FF YoonHae – Sweet Legacy Part 7

sweet legacy copy

Title : Sweet Legacy

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Happy Reading ^__^

Part 7

Membeku selagi menenteng koper besarnya gadis itu berdiri kaku didepan sebuah rumah tua yang bentuknya menyerupai hanok namun ini berbeda, rumah tersebut memiliki halaman cukup luas, berbahan kayu minimalis namun agak reot dan kumuh. Gadis itu megerjap untuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini adalah nyata. Berkali – kali ia menguatkan anggapannya, lelaki itu pasti bercanda, dan kalau memang benar begitu leluconnya sama sekali tidak lucu. Seperti inikah yang disebutnya bulan madu ?!!  terang saja Donghae tidak mengizinkan Sehun ikut dengan mereka dan memilih menitipkan anak itu kepada Tuan Lee, ayahnya yang saat ini berada di Seoul, padahal tiga hari lagi ayahnya akan kembali ke Jepang tapi dua hari ini Ia harus menjaga cucunya. Donghae benar – benar tidak tahu kira – kira.

“Semua kuserahkan padamu, hyung. Aku minta setelah pulang nanti, dokumen adopsinya sudah beres.” Donghae bercakap lewat ponselnya. Lelaki itu asyik berceloteh panjang lebar, tiba – tiba Ia berdecak.

“Yoboseyo—Yoboseo—“

“Aishh kenapa sinyalnya menghilang.” Gerutunya lantas menekan layar diponselnya dengan kesal.  Beberapa saat mengakhiri panggilannya, Donghae kembali mengutak – atik benda persegi itu.

Donghae menatap Yoona yang terdiam ditempatnya, padahal Ia baru saja akan melangkah. Donghae mendongak dan menemukan matahari sore menyorot persis diatas kepalanya. Dua jam menempuh perjalanan dengan pesawat dan kira – kira satu jam lamanya menyusuri jalan berliku, akhirnya mereka sampai di lokasi rumah persinggahan tepatnya di  pulau Moredo. Salah satu pulau yang merupakan aset korea selatan.  Pulau ini awalnya tidak berpenghuni namun seiiring berjalannya waktu beberapa pihak mulai tertarik mengelola kawasan ini termasuk perusahaan propertinya yang akan megelola proyek perumahan beberapa bulan mendatang bekerja sama dengan pemerintah setempat. Karena itulah dirinya dan beberapa karyawan berkecimpung langsung meninjau lokasi proyek. Donghae merasa perlu menyelesaikan urusannya yang satu ini sebelum Ia melimpahkan jabatannya kepada saudara sepupunya Lee Sunkyu. Perjalanan menuju pulau ini cukup menguras tenaganya, Donghae tidak tahu sampai kapan Ia harus berdiri disini menunggu Yoona yang belum juga beranjak dari posisinya.

“Jadi kita akan ‘berbulan madu’ di tempat ini?” Gadis itu bergumam. Matanya menatap bangunaan kayu dihadapannya tanpa kedip.

Donghae mengangkat alis, “Iya, kenapa ? kau keberatan ?”

Yoona menghirup napas sebanyak – banyaknya, menghembuskannya kasar. Donghae memancingnya berharap lebih dan kini gadis itu  merasa seperti Ia baru saja dijatuhkan kedasar bumi.

“Tidak.” Jawab Yoona menetralkan suaranya, Aku sangat suka menjelajahi tempat baru. Tapi bisa kan?  Kau tidak harus menyebut ini sebagai ‘bulan madu’”

Segores lengkungan hinggap dibibirnya, seolah – olah Ia bisa menebak semuanya,  “Apalah arti sebuah nama. Sepasang pengantin baru pergi berdua setelah menikah? Apakah itu bukan bulan madu namanya?”

“Bukan, disebut penyiksaan kalau tempatnya seperti ini.”

“Baiklah biar kujelaskan.” Donghae menatap Yoona penuh kompromi, “Kita kesini bukan hanya untuk bulan madu, yang sebenarnya aku harus menyelesaikan kewajibanku meninjau sebuah proyek sebelum tugasku sebagai presdir diambil alih oleh sepupuku, Lee Sunkyu.”

Anggukan Yoona menginterupsi penjelasan Donghae. Gadis itu mendesah malas, “Ternyata benar, Kata bulan madu hanyalah akal – akalamu saja.”

“Tidak sepenuhnya begitu.” Donghae tampak menolak anggapan Yoona namun ia berpikir bahwa anggapan itu wajar. Wanita mana yang tidak tergiur dengan kata bulan madu ? Meskipun pernikahan mereka hanya sebatas tameng, seorang wanita pasti akan berpikir mengenai tempat yang indah. Sayang sekali menurutnya, pergi ketempat seperti itu hanya membuang waktu.

“Sambil menyelam minum air.” Cetus Donghae tiba – tiba, “Kebanyakan orang  berpikir kita sedang berbulan madu. Anggapan itu memiliki banyak manfaat diantaranya adalah aku bisa menyelesaikan pekerjaanku disini secepatnya dan Kau bisa sekalian berlibur atau menenangkan diri. Kupikir pulau ini tidak kalah dengan pulau Jeju.”

Yoona terperangah, “Pulau jeju? Kau menyamakan pulau sunyi seperti ini dengan pulau jeju?” ucapnya tidak percaya. Yoona memejamkan mata selagi menenangkan diri. Sungguh Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya ditempat ini dan Ia tidak mungkin kembali ke Seoul. Satu – satunya pilihan  adalah bertahan, bertahan ditempat ini bersama lelaki itu?!

Tidak. Mereka tidak hanya berdua. Seingat Yoona mereka datang bersama para karyawan Lee Company atau apalah namanya yang juga menaiki pesawat menuju ke pulau ini  namun mereka tiba – tiba saja berpencar ditengah jalan. Tidak jelas apa alasannya.

“Lalu kemana perginya karyawanmu ? kau belum menjawabku.” desak Yoona meminta penjelasan, karena setiap Yoona bertanya Donghae selalu sibuk sendiri bermain gadget atau mempelajari berkas – berkas di tangannya sepanjang jalan.

Lelaki itu tampak berpikir sebelum Ia menjelaskan, “Beberapa karyawan yang ikut dengan kita, meninjau ke tempat lain. Mereka sudah punya tugas  masing – masing dan tidak boleh diganggu gugat.”

Beberapa saat mencerna jawaban itu, Yoona tertegun, “J-jadi kita tidak akan bertemu dengan mereka selama berada di tempat ini ?

“Tidak seperti itu.” bantahnya selagi menyusun kata yang sekiranya bisa dimengerti gadis itu,  “Aku menyebar mereka  agar kami tidak stag di satu tempat. Mungkin, ada kalanya kami akan bertemu disebuah tempat untuk bertukar informasi atau membahas proyek.”

Yoona tergagap, bagaimana mungkin Donghae membiarkan mereka berdua berada ditempat sunyi, hanya berdua ditengah pulau yang bahkan penduduknya berpencar kesana – kemari.

“Tapi tetap saja— itu berarti— kita hanya berdua disini?”

“Nah itulah alasannya, kenapa aku menamai perjalanan ini sebagai bulan madu.” Lelaki itu tersenyum menyimpulkan. Yoona ingin menangis saat ini namun entah bagaimana gadis itu terkekeh miris, “M-wo?”

“Ayo masuk.” Perintah Donghae tanpa aba – aba. Gadis dibelakangnya memilih diam tidak menggubris.

Donghae mengidikkan bahu, lantas melenggang dengan santai, “Tidak mau? Ya sudah biar aku yang masuk sendiri.”

“Yak siapa bilang aku tidak mau?!” sahut Yoona penuh kekesalan. Pandangan gadis itu menyapu sekitarnya. Hari mulai gelap,  suhu udara semakin tidak bersahabat dan tiupan angin sontak menggoyangkan pepohonan. Yoona bergidik ngeri,  Ia menggeret kopernya lantas berlari menyusul Donghae.

……………..

Baru saja menginjakkan kaki di rumah penginapan, Yoona lantas disibukkan oleh kegiatannya membereskan kamar dan sejumlah pakaian didalam kopernya. Tidak hanya itu, Ia turut membenahi pakaian Donghae karena lelaki itu menaruh kopernya sembarangan. Yoona gerah sendiri melihatnya, dengan sukarela gadis itu membereskan pakaian Donghae sementara sang empunya sibuk dengan dunianya sendiri. Lelaki itu sibuk berkutat dengan laptop juga berkas – berkas proyek yang entah apa diatas meja.

Kegiatan mondar – mandir merapikan rumah memaksa peluhnya berguguran. Yoona mulai tidak nyaman akibat kondisi tubuhnya yang lengket. Gadis itu memutuskan mandi, sebuah kegiatan yang sebenarnya paling malas Ia lakukan tapi karena terdesak keadaan Yoona terpaksa menggiring kedua kakinya menuju kamar mandi.

“Pintu kamar mandinya rusak.” Peringat Donghae tiba – tiba dari meja ruang tengah.

Pijakan Yoona mendadak lemas tidak bertenaga, nyaris handuk yang menggantung dipundaknya merosot kebawah.

 “Mwo?”

Sembari sibuk berkutat dengan bukunya, lelaki itu menengahi, “Tenanglah mandi saja, aku tidak akan mengintipmu.” Entengnya menyelipkan nada sindiran. Yoona mencebik tidak suka, sayangnya untuk saat ini Ia terlampau lelah meyuarakan perasaannya. Gadis itu lantas berlalu pergi meninggalkan Donghae. Lelaki menyebalkan yang seolah tahu segala – galanya. Siapa juga yang takut diintip olehnya?! Pikiranku tidak semesum itu.

Sebuah bilik yang hanya dipasangi lampu temaram berdiri cukup luas didepan sana, setidaknya bilik ini lebih luas tiga kali lipat dibanding ukuran kamar mandi di rumah kontrakannya. Amat disayangkan kamar mandi ini tidak memiliki pintu yang layak.

Butiran air mengalir dan menyusup lewat pori – pori kulitnya. Sejuk dan segar. Yoona akhirnya bernapas lega. Yoona mengayuh air didalam kolam besar itu, lantas merasakan sensasi dinginnya ketika mengguyuri tubuhnya. Gadis itu memejamkan mata sewaktu bongkahan air membilas wajahnya. Baru saja hendak mengambil shampo lampu temaram diatas kepalanya berkelap – kelip. Yoona mendongak, tiba – tiba sekujur tubuhnya merinding. Lampu temaram itu meredup otomatis hingga meninggalkan kegelapan disekitarnya. Benar – benar gelap sampai – sampai ia tidak bisa melihat apa – apa. Yoona menengok kesana – kemari, tidak ada celah cahaya sama sekali, semuanya gelap total.

“Donghae-sii !!! Donghae-siii !” seru gadis itu sekencang – kencangnya. Belum ada jawaban pasti, Yoona menarik napas panjang lalu berteriak sekali lagi, “Donghae-sii !!!”

“Donghae- sii?! Dengarkan aku?!” gadis itu berdecak.

Teriakan dari arah belakang membuyarkan konsentrasi Donghae. Dibantu oleh cahaya ponselnya, Lelaki itu berjalan perlahan – lahan mencari apa pun yang bisa dipakai sebagai sumber pencahayaan. Otaknya berpikir dimana letak benda – benda itu, namun jangankan menemukannya, teriakan Yoona yang memanggil – manggil tanpa henti benar – benar sangat memusingkan.

“Ya ya aku mendengarmu ! memangnya aku tuli ?!” sahut Donghae mulai jengah.

“Apa kau sengaja mematikan lampu ? Aku yakin ini pasti ulahmu.” Balasnya tidak kalah meninggi.

Donghae mengacak rambutnya, “Siapa? Kau jangan sembarangan menuduh. Kau pikir aku sekurang kerjaan itu !”

“Lalu kalau bukan kau, ulah siapa? Hantu?”

“Sudahlah jangan berpikir yang bukan – bukan, aku lupa memberitahumu.” Donghae meraih beberapa batang lilin lalu menaruhnya diatas nampan. Untunglah benda – benda ini berhasil ditemukan.

“Listrik ditempat ini mengalami pemadaman bergilir diatas jam delapan malam.” Jelasnya selagi mengatur lilin – lilin ditas meja kerjanya.

“MWO?!!” Yoona berteriak semakin heboh, gadis itu pun mengomel setelahnya, “Jadi bagaimana nasibku ? aku belum selesai mandi ! sekarang aku tidak bisa melihat apa – apa.”

Kepala Donghae serasa berdenyut mendengar teriakan Yoona yang memantul – mantul. Dan kini gadis itu malah merengek didalam kamar mandi.

“Huaaaa Eonnieeeee hikzzzz.”

“Diam disitu, aku akan mencari lampu petromak.”

“Eonnie  gelap eonnii… hiksss..” tangis Yoona benar – benar pecah. Donghae semakin pusing mendengarnya.

“Yak kenapa kau menangis seperti itu ?! Memangnya berapa usiamu ?!”

“Dua puluh empat tahun hikzzz..”

“…………..”

Dia itu bodoh atau polos ?  Memangnya siapa juga yang bertanya…

Donghae berjalan menuju kamar mandi seiiring tangisan gadis itu yang merintih tanpa henti. Donghae mengarahkan lampu petromak-nya menembus sebuah pintu yang disinyalir adalah pintu kamar mandi yang rusak. Perlahan – lahan Ia menembusnya dan..

“Aaaaaaaaaaaaaa !!!!”

Teriakan lantang dari seseorang disana bertabrakan dengan sorot lampu lampu petromak yang menyorotnya. Yoona meringkuk disudut tembok sementara Donghae melesat pergi usai meletakkan sebuah lampu petromak dan berkata,  “Ini aku menaruhnya disini.”

“Yak  Lee Donghae ! Awas kau ya !” pekik Yoona sekencang – kencangnya. Gadis itu bagaikan tengah meregang nyawa. Antara hidup dan mati, otaknya buntu memikirkan kenyataan ini. Tidak mungkin… Lelaki itu melihatnya… melihatnya tanpa sehelai benang pun ! Kyaaaa.

……………..

Dibelakang meja kerja yang dipenuhi lilin, Donghae mengusap – usap kakinya yang terbentur sesuatu—entah apa—saat Ia berlari dari kamar mandi menuju tempatnya saat ini. Bunyi tepakan langkah beradu dari arah belakang. Donghae terkesiap, buru – buru meraih tumpukan berkas diatas meja. Lelaki itu berdehem sebelum akhirnya membolak – balik berkas – berkas itu dengan serius.

Tepat sekali. Yoona muncul beberapa saat kemudian. Donghae meliriknya sesekali. Gadis itu mengenakan handuk kimono selagi menenteng lampu petromak yang menyala. Donghae menyipit seiring hantaman cahaya gemilau yang menyilaukan pandangannya. Ketika arah fokus cahaya tadi akhirnya berpaling, gadis itu sudah berdiri didepan meja kerjanya.

“Kau melihat sesuatu kan? Mengaku saja.” Desak Yoona berkacak pinggang.

Mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas, Donghae menatap Yoona remeh, “Asal kau tahu, saat itu aku berjalan sambil  menunduk jadi mana mungkin aku bisa melihat sesuatu? Bahkan membayangkannya saja, aku sudah tidak berselera.”

Gigi Yoona menggeretak. Gadis itu menarik napas lalu menghembuskannya perlahan – lahan, “Oke, kupegang kata – katamu, tapi awas ya kalau kau berbohong—“

“Apa?”

“Kalau kau berbohong, kau akan—“ Yoona menatap Donghae berapi – api sebelum akhirnya berkata,  “Kau akan dihujani kotoran cicak !” tandasnya bersungut – sungut pergi.

“Bicara apa dia… Aneh sekali.” Gerutu Donghae tanpa menatap kepergian Yoona. Ketika ia mengangkat wajahnya, gadis itu sudah menghilang.

Donghae mengangkat bahu, lalu menggiring fokusnya sekali lagi menatap tumpukan berkas ditangannya. Entah apa yang terjadi, Donghae tidak mengerti dengan apa yang saat ini dipelajarinya. Konsentrasi yang berusaha dibangunnya sejak tadi menghilang entah kemana.

Pluk.

Sebutir benda menimpa kertas putih ditangannya. Mengandalkan cahaya lilin, Donghae mengamati benda itu dengan seksama. Benda kecil setengah padat berwarna hitam dengan titik putih diatasnya.

Tidak mungkin… apakah ini…

Donghae memastikan sekali lagi. kali ini Ia meraba permukaannya lalu mencium aroma benda itu, ternyata berbau busuk.

Pluk.. pluk..

Donghae terkesiap. Ia meraba kepalanya yang serasa dihujani sesuatu. Benda yang sama.

“……”

Inikah yang dinamakan kotoran cicak?

Tidak masuk akal. Apakah gadis itu seorang penyihir ?

………….

Yoona membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Bunyi derit kayu bergantian mengiringi pergerakan tubuhnya yang berkali – kali bertukar posisi. Yoona mulai gelisah, padahal Ia sudah menggantung sebuah Lampu petromak di kamar ini agar menerima pencahayaan yang cukup, tapi dampak yang ditimbulkan oleh pemadaman listrik pada tubuhnya masih terasa. Yoona mengira, mungkin ia terlalu kaget karena saat berada dikamar mandi, tiba – tiba dunia disekitarnya menjadi gelap. Dan lagi masalah yang terjadi sesudah itu…

Pintu kamar diujung sana terdorong kedalam. Sosok Donghae dengan wajah ditekuk menembus pintu itu. Rambunya agak basah seperti orang yang baru saja keramas, atau memang sengaja? Yoona tertegun memikirkan sesuatu, bukankah Donghae sudah mandi lebih dulu darinya? Lalu kenapa dia melakukannya lagi ? Fokus Yoona memudar, ia berpaling mengamati langkah Donghae yang berjalan menghampirinya, tepatnya menghampiri ranjang. Yoona berguling kesamping menyisahkan tempat kosong untuk lelaki itu.

Geretan kayu berderit panjang ketika Donghae ikut membaringkan tubuhnya disamping Yoona. Lelaki itu menghela napas panjang. Yoona bisa menghitung dengan pasti seberapa panjang napasnya karena saat ini jarak tubuh mereka nyaris tidak berjarak hingga saling menempel. Ranjang berukuran kecil dan sempit inilah penyebabnya. Berbeda dengan spring bed di kamar ‘pengantin mereka’ yang berukuran king size, ukuran ranjang ini kurang dari setengah lebarnya dibandingkan spring bed itu.

“Bukankah ini terlalu sempit ?” sebelum Yoona memprotes lelaki itu lebih dulu bertanya. Kebetulan sekali  karena ia tidak perlu repot – repot mengomentari. Yoona pura – pura berpikir, “Ya kau benar, rasanya sangat sulit bernapas.”

“Ya sudah, kalau begitu aku tidur diluar saja—”

“Eh jangan.” Tahan Yoona menggenggam lengan Donghae yang hendak bangun dari tidurnya. Gadis itu bergeleng, “Kau disini saja, sekarang sedang mati lampu, aku… aku takut sendirian.”

Donghae membaringkan tubuhnya seperti semula namun setelah itu Ia menyentil dahi Yoona, gadis itu mengaduh lalu mengusap – usap dahinya cemberut.

“Katanya anak geng ? Mana ? begini saja takut.” Ejeknya menjulurkan lidah. Yoona memukul lengan Donghae lalu mendorong – dorong tubuh lelaki itu dengan kakinya, “ya sudah sana tidur saja diluar. Uh.”

Donghae menghalau  serangan Yoona, lantas menggusur tubuh gadis itu kesamping agar tidak terlalu jauh menguasai wilayahnya. Donghae terus mendesak Yoona hingga lengan gadis itu menyentuh permukaan dinding yang berhimpitan dengan ranjang mereka.

“Aku berubah pikiran, sepertinya di luar banyak nyamuk.” Jelas Donghae selagi membenahi letak selimutnya, tidak lupa membaginya dengan Yoona. Gadis itu terdiam sejenak memperhatikan wajah Donghae yang sedekat ini menggelarkan selimut ditubuhnya.

“Ayo tidur.” Ajak Donghae usai menenggelamkan tubuhnya kedalam selimut. Yoona tidak bereaksi. Gadis itu sibuk meraba debaran jantungnya yang berdentum diluar kendali. Yoona berusaha memejamkan mata namun entah apa yang terjadi dengan fungsi tubuhnya hingga berkerja sekaku ini.

Yoona mencoba menggerakkan jemarinya yang tertimbun dibawah selimut. Gadis itu mengangkatnya perlahan – lahan, namun ketika kulitnya bergesekan dengan kulit Donghae, Yoona seolah kehilangan nyali untuk menggerakkannya lebih jauh. Gadis itu menelan ludah. Ia beranjak bangun dari posisinya menjadi duduk. Yoona menyipit kearah lelaki disampingnya, lelaki itu melayang – layang diantara kedua matanya yang memejam seolah – olah tidak terjadi apa – apa.

“Donghae-ssi.” Panggil Yoona.

“Hmmm…” jawabnya. Lagi – lagi hanya bergumam seperti itu.

“Apakah kau.. Apa kau menyukaiku??”

Yoona meruntuk tepat dihatinya. Bodoh, bodoh, bodoh. Apa yang sedang kau tanyakan itu Im Yoona?! Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita?!

Yoona terdiam beberapa saat. Suasana ruangan itu yang hanya mengandalkan sebuah lampu petromak membuat kesunyian semakin terasa. Ia memikirkan kembali pertanyaannya beberapa detik yang lalu. Masa bodoh, Aku sudah terlanjur bertanya lebih baik kuteruskan saja !

“Coba pikirkan, kau melamarku tiba – tiba dan menikahiku meskipun ini hanya sebatas pekerjaan tapi kau tidak mungkin memilih wanita sembarangan kan? Ya aku tahu ini atas permintaan Sehun tapi kau tidak harus menyetujuinya, dia itu hanya anak kecil dan kau orang dewasa, semua keputusan ada ditanganmu dan lihat ini, kau tetap menyetujuinya, kau juga memberiku cincin bahkan saat dialtar kau mencium bibirku—“

Tiba – tiba Donghae bangkit dari tidurnya. Tatapannya menusuk tepat kedalam retina Yoona  dan memaksa gadis itu bungkam.

Donghae memajukan wajahnya seiring Yoona yang bersikap sebaliknya. Lelaki itu berbisik, “Kalau aku menyukaimu… kau pasti sudah tidak lagi perawan hingga detik ini.”

“M-wo?” Bibir Yoona bergetar kaku. Wajahnya berbelok membalas tatapan Donghae tidak percaya. Yoona hilang kendali memikirkan ini, bagaimana Donghae dengan mudahnya menghubung – hubungkan kedua hal itu?

Terlampau cepat baginya merasa terkejut apalagi terlena dengan permainan lelaki itu, Yoona menelan seluruh kegugupannya hingga tidak bersisa lantas menegakkan punggungnya seraya menyimpulkan, “Oke, anggaplah begitu. Kau memang tidak menyukaiku. Tapi kalau kau berbohong, kau akan—“

Kalimat Yoona menggema didalam bekapan seseorang. Donghae mengarahkan tangannya membungkam mulut Yoona. Donghae membawa serta Yoona kedalam timbunannya. Tubuh gadis itu terdorong kebelakang hingga merasakan bahwa kini punggungnya terhempas diatas tempat tidur. Yoona mengerjap kaku. Wajah Donghae kurang dari sejengkal berada diatasnya. Yoona menelan ludah. Ia  berusaha mengerahkan tangan dan kakinya untuk segera menyingkirkan tubuh Donghae dari sana. Yoona ingin mencurahkan ilmu bela diri yang selama ini dipelajarinya tapi… entah kemana perginya kekuatan itu sekarang.

“Jangan lagi…” ucap Donghae setengah berbisik, “Aku tidak mau ada kotoran cicak yang jatuh menghujaniku.”

“A-apa maksudmu ?”

“Sebelum aku terkena kutukanmu…”

Donghae mengarahkan belaiannya membasuh rambut Yoona, mengusapnya hingga ke-ujung. Lelaki itu memangkas jarak wajah mereka, menghirup kehangatan tubuh gadis itu melalui pori  – porinya. Donghae memejamkan mata, menaruh kecupannya dikening Yoona. Donghae mendiamkannya beberapa lama, membiarkan gadis itu mematung menahan napas.

“Aku tidak tahu apakah aku akan menyukaimu lebih dari ini suatu saat nanti.” Donghae mengangkat wajahnya lalu menatap kedalam mata Yoona.

“Donghae-ssi.”

“Dan bukan hanya disini…” Telunjuk Donghae membelah wajah Yoona, perlahan – lahan merosot hingga berhenti membuka bagian bawah bibirnya. Donghae menatapnya sebentar lalu berbisik, “Tapi disini dan disini.” Lelaki itu berpindah mengusap kedua sudutnya.

Bola mata Yoona turun kebawah mengamati pergerakan lelaki itu, Jemarinya berputar – putar mengusap dan mengerahkan segala sentuhannya. Bibir Yoona bergetar kaku sebagai reaksi atas sentuhan yang diterimanya. Yoona menarik napas lalu secepatnya menukar ekspresi diwajahnya, datar dan tegas, “Tapi perjanjian itu… bukankah sudah kukatakan, dilarang jatuh cinta.”

“Oh ya?” Lelaki itu mengangkat alis penuh tanya. Punggung tangannya kini berayun gemulai menggapai – gapai seburat merah disekujur pipi Yoona.

“Jadi katakan padaku, bagaimana caranya agar aku tidak jatuh cinta denganmu?”

“Kau harus menjauh—“

“Tapi kita selalu berdekatan.”

“Kau harus menghapus perasaanmu…”

Donghae terdiam beberapa saat, lalu Ia menatap Yoona sekali lagi dengan bibir yang memupuk seringai, “Baiklah. Kalau begitu, tapi sebelum aku benar – benar menghapusnya—”

Hembusan napas Donghae bertabur diwajahnya. Yoona berpaling kekanan, secepat itu pula Donghae menahan wajahnya, “Berikan aku ciuman terakhirmu.”

Donghae menangkap sesuatu yang menyilaukan dibawah sana. Bibir merah gadis itu bergetar gelisah, entah bagaimana meluapkan sensasi menggelitik didalam tubuhnya. Donghae mendorong wajahnya memunculkan pertukaran napas diantara mereka.  Sementara Yoona membeku diantara puluhan tali yang serasa mengikat jantungnya. Dentuman didalam dadanya justru semakin berontak. Yoona memejamkan mata disaat debaran itu kian menggila. Seiiring detik melaju, sensasi menggetarkan itu kian merasuk kedalam pori – pori kulitnya seakan menghirup seluruh energi yang tersisa. Yoona tidak menyangka, bagaimana mungkin ia bisa terkulai disini…

Yoona menahan napas, Tenangkan dirimu Yoona… jangan seperti ini…

“Bagaimana aktingku ? bagus tidak?” Bisikan itu menggapai persis didepan telinganya. Yoona tertegun beberapa saat. Namun tidak ada gunanya menjadi idiot didepan lelaki itu, lelaki bodoh menyebalkan yang kini bertopang kepala disampingnya bahkan dengan tidak tahu malu tersenyum tanpa dosa. Tentu, tidak seorang pun yang akan menanggung dosa dalam kasus ini tapi mungkinkah harapan palsu seperti itu sangat tidak adil untuk gadis sepertinya? Kecewa? Sayang sekali, kosa kata yang serupa dengan itu sudah terhapus dari kamusnya…

“Tentu saja, aktingmu jelek, sangat jelek ! Siapa juga yang percaya dengan akting gilamu itu, hah? memangnya aku bodoh.” Belasan kali, Yoona menepuk dada Donghae bertubi – tubi. Namun bukannya kesakitan atau apa, lelaki itu justru tertawa seperti meledeknya.

Yoona menatap langit – langit kamar selagi menormalkan kinerja tubuhnya yang sempat berantakan. Sungguh Ia tidak berharap lebih atas semua ini tapi sikap Donghae barusan sedikit membuatnya takut.

“Kau tidak mungkin menyukaiku.” Terawang Yoona dengan sepenuh keyakinannya. Donghae mendorong wajahnya ingin tahu terhadap maksud gadis itu.

“Bukankah kau menyukai Yuri ?”

Donghae terkekeh lalu tubuhnya ikut berbaring disamping Yoona, “Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal seperti itu?”

“Saat diacara resepsi, Yuri membisikkanku sesuatu. Dia bilang aku harus membantumu move on.” Yoona berpaling menatap Donghae. Disaat bersamaan lelaki itu ikut berpaling hingga tatapan mereka saling bertemu, “Dan dilihat dari gelagatmu, sepertinya  kau belum bisa melupakan gadis itu.” Ujar Yoona selagi memperhitungkan sikap Donghae selama ini jika berpapasan dengan gadis bernama Yuri. Bukan hanya sekali dua kali tapi tiga kali… tidak,  sekarang yang keempat kalinya, karena lagi – lagi raut wajah Donghae berubah kelabu, bahkan disaat Yoona menyebutkan namanya sekali.

“Dia hanya masa lalu.”

Yoona baru saja hendak menyanggah namun lelaki itu beranjak mendahului, “Jangan bertanya lagi, aku mengantuk.”  Peringatnya lantas memejamkan mata. Yoona mengintip wajah lelaki itu. kelopak matanya bergerak tidak tentu, cenderung gelisah. Yoona berkomat – kamit memprotesnya. Lelaki itu mencoba kabur dari kenyataan sayangnya tidak semudah itu.

“Kenapa kau tidur secepat ini ? Aku belum ngantuk.” Tandas Yoona mengguncang – guncang lengannya. Donghae beranjak memunggungi gadis itu, tidak lupa menyeru, “Baiklah lakukan apa saja, tapi jangan menggangguku.”

“Aku tidak punya teman lagi selain dirimu, lagi pula sekarang listrik sedang padam, ponselku lowbat dan televisinya tidak bisa menyala, tidak ada lagi yang bisa kulakukan.” Keluh Yoona menempelkan wajahnya kepunggung Donghae. Lelaki itu bergumam hingga suaranya menggema ketika mampir ditelinga Yoona.

“Selain menggangguku?”

“Hmm, temani aku sampai mengantuk.” Yoona menggangguk tanpa perduli Donghae merasakannya atau tidak.

“Apa yang kau inginkan dariku ?”

“Temani aku mengobrol. Ayolah… sisahkan waktu untukku, tiga puluh menit jebal…”

Donghae berdecak. Lama kelamaan gendang telinganya bisa berlubang jika terus menerus  dihantui rengekan gadis itu. Donghae terpaksa berbalik badan. Cengiran gadis itu menyambutnya. Donghae mendesah malas. Mungkin ia sempat menyadari hal ini sejak awal. Gadis itu tidak akan pernah bisa menghentikan hobby-nya berbicara apa saja, dimana saja dan kapan pun.

“Jadi apa yang harus kuobrolkan denganmu?” tanya Donghae dipenuhi keengganan.

Yoona memicing, “Apa ya?”

“Jangan soal Yuri.”

Yoona mengernyit ketika sanggahan itu menghadang tiba – tiba, sesaat gadis itu menggerak – gerakkan bola matanya lalu menanggapi, “Baiklah, biar kupikir – pikir dulu.”

“Cepatlah, jangan membuang – buang waktu—“

“Sebutkan…” Yoona menatap Donghae dengan mata berseri – seri. Mungkin… gadis itu tidak menyadari bahwa saat ini lelaki dihadapannya tengah kehilangan fokus.

“Makanan favoritmu.”

“Dakdoritang.”

“Minuman?”

“Susu.”

Yoona terdiam sesaat memikirkan jawaban Donghae, lalu melanjutkan, “Warna favoritmu?”

“Putih, Biru, Merah.”

“Cita – citamu waktu kecil ?”

Donghae tampak mengingat – ingat hingga akhirnya menjawab, “Pembalap.”

Tepat sekali, pembalap. Itulah kenapa Donghae bisa dengan mudah mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan. Mungkin saja, imajinasi liar dimasa kecilnya membuat lelaki itu frustrasi…

Hobby-mu?” Yoona memajukan wajahnya ingin tahu.

“Olahraga.”

Oke. Jadi… tubuh (lumayan) atletis yang dipunyai lelaki itu berasal dari hobby-nya ?

“Drama favoritmu ?”

“Aku tidak suka nonton drama, Ya !”

Donghae menatap Yoona jengah, “Im Yoona-ssi, apakah kau tidak bisa mengajukan pertanyaan yang lebih berbobot paling tidak pikirkan pertanyaan yang lebih dewasa, aku ini bukan bocah sembilan tahun yang perlu kau tanyakan warna dan makanan favoritnya, arasseo?!”

“Baiklah aku mengerti.” Jawab gadis itu santai, “Tenanglah jangan dibawa serius, barusan itu hanya permulaan.”

Yoona mengubah posisinya menjadi tengkurap. Gadis itu melipat kedua tangannya sekaligus  menyanggah dagu lalu menatap Donghae penuh minat, “Boleh kutahu… Seberapa besar kau menyayangi Sehun ?”

Donghae menatap Yoona lalu memicing, “Kenapa kau tiba – tiba menanyakan hal itu?”

“Kau sendiri yang menyuruhku, tadi kau bilang pertanyaanku harus berbobot,” sangkal Yoona diringi kedipan manja, “Katanya seorang lelaki akan mudah tersentuh jika mengingat anaknya, apakah benar begitu?”

“Mungkin benar.” Donghae merenungkan sesuatu lalu menambah, “Aku tidak sepenuhnya yakin karena aku sendiri belum layak disebut ayah dalam arti yang sesungguhnya.”

“Kalau Sehun punya adik, kau tidak akan mencampakannya kan?”

Lelaki itu tergelak, “Pertanyaanmu itu ditujukan seolah – olah kau sedang mengandung anakku.”

“Cepatlah jawab, aku penasaran.” Desak Yoona tidak perduli.

Donghae mengacak rambut Yoona, entah apa yang terjadi sehingga tangannya bergerak sendiri, bahkan menyaksikan wajah Yoona yang merengek – rengek seperti itu menguatkan keinginannya melakukan sesuatu yang lebih. Namun disaat – saat ini Ia masih dibekali akal sehat untuk tidak melakukan hal – hal yang bisa memancingnya. Entah nanti.

“Sehun adalah segalanya untukku.” Donghae menerawang kearah langit – langit kamar sementara Yoona  setia menatapnya selagi menyimak dalam diam.

“Anak itu… satu – satunya harta paling berharga yang diwariskan oleh mendiang kakakku. Saat aku melihat senyum anak itu, aku merasa seperti kakakku hidup kembali. Hingga saat ini aku masih belum bisa menerima kematiannya. Kecelakaan itu terlalu mendadak bagiku. Saat ini aku ingin fokus menjaga Sehun juga amanah mendiang kakakku, melindungi Sehun dari orang – orang jahat yang mengincar hartanya. Mungkin sebelum kematiannya kakakku sudah mengetahui kondisi keluarga Kim sebenarnya yang haus akan kekuasaan dan harta—” Donghae memejamkan mata sebentar, mengambil napas panjang, menahannya sebentar lalu tersenyum nanar.

“Sayangnya dulu aku tidak begitu perduli dengan ucapan kakakku. Aku belum sempat menanyakan siapa orang yang dimaksudnya dengan penjahat Keluarga Kim, entahlah. Aku terlalu sibuk mengurus bisnis property hingga kecelakaan itu terjadi dan merenggut nyawanya dan kakak ipar… aku sangat menyesali hal ini.  Ada sesuatu dibalik kecelakaan itu yang harus kuselidiki dan Sehun, anak itu sepertinya mengetahui penjahat yang membunuh orang tuanya secara tidak langsung.”

Ingatan mengenai kejadian itu memacu tegangan kuat disekitar rahangnya. Tatapan Donghae yang tadinya sayu dipenuhi luapan ambisi yang mendidih.

“Tapi… Sehun hanyalah seorang anak kecil, meskipun anak itu bisa membaca pikiran orang – orang disekitarnya tapi Sehun belum bisa mengungkapkannya lewat kata – kata. Sehun hanya menunjukkan ketidaksukaannya melalui tindakan. Lagi pula Kesaksian anak dibawah umur belum cukup menguatkan. Jadi tugasku adalah membantunya memberantas dalang dibalik ini semua—“

Terpaku, Donghae menahan kata – katanya. Suara aneh yang berasal dari gadis disebelahnya memaksa lelaki itu berpaling. Yoona menghanyutkan diri kedalam dunia bawah sadarnya tanpa permisi. Donghae terkekeh merasa konyol, dan entah sejak kapan gadis itu mulai mendengkur.

‘Dasar gadis ini… disaat orang lain berbicara serius, dia malah tidur.’

Meradang ditengah kejengkelan, namun sejurus kemudian bibirnya melahirkan seringai tipis. Donghae tidak mengerti kerusakan apa yang menimpa kendali tubuhnya, mungkinkah ada bagian tertentu yang terlambat merespon? Karena saat ini Donghae tidak merasa kesal atau pun marah menanggapi ulah Yoona yang tiba – tiba tertidur seperti itu usai memaksanya bercerita. Donghae mencari – cari kekesalan itu didalam hatinya tapi tidak ada. Aneh bukan ?  padahal selama ini ia selalu menjunjung tinggi etika dalam berbicara dengan seseorang. Donghae akan sangat marah jika lawan bicaranya tak acuh. Sekarang lebih parahnya gadis itu tertidur pulas. Jadi apa yang harus kau lakukan Lee Donghae… menegur atau menghukumnya ?

Donghae mengamati wajah Yoona, merekam sepanjang sunyi tiap lekukan dari sudut kesudut. Sekilas wajahnya serupa dengan gadis polos biasa jika memejam seperti ini, ataukah memang begitu? Tiba-tiba ingatan lelaki itu memutar ulang peristiwa sebelum pemberkatan.

Flashback On     

“Donghae-ssi, ada yang ingin kukatakan padamu, boleh kan ? Seorang wanita anggun mengenakan gaun putih elegant baru saja memasuki pintu yang menghubungkan ruangan luar dengan ruangan tunggu pengantin pria.

“Tentu saja Boa-ssi. Ehmm maksudku Kakak ipar.” Donghae tersenyum ramah kepada wanita yang dipanggilnya kakak ipar itu.

Boa ikut tersenyum lalu duduk disamping Donghae, ia melanjutkan, “Sebenarnya berat menceritakan hal ini tapi sebagai orang yang akan dekat dengan adikku, Aku merasa harus mengatakannya kepadamu.”

Donghae merasa aura disekitarnya bertambah serius. Ia memperhatikan wajah wanita di depannya, Boa seperti tengah menerawang sesuatu kemudian menatapnya, “Adikku Yoona, dia mungkin terlihat kuat di luar. Tapi sebenarnya dia itu rapuh, manja dan keras kepala. Mungkin aku yang terlalu memanjakannya. Sejak orang tua kami  meninggal dalam sebuah kecelakaan, saat itu usianya 16 tahun. Yoona mengalami shock  bahkan ia berniat keluar dari sekolah seni dan berhenti melukis.” Boa terdengar menarik napas panjang kemudian melanjutkan, “Tapi aku merasa disitulah kemampuannya. Aku iri padanya, Aku sama sekali tidak bisa melukis. Mungkin itu yang membuatku merasa dia lebih diperhatikan oleh ayah kami yang juga pelukis.”

Pandangan Boa semakin mengingat sesuatu bahkan sekarang matanya mulai berkaca-kaca. Donghae hanya terdiam mendengarkan, mungkin ini adalah kali pertama wanita itu menceritakan hal seperti ini kepada orang lain.

“Tapi sudahlah, Lagipula aku tidak mau bakat  yang diwariskan oleh orang tua kami lenyap begitu saja. Akhirnya aku melarang niat itu, kami bertengkar hebat tapi akhirnya dia menurut.” Boa nampak berpikir keras kemudian berucap kembali, “Ya, dia menuruti perkataannku tapi… pergaulannya mulai berubah, dia mencari pelampiasan; bergabung dengan sebuah geng.” Boa menghentikan perkataannya kemudian bertanya, “Untuk masalah ini apa kau sudah tahu ?”

“Nde, Yoona sudah menceritakannya padaku.” Donghae mengangguk.

Geng anak-anak broken home, yatim piatu, anak yang tidak diperhatikan, anak yang tidak diinginkan atau apapun itu yang para anggotanya merasa tidak mempunyai orang tua yang lengkap.”

Untuk hal ini, Donghae sudah mendengarnya dari Yoona tapi tetap saja dia tidak menyangka ternyata didunia ini ada hal-hal seperti itu. Donghae kembali memperhatikan Boa. Wanita itu mulai tersenyum kembali kemudian menceritakan kisah Yoona selanjutnya.

“Mungkin dia merasa tidak diperhatikan olehku yang sibuk bekerja. Aku membiarkannya karena kurasa dengan bergabung dalam geng itu, adikku bisa lebih mengikhlaskan kepergian orang tua kami dan kembali hidup normal seperti sebelunya. Ternyata benar, Dia kembali melukis dan memenangkan beberapa kompetisi. Bahkan dia mendapat beasiswa ke perguruan tinggi. Tapi… Aku mulai khawatir setelah ia lulus kuliah dan bekerja, penampilannya berubah. Perilakunya jadi tidak terarah dan semaunya. Aku sebenarnya tidak mau ambil pusing, tapi aku mulai terganggu oleh omongan para tetangga apalagi ketika temannya ada yang tertangkap menggunakan narkoba. Aku juga sangat takut.”

“N-Narkoba ?” Gumam Donghae lebih kepada dirinya sendiri. Untuk hal ini Yoona tidak pernah mengatakan apapun. Mungkin gadis itu ingin melindungi privasi temannya, Pikir Donghae.

“Nde, Setelah itu aku menyuruhnya keluar dari geng itu. Kami kembali bertengkar hebat. Dia bilang ‘Aku juga ingin menentukan jalan hidupku, kenapa eonni selalu mengaturku ! Aku bukan robot, eonni.’” Ucapan Boa kali ini terdengar sesanggukan. Wanita itu sepertinya sudah tidak bisa menahan tangisnya, Boa lalu menarik napas dan melanjutkan “Disitu aku menangis dihadapan adikku untuk pertama kalinya… Aku merasa serba salah, Aku merasa gagal.”

“Gwenchana ?” Donghae bertanya dengan nada prihatin. Boa yang seperti ini sangat jauh dengan Boa ketika ia menemuinya pertama kali.

“Aku baik-baik saja.” Balas Boa sambil mengirup cairan lendir yang baru saja akan keluar dari hidungnya kemudian melanjutkan ceritanya “Akhirnya… entah apa yang menyihirnya, Adikku keluar dari perkumpulan itu. Tapi dampaknya dia berhenti melukis… Aku tentu bertanya, lalu sambil menangis adikku menjawab bahwa ia telah kehilangan inspirasinya, Ia kehilangan teman-temannya sama seperti saat ia kehilangan orang tuanya. Semuanya demi aku, Eonninya– yang tidak berguna.”

“Kali ini aku tidak ingin memaksanya melukis lagi. Adikku sudah besar sekarang, dan aku tidak ingin mengekangnya. Setelah itu, kau lihat sendirikan ? Dia terombang ambing di jalan dan tidak mempunyai arah dengan gaya ‘seperti itu’ yang menurutnya keren.” Boa tiba-tiba terkekeh. ‘Aneh, wanita itu tersenyum, menangis dan tertawa kembali dengan cepat.’ Donghae membatin.

Boa berhenti sejenak untuk menarik napas lalu berkata “Dia akhirnya bertemu denganmu melakukan pekerjaan konyol ini. Lagi-lagi aku tidak ingin mengekangnya. Yang jelas, Ingat ! kalian tidak boleh melanggar peraturan dariku. Mengerti Donghae-ssi ?”

Donghae tiba-tiba tersentak dari pemikirannya “Ya aku mengerti kakak ipar.”

“Oh ya, kau pasti mengerti alasan dia menerima pekerjaan ini adalah uang. Sejak orang tua kami meninggal, aset keluarga dijual untuk membayar biaya rumah sakit karena kecelakaan itu dan sisanya digunakan untuk membiayai keperluan kuliah adikku. Mungkin dia bisa mendapat beasiswa saat itu tapi selama belajar di perguruan tinggi, Adikku membutuhkan alat lukis untuk praktek, biaya touring—.” Boa tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Lalu kembali berucap “Ah, aku terlalu cerewet ya. Langsung saja, permintaan terakhirku ‘Jaga anak manja itu, baik-baik’. Aku berharap banyak padamu Donghae-ssi.”

“Nde, aku pasti akan menjaganya. Kakak ipar tidak usah menghawatirkan hal itu. Aku akan melakukan pekerjaan ini sebaik-baiknya dan berusaha untuk tidak melanggar perjanjian itu.” Ucap Donghae dengan penuh keyakinan.

Flashback Off

Ketika memori dikepalanya selesai memutar ulang, Donghae menatap sekali lagi wajah Yoona. Gadis itu tampak damai didalam mimipinya, dia bermimpi indah. Donghae tersenyum membayangkan pikiran konyolnya, ia ingin masuk keadalam mimpi gadis itu. Donghae mengusap rambut Yoona sebelum akhirnya menjatuhkan diri  menyusul gadis itu kedalam memimpinya. Anak ayam yang tidak mempunyai induk sedang tersesat. Lelaki itu membatin hingga akhirnya memejam ditengah kesunyian malam.

…………..

“Bagaimana rasanya ?” Yoona bertopang dagu dengan wajah harap – harap cemas. Yoona terus mengamati ekspresi wajah Donghae yang saat ini sedang mengunyah ikan bakar buatannya.

“Sedikit pahit dan agak gosong.” Komentar lelaki itu. Yoona mendengus kecewa, “Aku tidak bisa menggunakan kompor minyak seperti itu.”

“Alasan. Bilang saja kau tidak bisa masak.” Cetusnya. Yoona membelalak, “S-siapa yang tidak bisa masak ?”

“Kau.”

Yoona menggebrak meja tidak suka, “Ya sudah kalau begitu kenapa kau tidak masak saja sendiri !”

Donghae menghela napas, lalu menunjuk Yoona dengan sumpitnya, “Memasak adalah tugas seorang istri, harusnya kau tahu seorang istri harus bisa mengurus keperluan suaminya. Lagi pula aku sibuk menyiapkan materi meeting nanti siang, tidak ada waktu untuk memasak.“

“Alasan. Bilang saja tidak bisa.” Yoona menjulurkan lidah, puas karena berhasil melancarkan serangan balik. Donghae menarik napas  lalu berpindah menggerakkan sumpitnya. Yoona mencebik. Sifat Donghae yang seperti ini menggugah tangan Yoona ingin sekali menaburkan nasi kewajah lelaki itu. Jelaslah Donghae merasa tersudut namun Ia pura – pura tidak mendengar.

“Tapi ngomong – ngomong dari mana kau mendapatkan ikan ini ?” Tanya Donghae disela kegiatan sarapannya. Mereka hanya membawa kimchi dari Seoul, sebatas itulah yang ia ketahui. Donghae belum sempat menghubungi karyawannya untuk membeli makanan, masalah sinyal ponsel adalah penyebabnya. Namun tidak disangka – sangka gadis itu punya banyak cara untuk bertahan hidup.

Yoona menelan seteguk air lalu menjawab, “Itu… aku menangkapnya dari kolam dibelakang rumah ini. Asal kau tahu, aku menangkapnya dengan tanganku sendiri. Aku susah payah mendapatkannya, jadi jangan cerewet sudah makan saja.”

Donghae menatap Yoona sebentar lalu  mengalihkan perhatiannya kelain tempat dimana piring – piring itu tersaji. Semua yang terpajang disini ialah bentuk jerih payah gadis itu. Yoona menyempatkan diri bangun lebih pagi darinya. Gadis itu berusaha menyiapkan ini semua sampai – sampai terpikirkan olehnya menangkap ikan di kolam belakang. Donghae melirik gadis dihadapannya yang sedang asyik mengunyah. Lelaki itu terpaku layaknya tersedak oleh perasaannya yang tiba – tiba menjadi sehangat iniDonghae bergeleng mati – matian menepis anggapannya. Tidak, ia tidak boleh merasa simpati atau membiarkan perasaannya dikuasai oleh sesuatu yang bisa melemahkannya didepan gadis itu. Perasaan serupa hanya akan menghambat produktivitasnya.  Terhitung masih ada rentetan masalah lain yang mengantre dan  menyita konsentrasi. Sikap melankolis atau sejenisnya hanya akan menghambatnya mengeksekusi tujuan akhir.

“Yoona-ssi, aku ingin memberitahumu sesuatu.” Ucap lelaki itu menggiring tatapan Yoona mengarah kepadanya.

“Apa?”

“Siang nanti para karyawanku akan datang kemari dan kita akan mengadakan meeting dirumah ini. Kau tidak keberatan kan ?”

Yoona meletakkan sumpitnya dan menghela napas, “Donghae-ssi, sejak kapan kau meminta persetujuanku ?”

“Ya kau benar.” Donghae mengangguk, lantas melipat kedua tangannya diatas meja, “Aku mohon kerjasamamu.”

Kernyitan halus memenuhi keningnya, Yoona mengamati wajah lelaki itu, ketika menyadari sesuatu Ia terkekeh, “Bicara saja langsung ke-inti, kau tidak perlu sekaku itu.”

“Aku serius Yoona-ssi. Berusahalah menjaga sikap didepan mereka.” Peringat Donghae tanpa mengindahkan permintaan Yoona. Akhirnya Yoona mengangkat bahu. Selain karena tidak perduli, rasanya ia sudah putus asa meladeni lelaki itu.

“Tenang saja. Menjadi istri yang baik dihadapan karyawannmu, itu sangat mudah dilakukan..” tanggap Yoona selagi melanjutkan sarapannya.

“Gomawo atas kesediaanmu.”

Sepanjang waktu menghabiskan makanannya, Yoona melayang diantara pikirannya mengira – ngira sikap Donghae barusan, ‘Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi sok wibawa begini…’

Sikap orang – orang berubah, biasanya karena memikirkan sesuatu yang tidak mengenakkan, tapi biasanya lelaki itu tidak begini. Kedua mata Yoona sontak membulat Apa jangan – jangan… ikan ini, jenis ikan beracun ? atukah… OMO ! apa aku salah memasukkan sesuatu ?

Diam – diam Yoona menatap lelaki itu. Sepertinya tidak ada masalah. Donghae menikmati sarapannya tanpa kendala. Bahkan lelaki itu mengunyah dengan kilat. Lalu apa?

………….

Berulang kali gadis itu berdecak frustrasi. Ia berjalan mondar mandir di pekarangan rumah selagi mengacungkan ponselnya keatas. Lagi – lagi sesuatu yang dinantinya urung terjadi. Yoona mendesah putus asa. Gadis itu menghentak – hentakkan kakinya berharap dengan begitu kekesalannya akan terkubur didasar bumi. Namun semakin ia melakukannya, kekesalan itu kian menyentuh ubun – ubun. Yoona mengamati sebuah tanda yang tertera dilayar ponselnya. Gadis itu mendecih.

“Sebenarnya tempat ini pulau biasa ataukah sejenis hutan belantara? Kenapa tidak ada satupun sinyal yang menyangkut ?” Yoona menggerutu selagi mondar – mandir tanpa tujuan. Merasa kelelahan,  Gadis itu memilih berjongkok dibawah pohon yang letaknya ditepi pekarangan. Yoona menatap layar ponselnya sekali lagi. Tidak ada perubahan.

“Boa Eonnie, mianhae aku tidak bermaksud membuatmu hawatir. Aku sangat ingin menelponmu tapi keadaannya tidak memungkinkan.  Aku benar – benar tidak tahan hidup bersama lelaki itu ditempat ini, eonni.” Yoona bermonolog seolah – olah benda mati persegi itu bisa mendengarnya.

Yoona mendongak. Pandangannya lalu berpapasan dengan kumpulan dedaunan yang memenuhi dahan pepohonan. Yoona memicing ditengah keterpakuan hingga akhirnya bersorak dalam hati karena menemukan sebuah ide cemerlang. Dan saat itu pula gadis itu menyeringai.

Tiba – tiba…

“Huaaaaaaa !!!!”

……………

Berdiri merenggangkan otot – ototnya sebentar lalu beranjak menekuni rutinitas semula, Donghae mengayunkan  sapu ijuk yang digenggamnya keberbagai sudut ruangan. Lelaki itu mendorong tungkai sapunya membasuh lantai guna mengumpulkan satu demi satu kotoran dan debu yang mengendap. Sepanjang perjalanannya membenahi rumah, Donghae tanpa henti mengira – ngira.  Pasalnya belum ada tanda – tanda bahwa Yoona membersikan lantai ini lebih dulu.

Menurut penuturan gadis itu, Ia sudah membersihkan seisi rumah akan tetapi fakta dilapangan berbanding terbalik dengan pengakuannya. Contoh  dipermukaan lantai, berkeliaran pasir – pasir halus yang terdorong oleh angin, serta tumpukan debu di jendela yang semakin menebal. Semua itu belum sirna dan artinya Yoona sama saja tidak melakukan apa pun.

Disela kesibukannya, Donghae tiba – tiba terkekeh memikirkan ini; ternyata cerita itu hanya mitos. Cerita legenda mengenai seorang gadis yang seandainya gadis itu menyapu  tidak bersih dan asal maka kelak, ia akan mendapatkan suami yang berjenggot dan berkumis lebat. Benar – benar picisan. Buktinya hal itu tidak menimpa Yoona.

Donghae mengatur napas lebih dulu sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia menatap jam dinding. Pukul setengah sebelas, itu berarti kurang lebih dua jam lagi para karyawannya akan tiba. Beginilah resiko mengadakan observasi di sebuah pulau terpencil, bisa menyewa sebuah penginapan sekalipun ialah bukti keberuntungan, karena itu penginapan ini harus bersih agar acara meeting perusahaannya berjalan lancar.

“Huaaaaaa !!!!”

Donghae membanting sapu ijuk ditangannya ketika teriakan histeris melolong dari arah pekarangan. Sontak lelaki itu berlari kencang. Pandangannya menajam kearah tepi pekarangan dimana  seorang gadis berjingkat ketakutan. Siapa lagi kalau bukan… Yoona. Donghae memacu pelariannya menerobos apa saja yang menghalangi demi menghampiri gadis itu.  Kurang dari semenit waktu yang ditempuhnya hingga ia berhasil menginjakkan kaki diatas medan yang disinyalir berbahaya itu.

“Donghae-ssi othokhae? Jariku hilang digigit sesuatu !” paniknya berteriak heboh. Dalam sekejap mata kehebohan itu ikut andil memperkeruh suasana. Donghae yang tadinya tidak  tahu apa – apa menatap gadis itu ketakutan, “A-apa maksudmu ?”

Yoona sesangguk. Bibir bawahnya bergetar hebat ketika berkata, “Tadi ada ular.”

Donghae menmbelalak, “Mwo?!” lelaki itu berbalik waspada. Tangannya menyambar sebatang kayu disamping pagar, mengangkat benda itu lalu memasang kuda – kuda, sementara bola matanya menggerling kesana – kemari mengawasi pergerakan ular yang dimaksud Yoona.

Bersikap waspada, Donghae menyempatkan diri menengok kebelakang memastikan posisi dimana gadis itu berdiri. “Mana? Mana ularnya?!”

“Ularnya… ular itu sudah pergi.” Jawab gadis itu menelan ludah.

“Benarkah?”

“Nde ularnya sudah kabur ke hutan…” Aku Yoona. Kehawatiran Donghae tidak sepenuhnya hilang. Lelaki itu menjatuhkan sebatang kayu yang dipegangnya lantas berbalik badan.

“Lalu bagaimana dengan jarimu ?!” tanya Donghae gamang seraya mencari – cari jemari gadis itu yang rupanya bersembunyi dibalik punggung.

Gadis itu terdiam beberapa saat hingga akhirnya mengambil napas, “Jariku… jariku…”

Donghae mengguncang – guncang tubuh gadis itu, “Wae? Ada apa dengan jarimu?!”

“Donghae-ssi, jariku…” rintihnya menahan tangis. Wajah Donghae bertambah kelam, saat ini bahkan keringatnya menetes – netes, “Yoona-ssi katakan sesua—“

“Tadaaaa !”

Tercengang ditempatnya, Donghae menganga lebar. Lelaki itu memajukan wajahnya tidak percaya. Lantas ia mengerjap seolah – olah mengabsen satu demi satu jemari Yoona yang saat ini bergoyang – goyang lentik dihadapannya.  Entah bagaimana ada kelegaan tersendiri mengetahui lelucon ini tapi…

Yoona menatap kesepuluh jemarinya lalu tertawa. Gadis itu menyelesaikan sisa – sisa tawanya sebelum angkat bicara, “Ternyata menyenangkan  juga  membuatmu berlarian. Hmm sayang sekali, seharusnya… tadi itu aku merekam ekspresi ketakutanmu.”

“Yak IM YOONA ! kau pikir ini lucu hah?!” gertak lelaki dihadapannya dengan wajah berapi – api.

Yoona terdiam kaku menyaksikan wajah Donghae yang merah padam. Debaran jantungnya meronta sebagai akibat dari rasa terkejutnya. Yoona menahan sesak yang perlahan menyusup kedalam tenggorokannya menciptakan bunyi isakan yang menyayat hati.

“Kau…. memarahiku?”

“Ya ya ada apa dengan wajahmu ?” desak Donghae diiringi kepanikan. Pasalnya gadis itu tampak sesangguk. Donghae sama sekali tidak mengerti. Padahal ia tidak melakukan apa – apa selain menyuarakan kehawatirannya, tapi gadis itu bertingkah seolah – olah ia baru saja mencacinya.

“Kenapa kau bersikap seperti ini ? Aku tidak punya maksud lain, aku  hanya ingin bermain – main denganmu karena sungguh, aku sangat bosan ditempat ini. Tidak ada toko makanan, tidak ada kendaraan bahkan sinyal ponsel saja tidak ada. Aku merindukan Eonnie huaaa hikzz…” isak Yoona mengungkapkan seluruh isi hatinya panjang lebar. Tingkah gadis itu semakin menjadi – jadi bahkan kini permukaan matanya berkaca – kaca dan memerah.

“Eonniee… hikzz,”

Donghae membuang napas kearah langit biru diatas kepalanya. Lelaki itu mencoba menenangkan situasi terlebih kepada dirinya sendiri, “Im Yoona-ssi diamlah. Bukankah usiamu sudah menginjak angka dua puluh empat tahun? Lalu kenapa sikapmu ini seperti bocah belasan tahun?”

Yoona menelan sesangguknya lalu berkata, “Makanya, lakukan sesuatu untukku agar aku tidak menangis.”

Alis Donghae terangkat mendengar penuturan Yoona. Lelaki itu mencernanya satu demi satu, lalu berakhir dengan kata menyerah.  Donghae tidak tahu lagi bagaimana harus meladeni gadis itu. Masih banyak pekerjaan yang menunggunya dan berada disini sangat membuang waktu.

Lelaki itu menatap gadis dihadapannya putus asa, “Jadi, kau mau aku melakukan apa?”

Mendengar perkataan Donghae, pupil Yoona membesar, “Benarkah kau bersedia mengabulkannya ?” Gadis itu memajukan wajahnya yang berseri – seri.

Donghae berdecak malas, “Ayolah cepat katakan !”

Selagi menyingkirkan bulir – bulir yang sempat membasahi wajahnya, Yoona menarik napas, “Aku ingin menelpon kakakku tapi ditempat ini tidak ada sinyal sama sekali.” Ucapnya lalu mendongak,  “Mungkin… diatas sana akan jauh lebih baik?”

Donghae mengukuti arah pandang Yoona. Dedaunan hijau yang lebat menyambutnya. Angin bertiup menimbulkan suara ranting bergesekan, saat itu ia berpaling.

“Kenapa kau tidak melakukannya sendiri ? Aku yakin perempuan sepertimu sangat pandai memanjat, apalagi ini hanya sebuah pohon.” Donghae mulai mengerti. Jadi hanya karena ingin menelpon, Yoona bersikap kekanak – kanankan seperti ini. Padahal kalau dipikir – pikir ia bisa melakukannya sendiri tanpa menyebabkan keributan lebih dulu.

Mendengar apa yang dikatakan lelaki itu, bibir bawah Yoona terdorong lima senti, wajahnya berubah lesu, “Tapi kakiku baru saja terkilir. Bagaimana kalau sakitnya kambuh lagi ? Kau kah yang  akan bertanggung jawab ? kalau nanti aku tidak bisa berjalan, apakah kau bersedia menggendongku. Tidak bukan?”

Frekuensi denyutan dikepalanya datang bertubi – tubi, lelaki itu terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar membiarkan gadis dihadapannya mengira – ngira, “Jadi kau tidak mau melakukannya ? jangan – jangan kau takut?  Huaaaaa othokhae? hikzz…”

“Siapa yang takut ?! Sini, berikan ponselmu.” Tepis Donghae lalu menyodorkan tangannya. Lengkungan halus menepi dibibir gadis itu hingga akhirnya merekah dan mengukir segaris bulan sabit. Yoona merogoh ponselnya dari kantong celana, untuk selanjutnya menaruh benda itu di atas tangan Donghae yang menggantung. Lelaki itu lantas menggenggamnya.

Yoona menarik napas lalu berdehem, “Seandainya kau mendapatkan sinyal untuk menelpon, katakan pada Eonni bahwa aku baik – baik saja. Jelaskan padanya sekali lagi bahwa perjalanan ini dilakukan karena kau hanya ingin mengurus pekerjaanmu, bukan untuk berbulan madu seperti yang orang – orang pikirkan.”

Donghae termenung ditengah picingan matanya seiring menyadari perubahan gadis itu. Apa – apaan ini? bahkan setelah ia merengek – rengek seperti bocah, gadis itu  sempat – sempatnya mengoceh panjang lebar.

Didepan sana, Yoona mengedipkan matanya berkali – kali bercampur dengan tatapan optimisnya, “Kau mengerti kan?”

Tidak ada jawaban yang diterima gadis itu. Donghae bergegas melangkah untuk segera menjalankan perintah, dengan begitu ia bisa secepatnya mengakhiri kekonyolan ini. Menghabiskan waktu sekitar lima menit hingga lelaki itu selesai memanjat pohon lalu memposisikan dirinya duduk di salah satu dahan. Donghae melakukan tugasnya menghubungi kakak Yoona. Rupanya cara memanjat pohon cukup ampuh mendapatkan sinyal, meskipun ditengah percakapan suara kakak Yoona terdengar menjauh namun hal itu cukup bisa dicerna. Sementara dibawah sana, Yoona terus menyimak pembicaraan Donghae dan kakaknya ditelepon. Donghae bercakap dengan volume tinggi membuat Yoona bisa mendengarnya dengan jelas.

“Bogoshippo Eonniee…” teriak Yoona dari bawah sana, hingga akhirnya Donghae menutup sambungannya. Lelaki itu melempar sebuah ponsel dari atas yang langsung ditangkap oleh gadis dibawahnya.

“Gomawo Donghae-ssi…” teriak Yoona sekali lagi, kali ini bersama love sign dikepalanya. Donghae tidak terlalu menganggapi gadis itu. Satu hal yang terbersit ditengah pergerakannya ialah bagaimana cara agar secepatnya memijaki bumi, karena saat ini keanehan meninpa tubuhnya. Donghae meringis ketika ditengah perjalanannya menuju kebawah, punggungnya serasa ditusuk – tusuk.  Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali.

Donghae buru – buru meloncat kebawah. Begitu menapaki bumi, lelaki itu menggeliat kesakitan. Yoona menghampiri Donghae wajah tidak kalah panik. Sementara lelaki dihadapannya meringis tanpa henti, meraba dan menggosok – gosok tubuhnya.

Tidak kuat lagi menahan kepedihan, Donghae membuka kaosnya lalu membuang selembaran itu sejauh mungkin.

Melihat Donghae yang tiba – tiba melepas atasannya hingga topless, kedua tangan Yoona refleks menyilang didepan dada, “A-apa yang kau lakukan?!” peringatnya waspada.

“Aduh.. lihat baik – baik, aku ini sedang digigit semut auhhh…” Lelaki itu mengerang seiring usahanya mengerahkan seluruh upaya menggerayangi sekujur tubuhnya yang bergelinjang.

Yoona mendongak penasaran. Kedua matanya sontak membulat. Bagaimana tidak, persis didekat dahan yang tadinya diduduki lelaki itu, sejumlah sarang semut menggantung bebas  diantara dedaunan..

“Huaa, semut dikepalamu ?!” Peringat Yoona selagi memukul – mukul kepala Donghae guna menyingkirkan semut – semut yang bertebaran. Yoona semakin panik menemukan bahwa setidaknya ada belasan semut yang merayap dipermukaan punggung Donghae. Secepat mungkin gadis itu menepuknya.

“Akhhh…”

“Gwenchana?” Yoona menguncang lengan lelaki itu yang tiba – tiba merintih, takut jika saja pukulan tadi justru memperparah kesakitannya.

“Yoona…” Panggil Donghae membungkuk – bungkuk. Lelaki itu menatap gadis disampingnya dengan wajah berkerut – kerut.

Tanpa berkedip, Yoona menunggu lelaki itu mengatakan sesuatu ditengah kecemasannya  yang kian menjadi – jadi.

“Sepertinya semut itu… “ tahan Donghae sambil meringis, “Yoona, sepertinya semut itu masuk kedalam celanaku.”

Yoona membelalak.

“Omo !”

………….

Tubuhnya semakin memerah karena digaruk berkali – kali. Namun begitu tidak ada sedikitpun niat Donghae untuk berhenti menggerakkan kesepuluh jemarinya. Diatas sofa ruang tamu lelaki itu terduduk gelisah, tangannya sibuk menjangkau bagian yang gatal akibat gigitan semut, mulai dari bagian bahu, perut, punggung hingga menjangkau bagian terbawahnya.  Sekarang dampak dari gigitan semut pepohonan tadi mulai timbul dengan tumbuhnya bentol dimana – mana. Bentol – bentol itu tidak hanya gatal tapi juga perih. Donghae meringis kesakitan selagi menahan kegeramannya yang meluap – luap. Ini semua tidak akan terjadi kalau bukan karena ulah Yoona. Bukannya bertanggung jawab atau merasa bersalah, gadis itu malah sibuk didapur entah sedang apa. Donghae semakin frustrasi memikirkan bahwa sebentar lagi para karyawannya akan datang kemari. Melihat keadannya yang tidak berhenti menggaruk – garuk, mustahil ia menampakkan diri disaat tubuhnya menderita gatal – gatal.

Terdengar derap langkah menggema dari ruang tengah. Donghae tidak terlalu memperdulikannya karena saat ini perhatiannya tercurah menggaruk sana sini. Lagipula siapa lagi dia selain gadis itu, mereka hanya berdua ditempat ini.

“Bagaimana semutnya ? apa sudah menghilang ?” Yoona datang menghampiri, duduk disamping Donghae lalu meletakkan baskom yang berisi air panas yang mengepul ditangannya keatas meja.

“Ya Semutnya memang sudah menghilang, tapi ini terasa gatal.” Ucap Donghae selagi menggaruk – garuk.

“Kemarilah, biar kuobati.” Yoona mencelupkan handuk kecil kedalam baskom, memerasanya sebentar lalu membalik punggung Donghae.

“Kau mau apa?”

“Sudah diam saja.” Peringat Yoona menepuk bahu Donghae, kemudian menempelkan handuk yang setengah basah tadi kepunggung lelaki itu. Menurutnya kompres air hangat cukup membantu mengurangi gatal – gatal.

“Auhhh… “

“Bagaimana ? Enak tidak ?”

“Enak ? Apanya yang enak ?” Donghae menggaruk bahunya yang setelah itu dikompres oleh Yoona. Kalau saja Ia mengetahui bahwa diatas pohon itu banyak sarang semut, ia tidak akan menyuruh lelaki itu memanjatnya. Mungkin… memanjat pohon lain.

“Mianhae.” Gumam Yoona penuh sesal.

“Mwo ? ucapkan lebih jelas, kesalahanmu bukan hanya satu.”

Menghela napas, Yoona mencoba membuka bibirnya, khusus untuk sekarang tidak ada salahnya mengikuti keinginan lelaki itu.

“Mianhae Lee Donghae-sii.” Ulangnya lebih jelas. Yoona melanjutkan kegiatannya mengompres, lebih tepatnya membasuh punggung Donghae  yang memerah.

“Coba ke-kanan sedikit… kekiri.. keatas… lakukan dengan baik, jangan hanya berfokus disatu tempat.” Peringat lelaki itu tanpa henti mengarahkan Yoona.

“Kenapa malah disitu… disini lebih gatal.” Kali ini Ia menunjuk – nunjuk lehernya gemas.

Yoona mencibir, “Mana aku tahu ?” Gadis itu kembali mencelupkan handuk kedalam baskom yang berisi air panas, tanpa diperas lebih dulu ia langsung menaruhnya diatas bahu Donghae. Sontak saja lelaki itu mengerang. Yoona terkikik dibelakangnya, namun buru – buru melunturkan ekspresinya secepat mungkin.

“Aishh kau ini benar – benar.” Donghae berdesis kepanasan, “Sebenarnya, kau berniat membuat kulitku melepuh atau apa?  setidaknya angin – anginkan dulu handuknya, masa begitu saja tidak tahu?”

“Iya aku tahu, sudahlah kau diam saja. Cerewet sekali.”

“Bagaimana aku tidak cerewet? Sebenarnya apa keahlianmu ? Mengompres tidak bisa, membersihkan rumah tidak bisa… memasak apalagi, jadi apa?”

Kenapa ini terdengar lucu ? Donghae paling anti menghabiskan kalimatnya untuk hal – hal yang tidak penting, namun berhadapan dengan gadis itu terlalu memangkas habis kesabarannya hingga melewati batas wajar.

Yoona tergelak merespon penuturan Donghae disaat lidahnya meletup – letup  hendak menyemburkan caci maki.

“Ya tentu saja, kau hanya pintar berkelahi dan menendang kakiku seenaknya, diluar itu kau sama sekali tidak becus.” Tambah lelaki itu yang membuat Yoona benar – benar muak. Yoona memutuskan bangkit dan berdiri dengan kedua kakinya dihadapan lelaki itu. Ia menarik napas sebanyak mungkin lalu berkata, “Oh, menurutmu aku tidak becus ?”

Donghae mengernyit.

“Ya kau benar, aku memang tidak bisa melakukan apa – apa, jadi…” Yoona menatap handuk kecil ditangannya, lantas melempar handuk itu kewajah Donghae, “Ini, lakukan sendiri.”

“Kau mau kemana ?” tahan Donghae menggapai lengan Yoona, menggenggamnya sampai gadis itu tidak bisa  berkutik.

“Tentu saja aku ingin menghirup udara bebas diluar, seperti katamu aku harus bersenang – senang disini dan menikmati waktu ‘bulan madu’ kita, iya kan?” Sinis Yoona menatap Donghae seolah tanpa beban.

“Tapi, kau tidak boleh kabur dari tanggung jawab !”

“Lalu untuk apa kau menyuruh orang yang tidak becus sepertiku bertanggung jawab ?”

“Semua juga tahu, orang waras mana pun di dunia ini harus bertanggung jawab atas perbuatannya, kecuali jika kau gila.”

Yoona memutar bola matanya, “Lepaskan.”

“Tidak.”

“Sudah kukatakan padamu, kontak fisik dilarang. Apa kata – kataku kurang jelas, tuan Lee Donghae ?” peringat Yoona menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Donghae membisu. Disaat bersamaan, Yoona membuang wajahnya kearah lain.

“Jadi lepaskan sekarang juga, atau aku akan membatalkan pernikahan ini.”

Genggaman lelaki itu akhirnya merenggang. Yoona menguncang lengannya agar ia bisa secepatnya menyingkirkan tangan Donghae segera.

“Dan satu lagi,” tambah Yoona menatap Donghae yang bergeming ditempatnya, “Jangan menyentuhku sembarangan. Baiklah, aku bisa memberikan toleransi jika itu didepan orang – orang, namun di belakang mereka, kau tidak berhak melakukannya. Aku bisa saja melaporkanmu jika sewaktu – waktu kau menciumku bahkan melakukan hal – hal diluar batas maka… aku akan melaporkanmu kepolisi atas tuduhan pelecehan seksual.”

Tidak disangka – sangka Donghae terkekeh mendengar penuturan Yoona, “Kau mau melaporkanku kepolisi ? atas dasar pelecehan seksual ? laporkan saja.”

“Mwo?”

“Iya, laporkan saja.” Ulangnya mengangkat bahu, “Ini akan menjadi berita terheboh dan kau… kau akan menjadi bahan tertawaan. Seorang istri melaporkan suaminya sendiri atas tuduhan pelecehan seksual. Nanti jelaskan saja pada mereka bagaimana kronologisnya saat aku menidurimu.”

Yoona memejamkan mata seiring upayanya menepis bayang – bayang kalimat Donghae yang amat mengerikan itu. Kedua tangannya sontak mengepal.  Yoona ingin meledak sekarang juga, bahkan ia ingin sekali menyumpal mulut Donghae dengan batu. Namun sekali lagi tidak ada gunanya. Semakin Ia terpancing maka lelaki itu akan semakin menertawakannya. Yoona terdiam sesaat, menarik napas dalam – dalam lalu menghembusakannya perlahan – lahan, “Oke lupakan, begini saja.”

Yoona berpaling menatap Donghae penuh kompromi, “Aku akan memberlakukan peraturan tambahan. Peraturannya adalah kau akan dikenakan denda apabila berani menyentuhku dibelakang orang  – orang yang melihat kita. Dendanya berupa materi yang harus kau bayarkan sesuai dengan apa yang kau sentuh dan berapa lama sentuhanmu, semakin lama kau menyentuhku maka dendanya akan semakin membengkak. Semua perbuatanmu  harus ada harganya. Memegang tangan 100 ribu Won, memegang kepala 250 ribu Won, menggenggam bahu 300 ribu Won, menyentuh keningku 500 ribu Won, mengacak rambutku 550 ribu Won—“

Kalimat Yoona tercekat ditenggorokan. Tiba – tiba sebuah tarikan paksa menghempaskan tubuhnya kebawah hingga terduduk membentur sesuatu. Mata Yoona membulat lebar, Ia terpatung menyadari bahwa kini tubuhnya sedang berada diatas pangkuan lelaki itu.

Bunyi deru napasnya mulai bersahut – sahutan. Yoona menduga ini akan semakin buruk, jadi gadis itu berusaha menelan kegugupannya sekuat mungkin lalu mendorong pita suaranya berbunyi, “Menggenggam dan menarik tanganku sampai sejauh ini, 600 ribu Won.”

Peringatan itu sama sekali tidak diindahkan olehnya. 600 ribu Won bukanlah apa – apa untuk seukuran Lee Donghae. Tubuh Yoona menggeliat ketika lelaki itu justru menarik pinggangnnya hingga benar – benar menempel. Yoona menarik napas mencoba tetap tenang,  “A-apa yang kau lakukan? 700 ribu Won.”

Donghae mendorong wajahnya menggapai ceruk leher Yoona, bertopang diatas bahu gadis itu. Yoona melirik wajah Donghae dari samping, wajah lelaki itu dipenuhi ketenangan seolah tidak ada kegugupan yang berarti. Berbanding terbalik dengannya yang saat ini dilanda kepanikan hingga memaksa keringatnya jatuh menetes – netes.

“800 ribu Won.” Peringat Yoona untuk yang kesekian kali.

Donghae mendekatkan wajahnya ketelinga Yoona dan berbisik, “Aku bersedia membayar denda 5 juta Won. Menurutmu pelanggaran apa yang setimpal dengan itu?”

“Maksudmu?”

“7 juta Won ?”

“Aku tidak semurah itu.”

“15 juta Won?”

Yoona terpaku memikirkan penawaran Donghae. Alis gadis itu terangkat begitu tertarik sekaligus terkejut dengan apa yang disuguhkannya, “Kau tidak bercanda, kan ?

“Kau kira aku main – main?”

“Siapa yang tahu ?”

Donghae menjeda beberapa saat hingga akhirnya melanjutkan obrolan mereka, “Kalau begitu tatap mataku.” Cetusnya tiba – tiba yang membuat Yoona tersedak oleh napasnya sendiri. Gadis itu terdiam sejenak, tidak lama ia menggidikkan bahu masa bodoh.

“Baiklah.” Putus Yoona lalu bergeser dari pangkuan Donghae. Gadis itu beralih duduk disampingnya. Yoona melakukan apa yang diperintah Donghae. Ia menatap lelaki itu, sebaliknya Donghae membalas tatapan Yoona. Mereka hanya terdiam ditengah keheningan.

“Lalu?” Yoona mulai bingung dengan situasi yang menurutnya tidak jelas ini. Sementara lelaki itu belum menjelaskan apa pun.

“Pejamkan matamu.” Ucap Donghae.

Yoona memasang baik – baik telinganya, “Apa?”

“Pejamkan matamu dan biarkan aku melakukan sebuah pelanggaran yang paling berkesan…”

Wajah tanpa ekspresi lelaki itu mengukir tanda tanya besar dikepala Yoona. Pasti hanya sebuah jebakan atau mungkin ini adalah permainan lelaki itu. Tapi kalau memang hanya permainan maka lelaki itu sukses memainkan perannya sehingga tampak bersungguh – sungguh. Entah mungkin ada yang salah dengan penglihatannya, wajah Donghae berangsur – angsur menegas, bahkan sapuan napas lelaki itu semakin jelas melayang – layang dipermukaan kulitnya. Apakah ini sungguhan ? tapi tidak mungkin… Yoona mengerjap ditengah kegamangannya mengartikan sikap Donghae.

‘Ini semua jelas hanya bagian dari aktingnya …’  Batin Yoona menengahi diantara debar – debar jantungnya yang berpacu diatas normal. Acara sahut – menyahut didalam batinnya  pun terus berlanjut, ‘Bukankah semalam lelaki itu berhasil mengerjainya ? lalu pepatah seperti… Jangan biarkan dirimu jatuh kedalam lubang yang sama. Nasehat seperti itulah yang sering  dikatakan orang – orang untuk mereka yang pernah terperosok jatuh kedalam lubang. Cukup sekali ia terkelabui oleh jebakan lelaki itu, kali ini tidak lagi.’

Pandangan Yoona mengabur seiring tumbukan lunak yang mengenai wajahnya. Ia tidak bisa menyaksikan apa pun saat ini karena kelopak matanya refleks menutup segala akses visual. Satu – satunya yang bisa ia lakukan untuk memastikan adalah… merasakan apa yang menimpanya saat ini. Merasakan bahwa tubuhnya mulai memanas dan jantungnya serasa ditekan oleh ribuan hasrat yang menggebu – gebu. Kehangatan diatas bibirnya bagaikan ombak yang menghanyutkan. Bibir Yoona terombang – ambing ditengah geliatan bibir lelaki itu yang menjejalkan permainan liar, menyesap dan memangut ditiap jengkalnya hingga kebagian tersudut. Yoona hampir putus asa mengimbangi bagaimana cara Donghae memperlakukannya saat ini. Lelaki itu mendominasi, menghisap seluruh energinya hingga  membuat gadis itu harus mencuri napas diantara sesak yang memenjarakannya.

Donghae meraba detak jantungnya yang tiba-tiba berlarian dengan segala sesuatu yang membuncah. Perasaan ingin memiliki yang ia rasakan membuatnya terdorong untuk menggali sesuatu yang lebih. Keinginan terpendam yang sekian lama tersimpan didalam hatinya membangkitkan hasrat lelaki itu menyatukan bibirnya semakin dalam menyesap bibir Yoona. Donghae memberikan sengatan kecil dibibir Yoona penuh tekanan, hentakan itu dengan sendirinya membuka jalan bagi lelaki itu menyalurkan nafsunya yang sudah tidak terkendali. Donghae menjelajah dengan terperinci, memungkinkannya mengeksplor lebih dalam. Pangutan mereka berlanjut seterusnya tanpa jeda sedetik pun hingga  Yoona menarik wajahnya dan berpaling kearah lain. Gadis itu menghela napas panjang. Kepalan tangannya menepuk bahu Donghae seolah tenaga yang dimilikinya terkuras habis akibat pelepasan gila barusan.

“Jadi ini sungguhan? Kupikir kau sedang berakting.” Ucap Yoona terengah – engah. Matanya bertatapan langsung dengan mata lelaki itu yang belum berhenti menginginkannya. Yoona mengamati wajah Donghae, tanpa sadar menangkupnya. Tampak didepan sana bibir Donghae memerah dan sedikit bergetar. Yoona tidak melewatkan godaan ini begitu saja, ia memajukan wajahnya mendaratkan sebuah kecupan dibagian sudut kanan bibir lelaki itu, berpindah kebagian kiri lalu mengecup bagian intinya lebih dalam. Yoona menarik wajahnya sekali lagi mempertemukan tatapan mereka.

“Jadi?” Yoona mengangkat alis penuh tanya.

“Aku sedang tidak berakting, aku sedang mencari chemistry.” Tanggap lelaki itu setengah berbisik dengan suaranya yang serak. Tanpa menunggu persetujuan gadis itu lebih dulu, Donghae melanjutkan serangannya menarik tengkuk Yoona. Sementara Yoona terdiam pasrah, tidak menolaknya juga tidak membalas, akan tetapi lelaki itu bisa menjamin sebentar lagi Yoona akan menikmatinya, mulai detik ini ketika Donghae menyesap bibir hingga rahang Yoona lebih menantang dari sebelumnya, bahkan kini ciuman lelaki itu menjalar hingga menjangkau leher jenjang Yoona. Kecapan – kecapan Donghae menggelitik disekujur kulitnya seperti dihantam oleh aliran listrik. Hasrat Yoona perlahan membuncah. Jemari lentiknya mencengkram rambut Donghae, tanpa sadar bibirnya yang tersiksa meloloskan sebuah erangan yang terdengar jelas ditelinga Donghae. Hal ini membuat lelaki itu semakin menjadi – jadi. Yoona menggigit bibir bawahnya menahan sesuatu. Ada apa ini ? kenapa rasanya tidak bisa berhenti…

“Donghae-sii hentikan…” peringat Yoona mendorong suaranya sebisa mungkin ditengah kecupan Donghae yang bertubi – tubi. Yoona menangkup wajah Donghae, lantas menjauhkannya sebentar. Gadis  itu menatap ragu.

“Aku belum siap.” Yoona bergeleng penuh kebimbangan.

Donghae menggenggam kedua tangan Yoona yang saat ini menangkup wajahnya. Lelaki itu menaruh kecupannya menyentuh punggung tangan Yoona bergantian. “Ini hanya sebatas ciuman, tidak akan lebih.” Ucap Donghae meyakinkan.

Yoona terdiam beberapa saat, lalu kemudian mengusap bibir Donghae menggunakan ibu jarinya, “Janji?”

“Ya, janji.” Ucap Donghae mendesak tubuh Yoona kebelakang hingga jatuh terlentang dipermukaan sofa. Gadis itu serta merta melingkarkan tangannya diseputar leher Donghae menggiring lelaki itu jatuh bersamanya. Donghae kehilangan kendali menghentikan aliran darahnya yang menggelenyar. Lelaki itu menahan wajah Yoona, dua Lapisan merah dihadapannya menjadi tujuan utama.

Yoona memejamkan mata disaat kehangatan itu meracuni pikirannya. Jemari lentiknya mulai bermain – main menyusuri rambut hitam Donghae, mencengkeramnya dengan tekanan menuntut. Leguhan panjang Yoona mengudara seiring lidah Donghae yang membasuh tiap benda didalam rongganya, lidah Donghae terus berpetualang menyusuri rongga kehangatan Yoona. Gadis itu berusaha mencuri napas. Tangannya mencengkram bahu Donghae selagi mendesak tubuhnya menghimpit tubuh lelaki itu agar memacu kepuasan yang lebih. Donghae semakin menindihi tubuh Yoona seiring lumatan panas mereka. Sekujur tubuh gadis  itu bermandikan peluh akibat berkerja keras mengimbangi permainan Donghae. Tiupan udara dari bibir Yoona menggetarkan sekujur tubuh lelaki itu. Lapisan merah nan tipis itu meraup lapisan serupa dihadapannya dan menjalar ke bagian rahang hingga leher. Donghae menyesapnya hingga keujung, menghisap aroma kulit leher Yoona dan menemukan bahwa dirinya tersesat. Lelaki itu mengerti bahwa tindakannya ini berakibat fatal, Donghae mengembalikan bibirnya memangut bibir Yoona. Pangutan panas mereka saling mengoyak satu sama lain membunyikan decapan ricuh memenuhi ruangan yang terdengar saling bersahut-sahutan. Donghae merasakan sebuah letusan seperti petasan didalam tubuhnya yang merasuk kedalam pembuluh darahnya dari atas kepala sampai ujung kaki, sentuhan Yoona bagaikan candu memabukkan begitu sebaliknya, dan pergulatan sengit itu memacu keinginan untuk saling memuaskan hingga berhenti tiba – tiba. Sebuah panggilan  menyahut dari luar menyadarkan mereka…

“Permisi Sajangnim.”

Yoona memalingkan wajahnya bahkan mendorong wajah Donghae ketika lelaki itu tidak kunjung berhenti. Yoona sedikit meronta untuk menegaskan isyaratnya. Kalau saja memungkinkan Donghae ingin terus memangut gadis itu hingga kehabisan napas, namun ketukan pintu yang bertubi – tubi dari luar menghancurkan konsentrasinya.

“Apakah itu karyawanmu…” terka Yoona selagi menyeka keringat diwajah Donghae yang bercucuran akibat permainan panas mereka.

Donghae mengenggam tangan Yoona diwajahnya, lalu menatap kearah pintu dengan wajah kecewa, “Iya, sepertinya…”

“Jangan dibuka dulu. Kau…” Yoona menahan kata – katanya seiiring tubuh Donghae yang baru saja akan beranjak dari atas tubuhnya.

“Kau tidak pakai baju.”

“Oh ya kau benar.” Donghae mengangguk pelan. Ia melirik Yoona yang terdiam memandanginya. Tidak menungggu waktu lama, Donghae mengecup kening gadis itu terakhir kali sebelum akhirnya benar – benar menyingkir dari atas sana.

“Aku akan membereskan ini. Sebaiknya bersiap – siaplah menemui mereka.”

Ketika lelaki itu berjalan kedalam untuk bersiap – siap, Yoona merasa beban berat diatas pundaknya seolah menguap keangkasa. Yoona beranjak membenahi posisinya duduk tegak diatas sofa. Gadis itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan – lahan. Apa yang sudah kulakukan ? Aishh !!!

Yoona memindahkan sebuah baskom yang tadinya berada diruang tamu menuju ruang tengah, lalu beranjak membuka pintu.  Kenampakannya lantas disambut oleh beberapa orang yang berjejer didepan pintu.

“Annyeong haseyo Nyonya, maaf mengganggu waktu anda.” Salah satu pria yang seumuran dengannya membungkuk hormat, menyusul rekan – rekan dibelakangnya. Yoona membalas sapaan mereka dan tersenyum, “Tidak apa – apa. Dia memang sudah menunggu kalian sejak tadi, Silahkan masuk.”

Yoona menuntun para karyawan Donghae duduk di ruang tamu. Gadis itu menyuruh mereka menunggu sementara ia pamit memanggil Donghae.

Langkahnya memasuki ruang tengah. Donghae baru saja keluar dari dalam kamar, mengenakan kaos biru yang terlihat santai. Yoona mengerti Donghae akan menuju ruang tamu, gadis itu membiarkannya tanpa berkata  apa – apa. Yoona mengubah niatnya yaitu berjalan menuju dapur. Namun entah bagaimana lelaki itu datang menghalau. Yoona melesat kearah kanan, lelaki itu mengikuti gerakan Yoona dan menutup segala aksesnya untuk berjalan. Yoona mendengus kesal, Ia berusaha mencari celah namun Donghae tidak sekali pun membuka celah itu.

“Kenapa ? Kau… malu ?” Donghae mengangkat alisnya menemukan Yoona hanya berjalan menunduk tanpa menatap kekanan dan kekiri apalagi kedepan.

Yoona berhenti sejenak, gadis itu menghela napas dengan posisi pandangnya mengarah kebawah seolah – olah mencari koinnya yang hilang, “Tidak, biasa saja.” Jawabnya.

“Aneh, kalau biasa saja, kenapa Nona ini tidak berani menatap mataku ?” cetus Donghae yang membuat gadis itu tersentak. Bibirnya yang ranum bergetar tidak terima. Yoona mengangkat wajahnya tinggi – tinggi,  “S-siapa? Aku hanya sedang buru – buru.”

Yoona menerobos tanpa basa basi hingga menabrak tubuh Donghae. Gadis itu sedikit terhuyung lalu sepasang tangan lelaki itu beranjak menahan tubuhnya yang mulai tidak seimbang. Keadaannya sudah tanggung, Donghae menarik Yoona kedalam dekapannya, memeluk gadis itu, membelai dan mengusap surai panjang miliknya perlahan – lahan. Sementara Yoona sesak napas didalam keterpakuan. Debaran itu semakin terdengar menyebalkan dan Ia takut lelaki itu akan mendengarnya. Yoona berupaya membebaskan diri dengan meronta. Yoona menyingkirkan lengan Donghae dari pundaknya bahkan memukul – mukul bahu lelaki itu.

Donghae berdiri ditengah pertahanannya. Lelaki itu tidak bergeser sedikit pun yang membuat Yoona hampir putus asa, bahkan kini ia menyeringai, “Ternyata menyenangkan juga ya membuatmu kesal.”

Yoona menghentikan serangannya lalu menatap tidak suka. Yoona menyadari bahwa saat ini Donghae berhasil memasung kedua lengannya. Buru – buru ia menyingkirkan genggaman itu dengan malas.

“Jangan buang – buang waktu, cepatlah temui karyawanmu, mereka sudah menunggu.”

Donghae menahan lengan Yoona ketika gadis itu beranjak dari tempatnya. Yoona tersentak  oleh sesuatu didalam tenggorokannya entah apa ia tidak mengerti, perhatian Yoona tersita seluruhnya kedalam tatapan Donghae  yang  melaju searah membekukan iris matanya. Yoona mulai meraba seiiring tubuhnya yang bergetar kaku menafsirkan makna dibalik tatapan lelaki itu yang sialnya begitu meneduhkan.

“K-kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Memangnya tidak boleh ?” suara itu… dingin dan menusuk seperti duri es yang  menyulap keheningan menjadi setegang ini.

“Tentu saja tidak boleh,” Yoona menelan kegugupannya. Gadis itu berpaling memutus kontak mata mereka, lalu membangun kontak baru yang lebih tajam, “Sudahlah, Jangan berpikir aneh – aneh, pikirkan saja utangmu. Ingat, Kau harus mentransfer 15 juta Won ke-rekeningku dalam jangka waktu tiga hari—” menarik napas panjang, Yoona justru tersentak  oleh ingatannya sendiri. Ia menatap lelaki itu sekali lagi. “Oh ya, ralat, bukan 15 juta Won. Karena kau memelukku barusan, jumlahnya bertambah menjadi 20 juta  Won, Ingat itu !”

Yoona mendorong tubuh Donghae sebelum akhirnya beranjak pergi. Gadis itu melesat begitu saja meninggalkan Donghae seorang diri. Yoona melewatinya tanpa meninggalkan tatapan terakhirnya, namun dibalik itu sesungguhnya ia tengah menahan sesuatu yang bergemuruh didalam dadanya. Oke, Jadi dia tetap bersikap biasa saja setelah apa yang terjadi… Padahal aku masih gemetar dan tidak karuan seperti ini ? Ya, seharusnya tingkah lelaki itu membuatku semakin tidak menyukainya, tapi yang terjadi malah sebaliknya.

Aku sudah gila, benar-benar gila.

…………………

Yoona menghepaskan punggungnya dipermukaan batang pohon. Tempat ia merasa nyaman karena tidak ada yang melihatnya. Gadis itu merasa kedua kakinya sudah tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Ia lalu membuka kamera depan ponselnya untuk melihat dirinya sendiri. Tidak ada yang berbeda, semuanya sama kecuali… bibirnya yang sudah dicium oleh Donghae terlihat sedikit membengkak, lalu didaerah leher, rahang dan sekitarnya terlihat memerah setelah apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Selain itu yang berbeda adalah sinar matanya sendiri yang lebih bersinar serta detak jantungnya yang sampai saat ini masih berdegup kencang.

Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya keudara berharap dengan begitu ganjalan dihatinya akan terkubur diangkasa. Bibir Gadis itu mulai bergerak meruntuki apa saja yang lewat didalam pikirannya. Beberapa kali Yoona mengacak rambutnya kesal, hati nuraninya seolah bersahut-sahutan dengan ego yang tampaknya sudah mengakar didalam hati. Jika saja ada yang melihatnya, mungkin gadis itu akan disangka tidak waras karena berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk wajahnya seperti orang gila.

“Bodoh… bodoh… bodoh. Ada apa denganku? Kenapa aku bisa melakukan itu  ?”

Hanya karena 15 juta Won, kau rela melakukan perbuatan seperti itu ? dan kau menyukainya ? Sesuatu didalam hatinya terdengar mencibir.

“Aniyaa.. aku tidak menyukainya !!!” Bantah Yoona dengan lantang.

Kau berbohong Im Yoona. Semua juga tahu, kau menyukai bibir lelaki itu dan juga semua perbuatan penuh dosa yang telah kalian lakukan !

“Anyiaa.. itu bukan perbuatan dosa, kami sudah menikah. Dia itu suamiku sekarang !”

Tapi tetap saja kau sudah melanggar janjimu pada Boa eonni.

“Eonniku tidak akan tahu. Ya dia tidak akan tahu kan ? Jadi aku bisa tenang.”

Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang bisa kau lakukan saat ini adalah tetap tenang dan segera hindari lelaki itu sebelum nantinya kau terseret kedalam bencana yang lebih besar !

“Ya. Aku harus menghindar dan menenangkan diri. Tenanglah ! Tarik napas pelan-pelan lalu hembuskan… satu…dua…tiga….”

“Im Yoona, Kau bukan seperti dirimu sendiri.” Gumamnya tanpa sadar.

Pada akhirnya, Yoona benar-benar menjalankan rencananya menghindari Donghae. Jika biasanya ia memaksa lelaki itu menemaninya mengobrol sebelum tidur, kali ini tidak lagi. Yoona langsung bersembunyi dibalik selimutnya dan memejamkan mata. Hingga keesokan harinya Donghae beserta para karyawannya pergi meninjau beberapa lokasi pulau. Donghae sebenarnya mengajak Yoona untuk pergi bersamanya, Tapi gadis itu menolak dengan alasan bahwa ia sedang tidak enak badan. Tidak ada yang mencurigai motif penghindaran Yoona. Sampai mereka kembali ke Seoul sebisa mungkin Yoona menghindari kontak dengan Donghae. Tapi… kenapa rasanya ada yang kurang ? Lambat laun ia menyadari hal ini ; Im Yoona sudah teracuni oleh sentuhan seorang Lee Donghae. Tapi benarkah ?! Jika memang begitu, Ia harus menemukan sebuah penawar untuk bisa sembuh.

………….TBC………

Annyeong kembali dengan part ini.

Hubungan Yoonhae disini  mungkin masih begitu, Aku harap kalian bisa bersabar menunggu moment sweet atau apa karena semua butuh proses, nggak langsung terjadi gitu aja…

Dan moment Yoona Sehun, nanti ya dichapter selanjutnya… Kalo moment sama anak kecil tuh sebenarnya aku paling males nulisnya karena aku sendiri nggak begitu dekat sama anak kecil kecuali kalau udah terpaksa. Kalau baca FF pun nggak mau yang lebih fokus ke anak kecilnya tapi khusus untuk FF ini akan aku usahain, meski pun.. ya agak maksa dikit >_<

Sekian darikyu. See You Bye Bye ^^

104 thoughts on “FF YoonHae – Sweet Legacy Part 7

  1. ina gomez berkata:

    Astga…dibikin ngakak ma sifatnya yoona yg kyk anak kcil hehe.ada2 ja tingkahnya yg bs bkin org senym2 ndri hehe.
    Kyaa yoonhae dh mli so sweet lox td karyawanya gak dtg mubgkin yoonhae bs ja berlnjut tu hehe
    Yoona kyknya dh mli da rasa ma hae hehe
    Jd gak sbr lht yoonhae sling ngungkpib prsaanya mreka n lht kemesraab mreka.

  2. nathasya berkata:

    Yeheee dipost juga
    Aduh moment yoonhaenya suka banget thor, yoonanya lucu
    Ditunggu momentnya yang lain di next chap
    Semangat thor!!!!🙂

  3. Rentyelfishyoonhae berkata:

    Makin penasaran ma kelanjutan cerita nya t a pi jngn lama” dg dong Thor post nya …wah yoona udah mulai ada rasa nih ma hae

  4. valeriecho berkata:

    ahh.. senangnya liat yoonhae makin so sweet. ☺
    yahh, jangan bikin yoonhae menjauh dan menghindar dong, thor..
    bikin yoonhae nempel terus, dan buat donghae makin kaya biar bisa nyentuh Yoona semuanya :p walaupun ada tarif nya. ߘ݊lucu banget mereka, yoona kekanakan banget dan manja banget..
    oiya..itunggu moment sehun dan ke dua orang tua barunya, author..

  5. valeriecho berkata:

    ahh.. senangnya liat yoonhae makin so sweet. ☺
    yahh, jangan bikin yoonhae menjauh dan menghindar dong, thor..
    bikin yoonhae nempel terus, dan buat donghae makin kaya biar bisa nyentuh Yoona semuanya :p walaupun ada tarif nya.. 😝

    lucu banget mereka, yoona kekanakan banget dan manja banget..
    oiya, ditunggu moment sehun dan ke dua orang tua barunya..

  6. Iis solihat berkata:

    Ahh makin keren certnya
    Donghae mlai suka yoona eoni
    Tpi dia malah menghindar
    Ahh yoona eoni lucu bngt tingkahnya
    D tnggu momen so sweet mereka
    Fighting:)

  7. Wiwiet berkata:

    Akhirnya yoonhae ada kemajuan mereka kiss wahhh??kapan mereka jatuh cinta trus donghae atw yoona cemburu???kerennnnnnn banget plissssss update segera ya

  8. rahmania berkata:

    yoonhae sama2 jual mahal.klo gk terganggu karyawan donghae psti sdh hbs tuch yoona dimakan donghae.

  9. fiony andam berkata:

    Uwaaaaaa lagi kangen ff ini langsung muncul.. gak ngebayangin itu kalo nginep ditempat terpencil,ga ada sinyal,ga ada orang.gabut banget pasti.itu fix bgt mereka berdua udah saling suka.ayooo yoona bikin donghae move on.next jangan lamaaa

  10. irma nytha berkata:

    Dari awal baca sampek tengah aku berpikir mana moment hotnya? Kan mereka lgi bulan madu. Wkwkwkkwk ternyata pertanyaanku dijawab lebih HOT. Keekekke otak yadongku kumat kalau mendengar kata ‘bulan madu’.🙂

  11. Vaniza Rianie berkata:

    KYAAAA !!! Aku suka part ini dia awal udah kesel aja ..udah deg degan mau dapet moment sweet ternyata mereka cuma becanda dan tadinya udah mau protes aja tentang larangan boa ..tapi di akhir semua sweet dan gak nyangka semoga hal seperti itu gak cuma ada di part ini ya ..di part yang akan datang berharapnya lebih banyak dan pengennya sih Yoona gk ngehindarin Donghae dan bersikap dingim gini …hehe di tunggu next nya banget un ^^

  12. Beyoonhae berkata:

    Deabakkkkkak ahh ga sabar nunggu part selanjutnya dotunggu momen yoonhae lagi dan lagi hahhahahah btw fightingg thor buat nulisnya^^

  13. Nurul hidayah berkata:

    Yoong mah, labil bgt kyaknya😀
    Hbis A jd B , ini udah sweet kok eon, mommentnya . Next chap d tnggu ne? Fighting

  14. tryarista w berkata:

    heeeeemmmmmm,,,,,,
    bulan madu didaerah terpencil hahahaha,,,pdhal hae mau ninjau tuch daerah buat proyeknya,,,,,,
    yoona lcu bget bner2 kya anak kcil bkin ngakak,,,,,
    demi 15 jt won akhirnya yoonhae ciumN ,nich kyaknya mereka dah pnya perasaan cinta yg tumbuh,,,,

  15. youni berkata:

    hubungan yoohae dah mulai ada perkembangan,, tp masih rancu ma sikap donghae antara hanya nafsu atau dia bnr2 udh ada rasa ma yoona…

    ditunggu moment yoonhae selanjutnya…

  16. tiyaswulan berkata:

    Wahh makin seru, dan di buat ngakak sama kelakuan yoona yg sok jual mahal..hahaaa :v ditunggu next chapter.ny eonn 😀😁

  17. Sfapyrotechnics berkata:

    ‘Bulan Madu’ di pulau sepi😀😀 ‘Bulan Madu’ sambil kerja😀 tpi bnyakan kerjanya😀 Yoong ada2 aja deh,, hoby bnget buat keributan😀😀 Yoong jga udh ngerasain ada yg berbeda ma hae😀 udh jtuh cinta gitu😀 tpi krna peraturan dri Boa dia nggk berani😀 Aihhh kok yoong malah hindarin hae sih?? Ngerasa ada yg kurang jga kan yoong?? Siapa suruh jauh2 sma hae😀 Cari penawarnya ma hae😀 yakin ampuh deh tuh😀😀

    Next.. fightingggg !!!

  18. uly assakinah berkata:

    yoona jgn menghindar dari donghae dong, kalian tuh sebenarnya saling suka tapi blm menyadari aja rasa suka itu. next min jgn buat yoona menghindar dari donghae dong

  19. limhyelim berkata:

    Bagian yang paling kocak adalah ketika yoona ternyata mempunyai bakat menjadi ‘penyihir’ kkkk~ YHM di part ini bener bener banyak yeay thank u eon ❤️ di tunggu part selanjutnya ya eonnie.

  20. Diva berkata:

    part ini yang aku tunggu…donghae udah mulai suka yoona…bagus thor…
    next part ditunggu ya …
    good job

  21. Nha elna berkata:

    Hihi yuna lucu,ciee udah mulai jatuh cinta deh dia,,aku suka moment yoonhae’y…coba kalo ffnya nyeritain tentang mereka aja kaya gini,hihi gak usah ada keluarga kim nya..jangan lama2 ya lanjutan’y thor.

  22. Ana berkata:

    Waaa waaa so sweeet. Ga nyangka banget momen skinship nya di chap ini. Jadi ga sabar nunggu kelanjutannya. Fighting thor buat next chap nya

  23. sintayoonhae berkata:

    Yaampunnn kelakuan mrka bkin ngakak… Apalgi yoong eonni,, beuh puas bgt bca part ini pnjng euyy makasih author.. Dtggu next part.a ya thor fighting😀

  24. xoloveyoonhae berkata:

    hahaha.. yoonhae makin lucu nd makin sweet..
    bikin gemes yoonhae’nya..
    smoga mereka sadar kalo mereka udah punya rasa, dan jangan bikin yoonhae manjauh author..
    next partnya ditunggu ya, author..
    fighting 💪💪

  25. xoloveyoonhae berkata:

    hahaha.. yoonhae makin lucu and makin so sweet..
    bikin gemes yoonhae’nya..
    smoga mereka sadar kalo mereka udah punya rasa, dan jangan bikin yoonhae manjauh author..
    next partnya ditunggu ya, author..
    fighting 💪💪

  26. irinecho berkata:

    hahaha..
    yoona’nya jual mahal banget..
    itu donghae nafsu banget nyium yoona’nya..
    semoga ada skinship yang lebih parah dari ini, dan lebih mesra yoonhae nya..
    next, jangan lama-lama yaa kelanjutnya..
    fighting na eonni 💪💪💪

  27. irinecho berkata:

    hahaha..
    chapter ini yoona’nya jual mahal banget..
    itu donghae nafsu banget nyium yoona’nya..
    semoga ada skinship yang lebih parah dari ini, dan lebih mesra yoonhae nya..
    next, jangan lama-lama yaa kelanjutnya..
    fighting na eonni 💪💪💪

  28. irinecho berkata:

    hahaha..
    chapter ini yoona’nya jual mahal banget..
    itu donghae nafsu banget nyium yoona’nya..
    semoga ada skinship yang lebih parah dari ini, dan lebih mesra yoonhae nya..
    next, jangan lama-lama yaa kelanjutnya..
    fighting na eonni 💪💪😀

  29. Lee Yoona berkata:

    Mereka sudah mulai merasakan rasa menyukai satu sama lain ya? Ayolah cepat buatkan adik untuk sehun. Dan ditunggu moment yoona dan sehunnya. Pasti menyenangkan.

  30. Nabilla Utmary EunHae berkata:

    Au, Sweet banget kak Nana😀
    Im Yoona pasti udah terpesona nih sama Donghae wkwkwkwk
    Sangat memuaskan😀
    Next chapter ditunggu banget😀 can’t wait😉

  31. Nabilla Utmary EunHae berkata:

    Au, Sweet banget kak Nana😀
    Im Yoona pasti udah terpesona nih sama Donghae wkwkwkwk
    Sangat memuaskan😀
    Next chapter ditunggu banget😀 can’t wait😉 fighting😉

  32. Nabilla Utmary EunHae berkata:

    Aw, YoonHae sweet banget kak Nana😀
    Mereka berdua udah saling suka tapi masih pada sok jual mahal :v tapi kisseu juga ckckck
    Ga sabar nunggu chapter selanjutnya😀
    Fighting😀

  33. Nabilla Utmary EunHae berkata:

    Aw, YoonHae sweet banget kak Nana😀
    Mereka berdua udah saling suka tapi masih pada sok jual mahal :v tapi kisseu juga ckckck
    Ga sabar nunggu chapter selanjutnya yang lebih sweet hihihi😀
    Fighting😀

  34. lia861015 berkata:

    Akhirnya yoona sama donghae melanggar peraturan boa eonni juga kan ^^ bulan madu mereka emang unik,pokoknya lain daripada yg lainnya deh😉
    Makin seru ceritanya…hubungan yoona sama donghae yg semakin dekat dan makin so sweet ^^
    Ditunggu next chapternya ya eonn;)

  35. asrins berkata:

    Haha ngebayangin wktu yoona ngerjain donghae bilang dia ke gigit ular duhh ngakaknyaa
    Di tunggu banget momen yoonhae yoonhun lebih banyak lagiii, apalagi moment sweet yoonhae hehe
    Semangat thor😘😍😂

  36. yoonnsone berkata:

    akhirnya update juga.
    makin seru ceritanya.
    moment yoonhae nya juga mkin banyak,
    ku harap yoona jngan dulu jatuh cinta sm donghae.

  37. kantimur_11 berkata:

    ya ampun ternyata hae bener2 nekat,penasaran nih mereka bisa nahan perasaan masing2 ga yahh??
    ditunggu next chapter eonni..fighting!!

  38. Hwang Qian berkata:

    Kenapa harus ada karyawan yg mengganggu si….
    Ayo eon bikin yg sweet untuk moment yoonhaenya
    Ditunggu chapter selanjutnya

  39. Ida ziiosay berkata:

    Haha ga kebayang yah mukanya donghae pas dy kjatohan cicak , si donghar resep banget ngerjain yoona kali ini dy serius apa cuma ngerjain doang so sweet soalnya haha yoona pasti canggung bnget jdjnya
    Next dtnggu ya eon

  40. RuqYuyuk YoonAddict berkata:

    q kira Yoona beneran digigit ular gara gara naik pohon, eh ternyata cuma akal akalan nya Yoona aja….
    Yoona jual mahal amat ya, tiap sentuhan ada dendanya wkwkwk….
    ditunggu sweet momentnya YoonHae….

  41. alrizka17 berkata:

    yeay.. yoonhae’nya makin sweet.
    semoga yoona ngak jadi menghindar dari donghae..
    author, bikin moment hot yoonhae dong yang lebih dari ciuman. wkwkwk
    biar sehun cepet dapet adik.
    ditunggu moment family yoonhae+sehun..

    ditunggu next chapter nya, fighting na eonni 💪💪☺

  42. alrizka17 berkata:

    yeay.. yoonhae’nya makin sweet.
    semoga yoona ngak jadi menghindar dari donghae..
    author, bikin moment hot yoonhae dong yang lebih dari ciuman. wkwk
    biar sehun cepet dapet adik..ditunggu moment family yoonhae+sehun..

    ditunggu next chapter nya, fighting na eonni 💪💪☺

  43. chalistasaqila berkata:

    sumpahhh!! ini kocakkk bgtzzz
    ya ampuun thorr.. aq g bsa berhenti ketawa.,. Yoona sma donghae kocak bgtzz,. pokoknya nie FF harus cpet d lanjutt.. aq udh g sabar bwat baca next part.. smoga ntr bsa leboh lucuuuu

  44. Hunyoong berkata:

    YOONA SO TROUBLE MAKERRRR NGAKAK BANGET DI PART INI WKKKKK mudah2 an donghae semakin melewati batas ya akhirnya sehun punya dede qkkkwkw

  45. DianYoongie berkata:

    Kyaaahhhh… YoonHae kenapa ga sekalian adegan ranjang aja sih kkkk berapa dendanya tuh kira2 ya 😆😆😆
    Jadi Hae pasti ngeliat Yoona pas mandi waktu lampu mati itu.. kalo boong disumpahin Yoona dihujani 💩 cicak eh ternyata kehujanan 💩 cicak beneran. Berarti Dongek boong kan 😂😂😂

    Nyuna jangan ngehindar dr Dongek mulu donk.. takut perasaannya makin ga karuan tuh pasti ya.. emang ada penawarnya? Beneran jd istri Hae deh pasti ketemu penawarnya hahhah

    Ditunggu lanjutannya kk~

  46. sasmita berkata:

    aigo donghae disini bnr” deh ☺,,yoong jga gk bisa nolak disentuh haepa..disini yoonhae momentnya bnyk..
    lanjut ya oenni 💪

  47. wusabin berkata:

    Duh baca bagian akhirnya jadi bikin ketawa-tawa sendiri, Yoona terlalu polos apa gimana ? Kok lucu gitu. Semoga Donghae ga php-in Yoona yaa

  48. karinakarina15 berkata:

    aduh..
    gak sabar liat peran yoonhae jadi orangtua’ nya si sehun.. semoga yoona bisa didik sehun yang bener, donghae juga..
    buat yoonhae jangan bertingkah aneh² didepan sehun

    itu moment yoonhae sweet banget, tapi kenapa ada penganggu.. huh!
    next chapter harus ada yoonhae moment yang lebih dari sekedar ciuman.. bikin nc yaa author.. biar sehun cepet dapet adik 😜

    itu yoona baper gegara bibir nya donghae yaak.. wkwkwk
    nana author.. bikin yoonhae makin deket, dan nempel mluluk.. jangan menjauh dan menghindar..

    next chapter ditunggu yaa, author.. jangan lama-lama

  49. karinakarina15 berkata:

    aduh..
    gak sabar liat peran yoonhae jadi orangtua’ nya si sehun.. semoga yoona bisa didik sehun yang bener, donghae juga..
    buat yoonhae jangan bertingkah aneh² didepan sehun

    itu moment yoonhae sweet banget, tapi kenapa ada penganggu.. huh!
    next chapter harus ada yoonhae moment yang lebih dari sekedar ciuman.. bikin nc yaa author.. biar sehun cepet dapet adik ߘ܊
    itu yoona baper gegara bibir nya donghae yaak.. wkwkwk
    nana author.. bikin yoonhae makin deket, dan nempel mluluk.. jangan menjauh dan menghindar..

    next chapter ditunggu yaa, author..

  50. karinakarina15 berkata:

    aduh..
    gak sabar liat peran yoonhae jadi orangtua’ nya si sehun.. semoga yoona bisa didik sehun yang bener, donghae juga..
    buat yoonhae jangan bertingkah aneh² didepan sehun

    itu moment yoonhae sweet banget, tapi kenapa ada penganggu sih..
    next chapter harus ada yoonhae moment yang lebih dari sekedar ciuman.. bikin nc yaa author.. biar sehun cepet dapet adik 😜
    itu yoona baper gegara bibir nya donghae yaak.. wkwkwk
    nana author.. bikin yoonhae makin deket, dan nempel mluluk.. jangan menjauh dan menghindar..

    next chapter ditunggu yaa, author 😊

  51. Diandita Miranda berkata:

    Waaahhh lucu bangett Yoona ma Donghae bener2 bikin gregetan deh, apalagi Yoona yang kayak anak kecil, manja banget pakek nangis segala pas Donghae marah gara2 uler itu akhirnya Donghae juga kan yang jadi korban hahaha Poor hae -___-

    Nggak sabar nunggu part selanjutnya, nggak sabar pengen baca moment mereka yang lebih sweet n ngegemesin dari ini ya Eonnie hahahaha

  52. Husni berkata:

    baca part ini aku jadi ketawa sendiri kayak orang gila apalagi pas bagian donghae kena kutukan ‘kotoran cicak’ bener2 ngakak hahaha
    YH yang kissu OMG itu sweet banget dan HOT juga semoga di next part bisa lebih dr sekerdar kissu..>_< oh ya, Yoona suka bibir dongek wkwkwk, emang bibir dongek bikin nagih yak hahaha
    lanjut ya Na jangan lama-lama😉

  53. afika berkata:

    yoona ama donghae bener’ kocak deh..tuh yoona mulai suka ama donghae..kelanjutannya jangan lama ya thor

  54. chorizka berkata:

    yeay.. yoonhae’nya makin sweet.
    semoga yoona ngak jadi menghindar dari donghae..
    author, bikin moment hot yoonhae dong yang lebih dari ciuman. wkwk
    biar sehun cepet dapet adik..ditunggu moment family yoonhae+sehun..

    ditunggu next chapter nya, fighting na eonni! ☺

  55. chorizka berkata:

    yeay.. yoonhae’nya makin sweet.
    semoga yoona ngak jadi menghindar dari donghae..
    author, bikin moment hot yoonhae dong yang lebih sekedar dari ciuman. wkwk
    biar sehun cepet dapet adik..ditunggu moment family yoonhae+sehun..

    ditunggu next chapter nya, fighting na eonni! ☺

  56. endah berkata:

    Mampir ke blog eonni nana, eh..gak tahunya ada update sweet legacy. Gumawo eonnie .
    Makin so sweet moment yoonhae apalagi pas lagi kissiu. Hehehe…
    Yoona jangan ngejauhin oppa donk.
    Padahal kalian kan saling suka.
    Oennie ditunggu part selanjutnya ya. ^_^
    Gak sabar lihat moment keluarga yoonhae+sehun.
    Tetap semangat eonnie.

  57. Deer_sria berkata:

    Aaahhh unnie…akhir.a part ini dipost jg….
    YH udh nikah..moga makin bnyk moment mereka yah…omoo iyu mereka udh kisseu…ampe dileher pula hihii so sweet….
    Tapi ya ampuuunn…dongek bener” masa bulan madu ditempat kya gitu sih…kasian bgt dongek yg digigitin semut…hahaa
    Ditunggu next.a unnie…..

  58. Furda Yoonhae berkata:

    Aigoo yoona jual mahal bgt ke hae padahal yoong udah ada benih benih cinta, lama2 Klo donghae menyentuh yoong bisa bangkut nih😀

  59. Ayu Niyala berkata:

    Eonniiiii seneng banget aku liat ada update-an ff walaupun aku telat liatnya..
    So sweeeeeeeeet ampe diabetes nih ceritanya apalagi pas yh kissu n yoona yg adegan terakkhir di pohon itu bikin semut2 dateng.
    Apalagi adegan kissunya jauh banget dari kesan ‘menjijikkan’ dan aku suka swet swet romantis gitu ya walaupun disini yoona dan donghae blm menjelaskan perasaan asli mereka. Aku harap semoga ga saling php aja sih hehe…
    Fighting eon jangan lama 2 ya pleaseeee

  60. detolyhhun berkata:

    yoona eonnie sifatnya lucu deh.. donghae oppa yg sabar yahh… kedua.na udah saling suka nih.. oh itu di akhir so sweet tpi kenapa hrs ada tarifnya yoona eonnie ada2 saja… next part di tunggu

  61. rizkaanggraeny berkata:

    aigoo.. yoonhae makin deket.
    itu so sweet banget yoonhae momentnya.
    yoona udah mulai ada rasa yaa ke donghae.
    jangan bikin mereka menjauh yaa, thor..
    ditunggu moment yoonhae yang lebih hot, lebih sweet juga dan moment new family yonhaehun ☺

    segera diposting dong eonn, kelanjutannya.. ditunggu banget hloh

  62. rizkaanggraeny berkata:

    aigoo.. yoonhae makin deket.itu so sweet banget yoonhae momentnya.yoona udah mulai ada rasa yaa ke donghae.jangan bikin mereka menjauh yaa, thor..
    ditunggu moment yoonhae yang lebih hot, lebih sweet juga dan moment new family yonhaehun ☺

    segera diposting dong eonn, kelanjutannya.. ditunggu banget hloh..
    figthing eonn 💪

  63. rizkaanggraeny berkata:

    aigoo.. yoonhae makin deket.itu so sweet banget yoonhae momentnya.yoona udah mulai ada rasa yaa ke donghae.jangan bikin mereka menjauh yaa, thor..
    ditunggu moment yoonhae yang lebih hot, lebih sweet juga dan moment new family yonhae+sehun ☺

    segera diposting dong eonn, kelanjutannya.. ditunggu banget hloh..
    figthing eonn 💪

  64. Tya berkata:

    Ceritanya makin seru, dan yoonhaenya juga lucu dan mulai ada perkembangan
    Yoona sifatnya polos dan childish bgt, geregetan bacanya wkwk
    Nah loo, donghae ketahuan boong, brrti dy udh ngeliat ssuatu, makanya kena kutukan yoona

    Tapi kasian donghae, krn kejailan yoona dy jg jd digigitin semut wkwkwk
    Btw, yoona bisa cpt kaya tu, kalo tiap skinship pake tarif
    Donghae kayanya udh mulai suka ya sm yoona, smpe nawarin 15 jt won, buat langgar peraturan, dan yoona jg kayanya mulai suka jg, makanya milih mnjauh

  65. ViDaY berkata:

    wuah kapan mereka saling jatuh cintanya? kpn mereka saling mengungkapkan kata cinta? gk sabar.. hehehehe

  66. ichus berkata:

    Eaaaaa ikut panas dingin bca part ini
    yoonhae moment banyak2in yg sweet thor
    gak sabar jga klo ntar yoona jd ke ibu an sma sehun

  67. novasusmala46 berkata:

    Ga sabar baca part selanjutnya nih. Part ini ajj udh full yoonhae momen, wlwpun bnyakan momen debat kusirnya ketimbang sweetnya. Hahahhahaa..
    Itu yoona ktrunan penyihir..? Blm lama nyumpahin donghae, udh kejadian ajj..
    Yuhuuuuu, itu si donghae beneran nyari chemistry apa cmn modus doang..? Hihihiiii, syg bgt kepotong sm karyawan yg dtg, coba kl ga..??
    Wah wah waaahh, utg donghae numpuk noh. Im Yoona jd bnyak duit. Kkkkkkkk

  68. RFishy berkata:

    Gila2 sweet banget😍😍 bacanya jadi senyum2 sendiri gemes bawaannya😂
    Karyawannya ganggu aja padahal lagi sweetnya.
    Wkwk ngakak dibagian donghae kena eek cicak,jadi dia liat dong? Wkwk
    Kayanya yh udah baper,tinggal tunggu pengungkapan cintanya *eak*😂😂

  69. FHP berkata:

    kasian bgt yoona diajak bulan madu di tempat yg sunyi senyap sama donghae, tega bener deh donghae ckckck. Ngakak pas donghae kehujanan tahi cicak gara2 disumpahin sama yoona, brarti donghae liat yg engga2 tuh yoong, ngakunya mah engga wkwkwk. Ih aku kira YHM yg pas malam pertama mereka nginep di pulau itu donghae serius ngomong ke yoonanya trnyata cuma akting toh? hufff. Uh kasian bgt donghae badannya digigitin semut tp syukurlah berkat donghae di gigitin semut jd ada YHM mereka kissing =D gini dong kali2 romantis jgn berantem mulu😀 hufff karyawan donghae datang di waktu yg ga tepat, ganggu moment romantisnya YH aja. Haha trnyta yoona udah keracunan sentuhan donghae, bagus deh (y)😀 duh tp yoona jd menghindari donghae, nnti gmna YHMnya? huhu😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s