FF SooWon – From This Moment On [ Part 5 ]

from this moment on

Title : From This Moment On

Cast : SNSD Sooyoung, Super Junior Siwon

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance

~Happy Reading ~

Part 5

Setelah terbangun barusan, aku hanya duduk diam diatas ranjang.  Pikiranku mengapung diantara kejadian malam itu. Ingatan terakhir yang menyangkut dikepalaku adalah saat aku menangis didalam dekapan Siwon lalu setelah itu tidak ada lagi yang bisa kuingat, seluruh kejadian yang terjadi hilang begitu saja dari ingatanku.

Penglihatanku yang samar jatuh kearah jam dinding yang menggantung. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Bagaikan diketuk palu, seluruh ingatan itu bertubi – tubi menghantam kepalaku. Aku mengumpat pada diriku sendiri, jadi apakah semalam aku ketiduran?

Pandanganku menyapu keseluruh sudut ruangan, aku menengok kekanan dan kekiri tapi Siwon sudah menghilang dari sampingku. Dengan langkah sedikit limbung kuputuskan untuk melangkah keluar mencari Siwon, dan benar saja Siwon tidak pergi kemana – mana. Ia masih ada disini, aku memang belum menemukan sosoknya namun begitu masih bisa menangkap suaranya yang mengalun disekujur telingaku. Suaranya menggema samar – samar dari arah ruang tamu. Aku mengernyit, menebak sepertinya dia sedang berrbicara dengan seseorang. Seseorang, apakah itu keluarganya? Atau… Buru – buru aku berlari ke-ruang tamu ketika anggapan – anggapan itu menggerayangi pikiranku.

“Aku akan membawa Sooyoung pergi dari sini, dia  harus bertemu Eommanya.”

Tubuhku membatu dibalik tembok ketika membuktikan sendiri bahwa anggapanku benar. Jadi seseorang yang datang itu adalah Kyuhyun. Kyuhyun berdiri melemparkan tatapan tajamnya kepada Siwon didekat daun pintu. Kyuhyun benar – benar menepati janji, tidak, menepati ancamannya ditelepon kemarin.

Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Siwon karena Ia berdiri memunggungiku yang jelas dari belakang aku menangkap rahang Siwon  mengeras, kedua tangannya sedikit mengepal.  Situasi seperti ini membuatku kalut. Aku takut mereka melakukan sesuatu diluar akal sehat, apalagi melihat bagaimana Kyuhyun menatap Siwon, wajahnya sungguh memancarkan amarah terpendam membuatku sulit bergerak.

“O-ppa.” Aku bergeser selangkah. Dengan ragu memperlihatkan batang hidungku pada mereka. Mereka berdua sama – sama menoleh kearahku. Tatapanku tidak bisa fokus kesatu arah. Antara Siwon dan Kyuhyun, aku juga bingung ‘Oppa’ siapa yang aku maksud diantara mereka, mungkin keduanya.

“Sooyoung.” Sorot mata Kyuhyun memancarkan kerinduan mendalam. Tanpa memperdulikan Siwon, Kyuhyun melangkah mendekatiku dengan wajah sumringah.

Dia memelukku, menelusupkan kepalanya diatas bahuku. Aku merasakan seketika rasa haru yang membuncah dalam tubuhnya. Pelukan yang erat sekali didepan Siwon.

Aku menepuk pelan punggungnya demi memberi sebuah ketenangan, Aku juga merindukan Kyuhyun, dia seperti kakak laki – laki yang selalu melindungiku, bukan hanya aku tapi juga Eomma dan Seohyun. Aku menyukai ketika ada seseorang yang menyambut kehadiranku dengan begitu dalam, hanya saja  aku hawatir Kyuhyun tidak bisa mengendalikan perasaannya. Aku takut Kyuhyun akan memperlakukanku lebih ini atau mendekapku  lebih dari sekedar pelukan rindu. Aku tidak ingin kejadian yang menjadi kehawatiranku terjadi karena hal – hal seperti itu justru akan semakin membuatku canggung didepan Siwon.

“Sooyoung apa kau baik – baik saja?  Apa selama ini kau makan dengan baik ?” Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatapku. Jemarinya menyingkirkan tungkai – tungkai rambut yang menutupi wajahku lalu Ia berbicara dengan rendah dan tajam, “Aku berusaha mencarimu kemana – mana, tapi tidak ada yang mengetahui keberadaanmu, kecuali keluarganya yang sengaja menyembunyikan dimana kau tinggal sekarang. Bahkan Eommamu tidak tahu.”

Kyuhyun meyakinkanku sekali lagi dengan matanya yang  dipenuhi berjuta kata, “Sooyoung, sekarang kau mengerti kan, betapa marahnya aku pada mereka ? Keluarga Choi Siwon pernah datang ke rumahmu. Mereka memohon – mohon pada Eomma agar memberikan restunya. Aku sudah mendengar semua. Mereka memohon agar Siwon diberi kesempatan untuk bersamamu.”

Kalimat Kyuhyun yang bertubi – tubi membuatku tertohok. Memang wajar jika keluarga Siwon mengetahui hubungan kami tapi aku tidak menyangka kalau mereka datang kerumahku dan memohon – mohon seperti itu.

“Aku bertanya kepada mereka tentang keberadaanmu tapi mereka menolak untuk memberitahu.” Kyuhyun mengguncang bahuku pelan. Aku rasa dia menyadari bahwa pikiranku sedang  tidak berfokus padanya.

“Setelah kejadian itu Eommamu jatuh sakit, kau tahu dia terus memanggil namamu setiap malam Sooyoung.”

“M-mwo?”

Lisanku tidak sanggup untuk berbicara lebih jauh. Ternyata benar kalau Eomma sedang sakit. Eomma bisa melakukan apa saja agar aku menjauh dari Siwon namun kalau sudah seperti ini ceritanya, tidak ada lagi yang bisa Eomma lakukan. Sudah sewajarnya hal ini memicu alasan kenapa Eomma jatuh sakit. Jadi itukah sebabnya? Itukah sebabnya Seohyun sangat marah kemarin?

“Jadi kumohon ikutlah denganku sekarang.” Pangkas Kyuhyun. Ia mengakhiri cerita panjangnya itu dengan wajah sendu.

Apakah semua adalah kesalahan ? Aku akan kembali kepada Eomma dan aku juga tidak akan melepas Siwon.  Aku pergi dengan sembunyi – sembunyi karena tidak ingin Eomma semakin tersakiti melihatku dan Siwon bersatu. Eomma bukan orang yang mudah menyerah apalagi sebelum janur kuning terpasang, Beliau tidak pernah menyukai Siwon, dengan alasan bahwa Siwon bukanlah lelaki yang bertanggung jawab karena Ia kabur begitu saja tanpa kabar ke Jepang, dibanding sosok Kyuhyun yang selalu ada disamping kami. Padahal Siwon pergi bukan karena Ia tidak peduli padaku namun sebaliknya, Siwon pergi karena sebuah alasan. Alasan agar Ia bisa menjalani hidup dengan normal di Seoul bersama orang – orang yang menyayanginya.

 “Sooyoung kita tidak  perlu membuang – buang waktu disini , kaja.”

Suara Kyuhyun kembali memecah situasi. Aku menatapnya linglung. Tanpa menunggu jawabanku, Kyuhyun lantas membenahi rambutku yang berantakan. Lalu merapikan bajuku yang kusut. Ia segera menarik tanganku. Sementara kulihat Siwon membatu ditempatnya. Dia tidak menahanku sama sekali. Kami sudah berbicara mengenai kemungkinan bahwa aku akan meninggalkannya, semalam. Aku tahu Siwon sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menerima kepergianku.

Mianhae.

………….

Aku terus mencerna kejadian mengenai apa yang terjadi dalam hidupku. Dimulai saat pertama kali aku menyaksikan purnama yang tampak kesepian, malam itu Siwon kembali hadir dalam hidupku dan memancing  sebuah perdebatan antara aku dan Eomma. Aku memutuskan untuk keluar dari rumah, awalnya sekedar ingin menakut – nakuti Eomma agar tidak lagi berbicara semena – mena tentang hidupku, namun takdir berkata lain…

Aku bertemu Siwon ditengah jalan. Seketika paru – paruku menyesak. Tanpa kuduga, Siwon mengajakku kesebuah gereja dan mengucapkan sebuah permohonan yang membuatku berpikir kalau dia sudah gila. Tetapi lebih dari itu, Siwon mengaku kalau dia sedang sekarat, saat itu aku merasa dunia terbelah dua, namun dunia kembali menyatu ketika aku merasakan sebuah keyakinan yang menguatkanku, bahwa Siwon punya kesungguhan dibalik matanya bahwa Ia akan membahagiakanku sampai akhir. Dan kami menikah. Sampai saat ini aku masih berpikir, mungkin bukan dia yang gila tapi kami… Kami menjadi dua orang gila yang tergila – gila satu sama lain.

“Eomma pasti senang sekali melihatmu.” Kyuhyun membuka pembicaraan. Aku menoleh padanya dengan setengah kesadaranku. Aku mengamati keadaan disekitarku. Rupanya aku sedang duduk didalam mobil Kyuhyun. Dari bangku kemudi Kyuhyun tersenyum kepadaku sebelum Ia memasang sealbelt kursinya, “Seohyun juga merindukanmu, meski pun sikapnya seperti itu —“

“Oppa.” Panggilku mengiterupsi.

Kyuhyun menoleh dengan alis terangkat. Aku menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sudah kuputuskan untuk membuang istilah tersakiti dari dalam hatiku. Tidak ada pilihan dalam hal ini dan tidak ada yang perlu ditinggalkan, karena mereka berdua berharga bahkan Kyuhyun dan Seohyun. Aku pergi untuk kembali, bukan pergi untuk selama – lamanya. Jadi tidak seharusnya aku seperti ini. Meski semalam  kami sudah berbicara mengenai kepergianku menemui Eomma, aku mestinya harus bersikap wajar  pada Siwon. Jika seperti ini caraku pergi, aku seperti menunjukkan padanya bahwa aku tidak akan pernah kembali.

“Bolehkah aku… Bolehkah aku menemui Siwon sebentar?” tanyaku ragu – ragu awalnya sebelum aku memilih yakin pada tindakanku.

“Kau sudah tinggal berhari – hari dengannya.” Terselip nada tidak terima didalam jawabannya, namun intonasi suaranya terbilang normal.

Wajahku mengerut dengan gelisah, “Tapi ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya, tadi aku tidak sempat mengatakan sesuatu karena tiba – tiba Oppa menarik tanganku.”

Kyuhyun tampak berpikir, Tatapan mata itu seolah mengintrogasiku. Rasa cemas menghampiri ketika tidak ada jawaban darinya.

“Baiklah.” Putus Kyuhyun tidak lama kemudian, “Tapi jangan lama – lama, aku akan menunggumu disini.”

“Gomawo.” Aku tersenyum senang. Didalam kepalaku lantas tersusun wajah Siwon. Baru beberapa langkah jauh darinya, kerinduan itu lolos begitu saja dan meledak – ledak didalam dadaku. Rindu, perasaan yang  begitu menyiksa namun aku menyukainya.

Berpaling menembus jendela kaca, pandanganku jatuh mengikuti pergerakan matahari diangkasa. Begitu lama kupandangi, aku terkunci diantara alam bawah sadarku sendiri, hingga  kusadari bahwa  rupanya aku terlanjur hanyut ditengah pertanyaan batin…

Apa benar begitu? Apa aku bisa menjadi langit untuknya?

………..

Setengah berlari aku berhambur ke tempat dimana Siwon berada, rumah kami. Dengan tidak sabaran aku menerobos daun pintu. Kosong. Aku tidak menemukan Siwon di ruang tamu. Mungkin ada ditempat lain.

Kemudian langkahku berayun ke- ruang tengah. Disana aku juga tidak menemukannya. Perlahan – lahan lengkungan halus yang tercipta diwajahku menghilang sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya lenyap ketika aku tidak menemukannya di semua kamar bahkan dimana – mana.

Aku menyapu pandanganku. Aku tidak merasakan kehadiran Siwon di rumah ini, bahkan aku tidak bisa menghirup wangi tubuhnya yang familiar dalam penciumanku. Dia benar – benar tidak ada disini, lalu dimana?

Pikiran – pikiran aneh menghantam kepalaku, mungkinkah?

“Yak ulangi sekali lagi apa yang kau katakan, HAH?!” Suara gaduh tertangkap samar – samar ditelingaku. Kyuhyun… aku yakin itu suara Kyuhyun, lalu dengan siapa?  Tidak ada orang lain disini kecuali Aku, Kyuhyun dan… Siwon?! Keringat dingin menetes tiba – tiba dan perutku langsung keram. Sekelebat wajah Kyuhyun yang penuh amarah bertebaran dikepalaku. Sontak aku  bergegas mengikuti suara dimana kegaduhan itu berasal. Tidak salah lagi, rupanya segala kekisruhan yang terjadi bersumber dari pekarangan rumah.

“Sooyoung membosankan, kupikir dia gadis tomboy, rupanya dia sangat melankolis dan cengeng.”

~DEG~

Baru kali ini aku merasa tubuhku seolah dibanting kedasar bumi. Jantungku rasanya remuk menjadi serpihan – serpihan debu yang berterbangan. Aku bergeleng menepis segala yang menghantam gendang telingaku. Dia bukan Siwon. Siwon bukan lelaki seperti itu, aku percaya padanya. Dia pasti bercanda.

“Yak apa maksudmu berkata seperti itu setelah semua yang kau lakukan padanya?! Kau sudah menghancurkan hidup seorang gadis?!” Kyuhyun membentak dengan intonasi yang membuat tubuhku gemetaran. Aku tidak ingin mereka kenapa – kenapa. Terlebih sekarang Kyuhyun sepertinya mulai tidak terkendali. Ia membenturkan tubuh Siwon kesisi dinding rumah dan menarik kerah bajunya secara paksa.

Aku mendekati mereka dengan sisa – sisa tenaga yang kupunya. Hendak melerai bagaimana pun caranya, tapi apa daya… raut wajah Siwon yang memandang sinis kearahku, membuat segalanya kembali hancur. Angan – angan indah didalam kepalaku tentangnya seketika musnah.

“Menghancurkan? Apa pernikahan konyol ini menghancurkan hidupnya?” Siwon mendecih disela kata – katanya yang sungguh menyakitkan. Pernikahan Konyol?  Jadi itukah anggapannya mengenai pernikahan itu?

Aku tahu Siwon tidak sungguh – sungguh mengatakannya, tapi tidak seharusnya dia berkata sampai sejauh itu.

Sempat melirik kearahku dia memasang ekspresi menjatuhkan dan menatap lagi kearah lelaki yang penuh murka dihadapannya, “Kau pikir ini semua salahku? Pernikahan itu juga tidak terjadi kalau Sooyoung tidak menyetujuinya tapi lihat, bukankah dia gampangan sekali? Bahkan dalam semalam dia langsung bersedia kunikahi.”

“Persetan dengan pernikahan ! selama ini dia setia menunggumu?! Dan inikah balasannya?” Kyuhyun tidak terima, nyaris saja kepalan tangannya mendarat diwajah Siwon, kalau saja aku tidak memekik kencang.

 “Salah siapa kalau dia menungguku? Memangnya aku menyuruhnya?” Siwon balik menantang. Seketika jutaan Kristal meledak – ledak dipermukaan mataku. Aku tidak sanggup menahan mereka lebih lama dari ini.  Jujur  tubuhku mati rasa dan  aku tidak tahu apalagi yang bisa kulakukan selain menangis.

Siwon tersenyum remeh lalu melanjutkan kata – katanya yang membunuhku pelan – pelan, “Kubilang padamu, Sooyoung sangat melankolis dan sensitive karena itulah dia mudah sekali diperdaya oleh lelaki kau harus tahu itu—”

“Tutup mulutmu! Kau ini benar – benar—“

Untuk kesekian kali Kyuhyun nyaris menghantam wajah Siwon dengan tinjunya. Seketika aku beranjak dengan pikiran kalut yang tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa berpikir lama Kedua tanganku mengalung dari belakang diseputar lengan Kyuhyun. Aku menarik tubuhnya mundur. Cukup sulit melakukannya karena Kyuhyun sedikit berontak. Kutelusupkan wajahku diatas bahunya lalu memohon padanya dengan suara gemetar bahwa Ia harus menghentikan ini semua. Aku tidak suka kekerasan seperti ini, meskipun aku tahu kalau Siwon sudah keterlaluan.

Siwon merapikan kemejanya yang kusut,  “Benar – benar apa?”  lelaki itu memajukan wajahnya sengit. Ia tertawa sinis ketika tak menerima tanggapan dari kami. Baik aku dan Kyuhyun berdiri tanpa suara dengan pikiran masing – masing.

“Apa kau semurah itu pada semua laki – laki Sooyoung?”

“Yak—“ Kyuhyun kembali menarik kemeja Siwon. Rahangnya mengeras dengan gemeretak gigi yang terdengar jelas. Tatapan Kyuhyun berapi – api sementara Siwon melirik sinis kearahku.

 “Kemarahanmu sangat berlebihan Kyuhyun-ssi, atau  jangan  – jangan kau tertarik padanya?”

Dan kali ini pertanyaan  Siwon membuat Kyuhyun tidak berkutik. Lelaki itu kehilangan kata – katannya telak.

Tidak mendengar jawaban apa pun Siwon terkekeh, “Ya sudah kalau kau  tertarik  ambil saja, aku tidak membutuhkannya lagi.”

“Mwo?” Kyuhyun bergumam kesal. Aku ikut tertegun  bersamanya.

“Aku juga sudah bosan bermain – main dengannya.”

Tubuh Siwon lantas tersungkur kebelakang. Kyuhyun mendorongnya dengan penuh emosi, tanpa membuang – buang waktu Kyuhyun melangkah mendakatinya. Kepalan tinjunya terangkat tinggi  – tinggi, tertahan diudara sebelum  akhirnya melayang dan Bug !

“Kyuhyun Oppa hentikan ?!”

“Dasar berandal tengik tidak tahu diri ?!”

Membeku ditempat, aku hanya berdiri mematung. Gerakan lelaki itu terlampau cepat  hingga aku tidak bisa menggapainya. Kyuhyun berhasil mendaratkan satu lagi pukulannya kewajah Siwon. Sebelum pukulan kedua melayang, aku bergegas menarik Kyuhyun dari belakang, melingkarkan kedua tanganku diseputaran lengannya lalu  memohon – mohon lewat tangisanku yang semakin menggila.

Kyuhyun berontak gelisah, aku tidak perduli dan terus berusaha menahannya sampai dia tenang. Ketika aku berhasil membangun tatapanku dimatanya, Kyuhyun terdiam setengah kesal membalas tatapanku.

“Jangan berbuat ceroboh ! Kalau tidak suka melihat Siwon  kau boleh pergi. Semua yang terjadi adalah salahku, ya semua salahku ! kau tidak perlu membelaku bahkan mengikutiku sampai disini ?!”

Hembusan napas Kyuhyun berantakan. Sekesal apa pun  lelaki itu harus menekan segala emosinya,  paling tidak demi aku, juga demi kebaikannya. Kalau Siwon kenapa – napa, kejadian ini akan semakin runyam.

“Aku disini karena aku  menghawatirkanmu Sooyoung-ah?! Aku takut bajingan ini menyakitimu ?! Dan lihatlah aku benar kan?! Dia  benar – benar bajingan yang menghancurkan hidupmu, kau tau itu , huh?!” Kyuhyun mengguncang bahuku. Tiba – tiba kepalaku terasa berdenyut. Pikiranku rasanya buntu.  Kejadian ini  terlalu mendadak dan juga rumit, aku tidak tahu lagi harus bagaimana.

“Ne arasseo, arasseo, aku bisa mengerti kenapa kau marah sekali padanya.”  Jelasku berusaha berbicara setenang mungkin, “Aku juga merasa hidupku sudah hancur jadi—“ Kesesakan luar biasa menahan ucapanku. Berusaha mengesampingkan rasa kecewa yang membelenggu, aku memohon padanya.

“Jadi biarkan aku menyelesaian urusanku sendiri denganya, mungkin ini yang terakhir kali. Jebal.” Dari balik mata berair aku menatap wajah Kyuhyun yang perlahan  melunak. Melihatnya aku sedikit lega. Kyuhyun menghela napas pasrah. Wajahnya berpaling membiarkanku mendekati Siwon. Kulihat lelaki itu terduduk lemas diatas tanah.  Dari gerakan tubuh dia seperti kehabisan tenaga, namun ekspresi wajahnya  tidak berkata begitu. Siwon terkekeh selagi menerawang sesuatu. Ia menyeringai puas  lalu menekuk  wajahnya.

“Jadi seperti ini yang kau inginkan?” Aku memaksa tubuhku untuk berdiri didepannya. Aku berharap Siwon menarik semua kata – katanya karena  kepercayaan itu masih tersisa untuknya. Selain jawaban pengingkaran aku tidak sudi mendengar Siwon berkata sebaliknya.

Tanganku terkepal kuat, kutelan semua napas kekecewaan itu,“Semua yang kau katakan, apa itu benar?” bibirku yang kelu membuka ragu hingga suaraku bergetar diujungnya. Sial.  Secara tidak sadar aku menunjukkan kelemahanku disaat aku mencoba tegar didepannya.

“Apa kau ingin mendengarnya sekali lagi, Sooyoung-ssi ?” dia tersenyum miring. Sudah kuduga.

Hela napasku tertiup keubun – ubun. Kesalahan terbesarku Ialah  memasang ekspektasi  yang lebih kepadanya, “Baiklah tidak perlu…” putusku sepihak.

Aku merasa ini seperti mimpi, bertemu dengannya adalah kesalahan. Diakhir cerita aku hanya sanggup meratapi diriku sendiri. Dan disaat kondisiku rancu,  Kejadian masa lalu mengawang tanpa arah, berputar – putar hingga membuat  fokus pandanganku mengabur, “Apakah kita sedang bermain drama? Kenapa aku merasa seperti itu…” Bahkan disaat seperti ini air mataku meluncur tiba – tiba.

Sekali hempas, aku menyeka bulir – bulir bening yang menimpa wajahku. Bodoh, fakta seperti itulah yang nampak. Sejujurnya tidak sepantasnya aku menagis,“Kau pikir aku sedang menangis karena sedih? Tidak, aku menagis karena terlalu  bahagia. Aku bahagia  karena Tuhan bersedia menunjukkannya padaku, fakta mengenai seberapa mengerikannya dirimu.”

 Aku mengangguk, membenarkan dan menghibur diri sendiri. Cukup satu hal yang bersimbah dikepalaku, bahwa selama ini segala yang kulakukan adalah percuma. Tidak ada yang bisa kusimpulkan kecuali satu hal,  “Melakukan pernikahan konyol dengan  gadis membosankan,  pastinya semua itu menyiksamu.” Ucapku mempertajam intonasi. Siwon mendongak dan menghentikan kekehannya yang menjatuhkan itu.

“Jadi baiklah sesuai permintaanmu, kita akhiri semuanya disini.” Putusku lalu berjongkok menatapnya yang terpaku,  “Mulai sekarang aku tidak akan bertingkah seperti gadis bodoh lagi karena menunggumu tanpa perintah. Kau pergi itu tidak masalah bagiku toh  aku punya Kyuhyun Oppa. Dia lebih menyayangiku. Jadi haruskah aku membalas perasaanya?  Hmm kau bisa Lihat saja nanti, kalau tidak mau ya sudah.”

Siwon menatapku tanpa kedipan mata, kali ini ekspresi  wajahnya jauh berbeda dibanding beberapa saat lalu.

“Jadi,  Apakah ada yang ingin kau sampaikan padaku? Paling tidak sebelum aku pergi dan melupakan mimpi buruk ini.”

Lagi – lagi dia tidak menjawab. Aku tidak heran. Lelaki itu sudah banyak bicara dari tadi, wajar saja kalau sekarang jadi bisu. Melihatnya seperti ini,  Aku  menjadi ragu, apa dia benar – benar sekarat? Kalau saja aku tidak bertemu Choi Imo,  aku tidak akan percaya sama – sekali dengan pengakuannya itu.

“Jadi tidak ada?”

“Ani—”

“Tapi aku ada.” Cetusku memotongnya. Sebelum berbicara aku menarik napas  dalam, “Gomawo untuk sandiwaranya, aku berharap ini yang  terakhir kalinya aku bertemu dengan manusia sejahat dirimu—”

Memicing dan berhenti. Aku  kehilangan kata  – kata juga kemampuanku untuk mencerna apa yang terjadi selanjutnya. Fokus mataku beralih tiba – tiba. Sesuatu yang pekat mengalihkan suasana. Dalam sekejap mata  pandanganku tertuju kearah lubang pernapasannya…

Aku ragu, jadi inikah sebabnya? Perlahan jemariku menyeka cairan merah yang meleleh dari hidungnya. Siwon menepis gerakan tanganku begitu saja. Tidak kusangka – sangka Ia memeluk tubuhku, erat sekali.

“Sooyoung, jebal.”

Tubuhku merinding mendengar bisikannya. Hembusan angin yang menerpa, menghunus dan memporak – porandakan rambutku tak urung membuatnya beranjak.

 “Bencilah  aku sebisamu, kau juga boleh melupakanku detik ini.  Sebisa mungkin hapus air matamu, aku tidak suka melihatnya. Tolong Jangan buat aku hawatir dengan air mata itu. Jangan menangis  karena kehilanganku, dengan begitu aku dapat melepasmu lebih mudah.  Tetaplah seperti ini dan biarkan aku pergi dengan tenang, Sooyoung.”

Hembusan napas bergetar, wangi tubuh itu juga degupan nyawa kepunyaannya, aku masih bisa merasakan bahwa mereka hidup. Siwon tidak akan pergi kemana – mana. Seluruh kata – katanya barusan, aku tidak akan percaya. Kehilangan? Melepas? Meninggalkan dan ditinggalkan, tidak ada hal seperti itu di dunia ini.  Dia tidak boleh menyerah begitu saja…

“Selamat tinggal Sooyoung-ah, Gomawo untuk waktu yang kau korbankan untukku. Saranghae.”

Tubuhku mati rasa. Harapan – harapan itu, kebahagiaan yang tertata diatas masa depan  kami musnah. Tidak ada lagi bayangan  – bayangan indah. Kosong. Nyawaku seolah terlepas dari jasadnya. Seketika pandanganku buram. Bunga – bunga cantik, rumah minimalis, halaman luas, mereka semua melebur entah kemana. Dunia menikamku searah dengan aku yang kehilangan tujuan itu. Tujuan untuk hidup bersamanya…

Udara sepoi menampar wajahku. Tuhan… kenapa harus dia, kenapa harus dia yang mengucapkan kata perpisahan lebih dulu. Aku belum siap melihatnya pergi dengan cara sepahit ini. Aku masih ingin bersamanya. Waktu kami terlalu singkat, hingga ini seperti mimpi. Aku akan melakukan apa pun termasuk menyerahkan seluruh sisa waktu yang kupunya, kalau saja bisa…

Aku menginginkan Siwon selamanya bersamaku. Tapi keinginan itu hanya candaan sampah yang tidak ada gunanya. Aku sudah tidak bisa merasakan tubuhnya disisiku. Hingga  kusadari bahwa Siwon berjalan menjauh. Aku menatap punggungnnya dengan nanar.

Tidak ! Aku tidak boleh membiarkannya pergi ! Siwon tidak harus besikap seolah akan mati detik ini…  Dia punya harapan untuk bertahan, sekecil apa pun aku tetap percaya. Dia tidak akan pergi kemana – mana…

“Oppa, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kumohon lakukan apa saja demi aku!”

Aku berteriak  kearahnya yang berjalan tertatih . Teriakan itu menguras seluruh energi dalam tubuhku, namun Siwon tidak kunjung berbalik bahkan untuk sekedar menatapku.

Bergegas aku mengejarnya. Didalam kepalaku tersusun daftar yang harus aku lakukan demi kehidupan yang nyaris hilang. Aku akan memaksa  Siwon untuk ikut bersamaku, bagaimana pun caranya dia harus melakukan perawatan agar tubuhnya pulih.

Ketika  jarak  kami kian terpangkas, aku menambah kecepatan langkah mengejarnya. Tanpa kusadari Kami  sudah  berjejer di depan pintu masuk rumah.  Secara paksa, aku membalik punggungnya dan…

#Brakk

Pintu dihadapaku terbanting keras. Tubuh Siwon menghilang dibaliknya. Aku terkersiap dengan tubuh bergetar kaku. Sekelebat wajah Siwon  terbayang – bayang didalam ingatanku. Sempat aku tidak bisa berkata – kata mencerna fakta yang terjadi kala aku melihat wajahnya. Wajah pucat pasi dan juga… tetesan merah itu berhamburan dari hidungnya. Tubuhku lemas seperti tidak bertulang. Ketika aku  nyaris runtuh seseorang menangkapku dari belakang.

“Sooyoung-ah, Gwencana?”

Bulir – bulir yang tidak terbendung dari mataku menjawab semua pertanyaannya. Kyuhyun pasti mengerti bahwa sungguh, aku tidak baik – baik saja sekarang.

Aku melempar tubuhku kepermukaan pintu, mengetuknya dengan sisa tenaga lalu berbicara meraung – raung seperti orang gila. Aku memohon padanya untuk membuka pintu, tapi Siwon tidak kunjung bereaksi.

“Yak Siwon ?! Jangan bertingkah bodoh?! Buka pintunya?! Siwon?!”  Kyuhyun Oppa menggedor – gedor pintu, wajahnya panik sama sepertiku. Bahkan ketika pintu itu seperti nyaris roboh karena gedorannya, Siwon bergeming.

“Jung  Siwon kutakan padamu, kalau dalam tiga detik pintunya tidak terbuka, aku akan mendobraknya?!”

Belum sampai tiga detik ancaman itu berlalu, ketukan dari dalam hadir kepermukaan. Sepercik harapan menyejukkan hatiku. Meskipun pintu itu belum membuka, aku tetap lega paling tidak Siwon meresponnya.

 “Kenapa kau seperti ini? Aku bajingan Sooyoung, bajingan yang selama ini menipumu.”

Aku terduduk lemas didepan pintu, selagi menempelkan telingaku dipermukaannya, aku menyanggah dengan parau, “Kau bukan bajingan Oppa, Kau pria baik.”

“Ani. Aku tidak ada apa – apanya dibandingkan dia.” Samar samar jawaban Siwon menggema dari dalam. Aku kesal karena tidak bisa menatap matanya saat berbicara. Pintu dihadapanku sungguh menghalangi. Dan apa katanya tadi? Tidak, dia salah. Choi Siwon pria terbaik yang pernah kutemui.

“Melihat Kyuhyun memperlakukanmu, aku meresa buruk dibandingkan dengannya.” Kutangkap nada kecewa dari suaranya. Aku bertanya – tanya dalam hati, Apa sikapku dan Kyuhyun berlebihan? Apa sikapku menyakitinya hingga Siwon berpikir seperti itu?

“Dia kelihatan sangat menyayangimu.”

“Tapi kau juga menyayangiku—“

“Itu berbeda.” Potongnya tiba – tiba, “Dengarkan dulu.”

Aku berusaha menguatkan diriku sendiri mendengar apa yang selanjutnya Ia katakan. Mungkin hal buruk atau sejenisnya, lagi.  Baru sebagian air mata yang sanggup kuhentika, masih ada sebagian lagi yang tersisa dan aku tidak bersedia menambahnya.

“Awalnya aku berpikir untuk memilikimu sepenuhnya. Tapi melihat bagaimana Kyuhyun menghawatirkanmu, aku berpikir lagi,  kau akan lebih aman bersamanya dibanding aku.”

Tidak ada jawaban dari bibirku karena suaraku tertahan oleh kesesakanku sendiri.

“Apa kau juga merasa demikian? Ya sepertinya begitu.”  Siwon terus saja berbicara. Aku mendengarkannya, mempertajam suaraku sendiri karena suranya semakin rendah. Aku tidak tahu apa yang terjadi didalam sana…

 “Tolong katakan padanya bahwa aku sangat berterimakasih. Gomawo sudah melindungi Choi Sooyoung selama aku tidak ada.”

Aku bergeleng tidak percaya. Kenapa dia bodoh sekali? Aku sudah mengatakannya berkali – kali. Ia tidak akan pergi kemana – mana.

 “Dan juga untukmu… “ Ia berbicara lagi.  Aku tidak bisa mendengarnya sejelas beberapa saat lalu, Suara Siwon nyaris hilang terbawa angin. Aku mengetuk pintu beberapa kali setelahnya membekap bibirku sendiri, sebisanya  mencegah agar tidak  berteriak, mengeluarkan isakan – isakan pilu atau sesuatu yang dapat menghalagi pendengaranku…

“Gomawo telah bersedia menemaniku selama ini.“

“O-oppa…” Gumamku dengan pikiran kalut.

“Selamat tinggal, Sooyoung,”

…………… TBC ……………….

One thought on “FF SooWon – From This Moment On [ Part 5 ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s