FF YoonHae– Sweet Legacy Part 10

sweet legacy season 2 copy

Title : Sweet Legacy

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Happy Reading ^__^

Part 10

“Soal bersikap romantis… kau tahu bagaimana caranya, Hyung ?” Donghae memajukan wajahnya penuh pengharapan.

“Gampang. Pertama – tama kau harus mengeluarkan foto Yuri dari dompetmu.” Leeteuk mengangkat alisnya tinggi – tinggi seraya mengetuk-etuk meja. Donghae berdecak seolah mengabaikan, “Foto itu akan terbuang suatu saat nanti.”

“Benarkah ? Sampai kapan ? Sampai dia kembali padamu ?”

Donghae tersenyum miris, “Itu tidak mungkin, dia sudah bertunangan Hyung.” Akunya, “Masa depankulah nanti yang akan membuang foto Yuri dari dompetku, bahkan merobek foto itu kalau perlu.”

Leeteuk mengernyit. Terkadang ia tidak mengerti dengan prinsip rumit yang dianut oleh Donghae.

“Jika suatu saat nanti aku bertemu dengan wanita yang benar – benar mencintaiku maka dialah yang akan merobeknya, segala macam kenangan tentang Yuri, masa laluku.” Tatapan Donghae berubah tidak fokus. Leeteuk menyadari itu, lantas buru – buru menyadarkannnya, “Oke mari kita lupakan soal Yuri dan lebih berfokus membahas wanita yang satunya.

“Ya kau benar.” Setuju Donghae. Memikirkan wanita yang satunya jauh lebih penting, paling tidak untuk saat ini.

“Belakangan, kemajuan teknologi membuat pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Kau bisa dengan mudah mengakses adegan – adegan romantis melalui internet menggunakan kata kunci tertentu.”

Donghae terdiam tampak berkutat dengan pikirannya. Leeteuk tersenyum bangga. Ia tidak menyangka Donghae akan terpengaruh secepat ini. Berbeda dengan gadis lain, kali ini sikap tak acuh Donghae tidak berlaku untuk gadis seperti Yoona. Leeteuk mengambil satu kesimpulan, Yoona benar – benar sukses membuat Donghae uring – uringan.

“Jadi, kira – kira apa kata kuncinya ?”

“Apa ya? Mungkin seperti… Jurus jitu memikat wanita 2016 atau… Hal – hal yang membuat wanita merasa dicintai… cara membuat wanita terkesan atau sejenis itu…” Leeteuk mulai mempertimbangkan kata kunci yang sesuai. Jemarinya yang mejepit pulpen mengetuk – ngetuk permukaan meja.

“Atau sesuatu seperti… kejutan manis untuk seorang gadis ?”

Donghae menatapnya seperti menemukan pencerahan. Leeteuk masih sibuk menimbang – nimbang. Belakangan ia berpikir bagaimana pun caranya,  Donghae harus berupaya membuat gadis itu terkesan. Donghae tidak boleh membiarkan kondisi fluktuatif diantara dirinya dan gadis itu berbalik mengintimidasinya.  Seaneh apa pun Im Yoona, dia hanyalah seorang gadis biasa yang pastinya mempunyai kelemahan yang bisa dimanfaatkan.

Kejutan… Donghae bersumpah ia pasti sudah gila karena memikirkan hal – hal menggelikan semacam itu. Im Yoona… kalau bukan karena sikap gadis itu yang tidak bisa diprediksi, maka ia tidak akan repot – repot memutar otak hanya karena memikirkan kejutan kekanak – kanakan atau apalah ditengah masalahnya yang juga menggunung.

“Donghae-ya, kau harus menjadi lelaki yang  gentle,” tandas Leeteuk. Donghae menatapnya dengan kening berkerut.

“Maksudku… jangan pernah biarkan seorang wanita menindasmu, sebaliknya tugasmu adalah membuatnya takluk secepat mungkin. Jadi pikirkanlah ini; cara apalagi yang bisa ditempuh kalau bukan dengan rayuan.”

Leeteuk mengiming – imingi dengan kedua alisnya yang naik turun. Donghae mulai bimbang memikirkan rencana yang dikemukakan Leeteuk. Sejauh ini ia hanya pernah mengucapkan ‘saranghae’ kepada seorang gadis.

Dan  gadis itu adalah… Yuri…

“Hyung sebenarnya aku tidak bisa—“

Leeteuk mengernyit. Donghae terdiam usai menggantung kalimatnya barusan, lidahnya seperti kelu.

“Ani Hyung, tidak apa – apa.” Putus Donghae sepihak yang lantas menumbuhkan rasa penasaran Leeteuk semakin menjadi – jadi. Lelaki itu mulai mengira – ngira. Apakah Donghae merasa canggung mendekati seorang  wanita karena memikirkan ‘mantannya’? Kalau benar begitu maka ini bukanlah kabar baik.

Donghae menghempaskan punggungnya ke-sandaran kursi, mengusap – usap wajahnya  yang mulai kusut. Donghae tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dongahe pernah berjanji bahwa ia tidak akan mengucapkan kata Saranghae atau kalimat yang menjurus lainnya kepada seorang gadis selain Yuri. Donghae mengira janji itu masih tertanam dihatinya sampai sekarang. Berulang kali ia berusaha mengugurkan janji itu dihatinya, berulang kali pula ia mengalami kegagalan. Memikirkan seorang gadis dimasa lalu kerap kali membuatnya bimbang namun detik ini jauh berbeda. Donghae tidak lagi merasakan sesak yang mencekiknya ketika memikirkan Yuri. Kali ini memikirkan Yoona membuatnya jauh lebih tersiksa oleh kegundahan bertubi – tubi. Yoona bersama sikap kekanak – kanakannya, Yoona bersama tatapannya yang tajam, Yoona bersama senyumnya yang seperti itu benar – benar membuatnya pusing.

“Baiklah, aku masih ada urusan.” Suara Leeteuk membuyarkan fokus Donghae. Lelaki itu tampak membereskan berkas – berkasnya diatas meja. Donghae buru – buru membenahi posisinya lalu menatap serius, “Kau sudah mau pergi, Hyung ?”

Leeteuk tersenyum simpul membalas pertanyaan Donghae. Entah bagaimana ia berpikir untuk membiarkan Donghae sendiri, tentunya Donghae harus menenangkan diri sebelum memutuskan sebuah tindakan yang cukup sensitive, mungkin.

“Aku pergi. Jaga dirimu baik – baik dan selamat bekerja.”

“Hyung—ck.“ Donghae mengacak rambutnya frustrasi. Tidak lama pintu berderit.  Donghae mengumpat kearah pintu ruangannya yang baru saja menutup. Bukannya menjelaskan lebih detail, Leeteuk memilih pergi begitu saja usai mencetuskan sebuah ide yang mengganggu pikirannya. Lelaki ‘tua’ itu malah mangkir dari tanggung jawab. Kalau dipikir – pikir sebenarnya tidak terlalu tua. Usia Leeteuk terpaut empat tahun darinya, tetap saja itu dikatakan tua. Leeteuk adalah lelaki tua yang terkadang menyebalkan. Selain tua, lelaki itu kerap kali merasa diatas awan, merasa  bahwa dirinya lebih berpengalaman sebagai seorang pria yang sudah beristri dalam arti yang sesungguhnya. Bisa jadi Leeteuk memanfaatkan rayuannya untuk memikat Kim Taeyeon. Lalu apakah cara tersebut berlaku untuk Yoona ?

Bersikap romantis atau hal – hal berlebihan lainnya bukanlah gaya seorang Lee Donghae namun, jika itu satu – satunya cara yang termudah dan terpraktis maka tidak ada salahnya jika ia mencoba, anggaplah ini sebagai peruntungan.

Donghae memfokuskan pandangannya kearah layar laptop, lantas ia bergegas menuliskan sesuatu di kotak pencarian—search engine. Donghae menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu menuliskan ini hanya saja ia tidak punya pilihan lain kecuali menuliskannya.

‘Tips menjinakkan penyihir—‘

“Aniya.” Donghae bergeleng tidak setuju dengan apa yang baru saja ketiknya. Ia menekan tombol delete bertubi – tubi hingga kalimat itu menghilang. Donghae menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Lalu kata kunci apalagi yang harus ditulisnya ?

Donghae mengerahkan jemarinya sekali lagi, menyusun huruf didalam kotak pencarian hingga membentuk sebuah rangkaian kata.

‘Kejutan romantis.’

….Klik…

Deretan website berjejer menyuguhkan artikel mereka tentang kejutan romantis, mulai dari menaburkan bunga, menerbangkan balon hingga memasang spanduk dari atas gedung. Donghae menatap puluhan judul artikel yang terpajang dihalaman utama dengan kepala berdenyut.

“Ya Tuhan, apakah ini benar – benar Lee Donghae ? sungguh tidak bisa dipercaya !”

…………..

Kepulangan Yoona dan Sehun di kediaman keluarga Lee disambut oleh jejeran pelayan dan petugas lain tepat didepan pintu rumah itu. Sooyoung berdiri di urutan terdepan membuat Yoona mengernyit kearahnya.

“Ada apa ini ?”

Sooyoung membungkuk hormat kearah Yoona dan Sehun. “Mianhamnida, Saya tidak bermaksud membuat Nyonya terkejut. Niat saya adalah ingin memperkenalkan para pekerja dirumah ini karena seingat saya Nyonya belum pernah berkenalan dengan mereka.”

Yoona menatap Sooyoung dari ujung kaki ke ujung rambut. Ia merasa aneh dengan tingkah Best friend forever – nya itu. Yoona ingin sekali menoyor kepala Sooyoung dan berkata ‘apakah kiamat semakin dekat ?’ tapi tidak semudah itu melakukannya karena sekarang Yoona menyadari bahwa posisinya adalah nyonya baru dirumah ini.

“Oh Ne, Ide bagus ! Demi menciptakan keharmonisan diantara kita, ada baiknya jika kita saling mengenal, tak kenal maka tak sayang. Bukankah begitu ?”

Sebagian besar pelayan tersenyum antusias begitu pula dengan Sooyoung yang menyambut reaksi Yoona dengan wajah tidak sabaran.

“Nde, kalau begitu saya akan memulai perkenalannya Nyonya.”

“Dirumah ini kita mempunyai lima pelayan wanita, tiga orang petugas keamanan dan dua orang supir.”

Sooyoung menatap gadis berambut ikal disampingnya, dia Eun Soo. Disampingnya ada Ji hyun, lalu yang biasa membersihkan rumah, Luna. Serta dua orang juru masak kita Amber dan Wendy. Sedangkan Saya sendiri sebagai supervisor yang bertugas memantau mereka serta kamar-kamar utama di rumah ini.

Sooyoung memeperkenalkan diri sekaligus rekan-rekannya. Mereka membungkuk hormat sebagai salam perkenalan. Tidak hanya pelayan, Sooyoung juga memeperkenalkan tiga orang petugas keamanan dan dua orang supir. Sementara disisi lain Yoona mulai mencoba mengenali wajah mereka satu persatu.

“Ada acara apa ini ?”

Perhatian mereka semua terlaihkan oleh sebuah suara. Seorang gadis tinggi berambut panjang dan bertubuh langsing berdiri dibelakang Yoona dengan wajah menyelidik. Sooyoung dan pelayan lain membungkuk kearah gadis itu namun berbeda dengan Yoona yang mengernyit bingung. Yoona mulai dibuat penasaran oleh sosok gadis asing yang baru ditemuinya di rumah ini. melihat bagaimana para pekerja menyambutnya maka Yoona bisa menyimpulkan bahwa dia bukanlah orang baru. Terlebih Sehun yang menarik tangannya agar secepatnya pergi dari kerumunan pekerja tepat setelah gadis itu muncul.

“Mianhamnida Nona Victoria, kami sedang memperkenalkan diri pada nyonya baru dirumah ini.”

“Perkenalkan, wanita dihadapan anda adalah istri Lee Dongahe Sajangnim.”

Tidak ada respon berarti dari Victoria selain wajahnya yang memandang sinis dan sebelah mata. “Oh !”. Gumam Victoria usai mengamati penampilan Yoona dari bawah keatas.

“Annyeonghaseyo, Im Yoona Imnida.”

“Ya. Aku Sudah mendengarnya, Selamat datang dirumah ini.” sambut Victoria tersenyum sekilas kearah Yoona lalu pandangannya berpaling kearah Sooyoung.

“Oh ya Sooyoung-ssi, Apakah Halmoni ada dikamarnya ?”

“Ya, sepertinya saat ini beliau sedang meditasi.”

“Baguslah. Kalau begitu aku permisi dulu.” Putus Victoria sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sooyoung dan para pekerja lainnya.

Sooyoung menunduk patuh namun dibalik itu ia sedang memendam kekesalan. “Wanita itu bertingkah seperti dialah nyonya dirumah ini. Sungguh menyebalkan !”

“Eomma ayo kita ke kamar Sehun.”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu.” Pinta Sehun antusias. Anak itu menarik tangan Yoona yang bergeming ditempatnya. Melihat situasi yang tidak kondusif Sooyoung memutuskan untuk membubarkan barisan lalu menghimbau kepada pada pekerja agar melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.

“Sooyoung-ah sebenarnya dia itu siapa ?” ditengah rengekan Sehun yang semakin menjadi-jadi, Yoona menyempatkan untuk bertanya kepada Sooyoung tentang asal usul gadis bernama Victoria.

Sooyoung mengangkat bahu, “Dia itu asisten Halmoni yang mengatur makanan dan kegiatan halmoni atau bisa dibilang dia adalah ahli gizi pribadi halmoni. Tapi belakangan ini ia juga menjadi penasehat dan mungkin menjadi orang kepercayaan halmoni.”

Belum sampai disitu, Sooyoung membisikkan sesuatu tepat didepan telinga Yoona, “Bahkan kudengar halmoni pernah berniat menjadikannya menantu. Padahal saat itu Donghae sajangnim baru saja putus dari Nona Yuri. Tapi aku bersyukur, akhirnya sajangnim mendapatkan wanita yang lebih baik daripada gadis angkuh sepertinya.” Putus Sooyoung menjauhkan Wajahnya ketika tubuh Yoona sudah berhasil ditarik paksa oleh Sehun. Anak itu terus merengek bahkan sampai berteriak memohon-mohon agar Yoona memenuhi keinginannya. Sooyoung tidak mempunyai pilihan lain selain membiarkan Yoona pergi. Entah bagaimana ia terganggu oleh tatapan Sehun yang seolah memperingatinya ketika berbica tentang Victoria. Mungkin lain waktu mereka bisa bertemu untuk melanjutkan acara bergosip itu tanpa pengganggu seperti Sehun.

…………..

Tiga puluh menit lagi sebelum waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Seluruh penghuni rumah nampaknya sudah terhanyut kedalam mimpi mereka kecuali dirinya yang masih terjaga. Saat ini Yoona duduk santai dipermukaan sofa ruang tengah. Tentu, Ia bukan gadis bodoh yang memilih duduk sendiri dimalam hari lalu menelantarkan kamarnya. Cukup satu alasan. Ia hanya sedang menunggu kedatangan seseorang. Yoona ingin melihat sejauh mana nyali Lee Donghae bertatap wajah dengannya pasca kejadian di kantor Sehun tadi Pagi. Yoona mati-matian menahan kantuk yang perlahan menyerangnya sejak tadi. Bagaimana tidak, tenaganya terkuras habis disaat melakukan serangkaian kegiatan hari ini mulai dari kegiatan perkenalan di kantor Sehun, beberapa jam untuk home schooling hingga menemani anak itu seharian di dalam kamarnya.

Sehun tidak henti-hentinya bercerita tentang kerinduannya bermain di sekolah bersama teman-temannya. Selain bercerita anak itu juga sibuk menggambar dan mewarnai diluar kegiatan home schooling yang menurut Yoona membosankan. Andai saja Sehun berasal dari keluarga normal, anak itu akan dengan mudah mewujudkan keinginannya untuk bermain sepuasnya dan menikmati dunia luar. Sangat disesali bahwa Sehun terlahir dari sebuah keluarga yang rumit seperti ini. Keluarga Kim yang jahat dan keluarga Donghae yang super sibuk. Lihatlah bahkan setelah memarahi anaknya, sang ayah yang begitu dibangga-banggakan anak itu belum juga menampakkan batang hidungnya hingga dini hari.

Terdengar derap langkah dari arah pintu. Fokus Yoona teralihkan. Ia memiliki keyakinan penuh bahwa pemilik langkah itu adalah Lee Dongahe, lalu siapa lagi ? Terlihat dari gayanya, ini bukanlah yang pertama. Donghae memang terbiasa pulang kerumah—bahkan tidak pulang sama sekali—disaat waktunya semua orang tertidur lelap. Sebuah fakta menunjukkkan lelaki itu memiliki kunci cadangan untuk membuka pintu.

Yoona bergegas bangkit dari Sofa lalu berjalan kesisi tembok begitu memperkirakan langkah Donghae nyaris menjangkaunya—Clekk—tanpa basa basi Yoona menyalakan saklar lampu hingga membuat ruang tengah yang semula remang-remang kini dipenuhi cahaya benderang. Donghae berpaling menatap lampu yang tiba – tiba menyala. Diwajahnya bertabur sisa – sisa keterkejutan yang cukup kentara. Langkah Donghae berhenti mendadak. Ia mulai mengerti ketika menangkap sosok wanita yang baru saja muncul dari sisi tembok. Matanya menyipit kearah wanita itu,”Yoona…”

“Masih ingat pulang ?” Pertanyaan itu menggelegar ditengah kesunyian malam. Donghae membuang napas kasar. Entah perang apalagi yang akan terjadi dengan mereka malam ini.

Yoona melipat kedua lengannya lalu berjalan pelan mengitari posisi dimana Donghae berdiri. Ia menatap lelaki itu memperhitungkan tindakan apa yang setimpal untuk membalas perbuatannya hari ini.

“Kupikir kau tidak akan pulang hari ini.” Yoona mengangguk membenarkan anggapannya sendiri lalu tatapannya berubah sinis. Donghae mulai tidak nyaman dengan tatapan Yoona, lelaki itu memalingkan wajahnya. Ia tidak berusaha menghindar hanya saja seseorang membutuhkan waktu setidaknya lima detik untuk menenangkan diri,  “Yoona sudahlah jangan mulai lagi—”

“Oh ya jadi…” Yoona menyambar, lekas dan tajam.

“Sudah lupa dengan ‘anak dan istrimu’ di rumah ?”

“Apa maksudmu ?” Donghae menatap sengit yang ditanggapi Yoona dengan santai.

“Iya maksudku, kau baru pulang kerumah disaat para hantu mulai bergentayangan Lalu kau akan pergi lagi bahkan disaat hantu – hantu itu masih bergentayangan.” Jelas Yoona penuh penekanan disetiap katanya. Donghae menghela napas, jadi sekarang apa lagi ? Selalu ada sejuta alasan yang digunakan Yoona hingga memancing pertengakaran mereka.

“Kehadiranmu dirumah ini agaknya tidak berguna, pulang dini hari dan pergi tanpa seorang pun yang melihat. Jadi kusarankan padamu, Kau tidak perlu repot-repot membuang bahan bakar untuk mobilmu—“

“Yoona berhenti sebentar.” Interupsi Donghae memejamkan matanya. Kali ini Ia benar – benar tidak berselera meladeni sikap Yoona. Donghae mempertimbangkan sesuatu yang bisa mengalihkan gadis itu, tapi semuanya terasa buntu.

“Apa Sehun baik-baik saja ?” Donghae menyambar tiba – tiba nyaris sebelum Yoona melanjutkan caci makinya yang tertunda. Mendengar betapa konyolnya pertanyaan Donghae, gadis itu terkekeh merasa lucu, “Kau menanyakan keadaan anakmu ?”  wajah gadis itu berubah mengeras, bola matanya membidik tajam kearah bola mata Donghae hingga keirisnya “Sehun sangat baik. Anak itu sibuk seharian ini. Asal kau tahu, Sehun langsung tidur setelah makan malam jadi tidak ada waktu untuk memikirkanmu.”

“Mwo ?”

“Bukankah kau senang ? Dengan begitu kau bisa fokus mengurus pekerjaanmu. Jadi kau tidak perlu menghawatirkan apapun, urus saja pekerjaanmu yang berharga. Kalau perlu kau tidak usah pulang selama ‘satu minggu’ ! dan kurasa hal itu jauh lebih baik dari pada membuang waktumu untuk pulang kerumah, karena sikapmu yang seperti ini tidak berpengaruh apa – apa.”

Donghae terkekeh memikirkan anggapan Yoona yang terdengar miris ditelinganya. Tatapan Donghae menajam seolah tidak mau kalah dengan Yoona.

“Oh jadi itu maumu ? kau lebih suka jika aku tidak pulang selama seminggu daripada muncul dihadapanmu, begitu?!”

“Keundae !!!” seru Yoona lantang dan tegas, “Kalau kau terus bersikap seperti ini maka teruskan saja, lebih baik kau tidak usah datang kemari ! Kalau perlu silahkan, aku tidak akan melarangmu tinggal diluar selama seminggu atau berapapun lamanya, terserah !”

Tatapan mereka saling beradu, begitu pula dengan peperangan napas yang saling bersahut – sahutan diantaranya. Ditengah situasi mencekam itu, Donghae berusaha berpikir positif yang justru membuat jantungnya seperti ditusuk – tusuk.

“Kau… menantangku—”

“Nde, lebih dari sekedar menantang !!!” seru Yoona tanpa basa – basi. Donghae terdiam. Tatapan sengitnya berubah menjadi ketidakpercayaan, “Yoona-ssi, Apakah perlakuan seperti ini yang aku dapatkan darimu bahkan setelah aku berusaha untuk pulang ?!”

Sorot mata Donghae berubah dingin. Yoona menelan ludah. Ia berbohong jika mengaku bahwa saat ini jantungnya baik – baiknya saja, karena faktanya untuk bernapas, Yoona mati – matian menarik oksigen sebanyak yang ia bisa,  “Tentu saja ! Kau… pantas mendapatkannya !”

“Baiklah jika itu maumu. ‘Annyeong’ aku pergi.” Pamit Donghae tanpa berniat membalas Yoona. Donghae memilih berbalik badan menuju pintu agar secepatnya keluar dari rumah ini.

Hingga tiba didepan pintu, langkah Donghae berhenti mendadak. Lelaki itu mengingat sesuatu yang memaksanya berbalik menuju tempat semula dimana Yoona masih berdiri disana. Gadis itu belum selangkah pun bergeser dari tempatnya.

“Oh ya aku lupa. Ini untukmu.” Donghae berdiri didepan Yoona menyerahkan sebuah paper bag tanpa menatap gadis itu sama sekali. Yoona mendecih. Ia mengingat pertengkaran mereka mulai dari pagi tadi hingga malam ini. Semua menjadi tidak berkesudahan. Yoona buru – buru menyambar paper bag yang disodorkan lelaki itu. Yoona tidak ingin semakin terbebani. Semakin cepat Donghae menghilang dari hadapannya maka semakin cepat pula beban – beban itu terangkat.

Begitu memastikan bahwa paper bag itu sudah sampai ketangan Yoona, Donghae bergegas melanjutkan niatnya yang tertunda. Segera angkat kaki dari sana.

Yoona menatap paper bag ditangannya bingung sekaligus curiga dengan maksud Donghae, bahkan ia tidak menyadari bahwa sejak tadi Donghae membawa paper bag. Jadi benar, emosi dapat membutakan segalanya.

Penasaran dengan isinya, Yoona segera membuka paper bag itu. ia tertegun sesaat ketika pikirannya mulai meberikan kesan kepada benda berbulu pink didalamnya. Yoona meraih benda itu dan menatapnya, “Apa ini ? Boneka beruang ?”

Yoona mendongak menatap keadaan pintu yang telah menutup. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, “Memangnya aku anak kecil ? Menyebalkan, uhh.” Kesal Yoona meninju perut boneka ditangannya bertubi tubi. Tiba-tiba suara aneh mengusik pendengarannya.

“Mianhae Yoong. Cukup bayangkan wajahku yang tampan ini. Dalam sekejap kekesalanmu akan hilang. Untuk Sehun, Maafkan Appa. Sehun harus menjadi anak yang baik. Saranghae.”

Yoona menatap sekelilingnya, tidak ada orang selain dirinya diruangan ini bahkan Dongahe sudah pergi sejak beberapa menit lalu. Yoona menatap boneka yang digenggamnya sekali lagi dan mengarahkan tinjunya tepat mengenai perut boneka itu.

“Mianhae Yoong. Cukup bayangkan wajahku yang tampan ini. Dalam sekejap kekesalanmu akan hilang. Untuk Sehun, Maafkan Appa. Sehun harus menjadi anak yang baik. Saranghae.”

“Pabo-ya.” Bibir Yoona menggumam tanpa sadar diikuti rasa hangat dipermukaan matanya yang serasa mengeruak. Yoona merasa jika kini bibirnya ikut merekah dan ia tidak peduli jika seseorang melihatnya dan mengira bahwa dirinya sedang dirasuki roh halus atau mungkin sudah gila.

………………….

Donghae mengemudikan mobilnya di jalanan ibukota yang tampak legang. Disepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya menggerutu atas apa yang menimpa dirinya beberapa saat lalu. Harapan indah yang dibayangkannya hancur berkeping-keping. Bukannya mengalami sesuatu yang lebih baik, dirinya malah berdebat sengit dengan Yoona. Apa yang menimpa mereka berbanding terbalik dengan ekspektasinya. Donghae menginginkan Yoona tersenyum, semata – mata agar gadis itu tidak lagi mengomel. Rencana yang tidak berjalan dengan mulus membuat Donghae mulai berfantasi andai saja ia tidak lebih dulu terpancing oleh perdebatan yang dibangun oleh Yoona… andai saja ia bisa memberikan boneka itu lebih cepat mungkin semua akan lebih baik. Namun tidak ada gunanya menyalahkan kenyataan karena dengan ini Donghae benar-benar yakin bahwa dirinya dan Yoona bagai langit dan bumi yang tidak bisa menyatu.

Lampu merah diperempatan jalan menahan laju kendaraannya. Donghae berhenti sejenak diantara beberapa kendaraan lain lantas ia dikagetkan oleh dering ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.

“Yoboseyo.” Sapa Donghae seraya memasang earphone.

“Donghae-ya tiba-tiba perasaanku tidak enak makanya aku menelponmu. Bagaimana ? berhasil tidak ?” suara Leeteuk menyerbu dari seberang mencecarnya habis-habisan.

Donghae berdecak, “Sudahlah Hyung ! Aku sudah tidak ingin mempercayai artikel di internet. Mereka semua hanya membual. Kenyataannya tidak seperti itu !”

Tanpa sadar Donghae memukul kemudinya, memunculkan bunyi klakson yang menghentak keras. Mobil-mobil di sekitarnya tampak terprovokasi oleh bunyi nyaring yang menghentak, tiba-tiba ikut membunyikan klakson mereka secara beruntun. Donghae memejamkan matanya tersadar oleh perbuatannya yang tidak pantas ditengah jalan raya. Lelaki itu menghembuskan napas kasar.

“Yak, Ada denganmu ? Tidak perlu se-frustasi itu ?! baru saja sekali mencobanya dan kau sudah menyerah ?! Dasar payah !”

“Terserah apa katamu ?! Yang jelas saat ini aku sudah diusir dari rumah ?!”

Donghae menghentikan sejenak percakapannya ketika lampu berubah menjadi hijau. Sembari berfokus dengan kemudinya, Dongahe melanjutkan percakapan yang sempat tertunda dengan earphone, “Bayangkan Hyung, dia sudah berani mengusirku ?!”

“Ya sudah kalau begitu mengungsi saja kerumahku. Jika aku membiarkanmu pulang ke apartemenmu, kau akan sendiri. Aku tidak ingin membiarkanmu sendiri karena kau pasti akan berbuat aneh-aneh. Jadi cepatlah kesini ?!”

“Bagaimana dengan istrimu Hyung ? bagaimana jika dia terganggu ?”

“Sudahlah, dia tidak akan terganggu.”

Donghae memutar setirnya menuju apartemen Leeteuk. Leeteuk sendiri yang mengundangnya jadi tidak ada alasan untuk merasa sungkan atau apapun itu. Lagipula sekarang ini pikirannya sedang kacau dan ia membutuhkan tempat yang bisa dijadikan pencurahan sebelum kepalanya pecah.

…………….

Gelembung-gelembung tipis melayang diangkasa seiring tiupan angin yang membawanya. Yoona duduk disebuah bangku taman kecil yang letaknya di pekarangan belakang kediaman keluarga Lee. sejak beberapa menit lalu gadis itu hanya meniup tungkai cairan sabun hingga tidak terasa botol kecil yang tadinya terisi penuh kini berkurang setengahnya. Yoona tidak berniat  sedikitpun untuk berhenti meniup gelembung-gelembung itu hingga memenuhi ruang disekitarnya. Gelembung itu pecah satu persatu dan akan bertambah banyak saat ia kembali meniupnya. Tanpa sadar yoona tertegun, ingatanya berputar mundur saat dimana usianya menginjak enam tahun ia sering sekali memainkan gelembung sabun bersama ayahnya jika sedang dilanda kesedihan. Hingga kini ia tidak bisa menghentikan kebiasaan itu.

Yoona ingat dulu ketika bertengkar dengan kakaknya, Ia selalu menyendiri di bawah langit. Ketika itu ayahnya datang menghampiri dan memberikannya sebuah mainan gelembung sabun. Perasaan senang lantas menghampirinya sesegera mungkin ia memainkan benda itu. Menyaksikan puluhan gelembung sabun berterbangan disekitarnya, Yoona menjadi pensaran. Ia pun bertanya kepada Almarhum ayahnya, “Appa, Sebenarnya kemana gelembung-gelembung itu pergi ?” lalu ayahnya menjawab, “Mereka pergi bersama peri kecil yang akan membawa mereka ke suatu tempat yang lebih baik.”

Saat itu Yoona tidak mengerti, “Jika aku adalah gelembung sabun, apakah peri kecil akan membawaku ketempat lebih baik juga ? karena saat ini aku sedang sedih.”

“Ya tentu saja, tapi kau harus ingat tidak selamanya gelembung sabun itu bertahan hingga sampai ketempat tujuannya. Adalakalanya mereka meletus ditengah jalan dan tidak menemukan apa-apa. Kau tahu ? Itu berarti mereka harus menerima bahwa itulah yang terbaik.”

Kedua sudut bibir Yoona tertarik mengukir sebuah senyuman. kesedihan terkadang membuatnya bimbang dan meniup gelembung sabun seperti saat ini cukup ampuh menghiburnya unrtuk sementara. Namun begitu tetap saja wajah sang ayah terbayang-bayang dikepalanya. Refleks kedua mata gadis itu terpejam.

“Yaaaaaaa.”

16907-sooyoung_stare

“OMO !” mata Yoona membulat seketika. Dihadapannya kini terpampang pemandangan mengerikan yaitu mata  lebar seorang gadis yang melotot seperti bola pingpong hingga memberi kesan seolah bola matanya akan meloncat keluar.

“K-kau sedang apa disini ?!” runtuk Yoona menghembuskan napas kasar.

“Aku ?” Tunjuk Sooyoung kepada dirinya sendiri. “Aku… sedang duduk dan ini—“ Sooyoung menyulut sebatang rokok dengan korek gas lalu menghisapnya dengan penuh penghayatan. Yoona terperangah. Belum selesai debar – debar dijantungnya berpacu, Sooyoung malah membuatnya bertambah shock.

“Fuahhhhh !!!” Kepulan asap meluncur bebas dari mulut Sooyoung.

“Dasar Gila !” bisik Yoona menatap sekitarnya lalu berbisik,  “Bagaimana kalau ada yang melihatmu ? Lihat disana ! Sehun sedang bermain. Bagaimana jika anak itu melihatmu sedang merokok ?!” tunjuk gadis itu kearah sudut taman dimana seorang anak kecil sedang asyik bermain bola seorang diri.

Menyimak omelan Yoona yang beruntun, Sooyoung memutar bola matanya, “Hmm ya ya. Awalnya aku berpikir kau akan menjadi ibu yang kejam. Rupanya dugaanku salah.” Sooyoung kembali menghisap rokoknya lalu berbicara, “Tenanglah, Sehun itu anak yang pintar. Dia tidak mungkin mencontoh perbuatan yang buruk.”

Yoona meniup ubun – ubunnya gemas, “Ya tapi tetap saja hal-hal menyimpang seperti ini harus dihindari. Lagipula bukankah dulu kau bilang sudah bertaubat ?”

“Keunde, aku memang sudah taubat. Aku seperti ini karena terdesak keadaan, jadi yaa… kadang-kadang.” Tampik Sooyoung mulai gelagapan. Ia sedikit terganggu dengan tatapan Yoona yang tampak sinis.

“Kau tahu ? Aku ini sedang sedih.” Ekspresi Sooyoung berubah malas namun secepatnya ia bergeleng. Sedetik kemudian ekspresinya menegas, “Yoona-ya, kukatakan padamu kau harus mencontohku. Paling tidak aku memilih cara yang lebih dewasa untuk menghibur diri jika sedang sedih. Tidak sepertimu yang sangat kekanak – kanakan.  Jika sedang sedih kau selalu meniup gelembung sabun sampai-sampai aku bosan melihatnya.”

“Cara apa ? Cara sesat.” Runtuk Yoona menyingkirkan asap-asap disekitarnya. Sooyoung melengos tidak peduli. Beberapa saat kemudian ia tersadar oleh sesuatu, “Oh ya, Apakah perkiraanku benar ? kau meniup gelembung sabun karena kau sedang sedih, bukan ? Lalu apakah sekarang…”

Yoona tidak menjawab. Gadis itu hanya menunduk dengan wajahnya  yang kelam.

“Haisss, kau ini pengantin baru yang mengenaskan.” Cibirnya.

“Dia tidak pulang seminggu.” Aku Yoona. Sooyoung menatapnya dengan anggukan santai, “Yayaya aku tidak heran dengan itu.”

“Maksudmu ?”

“Jangankan seminggu bahkan ada kalanya  Sajangnim tidak pulang selama beberapa bulan. Mungkin sajangnim sangat sibuk. Apalagi yang kudengar selain perusahaannya, Dia juga sedang mengurusi perusahaan Sehun.” Jelas Sooyoung menyuarakan kesimpulannya sebagai seorang pelayan yang sudah lama mengabdi.

Yoona berbalik menatap Sooyoung harap-harap cemas, “Kupikir tidak begitu. Ya, dia memang sibuk tapi sepertinya bukan masalah pekerjaan yang membuatnya tidak pulang.”

Sooyoung mengernyit penasaran sekaligus bingung.

“Seminggu sebelum ini…” Yoona menarik napas dalam – dalam, “Donghae—Oppa… dia pulang di tengah malam dan aku menunggunya.”

“Waw ?! Kau menuggunya sampai malam ? bukankah itu sangat manis ? lalu apa masalahnya ?” Sooyoung menatap Yoona dengan sorot mata memperhitungkan, “Sajangnim tidak akan pulang di tengah malam seperti itu kecuali jika ada sesuatu yang penting dan membuatnya harus pulang.”

Yoona berdecak, “Sooyoung-ah, Sebenarnya aku bingung harus bercerita darimana….”

“Tidak masalah, Aku siap mendengarnya. Cuz im your BFF, Right ?”

“Oke, baiklah.” Yoona menghela napas kemudian ia mulai menceritakan kronologis kejadian selama pernikahannya mulai dari masalah Sikap sehun di kantor hingga kepulangan Donghae ditengah malam yang menurut Yoona tidak pantas dilakukan oleh seorang Ayah. Tidak sampai disitu, Yoona menceritakan bagaimana mereka selalu bertengkar hanya karena masalah kecil yang tampak sepele tapi akan menjadi besar jika masalah tersebut menjadi topik perdebatan mereka.

Pertolongan awal yang mampu dilakukan Sooyoung hanyalah mengusap punggung Yoona sambil menatapnya prihatin, “Oke sebenarnya aku tidak menyangka hubungan kalian akan sekacau ini.”

“Dan kau tahu, Masalah terbesarnya adalah saat dia ingin meminta maaf, aku malah memarahinya habis-habisan.”

“Hmmm ya, dasarnya kau memang bodoh !” Sooyoung menghela napas prihatin.

Di-sisi lain Yoona mengabaikan kata-kata Sooyoung tentangnya, ia terlanjur dipusingkan oleh moodnya yang tiba – tiba berantakan, “Ya sebenarnya jika Donghae memberikan boneka itu lebih awal, pertengkaran itu tidak akan terjadi.” Yoona menghela napas sejenak, “Dan lihat sekarang, dia bahkan tidak pulang ke rumah.”

“Oke kupikir ini hanya masalah teknis. Anggap saja ini kesalahan prosedural.” Sooyoung menjernihkan sejenak otaknya. Lalu menatap Yoona serius, “Kalau begitu telepon dia sekarang.”

“Mwoo ?! Shireoooo !” tolak Yoona mentah-mentah. Sooyoung menghela napas. Yoona masih saja keras kepala. Terkadang Ia lelah menghadapinya namun posisinya sebagai sahabat yang baik mengharuskannya bekerja ekstra untuk ini; menyadarkan Yoona.

“Yoona-ya, My best friend forever. Kuberi tahu padamu.” Sooyoung menghirup udara disekitarnya lalu menatap Yoona penuh keyakinan,  “Di dunia ini terdapat beraneka ragam jenis lelaki, Pertama; Tipe anak baik-baik. Lelaki jenis ini memang baik hati namun kadang-kadang wajahnya dibawah standard. Kedua; Tipe Cassanova. Lelaki jenis ini memiliki wajah tampan namun kadangkala sifatnya kurang baik. Kombinasi dari keduanya memang ada— tampan dan baik— Tapi… “

Sooyoung bergidik lalu berbisik pelan, “Kebanyakan mereka itu… gay ?!”

“Ishhh.” Yoona memutar bola matanya tidak berselera.

“Ada lagi….” Tambah Sooyoung, “Lelaki tampan, baik, 1000 % pria tapi… itu… sudah punya istri dan lima anak… heol.”

Yoona berdecak, “Ahh, Lupakan saja yang seperti itu ?!”

Sooyoung menghela napas, “Ada lagi, lelaki berwajah kurang tampan tapi juga tidak jelek alias ‘standard’… hmm kalau yang ini, mereka biasanya mengidap penyakit mainstream; kanker alias ‘kantong kering’. Mungkin ada beberapa tipe lelaki berwajah ‘standard’ yang kaya raya tapi… mereka sering mengira bahwa wanita yang mendekatinya sedang mengincar harta mereka.”

“Ow… ya ?” Yoona tertegun sesaat, Lelaki kaya raya ? mengincar harta mereka ?… Meskipun wajah Donghae diatas standard namun tetap saja apa yang dikatakan Sooyoung terdengar menohok ditelinganya dan membuatnya berpikir ‘Apakah lelaki itu mengira bahwa dirinya juga sedang mengincar harta ?’ Tapi mau bagaimana lagi ?… tidak ada yang salah dengan anggapan itu…

Sembari menunggu Yoona berpikir, Sooyoung kembali menyelipkan puntung rokoknya diantara kedua lapisan bibirnya. Menghisap secara mendalam hingga mengeluarkan kepulan asap hasil pembakaran yang berbentuk seperti gulali.

“Jadi..” Yoona memajukan wajahnya penasaran, “Lelaki yang ideal itu, yang baik, tampan, kaya, 1000 % pria, dan menganggap kita segalanya ?”

Sooyoung mengangguk mantap, “Ya kau benar tapi tipe yang seperti itu biasanya pemalu, pengecut dan super gengsian. Parahnya, mahluk seperti mereka tidak akan pernah berpikir untuk menelponmu lebih dulu.”

Kali ini ekspresi Sooyoung berubah malas, “Errr maaf ya, menurutku sajangnim adalah lelaki tipe terakhir alias pemalu, gengsi dan pengecut. Sampai kapanpun dia tidak akan menelponmu lebih dulu ?!”

Yoona mengggit bibir bawahnya bimbang. Gadis itu menatap ponselnya yang sejak tadi teronggok diatas kursi. Lantas ia menimbang – nimbang, dengan setengah hati diraihnya ponsel itu. Telepon tidak ya ?

tips-jualan-di-instagram-informasi-jelas

“Apalagi yang kau tunggu ?! Cepat telepon suamimu !”

“Aissshh, tidak semudah itu—“ pada akhirnya Yoona menghempaskan benda itu keatas bangku.

Drtdrt drt drt… Sebuah ponsel bergetar disampingnya. Yoona dan Sooyoung menoleh bersamaaan kearah benda itu. melihat nama sang penelpon Yoona maupun Sooyoung tidak bisa menyembunyikan wajah keterkejutan mereka.

Lee Donghae—

Sooyoung menepuk pundak Yoona, “Itu dia ! Angkat…!”

Yoona meraih ponselnya. Segera ia menggeser tombol hijau lantas menaruh benda itu disamping telinganya.

“Yoboseyo…”

Bukan  Yoona yang lebih dulu menyapa akan tetapi lelaki diseberang sana. Yoona memilih bisu dan membiarkan hening berlabuh diantara mereka, hingga lima belas detik setelahnya gadis itu berdehem.

“Nde, Yoboseyo.”

“Yoona-ssi, bisakah kita bertemu hari ini ?” Lelaki itu bertanya tiba – tiba. Terselip nada permohonan disepanjang intonasinya. Yoona tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Donghae sekarang, akan tetapi ia bisa merasakan bahwa kini lelaki itu berbicara dengan napas berkejaran. Bibir Yoona sontak menggoreskan seringai.

“Tuan—emm…” Yoona berlagak mengingat, diam – diam gadis itu terkikik dan menarik napas disaat bersamaan, “Em, begini… Kalau boleh tahu saya sedang berbicara dengan siapa ? Mianhamnida, Tiga hari yang lalu saya telah menghapus beberapa kontak yang saya rasa tidak penting jadi—“

“Aku Lee Donghae.”

“Lee Donghae ?”

Lelaki diseberang sana tampaknya mulai kesal. Entah bagaimana Yoona sangat puas mendengarnya.

“Lee Donghae… Lee Donghae… Jujur saja nama itu terdengar asing.“ Yoona menyadari intonasi suaranya yang terdengar bimbang namun dibalik itu sesungguhnya ia tengah menahan gelak tawa yang serasa ingin menyembur.

“Bisakah kita bertemu… maksudku aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, hanya kita berdua.”

“Owhh… ya sebentar…” Yoona menarik napas dalam – dalam, ‘kesuatu tempat, hanya kita berdua…’

Yoona nyaris berteriak ditengah rasa ketidakpercayaannya. Beruntung, Ia segera mengantisipasi keinginan itu dengan membekap mulutnya, apakah ini mimpi ?  Yoona tidak mengerti apa yang menyebabkan tubuhnya meluap – luap seperti ini bahkan Kedua lengannya ikut bersorak menggapai gapai udara dengan heboh. Gadis itu tanpa sadar meloncat dari tempat duduknya lalu berjoget – joget kegirangan seperti orang gila.

Sooyoung tidak mampu menahan keterkejutannya. Mungkin sahabatnya itu memang sudah gila dengan bertingkah aneh seperti ini… entahlah.

Yoona memejamkan matanya seperti menahan sesuatu yang membuncah, “Sebentar, biarkan saya mengingat…” ucapnya menenangkan diri. Yoona menarik napas lalu menghembuskannya perlahan – lahan.

“Lee… maaf saya benar – benar lupa, Lee Donghae yang mana ya ? Akhir-akhir ini saya menjadi sedikit pelupa terlebih dengan orang-orang sudah lama menghilang—”

“Yoona-ssi  aku tidak perduli kau sedang lupa ingatan atau apa?! Sore ini aku akan menjemputmu ! dan ingat kau harus datang sendiri, jika tidak maka gajimu akan aku potong.”

“Yak.. Lee Donghae-ssi aku juga tidak perduli. Lakukan saja kalau berani ! Bye.”

Tut.. tut… tut… Yoona menutup teleponnya tanpa basa basi. Begitu sambungan terputus gadis itu terkikik sendirian kearah layar ponselnya yang menyisahkan wallpaper boneka beruang pink.

“Yak, ada apa denganmu ? Hah ?” geram Sooyoung mulai jengah dengan tingkah Yoona yang  menurutnya sangat aneh. Bahkan ia menangkap adanya binar – binar menyilaukan dimata Yoona ketika gadis itu menatapnya.

“Kau lihat kan, akhirnya dia menelponku.” Girangnya.

Sooyoung mengamati wajah Yoona dengan kepala dimiringkan, “Jadi kau senang ?”

“Tentu saja, Setelah seminggu menghilang… tiba-tiba dia mengajakku keluar.” Yoona mengehempaskan tubuhnya dikursi dan kembali menduduki posisi semula tepat disamping Sooyoung. Tubuh Yoona bergoyang kekanan dan kiri saat memeluk ponselnya, seperti benda itu sangat berharga.

“Yoona-ya ada apa denganmu ? Kalian sudah saling mengenal selama dua tahun—paling tidak itu yang kau katakan— Hal-hal seperti ini sudah umum dilakukan oleh semua pasangan. Kau tidak perlu bertingkah norak hanya karena peristiwa sepele.” Jelas Sooyoung dengan wajahnya yang berkerut – kerut.

Senyum Yoona memudar perlahan – lahan. Gadis itu menoleh was – was, “Jadi menurutmu aku tidak boleh bertingkah seperti ini ?”

Sooyoung meniup ubun – ubunnya karena tampak jelas bahwa Yoona agak terganggu dengan anggapannya, “Bukan begitu.” Jelas Sooyoung.  “Kau boleh saja merasa bahagia ketika seorang lelaki mengajakmu berkencan tapi menurutku sikapmu tadi sedikit berlebihan. Sikapmu lebih menyerupai remaja belasan tahun yang baru pertama kali diajak berkencan oleh lelaki yang ditaksirnya.” Sooyoung mengangguk – ngangguk dan menyipit, “Hmm atau jangan – jangan ini memang pertama kalinya untukmu—”

“Aniya, Aku… biasa saja.” Yoona mengangkat bahu sambil terkekeh. Diam – diam Ia meruntuki sikapnya yang bisa – bisanya memancing kecurigaan Sooyoung. Entah bagaimana  tiba – tiba napasnya  menjadi sesak. Ia tidak mungkin mengakui bahwa ini memang pertama kalinya seorang pria mengajaknya bertemu dan membuatnya segirang ini— Yoona hawatir jika sebentar lagi wajahnya akan memucat, jadi sebisa mungkin ia tersenyum lalu menepuk punggung Sooyoung,  “Ma BFF, Aku tahu kau tidak pernah berkencan jadi diamlah.”

“Halah,” tangkis Sooyoung mengibaskan tangannya. Gadis itu kembali menghisap puntung rokoknya yang tersisa setengah, “Masa bodoh dengan berkencan. Saat ini aku sedang memikirkan gajiku yang dipotong secara tidak manusiawi oleh Halmoni.”

“Hah ? Kenapa bisa ?” Yoona memajukan wajahnya menuntut penjelasan, “Kau melakukan kesalahan ?”

“Aniya.. Kakakku akan menikah jadi aku meminta izin untuk mengambil cuti selama dua minggu. Dan Halmoni… dia sangat perhitungan.” Ungkap Sooyoung berapi – api. Setelahnya gadis itu merenung panjang begitu pula dengan Yoona.

“Awas ya, jangan sampai kau kesepian karenaku.” Sooyoung menoleh tiba – tiba. Yoona langsung memikirkan kata – kata sahabatnya itu. Meskipun ada benarnya tapi…

“Hmmm kenapa juga aku harus kesepian—“

“Ya ya ya kau benar. Kenapa juga kau harus kesepian ! karena sekarang kau sudah punya seorang lelaki disampingmu.” Timpal Sooyoung penuh kekesalan.

Yoona lantas menyenggol tubuh Sooyoung, “Ya sudah kalau begitu cari saja lelaki yang bisa menemanimu. Bukankah itu lebih baik ? Ikutilah jejak Soo jin Eonni.”

Berbicara tentang lelaki, tiba-tiba Yoona teringat dengan sesuatu, “Sooyoung-ah kemarin aku bertemu dengan Kyuhyun. Dia memberiku undangan anniversary beerhouse ayahnya dan aku juga memberikan nomer teleponku padanya…”

Yoona hampir lupa menceritakan ini. Seingatnya Sooyoung pernah menyukai Kyuhyun dimasa lalu, namun ia tidak tahu pasti apakah perasaan itu tetap sama atau tidak.

“Kyuhyun ? Cho Kyuhyun ?” Sooyoung menatap Yoona harap – harap cemas.  “Lalu, apakah dia tahu kalau kau sudah menikah ?”

Yoona mengangguk, “Bahkan saat itu aku sedang bersama Sehun.”

“Yes !”

“Kenapa ?” Yoona mengernyit yang dibalas oleh Sooyoung dengan beberapa kali gelengan dikepala,  “A-aniyaaa, tidak apa – apa… maksudku Baguslah. Paling tidak dia sudah tahu batasannya untuk tidak mengganggu istri orang.”

“Kau sangat berlebihan…” tepis Yoona. Sooyoung menatap tidak terima. “Aku tidak berlebihan.” Tandasnya, “Justru aku sedang mengingatkanmu untuk berhati-hati. Dari dulu kau sering sekali menanggapi rayuan para lelaki yang mendekatimu. Tapi ujungnya ? Kau itu membawa mereka melayang tinggi ke angkasa lalu menghempaskannya begitu saja. Kita hitung satu persatu. Pertama; Ketua geng Black Hero, Im Taecyeon. Selanjutnya Kyuhyun anak pemilik beerhouse. Ada lagi, Gikwang anak artis terkenal—” Sooyoung tampak berusaha mengingat – ingat, “Oh iya, Gikwang. Kudengar dia bekerja di kantor Sehun.”

“Benarkah ? Aku belum pernah bertemu dengannya.” Yoona memutar ingatannya, barangkali Ia tidak sadar pernah bertemu dengan lelaki itu.

Sooyoung tiba – tiba tersentak oleh ingatannya, “Aku hampir lupa, korban selanjutnya dari sikapmu. Seunggi, Si kepala besar yang waktu itu mengancam akan terjun dari atap gedung karena cintanya kau tolak—“

“Sudahlah aku malas mengungkitnya.” Bola mata Yoona berputar otomatis. Sooyoung mencibir, “Dasar kau ini, Susah sekali menerima nasehat… Aku hanya sedang memperingatkan, jangan sampai sikapmu itu memakan korban untuk kesekian kali.”

“Ck, berhentilah membahasnya, aku tidak punya waktu memikirkan hal itu, karena saat ini yang ada dipikiranku adalah bersiap-siap untuk memenuhi ajakan ‘seseorang’ sore ini.” Jelas Yoona tersipu – sipu. Pandangannya tampak menerawang tidak jelas.

“Oh ya, aku titip Sehun padamu, ya ya.” Yoona mengedip – edip seperti boneka yang membuat Sooyoung mual dan menghela napas, “Nyonya Lee, kenapa tidak kau titipkan saja Sehun pada Halmoni. Aku ini Pelayan bukan Baby sitter.”

“Sooyoung-ah aku tidak ingin merepotkan orang tua—“ mohon Yoona sekali lagi. Sooyoung meliriknya sinis, “Benarkah karena itu ?”

Yoona mengangkat bahu tampak pasrah, “Entahlah, perasaanku mengatakan Halmoni tidak begitu menyukai Sehun.”

Sooyoung terdiam gerah memikirkan ini, gadis itu lantas mengacak rambutnya frustrasi.

“Sooyoung-ah, Pleaseee !” Nada permohonan Yoona berubah menjadi rengekan manja yang amat mengganggu pendengaran Sooyoung.

“Huffff, selalu saja aku yang jadi korban.” Ucapnya bersungut – sungut.

……………

Donghae membiarkan ponselnya teronggok diatas meja tanpa berniat menyentuhnya sama sekali. Lelaki itu menggerutu sambil melirik benda malang tersebut. Kekesalannya justru bertambah berkali-kali lipat ketika mengingat kembali tingkah Yoona yang sangat kekanak-kanakan. Gadis itu benar-benar mengerjainya dan menguras habis kesabaran yang ia miliki.

Drt drt drt…

Ponsel diatas meja kembali berbunyi. Donghae tersentak dari pikiran kalutnya. Perhatiannya lantas tersita menuju layar ponsel yang berderit diatas meja. Bayangan wajah Yoona yang hendak meminta maaf atas perbuatannya musnah ditelan bumi kala donghae melihat bahwa yang menelpon bukanlah gadis itu akan tetapi Heechul— orang yang sama sekali tidak ia harapkan.

“Yoboseyo.” Sapa Donghae malas-malasan.

“Yoboseyo, saudara ipar.”

“Hmm cepatlah katakan apa tujuanmu menelponku ?”

“Tenanglah man, jangan terlalu serius.” Bujuk Heechul santai, “Aku hanya ingin mengingatkan soal makan malam yang kutawarkan waktu itu. apakah malam ini kau bersedia ?”

Donghae memejamkan matanya, sungguh malam ini jadwalnya sangat padat. Memenuhi undangan Heechul akan mengacaukan jadwal itu, sayangnya Heechul bukanlah orang yang mudah menyerah, lelaki itu tidak akan berhenti sebelum orang yang dibujuknya berkata ‘Ya’.

“Lihat saja nanti, aku belum bisa memastikannya.” Putus Donghae. Diseberang sana Heechul tertawa, “Oke tidak masalah tapi ingat, ini adalah makan malam penting. Jadi sebaiknya kau tidak datang sendiri tapi datanglah bersama istrimu yang cantik itu—“

Clek…

Pintu menjeblak dari luar menampakkan karyawan lelaki berwajah sangar yang menerobos masuk.

Brukk…
Lelaki itu membanting dokumen tepat diatas meja..

Donghae menatap lelaki dihadapannya sekilas untuk selanjutnya kembali berfokus dengan perbincangan yang tertunda, “Heechul-ssi, maaf aku tidak bisa berbicara terlalu lama. Mendadak ada masalah yang perlu kutangani. Jika ada sesuatu kau bisa menanyakannya nanti.”

“Aku mengerti, kau pasti sangat sibuk ya…” Heechul menimbang – nimbang.

“Baiklah, kalau begitu kututup teleponnya. Selamat siang.” Tutup Donghae meletakan ponselnya diatas meja. Ia membenahi posisi duduknya lalu menatap lelaki yang kini menunggu dengan wajah berapi – api.

“Gikwang-ssi, ada apa ? kenapa kau tiba-tiba mengunjungiku ?”

“Apa maksud semua ini ?” Lelaki bernama Gikwang itu menepuk – nepuk dokumen dimeja yang telah dibantingnya. Gikwang membuka dokumen itu lalu menghempaskannya hingga berhenti tepat dihadapan Donghae.

Donghae meraih dokumen yang teronggok dihadapannya. Lelaki itu membalik sekilas beberapa lampiran yang terpapar didalam sana. Donghae meyeringai lantas menutup dan meletakkan dokumen itu.

“Wae ? Acara talkshow yang dipandu oleh Min Hyorin ?” Donghae mengangkat bahunya santai, “Aku kira talkshow itu sudah tidak mempunyai rating dan manfaat. Untuk apa dipertahankan di jam-jam seperti itu ? Tenanglah aku hanya memindahkan waktunya.”

Gikwang terkekeh, “Mwo ? Rating ?  manfaat ? atas dasar apa kau berkata seperti itu ?”

“Kau pasti sudah tahu— atau memang pura-pura tidak tahu— bahkan sejak dulu kita sudah melakukan survey untuk melihat pendapat masyarakat. Hasilnya banyak yang kecewa dengan talkshow itu karena hanya menampilkan kemewahan dan hedonisme semata—“ Donghae mengangkat alis ketika menangkap sebuah tanda kepanikan di wajah Gikwang. Lelaki itu mematung ditempatnya lantas memalingkan pandangannya tidak sudi, “Sudahlah percuma aku menjelaskan apapun. Orang-orang kolot sepertimu tidak akan mengerti soal life style.”

Donghae tergelak, “Aku tidak berbicara tentang life syle. Aku berbicara tentang masalah hedonisme—“

“Kalau begitu untuk program debat politik, kurasa itu sangat bermanfaat untuk pendidikan politik masyarakat. Ratingnya juga cukup bagus, tapi apa ? kau dengan seenaknya mengubah konsep yang ada ?!“ Gikwang memprotes keras.

Donghae menarik napas panjang, “Program itu memang mempunyai rating yang baik tapi setelah dianalisis, program itu hanya mengandalkan sensasi dan lebih condong memihak pada golongan serta topik tertentu saja. Bahkan program itu sudah beberapa kali mendapat teguran dari lembaga penyiaran karena dinilai tidak independen.”

“Cih, aku benar-Benar muak.” Potong Gikwang emosi, “Kau presdir baru bisa-bisanya mengacau apa yang ada. Bahkan kau sudah berani merombak posisi orang-orang tertentu.”

“Bukan perombakan.” Tangkis Donghae, “Aku hanya mengembalikan hak orang-orang yang seharusnya dari awal memegang jabatan tertentu di perusahaan media ini. Bukan malah menempatkan orang-orang titipan. Bukankah begitu Gikwang-ssi ?”

Kedua tangan lelaki itu mengepal kuat, “Oke, kita lihat sampai dimana kemampuanmu untuk memimpin perusahaan ini dan juga…” Gikwang menatap Donghae sesaat, “Dan juga sampai kapan kau bisa menjadi wakil Sehun ?! Annyeong.” Ucapnya menyambar dokumen yang tergeletak dimeja lantas berbalik pergi menuju pintu keluar. Mencapai setengah perjalanan, langkahnya yang terburu – buru dihambat oleh  seruan yang tiba – tiba menginterupsi.

“Talkshow Min Hyorin, Program debat politik dan pergantian posisi beberapa orang. Apakah ada hubungannya denganmu ? Kupikir kau terlalu ikut campur.”

386522_319142104769376_138989642784624_1593036_1090279158_n

“Mwo ? Benarkah aku terlalu ikut campur ?” Gikwang  menoleh kebelakang. Lelaki itu tersenyum diam – diam kearah atasannya itu tanpa seorang pun tahu.

……………

Lima belas menit Yoona menunggu Donghae didepan kompleks perumahan. Yoona berdiri ditepi jalan dengan heels 10 cm bahkan ia mati-matian menahan sapuan angin yang menerpa wool dress-nya, beruntung ia mengenakan blazer. Sesungguhnya Yoona ‘sangat’ tidak menyukai pakaian seperti ini, entah kapan persisnya Donghae membuang seluruh pakaiannya yang tidak sesuai dengan  selera lelaki itu dan pakaiannya yang tersisa kini hanyalah model-model busana wanita dewasa—benar-benar bukan seperti dirinya. Yoona merasa sudah cukup mengorbankan dirinya untuk melakukan sesuatu seperti keinginan Donghae. Akan tetapi yang ia dapatkan adalah sesuatu yang tidak jelas. Detik ini Lelaki itu dengan seenak hati membuatnya menunggu ditengah ketidakpastian apakah pertemuan mereka benar – benar terjadi, mengingat kegiatan lelaki itu yang katanya sangat ‘sibuk’.

Langit berubah menguning, lelaki itu baru saja tiba memenuhi janjinya. Sebuah mobil hitam berhenti dihadapan Yoona. Tanpa menunggu waktu lama, Yoona hendak membuka pintu mobil itu, namun tiba – tiba Donghae keluar dari mobil dan membuka pintu tersebut untuk Yoona.

“Masuklah.” Ucapnya seperti mempersilahkan. Yoona mengernyit, sedikit bingung mengartikan sikap Donghae.

“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama, sekarang masuklah.” Ulang Donghae ketika Yoona tidak kunjung beranjak.

“Maaf?”

“Wae  ?”

14-Yoona-Prime-Minister-and-I-Fashion1

Yoona bergeleng, “Ani… hanya merasa sedikit aneh.” Gadis itu menimbang – nimbang, ia mengamati wajah Donghae dengan seksama, tidak ada yang salah dengannya. Yoona lalu mengangkat bahunya tidak perduli. Gadis itu segera masuk kedalam mobil dan duduk didalamnya dengan nyaman. Donghae menyusul masuk. Lelaki itu segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju  kesuatu tempat entah kemana. Fokus Yoona berpaling kearah pemandangan gedung – gedung diluar jendela, hingga beberapa menit kemudian gedung – gedung itu semakin menjauh dari jarak pandangnya lalu berganti menjadi pohon – pohon dan rerumputan.

Donghae menghentikan mobilnya ditepi jalan yang sepi. Tentu saja Yoona mengenali tempat ini, sebuah lokasi didekat sungai Han. Donghae tidak berkata apa-apa begitupula dengan Yoona. Mereka berdua hanya duduk termenung membiarkan hening menyusup disela-selanya.

Yoona melirik Donghae dari ekor matanya. Saat ini lidahnya sudah mulai gatal ingin mengutarakan serentetan kata yang sudah tertahan selama berhari-hari namun logikanya menahan semua itu. Dalam hal ini penyebab utama dalam masalah mereka adalah Donghae. Yoona ingin melihat bagaimana cara lelaki itu menyelesaikannya. Lagipula pantang baginya untuk menegur lebih dulu meskipun ia sangat ingin.

“Yoona.” Panggil Donghae.

Yoona menoleh dengan wajah ingin tahu akan tetapi wajah itu luntur sedikit demi sedikit ketika Yoona mengaturnya menjadi sedatar mungkin, “Ya.”

“Ini sudah seminggu kan—”

“Seminggu kurang beberapa jam.” ralat Yoona. Mungkin ini bisa dikatakan seminggu tapi rasanya lebih dari itu.

“Malam ini genap seminggu.” Ucap Donghae kemudian. Yoona menatap lelaki itu menyelidik, lantas menyimpulkan,  “Oh jadi kau menghilang selama satu minggu karena ucapanku malam itu ?”

“Aku ingin berkata tidak tapi kenyataannya memang begitu.” Jawab Donghae mengangguk – angguk, “Bisa jadi kau benar. Dibanding harus pulang tengah malam dan memancing emosimu lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu.”

Yoona menatapnya sinis dan mengumpat dalam hati, ‘Ohh lagi-lagi masalah pekerjaan.’

“Lalu dimana kau tinggal selama ini ?” sambung Yoona seadanya. Ia tidak terlalu  penasaran dengan jawaban lelaki itu, mungkin sekedar ingin tahu.

Donghae mengetuk – ngetuk setirnya sebelum menjawab, “Selama ini aku tinggal di apartemenku, letaknya tidak jauh dari pusat perkantoran. Sesekali jika kesepian aku akan pergi ke apartemen Leeteuk Hyung.”

Yoona manggut-manggut, “Lalu apa yang akan kita lakukan ditempat ini ?”

Sungai Han. Tempat mereka berada saat ini, lantas membuat Yoona mengira – ngira tujuan Donghae menepikan mobilnya didekat area sungai.

“Itulah yang membuatku bingung. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa.” Jawab Donghae menatap Yoona dengan menyelami iris matanya

Gadis itu menganga, “Mwo ?”

“Apa kau punya ide ?”

“Aku sedang—tidak punya inspirasi.” Yoona menghempaskan punggungnya dipermukaan sandaran kursi, ia mendengus malas. Awalnya Yoona berpikir bahwa Donghae mempersiapkan sesuatu atau apa, namun kenyataannya nihil. Tidak ada yang spesial.

“Baiklah kalau begitu aku keluar dulu.” Putus Donghae yang seketika menarik perhatian Yoona, “Mau kemana?”

“Seperti katamu… agar mempunyai ide, aku harus mencari inspirasi.” Donghae tersenyum lebar kearah Yoona. Gadis itu sontak memicing. Matanya seperti memperhitungkan sesuatu.

Donghae mengacak rambut Yoona hingga rambutnya yang tergerai sedemikian rupa berubah  acak – acakan. Melihat ekpresi kebingungan gadis itu, Bibir Donghae melengkung sekali lagi, lebih lama dan lebar, “Maksudku aku harus memastikan sesuatu, tunggulah aku akan kembali.” Ucapan lelaki itu terdengar sangat yakin. Yoona tidak sempat menyuarakan ketidaksetujuannya ketika Donghae memutuskan keluar dari mobil. Gadis itu cenderung dipusingkan oleh prasangkanya yang tiba – tiba datang menghantui.

Ada apa dengan lelaki itu…  Sikapnya aneh sekali.

………….

Kira – kira tiga puluh menit setelah kepergian Donghae, Yoona hanya terdiam menyaksikan pemandangan dari dalam mobilnya.  Angin diluar sana berhembus sepoi – sepoi menghempas dedaunan. Langit menguning berangsur –angsur menghitam. Suasananya sepi, tidak ada suara – suara kecuali tekanan udara didalam mobil. Yoona mendesah malas. Gadis itu meraih ponselnya, mengutak – atik berbagai aplikasi yang terpasang, sibuk berfoto sana sini, atau bermain game. Sayangnya kebosanan itu belum hilang. Yoona menyenderkan kepalanya dipermukaan kaca mobil pintu. Ini aneh. Biasanya ia akan mengantuk lalu tertidur jika ditinggal sendiri seperti ini. Namun entah apa yang terjadi perasaannya menjadi tidak tenang. Donghae belum juga kembali.

sungai han

Yoona memutar pandangannya hendak memeriksa situasi diluar sana. Masih sepi dan semakin gelap. Gadis itu baru saja akan beranjak membuka pintu sebelum akhirnya dering ponsel dipangkuannya berbunyi menadankan pesan masuk. Yoona menyempatkan diri membukanya.

Nomer tidak dikenal ? Gadis itu mengernyit.

From : +8201035XXX

Hai selamat malam cantik ? ( Ini sudah malam kaan? )

Firasatku mengatakan saat ini kau sedang kesepian…

Kalau begitu, biarkan aku menemanimu.

Mr H

Kernyitan didahi Yoona semakin lekat. Gadis itu termenung memikirkan sesuatu. Mr H ? Siapa dia ?

Jangan – jangan…

Yoona memicing. Apakah pengirimnya adalah dia. Mr H… Hae… Donghae. Yoona menarik napas menahan kegeramannya. Usai membiarkannya sendiri didalam mobil karena alasan yang tidak jelas, lelaki itu tiba – tiba menegurnya dengan cara yang aneh seperti ini. Dan apa katanya tadi… Kesepian ? Yoona mendecih.

Baiklah jika lelaki itu hendak mempermainkannya, ia akan meladeni, tentu saja dengan senang hati…

To : +8201035XXX

Hai juga tampan…

Sayangnya aku baik – baik saja dengan atau tanpamu, jangan pernah merasa sok penting.

Mrs Y

Yoona menekan tombol send. Gadis itu menggerutu setelahnya, memaki benda mati persegi yang tidak berdosa. Ponselnya lagi – lagi berbunyi.

From : +8201035XXX

Apa kau sedang kesal ? padaku ?

Kesal ? Yoona meniup ubun – ubunnya yang serasa dikerumuni bara api. Sensasi itu lantas menggerakkan jemarinya secara otomatis membabi buta diatas keyboard.

To : +8201035XXX

Haruskah aku berkata YA atas pertanyaanmu yang super mencengangkan itu ?!

Ini rencanamu bukan ? Sudahlah menyerah saja, kau sudah tertangkap !

Kau pikir dengan meninggalkanku sendiri aku akan merasa kesepian lalu memohon mohon padamu agar kembali ? Jangan harap ! Bahkan saat kau meninggalkanku selama seminggu, aku tidak merasa kesepian sedikit-pun ! Dasar tidak bertanggung jawab. Kau pikir dengan bersikap manis aku akan luluh ? owwh yeah kita lihat nanti sejauh mana nyalimu setelah batu dibalik udang terbongkar !

Yoona tersenyum bangga membaca tulisannya sendiri. Senyum itu lantas berubah menjadi seringai licik. Bagaimana pun Donghae harus tahu kalau dirinya tidak bodoh, sejak awal pertemuan mereka ia sudah mencurigai keanehan sikap lelaki itu. Mulai dari membukakan pintu mobil… meminta maaf dan… mengacak rambut. Donghae tidak mungkin melakukan itu dengan sukarela.

Drtt… ponselnya kembali berdering, Yoona menatap kearah layar dengan raut meremehkan. Mari kita lihat bagaimana reaksi Lee Donghae.

From : +8201035XXX

Mungkin maksudmu ‘udang dibalik batu ???’ -__-

Yoona mengernyit. Gadis itu tepaku sesaat. Buru – buru ia mengecek isi pesan yang sebelum ini ditulisnya. Begitu menemukan kalimat janggal seperti yang dimaksud lelaki itu, kedua mata Yoona membulat. Namun tidak lama.

Bukan Im Yoona namanya jika ia tidak bisa menghadapi masalah kecil seperti ini.

To : +8201035XXX

Aku sedang berimprovisasi ! Ada udang dibalik batu atau ada udang dibalik celanamu itu terserahku ?!

Sudahlah waktuku terlalu berharga untuk membahas hal – hal yang tidak penting. Kalau aku mau, aku bisa saja kabur membawa lari mobilmu. Jadi kembalilah sekarang juga !!!

Sekian lama berkutat memikirkan ini, kegeraman Yoona pun membengkak, ditambah ketika lelaki itu membalasnya tanpa rasa bersalah.

From : +8201035XXX

Tunggu, aku tidak mengerti apa yang kau katakan… Tapi kupertegas disini, ‘Tidak ada yang lebih enak dari sesuatu dibalik celanaku’. Kau saja yang belum merasakannya kekeke~

Apakah kau tahu aku siapa?

To : +8201035XXX

Mr. H-ssi tolong jangan membuatku semakin kesal.

Aku tahu kau siapa ! Memangnya aku tidak tahu akal bulusmu ?!

Lain kali kalau mau mengerjaiku lebih pintar sedikit ! Dasar Pabo.

Yoona nyaris membanting ponselnya kalau saja benda itu tidak buru – buru berbunyi—lagi…

From : +8201035XXX

Mengerjaimu ? Aku ? TTTTT Huaaa… aku tidak mengerti sungguh, kau tahu aku ini Mr H bukan Mr G

Kedua mata Yoona terpaku menatap baik – baik tulisan didalam layar.

To : +8201035XXX

Mr H ? Mr G ?

Kurang dari sepuluh detik lelaki itu membalasnya….

From : +8201035XXX

Aku bukanlah Mr Genius yang bisa dengan mudah mengartikan kalimatmu.

Aku ini Mr H

Mr Handsome keke~

Bibir Yoona bergerak ragu, “Handsome ?”

To : +8201035XXX

Handsome ? Kau Lee Donghae, bukan ?

Yoona mengigit bibir bawahnya, antara bimbang dan… entahlah. Semoga dugaannya salah tapi…

From : +8201035XXX

Donghae TTTTT #cry

To : +8201035XXX

Cry?

Lelaki itu pasti bercanda, Yoona meyakinkan dirinya sendiri. Donghae pasti berpura – pura. Yoona yakin ia tidak pernah memberikan nomer ponselnya kesembarang orang kecuali mereka yang menurutnya penting. Sahabat, kakaknya, atasannya yang menyebalkan itu—Lee Donghae, lalu…

From : +8201035XXX

Ini aku Cho Kyuhyun.

Yoona mengerjap kaku, menatap lekat – lekat nama seseorang yang tercantum didalam layar, ”Cho—Kyuh—Yun ??” Tubuh Yoona bagaikan reruntuhan yang tidak bernyawa. Gadis itu menepuk jidat menyadari kebodohannya.

Mr H nyatanya bukan Mr Hae. Yoona terdiam pasrah bersama kepanikannya yang sungguh menyesakkan.

Apa yang sudah kuperbuat ? Padahal image yang coba kubangun selama ini adalah seorang gadis mandiri yang misterius tapi apa? Dalam sekejap mata Im Yoona berubah menjadi seorang ahjumma yang sedang mengomeli suaminya dan hal – hal  memalukan lain…

From : +8201035XXX

Jadi beginikah wujud asli Yoona jika sedang bad mood ? Aku baru tahu… :p

Yoona membenturkan kepalanya berkali – kali menghantam permukaan kaca disampingnya. Gadis itu merengek – rengek entah kepada siapa, ia juga tidak tahu.

To : +8201035XXX

Mianhae😥

Mianhae aku tidak menyangka—

“Aishh siapa lagi yang menelpon.” Yoona menggerutu kesal. Baru saja mengetik beberapa kata ponselnya lagi – lagi berdering.

“Yoboseyo,” Sapa Yoona menarik napas panjang usai melihat nama si penelpon. Siapa lagi, Lee Donghae. Mengingat Lelaki itu membuat Yoona semakin ingin membenturkan kepalanya. Bodoh, bodoh, bodoh !

“Yoona apa yang kau lakukan dengan membenturkan kepalamu seperti itu ?!”

“Tidak apa. Aku hanya sedang bosan.” Jawab Yoona malas ditengah kegelisahannya.

“Kebiasaan yang aneh.” Yoona mendengar Donghae menggerutu. Gadis itu hendak menyanggah sesuatu namun bibirnya terkatup mendeteksi kejanggalan.

Kebiasaan… tunggu… membenturkan kepala.. dari mana lelaki itu tahu ?!

Tok… tok… tok…

Yoona terkesiap menyadari kalimat Donghae yang didukung oleh bunyi ketukan kaca dari balik jendela yang menjadi topangannya. Yoona menoleh kearah luar jendela menampakkan seorang lelaki yang tengah mengintip.

“Kau mengunci pintunya ? Keluarlah, ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan.” Donghae membujuk namun tetap saja terdengar memaksa bagi Yoona.

“Apa ?”

“Nanti akan kutunjukkan.”

Dengan sangat terpaksa Yoona keluar dari mobil memenuhi perintah lelaki itu. Yoona berdiri menghadap Donghae, bola matanya sedikit berputar – putar seiring tangannya yang terlipat didepan dada.

“Jadi apa yang ingin kau tunjukkan. Bergegaslah. Kau sudah membuatku menunggu terlalu lama.”

“Mianhae Yoona, aku tidak bermaksud membuatmu menunggu.” Donghae mengusap rambut Yoona yang buru – buru ditepis oleh gadis itu.

“Donghae-sii, katakan ada apa dengan semua ini ? sikapmu benar – benar membuatku bingung. Kukira kita sedang berselisih tapi kau bersikap seolah semua baik – baik saja. Kau meminta maaf dengan mudah, menyentuh kepalaku bahkan tersenyum tanpa beban. Sebenarnya apa yang kau inginkan ?”

Donghae bagai tersudut menghadapi Yoona yang mencecaarnya tanpa henti. Tidak ada sesuatu yang terpikirkan olehnya untuk menyanggah anggapan Yoona. Donghae merasa ini sangat sulit jika diungkapkan dengan kata – kata, karena sejujurnya ia terlalu lelah menghadapi keadaan ini. Dan jika Yoona terus berceloteh, bisa – bisa kepalanya pecah.

“Aku seperti ini karena tidak ingin menambah masalah.” Kilah Donghae. Yoona mencoba mengerti disisi lain ia gemas menghadapi kebingungannya sendiri.

“Aku tahu, apa pun alasanmu itu terserah, tapi sikapmu yang menunjukkan seolah kau ini pria termanis di dunia usai pertengkaran kita membuatku berpikir yang tidak – tidak.  Kau seperti bukan Lee Donghae yang kulihat terakhir kali, sebenarnya kau ini sejenis bunglon atau apa?”

Sebelum Donghae menjawab, Yoona sudah bisa menjawabnya sendiri. Gadis itu memicing penuh prasangka, “Ya, aku tahu… atau sebenarnya saat ini kau menginginkan sebuah pelanggaran—“

“Yoona !” bentak Donghae tidak terima.

“Dari pada membuatku bingung lebih baik katakan saja. Kau menginginkan sebuah pelukan atau sesuatu yang lebih ekstrem… ?”

Donghae tergelak menanggapi prasangka Yoona yang terdengar seperti penawaran untuknya. Lelaki itu menatap gadis dihadapannya penuh arti, “Oh ya ? Jadi bolehkah aku melakukannya ?”

Bunyi gesekan berderet menciptakan sedikit kegaduhan. Yoona melangkah mundur berangsur – angsur ketika Donghae bergerak mendekatinya. Punggung Yoona membentur badan mobil membuat gesekan langkah mereka hilang. Donghae membiarkan Yoona membisu bersamanya. Lelaki itu mengusap rambut Yoona perlahan – lahan hingga tatapan mereka bertumbukan menyisahkan jarak satu senti.

“Kau yakin ?”

Yoona menelan ludah lalu menggigit bibir bawahnya bimbang. Meski pun kini mata gadis itu terpejam hanya untuk menyambut sesuatu yang akan datang, napasnya seolah tercekat ditenggorokan. Yoona tidak tahu apakah hal ini cukup mengganggu mereka atau tidak akan tetapi ia bisa memastikan bahwa saat ini jantungnya kacau mengingat bagaimana tatapan Donghae beberapa saat lalu, tajam dan menyimpan amarah. Yoona merindukan tatapan Donghae yang teduh, bukan ini yang diinginkannya.

Bibir Donghae berhenti diatas bibir Yoona nyaris menyentuhnya. Anggaplah detik ini dirinya bisa bersabar. Donghae tersenyum miris, “Kau pikir aku sebrengsek itu ?” bisiknya ditelinga Yoona. Gadis itu terpatung lantas mengakhiri pejamannya. Hal pertama yang ia temukan adalah Donghae mengambil posisi disampingnya, bersandar menatap langit yang mulai menghitam.

“Aku ingin memperbaiki hubungan kita ! tapi… aku bingung harus memulainya dari mana, karena itulah mungkin sikapku terlihat aneh dimatamu.” Donghae menatap Yoona yang lebih dulu memandangnya.

“Aku mempersiapkan ini semua—sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu— tapi jika kau tidak bersedia melihatnya, lebih baik kita pulang saja. Aku akan mengantarmu.”

Sekian lama menimbang – nimbang, Donghae beranjak dari tempatnya. Yoona lebih dulu menghalau,“Tidak semudah itu !”

Yoona menelan ludah menghilangkan kegugupannya. Jadi, lelaki itu mempersiapkan sesuatu ? Yoona sedikit penasaran dengan ini… ‘hanya penasaran’ … Lagi pula perkataan Donghae ada benarnya, hubungan mereka semakin kacau dan butuh perbaikan.

“Kau sudah membuatku menunggu lama hingga nyaris berlumut, dan lagi aku tidak ingin membuat kehadiranku ditempat ini berakhir sia – sia.” Kilah Yoona  menegaskan. Lelaki itu berbalik menatapnya.

“Baiklah aku akan menunjukkanmu sesuatu tapi… “ Donghae menghela napas lelah. Tidak lama setelah itu, ia meraih kedua tangan Yoona lalu menggenggamnya diantara mereka, “Berjanjilah untuk tidak membuat keributan denganku. Yoona kumohon padamu, hanya sebentar.”

Donghae menatap Yoona penuh harap. Gadis itu tampak berpikir.

Yoona menarik mundur tangannya yang digenggam oleh Donghae sebelum akhirnya memutuskan, “Arasseo. Jadi, aku harus apa?”

………………

Gelap. Yoona berjalan meraba – raba permukaan dibawah kakinya. Ia tidak bisa melihat apa pun karena saat ini Donghae mengambil alih penglihatannya dari belakang. Donghae menutup kedua mata Yoona dengan tangannya dan menuntun gadis itu melangkah perlahan – lahan menuju ke sebuah lokasi yang sudah ditentukan. Disepanjang perjalanan Yoona tidak henti – hentinya mengira wujud dari sesuatu yang akan ditunjukkan Donghae

Hembusan angin bergelenyar dipermukaan kulitnya memacu getaran didalam tubuh Yoona. Bersama angin pula, Wangi tubuh Donghae menguar kedalam penciumannya membawa kehangatan tersendiri. Bibir Yoona menorehkan segores lengkungan tanpa sadar.

“Haruskah kita seperti ini ?” Yoona berusaha melangkah dengan normal meski pun kini matanya yang ditutup oleh Donghae sedikit menyulitkan. Beberapa kali Yoona menyeimbangkan tubuhnya yang limbung.

“Tidak juga. Aku hanya sedang melakukan pemanasan.” Jawab Donghae menahan tubuh Yoona sebisa mungkin agar tidak terjatuh.

“Pemanasan ?”

“Ya, untuk mencairkan suasana.”

“Tapi ini membuatku agak kesulitan.” Keluh Yoona sesaat kakinya menyandung sesuatu.

“Sudahlah Yoona lakukan saja sesuai perintah, lagipula aku melakukannya berdasarkan petunjuk—maksudku aku mengikuti tips tertentu—anggaplah kau tidak akan kenapa – napa.”

Yoona kehilangan kata – kata menggapi peringatan Donghae.  Bibirnya  sekedar berkomat kamit tidak jelas.

”Sekarang buka matamu.” Perintah Donghae usai menghentikan langkahnya sekaligus langkah mereka.

Donghae menyingkirkan kedua tangannya dari mata Yoona. Penglihatan gadis itu sedikit mengabur ketika ia mengangkat kelopak matanya. Yoona mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya pemandangan yang tergambar ditempat itu semakin jelas dan tajam.

­­­Yoona menatap bingung situasi disekitarnya. Mereka berdiri tepat disekitar area pinggir sungai…

Bukan hanya bingung, kali ini lebih kepada rasa tidak percaya…

Pancaran sinar merah muda bertebaran mengelilinginya. Sinar itu menyala – nyala ditengah kegelapan memasuki malam hari. Pandangan Yoona berkeliling mengikuti cahaya lightstick yang membentuk sebuah pola berbentuk hati dimana mereka berada ditengah – tengahnya. Jika diamati lebih jelas lightstick itu berbentuk seperti mawar yang menancap direrumputan, diantaranya terselip bunga – bunga mawar putih sungguhan yang nampak bermekaran.

Yoona bergeming tidak bereaksi. Nampaknya kesadaran gadis itu belum sepenuhnya terkumpul.

Donghae berlutut dihadapannya secara tiba – tiba, sesuatu yang tak pernah ia duga. Reaksi tercengang Yoona semakin menjadi – jadi.

“A-apa yang kau lakukan ?” desak Yoona meraba – raba maksud dari sikap Donghae yang berubah sekonyol ini. Berlutut ? apakah lelaki itu sedang berhayal menjadi pangeran dari negeri dongeng ? benar – benar kekanakan, Yoona sudah bisa memastikannya  bahwa Donghae memiliki masa kecil yang kurang bahagia, tapi haruskah lelaki itu bersikap tidak masuk akal seperti ini ?

Hal selanjutnya yang semakin membuat Yoona tercengang adalah, Donghae menyerahkan setangkai mawar merah melalui tangannya yang terulur kearah Yoona menyihir suasana menjadi hening. Gadis itu membisu ditempatnya.

“Bisa kau lihat, ditempat ini kau dan aku dikelilingi oleh puluhan bahkan ratusan mawar putih. Mungkin aku akan kebingungan jika harus memilih diantara mereka tapi kau tahu ? kehadiran sekuntum mawar merah disini—yang begitu berbeda—diantara warna putih, menghapuskan segala kebingungan itu. Sekarang bukan lagi soal aku harus memilih diantara ratusan, tapi menentukan. Menentukan satu – satunya tanpa pilihan apa pun.” Donghae mengambil alih perbincangan mereka. Bibir Yoona bergerak – gerak seolah ingin berbicara sesuatu namun lelaki dihadapannya lebih dulu meyakinkan. Lelaki itu tersenyum tipis.

“Dan aku telah menjahtuhkan pilihanku kepada mawar merah ini, tentu saja utuk diberikan kepada seseorang yang pantas mendapatkannya.”

“Donghae-ssi tunggu—“

“Sekali lagi aku minta maaf atas segala kebodohanku. Mianhae… aku bersalah.” Timpal Donghae sesal. Yoona menarik napas lalu menghembuskannya penuh pertimbangan.

“Mulai detik ini jadilah mawar merah untukku. Jadilah satu – satunya bunga yang mendampingiku kemana pun. Atau paling tidak detik ini, hanya detik ini. Aku ingin menjadikanmu sesuatu yang menentramkan, begitu sebaliknya.” Donghae menatap Yoona penuh harap,

“Yoong, bersediakah kau menerimanya ?”

yoona-lotte-fansign-2

Yoona terpaku menatap sekuntum mawar merah  yang terulur kearahnya. Bukan hanya soal bunga tapi segalanya, segala sesuatu yang dipersiapkan oleh Donghae. Yoona merasa dirinya sangat bodoh karena merasa istimewa, padahal ia mengetahui bahwa semua ini bukanlah yang sebenarnya. Tujuan Donghae adalah memperbaiki hubungan mereka yang kacau semata – mata demi keberhasilan rencananya, tidak lebih. Namun sekali lagi kebodohannya terulang; Im Yoona sama sekali tidak perduli.

Sesaat pandangan Yoona bergeser lalu bertabrakan dengan sepasang mata teduh milik Donghae yang setia menuggunya. Keteduhan itu… entah sejak kapan Yoona menyukainya, serasa menghangatkan.

“Oke.” Putus Yoona meraih sekuntum mawar merah pemberian Donghae, sejenak memandangi bunga itu dengan senyumnya yang berangsur merekah . Ada banyak hal yang sesungguhnya ingin diungkapkan Yoona terkait sikap Donghae yang sangat mengejutkan itu, namun entah bagaimana setiap kata yang terangkai didalam benak gadis itu justru terbengkalai secara misterius. Yoona hanya  bisa mengingat satu kata yang cukup mainstream, “Gomawo.”

Meski sederhana, ucapan terimakasih itu akhirnya lolos dari bibir Yoona.

Donghae tersenyum menanggapi sinyal positif yang diberikan oleh Yoona. Lelaki itu berdiri mengakhiri aksi bersimpuhnya dihadapan seorang gadis. Kini mereka berada dalam posisi saling berhadapan mempermudah keduanya saling menatap.

Yoona berdehem, “Apa tidak ada lagi yang ingin kau tunjukkan padaku ?”

Sejenak Donghae memutus tatapan mereka, “Masih ada.” Jawabnya meninggalkan Yoona sendiri. Lelaki itu beranjak duduk diatas rerumputan, ia menengok kebelakang. Sepasang mata itu menyadarkan Yoona dari keterpakuannya,  lantas Donghae menepuk – nepuk tempat kosong disampingnya

“Duduklah.”

 Yoona duduk disamping Donghae yang tengah mendongak menikmati pemandangan langit. Gadis itu mengamatinya dari sisi kanan.

“Boleh kutahu dalam rangka apa kau mempersiapkan ini? selain meminta maaf ?”

Donghae menatapnya dengan alis terangkat.

“Apakah ini semacam sogokan ?” Sambung Yoona mengurai kebingungan lelaki itu.

Ia terkekeh, “Anggaplah seperti itu.”

“Baiklah, sogokan diterima.” Yoona mengangkat bahunya mau tidak mau.

Gadis itu terdiam sejenak menikmati pemandangan disekitarnya. Sepoi – sepoi angin yang menggerakkan pepohonan datang dan pergi bersama kicauan burung. Yoona baru saja menyadari sensasi sebenarnya berada di pinggir sungai setelah apa yang terjadi. Aliran sungai hadir menciptakan bunyi derai – derai  menenangkan. Aroma lembab tanah cukup mendominasi dan itu tidaklah buruk.

“Tapi… kau belum minta maaf pada Sehun. Kupikir disitulah masalah utamanya.” Pernyataan itu meluncur begitu saja. Yoona tidak tahu bagaimana ekspresi Donghae mendengarnya, namun Yoona bisa mengira bahwa saat ini lelaki itu tersenyum ditengah kepedihannya.

“Aku akan meminta maaf pada anak itu nanti, untuk sekarang menjinakkanmu lebih penting.”

Yoona mendelik. Bisa – bisanya Donghae berbicara setenang itu, bahkan setelah peristiwa dimana lelaki itu memarahi anaknya hingga sesangguk di kantor. Anggaplah dalam hal ini Sehun memang bersalah karena membuat keributan, akan tetapi tidak seharusnya Donghae mengesampingkan segala hal tentang anak itu.

“Lalu apa menurutmu Sehun tidak penting ?”

Donghae menghela napas. Mendengar suara Yoona yang semakin meninggi sesungguhnya lebih menyeramkan dari suara petir.

“Ck inilah yang menyebabkan kita sering berdebat.” Donghae berdecak malas, lelaki itu berpaling mengikuti arah angin yang menggoyahkan aliran sungai, “Apakah selamanya kau akan terus berpikir macam – macam tentangku… Bisakah sekali – kali kau tidak berburuk sangka padaku… Aku mementingkan Sehun diatas segalanya, kalau tidak seperti itu mana mungkin aku menikahimu ? Memangnya aku menikahimu karena apa?”

Yoona mendengus lalu tertunduk lesu. Bunga mawar merah yang digenggamnya  saat ini lebih dari cukup untuk menghiburnya, tapi… ini sangat perih.  Bodoh, apa yang kau harapkan Im Yoona ?

“Ya aku tahu, kau menikahiku karena Sehun.” Gumam Yoona mengangguk paham.

“Dan kau adalah Eommanya. Suka atau tidak suka, Ibu dari anak – anaku kini dan kelak dimasa yang akan datang, turut serta menjadi bagian terpenting dalam hidupku.” Jelas Donghae.

“Kau menitipkan Sehun pada Sooyoung, iya kan ?”

Yoona mengernyit, “Dari mana kau tahu ?”

“Yoona-ssi, apa kau lupa aku ini siapa ?” Donghae mengangkat dagu kearah Yoona, “Aku ini adalah majikan di rumah yang kau tinggali. Aku bisa dengan mudah memantaumu, dan kau harus ingat bahwa telepon di rumah itu masih sangat berfungsi. Selain telepon rumah aku juga menyimpan seluruh nomer telpon para pelayan, jadi meskipun aku tidak pulang ke rumah bahkan selama berbulan – bulan , kalian akan tetap berada dibawah pengawasanku, mengerti ?”

Bibir Yoona berkomat – kamit mengikuti penjelasan Donghae. Sebenarnya Lelaki itu tidak perlu berbicara panjang lebar karena Yoona sudah sangat mengerti arah pembicaraannya.

“Kau tahu ? Mengobrol dengan seorang pelayan membuatku mengetahui sebuah fakta.” Ungkap Donghae, “Sepertinya kau sangat akrab dengan kepala pelayan Choi, kalian sahabat lama, ya?” Lelaki itu menyelidik.

“Sooyoung berbicara sesuatu…” Yoona tertegun, “Maksudku apakah dia berbicara tentangku yang aneh – aneh ?”

“Sooyoung lebih banyak berbicara tentang Sehun, tenanglah, tidak usah sepanik itu.” Pengakuan Donghae membuatnya sedikit lega, meski pun Yoona tidak sepenuhnya yakin mengingat bagaimana mulut sahabatnya yang sudah menyerupai ember.

“Baiklah, lupakan saja.” Yoona memutar bola matanya malas.

Hening mengisi kekosongan diantara mereka. Yoona terdiam sementara lelaki disampingnya sibuk melempar batu kerikil kedalam sungai. Dalam diam Yoona memperhatikan Donghae. Mungkin saat ini ada banyak hal yang mengganggu pikiran lelaki itu. Yoona menggigit bibir bawahnya bimbang. Tiba – tiba terpikirkan olehnya untuk mengatakan sesuatu yang sepertinya akan merusak suasana, namun tetap saja ia tidak bisa menahan ini lebih lama.

“Donghae-ssi cobalah berbicara baik – baik pada Sehun.”

Donghae menahan lemparannya ketika permintaan Yoona mengudara. Donghae melirik Yoona sekilas hingga akhirnya bersikap mengabaikan. Lelaki itu melanjutkan lemparannya kedalam sungai yang tiba – tiba ramai dengan bunyi percikan.

Yoona tidak perduli dengan sedatar apa sikap Donghae saat ini. Yoona memilih tinggal dengan pendiriannya menerangkan sesuatu kepada Donghae agar setidaknya ia mengerti…

“Anak itu memang berbeda karena itulah dia sedikit tertutup mengutarakan apa yang diketahuinya—mungkin Sehun hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya dengan benar— karena itulah Sehun memilih mengungkapkannya lewat tindakan.”

“Jika suatu saat nanti Sehun berbuat sesuatu yang menurutmu tidak pantas dilakukan oleh anak seusianya, cobalah untuk mengerti dan memberikan kesempatan untuknya menjelaskan sesuatu. Kau tidak harus mendiktenya ini dan itu, jadilah teman untuk Sehun.”

“Ya, aku tahu sebagai petinggi perusahaan kau lebih sering memerintah tapi sedikit demi sedikit kau harus membiasakan dirimu menjadi teman untuknya.”

“Aku menyimpulkan hal ini bukan hanya asal bicara. Mengamati sikap Sehun selama beberapa hari membuatku teringat sesuatu.”

Yoona termenung sesaat, “Aku dan Boa Eonni juga dulunya sering bertengkar karena aku merasa Eonni terlalu mengekangku. Setiap malam Boa Eonnie selalu berceramah panjang lebar. Aku tidak tahan dengan sikapnya jadi aku memutuskan kabur dari rumah. Aku menginap di rumah temanku, Tiffany. Lalu Tiffany memperkenalkanku pada sebuah geng yang menurutku kami semua senasib. Entah bagaimana aku lebih nyaman berada ditengah tengah mereka.  Seiiring berjalannya waktu aku menyadari sebabnya ; karena saat itu aku lebih membutuhkan empati dari seorang teman, bukan seseorang yang menggurui dengan berbagai pengertiannya.”

“Mungkin akulah yang kekanak – kanakan tapi saat itu Boa Eonni menangis karena kepergianku, dan saat itu juga aku menyadari bahwa Eonni sangat menyayangiku begitu sebaliknya.”

120514_사랑비_YA42

“Aku yakin Sehun juga sangat menyayangimu. Anak itu tidak akan tega membuatmu kecewa.”

Yoona menyadari Donghae telah berhenti dari aktivitasnya melempar kerikil kedalam sungai. Lelaki itu membisu, tidak menanggapi sedikit pun usaha Yoona yang rela mati – matian merangkai kata dan memutar otak hingga menjadikannya sebuah penjelasan panjang. Bahkan Yoona merasa nyaris terbawa suasana mendengar ucapannya sendiri, tapi lelaki itu bersikap sebaliknya

Donghae memutar tubuhnya menghadap Yoona, mengamati gadis itu dari bawah keatas lalu berhenti tepat dimatanya, “Kalau seperti ini, kau terlihat seperti Eomma sungguhan.”

Yoona meniup ubun – ubunnya yang serasa memanas. Sungguh, kali ini kesabarannya bagaikan diambang.

“Aku serius Donghae-ssi.” Tandasnya.

Donghae menatap Yoona sekali lagi, “Aku juga serius.”

Sayangnya Yoona memilih mundur. Gadis itu menghela napas, “Oke, terserahmu.”

“Lihat kau mulai lagi.” Donghae melemparkan opininya. Yoona mendelik, “Siapa yang mulai lagi ? Ini semua salahmu, tahu ?!”

Tatapan Yoona menajam. Benar – benar, lelaki itu harus buru – buru disadarkan. Sekian lama  Yoona menghabiskan waktu untuk mencurahkan segala isi hatinya akan tetapi ia tidak menerima apa – apa kecuali sikap tak acuh lelaki itu. Dan yang paling menyebalkan adalah lelaki itu menuduhnya dengan sepihak. Nyatanya siapa yang lebih dulu memancing keributan ?

“Jadi menurutmu aku adalah pembuat onar ? ya, anggaplah sesukamu.” Sindir Yoona sengaja memancing Donghae. Jika lelaki itu membenarkan maka ia benar – benar keterlaluan.

“Lebih dari itu.”

“Mwo ?” Yoona menatap tidak percaya.

“Pembuat onar masih bisa kuatasi dengan mudah tapi—tidak denganmu.” Donghae tersenyum sekilas dan memperhatikan Yoona, “Menurutku kau adalah wanita yang sangat sulit ditebak. Terkadang aku tidak mengerti apa yang kau inginkan. Sikapmu kekanak – kanakan—aku senang mengetahuinya—namun suatu waktu aku menyadari bahwa sikapmu berubah lagi menjadi lebih dewasa. Kau adalah seseorang yang mampu menahan emosi, sebaliknya meluap – luap dalam situasi tertentu. Sebagai seorang wanita, kau bisa berubah menjadi sosok yang feminism dan penurut sebaliknya kau sudah beberapa kali menendang kakiku dengan sadis.”

Mata Donghae berseri – seri ketika mengatakannya, “Bahkan aku sempat berpikir tentang dirimu yang mempunyai kepribadian ganda.”

Yoona terperangah lebar menangkis anggapan Donghae. Lelaki dihadapannya terkekeh. “Tenanglah, aku hanya menduga – duga saking bingungnya.”

Hembusan napas Donghae menyatu dengan udara malam yang dingin. Lelaki itu tersenyum kearah Yoona yang sibuk mempertanyakan, apakah benar yang dikatakan Donghae ? Selama ini Yoona menganggap bahwa tidak ada yang salah dari sikapnya yang wajar seperti halnya wanita biasa, justru lelaki itulah yang aneh.

Lelaki itu aneh terutama jika ia tersenyum seperti itu. Tersenyum dengan matanya yang teduh…

“Kalau dipikir – pikir, ada bagusnya berdebat denganmu. Paling tidak aku sedikit mengerti apa yang kau inginkan.” Tutur Donghae lalu menjeda ucapannya. Lelaki itu tersenyum penuh arti membuat Yoona bingung bagaimana cara mengahdapinya,    “Dan—terimakasih atas saranmu. Mulai sekarang aku akan berusaha memahami Sehun…”

Donghae menatap Yoona kedalam matanya yang seperti menyakinkan gadis itu bahwa ia bersungguh – sungguh. Yoona hampir tidak mempercayai penglihatannya sendiri ketika wajah Donghae berangsur – angsur menegas, bahkan kini  hembusan napas lelaki itu memantul – mantul dipermukaan kulitnya. Yoona menghirup udara dengan gelisah. Pandangannya jatuh menatap bibir Donghae. Bibir merah itu bergerilya, nampak mempertimbangkan berbagai arah yang pas untuk menyatukannya. Yoona mempersiapkan diri dengan memejam. Namun tidak ada yang terjadi kecuali suara Donghae yang berbisik, “Detik ke- 3600.”

Yoona mengakhiri pejamannya. Yoona menemukan Donghae untuk pertema kali menuju posisi semula, duduk dengan tenangnya seraya mendongak. “Lihat keatas.”

Fokus Yoona berpaling mengikuti Donghae.

~dor~dor~dor

Samar – samar Yoona mendengar adanya bunyi nyaring seperti roket lalu berlanjut dengan ledakan besar yang menyemburkan cahaya warna – warni, mengukir bunga – bunga ditengah angkasa gelap.

Foto-Pinwheels-oleh-unik-segiempat

Bunga – bunga api diudara saling bertimpalan menunjukkan keindahan mereka. Yoona terpaku menatap bagaimana percikan api menanjak dari bawah lalu meledak menjadi bunga raksasa. Senyum gadis itu merekah dan ia tidak henti – hentinya bergumam kagum.

4769044806_cf6141d539

“Kenapa diam ? apa kau masih ingin melanjutkan kekesalanmu yang tadi ?” gurau Donghae memecah fokus Yoona hingga berpaling. Gadis itu menyipit, “Menantangku, Lee Sajangnim ?”

Donghae meringis, “Tidak, terima kasih.” Tolaknya halus. Yoona mencibir. Untunglah saat ini kembang api warna warni di udara masih setia menemaninya. Paling tidak pemandangan itu cukup ampuh mengembalikan segala mood baiknya. Hingga saat ini Yoona tidak henti – hentinya tersenyum menatap langit.

Tangan Donghae yang tadinya berada dipangkuannya kini merambat kepangkuan Yoona, membungkus lalu menggenggam jemarinya erat. Gadis itu tersentak. Yoona melirik Donghae sekilas, pandangan lelaki itu lurus kedepan. Yoona mengikuti arah tatapan Donghae, mungkin disana ada sesuatu yang lebih menarik dibandingkan bunga api yang berhamburan di angkasa.

Namun tidak ada apa pun kecuali hamparan sungai yang tenang.

Donghae mengeratkan genggaman mereka sebelum akhirnya membawa Yoona berdiri bersamanya. Yoona tidak sempat bertanya apapun lagi karena saat ini Lightstick yang mengelilingi mereka tiba – tiba berkelap – kelip. Gadis itu memandang sekitarnya bingung.

“Yoona…” Donghae menggenggam kedua tangan Yoona. Bola mata mereka berpantulan diantara lainnya, saling bertumbuk dan menyahut. Tatapan Donghae serasa memenjarakannya hingga Yoona tidak memiliki pilihan lain kecuali membalas tatapan itu.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku.” Donghae memulainya dengan parau. Wajahnya yang berubah sendu membuat Yoona semakin penasaran, “Sejak mengenalmu, dunia terasa berbeda. Aku merasa tidak lagi sama saat berada didekatmu, kau tahu? Perasaan ini membuatku bingung dan tersesat, bahkan mengubahku tampak bodoh. Aku tahu apa yang kulakukan adalah bentuk dari sebuah kesalahan namun justru ketika bersamamu aku menginginkannya agar kesalahan ini terus berlanjut. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sepanjang hari.”

Donghae tersenyum namun begitu Yoona menemukan adanya kebimbangan dimatanya. “Aku merasakan keanehan ini… karenamu. Maka dari itu selagi ada kesempatan, aku ingin menegaskan sesuatu—” lelaki itu menarik napas.

“Yoona-ssi,”

“Ne?”

“Mungkin… kebersamaan kita terlalu cepat dijadikan sebuah kesimpulan bagi pantas atau tidaknya mengatakan aku menyukaimu atau bahkan mencintaimu, maka biarlah perasaan ini menemukan ujungnya seiiring berjalannya waktu. Dan aku ingin kau berada disisiku mengarungi proses yang panjang dan berliku sampai kita benar – benar menyadarinya.”

Donghae meletakkan genggaman tangan mereka didada kirinya, membuat Yoona merasakan sesuatu yang berdetak didalam sana, “Dan suatu hari nanti setelah proses pengenalan yang panjang, aku ingin kita bersama – sama menyadarinya; perasaan yang tidak terbantahkan, dan bisa kupastikan bahwa saat itu aku akan benar – benar mencintaimu.”

tumblr_static_tumblr_m3nz90hef61r8qe8uo2_500.gif

Bibir Yoona bergetar hendak mengatakan sesuatu, namun kata – kata dikepalanya yang sudah terususun rapih lenyap ditelan oleh sorot mata Donghae serasa menembus matanya.

Dorr !!!

Untuk kesekian kalinya suara ledakan diatas langit menghentak pendengarannya. Kejutan yang indah karena lagi – lagi Yoona tersenyum menikmati pemandangan itu. Cahaya pernuh warna yang dilatarbelakagi kegelapan malam, terlihat begitu dramatis. Dan tanpa gadis itu duga, kembang api yang muncul setelahnya ialah kembang api yang berbentuk seperti hati berwarna pink menyala – nyala. Bola mata Yoona berseri – seri menatap keangkasa, ‘Sebenarnya apa maksud Donghae melakukan ini semua ? Jika satu – satunya alasan adalah untuk memperbaiki hubungan kita maka kejutan seperti ini benar – benar berlebihan sekaligus… manis ! Dan kalimat Donghae barusan terdengar seperti sebuah… pengakuan. Apakah ini mimpi ? Aku merasa seperti akan terbang !!!’

hqdefault

“Wah indah sekali !” Kagum Yoona kegirangan membawa serta guncangan pada genggaman tangan mereka.

Ketika pertunjukan itu berakhir Donghae tersenyum lalu mengusap rambut Yoona, “Sebelum nantinya menutup moment kita kali ini, aku ingin mempersembahkan sebuah puisi untukmu.”

“Puisi ?” Yoona menatap Donghae dengan pupilnya yang melebar, “Aku sangat suka puisi !”

“Oh ya ? Kalau begitu simak baik – baik.” Donghae mengeratkan genggamannya sekali lagi membungkus tangan Yoona yang terasa dingin.

Gadis itu mengangguk.

Donghae termenung sejenak mengumpulkan konsentrasinya, “Yoona—”

“So Sweet  !!!”

“Apa ?!”

“Puisimu…” “Bola mata gadis itu memancarkan kekaguman. Donghae bingung pada awalnya sebelum ia menyadari sesuatu…

“Puisi apanya ?! aku bahkan belum mengatakan apa pun !” ralat Donghae mulai kesal. Sungguh, ia mengakui bahwa kilau mata dihadapannya sangat jernih melebihi air di sungai Han. Amat disayangkan pemiliknya sedikit polos diwaktu – waktu tertentu, cenderung bodoh.

Sabar Lee Donghae… sabar… Ingat ! saat ini kau sedang berstatus ‘mode on’ sebagai pria romantis. Anggaplah kekacauan yang terjadi barusan adalah bagian dari ujian yang harus kau hadapi…’  batin Donghae menenangkan diri.

“Bukan begitu… maksudku aku sudah bisa membayangkannya, pasti akan sangat manis. “ tampik Yoona berusaha meyakinkan. Senyum gadis itu merekah setelahnya.

Apa daya, suasana diantara mereka sedikit berantakan, Donghae menghela napas, “Mendekatlah.”

Posisi lengan Donghae lantas berpindah mengelilingi pinggang Yoona, sedikit mendesaknya. Yoona menyadari pijakannya tidak lurus karena Donghae menarik pinggangnya. Gadis itu termenung sesaat, menyadari posisi mereka yang berhimpitan.

“Kalau tidak nyaman, bilang saja.” Tutur Donghae.

Yoona menggeleng, “Ani, gwenchana. Maksudku… bukankah ini tempat terbuka ?”

Donghae tampak berpikir. Ia memaklumi kehawatiran Yoona. Setelah apa yang terjadi gadis itu pastilah menganggapnya; lelaki tidak kenal tempat, “Aku tidak akan berbuat aneh – aneh. Aku hanya ingin mempersembahkan sesuatu  untukmu, apa tidak boleh ?” tawar Donghae memperhatikan wajah Yoona yang tengah menimbang – nimbang.

“Baiklah, boleh – boleh saja tapi—” Yoona menggigit bibir bawahnya ragu. Bola mata Donghae tampak menyakinkannya. Ketika melihat lelaki itu tersenyum, ia tidak bisa menahan apa pun lagi. Senyum Yoona ikut merekah bersamanya.

“Kalau begitu cepatlah katakan… aku sudah tidak sabar ingin mendengarnya, ayolah.” Bujuk Yoona mengusap dada Donghae,  lengannya merayap lalu bertaut diseputar leher lelaki itu.

Wajah Yoona yang berada dalam jarak sedekat ini membuat Donghae gelagapan menghadapinya namun begitu lelaki itu mencoba tegar ditengah godaan atau lebih tepatnya— pajangan yang menggiurkan. Ia tengah menjalani misi penting yang butuh didahulukan ketimbang hal – hal seperti itu… Donghae  mendongak kearah langit hitam sebelum akhirnya memulai bait – bait yang terangkai, “Judul persembahan ini adalah ‘Dewi benua’…”

“Tidak buruk, judul yang bagus aku menyukainya.” Yoona tersenyum lebar. Dibenaknya terbayang – bayang seorang wanita petualang yang tengah menyusuri tempat – tempat yang indah di dunia ini. Pasti akan sangat menyenangkan…

Donghae tertegun sesaat. Cara Yoona ketika menunggunya berbicara terlihat seperti gadis itu tengah melihat keindahan seluruh dunia dihadapannya. Sepanjang detik berlalu satu-satunya hal yang diinginkan gadis itu adalah mendengar suara Donghae mengalun yang mungkin saja bisa meyakinkan hatinya.

………………TBC……………………

Huaaaaa bagaimana-kah puisi yg akan dipersembahkan oleh Donghae ??? maaf part ini keluarnya lamaaaa, sebenarnya aku ga mau tbc-in ampe sini tapi takut kelamaan kalo aku posting sesuai rencana cerita, kasian kaliannya udh neror teruzz, maafkan aku huhuhu…

Part 11 mungkin ga akan selama part ini tapi lihat nanti wkwkwkwk

See u Next bye bye🙂

 

158 thoughts on “FF YoonHae– Sweet Legacy Part 10

  1. ayu haryanti berkata:

    huwaaa… akhirnya dipost jugaaaa….

    ih yoona itu pura2 ga tau apa emg ga tau sihhhh? wkwkw telmi bgt sih😀

    next cepet dilanjut ya thor, aku pembaca setia ff sweet legacy!😀

  2. sintayoonhae berkata:

    Long time no read your fanfic thor 😂😂 udh kngn bgt ama ff ini,,, aahhh mrka ribut trus pngn liat mrka romantis.a ehhh mlh tbc author mah jago buat kita pnsran.. Dtggu next part.a thor fighting😀

  3. Tya berkata:

    Makin peasaran ceritanya
    Untung aja hubungan yoonhae mulai membaik
    Dan semoga nanti donghae bisa memperbaiki hubungannya dg sehun
    Suka karakter yoona disini, lain dr yg lain, pengennya yoona emg pny sifat yg berbeda dr cewe kebanyakan
    Siapa itu gikwang? Org yg berkomplot dg keluarga Kim jg? Atau ada hubungan dg yoona?
    Trs siapa victoria? Apa dy cewe yg dicerita” sebelumnya bikin penasaran
    Kyuhyun jg, dekatin yoona, ada mksud lain?

    Ditunggu lanjutannya

  4. Deer_sria berkata:

    Aaaaaaaaakhir nya dilanjut juga…aigoo unnie ini lana bangeeeett….
    YH moment.a kurang disini un..ending.a so sweet bgt…
    Aku penasaran..apa victoria itu mata” dri ayah heechul…mksd.ku yg keluarga jahat itu…kya.a sih iya *sotoy
    Next part jgn kelamaan ya un…bner lumutan nunggu ini. Ehh iya YH monent a jg banyakin trus part.a panjangin…hwaiting 😀😀😁😁

  5. iis solihat berkata:

    Suka sma sikap yoona d sini
    Tegas dan kenak-kanakan
    Mati kutu donghae di buat sma yoona
    Lucu momennya
    D tnggu chap sljtny
    Fighting:)

  6. DeerYoongie berkata:

    Ahhhh ditunggu thor next chapanya pensaran ama isi puisinya donghae…
    Sneng dech donghae mau memoerbaiki hubungannya dgn yoona moga aj itu atas dsar cinta
    Momentnya juga so sweet banget donghae mau bljar romantiss
    Yoonhae moga cpet2 slg jatuh cinta and punya anak wkwkkwwk
    Next chap jgn lama2 yah thor

  7. rahmania berkata:

    yoona bnr2 perusak suasana kwkk…kwkk…. dongek niat bgt bikin suasana romantis.btw penasaran ama puisi donghae,jgn2 nnti isi puisinya gk sesuai harapan yoona kekk…kekk…

  8. nina berkata:

    aigooo makin seruuuu… cie cie yg udh mulai menyadari klo dy suka sma yoona.. smga aj mrka jatug cinta secepatnya.. dtggu nextnya

  9. nina berkata:

    aigooo makin seruuuu… cie cie yg udh mulai menyadari klo dy suka sma yoona.. smga aj mrka jatug cinta secepatnya.. dtggu nextnya…….

  10. tryarista w berkata:

    cieere donghae biat krjutan so sweet,,,
    setelah mereka bertengkar akhirnya bsa baikan ,,,,
    tinggal hae minta maaf pd sehun,,,,
    heeemmmm gikwang pasti sekongkol dgn org2 yg ingin rebut warisan sehun nichhhh,,,,

  11. tryarista w berkata:

    mau koment aja kok susah knpa ???
    heeemmmmm rasa cinta yoonhae kyaknya mulai tumbuuhhh ,hae sweet bget dech bkin kejutannya…ntah itu hnya misi atau bner2 dari hati,,
    gikwang pasti sekongkolan org2,yg pgen nyingkirin sehun ,,,

  12. Nha elna berkata:

    Haaaa penasaran sama puisi nya. . .
    Yoona lucu,puisi belum di baca udah di bilang so sweet.

    Mak ichul mulai beraksi kaya’y.

    Ahh bisa2 victoria jadi pengganggu hubungan YH nih.
    Jgn lama2 unn lanjutan’y

  13. ina gomez berkata:

    Ya ampun hae sweet bgt si wlu hrs ekstra sbr ngadepin sikapnya yoona hehe
    Jd gak sbr jg dnger puisinya hehe
    Yoona bnr2 dh galak amat ma hae tp Q suka hehe tp disaat bersma sehun sisi keibuan yoona lngsung muncul 😊☺
    Pokoknya suka bgt ma kisah yoonhae

  14. chalistasaqila berkata:

    HWAA.. part nie emang lama. Tpi gpp dehh, yg penting akhirnya author muncul.
    Seneng deh bsa liat yoonhae baikan.. Smoga mereka g sering cek cok lagi yahh,. Apalagi momen romantis mereka so sweet bgt, sayang kn qlow harus d ganggu sma suatu keributan.
    Pokoknya d tunggu part 11 nyaa. Fighting

  15. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    ya ampun yoona teganya usir tuan rumah sendiri wkwk, sabar toh dongek demi dewi benua wkwk.
    uwaaah kejutan donghae luar biasa tuh berhasil romantis, manisnyaaaaa. itu donghae cari caranya pusing tujuh keliling mungkin wkwk, tapi berhasil.
    bakalan gimana nih selanjutnya hubungan yoonhae kalau sudah kek gitu.
    next…

  16. Nathasya berkata:

    Iya nih yang part ini lama banget tapi menurutku hasilnya bagus hehe donghae mulai romantis, cuma yoonanya nih sikapnya harus dipebaiki di depan donghae kkkk
    Kirain mr h itu heechul ternyata kyuhyun
    Next part jangan lama2 thor

  17. tya nengsih berkata:

    Cieee…..donghae bikin kejutan……nih serius donghae mulai akui perasaannya ….tapi puisinya kok tbc sih…..ditunggu ya thor puisinya….eh next chapternya….

  18. ida ziiosay berkata:

    Aduh si donghae kayanya emang udh mlai suka yoona cuma dia ga sadar dia terlalu terpaku dgn masa lalu plis lah bang move on dong yurinya juga udah tnangan
    Semoga hubungan yoonhae makin ada kemajuan cocok lah galak kmtu ama yang lemah lembut
    Sumpah donghae puisinya bagus bnget haha pdhal mah dbacain juga blm

  19. Vaniza Rianie berkata:

    Part yang di tunggu” akhirnya keluar tapi tumben di part gak ada adegan kiss nya ? padahal udah nunggu bangt ,ehh malah dapet adegan ribut sampe Yoona larang di pulang buat seminggu ..ahhh kapan so sweet nya lagi ..
    btw tapi seneng nya sama semua kejutan Donghae di part ini walaupun sebenernya emang gak tau niat dia apa tapi semoga baik dn berharap di next part mereka udah akur ya sebagai keluarga ya soalnya pengen bangt dapet moment keluarga mereka kaya Donghae ,Yoona ,Sehun ..oh iya semoga next nya setelah ini gak terlalu lama ya un ^^ semangat ..

  20. lia861015 berkata:

    Akhirnya donghae sama yoona udh baikan lagi ^^
    Donghae tinggal minta maaf deh sama sehun😉
    Btw..kejutan dari donghae so sweet banget ^^ donghae bisa jd pria romantis😀
    Ditunggu next partnya ya😉

  21. rentielfishyoonhae berkata:

    akhirnya di post juga udah nunggu lama sampe lumutan nih thor lagi so sweet” nya eh malah tbc

  22. ichus berkata:

    Eaaaaaa puisinyaaaaa….. jgn2 ongek nyontek di google 😂😂
    ahhh gk sabarr nih… ntar ngefly dnger ongek bca puisi

    Mm.. apa mungkin ntar gikwang jga demdam sma ongek?? Dia mau rebut yoong dn jga perusahaan sehun?? Mm.. 🙊🙊🙊🙊

  23. irma nytha berkata:

    Yoona mah galak2 sayang ke dongek.
    Tp dia emang pas jadi ibunya sehun, pemberani.

    Next part jangan lama2 bgt ya thor, butuh asupan yoonhae ini😀

  24. Hunyoong berkata:

    Ahaha ngakak sumpah sama YH moment. Gila bgt yoona, ngerusak suasana melulu. Eaaaa donghae tau aja si yoona kan emang Dewi benua, memiliki jutaan fans dimana2. Syuka bgt chapt. Ini 😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊

  25. lee yuna berkata:

    huaaa,akhirnya d post juga, suka sama kejuatan donghae bawaanya senyum2 geje
    knp sudah tbc???
    next chapternya jgn lama2 thor T_T

  26. Alifya YoonHae berkata:

    Ahirnya di post kangen sama pasangan absurd ini.. aku kira Mr. H itu heechul tapi ternyata kyuhyun toh.. ditunggu lanjutannya thor.. Gak sabar pengen denger puisi donghae.. SEMANGAT THOR

  27. park berkata:

    Ini Bagus bangettt..
    Yoonanya bikin suasana riweh mulu..
    Itu donghae sosweet bgt yampun..

    Ditunggu chap selanjutnya

  28. Limhyelim berkata:

    yeayy finally di post juga part 10 nya 👏🏻 thank u eonnie.. Aku rada bingunh deh sm perkataan donghae di bagian terakhir itu dia mengutarakan yg sebenernya atau hamya rencana saja biar bikin yoong luluh? Btw gemes sm yoonh disini, dia bener bener suka merusak suasana-.- kkk~ part selanjutnya ku tunggu ya eonnie, fighting ☺️

  29. YH Lulu berkata:

    akhirnya di lanjut juga.. aahh yoonhae so sweet bgt. tp bosen jg bacanya kalau mereka kebanyakan debat..next banyakin yoonhae moment yg sweet thor jangan debat terus TT
    pokoknya keren ffnya ditunggu next nya🙂

  30. DianYoongie berkata:

    YoonHae berantem mulu ye…
    Akur lagi donk trus buat moment yg sweet gitu 😆
    Hae suka mata Yoona.. Yoona suka mata teduh Donghae. Kapan sih kalian bener2 saling jatuh cinta trus saling jujur satu sama lain. Kan gemesssh hehhehe
    Cho Kyuhyun, kenapa bisa jd Mr. H? Kirain tadi Heechul 😁
    Gimana tuh puisinya Donghae.. jd penasaran 😮
    Ditunggu lanjutannya kk~~~

  31. Ana berkata:

    Yaah padahal udah ditunggu tunggu ada adegan romantisnya dari awal baca, ternyata ga ada. Yg ada dibikin gregetan sama yoona. Keep fighting thorr buat next chapnya. Next chap banyakin adegan romantisnya yaa kalo bisaa hehe

  32. uly assakinah berkata:

    akhirnya donghae menyatakan cintanya ke yoona. yang sabar ya oppa kalo mau dapetin hati yoona mah musti banyak-banyak sabar tapi nanti di terima ko tenang aja. gk sabar nunggu lanjutan ffnya thor ada moment apalagi ya di part berikut nya.

  33. han ji bin berkata:

    Smoga kemesraan yoonhae ttp manis selama’a biar pun selalu saja ada yg mengganggu’a
    Bikin momen mrk tambah manis lg dong chingu
    Rasa’a bikin hatiku berbunga2
    Gk sbr nunggu hae bnr2 ngerasain cinta ama yoong pasti menarik , dan mudah2an apa yg dibilang hae yg akan merobek masa lalu hae itu yoong

  34. Beyoonhae berkata:

    Wahhh donghae romantisss tapi bakal banyak masalah yg menunggu. Akhh moga next part ga lama thor:(( fighting^^

  35. utusiiyoonaddict berkata:

    aah, sempat lupa ama cerita sblum na,
    tp untung gak lupa bgt,
    cieee yg udah pda nyadar ama perasaan masing“ sweet amat si haeppa tp ada yg kurang hihi
    ayolah cpet lanjutin unn

  36. Nurul hidayah berkata:

    Yah akhirnya mereka baikan, emang aq waktu tau sifatnya yoong dia agak kekanak-kanakan tp sebenarnya dia perhatian , puisinya aja blm di bca yoongnya udah bilang so sweet😀
    Next chap d tnggu eon, fighting

  37. detolyhhun berkata:

    donghaenya udah mencoba romantis tapi yoonanya galak bgt. hhihihi tpi pada akhiran donghae bener2 sweet dahh… next di tunggu

  38. Hwang Qian berkata:

    Puisinya mana puisinya eon,
    Belum tejadi pelanggaran dipart ini?
    Aku menuggu pelangaran ygpaling ekstrime😀

  39. yoonhae3015 berkata:

    huwaaa ending chap ini bikin senyum senyum sendiri aw aw aw
    kapan mereka terbuka klo mereka itu saling suka udah gak sabar, tapi keknya cobaan bakal datang bertubi tubi dari penggemar yoona kekeek
    ah next next udah penasaran

  40. alifah zahra berkata:

    huwaaa..bikin senyum2 eon
    tp di part ini masa gk ada pelanggaran sih eon gw mau pelanggaran yg extream *hehe pdhal gw blom cukup umur tp tenang desember gw udh 17 taon jd aman pan*..
    tp gw suka sifat yoona yg ky gini udah mirip ibu2 wkwkwk..

    next eon tp jangan lama2 oke..

  41. Deery00ng berkata:

    Aduh . .
    Ntah kenapa ini malah jadi sweet bgt,prtengkaran mreka malah jadi bumbu pemanis
    hahaha
    next chapternya bener2 ditunggu unN

  42. Widya yoonaddict berkata:

    Yeh akhirnya di publish juga wah donghae oppa romantis banget semoga yoong eonni nerima hae oppa next thor jangan lama-lama yah

  43. ldhharu berkata:

    bayangin donghae uring uringan lucu kali ya wkwkwk
    yoona sendiri yg ngusir mlh kangen juga kkk~~
    dapet nih feelnya, part 11 ditunggu ya kak! thank you for update meskipun telat bacanya hehe

  44. Endah20 berkata:

    Annyeong eon..
    Salam kenal,aq reader’s baru,,pling suka yoonhae momentnya eonn..ceritanya seru,keren,,
    Boleh minta PW bwt sweet legacy yg chapter 11 gk eonn?
    Sblumnya trima ksih,,dah salam kenal .:-) semoga fanficnya smkin keren..

  45. Endah20 berkata:

    Annyeong eonnie..
    Salam kenal..reader’s baru eonn..hehe..
    Dr dlu emng suka pasangan yoonhae,,eh nemu blog ini,,ceritanya keren2,,apa lg part yoonhae momentnya romantis..
    Btw boleh minta PW sweet legacy chapter 11 gk eon? Soalnya penasarn nih nunggu klanjutannya..sblumnya trima kasih..dan salam kenal..gomawo…

  46. haehaokyu berkata:

    baru mampir lagi nih kesini, eh part 10 ternyata udh ada. Itu pasangan tom&jerry berantem mulu gengsian padahal……. Kangen kkkkk~ tapi akhirnya mereka bisa romantisan tuh walaupun kepotong karna tbc wkwkwk. Boleh minta password part 11 nya??

  47. fi_ssmoo berkata:

    Owwww, di part ini mereka so sweet..
    Penasaran kejutan apa lg yg akan hae buat..
    Next part ditunggu ya Unnie..
    Semangat nulisnya…
    Fighting ~

  48. Fi_ss berkata:

    wahhhh, di part ini YH romantis.
    biasanya brantem mulu,,,
    penasaran sama kejutan apalagi yang akan Hae tunjukin ma Yoona..
    semangat ya unnie untuk lanjut FF nya…
    aku suka banget sama FF ini

    oh ya part 11 di protec ya…
    mau dong unnie PW nya…
    makasi unnie…

  49. eka berkata:

    Donghae nya so sweet bnget di chapter ini, sampai2 buat romantis hanya untuk minta maaf..
    Min bisa minta pw yg chapter 11. Gimana ya caranya?please…

  50. eka ayu berkata:

    Gak nyangka donghae bisa seromantis itu buat minta maaf ke yoona. Yoona itu ngerusak suasana nih, dah m sweet2nya
    Moga donghae cepat memperbaiki hub m sehun n gak marah2 lagi. Min bisa minta pw yg chapter 11. Gimana ya cara minta pwnya? Fb q eka cahyaning ayu q dah inbox juga lwt fb

  51. Sherenna berkata:

    Dasar yoona aneh,,, emang benar kata soo memprihatinkan dak bodoh,,,, hobi banget ngerusak suasana romantis yg dh di bangun haeppa diantara mereka. Mga ja kedepan nx mereka bisa lebih dekat lgi,,,

  52. beyoonhae berkata:

    Huwaaaa yoonhae suka bgt momentnya kkk lucuuuu ehiya ini ke 3xnya aku koment di part ini tapi ga tau masuk atau ngga.-. Aku nyari komen dari aku kok ilang/? Hmmm tapi aku koment terus kok dari part awal smpe part ini. Pw buat part 11 dong thorrrr:(( kirim ke email aja yah aryati.arifuddin@gmail.com

  53. novasusmala46 berkata:

    Part kali ini lebih banyak konfliknya yoonhae, tp gpp, yg namanya hidup ga sllh lurus2 dn lancar2 ajj. Hehheheee..
    Entah knpa feeling aku smkin ksni yoonhae smkin intim dlm arti yg positif. Udh kyk pasutri beneran. Yg nikah bukan krna ad ‘sesuatu’, tp krna cinta. #tsaaahhhh..
    Tapi kyk2nya sih emg donghae syudh mrsakannya, yoona jg mgkn msh blm brni menunjukkan atopun blg ke masing2. Ihihihihiiii.. seruu nih..
    It yg smsan sm yoona awalnya kupikir donghae, trnya kyuhyun. Kyuhyun nyari ksmpatan kah dsni..?
    Eniwey, part 11nya digembok, cara dptin kunci gemboknya bgmna authornim..?
    Terima kasih sblmnya..
    Fightiiiiing terus..!!

  54. Cendrabiw berkata:

    Aahh so sweet banget yoonhae, berantemnya itu lho yang bikin aku senyum senyum sendiri #bukanberartiakuhgila yaaa wkwkw

  55. agnes98pyros berkata:

    haiii,,,aku readers baru,,,,,baru pertama komen sihhh,,,,,suka sama ceritanya apalagi cast nya yoonhae…
    mau baca chapter 11 tapi kok d kasi kata sandi ya,,,,,minta sandinya d lewat apa thor???

  56. RFishy berkata:

    Ribut mulu nih wkwk, tapi akhirnya masalahnya selesai meskipun keknya agak beda chemistry nya. Kayanya mereka sama2 udah cinta tapi masih ragu/bingung ngungkapinnya(?)
    Tapi part ini bener2 sweet banget lucu aja mereka jadi gemess duh💕💕😍😍
    Wkwk lucu aja pas smsan sama kyuhyun,dikira yoona itu donghae wkwk apalagi bahasan nya agak aneh wkwk

  57. Jihyun_ berkata:

    hallo salam kenal, aku reader baru di ff ini.. ceritanya bagus kak seru, lucu bikin senyum” sendiri bacanya, oh iya maaf ya kak baru komen di part ini.. kak boleh minta pw part 11 gak?

  58. Anonim berkata:

    Salam kenal,,,aq readers baru,aq dredlu ska ma yoonhae couple,nungguin crta mnrik ttng mrka,sweet legacy crta romantis,konyol,tngggjwb,kwjban.smua d rngkum jd mnrik.
    Tp utk part slnjtny aq mnta PW.pleaseeee……

  59. Berlian Kirana berkata:

    Satu kata. Daebakk!!! Udh lama vakum dr dunia membaca ff apalagi ff yoonhae daaan setelah ngubek2 eeh ketemulah ff yh yg daebakk macam gini… huhu seneng banget deh baca ni ff nyampe lgsg 10 chap tancap dalam sehari wkwkwk seruuu banget suka baca moments yh disini huuu mereka so sweet sekali dikit2 keganggu pas mau bikin dedek buat thehun tp gapapa deh lucunya disituuuu… duh tp penasaran bgt gimana ya ntar kelanjutan konflik nya penasaran thor…. semoga yh dan thehun gakenapa2 dan thehun cepet dpt dedek perempuan hehehe

    Btw author aku blh minta pw chap 11 kan? Ini emailku berliankiran@gmail.com jeongmal gumawo authornim😁😁

  60. hazara berkata:

    Thor mau nanya soal part selanjutnya, how get password ? Kok diproteksi yahh. Padahal aku uda nunggu lama banget , dijawab ya thor..

  61. gyuvid berkata:

    Hai kak. New reader nih. Salam kenal 😊
    Suka banget sama cerita sweet legacy. Yoonhae momentnya sukses bikin gemes. Apalagi ceritanya juga bikin penasaran. Yoonhaenya juga jadi pasangan yg beda. Ah pokoknya suka banget deh sama sweet legacy ini. Maaf ya kak komennya jadi satu begini. Ngga dari awal part karena bacanya langsung terusan ㅋㅋㅋ
    Pengen baca part 11 tapi kok diprotect. Cara dapetin passwordnya gimana kak? Makasih sebelumnya..

  62. FHP berkata:

    hmm yoona ngrusak moment aja pdhal donghae kn udh nyiapin kejutan eh malah diomelin dan diusir, sakitnya😥 itu victoria orang baik2 apa ngga? kok kayanya sinis gitu ke yoona? wah korban PHPnya yoona yg sooyoung bocorin cukup banyak jg ya wkwk, trmasuk diantaranya gikwang. Gikwang kerja di kantor sehun, kok dia kasar bgt si ke donghae? zbl! btw itu donghae akhirnya nelfon yoona duluan dan ngasi kejutan romantis ke yoona krna tips dri leeteuk apa niatan dari hati dia sendiri ya? smoga emang niatan dari hati dia sendiri deh😀 so sweet deh trnyata donghae bisa jg ngasih kejutan yg romantis buat yoona. Tp itu sbnrnya tujuan donghae ngajakin yoona keluar dan ngasih kejutan romantis apa hanya semata utk memperbaiki hubungan mereka? apa ada niatan lain?😀 ga sabar mau tau puisinya donghae buat yoona coba kaya apa😀

  63. chohaena berkata:

    Kayaknya hae sama yoona udah mulai ada rasa deh.
    Hae sweet bgt malah.
    Aku khawatir kyu bakal jd saingan hae buat dapeti hati yoong deh

  64. fany berkata:

    Haduhhh tuh saran keyword dri leeteuk konyol amat. Donghae apa lgi. .. Masa penyihir…
    Btw boleh minta pw chap 11 eon? Aku udah inbox

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s