FF YoonHae– Sweet Legacy Part 9

sweet legacy season 2 copy

Title : Sweet Legacy

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Happy Reading ^__^

Part 9

Seluruh karyawan SM media Group berjejer rapi disepanjang jalan dimana sebentar lagi akan dilewati oleh sang tuan muda pemimpin baru di perusahaan itu. Para pengawal bersetelan hitam mulai berlari kesana – kemari untuk mengatur dan mengawasi situasi berlangsungnya acara untuk menciptakan suasana yang sekondusif mungkin. Sementara itu para karyawan mulai berbisik satu sama lain tidak kuasa menahan rasa penasaran mereka atau sesuatu yang lain. Bisikan – bisikan itu hilang dengan sendirinya seiring dibukanya pintu kaca oleh dua orang pengawal. Cahaya dari luar menerobos pemandangan itu. Seorang anak kecil tampak berwibawa dengan setelan hitam, kemeja putih ditambah dasi kupu – kupu yang menambah kesan lucu dari penampilannya. Rambut anak itu hitam mengkilap bagaikan seorang pengeran di drama – drama. Gurat ketampanan yang dipunyai oleh seorang anak kecil sepertinya mengundang semua mata memandangnya takjub. Dialah Sehun, sang pewaris SM media Group.

Anak itu tidak sendiri. Dibelakang Sehun, beberapa pihak turut serta mengiringi langkahnya. Kehadiran mereka disambut oleh seluruh karyawan yang membungkuk hormat. Sehun datang bersama Donghae dan Yoona yang mangawal disamping kanan kirinya, juga Leeteuk pengacara anak itu dan beberapa asistennya. Terdengar riuh bisik – bisik percakapan kecil yang dilakukan oleh beberapa orang, desas – desus itu sampai ketelinga Yoona, mereka membicarakan sang pewaris perusahaan yang benar adalah seorang anak kecil serta orang tua barunya, terutama Donghae yang menurut mereka tampan, tapi Yoona merasa patut berbangga hati karena tidak hanya karyawan wanita yang menatap Donghae penuh kekaguman, karyawan pria juga melakukan hal serupa bahkan menatap dirinya tanpa berkedip, entah apa artinya. Mungkinkah itu tanda kekaguman seorang lelaki… Donghae juga sering menatapnya seperti itu.

“Belakangan ini terjadi ketidakstabilan kondisi perusahan karena belum adanya kejelasan mengenai strutur kepemimpinan yang berimbas pada keputusan apa yang seharusnya diambil dalam segala urusan yang menyangkut perusahaan. Kondisi seperti ini tidak akan terjadi lagi mulai hari ini hingga nanti karena saat ini saya, Lee Donghae wali Sehun yang sah secara hukum berkewajiban untuk mengambil alih kepemimpinan sampai Kim Sehun yang sudah berganti menjadi Lee Sehun sudah dewasa dan dianggap mampu menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin dari SM Media Group.” Donghae  berhenti sejenak melafalkan pidatonya diatas mimbar, ia manatap satu persatu orang – orang penting di ruang teater termasuk pemegang saham, direksi, manager dan seluruh karyawan SM media Group. Lantas pandangannya menyorot kesatu arah tepat dibarisan paling depan. Dihadapannya duduk Kim Tae Pong, penasehat perusahan sekaligus pemengang saham kedua terbesar setelah Sehun. Lelaki itu bertopang dagu, pandangannya nyalang penuh perhitungan. Donghae menyeringai sebelum akhirnya melanjutkan, “Dan kuharap kita semua bisa bekerja sama. Mewujudkan visi dan misi perusahaan ini tanpa adanya kepentingan lain terlebih mencari keuntungan dibalik itu. Terima kasih.”

Riuh tepuk tangan para hadirin mengikuti pesan – pesan terakhir dari pidato Donghae. Lelaki itu turun dari mimbar dan kembali ketempat semula yaitu duduk disamping Sehun. Leeteuk bergegas menuju panggung untuk menggantikannya mempresentasikan aset – aset Sehun serta hak dan kewajiban sebagai pemilik saham tertinggi diperusahaan ini. Selama Pengacara itu menjelaskan, Yoona melirik Donghae yang kini tampak serius menyimak apa yang disuguhkan oleh layar dan berbagai penjelasan rumit. Yoona mengernyit merasa silau dan pusing karena tulisan – tulisan itu ditambah lagi dengan sorot lampu yang menusuk – nusuk bola matanya. Yoona melempar pandangannya kearah lain. Tidak jauh dari tempatnya duduk, Ia melihat lelaki gila itu, kalau tidak salah bernama Kim Heechul sedang manggut – manggut. Yoona mencibir didalam hatinya merasa lucu menyaksikan anggukan mengerti yang seolah – olah membuatnya tampak menyimak dengan serius padahal Yoona tahu bahwa isi kepala lelaki sejenis itu hanya dipenuhi oleh pikiran hedonis.

Heechul menyadari tatapan seseorang menyorot kearahnya. Lelaki itu berpaling dan menemukan Yoona, istri dari Lee Donghae secara terang – terangan menatapnya sedikit sinis. Heechul mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda kearah Yoona yang langsung ditanggapi oleh gadis itu dengan putaran bola mata. Perhatian Yoona berpaling kearah layar. Terpaksa Ia harus menyaksikan monitor memusingkan yang terus mempresentasikan teori mengenai perusahaan.

Acara penyambutan itu akhirnya berakhir. Seluruh jejeran petinggi perusahaan saling bertukar sapa didepan panggung, tidak sedikit dari mereka menghampiri Donghae untuk bercakap – cakap. Yoona berdiri disamping lelaki itu ikut menyalami para petinggi yang menghampiri satu persatu. Ditengah kondisi seperti ini ia harus memasang lengkungan dibibirnya setiap saat. Termasuk kearah para Nyonya yang menatapnya begitu sinis dibalik penampilan mereka yang anggun.

“Eomma ayoo… pergi.” Sosok tangan kecil menarik – narik rok Yoona. Gadis itu menjatuhkan pandangannya seiring wajah Sehun yang mendongak penuh harap.

“Ayo Eomma, kita keluar.” Sehun merengek – rengek dengan suaranya yang bergetar. Yoona semakin bingung dibuatnya terlebih ketika rombongan keluarga Kim berjalan kearah mereka, anak itu semakin gencar menarik tangan Yoona menuju pintu keluar. Yoona menyipit. Otaknya memproses cerminan wajah orang – orang itu satu persatu. Kakek Sehun… wanita yang sepertinya sang istri dan anaknya, lelaki bernama Heechul.

“Senang bertemu lagi denganmu. Aku Ahn Sohee. Kau masih mengingatku, kan ?” Wanita yang kelihatannya seumur dengan ibu Donghae berpose dengan tas jinjingnya. Yoona bergeming mengamati wanita itu, alisnya terangkat, begitu pula dengan dagunya yang tirus.

Yoona mengingat ia pernah bertemu dengan wanita bernama Ahn Sohee itu sekali  diacara resepsi pernikahannya. Yoona tersenyum sedikit membungkuk memberi salam hormat, “Senang bertemu dengan anda Nyonya.”

“Ya seharusnya begitu. Mau tidak mau kau harus senang bertemu denganku. Kita sudah menjadi keluarga besar jadi aku dan Eomma baru cucuku ini akan selalu berinteraksi, bukankah begitu ?”

“Ya.” Ucap Yoona seadanya tiba – tiba kehilangan selera menghadapi nenek Sehun yang satu ini. Kakek Sehun yang berdiri disampingnya menimpali. Kali ini pernyataannya ditujukan kearah Donghae, “Aku menyambut baik kehadiranmu sebagai presdir baru di perusahaan ini, sangat tidak disangka – sangka. Jadi mari kita lihat sejauh mana kau akan bertahan.”

“Aku akan bertahan, pasti.” Donghae menanggapi tanpa ragu, “Sampai mati pun.”

Kakek Kim tertawa, namun sedetik kemudian rahangnya berubah mengeras, “Kuacungi jempol untuk keberanianmu, anak muda.” Ucapnya. Lelaki itu lantas menatap Yoona intimidatif. Tatapannya tajam, setajam silet yang bisa saja meruntuhkan pertahanan siapapun, tapi tidak bagi Yoona. Gadis itu tetap kuat berdiri diatas pijakannya.

“Selamat juga untukmu, Nyonya Presdir.” Ujar kakek Kim yang juga merupakan salah satu jejeran penting diperusahaan. Yoona tersenyum menanggapinya.

“Pernikahan kalian sangat mendadak jadi aku belum sempat mengetahui asal – usulmu.” Wajah kakek Kim yang datar memancarkan keseriusan. Senyum Yoona berangsur – angsur menghilang. Kernyitan didahinya semakin lekat mengingat bagaimana seringai yang diperlihatkan pria paruh baya dihadapannya.

“Apa pekerjaan orang tuamu ? bagaimana pun aku harus memastikan bahwa cucuku berada dibawah pengawasan orang yang tepat, bukan wanita sembarangan apalagi rendahan.”

“Mwo ?” Yoona menarik napas lalu menahannya. Bukankah in lucu? Pertemuan awal mereka dibuka oleh kalimat sindiran lelaki tua itu. Yoona bersiap menyemburkan caciannya, namun sesuatu mencegah niatnya.  Sesaat ia bisa merasakan genggaman tangan Donghae membungkus jemarinya. Yoona melirik lelaki itu. Tatapan Donghae lurus kedepan menajam hingga menyisahkan rahangnya yang mengeras. Yoona terpaku ditengah usaha meredam emosinya. Ia tahu bahwa mereka merasakan hal serupa, lelaki itu seperti bom atom yang siap meledak. Tersulut emosi dihadapan orang – orang yang menginginkan kemarahannya ialah pertanda kekalahan.

Donghae tidak berkata apa – apa hanya genggamannya yang semakin menguat. Diam – diam Yoona membalas genggaman Donghae, tangannya ikut meremas jemari lelaki itu. Yoona membiarkan genggaman mereka saling membalas beberapa saat hingga bibirnya yang kelu terangkat.

“Sekarang orang tuaku memiliki segalanya. Mereka hidup dengan damai.” Jawab Yoona atas pertanyaan yang sejak tadi menggantung.

“Oh ya ? Apakah mereka adalah konglomerat ?”

“Lebih dari itu.”

Pasangan paruh baya dihadapannya dan Kim Heechul, anak lelaki pasangan itu yang sejak tadi hanya menyimak dalam diam kini mengernyit heran.

 “Ya, karena sekarang mereka sudah berada di surga…” sambungnya penuh keyakinan.

Ahn Sohee tertawa, “Kukira apa.”

Sudut bibir Yoona mengukir seringai, gadis itu mengangkat dagunya sedikit menantang, “Mereka sangat beruntung. Setidaknya disana, tidak ada sekumpulan binatang buas yang tengah berebut lahan, bukankah begitu, Tuan ? Nyonya ?”

Ahn Sohee tertawa sekali lagi, namun tidak dengan anak dan suaminya. Kedua orang itu justru menyipit seolah memperhitungkan sesuatu.

“Sehun-ah, lama tidak bertemu.” Kakek Kim beralih menghampiri Sehun yang membuat Yoona terkekeh oleh aksi pengalihan yang secara sengaja dilakukannya.

“Apakah kau merindukan kakek dan juga nenekmu ?” tanyanya menggenggam bahu anak itu. Sehun meronta dan menepis tangan kakeknya, lantas anak itu besembunyi dibalik pungggung Donghae dan Yoona.

“Tidak !”

“Sehun…” Lerai Yoona usai mendapati sebagian besar mata disekitarnya menatap kearah mereka.

“Aku tidak suka kakek jelek !” seru anak itu lantang. Yoona terbelalak mendengarnya, namun tidak dengan Donghae yang bergeming ditempatnya.

Tanpa orang – orang ketahui, Kim Taepong, kakek Sehun mengepalkan kedua tangannya yang tergantung dimasing – masing sisi tubuh. Lelaki paruh baya itu tergelak remeh.

Yoona bergegas mengejar Sehun yang berlari menerobos pintu keluar. Donghae menatap kepergian Yoona, lalu tatapannya beralih mengamati satu – persatu keluarga Kim yang sibuk dengan pikiran mereka.

“Aku permisi.” Donghae membungkuk pamit. Terakhir kali Ia menegaskan lewat tatapannya sebelum akhirnya memutuskan pergi menyusul Yoona dan Sehun. Sementara ketiga orang yang tersisa berdiri berhadapan, ketiganya saling melemparkan tatapan mereka penuh isyarat.

…………

Situasi dan tempat yang berbeda namun dalam posisi yang sama. Donghae melangkah memasuki ruang kerjanya. Ruangan itu tidak jauh melenceng dari ruang kerjanya yang dulu. Megah dan tampak nyaman. Tata letak meja kerja dan Sofa pun sama, terdapat pula jendela besar yang menghubungkan ruangan ini dengan pemandangan kota Seoul dari atas gedung pencakar langit.

Pintu menjeblak. Fokus Donghae beralih mengamati seorang gadis yang masuk keruangannya secara tiba – tiba lantas membanting tubuh lelahnya keatas sofa, Gadis itu bersandar dengan nyaman selagi menghela napas.

Donghae tidak berniat menegurnya. Lelaki itu beranjak menghampiri kursi empuk yang menjadi pasangan meja kerjanya. Donghae lebih tertarik mencoba fungsi lain kursinya yang mampu berputar tiga ratus enam puluh derajat ketimbang menanyai kekesalan apa yang baru saja menimpa gadis itu. Donghae sudah bisa menduganya. Yoona pasti belum bisa melupakan kalimat – kalimat sindiran Kim Taepong dan istrinya ditambah sikap sinis mereka. Dan tampaknya bukan hanya Yoona yang tertekan, Sehun… anak itu lebih merasakannya. Mungkin Yoona terkejut melihat sikap Sehun yang seperti itu didepan kakeknya sendiri namun hal itu bukanlah pemandangan langka untuk Donghae. Sehun kerap kali menunjukkan sikap anti terhadap orang – orang yang tidak disukainnya termasuk nenek dan kakeknya. Donghae sendiri tidak mengerti alasan dibalik itu tapi ia meyakini, pasti tersembunyi alasan dibaliknya. Sehun tidak mungkin membenci orang tanpa sebab.

“Ya Tuhan melelahkan sekali…” keluh Yoona dengan suara sempoyongan. Donghae berhenti sejenak ditengah aksi termenungnya dibalik meja. Lelaki itu memandangi seorang gadis yang kini memejamkan mata diatas sandaran sofa.

Ketika gadis itu menyadari tatapannya, Donghae langsung bertanya dari balik mejanya, “Apakah Sehun baik – baik saja ? Dimana dia ?”

“Sehun bersama Eomomim. Katanya Eommamu ingin memperkenalkan anak itu didepan teman – temannya.”

Jawaban Yoona membuat jantungnya langsung mencelos. Ya, Donghae melihatnya sendiri dan ia tidak perlu sehawatir ini. Saat ia mengejar Yoona dan Sehun, mereka berdua memang tengah berbincang dengan Nyonya Lee, Eommanya yang kala itu membuat Donghae sedikit lega. Ada kemungkinan bahwa berbincang – bincang dengan Eommanya akan berbuntut panjang, akhirnya Donghae lebih memilih masuk kedalam ruang kerja barunya untuk beradaptasi. Tiba – tiba Yoona menampakkan wajahnya seorang diri.

“Eommamu bekerja di kantor Sehun ?” Yoona bertanya sedikit penasaran. Kira – kira begitulah yang diketahuinya.

“Ya, Eomma sudah lama bekerja disini, membangun karirnya dari titik terendah, mulai dari reporter hingga sekarang menjabat sebagai Direktur programming dan produksi.”

Yoona mengangguk mengerti. Sementara Donghae termenung sesaat, Ingatan mengenai Eommanya turut serta menyeret ingatan lain setelahnya.

“Eomma adalah sahabat dari Sunye Ahjumma— nenek Sehun yang sudah meninggal.” Donghae termenung lalu melanjutkan, “Seperti yang pernah kujalaskan, Min Sunye adalah pendiri sebenarnya dari perusahaan media ini. Lalu munculnya kekosongan diperusahaan justru dimanfaatkan oleh suami dan istri kedua suaminya itu untuk mengeruk warisan yang jatuh ketangan Sehun, cucunya setelah anaknya yaitu mendiang ayah Sehun meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis.”

Yoona mengernyit selagi memandangi tatapan Donghae yang nyalang. Sesaat pandangannya turun menemukan telunjuk Lelaki itu tengah mengetuk – ngetuk meja kaca dengan seolah mempertimbangkan sesuatu, “Tapi, kau lihat sendiri kan, aku tidak akan membiarkannya.”

“Apakah…” Yoona terpaku, “Apakah Sehun mengetahui sesuatu tentang kecelakaan orang tuanya ? kenapa sikapnya aneh seperti itu saat bertemu kakek dan neneknya ?”

Donghae menatap gadis itu sekilas. Yoona berjalan menghampirinya dengan wajah bertanya – tanya, gadis itu lalu bersandar disisi meja dan melipat kedua tangannya didepan kursi yang ia duduki.

“Entahlah. Meski pun Sehun mengetahuinya, kesaksian seorang anak kecil tidak akan berlaku, tapi lihat saja Akulah yang akan mengungkap kasus itu cepat atau lambat.”

Mereka termenung setelahnya. Donghae yang lebih dulu tersadar tersenyum tipis kearah Yoona.

“Yoona…” panggilnya. Gadis itu menoleh.

“Kupikir kau bisa saja terpancing emosi karena sikap mereka.”

Yoona terkekeh lalu mengangkat bahu, “Tidak juga. Sekesal apa pun nanti, Aku berjanji tidak akan membuat gara – gara yang bisa mengacaukan rencanamu, tenang saja.”

“Oh ya itu janjimu…” Donghae menyimpulkan.

“Benda apa ini ?” perhatian Yoona teralihkan ketika matanya menemukan sebuah remote yang tergeletak diujung meja. Yoona menatap tombol – tombol didalam remote itu lalu menekan salah satunya. Klik.

Tiba – tiba gorden putih yang tadinya tergelung bergeser otomatis menutupi seluluh jendela besar di ruangan itu. Yoona terperangah menatap remote dan gorden – gorden itu bergantian.

“Woah jendalanya bisa dikendalikan dengan remote.” Ucapnya terkagum – kagum. Yoona menekan tombol lain, gorden itu kembali bergeser kali ini menuju tempat semula yaitu tergelung kesisi jendela. Yoona mengangguk mengerti, “Oh jadi begitu cara mengembalikannya…”

Belum puas melampiaskan rasa penasarannya, Yoona kembali menekan ulang dua buah tombol didalam remote bergantian hingga gorden yang terpasang dijendela bergeser ke kanan dan ke kiri tidak menentu. Bukannya merasa terganggu, Yoona justru tertawa – tawa membuat Donghae akhirnya geram.

“Ck, dasar norak.” Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya. Ia segera merampas remote pengarah jendela dari tangan Yoona lalu menyetel ulang posisi gorden ketempat seharusnya yaitu ketepi jendela.

“Ihh mengganggu saja.” Gerutunya dengan wajah cemberut. Yoona memicing tajam kearah Donghae, wajahnya memancarkan ketidaksukaan yang kentara, “Apakah kau memang seperti ini ? apakah kesenanganmu adalah mengganggu kesenangan orang lain ?” Yoona mencecar lelaki itu. Cukup sudah Donghae selalu mengomentari kesenanganya ditambah lelaki itu juga pernah merebut remote TV darinya saat malam pertama mereka hingga ia harus merelakan kakinya terkilir. Lihat… wajahnya yang menyebalkan itu justru berpaling keberbagai arah.

“Kau… tidak sudi menatapku atau bagaimana?”

“Yoona-ssi, sudahlah jangan mendramatisir keadaan.” Donghae tidak meladeni Yoona, ia langsung melemparkan tubuhnya keatas kursi beroda yang lantas berputar membelakangi gadis itu.

Terhitung satu menit dari percakapan terakhir mereka, Yoona belum juga bereaksi. Tidak ada sepatah katapun yang mampir ditelinga Donghae hingga saat ini, Donghae memutar kursinya hendak memastikan apa yang dilakukan gadis itu hingga menyulap suasana menjadi sunyi.

Bola mata Yoona yang gelap menghadang tatapannya untuk pertama kali. Donghae mendadak gelisah diatas kursinya yang nyaman. Lelaki itu menatap sekali lagi pusaran legam yang menyorotnya intimidatif. Tatapan Yoona yang tajam ditengah kebisuan sontak menyiutkan nyali Donghae yang tidak menyangka, apa separah itu perbuatannya merampas remote dari tangan Yoona ?

Sekian detik berlalu, Yoona bertahan dengan tatapannya yang tajam seperti penyihir. Donghae yakin bahwa gadis itu memang penyihir, kalau tidak mana mungkin ia bisa secepat ini mengibarkan bendera putih, hanya karena tatapannya.

“Ini ambil remote ini !” Seru Donghae menyodorkan remote pengatur jendela kearah Yoona. Gadis itu bergeming memaksa Donghae berdiri menghampirinya. Donghae segera memajang remote itu didepan wajah Yoona lalu mengiming – imingi, ”Ini ambillah, mainkan sepuasmu ! sana !”

Yoona tersenyum sumringah, namun lengkungan itu tidak bertahan lama. Belum sampai tiga detik senyuman itu memudar lalu berganti dengan tatapan sengitnya. Donghae terperangah dan tertegun disaat bersamaan. Tidak salah lagi, dilihat dari tingkahnya… dia benar – benar seperti bocah balita yang mudah berganti ekspresi. Tapi terkadang sorot matanya yang penuh kekesalan menjadikannya tampak berbeda, misalnya saat ini…

“Kenapa kau tidak melakukannya sejak tadi ?! aku tidak perlu  marah – marah dan membuang – buang tenaga.” Proses Yoona beranjak menyambar remote itu dari tangan Donghae dengan kekuatan penuh, “Sini berikan padaku— auwhhh.“

Yoona meringis tiba – tiba mencengkeram pundaknya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya seperti menahan sakit. Selangkah ia mundur hingga pinggangnya membentur tepi meja. Donghae mengernyit dan menghampiri gadis itu.

“Aishh.” Yoona menekan salah satu titik dibalik pungunggnya. Disaat bersamaan ia terkesiap, “Apakah ini karena pukulan semalam ?” gadis itu menduga – duga. Ingatannya berputar mundur. Sekujur tubuhnya bergelenyar ngilu saat sensasi dari pukulan tongkat semalam berputar didalam kepalanya. Dan Yoona seketika menyadari bahwa ia tidak seharusnya mengerahkan anggota tubuhnya secara berlebihan apalagi mendadak tanpa perhitungan mengingat kondisinya pasca pemukulan itu.

“Yoona-ssi… kali ini apalagi ? Jangan bermain – main dengan berpura – pura sakit. Itu sama sekali tidak lucu.” panik Donghae memeriksa tubuh Yoona terutama pada bagian pundak kebawah.

“Mwo?” Yoona menggeram, “Aku seperti ini karenamu. Ini semua karena tongkat nenekmu ?! Dan apa kau bilang tadi?! Pura – pura ? Aku tidak sedang bermain – main— Aduh !” Yoona menekan punggunggnya sekali lagi dan ternyata memang sakit. Awalnya ia berpikir bahwa rasa sakit akibat pemukulan itu sudah lebih baik tapi sikap gegabahnya barusan tampak menghancurkan anggapan itu.

Donghae menyingkirkan lengan Yoona yang masih bersarang dipundaknya sendiri, lantas membuka satu – persatu kancing kemeja putih berenda yang dikenakan gadis itu dari kancing atas lalu terhenti dibarisan ketiga akibat dihalangi oleh tangan Yoona yang tiba – tiba menyilang. Gadis itu membelalak panik.

“Apa yang akan kau lakukan ditempat ini ?!” Sorot mata Yoona menyala – nyala memancarkan prasangka yang membuat Donghae tidak habis pikir. Lelaki itu menghela  napas, “Aku akan menidurimu.”

“Orang gila !”

Sekian detik Donghae menatap Yoona dalam bisu, “Tunggu disini.” Pintanya lalu berjalan kearah sisi tembok dimana terdapat lemari kaca yang kokoh. Donghae menarik gagangnya. Dengan sekali sambaran ia meraih kotak putih yang tersedia didalamnya lalu membawa kotak itu bersama langkahnya menjangkau posisi Yoona yang belum berubah.

“Pukulan semalam kemungkinan meninggalkan memar, biarkan aku mengeceknya.” ucap Donghae mencari – cari sebuah salep dikotak obat. Usai menemukan benda itu, ia kembali menatap Yoona yang tampaknya sudah bersiap dengan wajah penolakannya.

“Ani… tidak apa – apa. Kurasa aku hanya perlu berhati–hati.” Tanggap Yoona sedikit was – was. Matanya berputar menyusuri ruang tempatnya berada. Entah bagaimana ia sudah kapok melakukan sesuatu seperti itu ditempat yang tidak seharusnya, maka hal – hal yang bisa memprovokasi lelaki itu harus dihindari.

Yoona kembali memfokuskan pandangannya kearah Donghae yang kelihatannya sedang bimbang.

“Aku berjanji tidak akan berbuat aneh – aneh, kau harus diobati.” Donghae berbicara lekas dan yakin. Yoona mulai tertarik dengan secercah keyakinan ditengah gelombang suara Donghae. Yoona tampak berpikir.

“Ck apakah mengulur – ulur waktu adalah kebiasaanmu ?” Donghae mendadak gemas dengan tingkah Yoona yang berdiri mematung seperti itu. Donghae menyingkirkan tangan Yoona yang bertahan dalam posisi menyilang didepan dada, dan ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja Yoona hingga berhenti dibarisan kancing tengahnya.

“Chankamman.” Cegah Yoona menghalau tangan lelaki itu, “Benarkah kau berjanji ‘hanya’ akan mengobati ? Kau tidak akan melihat yang lain, kan ?”

Donghae terdiam, sesaat wajahnya berubah malas. Lebih dari apa pun ia  benar – benar risih dengan sikap Yoona yang paranoid seperti itu.

“Menurutmu ?” Cetusnya kemudian.

Yoona memucat. Leher gadis itu bagaikan tercekat hingga mencegahnya untuk berbicara meskipun mulutnya menganga.

Tanpa membuang waktu, Donghae menyibak kemeja Yoona selagi membalik tubuh gadis itu memunggunginya, Ia mengamati bagian yang terbuka mulai dari leher, bahu hingga mengekspos punggung gadis itu. Tepat sesuai dugannya, pukulan tongkat semalam kini meninggalkan memar dibagian punggung Yoona yang letaknya dibagian kiri atas, lalu Donghae juga menemukannya dibagian tengah bawah. Tidak hanya dibagian punggung, bagian leher dan tengkuk Yoona juga tampak memerah bahkan mendekati kebiruan. Donghae mengabaikan bekas itu karena ia yakin tongkat semalam tidak sampai mengenai leher Yoona dan bercak – bercak yang menyebar disekitar leher gadis itu bukanlah luka memar, melainkan… sesuatu yang lain.

Donghae mulai mengobati luka Yoona, mengoleskan salep diatas memarnya serta sedikit menekannya untuk memastikan bahwa memar yang ada di punggung gadis itu tidak parah. Yoona meringis menahan sensasi dingin dan ngilu. Matanya memejam seolah mengimbangi rasa tidak nyaman yang menusuk.

“Tahan.” Pinta Donghae mengingatkan Yoona yang semakin gelisah. Gadis itu mulai merengek – rengek namun Donghae belum akan berhenti sebelum ia memastikan sendiri bahwa tidak ada satu pun luka yang terlewati.

“Awhhh—“ pekik Yoona memaksa tubuhnya berputar menghadap lelaki itu. Kernyitan memenuhi wajah Yoona usai tatapan mereka bertumbuk, “Sudah, aku tidak tahan.”

Donghae menghela napas dan berupaya menjangkau pundak gadis itu, “Yoona sedikit lagi—“

“Akhh—“

Yoona mencengkeram kemeja Donghae, tanpa sadar kedua tangannya melingkar kuat disekeliling pinggang lelaki itu. Yoona sama sekali tidak perduli dengan perbuatannya. Ia hanya membutuhkan pegangan untuk melawan rasa sakitnya, tidak lebih.

Tidak ada suara. Mereka sibuk dengan pikiran masing – masing ataukah menerawang isyarat satu sama lain. Yoona hanya terdiam kaku dan lelaki itu mematung. Kesadaran Yoona mulai terketuk. Ia cukup bisa merasakan bahwa wajahnya kini terbenam diatas bahu lelaki itu. Diam – diam Yoona mengabsen seluruh anggota tubuhnya dari ujung kaki sampai rambut, kesemuanya dan tubuh lelaki itu menempel tanpa jarak, dan ia tidak bisa memungkiri bahwa hal itu memacu suhunya meningkat drastis. Katakanlah dirinya tidak berotak namun satu hal, Yoona tidak ingin mengakhirinya, pelukan tiba – tiba yang berubah mendebarkan. Gadis itu membiarkan posisi mereka tetap seperti itu. Ia akan melepaskannya pasti, tunggu sampai luka memarnya tidak lagi berdenyut.

Jauh didasar lubuk hatinya Yoona ingin seterusnya memiliki tubuh Donghae didalam dekapannya. Tapi disisi lain ia tidak boleh egois karena selain perasaannya ia juga harus memikirkan bagaimana perasaan kakaknya kalau saja mengetahui hal ini. Dekapan itu terus berlanjut hingga rasa sakit dari luka memar itu mulai pudar. Yoona memejam ditengah kebimbangannya melepaskan pelukan itu sesuai janjinya didalam hati. Pada akhirnya Genggaman Yoona yang melilit pinggang lelaki itu terpaksa gugur.

“Ekhmm.” Yoona berdehem, “Mian, aku kelepasan.” Ucapnya. Gadis itu mulai sibuk membenahi kemejanya, menautkan satu persatu kancing yang terbuka. Pandangan Donghae mengikuti bagaimana jemari Yoona mengancingi kemejanya sampai keatas hingga tidak ada satu pun lagi yang bisa dilihat.

“Donghae-sii, aku—“ Yoona menangkap basah mata Donghae yang baru saja berpaling darinya. Yoona menarik napas, Gadis mengepalkan jemarinya lantas menjatuhkan pandangannya kebawah.

“Sebaiknya kita menjaga jarak.”

Donghae terdiam namun rahangnya mulai kaku memikirkan permintaan Yoona.

“Kau tahu ? Mendadak aku merasa kalau pukulan nenekmu semalam adalah peringatan Tuhan.” Ungkap Yoona menyuarakan isi hatinya. Dan apa yang dikatakan gadis itu membuat lelaki dihadapannya mengernyit.

“Tuhan sedang menghukumku dan… kupikir aku harus kembali kejalan yang benar.” Tambah Yoona. Mungkin ini terdengar aneh tapi itulah kenyataannya. Yoona menganggap bahwa pukulan semalam ialah teguran dari Tuhan karena ia sudah melanggar perjanjian. Yoona  mulai berpikir untuk menghentikan aksi pelanggaran ini dan ia merasa perlu menjelaskannya.

“Donghae-sii kuharap kau mengerti.“ Yoona menatap lelaki itu penuh kompromi, “Mulai pagi tadi aku ingin bersikap biasa saja tapi saat ini kau lagi – lagi membuatku berdebar. Ya, aku tahu ini semua karena kecerobohanku yang memelukmu tanpa persiapan, tapi aku seperti itu karena kau yang memulainya.” Jelas Yoona. Beberapa menit lalu Donghae berniat mengobati luka memarnya yang membuat Yoona berteriak dan refleks memeluk lelaki itu.

Belum ada reaksi yang didapatnya dari lelaki itu. Yoona menduga mungkin ucapannya terdengar meraba – raba tapi ia tidak perduli. Yoona merasa perlu mengakui segalanya, tentu sebelum Tuhan menegurnya lebih keras karena menghianati Boa.

Yoona meneguk ludah, melihat bagaimana bola mata lelaki itu berubah kelam. Gadis itu mencoba bersikap biasa meski pun gurat – gurat diwajahnya memunculkan arti sebaliknya. Dan ia mulai kesal karena tatapan Donghae berubah menyeramkan.

“Kuharap kita bisa menghentikannya, tidak ada lagi pelukan, kontak fisik atau kegiatan menatapku seperti ini. Aku tidak suka berdebar – debar saat didekatmu karena itu sangat mengganggu—”

“Kau pikir hanya kau yang berdebar – debar ?” Donghae menginterupsi protes Yoona. Lelaki itu maju selangkah mendesak Yoona untuk bergeser menggenggam tepi meja, “E-eoh?”

Donghae meraih tangan Yoona bagian kiri lalu mengarahkan tangan itu menyentuh dada kirinya. Donghae membiarkan tangan Yoona berdiam disana, dipermukaan dadanya yang berdegup tidak menentu.

“Kau bisa merasakannya ? aku sama sepertimu, atau mungkin lebih.”

Yoona merasakannya, getaran suara Donghae diiringi oleh detak jantung lelaki itu yang berpacu diatas ambang normal. Lalu haruskah Ia mempercayai ini ?

Donghae tersenyum samar lalu mengeratkan genggamannya. Gadis itu tersentak oleh genggaman tangan Donghae yang meremas jemarinya. Yoona memilih diam. Bagaimana pun ia belum selesai dengan perdebatan dikepalanya. Apakah ini yang kuinginkan ?

Dan pertanyaan itu segera terjawab oleh perlakuan Donghae yang tidak memberinya pilihan lain. Sebelah tangan Donghae yang lain membasuh wajah Yoona, merambah kelehernya lalu berhenti menggapai tengkuk gadis itu, Donghae menariknya hingga tak menyisahkan jarak.

Yoona kembali berdebar merasakan udara yang dihembuskan lelaki itu terhirup olehnya. Udara yang begitu hangat menjalar kedalam tenggorokannya, membangkitkan sensasi meledak – ledak yang tidak bisa ia bendung. Yoona melihat wajah lelaki itu kurang dari satu senti sebelum dirinya menutup segala akses visual. Entah mungkin ini benar, saat seseorang membutakan indranya maka indra yang lain akan lebih tajam. Yoona merasakannya sekarang. Perabaannya jauh lebih sensitive dari biasanya ketika bibir Donghae menyesap bibirnya perlahan – lahan, gerakannya lembut seperti berayun ditengah sepoi angin. Yoona terhanyut kedalamnya hingga tanpa sadar kedua lengannya melingkar diseputar pinggang Donghae. Ia menikmati bagaimana Donghae menyalurkan rasa hangat ditubuhnya namun semakin lama Donghae semakin menekan bibirnya hingga tubuh Yoona terdorong kebelakang.

Yoona menghirup napas diantara ciuman itu berhubung karena ia tidak memiliki persiapan sama sekali. Gadis itu terengah disaat Donghae tidak memberinya celah untuk mencuri napas. Permainan lelaki itu semakin agresif, Yoona tidak punya pilihan selain memalingkan wajahnya.

Donghae mendesak wajah Yoona meski gadis itu mulai menggencarkan sinyal – sinyal penolakan. Donghae bertubi – tubi menciumi pipi Yoona seiring dengan aksi penghindaran yang dilakukan oleh gadis itu.

“A-apa yang kau lakukan ?!” seru Yoona merasa risih dengan kelakuan menggelikan Donghae yang tanpa henti menciumnya dikepala maupun diwajah. Ketika ada kesempatan, Yoona menggapai wajah Donghae lalu menyingkirkannya sejauh mungkin. Secepatnya ia bergeser membangun jarak normal untuk setelahnya menatap lelaki itu tajam.

Donghae mengusap bibirnya dan sedikit menyeringai.

“A-apa maksudmu ? Kau berniat membuatku mati kehabisan napas atau apa ?!”

“Melampiaskan rasa berdebar – debar…” Sorot mata lelaki itu dalam dan intens. Yoona sedikit goyah mengahadapinya namun begitu ia tidak punya alasan untuk mundur.

“Permainanmu mencekik leherku. Kau tahu ini benar – benar pelanggaran, kau harus diganjar kartu kuning… tidak, seharusnya kartu merah !” peringat Yoona lantang didepan wajah Donghae yang tampak memikirkan ucapannya. Sama seperti lelaki itu, Yoona mencari kata – kata yang tepat dikepalanya lalu menambah, “Mulai detik ini kau tidak diperbolehkan menyentuhku… Ah, bukankah perjanjian kita memang seperti itu ? Seperti yang kukatakan beberapa saat lalu, aku… aku ingin semuanya berlangsung sesuai kesepakatan awal.”

“Jadi, aku harus menghindar ?”

Yoona terdiam memikirkan suara Donghae yang datar.

“Tentu saja.” Jawabnya yakin.

Donghae beranjak mendekati Yoona. Gadis itu bergeser kebelakang, namun pergerakannya tidak sebanding dengan langkah Donghae yang lebar. Yoona terkesiap merasakan sesuatu yang menjalar diwajahnya. Seketika menyadari bahwa tangan lelaki itu bermain – main disana.

Donghae mengarahkan jemarinya mengusap bibir Yoona, “Bagaimana mungkin aku menghindarimu disaat aku ingin melakukan hal ini ?” Sorot mata lelaki itu berubah pilu. Dihadapannya, Yoona terus mengamati bola kelam itu. Perputaran napasnya semakin terganggu, namun ia sudah memutuskan tidak akan lari.

Donghae mencondongkan wajahnya membuat Yoona berpikir untuk memejamkan mata. Donghae tidak berniat apapun, ia hanya menggantung wajahnya lalu tersenyum samar. Sementara Yoona menyadari tidak ada sesuatu, gadis itu membuka mata seiring usapan lembut yang membelai kepalanya. Yoona menatap Donghae saat ini, Perlahan – lahan usapan itu berpindah menangkup wajahnya. Lalu Donghae berbisik diatas bibirnya.

“Kau sudah membuatku menikmatinya sampai sejauh ini dan kau tiba – tiba memutuskan untuk mundur, jadi itu maumu?”

Bibir Yoona bergetar saat akan menjawab, namun ia berusaha menepisnya, “Aku tidak pernah meyuruhmu menikmati apapun. Kau yang menciumku lebih dulu saat dipulau—”

“Dan kau menyambutnya.”

“Baiklah, asal kau tahu saja, aku melakukannya atas dasar uang.”

“Semalam, kau membuka sale besar – besaran.”

Perkataan Donghae mencekik leher Yoona. SaleOh iya, sale ?!!! OMG !

“Bukankah katamu kau sedang keracunan ?”

Terpaku ditempat seperti orang bodoh, Tatapan Donghae semakin menyudutkannya. Yoona sangat benci itu dan tampaknya ia sudah tidak perduli dengan apa yang dikatakannya setelah ini.

“Itu… sekarang bukan karena itu. Yang sebenarnya aku hanya penasaran ! Kau tahu tidak, aku ini penggemar drama. Penggemar drama memiliki rasa penasaran tinggi terhadap cerita yang tertunda. Kau menciumku lebih dulu, satu kali, dua kali… namun selalu… ada saja yang membuatnya menggantung dan berakhir dengan kata to be continued, dan karena itulah aku selalu penasaran; bagaimana jika hal itu berlanjut… tanpa kata to be continued. Aku penasaran dengan endingnya.” Gadis itu terus berbicara tepat diatas bibir Donghae tanpa perduli apakah lawan bicaranya mengerti atau tidak. Ia berbicara seolah untuk dirinya sendiri tanpa rem atau alat pengendali yang bisa menghentikannya.

“Namun usai kekacauan yang timbul akibat kecerobohan kita dan hal memalukan dihadapan nenekmu semalam, aku menyadari bahwa Tuhan sedang menegurku agar mengingat perjanjian itu. Perjanjian yang seharusnya menjadi pedomanku dalam menjalankan sandiwara ini, tapi semua berantakan.”

Suaranya menghilang untuk beberapa saat, namun ditengah napasnya yang memburu seperti itu, ia tetap nekad melanjutkan kata – katanya.

“Maka kuputuskan untuk membenahi segalanya, biarlah rasa penasaranku berakhir sampai disini—“

Donghae membawa  serta bibirnya menekan  bibir Yoona yang bertele – tele dengan kalimatnya. Donghae menghisap benda ranum itu sekilas sebelum Ia memilih membebaskannya. Gadis itu terperanjat lalu segera memposisikan dirinya pada jarak yang normal.

“Tapi aku belum mau mengakhirinya, urusan kita masih berstatus to be continued. Yoona, tetaplah merasa penasaran untuk waktu yang lama dan biarkan aku menjawab rasa penasaran itu untuk seterusnya.”

Kalimat Donghae mengalun kedalam telinganya hingga ia mengerjap kaku. Yoona menatap lelaki itu tidak habis pikir. Donghae bukanlah partner yang sesuai untuk diajak bekerja sama. Lelaki itu selalu bertingkah semaunya. Harusnya ia bisa menyadari ini dari awal.

“Jadi, katakan apa maumu ? Apa kau ingin melakukan tawar menawar denganku tentang perjanjian itu ?” Yoona melancarkan tatapan sengitnya. Sementara itu Donghae mencondongkan wajahnya dan berbicara setengah berbisik.

“Aku ingin kau menjadi istri yang professional dan fleksibel. Fleksibel yang kumaksud disini adalah kau harus bersedia menerima segala bentuk perubahan, termasuk didalamnya perubahan situasi diantara kita.”

Yoona mengernyit sedikit mengerti dengan arah pembicaraan Donghae namun begitu ia menginginkan penjelasan yang lebih jelas.

“Sesuai kesepakatan, Aku akan bersedia membayar denda apabila melanggar peraturanmu. Jadi bisa kusimpulkan disini, selama aku sanggup membayar dendanya, aku juga memiliki kesempatan untuk melanggar. Dan ingat ! kau sudah menyetujuinya. Keputusan yang sudah ada tidak boleh diganggu gugat.” Donghae memperkukuh lewat ketegasan didalam intonasi suaranya. Tetap saja cara berbicara lelaki itu yang terdegar kaku membuat Yoona sedikit muak. Namun dibalik itu bayangan dari sejumlah denda dari berbagai pelanggaran mulai memenuhi kepalanya.

‘Lalu bagaimana dengan perjanjian itu ? untuk apa membuat sebuah peraturan kalau ujung – ujungnya dilanggar ?’ suara didalam hatinya datang merasuk dari dalam. Gadis itu bergeleng mencari pembenaran lain.

‘Ya, tentu saja untuk mengeruk uang dari pelanggaran yang ada !’

Binggo. Yoona bersorak dalam hati.

Dihadapannya, Donghae tersenyum samar. Lelaki itu meraih kedua tangan Yoona lalu menggenggamnya, “Yoona, Kau tidak perlu sampai terbawa perasaan karena merasa bahwa Tuhan sedang menegurmu. Anggap saja kau hanya bersikap professional sebagai istri yang ingin berdekatan dengan suaminya untuk menguatkan chemistry agar sandiwara ini berlangsung dengan mulus.”

Entah sejak kapan lelaki itu menyampirkan rambutnya kebelakang telinga lalu berbisik pelan, “Lagi pula kakakmu juga tidak akan tahu, kecuali jika kau memberitahunya.”

“Mwo…” Yoona mendelik, tidak habis pikir. Donghae menatapnya sekali lagi.

“Kita sudah melanggar peraturan itu dan aku tidak bisa berhenti melanggarnya karenamu. Kau tidak boleh egois.” Donghae menarik dagu Yoona agar menatapnya lebih intens, “Aku hawatir perasaan ini menjadi tidak terkendali dan akan mengacaukan pekerjaanku lalu berimbas pada Sehun. Aku bisa saja kehilangan kehilangan konsentrasi karena merindukan sentuhan seperti ini.”

Donghae memangut bibir Yoona sekilas. Gadis itu terpatung.

“Ini pertama kalinya aku melanggar sebuah peraturan yang sudah kusetujui. Aku ingin berhenti dari semua ini sungguh, tapi untuk sementara aku belum menemukan caranya, jadi biarkan ini terus berlanjut. Cukup diam, aku tidak akan menyakitimu.”

Sekian kali, Donghae menimbun bibirnya diatas bibir Yoona dengan sangat dalam, perasaan ingin memiliki berkobar semakin  kuat. Donghae  menarik pinggang Yoona agar semakin rapat dengannya. Setelah itu bukan hanya bibir mereka yang menyatu, tetapi juga detak jantung mereka yang berpacu dengan sangat luar biasa. Donghae mulai berkelana menyesap rasa dari permukaan bibir gadis itu yang perlahan menghangatkannya sampai keujung jari. Meski pun kini Donghae merasa bahwa dirinya bermain seorang diri, ia sama sekali tidak perduli. Donghae menyakini sebentar lagi Yoona akan keluar dari zona terkejutnya. Cepat atau lambat gadis itu akan membalasnya dan menikmati permainan mereka.

“Bagaimana ? Deal ?” Donghae mengakhiri tautannya dan mengecup bibir Yoona. Gadis itu memalingkan wajahnya. Jujur ia belum siap menghadapi Donghae. Yoona masih disibukkan oleh pikirannya sendiri.

Apa yang dikatakan lelaki itu terdengar mudah. Ia hanya perlu menyembunyikan ini dari kakaknya, maka semua akan baik – baik saja. Donghae mungkin benar, apa pun yang dilakukannya semata – mata hanya sebatas profesionalisme sebagai seorang istri, pada akhirnya tujuan dari semua sandiwara ini adalah uang. Bagaimana pun keputusannya sudah bulat. Ia tidak akan lari dari kenyataan.

Yoona meyakinkan dirinya sekali lagi dan berujung pada sebuah kesimpulan.

“Baiklah, deal.” Usai menarik napas, Yoona berusaha mengira – ngira bagaimana agar suaranya terdengar stabil, karena saat ini bola mata Donghae menguncinya. Yoona hendak berkata sesuatu. Setidaknya agar Donghae menghentikan tatapannya yang sedalam itu.

“Kalau begitu tersenyumlah.”

Donghae menarik pinggang Yoona yang sempat renggang dari sisinya. Lelaki itu  menyatukan bibir mereka untuk kesekian kali. Ia sudah menyiapkan mental jika saja Yoona tidak membalasnya kali ini. Donghae hanya menggaris bawahi, paling tidak ia bisa mencurahkannya, segala kebimbangan dan perasaan tidak terkendali berbaur kedalam ciuman itu, kalau perlu ia akan mengubahnya menjadi kepingan rasa yang berbunga – bunga. Donghae memejamkan mata meresapi  sensasi dari bibir Yoona yang tetap hangat meski pun beberapa kali ia menghisapnya. Namun belum cukup apa yang dirasakannya kini, ia membutuhkan sesuatu yang lebih menghangatkan.

Yoona merasa sekujur tubuhnya bereaksi ; bergetar dan memanas. Niat awalnya melewatkan ciuman itu mulai goyah saat kini degup jantungnya bertambah menggila. Sesuatu menusuk – nusuk  didalam dadanya jika saja ia menahan rasa yang juga mencekiknya ini lebih lama. Yoona memilih untuk melepaskan seluruh hasratnya hingga tanpa sadar jemarinya merangkak bebas tanpa komando, membelai dada bidang lelaki itu mendamba, berlanjut dengan mengusap rahanganya naik turun hingga ketulang selangka. Yoona mendorong bibirnya membalas permainan Donghae, menggigiti lalu menyesapnya dengan sangat dalam. Donghae terkejut dengan balasan mendadak yang diterimanya namun begitu ia menyambut perlawanan Yoona yang juga  diam – diam tersenyum menikmatinya.

Lelaki itu semakin mendesak pinggang Yoona sekaligus menekan pusat gairahnya yang tegang dan sesak. Yoona tidak risih sama sekali, gadis itu justru menggeliat ditengah kehadirannya hingga satu desahan lolos dari bibirnya. Donghae menggunakan kesempatan ini untuk membenamkan lidahnya kedalam bibir Yoona dan berperang disitu; saling membelit dan bertaut hingga menciptakan bunyi decapan yang  beradu sengit.

Donghae seakan tidak perduli dengan tempatnya kini mencumbu seorang gadis.  Donghae hanya perduli bahwa ia menginginkan gadis itu lebih. Keinginan itu mendorongnya menggali ciuman panas mereka sedalam – dalamnya dalam durasi yang panjang. Yoona semakin  terhanyut kedalam guncangan itu memungkinkan tubuhnya meledak – ledak. Meskipun ia merasa bahwa pijakannya mulai goyah, Yoona tidak bisa menghentikan ciuman ini, terlalu indah dan memabukkan. Kedua lengan Yoona terus mengunci dan berkalung mengelilingi leher Donghae; mencengkeram dan menariknya hingga memungkinkan keduanya untuk saling mendominasi.

—Clekkk—

Pintu menjeblak dari luar. Keduanya tersentak ditengah aktivitas mereka. Yoona menggeser wajahnya dari wajah Donghae, lantas menatap lelaki itu dengan napas terengah. Ketika menyaadari sesuatu, baik Donghae maupun Yoona sama – sama membulatkan mata hingga akhirnya saling menjauh.

“Donghae-ya kau harus berbuat sesuatu. Sehun ! Anak itu membuat keributan.” Seseorang itu menyergah tanpa basa basi dan mengesampingkan apa yang baru saja tertangkap oleh matanya.

Donghae tidak sempat memikirkan apa pun lagi, termasuk bagaimana bisa ia melupakan bahwa pintunya tidak dikunci. Donghae berlari menyambangi Leeteuk yang berdiri panik diambang pintu.

“Baiklah kita kesana.” Putus Donghae mendesak Leeteuk agar segera bergegas. Yoona membenahi kemejanya yang acak – acakan sebelum akhirnya gadis itu ikut berlari menyusul kedua lelaki yang lebih dulu meninggalkannya.

……………

Ruang editor kini menarik perhatian orang – orang akibat ledakan suara yang membludak. Kegaduhan didalam ruangan itu bertambah parah ketika seorang pria kecil melemparkan sebuah benda plastic berbentuk menyerupai katak  dan kecoa. Ia melemparnya—kedua spesies yang tampaknya menggelikan itu— kearah salah satu gadis muda yang kini berteriak – teriak seperti dikejar hantu. Anak kecil itu tertawa jahil. Ia memungut katak yang tergeletak dilantai kemudian melemparkan benda itu kearah gadis muda selanjutnya. Sontak beberapa karyawati yang ada disekitarnya ikut histeris.

Pertama kali menginjakkan kakinya di ruangan itu, Donghae bergegas menerobos para karyawan yang berhamburan. Donghae akhirnya menemukan si pelaku yaitu anaknya sendiri. Lelaki itu memijat pelipisnya, tidak menyangka Sehun akan membuat kekacauan seperti ini.

“Sehun !” Donghae menyeru lantang. Ketika mendengar seruan Appanya, Sehun menoleh otomatis. Mata anak itu membulat. Tampaknya Sehun sudah bisa membaca bahwa saat ini Appanya sedang murka. Anak itu mundur selangkah demi selangkah dengan wajah ketakutan.

“Apa itu ditanganmu… serahkan pada Appa.” Pinta Donghae setengah memaksa. Matanya memicing kearah tangan Sehun yang bersembunyi dibalik punggung. Donghae menduga dibalik punggungnya anak itu menyembunyikan sesuatu.

Sehun bergeleng, menolak mentah – mentah perintah Donghae yang membuat lelaki itu berdecak. Sementara dibelakangnya muncul desas – desus sepihak dari para karyawan. Donghae mendengar bisikan itu sebagian. Mereka benar – benar menganggap bahwa Sehun adalah anak yang patut dijauhi.

“Sehun… baiklah Appa akan menghitung dari satu sampai tiga.” Donghae menegaskan, “Satu… Dua… Tig—“

Dengan gerakan terpaksa, Sehun menyerahkan sebuah kotak. Donghae mengernyit menatap kotak itu sebelum memutuskan untuk meraihnya.

“Huaaaa ?!!”

Seekor tupai meloncat dari dalam kotak itu ketika Donghae membukanya. Para karyawan yang berdiri dibelakang lelaki itu berteriak histeris. Mereka yang sebagian besar kaum hawa langsung terbirit – birit menghindari tupai berbulu yang kini melompat – melompat kebingungan.

“Itu dari ruang property. Tupai-nya sedang sakit, tapi Noona kejam itu memaksanya bekerja.” Jawab Sehun sebelum Donghae mengajukan pertanyaan yang rupanya lebih dulu terjawab.

Yoona tiba – tiba muncul dari ambang pintu. Dengan mudah gadis itu menangkap seekor tupai yang sedang melompat – lompat dan menyebabkan sebagian wanita menjerit ketakutan.

“Aneh, kenapa ada tupai disini ?” Yoona bergumam seraya menatap bingung seekor tupai yang menggeliat ditangannya.

Sesaat kemudian tupai itu dirampas oleh seseorang. Sebut saja namanya Lee Donghae. Yoona bisa langsung mengenali tanpa melihatnya. Ini karena wangi parfum lelaki itu yang begitu familiar dan… hot !

“Siapa yang mengizinkan hewan pengerat seperti ini diikutkan dalam shooting ? bukankah sudah ada peraturan yang melarangnya ?!” Donghae menyeru dihadapan para karyawan yang berada didalam ruangan itu. Mereka semua tertunduk segan. Ya, kecuali Yoona yang sibuk memandangi wajah Donghae dari sisi kanan. Entah bagaimana ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun terutama pada bagian bibir. Bibir lelaki itu masih lembab dan basah, sedikit bengkak juga terdapat lebam dibagian tertentu. Yoona cukup sensitive menemukan tanda – tanda tersebut karena semua itu adalah jejaknya.

Lalu bagaimana dengan miliknya ? Yoona yakin permainan lelaki itu lebih parah dan menyiksa. Yoona menggigit bibir bawahnya lalu menyentuh bibir itu tanpa sadar. Bukankah ini sangat bengkak ?

“Minta bagian property menghadapku.” Perintah Donghae tiba – tiba dihadapan para karyawannya yang bisu.

“Ne sajangnim.”

Donghae membuang napas kasar dan mulai memikirkan hal ini dengan kepala berdenyut. Untuk kesekian kali Donghae memijat pelipisnya. Ruang property ? Ini pasti karena Eommanya yang mengajak Sehun berkenalan dari ruang – keruang sementara sang Eomma asyik bercakap ria tanpa memperdulikan apa yang dilakukan oleh cucunya, bahkan ketika Sehun mengikuti seorang Noona yang dianggapnya ‘kejam’ itu hingga ke ruang editor. Donghae yakin Eommanya sama sekali tidak tahu.

Dan inilah alasan kenapa ia sedikit malas menitipkan Sehun pada Eommanya yang sering sibuk sendiri.

Yoona belum sekali pun mengalihkan pandangannya dari wajah Donghae. Tampaknya lelaki itu tengah merenungkan sesuatu yang serius dilihat dari alis tebalnya yang mengerut. Namun terlepas dari itu, Yoona cukup terganggu dengan napas Donghae yang terdengar menyempit hingga menggoyahkan dada bidangnya menjadi naik turun tidak menentu. Kalau saja memungkinkan, Yoona ingin sekali menenangkannya dengan belaian, membuka satu – persatu kancing kemejanya lalu ia akan merangkak untuk menggapai bibirnya yang terengah – engah—

Donghae berbalik menatapnya. Disaat bersamaan Yoona memalingkan wajahya dari lelaki itu. Berkali – kali Yoona menarik napas karena ia benar – benar panik. ‘Omo. Ada apa dengan jantung sialan ini ? Hanya karena tatapan biasa darinya, kenapa benda itu malah berguncang – guncang tidak karuan… kenapa lelaki itu menatapnya… Apakah mungkin karena Donghae menyadari tatapanku sebelum ini ?!’

Yoona bergeleng menepisnya. ‘Tidak ! tidak mungkin !’

‘Lalu… bagaimana kalau mungkin?!’

“Sehun, ikut Appa.” Perintah Donghae kearah Sehun yang terdiam kaku. Apa pun alasannya, anak itu harus diberi peringatan atas kekacauan yang terjadi.

………………….

“Buang pikiran liarmu ?!! Ya Tuhan… ada apa dengan otakku ?!!”

Didepan cermin westafle kamar mandi Yoona tidak henti – hentinya meruntuk. Napasnya naik turun dan wajahnya dipenuhi kekesalan entah karena apa. Tidak, Yoona tahu persis bahwa saat ini ia sedang kesal pada dirinya sendiri. Yoona tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya hingga tersesat seperti ini, seolah – olah kehilangan jalan pulang. Yoona tidak mengerti apa yang membuatnya sungguh bodoh menghianati kakaknya karena lelaki yang tidak jelas itu. Dan ya, lelaki yang tidak jelas itu adalah suaminya sendiri.

Yoona membiarkan penghianatan itu berlanjut hingga berdampak merusak kinerja otaknya. Belakangan ini otaknya selalu dipenuhi imajinasi liar tanpa bisa ia kendalikan.  Untuk sementara ia menduga bahwa hal ini disebabkan oleh racun yang menggorogoti tubuhnya. Yoona harus meminta pertanggung jawaban lelaki itu, jadi tidak ada salahnya melanggar untuk sebuah kebaikan; mendapatkan penawar secara terus menerus.

“Ya tidak ada yang salah, Im Yoona !” ucap Yoona teguh meyakinkan pantulan dirinya sendiri.

‘Satu… Dua… Tiga… bernapaslah dengan benar…’

Drtt… drttt

Yoona merogoh saku roknya yang mengembang. Usai menemukan benda persegi yang dicarainya, Yoona menggeser tombol hijau lalu meletakkan benda itu disamping telinga.

“Yoboseyo Eonnie…” sapa Yoona kepada Eonninya yang berada diseberang sana.

“Ada apa dengan suaramu itu?” tanya Boa terdengar menyelidik.

“Suaraku ?” Yoona berpikir sejenak mencerna maksud kakaknya.

“Suaramu tidak jernih. Kau sedang berolah raga atau apa ?!” desak Boa. Yoona seketika menyadari keanehan pada suaranya, terlebih dengan dadanya yang naik turun tidak menentu.

“Tidak, aku tidak sedang berolah raga tapi…” Yoona menarik napas, ‘Sebenarnya lebih dari sekedar berolah raga Eonnie…’

“Tapi apa?”

Yoona tersentak. Segera ia menyambung obrolannya, “Ini adalah hari pertamaku bekerja menjaga Sehun. Ternyata anak itu sedikit… nakal.”

“Benarkah ? Kau tidak… memendam sesuatu kan ? Jika ada yang ingin kau katakan, eonni akan mendengarmu. Jangan sampai kau sesak napas nantinya.”

“Ani.. tidak ada yang seperti itu eonni.” Yoona memejamkan matanya, ‘Sebenarnya banyak eonni, tentang perasaanku saat ini sangat membuat sesak….”

“Oh yasudah, tapi kau baik – baik saja kan ?”

“Tentu saja aku baik – baik saja ? memangnya aku kenapa ?” Yoona terkekeh, cukup garing didalam pendengarannya.

“Ani Yoona. Eoonie hanya  menghawatirkanmu. Jangan sampai lelaki itu berbuat aneh – aneh.”

“Dia tidak pernah berbuat seperti itu, percayalah Eonnie aku bisa menghadapinya, tenang saja.”

“Baguslah. Ingat Yoona, kau jangan mau dirayu oleh lelaki mana pun ! Tunggulah, biar Eonnie yang akan mempertemukanmu dengan lelaki baik – baik. Kau mengerti ?!”

“Ne.”

“Bagus. Kalau begitu jangan macam – macam. Ingat perjanjian kita.” tandas Boa.

Percakapan itu akhirnya berakhir. Yoona menghela napas panjang. Setidaknya Ia terbebas dari kebohongan ini lebih lama. Yoona masih bisa menggunakan nuraninya untuk menyimpulkan bahwa hampir semua yang dikatakannya barusan kepada Boa adalah dusta. Inilah bukti dari semua itu…

Yoona menatap pantulan dirinya. Bibirnya merah dan bengkak. Bahkan sisa dari ciuman semalam masih berbekas ngilu dan lelaki itu menambahnya dua kali lipat. Lalu bukan hanya satu. Yoona membuka kancing kemeja teratasnya, melihat sendiri jejak peninggalan Donghae yang belum hilang sejak semalam. Bagaimana cara meniadakan jejak ini dalam waktu singkat ? Yoona membuka keran air dihadapannya lalu ia  membasuh jejak – jejak itu berharap akan hilang namun harapannya berubah menjadi rasa putus asa ketika jejak – jejak itu tidak kunjung hilang. Yoona berdecak frustrasi. Sungguh ia tidak sanggup berlama – lama memakai kemeja yang dikancing hingga keatas. Cara berpakaian seperti itu benar – benar mencekik lehernya. Malang, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengancingi kemejanya seperti semula, atau ia akan menanggung malu.

Keluar dari pintu toilet, Yoona disambut oleh sosok lelaki yang paling ingin ia hindari ditempat ini. Kim Heechul. Yoona terus melangkah tanpa memperdulikan lelaki itu hingga dengan tidak tahu diri lelaki itu menjengat langkahnya. Terpaksa Yoona menatap orang itu malas – malasan.

“Kau mau apa?”

“Tidak usah galak – galak Nyonya Lee.”

Yoona memalingkan wajahnya jengah, “Aku sedang sibuk, cepat katakan apa maumu?”

Lelaki dihadapannya terkekeh, “Setelah kulihat – lihat ternyata kau cantik juga. Aku ingin mengenalmu lebih jauh, bolehkah ? kita bisa merokok bersama—”

“Aku sudah menikah.”

“Menikah ? Lucu sekali… Aku baru menemukan dua orang yang baru saja berkenalan disebuah kafe, menikah tiga hari kemudian.”

Yoona terkesiap, sorot matanya menajam kearah lelaki itu.

Heechul memiringkan wajahnya, “Pertemuanmu dengan Donghae di kafe waktu itu adalah awal hubungan kalian. Dan kalian tidak saling mengenal bukan ?”

“Mwo?”

“Aku bahkan mendengar sendiri percakapan Donghae ditelepon. Dia menyebut nama Im Yoona seolah – olah tidak mengenalmu, atau dia memang tidak mengenalmu ?”

“Kau jangan berbicara tanpa bukti.” Peringat Yoona yang ditanggapi Heechul dengan senyuman.

“Oke baiklah. Telepas dari analisisku, Aku mengenal Donghae lumayan lama dan aku bisa melihat gerak – geriknya menghadapi orang baru sepertimu. Dia cukup kaku, tidak sepertiku yang friendly dengan semua orang.” Seringai muncul dari bibirnya ketika gadis itu tidak berkutik. Lantas Heechul berbisik disamping telinga Yoona, “Jadi, bisakah kusimpulkan bahwa kau memang dibayar olehnya ?”

“Bukan urusanmu.” Tampik Yoona menatap tidak perduli. Heechul membaca wajah Yoona yang sedikit ketakutan namun gadis itu cukup beruntung karena dianugerahi kemampuan akting yang lumayan.

Heechul menarik tangan Yoona yang baru selangkah bergeser melewatinya. Yoona meringis dan memekik. Emosinya bertambah puluhan kali lipat ketika rasa sakit dari luka memar dibagian punggungnya menukik tulang – belulangnya. Tidak ada kata maaf sama sekali untuk seseorang yang lancang menarik tangannya tanpa permisi. Gadis itu menarik napas dalam – dalam sebelum  kakinya bermain, melayang kearah pergelangan kaki Heechul. Lelaki itu terhuyung kesamping, lalu kesempatan tersebut digunakan Yoona untuk memelintir kaki lelaki itu dan membuat sang pelaku tersungkur.

Yoona berdiri melipat kedua tangannya angkuh, sorot mata gadis itu menghujam kebawah dimana lelaki itu terpekur kesakitan.

“Aku masih menghormatimu sebagai paman Sehun, tapi kalau kau macam – macam, aku tidak akan segan – segan mematahkan tulangmu !” Peringat Yoona menandaskan ancamannya. Gadis itu mendecih sebagai salam terakhirnya sebelum ia berbalik dan menghilang dari sana.

Sepeninggal Yoona, Heechul bergegas membenahi posisinya setengah duduk, lelaki itu meringis menahan ngilu yang berkecamuk, namun begitu ia mengesampingkan rasa sakitnya. Lebih dari apa pun ia menganggap bahwa tendangan itu justru sangat berkesan. Heechul tersenyum menatap punggung Yoona yang menjauh..

“Wanita yang menarik.” Gumamnya diikuti seringai.

………….

Lee Donghae benar – benar tidak waras ! Apakah lelaki itu bisa berpikir dengan benar ? Sebenarnya Lelaki itu punya otak atau tidak ? Kalau memang punya, dimana dia meletakkannya selama ini ?!

Sudah jelas bahwa saat awal pertemuan mereka di kafe, Donghae mencurigai bahwa Heechul punya maksud jahat, lalu apa maksud lelaki itu memintanya bertemu di kafe yang sama ? Memangnya dikepalanya itu, tidak ada tempat lain yang lebih aman, steril, sanitasi dan hygiene ?

Semoga dugaannya salah tapi lelaki bernama Heechul itu sepertinya mulai mencurigai latar belakang hubungan mereka. Dan ini semua karena kebodohan Donghae. Kalau saja lelaki itu bisa lebih pintar dan tidak gegabah

Yoona meruntuk tanpa henti ditengah perjalanannya. Langkah gadis itu berhenti sejenak untuk mengambil napas lalu menghembuskannya perlahan – lahan. Memangnya kenapa ? Kalau rahasia ini terbongkar, maka satu – satunya orang yang berada didalam masalah besar adalah Lee Donghae ! Pihak – pihak tertentu pasti akan berbalik menudingnya tengah mengeruk harta seorang bocah yatim piatu.  Im Yoona, wanita bayaran yang disewa lelaki itu tidak akan terseret lebih jauh tapi… masalahnya adalah  bagaimana dengan gajinya ? Dan itu berarti ia harus kehilangan pekerjaan, omo !

“Dasar, Lee Donghae pabo !” Yoona mencibir tepat dihadapan sebuah pintu yang merupakan ruang kerja lelaki itu.

Yoona menggigit bibir bawahnya bimbang bercampur kesal. Yoona sudah bertekad untuk sesegera mungkin meminta pertanggung jawaban lelaki itu atas masalah ini. Bagaimana pun Donghae harus mengetahui fakta tersebut dan Yoona berencana  akan menuntutnya untuk mencari jalan keluar. Kalau Donghae menolak maka lebih baik dirinya pensiun dini menjadi istri lelaki itu ketimbang dengan sendirinya mengunggu hubungan mereka terungkap dan ia harus menanggung cemooh dihadapan orang – orang dengan statusnya sebagai mantan istri bayaran.

Suara tangisan seorang anak kecil menyambut kedatangannya. Suara itu—lebih tepatnya seperti jeritan—memantul – mantul ditelinganya seperti gendang yang memekakkan. Yoona meringis ngilu. Didepan sana terpapar sebuah pemandangan yang membuat Yoona jengah. Sehun, bocah itu sedang berdiri menangis histeris sementara dihadapannya Donghae duduk merenung diatas sofa tanpa melakukan apapun.

“Ada apa ini ?” Yoona menghampiri kedua lelaki berbeda generasi itu. Sorot matanya menyelidik. Yoona mulai mengira – ngira apa yang sebenarnya terjadi. Donghae tidak langsung menjawabnya namun gerak – gerik lelaki itu yang gelisah seolah mencari pembenaran sungguh mencurigakan.

“Kau memarahi Sehun ?!”

Donghae mendongak, “Aku tidak memarahinya.”

“Lalu ?”

Berbicara dalam posisi berbeda membuatnya sedikit sulit. Donghae bangkit dari tempat duduknya menghadap Yoona. Lelaki itu mengambil napas panjang, “Aku sedang memberinya peringatan agar ia tidak lagi membuat keributan semacam itu. Sebenci – bencinya orang terhadap orang lain, mereka harus tetap menjaga sikap dan sopan santun.”

Yoona manggut – manggut sebentar, “Ya aku tahu maksudmu, tapi kau tidak harus membuatnya sampai menangis. Bicaralah pelan – pelan. Aku yakin Sehun akan mengerti.”

“Aku sudah berbicara pelan – pelan tapi Sehun tetap keras kepala bahkan membantah.”

Sehun menatap Donghae dengan air mata bercucuran, setelah kali ini menatap Yoona yang juga mengoceh tidak mau kalah.

“Tetap saja ! kau harus bersikap lebih dewasa. Anggaplah Sehun memang keras kepala, dan itu berarti tugasmu untuk memperbaikinya. Lagi pula wajar kalau Sehun bersikap keras kepala.”

“Yoona, masalah ini bukan soal wajar atau tidak wajar. Sehun harus diberi pengertian agar ia tidak mengulangi perbuatannya.” Tampik Donghae.

“Anak seperti Sehun butuh pengayoman bukan pengertianmu. Dia melakukan kekacauan itu karena ada alasannya bukan ? Dan kupikir alasan Sehun melakukannya cukup bisa diterima, hanya saja cara mengungkapkannya yang salah.”

“Ya salah, karena itu Sehun harus tetap diberi pengertian !”

Tangisan Sehun kian membludak. Yoona semakin pusing mendengarnya.

“Donghae-ssi, kurasa kau harus belajar untuk mengerti Sehun, karena sekarang Sehun adalah anakmu.” tandas Yoona mulai gemas karena Donghae tetap kekeuh pada pendiriannya, padahal jelas – jelas tindakannya kurang sesuai untuk Sehun. Anak itu berbeda. Bukankah Donghae mengetahuiya ? Sehun lebih sensitive dari anak seusianya. Ia bisa merasakan apa yang seseorang rasakan dan mengetahui apa yang seseorang pikirkan hanya saja sifat anak itu belum matang hingga mau tidak mau, kenampakan Sehun berubah menjadi pengacau dihadapan orang – orang yang tidak disukainya.

Dan karena itulah Donghae harus ekstra memperhatikan Sehun, bukan hanya fokus pada pekerjaannya !

Yoona kehilangan kata – kata untuk berbicara lebih jauh, terlebih ketika Sehun sesangguk tidak karuan. Yoona menyadari salah satu dari mereka harus mundur dari perdebatan, namun tampaknya sikap lelaki itu tidak menunjukkan tanda – tanda untuk berhenti, pada akhirnya Yoona menghela napas disaat Donghae sedang berceramah panjang lebar. Yoona benar – benar tidak ingin mendengar apapun lagi.

“Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan seorang anak kecil jika kedua orang tuanya meninggal secara mendadak ?” Yoona menyela tiba – tiba, “ Sehun pasti sangat terpukul. Anak sekecil itu pasti sangat frustrasi dan merasa kurang pengawasan. Aku tidak asal bicara. Aku mengetahui hal ini karena aku merasakannya sendiri.”

Donghae terdiam. Dahinya mengernyit usai mendengar kata – kata Yoona barusan.

“Karena kedua orang tuaku juga meninggal secara mendadak dalam musibah kebakaran. Aku lebih tahu bagaimana rasanya, jadi sudah cukup !”

Yoona berjongkok lalu memeluk Sehun yang kini menangis didalam rengkuhannya. Yoona mengusap – ngusap kepala bocah itu seraya membisikkan sesuatu agar setidaknya Sehun bisa mengerti alasan dibalik sikap Donghae yang seperti itu. Yoona turut serta menghapus air mata Sehun lalu menatapnya dengan senyuman. Sehun kembali memeluk Yoona seolah meminta perlindungan. Meskipun suara tangisannya berangsur – angsur menghilang, Yoona tahu anak itu masih ketakutan. Kalau saja Donghae bisa lebih bijaksana, kejadian ini tidak akan semakin runyam. Yoona menatap tajam kearah Donghae. Lelaki itu bergeming seperti patung, entah bagaimana membuat Yoona semakin jengkel melihatnya.

“Sehun-ah, tunggu sebentar.” Ucap Yoona melonggarkan pelukannya meski pun Sehun tampak menolak. Yoona melanjutkan niatnya berdiri dihadapan lelaki itu. Donghae berpaling seolah menghindari tatapannya. Yoona tidak perduli bagaimana sikap lelaki itu, Ia hanya perlu berbicara detik ini.

“Kutegaskan sekali lagi, jangan terlalu keras pada anakmu sendiri atau kau akan menyesal.”

Yoona menatap Donghae terakhir kali sebelum akhirnya menggandeng tangan Sehun keluar dari ruangan itu. Sesaat mereka berdua kembali menghampiri Donghae, pasalnya Yoona baru saja mengingat sesuatu yang ‘penting.’

“Oh ya, jangan lupa pelanggaran tadi 5 juta Won.” Peringatnya tanpa basa – basi. Donghae tidak terkejut mendengarnya. Lelaki itu tersenyum sekilas kearah pintu yang baru saja menutup.

Belum ada sedetik menutup, pintu itu kembali terbuka. Donghae menoleh dan menyadari bahwa dugaannya meleset. Orang yang baru saja mengijakkan kaki diruangannya tidak lain adalah Leeteuk, bukan gadis itu…

Leeteuk muncul dari balik pintu dengan wajah kebingungan. Lelaki yang nampak lebih tua itu berjalan kearah Donghae, mengamatinya penuh tanya.

“Kenapa dia ?” Leeteuk menunjuk pintu dengan wajahnya. Donghae mengernyit, “Kenapa apa?”

“Itu… aku berpapasan dengan Istri dan anakmu.”

“Oh…” gumamnya tanpa berlama – lama memikirkan maksud Leeteuk. Donghae langsung melemparkan tubuhnya ke-permukaan sofa.

Leeteuk mengikuti Donghae duduk disampingnya, “Kalian baik – baik saja kan ?”

“Seperti yang kau lihat Hyung.” Jawab Donghae bersandar dipunggung sofa dan memejamkan matanya lelah.

Leeteuk berdecak, “Belum genap seminggu, hubungan kalian sudah renggang seperti ini. Donghae-ya, kau harus melakukan segala upaya, kau tidak boleh membiarkan keadaan ini berlarut – larut. Jangan sampai orang – orang itu curiga atau kau akan dalam masalah besar. Kalau motifmu terbongkar, mereka akan memanfaatkan ini untuk merebut Sehun, kau mengerti kan ?”

“Itu masalahnya Hyung. Aku tidak tahu harus bagaimana…” Kali ini Donghae memijat pelipisnya.

Merasa prihatin, Leeteuk menepuk – nepuk pundak Donghae, “Makanya agar hubungan kalian tetap harmonis maka sering – seringlah mengaplikasikan rumus dariku.”

Saran Leeteuk hanya berlalu ditelinganya. Donghae sedang tidak berselera menanggapi soal rumus atau apa. Leeteuk sering kali menyarankan kepadanya agar membangun skinship dengan Yoona dalam rangka menumbuhkan chemistry, mengingat hubungan mereka berdua terbilang canggung dan selalu dibumbui oleh pertengkaran. Sepertinya Leeteuk yang merupakan pengacara Sehun mulai menghawatirkan situasi diantara mereka, mengingat saat ini mereka tidak sedang menghadapi pihak sembarangan melainkan pihak – pihak tertentu yang selalu mengawasi pergerakannya setiap saat dan tidak menutup kemungkinan pihak – pihak itu akan menaruh kecurigaan.

Donghae menghitung, ini ketiga kalinya Leeteuk mengingatkan soal rumus skinship itu. Pertama ditengah perjalanan bulan madu menuju pulau, Leeteuk berbicara melalui sambungan telepon. Lelaki itu tidak henti – hentinya mendesak agar Donghae menunjukkan jati dirinya sebagai seorang lelaki yang ingin menyalurkan nafkah batin. Begitu juga yang terjadi usai mereka pulang dari pulau itu, sikap Yoona berubah dingin, Donghae pun memutuskan untuk melakukan skinship sesuai saran Leeteuk, Yoona melunak namun tetap saja pertengkaran terjadi setelahnya di pusat perbelanjaan, Lalu malam harinya Donghae mengikuti saran leeteuk sekali lagi namun hari ini lagi – lagi mereka terlibat pertengkaran, begitu seterusnya, hubungan mereka berputar – putar tanpa titik temu.

“Rumus itu…” Donghae mengingat semua dan seketika ia mengusap – usap wajahnya frustrasi, “Rumus itu sudah kuterapkan sejak ‘bulan madu’ di pulau ! Jangankan berhasil, rumus itu membuatku tidak bisa berhenti melakukan hal aneh dengannya, disisi lain pertengkaran kami tetap jalan. Lalu apa gunanya rumus itu ? aishhh menyesatkan.”

“Hei, rumus itu benar adanya.” Tampik Leeteuk tidak terima dengan kesimpulan Donghae, “Rumus itu sudah kugunakan bertahun – tahun yang merupakan solusi terpraktis untuk menumbuhkan chemistry. Kalau kau tetap bertengkar dengannya maka itu berarti kesalahan ada padamu. Bisa saja karena rayuanmu sudah basi atau sesuatu yang lain. Kalau begitu kau harus segera mengupdatenya.”

Donghae terdiam tidak berselera. Bahkan ia tidak mengerti rayuan seperti apa yang dimaksud Leeteuk. Pertama kali menatap mata gadis itu sudah membuatnya bergetar, apa lagi jika ditambah dengan rayuan. Donghae tidak bisa membayangkannya.

“Atau pelukanmu kurang hangat.”

Kali ini Donghae terkekeh, ‘Kurang hangat ? bahkan sentuhan mereka nyaris mencapai tahap itu… sialnya belum ada yang berhasil.’

“Kupikir ini bukan masalah rayuan atau pelukan, karena pada dasarnya gadis itulah yang kekanak – kanakan…” tampik Donghae benar – benar yakin dengan analisanya.

“Justru itulah kukatakan, kau sungguh beruntung menemukan gadis kekanak – kanakan yang bersedia menikah denganmu dalam waktu semalam. Menurutmu gadis mana yang sesuai untuk itu ? Gadis dewasa berkomitmen tidak akan mau dibayar, sedangkan gadis biasa akan melunjak, banyak pertimbangan dan mereka dipastikan akan membantahmu, lalu menikahi selebriti sangat beresiko terkait sensasi berlebihan diluar sana. Jadi dimana lagi kau bisa menemukan gadis kekanak – kanakan seperti istrimu ? Dimana lagi kau bisa menemukan seorang gadis yang bisa kita manfaatkan dengan mudah ?”

“Apa maksudmu ?”

Leeteuk menyeringai, “Kau pasti mengerti maksudku Donghae-ya. Setelah kulihat – lihat, beberapa keuntungan yang bisa kau dapatkan dengan menikahi gadis itu yang pertama; Keluargamu terlebih Sehun menyukainya, kedua ; gadis itu dan keluarganya tidak menuntut macam – macam kecuali uang dan pekerjaan, ketiga ; seperti katamu gadis itu kekanak – kanakan dan polos, keempat ; dia pandai melindungi diri, kelima ; dia sangat menghormati pekerjaanya terbukti, gadis itu cukup patuh melakukan apa yang kau minta termasuk skinship yang ehm—“

Leeteuk berdehem. Tanpa mengakuinya sekalipun, Leeteuk tahu persis Donghae sudah mengikuti sarannya beberapa kali, dan sekarang Donghae merasa terjebak oleh keinginannya untuk melakukan hal itu lagi dan lagi. Leeteuk bisa menjamin ini sebagai pihak yang berpengalaman.

“Sudahlah tidak usah malu, lagipula gadis itu lumayan juga. Dan kupikir itu pantas dimasukkan sebagai alasan terakhir yang menjadikanmu semakin beruntung menikahinya; Dia cantik.”

Donghae ingin membantah perkataan Leeteuk namun ia bingung bagaimana cara menyuarakan bantahannya karena saat ini Donghae kehilangan kata – kata untuk berkata sebaliknya. Ia mengakui, gadis itu memang cantik, apalagi dengan matanya yang bersinar…

“Ngomong – ngomong, dimana kau menemukan gadis seperti itu ? kau pasti sedang bercanda saat mengatakan bahwa gadis yang akan kau nikahi seperti gelandangan.”

“Ck sudahlah jangan dibahas lagi.” Cegah Donghae sebelum ingatannya memutar ulang bagaimana penampilan Yoona dimasa itu yang membuatnya sakit kepala.

“Oh ya baiklah kalau begitu, bagaimana dengan pembahasan tentang penampilan Yoona yang sekarang ? hmm?” Leeteuk menaik turunkan alisnya. Seringai jahil menyeruak dibibirnya ketika Donghae tidak menjawab.

“Donghae dengarkan Hyungmu ini. Benteng pertahanan yang kokoh tidak serta merta dibangun sendiri, maka dari itu kau harus bekerja sama dengan orang lain, dan orang lain yang kumaksud disini adalah istrimu.”

Entahlah, mungkin profesi sangat mempengaruhi kepribadian seseorang. Contohnya Leeteuk yang rela menghabiskan waktu hanya untuk berbicara tanpa henti. Bahkan lelaki itu lebih mirip tukang obat ketimbang pengacara.

“Ayolah Donghae, kau bisa menggunakan segala keuntungan yang ada untuk memperbaiki hubungan kalian. Coba pikir, bagaimana mungkin kau bisa menjalankan amanah Jin Hae almarhumah ibu Sehun dengan semestinya, jika kau terus – menerus  bertengkar dengan istrimu ?”

Donghae terpaku dalam bisu. Apa yang dikatakan Leeteuk telah sukses mengobarkan api didalam tubuhnya. Donghae tidak akan mampu bersabar disaat seseorang menyinggung kasus Jin Hae kakaknya sekaligus ibunda Sehun yang meninggal secara tragis dalam sebuah kecelakaan bersama suaminya. Donghae meyakini bahwa tragedi itu merupakan awal dari semua masalah ini termasuk didalamnya masalah perebutan harta yang juga mengancam nyawa Sehun. Untuk selanjutnya Ia berjanji tidak akan membuang – buang waktu.

Segalanya akan terungkap dan masalah ini akan terpecahkan… sorot mata Donghae berkilap dipenuhi ambisi. Ia harus melakukan segala cara, termasuk bagaimana mengkondisikan situasi menjadi sebaik mungkin agar mempermudah rencananya.

“Baiklah Hyung, aku akan memikirkan cara yang terbaik.” Putus Donghae ditengah perenungannya, “Ya… setidaknya agar kami tetap rukun.”

………………

Kejadian tak mengenakkan beberapa saat lalu membuat Yoona berinisiatif untuk membawa Sehun bermain sebentar meski sisa – sisa tangis belum sepenuhnya tersingkir dari wajah anak itu namun setidaknya sekarang Sehun mulai menunjukkan tanda – tanda keceriannya kembali. Saat ini mereka sedang disebuah Taman kecil yang terletak di samping gedung SM Media Group. Yoona  duduk dibangku taman memperhatikan Sehun  dari jarak beberapa langkah, anak itu berlari kesana kemari dan berbicara sendiri. Sedikit pedih melihatnya, kasihan sekali anak itu, mungkin selama ini hidupnya selalu sendiri bahkan berbicara pun sendiri.

Yoona memutuskan bangkit dari duduknya lalu bergabung dengan Sehun yang tengah asyik bermain. Lantas ia mengeluarkan mainan berupa tiupan gelembung sabun yang dibelinya tadi pagi, bahkan Donghae menganggapnya kekanakan karena membeli mainan seperti itu. Donghae keliru, ia tidak kekanakan justru lelaki itulah yang mempunyai masa kecil kurang bahagia. Buktinya saat ini Sehun tertawa-tawa bersama Yoona ketika gadis itu meniup gelembung sabun di wajahnya.  Menurut Yoona cukup lelaki itu yang mempunyai masa kecil kurang bahagia. Untuk Sehun, Yoona ingin anaknya mempunyai kehidupan seperti anak kecil pada umumnya. Bukan layaknya orang dewasa yang terperangkap di tubuh anak kecil. Sehun mulai menikmati permainan mereka, hingga terjadilah aksi saling mengejar diantara ibu dan anak diantara gelembung sabun yang menguap keangkasa.

“Sehun-ah, kejar-kejarannya disini saja, jangan jauh-jauh.” Yoona menginterupsi dengan suara terengah-engah. Sudah hampir lima belas menit dirinya dan Sehun bermain kejar-kejaran. Mungkin anak itu sudah ingin berpindah ketempat lain. Sebenarnya tidak masalah jika Yoona mempunyai tenaga yang cukup.

“Aniyo Eomma, bilang saja Eomma tidak sanggup mengejarku.” Ledek Sehun tersenyum puas.

“Aisssh …anak itu memang keras kepala ! Gumam Yoona sambil berjongkok dan memejamkan mata sebentar. Ia merasa kepalanya sedikit pusing dan berputar-putar. Yoona sudah kelelahan. Kejadian semalam ditambah rasa nyeri dibagian punggungnya sudah menggaggu waktu tidurnya.

Yoona membuka matanya namun justru bertambah pusing ketika Sehun menghilang. Dadanya sontak bergemuruh. Jangan-jangan ! Tidak, Aku bisa gila ! dimana anak itu ?.

“Sehun-ah.”  Sahut Yoona menengok kesana kemari mencari keberadaan anak itu tapi hasilnya nihil. Yoona memilih untuk tetap berjalan. sesekali Ia bertanya  kepada orang – orang disekitar tempat itu. Kau pasti bisa menemukannya, Im YoonA !

Usai bertanya kepada seorang wanita, Yoona berlari  kearah yang ditunjukkan wanita itu. Wanita tadi mengatakan bahwa ia melihat seorang anak kecil berlari kesamping  gedung. Yoona bergegas ketempat itu. Dari kejauhan Yoona melihat anak kecil mirip Sehun tengah berbicara dengan pria berpakaian layaknya seorang punk. Jeans kumal dengan berbagai macam rantai dibaju dan celananya menghiasi gaya berpakaian lelaki itu. Yoona tidak dapat melihat wajah lelaki itu karena ia hanya dapat memandangi punggungnya. Semakin dekat menghampiri,  Yoona semakin yakin bahwa anak itu adalah Sehun, namun ia sedikit was – was. Apa yang dilakukan anak itu bersama pria asing ? jangan-jangan orang itu adalah komplotan jahat yang sering disebut-sebut oleh Donghae ?

Yoona memacu langkahnya dan tanpa basa – basi  memelintir  kaki lelaki itu hingga terjatuh. Lelaki itu beruntung karena kini tubuh gadis itu sedang sakit karena luka memar. Kalau saja memungkinkan, Yoona ingin langsung menebas tepat dilengannya hingga lelaki itu kapok melakukan kejahatan. Kini  Tubuh lelaki itu terkurap di atas tanah. Yoona menancapkan heelsnya diatas punggung lelaki itu, menekannya penuh ancaman.

“Apa yang kau lakukan ? hah ?!” Gertak Yoona

“Yak Nona aku bukan orang jahat, lepas awhhh.” Lelaki itu mengerang usai berusaha melakukan perlawanan, tapi usahanya sia – sia karena Yoona dengan sigap menerjunkan tubuhnya, duduk diatas punggung lelaki itu.

“Mana ada orang jahat yang mengaku jahat ! Bersiap-siaplah, Aku akan membawamu ke pos keamanan!” Yoona menaruh tangannya mencengkeram leher lelaki itu, bersiap melancarkan sebuah cekikan kalau saja ia berniat kabur.

“Andwee Nona, kumohon aku benar-benar bukan orang jahat.”

Tiba – tiba Sehun menginterupsi, wajah polos anak itu manarik perhatian Yoona, “Eomma, paman ini hanya menanyakan jalan ke stasiun bawah tanah kepadaku, Paman ini bukan orang jahat.” Jelas Sehun meredam aksi Yoona dengan cengirannya. Yoona terdiam. Dari apa yang dilihatnya, wajah Sehun sama sekali tidak menunjukkan ekspresi ketakutan. Yoona mulai ragu jika lelaki itu adalah orang jahat namun bukan berarti ia akan melepaskan cengkramnya begitu saja. Akhir-akhir sedang marak penculikan anak yang pelakunya tidak bisa diprediksi.

“Benarkah ?!” seru Yoona di tengah kegamangannya akan tetapi ia harus tetap berjaga-jaga.

“Nde aku bukan orang jahat. Aku hanyalah anggota genk pinggir jalan. Pakaian yang kukenakan hanya sebagai atribut semata, Nona.” Jelas lelaki itu merintih, “Asal kau tahu, aku terpaksa menanyakan kepada anak kecil tentang jalan menuju stasiun, karena orang dewasa kebanyakan akan memandangku sinis bahkan sebelum aku mendekati mereka.”

“Chankaman….” Yoona melonggarkan pegangannya dan mulai mengingat-ingat.  ‘Sepertinya aku mengenal pemilik suara ini. Siapa dia ?’

Lelaki itu merasakan cengkraman dilehernya melonggar. Ia lalu menengok kebelakang penasaran dengan bentuk wanita yang seenaknya menganggap dirinya orang jahat. Ia mengakui bahwa penampilannya memang sangat mudah dicurigai tapi apakah wanita itu tidak pernah mendengar pepatah yang mengatakan Don’t judge a book by it’s cover ?.

“Kyuhyun ?”

Belum sempat lelaki itu melakukan aksi protesnya, Ia sudah mematung ditempat ketika melihat wanita itu. Mata kyuhyun tidak mampu berkedip, ia tidak dapat melihat apapun selain mata wanita itu. Tatapan yang sangat ia rindukan, bola mata yang berkilat-kilat seperti mata rusa yang hanya dipunyai oleh satu orang didunia ini dan sekarang bibir lelaki itu terasa kelu untuk berucap.

“Yoon-Yoon-Ah, kau benar-benar im Yoona ?

………………………….

Di pelataran café yang menyediakan fasilitas meja dan kursi, seorang lelaki muda tengah serius berbicara sambil tertawa kecil. Gadis didepannya sibuk mendengarkan sementara anak kecil di sampingnya tengah serius menikmati ice chocholate yang tersaji dimeja.

“Jadi kau baru seminggu keluar dari pusat rehabilitasi ?” Yoona membuka pertanyaan untuk Kyuhyun. Sejak enam tahun lalu ketika mereka lulus SMA, Yoona memutuskan kuliah lewat program beasiswa dari Universitas Hongik. Sedangkan Kyuhyun, Yoona tidak mengetahui keberadaan lelaki itu setelah mereka lulus SMA. Para sahabat mereka di black hero juga tidak mengetahui keberadaan Kyuhyun. Barulah sekitar tiga tahun lalu Yoona mendengar kabar bahwa Kyuhyun terbukti menggunakan narkoba dan keluarganya membawa lelaki itu ke pusat rehabilitasi di daerah Daegu. Setelah itu Yoona tidak mendengar informasi apapun tentang Kyuhyun. Entah sebuah kebetulan atau apa, Ia kembali dipertemukan dengan sahabat lamanya. Yoona lega mengetahui  bahwa Kyuhyun baik – baik saja meskipun pertemuan mereka hari ini jauh dari kata baik.

“Nde, akhirnya aku terbebas Yoona-ah. Aku sudah berjanji pada mendiang Ibuku bahwa setelah ini aku akan menjalani kehidupan yang lebih baik.” Ucap Kyuhyun sepenuh hati. Matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana perjuangannya selama ini.

Yoona merasakan sebuah atmosfer kesedihan ketika mendalami tatapan Kyuhyun. Gadis itu tersenyum menguatkan, “Aku sangat senang mendengarnya. Semoga kau tidak lagi terjerumus untuk kedua kalinya, kyuhyun-ah.”

Harapan Yoona barusan menerima anggukan yakin dari Kyuhyun. Yoona senang akhirnya Kyuhyun  sadar dan bersedia meninggalkan barang haram itu. Sepeninggal ibunya, Kyuhyun  lebih sering menghabiskan waktunya dengan kelayapan tidak jelas, hingga akhirnya terperosok kedalam pergaulan bebas. Pada saat itu Kyuhyun memilih meninggalkan Black Hero, namun kini sepertinya lelaki itu memutuskan kembali. Yoona bisa melihatnya dari atribut yang dikenakan lelaki itu, berupa kalung persahabatan bertuliskan ‘black hero’. Mengingat tentang para sahabatnya disana Yoona tiba-tiba berpikir; kenapa mereka tidak datang ke resepsi kepernikahannya… Seingat Yoona hanya Jessica dan Tiffany.

Yoona tidak tahan menyimpan rasa penasarannya sendiri, ia memutuskan bertanya secara langsung.  Apalagi ditengah kecanggungan seperti ini, Yoona merasa perlu untuk mencairkan suasana.

“Yak, Kyuhyun-ah jika kau sudah seminggu bebas, kenapa tidak datang ke pernikahanku ?!” seru Yoona membuang napas kasar, “Kau tahu, aku sengaja menyuruh Boa Eonni mengirimkan undangan ke markas black hero tapi yang datang hanya Jessica dan Tiffany, menyedihkan sekali ! Ya aku tahu mungkin kalian kecewa karena aku memutuskan keluar dari genk tapi tetap saja sebagai sahabat seharusnya kalian menyempatkan datang.”

“Aigoo, kau masih saja cerewet seperti dulu.” Kyuhyun membasuh telinganya yang tiba – tiba gatal, “itu… kami sebenarnya ingin datang, tapi kami tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk menghadiri resepsi yang mewah itu. Aku dan lainnya benar-benar merasa minder. Mianhae Yoona-ah jeongmal mianhae.”

Alasan yang dikemukakan Kyuhyun beberapa detik lalu hanyalah alasan teman-temannya di black hero. Yang sebenarnya Kyuhyun berbeda dengan teman-temannya. Ia tidak merasa minder hanya saja ia merasa tidak sanggup jika melihat Yoona bersanding dengan pria lain selain dirinya. Kyuhyun mengingat ia baru saja merasakan kehidupan baru pasca rehabilitasi dan rupanya ia harus menelan pil pahit. Tiffany mengabari bahwa Yoona akan menikah. Pada saat itu hatinya hancur dan mulutnya tidak dapat berkata-kata. Impian tentang kehidupan baru yang selama ini diidam-idamkannya hilang dalam sekejap mata.

“Tapi tenang, Hadiah pernikahanmu sudah kami titipkan pada Tiffany.” Kyuhyun mengesampingkan pikirannya dan tersenyum hendak menghibur Yoona.

“Nde Aku sudah menerimanya, Gomawo. Tapi aku hanya mengharapkan kedatangan kalian.” Balas Yoona dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Jadi tumpukan kado berisi Lingerie di malam pertamanya adalah hadiah dari mereka ? menggelikan…

“Yoona-ah mianhae, Mengertilah.” Kyuhyun memohon dengan wajah penyesalan.

“Ya ya ya, Aku mengerti.” balas Yoona terpaksa. Perasaan kecewa terhadap teman-temannya sebenarnya masih bercokol, namun Yoona berpikir lebih baik perasaan seperti itu dimusnahkan segera.

“Oh ya, Maaf atas kejadian tadi. Aku sudah mencurigaimu berbuat jahat pada Sehun—anakku.” Yoona meringis tidak enak hati,

“Anakmu ?” kyuhyun membelalakkan mata. Tidak seharusnya ia terkejut karena berdasarkan apa yang ditangkap oleh telinganya, anak itu memanggil Yoona dengan sebutan Eomma. Namun tetap saja Kyuhyun berharap jika ini hanyalah mimpi.

“Nde, Anyeonghaseyo Lee Sehun Imnida.” Tiba – tiba Sehun bangkit memperkenalkan diri membuat Kyuhyun terbangun dari mimpinya. Tidak, ini nyata ! Ia pasti sudah gila menganggap ini mimpi. Yoona sudah menikah Cho Kyuhyun, bahkan dia sudah mempunyai anak. Harapanmu sudah musnah untuk bersanding dengannya. Kalau bukan karena barang haram itu, kemungkinan besarnya kau sudah bersanding dengan Yoona sekarang…. Tapi kenyataaannya, harapan hanya tinggal harapan.

Aku sekolah di TK Yongsan, Usiaku sekarang enam tahun. Salam kenal Ahjussi.” Sehun membungkuk hormat  sebelum akhirnya duduk seperti semula.

Kyuhyun tersenyum seraya mengusap kepala anak itu, “Nde. Kau anak yang manis.”

“Tapi sejak kapan kau hamil dan melahirkan ? Kau dan Aku bahkan selalu bersama-sama sejak SMP.” Kyuhyun menghentikan usapannya dikepala Sehun lalu menatap Yoona. Lelaki itu mengernyit bingung.

“Tunggu…  Apakah kau menikah dengan seorang…. duda ?”

“Anyioo.” Bantah Yoona mengibas-ibaskan tangannya, “Sebenarnya Donghae—eh Suamiku, dia bukan seorang duda tapi dia membawa seorang keponakannya yang yatim piatu lalu kami mengadopsinya.”

“Nde, sekarang Eommaku adalah Im Yoona dan Appaku bernama Lee Donghae.” Lanjut Sehun dengan lantang. Anak itu tersenyum bangga, “Yoona eomma hanya untuk Donghae appa.”

Perkataan Sehun yang terakhir membuat Yoona secara otomatis terkekeh tapi tidak untuk Kyuhyun, Lelaki itu hanya menarik senyum simpulnya. Namun senyum simpul itu menghilang secara perlahan karena secara tak terduga Sehun meniup gelembung sabun bertubi-tubi kearahnya. Kyuhyun tersentak.  Lelaki itu memejamkan mata berusaha melindungi wajahnya dari gelembung sabun yang menghadang.

“Sehun-ah berhenti !” seru Yoona menginterupsi keisengan Sehun. Bukannya menurut, anak itu berbalik menjulurkan lidahnya ke arah Kyuhyun yang mulai jengah dengan tingkah anak itu mengarahkan gelembung sabun tanpa henti. Kyuhyun mengibas-ibaskan tangannya tidak suka.

“Yoona.. Tolong aku, kau kan ibunya. Hentikan dia !”

Yoona menenangkan diri agar sebisa mungkin tidak tertawa didepan Kyuhyun. Gadis itu menarik napas lalu menghembuskannya perlahan – lahan, “Arasso, arassoo.”

“Yak, Sepertinya anakmu nakal Yoona, kau pasti sangat lelah merawatnya.” Tanggap Kyuhyun merasa prihatin setelah Yoona berhasil menjinakkan Sehun. Yoona mengalihkan perhatian anak itu dengan mengajaknya berbicara tentang pintu café yang berbunyi setiap ada pengunjung yang masuk.

“Sebenarnya tidak juga, Dia anak yang baik hanya saja mungkin anak itu sedang dalam mood yang buruk. Aku juga tidak tahu kenapa sifatnya berubah seperti ini.” Yoona tersenyum tidak enak hati.

“Awhh.” Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu berpindah kebelakang Yoona. Rupanya Sehun belum berhenti meniupkan gelembung sabun kewajah Kyuhyun.

Yoona  mati – matian menahan tawanya menyaksikan wajah Kyuhyun yang tiba – tiba pucat. Namun posisinya sekarang adalah seorang ibu, maka Yoona terpaksa mengatakan ini, ”Sehun-ah, berhenti dan cepat minta maaf pada Paman.”  Perintahnya tegas. Tiga detik setelah itu, Sehun menghentikan aksinya. Yoona tersenyum puas.

Kyuhyun menghela napas usai duduk seperti semula.

“Mianhae Ahjussi.” Ucap Sehun membungkuk disampingnya. Wajah itu terlihat polos tanpa dosa melunturkan kekesalannya dalam sekejap. Terlebih ketika dia tersenyum dan memamerkan cengirannya, Kyuhyun terpaku mengingat sesuatu. Anak itu sangat mirip dengan Yoona.

“Sehun biasanya kalem dan penurut. Mungkin tadi itu, Sehun hanya ingin mengajakmu bermain.” Jelas Yoona berharap Kyuhyun memaklumi. Yoona sendiri bingung dengan tingkah Sehun. Apa Jangan-jangan …anak itu tidak menyukai Kyuhyun ? Tapi kenapa ?

“Sehun sepertinya mirip denganmu. Kalian akan menjadi pasangan yang cocok.” Tanggap Kyuhyun mengelus kepala Sehun. Anak itu tersenyum polos sebelum berpindah menyeruput chocholate ice– nya. Sehun tampak lebih tenang sekarang. Tapi tetap saja tatapan anak itu seperti mengisyaratkan sesuatu pada Kyuhyun.

“Benarkah kami mirip ?” Yoona mengerutkan kening. Ia memang merasa memiliki kecocokan dengan Sehun dibanding dengan Appanya, Sehun lebih nyaman untuk diajak bersenang-senang. Bahkan, Yoona sudah memikirkan ini sejak tadi; Jika ia bertemu Sehun dalam wujud sepantaran dengannya maka ia akan memilih anak itu ketimbang Donghae yang kolot dan kaku.

“Nde, Jika Sehun adalah perempuan, mungkin ia bisa menjadi seorang Yoona kecil.” Kyuhyun menyampaikan hipotesanya. Yoona tersenyum lebar, sedikit mempertanyakan ini, “Jinja ?”

Kyuhyun mengangguk yakin.  Akhirnya Yoona memilih membenarkan. Anggap saja ini takdir.

“Oh iya mumpung kita bertemu disini aku ingin memberimu ini.” Kyuhyun menyodorkan kartu undangan bergambar pantai dengan model seorang namja sixpack. Pikiran Yoona tiba-tiba mengingat tubuh sixpack Donghae bahkan wajah model yang tercetak diundangan itu berganti menjadi wajah Donghae didalam angan – angannya. Yak Im Yoona, pikiran kotor apa lagi yang ada dikepalamu ?! hapus… hapus..

“Ngomong-ngomong apakah ini undangan ulang tahun beerhouse ayah mu ?” Terka Yoona mengalihkan pikirannya untuk hal – hal yang lebih berguna. Mengobrol dengan Kyuhyun jauh lebih berguna ketimbang memikirkan Lee Donghae, lelaki tidak jelas itu…

“Kudae, tema perayaan kali ini adalah ‘beach’ jadi mungkin dekorasi beerhouse ayahku akan terasa seperti di pantai. Dan juga akan ada pemilihan pria ter-sexy tentunya. Kau pasti sangat menyukainya.”

Kedua tangan Yoona terkepal dikedua sisi wajahnya. Pandangan gadis itu mengawang – awang penuh gambaran mengenai kumpulan pria – pria hot, “Wow, Neomu neomu joahaeyooo.” Kagum Yoona diselingi aegyo.

“Acaranya malam minggu. Teman-teman black hero juga akan datang. Kau juga harus mengajak suamimu, satu undangan untuk dua orang.” Ucap kyuhyun dengan senyum lebar namun siapa sangka hatinya bagaikan teiris-iris menyadari perkataannya sendiri. ‘Yoona dan Suaminya, terdengar menyakitkan’.

“Tapi.. Mianhae Kyuhyun-ah, jika itu berhubungan dengan acara black hero, mungkin aku tidak bisa datang. Ini sudah menjadi komitmenku pada Boa Eonni.” Jelas Yoona sedikit menyesal.

“Aniya, ini acara ulang tahun beerhouse ayahku bukan acara black hero Yoona.” Kyuhyun berpikir sejenak kemudian melanjutkan, “hmm… walaupun Black hero akan menjadi bagian dari acaranya tapi tetap saja ini hanya perayaan ulang tahun biasa.”

“Kyuhyun-ah bukan seperti itu maksudku—“

Rona wajah Kyuhyun berubah drastis, membuat Yoona tidak tega, “Ya ya baiklah akan aku usahakan tapi tidak janji.”

“……..”

 “Oh ya ahjussi, Sehabis ini mau kemana ?” Suara Sehun memecah keheningan diantara percakapan itu.

“Aku ?” kyuhyun tersentak menunjuk dirinya sendiri. Sehun mengangguk.

“Aku ingin ke stasiun bawah tanah tapi sepertinya terlalu lama di pusat rehabilitasi membuatku lupa arah.” jelasnya terkekeh.

Drt… drt… drt… Yoona tersentak menemukan ponselnya berbunyi. Senyum diwajahnya perlahan luntur melihat siapa yang saat ini menghubunginya.

“Siapa ?” Kyuhyun menyadari adanya perubahan diwajah Yoona. Lelaki itu mengernyit.

“Itu Appa !”

Yoona menatap malas kearah benda itu. Dengan terpaksa Ia mengangkatnya.

“Yoboseyo.”

………………….

“Jadi sekarang apa rencanamu ?” Leeteuk menyelidiki berlembar – lembar berkas diatas meja dengan serius. Meja kerja Donghae yang tadinya kosong kini dipenuhi benda – benda berserakan. Sementara itu sang pemilik meja sibuk dibaliknya mempelajari data – data perusahaan yang tertera didalam laptopnya.

“Aku akan menggunakan akses perusahaan ini untuk menyelidiki orang – orang itu dan tentunya membuat mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk meraih tujuan mereka.”

Leeteuk mengangguk, “Aku yakin akan ada banyak pihak yang terganggu.”

“Itu tidak masalah.” Donghae mengangkat bahunya. Bagaimana pun ia sudah bersiap untuk ini.

“Bagaimana dengan rekaman itu ? Apakah kau sudah menemukan sebuah benda yang bentuknya mirip lipstick ditempat terjadinya kecelakaan ?” Selidik Donghae mulai penasaran dengan benda itu pasalnya Jin Hae sudah berpesan sebelum meninggal, Donghae harus mencarinya sampai benda itu diketemukan, namun hingga kini belum ada titik terang sama sekali.

Leeteuk merenung sebentar mengusap – usap dagunya seolah mempertimbangkan, “Belum, aku belum menemukan benda itu, tapi kemungkinan Jinhae diam – diam melemparnya ke-tepi jalan sebelum mobil yang ditumpanginya terjun ke jurang. Jadi bisa kusimpulkan rekaman itu tidak ada ditempat kejadian, melainkan disekitar TKP.”

“Apakah… kemungkinan ada yang memungutnya ?”

“Bisa jadi.”

“Lalu bagaimana cara menemukannya ? Hyung lakukan segala cara, benda itu adalah bukti terpenting untuk menangkap dalangnya.”

“Tenanglah Donghae. Aku akan berusaha mencarinya tapi kalau benda itu tidak bisa diketemukan, aku akan memikirkan cara lain mengingat fakta yang baru saja kutemukan.”

“Fakta ?”

“Hmm fakta bahwa kecelakaan itu memang kesengajaan bukan hanya sekedar musibah karena jalanan licin.” Ungkap Leeteuk, “Setelah kuselidiki ternyata supir yang mengendarai mobil naas itu sedang terlilit hutang.”

“Mwo?”

“Ada kemungkinan supir itu berada dibawah ancaman atau dia memang sedang frustrasi…”

Donghae menyipit, “Bagaimana kalau supir itu dibayar oleh seseorang—“

“Nah. Aku sedang memikirkan kemungkinan itu. Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti oleh karena itu aku sedang mengumpulkan bukti – bukti.”

Donghae mengangguk pelan memikirkan kata – kata Leeteuk. Ini kabar baik. Sedikit – demi sedikit fakta mulai terungkap dan tidak lama lagi ia akan meringkus penjahat – jahat itu.

“Baiklah lakukan yang terbaik. Kasus kecelakaan Jin Hae Noona kuserahkan padamu, Hyung.”

Leeteuk tersenyum penuh arti, “Tenang, aku memang dibayar untuk itu.”

“Ya kau benar.” Donghae menangguk lalu mengembalikan fokusnya kearah monitor yang menyala.

Ada sesuatu yang janggal disini. Leeteuk membalik lembar demi lembar tumpukan berkasnya. Lelaki itu termenung mengingat – ingat wajah pelaku yang saat ini dicuringainya,  tiba – tiba ia menghawatirkan sesuatu.

“Boleh kutahu Sehun pergi kemana ?”

“Sehun ?” Donghae menatapnya selagi berpikir, “Aku tidak tahu, mungkin Yoona membawanya pulang…”

“Donghae-ya, kau harus memastikan keberadaan anak itu.”

Donghae mengernyit. Belum habis kebingungan dikepalanya, wajah Leeteuk bertambah menegang.

“Donghae-ya sebaiknya kau lebih sering mengawasi mereka.” Peringat Leeteuk. Alis Donghae terangkat mempertanyakan.

“Bukan apa – apa tapi… Anak itu sedang tidak aman saat ini, pihak – pihak tertentu masih mengincarnya, dia harus diawasi dua puluh empat jam. Karena itulah Jangan sampai istrimu membawanya kesembarang tempat— kau mengerti maksudku kan ?”

Isyarat wajah Leeteuk dipenuhi tanda peringatan. Donghae lantas meraih ponselnya yang tergeletak dimeja. Jemarinya menggeser layar touch screen untuk segera menghubungi sebuah nomer. Im Yoona. Donghae menaruh ponselnya disamping telinga berharap gadis itu mengangkatnya. Donghae sendiri tidak mengerti  kenapa Ia tidak memikirkan resiko keamanan Sehun. Donghae hanya merasa bahwa anak itu akan baik – baik saja selama berada dibawah pengawasan Yoona. Entah karena Ia terlalu percaya pada gadis itu atau apa… Donghae membiarkan  Yoona membawa Sehun tanpa kehawatiran apa pun, tidak seperti ketika Sehun bersama orang lain bahkan Eommanya sendiri.

“Yoboseyo.” Suara Yoona terdengar dari seberang. Donghae tersentak hingga akhirnya berbicara langsung keinti, “Yoona-ssi, kau dimana ? Apakah Sehun baik – baik saja ? kemana kau membawa anak itu ? Ingat kau jangan membawanya kesembarang tempat—“

“Bukan urusanmu.”

Tut. Tut. Tut.

Donghae menatap layar ponselnya dan mengumpat, “Ada apa dengan gadis ini ? Ya! Yoboseyo ? Yoboseyo ?!!!”

“Ada apa ?” Leeteuk memajukan wajahnya penasaran.

“Lihat Hyung, dia sudah berani memutus teleponnya.” Tunjuk Donghae memperlihatkan layar ponselnya yang  kosong—tidak berada dalam sambungan apa pun.

Leeteuk berdecak, “Kalian berdua sama saja.”

“Ani. Kau jangan menyamakanku dengannya. Dia yang pertama kali menyulut api pertengkaran denganku, selalu seperti itu ! Bisa kau bayangkan istri macam apa dia?!” Donghae mengusap – usap wajahnya kasar. Usai mengumpat seperti itu kepalanya langsung berdenyut.

Leeteuk bergeleng – geleng menanggapinya sedikit putus asa, ”Bagaimana bisa rukun kalau sikap kalian seperti ini.”

“Sudah kubilang dia sangat kekanak – kanakan—“

“Aku tahu.” Sambar Leeteuk membuat Donghae menatapnya.

“Romantis.”

“M-wo ?”

“Kau harus bisa lebih romantis.” Ujarnya mulai meggebu – gebu, lelaki itu menambah, “Bagaimana pun yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan yang harmonis tidak hanya sekedar skinship. Kau harus bersikap lebih romantis.”

Donghae merenung tampak memikirkan kata – kata Leeteuk. Bersikap lebih romantis dihadapan Yoona… apakah hanya itu satu – satunya cara ?

……………… TBC ……………

Akhirnya selesai juga, maav atas keterlambatannya yang penting aku lanjutin, nggak papa kan hehe ^^

Keep RCL yaaa, gomawo ^^

74 thoughts on “FF YoonHae– Sweet Legacy Part 9

  1. soongratih97 berkata:

    Haduh.. Sikap mereka berdua lucu banget.
    Tapi ceritanya kok kepanjangen yah… hehehe.. pengennya yoonhae momentnya di banyakin lagi.
    Ditunggu. Kelanjutannya eonni..
    Fighting

  2. ldhharu berkata:

    akhirnya yang ditunggu2 dipublish juga hehehe
    keluarga kim emang jahat semua yaa
    ada sedikit adegan yoonhae jg hahahaha
    hubungan yoonhae selanjutnya kek gmn nih??
    dibikin romantis lagi ya next part hehehe
    sehun itu juga kenapa ga suka sama kyuhyun ya dia? karna kyu suka yoona?? atau ada alasan yg lain?
    ditunggu part selanjutnya ya, kl bisa jangan smp lama *maksa. ga kok hehe gunain waktu aja yg enak buat nulis ffnya lama jg ga apa kl pembaca bisa dapet feel hehehe
    fighting!!!!!^^^^^^^^^

  3. ida ziiosay berkata:

    Jadi ga ngerti si donghae pngenya skinship mulu tapi gatau perasaan dia sebenernya keyoona , yoonanya juga sama si donghae resep amat nyosor si yoona lucu ama dua pasangan ini , kayanya yang punya niat jahat emang kakenya sehun ko jahat gtu si pdahal udah tua masih aja jangan2 dia penyebab kecelkaan orang tua sehun , jangan sampe heecul tau perjanjian yoonhae bisa gawat diakan cabe pasi mulutnya ember haha
    Cie bakalan ada orang ktiga nih d.antra yoonhae bagus si kehadiran kyuhyn biar tau reaksi donghae gmna qlo ada yg dket2 am yoona
    Next dtnggu chap slnjutnya
    #fighting

  4. wusabin berkata:

    Heechul tertarik sama Yoona ya ? Wah danger banget ini mah wkwk. Jadi Kyuhyun itu sahabat Yoona yang udah lama nyimpen perasaan ke Yoona, duh kasian ya. Sehun sikapnya aneh begitu mungkin karena dia tau kalo Kyuhyun itu suka sama Yoona, dan dia ga mau ada orang yang ngeganggu hubungan Donghae sama Yoona, anak yang baik haha.

  5. chalistasaqila berkata:

    Akhhh.. Kangen bgtz sma nie FF..
    Author kmn aj sih?? Aq udh nunggu2 bgtss nie FF..
    Part nie aq ska bgtz.. Yoonhaenyaa jga lucuu.. Mreka qlow berduaan pasti slalu d ganggu.. Hehee
    Pokoknya ditunggu bgtzz next partnyaa

  6. YH Lulu berkata:

    ya ampun yoonhae udah baikan eh berantem lagi..
    kayanya mereka bakal selalu berantem deh..
    ditunggu next nya thor buat yoonhae makin romantis lagi..🙂

  7. Vaniza Rianie berkata:

    Alhamdulilah akhirnya di next juga walaupun agak lama hehe ..
    huh lumayan panjang ya ,tapi pengen nya sih lebih panjang dari ini soalnya gak pernah puas dan gak pernah bosen bacanya ..
    Makin suka un ,tadinya brharap di chap ini bakal lebih banyak skin ship nya ternyata ..malah yoona pengen udahin semuanya ..tapi bersyukur sih akhirnya yoona masih mau turutin semua kata kata Donghae buat terus lanjutin membangun camistry ..huh semoga ini bakal terus berlanjut ya bahkan pengen nya sampe ketahap selanjutnya tanpa ada yang ganggu terus .
    Yaudah lah di tunggu next part nya un ,semoga gak akan lama kaya part ini ya dan semoga di next chapter nanti skin ship bakal lebih waw dari chap ini atau chap sebelumnya biar lebih greget ^^ hehe fighting ..

  8. ayrinayoong berkata:

    Akhirnyaaaa keluar juga part ini setelah bolak balim buka blog in belum muncul heheheee
    Wooww hae oppa nafsu banget cium yoona ampe bengkak gtu
    Aaahhh lanjuut thor gak sabaar nunggu gmna romantisnya hae oppa ma yoong

  9. rahmania berkata:

    Ajaran leeteuk bnr2 sesat kwkk…kwkk…. Donghae jd ketagihan pingin nyosor yoona terus,bnr2 senjata mkn tuan kekk…kekk….btw yoona 11 12 ama donghae,yg ada dlm otaknya hanya hal2 yg mesum.ceritanya makin menarik n sdh dtg pihak ke3 dr yoona.

  10. rahmania berkata:

    Ajaran leeteuk bnr2 sesat kwkk…kwkk…. Donghae jd ketagihan pingin nyosor yoona terus,bnr2 senjata mkn tuan kekk…kekk….btw yoona 11 12 ama donghae,yg ada dlm otaknya hanya hal2 yg mesum.ceritanya makin menarik n sdh dtg pihak ke3 dr yoona.nextnya jgn lama2 ya,penasaran bgt hal romantis apa yg bakal dilakuin donghae.

  11. uly assakinah berkata:

    akhirnya ini ff di post juga. yoonhae udh mulai jatuh cinta ya seneng deh walaupun mereka belum menyadari kalo saling cinta tapi aku seneng bacanya. oke deh di tunggu lanjutan ceritanya chingu

  12. Limhyelim berkata:

    Sehun lucuuu banget sih dia ga suka kyu gra gara bisa baca pikirannya kyu ya? haha sehun bener bener Yoonhae Shipper, dia ga suka kyu punya perasaan sm eommanya 😁😁😁 Btw part paling bikin gemesh tuh YHM nya. Ku tungg lebih banyak YHM di part selanjutnya ya eon, semangt trus semoga jangan terlalu lama di updatenya kk~ Ff na eonnie fav ku bgt soalnya hehe

  13. tryarista w berkata:

    yoonhae skinshipnya selalu aja ada yg gangguin,,,,,,
    pgen nya yoonhae yg sweet2,pi selalu sja mereka brtengkar ,
    dan apalagi ini muncul kyuhyun,,,,heeem dan kyaknya kyu sejak dlu menyukai yoona lbh dr temen,,,,satu lgi heechul jg mulai tertarik dgn yoona,,,,
    donghae bkl pnya saingan nichhhh,,,,,
    dan kyaknya akan tambah pelik nichhh konfllik ,,,,,,,??????
    pgen yoonhae akur,,,,,jgn bertengkar mulu bosan jg ,,,,aplgi muncul org2 baru,,,,,
    heeeemmm suka kata2 sehun”yoona eoma hny tuk donghae appa”

  14. fiony andam berkata:

    Waaaa.udah kangen parah sama ff iniii.itu sehun iseng sama kyuhyun karna tau kyuhyun naksir yoona?haha.donghae yoona kapan naena nyaa ehhh nungguinwkwk. Oiya heechul juga demen ama yoona ya.saingan donghae banyak jugaaaa.next jangan lamaaaa

  15. ina gomez berkata:

    Ngakak pas lht yoona sng bgt main remote gorden jendela hahaha n lg2 yoona ngmbek gr2 remotenya direbut ma hae hehe
    Ya ampub sehub jail bgt si ma kyu,tlgr2 tau lox kyu suka ma yoona jd dijailin dh tu si kyu y hehe
    Duh jgn sampi haechul tau lox yoonhae bersandiwara.
    Ditunggi nextnya saeng ma ditunggu kdtngan adiknya sehun 😀😀😀

  16. Iis solihat berkata:

    Lucu bnget dengan sifat yoonhae
    Kocak lihatnya
    Tpi msh ptingin ego jg
    Ksihan lihat sehun
    Untung ad yoona eoni yg jdi eommanya skrg
    Hahah stju dgn kyuhyun
    Sehun sma sprti yoona
    D tnggu chap sljtny
    Fighting

  17. sintayoonhae berkata:

    Sumpah gk rela bgt tdi pas bca tbc…. Pngn baca trus,, author hebat bsa bkin reader kecnduan gni #apadeuh yaampyun yoonhae klian ribut2 so sweet hohoho… Jdi gk sbar nnti klo mrka romantis.a gmna… Dtggu next part.a thor fighting😀

  18. Sfapyrotechnics berkata:

    Hahahaah😀 Yoonhae kerjaannya ribut mulu😀 Tpi pasti ujung² ada aja penawaran(?) yg kluar😀 atau nggk ciuman maut yg kluar😀 Kasian yoong bahunya masih sakit krn tongkat mautnya neneknya hae😀😥 Aigooo bnar yah ternyata kluarga Kim bner² jhat:/ Smoga aja chullie nggk gnggu yoong:/ Aigooo sehun udh mulai nakal😀 Kasian bnget kyu dikira org jhat😀 Ohiyaa kyu dlunya suka sma yoong smpe skrng?? Smoga aja nggk ganggu khidupan RT yoonhae🙂 Aigooo leeteuk suka bnget provokasi in ongekkk dgn bermacam² hasutannya😀 Skrng hae d sruh lbih romantis,, gmana nnti yahh??

    Next.. fighting eonni🙂 Jgn lama²

  19. nina berkata:

    aigooo… hae sma yoona sma2 kekanak2kan.. wkwkwkw… ekhmm ekhmmm makin wow aj ni. aishhhh teuki ganggu moment penting aj. wkwkwwk… omooo heechul tertarik sm yoona,,, bkin yoonhae jtuh cinta bnrn dong, dn buat yoona hmil, hehehe. ohh ad kyu, kykny bkl ad yg cmburu deh… dtggu nextny

  20. indira berkata:

    di post juga ni ff
    heechul kya nya suka sma yoona deh
    itu donghae nyosor mulu ke yoona tpi yoona nya juga mau kga nolak,
    sehun lucu tpi juga kasian

  21. Chezta berkata:

    Yoonhae emg lucu dan romantis …..
    Seneng bgt scene yoonhaenya.. yoong polosnya g ketulungan yg dipikirin denda j
    next

  22. lia861015 berkata:

    makin gk ngerti lagi deh sama pasangan yoonhae,setiap habis romantis2an nanti ujung2nya berantem lagi ^^
    Mudah2an donghae bisa menyelesaikan masalahnya sama keluarga kim itu
    sekarang klo sehun dimarahin sama donghae,sehun udh ada yg belain yaitu yoona ^^ senangnya sehun punya eomma baru😀
    Ditunggu next chapternya ya thor😉

  23. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    ooohh jadi selama ini hubungan skinship donghae ke yoona itu rencana yah, donghae nggak bener-bener suka sama yoona ? kata-katanya kalau di denger yoona nggak enak ‘memanfaatkan’ pasti yoona bakalan sakit hati tuh walaupun emang bener mereka cuma sandiwara.
    sehun tau kalau kyuhyun suka sama yoona makanya dia ngejahilin kyuhyun hehhe kasihan deh kyu.
    haha para karyawan wanitanya pasti jingkrak-jingkrak gara-gara ulah sehun ckck.
    tingkat kekesalan yoona sama donghae naik turun kayak jalan.
    next…!!

  24. Anonim berkata:

    ooohh jadi selama ini hubungan skinship donghae ke yoona itu rencana yah, donghae nggak bener-bener suka sama yoona ? kata-katanya kalau di denger yoona nggak enak ‘memanfaatkan’ pasti yoona bakalan sakit hati tuh walaupun emang bener mereka cuma sandiwara.
    sehun tau kalau kyuhyun suka sama yoona makanya dia ngejahilin kyuhyun hehhe kasihan deh kyu.
    haha para karyawan wanitanya pasti jingkrak-jingkrak gara-gara ulah sehun ckck.
    tingkat kekesalan yoona sama donghae naik turun kayak jalan.
    next…..

  25. Tya berkata:

    Akhirnya dilanjut jg
    Puas banget baca ceritanya
    Keluarga kim emg jahat semua?
    Dan heechul trtarik beneran sm yoona atau gmn?
    Waa, yoonhae sllu ga ingat tmpat, di kantor pun ttp aja wkkwkw
    Kenapa sehun tiba” jd nakal? Untung yoona bisa nenangin dy
    Trs, kenapa sehun kaya ga suka sm kyu, krn kyu suka yoona atau hal lain?
    Ditunggu kelanjutannya

  26. Dianssy berkata:

    Akhirnya dilanjut juga…
    Pengen ngakak (udah ngakak malahan) gagara Yoona menjadikan alasan dipukul nenek Dongek itu peringatan dr Tuhan kkk…
    Trus apalagi tuh nyebut2 SALE besar2an… asli ngakak banget wkkwkwk
    Yoona mudah di pengaruhi😂😂
    Om Eeteuk tau caranya bikin harmonis hubungan keluarga.. eh dia sendiri udah berkeluarga belom disini? Kkkk… hatam keknya dia lol

    Kyuhyun??? Lah kok gue curiga duluan gagara dr batinnya Yoona gagara pas Sehun jahilin Kyu mulu? *udah su’udzo aja sih gue xD

    Ditunggu kelanjutannya… eh Nyuna masih keracunan aja. Cepet cari penawarnya 😃😃😃

  27. DianYoongie berkata:

    Akhirnya dilanjut juga…
    Salah komen pake akun satunya~ 2 akun satu org pokonya xD

    Ditunggu lanjutannya kk… udah terwakili komenanku sama akunku yg satunya hehhe
    Ditunggu lanjutannya.

  28. tya nengsih berkata:

    Donghae yoona sama2 berdebar2 bila berdekatan….mulai da benih2 cinta….
    Waduh heechul da bisa nebak klou si yoona istri bayaran…..
    Makin tambah seruuuu…. Nextnya ditunggu

  29. RuqYuyuk YoonAddict berkata:

    masalah sudah menanti nih,
    Ya ampun YoonHae tadi berdebat, tapi setelah itu mereka skinship yang itu tuh….
    Ada aja yg ganggu moment nya YoonHae, gk Sehun, gk nenek nya, Leeteuk juga ikutan ganggu moment YoonHae nya.. banyakin moment YoonHae nya ya…… next chapter nya di tunggu…….

  30. Hwang Qian berkata:

    Aku seneng part ini panjang tapi tetep nyesek pas baca bagian tbc….😦😦😥

    Jadi skinship itu saran dari leeteuk tohhh…
    Ayoo donghae semangat biar bisa dapet chemistry sama yoona

    Thor disini kyuhyun jadi anak punk ya, kayaknya kurang pas deh, hehehe….

    Cepet di lanjut ya🙂 waiting for u❤

  31. lee yuna berkata:

    heran sma sikap mereka berdua klo uda rukun aja lupa sma semua smpk2 hampir keblabasan lah klo uda bertengkar ampun2 buat baikan aja susah bngt
    next thor fighting…!!

  32. han ji bin berkata:

    kya’a mrka dah mulai ada perasaan tpi mrk ngelak gt
    lnjt chingu aq penasaran ama kelanjutan kedekatan mrk, dan skrg dah mulai muncul sii evill
    jdi tmbh menarik

  33. Firda Yoonhae berkata:

    makin seru dengan kehadirannya kyuhyun.
    sehun kelihatan banget kalo ngga suka sama kyuhyun.
    yoonhae bener2 kekanak kanakan dan leeteeuk kasih saran yg bagus lagi buat donghae biar makin liar ke yoong, keluarga kim bener2 jahat pantes sehun ngga suka

  34. Beyoonhae berkata:

    Finally di lanjut juga aku hampir tiap hari ngunjungin blog ini buat ngecek klanjutan ff sweet legacy:D wahhh makin seruuuuuu buat donghae jadi jealous ke kyu wkwkwk moga next part ga selama part ini yahhh jeballll thorrrrr jgn lama2 heheheh._.v fightinggggggg

  35. ninin berkata:

    Kyaaaffnya…. pnjang bgt, aku suka aku suka….
    Ada pemeran baru lg nih, si pelengkap cinta segitiga a.k.a kyuhyun. Kasian si Boa di boongin adeknya mulu’ kkkkk..
    Nextnya sekali kutunggu, gumawo….

  36. ViDaY berkata:

    bingung mau komen apa.. hehehe..
    untuk chapter ini komen ku please lanjutkan thor.. crpat di lanjut dan cepat di publiah🙂

  37. Iwed berkata:

    Makin seru aja nih ff nya
    Kalo Donghae tau kalo Heechul suka sama Yoona entar reaksinya dia gimana ya ???
    Penasaran sama Donghae yg mau bersikap romantis sama Yoona.
    Next thor

  38. Nha elna berkata:

    Yahelah,belum puas.
    Suka sm karakter yoona,tomboy tpi manja.

    Itu mereka berdua ber debar2 tpi blm punya perasaan apapun kah?
    Atau emg blm sadar?

    Tambah seru,smoga cepet di lanjut..
    Seperti biasa Moment YH nya sweet bgt,tpi kurang banyak. .

  39. triyoona_im berkata:

    Hiiii suka bgt sama ini ff ^^ hmm kyuhyun ternyata memendam perasaan sama yoona, dan mungkin itu yg membuat sikap sehun ga seperti biasanya yg kalem haha.. Tuh haeppa dengerin nasehat leeteuk hrs lebih membangun chemistry, contohnya dgn bersikap romantis ke yoona wkwk

  40. detolyhhun berkata:

    yoonhae berantem mulu tpi sekalinya nempel so sweet benerr … seneng lihat interaksi si sehun ama yoona berasa bgt fellnya… next chap di tunggu

  41. Husni berkata:

    pleaaaase pengen ngeliat mereka romantis kayak gimana ???????!!!!!!!!!!!!! apalagi skrang muncul cowo pengganggu, brhrap ada moment cembukor antar YH ^^ _^^ Sweet legacy part 10 semoga bisa fast posting ya sha ^^ #Sangat-berharap

  42. Ayu Niyala berkata:

    itu si teuk ganggu moment banget deh padahal yoonhae lagi so sweet so sweet nya, aku jadi ngebayangin seandainya gada pengganggu (?) apa yang akan terjadi (?)
    yoona otaknya yadong banget wkwkwk, nah si donghae nya juga kalo kata author ‘bertingkah seolah ingin menyalurkan nafkah batin’ hahahhaha btw lucu banget tuh sumpah kalimatnya, n akhirnya jadi nagih deh lupa ama larangan dari boa…
    Untuk Sehuuun kamu benar2 jahil deeek pengen aku cubit tuh anak nakal banget wkwkwk
    oh ya disini apakah donghae benar2 menyukai yoona ? apa hanya untuk dimanfaatkan ? begitu juga sebaliknya dgn perasaan yoona, blm ketauan apakah pure karena suka, sayang or cinta ? apalagi sekarang ada Kyuhyun.. hmm apakah bisa ada orang ketiga ? karna sepertinya kyuhyun naruh hati ama Yoona dan itu yg buat sehun ga suka ama kyu ahjussi😀 pokoknya aku tunggu kelanjutannya.. fighting buat nulisnya🙂 fighting fighting !

  43. yoonhae3015 berkata:

    duh mereka berdua klo akur so sweet banget giliran bertengkar hmmzz
    entah kenapa pengen ilangin perjanjian antara donghae yoona dan boa
    keknya kyuhyun bakal ikut andil dlam hubungan yoonhae nih, makin seru pasti
    yoonhae romantisan lebih baik kekee…
    ditunggu lanjutannya^^

  44. Nurul hidayah berkata:

    Mereka kadang2 sweet bgt kadang2 kayak tom&jerry, aq suka alurnya, pas n gk keburu-buru, setiap ada m0mment sweet YH selalu ada penggangu #wkwkwk
    Yah eon next chap d tnggu ne? Fighting

  45. alifah zahra berkata:

    beuhhh nih yoonhae berantem terus tp kalo udah nempel soweet nya kebangetan..
    ntuh juga om leeteuk ganggu bener dah padahal yoonhae pan lg soweet2 nya..
    buat sehun kenapa km nakal dek tp sifat nya ngegemesin..btw kaya nya sehun tau klo kyuhyun suka sama yoona deh keliatan dari sikap sehun ke kyuhyun ky kurang suka gitu
    sorry thor gw cuman nebak doang hehee..

    gw tunggu next cerita’nya ya..

  46. ichus berkata:

    Wahhh mulai konflik kyaknya
    kyuhyun heechul arrggghhh, thor jgn berat2 yah konliknya. moment yoonhae jg jngn berkurang.
    Mm ff ini klo bisa gak usah bnyak2 partnya…
    #tendang aja aq mah. Reader bnysk maunya
    semangat thorr, smoga ide2 mnarik gmpang bermunculan

  47. alifah zahra berkata:

    nih si yoonhae tiap hari berantem trus tp kalo udah nempel soweet nya kebangetan..
    itu lagi om leeteuk ganggu bener dah orang lagi mesrah2an malah di ganggu..
    terus tuh si yoona kenapa jadi yadong kaya gitu..
    si sehun juga keliaTan gk suka sama si kyuhyun trus juga si sehun kaya nya tau kalo si kyuhyun suka sama yoona..

    next part ya thor jangan lama2 oke..gw pngen liat reaksi si donghae kalo kyuhyun sama heechul suka sama istrinya..bikin donghae cemburu ya thor..

  48. kantimur_11 berkata:

    setuju sama leeteuk oppa kalo yoonhae itu romantis banget,walaupun sering berantem tapi sebenernya mereka saling suka
    jadi mikir kalo sehun minta punya adek pasti lucu deh,yoonhae bakal ngabulin apa ga??
    oke eonni ditunggu next part yahh

  49. Lee Sheol Elfishy berkata:

    Awalnya mesra tp ujung-ujungnya berantem mulu … kapan yoonhae gak berantem biar romantis terus . . .
    Sehun sepertinya tau kalau kyuhyun suka sama yoona mangkanya sehun berbuat jahil dan nunjukin ketidaksukaannya sama kyuhyun . . . Sehun juga mengklaim klau yoona eommanya hanya untuk donghae appanya . . .
    Heechul juga sepertinya suka sama yoona tp mungkin itu cuma akal-akalnya buat membongkar rencana donghae …

    Next, ditunggu chapter berikutnya . . .

  50. novasusmala46 berkata:

    Yg begini nih yg bikin puas reader. Puanjaaaaangnyaaaa..
    Sebagai reader baru jrg banget nemuien satu part sepanjang ini..
    Puas banget, yoonhae momentnya pun pas, jd ga maksa.
    Naah kan, heechul mlai berbahaya. Keluarga Kim ini jht bgt sih. Mana mukanya heechul dpt bgt meranin org jahat. Hahahhaaa..
    Ad org baru lagi nongol. Kyuhyun, tp dia ga ‘berbahaya’ kan..? Sehun kyk2nya tau perasaanya kyuhyun ke yoona. Hihihihiiiii…
    Setelah kemarin di ‘ganggu’ sm sehun dn halmoni, skg giliran leeteuk. Hahahhaa, yoonhae sekali lagi gagal. Duuuh kesian..
    Etapi, itu si leeteuk ngajarin donghae rumus apaan..? Knpa hrus cpet2 diaplikasiien katanya..? Kkkkkkkkk
    Waah, instingnya Boa kuat yaa. Kira2 kl yoonhae ketauan ngelanggar perjanjian reaksinya bgmna itu..?? Ga sabar jdnya..
    Part 10, im comiiiiing..

  51. RFishy berkata:

    Disini konfliknya udah muncul kayanya,
    Heechul keknya tau hubungan yh.
    Suka banget sama romantis scenenya,tapi pasti ujung2nya bertengkar mulu. Jadi gemess sama mereka berdua.
    Si sehun kasian juga ya,dia kayanya kek gapunya temen gitu,makannya dia bikin masalah. Si kyuhyun suka yoona? Sehun kayanya tau deh,sehun bocah ajaib wkwk

  52. FHP berkata:

    hmm tuh kan lagi2 YHM romantisnya ada aja pengganggunya, skrg giliran leeteuk yg jd pengganggu. Aduh sehun kasian dimarah2in gtu sama donghae smpe nangis pula, hmm dasar anak kecil kok ngomelin anak kecil😀 untung ada yoona yg sabar dan bisa nenangin sehun. Duh gawat heechul tau nih kalo pernikahan YH tuh bukan pernikahan biasa -_- dan itu kok heechul kaya tertarik gitu sama yoona? oh no! Wkwkwk sehun nakal dan jail bgt si ke kyuhyun, ya mungkin memang krna sehun bisa membaca pikiran kyuhyun dan dia ga rela kalo kyuhyun itu suka sama yoona makanya dia bersikap kaya gitu, krna yoona eomma itu hanya milik donghae appa dan sehun kan?😀 yahh trnyata sikap romantis donghae selama ini ke yoona itu tips dri leeteuk? aku kira itu emang niatan dari hati donghae sendiri hufff

  53. chohaena berkata:

    Donghae kayanya udah mulai ada feeling deh sama yoona.
    Kehadiran kyu kayaknya bakalan buat kacau hati hae nantinya deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s