FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 16 )

marry u 2

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Happy Reading ^__^

Part 16

Berdiri dihadapannya kini rumah kokoh bertingkat dua dengan tembok yang didominasi warna biru keabuan. Sepanjang perjalanan Yoona berpikir mengenai keputusannya ini dan tibalah saatnya Ia memutuskan. Sekujur tubuh Yoona gemetaran sebab terlampau menahan sesak yang terlalu. Yoona mengenyahkan pikiran mengenai kenangan buruknya mengenai sang pemilik rumah. Yoona menghirup udara dengan rakus dan menghembuskannya kasar. Semua pasti akan baik – baik saja.

Langkah Yoona disambut oleh beberapa orang yang berlalu lalang sambil menatapnya, mereka didominasi oleh lelaki yang bepakaian compang – camping dan tidak terurus, sebagian lagi bergaya punk layaknya preman dipinggir jalan. Yoona membulatkan tekadnya. Pintu pagar tidak dikunci begitu pula dengan pintu masuk, namun salah satu penjaga menjegatnya, Yoona tahu ini pertama kalinya Ia mengunjungi tempat ini setelah sekian lama, jadi wajar jika beberapa orang mulai mencurigainya. Yoona menginjakkan kaki ditempat ini terakhir kali ketika sang ayah mengajak dirinya untuk meminjam uang selagi memikul harapan agar sang tuan rumah mengasihani mereka. Faktanya Tuan rumah itu tidak punya belas kasihan sama sekali.

“Aku ingin bertemu dengan Tuan Shin, apa dia didalam ? Kalau tidak ada aku akan menunggunya.” Tukas Yoona tanpa basa basi.

Penjaga itu mengangkat alis, “Tuan Shin ada didalam, kau harus meminta izin dulu dengannya kalau ingin bertemu.”

Yoona menghela napas, “Bilang saja pada tuanmu bahwa Im Yoona ingin bertemu.”

“Baiklah tunggu sebentar.”

Penjaga itu berbilik menembus pintu rumah. Lima menit kemudian Ia kembali dengan wajah datar. Yoona yang masih berdiri menatapnya dengan wajah menebak – nebak.

“Im Yoona, kau diizinkan masuk, mari biar ku-antar.” Tawarnya Yoona mengangguk. Ia mengikuti langkah menjaga itu memasuki rumah.  Yoona menoleh kedepan tanpa menatap sekitarnya. Hawa dingin rumah itu perlahan menyambutnya, sama halnya dengan pemilik rumah, suasana ruang didalam sana  kelam dan hampa.

Pijakan Yoona berhenti didepan sebuah pintu mahoni berwarna coklat pekat yang menjulang. Penjaga itu meraih kenop pintu memutarnya hingga membuka, tatapannya lalu mengarah kepada Yoona yang berdiri dibelakangnya.

“Masuklah.” Perintahnya. Yoona tersentak oleh suara si penjaga yang menggema seolah mereka sedang berdiri ditengah lorong.

Yoona menatap pintu dihadapannya yang setengah terbuka itu dengan ragu. Kedua kakinya membatu. Yoona memejamkan mata ketika debaran jantung didalam dadanya meronta tanpa perintah. Yoona beranjak dari pijakanya sedikit demi sedikit hingga sampailah kepada tujuan terakhirnya, berdiri dihadapan tuan Shin. Yoona mendelik kearah tuan Shin, Ia menelan ludah selagi  menahan  napasnya yang  memacu semakin gila.

Suara tepuk tangan menyambut kedatangan Yoona pertama kali, “Lihatlah siapa yang datang.” Tuan Shin duduk dibelakang meja memutar kursi kulit berodanya menghadap Yoona. Bibir yang kehitaman dan lebar itu menyeringai.

“Bukankah menarik ? Setelah sang ayah kabur sekarang anaknya yang datang.” Ia berujar, cara bicaranya terdengar sinis.

Yoona tertohok mendengar penuturannya, “A-apa? Kabur?”

Tuan Shin kembali menyeringai, “Apa kau sibuk dengan keluarga barumu? Ayahmu sudah kabur entah kemana, mungkin untuk menghindariku.” Terka Tuan Shin memajukan wajahnya mengamati Yoona yang berdiri kaku. “Tapi setidaknya Im Seulong masih punya seorang putri.”

Wajah Yoona berpaling. Rasa kesal dan tidak percaya menyatu didalam dadanya. Kabur? Bagaimana mungkin bisa seperti itu. Memang, Yoona mengakui bahwa akhir – akhir ini ia jarang menghubungi ayahnya. Pernah Yoona menghubunginya sekali namun kenyataan yang didengarnya kini berbanding terbalik. Ditelepon ayahnya mengatakan bahwa Ia baik – baik saja tidak terjadi apa pun. Yoona menyesal. Ia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri dan berbalik melupakan ayahnya sendiri.

“Nah jadi ada perlu apa? Kau ingin membayar hutang ayahmu?” tanya Tuan Shin. Yoona terketuk oleh suara tuan Shin. Sontak pandangannya bergeser. Tatapan Yoona berubah nyalang memikirkan pertanyaan Tuan Shin.

“Terserah anda mau berkata apa, yang sebenarnya kami sudah  tidak punya hutang !”

Tuan Shin tertawa menggelegar, “Ya ya memang setelah kuhitung – hitung hutang kalian sudah lunas, keluarga barumu  yang di Seoul itu sudah melunasinya tapi—“

Gigi lelaki baruh baya berwajah sangar itu menggeretak, “Ngomong – ngomong bunganya belum kalian lunasi, ingat bertambah 20 % setiap bulannya.”  Peringatnya diikuti sorot mata yang berubah dingin, “Waktu berjalan Im Yoona. Itu berarti hutang kalian semakin menumpuk.”

Yoona memejamkan mata beberapa saat ia mendongakkan wajah, “Baiklah aku akan melunasinya sekarang juga.”

“Benarkah?”

“Aku akan menyerahkan diri kepada kalian.”

“Oh menarik, setelah sekian lama aku menunggu – nunggu saat – saat seperti ini akhirnya tiba juga.”

Tuan Shin bangkit dari singgah sananya, Ia berjalan mendekati Yoona, lantas mengelilingi tubuh perempuan yang meskipun ketakutan diwajahnya kentara namun Ia tetap mencoba tenang. Tuan Shin terkekeh sembari menunggu sejauh mana keberanian Yoona bertahan.

“Seharusnya dari dulu kau melakukan ini Yoona.” Tuan Shin berdiri disamping Yoona, menatap dari samping wajah Yoona yang berusaha mengatur laju napasnya.

“Maka dari itu kuperingatkan anda untuk berhenti melibatkan keluarga Lee dalam masalah ini.” Yoona memalingkan wajahnya menatap Tuan Shin. Lelaki paruh baya itu tampak menimbang – nimbang tawaran Yoona. Beberapa detik berlalu Tuan Shin mengangguk.

“Oke, deal ‘bunga hutang’ ayahmu lunas.” Ia menghadap Yoona, menepuk bahunya tiga kali sebagai tanda persetujuan.

“Dan satu lagi.” Yoona membalik tubuhnya menghadap tuan Shin, “Beritahu anak anda untuk tidak mengganggu mereka.”

Tuan Shin menggeram, “Baiklah, anak bodoh itu biar aku yang menanganinya.”

Yoona terdiam dengan tatapan kosongnya. Yoona bahkan tidak menganggap nyawanya sendiri, Ia merasa tidak punya kehidupan.

 “Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang cantik? Hmm?”

“Sekarang aku sudah berada dihadapanmu jadi terserahmu saja.” Tukas Yoona.

“Apa ya?” Tuan Shin menyeringai selagi berpikir. Tangan kanannya terangkat membelai rambut Yoona seolah perempuan itu ialah peliharaan kesayangannya.

“Dulu posisi ayahmu sedang terdesak dan kulihat kau punya sesuatu untuk dimanfaatkan.  Terlalu banyak pertimbangan sampai aku kebingungan sendiri,  kau harusnya diapakan. ” Tuan Shin tidak lagi membelai, telapaknya berhenti menangkup puncak kepala Yoona.

“Parasmu sangat menguntungkan bagi bisnisku disisi lain anakku tergila – gila padamu.” Bebernya mengamati wajah Yoona yang datar tanpa ekspresi, “Aku mengalah pada anakku meskipun keinginanku untuk memanfaatkan tubuhmu didalam bisnis malam yang menguntungkan ini beberapa kali terbersit didalam pikiranku. Aku harus mengesampingkannya dan memilih menikahkanmu dengan anakku.”

Yoona merasakan udara memenuhi tenggorokannya ketika membayangkan kenyataan itu. Yoona ingin marah namun tidak tahu kepada siapa. Yoona ingin menyalahkan ayahnya, kenapa ayahnya harus berhubungan dengan keluarga mafia… kenapa dan kenapa..

“Namun pada akhirnya rencana itu gagal, kau menolak menikah dengan Shinjung, padahal anakku sangat terobsesi denganmu.”

Delikan mata Yoona menghentak tiba – tiba. Tuan Shin tersenyum penuh kemenangan.

“Karena anak itu entah bagaimana keadaan anak itu sekarang, aku tidak punya pertimbangan lain. Satu – satunya pilihan untukmu  saat ini adalah—“

Tuan Shin menaruh kedua tangannya dilutut lalu sedikit membungkuk guna menjangkau poisisi Yoona, “Bekerja untuk bisnisku.”

Sepasang mata Yoona memejam otomatis ketika jarak mata Tuan Shin terlalu minim menjangkaunya dibanding ukuran wajar dari menjangkau bola mata seseorang. Yoona agak menarik kepalanya kebelakang, bau napas tuan Shin yang didominasi tembakau dan sampah pembakaran lainnya begitu dibenci Yoona. Yoona berusaha berpaling sebisa mungkin.

Lolongan tawa Tuan Shin menggema. Yoona membuka matanya ketika jarak suara itu terdengar normal dari telinganya.

Yoona menegakkan tubuhnya, sekali lagi Ia mencoba bersikap tenang. Ekspresi Yoona berubah menjadi sedingin es.

“Baiklah aku akan lakukan apa saja.” Putusnya bulat. Yoona yakin setelah ini Donghae tidak akan mau lagi menerimanya. Penolakan Donghae adalah sesuatu yang paling diinginkannya sekarang dan nanti.

……….

Usai menjalani make over, Yoona  memasuki sebuah kamar. Kamar tersebut terletak di lantai dua sebuah kafe milik keluarga Shin yang berada di daerah Gwangju. Dilihat sekilas kafe itu terlihat wajar namun siapa sangka didalamnya berisi orang – orang bejad.

Langkah Yoona menjadi kaku. Tertawaan orang – orang yang tengah berpesta menghentak telinganya. Kepala Yoona menjadi pening dan ulu hatinya serasa melilit. Bayangan masa lalu yang kelam lagi – lagi menghadangnya. Keringat dari pelipis Yoona mengucur deras, Pandangan Yoona menyapu sekitarnya, suara tertawaan dunia nyata dan dunia halusinasinya di masa lalu seakan bersatu padu didalam kepalanya.

Yoona menarik napas lalu  menghembuskannya perlahan – lahan. Langkah Yoona menepi, punggungnya bersandar dipermukaan tembok. Disaat salah satu pelayan wanita hendak menghampiri, Yoona mengangkat tangan kanannya mengiterupsi agar siapa pun tidak mengganggu privasinya menenangkan diri sejenak. Pelayan itu lantas terdiam memperhatikan Yoona.

“Aku ingin kita lebih cepat melewati tempat itu.” Pinta Yoona usai mengatur napasnya yang berantakan.  Ia menatap setengah menerawang kearah pelayan yang menemaninya. Pelayan itu mengangguk patuh. Tidak menunggu waktu lama, mereka berdua bergegas melewati muda – mudi yang tengah berpesta pora dibawah lampu temaram yang berpendar – pendar juga hentakan musik yang menyayat pendengaran. Yoona  sendiri berjalan kilat melewati mereka dengan cara menutup kedua telinganya  seraya memandang lurus kebawah.  Yoona sama sekali tidak ingin membiarkan kenangan buruknya dahulu kala bangkit lagi karena teriakan orang – orang dan pemabuk dimana – mana, Yoona ingin segera menghilang dari tempat itu. Yoona menyadari seharusnya Ia bisa memaksa dirinya agar terbiasa dengan suasana seperti ini.. harusnya…

Pijakan Yoona sampai di lantai dua kafe. Perempuan itu sedikit lega, Pasalnya suara – suara berisik itu sedikit berkurang, dilantai dua juga suasana tampak sepi. Yoona mencari sendiri kamar bernomer 30 usai pelayan wanita yang menemaninya menghilang diantara kerumunan orang – orang kesetanan dilantai bawah.  Menurut penuturan pelayan Ia harus menunggu seseorang disana. Yoona tidak mengerti maksud dari kata ‘seseorang’ yang dimaksud pelayan itu namun ketika Yoona memanut dirinya didepan cermin, Ia mulai mengerti.  Yoona menyadari perubahan penampilannya terutama pada bagian wajah. Wajah yang tadinya kusam disulap menjadi bercahaya, rambut hitamnya yang acak – acakan ditata serapi mungkin lalu dibuat bergelombang hingga menyerupai boneka barbie. Fokus Yoona berpindah, Ia menatap pakaian yang saat ini ia kenakan. Blouse siffon merah bata dengan kerut empire dibahu. Blouse itu jatuh pada bawah pingganggnya dipadu dengan rok mini setengah lingkar.

Jadi apa Ia harus melakukan tugas pertamanya malam ini?

Belum habis pikiran itu terbersit dikepalanya, suara ketukan dibarengi dengan derit pintu menyadarkan Yoona. Perempuan itu menoleh kearah pintu dan menemukan pelayan  yang beberapa saat lalu menemaninya, masuk bersama seorang pria. Yoona menyipit merasa tidak mengenali pria itu. Dia pegawai disini atau…

“Baiklah nikmati malam anda tuan.” Ucap sang pelayan lalu pergi begitu saja dan menutup pintu. Yoona terhenyak. Ia menatap lelaki yang berdiri didepan pintu. Yoona mengira malam ini Ia hanya menemani seseorang minum bukannya yang lain seperti… Dan seharusnya lelaki itu tidak datang sendiri…sekiranya lelaki itu datang bersama teman – temannya, Yoona tidak akan sepanik ini.

“Lee Hyuk Jae panggil saja Eunhyuk,” lelaki bernama Eunhyuk itu rupanya sudah berdiri dihadapan Yoona. Tangan kanannya terulur namun hanya menganggur diudara karena Yoona tidak kunjung membalasnya.

“Kau pasti yang bernama Im Yoona kan?” terkanya. Wajah Yoona menekuk dengan gelisah karena sesungguhnya Ia bingung harus berbuat apa.

“Tidak jawab berarti benar namamu Yoona.” Putusnya sepihak. Jemari Eunhyuk lalu terangkat mengusap dagu Yoona.

“Aku meminta rekomendasi baru karena bosan dengan perempuan yang biasanya. Ternyata benar ya, kau itu barang baru. Aku baru pertama kali melihatmu.”

Tubuh Eunhyuk kian mendesaknya. Kepanikan menghadang, Yoona mundur selangkah demi selangkah begitu pula dengan Eunhyuk yang juga melakukannya, Ia mengikuti langkah Yoona yang beranjak mundur. Yoona berusaha kabur namun Ia tidak bisa bergerak lagi disaat punggungnya membentur tembok. Eunhyuk memajukan wajahnya selagi membangun sekat menggunakan kedua lengannya yang menjulur ketembok dibelakang Yoona, sekarang akses Yoona untuk menghindar tertutup seluruhnya.

Wangi parfume Eunhyuk begitu menyengat didalam penciumannya. Tiba – tiba sekujur tubuh Yoona memanas kehabisan oksigen. Yoona menutup mulutnya, sesuatu didalam perutnya seolah  bergejolak, semakin lama  rasa itu kian memenuhi tenggorokannya bahkan kini Yoona mulai merasa adanya desakan benda cair yang meronta – ronta  hendak menyembur keluar.

Muntahan Yoona memenuhi sekujur dada kemeja Eunhyuk, lelaki itu membelalak. Yoona yang merasa belum sepenuhnya terbebas dari gejolak yang akan menyembur sebentar lagi langsung terbirit ke kamar mandi.

Eunhyuk menyipit curiga. Instingnya mulai mendeteksi adanya sesuatu yang tidak beres terjadi pada Yoona.

“Kau sakit?” Eunhyuk mendekati Yoona yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Entahlah, mungkin masuk angin.” Yoona berjalan melewati Eunhyuk dengan langkah limbung, disaat itu pula Eunhyuk menjegal lengannya, langkah Yoona berhenti otomatis.

Tatapan Yoona berubah sayu ketika pandangannya bertumbukan dengan Eunhyuk.

“Kau berbohong.” Tukas lelaki itu. Yoona tertohok. Intonasi Eunhyuk terdengar tajam didalam telinganya.

Gesture-mu tampak wajar – wajar saja, atau… barusan apa kau terganggu dengan parfumku? Kalau Iya, kenapa harus muntah? Apa secepat itu tubuhmu bereaksi?”

Yoona tidak mengerti dengan pertanyaan Eunhyuk. Kerutan samar tercipta didahi Yoona manakala  sedang berusaha mencerna pertanyaan tadi sekaligus mencari jawabannya.

“Kau hamil kan?”

Yoona terhenyak mendengar tebakan Eunhyuk. Sementara lelaki itu memperhatikan perutnya yang belum terlalu menunjukkan tanda – tanda kehamilan, apalagi sekarang Ia  mengenakan blouse siffon yang bergelombang, kehamilan itu semakin tidak kentara.

“kau sedang hamil muda kan ?, dari luar perutmu masih terlihat biasa.”

Yoona gelagapan.

“Kau memuntahkan cairan yang banyak sekali, Yoona-ssi.”

Kepala Yoona pusing mendengar penuturan Eunhyuk. Yoona tidak punya kesempatan untuk memikirkan alasan untuknya berbohong maka Ia mengaku, “Nde, baiklah aku memang hamil, sekarang apa ?”

Tatapan Eunhyuk berubah prihatin. Yoona tidak mengerti apa yang membuat lelaki itu begitu perduli soal ini.

“Kalau ketahuan, bosmu pasti akan memaksamu untuk menggugurkannya.”

Bagaikan batu besar terjun dari langit, kalimat Eunhyuk menghantamnya. Tubuh Yoona mulai gemetaran. Bibirnya yang dipoles lipstick cherry  membuka dengan susah payah.

“Lalu.. Lalu ? a-apa masalahmu kalau memang digugurkan?” Dada Yoona kembang kempis menekan ketakutannya. Yoona memikirkan kata – katanya barusan. Yoona bersumpah mengutuk dirinya sendiri, bagaimana mungkin kata – kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya…

“Coba ulangi…” Eunhyuk berjalan mendekat hingga nyaris menghimpitnya. Yoona berdiri kaku, ia tidak gentar sedikitpun dengan tatapan Eunhyuk yang menghunus seperti belati.

Napas Yoona menderu sesangguk. Bibirnya terangkat namun tidak ada satu pun kata yang terucap,  “Haruskah aku.. bukankah kau sudah mengerti Eunhyuk-ssi—“

“Sadarlah !” Eunhyuk mengguncang – guncang bahu Yoona. Seketika Yoona membelalak. Tanpa sadar matanya menatap mata Eunhyuk yang dipenuhi  oleh kilap – kilap air. Yoona menebak – nebak apa yang menimpa lelaki itu hingga bersikap seperti ini, namun  tiba – tiba Yoona merasa mual ketika semakin lama wangi parfume Eunhyuk kian menghadang penciumannya. Yoona menyadari Lelaki itu berdiri terlalu dekat. Yoona menahan napas selagi mundur beberapa langkah kebelakang. Eunhyuk membiarkan Yoona tanpa mendekatinya lagi. Lelaki itu mengadah keatas mencoba menetralkan matanya yang memerah, ternyata benar, dugaannya tepat sekali. Didalam tubuh Yoona hidup sesuatu.  Eunhyuk tidak bisa lagi menahan gejolak api didalam tubuhnya ketika mengingat kata – kata Yoona,  seolah – olah ia ingin menggugurkan kehidupan itu.

Eunhyuk menatap nyalang, “Yoona –ssi  kau sadar dengan apa yang kau katakan, Huh?!

Rahang lelaki itu mengeras menunggu jawaban Yoona.

“Kau benar – benar ingin melenyapkan kehidupan didalam dirimu, begitukah?”

Yoona berusaha menekan ketakutannya lebih dalam, matanya yang kaku nyaris tanpa kedip menatap Eunhyuk, “Kurasa aku tidak perlu menjawabnya—“

“Hentikan Yoona-ssi!” Eunhyuk hilang kesabaran. Lelaki itu menggertak Yoona sekali lagi dengan mata berapi – apai. “Kau bukan monster?! Kau seorang Eomma?!”

Pandangan mata Yoona mengabur. Tudingan Eunhyuk mengingatkannya kepada sesuatu. Yoona menerawang segalanya, segala yang Ia telah lewati hingga sampai kepada titik ini dimana akhirnya Tuhan memberinya kesempatan untuk mengandung seorang janin dari lelaki yang dicintainya. Pikiran Yoona memutar ulang bagaimana selama ini Donghae menjaganya dengan susah payah, bagaimana Donghae begitu melindungi dan menyanginya tapi… tapi semua harus terkubur oleh pusaran waktu dan kenyataan. Maka biarlah hal itu menjadi kenangan terindah untuknya, meskipun Yoona diterpa rindu yang menggila namun Ia harus mengesampingkan segalanya demi keselamatan Donghae dimasa depan. Memang terdengar begitu menyakitkan, Yoona harus mengakui bahwa Donghae bisa mencari Eomma yang baik bagi anak – anaknya kelak, bukan sepertinya. Hingga detik ini, Ia memang seorang Eomma, Eomma yang gagal dan kini berubah menjadi monster. Seharusnya Eunhyuk melemparkan kata – kata yang lebih kejam dari itu.

“Ada nyawa tidak berdosa dan tidak tahu apa – apa didalam tubuhmu! bagaimana mungkin kau berkata seperti itu? kau tega membunuhnya?!” Lagi – lagi Eunhyuk melancarkan tudingan. Entah sejak kapan wajahnya merah padam diikuti matanya juga memerah.

Tubuh Yoona kebas. Hati dan pikirannya berperang. Yoona tidak ingin menyakiti siapapun disini apalagi membunuh. Yoona terguncang menghadapi situasi dimana Ia harus memilih antara berhenti menghancurkan kehidupan Donghae dan seluruh keluarganya dengan menyerah kepada mafia itu sekaligus melenyapkan separuh jiwa Donghae yang bersemayam didalam tubuhnya, ataukah mempertahankan janin yang bersemayam itu lalu membiarkan Donghae hidup dalam kehancuran lebih lama. Yoona bergeleng, tidak… Ia tidak mungkin membiarkan mereka melukai Donghae untuk kedua kalinya, Yoona sudah memutuskan untuk menyerahkan diri dan melakukan apa saja sesuai perintah Tuan Shin dan itu berarti nasib janin yang dikandungnya berada diujung tanduk, lalu bagaimana dengan perasaan  Donghae… bukankan ini anak mereka? Anak ini bukanlah miliknya seorang tapi Ia tidak punya pilihan lain…

“Kenapa kau diam saja ?” Intonasi meninggi Eunhyuk menghentaknya. Yoona mundur kebelakang ketika Eunhyuk tampak berjalan mendekatinya. Lelaki itu berdiri selangkah didepan Yoona yang gemetaran.

Tatapan Eunhyuk berubah nyalang, “Kau merasa bersalah ? Ya, pada dasarnya kau memang salah ! Sekarang jawab aku apakah ini yang kau inginkan?”

Yoona bergeleng. Tiba – tiba perempuan itu membekap kedua telinganya.

“Kau berencana menyia – nyiakan anakmu sendiri huh? Kau akan menyesal seumur hidupmu Yoona-ssi !”

Kedua mata Yoona memejam rapat. Kedua tangan perempuan itu semakin kuat membekap telinganya. Diantara kedua mata yang memejam, lahir dipermukaannya dua anak sungai yang membasahi pipinya yang merona. Napas Yoona sesangguk diantara desahan suaranya yang memerintah dan memohon  agar Eunhyuk berhenti mengutarakan kalimat yang tidak ingin didengarnya.

“Kau akan menyesal karena sudah menyia – nyiakan anakmu bahkan seterusnya mengecewakan orang yang menyayangimu, ingat itu?!”

“Dan penyesalan itu akan menghantuimu selamanya ?!”

Yoona beralih mencengkram rambutnya sendiri, Ia tidak percaya, lelaki dihadapannya pasti sedang mengigau.

“Kau tidak akan bisa melupakan kejadian keji itu ! tidak akan bisa—”

“Cukup !”

Yoona berteriak lantang. Eunhyuk bungkam. Ia berdiri menahan napasnya selagi menyaksikan Yoona yang terisak. Lutut perempuan itu tertekuk lemas. Yoona mulai kehabisan tenaga, perlahan – lahan pijakannya runtuh menyisahkan tubuhnya yang terkulai dilantai.

“Cukup.. cukup… jangan katakan lagi kumohon…Hikzz…”  Tangisan Yoona bertambah sesangguk, Ia memegangi dadanya menahan segala rasa yang menghimpit hingga membuatnya sulit bernapas.

“Gwencahana?” Eunhyuk menghampiri Yoona, Ia ikut bersimpuh diatas lantai berhadapan dengan Yoona. Lelaki itu mengusap punggung Yoona menenangkan.

Eunhyuk menghela napas mengamati wajah Yoona yang basah dan memerah. Kini tangisan Yoona bukan hanya soal napasnya yang sesangguk tetepi juga suaranya yang meraung dan terputus – putus.

“Tenangkan dulu dirimu.” Pesan Eunhyuk. Yoona mencoba memberhentikan tangisnya. Eunhyuk tahu perempuan itu sedang mengeluarkan semua kesakitannya yang terpendam.

Usia beberapa saat menangis, Yoona meraba – raba kesimpulan dari kejadian yang menimpanya hingga sampai ketitik ini. Yoona  berusaha membuka suara. Wajahnya menghadap Eunhyuk namun pikiran Yoona tampak mengawang jauh, ratapan mata perempuan itu bagaikan isyarat bahwa bendera putih baru saja menggantung diseputar bola matanya. Ia tidak punya kuasa lagi untuk melawan.

“Maaf… Aku hanya tidak tahu harus bagaimana lagi… Aku disini karena harus menyelamatkan seseorang dari ancaman. Aku tidak ingin dia terseret lebih jauh lagi kedalam masalahku. Aku terus saja memikirkannya tanpa mempertimbangkan hal lain..”

Sekali lagi Yoona memikirkan keputusan bodohnya. Ia berencana akan mengaku besok pagi mengenai masalah kehamilan itu namun tanpa diduga Tuan Shin langsung  menyuruhnya bekerja malam ini. Yoona tidak punya kesempatan untuk mengaku karena Eunhyuk tiba – tiba masuk kekamarnya dengan petunjuk dadakan dari seorang pelayan yang menuntunnya juga lelaki itu kemari.

“Ikut aku.” Eunhyuk mencetus tiba – tiba.

Yoona kebingungan, “K-kemana?”

“Hapus saja air matamu lalu ikut aku.” Tukas Eunhyuk membiarkan Yoona menebak – nebak.

………….

“Eunhyuk-ah sedang apa disini ? Bagaimana ? apa kau menyukai barang barunya ?” Tuan Shin terkejut oleh kehadiran Eunhyuk yang tiba – tiba. Tampak lelaki paruh baya itu tengah dikerumuni oleh para wanita sexy diatas sofa merah yang terletak di ruang privasi kafe. Tuan Shin menajamkan penglihatannya dan menemukan bahwa Eunhyuk datang tidak sendiri namun ditemani oleh seseorang dibelakang punggungnya.

“Nde aku menyukai, sangat – sangat suka.” Jawab Eunhyuk datar.

“Benarkah? Ini kabar baik,” Tuan Shin bernapas lega pasalnya Ia sempat berpikir bahwa Eunhyuk tidak menyukai Yoona karena kedatangannya kemari, yang sering terjadi para pelanggan lain datang kepadanya karena ingin komplain.

“Dan berhubung aku begitu menyukainya, aku akan meminjam perempuan ini.” sambung Eunhyuk.

Yoona terperangah, begitu pula dengan Tuan Shin.

“Aku begitu menyukainya Tuan.”

“Tapi tidak semudah itu membawanya pergi.” Jelas Tuan Shin menegakkan tubuhnya. Yoona merupakan  aset berharga untuk mengembangkan bisnisnya di Seoul, Yoona adalah peluang. Lagi pula meskipun Eunhyuk berdalih meminjam, tidak ada yang bisa menjamin anak nakal itu akan mengembalikannya.

“Akan kubayar berapa pun.” Eunhyuk bernego.

Wajah Tuan Shin mengeras, “Tetap tidak bisa !”

Eunhyuk mengadahkan wajahnya, “Anda berani membantahku?”

Tuan Shin bergeming. Eunhyuk mulai jengah. Lelaki itu bersiul tidak jelas kemudian menatap tuan Shin remeh.

“Okelah…” Eunhyuk mengangkat bahu dengan santainya,  “Kudengar akhir – akhir ini Ayahku Lee Minho sedang menjadi perbincangan hangat ya… Aset ayahku lebih melimpah  darimu dan  aku bisa membujuknya membatalkan keputusannya menjual kafe kami yang berlokasi paling strategis di Seoul kepadamu, kau tahu sendiri banyak pihak yang mengantre untuk membeli kafe itu. Aku bisa membujuk ayahku menjualnya dengan membuka sistem lelang untuk sesi ke-2.”

Tuan Shin membisu.

“Bagaimana menurut Anda?”

………..

Hening menerpa diantara kedua orang yang tengah merenungkan sesuatu. Eunhyuk pertama kali membuat gerakan kecil dan memecah situasi mematung diantara mereka. Ia melirik Yoona yang belum juga lepas dari belenggu pikirannya sendiri.

Saat ini Eunhyuk duduk dibangku kemudi mobilnya sementara Yoona mendiami bangku samping kemudi. Eunhyuk memutar otaknya mecari – cari kalimat pembuka untuk menyadarkan Yoona. Lelaki itu berdehem.

“Kau punya seseorang yang bisa dihubungi, keluargamu atau—“

“Aku sedang menghindari mereka semua.” Potong Yoona datar. Tatapan perempuan itu masih menerawang ketika menatapnya. Eunhyuk mengangguk mengerti. Wajar kalau Yoona tidak ingin mengatakannya, mereka baru saja bertemu.

“Kenapa kau melakukan ini ?”  suara Yoona menghentaknya, Eunhyuk menoleh. Kedua alisnya terangkat bingung.

 “Melakukan apa?” Eunhyuk terdiam menerka – nerka maksud Yoona, mungkinkah…

“Apa kau merasa aku memperlakukanmu seperti halnya barang sewaan?”

“Tidak, bukan itu.” Sangkal Yoona.

“Lalu?”

“Kenapa kau—“ Tatapan Yoona berputar kearah sisi kirinya, disana Eunhyuk menatap ingin tahu.

“Kenapa kau membebaskanku dari mereka.”

Eunhyuk tersenyum miris mendengar pertanyaan tanpa tanda tanya barusan. Yoona terlalu datar menanggapi ini semua, mungkin perempuan itu lelah.

“Karena aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.”  Jawab Eunhyuk tergelak sinis kemudian pikirannya mengawang jauh, “Cukup sekali aku membiarkan seorang wanita membunuh janinnya sendiri.”

Menghela napas, Eunhyuk menekuk wajah, gurat wajahnya menunjukkan jejak penyesalan, “Tiga bulan lalu  kekasihku yang amat kucintai berpulang untuk selama – lamanya. Kim Hyoyeon,  kalau saja bisa.. Akankah Ia mendengarkan penyesalanku saat ini? Aku benar – benar menyesal.”

Tatapan Eunhyuk berubah sayu. Yoona mengamatinya dengan wajah penasaran.

“Hyoyeon mengandung anak dariku tapi aku dengan tega memaksanya untuk menggugurkan kandungannya dan lari dari tanggung jawab.”

Yoona tertohok. Ia menatap lelaki disampingnya  tidak percaya.

“Kala itu aku merasa belum siap untuk menikah dan menjadi seorang ayah. Aku harus debut menjadi personel boyband  yang sejak dulu kuimpi – impikan. jadi sangat sulit mengambil pilihan untuk menikah.” Eunhyuk menjeda, Ia memejamkan mata setelah akhirnya membuka kelopaknya dengan susah payah.

“Hyoyeon frustrasi, mungkin Ia begitu hawatir keluarganya akan menentang kondisinya yang berbadan dua. Hyoyeon lalu mencoba mengugurkannya tapi… tapi tiba – tiba Ia mengalami pendarahan dan akhirnya…”

Yoona meringis kecil menunggu cerita Eunhyuk berlanjut. Yoona tidak kuasa menahan bulu kuduknya agar tidak berdiri. Cerita Eunhyuk terlalu mengerikan baginya.

“Aku tahu Hyoyeon sudah tenang disana, dia beruntung karena Tuhan menjauhkannya dari lelaki brengsek sepertiku.” Usai mengumpat Eunhyuk menatap Yoona penuh harap, “Aku tidak mau lagi menjadi penyebab seorang wanita mengugurkan kandungannya.”

“Tapi kau tidak ada hubungannya—“

“Kalau aku tidak mengamankanmu maka cepat atau lambat Tuan Shin pasti akan memaksamu melakukannya. Kalau aku membiarkan hal itu terjadi meskipun sudah mengetahuinya maka secara tidak langsung aku menjadi salah satu pihak  yang  terlibat  membiarkan janin  didalam kandunganmu berakhir tragis. Aku tidak mau karena ketidakacuhanku, segalanya bertambah fatal. Selagi bisa aku akan melakukan apapun.” Jelas Eunhyuk. Tatapan lelaki itu berubah nyalang. Yoona bungkam mendengar penuturan Eunhyuk. Tubuhnya bergetar kaku. Sekarang Yoona mengerti, apa yang menyebabkan emosi lelaki itu tersulut ketika  pembahasan mengenai topik mengerikan itu mencuat.

“Yoona-ssi.” Panggil Eunhyuk. Yoona tersentak dari lamunannya, Ia menoleh bersama tanda tanya dikepalanya.

“Kumohon jangan lakukan hal bodoh.”

Yoona terdiam. Kedua matanya kaku tanpa kedipan sama sekali.

Sementara Eunhyuk memperhatikan Yoona dikala perempuan itu sibuk dengan pikirannya. Seringaian lahir dari bibirnya, dari sanalah  pikiran aneh bergentayangan,  salahkah Eunhyuk kalau ia menganggap Yoona serupa dengan  kekasihnya dulu ? Tentu bukan dalam artian mirip dari segi fisik  akan tetapi kondisi mereka  yang serupa telah menggulingkan memorinya kebelakang, memutar ulang mengenai sosok Hyoyeon.

……………

Bell dibunyikan tiga kali namun belum ada tanggapan dari dalam. Yeoja paruh baya itu mulai gelisah menanti pintu dihadapannya terbuka. Ia hendak menekan bell pintu sekali lagi, belum sampai terlaksana,  kenop pintu dihadapannya lebih dulu bergerak diiringi tarikan dari dalam.

“Eomma.” Gadis itu memekik menyambut kedatangan sang Eomma. Kedua bola matanya berkaca – kaca seolah merindukan sebuah pelukan.

Nyonya lee memeluk anaknya, menghapus air mata yang tertumpah dan menatap lekat – lekat, “Sebaiknya kita kedalam dulu.”  Saran Nyonya Lee sembari menuntun Krystal duduk di sofa ruang tamu usai menutup kembali pintu yang sempat mengaga.

Usai mendaratkan tubuh masing – masing diatas sofa, Nyonya Lee menggenggam bahu Krystal dan menatapnya penuh tanya namun penuh kasih.

“Apa yang terjadi sebenarnya Kryst ?” ujar Nyonya Lee hati – hati. Pasalnya Krystal menelpon ketika Ia sedang berjaga di rumah sakit. Nyonya Lee sangat hawatir karena suara Krystal terdengar panik, lalu dengan terburu – buru Nyonya Lee pulang kerumah hendak memastikan sendiri situasi disana.

Krystal tidak menjawab pertanyaan Nyonya Lee. Anak itu menyodorkan selembar kertas. Nyonya Lee meraih kertas itu lalu membacanya pelan – pelan. Gurat kepanikan bercampur dengan rasa terkejut sudah tidak mampu lagi diredamnya. Nyonya Lee menahan napas selagi bergeleng pelan. Kertas yang bibacanya jelas – jelas adalah tulisan Yoona.

Yoona memutuskan pergi, itulah yang terjadi.

Nyonya Lee menarik napas, menghembuskannya perlahan.

“Eonni juga meninggalkan ini.” suara sengau Krystal menghentaknya.  Nyonya Lee menoleh. ‘Ya Tuhan apalagi ?’ batinnnya meronta.

Krystal menyodorkan selembar kertas putih dengan lipatan segi empat.

“Kau belum membukanya?”

Krystal menggeleng.

Belum sampai lima detik kertas sudah sampai ditangan Nyonya Lee dalam bentuk kalimat – kalimat yang digoreskan Yoona dengan tinta hitam. Satu persatu kata dari tiap – tiap kalimat tidak luput dari pengawasan Nyonya Lee.

“Sebenarnya Eonnie pergi kemana Eomma ?”

Nyonya lee menoleh dari kegiatan mematungnya. Tanpa sadar tangannya beranjak menyembunyikan surat itu di sudut sofa.

“Eonnie hanya pergi menemui Appanya di gwangju, ada masalah yang perlu diselesaikan.”  Jelas Nyonya Lee sedikit  gelagapan.

“Tapi kan Eonni sedang—“

“Ani, tidak apa – apa sayang, tidak perlu hawatir. Sekarang kita harus fokus berdoa untuk kesembuhan Oppamu.” Potong Nyonya Lee kemudian memeluk Krystal yang akhirnya menangis didalam pelukan hangat Eommanya.

…………..

Annyeong, mungkin ini terlalu mendadak tapi aku perlu mengatakan ini padamu, Donghae Oppa, semoga kau bersedia meluangkan waktumu untuk membacanya.

Aku yakin kau pasti bertahan Oppa, jadi aku berusaha menulis sesuatu paling tidak aku sudah meninggalkan pesan terakhirku….

Aku harus pergi dan menghilang secepatnya.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu, namun aku lebih tidak bisa membayangkan hidupmu yang menderita karenaku.

Mungkin pertahananku hanya sampai disini, dan satu – satunya hal yang ingin kulakukan ketika aku sudah tidak sanggup bertahan ialah tidak menyakitimu.

Mereka menyentuhmu, namun sesungguhnya mereka tidak akan berhenti sampai aku menyerah, maka dari itu aku menyerah detik ini juga. Aku tidak mungkin membiarkan dirimu dan keluargamu menahan derita lebih jauh lagi karena masalahku.

Aku tahu kau menginginkanku tetap bersamamu tapi kurasa  kita harus mengakhiri semua ini.

Aku bahagia disampingmu tapi yang kuinginkan bukan hanya kesenangan diriku, aku merasa ini terlalu menyakitkan bagimu, kau ikut menanggung derita yang bukan kesalahnmu.

Saranghae.

Aku mencintaimu jadi aku ingin kau mempertimbangkan banyak hal Oppa, semua tidak menjadi lebih baik… tidak, dalam hal ini akulah yang diuntungkan, sebaliknya keberadanku merugikanmu.

Pada akhirnya semua hanya  berakhir menjadi luka.

Mungkin dengan berpisah, hidup kita akan lebih berwarna satu sama lain.

Maaf atas kekacauan yang sudah kutimbulkan, kau boleh membenciku sepuasmu, aku memang jahat karena telah meninggalkanmu.

Tapi itulah yang kuinginkan sekarang, tapi yang perlu kau ingat  sebesar apa pun kebencian yang kau pupuk nantinya, aku akan tetap mencintaimu.

Terima kasih karena sudah menjagaku selama ini, kau telah mengubah hidupku, menerangi hari – hariku dengan cahaya. Terima kasih… karenamu aku punya  alasan untuk hidup lebih lama. Terima kasih atas segala – galanya meski pun aku tidak bisa membalasmu dengan rasa yang setimpal dengan itu.  Jaga kesehatanmu. Sekali lagi gomawo. Salam dariku, Im Yoona.

Lelaki itu bergeming dibalik meja dekat jendela. Setiap hari Ia selalu menyisahkan satu kesempatan  guna menyimak tulisan diatas kertas yang tiga minggu lalu diberikan oleh Eommanya. Ia orang pertama yang membuka kertas itu beberapa hari usai koma pasca operasi meremasnya tanpa sadar. Detik itu Ia merasakan hatinya hancur menjadi serpihan – serpihan tidak kasat mata. Sebulan ini mereka menyuruhnya beristirahat namun Donghae tidak bisa berhenti memikirkan Yoona. Setiap ada waktu Donghae selalu termenung memandangi goresan tangan Yoona melalui surat terakhirnya sebelum pergi.

“Yoona pasti kembali suatu saat nanti Nak, ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan tindakan selanjutnya. Mungkin keputusan Yoona membuatmu kecewa tapi  Yoona pergi karena punya alasan kan? Donghae sekarang Eomma ingin bertanya padamu, kenapa kau bisa jatuh dari sana ? Meskipun Yoona tidak menceritakan kepada Eomma kronologis kejadiannya, tapi Eomma bertanya kepada petugas Ambulance soal dirimu. Kenapa kau bisa jatuh dari lantai 4 gedung flat? Yoona bilang saat diruang tunggu IGD, mereka yang melakukannya… kau tahu bukan arti ‘mereka’ yang dimaksud Yoona?”

“Ya, kelihatannya salah satu  dari  orang – orang jahat itu  belum rela melepaskan Yoona Nak, mungkin Yoona juga merasakannya. Eomma merasa Yoona juga tidak ingin mereka mencelakaimu karenanya. Kau harus mengerti, jadi cepatlah sembuh agar kita bisa mencarinya.”

Kalimat Nyonya Lee  yang tercanang beberapa hari pasca operasi terngiang – ngiang didalam kepala Donghae. Donghae merenungkan kalimat nyonya Lee setiap detiknya. Ada sesuatu yang membuat Donghae yakin dengan anggapan Eommanya namun sesekali pikiran mengenai, terkadang kenyataan tidak sesuai harapan membuat Donghae sesak napas.

Donghae memandangi kertas yang permukaannya sudah tidak rata lagi, melipat benda itu lalu menaruhnya didalam laci. Donghae beranjak keluar dari kamarnya, sebelum pijakannya mencapai ambang pintu, Ia mengamati sekitar, tatapan matanya yang dingin berubah sendu ketika pandangannya mengitari ruang yang menggulirkan kisah disetiap sudutnya. Donghae melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar tidak ingin berlarut – larut didalam pikiran masa lalu. Lelaki itu membanting daun pintu dengan cukup keras. Suara bantingan yang tiba – tiba mengundang Nyonya Lee menoleh. Perempuan paruh baya itu menatap hawatir. Donghae belum sepenuhnya sembuh total, Dokter menyarankan agar Ia mengambil waktu istirahat lebih lama lagi, namun melihat apa yang terjadi nyonya Lee sepertinya  harus mengatur napas sebanyak mungkin karena Donghae menjadi keras kepala. Nyonya Lee menoleh kearah jam dinding, pukul sembilan malam, lalu kemana lagi Donghae akan pergi malam – malam begini?

Nyonya Lee mengikuti langkah Donghae dari belakang, “Donghae kau tidak seharusnya pergi—“

“Aku akan kembali secepatnya.”putus Donghae berbalik menatap Eommanya tanpa ekspresi.

“Aku akan baik – baik saja.” Terakhir kali Donghae mengatakan kalimat terakhirnya kepada Nyonya Lee. Sementara itu sang Eomma hanya bisa menghela napas melihat tingkah Donghae yang semakin menjadi. Nyonya Lee mengerti mungkin Donghae merasa sangat terpukul karena kepergian Yoona, dan sejak saat itu Nyonya Lee selalu menemukan anaknya sendiri melamun hingga berjam – jam. Ia tidak tahu sampai kapan Donghae akan bersikap seperti itu… mungkin sampai Yoona kembali, namun sampai detik ini belum ada tanda – tanda yang menunjukkan Yoona akan kembali. Nyonya Lee sempat memikirkan sebuah rencana untuk mencari Yoona, akhir – akhir ini mereka terlalu sibuk memikirkan kondisi Donghae yang sempat koma, belum ada kesempatan lapang bagi mereka menyusun sebuah rencana. Ketika saat ini kondisi Donghae hanya tinggal menjalani masa pemulihan, Nyonya Lee berpikir sekali lagi mengenai rencananya yang tertunda, mereka harus secepatnya mencari keberadaan Yoona.

Punggung Donghae menghilang dibalik pintu rumahnya. Donghae melangkah cepat sampai didepan gerbang ponselnya berdering.

“Yoboseyo.”

“Oppa mobilku sudah didepan minimarket.”

“Baiklah, tetap disitu, aku akan kesana.” Donghae memutuskan sambungannya. Ia bergegas menuju minimarket yang dimaksud sang penelpon tadi. Menempuh waktu lima menit Donghae sampai didepan minimarket yang  tidak jauh dari rumahnya. Pandangan Donghae langsung terseret kearah mobil merah yang terparkir didepan minimarket.  Ia beranjak  menghampiri, tangannya manarik pintu sebelah kursi penumpang samping kemudi lalu masuk kedalam.

“Jadi kita mau kemana?” Wanita yang duduk dibelakang kemudi melepas kaca mata hitamnya lalu menatap Donghae yang tengah menyenderkan kepalanya.

Alis Donghae meliuk – liuk, Ia memejamkan mata ketika merasakan kepalanya semakin berat. Donghae sedikit menyesal tidak menuruti nasihat Eommanya, sepanjang masa pemulihan kesehatannya terlampau sensitive menghadapi angin malam, sayangnya rencana yang telah disusunnya sekian lama tidak membuka kesempatan untuk menunda.

Donghae berusaha menanggapi keputusan itu dengan kepala dingin. Ketakutan menjadi alasan utama kepergian Yoona yang tiba – tiba. orang – orang  dari keluarga Shin terus mengejarnya dan menggunakan alasan itu untuk mengganggu Yoona, termasuk Shinjung yang selama ini memeras dan menerornya. Maka dari itu untuk menghilangkan ketakutan Yoona, Donghae bertekad melunasi hutang Appanya.

“Apa kita langsung kesana?” Tanya Jessica lebih rinci.

Donghae mulai berdesis tidak jelas “Kita langsung ke kafe Tuan Shin di Gwangju, aku yakin  menjelang tengah malam seperti ini dia ada disana.” Pintanya setengah bergumam. Donghae mencoba menenangkan tubuhnya dengan memejamkan mata.

“Kau sudah membawa cek-nya ?” peringat Jessica.

“Ya.”

“Eommamu tahu kau pergi kesana?”

Donghae meringis, menahan sesuatu, “Tidak, bahkan Eomma sangat hawatir melihatku pergi malam – malam begini. Kalau  tahu aku kesana, Eomma tidak segan – segan mencegahnya. Apalagi jika melihat mobilmu terparkir didepan rumah.”

Murung dan prihatin, Jessica mengangguk paham. Ia menerawang tindakan bodohnya beberapa saat lalu. Jessica mencetuskan ide didepan Nyonya Lee agar Donghae mencari Yoona di kafe Tuan Shin. Jessica mencurigai kafe itu menyimpan bisnis prostitusi. Sontak saja Nyonya Lee menceramahinya habis – habisan. Eomma Donghae mengganggap bahwa  tidak sepantasnya Jessica berpikir mengenai keberadaan Yoona disana. Sejak saat itu Nyonya Lee selalu mewanti – wanti apabila Jessica hendak menemui anaknya.

“Jadi bisakah kita berangkat sekarang ?”

“Oh ya, tentu.” Jessica mengangat bahu sebelum akhirnya mobil mereka malaju dan berbaur dengan mobil – mobil lain ditengah jalan raya.

……………….

“Gwenchana?” Jessica memastikan keadaan Donghae ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti  didepan parkiran kafe Tuan Shin.

Donghae memandangi keadaan diluar kafe dengan sorot memperhitungkan. Dahi Lelaki itu mengernyit, Ia merasa ada yang aneh.

Jessica penasaran dengan apa yang dilihat Donghae sehingga wajahnya mengeras seperti itu. Ia mengikuti arah tatapannya dan menemukan bahwa satu – persatu pengunjung dari dalam kafe dibrondong keluar oleh masing – masing lelaki gempal berjaket hitam.

Pintu mobil menjeklek. Jessica tersentak sekaligus terperangah menatap Donghae yang tiba – tiba saja bergegas keluar dari dalam mobil. Merasa khawatir Jessica terpaksa mengejarnya.

“Donghae Oppa tunggu.” Cegat Jessica namun tidak digubris. Donghae terus melangkah hendak menerobos masuk kedalam kafe namun salah satu petugas berjaket hitam yang berjaga di pintu masuk tiba – tiba  menahannya.

“Maaf anda siapa?” tanya petugas itu.

“Aku ingin bertemu Tuan Shin, pemilik kafe ini.” Jawab Donghae  buru – buru.  Lelaki itu sempat mencoba menerobos namun petugas itu kembali menahannya.

“Maaf tidak ada seorangpun yang diperkenankan masuk kedalam.” Jelasnya.

“K-kenapa?” Jessica angkat bicara.

“Anda Nona Jessica, bukan?” Petugas itu terkejut menemukan keberadaan Jessica yang entah sejak kapan berdiri disampingnya.

Jessica yang menyadari posisinya sebagai penyanyi dan public figure terkenal, memasang wajah sewibawa mungkin, “Boleh kutahu kenapa? Kebetulan ini pertama kali aku datang kesini.”

“Begini Nona.” Petugas itu menimbang serius, “Sebaiknya Anda cepat – cepat meninggalkan tempat ini, jangan sampai ada pihak yang salah paham.”

“Aku akan pergi setelah mendengar sendiri apa yang terjadi disini.” Jessica memasang wajah dingin. Petugas itu menghela napas, “Baiklah nona tapi setelah itu anda harus pergi.”

Deal.” Jessica menjentikkan bahunya tidak masalah.

“Jadi, Kami dari kepolisian ditugaskan menggeledah tempat ini. Kami sudah mengumpulkan cukup bukti tentang pemalsuan Dokuman. kefe ini hanyalah kedok, yang sesungguhya  tempat ini dipakai para  gembong narkoba untuk bertransaksi juga menjalankan bisinis prostitusi. Sang pemilik adalah seorang rentenir bahkan seseorang telah melaporkannya atas beberapa pekerja  yang meninggal dunia akibat bekerja rodi. Setelah kami selidiki ternyata perlakuan terhadap  korban – korban itu bukan sebagai pekerja yang  tengah bekerja, akan tetapi mereka sesungguhnya pekerja yang tengah diperas tenaganya karena tidak sanggup menanggung bunga hutang yang sangat tidak wajar.”

Jessica menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia menoleh dan berniat menanyakan sesuatu kepada Donghae yang seingatnya tadi berdiri disampingnya, tapi nihil. Jessica panik setengah mati. Ia mengguncang –  guncang tubuh petugas dihadapannya.

“Temanku disini, kemana dia?!!” cecar Jessica.

Petugas itu menatap kebingungan lalu menggeleng. Sementara Jessica langsung menerobos kedalam tanpa permisi. Ia yakin Donghae berlari kedalam kafe saat petugas tadi menjelaskan soal kafe yang bermasalah.

“Nona berhenti !” interupsi petugas itu. Jessica tidak memperdulikan. Ia menoleh kesana kemari. Beberapa orang tengah sibuk digeledah oleh para petugas, salah satu dari mereka bahkan melawan dan berteriak minta dilespakan. Diujung sana wanita berpakaian cukup seksi sedang menangis ketika digiring petugas. Jessica nyaris tidak bisa menemukan Donghae ditengah suasana riweh seperti ini.

“Nona kusarankan keluar dari sini.” Petugas pintu tahu – tahu sudah berdiri didepannya. Jessica menatap kesal bercampur panik, “Kalau begitu temukan temanku ?!!!” pekiknya.

…………

Meskipun orang tuanya tidak percaya dengan kemungkinan Yoona menyerahkan diri kepada mafia itu, Donghae memiliki firasat berbeda. Ia mempercayai kemungkinan tersebut. Ada kalanya Donghae ingin segera datang ketempat ini namun kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan membuat Donghae mengurungkan niatnya. Dan sekarang tibalah waktu yang tepat. Donghae yakin bisa menemukan Yoona ditempat ini.

Seorang wanita yang tengah dibawa petugas menarik perhatian Donghae. Matanya memicing, Donghae tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu karena sebagian wajahnya segaja ditutupi tas kecil, sebagian lagi dipenuhi surai kecoklatannya yang panjang. Postur tubuh wanita itu mengundang Donghae menghampirinya.

“Yoona.” Donghae menyingkirkan tangan wanita itu yang setia bertengger diwajah. Wanita itu sedikit enggan melepasakan tangannya, namun Donghae sudah bisa memastikan wajahnya dengan jelas, dia bukan Yoona seperti dugaanya. Lelaki itu menghela napas frustrasi karena harapannya musnah.

“Maaf Tuan, anda kami geledah.” Salah seorang petugas mendatanginya. Donghae terkejut, Ia hendak menepis kata – kata petugas itu namun perhatiannya lebih dulu teralihkan.

“Kau tidak boleh sembarangan menangkapku ! Aku yang paling berkuasa disini ! Kalian tidak mengenalku hah?! Aku Shin Woobin orang terkaya di negera ini !”

Tidak salah lagi… Donghae melepaskan diri dari kukungan petungas yang menggeledahnya. Ia beranjak menghampiri seorang lelaki paruh baya yang berteriak – teriak dan meronta – ronta ditangan dua petugas.

Jessica dan seorang petugas yang menemaninya juga ikut memperhatikan lelaki paruh baya bernama Shin Woobin yang kini mengamuk seolah akan menerkam dua petugas yang membawanya. Tidak sengaja Jessica melihat Donghae datang menghampiri  lelaki tidak jelas itu, sontak Jessica bernapas lega meskipun perasaan was – was juga ikut menerobos kedalam pikirannya, Jessica tidak mengerti kenapa Donghae justru nekad mendekati kekacauan. Apakah dia orang yang dicarinya?

“Berhenti, dia bukan sasaran kita.” Petugas yang mengawal Jessica menginterupsi gerakan temannya yang nyaris menangkap Donghae.

“Dia temanku.” Sanggah Jessica meyakinkan. Jessica lantas mengampiri Donghae yang tengah  mencoba membangun kontak dengan lelaki paruh baya yang meronta – ronta ditangan petugas.

“Aku mohon biarkan aku berbicara padanya sebentar.” Pinta Donghae kepada dua petugas yang menahan Tuan Shin.

Kedua petugas itu nampaknya tidak terlalu menggubris permintaan Donghae. Mereka berlalu begitu saja selagi sibuk menahan gerakan tuan Shin yang semakin membabi buta , Donghae mencoba sekali lagi membujuk para petugas. Mereka menggeretakkan gigi dengan kesal.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan sebentar saja.”

Salah satu petugas memasang wajah malas, mungkin saja Ia terlampau jengah menghadapi  tingkah buronan yang dikawalnya.

“Baiklah waktumu tidak lama.” Putusnya. Donghae bernapas lega, Ia berterimakasih sebelum perhatiannya teralihkan.

“Mau apa kau Huh?!” Tuan Shin menggertak.

Donghae membungkuk hormat lalu menjelaskan, “Aku kesini untuk menyelesaikan masalah Im Yoona.”

Tuan Shin mengamati Donghae, bibir lelaki itu mencebik, “Oh yaa.. aku ingat… kau Lee Donghae bukan ?” Ia mengingat sembari tertawa. Mata kelamnya memancar seolah akan membidik mangsa,  “Orang tidak waras pun tahu.. kau ingin menyelesaikan masalah disaat – saat seperti ini ?! lupakan !”

Tuan Shin memandangi Donghae sekali lagi ketika merasa ada yang terlupa. “Hmm tapi kalau dipikir – pikir, kau benar – benar  anak muda yang  bertanggung jawab ya…”

Tuan Shin tergelak, “Sayangnya kau bodoh.”

Donghae mengernyit, bibirnya membuka hendak mengatakan sesuatu namun batal, tudingan tuan Shin menahannya.

“Kau mau – mau saja dimanfaatkan oleh perempuan itu.”

“Apa maksud anda ?!” Tubuh Donghae menegang, tanda sadar intonasinya meninggi.

“Setelah perempuan itu meninggalkanmu kau masih ingin mencarinya?!”

Rahang Donghae menegang. Tatapannya kian tersulut oleh seringaian Tuan Shin.

“Yoona… dimana Yoona…” Donghae menggebu – gebu, menanti dengan penuh harap jawaban Tuan Shin.

“Dasar bodoh ! berhenti mencarinya ! Kira – kira sebulan lalu Yoona memang datang menemuiku dan menyerahkan diri.”

“A-apa?” Donghae terkesiap, dunia disekitarnya berubah menjadi hampa.

“Tapi sayangnya dia sudah kabur dengan laki – laki  yang lebih kaya darimu. Jadi lupakan saja dia ?! Carilah perempuan lain !”

Tenaga Donghae terkuras hanya untuk mencerna pengakuan Tuan Shin. Bibir lelaki itu bergetar kaku, “S-siapa? Siapa laki – laki itu?”

“Kau cari tahu saja sendiri bung.”

……….

Sejak awal menginjakkan kaki di salah satu kedai ramen belum ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir Donghae. Jessica terus memikirkan perbincangan yang pas ditengah kondisi seperti ini, tatapan kosong Donghae belum juga tergerus dari wajahnya cukup menegaskan bahwa lelaki itu amat terpukul dengan pengakuan yang baru saja didengarnya. Yoona kabur bersama laki –laki  lain. Tidak ada seorang pun yang bisa menerima sebuah penghianatan, termasuk Donghae. Jessica tidak tahu harus berbuat apa, Ia mencoba menghibur lelaki itu namun semua percuma, bahkan leluconnya tidak pernah menerima tanggapan. Sebenarnya Jessicalah yang memaksa – maksa Donghae agar lelaki itu menemaninya di kedai ramen. Jessica berani bersumpah makanan dikedai itu sungguh lezat, bukan hanya ramen tapi makanan lainnya. Mungkin dengan mencicipi salah satu makanan disini Donghae akan sedikit terhibur namun dugaan Jessica salah total. Kelihatanya Donghae tidak ada niatan sedikitpun menyentuh ramen juga beberapa makanan kecil yang tersaji dihadapan mereka. Wajah Donghae tidak menunjukkan perubahan apa  pun. Tatapannya tetap dingin dan kosong. Jessica merasa canggung sekaligus prihatin. Perempuan itu memilih menyantap ramen dihadapannya seorang diri sementara itu Ia membiarkan Donghae berkelana dengan pikirannya.

“Minumlah.” Jessica menyodorkan segelas air putih, mungkin air bisa membuat pikiran Donghae menjadi lebih tenang.

Bola mata Donghae menyusuri tangan Jessica. Ia meraih gelas itu lalu menenggak isinya. Usai menghabiskannya sekali tenggak, Donghae menancapkan gelas itu diatas meja.

Hembusan napas Donghae terdengar tidak beraturan, lelaki itu merenung selagi meremas gelas kosong yang masih digenggamnya.

Jessica mendorong wajahnya hawatir, “Jangan berpikir macam – macam dulu.”

Donghae mendelik. Jessica tersentak oleh tatapan Donghae yang seolah akan membunuhnya. Sorot mata Donghae terlalu menghakiminya, berbanding jauh ketika Ia terbiasa dengan sorot mata lelaki itu yang penuh kasih sayang.

“Benarkah seperti itu…”

Bibir Jessica menjadi kaku. Jessica menghirup udara sebanyak mungkin hanya untuk membuka bibirnya yang terkatup. Entahlah… Jessica juga tidak mengetahui apa yang terjadi pada Yoona hingga membuat keputusan seperti itu. Kalau pun benar demikan, Jessica tidak sanggup berkata apa – apa karena awalnya Ia juga sempat berpikir bahwa Yoona hanya memanfaatkan Donghae.

Wajah Donghae tertekuk frustrasi, dagunya jatuh menancap diatas dadanya sendiri. Jessica mengamati bahu Donghae yang sedikit bergetar. Saat itu Jessica menyadari sesuatu.

“Kira – kira siapa lelaki yang dekat dengan Yoona—.”

Donghae mendongak dan menatap Jessica dengan gigi menggeretak. Jessica mengangkat kedua tangannya menginterupsi, “Oh maaf.”

Donghae mencabik rambut dikepalanya selagi mengatur napasnya yang pasang surut. Tangan Jessica terlipat mengamati pergerakan Donghae yang semakin mirip seorang pecandu yang kehabisan obatnya.

Drtt…Drtt… Bunyi ponsel dari dalam tasnya mengalihkan perhatian Jessica. Perempuan itu membaca layar pada benda persegi panjang yang berdering itu, membungkukkan sedikit punggungnya lalu  menekan tombol jawab.

“Yoboseyo… Nde?.. oh ya? Nde aku ingat, baiklah lima belas menit lagi aku sampai… Nde..” Jessica memutus panggilan teleponnya. Ia mengembalikan fokusnya kearah Donghae. Belum ada yang berubah dari mimik wajahnya.

“Oppa mmm, setelah ini aku harus menemui managerku, aku juga yakin Eommamu pasti hawatir—“

“Biarkan aku disini Jess.” Potong Donghae tiba – tiba. Jessica mengernyit seolah meminta Donghae memperjelas kata – katanya.

Tatapan Donghae yang datar semakin mengenaskan dimata Jessica. Ia ingin sekali memaku sudut bibir lelaki itu agar melengkung seperti biasa, kalau saja bisa.

“Aku akan pulang nanti.” Putus Donghae.

“Kenapa?”

“Entahlah. Aku tidak tahu.” Donghae menggeleng bersama pikirannya yang mengawang ke-segala arah, “Hanya saja aku merasa nyaman disini.”

“Ya mungkin kebetulan kau merasa nyaman disini tapi tetap saja—“

“Kau ada janji bukan?” Potong Donghae. Jessica menghela napas.

“Jangan biarkan managermu menunggu terlalu lama.”

Mengangkat bahu ketika menatap wajah keras kepala Donghae, Jessica bangkit dari tempat duduknya, “Baiklah terserahmu.”

Jessica menyematkan tali tasnya dibahu, Ia memperbaiki penampilannya lalu tersenyum singkat, “Jaga dirimu.” Ujarnya lalu menambah ketika hendak berbalik, “Oh ya malam ini aku yang traktir. Sampai jumpa.”

Seiring dengan kalimat Jessica yang berlalu, Donghae belum juga beranjak dari sikap termenungnya. Donghae memandang lurus tanpa ketajaman dimatanya.  Bola hitam yang kaku itu seolah – olah sedang menghitung palanggan yang mondar – mandir dihadapannya. Sekian lama terperangkap didalam angan – angannya Donghae berdesis lirih. Cerita liar dikepalanya mulai menerka – nerka kronologis bayangan disaat Yoona pergi dengan lelaki itu yang entah siapa… Donghae bergeleng, tidak mungkin Yoona berbuat seperti itu.

“Tapi sayangnya dia sudah kabur dengan laki – laki  yang lebih kaya darimu—“

Tangan Donghae mengepal. Rahangnya mengeras disaat pengakuan itu mengapung bebas dikepalanya. Donghae memejamkan mata berusaha menghilangkan prasangka – prasangka buruk yang mulai menggerogotinya, meskipun tanpa sadar Donghae menggebrak meja menimbulkan bunyi benturan piring dan meja yang beradu, sebagian pelanggan disekitanya menatap heran. Donghae berusaha mengatur hembusan napasnya yang bertambah kacau balau. Ia menggigit bibir bawahnya memperhitungkan sesuatu tanpa memperdulikan belasan mata yang baru saja selesai memandanginya.

“Apa kau merindukan Appamu? Tunggulah sebentar lagi, setelah Eomma siap kita akan bertemu dengannya.” Seseorang yang beberapa saat lalu mengintai dari balik tembok mengelus perutnya yang semakin membuncit. Berbeda jika biasanya gerakan didalam rahimnya terasa wajar namun kini kehidupan itu berguncang dengan gerakan meluap-luap. Mungkinkah dia bisa merasakan kehadirannya disini? Seseorang itu tersenyum miris menatap dirinya sendiri juga lelaki yang termenung sendirian dibalik meja.

Donghae mengumpat berkali – kali ketika menyadari bahwa pikiran kotornya sudah menuduh Yoona sembarangan. Belum ada bukti nyata. Mungkin saja Tuan Shin hanya membual untuk memanas – manasinya. Tentu Donghae lebih mempercayai Yoona lebih dari apa pun dibandingkan Ia harus mempercayai begitu saja  kesaksian palsu dari seorang bajingan seperti Tuan Shin.

‘Tidak ada salahnya curiga, bukan?’ malaikat hitam didalam jiwa lelaki itu menyela. Donghae menggeram tanpa sadar.

Menenggak segelas air putih lalu menetralkan detak jantungnya yang sekian lama berpacu, Donghae memutuskan bangkit dari tempat duduknya. Lelaki itu berlalu pergi memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.  Dengan  langkah sedikit limbung  ia beranjak menuju pintu keluar.

“Kenapa kau tega berselingkuh sayang haaa?!!! Apaa yang harus kulakukan? Ohtokhae?”

Seorang namja paruh baya dengan kondisi acak – acakan baru saja memasuki pintu kedai. Kedua kakinya melaju sempoyongan tidak tentu arah. Tangan kiri namja paruh baya itu menggenggam botol soju sedangkan tangan satunya menari – nari diudara. Tampaknya setengah kesadaran yang Ia miliki sudah lenyap oleh minuman yang memabukkan itu. Para pelanggan disana menatap prihatin sekaligus ketakutan. Sebagian dari mereka menuntut salah seorang pelayan kedai agar  secepatnya mengusir orang itu dari sana sebelum Ia memancing keributan.

“Heii dimana kau taruh matamu?!!” Namja paruh baya itu mengacungkan minumannya kewajah Donghae. Donghae tidak ambil pusing, Ia melirik sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu. Donghae tidak ada waktu mengurusi pemabuk yang tidak tahu diri. Donghae merasa dirinyalah yang menjadi korban penabrakan akibat langkah sembrononya. Donghae sudah berjalan melewati arah yang benar. Namja itulah yang tidak punya mata bahkan  otaknya sudah menciut akibat pengaruh alkohol.

“Minta maaf dulu dasar tidak sopan !”

Langkah Donghae tertahan oleh sahutan yang menudingnya. Ia memutar tubuhnya kebelakang, menatap pemabuk itu dengan seringai, “Anda harus berkaca, bahkan penampilan anda sekarang  sangat tidak pantas menerima rasa hormat dari siapa pun.”

“Tutup mulutmu ! kau anak baru kemarin tahu apa kau mengenai rasa hormat ! hah?!”

“Anda ingin dihormati tapi kelihatannnya anda tidak sudi menghormati diri anda sendiri.” Tanggapnya remeh.

“Lancang kau !”

Donghae terkekeh sinis. Ia bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti betapa sia–sianya menantang seorang pemabuk yang kesadarannya sudah hilang ditelan angin. Hanya saja malam ini Donghae merasa tidak ada salahnya jika sekali – kali memancing keributan dengan seseorang.

“Pantas saja, kelihatannya anda baru saja dicampakan.”  Donghae menarik fake smile-nya. Wajah si pemabuk itu memerah. Menganggap tidak ada hal yang perlu dikatakan lagi, Donghae menatap remeh Lantas Ia berbalik badan menuju pintu.

“Bangsat.”

Dengan api amarah yang membakar tubuhnya, namja paruh baya itu menerjang tubuh Donghae hingga tersungkur menghantam pot tanaman. Pot – pot kayu yang berjejer rapih didepan jendela samping pintu berubah berantakan. Tanah beserta tumbuhan didalam pot itu berhamburan kemana – mana. Beberapa orang menatap shock menyaksikan kejadian tiba – tiba dihadapan mereka. Beberapa diantaranya memekik dan memilih datang menghampiri.

‘Prang’ teriakan histeris mengikuti bunyi pecahan botol minuman. Pemabuk itu membanting botol soju kearah Donghae namun karena gerakannya tidak beraturan, lemparan itu melenceng jauh. Kini pecahan beling soju ikut berserakan dilantai mengundang pemilik kedai menyambaninya.

“Aigooo…” ahjumma pemilik kedai memekik tidak percaya. Wajahnya panik dan kelimpungan.

“Kau bajingan tengik.” Pemabuk itu menarik kerah kemeja Donghae dan melempar tubuhnya sekali lagi. Teriakan nyaring memenuhi ruangan ketika tubuh Donghae tersungkur untuk kedua kalinya. Tentu Donghae ingin sekali menangkis serangan itu namun sepertinya  keadaan  tidak memungkinkannya melakukan hal itu. Kepala Donghae mendadak pening. Tiba – tiba segalanya tampak buyar.

“Hentikan ! hentikan… Kumohon jangan..” seorang wanita menerobos kerumunan manusia. Ia bersimpuh memohon – mohon sekaligus  menghalau tindakan si pemabuk yang tampaknya hendak menyerang Donghae untuk kesekian kali. Belum sempat Ia menyentuh Donghae, dua orang pelanggan lelaki menarik pemabuk itu mundur. Pemabuk itu meronta namun kedua lelaki yang menyeretnya tetap kekeuh mengusirnya keluar kedai.  Lantas Kedua lelaki itu mendorong tubuh si pemabuk menjauh dari pintu masuk selagi mengumpat kasar.

“Oppa… Oppa hikzz…” wanita itu beringsut lalu menangis memeluk kepala Donghae yang tergeletak tidak sadarkan diri diatas pangakuannya.

“Kau mengenalnya ?” wanita paruh baya yang merupakan pemilik kedai menatap prihatin.

Ia mengangguk pasti. Fokus pandangannya lagi – lagi jatuh kewajah Donghae. Tubuh wanita itu bergetar menahan sesak yang melanda. Ia senang melihat Donghae baik – baik saja namun entah kenapa lelaki itu kerap kali terjebak didalam kondisi  yang tidak menguntungkan seperti ini. Wanita itu menepuk wajah Donghae berulang kali, bibirnya memohon – mohon agar Donghae membuka matanya namun nihil, tampaknya lelaki itu benar – benar tidak sadarkan diri.

“Sebaiknya kita bawa dulu dia kedalam.” saran pemilik kedai ikut berjongkok disampaingnya, wanita paruh baya itu menggenggam bahunya yang bergetar, memberi pijatan halus dengan harapan bahwa Ia  bisa menyalurkan ketenangan lebih.

Menyeka air matanya kasar lalu Ia mengadah dengan tarikan napas panjang, Ya Tuhan kenapa lagi?

…………..

Seorang wanita paruh baya memasuki sebuah kamar dengan baskom berisi air dan handuk kecil ditangannya. Ia menghampiri seorang wanita yang lebih sebulan ini menemaninya di kedai ramen miliknya. Perlahan Ia mendudukkan tubuhnya disamping wanita itu.

“Dia Appanya?” Tanya wanita paruh baya itu. Bibi Kim.

Wanita yang yang menjadi objek pertanyaannya menggangguk pelan. Kedua mata sendunya tanpa henti memandangi seorang lelaki yang tengah terbujur dihadapannya. Beberapa saat lalu Bibi Kim meminta kepada beberapa pelayannya agar membawa lelaki yang tidak sadarkan diri itu menuju kamar tamu. Bibi Kim merasa bertanggung jawab karena lelaki itu baru saja menjadi korban amukan pemabuk dikedainya.

“Namanya Lee Donghae.” Ujar Yoona mengusap pipi lelaki itu.

“Yoona, sebaiknya kau bersihkan dulu tubuhnya.” Saran Bibi Kim memandangi tubuh Donghae yang dipenuhi butiran tanah.

“Dia pasti tidak nyaman, ini bersihkan dengan handuk basah.” Tambah Bibi Kim memberikan baskom yang berada dipangkuannya. Yoona meraih baskom itu.

“Bibi kedepan dulu ya, sepertinya akan ada banyak pelanggan malam ini, sepertinya  mereka beru saja gajian.” Pamit Bibi Kim tersenyum. Yoona membalas senyum itu. Bibi Kim mengelus rambut Yoona setelah itu beranjak berdiri, punggungnya yang rapuh lalu menghilang dibalik pintu yang menjeblak.

Yoona menatap baskom ditangannya juga Donghae bergantian. Yoona menghela napas, Ia meletakkan baskom itu diatas meja samping ranjang kemudian mulai membuka kancing kemeja Donghae satu persatu. Butiran tanah itu bahkan sudah merembet kedalam kemejanya.

Butiran tanah yang bertebaran diatas permukaan bidang Donghae dibasuhnya menggunakan handuk setengah basah. Yoona terus melakukannya dengan telaten hingga tak ada sebutir pun yang tersisa. Ketika hendak membasuh bagian leher Donghae, gerakan Yoona tiba – tiba berhenti.

“Yoona, Kajima…”

Kening Donghae mengerut samar namun begitu kelopak matanya bungkam ketika Ia menggumam  gelisah. Leher Yoona serasa tercekat oleh semua kenangan yang menghadang dari masa lalu. Yoona berusaha tidak memperdulikan. Tangannya yang menggenggam handuk mula – mula membasuh peluh dileher Donghae. Yoona lupa bahwa ada satu hal yang tidak bisa Ia ingkari disaat hatinya berontak, bulir kesesakan itu. Semakin lama matanya berpapasan dengan wajah dihadapannya maka dunia disekitarnya  semakin buram akibat gumpalan bening dimatanya  yang membuyarkan fokus.

Handuk didalam genggaman Yoona terlepas seketika. Kini tersisa lima tungkai jemari Yoona yang meraba – raba hendak menyentuh wajah Donghae.  Tampak getaran disekujur tubuh Yoona ikut merembet sampai keujung jemarinya.

Yoona membekap bibirnya dengan kelima jemari yang lain ketika berhasil menyentuh wajah Donghae. Permukaan kulit Donghae begitu hangat dan licin. Tidak ada yang berubah darinya sedikit pun.

Tubuh Donghae menggeliat. Yoona mengangkat jemarinya satu senti. Tubuh Yoona seketika mematung, Ia menunggu dengan penuh harap  bibir merah Donghae yang sedikit menunjukkan rongganya.

“B-bogosipheo…”

Satu kata yang mencuat dari sana berhasil menikamnya. Dada Yoona serasa terhimpit tembok. Ditengah himpitan itu, Yoona berusaha bernapas dengan benar namun yang dirasanya kini tidak banyak napas yang masuk kedalam paru – parunya.  Sebisa mungkin Yoona menelan udara hampa yang kini malah menciptakan sesangguk. Yoona menarik napas lalu menghembuskannya penuh asa  namun genangan didalam matanya lagi – lagi tidak bisa berbohong. Mereka semua menghantam dan menyerang pipinya seperti badai.

Yoona memilih menidurkan tubuhnya disamping Donghae. Menggiring air mata yang merembes kebagian sudut mata. Lengan Yoona menjulur memeluk leher Donghae dan menangkup wajahnya. Hening disekitar mereka membuat pendengaran Yoona merekam dengan jelas hembusan napas Donghae yang sedikit ricuh.  Yoona mengusap dada Donghae yang bergerak pasang surut lalu mendiamkan telapak tangannya disana.

“Saranghae.” Bisik Yoona memejamkan matanya. Tiba – tiba tindakan bodohnya dulu berputar ulang. Yoona meyusuri kejadian – kejadian itu. Mulai dari keputusan bodohnya yang mengecewakan semua orang hingga kejadian disaat Tuhan memberinya kesempatan berharga untuk menata segala yang terbengkalai.

Flashback

“Jadi harus kemana aku mengantarmu?” Eunhyuk bertanya tiba –tiba. Kedua tangannya telah siap mengendalikan setir mobil.

Bibir Yoona terangkat lalu terkatup dua detik setelahnya. Eunhyuk mengamati wajah perempuan disampingnya yang tampak memperhitungkan sesuatu dengan wajah bimbang. Didalam hati Yoona sedang bergelut dengan pikirannya. Kalau saja Ia mengetahui keberadaan ayahnya… namun kini satu – satunya kerabat yang Ia punyai menghilang entah kemana. Yoona tidak punya siapa – siapa lagi. Yoona terlalu malu untuk pulang ke rumah Donghae usai keputusannya dan apa nyaris Ia lakukan.

“Nyawamu sepertinya tidak disini.” Tukas Eunhyuk. Yoona spontan menoleh.

“Kalau kau bingung, aku bisa memberikan tumpangan untukmu.”

Yoona menatapnya tidak mengerti.

“Hyoyeon adalah anak semata wayang. Setelah ia meninggal karena sesuatu yang tidak diinginkan, Eommanya sangat merasa kehilangan.” Eunhyuk tersenyum miris lalu menatap Yoona.

“Aku bisa membawamu tinggal bersama Eomma Hyoyeon. Namanya bibi Kim, Ia adalah pemilik kedai ramen. Eommonim pasti akan menerimamu dengan senang hati. Akhir – akhir ini Ia senang sekali jika melihat wanita seumur Hyoyeon.”

Tidak ada pilihan Lain. Yoona hanya diam menanggapi usulan Eunhyuk. Eunhyuk mengangkat bahu dan menganggap bahwa aksi diam Yoona berupa tanda persetujuan.

Flashback off

Sekian lama Yoona menimbang waktu untuk menemui Donghae. Ia terus berpikir bagaimana caranya muncul didepan lelaki itu beserta keluarganya. Terlalu banyak kekecewaan karena sikapnya dahulu, Yoona menyadari sepenuhnya.

Yoona bersyukur karena Ia bisa bertemu dengan orang sebaik bibi Kim yang mau menerimanya. Bibi Kim seolah merasa Hyoyeon hidup kembali dan itulah yang dikatakan bibi kim berulang kali kepadanya. Yoona merasa prihatin sekaligus terharu oleh perlakuan dan kata – katanya.

Sekarang hal yang tidak diduga lagi – lagi terjadi. Kehadiran Donghae disini cukup membuat Yoona terkejut, dalam artian Ia senang akan kehadiran lelaki itu dan mengetahui keadaannya sekarang. Tapi penerimaan Donghae membuat Yoona bimbang. Apakah setelah Yoona memutuskan pergi Donghae masih bersedia menerimanya dan… bagaimana perasaan Donghae jika mengetahui bahwa Yoona hampir saja menggugurkan buah cinta mereka? Yoona belum siap mendengarnya, segala penolakan yang berujung bencana dalam hidupnya.

Yoona sedikit lelah oleh situasi dihadapannya. Ia ingin tertidur, tertidur dengan begitu lelap meluapkan segala  kenyataan yang terjadi disekitarnya. Yoona ingin terjun memimpikan sebuah kebahagian tanpa perasaan bersalah yang bergentayangan sepanjang hari.

Penglihatan Yoona mengabur dan berkunang – kunang. Rasanya hembusan angin musim semi bagaikan menerpa wajahnya, Yoona merasa ketenangan mudah saja menyusup keadalam paru – parunya, tubuh Yoona serasa diatas awan. Ternyata seperti ini… Yoona akan merasa segalanya jauh lebih ringan dan mudah selama Donghae disampingnya. Yoona tidak menyangka perasaan itu berlaku sampai sekarang. Yoona mengira usai keputusan bodohnya perasaan itu sudah tidak  berlaku dan justru tergantikan oleh rasa bimbang yang menggelisahkan. Namun tidak demikan. Tidak ada yang berubah temasuk hatinya.

Tubuh Donghae menggeliat, nampaknya Yoona sudah jatuh kedalam alam mimpinya hingga tidak menyadari hal itu. Yoona tetap bertahan didalam pejaman matanya bahkan kini lengannya semakin mengencang hingga wajahnya  tertarik dan menempel dibahu Donghae.

Donghae merasakan kepalanya begitu berat. Ia berusaha mengangkat kepalanya namun erangan begitu saja meluncur dari bibirnya. Sepasang mata Donghae yang setengah memejam mulai menyusuri sekitar. Dahinya terlipat – lipat ketika pikirannya berusaha dengan keras mengingat apa yang terjadi sehingga membuatnya terperangkap didalam tempat yang tidak dikenalinya ini. Jelas – jelas tempatnya sekarang berbaring adalah sebuah ranjang, dan ini… kamar seseorang.

Donghae terperanjat. Jantungnya lantas berdebar – debar, lebih lagi disaat Ia menemukan seorang wanita tertidur disampingnya dan apa ini… kancing kemejanya terbuka.

Punggung Donghae sedikit terangkat. Sudut matanya melirik wanita yang tengah terlelap itu. Donghae mengerjap. Ia memiringkan posisi tidurnya kesamping kiri. Jemarinya terangkat menyingkirkan surai hitam yang menghalangi wajah perempuan itu.

“Y-yoona?”

Donghae menyanggah tubuhnya dengan sikut lalu menyingkirkan lebih banyak surai rambut perempuan itu agar wajahnya lebih terlihat jelas.

Pejaman mata Donghae menekan kuat hendak memperjelas lagi penglihatannya disaat pemandangan disekitarnya tampak berkunang – kunang.

“Benarkah ini?” desis Donghae tidak percaya. Jemarinya beranjak menyentuh satu persatu bagian wajah Yoona, mata, hidung, dagu juga bibirnya yang sedikit terbuka. Rahang Donghae mengeras menahan sesuatu yang meluap – luap didalam dadanya.

 Merasakan sapuan diwajahnya, Yoona bereaksi. Gelengan pelan tercipta diwajahnya seolah menepis sesuatu yang berkeliaran dipermukaannya.

Perlahan – lahan kening Yoona mengukir kerutan samar. Kelopak matanya terbuka sedikit – demi sedikit. Yoona mengerjap. Penglihatan yang buram semakin lama menunjukkan ketajamannya. Pertama kali membuka mata wajah Donghae menyambutnya. Donghae… Yoona tercekat tidak lama kemudian.

“O-Oppa..” Yoona terpekik. Tubuhnya mengejang seketika, Ia beringsut kebelakang menjauhi Donghae yang sama terkejutnya.

Donghae mendekati Yoona.  Perempuan itu hanya mematung menahan debaran jantungnya menyaksikan sosok Donghae yang semakin memangkas jarak padang mereka.

Yoona terhenyak ditempat. Kehangatan tangan Donghae tiba – tiba menangkup wajahnya yang gemetaran. Sorot mata sendu yang memancar dari bola hitam lelaki itu semakin memenjarakannya. Yoona menelan ludah.

Donghae membasuh pipi Yoona dengan ibu jarinya, “Kau kemana saja selama ini Yoona?”

Bibir Yoona bekedut ingin menjawab namun seolah ada duri yang menancap dipermukaan lidahnya, Yoona tidak sanggup berkata – kata. Mustahil Yoona jujur mengenai penyerahan dirinya kepada mafia itu. Ia bahkan hampir menyerahkan diri kepada seorang lelaki. Apalagi soal rencananya menggugurkan janin mereka… Donghae akan semakin terluka jika mengetahui yang sebenarnya.

“A-apa benar kau pergi menemui Tuan Shin ?” Tanya Donghae dengan wajah serius.

“Darimana kau bisa tahu, apa—“

“Barusan aku datang ke kafenya di Gwangju. Aku bertanya tentangmu.”

“L-lalu ?” Yoona tercekat. Ia menatap lelaki itu bersama genangan dimatanya. Keringat dingin mulai tercetak semakin kentara. Yoona merasa seperti dikejar hantu membayangkan Tuan Shin mengatakan sesuatu yang macam – macam  mengenai dirinya didepan Donghae.

“Dia bilang kau menyerahkan diri kepadanya lalu kabur dengan laki – laki lain yang lebih kaya.”

Yoona bergeleng menggenggam kedua tangan Donghae yang  menangkup diwajahnya, “S-Siapa yang mengatakannya? Penjahat itu ? Oppa jangan pernah percaya dengan apa pun yang Ia katakan, aku tidak seperti itu. Ya, aku memang menyerahkan diri tapi tidak dengan kabur bersama laki – laki. Laki – laki itu memang pelanggan disana, tapi setelah tahu bahwa aku sedang hamil, dia berbalik mengeluarkanku dari tempat itu dan membawaku kesini. Aku malu bertemu dengan keluargamu Oppa, aku tidak punya pilihan selain mengikuti sarannya untuk tinggal disini.”

Bibir Yoona terkatup manakala Donghae menaruh telunjuk dipermukaannya, “Kau tidak perlu menjelaskan apa pun Yoona. Aku tidak butuh penjelasan.”

Yoona terdiam usai menelan semua kata – katanya yang berada diujung lidah.

Manik Donghae berubah dingin, “Jadi semua itu tidak benar ?”

Lagi – lagi Yoona bergeleng kaku, Ia ingin menangis karena kemungkinan Donghae tidak akan percaya.

Sebelah tangan Donghae menyibak rambut Yoona kemudian satu kecupan mendarat dikeningnya. Yoona memejamkan mata meresapi kehangatan bibir Donghae yang mengecupnya dalam.

Donghae menempelkan kening mereka usai kecupan itu, Ia bergumam penuh kelegaan, “Ya sudah kuduga.”

Suasana tiba – tiba menjadi canggung untuk Yoona. Ia tidak lagi menemukan sepatah kata yang bisa diolahnya menjadi sebuah pembelaan karena pada dasarnya tidak ada yang butuh disangkal. Yoona merasa tersudut oleh sikap Donghae yang seperti ini. Ia bagaikan seorang kriminal yang  dibebaskan tanpa syarat. Benarkah Donghae semudah itu menerimanya ? Donghae lebih pantas melancarkan caci maki akibat keputusan bodoh yang melukainya.

“Mereka berbuat kasar kepadamu ?” Donghae kembali menangkup wajah Yoona. Bola matanya menyusuri iris mata Yoona yang perlahan menunjukkan ketajamannya.

“Ani.” Jawab Yoona.

“Syukurlah.” Kedua sudut bibir Donghae mengukir senyum tipis, lalu hilang tanpa jejak usai menemukan Yoona  tetap membatu ditengah kebisuan penuh arti. Donghae menyadari tatapan Yoona menarik rahangnya yang mengeras.

“Apa maksudnya semua ini ?” Yoona menerawang kedalam mata Donghae.

Bukan jawaban yang didapatnya. Donghae justru menarik Yoona kedalam pelukannya. Donghae menyusupkan wajahnya diantara lekukan hangat perempuan itu lalu menghisap aromanya. Yoona diam terpaku merasakan dekapan Donghae yang semakin membelenggu dan membuatnya sulit bernapas.

Tatapan Yoona berubah nyalang. Yoona menginginkan reaksi Donghae yang lebih kejam untuk sebuah penghianatan yang telah Ia perbuat karena meninggalkannya tiba – tiba. Donghae membuatnya tampak bodoh dengan bersikap seperti ini.

“Kau marah padaku kan Oppa ?” Gumam Yoona menahan  getaran suaranya diantara pita suara yang tecekat. Tarikan napasnya berpacu dalam, Yoona berusaha meredam gejolak didalam tubuhnya lalu bersikap setenang mungkin.

“Dari mana kau tahu ?” Intonasi Donghae terdengar sama seperti Yoona. Rupanya Donghae terlalu pandai menyamakan situasi—

“Detak jantungmu tidak bisa berbohong.”  Namun sayangnya hembusan napas Donghae terlampau ricuh menyapu gendang telinga Yoona, apalagi degupan didalam dadanya yang terdengar meronta – ronta. Yoona juga bisa meraba dengan jelas bagaimana usaha Donghae melapangkan deru napasnya yang  menyempit. Donghae bisa saja menghilangkan sesak yang kini menderanya, apabila sekarang juga Ia berteriak didepan Yoona.

“Kau marah padaku, Iya kan ?” ulang Yoona sekali lagi.

Donghae menarik napas lalu terkulai diatas bahu Yoona. Kedua mata lelaki itu memejam damai, “Nde Yoong aku marah, sangat marah,” jawabnya. Telapak Yoona berubah sedingin es berbanding terbalik dengan tubuhnya yang memanas.

Donghae semakin menggali dekapannya. Tarikan garis kekiri tercipta dari bibinya sebelum Ia menambah. “Aku marah dan kecewa. Begitu marahnya sampai – sampai kehabisan cara bagaimana sepantasnya menunjukkan kemarahanku didepanmu.”

Sekarang Yoona puas. Yoona puas karena setidakknya Ia bisa merasakan sakit dan perih akibat  kemarahan Donghae. Yoona memejamkan mata disaat pandangannya mengabur. Tetesan hangat meluncur kebawah membasahi kemeja Donghae.

Bibir Donghae serasa mendekati telinga Yoona. Kemudian lelaki itu membisikkan sesuatu yang memacu napas Yoona  berubah sesangguk.

“Sudah terlalu banyak energi yang terkuras hanya untuk memikirkanmu setiap hari sayang, jadi menurutmu berapa banyak lagi  tenaga yang kupunya untuk berteriak dihadapanmu dan meluapkan seluruh amarah itu ?”

Tidak ada. Tentu Yoona menyadari Donghae sudah terlampau lelah melakukannya, termasuk Yoona yang sama lelahnya dengan Donghae. Yoona ingin sekali berhenti membuat Donghae hawatir, apakah permintaan itu sangat sulit untuk digapai ?

Gumpalan cairan bening kian menggerubuni matanya. Yoona mengedip sekali dan tetesan itu sontak mengalir bagaikan air terjun yang menyerbu pipinya. Yoona mencoba menyeka, Ia ingin terbebas dari kukungan tubuh Donghae namun usahanya sia – sia, Lelaki itu semakin menarik tubuhnya. Yoona terpenjara sekali lagi dibawah sensasi hangat pelukan Donghae yang menenggelamkan sekaligus menguncinya hingga sulit berkutik.

Sesuatu menyadarkan Yoona. Pelukan Donghae menggeliat semakin possessive, bahkan beberapa kecupan lelaki itu menyerbu lehernya. Yoona belum siap melayani permintaan Donghae yang seolah tidak kenal tempat itu.  Yoona meronta dan mengerahkan seluruh tenaganya yang mungkin tidak seberapa agar secepatnya terlepas dari jeratan Donghae. Yoona mulai hawatir seseorang  tiba – tiba masuk dan  melihat mereka.

“Oppa lepaskan—“

“Biarkan aku memelukmu  seperti ini Yoong. Sudah lama aku mengiginkannya. Kau tahu penantian itu sungguh menyiksa.” Ujar Donghae ditengah kegiatannya.

Yoona berhasil menangkup wajah Donghae meskipun setelah itu kecupan Donghae berpindah membasahi pipinya, “Oppa, sekarang bukan hanya aku.”

Donghae memegangi tengkuk Yoona disaat perempuan itu tidak berhenti menghindarinya dengan gelengan dikepala. Donghae bukannya tidak mengerti apa yang dimaksud Yoona, hanya saja Ia terlalu merindukan perempuan itu.

“Aku akan berhati – hati.”

“Bukan itu masalahnya tapi.. tapi aku perlu memberitahumu… ada sesuatu yang harus kau ketahui..” jemari Yoona berusaha menjauhkan bibir Donghae namun lelaki itu semakin menarik tengkuknya. Kecupan Donghae bagaikan mencari – cari sesuatu. Spontan Yoona melipat bibirnya kedalam, namun entah bagaimana Donghae berhasil menghisap benda ranum itu kedalam rongganya.  Donghae mengigit bibir bawah Yoona sebelum Ia berhasil menyusupkan lidahnya dan membangun petualangan menyenangkan. Yoona terbuai oleh permainan Donghae. Tanpa sadar  jemarinya justru berpindah mengusap bahu lelaki itu.

Posisi mereka berganti. Lengan Yoona menggantung diseputar leher Donghae ketika punggung mereka memantul dipermukaan ranjang. Yoona mengelus tengkuk Donghae disela peperangan lidah yang belum juga membuka jeda untuk bernapas. Leguhan tipis keluar dari bibir Yoona disaat mereka saling menghirup udara yang saling berhembus. Jemari Yoona menyusuri rahang Donghae menariknya semakin memperdalam pangutan mereka. Sebelah sikut Donghae bertumpu disamping wajah Yoona, Donghae  mengangkat tubuhnya sedikit memberi jarak agar Ia tidak terlalu menindihi perempuan itu. Donghae menangkup dagu Yoona mengadahkannya lebih tinggi guna menyalurkan rasa kepemilikannya atas Yoona semakin intim.

Segala himpitan rindu melebur menjadi satu. Jiwa didalam tubuh bagaikan hidup sekali lagi usai terkubur ribuan tahun lalu. Donghae benar – benar merasakan jantung menggebu – gebu diantara kehangatan dan rasa aman yang melingkupinya begitu pula dengan Yoona. Meskipun perasaan bersalah itu bergentayangan dibelakangnya, namun setidaknya untuk sementara beban didalam tubuh Yoona terangkat seluruhnya oleh sentuhan Donghae yang begitu memabukkan.

Satu persatu butiran kancing kemeja Yoona terlepas dari lubangnya. Bibir Donghae beranjak menyusuri bagian sensitive Yoona. Kecapannya jatuh menuju dagu, menyesap dengan ricuh hingga menuruni leher jenjang perempuan yang kini nyaris menggelinjang. Belum sampai menuju titik puncak, bunyi ponsel yang muncul tiba – tiba dari dalam saku celana Donghae menghentak keduanya. Fokus mereka berpaling. Donghae mendesah frustrasi menemukan ponselnya berubah menjadi penganggu paling berbahaya diitengah momen penting.

Yoona menangkup wajah Donghae yang seolah tidak memperdulikan panggilannya, “Angkatlah, aku janji tidak akan kemana – mana.” Usul Yoona meyakinkan. Donghae menghela napas. Ia menyingkirkan  tubuhnya dari atas tubuh Yoona lalu merogoh ponsel dari kanan saku celananya.

Donghae menatap sekilas nama sang penelpon. Ia teringat sesuatu. Sudah terlalu lama dirinya berada diluar rumah, pantas saja seseorang itu menghawatirkannya.

 “Yoboseyo… “ sapa Donghae kemudian lelaki itu mulai serius mendengarkan sesekali Ia menanggapi dengan ekspresi kelelahan.

“Aku baik – baik saja Eomma… Aku cukup bisa menjaga diri… Nde… tidak ada yang terjadi… Aku di—” Donghae menatap Yoona sejenak. Yoona bergeleng sebagai jawaban. Ia mengerti bahwa pastilah Nyonya Lee sedang mempertanyakan keberadaan Donghae saat ini. Yoona cukup bisa memperhitungkan shock terapi yang harus mereka terima seandainya mendengar fakta bahwa Donghae bersamanya. Akan ada saatnya dimana mereka akan mengetahui sendiri yang sebenarnya terjadi.

“Aku di rumah temanku, ada urusan mendadak.” Jawab Donghae kemudian. Yoona bernapas lega.

“Baiklah… aku mengerti.” Usai percakapan itu Donghae memutus panggilannya. Menghela napas, Donghae melempar benda persegi itu kesembarang tempat yang tanpa sengaja menyusup dibawah bantal.

“Eomma terlalu menghawatirkanku, padahal aku bukanlah anak kecil yang perlu dihawatirkan sampai segitunya.” Donghae menerawang, tidak lama fokusnya berputar.

Donghae menatap Yoona yang duduk membisu disisi ranjang. Matanya bagaikan menyusuri penampilan Yoona dari atas kebawah. Yoona menjadi tidak nyaman. Ia ikut memperhatikan dirinya sendiri.  Dan betapa terkejutnya Yoona menemukan lima dari Kancing atas  kemejanya terlepas dan menganga lebar hingga mengeskpos bagian dalamnya. Spontan kedua lengan Yoona menyilang didepan dada. Yoona meruntuki dirinya sendiri yang begitu serius memperhatikan Donghae yang  tengah berbicara ditelepon tanpa menengok keadaannya sendiri.

Yoona bergegas mengancingi kemejanya satu persatu, namun entah sejak kapan Donghae sudah duduk dihadapannya. Sebelah tangan Donghae menjulur mencegah tindakan itu. Yoona mengerjap kaku. Ia terkejut karena tiba – tiba saja Donghae membungkus kedua tangannnya dan mengusap dengan penuh tekanan. Yoona menyadari jarak wajah Donghae semakin menipis dari wajahnya. Donghae menarik tubuhnya kedepan hingga dada mereka bersentuhan.

Napas Donghae berhembus menyapu wajahnya. Yoona bergidik. Kedua matanya terpejam gelisah disaat bibir Donghae serasa meraba – raba permukaan wajahnya. Keringat dari pelipis Yoona terjun kebawah. Denyut jantungnya melaju semakin cepat. Donghae menangukup wajah Yoona yang semakin mundur. Kecupan halus dari berbagai sisi mendarat dipermukaan bibir Yoona. Perempuan itu tidak membalas, justru berusaha memalingkan wajahnya kesana – kemari. Donghae mengernyit ketika membuka sedikit matanya.  Ia menemukan Yoona terengah – engah diantara upaya penghindaran yang Ia lakukan. Donghae bertanya – tanya sendiri, apakah permainannya terlalu kasar sehingga Yoona ketakutan? Tanpa Donghae sadari genggaman tangannya disaat menopang tubuh Yoona mengendur.

Leher Donghae tercekat oleh gerakan Yoona yang tiba – tiba menghambur kedalam pelukannya. Donghae bisa merasakan detak jantung Yoona yang berantakan ketika perempuan itu menyusupkan kepalanya dipermukaan bahunya. Donghae berupaya membangun kontak mata dengan Yoona namun Ia sontak menyadari bahwa pergerakannya terbatas. Lengan Yoona terlalu mengunci pinggangnya rapat.

“Hentikan Oppa, dengarkan aku dulu. Aku belum bisa tenang sebelum mengatakan ini.” Pinta Yoona terdengar rapuh.

 “Aku ingin jujur kepadamu sebelum kita melakukannya lebih jauh, sebelum kau benar – benar menerimaku. Kau boleh berpikir ulang atas penerimaan itu.. Aku akan menghormati keputusanmu.”

Donghae diam terpatung, dahinya mengernyit disaat pikirannya mencerna maksud dari kata – kata Yoona. Nyaris tanpa kedipan, lelaki itu menunggu penjelasan Yoona penuh harap.

Tarikan napas Yoona terdengar ricuh sebelum akhirnya berhembus dengan kasar. Kegelisahan terpantau dari bahasa tubuhnya ketika Ia bersuara, “Oppa Sebenarnya… sebenarnya aku pernah berniat menggugurkan anak ini…Mianhae.”

Bibir Donghae berubah kelu. Detak jantungnya berpacu dan serasa meledak – ledak. Donghae kehabisan kata – kata disaat amarah mulai mendesaknya. Namun Donghae menyadari Yoona bukanlah seperti orang – orang pada umumnya. Kadang kala ketika emosi Yoona tidak stabil maka Ia bisa saja berbuat nekad. Inilah yang seringkali Donghae takutkan…

“Tapi aku menyadari kalau anak ini bukan hanya milikku tapi milik kita.”  Gelengan  samar kepala Yoona sedikit menyadarkan Donghae. Yoona terdiam setelahnya. Donghae mengira Yoona tertidur diatas bahunya namun tidak demikan. Suara Yoona kembali mengudara meskipun kali ini dibarengi napas sesangguk.

Donghae mengadah guna menghirup udara sebanyak mungkin. Kedua matanya sontak memejam seiring napasnya yang berhembus kasar.

“Ketika memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Tuan Shin, aku merasa cepat atau lambat akan ada masalah jika orang – orang itu mengetahui kenyataan bahwa  aku hamil, jadi sebelum terlambat aku berniat menggugurkannya.”

“Niat itu tidak sampai terjadi karena aku lebih dulu melarikan diri.”

Yoona mengangkat kepalanya. Ditengah fokus pandangnya yang mengabur, Yoona tidak terlalu dikejutkan oleh tatapan Donghae yang dingin. Yoona mengangkat jemarinya meraba – raba wajah Donghae dengan ragu,“Kumohon jangan salah paham aku—“

“Berhenti membahasnya.” potong Donghae. Lelaki itu merenung dibawah sorot mata memperhitungkan,   “Cerita itu akhiri saja sampai disini.” Putusnya. Yoona terhenyak.

Donghae meraih kedua tangan Yoona, menggenggamnya lalu membawa tautan itu ketengah – ketengah mereka. Donghae mengusap tangan Yoona dengan ibu jarinya, Lelaki itu tidak menyangkal apa –apa dan membiarkan Yoona menerka – nerka.

“Jadi apalagi yang harus kuketahui ?”

Pertama kali Donghae mendelik kearahnya, Yoona terkesiap oleh ketajaman yang menghunusnya. Spontan wajah Yoona berpaling kebawah. Dan seketika bulir – bulir bening yang menggumpal dipermukaan matanya ikut berceceran.

“Tidak ada lagi, hanya itu.” Jawab Yoona usai beberapa saat menenangkan diri.

Telunjuk Donghae mengangkat dagu Yoona seiring ibu jarinya yang menyambut dengan usapan halus, “Kalian baik – baik saja, bukan ?” Suara baritonnya mendorong Yoona membalas tatapan itu. Yoona mengangguk dua kali. Ia benar – benar malu saat ini. Mendengar Donghae menye but kalian… pandangan Yoona terjun kebawah menyusuri bagian tubuhnya dimana anugrah itu tumbuh dan berkembang.

“Lain kali jangan diulangi.” Donghae menggiring kepala Yoona menuju dekapannya. Tangannya mengusap – usap pucuk kepala perempuan itu selagi menormalkan detak jantungnya. Cukup sekali, Donghae tidak akan lagi membiarkan Yoona mencurigai apa pun karena detak jantungnya bekerja diluar batas.

Isakan tipis dari bibir Yoona bermunculan. Sementara itu Donghae mulai hanyut didalam lamunannya, “Mengenai  rasa bersalahmu… Kau tidak perlu  melarikan diri dan menyesali apa yang menimpaku, ingatlah bahwa kita sudah mengupayakan yang terbaik,  apa yang yang terjadi selebihnya diluar kuasamu,  aku tidak apa – apa menghadapi ancaman – ancaman itu. Kau hanya perlu tinggal disampingku. Kita akan menghadapi mereka dan setelahnya tidak akan ada lagi penganggu, asal kita bersama – sama.” Donghae memejamkan mata.

Tatapan lelaki itu berubah nyalang. “Yoona.” Panggilnya sekali lagi.

“Aku tahu kau ingin menyelesaikan masalahmu sendiri, tapi kau tahu tidak ada untungnya berbuat seperti itu.”

Yoona memeluk pinggang Donghae seolah menunggu air matanya mengering dipermukaan bidang lelaki itu, “Aku tahu Oppa… sekarang aku tahu.”

“Kau menyadari kesalahanmu ?”

“Nde Oppa, mianhae.”

“Gwencana.” Donghae mendaratkan kecupannya dipucuk kepala Yoona, merangkul dan menyelimuti perempuan itu dengan kehangatan ditubuhnya.

“Gomawo… Terima kasih karena sudah menyadarinya.” Bisik Donghae meraba – raba pendengaran Yoona.

“Kau  harus tetap disampingku.”

Yoona tertohok oleh permintaan Donghae. Sesuatu berdesakan didalam dadanya ketika Ia bercermin melihat kedalam pikirannya mengenai apa yang Ia telah perbuat selama ini. Yoona sudah berkali – kali menghancurkan kepercayaan lelaki itu.

Mata Yoona  berkilap – kilap  usai membebaskan kepalanya dari dekapan lelaki itu. Ia menyusuri wajah Donghae yang tampak menunggu kesediannya. Yoona bergeleng, bukannya ingin bersedih. Yoona mensyukuri kenyataan ini hanya saja Ia merasa perlu menegaskan sekali lagi…

“Aku sudah membuat kesalahan dengan meninggalkanmu.”

Donghae membasuh air mata Yoona, kemudian menangkup kedua pipinya. Ia mendiamkan Yoona sejenak dengan mata teduhnya, tatapan Yoona justru berpaling kearah bibir merah Donghae yang berkedut, “Kau masih punya kesempatan seumur hidupmu untuk tidak meninggalkanku.”

“Aku hampir menyerahkan diriku kepada seorang pria.”

Donghae menggenggam kedua tangan Yoona, “Aku tidak perduli. Sampai detik ini kau adalah milikku.”

Sejenak Yoona mencerna jawaban Donghae. Sontak perempuan itu menghisap cairan yang nyaris terjun dari indra penciumannya lalu menambah ketegasan ditengah intonasi suaranya, “Aku  pernah berniat menggugurkannya, buah cinta kita.”

Donghae tertegun mendengarnya, wajahnya tampak mengeras namun sedetik kemudian Donghae menarik Yoona menuju dekapannya. Dengan mudah lelaki itu berbisik, “Sayangnya Tuhan tidak mengizinkan. Kau pasti menyadari bahwa kita sudah ditakdirkan.”

Jemari Donghae meluncur dipermukaan surai hitam Yoona. Mata teduhnya menatap begitu memuja. Dalam hitungan detik napas Donghae menyentuh permukaan ranum Yoona. Merasakan wajah Donghae semakin menggelitikinya, Yoona menyisahkan  jarak seujung jari guna menghalau pergerakan Donghae menggali sentuhannya. Telunjuk Yoona membangun sekat diantara bibir mereka.

Alis Donghae terangkat. Lelaki itu menyingkirkan telunjuk Yoona setelahnya mengusap rekahan merah merona dengan punggung tangannya, “Kenapa ? Ada lagi yang harus kuketahui ?” Bisik Donghae yang seketika menghantarkan arus yang menggetarkan didalam tubuh Yoona.

Bergeser menuju tepi ranjang, Yoona bangkit berdiri. Donghae mengernyit, tatapanya mengikuti langkah Yoona yang berjalan menuju pintu.

“Aku perlu memastikan bahwa disini semua aman.” Ucap Yoona disertai bunyi putaran kunci pintu yang menjeklek. Tentu Ia mengingat bahwa kamar ini diperuntukkan bagi para tamu di kedai bukan milik pribadi jadi Yoona merasa setidaknya Ia harus berjaga – jaga.

Yoona memulangkan posisinya menghampiri Donghae. Lelaki itu terkekeh menyaksikan bagaimana tingkah Yoona yang sedikit paranoid.

Usai mendaratkan tubuhnya disebelah Donghae, Yoona hanya terdiam. Perempuan itu menunggu Donghae bereaksi.  Ia melirik wajah lelaki itu yang tampak sibuk memandanginya dari samping. Yoona merasa kegerahan, detak jantungnya melaju diluar batas.

Yoona memutar posisi duduknya menghadap Donghae. Mata mereka bertumbukan. Lelaki itu tersenyum sekilas kearahnya. Seburat merah langsung memenuhi pipi Yoona seiring wajahnya yang memanas usai ditatap seperti itu.

“Kemarilah.” Pinta Donghae bersama lambaian telapaknya. Yoona menuruti permintaan tersebut. Ia  segera mendudukkan tubuhnya dipangkuan Donghae. Mungkin seperti ini maksudnya. Sebelah tangan Yoona lalu menopang diatas bahu lelaki itu.

Sepasang mata Yoona memejam. Samar – samar penglihatannya larut mengikuti gerakan jemari Donghae yang menari – menari membelai pipinya. Napas Yoona tertahan kala tiupan napas Donghae mula – mula ikut membasuh wajahnya. Yoona menegang, kenapa rasanya seperti pertama kali, padahal sebelumnya mereka sudah pernah melakukan hal ini…

“Aku menakutimu ?” Suara Donghae tiba – tiba mengudara. Tanpa berkedip Yoona memikirkan pertanyaan Donghae. Ketakutan… mungkin grogi.

Donghae  menangkup rahang Yoona, menyusuri tiap detail wajah Yoona yang terpaku. Yoona memejamkan matanya sekali lagi, berupaya meresapi getaran dari sensasi yang lahir ditiap jengkal sentuhan Donghae. Tatapan lelaki itu semakin liar berkelana,  tangannya mulai menjalar dan berakhir dengan  tarikan dipermukaan tengkuk Yoona. Tubuh Yoona terdorong kedepan lantas bibir Donghae menyambutnya dengan pijatan halus. Yoona terhanyut kedalam pangutan itu membalas hisapan Donghae yang menjadikannya semakin beradu. Bunyi kecapan berkejaran memenuhi ruang. Yoona meleguh disela – selanya mengundang darah Donghae berpacu. Lelaki itu semakin  menekan punggung Yoona lebih menggali rengkuhan mereka seiring penyatuan yang kian menggebu.

Jantung Donghae berdebar – debar ingin secepatnya menguasai Yoona. Donghae menidurkan tubuh Yoona dibawahnya tanpa melepaskan lumatan panas mereka.  Tubuh Donghae seolah akan meledak ingin menyalurkan segalanya begitu pula dengan Yoona. Mereka saling meleburkan napas, rasa kepemilikan juga sensasi kerinduan menjadi satu. Dan perjalanan mereka berlanjut hingga mencapai puncak kenikmatan.

Donghae bisa saja seperti itu tapi bagaimana dengan keluarganya…

……TBC……

Nah kan gegara kalian pada protes aku jadi nambahin ceritanya ! akhirnya aku split dan nggak jadi end dipart ini, aku pastikan endnya di part 17 >< part ini aja udah panjang 12.000+ words kalo nggak percaya bisa dihitung sendiri :p

Semoga di part ini aku nggak kena amukan massa (?) lagi kayak-dipart 15 kemrin><

See You !

 

44 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 16 )

  1. aprill berkata:

    Ah eon tbcnya nanggung itu..Yoonhae mau ngapain di ranjang??huhu
    Yoona yoona jgn tnggalin dongek lg lah..ckup berbahagia klian brdua..kluarga dongek psti mnrima Yoonhae bersatu..

  2. Alifya YoonHae berkata:

    aku pertamakah..?? makasih author udh nyempatin buat nulis ff lg.. yoong eonni kasian, untung yg beli eunhyuk oppa jd gk jd deh.. malah di bawa kabur istri orang.. ahirnya mereka bisa bersatu lg.. next partnya di tunggu thor… semangat..

  3. utusiiyoonaddict berkata:

    hahahaha
    aku khwatir unni memporak porandakan hatiku eh ternyta gak, tingkyu :*
    awalnya menegangkan tp d akhir bkin senyum“ knapa ada hyukjae na bentaran? Tingkyu ama hyukjae udah nyelamatin yoona,
    aaah gak sabar ama kisah selanjutnya, musti romantis sweet pamili niih

  4. Ina Gomez berkata:

    ah lg seru2nya bca knpa tu TBC hrs muncul hehe..
    ahirnya yoonhae ktmu lg n yoona dh ngungkpin smua n mnyadri kslhnnya,hae oppa dgn lapang dada memaafknnya yoona dan menginginkan yoona slalu disampingnya bersma buah hati mreka.
    untung ja yoona ktmu dgn hyukjae jd dia bs bebas dr tuan shin,
    mdh2an kluarganya hae jg nerima yoona dgn lapang dada sperti dgn hae.ditunggu kebersamaan yoonha bersma little hae hehehe
    ditunggu nextnya min..jgn lm2 y min🙂

  5. Sfapyrotechnics berkata:

    Daebakkkk.. Untng yoong slamat.. Gomawo Eunhyuk oppa udh nyelamatin yoong.. Dan alhamdulillah tn Shin udah ditngkap.. Hae sblum ktemu yoong kyk mayat hidup yah?? Pntasn eommanya khawatir mulu.. Ngakunya bkan ank kcil lgi tpi tingkhnya.. ckckc Haeee hae.. Kpn yoong bkl ktemu ma ny. Lee ma Krystal?? Wahh hae percaya bngett yah ma yoong,, meski dia marah tpi dibisa ngerti dan nahan amarah dia.. Smoga yoonhae hdup bhgia..

    Next yah eon.. Fighting.. Ditunggu part end nya..

  6. Nabilla Prashanti berkata:

    Keren eonni ff nya .. ditunggu chap selanjut nya ya 😉.. yg protective shadow segera di publish ya eon,, aku nunggu itu soal nya keren .. dan ff ini jga aku suka, bgus,feel nya dpet,berasa ada di dunia itu eon 😀 #lebay ..
    Pokok nya di tunggu chap selanjutnya dan lnjutan protective shadow …

  7. dela wp berkata:

    owwwww…
    ya ampun hyuk oppa penyelamat yoonhae…
    untung saja yoong eonni ndak jadi menggugurkanya….
    dan pada akhirnya yoonhae bertemu……
    next eonni fighting.

  8. Aisyadewi c'hyunmin loverz berkata:

    aku senang karna YoonA bertemu dgn Eunhyuk lelaki yg baik hati mau menolongnya ….
    YoonHae udh kembali , semoga di part ending namti bener2 kebahagiaan untuk YoonHae & keluarganya

    oiya thor … munculin Eunhyuk lagi dipart ending yah , klo bisa jodohin tuh sama si Njess
    .. hhehhe .. puas dipart ini , oke deh ditunggu part endingnya …

    ff PS kpn lanjut thor ??
    ditunggu juga nihh … hhahaa #piss

  9. Januar berkata:

    Tuan shin ditangkep jg. Deg2an bgt pas yoona smpe di tmpat prostitusi itu, tp untung ada eunhyuk yg nyelamatin yoona. Karena eunhyuk jg yoong lolos dri tuan shin dan ngga jdi ngegugurin kandungan. Tp sbnernya pngen bgt yoonhae ktmu eunhyuk, biar donghae kenal eunhyuk.
    Akhirnya yoona ktmu jg sama donghae. Bener2 kejadian yg ngga keduga. Yoona jg udh ngejelasin semuanya biar donghae ngga salah paham.
    Semoga yoona ngga ninggalin donghae lg, mereka bersatu dan ngga ada yg misahin mereka. Gomawo thor, fighting🙂

  10. karina dianny elf berkata:

    Sempet kesel pas yoona nyerahin diri ke tuan shin,untuk ada eunhyuk yg dengan tulus ngebantuin yoona keluar dri tuan shin….
    Dan akhir yoona ketemu donghae lgi…
    Wlaupun part ini panjang tetep blm puas baca nya hehehe
    Cpt di lanjutin ya author

  11. Vaniza Rianie berkata:

    Pas baca part awal chapter ini aku agak takut soalnya Yoona mulai nekat buat nyerahin diri ,tapi untung ada Eunhyuk yang baik dan bisa nyadarin Yoona kalau semuanya salah dan bisa ngeluarin Yoona dari sana ^^
    Aku seneng akhirnya si Tuan Shin ketangkap mudah”an setelah ini gak ada lagi masalah sama si Tuan Shin !
    Dan yang paling seneng udh pasti karna YoonHae akhirnya ketemu lagi ,dan pas bagian part akhir lagi liat si Donghae yang kayanya menggebu gebu pengen sesuatu itu romantis lucu sekaligus sedih juga 😄😄
    Aku nunggu banget buat next part semoga lebih banyak kisah romantisnya dari pada konfliknya dan aku berharap semoga gak ada masalah apapun setelah keluarga Donghae tau kalau Yoona kembali ,semoga mereka bisa memahami keadaan Yoona seperti hal nya Donghae mengerti dan semoga di next part juga anaknya lahir ya 😄😄 wkwkw

  12. triyoona_im berkata:

    owalah haha.. ternyata ini masih lanjut😀 daebak authornim!! ^^ haduhh eunhyuk oppa memang hero.. lopyu oppa sdh menolong uri yoong🙂 smga hubungan yoonhae dan keluarga smkin membaik🙂

  13. haruyasaki berkata:

    wlaupun typo bertebaran tp saya puassss hahaha😄 pnjang tp gx mmbosankan, seru..untung eunhyuk yg saat itu brtemu yoona prtma x, coba orang lain.. bkal pnjang critany haha,, next jngan lama2 na..

  14. Chezta berkata:

    Qt reader g ngamuk thor…cuma lumutan nunggu next partnya hee…
    Yoonhae udh bersatu lg mg ortunya hae msh mau nerima yoong…
    Lope dh ma eunhyuk oopa yg nyelamatin yoong…

  15. tryarista w berkata:

    heeeemmmmm asyikkkk nichhh ff yg q tunggu2 mncul jg,,,,,
    pertma nyesek bget sich hdup yoona diganggu mulu ma org2 jhat,,,,
    dan pd akhirnya yoona nyerah,,,,,dan syukurlah dia ditolong hyukjae dan g jd gugurin kndungannya,,,,
    Hae cinta bget ya ma yoona,,,,,
    so sweet akhirnya yoonhae ktemu,,,,
    hae pasti sneng bget tuchh bgun tdur pertama yg dilhat org yg bgitu dicintai ,,,,,yg selama ini dicari,,,,,
    meskipun hae marah pd yoona,,,,
    pi dia bsa ngendaliin dirinya krna dia tau sifat yoona gimana,,,,,
    nexxxxxtttt jgn lma2

  16. lia861015 berkata:

    Untung aja yoona ketemu eunhyuk,coba klo gk.yoona gk bakalan ketemu sama donghae lg ^^
    Mudah2an aja masalah mereka cepet selesai,biar yoonhae bisa hidup bahagia bareng sama anak mereka ^^
    Ditunggu next part nya ya thor….pasti happy ending kan thor😉

  17. ida ziiosay berkata:

    Pdahal lagi seru2nya itu tapi malah tbc haha , akhirnya itu tuan shin dtangkep polisi juga udah gedek bngt am dy trus anaknya untung si eunhyuk yang nemuin yoona coba qlo yang laen bakalan berubah ceritanya
    Semoga kluarga donghae mash nerima yoona lg ga ada yang ganggu kehidupan yoonhae lg
    Next dtnggu chap endnya
    #fighting

  18. ida ziiosay berkata:

    Padahal sedikit lagi tapi tbc menganggu haha
    Ketangkep juga tuh tuan shin udah sebel bngt am dy trus anaknya bisanya bikin kacau hidup orang aja untung yang nemuin yoona eunhyuk coba qlo yang laen bakalan laen ceritanya semoga dengan ketangkepnya tuan shin ga ada lg yang ngusik yoona aplg celakain donghae lagi
    Akhrnya donghae ktmua yoona juga semoga kluarga donghae masih mau nerima yoona lg
    Next dtnggu ending partnya
    #fighting n keep writing

  19. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    yoona nyerahin dirinya buat tuan shin!, untung yang pertama ketemu yoona itu eunhyuk dan dia baik mau bantuin yoona buat lepas dari tuan shin dan nyelamatin kandungannya yoona.
    donghae jadi kehilangan semangat ditinggal yoona, mereka bisa ketemu di kedai ramen emang jodoh.
    donghae habis ketemu langsung nyerang yoong yang lagi hamil, dasar ikan mesum.
    penasaran gimana kalau dknghae ketemu eunhyuk yang sudah nolongin yoona, next…

  20. Tya nengsih berkata:

    TBCnya menganggu…….padahal yoonhae lagi seru……
    untung da eunhyuk yg baik hati mau nolongin dan menyadarkan yoona ….
    Donghae ja bisa maafin yoona keluarga donghae pasti bisalah…..yoonhae yg seru diranjang dilanjut lagi dong thor di nextnya…..hehehehhhh…..

  21. limhyelim berkata:

    selalu suka sama ff mu eon. Jalan cerita nya susah di tebak. kemaren udah khawatir banget yoong pergi ninggalin hae. But finally di chapter ini mereka ketemu lagi. Semoga aja keluarga Lee ga terlalu mempermasalahkan kejadian yg lalu yah 😂 next part sangat di tunggu eon, fighting💕

  22. irma nytha berkata:

    Itu dedek bayinya gak bakal kenapa napa kan ?/?
    Eunhyuk jadi hero😀
    Tuan shin ketangkep?rasain!!
    biar hidup yoonhae bisa tenang.

  23. Hunyoong berkata:

    Ya ampun tegang banget bagian yoona nyerahin diri ke tuan shin. 😭So sweet banget bang haeee. Bang hyuk makasih byk Ya ud selamatin yoong

  24. Lee Sheol Elfishy berkata:

    untung saja eunhyuk orangnya baik sampai mau ngebebasin yoona . . .
    Smoga yoona nanti mau pulang ke rumah donghae lagi . . .
    Ni chapter nanggung bacanya, tp ditunggu chapter ENDnya, smoga happy ending . . .

  25. haeril berkata:

    Hny 1 commentq DAEBAK.
    akhrx mreka brsatu.
    brhrp kdepnx tdk da lg penghalang yg bs memshkn mreka.Next chapx jgn lm2 chingu

  26. Beyoonhae berkata:

    Ahh gua mewek di part ga tau terharu ato critanya emang sedih atau gua lagu emosional aja(?) intinya aku ngerasain bgt feelnya di part ini. Keren bgt thor,, next part sangat ditunggu fightinggggg^^

  27. chalistasaqila berkata:

    Huwaaa. Akhirnya yoonhae ktemuuuu..
    Udh sempet parno ps ad pemberitahuan d fb.. Aq takut qlow part nie jga sad kek part sbelumnya.. Untung aja g sesuai dugaankuu..
    Aq skaaaa smua FF bkinin author. Slalu keren dan kreatif.
    Aq bakalan nungguin part 17.. Akhh g sabar liat anaknya yoonhae. Cewek atow cowok yaaa?? Hmm

  28. lulu_paramita berkata:

    Benar2 nggak nyangka yoonhae akan dipertemukan lagi =D
    Ngefeel bngt eonni dan tegang juga, pokokx nano nano deeehhh, jd nggak sabar nunggu endingnyaaa.😀

  29. sintayoonhae berkata:

    yaampun udh lma bgt q fk ke wp author…. uuhh ff ini msih inget bgt q pdhl udh lma bgt gk baca…. #mlahcurcol Daebakk degdegan bgt q baca.a thor akhir.a mrka bisa berstu jga… haha pdhl q blum bca part sblum.a wrkwk… dtggu next part.a thor fighting😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s