Secarik Isi Hati ; Kehilangan Rasa, kemanakah perginya ?

enigmaticcowboy: “She’s a powerhouse of beauty, a fury of lust and the pinnacle of my bliss, on the outside. On the inside, she’s a girl with a book and a bear. ~C ”:

Haii aku muncul lagi di blog ini, tujuannya satu, yang pasti bukan untuk mempublish fanfic melainkan untuk bercerita mengenai sepenggal kisah menyangkut pengalamanku *tsahhh. Sekali – kali boleh lah yaa mempublish sesuatu yang tidak penting ( menurut lo tulisan yang ‘penting’ diblog ini apa. Na ?!😄 )

Aku bingung ingin menyematkan judul apa, dan terbentuklah judul alay diatas melalui cara yang spontan hahaha. Abaikan kalau tidak suka >__<

Sebenarnya aku menulis seperti ini semata – mata karena ingin mengungkapkan sesuatu, lagi – lagi sesuatu ini sangat sangat tidak penting jadi bagi kalian yang merasa aneh, mual  – mual atau apa, lebih baik dikondisikan sedini mungkin agar nantinya terhindar dari hal – hal yang berakibat fatal. Oke sebut saja tulisan ini sebagai curhat atau curcol. Kalau kalian tetap kepo, yasudah dibaca saja, toh udah dibuka juga, sayang kuota wkwkwk

Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dan merasa perlu kuungkapkan….

Berhubungan dengan blog ini…

Tentang  awal mula bagaimana aku disini dan menulis untuk kalian para readers ( nggak penting beutt kan ? haha )

Setiap orang memiliki tujuannya masing – masing. Aku menulis tujuannya adalah untuk menyalurkan imajinasi yang selalu terbayang – bayang dikepalaku cuz  dari dulu aku memang suka ngayal sampai – sampai dulu waktu SD kelas 6 saking sibuknya menghayal, aku tidak lagi memperhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran matematika dipapan tulis, ketika guru itu memberikan tugas aku sama sekali tidak mengerti, mungkin  karena dulu sistem belajarnya berpusat pada guru, jadi ketika mengerjakan soal itu aku benar-benar blank, sama sekali tidak bisa. Hasilnya aku mendapatkan nilai 0 Nol dalam tugas itu, dan satu – satunya yang menerima simbol kekalahan itu ‘hanya’ aku diantara banyak siswa. Aku malu pada diriku sendiri terlebih orang lain, diam – diam aku menangis. Aku pikir kebiasaanku berhayal sangat bodoh dan negative jadi aku berusaha untuk tetap fokus meski pun rasanya suliit. Mengerjakan matematika atau sejenisnya kerap kali membuatku pusing bahkan ketika aku mencoba serius mengerjakannya aku malah keringat dingin, mungkin wajahku tampak berubah menjadi pucat pasi namun apa daya aku memaksa otakku yang standart ini untuk berhitung dan rasanya memuakkan, tapi tidak ada pilihan lain kecuali menjalani aturan yang berlaku.

Saat itu aku mulai bertanya – tanya, sebenarnya aku bisa apa ??? aku tidak tahu apa keahlianku bahkan ketika teman temanku berbicara tentang cita – cita mereka, tidak ada yang terpikirkan. Lalu aku mulai tertarik dengan Drama Korea, K-Pop dan dunia fanfiction tepatnya empat tahun yang lalu. Melalui Fanfiction, aku mulai setidaknya menyalurkan hobbyku yang terpendam saat SD dulu  yaitu menghayal. Pertama kali menulis fanfic ternyata tidak semudah bayangan. Berhayal tentang sesuatu bukanlah satu – satunya modal untuk bisa menciptakan karya yang utuh.  Berkali – kali aku gagal mengakhiri tulisanku sendiri karena tulisan itu berhenti ditengah jalan. Beratus lembar halaman yang sudah terisi dengan tulisanku terbuang cuma – cuma. Aku blank, tidak tahu harus menulis apa dan bagaimana cara mengakhiri tulisan yang terlampau memuakkan, aku tidak tahu. Rasanya ingin berhenti.  Beberapa minggu aku tidak menulis lagi hingga suatu ketika aku menyambangi sebuah toko buku. Aku tertarik pada sebuah novel karya Illana Tan yang berjudul Summer In Seoul. Aku tertarik pada judul novel ini karena sepertinya berhubungan dengan kota Seoul, kebetulan saat itu aku sedang tergila – gila dengan drakor BBF hehe. Aku tidak tahu kalau Illana Tan adalah penulis best seller, kalau tidak salah hanya tertulis di novelnya predikat best seller yang membuatku semakin yakin membelinya. Sehari penuh aku membaca novel itu nonstop dan secara tidak langsung mempelajari sesuatu tentang bagaimana cara Illana Tan menyelesaikan novelnya mulai dari prolog, pembuka, latar belakang tokoh, konflik dan penyelesaian, semua ditulis oleh kak Illana dengan mulus dan mudah dicerna tentunya untuk newbe sepertiku yang baru pertama kali membaca novel -___-  Jujur, pada dasarnya aku adalah orang yang malas membaca, wajar kalau tulisanku berantakan.

Berkat novel Illana Tan Summer In Seoul aku termotivasi untuk mencoba menulis. Ditengah proses menulis itu aku lebih banyak  terbantu atau spesifiknya mencontoh dari novel Illana Tan. Singkat cerita akhirnya aku berhasil menyelesaikan fanfic pertama aku yang berjudul Forever. Menurutku ini benar – benar ajaib, aku sangat senang terlepas dari cerita buatanku gaje atau EYD-nya  yang kacau balau ( oh ya sekarang istilahnya berubah jadi EBI ), yang jelas cerita itu akhirnya berujung  yaitu mengandung konflik hingga penyelesaian, atau setidaknya mempunyai alur yang jelas. Lalu aku berinisiatif mempublisnya diblog pribadi aku ( blog ini ) yang sudah jauh – jauh hari aku buat hanya bermodalkan beberapa tulisan yang bertengger disana yaitu biodata Tiffany SNSD yang aku rangkum dari majalah dan artikel  juga sejumlah tulisan gaje.

Aku semakin percaya diri menulis fanfic selanjutnya. Fanfic kedua judulnya My Heart is Your Eyes berhasil kuselesaikan dengan teknik yang sama. Selajutnya fanfic ketiga, keempat, kelima bermunculan seiiring koment readers yang  mula mula bermunculan sebiji dua biji wkwkwk. Sepanjang proses kepenulisan aku belajar banyak termasuk tentang EBI dan tentunya menerima kritik pembaca, dan kuakui menerima kritik itu sangat sulit mengingat perjuanganku menulis harus berakhir dengan rasa ketidaksukaan orang lain… Aku akhirnya mengerti semua itu demi kebaikanku jadi lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan kritik itu dan berusaha membenahi kesalahan yang ada.

Hal lain yang kusadari ialah menulis tidak selamanya mulus. Bebagai rintangan bermunculan termasuk masalah terkompleks yang aku hadapi adalah kehilangan Feel dalam menulis. Tidak selamanya alur didalam kepala masing – masing penulis mengalir seperti air terjun dipegunungan. Untuk mencari penyebabnya, terkadang orang – orang selalu mengarang pembelaan ini dan itu. Masalahnya apakah benar demikian ? jangan jangan masalah terbesarnya adalah diri kita sendiri. Ya diri kita, bukan orang lain atau  keadaan yang menyababkannya. Beberapa kali aku ikut pula merasakan ini. Jenuh. Aku mulai jenuh dengan tulisanku sendiri, aku membenci apa yang sudah kutulis, aku terus menggerutu, kenapa aku harus menulis cerita seperti ini ? Aku diterpa berbagai pertanyaan aneh yang menggunung tidak hanya sekali tapi belasan kali ( ya kasusnya masih belasan, karena hingga detik ini tulisanku terbilang sedikit —mungkin kegalauan itu nantinya akan bertambah seiring bertambahnya jumlah tulisan haha ) Aku menyadari posisiku saat ini belumlah memiliki  pengalaman yang cukup untuk menyimpulkan hal ini, tentang alasan mengapa seorang penulis fanfic kehilangan feel. Aku berbicara hanya berlandaskan pengalaman pribadi, mungkin beberapa orang mengalaminya, beberapa tidak. Disini aku akan mencoba mengerucutkan pembahasan, karena aku menulis fanfic dengan sistem (?) shipper jadi aku hanya akan membahas tentang itu; kegalauan yang dialami para shipper dalam menulis fanfic wkwkwk.

Memutuskan untuk memulai sesuatu berarti memikirkan untuk menyelesaikan bagaimana pun caranya. Tentu saja untuk mencapai ujung penyelesaian dibutuhkan sebuah proses panjang, begitu pula dengan sebuah cerita. Ada kalanya perasaan ingin berhenti menyerang kita contohnya, aku pernah menulis beberapa judul fanfiction, Pembukaan cerita terkesan  indah dan baik – baik saja bahkan aku optimis cerita itu akan bagus, namun yang terjadi malah sebaliknya, semagat itu menurun perlahan – lahan.  Kasus terparah kurasakan pada salah satu judul FF YH, aku berpikir tidak sanggup lagi melanjutkannya karena merasa tidak nge-feel, bahkan sebelum cerita memasuki bagian pertengahan aku mulai bingung, mau dibawa kemana cerita ini ? kenapa rasa – rasanya tidak sesuai dengan rencana awal dan malah nge-blank ? Pergerakan tokohnya berasa pasif banget… meskipun karakter idola dalam fanfic tergambar nyata dilayar kaca tapi cerita tetaplah cerita dan rasanya akan hambar jika kita tidak pandai mengolahnya… Saat itu aku berusaha memutar otak, adegan apa yang bagus untuk membawa cerita ini menuju sebuah penyelesaian, tapi ujung – ujungnya kosong berminggu – minggu. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Kekesalan berangsur – angsur menghampiri. Aku mulai tidak suka dengan cerita yang aku tulis dan malah bertanya – tanya sendiri soal penyebab ketidaksukaan itu. Cerita yang rasanya sudah tidak menarik untuk ditulis membuatkku kehilangan feel  terhadap tokoh – tokohnya karena menurutku tidak ada lagi chemistry diantara mereka didalam cerita itu dan siapa sangka perasaan ill feel itu rupanya ikut berimbas kedunia nyata. Rasanya tidak ada keinginan lagi untuk menulis tentang mereka sebab aku malah beranggapan bahwa motivasi menulis rasanya telah pudar. Kalau boleh dibilang rasanya muak sekali. Ujung ujungnya berakhir seperti gambar ini ;

.Can be applied to writing an essay for the hundredth time for class or starting a new story...:

Blank parah. Dan entah datang dari mana, suatu ketika aku teringat prinsip aku yaitu menyelesaikan apa yang telah aku mulai.

Sekali lagi aku memutar otak untuk menyelesaikan sebuah cerita, sialnya pada saat itu kasusnya bertepatan dengan badai buruk yang menimpa my OTP ( sebut saja; YoonHae) dan perasaan ill feel itu secara otomatis bertambah puluhan kali lipat  dari sebelumnya. Rasanya benar – benar hampa. Aku memandangi foto Yoona dan Donghae cukup lama sambil mulai berhayal hayal. Disamping itu aku juga menonton film di televisi dan sebuah adegan terlintas. Aku terus berusaha menggali ide dan terbayang bayanglah adegan selanjutnya. Namun bukan berarti aku berhasil merasakan feelnya. Tetap saja adegan itu terasa hambar, tapi kupikir dari pada tidak melanjutkan lebih baik aku merealisasikan adegan tersebut bagaimana pun jeleknya yang penting cerita itu dilanjutkan sampai selesai. Aku menulis dengan rasa tidak ikhlas. Disamping menulis aku beberapa kali merintih dalam hati, kapan selesainya… kapan selesainya ya Allah… wkwkwk. Di akhir cerita aku berhasil menyelesaikannya. Dan… Setelah itu aku merasa gagal, karena aku merasa FF itu sangat kurang dalam arti ceritanya terlalu berbelit dan yaa karena memang aku tidak memiliki gambaran yang jelas saat memutuskan untuk menuliskannya. Selain itu masih banyak kekurangan lain yang mencolok dimataku. Sekedar Info judul FF yang kumaksud adalah Marry You My Best Friend yang chapternya berjumlah 17 ( ngegabut banget tuh chapter sumpah wkwkwk )

Untungnya berkat FF ini Feel aku ke YoonHae mulai pulih sedikit demi sedikit, bahkan semakin kuat dari sebelumnya, meski gerakan fluktuatif itu pastinya bermunculan, tidak mungkin bisa stabil terus menerus, karena hidup ini seperti halnya roda beputar #apadah

Btw, aku membaca berbagai artikel yang berhubungan dengan masalah kepenulisan terkait dengan feel menulis, meskipun tidak menujus ke fanfic para shipper tapi sejauh yang aku baca penyebab utama dari hilangnya feel atau semangat adalah karena tidak tahu harus menulis apa ( yaiyalah  wkwkwk ) usut punya usut, penyebab dari munculnya rasa kehilangan bahan tulisan adalah karena kurangnya riset—aku nggak terlalu paham riset gimana— mungkin istilah sederhananya penggambaran lokasi / setting, profesi, mimik wajah orang orang disekitar kita kali ya—dengan riset yang cukup maka akan tergambar garis besar cerita hingga penyelesaian. Selain itu dari riset ini akan tercipta karakter sebuah tokoh—misalnya riset mengenai seorang guru, tentunya kita harus mencari tahu kebiasaan guru disekolah bukan ? dengan begini kita bisa melihat bagaimana seorang guru kebanyakan bertindak dan akhirnya memperoleh kesimpulan tentang mereka. Kita bisa membuat karakter unik dari seorang guru atau apalah gitu haha. Karakter yang kuat akan menjalankan cerita itu dengan sendirinya, bukankah cerita yang kita tulis digerakkan oleh karakternya ? Serangkaian Karakter erat kaitannya dengan keputusan menentukan sikap, contoh orang pendiam lebih banyak memendam perasaannya atau sebaliknya seorang sanguin akan lebih mudah menyampaikan aspirasinya. Karakter – karakter inilah yang nantinya akan membawa cerita menuju ending. Jadi Jika kita kebingungan menentukan bagaimana karakternya / secara tidak sengaja mempasifkan karakter maka cerita itu secara otomatis akan layu, ibaratnya dunia sudah kiamat dan tidak ada lagi yang bisa diceritakan. Tentu disamping karakter, kita harus menentukan temanya lebih dulu apakah tetang cinta, persahabatan, masalah social, perselisihan atau apa. Tema adalah yang paling utama, kalau kita kita tidak menentukan tema dengan pasti bagaimana kita akan melakukan riset atau menentukan karakter ? tentu akan sulit.

Teori memang mudah tapi  prakteknya ?

Sulit banget ! Yap, karena bagiku pribadi tidak mudah untuk menjadi  konsisten, terutama untuk cerita ber-chapter. Terkadang mood yang berubah – ubah menjadikan karakter kita didalam sebuah cerita ikut berubah, jadilah tulisannya kehilangan arah.

Selain alasan diatas, muncul penyebab lain yaitu alasan menderita kebosanan dalam menulis. Mungkin penulisnya butuh refreshing, berjalan – jalan, mendengarkan musik atau bisa juga menghilangkan kebosanan itu dengan menulis cerita selingan, bisa dalam bentuk ficlet, oneshoot atau drabble untuk sekedar mengembalikan mood tapi itu hal yang wajar kok. Kalau aku sendiri, biasanya menulis yang galau – galau meskipun tidak pernah ada yang selesai haha, ditambah lagi aku biasanya berbuat iseng yaitu memakai couple – couple SuGen yang lain, misalnya kalau bosan dengan couple yang ada, aku akan memberlakukan random cast member SuGen, yang  sukur – sukur membuatku merasa tertantang, misalnya Eunhyuk yang dikenal Yadong dan Yuri yang terkenal dengan keseksiannya mwehehehe, dari situ akan muncul sensasi baru. Nah saat dipublish terserah kalian mau mengganti pemainnya atau tidak yang jelas jangan sampai nama cast aslinya tertinggal, jadi ketahuan deh belangnya hmmm. Sebelum dipublish ada baiknya diperiksa baik – baik dulu haha.

Alternatif lain adalah merencanakan ending lebih dulu—tapi yang ini aku belum pernah coba sihh…

Nah jadi bagi kalian yang punya masalah serupa,  pintar pintarlah menyiasati kehilangan feel dalam menulis. Memang tidak mudah tapi mau bagaimana lagi… dan ingat,  banyak – banyaklah  berdoa agar nanti menemukan wangsit sekalian jodoh ( apa ini ? gue mulai ngawur😄 )

Oke, back to the topic yaaa

Adapun berdasarkan poin poin diatas, aku melakukan sebuah perenungan dimana penyebab kehilangan feel dalam menulis bukan semata – mata karena YoonHae—mungkin bagi kaum shipper termasuk aku menganggap YH sangat penting sebagai inspirasi menulis— ya, itu memang benar tapi alasan kehilangan feel bukan semata – mata karena YH lohhh ( kasihan kan mereka selalu dianggap tersangka utama padahal tidak tahu apa – apa wkwkwk )  Kehilangan Feel penyebabnya adalah gairah menulis yang mulai menurun jadi cobalah untuk memikirkan hal yang menarik untuk ditulis atau setidaknya mencintai tulisan kita sendiri lalu mendalaminya.

Aku tahu berbicara memang mudah,  aku sendiri  belum tentu bisa melakukannya mwhehehehe

Aduhhh sebenarnya aku ingin menulis lebih banyak tentang ini tapi nanti dikira sotoy jadi aku sudahi aja ya sampai disini. Byee Byeee…

Oh ya sebelumnya beribu kasih buat kalian yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca tulisan gaje ini hahahaha.

Readers, “ Aduh Thor, dari pada nulis curhatan sepanjang uler, mending nulis FF dechh…”

Hmmm kayaknya lanjutan FF itu masih lama deh say… Aku akan lanjutin kok nggak tahu kapan hahaha, kabur aja deh guee. Bye.

10 thoughts on “Secarik Isi Hati ; Kehilangan Rasa, kemanakah perginya ?

  1. Anonim berkata:

    Ah… suka banget bacanya kak, aku jadi tambah termotivasi buat lanjutin tulisanku yang terbengkalai dan berhenti di tengah jalan…

    BTW semangat kak nana, ff yoonhae yang kakak tulis selalu aku tunggui… huwaiting!!!!

  2. Fi_ss berkata:

    Sama. Aku jg seorang author. Persis banget ngalami semua yg ka nana jabarin di atas. Bahkan sekarang udah masuk ke 2 bulan aku gk lanjutin ff nya. Dan sumpah, aku benar2 lg kehilangan feel, gk tau mau dibuat gmn ceritanya. Yg ada malah muncul ide cerita yg baru. Mau nulis itu aja, tp kepikiran masih punya utang ff yg belum kelar2. Ujung2nya diam, gk ngapain2 selama hampir 2 bulan. Berasa jd beban hiks..
    Tp setelah baca “curcolnya” (hehehe) ka nana ini, aku jd kepikirin utk mulai nulis lg. Makasih ka nana usah kasih pencerahan buat aku si author yg gelap ini… Hihihi
    Semangat buat semua author FF
    Dan Semangat jg buat Ka nana utk lanjutan ff YH nya😀

    • nanashafiyah berkata:

      Kmu suka kebanyakan ide yaaa tulis aja dulu sebagian hahaha
      Klo kehilangan feel sih tulis aja lanjutannya, nanti juga ketemu sendiri adegan yang cocok, kali tiba – tiba dapat waangsit hahaha, asal nggak keluar jalur aja.
      Makasih sudah baca curcol gaje ini ^^
      Semangat juga nulisnya hehe

  3. hemmalika berkata:

    tapi keliatan ko yg tulisannya udh profesional ama ga,mnrtku tulisan km bgs bngt lo bknnya sok carmuk tp aq biar ga bs nulis aq bs ko bedain mana yg bgs ama ga,kadang kadang klo diawal penyampaiannya ga enak jd baca jg males.bkn aq ga menghargai tp ngaruh jg klo cara penulisan bgs jd kita jg bayanginnya gampang.

    • nanashafiyah berkata:

      Benarkah ? tp aku ngerasa abal2 banget, apa lagi kalo udah mentok, tulisannya jadi nggak jelas, apalagi alurnya. Btw aku punya banyak FF yang terbengkai karena itu, bedanya aku umpetin haha…
      Tapi thanks ya sudah baca curhatan geje ini dan baca FF ku ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s