinya agar tidak terserang penyakit. Tiba – tiba ia ingin mendengar sekali saja Donghae berkata bahwa ia bersungguh – sungguh, kalau saja bisa…

Menyadari bahwa tatapannya masih terfokus diwajah lelaki itu, Yoona cepat – cepat berpaling. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan menunduk takut – takut.

“Em-m jadi menurutmu ini akan berhasil ?”

Donghae berdehem, namun begitu ia sedikit risih ketika berniat mengawali tatapan lebih intens dengan Yoona. Entah bagaimana, tepatnya satu detik belakangan ini  Donghae merasa dihantui sesuatu yang mengganjal didalam dirinya,  terasa aneh dan tidak biasa.

“Ya, semoga…” jawab Donghae memutuskan untuk tidak menatap Yoona.

“Kalau begitu.. aku pergi.”

Yoona bergeser dari hadapan Donghae dan mulai berjalan mundur, “Bye…” pamit gadis itu melambai – lambaikan tangan, meski pun harus diakui bahwa lambaian itu tidak selues biasanya, kali ini agak kaku.

Setelah kepergian Yoona, Donghae menghempaskan tubuhnya di permukaan tembok. Lelaki itu tidak henti – hentinya menggerutu tentang perbuatan bodohnya yang terbilang nekad, padahal… gadis itu tidak tahu apa – apa.

Donghae mendongak kearah hamparan biru, disekitarnya bertaburan kabut putih, keduanya berpadu tampak begitu tenang diatas sana. Tiba – tiba pikiran lelaki itu sontak dipenuhi sosok Yoona. Tidak tahan menghadapi itu semua, Donghae mengacak rambutnya seperti nyaris gila dan lagi – lagi karena gadis itu. Sekali pun ia tidak pernah menyangka sejarah akan mencatat bahwa hari ini mereka melakukan sesuatu yang… menggetarkan jantungnya.

Ya, dirinya bersama gadis aneh itu, Im Yoona.

***

Mungkinkah akhir – akhir ini gadis eneh itu sedang sibuk?

Kenapa dia tidak pernah menemuiku?

Ah, sudahlah. Bukankah itu lebih baik, setidaknya ia tidak membuat keributan disini. Donghae tidak perlu mendengar suara berisiknya dan itu berarti  tidak  ada lagi bocah pengganggu di rumahnya…

Donghae yakin buah pemikirannya diatas cukup mendasar. Sudah seminggu sejak kejadian di pekarangan belakang, Yoona tidak pernah menemuinya. Beberapa kali mereka saling pandang dari kejauhan. Sewaktu – waktu Donghae tidak sengaja melihat Yoona ketika gadis itu membuka pagar rumahnya, mereka saling menyadari kehadiran satu sama lain tapi ada yang berbeda, sikap gadis itu terbilang sangat datar untuk seukuran bocah pengganggu. Donghae tidak berani menegurnya, ralat bukan tidak berani. Hanya saja ia merasa aneh dan…. Canggung. Sebenarnya kasus janggal itu bukan hanya saat kejadian di depan pagar rumah Yoona namun terdapat pula kejanggalan lainnya.

Aneh, kali ini bukan lagi gadis itu yang berpredikat aneh tapi dirinya. Satu kata yang melambangkan perasaannya kini, gelisah, gelisah tanpa sebab yang pasti. Ia merasakan selongsong lubang kekosongan dihatinya entah dibagian mana. Apakah ini yang dinamakan… rindu ? atau sepertinya lebih dari itu…

Donghae duduk didepan sebuah meja tulis di kamarnya, ia menyalakan lampu baca, mengambil alat tulis seperti halnya kertas dan pulpen, lalu ia mulai menuliskan semuanya disana. Donghae membiarkan jemarinya bergerak mengukir kegelisahan yang dialaminya. Barangkali menulis dapat membantunya menjawab pertanyaan – petanyaan rumit yang bersarang dikepalanya, dan.. menulis dapat meringankan bebannya ?

Atau menulis memungkinkan Yoona— membaca ini…

Beberapa kali mengalami kegagalan mengharuskannya merangkai kalimat baru, Donghae tak juga menyerah. Lelaki itu berkutat mengarungi malam panjang dengan hanya bertemankan alat tulisnya. Beberapa kali Donghae meremas kertas – kertas yang dianggapnya tidak sesuai dan mulai menulis lagi diatas kertas yang  baru. Kernyitan diwajah lelaki itu semakin dalam, tampak jelas disana gurat – gurat lekat yang menjadikannya pertanda bahwa ia berupaya memutar otak sekeras mungkin…. Hingga tibalah dimana hatinya mulai terbubuhi oleh bulir – bulir keteduhan. Donghae merasakannya dengan pasti.  Akhirnya ia berhasil menemukan sebuah petunjuk, ia berhasil menemukannya, jawaban sementara dari teka – teki aneh selama ini menganggu detak dijantungnya.

Tanpa sadar lelaki itu tersenyum mengikuti laju pikirannya yang berkelana kesegala penjuru, memikirkan bayang –  bayang kejadian menyenangkan bersama gadis itu.

Ia harus bisa meyakinkan gadis itu, terlebih meyakinkan perasaannya sendiri, bukan ? Memang hal ini tidak  mudah dilakukan karena sesungguhnya kisah mereka tidaklah sesederhana itu.

***

Happy weekend !!! Hari minggu akhirnya tiba menapakkan sayapnya  lagi dibumi. Hari minggu identik dengan keceriaan, meski pun tidak semua orang menyetujui hal itu, tentunya khusus bagi mereka yang merasa tidak punya alasan untuk bersenang – senang seperti kebanyakan orang.

Minggu pagi yang cerah seperti biasanya. Yoona tidak memiliki rencana untuk bersenang – senang di luar rumah. Seharian ini ia berencana menghabiskan waktunya dengan menonton TV, membaca buku atau bersantai mendengar musik, sendiri. Yoona tidak akan memaksa siapapun untuk menemaninya kali ini, tidak juga tetanggannya itu…

Tetangga.. tetangga.. oke hentikan Im Yoona !

Ada kalanya Yoona merasa, sangat sulit menahan keinginannya untuk mengunjungi rumah Donghae.  Bertemu lelaki itu sudah menjadi rutinitas untuknya dan kebiasaan itu sangat sulit dianggurkan. Tapi sekali lagi Yoona merasa perlu mengontrol perasaannya.. ya mengontrol agar setidaknya ia bisa mengendalikan detak jantungnya jika berhadapan dengan lelaki itu…

Yoona berjalan kearah jendela kamarnya. Waktu menunjukkan pukul Sembilan pagi dan saatnya menikmati kecerahan langit. Yoona menyibak gorden putih diantara jendela persegi. Cahaya matahari menyeruak masuk bersama kehangatannya yang merebak. Yoona membuka jendelanya, tidak sabar menikmati sepoi angin dari luar.

Prit… prit… prit…

Yoona menyipit. Seekor merpati baru saja mendarat di permukaan teras rumahnya. Bukankah itu Lion ? merpati putih milik Donghae ? Tidak.. bukan karena sebab kedatangannya yang membuat Yoona terheran – heran tapi atribut yang dibawa oleh burung itu, terkesan tidak biasa. Bulatan pita pink tampak mengelilingi lehernya,  tersemat pula ditengah kalung pita itu, lipatan kertas putih berbentuk segi empat yang seolah – olah dibuat sebagai bandulnya.

Rasa penasaran membawa langkah Yoona berjalan ke luar teras. Gadis itu menghampiri Lion yang sibuk mengendus – endus di lantai. Dengan mudah Yoona menangkap tubuh merpati itu. Yoona meneliti kalung pita yang tersemat dileher Lion sebelum akhirnya melepaskan sampul pita yang mengikatnya.  Yoona membiarkan Lion terbang sementara gadis itu  kembali masuk kedalam rumahnya. Yoona membuka lipatan kertas putih milik Lion yang rupanya adalah sebuah surat… untuknya.

Dari Lee Donghae ?

Yoona merebahkan tubuhnya diatas ranjang, mengambil posisi senyaman mungkin, lalu ia mulai membaca satu – demi satu kata yang tertulis. Yoona mengernyit mencoba berkonsentrasi. Sekilas penilaiannya mengenai model tulisan tangan lelaki itu adalah sangat jelek, tulisannya lebih mirip cakar ayam, atau mungkin… yang menulis surat ini bukan Lee Donghae, tapi Lili atau Lion ? hmm baiklah lupakan.

Dear, Yoona…

 *Oke, anggap saja ini sebatas basa basi untuk mengiburmu, jadi tak usah berharap lebih.

Yoona terkekeh membaca pembukaan awal surat itu. Tatapannya berubah mengejek, “Bilang saja merindukanku…”

Aku berpikir lama untuk menulis ini. Sebabnya, bukan karena aku memikirkan kata – kata yang indah tapi aku berpikir lama untuk sebuah kata – kata yang mudah dimengerti oleh bocah sepertimu. Baiklah lupakan. Pertama – tama aku ingin menanyakan keadaanmu; apa kau baik – baik saja ? Ya jawabannya tentu saja baik.

“Cihh, apa – apaaan dia ? bertanya sendiri menjawab sendiri.” komentar Yoona mencibir tulisan Donghae. Namun ditengah – tengah kegiatannya membaca, siapa sangka gadis itu tersenyum.

Seminggu ini aku tidak pernah melihatmu. Aku ragu apakah kau memang baik – baik saja ? mengingat kondisi tubuhmu yang lemah. Ehm. Sebenarnya aku menghawatirkanmu. Maksudku… aku takut kau menderita penyakit serius dan hanya tertidur dikamarmu. Aku takut kau pingsan atau sesuatu yang buruk terjadi dan… para tetangga menjadi heboh dan berbalik menyalahkanku karena dianggap tidak perhatian. Itulah sebenarnya yang menjadi kehawatirannku saat ini.

Yoona menimbang – nimbang apa yang baru saja dibacanya. Beberapa saat gadis itu tersenyum tipis.

Poin kedua, sebenarnya aku merasa aneh dengan sikapmu. Kau sedang tidak menderita depresi atau terjangkit gangguan kejiwaan bukan ? Tentu saja aku bodoh jika menuduhmu mengidap gangguan seperti itu karena… aku melihatmu tersenyum lebar—seperti biasanya—saat kau menyiram bunga di halaman rumahmu. Tapi harus kuakui bahwa aku merindukanmu tersenyum seperti itu, untukku.

Poin ketiga, aku sangat malu mengakuinya. Aku merasa sedikit kesepian… Suaramu memang sangat berisik namun duduk seorang diri dengan hanya dikelilingi senyap rasanya kosong. Aku membutuhkanmu untuk mengganggu tidurku atau memintaku menjemputmu di tengah malam. Aku ingin kau menelponku sekali lagi dan berkata sambil menangis bahwa kau ketakutan saat listrik dirumahmu tiba – tiba padam dan aku akan datang kerumahmu sambil membawa lilin – lilin yang menyala.

Sebuah kekehan berhasil menghiasi keheningan kala itu. Selain peristiwa yang dituliskan Donghae didalam surat, Yoona juga mengingat rangkaian peristiwa saat ia terkilir karena berlarian di Namsan Tower dan Donghae harus menggendongnya ke klinik terdekat.

Poin terakhir berisi hal yang paling menggangguku. Mengenai kejadian di pekarangan belakang rumahku minggu lalu…

Jantung yoona berdebar tiba – tiba. Kalau boleh ia ingin berhenti membacanya sampai disini, namun rasa penasaran didalam diri Yoona lebih dominan, jadi mau tidak mau ia harus memenuhi rasa itu…

Apakah kau merasa terganggu karena kejadian itu ? Mianhae… Aku tidak bermaksud kurang ajar padamu. Kau mengerti bukan, tujuanku melakukannya ? jadi sekarang, aku memintamu uuntuk melupakannya, anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi.

Tatapan Yoona menerawang. Sekilas gadis itu tersenyum, “Katakan bagaimana mungkin aku melupakannya ?”

‘Bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya ketika sentuhan itu terasa begitu nyata bahkan hingga detik ini ?’ keluh batinnya mengambil alih.

Yoona, melalui surat ini aku merangkum harapanku, kuharap kau akan berpikir utuk memenuhinya. Harapanku tentangmu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Aku yakin itu. Dibawah ini hanya ada beberapa harapan kecil…

Aku ingin kau berhenti menatapku diam – diam dari jendela rumahmu yang berada di lantai dua. Aku ingin kau menampakkan wujudmu sebagai Im Yoona yang asli seperti biasanya.

Aku ingin melihatmu esok hari dan dihari – hari berikutnya. Mungkin kau akan menganggapku keterlaluan karena seenaknya meminjam waktumu, tapi aku benar – benar sangat membutuhkannya.

Terakhir, aku ingin kita berdua bertemu di suatu tempat. Aku akan menjemputmu, jam tiga sore ini.

Ada sesuatu yang ingin kulakukan bersamamu.

Satu lagi, tidak ada penolakan.

Aku memiliki sebuah radar untuk mendeteksi kegiatanmu. Dan aku yakin saat ini kau sedang tertidur di ranjangmu. Jadi jangan pernah coba – coba mangkir dari janji, arraseo ?!

Hmm, nampaknya tidak ada lagi halaman kosong dibawah jadi aku akan benar – benar mengakhiri surat ini. Jangan kesepian bocah manis ^^

Bersiap – siaplah mulai dari sekarang. Dandan yang cantik, aku tidak mau melihat penampilamu yang jelek. Meski pun kau selalu mengatakan bahwa kecantikanmu adalah anugrah dari lahir, tetap saja seorang wanita harus pintar merapikan diri.

Satu lagi, usahakan kau sudah harus berdiri didepan pagar rumahmu saat jam 3 nanti, pas. Jangan sampai terlambat atau aku akan masuk secara paksa dan menggeledah isi rumahmu, hmm ingat ancamanku…

Tertanda, tentanggamu yang paling imut,

Lee Donghae

Yoona menghela napas. Ia kehabisan kata – kata untuk menanggapi apa pun saat ini. Gadis itu hanya tersenyum… tersenyum lebar seperti keinginan Donghae. Yoona memeluk surat pemberian Donghae erat – erat. Tanpa sadar kedua matanya memejam dan ia mulai terhanyut kedalam dimensi lain… entah ini berhubungan atau tidak, Yoona bagai menyaksikan film pendek dimana bunga – bunga bermekaran dan kupu – kupu berterbangan muncul didalam tidurnya.

***

Danau Ilsan. Pertanyaan tunggal yang pertama kali terbersit didalam benak Yoona adalah; untuk apa Donghae membawanya ketempat seperti ini ? Yoona tahu jika Donghae sangat menyukai burung – burung yang berterbangan atau hewan – hewan lain seperti ikan, tapi menurutnya tempat ini terkesan privat bagi mereka berdua. Setidaknya  ia berpikir orang – orang seperti Donghae akan datang sendiri ketempat seperti ini, atau mungkin bersama kekasihnya ?

Kekasih… setahu Yoona Donghae tidak memiliki kekasih namun entahlah…

Dan sebenarnya mereka tidak hanya datang berdua. Donghae membawa serta Lili dan Lion yang dikurungnya didalam sangkar. Yoona sempat mempertanyakan tujuan Donghae membawa serta sepasang merpatinya itu, namun Donghae hanya menjawab sekenanya.

“Nanti, kau akan tahu sendiri.”

Begitulah jawabannya yang membuat Yoona sedikit kesal. Nampaknya Donghae memang berniat mengerjainya, terbukti sejak pertama kali menghentikan mobilnya didepan pagar rumah, seyuman lelaki itu terbilang misterius.

Yoona tidak akan goyah hanya karena trik bodoh seperti itu. Meski nyatanya rasa penasaran itu meledak – ledak didalam kepalanya, Yoona mencoba bersikap biasa. Bagaimana pun Donghae akan merasa puas jika melihatnya gelisah, itu pasti.

Yoona mengikuti langkah Donghae menyusuri tanah dan rerumputan hijau di tepi  danau. Lelaki itu berhenti dari langkahnya disusul Yoona, mereka berdiri menghadap kearah barat.

Donghae menatap lurus kedepan. Desir – desir air dan pepohonan mengisi kekosongan diantara mereka. Sepasang merpati yang dibawa oleh Donghae bersama sangkarnya ikut pula berbuyi dan berterbangan ditempat.

“Sejak beberapa hari yang lalu, aku mengetahui sebuah fakta.”

Yoona menatap Donghae yang tiba – tiba bersuara.

“Alasanmu memilih pindah rumah dan hidup seorang diri adalah karena kau ingin melupakan sesuatu ? atau mencari suasana baru…”

Yoona baru saja akan menjawab tapi—

“Kekasihmu yang berhianat ?”

Pertanyaan Donghae membuat Yoona tercekat.

“D-darimana kau tahu ?”

Lelaki itu terkekeh. Sempat ia berpaling menatap Yoona, “Memangnya aku bodoh ? Aku ini adalah orang yang cukup adil dalam bersikap. Jika kau mendekati keluargaku dan mengulik informasi tentangku, lalu apa salahnya melakukan seperti apa yang kau lakukan ?”

“Ibuku yang mengatakannya ?” desak Yoona ingin tahu. Namun begitu ia menyadari sesuatu yang janggal disini.

Tapi… orang tuaku belum pernah sekali pun mengunjungi rumah baru itu. Apalagi bertemu dengan Donghae.

“Bukan dari ibumu tapi, Lee Seunggi.” Sela Donghae.

Yoona mematung, tidak percaya. Sebaliknya Donghae tampak tenang ketika ia mengingat lagi kejadian mencengangkan yang pernah dialaminya.

“Ya, Lee Seunggi. Dia adalah temanku. Aku tidak sengaja mendengarnya membawa – bawa namamu saat Ia bermesra – mesraan di ruang tunggu subway dengan seorang wanita. Saat itu aku duduk didekat mereka. Seunggi juga memperlihatkan fotomu kepada kekasihnya dan saat itu aku benar – benar yakin bahwa gadis yang ia maksud adalah dirimu.”

Sesungguhnya Yoona tidak ingin membicarakan orang itu lagi. Sejak meninggali rumah baru, Yoona telah bertekad untuk mengubur sosok Seunggi didasar bumi.

“Lalu ?”

Tapi, Yoona menyadari, rasa penasarannya tidak bisa ia hindari.

“Aku menghajarnya dan pergi…”

“Bodoh.” Umpat Yoona menyumpahi tindakan itu. Donghae terkekeh, “Tenanglah, aku tidak segegabah itu. Sebelum menghajarnya, aku memanfaatkan kesempatan yang ada lebih dulu. Aku memancingnya dengan sejumlah pertanyaan tentangmu…”

“Dia bilang apa ?” sergah Yoona.

Donghae tidak langsung menjawab, lelaki itu tediam beberapa saat memandangi pergerakan air didanau, “Apa kau begitu tertarik mendengarnya ?”

Yoona mendengar nada kesinisan dari intonasi Donghae, namun ia tidak terlalu perduli.

“Aku hanya penasaran, jangan berpikir macam – macam.”

“Baiklah, aku akan memberitahumu.” Donghae mengangkat bahu, “Si brengsek itu mengatakan bahwa kau kekanakan dan memusingkan. Kuakui itu memang benar.”

“Yak !!!”

“Tidak bisakah kau untuk ‘tidak’ berteriak ?” Donghae mengorek telinganya yang seperti biasa, berdengung karena teriakan Yoona.

“Sudahlah tidak usah membicarakannya, tidak penting.”

Donghae meletakkan sangkarnya dipermukan rerumputan. Perlahan ia berjongkok guna membuka pintu sangkar lalu diambilnya salah satu merpati yang setahu Yoona bernama Lili. Lili memiliki gelang karet berwarna merah dikaki kanannya, sedangkan Lion tidak.

“Ini ambillah.” Pinta Donghae menjulurkan Lili kearah Yoona. Gadis itu menatap bertanya tanya namun tidak lama ia meraihnya.

Kemudian, Donghae beralih menangkap merpati satunya, Lion. Lelaki itu kembali berdiri sejajar dengan Yoona.

“Aku ingin membebaskan mereka.”

Yoona mengernyit, “Apa ?”

“Aku ingin mereka berdua merasakan kebebasan.” Donghae tersenyum memandangi Lion yang menggeliat – geliat ditangannya.

“Tapi… bukankah kau sangat menyayangi mereka ?”

“Kau tahu ? alasanku memelihara  sepasang merpati ?” Senyuman Donghae berbelok kearah Yoona. Gadis itu menggeleng samar.

“Karena aku ingin melihat bagaimana kesetiaan itu. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua, bahkan menyimpan dendam didalam hatinya.” Jelas Donghae menerawang sesuatu, mengundang berabagai macam pertanyaan memenuhi kepala Yoona dan berhenti diujung lidah.

“Kau memiliki dendam ?”

Donghae tidak lantas menjawab. Lelaki itu terdiam cukup lama.

“Sama sepertimu… “ kepahitan berpancaran ketika lelaki itu menarik garis bibirnya. Yoona turut prihatin menatap wajah Donghae yang berubah sendu.

“Aku pernah dihianati oleh seorang wanita.” Bebernya. Yoona terkesiap, karena jujur ia tidak tahu harus berkata apa. Yoona  pernah merasakan bagaimana sakitnya dihianati. Tentu Yoona mengetahui dengan pasti bahwa saat ini, Donghae sedang tidak berada didalam posisi yang baik untuk mendengar kalimat dari siapa pun yang berbunyi; kau harus bersabar, atau berceramah panjang lebar, sebab semua itu justru akan terdengar seperti tong kosong.

Yoona gelagapan saat ini, namun gadis itu menyadari bahwa ia harus berkata sesuatu…

“Ibumu tidak pernah bercerita…”

“Aku yang melarangnya, karena aku tidak ingin lagi disangkut pautkan dengannya.” Jawab Donghae lekas dan datar. Yoona menemukan kesedihan itu semakin tergambar dimatanya.

“Sekarang, aku benar – benar  ingin melupakan semuanya.” Donghae tertunduk menatap Lion. Saat itu sepoi angin berhembus menerbangkan helai – helai rambut lelaki itu hingga menutupi sepertiga wajahnya.

“Aku ingin membabaskan hatiku…”

Yoona terdiam mendengarkan. Ada kalanya Yoona memiliki sejuta cara untuk mendongkrak kejengkelan Donghae namun kali ini tidak lagi.

“Aku ingin merasakan kebebasan, seperti halnya sepasang merpati ini yang akan merasakan kebebasannya sebentar lagi.” Donghae memandangi Lion, begitu pula Yoona yang turut serta memandangi Lili.

Donghae menatap Yoona, lebih lama dari sebelumnya, “Inilah yang akan kulakukan. Aku ingin menerbangkannya bersamamu, Yoona.”

Refleks Yoona menoleh dengan berjuta pertanyaan, “Aku ? kenapa ?”

Donghae menimbang – nimbang sejenak lalu kembali menatap Yoona, “Aku ingin mengajakmu merasakan kebebasan.”

 “Hanya itu ?”

Pertanyaan Yoona membuat Donghae meragu. Apalagi ? Mereka senasib, jadi tidak ada salahnya melakukan hal ini bersama.

“Ya,” jawab Donghae, “Aku ingin membebaskan hatiku untuk seseorang, siapa pun. Aku lelah mengingat – ingat masa lalu yang tidak berguna.”

Yoona tidak berkata apa – apa, hanya sebatas mengangguk – angguk. Entah apa arti dari anggukannya.

Mereka terdiam. Yoona seolah menunggu Donghae buka suara begitu sebaliknya. Yoona sempat melirik Donghae yang tampak merenungkan sesuatu. Gadis itu menimbang – nimbang. Sebenarnya ia memiliki sesuatu untuk dikatakan tapi… rasanya konyol mengatakan ini;

“Kau berniat membebaskan hatimu ?”

“Nde.”

Yoona mengumpati dirinya sendiri. Oke, Salahkan lidahnya yang lancang.

“Kalau begitu, bolehkah aku menggenggam hatimu, sebentar ?”

Bodoh… Yoona berteriak didalam hatinya. Kalau boleh, ia ingin melompat kedalam danau saat ini juga. Bagaimana mungkin pertanyaan murahan seperti itu meluncur dari mulut seorang gadis ?

Alih – alih menjawab, lelaki itu tertawa.

“K-kenapa  ?”

“Bahkan jika itu untuk selamanya aku akan mengizinkan.” Donghae tersenyum. Kali ini tatapannya lebih intens dan menusuk. Sementara itu seseorang yang ditatapnya tak kunjung bereaksi.

“Jadi, mari kita lakukan.”

“Apa ?”

“Membebaskan Lion dan Lili.”

Donghae tersenyum lebar. Yoona terpaku sesaat. Lantas Ia mengingat permintaan lelaki itu kepadanya didalam surat.  Yoona menarik napas dan menghembuskannya perlahan – lahan. Ia tidak boleh bersikap kaku seperti ini. Yoona berusaha memoles wajahnya sebaik mungkin. Pada akhirnya gadis itu mengikuti langkah Donghae, tersenyum lebar.

“Baiklah mari kita lakukan.” Yoona mengangkat Lili penuh tekad. Donghae menatap Yoona berseri – seri. Detik ini Donghae lebih mampu merasakan energy Yoona yang seperinya sudah kembali seperti semula.

Yoona-nya sudah kembali.

Donghae menatap Lion untuk terakhir kali. Kesedihan menambah sesak dihatinya. Kenangan – kenangan bersama Lion dan Lili kian menggerumuni kesedihan itu. Namun seperti halnya kenangan masa lalu Donghae menginginkan mereka turut serta menemukan takdirnya masing – masing.

Jika pun suatu saat nanti Lili atau Lion memutuskan untuk kembali Donghae berjanji tidak akan sampai mengusirnya.

Donghae menarik napas, menetapkan hatinya, “Hana… deul… set…”

Sekali ayunan Donghae menerbangkan Lion. Yoona melakukan hal serupa yang dilakukan Donghae, gadis itu ikut menerbangkan Lili.

Lion dan Lili menapakkan sayapnya mengitari angkasa luas, menyusuri hamparan danau bersama – sama. Yoona menatap sepasang merpati itu terkagum – kagum.

“Lion, Lili Selamat jalan ?!!!” teriak Yoona tiba – tiba. Donghae tersentak begitu terkejut sekaligus merasa bodoh karena tingkah Yoona. Sebenarnya gadis itulah yang berteriak super kencang tapi justru dirinya yang merasa malu.

Yoona melambai – lambaikan tangannya girang. Benar – benar seperti bocah.

Namun… disitulah menariknya.

“Lili… Lion berbahagialah !!!” kali ini Donghae mengikuti jejak Yoona berteriak  sekencang – kencangnya. Keduanya tertawa – tawa menikmati kebodohan masing – masing.

Setelah kepergian Lion dan Lili, suasana kembali normal. Entah bagaimana, getar – getar aneh lagi –  lagi dirasakan oleh Yoona. Gadis itu sibuk dengan dunianya sendiri ketika Donghae menatapnya.

“Wae ?” Donghae menangkup kedua sisi wajah Yoona ikut mengamati setiap sudutnya bahkan menggak – gerakkannya kekanan dan kekiri. Gadis itu berdecak tidak suka, lantas buru – buru menepisnya.

“Urusan kita belum selesai,” peringatannya terdengar lugas.

 “Kau membuatku penasaran lagi.”

Donghae mengernyit. Gadis yang membuatnya bigung kini memuatar bola mata.

“Sebenarnya… aku ingin menanyakan maksud dari jawabanmu tadi…” Yoona cemberut dalam posisi melipat kedua tangannya didepan dada.

Donghae tertawa. Lagi – lagi seperti itu !

“Aku mengizinkanmu menggenggam hatiku, jelas bukan ?” Donghae mencubit kedua pipi Yoona yang menggembung. Bibir Yoona mengerucut. Namun sedikit demi sedikit gadis itu merilik lelaki yang menatapnya penuh pertimbangan. Bukan lagi sekedar menatap, sepasang alis lelaki itu naik turun, berusaha meyakinkan.

Pada akhirnya Yoona goyah. Gadis itu menukar ekspresinya, dari yang tadinya murung berganti sumringah. Segores lengkungan hadir  menghiasi bibir gadis itu,  “Baiklah, jelas.”

Donghae mengacak rambut Yoona hingga porak – poranda. Alih – alih memprotesnya, senyuman Yoona kian mengembang.

“Eumm kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu,Oppa ?”

Gadis itu mengedip – edipkan matanya genit, menunjukkan aegyo andalannya.

“Aishh berhenti bersikap seperti itu. Selama ini sikapmu terkesan bermain – main. Pada akhirnya panggilanmu terdengar seperti ledekan, kau tahu ?” Protes Donghae menepuk wajah Yoona.

Gadis itu mencibir. Ia tidak pernah suka mendengar pengkuan itu. Tentu saja perkataan Donghae ada benarnya. Selama ini Yoona kerap kali meledek Donghae dengan pelafalan Oppa yang sungguh berlebihan.

“Baiklah, kali ini aku serius, Oppa.” Ucap Yoona senormal mungkin. Donghae terekeh dan menatap kearah lain. Semuak itukah dia ?

“Hmm kira – kira aku harus menganggapmu apa ?” Yoona meletakkan telunjuknya didagu seraya menatap Donghae menimbang – nimbang. Kerut – kerut diwajahnya semakin menjadi – jadi ketika ia mencoba berpikir keras.

Lagi – lagi Donghae mengacak rambut Yoona, “Apa saja terserahmu. Teman, sahabat, musuh atau apa pun terserahmu, asal aku bisa melihatmu setiap hari. Aku  ingin kita tetap seperti ini, menerobos kesunyian, menghapus coretan – coretan pelik bersama – sama dan membuatnya menjadi berwarna. ”

Yoona terpaku. Hatinya berbisik bahwa lelaki itu bersungguh sungguh. Tapi… Apakah ini mimpi ?

Donghae tidak membiarkan begitu saja kekosongan memangkas waktu mereka, secepatnya ia menangkup wajah Yoona dan menatapnya intens.

Yoona mengerjap beberapa kali demi mengimbangi tatapan Donghae yang seolah memenjaranya detik ini…

“Yoona, kau boleh menganggapku apa saja, tidak masalah untukku. Rasanya tertalu dini untuk mengatakan ‘aku mencintaimu’ atau sejenisnya tapi… merasa bahwa kau sedang jatuh cinta bukanlah sesuatu yang buruk, bukan ?”

Usapan lembut Donghae membelai wajah Yoona, lelaki itu tersenyum, “Dan sepertinya aku jatuh cinta padamu…”

Yoona terdiam sesaat memikirkan apa yang baru saja merasuk kedalam telinganya. Suara Donghae yang mengiringi kalimat itu bagaikan nada merdu yang mengalun bersama angin sepoi – sepoi di musim semi. Merasakan jatuh cinta bukanlah sesuatu yang buruk… Ya tantu saja, karena seseorang itu adalah Lee Donghae.

Lee Donghae pahlawannya sejak pertama kali mereka bertemu.

Pada akhirnya lengkungan indah dibibir gadis itu terkembang sempurna, “Arrasseo.”

Dan sepertinya aku jatuh cinta padamu. Donghae menyadari hal ini, tepat setelah ia menulis sebuah surat untuk Yoona. Beberapa kali Donghae menghapus tulisannya yang mengatakan betapa ia  merindukan gadis itu, sebab ada kalanya perasaan manusia cenderung berubah – ubah. Namun satu hal yang disadarinya bahwa kasus itu tidak berlaku untuk Yoona. Perasaannya justru membuncah berkali – kali lipat. Setiap malam segala hal tentang Yoona kerap kali terbayang – bayang bagaikan candu, mulai dari senyumnnya, canda tawa, rengakannya dan segala tindak tanduknya, membuat Donghae menyakini sesuatu.

Tentu, detik ini Donghae tidak akan menyia – nyiakan sebuah kesempatan untuk berkata jujur dihadapan Yoona. Donghae tidak ingin merasa kesepian lagi tanpa Yoona.

Dan pada akhirnya gadis itu menyetujui kesepakatan diantara mereka, untuk saling jatuh cinta.

***

Hembusan napas berkejaran mengiringi pelarian Yoona menyusuri tepi danau, tujuannya adalah untuk menghidari kejaran Donghae yang hendak melemparkan ulat bulu kearahnya. Yoona berlari terbirit – birit sambil berteriak agar Donghae menjauh. Nampanya lelaki itu tidak tergugah sedikitpun. Donghae terus mengejar Yoona hingga gadis itu nyaris kehabisan napas. Dengan sangat terpaksa, Yoona berhenti berlari. Gadis itu membungkuk – bungkuk akibat kelelahan, Ia memegangi bagian atas perutnya yang sesak, lantas meraup udara sebanyak mungkin.

Derap langkah Donghae terdengar dari belakang.  Yoona terkesiap mengamati sekitarnya lalu memengok dan..

“Hyaapp.” Donghae melemparkan sesuatu kearah Yoona.

“Huaaaa…”

Yoona menggeliat – geliat kegelian. Tubuhnya sontak merinding. Yoona bergegas menggosok – gosokk bajunya, barang kali ulat itu menempel dibagian – bagian tertentu.

Alih – alih bergerak menolong, Donghae justru tertawa – tawa. Tatapan Yoona sontak menajam.

“Lihatlah aku tidak melakukan apa – apa.” Donghae membibit ulat bulu yang berbungkus dedaunan..

 Yoona terperangah. Rupanya ulat bulu itu masih ada disana dan itu berarti gerakan melempar Donghae beberapa saat yang lalu hanyalah fiktif.

“Kyaa jangan mendekat !!!” cegah Yoona menjulurkan tangannya menolak Donghae yang hendak menghampirinya. Lelaki itu tidak menggubris. Sebagaimana seharusnya, Ia berjalan santai tanpa beban sama sekali. Ditengah perjalanan Donghae membuang ulat itu jauh – jauh. Sepertinya sudah cukup.

Donghae terkekeh, tidak menyangka Yoona masih saja berteriak – teriak seperti itu, “Kya.. jangan dekati aku, pabo !”

Pluk*

“Kau yang pabo… “ protes Donghae usai menggetok kepala Yoona.

“Aku sudah membuangnya. Lihat baik – baik. Bisamu hanya berteriak tanpa mementingkan fakta.”

Yoona mengusap – usap kepalanya dan menatap tidak terima, “Kenapa kau suka sekali memukul kepalaku ? lagi pula ini salahmu, sudah tahu aku benci ulat bulu, kau malah sengaja ingin melemparkannya kearahku ?!”

Yoona benar – benar tidak habis pikir. Baru saja Ia berniat untuk membangun hubungan baik dengan Donghae, lelaki itu malah bertindak seenaknya. Tiba – tiba saja ketika mereka berdua sedang asyik mengobrol dan berjalan – jalan di tepi danau Donghae tidak sengaja melihat sesuatu. Awalnya Yoona tidak curiga sama sekali ketika Donghae memetik dedauan lantas mengambil sesuatu diantara salah satu ranting tanaman. Namun beberapa saat kemudian, Yoona terkejut setengah mati ketika Donghae menyodorkan kearahnya spesies menggelikan itu… ulat bulu.

“Ehm kau lelah bukan, ya aku juga lelah.” Donghae tiba – tiba merangkul pundak Yoona. Gadis itu berusaha menghindarinya, namun sebisa mungkin Donghae mengunci tubuh Yoona didalam dekapannya dan lantas menggiring gadis itu duduk dengannya di tepi danau.

“Yoona.” Panggil Donghae.

“Hmm…” jawab Yoona sesinis mungkin tanpa sedikit pun berniat menatap wajah Donghae yang menyebalkan itu.

“Jawab aku. Aku punya tebakan untukmu.”

Yoona melirik Donghae, sedikit penasaran, “Apa ?”

Lelaki itu tampak berselojor kaki. tubuhnya  bersanggah pada kedua tangannya yang menjulur kebelakang, lantas berpaling menatap Yoona, “Angka sebelas naik turun ?”

Pikiran Yoona secara otomatis mencerna tebakan Donghae. Gadis itu tampak berpikir keras, diam – diam ia mencoba menguliknya.

“Tangga ?”

Donghae tertawa mendengar tebakan Yoona, “Kau salah.”

“Mwo ?” Yoona tidak terima, ia yakin tebakannya barusan adalah benar.

“Ini terjadi saat kau menangis.”

“Air mata—“

“Bukan, jaraknya terlalu jauh…”

“Lalu ?” Yoona mengeryit.

“Ingus.”

“…”

“Menjijikkan..” Yoona mendorong tubuh Donghae sekuat tenaga, meski diawal ia sudah memperkirakan bahwa tindakannya tidak terlalu berpengaruh menjatuhkan lelaki itu. Dan benar saja tubuh lelaki itu hanya sedikit bergeser.

“Aku  benar kan ? coba kau bayangkan ketika kau menangis maka cairan kental akan keluar dari kedua lubang hidungmu dan membentuk sebuah angka, lalu kau akan mengirupnya hingga bergerak naik turun. Adakalanya benda itu menyentuh bibirmu.”

“Baiklah, pikir sesukamu.” Cibir Yoona tak acuh meladeni Donghae. Gadis itu melipat kedua lengannya, tidak berselera.

“Mengaku saja. Sekali dalam seumur hidupmu kau pasti pernah mencicipi rasanya— bagaimana enak tidak?“

Kali ini Yoona benar – benar kalap mengadapi pertanyaan menjijikan itu. Hembusan napas kasar meluncur dari bibinya. Tatapan Yoona menajam kearah Donghae, dan tanpa basa – basi Yoona mengarahkan pukulannya bertubi – tubi menghantam tubuh Donghae. Meski pun kini Donghae memohon ampun tapi Yoona percaya bahwa lelaki itu tidak sedang bersungguh – sungguh. Buktinya disela – sela kalimat ampunan yang dilontarkannya, Donghae masih sempat –sempatnya tertawa  dan membuat Yoona semakin jengkel.

Donghae tidak mendiamkan Yoona begitu saja ketika gadis itu terus memukulinya tanpa henti. Kala itu, Ia hanya sedang mananti kesempatan untuk menemukan celah yang bisa digunakannya untuk membalas serangan Yoona. Lalu ketika kesempatan itu tiba Donghae langsung menarik pinggang Yoona. Gadis itu meronta – ronta namun Donghae tidak kunjung melepasnya. Serangkaian gelitikan diarahkan Donghae pada pinggang Yoona disusul gelitikan lainnya. Gadis itu berteriak teriak kegelian sambil terus menghantam bahu Donghae dengan sejumlah pukulan.

Kira – kira sepuluh menit lamanya bergerumul seperti orang bodoh, keduanya berangsur mengurangi ritme keributan mereka. Tampaknya, baik Donghae mau pun Yoona mulai mernyadari bahwa tenaga mereka telah habis terkuras. Dan itu terjadi semata – mata  karena tingkah kekanak – kanakan mereka.

Donghae dan Yoona terdiam bersama – sama. Kedunya sibuk mengatur napas mereka yang amburadul. Pada saat itu Yoona menyadari betapa konyolnya tingkah mereka barusan.

“Ahhh.. aku lelah..” Donghae melipat kedua lengannya ke-bagian belakang kepalanya  lantas membawa tubuhnya berbaring nyaman diatas rerumputan hijau. Sambil memandangi langit, lelaki itu menghela napas..

“Langitnya indah, begitu juga pula dengan awan putih yang menggerumuninya. Perpaduan menarik.”

Kedua alis Yoona terangkat otomatis mendengar ucapan Donghae yang begitu menarik ditelinganya.

Yoona ikut membaringkan tubuhnya disamping Donghae. Beberapa saat Yoona mencari – cari posisi yang pas dan ia menemukannya dalam posisi lengan kirinya menekuk guna menyanggah kepalanya, lantas ia tertidur dalam posisi miring kearah Donghae

“Kau bilang apa ?” Yoona menatap lelaki itu penuh minat. Entah sejak kapan langit biru dan awan putih yang menggantung diangkasa mulai kehilangan daya tariknya dimata Yoona, sebab nyatanya kini gadis itu lebih berpihak menginginkan wajah Donghae memenuhi pandangannya lebih dari apa pun.

Donghae tersenyum damai, begitu mempesona dimata yoona.

“Benar katamu, mereka sangat indah…”

Yoona ikut tersenyum mendengar penuturan Donghae, “Sejak kapan kau menyukai langit ?”

“Sejak ribuan kali mendengarmu berceloteh tentangnya setiap saat. Dan ucapanmu itu secara otomatis merasuki pikiranku…”

Yoona mendiamkan Donghae yang sibuk dengan pikirannya. Satu hal ikut yang disadarinya; betapa ia menyukai saat – saat seperti ini. Saat ia berpuas diri memandangi wajah Donghae dari samping, menatap lelaki itu murni seorang diri diantara hembusan sepoi angin yang membelai merdu dan bunyi gemericik air di danau. Rasanya indah sekali.

“Andaikan saja aku punya sayap seperti merpati, aku akan membawamu terbang mengelilingi awan.”

“Lihat kali ini ‘siapa’ yang suka berhayal – hayal ?” Yoona tertawa menangkap basah pengakuan Donghae, karena ia sangat ingat cara bagaimana lelaki itu mengejeknya mentah – mentah kala ia tengah khusyuk berbicara tentang keindahan angkasa.

Merenungi perkataannya sendiri, Donghae serta merta tertawa, menertawakan dirinya.

“Hei, aku tertular darimu.” Donghae memiringkan posisinya berbaring menghadap Yoona, menjadikan mereka akhirnya saling menatap.

“Menurutku kau tidak lebih dari…” ucap Donghae menatap lurus kearah pupil Yoona yang melebar dibawah cahaya.

“Segenggam virus berbahaya yang mengganggu hari – hariku…”

“Mengganggu kinerja jantungku…”

“Dan… mengganggu akal sehatku…”

Kehangatan merasuk kedalam jiwa Yoona. Kedua sudut bibirnya berangsur – angsur menarik garis lengkung. Hingga tatapan Donghae semakin menguncinya seolah merapalkan mantra agar ia mematung saat itu juga. Yoona merasakannya kini, merasakan sesuatu yang seolah menyihirnya. Ia hanya terpaku menatap lelaki itu. Kecupan Donghae  jatuh dipermukaan keningnya merebakkan rasa kenyamanan didalam tubuh Yoona. Gadis itu memejam secara alami. Dapat ia rasakan belaian tangan Donghae menyusuri kepalanya, mengusap helai – helai yang menjulur. Beberapa detik setelahnya kehangatan itu meningkat drasis, rasanya seperti mimpi, tubuh Donghae melingkupi tubuhnya dengan sebuah dekapan hangat. Dari sini Yoona dapat merasakan dengan pasti, detak jantung lelaki itu yang berdetak untuknya.

“Gomawo….” desis Yoona, “ Terimakasih atas waktumu dan saat – saat berharga untuk mengenalmu…”

Sepasang mata Donghae ikut pula memejam ketika suara Yoona mengalun merdu didalam telinganya. Tentu, Ia lebih bersyukur ribuan kali lipat karena mengenal Yoona… Donghae bersyukur atas semua hal yang dilakukan gadis itu untuknya. Kehadiran Yoona membuka kesempatan untuknya merasakan bagaimana jatuh cinta kepada seseorang yang mampu merebakkan sebuah keajaiban, didalam hidupnya.

Keajaiban terindah yang mampu menyulap segala kehampaan menjadi kisah manis…

Dan rupanya tidak buruk.

***The End***

Hufttt akhirnya selesai juga….

Gimana ceritanya ? Aneh kan, aaaaaaaaaaaaa nggak tahuu lahhh >_<

Tapi… Kayaknya aku nggak bisa bikin cerita yang ejek – ejekan gitu wkwkwk, ujung – ujungnya malah kepengen buat mereka bersweet – sweet ria ( emang ini sweet ya hmm ) mohon maaf kalau kurang sweet, awalnya aku mau bikin YH nya perang dunia, tapi aku nggak bisa, nggak tahu kenapa, mungkin karena pengaruh lagunya kali nggak tahu hahah.

32 thoughts on “[ Oneshoot ] FF YoonHae – Not A Bad Thing

  1. Vaniza Riani berkata:

    Wah keren un ,aku suka jalan ceritanya ,segini agak pendek kalau menurutku pengen tau kisah mereka selanjutnya malah pengennya ini bisa di buat chapter aja hahaha ..gak terlalu sweet tapi justru ff kaya gini yg lebih aku suka ada kejengkelan tapi lebih banyak rindunya ^^
    Ahhh suka pokoknya ..di tunggu next ff nya dan di tunggu buat kelanjutan sweet legacy nya ^^

  2. idaa ziiosay berkata:

    Keren ceritanya , jadi lucu ama donghae berasa kehilangan kan bang haha padahal mah seneng itu dganghu terus ama yoona udah so2an jaim lagi segala nulis surat bilang aja langsung cie cie yang awalnya sebel ama yoona sekarang malah kebalik ni ye ke ke baca ff ini berasa ada manis2nya gitu
    Next dtnggu sweet legacynya ya eon
    #fighting

  3. ichus berkata:

    Etcieeee mreka manis bgt sih.
    Oppa aq mau juga dikisseu biar gk jdi sakit 😗
    Surat yg ditulis donghae bnar” menyentuh.. suka suka suka
    okee next ff lainnya thor. Fighting 😉😉😉

  4. sfapyrotechnics berkata:

    sweeet abizzz mereka berdua :v awalnya hae rada risih ma suaranya yoong, tpi lama² malah suka :v pokonya keren deh kak 🙂 tebak²annya hae bkin jijik tpi geli :v dan akhirnya mereka berduaaaa bersatuuuuuuuuuuuuu :’)

    fighting kak !!
    sweet legacy apa kabar nih??

  5. tryarista w berkata:

    ciieee hae main nyosor aja,,,
    heeemmmm ketika org itu selalu ada disekitar kita,,,,mersa terganggu pi ketika org itu pergi baru terasa kehilangan,,,,

  6. haeril berkata:

    Wah,,kekonyolan yg menuntunnya pada cinta. Benar2
    Perpaduan yoonhae d kehidupan nyata 😊😊😜😜😜😙😙😙😙😙😘😘😘😘😘

  7. nha elna berkata:

    wehehe aku senyum2 sendiri baca’y,, keren unn.
    oya unnie mungkin gak jago bikin yg ejek2an,tpi unnie keren kalo bikin ff lawakan,,bikin lg ya unn… ato gak sweet legacy nya cepet di post 😃😃😃

  8. utusiiyoonaddict berkata:

    ini sweet ko unn, crita na menarik dan ringan, udah cukup sweet legacy aja yg bnyak berantem na haha,
    dasar donghae pabo apa salah na dan apa susah na bilang ‘yoona aku mencintaimu‘ itu aja haha,
    duh ah nungguin sweet legacy dikira mau ada ‘special day‘ tp update na beda yasudah aku ttap menikmati na unn
    semangat nulis na unn

  9. sulistiowati_06 berkata:

    emang donghae ya mesum atulah, main cium2 aja ke yoona. bilangnya kekanak2an tapi bener2 jatuh cinta sama yoona. emang bener kalo biasanya udah sering ngeganggu trus akhirnya ga keganggu rasanya bener2 beda. tapi seneng banget liat yoona sama donghae bersatu dengan cara yang sweet. ahh seneng banget. berasa nanti pingin punya pasangan yang sifat dan wajahnya mirip donghae hahah😀

  10. uly assakinah berkata:

    awalnya merasa terganggu dengan keberadaan yoona di dekat nya sekarang setelah yoona menghindar malah donghae yang merasa kehilangan.

  11. Nurul hidayah berkata:

    Awalnya yg berisik yoona eh donghae malah ikut2an🙂
    Hae dpt cara dri mana itu , lucu lihat mereka😀
    Next ff d tnggu eon🙂
    Sweet legacy jg d tnggu
    Fighting ne🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s