FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 17 – End )

marry u 2

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Happy Reading ^__^

Part 17 – END

Sekumpulan piring dan mangkuk tersaji diatas meja. Pagi – pagi sekali  Bibi Kim mempersiapkan segalanya untuk tamu mereka. Bibi Kim tersenyum kearah Yoona dan Donghae yang tampak sungkan dengan apa yang disuguhkan wanita paruh baya itu. Yoona berkali – kali mencegah Bibi Kim mengambilkan makanan untuk mereka. Yoona berpikir Ia bisa melakukannya sendiri. Bibi Kim sedikit keras kepala. Ia tetap saja mengambil mangkuk dan nasi putih beserta lauk pauknya lalu menyodorkan makanan itu masing – masing didepan Yoona dan Donghae. Yoona menghela napas putus asa, tidak ada gunanya melarang bibi Kim.

“Baiklah, gomawo,” ucap Yoona akhirnya, Bibi Kim yang memilih duduk dihadapan mereka tersenyum lalu menatap Donghae, “Makanlah Nak, semalam kau pingsan tiba – tiba, pasti kau sedang kelelahan.”

Donghae ikut tersenyum  lalu membungkukkan badannya, “Nde, Gomawo.”

Tiba – tiba muncul seorang pelayan wanita. Dengan langkah sembrono Ia  menghampiri tiga orang yang tengah berbincang hangat dimeja nomer 16 kedai mereka.

“Wah ada pesta apa  pagi ini?” tanyanya dengan mata membulat kearah tumpukan makanan diatas meja.

“Ini bukan pesta, Sooyoung-ah.” Jelas bibi Kim.

Gadis bernama Sooyoung itu lalu duduk disamping bibi Kim, “Kalau bukan pesta lalu apa? Kedai ini bahkan belum dibuka tapi kalian sudah makan – makan.” Ia mengercut.

Bibi Kim menghela napas menyaksikan tingkah gadis itu, “Ya, ya anggap saja ini pesta perpisahan.”

“Pesta perpisahan?” Sooyoung menatap tidak percaya.

“Yoona akan pergi.”

“APA?!”

“Aigooo…” bibi Kim membasuh telinganya, “kecilkan dulu suaramu.”

“Mian.” Sesal Sooyoung mengigiti kuku jarinya. Sooyoung berubah murung namun kurang dari tiga  detik wajahnya kembali ceria.

“Perkenalkan lelaki dihadapanmu, dia adalah Lee Donghae suami Yoona.”

Sooyoung mendongak. Donghae menyambutnya dengan senyum lalu membungkuk hormat. Sementara Sooyoung  tidak lantas membalas Donghae, gadis itu sibuk bergeming. Bola matanya melebar bagaikan nyaris meloncat keluar.

“Dan Donghae-ssi, perkenalkan ini Choi Sooyoung, dia adalah pelayan disini.” Jelas Bibi Kim memperkenalkan gadis yang saat ini mematung ditempatnya.

“Sooyoung, tidak ingin menyapanya?” Bibi Kim berusaha menyadarkan Sooyoung. Bibi Kim lalu menepuk pundak Sooyoung sekali. Lantas gadis itu tersadar dan menatap sekitarnya.  Sooyoung pun buru – buru menyapa Donghae.

“Hari ini Yoona akan pulang bersama suaminya.” Ujar bibi Kim menyambung topik pembicaraan.

“Benarkah?” Sooyoung mencondongkan wajahnya ingin tahu. Yoona menatap Donghae sebentar lalu menggangguk.

“Wah tidak heran.” Tatapan Sooyoung berseri –seri, “Yoona-ya kenapa tidak bilang, suamimu mirip anggota boy band?!”

Alis Yoona terangkat bingung menanggapi kalimat Sooyoung. Ia  menatap lelaki disampingnya lalu bergeleng  kikuk.

“Donghae Oppa pasti punya banyak sekali penggemar—“

*Pluk*

Bibi Kim memukul kepala Sooyoung dengan sumpit. Tindakan spontannya itu berhasil, Sooyoung berhenti berbicara dan berubah mengasihani kepalanya sediri.

“Jangan dengarkan dia.” Nasihat bibi Kim. Sooyoung mencibir.

Bibi Kim menghela napas dan memandangi Yoona dengan senyuman, “Bibi tidak menyangka kau akan pergi secepat ini, padahal baru kemarin Lee Hyukjae, anak nakal itu membawamu kemari. Gomawo sudah menemani bibi selama ini bahkan membantuku mengurus kedai.”

Yoona menatap sedih, “Ani jangan begitu, aku yang harusnya berterima kasih karena sudah memperlakukanku dengan baik selama ini, gomasupnida. Aku berjanji akan sering – sering mampir, janji.” Ujar Yoona mengangkat kelingkingnya.

Bibi Kim tertawa kecil, “Intinya kita berdua sama – sama diuntungkan, iya kan?” ujarnya. Yoona semakin sulit berkata – kata.

Sementara Yoona dan bibi Kim bercakap – cakap, Sooyoung mencicipi satu persatu makanan diatas meja. Bibi Kim yang akhirnya menyadari kerakusan pelayan wanitanya itu langsung mendaratkan pukulannya mengenai punggung tangan Sooyoung. Gadis itu meringis.

“Kau benar – benar pintar mencuri kesempatan dalam kesempitan.” Omel bibi Kim, meski pun begitu Sooyoung masih saja asyik mengunyah.

Bibi Kim meraih tangan Sooyoung lalu menariknya berdiri, “Bibi punya pekerjaan untukmu.”

“Mwoya?” Protesnya dengan mulut penuh dengan makanan.

“Biarkan saja mereka menikmati makanan itu, sekarang ikut bibi.” Bibi Kim menggiring Sooyoung menuju dapur. Sebelum melangkah lebih jauh lagi  Bibi Kim menyempatkan diri berbalik badan kearah Yoona, “Kalian berdua nikmati saja makanannya ya, bibi dan anak ini harus mengerjakan sesuatu.” Ujarnya buru – buru  sebelum Sooyoung melancarkan unjuk rasa. Bibi Kim secepatnya menghilang dan menjauh dari meja yang penuh dengan makanan sebelum penyakit ‘shinksin,’ pelayan wanitanya itu kambuh.

Setelah kepergian Sooyoung dan bibi Kim, Donghae melirik Yoona diam – diam. Disaat bersamaan Yoona pun melakukan hal serupa hingga sampailah fase dimana  mereka saling bertukar pandang.

“Apa tidak apa – apa kita disini ?” Donghae menatap ragu – ragu.

Yoona menggeleng, “Tidak apa – apa kalau kita secepatnya  menghabiskan makanan – makanan ini, jam sembilan nanti kedai akan dibuka.”

Donghae mengangguk selagi mengamati Yoona yang belum juga menyentuh makannya, “Kau tidak makan?”

Yoona mengernyitkan hidung, “Sedang tidak berselera.”

Seketika Donghae memijat pelipisnya. Yoona belum juga berubah.

“Kau saja yang makan, ya?” bujuk Yoona menautkan kedua tangannya didepan dada.

“Yoona, apa kau tidak kasihan dengan bibi Kim yang sudah repot – repot menyiapkan semua ini?” tukas Donghae menunjuk – nunjuk semua menu dihadapan mereka.

Bibir Yoona mengerucut. Kalimat Donghae barusan agak menyindirnya. Sekarang Yoona merasa seolah dirinya tidak punya hati karena menyia – nyiakan kebaikan orang lain. Kalimat Donghae sungguh kejam namun disisi lain ada benarnya.

“Baiklah aku akan memakannya..” putus Yoona lesu. Donghae tersenyum puas.

Sumpit didalam genggaman jemari Yoona bergerak ragu sebelum akhirnya mencapit udang asam manis didalam mangkuknya dan…

“Hoekkk.” Baru saja terkunyah, makanan itu sudah menyembur keluar. Yoona memegangi dadanya, sumpit yang Ia genggam terlepas begitu saja.

“Gwenchana?” Donghae memegangi bahu Yoona selagi menatap hawatir. Sementara Yoona tidak menggubris, wanita itu masih berkelut dengan rasa mualnya.

“Oppa sudah kubilang kan…” Yoona merajuk murung, semakin lama wajahnya kian menekuk prihatin. Tetesan yang terjun tiada habisnya itu menimpa pangkuan Yoona, Donghae berpaling menyusuri sumbernya. Dan benar saja, Lelaki itu sudah bisa menduga bahwa bulir – bulir bening itu berasal dari mata Yoona.

“Bagaimana ini? Bibi Kim pasti sedih sekali karena aku tidak menghargai usahanya.” Sesal Yoona.

Donghae membasuh kepala Yoona lalu mengacak sedikit rambutnya. Yoona tidak memprotes. Ia terlalu malas meladeni Donghae ditengah peperangan batinnya.

Tanpa Yoona sadari Donghae bersimpuh dihadapannya. Lelaki itu meraba – raba perut Yoona kemudian melekatkan telinga kanannya diatas bagian yang membuncit.

“Kau sedang apa didalam sana, kenapa membuat Eomma sampai menangis eo?” tanya Donghae kepada buah cinta mereka yang kira – kira tujuh bulan lagi akan lahir ke dunia.

Yoona terkekeh disela tangisannya, “Oppa, apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya mengajaknya bermain.” Donghae mendongak menyakinkan Yoona yang tengah menyeka air matanya.

Belasan kecupaan Donghae menggenangi perut Yoona. Tibalah disaat kecupan ke-lima  belas Donghae menggali hirupan napas disela himpitan perut Yoona. Lelaki itu mengecup sekali lagi hingga terlukis goresan senyum dibibirnya.

 “Hai sayang… Apa menyenangkan didalam sana? Kau pasti bisa mendengar detak jantung Eommamu dari dekat, ya aku iri padamu. Eungg apakah kau tahu Eomma baru saja  menangis karena memuntahkan makanan bibi Kim?  Lihatlah Eomma sedih karena kau tidak mau makan.” Bisik Donghae diujung kalimatnya. Lelaki itu tiada hentinya memberi pijatan halus dipermukaan perut Yoona.

Dari atas Yoona memandanginya tidak habis pikir. Donghae sudah mirip seperti orang stress yang tengah berbicara dengan mahluk tidak kasat mata.

Donghae menyandarkan telinganya selagi membasuh perut Yoona,  “Kau harus menurut ya sayang… biarkan Eomma makan dengan baik agar kau juga sehat sampai tiba hari kelahiranmu nanti. Jaga dirimu didalam sana, Appa juga akan menjagamu dan Eomma dari sini, Appa akan  selalu menjaga kalian berdua.”

Kedua telapak Yoona menangkup wajah Donghae yang kini berada dibawah simpuhannya.  Perempuan itu tersenyum lembut, jemarinya menari – nari membelai kepala Donghae. Yoona  tidak mengerti, Ia tertawa dan menangis diwaktu yang bersamaan.

Lantas Donghae memeluk pinggang Yoona possessive. Lelaki itu memejamkan mata hendak meresapi kehangatan jiwa mereka yang menyatu.

Donghae melayang – layang dengan pikirannya sendiri, bahkan saking membumbungnya, lelaki itu mulai meracau tidak jelas,  “Apa kau sangat merindukan Appa? Ya tentu saja harusnya seperti itu, Appa juga tidak sabar ingin melihatmu sayang.” Ujarnya kelewat percaya diri. Yoona ingin sekali mencubit kedua pipi Donghae kalau saja memungkinkan.

Donghae meraih kedua tangan Yoona menautkan keduanya. Ia menghirup tautan itu lalu mengecupnya beberapa saat. Yoona tersipu namun beberapa saat kedua alisnya terangkat kala Donghae membawa tautan tangannya menuju permukaan dinding dimana benih itu tumbuh lalu menempelkanya.

Lelaki itu tersenyum penuh arti selagi bersandar mendekap tautan tangan Yoona dipermukaan dinding perempuan itu,“Kau merupakan anugrah paling berharga, ingatlah selalu bahwa kami sangat – sangat  mencintaimu. Saranghae.” Ungkapnya berbisik diujung kalimat. Senyum itu belum pudar menemani tatapannya yang penuh mimpi.

“Aku juga mencintaimu Yoong.”

Perasaan Yoona membuncah kala merasakan senyum Donghae ikut merasuki wajahnya saat ini. Bibir perempuan itu merekah perlahan – lahan.

“Geli Oppa..” Yoona tersentak dari posisinya akibat ulah Donghae yang menciumi perutnya bertubi – tubi beserta wajah lelaki itu yang bergerak meliuk – liuk bagaikan seekor belut kepanasan. Yoona mencabik rambut Donghae berusaha menyingkirkan kepalanya, lelaki itu meringis tapi ekspresinya tampak dibuat – buat.

 “Sekarang makanlah.” Donghae beranjak menuju posisi semula. Ia meraih potongan wortel dengan sumpit lalu menyodorkannya didepan mulut Yoona. Tatapan Yoona yang penuh keragu – raguan membuat lelaki itu berdecak.

“AA.” Donghae membuka mulutnya sampai menganga sebagai isyarat perintah agar Yoona melakukan hal  serupa.

Yoona tersenyum kecut, pada akhirnya Ia menuruti perintah Donghae. Yoona menerima suapan itu, mengunyah seperti biasa. Yoona pikir ia akan memuntakannya kembali tapi kali ini sepertinya tidak. Makanan itu melewati tenggorokannya tanpa hambatan apa pun.

Seringaian puas tergambar dibibir Donghae. Ia mencoba sekali lagi menyuapi Yoona. Kali ini sumpitnya menyodorkan nasi putih dan kacang merah. Yoona membuka mulutnya seraya menatap Donghae.

Yoona menelan makanan itu tanpa kendala, setelahnya Donghae merasakan semangat didalam dadanya semakin membara. Bertubi – tubi Ia menyodorkan segala jenis menu yang telah disiapkan oleh bibi Kim itu kedalam mulut Yoona. Donghae tersenyum bangga karena Yoona tidak lagi menunjukkan tanda – tanda penolakan. Ternyata malaikat kecil itu pandai sekali menyikapi curahan hati kedua orang tuanya.

“Kau benar – benar kelaparan.” Donghae mengacak rambut Yoona. Dikala tubuhnya membaik, perempuan itu kelihatannya semakin rakus.

“Sepertinya dia benar – benar merindukanmu Oppa.”

“Benarkah?”

Yoona mengernyitkan hidung memilih setuju karena sebenarnya Ia sempat mengira Donghae terlalu percaya diri.

“Itu berarti aku harus sering – sering didekat kalian.” Simpul Donghae mengusap kepala Yoona, lalu gerakannya sempat terhenti kala matanya membidik kesatu  titik diwajah Yoona. Donghae bangkit mendekati Yoona lalu mengecup ujung bibir perempuan itu sekilas.

“Ada nasi menyangkut.” Donghae tersenyum usai mendudukkan tubuhnya keposisi semula.

“Yak!”

Yoona memicing sebal, Alis Donghae terangkat memperhatikan wajah Yoona yang memerah, lalu Ia tergelak tiba – tiba menyaksikan gerakan bibir Yoona yang bersungut – sungut.

……….

Menyandarkan punggungnya dipermukaan dinding, Yoona menghela napas berkali – kali. Matanya terus mengamati Donghae yang sedang sibuk berbicara dengan ponselnya seraya mencari – cari sesuatu dibawah pot bunga.

“Jadi kapan kalian pulang?… oh… ne aku sudah menemukan kuncinya…”

Yoona memejamkan mata tidak henti –  hentinya mengutarakan doa didalam hati. Jantungnya  berdebar – debar membayangkan seandainya keluarga Donghae berang dan berbalik mengusirnya. Yoona bergeleng tidak setuju tapi.. sangat mungkin jika hal yang ditakutkannya akan terjadi. Ia sudah melakukan kesalahan besar, dan  yang lebih parahnya Yoona benar – benar malu bertemu mereka.

Mengakhiri pejamannya, Yoona tersentak dan matanya membulat  sempurna kala menemukan wajah Donghae sudah terpampang mengamati wajahnya dari jarak satu jengkal.

Yoona membuang napas kesal. Disaat seperti ini lelaki itu malah semakin menakutinya. Yoona ikut mengamati gerak – gerik Donghae yang seolah tidak peka.  Lelaki itu sibuk dengan dunianya dan terus  mengernyit  seolah belum menemukan apa yang dicarinya. Ia menggeser wajah Yoona menggunakan telunjuknya kekanan dan kekiri.

“Kenapa aku merasa ada yang salah dengan wajah ini ya?” Tanyanya disertai decakan lidah.

“Begitukah?” Yoona menekuk wajahnya. Mungkin perasaan cemas yang sejak tadi membayanginya mulai kentara. Yoona tidak tahu apa yang harus Ia lakukan sekarang, spontan Yoona memeluk lelaki dihadapanya. Donghae yang mengerti maksud Yoona lalu menyambut pelukan itu.

“Oppa aku takut Oppa.”

“Memangnya apa yang kau takutkan?”

Kepala Yoona bersandar dibahu Donghae, “Aku merasa seperti seseorang yang tidak tahu malu—“

“Lihatlah kau seperti halnya akan bertemu mertua yang kejam.” Lelaki itu terkekeh, sementara Yoona menghela napas putus asa,  “Ayolah, aku merasakan lebih dari itu.”

Donghae menggenggam kedua bahu Yoona, mendorongnya menjauh lalu menatap mata perempuan itu penuh keyakinan, “Sekarang kau tidak perlu takut. Sementara ini didalam tidak ada siap – siapa jadi sebaiknya kita masuk dulu.”

Yoona sedikit lega mendengar kenyataan itu meskipun hanya belaku sementara tapi setidaknya Ia punya waktu luang untuk mempersiapkan diri.

Pijakan Yoona bergeser ketika Donghae menarik tangannya sampai di depan pintu. Lelaki itu memutar kunci lalu mendorong benda kayu menjulang itu kedalam. Donghae tersenyum mempersilahkan Yoona melangkah lebih dulu.

“Memangnya Eommamu kemana?” tanya Yoona disaat matanya memandangi sekitar. Bentuk  ruangannya masih serupa layaknya terakhir kali ia meninggalkan rumah ini

“Ada rapat wali murid di sekolah Krystal.” Donghae membuka jendela ruang tamu membiarkan cahaya dan udara menerobos kedalam. Yoona mengangguk.

“Sebentar lagi juga pulang.”

Langkah Yoona terhenti.  Wajahnya menegang seketika. Yoona ingin kabur sekarang juga,  tapi mengingat Donghae Ia mengurungkan niatnya. Yoona menyadari bahwa Ia tidak bisa lari terus menerus dari kenyataaan meskipun Ia sangat ingin.

“Duduklah dulu, aku akan mengambilkanmu sesuatu.”

Yoona menahan lengan Donghae yang hendak berjalan melewatinya.  Lelaki itu mengernyit.

“Aku tidak mau duduk, perutku akan terasa melilit.” Adunya dengan wajah memelas.

Donghae mengangkat alis, “Dan kau mau terus berdiri seperti ini?”

“Entahlah, yang penting jangan duduk.”

Yoona berdiri menghadap Donghae, tangannya lantas mengalung diseputar pinggang lelaki itu. Ia mendesak tubuh mereka hingga benar – benar menempel. Kepalanya lalu menyusup kedalam ceruk leher Donghae. Yoona tinggal untuk bergelayut malas – malasan pun tidak henti – hentinya merengek manja.

“Kita lakukan apa saja terserah pokoknya ya begitu.” Perempuan itu mulai meracau. Donghae memalingkan wajah kearah Yoona yang bersandar dibahunya. Donghae menyingkirkan rambut Yoona yang menutupi wajah. Ia menciumi pipi hangat Yoona tanpa aba – aba dan membuat perempuan itu kegelian.

“Kau pikir dengan melakukannya aku akan menjauh ? Tidak.” Tantang Yoona bersikekeuh menolak melepaskan pelukannya dipinggang Donghae.

Donghae mengayuh langkahnya kebelakang, Yoona tetap setia mengikuti langkah Donghae sembari mengencangkan pelukannya. Donghae berdecak.

Telunjuk Donghae hinggap dipermukaan dahi Yoona, lantas telunjuknya bergerak membawa wajah Yoona mendongak kearahnya. Pipi Yoona tampak menggembung sewaktu pandangannya berhenti tepat dimanik Donghae. Lelaki itu menangkup kedua pipi Yoona seraya mengempiskan udara didalam rongganya.

“Mau sampai kapan kau terus berkelantungan seperti ini, sampai Eomma datang hmm?”

Yoona menanggapi sebelah mata pertanyaan Donghae. Ia malah berjinjit lalu mengecup bibir lelaki itu, kecupan Yoona lumayan lama mendarat dibibirnya hingga terlepas tanpa balas.

“Bagaimana? Siap untuk bermain – main sampai Eomma datang?”

Kedipan mata Yoona membuat Donghae tergelak remeh, “Kepanikan membuatmu sedikit aneh. Semestinya kau diapakan ya..” Donghae lantas menyipit selagi memperhitungkan cara yang setimpal untuk menyambut permainan Yoona.

Raut wajah Donghae berubah serius, tatapannya lurus dan tajam membidik bola mata Yoona. Donghae mendorong wajahnya menghilangkan jarak wajah mereka. Sensasi napas yang menggetarkan semakin lama merasuk kedalam penciumannya, Yoona memejamkan mata.

“BANG !”

Mata Yoona membulat sempurna, Tubuh perempuan itu terkesiap dikala Donghae tiba – tiba mengguncang lengannya dan membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Bayangan dikepala Yoona kering keronta akibat ulah lelaki itu.

“Oppa !” Yoona mengerucut sebal. Donghae lalu menarik sudut bibir Yoona agar tercipta lengkungan. Yoona menepis kasar lengan Donghae.

“Berhenti melakukan hal seperti  itu !” Protesnya.

“Memangnya apa yang kau harapkan, huh?” Donghae berjalan menuju sofa dan duduk diatasnya tanpa memperdulikan Yoona yang belum juga beranjak dari pijakan penuh emosi.

Sekian lama terpatung, Yoona memutuskan datang menghampiri Donghae. Ditengah perjalanan Yoona berusaha meredam kekesalannya namun begitu ekspresi masam diwajahnya masih kentara.

Intonasi penuh perhitungan lelaki itu menggema, “Meski pun kau tetap cantik jika seperti itu, tapi setidaknya kau harus berusaha tersenyum didepan suamimu.” Donghae memperhatikan Yoona dengan senyum pernuh arti.

Yoona berdiri di depan Donghae, melipat kedua tangannya selagi memutar bola mata, “Lalu?”  tanggapnya sinis usai mendeteksi bahwa Donghae punya maksud terselubung dibalik kata – katanya.

“Rumah sangat sepi. Benyanyilah untukku.”

Yoona berdecak. Meskipun kelihatannya Yoona sedang  kesal, namun tetap saja ekspresi wajahnya seperti tengah merajuk, “Aku tidak bisa bernyanyi.”

“Ayolah Yoong, semua orang bisa bernyanyi.” Sangkal Donghae setengah membujuk. Lelaki itu menaik turunkan alisnya.

Yoona tampak berpikir, tiba – tiba sesuatu melintas didalam kepalanya,  “Bagaimana kalau nyanyian yang menggoda.” Usul Yoona disertai picingan mata.

Donghae tergelak, “Memangnya kau bisa menggoda?”

Yoona membalas dengan gelakan serupa, kemudian matanya membidik tajam, “Meremehkanku Tuan Lee?” tantang Yoona lalu membersihkan tenggorokannya, Ia berdehem selagi menegakkan tubuhnya.

Pandangan Donghae menyusuri penampilan Yoona dari atas kebawah. Donghae tidak menemukan keanehan  apa pun selain gerakan Yoona yang tiba – tiba  berkacak pinggang.

“Jeone aldeon naega anya brand new sound, Saero wojin nawa hamkke one more round… Dance, dance, dance ’till we run this town… Oppa, oppa, I’ll be, I’ll be down, down, down, down.”

“Oh, oh, oh, oh, ppareul saranghae… Ah, ah, ah, ah, manhi manhi hae….”

Donghae hampir saja tersedak menyaksikan Yoona yang menari – nari didepannya. Donghae menganga, Yoona tampak sangat percaya diri dengan suaranya yang sedikit sumbang, apalagi dengan gerakan dance yang meniru – niru sebuah girlband yang membawakan lagu itu, lagu Oh! dari Girls generation. Donghae membisu, Ia membiarkan Yoona berbuat semaunya. Ya mungkin saat ini Yoona tengah mengidam sesuatu, atau saat ini Yoona tengah berimajinasi menjadi salah satu member girls generation.

“Wae?”  Yoona berhenti menari. Ia memiringkan kepalanya, memandangi Donghae dengan wajah terheran – heran. Boleh dikatakan saat itu  Donghae tengah serius mempehatikannya, namun  kedua alis lelaki itu terangkat seolah menganalisa sesuatu. Yoona menyusuri tubuhnya dari atas kebawah sambil mencari – cari, mungkin ada yang salah dengan penampilannya.

“Apa kau kurang menyukai gadis imut?” terka Yoona selagi menimbang – nimbang.

Donghae tergelak, “Tidak juga..”

“Benarkah?” selidiknya ragu, “Bagaimana kalau—“ Yoona menggantung kata – katanya, sekelebat ide baru saja menetas, perempuan itu memicing. Dengan posisi tegaknya Yoona mengayuh kedua kakinya melangkah  lalu berhenti didepan Donghae.

“Perhatikan aku baik – baik.” Peringat Yoona mengarahkan telunjuknya dipermukaan kening Donghae lalu memaksanya mendongak. Yoona mendekatkan wajahnya sedikit membungkuk agar mencapai posisi Donghae. Tangannya menarik paksa kerah kemeja Donghae yang belum juga mengerti maksudnya atau pura – pura tidak mengerti. Napas mereka bersahutan saling memantul – mantul diwajah. Yoona menyesap bibir bawah Donghae lalu memutar mutarnya dengan lidah. Yoona menjelajah permainan bibirnya  hingga menjangkau tiap sudut bibir Donghae. Lelaki itu  mulai gelisah. Dan benar saja, belum mencapai  lima detik pertahanannya sudah runtuh. Donghae menarik kedua tangan Yoona yang bercengkraman dileher kemejanya, namun belum sampai Donghae menerobos kedalam permainan mereka, Yoona lebih dulu membangun sekat. Perempuan itu  mencapit kedua sisi wajah Donghae  hingga mengerucut.

Yoona mengecup sudut bibir lelaki itu sekilas, kemudian menegakkan posisi berdirinya. Ia melipat kedua tangannya seraya menjulurkan lidah.

“Aku berhasil menggodamu kan?” ungkap Yoona bangga. Donghae mengacak rambutnya sendiri. Ia  menekan pelipisnya yang berdenyut lalu berdecak.

Yoona mengangkat bahu tidak perduli, tangannya terlipat didepan dada, lantas menyanggah tubuhnya dengan kaki kiri sekaligus mengetuk –etuk kaki sebelahnya , “Hmmm bagaimana dengan ini.”

Touch my body Body…Touch my body Body…Touch my body Body…Touch my body Oh oh~

I know you want it neon nae gyeoteuro wa… naega junbihan wine dalkomhan chocolate chocolate…”

Yoona memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat lalu menatap Donghae, “Bagaimana? Dalam kondisi frustrasi seharusnya kau lebih tergugah dengan tarianku.”

Donghae membasuh wajahnya, lalu mengusap – usap dagunya menggunakan lengan yang  bertumpu pada sikut kiri.  Donghae memandangi Yoona dengan wajah berpikir keras.

“Mungkin… seaindanya kau memakai lingere—“ Donghae menyeringai.

“iissshhh.” Wajah Yoona memerah, ia mendatangi Donghae dan mendaratkan pukulan bertubi – tubi, menumbuk bahu dan lengan atasnya. Menangkis tanpa perlawanan, Donghae berlindung dibawah punggung lengannya yang menjadi tameng serangan Yoona.

Lelah dengan berbagai pukulannya, Yoona terkesiap mengepalkan kedua tangannya disisi tubuh. Perempuan itu mendelik tajam, bibir bawahnya mencebik.

 Donghae tergelak membayangkan wajah Yoona yang memerah. Tidak berapa lama, Donghae menyipit membalas delikan Yoona. Ia tampak memperhitungkan sesuatu.

“Kalau dipikir – pikir, aku lebih suka lagu ‘Oh!’ yang kau nyanyikan tadi.” Donghae manggut – manggut yakin.

Yoona mengangkat sebelah alisnya, “Benarkah?”

Donghae mengangguk, “Ayolah sekali lagi bernyanyi dan menari untukku, jangan lupa untuk beraegyo.”

Wajah Yoona tampak berpikir keras, “Baiklah yang ini khusus untukmu.”

Yoona mengatur posisi didepan Donghae. Pertama – tama Ia berkacak pinggang. Senyum lima senti tersungging dari bibirnya membalas lengkungan bibir Donghae yang lebih dulu terekspose dihadapannya.

“Jeone aldeon naega anya brand new sound, Mwonga dareun oneul maneun tteugeo un mam… Down down, ireojima hwananda… Oppa, oppa idaeroneun no, no, no, no…”

“Tell me boy, boy, love it, it, it, it, it, it, it, ah….”

“Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, ppareun saranghae… Ah, ah, ah, ah, ah, ah, ah, manhi manhi, oh” Yoona mengukir Love sigh dikepalanya, tersenyum ditemani matanya yang melengkung sempurna. Donghae tergugah membalasnya.

“Eonnie.”

Yoona tercekat, ragu – ragu Ia menoleh. Seperti dugaannya suara itu adalah suara Krystal. Yoona sulit berkutik menghadapi Krystal dan Nyonya Lee yang menatapnya tidak percaya. Dilain sisi Yoona mulai memperhitungkan sejak kapan bediri disana, apakah baru saja atau mereka sudah lama disana dan melihatnya menari – nari seperti orang gila…

Keringat dingin mulai menembus kulitnya. Tiba – tiba dadanya sesak dan Ia sulit bernapas. Donghae bangkit dari sofa menyambut kedatangan Eomma dan adiknya. Yoona menekuk wajah tidak berani menatap mereka berdua.

“Eonni kemana saja? Kenapa Eonni pergi mendadak sekali?” krystal berhambur kedalam pelukan Yoona. Kedua matanya berkaca – kaca. Pelukan Krystal kian menguat hingga Yoona hampir tersedak oleh napasnya sendiri.

Selesai mencurahkan kerinduannya, Krystal bergelayut pada pinggang Yoona dan mengangkat kepala, “Eomma bilang Eonni pergi karena Appa Eonni menelpon. Apa terjadi sesuatu?”

Yoona gelagapan menjawab pertanyaan Krystal. Sementara dihadapannya Nyonya Lee memberi kode agar Yoona menyetujui apa yang dikatakan Krystal.

Yoona mengusap wajah Krystal selagi menyusun jawaban yang tidak membohongi namun tersamarkan, “Itu..” Ia tersenyum menenangkan, “Aku hanya mencoba menyelesaikan masalahku dengan cara yang salah.”

“Cara yang salah apa Eonni?” Krystal menatap ingin tahu.

Buru – buru Yoona menyangkal keingintahuan Krystal dengan mencubit pangkal hidungnya, “Aku akan menceritakannya padamu nanti kalau kau sudah dewasa.”

Krystal cemberut, “Jadi menurut Eonni aku masih bocah?”protesnya melepaskan pelukannya dari tubuh Yoona.

“Sudah.. sudah..” Nyonya Lee menengahi.

“Yoona kami semua merindukanmu.” Kesannya dengan senyum ramah seperti biasa. Bibir Yoona bergetar ingin menjawab namun Ia bingung harus berkata apa.

“Ani, Jangan terlalu dipikirkan.” Tandas Nyonya Lee seolah mengerti isi kepala Yoona. Yoona tersentak mendengarnya, baru saja Ia bersiap membuka mulut, Nyonya Lee menambah,“Oh ya, banyak hal yang Eomma ingin ceritakan padamu, tapi sepertinya wajahmu agak pucat.”

Yoona menatap Donghae meminta persetujuan. Apakah benar wajahnya agak pucat?

“Eomma akan memasak sesuatu.”

“Ah biar kubantu.” Tawar Yoona seolah baru saja menemukan ide cemelang.

Nyonya Lee bergeleng dan tersenyum penuh arti, “Ani kau istirahat saja, Eomma akan memanggilmu kalau sudah selesai lagipula ada Krystal yang menemani Eomma. Kalau kau ikut membantu anak ini pasti akan bertambah malas menginjak dapur.”

Arah pandang Nyonya Lee lantas berpindah, “Donghae-ya, kau temani saja Yoona.”

Donghae merangkul pudak Yoona, menepuk – nepuk kepala perempuan itu lalu mengacak rambutnya sedikit “Baiklah dengan senang hati.”

Yoona diam terpaku. Ia ingin sekali menepis perlakuan Donghae yang seenaknya tapi kembali lagi, pikiran Yoona beku selain untuk memikirkan Nyonya Lee dan Krystal.

Nyonya Lee pamit dari hadapan mereka lalu menarik tangan Krystal menuju dapur. Yoona menghela napas kecewa. Lagi  – lagi Yoona merasa terlalu mudah baginya menerima konsekuensi dari perbuatan bodoh yang Ia lakukan dimasa lalu. Yoona belum puas sebelum mendengar mendengar paling tidak sebuah caci maki atas cerminan perbuatannya.

Yoona sulit memastikan kapan tepatnya Ia duduk diatas ranjang kamarnya. Yoona menatap sekitar, sudah lama sekali Ia tidak melihat kamar ini. Menurutnya tidak ada yang berbeda tapi tetap saja kamar ini terasa janggal.

Menoleh dengan raut kebingungan, Yoona baru menyadari Donghae duduk dihadapannya, Sorot mata lelaki itu mengamatinya dalam diam, entah apa yang salah. Yoona pun mulai menertawakan ketidakpekaannya, Ya tentu saja  Ia salah karena sejak tadi pikiranya tidak disini.

“Kau baik – baik saja?” tanyanya usai dianggurkan sekian lama.

Yoona tersenyum hambar, “Kenapa aku jadi canggung dengan mereka ? ini aneh tapi bukankah itu wajar?”

Telapak Donghae berpindah menimbun tangan Yoona, menggenggam dan meremasnya. Lelaki itu tersenyum meyakinkan, “Setidaknya mereka masih menganggapmu. Itu jauh labih penting.”

“Tetap saja aku merasa tidak nyaman.” Tampik Yoona, bibir bawahnya  maju dua senti.

Donghae berdecak gemas. Lelaki itu beringsut. Usai berhadap – hadapan Donghae meraih wajah Yoona, mengusapnya dengan ibu jari untuk setelah itu membelokkannya kekanan dan kekiri bagaikan menganalisa raut wajah perempuan itu.

“Hmm aku mulai bingung bagaimana cara menghiburmu atau haruskah aku melakukannya—“ Donghae berepikir keras menyebabkan matanya menyipit.

Yoona menatap curiga. Pikiran aneh berlalu dikepalanya. Apa jangan – jangan… Tidak, cukup sekali Donghae hampir saja menggugurkan janin mereka tadi malam.

Donghae mendekatkan wajahnya dan berbisik,Haruskah aku bernyanyi dan menari seperti yang kau lakukan barusan?”

“Mwoya?”

Lelaki itu menarik wajahnya yang sempat mendekat, “Biar kuingat dulu bagaimana kau melakukannya.”

Suhu tubuh Yoona memanas. Setelah berusaha meredam rasa malunya karena menari – nari yang entah sejak kapan Nyonya Lee dan krystal berdiri disana, Donghae masih sempat – sempatnya mengungkit masalah itu.

“Oh, oh, oh, oh, ppareul saranghae .…”

“Yaaak !”

………..

Ruangan gelap, sempit  dan mendung berisi tujuh orang yang masing – masing tengah duduk tepekur, dua diantara mereka tertidur dengan punggung tangan menimbuni wajah. Pemandangan paling mencolok Ialah seorang lelaki yang menggenggam jeruji dan lelaki berambut gimbal dihadapannya berdiri dengan kedua dengkul menyanggah tubuh, Ia tengah menjambak rambut teman yang mengenggam jeruji tadi lalu membenturkan kepala temannya itu dipermukaan jeruji besi.

“Bodoh ! Bodoh ! Bodoh kau WooHwan!” Tiga benturan harus diterima lelaki bernama Woohwan itu, namun wajahnya yang penuh memar kebiruan tampak datar.

“Kenapa kau malah mengaku di depan media tentang bisinis ayahku hhah?!” Shinjung mencabik rambutnya, WooHwan menyeringai diam – diam.

“Sadarkah dirimu ?! Gara – gara publik heboh, para polisi berbondong – bondong menggeledah bisnis ayahku ! Dan Semua perjanjian batal ! termasuk rencana bisinis di Seoul semua  batal dan kami bangkrut.” Satu tamparan membentur kepalanya kali ini WooHwan meringis.

Shinjung menjenggut wajah Woohwan, menatap dengan mata penuh dendam,“Kanapa kau malah membongkar rahasia kami bodoh, dasar penghianat !” gertaknya berapi –api.

“Aku bisa memberimu bagian apapun yang kau mau ! Berapa? Berapa banyak yang kau inginkan ! Aku bisa memberikannya. Asal kau tahu, dengan uang semuanya akan jauh lebih mudah, tapi sekarang lihat kita berdua terancam membusuk selamanya disini, bahkan ayahku terkena serangan jantung dan meninggal, ini semua gara – gara kau yang gegabah, dasar bodoh !”

Woohwan tertawa puas melihat mantan majikannya tersulut emosi.  Kehancuran penjahat itu merupakan sesuatu yang ditunggu – tunggunya sejak dulu, dan kehancuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

“Sekarang rasakan ini ! Rasakan karena sudah bermain – main denganku.” Shinjung kembali membenturkan kepala Woohwan. Usai berakhir dengan napas terengah – engah Ia mengamati wajah tawanannya itu.

“Syukurlah mafia itu menemui ajalnya.” Woohwan menyeringai.

“MWO?!”

“Asal kau tahu aku tidak pernah menyesal.  Kalian sudah menghilangkan nyawa ibuku. “ tatapannya berubah tajam. Belum terhapus dari ingatannya bagaimana mereka memperlakukan ibunya selama ini seolah ibunya lebih buruk dari seonggok sapi perah. Ia harus bekerja mati – matian untuk membayar ganti rugi sebotol anggur mahal, tapi usai menjalankan misinya mencelakai seseorang, Ia tidak menerima imbalan seperti yang bossnya janjikan. Apa daya belum sempat ia membebaskan ibunya dari perbudakan itu, nyawa perempuan yang melahirkannya  lebih dulu melayang disebabkan anemia akut. WooHwan yakin ibunya kelelahan dan mereka membiarkannya sendirian tanpa bantuan tim medis, dan terjadilah ibunya terlambat untuk diselamatkan. Woohwan bisa mengikhlaskan kepergiannya tapi lelaki itu tidak bisa menerima penyebab kematian ibunya yang tidak manusiawi.

“Bagiamana rasanya kehilangan segalanya?”

Tatapan lelaki dihadapannya berubah garang, Ia menggeram penuh emosi setelahnya melemparkan kepalan tinjunya hingga setelah itu Woohwan tidak bisa melihat apa – apa lagi. Selain gelap.

………..

Pagi – pagi sekali  Donghae buru – buru pergi. Siap dengan pakaian kantornya seperti biasa, Ia melangkah kesana – kemari menyambar sepasang sepatu di rak lalu memakai alas kaki itu tidak sampai sepuluh detik. Donghae mencari – cari Eommanya untuk berpamitan.

“Donghae-ya sudah mau pergi?”

Donghae mengecek ponselnya yang tiba – tiba menerima notification. Ia menoleh sebentar ketika Eommanya keluar dari ruang tengah.

“Apakah Yoona masih tidur?”

“Sepertinya.” Jawab Donghae terburu – buru menjawab pesan.

“Mungkin Yoona akan mudah lelah.” Nyonya Lee menduga – duga.

Donghae menunda urusannya dengan ponsel,  fokusnya berpindah kearah Nyonya Lee, “Eomma aku berangkat dulu ya.” Pamit lelaki itu mendundukkan kepalanya, “Jaga diri Eomma dan aku titip Yoona.” Donghae tersenyum sebagai tatapan perpisahannya lalu berbalik badan.

“Donghae tunggu.” Tangan Nyonya Lee. Donghae berhenti melangkah dan kembali menoleh.

Nyonya lee menghampiri Donghae dengan langkah terburu – terburu. Wanita paruh baya itu menghela napas, “Donghae, Eomma ingin bertanya sesuatu, bolah minta waktumu sebentar? Kita bicara disini saja, mumpung Yoona sedang tidur.”

Donghae mengernyit. Nyonya Lee menatap cemas, Meskipun Nyonya Lee sudah mengetahui kronologis dari kejadian ditemukannya Yoona dari penuturan Donghae sendiri tadi malam, Nyonya Lee belum puas. Ia ingin mengulik lebih jauh mengenai kondisi Yoona.

“Donghae begini apa setidaknya kalian menemui Mr Kim.” Usul Nyonya Lee. Donghae tampak berpikir keras, “Menurutku Yoona baik – baik saja sekarang, kurasa itu tidak perlu.”

“Bagaimana kalau Yoona menghadapi masalah untuk kedua kalinya? Apa kau yakin Ia tidak akan kabur lagi?”

“Tentu saja—“ Donghae menahan kata – katanya.

“Apa?”

“Donghae, kau pasti bisa memikirkan kemungkinan itu.” bujuk nyonya Lee penuh harap.

Donghae termenung. Ia menatap Eommanya penuh pertimbangan, lalu tiba – tiba bibirnya menggoreskan senyum.

“Aku akan memantau perkembangannya untuk membuktikan sendiri kehawatiran Eomma, kalau muncul tanda – tanda seperti itu aku kan menyutujui usulan Eomma dan sebaliknya.” Putus Donghe.

Nyonya Lee tampak tidak puas dengan jawaban anaknya.  Ia hendak mengatakan sesuatu namun Donghae lebih dulu menambah.

“Eomma nanti kita bicarakan lagi ya? Aku harus pergi sekarang juga.” Donghae menangkup wajah ibunya yang lantas ditepis oleh wanita paruh baya itu.

“Sudahlah jangan menggoda Eomma, lebih baik kau goda saja Yoona, Eomma sudah lelah meladenimu !” Protes Nyonya Lee membalik paksa tubuh Donghae lalu mendorong paksa punggungnya kearah pintu.

“Saranghaeyo Eomma.” Donghae menoleh usai menarik gagang pintu. Nyonya Lee berdecih menyembunyikan malu. Ia mengibas – ibaskan tangannya, “sudahlah sana.”

Donghae mengernyitkan hidung merasa bahwa sang Eomma tidak membalas cintanya. Donghae cukup mengakui, eommanya kadang kala gengsi membalas tindakan romantisnya tapi Ia tahu Eommanya sangat mencintai seluruh anggota keluarga termasuk Yoona. Terbukti Nyonya Lee sering kali uring – uringan terlebih jika memikirkan soal kondisi Yoona. Berbicara tentangnya… sejauh ini Donghae tidak menemukan kejanggalan apa pun atas perilaku Yoona mungkin tidak demikian bagi Eommanya.

Yang jelas kini,  Donghae sudah mendengar sendiiri janji Yoona untuk tidak mengulang perbuatannya, dan itu sudah lebih dari cukup.

…………..

Yoona mengerjap beberapa kali usai membuka mata sepenuhnya. Tubuh Yoona yang begelung diatas tempat tidur menggeliat. Sayup – sayup Ia menatap sekitarnya. Kosong, Donghae sudah tidak lagi disini. Yoona bangkit dari posisi baring, duduk menyandarkan punggungnya pada permukaan punggung ranjang. Dipangkuan Yoona sebuah guling nyaman didekapnya. Perempuan itu mendengus, sekarang ia merasa sendiri, Donghae tidak ada disini dan Ia harus menghadapi mereka. Yoona memutar otak bagaimana sebaiknya Ia bersikap didepan keluarga Donghae. Rasanya Yoona terlalu malas untuk melangkah, entah mengapa pagi ini tubuhnya benar –benar terasa lemas. Cukup satu yang terbersit dikepalanya yaitu tertidur sepanjang hari.

Pandangan Yoona tidak sengaja menangkap kertas berwarna biru mencolok diatas meja Donghae yang berjarak sepuluh langkah dari tempatnya kini. Yoona memaksa tubuhnya untuk berjalan mendekat. Usai beberapa langkah Yoona berhenti didepan meja lalu meraih kertas itu.

‘Selamat pagi princess, apa tidurmu nyenyak? Maaf aku harus pergi dan meninggalkanmu sendirian, tapi jangan marah aku meninggalkan beberapa novel, mungkin cukup untuk menggantikan tugasku menemanimu sepanjang hari😀’

Tanpa sadar bibir Yoona menyungggingkan seulah senyum, jemarinya mengusap kertas peninggalan Donghae, mendekap kertas kecil itu menimbuni dadanya yang berdetak tidak karuan.

Kemudian tatapan Yoona jatuh kearah tumpukan buku diatas meja. Dua buah novel romance dan sedangkan yang satunya berupa novel yang berkisah mengenai cerita sejarah mengenai perjalanan raja pada zaman kerajaan Joseon. Yoona meraih salah satunya.  Novel Kim Eun Kyung yang berjudul  Sunshine. Yoona tersenyum menatap covernya yang berwarna jingga, dengan bunga matahari yang mendominasi covernya. Mungkin ia bisa membaca buku ini nanti. Setelah Ia menemui Eomma Donghae dan menampakkan diri.

Yoona berjalan menuju dapur. Disana Ia menemukan Nyonya Lee sedang mencuci piring. Yoona menyapa Nyonya Lee dengan senyuman, sebisa mungkin bersikap santai walaupun didalam hatinya kecanggungan melanda.

“Apa Eomma sedang sibuk?” tanya Yoona penuh minat.

Nyonya Lee bergeleng kecil, “Tidak, ini hanya mencuci piring.” Ucapnya melanjutkan kegiatan membilas piring yang sudah disabuni diatas wetafle.

“Eomma.” Panggil Yoona ragu – ragu.

Nyonya Lee menoleh, Wajahnya sudah menunjukkan kesiapan atas pertanyaan Yoona selanjutnya.

“Apa menurut Eomma—ani—aku tidak tahu apa yang terjadi, apakah tidak ada hukuman untukku?” Yoona menggantungkan pertanyaannya dikepala. Ia mengingat lagi bagaimana semua orang menerimanya dengan tangan terbuka. Yoona ingin mengetahui bagaimana sebenranya perasaan mereka.

“Kau kembali dalam keadaan selamat saja kami sudah bersyukur Yoona.” Nyonya lee menjelaskan sesekali menatap Yoona seraya melanjutkan pekerjaannya, “Dan lagi tidak semua permasalahan diselesaikan dengan amarah kan?”

Cairan dipermukaan matanya berdesakan kala memutar lagi pernyataan Nyonya Lee barusan yang berhasil ia rekam dikepalanya. Yoona memeluk Nyonya Lee dari belakang, wanita yang sudah Ia anggap seperti ibunya sendiri.

“Gomawo Eomma, saranghae.” Yoona menyusupkan kepalanya dan bersandar diatas bahu Nyonya Lee.

“Omo, lihatlah puteri kecil Eooma.” Nyonya lee bergeleng prihatin menaggapi tingkah kekanak – kananakan Yoona yang  terus bergelayut manja dipundaknya.

…………

Sejak beberapa saat lalu Yoona sudah mengubah posisi tidurnya sebanyak lebih dari sepuluh kali. Dari duduk biasa, bersandar di punggung ranjang, duduk berselonjor hingga terlentang membaca novel kedua yang sudah sampai halaman terakhir.

Yoona meraih novel ketiga disampinganya, Novel dengan halaman paling tebal itu dibaliknya tanpa menatap sampulnya lebih dulu, Yoona serius membaca halaman ke halaman hingga sudah sepertiga dari halaman novel itu habis dibacanya. Yoona mengadah selagi merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku. Ia menatap kearah jam dinding. Jam tujuh malam. Tepat setelah itu pintu terbuka. Tampak diambangnya nyonya Lee bersandar.

“Apa kau ingin membantu Eomma menyiapkan makan malam?”

Yoona mengangguk senang, “Ya tentu.”

Semua orang menikmati makan malam mereka kecuali Donghae yang belum juga menampakkan batang hidungnya. Beberapa saat lalu Donghae mengabari bahwa Ia pulang larut malam karena harus membayar jam bolosnya kemarin. Seketika Yoona sadar bahwa kemarin Donghae terus menemaninya seharian.Yoona hanya diam menanggapi karena bagaimana pun Ia tidak punya alasan untuk memprotes. Tapi Nyonya Lee sepertinya tidak setuju. Kelihatannya wanita yang melahirkan Donghae itu sangat menghawatirkan kondisi anaknya pasca operasi. Nyonya Lee terus mengulang – ulang ditelepon agar Donghae mengingat perkataaan Dokter bahwa ia tidak boleh berlama – lama terkena angin malam atau kelelahan hingga sebulan kedepan.  Yoona menguping semua yang dikatakan Nyonya Lee. Ia tidak mungkin lupa bahwa Donghae sempat mengalami koma, dan Ia memutuskan pergi meninggalkannya karena sebuah alasan.

Yoona menghela napas. Usai makan malam dan membereskan beberapa peralatan dapur, Yoona pamit menuju kamarnya. Keheningan didalam ruang datang menyambut, Yoona melemparkan tubuhnya begitu saja diatas ranjang. Perempuan itu termenung menatap langit – langit kamar.

Pikiran Yoona memutar wajah Donghae. Yoona menyesal karena Ia tidak pernah tahu apa yang dialami Donghae semenjak kepergiannya. Yoona yakin saat itu Ialah masa – masa tersulit, bukan hanya untuk Donghae tetapi juga keluarganya. Sementara disuatu tempat entah dimana Yoona memilih bersembunyi, menghindari orang – orang yang mengincarnya sekaligus mengincar Donghae jika Ia tinggal disamping lelaki itu. Bahkan sekarang Yoona belum tenang sepenuhnya. Ia takut orang – orang  jahat itu kembali mengusik hidupnya. Meski pun menurut penuturan Donghae Tuan Shin baru saja digelandang polisi, namun tetap saja ketakutan itu tetaplah menghantui.

Disaat keresahan mulai mendesaknya, Yoona meraih novel ketiga, membuka halaman yang tertunda, membacanya, menyusuri kata perkata hingga Ia terhanyut kedalam alur didalam cerita. Yoona sedikit melupakan masalahnya meski pun terkadang debaran jantungnya berdebum tiba – tiba, Yoona berusaha menekan perasaannya sebisa mungkin.

Tepat jam dua belas malam Yoona berhasil menyelesaikan cerita didalam novel sampai halaman terakhir. Yoona menutup sampulnya dan menaruh benda itu dibawah bantal. Yoona membaringkan tubuhnya, berusaha menutup mata, namun beberapa kali mencoba menjatuhkan diri kealam mimpi, lagi – lagi Ia harus mengalami kegagalan.

Yoona berjalan keluar kamarnya, duduk disofa dan menyalakan TV. Keadaan diruang tengah sepi dan senyap karena sepertinya orang – orang sudah sampai kedalam dunia mimpi mereka.

Tayangan didepan matanya mempertontonkan seorang wanita disudut ruang gelap yang tengah terselungkup mencabik rambutnya sendiri. Tatapan wanita itu layaknya dikejar hantu. Peluhnya bercucuran memenuhi wajah seiring laju pernapasannya yang menyempit. Yoona tidak tahu apa yang terjadi hingga Ia bisa merasakan jantungnya seperti diremas – remas ketika menyaksikan kondisi wanita itu, wanita yang tengah memerankan adegan di layar kaca, jelas Yoona mengetahui bahwa semua hanyalah acting tapi baginya kejadian itu tampak nyata.

Yoona menjatuhkan remote ditangannya. Detakan jarum yang menggantung di dinding terdengar begitu mencekam ditelinganya. Yoona membatu ditempat, bagaimana mungkin? Adegan didalam sana baru saja menampilkan kekacauan. Seorang lelaki berambut gimbal melemparkan botol soju kearah dinding tepat disamping wanita yang tengah ketakutan itu. Tanpa sadar teriakan Yoona ikut melolong seiring teriakan histeris bercampur isak tangis dari pemain yang tampak teraniaya didalam layar televisi.

Menggunakan kedua telapak tangan Yoona membekap mulutnya sendiri. Yoona menatap sekitarnya panik, untunglah tidak ada yang terbangunkan oleh kekacauan yang baru saja dibuatnya. Cepat – cepat Yoona menunggingkan badannya mencari – cari remote TV yang tadi sempat terjatuh. Perabaan Yoona akhirnya menemukan benda itu. Seketika Yoona langsung menekan tombol Off kearah layar TV yang menyala. Yoona menghembuskan napas lega. Tersisa kini debaran jantungnya yang meronta – ronta didalam dada. Yoona mencoba mengatur napas meski pun Ia tahu ini sulit, beberapa kali Yoona memegangi lehernya yang tercekat.

Dengan  langkah terhuyung – huyung Yoona menjeblak pintu kamarnya, bersandar sejenak dibaliknya ketika pintu itu menutup. Yoona menyeka tetesan keringat diwajahnya asal, kemudian meneruskan perjalanan yang sempat tertunda menuju tempat tidur untuk setelahnya bergelung dibawah selimut.

Yoona memejamkan mata usai menghela napas panjang. Yoona mencoba mengosongkan pikirannya dan berusaha mengendalikan diri setenang mungkin. Jauh didalam hatinya Yoona meruntuki dirinya sendiri yang terlalu berlebihan, padahal yang ditontonnya barusan hanya sebuah drama picisan.

Kenapa tubuhnya tidak bisa diajak kompromi? Yoona membasuh wajahnya kasar. Ia tidak suka seperti ini. Yoona berupaya melupakan namun  apa daya, tayangan tadi memutar ulang terus – menerus  dikepalanya.

Bunyi derit pintu mengundang perhatian Yoona. Sekilas Yoona menatap punggung Donghae yang tengah menutup pintu. Sekitar jam setengah satu. Yoona tidak mengerti apa yang dilakukan Donghae diluar sana hingga pulang selarut ini.

Donghae mendekat. Hal pertama yang Ia lakukan semenjak kedatangannya adalah duduk ditepi ranjang. Yoona memutuskan untuk memejamkan matanya. Yoona bisa merasakan belaian tangan Donghae membasuh kepalanya.

“Yoong, rasanya aku sudah lama tidak melihatmu tertidur seperti ini.” Seulas senyum tersungging dibibirnya. Donghae memangkas jarak wajahnya dan Yoona, mendaratkan sebuah kecupan dipermukaan kening perempuan itu.

Ketika Donghae hendak mengangkat kepalanya, Yoona membuka mata,  menginterupsi bibir lelaki itu dengan ujung telunjuk dan jemari tengahnya, “Kau menciumku tanpa izin.”

Donghae mengernyit lalu tergelak setelahnya. Ia menyingkirkan jemari Yoona, lalu berbaring menyanggah kepalanya dengan sebelah sikut.

“Apa ini? Ibu hamil tidak boleh begadang.” Donghae menuntun wajah Yoona menatapnya. Kegelisahan pupil mata Yoona yang menunjukkan getaran tidak stabil menarik perhatian Donghae.

“Siapa yang begadang?” Yoona memicing cemberut, “Aku tidak bisa tidur.” Kilahnya.

Bermain mengusap – usap dagu Yoona Donghae menduga – duga asal, “Apa…  karena menungguku yang tidak pulang – pulang?”

“Ish, bukan itu.” Yoona menepuk dada Donghae tidak setuju, tapi setelah berpikir ulang Ia membenarkan,  “Ya mungkin salah satunya, tapi ada hal lain.”

Wajah Donghae maju beberapa senti, penasaran dengan maksud Yoona.

“Oppa…” Yoona menatap wajah Donghae penuh isyarat. Gurat penuh tanya muncul dipermukaan kening Donghae, apalagi ketika Yoona beralih posisi mendudukkan tubuhnya. Yoona menekuk wajahnya menerawang sesuatu kebawah. Donghae ikut duduk disebelah Yoona, memperhatikan perempuan itu dengan seksama. Resah menyerangnya, Donghae agak terganggu dengan tatapan Yoona yang seperti itu, tatapan sendu penuh keputus-asaan.

“Gwenchana?” Donghae menyibak rambut Yoona, meneliti wajah perempuan itu cemas.

Tanpa aba – aba Yoona memeluk pinggang Donghae, menyusupkan wajahnya dipermukaan bidang lelaki itu. Yoona terdiam kaku menyuarakan keresahannya. Sementara Donghae belum bisa mencerna perubahan sikap Yoona yang tiba – tiba. Lengannya bergerak ragu merangkul pundak Yoona, Donghae memantapkan rengkuhannya hingga kedua lengannya berhasil menyanggah tubuh Yoona yang rapuh.

“Kapan aku bisa terbebas dari semua ini Oppa? Aku menonton sebuah tayangan di TV, seorang wanita yang menangis di sudut ruangan dan tiba – tiba sebuah botol soju menghantam dinding didekatnya lalu—“  Sesak menghalau kata – katanya, Yoona berhenti sejenak, “Lalu wanita itu menangis histeris, sekujur tubuhnya bergetar seperti akan mati.”

Donghae berdesis hendak mengatakan sesuatu, hanya saja kata – kata yang sudah berkelantungan diujung lidah kandas begitu saja, Donghae menghembuskan napas panjang, “Sudahlah mereka cuma berakting.”

Donghae meraba – raba helaian rambut Yoona menggunakan penciumannya. Bibir Donghae turun menuju telinga Yoona lalu berbisik disana,  “Semua akan baik – baik saja.”

Untuk sementara Ia hanya bisa berkata demikian. Donghae menyadari disaat – saat seperti ini Ia hanya perlu mendengarkan.

Lagipula…

 ‘Bagaimana kalau Yoona menghadapi masalah untuk kedua kalinya? Apa kau yakin Ia tidak akan kabur lagi?’

Perkataan sang Eomma tadi pagi hinggap didalam pikirannya. Donghae tidak bisa berkutik. Kalimat itu tidak henti – hentinya mengalun hingga menjadi bahan pertimbangan tersendiri. Faktanya masih tertinggal sebuah ketakutan didalam diri Yoona yang bisa bangkit kapan saja. Dan tidak menutup kemungkinan disaat Yoona menghadapi masalah, emosinya menjadi tidak stabil karena bercampur dengan guncangan masa lalunya yang jelas bahwa kenangan terpendam itu membayanginya hingga kini. Yoona bisa saja berbuat sesuatu tanpa pertimbangan akal  sehatnya terlebih dulu.

Donghae harus memastikannya sendiri.. Yoona tidak akan kenapa – napa jika sebisa mungkin Ia melakukan pencegahan agar tidak bertambah parah. Yoona harus menstabilkan ketakutannya, bagaimana pun Yoona harus menganggap  bahwa seluruh kejadian contohnya seperti tayangan TV yang ditontonnya adalah suatu kewajaran yang harus dilewati dan seburuk – buruknya kejadian pun suatu saat nanti akan menemukan kebahagiaannya sendiri. Ia tidak harus merasa terpuruk didalam masa lalu dan  tanpa sadar menyakiti masa depannya.

“Apakah sikapku tampak aneh ?” Usai terpaku oleh degup jantung Lelaki yang mendekapnya, Yoona mendongak, suaranya memecah konsentrasi Donghae. Lelaki itu menatapnya dengan setengah kesadaran. Yoona yakin saat ini Donghae sedang bertanya – tanya didalam hatinya mengenai pelukan tiba – tiba.

“Mianhae membuatmu terkejut, sebaiknya lupakan saja.” Putus Yoona merapatkan pelukannya dipinggang Donghae. Dengan seperti ini, Yoona merasa jauh lebih baik.

“Ani, Gomawo..” sangkal Donghae, Yoona tidak perlu meminta maaf karena pengakuannya.

“Terima kasih karena telah bersedia menceritakan keresahanmu padaku.” Donghae tersenyum ditengah matanya yang menerawang. Dulu Yoona sering memendam masalahnya sendiri karena rasa bersalahnya atas segala yang terjadi dimasa lalu. Sekarang Donghae cukup berbangga ketika Yoona menganggapnya sebagai sandaran.

“Terima kasih juga karena telah menjadi alasanku membuka diri.” Jemari Yoona beranjak mengusap wajah Donghae. Kehangatan tubuh lelaki itu menyambut perabaan Yoona. Kulit wajah Donghae sedikit lembab, sepertinya masih dilapisi oleh basahan keringat. Yoona tidak masalah. Aroma tubuh lelaki itu bercampur dengan aroma mint college semakin memabukkan didalam penciumannya. Tangan kanan Yoona menggenggam bahu Donghae lalu beringsut keatas.

Yoona menenggelamkan kepalanya diantara ceruk leher Donghae, penciumannya menggali lebih dalam kombinasi aroma tubuh lelaki itu. Hidung Yoona berpindah keatas rahang  Donghae, menghirupnya panjang.

Donghae mengadah kegelian. Lantas kedua tangannya menangkup wajah Yoona, “Sengaja bermain – main denganku, hmm?”

Donghae menatap intens, mendekatkan wajahnya. Kegelisahan menghampiri Yoona. Sepertinya setelah ini Ia akan tertidur nyenyak karena kelelahan.

………..

Telapak tangan Yoona yang dingin seperti es tidak menyurutkan niat Donghae untuk menuntun perempuan itu menuju sebuah ruangan. Yoona sangat hafal kemana Donghae akan membawanya. Mereka menyusuri koridor dengan sedikit perdebatan hingga berhenti didepan sebuah pintu. Yoona mengatur napas, Ia mendengus, Donghae sangat tidak tahu kira – kira menggenggam tangannya kuat – kuat seolah Ia akan kabur saat itu juga. Yoona menatap telapak tangannya yang sedikit memerah itu kasihan. Perempuan itu menium ubun – ubunnya ketika melihat Donghae sudah mendorong pintu tanpa seizinnya. Tampak Donghae menatap Yoona terheran – heran, bukannya mengikuti perempuan itu malah berdiri mematung.

“Kenapa kita harus ketempat ini lagi?” Yoona mencebik. Donghae menarik napas, pertanyaan itu sudah didengarnya dari mulut Yoona sekitar sembilan kali. Donghae tidak berniat menjawab termasuk yang ini.

 “Sebaiknya kita pulang lagipula bukankah ini hari libur? Kau istirahat saja Oppa, kata Eomma usai pemulihan pasca operasi kau harus banyak beristirahat.” Yoona menatap hawatir. Donghae bergeming ditempatnya. Yoona tersenyum kikuk dan sedikit membujuk.

“Yoona aku akan membiarkanmu merawatku, tapi setelah ini.” Donghae menarik tangan Yoona sebelum perempuan itu berbicara lebih jauh. Donghae menutup pintu yang terbuka karena ulah mereka dan saat itu juga Yoona sudah tidak bisa melawan. Seketika Ia berubah menjadi gadis kalem dan penurut.

Yoona menekuk wajahnya ketika Donghae menyapa seorang Pria setengah baya yang tengah melihat foto – foto diatas meja. Pria itu tersenyum membalas sapaan Donghae lalu mempersilahkan kedua tamunya duduk.

Seperti yang ada didalam pikiran Yoona, Mr Kim menatapnya, tatapan Mr Kim sangat intens, tidak mengerjap dan jauh kedalam seolah – olah  menghitung iris matanya satu – persatu, hanya saja tatapan itu tidak  terkesan menakut – nakuti.

“Lama tidak melihat kalian…” Mr Kim memajukan wajahnya penuh minat, “Bagaimana kabarmu Yoona ?” Ia mengalihkan tatapannya kearah Yoona. Yoona tersenyum mengiyakan. Setelah itu mereka berbincang mengenai sejauh mana kondisi Yoona. Mr Kim memberikan pendapatnya ketika melihat Yoona hari ini, katanya Yoona sudah terlihat bernyawa dari pertama kali mereka datang kesini. Donghae juga sempat mengutarakan kehawatirannya bahwa trauma itu akan kembali mengganggu  hidup Yoona. Donghae hawatir apabila gangguan traumatis yang dialami Yoona dapat mengganggu perkembangan janin mereka. Mr Kim memaklumi kehawatiran lelaki itu.

“Yoona hanya butuh sedikit relaksasi.” Ujar Mr Kim lalu menatap Yoona, “Mungkin kau butuh menghabiskan waktu sepanjang hari dengan orang yang kau sayangi.”

Mereka berdua terdiam mendengar saran yang diutarakan Mr Kim. Beberapa detik berlalu sibuk dengan pikiran masing – masing, Donghae dan Yoona saling berpandangan.

…………….

“Huaahhh.” Yoona membuang napas diantara sinar matahari pagi yang menyinari wajahnya. Angin menerpa sepoi – sepoi datang meniup bunga – bunga berwarna kuning dihadapannya. Sekarang ini mereka tengah menikmati liburan di Jeju Island, tepatnya di sepanjang pantai pulau Jeju dimana bunga – bunga Bukschon yang berwarna kuning dan kecil – kecil bermekaran. Yoona menatap kagum kearah bunga – bunga dihadapannya. Kuning menyilaukan tetapi juga menyejukkan. Yoona berjalan pelan membelah petak – petak disekitarnya, sementara Donghae menyusul dari belakang. Lelaki itu menangkap tubuh Yoona dengan pelukan. Sontak rasa hangat yang melingkupi tubuh Yoona bertambah dua kali lipat.

“Bagaimana? Apa kau senang?” tanya Donghae menyusupkan wajahnya lalu menaruh dagunya diatas bahu Yoona.

Yoona mengangguk, “Hmmm, kita harus menghabiskan akhir pekan selama dua hari ini untuk bersenang – senang.” Cetusnya tersenyum penuh arti. Dikepalanya telah tersusun daftar kegiatan yang akan mereka lakukan ditempat indah ini. Berjalan ditepi pantai. Mereka akan kesana menatap matahari terbit dan terbenam. Tepat disana mereka akan berkejar – kejaran di pantai, Ia tidak akan lagi marah ketika Donghae menyiramnya dengan sebongkah air, Yoona akan bersyukur karena itu, mungkin dengan begitu Yoona akan tersadar bahwa saat ini Ia tidak bermimpi.

Donghae lalu menggandeng tangan Yoona menyusuri jalan hijau. Yoona mengayunkan tautan tangan mereka, seulas senyum lebar tidak henti – hentinya terpatri dari wajahnya. Kalau saja saat ini Yoona  tidak mengingat janin mereka, Ia pasti akan berlari kencang menerobos angin yang melaju.

Alam yang terbentang luas, menjadikan dirinya merasa lepas dan bebas melakukan apapun. Yoona menarik tangan Donghae ketepi jalan. Donghae mengernyit karena sepertinya Yoona begitu bernafsu menggiringnya buru – buru. Begitu mereka berada ditepi jalan, tampak ladang hijau dan bebatuan terpampang luas disana. Yoona maju selangkah. Yoona tersenyum menatap Donghae sebentar, tidak lama Ia menangkup telapak tangannya lalu menaruh kedua benda itu di masing – masing di sudut bibirnya.

“Donghae Oppa Gomawooo, Saranghae !!!” teriak Yoona lantang. Suaranya  menggelegar memenuhi ruang ditengah alam terbuka, memantul – mantul hingga termakan oleh sepoi angin. Donghae tertawa menyaksikan tingkah Yoona. Lelaki itu beranjak tidak mau kalah.

“Saranghae Yoong !! Tetaplah disisiku selamanya !!!”  teriak Donghae berkali – kali lipat lebih lantang dibanding teriakan Yoona.

Entah bagaimana Yoona menatap Donghae tidak biasa. Matanya tiba – tiba memerah dipenuhi genangan. Yoona lekas menyembunyikan wajahnya dari pandangan Donghae, tapi tidak semudah Yoona menutupi segalanya karena Donghae cukup bisa merasakan gerak – gerik Yoona.

Donghae membalik tubuh Yoona menghadapnya. Jemari Donghae terangkat menuntun wajah Yoona agar menatapnya.

Yoona tersenyum ketika mata mereka bertemu, namun tetap saja perempuan itu tidak mampu menghalau air matanya yang mengalir dan menganak sungai.

“Kau sedih?”

Yoona menggeleng, “Tidak aku.. aku bahagia… terlalu bahagia saat ini.” ungkapnya dengan nada sesangguk. Donghae tersenyum tipis, lantas mengarahkan kepala Yoona bersandar dipermukaan bidangnya. Donghae mendaratkan kecupannya dipermukaan kening Yoona, membasuh suarai hitam perempuan itu yang berterbangan tertiup angin.

“ Jadi kau senang?”

Yoona menggumam pelan, detik itu merapatkan dekapannya, “Aku juga senang bersama mu disini. Aku sudah pernah bilang kan? kita akan menghadapi ini berdua. Aku akan melindungimu Yoong.”

“Kau sudah terlalu jauh untuk urusan itu Oppa.” Yoona membenahi posisi menatap Donghae dan menangkup wajah lelaki itu. Binar – binar bening tampak tersisa menggenangi matanya, Yoona seolah tidak perduli dengan itu, tatapannya tetap lurus mengarah kedalam mata Donghae.

“Sekarang aku percaya padamu, bahwa kita sudah ditakdirkan.” Yoona membasuh wajah Donghae, menatap satu persatu bagian wajah lelaki itu, disepanjang keheningan mereka saling bertukar pandang, menjadikan tatapan mereka saling berbicara mengenai ketenangan yang tercipta saat ini.

“Menurutmu, benarkan kita sudah ditakdirkan?”

Yoona mengangguk yakin.

Donghae mendekatkan wajahnya mempertemukan kening mereka lebih dekat, “Kalau begitu terima kasih sudah menyadarinya, karena  sebesar  apa pun rencanamu  untuk menjauh dariku, takdir akan selalu mempertemukan kita.”

“Kau yang paling ahli soal ini, Tuan Lee Donghae.” Yoona menambah dengan tatapannnya yang menggoda. Pada akhirnya mereka tertawa berbarengan. Lalu entah sejak kapan hembusan napas mereka menyatu hingga getar – getar didalam tubuh menggeliat dan menggugah mereka menyalurkan kehangatan didalam tubuh untuk saling berbagi satu sama lain.  Donghae menghisap kehangatan bibir Yoona dalam waktu lama, menggali hingga ketitik dimana Ia mengiginkan sesuatu yang lebih.

…………….

Bunyi dentingan bell pintu menggema terus menerus. Yoona menutup buku yang tengah dibacanya kemudian beranjak pelan – pelan dari atas sofa. Yoona bangkit memegangi perutnya yang sudah membuncit. Ia berjalan tertatih memegangi pinggangnya yang kerap kali pegal karena menopang berat tubuhnya beserta janin berusia Sembilan bulan yang Ia kandung.  Dokter bahkan sudah memperkirakan bahwa seminggu lagi Yoona akan melahirkan. Dari hasil USG pun posisi anak mereka sudah memugkinkan untuk dilakukannya proses persalinan. Detik – detik seperti ini rasanya sangat menegangkan bagi Yoona, Donghae beberapa kali meyakinkannya bahwa semua akan baik – baik saja namun ketakutan itu terkadang membayanginya tanpa sadar.

Yoona kembali merasakan sakit disekujur tubuhnya ketika Ia melangkah lebih jauh. Biasanya setiap malam Donghae akan memijat kedua kaki maupun pinggang Yoona, tapi akhir – akhir ini lelaki itu tampak lelah jadi Yoona tidak tega merengek – rengek lagi seperti dulu.

Yoona meraih gagang pintu lalu menarik benda itu kedalam. Tampak diluar sana seorang gadis berambut panjang mengenakan pakaian santainya. Gadis itu tersenyum manis. Yoona terperangah.

“Yuri-ah ?!!” Yoona memekik. Wajahnya menggebu – gebu hendak mengatakan sesuatu namun suaranya tertahan oleh rasa terkejut yang memenuhi dada.

“Yoonaaaaaa…” Yuri berteriak kegirangan. Satu bulan ini mereka tidak bertemu karena Yuri sibuk dengan kuliahnya.

Yuri melangkah dengan kedua tangannya terbentang diudara, tiba – tiba Ia menyadari bahwa mereka tidak bisa saling berpelukan karena sesuatu menghalangi diantara dirinya dan Yoona. Apalagi kalau bukan perut Yoona  yang membuncit seperti balon.

“Baiklah, apa sekarang aku boleh masuk ?”  Tawar Yuri begitu saja, ia sudah bisa menerima bahwa memeluk Yoona sedikit menyusahkan, lebih baik tidak usah melakukannya.

Yuri mendaratkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Ia menatap Yoona yang masih  berdiri ditengah jalan. Yuri menggaruk – garuk kepalanya, Ia tahu bahwa wanita hamil memang tidak bisa berjalan dengan normal, tapi bukan berarti mereka harus merintih dan meringis – ringis seperti itu. Yoona tampak berlebihan menurutnya.

“Y-yoona…” Yuri mulai panik ketika Yoona justru berteriak memegangi perutnya.

“Ahjumma !” teriak Yuri usai datang menghampiri Yoona. Yuri yakin didalam sana Eomma Donghae sedang melakukan sesuatu, entah apa.

“OMO !!!” Nyonya Lee berteriak panik menyaksikan keadaan Yoona. Menantunya itu menjerit kesakitan. Tampak diantara kedua kakinya darah mengalir dari atas.

“Cepat bawa ke rumah sakit ! Ambulance ! Aku akan menelpon ambulance  !”  Yuri mencetus. Dengan tangan gemetaran, Ia meraih ponselnya dan menekan beberapa digit nomer. Nyonya Lee panik, Ia mengusap – usap perut Yoona sembari berdoa dalam hati untuk keselamatan menantu dan cucunya.

…………

Donghae berlari menerjang koridor rumah sakit. Lelaki itu memacu langkahnya tanpa memperdulikan beberapa orang yang berjalan disekelilinya dan terkena senggolan bahu atau terganggu dengan tepakan langkahnya yang berisik. Donghae fokus menemukan sebuah ruang bersalin yang dikatakan Yuri melalui telepon. Lima menit kemudian Donghae berhasil menemukan Yuri. Gadis itu duduk gelisah di ruang tunggu.

“Yuri-ya…” Panggil Donghae tergopoh – gopoh. Yuri lantas bangkit menyambut kehadirannya.

“Oppa, Yoona… sekarang Yoona sedang melahirkan, dia didalam bersama ahjumma.” Jelas Yuri sambil menangis. Kedua mata Yuri bahkan sudah bengkak karena tidak berhenti mengeluarkan air mata disepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

Donghae melesat pergi dari hadapan Yuri.  Lelaki itu memutuskan masuk kedalam ruang persalinan Yoona. Dalam sekejap mata penglihatannya menangkap seorang wanita yang tengah bertaruh nyawa diatas ranjang perawatan. Yoona… nama itu langsung terbersit dikepalanya, Donghae beranjak menghampiri. Nyonya Lee terkejut menatapnya. Air mata memenuhi wajah Nyonya Lee. Meski pun sudah pernah menggalaminya, Nyonya Lee tetap tidak tega melihat Yoona yang berteriak kesakitan.

“Ayo Nyonya berusahalah sekali lagi.” Yoona terus mengerahkan tenanganya diantara kedua kakinya yang terbuka lebar. Keringat berbanjir diwajahnya yang pucat. Donghae menggenggam tangan Yoona, memejamkan mata dan berdoa. Tanpa sadar Donghae menangis, menjatuhkan air matanya mengikuti sang Eomma.

“Oppa… sakit Oppaaaa.” Yoona menjerit ditengah usahanya melawan rasa sakit. Donghae mengeratkan genggamannya. Donghae bingung apa yang harus dilakukannya untuk menebus rasa sakit Yoona. Kalau saja bisa Ia akan melakukan apa pun.

“Yoona, berjuanglah sayang, demi anak kita.” Donghae berbisik lirih meyakinkan Yoona.

Yoona menarik napas lalu menekan udara didalam perutnya sekuat tenaga. Sementara dokter yang menanganinya terus memacu semangat Yoona, “Sekali lagi Nyonya, pikirkan anak anda.”

Yoona sesak napas, Ia tidak tahu lagi bagaimana cara bernapas dengan benar, seluruh oksigen didalam tubuhnya pergi entah kemana. Yoona merasakan genggaman Donghae mengencang sementara genggamannya melemah. Lelaki itu terus memanggil – manggilnya. Untuk terakhir kali Yoona mengumpulkan segenap tenaganya.

Yoona menghirup oksigen sebanyak mungkin lalu menghembuskannya bersama kekuatan mendalam yang tersisa. Perempuan  itu mendorong tanpa henti. Yoona terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ia harus melakukannya bahkan sampai mati. Demi Donghae… Demi anak mereka…

Suara tangisan melolong nyaring memenuhi ruangan. Yoona lantas terkulai kehabisan tenaga. Tiba – tiba penglihatannya mengabur. Yoona hanya sempat menatap bayang – bayang Donghae yang tersenyum sumringah menyambut kehadirannya.

 “Selamat Nyonya, anda baru saja melahirkan bayi yang cantik.” Ujar seorang bidan wanita menggendong seorang bayi mungil, tampak diwajahnya senyum tulus penuh kebahagiaan.

Donghae menyeka jejak  air mata diwajahnya lalu kembali menggenggam tangan Yoona, “Gomawo Yoona.. terima kasih sudah berjuang.”

Yoona mengangguk pelan. Perempuan itu tidak sanggup lagi menahan sesuatu yang berdesakan  didalam matanya. Jadi… benarkah tangisan itu miliknya, anak mereka?

Donghae ikut menangis bersama Yoona, menumpahkan seluruh perasaannya. Sedih, senang dan bahagia, kesemua itu berbaur menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahakan. Donghae beranjak mencium kening Yoona, menggali kecupannya diatas permukaan kulit Yoona yang dipenuhi peluh berbanjir. Donghae menghirup aroma perjuangan Yoona dari sana. Lelaki itu mengingat betapa menderitanya Yoona sebelum ini, dan ia berjanji didalam hati bahwa Ia tidak akan menyia – nyiakan wanita yang telah berjuang untuk mereka…

………….

Piring – piring berisi makanan berjejer memenuhi meja di ruang tengah sementara orang – orang disekitarnya tengah disibukkan oleh kegiatan mereka menata setiap sudut ruangan. Mereka mulai memasang pita – pita memanjang serta balon – bolon lucu warna warni. Disetiap sudutnya juga terpajang beberapa boneka beruang besar yang tengah menggenggam hati bertuliskan nama seorang malaikat kecil yang baru saja lahir ke dunia. Seorang bayi mungil yang berhasil dipertahankan hingga lahir dengan penuh perjuangan. Lee Byul Hee. Bayi perempuan itu kini tengah menangis didalam gendongan halmoninya. Nyonya Lee menimang – nimang Byul Hee dan membawanya kesana – kemari. Sesekali Kristal datang menganggunya yang berakhir dengan omelan Eommnya.

“Eommonim, dimana sebaiknya kutaruh makanan ini? meja di ruang tengah sudah penuh.” Keluh seorang pria berambut pirang. Pria itu berbicara dengan napas terengah – engah manja, seperti disengaja agar suaranya terdengar selembut mungkin. Krystal mencibir. Sejak Byul Hee menempatkan tangisannya di rumah ini, para tetangga mereka menjadi heboh, terutama Hyorin, tetangga sebelah mereka yang tiba – tiba datang membawa banyak makanan. Hyorin seorang lelaki hanya saja tingkahnya berbeda dengan kenyataan.

“Oh ya, taruh saja di…” pandangan Nyonya Lee menyusuri sekitarnya, “Ah disana… Yak Donghae-ya apa yang kau lakukan disana?!” Omel Nyonya Lee. Bukannya membantu, Donghae malah asyik mengajak Yoona berfoto. Mereka peluk – pelukan, cium pipi kanan dan kiri tidak kenal tempat. Nyonya Lee mendesah putus asa, namun begitu menatap wajah Byul Hee membuatnya tersenyum kembali.

Donghae dibantu  oleh Kai yang juga kekasih Krystal memilah sebuah meja. Mereka berdua akhirnya menggotong sebuah meja bundar dari dapur menuju ruang tengah lalu meletakkannya didekat meja memanjang yang sudah dipenuhi makanan hasil masakan Nyonya Lee dan Hyorin.

“Haii semuaa, Annyeong… kesini yak Eunhyuk-ssi !” Seorang wanita melepas kaca mata hitamnya. Ia menatap kesal kerah seorang lelaki yang tengah menggotong tumpukan kado besar dibelakangnya.

“Letakkan disini sebelum barang – barangku yang berharga pecah ! Asal kau tahu barang – barang itu berisi kereta bayi, ranjang, dan baju – baju lucu ! jangan asal taruh sembarangan, mengerti?” peringat  Jessica menunjuk ruang kosong didekat dinding. Semua mata menatap kehebohan itu.

Lelaki bernama Eunhyuk meletakkan bungkusan kado disamping dinding, ia merengganggangkan otot – ototnya sejenak lalu menatap tidak terima kearah wanita yang mengomelinya barusan.

“Yak  Jessica-ssi, kau tidak boleh seenaknya mengomeli managermu sendiri?!”

“Manager ? maneger apa kau ini? Kalau Ryeowook Oppa tidak resign, dan management-ku tidak memaksaku untuk memperkerjakanmu sebagai maneger, aku tidak akan sudi. Mentang – mentang kau orang kaya dan ayahmu ingin mengajarimu jadi manager, sekarang kau sudah berani memarahi artismu sendiri huh? Aku akan mengadukan ini ke ayahmu dan kau tidak akan bisa naik pangkat, ingat itu Eunhyuk-ssi.”

Wajah Eunhyuk berubah pucat pasi. Lelaki itu membuka mulutnya hendak membalas ancaman Jessica namun terhalang oleh teriakan seseorang yang menghampiri mereka.

“Sudah – sudah stooop !!” Yuri tiba – tiba hadir ditengah pertengkaran itu. Wajahnya tampak geram, “Lihat ! karena kalian berdua aku tidak bisa menghias dengan baik !” Protes Yuri menyodorkan penuh kekesalan pita aneh ditangannya.

“Kalau mau bertengkar jangan disini, merusak suasana saja.” Hyorin menimpali dengan gayanya yang melambai tidak perduli. Lelaki setengah itu lewat begitu saja bagaikan hantu yang menggugah bulu – bulu Jessica berdiri kaku.

“APPA !” Yoona berlari kearah seorang lelaki setengah baya yang baru saja menginjakkan kakinya didepan pintu. Yoona memeluk lelaki yang disebutnya sebagai Appa dengan penuh kerinduan. Tiga hari yang lalu sang ayah mengabari bahwa sudah hampir setahun ini Ia pindah kerja ke pulau Nami. Yoona sempat marah karena selama ini Appanya selalu berkata bahwa dirinya baik – baik saja di telepon, namun Yoona tahu sesungguhnya tidak begitu. Appanya pasti mengalami masa – masa sulit.

“Omo anakku sudah jadi Ibu ya? Berarti sekarang Appa suah jadi kakek.” Tuan Im mengelus kepala Yoona yang belum juga beranjak dari pelukannya. Yoona tersenyum mendongak wajah sang ayah. Yoona seolah tidak ingin melepaskan pelukannya, Ia belum puas melepas rindu.

Acara syukuran hari itu dimulai, hari dimana peresmian dilakukan untuk menyambut hadirnya keluarga baru mereka. Lee Byul Hee, sosok bayi mungil yang cantik jelita, anak dari buah pernikahan antara Lee Donghae dan Im Yoona.

Para tamu yang terdiri dari keluarga – keluarga mereka telah memenuhi sofa yang diatur melingkar. Para hadirin itu termasuk Choi Sooyoung dan Nyonya Kim. Mereka berdua menyempatkan diri untuk berkunjung setelah Yoona mengundang mereka secara langsung.

“Sekarang ini proritas utamaku adalah mereka berdua, istri dan anakku.” Ujar Donghae berdiri dihadapan seluruh tamu yang hadir. Donghae merangkul Yoona yang tengah menggendong Byul Hee. Untunglah anak itu tertidur beberapa saat lalu setelah Yoona memberinya ASI. Donghae lalu tersenyum menatap istrinya itu sebelum melanjutkan, “Meski pun banyak rintangan yang kami hadapi sebelum ini tapi selalu ada jalan tersendiri bagi kami untuk menghadapi rintangan itu. Aku selalu berdoa semoga disepanjang perjalanan ini, kebahagiaan selalu datang bersama orang – orang yang bersabar, siapa pun itu temasuk kalian semua.” Donghae mengakhiri kalimatnya, tampak wajah – wajah dihadapan mereka tersanjung oleh kalimat itu.

“Dan khusus untukmu…” Donghae menatap Yoona, perempuan itu terkejut. Yoona mulai  was – was ketika membayangkan tingkah Donghae yang bisa saja membuatnya malu dihadapan orang banyak.

“Yoona-ya…”

Orang – orang mulai tertawa dan berteriak, Yoona paling bisa menandai suara Hyorin yang bersiul – siul tidak jelas.

“Berjanjilah kepadaku, kita akan membesarkan Byul Hee sampai tua…”

Yoona tidak bisa menyembunyikan air matanya, entah kenapa akhir- akhir ini perasaannya begitu sensitive apalagi jika  sudah menyangkut soal Donghae dan Byul Hee.

Yoona menatap  kedalam mata Donghae lalu menjawab disertai anggukan, “Tentu Oppa, aku bersedia.”

Donghae mencium kening Yoona dan membuat suasana kian memanas akibat kegaduhan tamu – tamu itu. Sementara Donghae tidak terlalu memperdulikannya. Ia sibuk menyusuri mata Yoona yang kelihatannya berembun. Donghae tersenyum lalu beranjak menghapus jejak air mata disepanjang wajah perempuan itu.

Menatap wajah Byul Hee yang tertidur damai dalam gendongan Yoona, Donghae membasuh pipi montok anak itu dengan ibu jarinya. Mata Byul Hee sepertinya punya kemiripan dengan mata Yoona. Jelunjuk Donghae lalu megusap bibir Byul Hee, entah bagaimana Ia merasa bibir itu mirip dengan bibirnya.

Donghae mengecup kening  Byul Hee. Bayi kecil itu tiba – tiba menggeliat ketika merasakan kecupan Donghae. Suara tangisannya sedikit demi sedikit mulai terdengar hingga semakin lama tangisan itu mengeras. Yoona dengan telaten menimang – nimang bayi itu. Padahal selama ini Yoona tidak begitu menyukai anak kecil. Kehadiran Byul Hee seolah mantra yang dengan mudah membangkitkan nalurinya.

Nyonya Lee mengambil alih Byul Hee dan membiarkan Yoona dan Donghae berdua tanpa gangguan. Sementara para tamu yang hadir mulai menikmati hidangan yang disajikan. Beberapa dari mereka asyik mengobrol satu sama lain.

Donghae sempat berpapasan dengan Eunhyuk. Ini pertama kalinya mereka bertemu dan entah bagaimana obrolan mereka tentang dunia entertainment korea, sepak bola atau apa pun itu dengan mudah menemukan kecocokan seolah mereka teman lama. Donghae tidak lupa mengingatkan Eunhyuk soal keganasan Jessica yang sontak membuat perempuan itu tidak terima.

Sekian lama  menyapa para tamu, Donghae kehiangan jejak Yoona. Donghae menyapu pandangannya kesekitar, matanya tidak berhenti mengindentifikasi wajah orang – orang yang ditemuinya. Yoona bukan salah satu dari mereka atau bisa dibilang Yoona tidak berada didalam ruangan. Padahal beberapa saat lalu Donghae melihatnya sedang mengobrol dengan Appanya. Sekarang Yoona menghilang. Donghae baru saja menyapa ayah mertuanya itu dan sang mertua malah bertanya balik mengenai keberadaan Yoona.

Donghae memikirkan sebuah tempat.  Dugaan lelaki itu tidak melenceng, tampak Yoona berdiri disana. Nyatanya Perempuan itu berdiri menyusuri pemandangan dari balkon rumah. Donghae menghampiri dan memeluknya dari belakang.

“Kenapa malah kabur dari acara di lantai bawah?” Donghae berbisik ditelinga Yoona, menghirup wangi tubuh perempuan itu yang bertabur sepoi angin dari arah berlawanan.

“Aku tidak kabur.”  Nada bantahan Yoona terdengar, perempuan itu tampak berpikir, “Aku hanya ingin menenangkan diri dan berpikir mengenai semua ini.”

Donghae  menengok wajah Yoona penasaran, “Sesuatu mengganggumu?”

“Tidak apa – apa… hanya ingin sendiri.”

“Sekarang kau tidak lagi sendiri,  ingat?”

“Ara.”

“Jadi?”

Yoona membebaskan dirinya dari pelukan Donghae, lantas kedua tangannya berkalung diseputar leher lelaki itu. Lengkungan bulan sabit mencuat dari bibirnya, Senyum sumringah Yoona bertahan beberapa lama hingga perempuan berseru, “Aku tidak apa – apa. Jangan hawatir. Aku hanya perlu sendiri untuk memahami betapa beruntungnya hidupku memiliki kalian semua disisiku. Aku punya Ayah dan dua pasang orang tua lain yang menyayangiku, teman – teman yang membantuku keluar dari masalah, aku punya Krystal, adik perempuanku dan… Kau… khususnya Lee Donghae  yang menjadi temanku, sahabatku, suamiku dan semuanya yang kubutuhan ada didalam sosok dirimu. Dan sekarang kita punya Byul Hee, bukankah itu menyenangkan?”

Tarikan dikedua sudut bibir Yoona memacu Donghae menyatukan lengkungan bibir mereka. Hembusan napas mereka saling menyentuh, bersahut sahutan dan berhembus kedalam tubuh masing – masing. Donghae menggali bibir Yoona lebih dalam dari sebelumnya. Menyusup kedalam rongga Yoona dan membiarkan kehangatan lidahnya menyentuh tiap incinya, Donghae terus mendesak Yoona. Yoona memeluk erat pinggang Donghae ketika memutuskan untuk saling membalas permainan lelaki itu.

Mereka berdua terpenjara oleh perasaan yang menguap didalam tubuh, membiarkan para tamu dibawah sana sibuk dengan urusannya sementara mereka berdua sibuk disini bagaikan lupa dengan waktu yang terus berjalan.

Usai hari itu berganti menuju kenangan berikutnya, seorang lelaki telah merangkumkan ini khusus untuknya,  untuk seorang wanita yang mengalami perjalanan pelik dalam hidupnya juga, seorang wanita yang membuatnya berpikir untuk mencintai dan melindunginya seumur hidup…

Bersiap – siaplah karena setelah ini perubahan besar akan terjadi, kesendirian itu akan terhapus dari jejak perjalananmu.

Menoleh kebelakang, dia selalu berdiri disana, saat badai menerpa, saat pelangi berbinar dilangit,  dia akan setia menemani. Waktu terus berputar meninggalkan masa lalu dan melewati masa depan yang melaju begitu pesatnya dan mengubah banyak hal, tapi bisakah kau mempercayai sesuatu? Bisa kau percaya ini :  Dia tidak akan mengubah cara pandangnya dalam mencintaimu sebaik – baiknya mencintai. Dia mempersembahkan seluruh hidupnya untuk menjagamu, mendedikasikan seluruh angka didalam pusaran waktu hanya untuk tinggal disisimu. menjadi sahabat terbaik, Dia disini, menampung gelisah yang mengusikmu, membiarkan bahunya tegak berdiri untuk menyanggah kepalamu yang rapuh. Dia akan menjamin bahwa kau akan merasa aman dibawah perlindungannya.

Akulah orang itu,  Lee Donghae, teman hidupmu…

Selamanya.

…… The End ……

Akhirnya selesai juga FF ini hufttt

Meski pun lama aku tetap lanjutin kok hehehehe mungkin karena terlalu lama jadi kadang kehilangan Feel buat nulis tapi aku usahain kok tetap iklas hahaha (?) apalagi di FF ini pas banget sama kejadian si mantan settingan itu (?) yang buat aku benar2 down di beberapa bagian tapi sudahlah toh mereka sudah berakhirr ><

Semoga suka dengan ceritanya ^^

See u Nextt byeeee❤

 YH marry You My Best Friend

50 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 17 – End )

  1. ririez berkata:

    yeay, happy ending..
    tak terasa setelah melalui kerasnya kehidupan, yoonhae akhirnya bahagia dan mendapatkan putri yg cantik..
    eunhyuk dan sica cocok nih kayaknya..

  2. Limhyelim berkata:

    yeayyy finally ending ff ini di post juga. Senangnya akhirnya happy ending 😍 kagum bgt sm eomma nya hae karena sudah menjadi mertua yg sangat pengertian 😊 Terimakasih eonnie sudah mau melanjutkan ff nya, ku tunggu karyamu yg selanjutny eon. fighting 😊

  3. Nabilla Prashanti berkata:

    Kereen ff nya eon, akhir nya happy ending juga.. seneng deh baca ff nya. Romantis bnhey yoonhae nya eon.. daebak deh ff ini . Di tnggu ff yoonhae yg lain eon

  4. aprill berkata:

    akhirnya happy ending jg..tp entah knp feelnya krng dapet ya eon..mgkn krn ffnya dah lama..hehe
    udah 2 ff eon yg end..bkin baru lg dong ^^

  5. ina gomez berkata:

    Akhirnya yoonhae kmbli bersma n hdup bhgia pa lg setelh byul hee lhir lngkp sdh kluarga kcil mreka.
    Setelah perjlan sulit yg yoona alami ahirnya dia skrg bs bhgia bersma kluarga kcilnya.
    Ngakak bcanya pas lht yoona nynyi bt goda hae.efek babynya bnr2 lucu hehe

  6. Vaniza Rianie berkata:

    Yeee Happy end !!!! Gak tau harus koment kaya gimana lagi yang jelas ini seruuuu dan bagus walaupun agak aneh sama sikap Yoona pasca hamil dia joget-joget ,nyayi-nyayi kek gitu ..aku tau nya dari awal kan dia pendiem yang takut gitu tapi setelah hamil jadi gitu😀 haha antara lucu dan geli sih bacanya .
    Oke lah ,di tunggu ff lainnya lagi un ^^

  7. tryarista w berkata:

    akhirnya yoonhae happy ending,,,,setelah merrka melalui masalah2 yg bnar2 pelik kni saatnya mereka bhagia ,,,,dan selmat yoonhae pnya baby,,,,,
    dam srmuanya ikut merasakan kebhagian yoonhae,,,,,
    yoona beruntung bgt memiliki,suami,keluarga,temen yg sangat menyayanginya dan slu ada

  8. saki730 berkata:

    sudah berapa lama nih ff? hahaha😄 대박!!! Keren bnget, senyum2 mulu hehe.. akhirny ending juga, bkalan kngen sama nih ff,, jngan prnh d hapus yah beb, biar bbrpa tahun kdepan aku msih bisa menikmati ff ini i love u nana,, terus berkarya

  9. NonnieLast berkata:

    Finally… Ending juga…

    puas deh dengan endingnya. Yoonhae Happy ever after..

    Fighting Thor (y)… teruslah membuat karya yang selalu menarik dan disukai banyak orang (y)

  10. Aisyadewi c'hyunmin loverz berkata:

    akhirnya YoonHae hidup bahagia bersama keluarganya , setelah bgitu bnyak rintangan mereka jalani ..
    oke unnie , ditunggu ff lainnya ..

  11. Januar berkata:

    Sikap donghae sweet bgt. Salah satunya wktu ngajak ngobrol anak mereka biar yoona bisa makan, sweet bgt. Nyonya lee jg sayang bgt ke yoona. Yoona udh mulai membuka diri. Suka ceritanya eon. Like like. Happy ending!!!! Ditunggu cerita lainnya, fighting!!!!!

  12. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    yoonhae bikin iri, romantis banget yoonanya jadi manja sama donghae kalau lagi hamil, aigo waktu yoona nari-nari nggak jelas itu eommanya donghae sama krystal liat nggak yah yoona malu banget tuh haha.
    yoonhae selalu saling melengkapi dan saling cinta selamanya.
    endnya keren, lucu bikin senyum-senyum bacanya.

  13. YH Lulu berkata:

    akhirnya happy ending..
    makasih thor udah selesaiin ff nya^^
    yoonhae so sweet bgt..
    ditunggu thor ff yh lainnya🙂

  14. nissa berkata:

    yahh udah end yaa.. hhmm yoonhae so sweet bgt, seneng kalo akhirnya bahagia hehe.. ditunggu ff selanjutnya ya thor

  15. Tyanengsih berkata:

    Yeyyyy…..happy ending….good job thor cerita mu keren semua….puas bacanya….oke deh jadi ga sabar pengen baca ff yoonhae mu yg lain yg jelas yg lebih seruuuu,menegangkan,romantis dan hot……

  16. ida ziiosay berkata:

    Ah senengnya kaya berasa nyata so sweet banget yoona beruntung dapetin donghae begitupun sebaliknya donghae bagaikan malaikat tanpa sayap haha setelah banyak masalah yang mereka hadapi kebahagian menghampiri juga dtambah hadirnya anak tercinta ah so sweet makin harmonis dah bang badai sudah berlalu
    Daebak lah next dtnggu chap slanjutnya
    #fighting

  17. utusiiyoonaddict berkata:

    finally happy end,
    tp unn mgkin trllu lama d lnjut kali yaah jd sdikit lupa jg ada bbrapa paragraf yg gak ada feel na unn, tp overall ini story ok badai aku menikmati d setiam chapter na,
    aku tunggu epep mu yg lain na yaaa, fighting Na unni. #kisshug jauh

  18. chalistasaqila berkata:

    Yeayyyyy
    Prokk prokkkk Prokk.
    Akhirnya selesai jugaaaaaaaa….. Akhh, nie FF langgeng jga yachh.
    Tpii aq salut sma perjuangan yoonhae.. Walaupun udh geregetannnnn jga sma Yoona..Wkwkwkk
    Eonn, aq tunggu project FF berikutnya

  19. lia861015 berkata:

    Finally happy ending ^^ walaupun masalah mereka rumit,mereka bisa melewati masalah tersebut🙂 pokoknya salut deh sama perjuangan yoonhae menghadapi masalah2 tersebut ^^

  20. afika berkata:

    Ya ampun setelah perjalanan panjang akhirnya mereka bahagia juga..lega deh rasanya..bikin ff yoonhae yg lain lagi ya thor

  21. sintayoonhae berkata:

    yeeaayy Happy ending ever after asseeekk…. uuhh akhir.a ff ini end jg udh lama bgt ya thor ya… tpi mlah gk mau end dehhh uhhuhu…. kata2 terakhir.a bgus bgt feel.a dpet bgt… Top bgtz thor… dtggu karya2 ff author lain.a gomawo fighting😀

  22. Nha elna berkata:

    Aissh,dongek sweet bgt,kata2’y itu lhoo,ehh salah dik,author’y yg pinter merangkai kata bikin merinding..hihi.
    maaf unn,aku baru komen d.part terakhir,abis aku nemu ini udh end aja..hehe.gomawo

  23. sulistiowati_06 berkata:

    seneng akhirnya happy ending. ternyata ibunya donghae bener2 pengertian sama yoona walaupun yoina ngecewain. finally keluarga shin dapet balasan yang setimpal. bener2 keren banget chingu storynya. yoonhae jjang. gomawo buat storynya

  24. han ji bin berkata:

    akhir’a mrk bsa merasakan apa itu kebahagian yg seutuh’a
    smph chingu perjalanan hidup yoong dah sprti di dramkor aja tpi bnran bgsss
    ff buatan mu itu selalu berasa hidup, qta merasa bkn membaca tpi menonton
    trs bikin ff yoonhae yah chingu
    gomawo

  25. Hunyoong berkata:

    Seneng banget happy endang wkwkw kayanya yoona lucu banget kalo lg goda donghae. Keep writing yoonhae ya Thor. Karena kasian pyross krisis momen yoonhae

  26. irma nytha berkata:

    Mereka berdua tuh emang cocok bget buat jadi teman, sahabat dan terutama jdi pasangan kekasih / hidup.

    Tulisan kamu bener” hidup mbak /? nasya.
    Makasih dan tetap semangat nulis ff yoonhae lainnya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s