FF YoonHae – Sweet Legacy Part 8

sweet legacy copy

Title : Sweet Legacy

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Happy Reading ^__^

Part 8

“Eommaa…Appaaa !” Suara cempreng khas anak kecil menghentak telinga Yoona dan Donghae. Si pemilik suara berlari merentangkan kedua tangannya kearah mereka meminta sebuah pelukan hangat sementara seorang wanita setengah baya tampak mengikuti dibelakangnya.

“Sehun-ah, hati-hati.” Ucap Nyonya Lee melihat Sehun yang berlari kearah orang tuanya dengan penuh semangat. Semenjak orang tua kandung Sehun wafat,  ia tidak pernah melihat anak itu begitu bahagia seperti sekarang bahkan beberapa jam lalu wajah Sehun berbinar – binar kala ia mendengar sendiri bahwa Yoona dan Donghae dikabarkan akan pulang  hari ini dari acara bulan madu mereka.

Donghae yang melihat tingkah Sehun lebih dulu bersimpuh merentangkan kedua tangannya kemudian memeluk anak itu, “Hap ! anak Appa kenapa sangat tampan ? Apa kau sudah makan ?”

“Nde, Tentu Appa. Sehun makan sup kimchi buatan Halmoni, daging sapi panggang dan ice cream coklat. Neomu neomu massita.”  Ungkap Sehun penuh semangat. Wajah Sehun yang tampak lepas seperti itu sudah lumayan lama terkikis dari wajahnya, tidak disangka – sangka wajah keceriaan itu akhirnya bersarang kembali.

“Anak Appa memang sangat pintar.” Puji Donghae sambil mengusap kepala anak itu. Ia sangat terharu bahkan hampir mengeluarkan air mata melihat Sehun yang begitu bahagia hari ini.

“Kau tidak ingin memeluk Eomma-mu ?” suara Yoona tiba-tiba memotong percakapan antara ayah dan anak itu. Yoona berjongkok disebelah mereka kemudian melanjutkan “Eomma-mu ini sangat cemburu, kenapa kau lebih dulu memeluk Appa mu ?”

Mendengar ucapan kekecewaan Eomma-nya Sehun kemudian beralih memeluk Yoona. “Eomma, Neomu neomu bogoshippo ! jangan cemburu eomma, Saranghae eomma.”

“Nado Saranghae Sehun-ah, Anak Eomma.” Yoona berucap sambil terus memeluk sehun dengan hangat. ‘anak Eomma’ sebutan itu terdengar manis  dan membuat Yoona merasa sudah menjadi seorang ibu. Hal-hal seperti memeluk, menyemangati, mendengarkan cerita anaknya dan apa saja  yang berhubungan dengan itu telah resmi  menjadi kewajibannya mulai sekarang. ’Tidak buruk,’ gadis itu mengangkat bahu.

“Aishh… sungguh kekanakan ! Sehun memelukku lebih dulu, itu karena dia lebih menyayangiku.” Kalimat sarkatis Donghae yang terdengar barusan menyadarkan Yoona. Yoona mengakhiri pelukannya lalu menatap lelaki itu tanpa ekspresi, “Oh begitu…”

‘Dasar Lee Donghae bodoh?! Sehun memelukmu pertama kali, itu karena kau yang lebih dulu merentangkan tanganmu !’ Yoona bersungut – sungut didalam hati, ingin rasanya mencecar Donghae saat ini juga tapi mengingat bahwa ia sudah berjanji untuk mendiamkan lelaki itu—entah sampai kapan— Yoona memilih bungkam dan menjawab seperlunya.

“Jadi aku adalah satu – satunya yang memenangkan hati Sehun, dan kau bukanlah yang pertama.” Bangga Donghae memprovokasi. Yoona tidak bisa menahan keinginannya untuk menatap lelaki itu tajam. Situasi sengit antara keduanya membuat Sehun terdiam dan Nyonya Lee mengerutkan kening bingung.

“Kalian ini, kenapa hal seperti itu harus diributkan ?!  Lebih baik sekarang kalian mandi dan berganti pakaian, setelah ini kita akan berbelanja.” Nyonya Lee memecah situasi di antara anak dan menantunya kemudian mewanti – wanti, “Kalian bertiga harus ikut berbelanja. Eomma belum sempat memberi hadiah pakaian kepada Yoona mengingat pernikahan kalian yang berlangsung kilat.”

“Yes. Sehun, Appa, Eomma dan Halmoni akan jalan-jalan.” Girang anak itu penuh keceriaan sambil melihat kedua orang tuanya yang membeku ditempat, menyimak halmoni-nya berbicara.

“Terutama untukmu Yoona, Eommonim berharap kau bisa mendapingi anak dan suamimu menghadiri penyambutan Presdir baru di SM Media group. Kita akan Shopping.” Nyonya Lee melanjutkan perkataannya dengan penuh semangat. Sepertinya Ia sangat senang berbelanja. Terlihat dari ekspresinya yang sangat menggebu-gebu walaupun terkesan ramah seperti biasa.

“Yoona-ya apa kau senang ?” Ucapnya tersenyum kearah Yoona.

“Ya tentu Eommonim, semua wanita menyukai shopping dan aku sangat senang menjadi pusat perhatian. Ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.”

“Ya sudah aku mandi dulu Eomma.” Sela Donghae memecah percakapan diantara keduanya. Lebih baik ia mandi saja daripada dipusingkan oleh hal-hal seperti Shopping yang menurutnya pembicaraan ini akan dilanjutkan oleh sesuatu yang lebih memusingkan lagi.

Nyonya Lee menatap anaknya sedikit terganggu, “Ya cepatlah sana. Kebetulan sekali Eomma memang ingin berdua saja dengan Yoona.” Usir wanita itu sambil terkekeh memandangi Yoona yang juga ikut tertawa.

Donghae berdecak setelahnya. Lelaki itu beranjak menuju kamarnya akan tetapi suara cempreng  tiba – tiba mengejarnya. Langkah Donghae berhenti mendadak. Lelaki itu berbalik badan, seketika ia menemukan Sehun berlari kearahnya.

 “Sehun juga mau mandi sama Appa !”

“Nde, Kaja sehun-ah.” Donghae bersimpuh lalu menggendong anak itu di punggungnya meninggalkan kedua wanita yang saat ini asyik mengobrol sambil tertawa di sofa. Entah apa yang diperbincangkan oleh kedua orang itu. Donghae menatap curiga,  Jangan-jangan mereka sedang membicarakanku ?

“Kajaaaa Appa !” Suara lantang Sehun membuat Donghae tersadar dari lamunannya. “Biarkan saja Lee Donghae ! Lagipula tidak penting juga...” Batinya menengahi.

………………………

Yoona tersenyum nanar.  Adakalanya aku merindukan senyum  hangat dari seorang wanita seperti ibuku…

Setelah kepergian Donghae dan Sehun, di ruang tengah yang cukup luas itu hanya menyisahkan dirinya dan sang ibu mertua. Wanita setengah baya itu tersenyum kearahnya mengingatkan Yoona pada mendiang ibunya. Yoona ingin sekali memeluk ibu mertuanya akan tetapi entah karena terlalu canggung atau apa, gadis itu berbalik mengurungkan niatnya. Tiba-tiba di tengah situasi gamang yang melanda, derai – derai kehangatan menyelimuti. Nyonya Lee  membawa rengkuhannya memeluk Yoona penuh kasih sayang. Perasaan nyaman bersarang di tubuh gadis itu memberikan sensasi tersendiri bagi jiwanya.

“Yoona-ya, bagaimana bulan madumu ? Apakah menyenangkan ?” ucap Nyonya Lee usai mengakhiri pelukan mereka.

Yoona tersenyum menanggapi, “Nde Eommonim, sangat menyenangkan.”

“Dia tidak menduakanmu dengan pekerjaannya kan ?

Yoona memasang ekspresinya yang tampak berpikir keras, “Hmmm.. Sedikit.”

“Aishh.. sudah kuduga, anak itu benar-benar !” Nyonya Lee memutar bola matanya, “Kau tahu  Eomma mengira bahwa ini semua adalah mimpi. Melihat Anakku menikah…Sungguh Eomma tidak bisa  mempercayai hal ini. Eomma kira Donghae tidak akan pernah menikah sampai kakek – kakek. Tepatnya  setelah kejadian itu Donghae bertingkah menyerupai Robot ketimbang manusia. Hidup anak itu seolah – olah diciptakan hanya untuk bekerja dan bekerja ! Eomma menduga  bahwa didalam otaknya tidak ada sedikit pun ruang  untuk memikirkan hal – hal yang lebih berguna termasuk pernikahan.”

Yoona mengernyit ketika menangkap sesuatu dari kisah Nyonya Lee, “K-kejadian ? Memangnya kejadian apa eommonim ?”

“Jadi begini—“ Nyonya Lee terdiam sesaat. Wanita itu merasakan tatapan Yoona yang penuh dengan keingintahuan seperti mendesaknya untuk bercerita lebih banyak. Nyonya Lee menyadari  bahwa  ia sudah melampaui batas, apalagi menyinggung tentang masa lalu Donghae. Ia takut hal ini akan berakibat buruk karena sepertinya Yoona belum mengetahui hal ini. Jika mempertimbangkan karakter gadis itu yang sepertinya bersifat terbuka maka bukan hal buruk memutuskan untuk menceritakan beberapa dari masa lalu Donghae.

Nyonya Lee menarik napas panjang lalu menatap Yoona sendu, “Sejak rencana pernikahan Donghae kandas beberapa tahun lalu, anak itu terlalu sibuk bekerja. Sepertinya dia ingin melupakan masalah itu dan menjadikan pekerjaan sebagai sebuah pelampiasan.”

Yoona mengernyit semakin bingung dengan ucapan Nyonya Lee yang sama sekali tidak ia mengerti. Rencana pernikahan ? Jadi lelaki itu hampir menikah dengan seorang wanita sebelumnya ?

“Apakah dia belum pernah menceritakan kepadamu ?”

Yoona bergeleng sesal, “Sepertinyaaa belum.”

Kegamangan telihat jelas diwajah wanita paruh baya itu, tiba-tiba ia berbicara, “Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan itu. Tidak pantas rasanya…”

“Tidak apa-apa Eommonim. Sebenarnya aku juga penasaran.”

Mata gadis itu berkilau seperti berlian, namun begitu  Nyonya Lee menemukan sebuah ketakutan  didalam matanya. Apakah selama ini Yoona mencurigai sesuatu ? Tapi jika dipikir-pikir mereka sudah menikah dan seharusnya tidak ada lagi yang boleh ditutup-tutupi. Jika anaknya tidak ingin bercerita maka ia yang akan melakukannya.

“Hmm mungkin Donghae berniat mengubur masa lalunya jadi anak itu tidak ingin menceritakannya kepadamu.” Nyonya Lee menatap prihatin lalu tersenyum samar, “Kau tahu Yuri kan ? Dia juga datang ke pernikahan kalian.”

Yoona mengangguk. Aku bahkan sudah tiga kali bertemu dengannya.

“Dulu gadis itu adalah kekasih Donghae bahkan mereka sudah berencana akan menikah sayangnya karena tradisi yang dipegang teguh oleh Halmoni akhirnya hubungan mereka kandas begitu saja.”

Yoona memajukan wajahnya ingin tahu sekaligus terkejut, “Boleh kutahu tradisi apa yang membuat hubungan mereka berakhir ?”

Nyonya Lee tampak berpikir. Tradisi keluarga yang selalu dipegang teguh oleh ibu mertuanya. Sebenarnya Ia sangat malas untuk menejelaskan hal  ini. Nyonya Lee kurang menyetujui tradisi-tradisi seperti itu bahkan sebagai penerus selanjutnya dari pengurus rumah tangga keluarga Lee, Ia bertekad akan menghilangkan tradisi-tradisi tertentu yang sudah tidak masuk akal. Tapi untuk sekarang Ia diharuskan untuk menjelaskan ini kepada menantunya karena tradisi tersebut masih berlaku.

“Kau tahu ? Halmoni, aku, dan Yuri mempunyai hari lahir yang sama. Kami lahir di hari Selasa sedangkan menurut kepercayaan keluarga Lee, jika menantu keluarga ini mempunyai hari lahir yang sama tiga kali berturut-turut maka kesialan akan menimpa keluarga ini.”

“Mwo ?”

Kedua wanita itu terdiam sejenak. Yoona merasa keluarga Donghae sangat aneh, di zaman modern seperti ini, ada – ada saja yang tetap mempercayai tradisi seperti itu. Tatapan Yoona berubah sendu,  tiba-tiba Ia merasa kasihan dengan Donghae. Hanya karena sebuah tradisi keluarga, lelaki itu harus merelakan  cita – cita yang telah diimpi – impikannya mengarungi bahtera rumah tangga bersama gadis pilihannya. Yoona tertegun sesaat. Tapi.. Kalau dipikir – pikir kenapa juga aku harus kasihan ? Toh karena hari lahir yang sama tiga kali berturut – turut dipercaya dapat membawa mala petaka, mereka harus membatalkan rencana pernikahan, bukankah itu bagus? Dan apakah ini  berarti aku harus senang dengan tradisi itu ?

“Begitulah keluarga ini…” Suara Nyonya Lee mengetuk pikiran Yoona. Wanita itu menerawang sesuatu, “Awalnya kupikir Donghae sudah tidak tertarik dengan wanita lain, karena setiap Eomma memperkenalkannya kepada teman Eomma, ia selalu menolak dengan 1001 alasan…” ungkap Nyonya Lee, wanita itu membawa tangannya menggenggam kedua tangan Yoona dipangkuan gadis itu lalu tersenyum, “Tapi aku lega ternyata Donghae sudah mempunyai kekasih dan baru dikenalkan kepada kami ketika dia sudah berniat menikah. Aku sangat senang mendengar anakku ingin menikah. Walaupun ini sangat mendadak tapi aku langsung menyetujui pernikahan kalian… sangat lucu jika dipikirkan tapi keinginanku melihat anak itu menikah akhirnya terwujud.”

“Oh jadi begitu…” Yoona mengangguk mengerti. Seandainya eommonim tahu yang sebenarnya… Aishh !!! Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini ?!

“Kau tahu ? Malam ketika Donghae berbicara bahwa ia ingin menikah dan mengatakan bahwa calon istrinya lahir pada hari rabu, Halmoni langsung menyetujuinya karena selain hari lahirmu bukan hari selasa, Ketakutan halmoni bahwa Donghae akan kembali membali membawa Yuri ke rumah sudah tidak beralasan lagi. Asal kau tahu, sejak putus dari gadis itu Donghae  cenderung tidak berselera mengencani gadis lain. Seperti yang kukatakan tadi, aku dan halmoni sering mengatur kencan buta untuknya tapi selalu berakhir tragis.”

Tiba-tiba keraguan memaksa bibir Yoona berucap tanpa sadar, “Tapi Eommonim… Apakah sebenarnya Donghae Oppa sudah melupakan… Yuri ?”

Nyonya Lee mengernyitkan dahi, “Kenapa kau bertanya seperti itu ?” Selidiknya ketika menyadari tatapan Yoona lebih menuntut dari sebelumnya. Nyonya Lee menyadari bahwa cerita ini mungkin agak menyakitkan untuknya. Wanita itu berpikir lebih baik mengubur masa lalu anaknya segera. Nyonya Lee menarik napas berusaha menutupi kegelisahannya, lalu Ia menganggapi ekspresi Yoona dengan senyum, “Dia menikahimu tentu saja dia sudah melupakan Yuri.”

Mendengar jawaban dari ibu mertuanya, jantung Yoona seperti mencelos. Anggaplah  ia tidak berhak mencampuri perasaan Donghae, tapi ini terdengar lebih baik…

Nyonya Lee tersenyum seolah menyalurkan keyakinan pada Yoona bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sebagai seorang wanita yang lebih berpengalaman, Nyonya lee sangat mengerti kehawatiran menantunya. Semua wanita pasti akan takut jika lelaki yang dicintainya lebih mementingkan wanita lain. Tapi melihat dari cara Donghae memperlakukan Yoona, Nyonya Lee yakin bahwa Yoona adalah seorang yang istimewa dimata anaknya.

……………….

Sebuah pintu kamar baru saja terdorong dari luar. Seseorang tampak melangkah kedalamnya. Sekilas Ia menghela napas ketika pandangannya berpapasan dengan seorang lelaki didepan lemari,  tampak lelaki itu baru saja selesai memakai bajunya. Buru – buru ia mengalihkan padangannya dan berbelok menuju ranjang besar yang sangat menggiurkan untuk ditiduri. Perjalanan ke Seoul yang memakan waktu kurang lebih lima jam cukup menguras habis tenaganya. Sekujur tubuhnya sudah terasa pegal. Ia melemparkan tubuhnya keatas ranjang ketika lelaki itu datang menghampirinya.

“Yoona-ssi.” panggilnya kemudian. Yoona meluruskan tubuhnya lalu menatap lelaki itu tidak berselera. Yoona berharap ia bisa menemukan sebuah topik untuk dijadikan bahan pembicaraan. Sayangnya tidak ada. Gadis itu hanya bergumam,“Sehun mana?” Pertayaan itu meluncur atas dasar ingatannya tentang Donghae yang beberapa saat lalu mandi bersama Sehun.

“Sepertinya dia mengambil sesuatu di kamarnya.”

“Oh.” Yoona mengerjap malas. Tanpa memperdulikan Donghae, gadis itu mengambil posisi senyaman mungkin, sebelum akhirnya memejamkan mata.

Donghae mengangkat bahu. Lelaki itu mengamati gadis dihadapannya selagi memikirkan sesuatu. Donghae memilih ikut berbaring disebelah Yoona, sesekali melirik kearah gadis itu. Perbedaan kondisi diantara mereka semakin mengental. Sepanjang perjalanan dari pulau Moredo menuju Seoul Yoona hanya terdiam, gadis itu hanya berbicara seperlunya atau sekedar menyapa Sehun ketika mereka baru saja tiba. Perlahan ia menyadari kecanggunagan ini. Apakah  karena… peristiwa 15 juta won ? Tidak salah lagi, rupanya mencari chemistry dengan cara seperti itu malah menimbulkan sebuah jurang pemisah yang semakin lebar. Donghae tidak akan membiarkan sesuatu merusak hubungan mereka, bisa – bisa orang–orang akan menyadari ketidakberesan dalam pernikahan pura  – pura ini dan lagi sialnya Donghae merasa gelisah karena tidak melihat senyum dan tertawaan gadis itu dalam beberapa hari. Bagaimana pun caranya Ia harus mencairkan kebekuan ini. Memakai cara halus, licik atau apa pun harus ia lakukan demi memperbaiki keadaan.

“Kau kenapa?” Donghae bertopang kepala dan berbicara diatas telinga Yoona yang saat ini memunggunginya.

“Tidak apa – apa.” Jawab gadis itu.

Donghae mengangkat alis, “Bohong.”

Mendengar tuduhan itu, Yoona berbalik badan, lantas menepuk dada Donghae tidak suka. Dimatanya lelaki itu semakin menyebalkan dengan sikapnya yang sok tahu. Namun sial Yoona mulai tersudut dengan tatapan lelaki itu yang kembali mengingatkannya pada peristiwa tidak terduga saat di pulau. Sialnya lagi Yoona merasa bahwa kini wajahnya menghangat. Yoona memilih membuang jauh – jauh lengkungan yang hampir saja merekah dari bibirnya lalu cepat – cepat menggantinya dengan wajah tidak perduli,  “Terserah, Aku ingin istirahat sebentar dan  kau tidak usah menggangguku.” Tandas Yoona beranjak memunggungi Donghae seperti semula.

“Bukankah kau juga sering menggangguku ? Sekarang apa salahnya kalau aku mengganggumu supaya adil, kan ?”

Yoona tidak membalas kalimat Donghae sama sekali. Gadis itu hanya terdiam tapi Donghae belum sepenuhnya yakin bahwa ia tertidur. Donghae merasa perlu memastikannya sendiri. Lelaki itu menyusupkan  lengannya diseputar pinggang Yoona tanpa permisi. Sesuai dugannya tubuh gadis itu menggeliat gelisah. Donghae tersenyum lebar hingga tanpa sadar senyumannya berubah menjadi goresan seringai. Yoona memukul – mukul lengan Donghae, sebaliknya Donghae lebih terdorong merapatkan dekapannya dipinggang Yoona.

“Kau sedang apa ?” usir Yoona menggeliat tidak nyaman.

Donghae menarik pinggang Yoona lalu berbisik ditelinganya, entah bagaimana ia ingin seterusnya melanjutkan permainan ini.

 “Beritahu aku yang sebenarnya.”

Kening Yoona mengukir sejumlah garis kebingungan yang lekat, “Apa?” gumamnya selagi berpikir keras. Apalagi yang diinginkan lelaki itu?

“Kenapa sikapmu berubah menyeramkan seperti ini ? Aku takut jangan – jangan kau diganggu mahluk astral waktu di pulau.”

Yoona memutar bola matanya. Asal kau tahu saja, aku tidak diganggu oleh mahluk astral atau mahluk aneh lainnya di pulau itu, yang sebenarnya  aku  sudah terkontaminasi racun karena sentuhan mahluk absurd yang saat ini menempel dibelakangku, dan anehnya aku menginginkan hal itu sekali lagi, dua kali, tiga kali dan seterusnya entah sampai hitungan keberapa.

Tidak ada respon yang diterimanya dari gadis itu. Donghae menahan kegeramannya dalam hati. Seumur – umur Donghae paling tidak menyukai pembicaraan searah apalagi menerima perlakuan tidak acuh seperti ini, tapi demi memancing gadis itu untuk berbicara ia rela menghianati prinsipnya sendiri. Donghae mengusap perut Yoona, Ia  semakin mengunci tubuhnya diseputar pinggang gadis itu. Lantas jemarinya berputar – putar menyalurkan tekanan lembut dipermukannya. Wajah Donghae turut mengampiri aroma tubuh Yoona yang berangsur – angsur merekah didalam penciumannya, Donghae merasa tubuhnya sulit dikendalikan. Lelaki itu terus menghirup pucuk kepala hingga area disekitar leher Yoona dan rasanya ia tidak ingin berhenti seperti  halnya pecandu yang sedang sakau.

Gadis itu mulai gelisah, namun tidak lama. Donghae memangkas jarak wajahnya, merapatkan pangkal hidungnya menghirup ceruk leher Yoona dan bernapas diatasnya yang memaksa gadis itu meloloskan desisan aneh tanpa sadar.

Yoona berusaha menetralkan laju napasnya sebisa mungkin, gadis itu menelan ludah dan berbicara, “Kau memelukku seperti ini 5 juta won. Sekarang utangmu menjadi 25 juta Won.”

Seolah tidak  gentar sedikit pun, Donghae kian mengerahkan sentuhannya meraba – raba tubuh Yoona, “Sudalah jangan mulai lagi, kalau  aku bersedia membayar 50 juta Won, kau akan keringat dingin.”

Bibir Yoona bergerak ragu ingin menyuarakan sebaris kalimat. Hanya saja ia tidak bisa menahannya lagi karena tiba – tiba hatinya meronta ingin mengetahui maksud dari kalimat Donghae, “Memangnya kau  mau apa dengan 50 juta won itu ?”

Sudut bibir Donghae menarik garis kekiri. Ternyata menjejalkan umpan berharga kedalam kolam dengan cara seperti itu, memudahkannya menuai hasil.

“Makanya cepatlah berbalik, kalau dari belakang aku jadi susah, bukankah ini yang pertama ?” ucap Donghae setengah membujuk.

Yoona terdiam sejenak, lehernya seperti tercekat namun begitu ia memaksanya berbunyi, “K-kenapa ucapanmu jadi tidak terarah begitu ? aku jadi merinding.”

Hembusan napas Donghae yang panjang menyapu telinganya, bulu kuduk Yoona meremang. Gadis itu menggerling waspada ketika sinyal – sinyal aneh mulai menggetarkannya.

“Tidak juga, sebenarnya kita berdua sudah mengerti.”

“A-apa maksud—” Yoona hampir saja berbalik menghadap lelaki itu hendak mempertanyakan sesuatu yang tidak dimengertinya. Namun ia lebih dulu tertegun. Gadis itu tidak jadi berbalik. Otaknya yang sudah buntu tiba – tiba menyimpulkan sesuatu. Jangan-jangan maksud lelaki itu…. sesuatu yang lebih…

“Apa sih.” sungutnya tidak jelas. Yoona menarik napas setelah itu. Debar – debar di jantungnya kian bergejolak hingga kepangkal tenggorokan. Gadis itu mencoba bersikap tenang, lebih baik pura – pura tidak tahu, pikirnya.

“Cobalah berbalik  badan… atau kau mau aku yang pindah posisi ?”

“Utangmu… sudah menumpuk, lunasi dulu yang itu—“ imbuh Yoona dengan suara terputus – putus yang melengking. Gadis itu memejamkan matanya, gelisah. Kalau Ia berbalik maka keputusannya untuk menghindari segala kemungkinan berbahaya pasti akan hancur. Yoona sudah memvonis bahwa dirinya memang sudah benar – benar teracuni, sekali ia berbalik maka pertahanannya akan runtuh. Yoona bergeleng menepis debar – debar terselubung yang membuncah tanpa kendali, nyaris membutakan logikanya. Ini tidak boleh terjadi, lagi…

“Oh ya utang itu…” Suara Donghae menginterupsi, Yoona tertegun mulai penasaran dengan apa yang dikatakan lelaki itu, “Bagaimana kalau kubayar sekalian saja, siapa tahu kalau sudah berlangganan,  kau akan  berbaik hati memberikanku potongan harga.”

“M-mwo?” Yoona ingin terkekeh mendengarnya. Donghae terlalu mengada – ngada tapi tidak sepenuhnya begitu. Sejak tadi Yoona bingung dengan apa yang menimpa tubuhnya yang kerap kali berdebar tidak menentu. Mungkin, lelaki itu bisa membantunya keluar dari masalah ini…

“Potongan harga…” Yoona terdengar menimbang – nimbang. Donghae memajukan wajahnya menyimak, meskipun Yoona sedikit risih mengartikan gerak – geriknya.  Gadis itu mengatur napasnya sejenak lalu memutuskan, “Baiklah akan kuberikan tapi… kau harus menemukan penawar untukku.”

Sebelah alis Donghae terangkat, “Penawar?”

“Hmm, Karena sepertinya aku keracunan sesuatu.” Duga Yoona sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.

Donghae tergelak, “Kau berubah menyeramkan seperti ini karena keracunan? Memangnya kau salah makan ?”

“Tidak juga… “ cetus Yoona. Ia benar – benar tidak tahan menyimpan perasaaan ini lebih lama. Membuang rasa malunya dan berbicara jujur adalah satu – satunya cara, karena cara pertama yaitu penghindaran yang ia lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali, bahkan efek dari sengatan racun itu menjadi semakin parah.

“Sebenarnya Bukan makanan yang meracuniku tapi…” Gadis itu menelan ludah, Masa bodoh, aku bisa gila kalau terus – menerus seperti ini !

Yoona mengumpulkan segenap keberaniannya lalu dengan nekad mengakui, “Tapi keracunan seperti merasa ada yang kurang sejak kau melakukan pelanggaran itu. Sepertinya pelanggaran yang kau lakukan berbuntut panjang, dan terus membayangiku. Aku ingin menghapusnya tapi rasanya aneh—“

Donghae memutar pinggang Yoona, membantu gadis itu berbalik badan. Yoona berbalik tanpa perlawanan meskipun sisa – sisa wajah terkejutnya cukup kentara. Donghae mendiamkan tatapan mereka sebentar, memberi jeda untuk gadis itu menenangkan diri.

“Sini biar kutunjukkan penawarnya.” Imbuh Donghae menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah gadis itu lalu menyampirkannya kebelakang telinga.

Sepasang mata Donghae menghantarkan tatapan teduhnya yang menghangatkan kekakuan dalam jiwa Yoona. Ada ketenangan tersendiri ketika ia mencoba menyusuri tatapan lelaki itu lebih dalam. Perlahan Yoona mulai memahami penawar yang dimaksud lelaki itu, tidak perlu berjalan jauh untuk menghampirinya karena penawar itu sudah berada didepan mata.

“Mana ? Kenapa kau terus memandangiku?” Yoona menggigit bibir bawahnya ragu, mempertanyakan apakah perkiraannya keliru atau justru sebaliknya ?

“Kalau begitu diamlah… sebentar.”

 Yoona terkesiap menyadari sehelai usapan membelah pipinya. Punggung tangan Donghae bermain – main menyentuh pipinya bersama ujung jemari lelaki itu yang mengukir goresan indah menghanyutkan, seburat merah merona hinggap di pipi Yoona seiring gerakan jemari lelaki itu yang menari – nari lembut.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan ?… aku harus bagaimana untuk mendapatkan penawar itu ?”

Pancaran sinar mata itu kembali lagi, mata rusa yang memancarkan sinar menyilaukan seketika mengumbar lembaran memori yang memutar pertemuan pertama mereka. Donghae mengingat kala itu ia hampir saja terjebak didalam pusaran bola hitam milik gadis itu. Dan kali ini tidak ada yang berubah. Donghae tidak dapat mengarahkan tatapannya kearah lain. Sinar mata gadis itu membuat bibirnya kelu bahkan otaknya buntu memikirkan sepatah kata untuk menggambarkan jawaban singkat dari pertanyaan yang kini menggantung.

“Yang harus kau lakukan adalah, menikmati sensasi dari penawar itu.” ucap Donghae usai berkutat menemukan jawaban yang pas. Donghae tidak tahu dari mana datanganya inisiatif itu hingga lolos dari belit lidahnya.

“Caranya ?” Yoona mendelik penuh tanya. Tangan Donghae mengusap punggung Yoona sekaligus menariknya mendekat.

“Pertama relaks, lalu dekatkan wajahmu.” Jemari Donghae lantas berpindah menggapai bibir bawah Yoona. “Buka sedikit bibirmu.” Ucapnya kemudian.

“Mendongaklah…” Donghae lalu menarik keatas dagu Yoona agar lebih mendongak.

“Kau ingin melakukannya seperti waktu itu?” Yoona menggigit bibir bawahnya ragu.

“Tidak… yang ini berbeda, aku tidak akan menerjangmu tiba – tiba dan membuatmu teracuni, kali ini akan kulakukan sesuai prosedur.”

Donghae membelai wajah Yoona lalu tangannya mendarat di atas lekukan leher Yoona menahan wajah gadis itu agar tidak bergerak. Disana ia bisa merasakan denyut nadi gadis itu berdesir cepat. Racun… Donghae tidak terlalu mengerti dengan maksudnya. Mungkin Yoona shock dengan kajadian ‘15 juta Won’ kemarin yang begitu tiba – tiba, Donghae hanya ingin menegaskan bahwa tidak selamanya sebuah sentuhan menyebabkan  racun berupa shock akut, kerena dibalik itu sentuhan juga menciptakan penawarnya yaitu kenyamanan. Jika seseorang yang terkontaminasi shock belum juga menemukan penawar yang tepat maka ia akan terus berdebar – debar seperti dikejar hantu.

Perlahan-lahan Donghae mendorong wajah Yoona kerahnya. Memperinci baik-baik setiap inchi wajah Yoona. Kembali lagi ke tujuan semula, Ia harus membuat gadis itu merasa nyaman didekatnya agar bisa meyakinkan orang – orang bahwa mereka saling mengagumi satu sama lain.  Ia harus menemukan chemistry dengan gadis itu demi kelangsungan sandiwara ini. Jangan sampai orang – orang disekitarnya curiga akibat kecanggungan atau pertengkaran mereka suatu saat nanti.

“Memangnya bagaimana prosedurnya ?” Yoona menahan nafasnya yang naik turun tidak menentu seiring suhu tubuhnya yang memanas hingga ke puncak ubun-ubun.

“Aku akan mengecupnya…” Telunjuk Donghae menumbuk bibir Yoona yang membuat gadis itu menggeliat. Donghae melanjutkan kegiatannya. Telunjuknya bergeser mengusap bagian rahang hingga merosot kesekujur leher gadis itu. ”Lalu menjalar kebawah sini….” Bola mata Donghae bergerak kebawah seiring telunjuknya yang saat ini berhenti tepat ditengah dada Yoona yang naik turun karena sesak. Memastikan bahwa gadis itu mengerti dengan arah pembicaraan mereka, Donghae pun berpindah mengusap kepala Yoona lembut, menenangkannya sesaat.

“Lalu?” Jemari Yoona berputar-putar di permukaan bidang Donghae lalu membuka satu persatu kancing kemeja lelaki itu sampai kebawah. Ditengah perjalanan Yoona memejamkan mata. Hati kecilnya seolah berteriak, Hentikan tangan nakalmu itu Im Yoona ?!

“Laluuu… “ nada bicara Donghae terdengar berpikir. “Apakah pintunya tertutup rapat ?”

Yoona menatap lelaki itu penuh arti, “Iya… sepertinya…”

Donghae berpindah posisi keatas tubuh Yoona, lalu menyanggah tubuhnya sendiri bertumpu dengan sebelah sikut yang kini tergolek disamping wajah gadis itu. Tatapan mereka bertumbukan. Yoona melepas kemeja Donghae dengan sukarela, kemudian membiarkannya teronggok sembarangan. Seiiring dengan itu jemari Donghae menaburkan usapan lembut dibibir Yoona. Ibu jarinya berayun – ayun menjangkau dari sudut kesudut, hingga wajah lelaki itu berangsur – angsur mendekat. Kedua lengan Yoona berkalung diseputar leher Donghae, jemari lentik gadis itu memijatnya perlahan – lahan ikut mendorong wajah lelaki itu hingga tidak menyisahkan jarak.

Penglihatan Yoona mengabur diantara kelopak matanya yang mengatup. Terakhir kali Yoona menyaksikan bibir Donghae terbuka menghisap seluruh napasnya yang berhembus. Lalu Yoona tidak bisa memastikan apa – apa lagi selain sensasi lembut bibir Donghae yang membuatnya melayang. Inikah penawar itu ? Yoona menarik wajah Donghae sebagai isyarat agar lebih memperdalamnya. Pergulatan itu semakin menggelora, semua seakan lewat begitu saja namun tidak bagi ketukan pintu diujung sana yang seketika menyulap suasana menjadi suram.

Tok tok tok…

Bibir Donghae berhenti menjelajahi bibir Yoona. Lelaki itu menyingkirkan wajahnya lalu berpaling kearah pintu. Kelopak mata Yoona terbuka, ia mendesah kecewa lantas menangkup kedua sisi wajah Donghae agar mengembalikan fokusnya.

“Kenapa berhenti ?” protes Yoona setengah merajuk.

“Ada yang datang.” Ucap Donghae berbisik lalu mengecup bibir gadis itu sekilas.

“Mungkin pelayan. Biarkan saja nanti juga datang lagi.”

Tanpa mengindahkan Yoona, Donghae beranjak dari posisinya, “Sebentar.”

Tahan dia Im Yoona, jangan biarkan dia membuka pintu… !

Aishhh dasar kau gadis pengecut…. Sesuatu dalam hatinya terdengar mengejek.

Yoona melihat Donghae berjalan kearah pintu tanpa menghiraukan dirinya yang tampak kesal. Ia lalu berdecak. Duh siapa lagi pengganggu itu? gerutunya dalam hati.

“Ini Sehunnn…”

Yoona terbelalak, matanya terbuka lebar – lebar memastikan suara anak kecil yang menyeru dibalik pintu, debaran jantungnya sontak beradu. Sehun?! Apa yang kupikirkan barusan, Omo !

Donghae mengayuh langkahnya menuju pintu. Ia menarik gagangnya dan menemukan wajah Sehun yang berseri – seri. Anak itu tersenyum lebar memajerkan jejeran giginya yang berderet rapih. Sehun tampak bersemangat ketika betatap mata dengan seseorang yang baru saja membuka pintu.

 “Samch—eh—Appa !!!” sahut anak itu kegirangan, “Gambarnya sudah ketemu…”

“Wah, Gambar apa ini?” Tanya Donghae selagi mengamati kertas bergambar yang dibawa oleh Sehun sementara anak itu tersenyum bangga seolah tengah memamerkan sesuatu yang berharga.

Sehun berjalan menuju ranjang dimana Yoona tengah berselonjor. kemudian ia memposisikan dirinya disamping Yoona. Donghae yang berjalan dari arah pintu juga mengambil posisi disamping Sehun. Anak itu tidak pernah berhenti tersenyum apalagi kini disamping kanan dan kirinya, ia tengah diapit oleh kedua orang tua barunya. Sehun menghirup napas panjang sebelum akhirnya berkata;

“Apakah Sehun mengganggu ?”

Yoona tampak berpikir, “Sebenarnya….”

“Aniya Sehun-ah, kau tidak mengganggu sama sekali.” Donghae menginterupsi. Lelaki itu menatap tajam kearah Yoona. Donghae tahu bahwa gadis itu selalu berbicara sesuka hati, tapi jika didepan anak kecil Donghae sangat berharap bahwa Yoona bisa menjaga ucapannya.

“Hmm… Aku sepertinya mengganggu tapi aku sudah tidak tahan ingin menceritakan ini pada Eomma dan Appa.” Sehun menoleh kearah Yoona dengan tatapan anehnya entah apa yang dipikirkan anak itu. Tapi senyum anak itu tidak biasa dimata Yoona. Apa yang sedang kupikirkan tadi ? Bagaimana kalau itu sebuah pikiran kotor ? jangan-jangan anak ini tahu…”

“Sehun ingin bercerita tentang arti dari gambar ini. Aku yang menggambarnya semalaman lohh.” Ucap anak itu bangga dengan aksennya yang sedikit cadel.

Yoona menatap gambar yang saat ini berada didalam genggaman Sehun. Gambar rumah dengan empat orang anggota keluarga di depannya, seorang laki-laki dewasa, seorang wanita dewasa, dan dua orang anak kecil berbeda jenis kelamin. Gambar Sehun sepertinya sangat manis dan terasa mengharukan jika mengingat bahwa dulunya anak itu adalah seorang yatim piatu. Yoona dapat merasakannya karena ia juga seorang yatim piatu.

Sehun mengamati gambar ditangannya lalu bercerita, “Ini appa… ini eomma… dan ini Sehun.” Ucapnya tersenyum bangga sekaligus memamerkan giginya yang berjejer rapih “Lalu yang ini adik Sehun tapi belum jadi. Nanti kalau sudah jadi, aku maunya adik  perempuan, biar nanti Sehun yang jadi pahlawannya.”

Yoona mengangguk paham. Ia merasa impian Sehun sangat wajar jika mengingat bahwa anak itu baru saja berkumpul dengan kedua orang tua baru yang berarti bahwa keluarganya lengkap, namun yang menjadi masalah disini adalah pernikahan ini bukanlah seperti pernikahan pada umumnya. Anak itu harus bisa menerima kenyataan bahwa pernikahan ini tidak akan menghasilkan apapun seperti yang diharapkannya, “Sehun, Kau tahu kan… pernikahan ini bukan pernikahan biasa?” Ucap Yoona setengah berbisik di telinga anak itu berharap Sehun mengerti dengan keadaan ini.

Anak itu lantas mengangguk “Iya aku tahu.” Ucapnya mengerti, namun wajah anak itu sedikit cemberut,  “Ini kan cuma harapan Sehun… Tapi kalau bisa dibuatkan, satu saja please ya Eomma… Appa ?”

Yoona tertegun meresapi permintaan Sehun. Kalau dilihat – lihat, Anak itu tampak seperti anak kecil biasa yang ingin mempunyai seorang adik tapi dibalik itu, Sepertinya Sehun  cukup berani menerima keadaan. Anak itu terlihat santai – santai saja. Meskipun ia mengetahui fakta dibalik pernikahan orang tuanya, anak itu mampu bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ayolah Eomma… Appa buatkan adik, ya ya ?” Sehun menatap Yoona dan Donghae bergantian. Donghae membalasnya dengan mengacak rambut anak itu gemas.

Disisi lain Yoona mulai prihatin menyadari sikap anak itu. Mungkin Sehun termasuk anak yang terbilang dewasa secara mental, namun tetap saja, mengetahui cara membuat adik sama sekali belum pantas untuk anak seusianya.

“Memangnya kau tahu bagaimana cara membuat adik?” tanya Yoona mulai iba.

“Katanya kalau mau adiknya cepat jadi, Eomma dan Appa harus berdekatan. Begitu kata teman – temanku, nanti perut eomma akan membesar, terus adiknya lahir.”

Yoona  merilirik Donghae sediikit aneh, gadis itu mengernyit, “Berdekatan maksudnya ?”

Sehun tampak berpikir keras. Beberapa saat kemudian wajah anak itu berubah drastis seolah dikepalanya baru saja terbersit ide cemerlang. Sehun lalu meraih tangan Yoona, “Begini… sini tangan Eomma…”

Yoona merasakan sebuah tangan mungil menggenggam tangannya sekaligus mengisyaratkan sebuah harapan besar lewat sentuhannya. Anak itu kemudian beralih mengambil tangan Donghae, “Lalu tangan Appa…” Wajah lelaki itu tampak penasaran tentang apa yang akan dilakukan Sehun selanjutnya.

Sehun terdiam sebentar ketika memegang tangan kedua orang tuanya kemudian anak itu menyatukan kedua tangan itu, “Disatukan … Sangaat laaama.”

Tautan tangan itu menghadirkan getar-getar tersendiri bagi Donghae.  Lelaki itu memandang kearah Sehun. Anak itu sangat serius berkonsentrasi mendalami tautan tangan didepannya sedangkan Yoona… Gadis itu sedang memandangnya. Bola hitam kepunyaan gadis itu bersinar menatap lurus kearah Donghae seperti mengisyaratkan pesan tertentu yang tidak ia mengerti. Belum sempat Donghae mengartikan pesan itu, Suara Sehun tiba-tiba terdengar memecah konsentrasinya “Nah kalau disatukan sampai pagi, nanti perut eomma akan besar sendiri.”

Bola mata Yoona membola mendengar penuturan Sehun sementara Donghae terlihat mengernyitkan dahi. Anak itu lalu memandang kearah Yoona dan Donghae bergantian, “Harus seperti ini tidak boleh dilepas…”

“Sehun-ah, kita harus pergi setelah ini.” Donghae menginterupsi keinginan Sehun yang menurutnya tidak masuk akal. Tapi jika dipikir-pikir anggapan anak itu tidak  sepenuhnya salah. Donghae menyeringai tanpa sadar. Kalau mereka terus seperti ini, mungkin saja pertahanannya akan runtuh.

Bibir Sehun maju beberapa senti sebagai reaksi atas penolakan halus yang diucapkan oleh Donghae barusan, “Ya terus buat adik bayinya kapan?”

Donghae tampak berpikir mencari-cari jawaban yang pas, “Kapan ya? Mungkin nanti saja, Setelah pulang dari berbelanja.”

Yoona terperangah mendengar jawaban Donghae. Bisa – bisanya lelaki itu mengumbar janji palsu, apalagi didepan seorang anak kecil yang tidak tahu apa – apa …

“Benarkah? Nanti kalau Appa dan Eomma mau buat adik bayi, Aku dipanggil ya?” ucap Sehun memohon-mohon kearah Yoona. Tatapan anak itu yang penuh harap membuat Yoona terkejut. Kenapa anak itu malah berbalik memandangiku, bukankah Donghae yang mengumbar janji ?

“….”

Permohonan Sehun beberapa saat lalu mengubah suasana berubah menjadi hening. Yoona tampak bingung dengan jawaban apa yang harus ia berikan pasalnya permohonan anak itu terlalu sulit untuk dijawab.

Melihat Yoona yang kebingungan, Donghae mengambil inisiatif berbisik di telinga anak itu, “Sehun-ah, kalau kau terus disini Eomma-mu akan merasa tidak nyaman. Kau sudah tahu kan ? Eomma itu seperti bocah belasan tahun. Nanti kalau Eomma bersikap manja atau ketahuan merengek dan sehun melihatnya, bagaimana ?, Eomma pasti sangat malu.”

Bisikan Donghae menimbulkan kekehan kecil dari bibir Sehun. Mereka berdua kompak memandang kearah Yoona. Tatapan mereka sangat mengganggu. Yoona mencebik tidak suka menyadari bahwa ia dijadikan objek tertawaan seperti ini.

Kenapa lagi mereka berdua ? Di saat aku bingung harus menjawab permintaan aneh dari seorang anak kecil, mereka malah menertawakanku ?’

“K-Kenapa kalian tertawa ?!” Sungut Yoona tidak tahan. Gadis itu berdecak, “Ya sudah kalau begitu aku mandi saja, bye.” Ucap Yoona sebelum akhirnya mengambil jalan pintas dan memilih beranjak meninggalkan kedua lelaki itu.

…………………

Yoona turun dari ranjang, lalu membuka lemari untuk mengambil beberapa potong pakaian, setelah itu Ia berjalan menuju kamar mandi. Namun baru saja berdiri didepan pintu kamar mandi, Donghae lebih dulu mencegatnya.

“Apa ?” Yoona menatap lelaki itu tidak berselera.

“Kau marah ?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa wajahmu seperti ini ?”

Yoona menggerakkan otot – otot wajahnya selagi berpikir, “Memangnya ada apa dengan wajahku ?”

“Wajahmu jelek.”

“Mwo?”

“Wajahmu jelek kalau seperti itu.”

Yoona menarik napas tidak ingin terprovokasi, “Memangnya aku perduli ? minggir aku mau mandi—”

“Kau marah karena aku menaggapi permintaan Sehun ?” Donghae nenimpali.

Anggapan lelaki itu terdengar kekanak – kanakan. Yoona menatapnya  remeh, “Kenapa  aku harus marah karena hal seperti itu ?”

“Lalu ?” Donghae mengernyit, “Kau merasa dikucilkan karena kami tertawa tanpa melibatkanmu ?”

Yoona terkekeh merasa konyol, “Aku bisa tertawa sendiri tanpamu atau orang lain, jadi sekarang cepat minggir !”

Donghae tidak mengindahkan peringatan itu membuat Yoona berang. Yoona meniup ubun – ubunnya lantas menendang lutut Donghae sekeras mungkin. Lelaki itu mengaduh dan mengusap – usap lututnya. Yoona bergegas membuka pintu kamar mandi namun sebelum itu Yoona menatap Donghae sesaat.

“Ya, aku kesal karena kau menyebalkan.” Tandasnya bersungut – sungut, “Sekarang pikirkan sendiri apa yang membuatku seperti ini !”

Pintu kamar mandi dihadapannya menutup. Donghae meringis menahan ngilu. Lelaki itu mengumpat lebih kepada dirinya sendiri yang bisa – bisanya lengah dengan tendangan Yoona jika seseorang menghalanginya.  Gadis itu sangat berbahaya.  Seluruh tindakannya sangat sulit diprediksi.

Tatapan Donghae menyipit kearah pintu kamar mandi. Lalu, bagaimana cara menjinakkan gadis itu ? Bagaimana cara melunakkannya tapi dengan hasil yang permanen…

…………………

Donghae menatap lalu lalang disekitarnya. Para pengunjung cukup ramai memenuhi pusat perbelanjaan. Lelaki itu tidak terlalu menyukai situasi bising apalagi menyaksikan para kaum hawa yang berlarian mengejar diskon berbagai produk fashion. Rasanya membosankan. Donghae merasa terjebak dengan keadaan ini, kalau saja Eommanya tidak memaksa, lelaki itu lebih memilih tidur atau menonton TV di rumah.

Nyonya Lee berjalan mengenakan heels-nya selagi menatap baju – baju  yang berjejer disepanjang display berbagai butik. Kebanyakan dari butik itu menjejahkan dress dan gaun indah berkialauan. Yoona sama sekali tidak tertarik dengan itu. Kalau saja harus memilih, Yoona lebih tertarik berbelanja di toko pakaian biasa atau distro untuk membeli pakaian yang sesuai dengan kepribadiannya, tentu pakaian itu harus jauh dari kesan feminim.

swl 6

Kira – kira setengah jam lalu, kedua orang itu hanya sibuk mengekori langkah nyonya Lee. Donghae dan Yoona berjalan melihat – lihat namun tidak ada sepatah obrolan pun  yang mereka bahas, karena situasi disekitar mereka sama sekali tidak menarik. Sedangkan Sehun, anak itu sibuk berlarian mengitari Yoona dan Donghae—kedua orang tua barunya—sepanjang jalan, Yoona sendiri mulai lelah menyaksikan tingkah anak itu.

Nyonya Lee berhenti sejenak, tatapannya berbelok kearah wanita disamping Donghae, “Yoona, bolehkah Eomma tahu style seperti apa yang kau sukai ?” tanyanya tersenyum. Nyonya Lee menganggap Yoona akan memutuskan sesuatu usai cukup lama berkeliling dan melihat – lihat model pakaian yang terpajang.

swl 5

“Apakah kau menyukai dress ? gaun ? atau setelan ?” alis wanita itu terangkat penuh perhatian. Sementara wanita yang ditanyainya bingung harus menjawab apa.

Tiba – tiba Donghae merangkul pundaknya, Yoona tersentak menatap lelaki itu yang berdiri yakin, “Yoona ini sangat ‘pemalu’ Eomma, wajar saja kalau dia gugup seperti ini.” imbuhnya bangga seolah mereka saling mengenal satu sama lain. Yoona menatap lelaki itu bersungut – sungut.

“Katakan saja, kau tidak usah malu. Anggap saja ini adalah bentuk seserahan. Eomma belum sempat memberikan apa – apa karena pernikahannya mendadak, jadi prosesi ini baru bisa dilakukan.  Silahkan pilih pakaian yang menurutmu sesuai dan jangan lupa persiapkan juga pakaian untuk datang ke acara perusahaan sehun besok. Kau sudah mendengarnya dari Donghae bukan ? Besok kau harus mendampingi Donghae meninjau perusahaan Sehun.”

Yoona menormalkan wajahnya seperti semula kemudian mengangguk mengerti, “Nde Eommonim, aku akan memilih yang terbaik.”

“Nah kalau begitu, cepatlah tentukan busana yang sesuai untukmu besok.”

“Eomma benar Yoong, kau harus tampil cantik didepan orang – orang.” Timpal Donghae kian mendesak Yoona kedalam rangkulannya. Gadis itu menarik napas karena rasanya sesak sekali apalagi dengan panggilan lelaki terhadapanya. Siapa tadi? Yoong? Menggelikan.

Pandangan Yoona berputar sebelum akhirnya menatap Nyonya Lee dengan senyum, “Eommonim, sebenarnya aku lebih menyukai pakaian yang nyaman.”

“Oh ya?” Nyonya Lee memajukan wajahnya lalu menunjuk sebuah butik,  “Kalau begitu bagaimana kalau kita kesana.”

Yoona dan Donghae mengikuti arah yang ditunjukkan Nyonya Lee, ketika menyadari bahwa Sehun tidak lagi berada disekitar mereka. Rupanya anak itu sedang berdiri didepan kaca display sebuah butik, meniru – niru gaya manekin yang tengah berpose. Tidak tanggung – tanggung, tingkah anak itu menerima sambutan  positif berupa senyum hangat dari para gadis yang berlalu lalang.

‘Anak itu memang tampan seperti paman—sekarang Appanya—tapi… dia sedikit aneh.’

Sehun berlari menghampiri Yoona dan Donghae lalu memeluk pinggang kedua orang itu, ia mendongak kearah Yoona, tatapannya menggebu – gebu, “Aniya Eomma, Sehun lebih tampan dari Appa.”

Mata Yoona membulat ingin bertanya atas dasar apa Sehun berbicara seperti ini, namun ingatannya yang rancu lebih dulu menjawab. Tentu saja karena anak itu punya kelebihan. Yoona bergeleng, saat ini dan seterusnya ia harus pintar – pintar mengatur pikirannya. Jangan sampai anak itu tahu.

“Tenang Eomma, aku ini sangat pintar menjaga rahasia.” Celetuk sehun menyadarkan Yoona dari lamunannya. Yoona berbalik menatap Donghae penuh isyarat. Bagaimana kalau Sehun membocorkan tentang perjanjian itu ? Yoona berjegit menyadari isi kepalanya, ‘Oh ya apa yang  sedang kau  pikirkan ini Im Yoona?! bodoh.. bodoh..’

Nyonya Lee mengacak rambut Sehun, “Sehun jangan iseng sama Eomma baru yaa.” Nasehatnya lembut. Sehun mengangguk patuh, lalu tersenyum lebar kearah Yoona yang sedikit kebingungan.

“Oo, Aku hampir lupa.” Cetus Nyonya Lee tiba – tiba. Ia menatap anaknya penuh harap,  “Donghae-ya, bisakah kau menemani Yoona memilih baju ? Eomma harus mengambil jahitan Appa di lantai atas. Nanti kalau sudah menemukan yang cocok, temani Yoona mencobanya. Nanti Eomma akan menyusul.”

“Baiklah tidak masalah. Aku akan menjaga kedua orang ini.” Donghae merangkul Yoona juga Sehun dikedua sisi kanan dan kirinya percaya diri. Nyonya Lee tersenyum lega.

“Sehun-ah, halmoni keatas dulu yaa. Sementara ini bersenang – senanglah dengan orang tua barumu.” Ujar Nyonya Lee mencubit pipi anak itu gemas. Wanita anggun itu beranjak pergi usai berpamitan.

Setelah kepergian Nyonya Lee, Sehun berdiri diantara Donghae dan Yoona, menggapai tangan mereka lalu menggiring kedua orang itu mengitari display butik disepanjang pusat perbelanjaan. Sementara ditengah perjalanan Yoona bernapas lega, tekanan berat dipundaknya seolah baru saja menguap keangkasa. Pasalnya dengan kepergian Nyonya Lee, ia tidak harus memutar otak agar terlihat seperti penurut dihadapan mertuanya itu.

“Kau tahu berlama – lama disini membuatku mengantuk.” Aku Yoona menatap butik – butik disekitarnya malas – malasan. Gadis  itu menguap lebar lalu menggaruk – garuk kepalanya.

Tatapan Donghae berubah sinis, lelaki itu terkekeh, “Kau kan memang seperti itu. Tertidur kapan saja dan dimana pun sesukamu.”

Yoona melirik lelaki itu tidak suka, meskipun yang dikatakannya mendekati kebenaran, Yoona tidak bisa menerimanya begitu saja. Donghae berkata seolah – olah ia menyukai tempat ini, padahal dari gerak – geriknya lelaki itu tampak gelisah. Mungkin hanya Sehunlah yang benar – benar menikmati waktu mereka. Anak itu menunjuk – nunjuk berbagai model busana mulai dari blazer hingga gaun malam, wajahnya berseri – seri sementara kedua orang dewasa disisi kanan kirinya menatap datar.

“Bagaimana dengan itu ? Eomma pasti menyukainya kaaan?” Sehun menunjuk nunjuk sebuah manekin yang tengah bertolak pinggang. Manekin itu mengenakan Long black t-shirt dengan Rock Skull print yang berpadu dengan legging hitam dan jaket kotak – kotak merah yang terikat dibagian pinggang. Jangan lupa dengan aksesorisnya berupa kalung rantai berkombinasi dengan simpul tambang hitam yang diukir sedemikian rupa, terlihat keren dimata Yoona sampai – sampai gadis itu tidak berkedip melihatnya.

“Ya bagus. Seandainya kau adalah istri seorang rentenir, sayangnya bukan.” Komentar Donghae membuyarkan kekaguman Yoona. Gadis itu mencibir.  Apa katanya ? Renternir ? Padahal dia tidak ada bedanya dengan rentenir, kalau rentenir mengeruk uang, Donghae lebih parah. Lelaki itu dengan seenaknya mengeruk sesuatu yang berharga dari seorang gadis. Lelaki itu mengeruk… mengeruk bibirku, OMG !  peristiwa 15 juta Won itu… kenapa jantung ini rasanya berdebar – debar. Apa yang sebenarnya kupikirkan ?!

“Waah yang itu lucu. Eomma pasti akan berubah menjadi imut.”

Yoona menatap manekin kedua yang ditunjukkan Sehun. Gadis itu mengernyit kali ini ia tidak  begitu setuju dengannya.

Donghae menatap dress biru pastel mengembang yang dipenuhi tile dengan atasan bling – bling. Donghae memperhitungkan Yoona dan dress itu bergantian lalu terkekeh, “Nanti sekalian saja rambut Eomma dikuncir tiga, lalu mengaku – ngaku sebagai adik Sehun sambil menari – nari dan beraegyo, semua orang pasti akan takjub melihatnya.”

Bibir Yoona mengerucut hendak mengutarakan bantahannya. Gadis itu menatap tidak suka namun percuma saja menanggapi lelucon lelaki itu yang sama sekali tidak lucu. Pada akhirnya Yoona balas terkekeh, “Ide bagus, sayangnya hanya orang gila yang sempat memikirkan hal itu.”

“Memangnya orang gila bisa berpikir ?”

“Iya, orang gila didepanku berpikir untuk berbuat seenaknya.”

“Sudah Eomma, Appa ! kalian ini bertengkar teruss, aku pusing mendengarnya.” Sehun berdiri didepan Yoona dan Donghae, menatap kedua orang itu tidak suka. Donghae berdecak, ia sempat melirik kearah Yoona yang mulai salah tingkah. Begitu juga Yoona yang melirik kearahnya. Disaat pandangan mereka bertemu, keduanya lantas memalingkan wajah bersamaan.

“Ini terlalu membuang waktu, sebaiknya kita sudahi saja acara ini segera. Kaja !” Donghae mengambil alih situasi pelik yang menimpa mereka. Kedua tangannya menyambar tangan Yoona dan Sehun lalu menggiring mereka memasuki sebuah butik. Kelihatannya butik ini cukup lengkap menjajahkan berbagai macam produk fashion mulai dari jaket, blouse, dress, setelan, blazer, sepatu, topi, hingga pakaian dalam wanita.

swl 8

swl 7

“Yak ! Lee Donghae-sii, kau sedang merampok pakaian atau apa ?” protes Yoona tanpa henti kearah Donghae yang seenaknnya mengambil beberapa pakaian di sepanjang hanger tanpa memperhitungkan model, warna apalagi harganya lalu melemparnya kebelakang dimana Yoona siap – siaga menadah pakaian – pakaian itu.

“Aku akan membayarnya tenang saja.” Tepis lelaki itu menjawab kehawatiran Yoona. Donghae berjalan dari ujung – keujung melempar apa saja yang ditemuinya, sesekali ia memperhitungkan sebuah gaun, namun hanya bagian tertentu, melihat apakah sopan atau tidak.

“Iya aku tahu, tapi bukan begini juga caranya !” cecar Yoona yang mengekorinya sepanjang jalan.

“Eomma !! lihat ini !” Sehun menyeru, anak itu menunjuk – nunjuk rak yang memamerkan sepatu dengan berbagai model, mulai dari flat shoes, wadges, high heels, kets, hingga boots.

“Oh ya sepatu.” Donghae merebut pakaian – pakaian yang telah menggunung dari tangan Yoona lalu membawanya ke meja kasir. Lelaki itu meminta pelayan butik membungkus barang – barang itu sementara ia menghampiri rak sepatu dimana Yoona dan Sehun tampak serius memilah.

“Berapa nomer sepatumu ?”

Pandangan Yoona berputar, “39.”

Donghae menyambar sepasang sepatu bergaya ballet merah muda yang luput dari perhatian kedua orang itu, lantas menaruhnya didepan Yoona.

“Kyaaa aku tidak mau memakai sepatu seperti itu.” tolak Yoona merinding dengan pilihan lelaki itu.

“Ini, yang ini lebih  bagus.” Yoona meraih sepasang silver wadges 15 cm bergaya sporty casual yang menurut gadis itu sesuai dengan kepribadiannya.

Donghae bergeleng tidak setuju, “Ani, terlalu berlebihan.”

“Apanya yang berlebihan ? kau saja yang berlebihan.”

“Haknya terlalu tinggi.”

“Memangnya kenapa kalau aku memakai hak tinggi?” Yoona menatap Donghae tidak mengerti, lantas mengira – ngira,  “Oh aku tahu, Kau pasti merasa minder seandainya  aku jauh lebih tinggi darimu, iya kan? Terus kalau kenyataannya aku memang jauh lebih tinggi darimu, itu salah siapa, salahku ? salah kakakku ? salah teman – temanku?  Salah tetanggaku ? Salah siapa? ”

Tatapan Yoona terus menuntutnya berbicara sesuatu, namun begitu Donghae sudah berikrar didalam hatinya bahwa ia tidak akan goyah sedikit pun, “Aku tidak perduli salah siapa, kau hanya boleh memakai flat shoes.”

Napas Yoona tertahan di tenggorokan, ia benar – benar tidak tahan dengan sikap semena – mena lelaki itu, bahkan urusan sepatu.

“Pokoknya sekali tidak ya tetap tidak,” Yoona meraup lebih dari lima pasang sepatu yang terpajang dirak lalu memboyongnya pergi.  Donghae membulatkan mata terkejut namun ia hanya bisa terperangah ketika barang – barang itu sudah berada diatas meja kasir.

Yoona menengok kebelakang. Gadis itu tersenyum licik. Sebentar lagi kau pasti akan mengalami kebangkrutan Lee Donghae ! Maka terimalah akibat dari sikapmu sendiri…

Perhatian Yoona tersita kearah tiang hanger diujung sana. Berbagai model kemeja wanita bahkan kaos – kaos unik tergantung rapih. Lantas Yoona beranjak menghampiri barang – barang itu sambil memutar – mutar ujung rambutnya santai.

“Oh ya yang ini kelihatannya bagus.”

“Aishh.. kau sedang apa ?” protes Donghae.

“Ini ini… sekalian…”

“Ini…”

“Dan ini.”

Yoona melempar pakaian – pakaian yang diambilnya kewajah Donghae tanpa memperdulikan aksi protes lelaki itu. Yoona menatapnya sebentar.

“Lalu ini… kacamata untukmu.”

Entah bagaimana pikiran ini terlintas. Yoona menyambar sebuah benda, kutang berenda, membuka pengaitnya lantas  menautkan tali gundukan itu diseputar mata Donghae. Lelaki itu menggeliat. Yoona memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut segunung pakaian dari tangan Donghae lalu memboyongnya kemeja kasir.

“Aishhshh.” Donghae membuang kutang berenda itu sembarangan, bulu kuduknya tiba – tiba merinding.

“Menggelikan.” Gumam lelaki itu bergidik sebelum akhirnya menghilang dari sana.

Dua orang wanita berseragam biru toska dibalik meja kasir baru saja mengemasi barang – barang belanjaan mereka. Lebih dari sepuluh paper bag dari butik itu siap dibawa pulang. Donghae mengambil sekeping kartu dari dalam dompetnya, lalu menyodorkannya kearah kasir. Selesai dengan kegiatan transaksi, Donghae bersiap mengangkat barang – barangnya namun ia lebih dulu dikejutkan oleh kehadiran sang Eomma.

“Donghae-ya, Eomma harus mengisi siaran mendadak hari ini jadi Eomma harus mengunjungi kantor berita, apakah Yoona sudah selesai memilih ?”

Donghae tidak langsung menjawab, ia menunjuk tumpukan paper bag diatas meja kasir dengan matanya. Nyonya Lee mengernyit, “Wah kalian memilih dalam waktu singkat.” Tanggapnya berdecak kagum. Biasanya kebanyakan wanita menghabiskan banyak waktu mengitari pusat perbelanjan hanya demi sepotong gaun namun tidak bagi Yoona.

“Lalu dimana istrimu ?”

Arah pandang Donghae menunjuk seorang wanita mengenakan blouse putih dan rok hitam sedang berpose didepan seorang anak kecil yang tampak menimbang – nimbang, “itu dia, bersama Sehun sedang mencoba pakaian untuk menghadiri acara perkenalan presdir sesungguhnya di perusahaan Sehun besok.”

12472779_522352437951264_4093809609129937380_n

“Kau juga harus  bersiap – siap Donghae-ya dan ingat, akan ada banyak anjing kelaparan di tempat barumu. Kau harus berhati-hati.” Himbau Nyonya Lee. Donghae tersenyum yakin, “Itu sudah pasti Eomma.”

Nyonya Lee menatap  interaksi diantara Yoona dan Sehun sekali lagi. Mereka tertawa – tawa entah menertawakan apa, “Lihatlah mereka seperti pasangan kekasih, Eomma hawatir, jangan sampai kau cemburu melihat kedekatan mereka.”

Donghae ikut menggeser tatapannya. Lelaki itu membisu. Entahlah Ia bahkan tidak mengerti cemburu yang dimaksud Eommanya. Apakah karena Yoona dekat dengan Sehun atau justru sebaliknya, anak itu yang mencoba mendekati Yoona. Rasa cemburu sebagai seorang Appa ataukah… sebagai lelaki?

……………

Disebuah ruang kerja, seorang lelaki tua duduk memutar – mutar kursinya dengan gelisah. Ia tampak serius membolak – balik tumpukan kertas ditangannya. Lelaki tua itu mengernyit ketika mempelajari sesuatu. Lelaki tua itu menghempaskan lembar – lembar kertas ditangannya, lantas mendelik tajam lelaki muda yang tengah berdiri dihadapannya.

“Jadi, dia sudah resmi mengadopsi anak itu ?!”

“Nde, di surat warisan tertulis bahwa Lee Donghae adalah wali Sehun. Kita sudah berusaha mengambil alih hak asuh lewat pengadilan tapi dengan keadaan seperti ini, kita jelas akan kalah. Lee Donghae telah menikah dan mengadopsi anak itu.”

“Tidak bisa dibiarkan ! Cara pertama untuk mendekati anak itu bahkan merampasnya sekali pun sudah gagal. Sekarang saatnya menggunakan metode kedua.” Lelaki tua itu menyeringai. Beberapa saat kemudian tatapannya kembali menajam, “Bagaimana pun caranya kita harus mencoba mempengaruhi wali anak itu, kalau dia tidak bisa dipengaruhi, gunakan metode ketiga.”

“Baik Tuan.” Lelaki muda dihadapannya menunduk patuh.

“Lakukan dengan baik, aku tidak mau harta karunku yang direbut oleh bocah itu hilang begitu saja. Harta warisan itu harus menjadi milik kita, dan ibumu juga sangat menginginkannya. Kuperingatkan padamu untuk melakukan apa saja jangan sampai gagal. Jika tidak mempan dengan cara halus maka gunakan cara kasar yang  sifatnya halus. Ingat jangan gegabah dan membuat rencana kita gagal, atau kau tidak akan pernah berstatus sebagai anakku.”

Sepasang tangan lelaki muda itu mengepal dikedua sisi tubuhnya. Lelaki muda itu menatap Tuan besar dihadapannya penuh ambisi.

“Tenang saja, saya tidak akan mengecewakan anda Tuan.” Setelah itu bibirnya mengukir seringai penuh arti.

……………

Brak. Yoona menutup pintu kulkas dengan kakinya sementara kedua lengan gadis itu menyekap berbagai jenis buah – buahan yang lantas diletakannya diatas meja sofa ruang tengah. Yoona mendaratkan tubuhnya disofa lalu tidak sengaja bertatapan dengan jam dinding diatas sana. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Situasi dirumah besar ini sangat sepi. Kelihatanya para penghuni rumah termasuk Sehun, Halmoni dan para pelayan sudah  beristirahat di kamar mereka masing – masing, tapi tidak untuk pelayan Choi yang beberapa saat lalu bertemu dengan Yoona didepan kulkas. Pelayan Choi ikut mendaratkan tubuhnya disamping Yoona. Tangannya tidak tinggal diam menyambar buah apel diatas meja lantas menggigit dan mengunyahnya dengan rakus.

“Tapi badan suamimu sexy juga, wah dia benar – benar tipemu.” Kagum Sooyoung melanjutkan obrolan mereka saat didapur. Sebenarnya Sooyoung masih tidak percaya bahwa Nyonya baru di rumah ini adalah Yoona, teman se-geng nya saat di black Hero. Sooyoung merasa keajiban ini seperti mimpi.

“Anggap saja itu bonus.” Celetuk Yoona memasukkan dua butir anggur besar sekaligus kedalam mulutnya. Gadis itu memejamkan mata ketika lidahnya mengimbangi keasaman dari buah anggur itu, menelannya mentah – mentah lalu melanjutkan obrolan mereka, “Tapi dari mana kau tahu ?”

“Disuatu pagi aku melihatnya, kira- kira tiga hari lalu saat kau pertama kali menginap di rumah ini,  aku mengantar pakaian kalian bersama halmoni dan kebetulan suamimu yang membukakan pintu.”

Yoona tampak berpikir, “Oh jadi pelayan yang dimaksud Donghae itu kau?”

“Memangnya dia cerita?”

“Bukan cerita, tepatnya dia mengomeliku panjang lebar.”

“Kenapa?”

“Pagi itu Donghae kesal karena aku tidak bangun – bangun. Lalu Ia terpaksa membuka pintu dengan hanya mengenakan boxer dan seorang pelayan didepan pintu menatapnya lebar – lebar dengan mata terbuka. Katanya dia malu.” Yoona berdecak, “Kau benar – benar gila, bagaimana mungkin kau menatap lelaki topless dengan cara terang – terangan seperti itu ?!”

Sooyoung tertawa seolah merasa bangga dengan tingkah menjijikkannya itu, “Ya Im Yoona, perempuan mana didunia ini yang sampai hati melewatkan pemandangan menggiurkan seperti itu ? Dia pasti sangat hebat di ranjang….”

“Ssttt—“ Yoona melotot hampir saja menyumpal mulut Sooyoung dengan pisang, “Kecilkan suaramu, bagaimana kalau ada yang dengar?”

“Tenang saja, Seluruh penghuni rumah ini sudah berada dikandang mereka masing – masing. Kecuali orang – orang yang kelaparan seperti kita.” Imbuh Sooyoung.

“Bagaimana ? Aku benar kan ? Tuan Lee sangat hebat saat di—ehmmm?” tambahnya, kali ini Sooyoung terpaksa menyamarkan.

“Ya, mana kutahu…” Yoona menggidikkan bahu.

Sooyoung mengernyit heran, “Kenapa jawabanmu seperti itu ? Kau masih perawan…”

Yoona mengalihkan pandangannya memilih sibuk dengan sebutir apel merah ketimbang ia harus meladeni pertanyaan Sooyoung. Yoona melirik Sooyoung sesekali. Tampak disana temannya itu menghunuskan tatapan curiga. Ia tidak mungkin menceritakan kepada Sooyoung tentang perjanjian itu. Otak Yoona berputar mencari alasan lain. Bodoh. Harusnya aku membenarkan anggapan Sooyoung, tapi… kenapa rasanya sulit sekali ?

“Aneh, jangan – jangan…” Sooyoung menyipit, “Jangan – jangan dia impoten ?”

“Uhuk.” Yoona tersedak. Gigitan apel yang sudah mencapai tenggorokannya nyaris terdorong keluar. Anggapan Sooyoung terlalu mengada – ngada. Ia memang belum pernah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman… panas, tapi Yoona sangat bisa merasakan gairah lelaki itu yang berkobar seperti api dan ia sangat yakin apa yang dipikirkan Sooyoung tidaklah benar.

“Yoona, katakan padaku, apakah dia belum pernah menyentuhmu ?” raut wajah Sooyoung semakin menggila dan menggebu – gebu, “Kalau tidak impoten… apakah dia… gay ? Omo !”

Pluk. Yoona menyambar sebuah pisang lalu membenturkannya dikepala Sooyoung, “Yak Choi Sooyoung jaga ucapanmu. Dia tidak impoten apalagi gay…”

“Lalu apa?” Sooyoung menguncang lengan Yoona tidak sabaran.

Yoona menepis tangan Sooyoung lalu menatapnya, “Kau tahu istilah jual mahal kan ?  Pernikahan kami saja belum ada seminggu. Aku tidak mungkin secepat itu menyerahkan harta berharga yang kupunya sebagai seorang wanita.” Harta berharga ? kau bahkan nyaris melepasnya….tapi selalu gagal.

Sooyoung memutar bola matanya malas, “hmmmmmmmm, Sikapmu yang seperti inilah yang kadang membuatku ingin mendorongmu ke dasar jurang.”

Yoona menatapnya tidak mengerti.

“Bagaimana mungkin kau masih sempat-sempatnya jual mahal ? hellow ?!” Sooyoung menyeka dahinya lelah, “Aku beritahu khusus untukmu. Di jaman sekarang ini, yang membanting harga saja belum tentu laku… apalagi yang jual mahal ?!. Asal kau tahu saja ya, Persaingan di pasar bebas itu sangat ketaaaaat ! Kalau kau terus jual mahal seperti ini, bisa-bisa suamimu mencari ‘jajanan’ lain di luar.”

“Lagipula, pria seperti sajangnim itu memiliki penggemar yang banyak. Kau sangat beruntung bisa menjadi istrinya. Nah yang menjadi pertanyaanku dari kemarin adalah kenapa sajangnim bersedia menikahimu ?

“Ya bisa saja. Itulah yang dinamakan jodoh.”

Sooyoung menggidikkan bahu tidak peduli. Yoona hanya bercerita jika dia bertemu dengan Donghae saat gadis itu menyelamatkan Sehun. Mereka pun berkenalan hingga akhirnya saling mengenal satu sama lain. Perkenalan itu pun berlanjut kepelaminan. Sangat klise menurutnya.

“Jam berapa ini ?” Sooyoung menatap jam dinding, matanya membulat ketika jarum jam menunjukkan pukul 12 malam. Sooyoung menguap lebar lalu menatap Yoona, “Aku mau Tidur, kau tidak tidur ?”

Yoona tampak berpikir, “Ani, Kau saja duluan.”

“Tidak biasanya, kau kan tukang tidur.” Ledek Sooyoung tiba – tiba matanya menyipit kearah Yoona, “Apa… kau sedang menunggu kepulangan seseorang ?”

“…..”

Belum ada jawaban dari temannya, Sooyoung beringsut menyenggol lengan Yoona lalu berbisik, “Yak, aku akan membeberkan sebuah fakta tentang Lee Donghae.”

Yoona meliriknya penasaran. Bibirnya yang pantang berbicara mengenai Donghae saat ini tiba – tiba berucap, “Fakta apa maksudmu?”

Sooyoung menyeringai, “Asal kau tahu Sajangnim itu jarang pulang ke rumah, dia lebih sering menginap di kantornya. Dia itu sangat workaholic. Jadi kusarankan padamu untuk banting harga karena jika kau terus jual mahal, sajangnim akan menduakanmu dengan pekerjaannya, bahkan yang lebih parahnya lagi seperti perkataanku tadi, dia akan mencari jajanan lain diluar sana.

Yoona mencerna perkataan Sooyoung, tiba – tiba ia tertegun. Apa yang dikatakan Sooyoung ada benarnya. Wanita itu tampak santai memakan pisang hingga tandas. Tapi Yoona merasa ada yang janggal disini. Sooyoung berbicara seolah – olah ia memiliki banyak pengalaman dalam hal percintaan padahal Yoona tahu fakta yang sebenarnya.  Banting harga ? pasar bebas ? Yoona terkekeh lalu menatap Sooyoung dengan sorot mata menjatuhkan.

“Terus, kenapa juga aku harus mendengar nasehatmu ? kau saja belum laku.” Cetus Yoona menusuk hingga kedasar hati. Sooyoung menggeram kesal.

“Aishhhh… kau benar – benar keras kepala. Ya sudah kalau begitu nikmati saja prinsip jual mahalmu itu, aku mau tidur, byeee.”

Beranjak dari tempatnya, Sooyoung pergi meninggalkan Yoona yang termenung sendiri. Yoona bergeleng menepis bayang – bayang gila dikepalanya. Ia sama sekali tidak perduli.  Donghae bukan siapa – siapa. Mereka sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan masing – masing jadi apapun yang dilakukan Donghae diluar sana, itu bukan termasuk urusannya.

Berbagai jenis buah – buahan berserakan diatas meja.  Yoona menggidikkan bahu, sayang sekali ia sudah terlalu lama menganggurkan mereka. Yoona menggapai satu persatu buah mulai dari pisang, jeruk, apel, pear, anggur, menghabiskan semua itu hingga perutnya sesak. Keadaan seperti ini cukup melelahkan disamping ampuh untuk melampiaskan kegundahannya. Yoona beranjak membaringkan tubuh lunglainya dipermukaan sofa. Gadis itu menghela napas merasa nyaman dengan gaya seperti ini. Lalu tangannya meraba permukaan meja hendak mencari – cari satu atau dua butir buah yang tersisa.

Bunyi tepakan langkah menghadang pendengarannya. Yoona terkesiap buru – buru membenahi posisinya menjadi duduk. Yoona membereskan sampah – sampah yang berhamburan disekelilingnya namun melihat siapa yang datang, Yoona menghela napas. “Hmm Kukira siapa.” Gumamnya selagi melanjutkan kegiatannya mengunyah beberapa butir anggur. Gadis itu menengok kearah jam dinding. Pukul satu pagi. Kedua alis Yoona berjingkat. Mahluk seperti apa dia? Baru pulang jam satu pagi ?! jangan – jangan benar apa yang dikatakan Sooyoung… Selain bekerja lelaki itu sibuk mencari jajanan diluar, ihh mengerikan sekali…

Donghae melangkah menuju kamarnya namun ditengah perjalanan ia menemukan seorang gadis sedang duduk di atas sofa. Donghae menyipit kearahnya, “Yoona ?”

Donghae datang menghampiri sofa lalu duduk di samping gadis itu, “Apa yang kau lakukan disini ?”

“Mencuci baju.”

Donghae mengangkat alis.

“Tentu saja sedang makan, memangnya apa lagi ?”

Donghae memajukan wajahnya mengamati Yoona yang sedang mengunyah sesuatu, “Berarti kau mempunyai tenaga yang cukup. Bagaimana jika kau memijatku.”

“Kenapa aku harus melakukannya ?”

“Ya tentu saja harus. Kau seharusnya menyambut suamimu yang baru saja pulang ke rumah dan apa salahnya melakukan hal itu? Hitung-hitung untuk menebus kesalahanmu yang sudah menggunung.” Donghae mengingat – ingat dan berbagai peristiwa langsung menyerbu lidahnya, “Tadi pagi kau baru saja menendang kakiku. Tubuhku juga bentol-bentol karena digigit semut itu juga karenamu.”

Kepala Yoona berputar-putar mendengar ceramah Donghae. Ini sudah jam satu pagi dan gadis itu sudah tidak berselera untuk meladeni lelaki itu. Yoona  berdecak, “Ya ya baiklah. Tapi ingat tarifnya 3 juta Won. Jadi total utangmu menjadi 28 juta Won.”

Donghae terkekeh melihat reaksi Yoona. “Terserahmu.” Ucapnya tidak perduli. Lelaki itu mulai memposisikan tubuhnya membelakangi Yoona.

“Aku tidak mau rugi jadi lakukan sebaik mungkin.” Pesannya.

Pijatan pertama kedua tangan Yoona menekan bahu Donghae. Jemarinya berputar-putar membentuk pusaran yang menusuk daerah ototnya. Pijatan Yoona berpindah kebagian punggung Donghae, sesekali Yoona memukul – mukulnya. Donghae mulai memerintah agar Yoona melakukan tugasnya dengan benar, memijat ini dan itu tanpa henti. Yoona mendengus, gadis itu kembali menekan bahu Donghae kali ini dengan kekuatan penuh, namun yang didapatkannya lagi – lagi hanya kalimat protes.

“Pijatan model apa ini ? kau mau membuatku cacat ? lakukan perlahan – lahan, apa kau tidak sadar tenagamu itu seperti kuli !”

“Ya, mana aku tahu ?! kau pikir aku tukang pijat ?” Yoona bersungut karena menurutnya lelaki itu terlalu cerewet. Yoona sudah mengurangi tekanannya namun Donghae tetap saja memprotesnya. Hingga Yoona terperangah ketika Donghae tiba – tiba berbalik badan lalu tubuhnya serasa dipaksa berbalik seratus delapan puluh derajat memunggungi lelaki itu.

“Sini, biar aku tunjukkan padamu cara memijat yang baik dan benar. Lakukan seperti ini.”

Donghae memposisikan kedua tangannya hinggap dipundak Yoona. Gerakannya mendorong kedepan, memberi tekanan pelan hingga sedang. Sepanjang waktu Donghae menunjukkan sebuah contoh, ekspresi wajah Yoona tidak kunjung berganti, datar.

“Biasa saja.” Tanggap Yoona, “Tidak ada yang istimewa dari pijatanmu.”

Donghae tidak langsung menjawab, lelaki itu membiarkan hening mengisi kekosongan diantara mereka, “Menurutmu begitu ?” tandasnya tiba – tiba berubah dingin dan kaku.

“Ya.” Yoona terdiam sesaat merenungkan suara lelaki itu.

Setelah apa yang dikatakan Yoona, Donghae tidak membenarkan begitu pula membantah. Kesunyian merayap setelahnya. Yoona membiarkan kesunyian itu hingga menyerah karena tidak tahan dengan kebekuan diantara mereka. Bola mata Yoona menggerling hendak memastikan apa yang sekiranya dilakukan Donghae saat ini, terlebih ketika gerakan tangan lelaki itu berhenti tiba – tiba.

“K-kenapa ?” Yoona menahan udara didalam perutnya yang bergemuruh entah karena apa. Memutar pandangannya kebelakang baru saja ingin ia lakukan, kalau saja lelaki itu tidak mendahului.

“Kau memakai parfum rasa bubble gum ?”

Yoona terpaku melirik situasi disekitarnya tidak mengerti. Tubuh gadis itu bergidik tanpa kendali disaat sepasang lengan kekar muncul dari arah belakang, mengitari pinggangnya hingga terkunci rapat.

 “I-iya, biasanya aku memakai wangi passion fruits, tapi aku bosan. Kenapa ? kau tidak suka wangi yang ini ?”  Gelombang dari guncangan di jantungnya serasa menanjak hingga kerongkongan. Gadis itu menelan ludah.

Sebuah kecupan jatuh diatas permukaan kulit leher Yoona. Donghae menghirup setelahnya. Aroma parfum gadis itu ikut bertabur kedalam penciumannya, ikut serta mengikat keingiannya menaburkan kecapan halus bertubi – tubi, “Tidak begitu… Aku suka, sangat suka malah.” Bisik Donghae melepaskan udara kedalam telinga Yoona.

“Jadi inikah yang kau sebut dengan memijat yang baik dan benar ?” Yoona mencondongkan bahunya mulai tidak nyaman.

“Iya.” Donghae mendaratkan wajahnya bersinggah diatas bahu gadis itu.

“Tapi, ini bukan memijat.” Sangkal Yoona disaat gelenyar aneh datang bergejolak menghangatkan aliran darahnya.

“Kenapa ? Tidak suka ?”

Lidah Yoona berubah kelu. Pandangannya bergeser menatap lelaki itu yang kini bermain – main dengan lehernya. Kebimbangan menguasai pikiran Yoona. Godaan ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Awalnya Yoona ingin berkata bahwa ia tidak suka dan terganggu dengan sikap lelaki itu, tapi hati kecilnya berkhianat. Bagaimana ini ? Apa sebaiknya aku banting harga saja ? Tapi bukankah ini akan sangat memalukan…

Donghae menemukan gadis yang menjadi sandarannya terdiam. Keheningan menjadi – jadi memaksa Donghae menyadarkannya. Lelaki itu memberikan gigitan kecil pada telinga Yoona. Gadis itu mendesis halus membuat Donghae semakin mengeratkan dekapannya, “Jadi ?” lelaki itu bertanya sekali lagi.

“Aku… suka,” Yoona berhenti sejenak memikirkan kata – katanya yang teramat memalukan ini. Kedua matanya memejam kuat “Aku suka… sangat suka malah.”

Apa ini?! Segeralah tarik jawaban gilamu itu Im Yoona !  Peperangan batinnya mulai bergejolak. Yoona menggigit bibir bawahnya teramat bimbang, ia tidak percaya dengan lidahnya sendiri yang begitu lancang. Yoona bahkan tidak bisa menemukan kemana akal sehatnya pergi. Yoona terpatung berdebar – debar diantara pertahanannya yang meletup dengan mudah seperti gelembung sabun. Tentu ia tidak akan bisa menemukan akal sehatnya karena semua itu sudah usang dihancurkan oleh hasratnya yang lepas kontrol.

“Gelii…” Yoona menggidikkan bahu sambil tertawa menahan kegelian akibat perlakuan Donghae disekitar lehernya. Sentuhan bibir lelaki itu menyesap kulit leher Yoona semakin dalam hingga turut serta memainkan lidah dan mengerahkan gigitannya. Yoona meronta ditengah ketidakberdayaannya mengimbangi permainan lelaki itu.

Donghae mengarahkan tangannya sedikit menggeser kepala Yoona agar mereka bertatapan , “Akhirnya kau bisa tertawa karenaku. Tadinya aku berpikir kau hanya bisa tertawa saat bersama Sehun.”

“Sehun ?” Yoona mengernyit.

“Hm, kalian tampak bahagia dan tertawa bersama saat di butik.”

Yoona memutar ulang ingatannya lalu menepis, “Bukankah kau juga melakukannya ? kau juga tertawa bersama Sehun saat anak itu mengajukan permohonan anehnya.”

“Jadi kau masih kesal ? Apa karena itu kau sangat sensitif ketika berbelanja tadi ?” Donghae mengusap bibir bawah Yoona yang maju beberapa senti, “Padahal saat di butik aku hanya memberikan penilaianku…”

“Yaa, akhirnya kau sadar kalau kau menyebalkan.” Yoona membuang wajah lalu menunduk, “Tidak hanya di pusat perbelanjaan, sebelumnya kau juga membuatku kesal. Aku sudah bilang padamu aku butuh penawar. Dan ketika aku sudah menemukan penawarnya kau malah berhenti karena ketukan pintu Sehun.”

“Penawar? Oh ya aku lupa, kau keracunan karena peristiwa di pulau? Mianhae, membuatmu shock.” Kedua lengan Donghae berpindah membungkus bahu dan lengan Yoona, lalu memeluknya.

“Aku tidak shock…” bantah gadis itu. Jemarinya muncul kepermukaan mengusap wajah Donghae, menggiring mata mereka agar bersitatap. Bola mata lelaki itu berbinar – binar menyilaukan hingga pantulan dirinya tampak jelas disana. Dan Yoona merasa bahwa sosok gadis yang berada didalam pantulan itu bukanlah dirinya. Lalu apakah dirinya telah berubah menjadi sosok lain ? ….

Suasana mendadak  hening menyisahkan suara deru napas dan tatapan Donghae yang menuntut sebuah penjelasan. Yoona membenturkan bibirnya diatas pipi Donghae, menyesapnya tertahan, lantas berbicara diatas tanda yang berbekas.

“Kau tahu racun itu ada dua.” Terang Yoona mengamati pupil Donghae yang membesar. Gadis itu mengerahkan bibirnya berucap, “Racun yang mematikan seperti racun serangga dan racun yang membuat ketagihan seperti nikotin. Mungkin… menurutmu aku sedang terkena racun mematikan yang membuatku shock tapi racun yang kumaksud disini adalah racun yang membuatku ketagihan…”

Donghae mendaratkan ciuman di bibir Yoona sekilas , “Jadi aku harus apa ?”

“Lagi..” Pinta Yoona memajukan wajahnya.

Donghae menyanggupi permintaan Yoona menciumi bibir gadis itu bertubi-tubi. Terakhir kali Donghae menahan bibirnya diatas bibir Yoona. lelaki itu menahannya disana tanpa melakukan apapun disaat Yoona berharap Lebih. Pada akhirnya gadis itu merajuk dan menyikut perut Donghae. Gelak tawa lelaki itu hinggap ditelinga Yoona mengubahnya tampak menyebalkan.

“Ihhh..” Yoona berjengit karena lelaki itu bergeser menciumi pipinya.

Donghae mendekap Yoona posesif lalu berbisik, “Bisakah kau tetap seperti ini saat didepan Eomma ? Aku tahu kau sedang kesal tapi sikapmu yang kaku saat di pusat perbelanjaan, bisa saja mengundang kecurigaan orang – orang termasuk Eomma.”

Kali ini Yoona balas menciumi bibir Donghae sekilas, “Lalu kau mau apa?”

Donghae menghirup aroma leher Yoona seiring permintaannya; “Aku ingin membangun chemistry agar kau tidak semakin menjauh.”

“Jadi, kau seperti ini hanya untuk membangun chemistry ?” simpul Yoona selagi menimbang – nimbang, “Baiklah, Apapun alasannya itu terserahmu, Lee Donghae sajangnim.”

Seburat merah bertabur memenuhi wajah gadis itu. Menerima sinyal hijau, Donghae tersenyum samar. Dari arah belakang, Lelaki itu mengeratkan pelukannya diseputar pinggang Yoona, Donghae kian mendesak tubuh mereka, menghirup tengkuk gadis itu sekaligus mendalami kehangatan punggungnya.

Sepasang tangan Donghae lantas berpindah mengenggam kedua tangan Yoona. Meremasnya perlahan-lahan hingga keujung jari. Donghae terus berpetualang menembus kaos Yoona menghantarkan jemarinya bergesekan langsung dengan kulit gadis itu. Tangan Donghae menemukan kebebasannya menjelajahi pinggang Yoona, mengusap – usapnya penuh tekanan, sementara bibirnya bermain – main menyesap bibir Yoona dari samping hingga merambat kebagian leher.

Kinerja tubuh Yoona semakin porak – poranda. Gadis itu hanya terpatung menunggu sesuatu. Matanya terpajam kuat menanti dengan penuh harap. Usapan tangan Donghae  menjalar dari pinggang lantas meraba – raba menuju pusat atasnya. Yoona tidak kuasa menahan gejolak didalam tubuhnya. Gadis itu meremas tangan Donghae yang sibuk menjelajah didalam kaosnya, menahan sensasi pergerakan itu dengan gelisah akibat sekujur tubuhnya yang merinding.

“Aku bahkan belum memegang apa pun dan kau sudah seperti ini…” Donghae berbisik menaburkan udara kesekujur telinganya. Gadis itu semakin merinding disaat mendalami terpaan udara yang merasuk kedalam pori – pori kulitnya hingga rasanya seperti ingin meledak, ditambah ketika Donghae mengarahkan gigitan – gigitan kecil dipermukaan daun telinganya, Yoona menghirup oksigen sebanyak mungkin.

Donghae memacu sentuhannya hingga bertumbukan dengan kepunyaan Yoona didalam sarangnya. Lelaki itu membuka pengait yang menghalangi kemudian tangannya menyusup kedalam. Lantas mengerahkan jemarinya  berputar – putar menggali dua buah kelembutan milik gadis itu. Tubuh Yoona semakin meliuk gelisah namun begitu ia membiarkan Donghae melakukan segalanya, tak terkecuali menjamah titik sensitifnya hingga mengeras. Permainan Donghae semakin menghentaknya, Yoona menahan napas tidak tahan lagi memendam keinginannya untuk menjerit.

“Sssst—“ Desis Donghae membungkam bibir Yoona dengan bibirnya, lelaki itu menghentikan permainannya sejenak lalu berbisik, “Kau jangan berteriak, bisa-bisa ada yang terbangun.”

Yoona menelan ludah bercampur dengan jeritannya yang menggantung diujung lidah. Gadis itu menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk.

Donghae melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda, menggerayangi bagian Yoona posesif, hingga terputus disaat gadis itu menghentikan paksa permainannya. Yoona membawa tangannya menggenggam tangan Donghae lantas menggiringnya keluar dari lapisan kain yang membungkus tubuhnya.

Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain sebelum akhirnya Donghae membantu Yoona berbalik badan, menuntun gadis itu duduk kepangkuannya hingga mereka berhadapan lalu mempertemukan pangkal hidung mereka yang bergesekan.

“Kau yakin akan melakukannya disini ?” Yoona menangkup wajah Donghae dan berbisik diatas bibirnya. Tanpa jawaban berarti Donghae lantas menyambut bibir Yoona hendak menyesapnya andai saja gadis itu tidak datang menghalangi dengan interuspsi jemarinya diatas bibir Donghae.

“Bagaimana kalau ada yang melihat ?”

Donghae tersenyum membenahi rambut Yoona, “Tenanglah tidak ada yang akan melihat kita. Saat ini semua orang sibuk dengan mimpi mereka. Lagipula siapa juga yang berkeliaran malam – malam begini.”

Tatapan Yoona meminta keyakinan, “Jinja?”

Donghae mengangguk. Tangannya lalu menyusup kebelakang punggung Yoona mendekap gadis itu mendekatinya. Sorot mata mereka saling bersahutan,  lebih menegaskan bahwa hasrat lelaki itu sudah benar-benar berada diatas puncaknya. Yoona terdorong mengalungkan kakinya diseputar pinggang Donghae, Jemarinya lantas membelai pundak lelaki itu, berkeliling mengitari hingga kaki dan tangannya terkunci rapat.

Bibir mereka bertemu untuk saling mengecap dan meraba, lalu berpisah sejenak menetralkan deru napas keduanya yang mulai berantakan. Donghae menatap Yoona dengan isyarat mendamba sekaligus memperhitungkan.

“Kira – kira berapa dendanya ?”

Yoona memicing. “Berapa ya ? hmmm,”

“Jangan membuatku menunggu terlalu lama.” Peringat Donghae mengusap dagu Yoona. Gadis itu tersenyum manis, “Baiklahh.”

Yoona menurunkan kelima jemarinya, bermain – main membelai dada bidang Donghae, hingga merosot kebawah membebaskan satu persatu kancing dipermukaan  kemeja lelaki itu, “Aku… sedang membuka sale besar – besaran.“

Donghae mengangkat alisnya tinggi – tinggi. Lelaki itu menatap gadis dihadapannya hendak mencari kesungguhan.

Sale 99,99 %” Yoona memejamkan mata selagi menggigit bibir bawahnya gemas, ini merupakan hal tersinting yang pernah ia lakukan. Mengobral diri sendiri kepada seorang lelaki… tampaknya sangat menjijikkan, namun tidak berlaku jika itu suaminya sendiri, lagipula racun didalam tubuhnya kini semakin menggila dan ia membutuhkan sebuah penawar.

Yoona mengungsikan segala pikiran yang perlahan mengusiknya, lantas menatap Donghae menanti sebuah jawaban, tidak lupa menarik sebuah garis dibibirnya, “Apa kau tertarik—”

Telunjuk Donghae mendarat dibibir Yoona, tanpa menunggu waktu lama Donghae menarik pinggang Yoona lalu menumbuk bibirnya menyesap leher gadis itu. Yoona meringis menahan hisapan Donghae yang semakin liar. Yoona mendekap kepala Donghae yang kian menggelitik lehernya dengan kehangatan yang menjelajah. Sekujur tubuh Yoona menggelora bagai melayang diantara bunga – bunga musim semi yang berjatuhan kearahnya. Disamping merinding gadis itu tertawa kegelian.

Donghae merapatkan pinggang mereka semakin intim, Bibirnya lalu mencapit daun telinga Yoona hingga memaksa gadis itu berdesis oleh tanda peringatan, Donghae berbisik ditelinganya “Kau jangan banyak bergerak, aku jadi susah menahanmu.”

“Ya sudah kalau begitu jangan terus menggodaku.” Tanggap Yoona dibarengi kekehannya saat Donghae kembali melanjutkan petualangannya mencetak tanda kepemilikan disekujur leher gadis itu. Tubuh Yoona menggeliat kehilangan arah. Tanpa sadar tangannya mencengkeram punggung lelaki itu. Entah bagaimana semakin Donghae memperkeruh permainannya semakin Yoona menginginkan sensasi yang lebih dari ini.

Sentuhan Donghae naik meraba – raba wajah Yoona sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka. Donghae terus menggali hisapannya mengoyak bibir Yoona, menyesap hingga bagian terdalamnya. Gadis itu membalasnya dengan cara yang sama tanpa mengingat bahwa pasokan oksigen didalam tubuhnya mulai menipis. Getaran didalam tubuh Yoona semakin menggila, tangannya mengusap rahang lelaki itu, nyaris mencengkeramnya.

Donghae mendorong lidahnya menyusup kedalam rongga Yoona yang lantas menyambutnya. Leguhan panjang gadis itu mengudara seiring lidah Donghae yang membasuh tiap benda didalam rongganya, lidah Donghae membangkitkan lidah Yoona, menusuk dan menghentaknya  hingga saling bertautan. Keinginan menggali kepuasan lebih mengguncang hasratnya. Jemari Yoona mencengkeram leher kemeja Donghae menarik tubuh lelaki itu semakin menyatu dengannya. Gairah Donghae semakin berkobar. Lelaki itu mendesak panggulnya bergesekan dengan Yoona, sementara gadis itu bertahan menikmati ciuman mereka yang panas membara.  Pergulatan itu tidak ubahnya seperti peperangan diantara bayi kelaparan yang saling menginginkan. Desahan dan erangan bersahut – sahutan memprovokasi satu sama lain mengeksplor sentuhannya. Bibir Donghae mengoyak bibir Yoona tanpa jeda, menghentak lidahnya berpetualang didalam rongga Yoona. Lidah mereka bergerayang sengit menciptakan bunyi decapan  sensual yang memantul dipermukaan dinding ruangan.

“Haruskah sekarang ? Kau berkeringat…” gumam Yoona diantara bibir Donghae yang sibuk menikmati bibirnya. Yoona tahu persis lelaki itu membutuhkan sebuah pelepasan yang lebih dari ini dilihat dari sesuatu yang mengeras dibawah sana. Tangan Donghae bergerak meraba pinggang Yoona, menjalar keatas pusatnya menggerayangi kelembutan gadis itu. Yoona menahan napas merasakan pergerakan Donghae menyentuh kepunyaannya.

“Auhhhh !” Yoona memekik lantang, dan pekikan Yoona meleburkan suasana menjadi beling beling kaca yang berserakan. Donghae memastikan sejelas – jelasnya keadaan gadis itu. Hal yang tidak diinginkannya terjadi, sebuah tongkat menghantam punggung Yoona. Tidak jelas siapa pemilik tongkat itu, Disaat seperti ini Donghae hanya berfokus menepis pukulan – pukulan misterius yang dilayangkan  kearah Yoona.

“Rasakan ini ! rasakan ! berani – beraninya kalian berbuat hal mesum didalam rumahku ! Hah !”

Donghae dikejutkan oleh pendengarannya yang menangkap suara familiar itu. Donghae menahan tongkat kayu yang hampir mengenai kepala Yoona, sementara dibawah sana gadis itu berteriak heboh dan meringkuk penuh kengerian.

“Halmoni ini aku Halmoni ?! Donghae !!!” Seru Donghae menyakinkanya lantang. Sang pelaku pemukulan yang rupanya adalah Halmoni Lee itu rehat sejenak. Ia menatap seorang lelaki muda dihadapannya dengan mata disipitkan. Belum yakin dengan apa yang dilihatnya, Halmoni Lee meraih meraih kacamata yang terkalung dilehernya, lantas memasang alat bantu itu di area mata.

Donghae menatapnya penuh harap.

“D-Donghae-ya ? Omo ! Apa yang kau lakukan di sofa malam – malam begini ?!” Halmoni Lee tampak terkejut menemukan wajah cucunya bersama seorang perempuan. Halmoni Lee memastikan sekali lagi wajah perempuan itu.

“Yoona-ya ? OMO !” pekik Halmoni Lee tidak kalah terkejutnya. Tongkat yang tadinya ia gunakan untuk memukul, kini beralih fungsi menyanggah tubuhnya yang limbung.

“Omo.. Omo… ada apa dengan kalian berdua ? memangnya kalian tidak punya kamar ?! kemana perginya kamar kalian ? Aigoo… kenapa kalian sampai melakukan perbuatan tidak seronoh ditempat terbuka seperti ini ? bagaimana kalau seorang pelayan melihat perbuatan kalian ?! Decapan aneh dan suara berisik lainnya bahkan terdengar jelas ditelingaku, aigoo… bagaimana kalau yang mendengarnya adalah orang lain ? Kupikir tradisi mengupingnya sudah lewat ! Ah keadaan seperti ini bahkan tidak bisa dianggap tradisi karena kalian melakukannya disembarang tempat. Coba pikirkan lagi baik – baik sebelum melakukannya…” Halmoni Lee terus mengomel panjang lebar. Yoona mengabaikan seluruh omelannya. Perhatian gadis itu tersita habis oleh rasa nyeri dipunggungnya yang berkepanjangan.

“Gwenchana ?” Donghae mengusap punggung Yoona disamping menatap gadis itu penuh kehawatiran.

“Sakiit.” Adu Yoona merintih diantara napasnya yang mulai sesangguk. Mata gadis itu berkaca – kaca seperti ingin menangis, Donghae tidak tahu harus bagaimana selain mengusap – usap rambut Yoona menenangkan. Gadis itu tiba – tiba memeluk pinggangnya membuat Donghae terpatung.

“Ya sudah jangan diulangi, lanjutkan saja di kamar.” Sela Halmoni Lee terakhir kali sebelum akhirnya wanita tua itu melesat pergi dibimbing oleh tongkatnya. Tiba – tiba Yoona trauma melihat tongkat itu.

“Mianhae.” Sesal Donghae menciumi kepala Yoona menghirup aromanya penuh kehangatan.

………..

Donghae menuntun Yoona membaringkan tubuh  gadis itu keatas ranjang. Mengarahkan posisinya senyaman mungkin, Yoona menggenggam bahu Donghae meluruskan kedua  kakinya perlahan – lahan. Gadis itu tidak henti – hentinya meringis menahan sakit. Begitu menemukan posisi yang tepat, Donghae membenahi letak selimut Yoona, menggelarnya  sebatas dada. Suasana diantara mereka berubah sunyi. Donghae mengusap rambut Yoona selagi memandangi wajah gadis itu. Gelisah dan penuh kekesalan. Yoona belum sekali pun mengeluarkan sepatah kata.  Donghae memutuskan mandi dan berganti baju membiarkan Yoona sendiri.

 Sekembalinya ketempat semula, Yoona belum juga berganti posisi. Gadis itu tetap diam seperti ketika ia meninggalkannya. Donghae ikut membaringkan tubuhnya disamping Yoona, berbagi selimut yang sama dengannya. Pandangan gadis itu lurus menatap langit – langit kamar. Wajahnya berkerut – kerut entah menahan sakit atau  kekesalan, mungkin kedua – duanya. Donghae memiringkan posisinya lantas memeluk pinggang Yoona.

“Apakah pukulan itu sangat menyakitkan ? Kupikir tidak  ada apa – apannya untuk wanita pengacau sepertimu.” kekeh Donghae sedikit menggoda. Mendengar anggapan yang setara dengan ejekan untuknya, bibir Yoona mengerucut lalu tatapannya menajam kearah lelaki itu.

“Mana ada sakit yang pandang bulu ? Namanya sakit ya tetap sakit !” ungkap Yoona menyuarakan aksi protesnya. Yoona memutar bola matanya malas. Belum ada satu jam, lelaki itu sudah mencari gara – gara.

“Setidaknya kau bisa merasakan penderitaanku dulu.” Donghae menimbang – nimbang sejenak, sementara Yoona menoleh tidak mengerti, “Penderitaan ? penderitaan apa ?”

“Penderitaan saat kakakmu memukuliku dengan sapu.” Jawabnya membalas tatapan Yoona dengan seringai jahil. Yoona langsung mendorong dada Donghae menjauh darinya.

“Kenapa kau malah membawa – bawa kakakku ?” Sungut Yoona tanpa menatap Donghae. Gadis itu mencibir teramat kesal karena Donghae malah mengungkit – ungkit masa lalu, apalagi dengan menyudutkan Boa, kakak tersayangnya.

“Kasus ini jauh berbeda,” sangkalnya kemudian, Yoona bergegas memiringkan posisinya menghadap lelaki itu, “Saat terlibat masalah dengan kakakku. Kau memang bersikap keterlaluan. Meminta izin menikahiku secara mendadak dan berkata bahwa pernikahan ini sebatas pura – pura, wajar saja Boa Eonni mengamuk.”

Donghae menatap gadis dihadapannya yang sibuk berceloteh. Suara Yoona berlalu ditelinganya namun tidak ada satu pun yang menyangkut. Wajar saja karena saat ini Donghae lebih berfokus memandangi wajah Yoona ketimbang menyelami ocehannya yang tidak berujung.

“Kalau yang ini beda lagi. Kasusnya terjadi karena keteledoranmu. Kau berkata bahwa  disana tidak ada orang tapi ternyata… Ternyata nenekmu datang membawa tongkat. Ini sangat tidak adil. Kau menerima pukulan kakakku karena kesalahanmu yang tidak mau mendengarku sedangkan aku… aku mendengarmu tapi ternyata perkiraanmu salah. Menyebalkan.”

“Oh ya ? Jadi menurutmu aku menyebalkan ?” Donghae mengangkat alisnya santai namun ekpresinya yang seperti itu justru mengubah kesannya menjadi semakin menyebalkan.

“Pikirkan saja sendiri.” Yoona beranjak memunggungi Donghae. Gadis itu bergeleng frustrasi. Ia menganggap dirinya pasti sudah gila karena berpikir bahwa lelaki itu semakin mempesona diwaktu yang bersamaan.

Donghae membenamkan lengannya diseputar pinggang Yoona, menarik gadis itu hingga merapat, “Mianhae…” ucapnya  rendah,  Donghae menggenggam tangan Yoona diantara pelukannya, dan menghela napas, “Tolong maafkan Halmoni. Aku yakin Halmoni tidak sengaja melakukannya. Kira – kira sebulan lalu, seorang pelayan dan petugas keamanan di rumah ini melakukan perbuatan mesum di sofa tadi, Halmoni sangat trauma atas kejadian itu.”

Apa katanya  ? Trauma ?

Sepintas  bayangan wajah Donghae yang dipenuhi tatapan penyesalan hadir menggugah perasaan Yoona. Gadis itu berbalik badan sekali lagi. Sebelah tangannya menangkup wajah lelaki itu. Yoona menatap sedih, “Iya, iya tapi tetap saja aku malu dengan Halmoni-mu. Mau ditaruh dimana wajahku ? Rasanya aku ingin memakai topeng saat nanti bertemu Halmoni. Sungguh, Aku sangat malu.”

Donghae tersenyum selagi mengusap tangan Yoona diwajahnya, “Jangan terlalu dipikirkan. Halmoni pasti mengerti.”

Sorot mata Donghae yang teduh membawa sejuta makna. Yoona menggigit bibir bawahnya bimbang, namun kebimbangan itu tidak bertahan lama saat Donghae mendorong wajahnya begitu pula Yoona, gadis itu dengan sukarela menyambutnya. Bibir mereka saling menyesap untuk waktu yang lama, Donghae menarik tengkuk Yoona lebih mendekatinya, lebih menggali sentuhan panas mereka. Yoona menggeliat dipermukaan bidang Donghae tanpa sadar tangannya mengusap rahang lelaki itu penuh tekanan. Donghae mengartikan isyarat Yoona pun lebih mengeksplor sentuhannya menghisap dari setiap sudutnya. Pergulatan itu berlangsung sengit hingga menjauh perlahan – lahan karena kehabisan napas.

“Nanti saja yaa,” Gumam Yoona menyeka bibir Donghae dengan ibu jarinya. Gadis itu mengecapnya terakhir kali sebagai pelepas rindu. Yoona memandang sedih dan tidak rela melepaskan bibir Donghae yang tampak panas dan tersiksa itu begitu saja, namun demi kebaikan bersama ia harus mengatakan ini, “Sebaiknya kita tidur. Bukankah kau akan meninjau perusahaan Sehun besok ? Sialnya aku harus ikut denganmu.”

Donghae menarik napas panjang. Tangannya berpindah mengusap rambut Yoona.

“Lagi pula ini masih sakit.”

“Nde arasseo.” Gumam Donghae membenamkan kepala Yoona dipermukaan bidangnya, “Tenanglah, semua akan baik – baik saja.” Ucap lelaki itu mengecup kening Yoona beberapa saat hingga akhirnya memejamkan mata. Yoona mengatur napasnya perlahan – lahan meresapi kehangatan tubuh lelaki itu yang senyaman ini. Akhirnya Ia menemukannya… Penawar itu.

………TBC………

Hufttt… selesai juga part ini, aku publish semua aja yaa karena mentoknya disitu nanti lanjut lagi dan part selanjutnya aku ga janji bakal cepat heheew^^

 sweet legacy copy

90 thoughts on “FF YoonHae – Sweet Legacy Part 8

  1. nina berkata:

    aigoooo,,, yaaa gagal terus,,,,, pertama sehun yg ganggu terus halmoni.. aigoooo…. cie cie,,, makin deket ni ye…dtggu nextnya…

  2. Deer_sria berkata:

    Hot hot panas panaa….ahh unnie hubungan mereka aneh bgt sih…jadi sebener.a perasaan merekabitu gmna…udh nyqmpe sejauh itu tp masih suka cekcok kkk
    Sehun lucu bgt pas minta dibuatin adik hahaa
    Itu yg 2 org jahat kim heechul sma ayah.a yah….semoga semua rencana mereka gagal..
    Tapi aku masih penasaran…siapa mata” yg ada dirumah donghae itu…makin penasaran
    Next.a jgn lama” yah un

  3. rahmania berkata:

    bwahahaha…. donghae sih punya kamar tdk dimanfaatkan dg baik tp malah bermain2 disofa.kegiatan mereka keganggu terus,kpn jd adik kecilnya.aq pikir yoonhae tinggal dirumah donghae sendiri,ternyta mereka tinggal bareng keluarga besar lee.

  4. Sfapyrotechnics berkata:

    Huahahahhhhahahhha😀😀 Gagal mulu😀 Pertama sehun, kedua halmoni😀 Kpan bru berhasil??😀 Sehun udh nagih adik cewe tuh😀😀 Akhirnya mereka baikan jga,, udh nggk sling diam2an,, nggk cuek2an lagi🙂 Ciee yg udh nemu penawarnya😀 Sabar yahhh,, cepetan buat adiknya😀

    Next.. fighting eon🙂

  5. wusabin berkata:

    Adududu akhirnya di post. Yoona sama Donghae jadi akrab gitu aja ya, padahal baru juga kemarin dia kenal kkkk. Lanjutin ya thor, kalo perlu buat keinginan Sehun jadi terwujud haha

  6. Beyoonhae berkata:

    Omg sikapnya donghae udah nunjukin banget klo dia ada rasa sama yoona. Greget kaga jadi2(?) wkwkwk moga next part udah jadi yah *plak* wkwkkw ditunggu next partnya.fightingg thor^^

  7. lia861015 berkata:

    Kasian banget si yoona,mau dapetin penawarnya aja gagal terus.pertama gagal gara2 ketukan pintu sehun trus gagal lagi gara2 ketahuan halmoeni Lee ^^
    Ditunggu buat next chapternya ya😉

  8. tryarista w berkata:

    puuuuasssssss bget bcanya kalau pnjang kyak gni heeeemmm

    ciiieee yoonhae mkin nempel,,,,,
    ochhhh sehun polos bget sich minta adek cwek hahahaha….

    pi masih was2 dgn org2 yg mau rebut harta warisan sehun ,,,,

    aisssshhhhh jinja yoonhae kalau gi berduaan selalu dech mesum hahahaha,,,
    aplgi pas ketauan halmoni bkin ngakakkk hahaha,,,,
    gagal dech yoonhae bkin adek tuk sehun,,,,

  9. Arbiafan berkata:

    huh gagal lagi gagal lagi kkkk..sabar ya..
    tp sweet deh moment yoonhaenya sama sehun juga..gokil
    trus kpan nih konflik munculnya..tp jangan berat2 ya..
    ditunggu kelanjutannya!!!

  10. Wiwiet berkata:

    Kerennnnnnn bangetttttttt dan hot sayang gagal terus??yoona kasihan pasti sakit banget tuh tp ini kerennnnnnn parahhh plissssss update segera ya…

  11. yoongtaeyeon berkata:

    haduuuhh bacanya byk senyumm2 gaje hahaha
    itu mrk pda lupa apa ya prjanjian pra nikah yg d buat Boa hhihihi
    tp mrk sweett bgt,udh slg nyaman satu sma lain trutama si donghae
    semangat ya thor buat trus lanjutin ff ini😀

  12. sintayoonhae berkata:

    Yaampunnn mrka mkin so sweet moga2 mrka cpet2 sling cinta udh tumbuh tuh kyk.a… Aahh enak bgt kyk.a dipeluk ama hae oppa mauuu #ditendangyoong huushh xD dtggu next part.a ya thor fighting😀

  13. soongratih97 berkata:

    Hahahahahhaa.. Lucu mereka. Huh.. Yoonhae momentnya.
    Tapi ini Donghae udah mulai suka sama yoona belum sih? Apa hanya buat cemestry doang…?
    Haduh takutnya Yuri muncul lagi.

  14. uly assakinah berkata:

    astaga halmoni lee, ngacau jadi gagal lagi kan sehun untuk punya adik. tapi ko aku merasa yoona nya yang agresif. hahahahaha lucu banget si sehun masa yoonhae mau bikin adik mesti ngajak sehun biar liat kan gk layak tonton buat anak sepantaran dia. next min

  15. tiyaswulan berkata:

    Woahhh panas sekali bikin gerah eonn, part ini bner” daebakk 👍
    Next part.ny jng lama” ya eonn 😀😁

  16. nathasya berkata:

    Sehun sama halmoni ganggu nih kkkk
    Kasian yoona sama donghae
    Donghae nyari chemistry aja sampe gitu kkk
    Semangat thor nulisnya ditunggu next part

  17. Ophi PyrotechnicSone berkata:

    Next..
    Mereka mulang saling tertarik, tapi belum menyadari..
    Ayo cepat buat baby lee, dari tadi tertunda terus,.😀

  18. fatmiatun azhar berkata:

    Ya ampun proses pemberian penawar “racun” Yoona oleh Donghae selalu gagal…
    Yang pertama oleh sehun lalu oleh halmoni… semoga selanjutnya proses pemberian penawar tsb berhasil…
    Di tunggu kelanjutannya…

  19. Tyanengsih berkata:

    Hahahahhh…..yoonhae gagal terus ni mau bikin debay wat sehun…..next chapter pasti dah mulai konflik….. Ditunggu deh keseruannya….

  20. Nurul hidayah berkata:

    Nunggu lama tapi hasilnya ff.nya puanjaaaang🙂
    Yoonhae momment.nya banyak, mereka bener2 sweet,
    Next chap d tnggu unnie, Fighting, semoga cepet d publish

  21. limhyelim berkata:

    Yoong lucu banget sih terlalu jujur😀 kkk~ ahh kecewa nih ga jadi trus, ada aja yg nge nganggu hahha. Next part harus jadi nih, semoga keinginan sehun tercapai 😁❤️ Sangat di tunggu next part nya unnie fighting 😊

  22. Nha elna berkata:

    ‘mengeruk ngeruk bibirku’ lucu baca bgian itu,unn pinter bgt bikin lawak..

    Sumpah,aku puas baca part ini,meskipun masih belum puas.eleeh…

    Moment YH nyaaaa… bener2 mengeruk ngeruk hatiku..aku sukaaa mereka maniiiis bgt.

    Iya unn,jgn lama2 ya lanjutanya.

  23. DeerYoongie berkata:

    Hahahaha kasian yoonhaenya mau begituan gagall mlu pasti aja ad yang mengganggu
    Next chapter hrus berhasil yah thor biar impian sehun bisa terwujud punya adik perempuannya
    And semoga yoonhae bisa cpet saling mencintai dan punya anak wkwkkwk

    Next chapnya dicepetin aja yah thor

  24. Tya berkata:

    Seriusan, kadang ga abis pikir sm prcakapan yoonhae, omongan mereka kadang di luar nalar, ciumanpun dibuat prosedurnya
    Yoona, mulutnya suka main ceplos aka wkwk, trlalu polos
    Dr awal baca adegan panas mereka, udh mikir kenapa ga di kamar aja, psti nanti ada gangguan, dan trnyata benar
    Dan kali ini yoona jd korban
    Bingung sm hubungan yoonhae, sbnrnya mereka udh saling suka, atau cm krn nafsu doang?
    Masa iya mau bangun chemistry smpe sejauh itu?

    Skrg udh yg so sweet, kayanya ke dpnnya bakal menegangkan
    Ditunggu kelanjutannya

  25. ayrinayoong berkata:

    Aaahhh halmoni ganggu ajja padahal tadi hae oppa ma yoong udah panas2x tuhhh
    Ampe merinding min bacax
    Lanjuuttt min miga ajja chaptr depan hae oppa am yoong bisa temuin penawar yg lebiihhh
    Heheheheh

  26. irma nytha berkata:

    Astagaaa ada aja halangannya setiap moment itu,, greget bacanya..

    Sehun minta adik macem minta mainan.
    Masa iya pas mau buat adik bayinya dia mau ikut liat. Haduh mata sehun bakal ternodai kalau begitu caranya.😀

  27. yoonhaeina90 berkata:

    mrk mw bangun chemistry smp jauh gitu, kenapa enggak sklian ja mrk lgnsg jth cinta klw kaya gn tkut ny yoong yg jd pihak t’sakiti
    next bwt mrk slg cinta ya thor
    ku suka bgt moment mrk panas” kaya gt
    stp udh dekat eits mlh da pengganggu

  28. yoonhae3015 berkata:

    entah kenapa part ini adalah part favorit aku kekeke
    mungkin sweet moment antara yoonhae yah hehehe
    duh buruan bikinin sehun adik biar gak ada pemisah nantinya
    duh hampir aja kejadian malah gagal mulu sabar sabar kekeke…
    ditunggu kelanjutan ff secepatnya

  29. Ana berkata:

    Aduh makin bingung sama tingkah yoonhae. Mereka kan belum ngungkapin perasaannya. Jadi gamang deh kasian yoonhae. Tapi seruuu. Fighting buat next chap nyaa

  30. han ji bin berkata:

    omooonaaa, knp yoonhae dah kya psgn yg sesungguh’a deh, sweet bgttt mrka, aq dah yakin klo mrka saling mencintai tpi mrk blm nyadar
    please chingu wat mrk slg merasakan perasaan mrk nanti’a

  31. Winajeno22 berkata:

    Daebakk, tpi ksian donghae setiap mau ngelakuin gagal aja 😁😁 prtma k ganggu sma sehun k dua sma halmoni, pdahak yoona udh ngajuin penawaran smoga aja d next chapter donghae dpt kepuasan hahah 😁🙂🙂🙂 next juseyo🙂❤

  32. ririez berkata:

    hahaha, kasian gagal terus..
    yoonhae makin sweet deh..
    next part harus berhasil ya,
    biar harapan sehun cepet terwujud..

  33. ina gomez berkata:

    Ya ampun disetiap yoonhae lg panas2nya da ja yg ganggu,kmren pgwainya,trs sehun e skrg halmonie mn yoona kna pukul lg hehe bnr2 kisah mreka yg unik.
    Sng bgt lht interaksi sehun ma yoona mreka bnr2 kyk ibu ma anak.
    Lucu pas sehun minta adik.msk dgn berpgangan tangan smpu pgi nanti yoona bs hamil duh bnr2 ya pdngan anak kcil ada2 ja hehe
    Ditunggu nextnya min

  34. Anonim berkata:

    Makin seruuu ,makin suka sama karakter mereka yang malu malu mau gimana gitu hahahahahaha ..
    Sweet banget momentnya tapi slalu ada yang ganggu tiap mau lanjut ke tahap selanjutnya pertama Karyawan Donghae waktu di pulau itu trus Sehun dan selanjutnya Lee Halmeoni sampe kena pukul malah ..kasian dan bikin gre

  35. Vaniza Rianie berkata:

    Gak tau harus koment apa yang jelas ini makin seruu dan makin sukka ..
    Nanti kalau bisa moment nya di tambah ya dan semoga gak ada yang ganggu lagi kalau mereka udah mau lanjut ke tahap selanjutnya ?/
    Cepet di next lagi ya unnn ^^

  36. novi berkata:

    Yakkk makin seru aj…..next thorrrr….iniff yg selalu ak tunggu2….next ny jgn kelamaan ya thor fighthing

  37. Alifya YoonHae berkata:

    omo kenapa mereka gk nyadar tempat.. tapi kasihan yoong pasti punggungnya sakit… apa mereka lupa ya sama perjanjiannya?? gk sabar baca part selanjutnya.. ditunggu next partnya thor

  38. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    yoonhae mereka mayak pacaran padahal enggak nikahnya ajah diam-diam ckck.
    sehun bahagia banget tuh sudah punya eomma sama appa baru, bisa baca pikiran orang yoona jadi takut sendiri hahaha.
    permintaa sehun aigo pengen punya adik haha…
    yoonhae kalau lagi berantem lucu yah akhir-akhirnya baikan .
    next

  39. Ida ziiosay berkata:

    Haha 2kali gagal , jadj ga paham am perasaan donghae gmna kyoona ga bisa dtebak sebenernya dy udah punya perasaan apa blm sikapnya bikin yoona salah artiin tapi suka dy makin mesra haha itu siapa ya musuh dalem selimut itu
    Next dtnggu ya eon lnjutanya

  40. regitha berkata:

    Aku suka banget eon
    Alurnya keren banget
    Ditunngu ya momen romantis mereka
    Buruan di update lagi next partnya

  41. chalistasaqila berkata:

    Akhhh so sweet
    Knp yoona d part ini jdi liar g-t?? Wkwkwkkk, mna dya mau2 aj d sentuh sma donghae.. Pdhl dya udh bkin perjanjian sma boa.. Aishh, bkin gemess aja mreka berdua..
    Tpii aq ska bgtzz sihh part nie… Isinya cma yoonhae doang.. Yeayyy, prok prok prokl
    Pokoknya part selanjutnya jga harus lbih sweet dri part inii.. Seenggaknya part 9 jangan ad konflik dlu.. Konfliknya part 10 aja.. Hehee
    Btw, keknya yoonhae udh pengen bgtss bwat bkin adek.. Kasih aja teori..
    Wkwkwkkkk

  42. rindaade8 berkata:

    Sukaaa banget samaa ff nya
    Tambahh main cast nya yg bikin greget bacaa
    Kerennn kerenn thor ,
    Alur dan jalan ceritanya juga bagus
    Ditunggu next chapternya

  43. Diva berkata:

    aku ngrasa di part ini kurang dari part part sebelumnya, sudah bagus thor tapi aku lebih suka alur cerita dan pemilihan kata di part sebelumnya, terima kasih thor sudah posting part 8 yang sudah banyak yoonhae momentnya…ditunggu next part ya thor

  44. asrins berkata:

    sweet kaya judulnya.. untungnya aja yoona ga gengsiannnn
    makin banyakin moment yoonhae yg kaya beginian thor haha
    semangat yaa lanjutinnya

  45. windblow berkata:

    Hahahahhahahah yhmnya lucu !!!!
    Halmoni daebakk, tpi kasian yoonanya di pukul pake tongkat
    Next partnya cepetan yah thor

  46. ViDaY berkata:

    hahaha halmonie donghae pengganggu saja..
    btw sebenarnya donghae itu sudah jatuh cinta ke yoona atau belum sich? ataudy melakukan itu hanya utk membangun chemistry tnpa rasa cinta.. mungkinkah dg melakukn hal mesum begitu justru akn membuat donghae jatuh cinta ke yoona? ah gk sabar nunggu mereka mengungkapkan rasa cinta masing2.. please cepat di lanjut thor n jg cepat di publish ^^

  47. DianYoongie berkata:

    Ketawa geli… nih komedi romance pasti ya? Pertama gagara Sehun datang minta dibuatin adek dg menyuruh YoonHae berdekatan trus kkk dasar anak kecil 😁😁
    Trus pas bagian Yoona ga boleh pake high heels dia ngoceh gitu bayangin pake bahasa alaynya orang indo hhaha lol banget tuh pasti 😂
    Yang sama Sooyoung itu jg bikin ngakak asli… pake istilah pasar jual beli lagi xD jual mahal, banting harga hahha
    Eh Yoona beneran ngasih gratisan tuh ke Hae… sisanya 0,1% buat dirinya yg akhirnya dpt penawar racunnya tuh wkkwkw.
    Ada2 aja sih pake keracunan segala tuh bini Dongek. Bilang aja ketagihan gitu ama perlakuan Dongek hiihiihihi
    Suka banget ama nih part… YoonHae beneran ada sweet2nya gitu. Semoga sih part depan lebih ke tahap berikutnya tuh ‘penawar racunnya’ hahhahah
    Pengen ngakak jg kalo inget kata2 15 jt won kkk

    Ditungu lanjutannya kk~

  48. Husni berkata:

    Part ini so sweeeeeet banget apalagi pas Yoona malu-malu terus mereem hahaha itu ngegemesin😉
    berharap kedepannya ga ada halangan buat hubungan mereka soalnya serem juga ama someone pov nya itu dari kemaren belum ketahuan siapa mereka…
    Next nya ditunggu jangan lama-lama ya na🙂

  49. Diandita Miranda berkata:

    panas panas panaaaaas hahaha banting harga😀 pasar bebas😀 sale besar-besaran ampe 99,99 %😀 cari jajanan diluar😀 mengeruk bibirku😀 apaan sih wkwkwkwk
    Yoona polos banget yaaa tapi aku takut juga kalo hae cuma mau manfaatin yoona doang, semoga hae bener2 suka ama Yoong dan yoong juga suka ama hae. kelanjutannya segera dipublish eon, part 9 nya jangan tiap 10 hari, bisa kali 5 hari ya pleaseeee ^^

  50. Lulu_paramita berkata:

    Woaahhh Yoonhae berani banget tuh melanggar peraturannya Boa sampai ketahap hot bgtzzzz. Tapi Yoonhae masih aja berdebat, si Yoona apaan iseng banget masa pakein kutang berenda dimata Donghae terus bilang itu kacamata wkwkwkw
    Ongek mungkin kurang tinggi jadi nggak mau kalah saing ma Yoong. Makanya ongek banyakin minum susu kkkkkkkkkk
    AIshh mereka ngeemesin bgtzzzz berharap lebih dari ini eonniiii biar keinginan Sehun terwujud…
    Next asapp y, fighting !!!

  51. kantimur_11 berkata:

    kalo yoonhae gagal terus kapan sehun mau punya ade cewek??padahal dia udah ga sabar tuhh..wkwkwk
    aigo kayaknya yoonhae mulai saling suka yahh
    oke eonni ditunggu next chaptet yahh

  52. Cut_ar berkata:

    Makin greget…. Sehun ngerusak moment yoona donghaenya :v sweet sweet pokoknya part ini 😊. Next thor

  53. Cut_ar berkata:

    Makin greget… Sehun ngerusak moment yoona donghaenya :v sweet sweet pokoknya part ini 😊. Next thor

  54. utusiiyoonaddict berkata:

    hae na sii gak dengerin yoong, jd gagal mulu kan haha,
    duh d sisi lain si yoong agresif tp sok jual mahal, abaikan perjanjian yaah,
    aaah part yg sgat manis, smga part selanjut na lbih n lbih manis lg aaaargh mereka smakin dekaaaat

  55. Iwed berkata:

    Hahahaha ya ampun mereka ada yg gangguin mulu yg pertama Sehun eh sekarang Halmoni, merek makin romantis aja. Next thor🙂

  56. detolyhhun berkata:

    aigoo.. knp harus ada pengganggu sihh.. pertama si sehun krdua nenek.na. kasian amat yoonhae.. kapan malam pertamanya?? next chap di tunggu.. jangan lama kakak..

  57. 김래라 berkata:

    Wahh dapet feel nya thor 🙆
    suka deh ..
    moment sama anaknya dibanyakin dong ,
    gasabar sama konflik yang lebih panas
    okedeh ditunggu kelanjutannya ❤

  58. triyoona_im berkata:

    Aduh ak ketinggalan nih, udh ada part 9 nya ternyata haha..
    Hwehehh gagal lagi,, kena pukulan tongkatnya halmoni lagi tuh yoona 😂😂😂 yg sabar yak.. Smga nanti berhasil wkwk

  59. ichus berkata:

    Wakkkssss sumpah ngakak sma halmeoni, trauma
    gagal lagi gagal lagi😂
    donghae bantet😆 istri pke highheels gk boleh

  60. novasusmala46 berkata:

    Yg pertama sehun dtg, yg kedua halmoni.
    Yoonhae gagal mulu. Udh ad feeling sih sbnernya pas baca scene yoonhae yg disofa, knpa ga dikamar ajj? Pasti ga berlanjut dh scene ini. Tau2 bener kan, halmoni dtg dgn gagahnya memukul punggung yoona. Hhahahaa, ga kbyang malunya itu. Sakit pasti, tp yg lebih2 ya malu. Astagaaa..
    Genrenya mnrut aku lbh ke komedi romantis. Kkkkkk, sehun yg msh ‘polos’ mnta adik sm org tuanya, sooyoung yg pke istilah ekonomi ‘jual beli banting harga’, hahahahhaa..
    Aaaahh, dn ternyata yuri emg mantannya donghae, pantes rada aneh pas donghae ketemu yuri. Halmoni bener2 ya, tp kl ga gitu donghae ga mgkn nikahin yoona. Hihihiii
    Part kali ini panjang yaaa, ga sbar baca part selanjutnyaaa..
    Authornim, fightiiiing..!!!

  61. Cendrabiw berkata:

    Gemes banget sama tingkah yoona sama donghae, suka bangetlah sama ini ff, semangat yaa kak buat chapter” selanjutnya

  62. RFishy berkata:

    Gila2 udah berani sampai sini ya pelanggarannya😂😂
    Sejauh ini,part ini jadi part favorit wkwk
    Wkwk gagal mulu perasaan,banyak bgt pengganggunya😂😂 lain kali dikamar dong wkwk. Iyasih sakitnya mungkin biasa malunya yang warbyasahh wkwk pasti yoona tengsin abis. Banyak scene romantisnya suka suka💕💕💕

  63. FHP berkata:

    Yoona gabisa terlalu lama menghindar dri donghae trnyata😀 Hufff knapa stiap YHM yg romantis2 slalu aja ada gangguan? -_- Di part sebelumnya pengganggunya karyawan donghae, di part ini pengganggunya sehun sama halmoni, kzl deh! pdhal YHM di akhir part ini lebih vanas drpda YHM2 sbelumnya loh😀 aduh itu yoona kasian bgt di pukul pake tongkat sama halmoni dikira itu yg lagi bermesraan tengah malam bukan YH. Tp YH salah jg si tengah malam kok bermesraan di sembarang tempat kaya ga punya kamar aja😀 next time kalo mau bermesraan ingat tempat yah YH, jgn lupa dikunci juga wkwk. Btw itu cerita di akhir part ini so sweet bgt deh, YH sprti pasangan suami istri pd umumnya yg saling mencintai, ya smoga aja memang seperti itu ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s