FF SooWon – From This Moment On [ Part 4 ]

from this moment on

Title : From This Moment On

Cast : SNSD Sooyoung, Super Junior Siwon

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance

~Happy Reading ~

Part 4

Berlama – lama didalam kesendirian, aku kesepian tanpanya, disini kami hanya tinggal  berdua didalam satu atap yang luas, hanya kami berdua dan aku tidak suka sendiri. Jadi jalan satu – satunya adalah memaafkan Siwon. Mungkin masalah ini sungguh berat baginya sehingga dia hilang kendali. Ini juga salahku, aku merasa bersalah karena berkata bahwa aku akan meninggalkannya hingga Siwon bertambah depresi, aku mengerti. Tidak seharusnya aku berkata sekejam itu. Tetapi jauh didalam lubuk hatiku, aku menyukai Siwon ketika dia berkata bahwa satu – satunya yang Ia percayai sekarang adalah aku. Terselip rasa bangga ketika dia mengatakannya. Aku merasa seperti wanita paling istimewa yang hidup di dunia ini.

Dari arah belakang, aku berjalan menghampiri Siwon, kutemukan dia sedang duduk tergeletak di ruang tengah. Persis didepan layar televisi aku menyaksikan bagaimana jemarinya menekan berbagai tombol dengan lincah. Fokus pandangannya tidak pernah lepas dari layar kaca. Didalam layar tampak dua mahluk animasi, yang satunya mirip seperti petarung sedangkan satunya lagi adalah monster yang menyeramkan. Aku bisa langsung menebaknya, pastilah Siwon tengah berada didalam misi melawan monster itu melalui remote control yang dipegangnya.

Aku menduduki tempat disampingnya. Tidak ada kata – kata yang berkeliaran hanya saja mataku terpaku oleh kedua tangan Siwon, jemarinya menekan tombol – tombol itu dengan tidak terkendali bahkan aku tidak mengerti alur pergerakannya. Aku rasa Siwon mengesampingkan otaknya kali ini karena sang petarung didalam layar sudah babak belur karena serangan monster. Siwon kalah dalam pertarungan itu, bukan hanya sekali tetapi berkali – kali.

Tidak biasanya.

Kusandarkan kepalaku dibahunya. Tiba – tiba hening, bunyi ricuh tombol menghilang. Kelihatannya Siwon menyambutku dengan kegugupan luar biasa. Sudah lama sejak jemarinya berhenti menari diatas tombol, dia masih terpaku. Kini hanya tersisa bunyi hentakan – hentakan keras dari layar televisi.

“Sooyoung—“

“Sttt.” Telunjukku menginterupsi bibirnya. Aku tidak mau mendengar apa yang dia ucapkan, aku tahu ini menyangkut kejadian beberapa saat lalu.

“Kalau kau ingin membahas masalah tadi, kumohon hentikan.”

Siwon terdiam untuk beberapa saat, aku menautkan daguku di sela bahunya dan menyalurkan sebuah dekapan dari belakang, “Anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi.”

“Dan mengenai kata – kataku—“ semua akan kembali seperti semula. Berusaha mengutakan hati, aku tersenyum getir,

“Lupakan.”

Tatapan Siwon terjun kebawah bersama wajah sesalnya, suara bergetar itu mengingatkanku bahwa betapa rapuhnya dia, “Aku berbuat kasar padamu, aku menyakitimu Sooyoung.”

“Aku tahu lagipula itu sudah berlalu, aku baik – baik saja sekarang.”

Dari ekspresi wajahnya, Siwon tampak membantah ucapkanku, “Tapi tidak seharusnya aku seperti itu.”

“Kalau begitu poppo.” Aku terkesiap, melepaskan rangkulanku dipundaknya, sengaja menatap yakin agar Ia tahu bahwa aku bersungguh – sungguh, “Aku ingin menyaksikan sendiri bagaimana seharusnya kau melakukannya.”

Aku memejamkan kedua mataku sengaja memancingnya.  Namun kenyataan tidak sesuai harapan.  Tidak ada ciuman seperti dalam ekspektasiku. Siwon mengerahkan jemarinya untuk mencapit bibirku lalu menariknya kedepan,  Lantas Ia dengan gampangnya terkekeh ketika aku mengaduh dan mengomel tidak jelas. Dia benar – benar pria menyebalkan.

“Aishh kau ini benar – benar yadong, kenapa malah sempat – sempatnya berpikir begitu?” Siwon tak juga melepas bibirku, Ia berbicara seperti guru yang sedang menceramahi muridnya.

Aku menyingkirkan tangannya, lalu memberengut kesal. Bukannya merasa bersalah, Siwon malah tertawa.

“Kemana perginya jiwa romantismu itu, hah?!” aku bersungut – sungut, daguku menjulang  seperti menantangnya. Dan apa dia bilang barusan, aku? Yadong?!

“Yak dengar ya Siwon-ssi, aku sedang mencoba mengembalikan kesadaranmu hmpp—“

~Chu~

Kepalaku ditarik paksa olehnya. Aku tidak bisa menghindar lagi karena perbuatannya sungguh tiba – tiba. Siwon menyesap bibirku semakin dalam hingga aku sesak napas. Pertemuan yang mengejutkan itu berakhir dengan senyuman dibibirnya.

Kesadaranku belum juga pulih, samar – samar aku mendengar Siwon berbicara sesuatu, “Sekarang ayo temani aku main game.”

“Hah?” Mungkin wajahku kini seperti orang bodoh dengan mulut menganga. Bagaimana tidak, belum sempat aku mendamaikan jantungku yang berantakan kerena ulahnya, Siwon memerintah begitu saja.

Lagi pula aku tidak pandai main game. Sejak kecil aku terbiasa bermain dengan teman – temanku diluar rumah, atau kalau pun didalam rumah, aku lebih sering memainkan benda – benda nyata, aku hanya memainkan game sesekali, itu pun kalau memang sedang musimnya (trend).

Siwon memberiku sebuah remote control. Aku menatap masing – masing tombolnya. Sebelum aku membantah permintaannya, Siwon lebih dulu menekan tombol start pada layar televisi.

“Sekarang kita harus bekerja sama melawan musuh, kau mengerti ?” katanya dengan pandangan lurus kearah layar. Sedangkan aku masih menatap jemariku yang tidak kunjung bergerak.

Permainan pun dimulai, aku sedikit gugup karena kemampuanku yang payah. Dan benar saja. Dengan mudahnya aku terkena perangkap musuh lalu Siwon akan datang menyelamatkanku. Tampak disana  aku disandra oleh para penjahat lalu Siwon akan menukar hampir seluruh nyawanya untuk menyelamatkanku hingga tersisa satu nyawa yang utuh, namun begitu Ia selalu berhasil mempertahankan satu nyawa itu ketimbang aku yang punya bertumpuk – tumpuk nyawa namun membuat Siwon kewalahan karena terjatuh atau hampir terkena tembakan musuh. Hingga akhirnya aku tewas kehabisan banyak nyawa karena harus berjuang sendiri setelah Siwon  tewas karena kebodohanku.  Kejadian seperti itu berpuluh kali terjadi, bahkan bertubi – tubi. Kami tidak pernah menang karena kesalahan yang aku buat, namun begitu Siwon berkata bahwa Ia menyukainya karena akulah yang menjadi pasangannya dalam permainan itu. Lalu Ia berkata bahwa ‘aku akan melindungi pasanganku seperti didalam game.

Kehangatan menyerbu wajahku. Padang rumput didalam hati seolah dilumuri hujan. Kali ini kepustusanku bulat bahwa aku suka bermain game. Selama itu bersama Siwon aku rasa tidak apa – apa dikepung terus – menerus oleh musuh. Kahadirannya memudarkan ketakutanku. Aku tidak lagi merasa panik ketika jatuh dari tiang, karena Siwon akan menangkapku.  Tidak akan berteriak histeris ketika tertimpa bom Molotov, kerena Siwon akan  selalu berdiri didepanku. Aku menyukainya pasti, aku mengagumi segala upaya Siwon untuk melindungiku meski pada akhirnya kami harus berakhir ditangan musuh.

Dan karena alasan itu, Aku bersedia  menemani Siwon bermain game sampai malam.

…………

“Eommamu lebih penting Sooyoung-ah ! Setiap hari dia mencarimu asal kau tahu.”

“Sekarang kau pilih Siwon atau Eommamu !

Ingatanku memutar ulang bagaimana Kyuhyun mengucapkannya. Aku tahu dia tidak main – main. Apalagi mengingat  kondisi Eomma yang sedang sakit, aku yakin Kyuhyun sudah memikirkan strategi untuk menyeretku pulang. Tinggal menunggu hitungan jam sebelum Ia muncul dihadapanku. Dan hingga kini belum  ada keputusan apapun yang membuatku yakin. Aku tidak mungkin meninggalkan Siwon dalam kondisi seperti ini, Ia bisa kambuh sewaktu – waktu disisi lain aku hawatir dengan kondisi Eomma. Aku ingin melihat sosoknya secara langsung. Memaksa Siwon untuk ikut bersamaku, kupikir itu mustahil, tapi… Mungkin aku bisa membujuknya pelan – pelan. Akan kucoba nanti.

Berkali – kali aku mendorong diriku sendiri untuk percaya, pasti ada jalan keluar untuk semua masalah ini. Aku mencoba tenang memikirkan jalan yang terbaik, namun rasanya kini seperti dikejar – kejar hantu. Sudah satu jam lamanya mataku sulit terpejam, aku mencoba menerobos alam bawah sadarku tapi selalu gagal. Ketakutan bahwa hidupku tidak akan tenang lagi usai malam ini berganti membuatku gelisah.  Keringat dingin membanjiri tubuhku tanpa henti apalagi  ketika menangkap detakan jarum jam yang berisik disetiap detiknya. Rasanya aku ingin menghancurkan benda itu.

“Hei belum tidur?” tanyanya ditengah gelap namun begitu aku cukup bisa menerka wajahnya. Siwon yang tadinya berbaring memunggungiku  mungkin saja ikut  merasakan kegelisahanku hingga Ia membalik tubuhnya agar posisi kami berhadapan.

Siwon menyingkirkan tungkai – tungkai rambut yang menutupi wajahku, Ia membelai pipiku cukup lama hingga akhirnya buka suara, “Apa yang kau pikirkan, hmm?”

“Tidak ada.” Jawabku berbohong. Sesungguhnya banyak. Lantas aku menutupinya dengan alasan, “Hanya tidak bisa tidur entah kenapa.” Kali ini aku tidak sepenuhnya berbohong, aku memang sulit memejamkan mata padahal aku ingin sekali melakukannya dan  melupakan semua masalahku, meski hanya sebentar.

Siwon beranjak lalu bersidekap, “Aku juga sama sepertimu, tidak bisa tidur entah kenapa, tapi bukankah hal ini menarik?”

“Huh?” Dahiku berkerut bingung, entah Siwon bisa melihatnya atau tidak ditengah kondisi tanpa penerangan seperti ini.

Mula – mula Siwon mendekapku lalu berkata, “itu artinya kita bisa menikmati malam yang panjang.”

“Malam panjang?”

“Ya malam yang panjang sekali…” Dari nada bicaranya Siwon seperti tengah menerawang sesuatu. Aku tidak tahu apa yang ia maksud sebagai malam yang panjang, tidak pula berniat menanggapinya. Aku lebih suka memejamkan mata ketika telingaku menempel didadanya, seperti sekarang. Aku terdiam menikmati detak jantungnya yang merayap ditelingaku. Sejenak aku merasa dunia baik – baik saja seperti memaksaku untuk berkata bahwa tidak ada yang perlu kuhawatirkan, rasanya menenangkan sekali. Lantas pandanganku mulai berputar – putar, kelihatannya aku akan jatuh tertidur sebentar lagi.

Sebelum itu terjadi Siwon malah mengacaukan segalanya, Ia menarik tubuhku begitu saja membuatku terkejut setengah mati. Ia merangkul pundakku lebih dulu. Ketika aku berbalik hendak memprotes dia menciumi kedua pipiku tanpa permisi lalu mengutarakan sebuah alasan. Karena sama – sama terjaga, Ia ingin mengajakku keluar rumah. Awalnya sedikit ragu namun aku tetap mengikutinya. Siwon mengajakku kesebuah gudang  terlebih dahulu untuk mengambil peralatan dan perlengkapan, aku  bingung menatapnya. Lalu kebingunganku tidak bertahan lama ketika langkah kami berhenti di tengah pekarangan rumah. Siwon menjatuhkan seluruh perkap yang diambilnya dari gudang, lantas Ia mulai mempreteli masing – masing alat dan bahan, salah satunya adalah tikar . Aku mulai mengerti maksud Siwon mengajakku kemari.

Tidak lama kemudian kami sudah duduk ditengah pekarangan  rumah  dengan  api unggun yang menyala.  Kedua tanganku beradu mencari kehangatan. Kutatap Siwon juga melakukan hal yang sama denganku.

“Tunggu sebentar.” Katanya sebelum bangkit dan berlalu. Aku mengangguk menatap kepergiannya.

Selagi mengisi kesendirian, aku mendongak keangkasa, kutemukan banyak rasi disana, aku terkagum – kagum oleh bintang warna – warni yang tidak ada di seoul. Aku menyukai suasana dimalam hari, aku suka menghubung – hubungkan bintang diangkasa. Malam akhir pekan ketika orang – orang sibuk berkencan, aku selalu duduk dibawah rembulan tanpa mengenal waktu bahkan termenung  sampai pagi menunggu bintang – bintang itu menghilang. Aku tidak peduli jika keesokan harinya jatuh mengigil. Eomma selalu memprotes hobby anehku itu. Makanya Eomma selalu memaksaku berkencan dengan Kyuhyun. Lama – kelamaan Eomma semakin berharap dengan kedekatan kami namun harapannya itu berakhir tragis, aku tidak bisa menganggap Kyuhyun lebih dari sahabat, sungguh…

Siwon mendarat disampingku. Buru – buru aku menukar ekspresi wajahku yang agaknya terlihat murung. Aku menatapnya dengan seluruh perhatian yang kumiliki.

Aku tidak terkejut menemukan Siwon muncul dengan sebuah gitar ditangannya. Dia memang selalu membawa alat musik itu kemana – mana.

“Kali ini lagu apa yang ingin kau nyanyikan ?” Tanyaku membuka topik perbincangan diantara kami. Seluruh anggapanku lantas dibantahnya.

“Tidak, bukan sebuah lagu.”

“Lalu?”

“Sooyoung dengarkan aku.” Pintanya selagi merenung,  “Ini pertama kalinya aku  berbicara sesuatu dengan  petikan gitar yang kumainkan.”

Aku mulai penasaran, Kalau bukan menyanyi lalu apa?

“Baiklah apa pun itu, aku akan mendengarkanmu.” Ucapku seraya menujukkan padanya bahwa aku sudah memasang telingaku baik – baik.

“Gomawo.”

Senyumnya merekah padaku. Sesungguhnya Siwon tidak perlu berterima kasih. Itu sudah jadi tugasku untuk mendengarnya setiap saat.

Siwon termenung sejenak. Beberapa saat kemudian, Ia tersenyum dengan mata yang bercahaya, menatapku hingga membatu seperti patung. Tangannya bergerak perlahan, Ia memejamkan mata seiring  jemarinya muai menari diatas senar. Satu persatu petikan indah mengalun hingga tergabung menjadi sebuah instrument yang menenangkan.

Sempurna, satu kata lebih dari cukup untuk menggambarkan perasaanku sekarang…

Karena dia, seorang wanita yang saat ini menatapku,

Angin sejuk tiba – tiba melalut tubuhku. Tidak ada orang lain disini yang menatapnya selain, aku?

Ya kaulah orangnya.

Ia megaskan lewat tatapannya yang menerawang sejuta makna. Bahwa akulah satu – satunya. Kebahagiaan tak terhingga  memancar lewat mataku yang menghangat. Nyaris aku dibutakan oleh keharuan yang berkaca – kaca.

 Aku tidak akan membuatmu terhanyut oleh lagu yang aku nyanyikan tetapi, aku ingin membuatmu tenggelam oleh kisah kita.

Kisah sederhana ini memang bukan apa – apa, tapi sangat penting bagiku..

Aku menatapnya penuh minat ketika Siwon  beralih meminkan instrument dari lagu favoritku. Ia terus melantunkan kalimat dengan background lagu itu membuatku tersentuh.

Dipenghujung sebuah pencarian, kita dipertemukan oleh takdir.  Aku  menemukanmu, menyentuhmu, menjangkaumu  dengan segala upaya untuk membahagiakanmu.

Detak jantung kian  beradu, tepakan langkah melaju diatas pusaran waktu yang menipis.

Ketika kau menangis aku bersedia menjadi air matamu

Kau bersedih aku akan menjadi sandaranmu.

Sampai terluka aku akan menjadi penawarmu

Setiap waktu akan  selalu tertanam doa untukmu

Hingga tibalah  bahagiamu  aku akan lahir  sebagai tawa yang tersungging dibibirmu.

Lalu apakah semua kan tetap seperti ini? Apakah kita akan bahagia sampai diakhir cerita? Tapi bukankah seharusnya hidup berakhir bahagia?

Kenyataannya adalah,

Aku merasa dunia baik – baik saja selama disampingmu, lalu pernahkah kau mendengarnya, mendengar bahwa cinta bisa merubah apa pun.

Merubah orang sakit menjadi sehat, merubah  benda mati menjadi hidup, merubah gulita menjadi cahaya, merubah derita menjadi anugrah, merubah debu menjadi salju, serta merubah keterbatasan menjadi segala – galanya.

Lemparkanlah seseorang yang sedang jatuh cinta ditengah pulau terpencil ,maka dia akan mempersembahkan kepadamu sebuah istana. Sebaliknya kurunglah seseorang yang sedang patah hati  diantara tumpukan roti maka tidak lama kemudian Ia akan mati kelaparan.

Ditubuhkan waktu  lama untuk menyadari bahwa seseorang itu adalah separuh jiwamu, namun aku tidak membutuhkannya untuk menyadari bahwa; aku mempercayaimu sebagai pesinggah terakhirku, dengan segenap jiwa.

Terima kasih atas waktu yang berharga untukku meski aku tidak bisa membalasnya dengan waktu yang lebih panjang.

Tertanda cinta yang bersemayam dihatimu,  untuk wanita tercantik di dunia ini, Choi Sooyoung.

Senyum dibibirnya merekah padaku. Kali ini sepoi angin membisikkan sesuatu padaku bahwa dia benar – benar manis. Aku bertepuk tangan sebagai hadiah dari persembahannya yang menakjubkan, paling tidak dimataku.

“Saranghae.” Ujarku dengan tulus. Aku tidak perlu Siwon berbicara lebih dulu, selama masih diberi kesempatan, aku berjanji akan mengucapkannya sebanyak yang aku bisa.

Siwon menatapku bimbang. Ia mengesampingkan gitar dari pangkuannya kemudian  beranjak membelai sisi wajahku.  Aku tertegun Karena rupanya  tetesan hangat tiba – tiba meleleh dari mataku. Siwon menghapusnya perlahan – lahan hingga mengering meskipun tidak pernah benar – benar kering.  Menyakinkan diri sendiri untuk tidak menangis namun semakin jauh Siwon menyeka wajahku maka semakin banyak pula bulir – bulir yang tidak terbendung.

“Nadoo, nado nado saranghae.” Balasnya berkali – kali seraya mengangkat wajahku, seolah ingin menghitung berapa tetes lagi air mata yang akan kujatuhkan.

Dia menarikku kedalam pelukannya. Lantas aku menghempaskan tubuhku kedalam sana. Hembusan napas kelegaan tercipta dari senyum dibibirnya dan menyambutku dengan hangat.

“Mianhae karena terlalu ingin memilikimu aku tidak memikirkan perasaanmu.”  Bisiknya disela – sela bahuku. Siwon tidak perlu minta maaf. Aku seperti ini karena pilihanku sendiri dan aku bahagia bersamanya, meski sebagai manusia biasa aku ingin punya kisah yang wajar, dimana mereka juga ada disampingku. Selain cintaku saat ini aku juga menginginkan kasih mereka.

 “Tidakkah kau merindukan keluargamu?” Tanyanya tiba – tiba. Aku memundurkan wajahku dan menatapnya ragu. Apakah aku salah dengar? Bagaimana mungkin ia mengetahuinya? Mungkin aura wajahku berubah drastis dan dia langsung  membacanya  Atau Siwon memang belum tahu soal ini, namun dia berpikir sama dengan kebanyakan orang. Semua orang akan berpikir sama, bukan? Aku sudah lama berpisah dari mereka semenjak aku menikah. Wajar jika kerinduan itu membuatku gelisah. Dan Siwon, aku tidak bisa menutupi apa pun darinya. Sekali lagi kami hanya tinggal berdua dan itu membuat perhatian Siwon hanya berfokus kepadaku.

Aku mengangguk tanpa berkata – kata. Wajahku berkerut – kerut menahan tangis, bahkan penglihatanku sudah mengabur. Samar – samar aku menangkap senyuman Siwon, hanya sebatas garis kecil yang menghilang dengan cepat. Tangannya terangkat membelai puncak kepalaku.

 “Sebenarnya siang tadi aku menelpon Eomma, Seohyun dan Kyuhyun.” Aku mengaku diahadapannya dengan air mata  yang menetes – netes. Sesungguhnya aku merasa bersalah karena melakukan hal itu tanpa izin.

“Yak Berapa usiamu sekarang? kenapa kau tidak bisa berhenti menangis, Huh?” Siwon kembali menghapus air mataku dengan kesepuluh jemarinya. Ia tersenyum dengan ekspresi jenaka lalu  berteriak – teriak lewat tatapannya bahwa aku sangat cengeng.

“Sekarang  ceritakan  padaku apa yang mereka katakan…” Kedua tangannya memangku dengan arah bersilang, Ia menatapku penuh minat antara menyelidiki dan mendengarkan.

Aku menarik napas, tenggorokanku sudah dipenuhi lendir bahkan  bernapas pun sulit. Kondisiku terlalu rancu untuk bercerita panjang. Kejadian bermula ketika aku mematung dan tidak sanggup berkata – kata mendengar suara Eomma ditelepon  kemudian disusul Seohyun yang mengusirku secara terang – terangan, tidak sampai disitu, Kyuhyun berbicara dengan ancamannya yang  tiba – tiba dan  membuatku gelisah sepanjang hari,  dari keseluruhan, mereka punya kesamaan yaitu menutup panggilanku secara sepihak tanpa meluangkan waktu untuk mendengar penjelasanku lebih dulu. Sudah pasti cerita ini terlalu bertele – tele, lagi pula aku tidak ingin membuat Siwon hawatir jadi aku menyingkatnya,  “Eomma  sedang sakit, lalu Kyuhyun bilang akan menjemputku besok mianhae ini terlalu mendadak..” dan benar saja suaraku sengau.

“Ya sudah temuilah Eommamu  kalian pasti saling merindukan.” Siwon tersenyum menanggapinya.

Aku menatapnya bingung, “Tapi bagaimana denganmu—“

“Gwencana aku ingin tetap disini.”

“Oppa—“ bantahku dengan nyalang.

Siwon meraih kedua tanganku, mengenggamnya erat, “Aku baik – baik saja, asal kau berjanji akan kembali.”

Aku bergeleng tidak percaya. Semua orang menghawatirkannya, tapi Siwon sungguh keras kepala. Dia kelihatannya tidak mau mendengarkan orang – orang termasuk aku. Sebagai manusia normal Siwon pasti merindukan keluarganya sepertiku, tatapan matanya berkata seperti itu. Tapi aku tahu dia berusaha meredam perasaannya sebagai manusia normal. Perasaan bersalah membuatnya jadi seperti itu. Ditambah lagi Siwon menganggap dirinya adalah beban, karena penyakit itu. Tapi seperti yang dia bilang sendiri, aku adalah satu – satunya orang yang ia percayai saat ini. Termasuk mempercayai untuk menanggung beban itu bersamanya, lalu haruskah aku pergi dari sisinya?

“Wae? Apa wajahku terlihat meragukan? Sudah kubilang aku akan baik – baik saja.” Siwon menjepit kedua pipiku dengan tangannya. Wajahnya tampak gemas, tapi aku sedang serius sekarang.  Beberapa detik berlalu, Siwon lantas menyingkirkan tangannya dengan wajah kecewa, tidak ada ekspresi yang bisa kutunjukkan padanya dan aku tahu Siwon bisa membaca situasi bahwa aku sedang tidak main – main.

“Oppa aku tahu kau—“

“Sooyoung.” Panggilnya dengan suara datar. Aku tahu Siwon menyadari keseriusan wajahku. Dan sepertinya dia tidak suka. Aku tidak peduli ekspresi wajahku mengganggunya atau apa. Yang kutahu, aku benar – benar ingin Siwon menggaris bawahi semuanya.

Sepasang mata itu membalas tatapanku tidak kalah serius,  “Tidakkah kau ingin mendengar permintaanku?”

“Apa?”

Siwon mendorong punggungku menuju dekapannya. Sensasi hangat mengalir bersama aliran darah yang meleleh didalam tubuh ini. Aku membatu tidak bisa berbuat apa – apa. Siwon seperti mengerahkan seluruh energinya agar aku tidak lepas kemana – mana. Dekapannya membuatku nyaris tidak bisa bernapas.

Berusaha lepas dari dekapannya,  Siwon justru menarik punggungku semakin dalam, hingga dekapan itu mengencang. Sekali lagi aku mencoba untuk keluar dari zona itu tapi gerakanku berhenti tiba – tiba.

“Meskipun kau tahu aku tidak baik – baik saja, bersikaplah seolah aku baik – baik saja. Aku merasa lebih baik jika kau seperti itu, dibanding sikapmu yang sekarang.” Siwon berbisik pelan, Suaranya membelai telingaku membuat tubuhku merinding.

Beberapa saat usai kesadaranku kembali, aku mencoba lepas dari dekapannya untuk kesekian kali. Tapi lagi – lagi Siwon berhasil membuatku terdiam.

“Aku tidak akan melepasmu.” Bisiknya lebih tegas dari sebelumnya,  bahkan saat ini bibirnya hampir menyentuh pipiku. Lantas mataku terpejam mendengar suaranya yang lagi – lagi membuat bulu kudukku meremang, “Aku tidak akan pernah melepasmu Sebelum kau setuju untuk kembali padaku.”

Sesungguhnya aku ingin Siwon terus mendekapku seperti ini, jadi aku membiarkan dekapan itu lebih lama menyelimuti tubuhku sebelum berkata, “Ya baiklah Aku… aku akan kembali.”

Siwon menapku setelah membebaskan tubuhku yang sepertinya tidak rela kalau dekapan itu berakhir, “Aku akan kembali percayalah.” Kataku sekali lagi. Sekarang semuanya akan baik – baik saja dimataku. Sesuai permintaan Siwon, aku  sepakat dengan tubuhku sendiri bahwa aku  akan melakukan apa saja sesuai permintaannya. Mungkin itu benar, Siwon akan baik – baik saja selama aku menganggapnya begitu.

Siwon tersenyum menanggapi, lalu mengelus kepalaku. “Oke kalau begitu pergilah temui Eommamu. Aku akan hidup demi menunggumu jika suatu saat kau kembali, aku akan tetap disini.”

Mendengarnya berkata seperti itu, aku merasa Siwon bisa mengatur hidupnya hingga ribuan tahun lagi. Aku seolah diajaknya terbang kelangit untuk melihat masa depan kami yang bahagia namun sekali lagi Siwon menghempaskanku kebumi.

“Tapi kalau pun aku sudah tidak ada, kau tidak usah hawatir.”

“Apa?”

“Kau tidak usah hawatir kalau aku tidak ada.”

Tanpa berkedip, mataku jatuh kedalam sinar wajahnya. Lelaki itu seperti menganggap sepele dengan apa yang baru saja keluar dari lisannya, entah kata – kata itu tercipta secara sadar atau tidak. Nyaris aku tidak bisa bergerak.  Tubuhku semakin membeku ditengah dinginnya malam. Aku tidak mau percaya bahwa inikah yang disebut pertanda? Tidak ! Aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Sadarlah Sooyoung-ah?!!

“Lihat keatas.” Suara Siwon menyadarkanku. Secara otomatis wajahku mendongak. Pandanganku langsung berpapasan dengan angkasa luas. Kutemukan pertama kali diatas sana,  ribuan bintang beserta satu – satunya bulan sabit ditengah mereka.

“Bisakah kau mendengarnya baik – baik ? mungkin ini akan menjadi kata – kataku yang terakhir.” Siwon menginterupsi. Termenung beberapa saat, Siwon kembali memangku gitarnya. Dahinya berkerut samar, hingga semakin lama tatapannya berubah tajam. Aku tidak berpikir bahwa Ia sedang  berada ditengah pertunjukan besar yang membutuhkan konsentrasi penuh, tapi Siwon seolah menganggapnya seperti itu.

Petikan instrument tercipta dari kesepuluh jemarinya. Melalui lantunan itu, dunia seperti berpihak padaku bahwa kami akan selamanya seperti ini. Satu persatu nada – nada indah menari dengan segala penekanan merdu. Aku jatuh kedalam nada jiwanya yang menenangkan perasaanku dalam sekejap, hingga aku tidak sanggup berpaling sedikitpun dari sosoknya.

Siwon memejamkan mata dan menarik napas ditengah permainannya, Ia mendongak dan menerawang keatas,  “Diangkasa luas, matahari tidak pernah bersembunyi  dan bintang  tidak pernah menghilang, kau tahu? Sesungguhnya mereka tetap disana, setia pada langit.”

Petikan lagu yang mengitari keheningan malam itu berhenti sejenak, lantas Siwon menyingkirkan gitar dari pangkuannya. Ia tersenyum lebih dulu sebelum akhirnya menatapku,  Jemarinya menyusup diantara sela jemariku lalu mengenggamnya.

“Sooyoung-ah, jadilah langit untukku.”

Pandanganku terkunci etah sampai kapan. Aku belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Ada apa dengan benda – benda angkasa yang tidak pernah bersembunyi? Apa mereka selalu setia pada langit? Lalu kalau memang begitu… Apakah aku harus menjadi langit itu… Langit yang selalu ditemani oleh benda – benda diangkasa terlihat atau tidak terlihat namun  sesungguhnya mereka selalu menjadi penjaga disetiap  sisi langit. Gelap atau terang, berkabut atau cerah… Mereka tidak pernah pergi bagaimana pun keadaan langit.

Tatapan Siwon mengisyaratkan sesuatu. Aku sedikit mengerti sekarang… Jadi apakah Siwon sedang meyakinkanku bahwa dia tidak akan bersembunyi dan menghilang, meskipun sudah tidak nampak, meskipun dia pergi entah kemana, Lalu benarkah itu? Aku akan selalu dihatinya…

Kalau saja aku punya kekuatan untuk membekukan air mata, aku tidak akan manangis didepannya,  tapi hidup didalam kenyataan membuat fakta menjadi sesakit ini. Lagi – lagi air mataku meleleh didepannya tanpa bisa kuhentikan. Aku tidak menunggu Siwon untuk menarikku kedalam dekapannya, kali ini aku sendiri yang memeluk Siwon seerat mungkin. Entah sampai kapan aku akan seperti ini. Mendekapnya seolah tidak ingin membiarkannya pergi sejengkalpun. Ya, aku belum siap kehilangannya.

Tuhan, bisakah Engkau untuk tidak merenggutnya dari sisiku?

Namun seandainya dia pergi, bersediakah Engkau membuatku tegar melepasnya?

…………. TBC ……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s