[ Oneshoot ] FF Yoonhae – Through The Rain

yh ttr

Title : Through The Rain

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance

Words : 10.000+

Rating : PG-15

~ Happy Reading ~

Through The Rain

Hujan selalu mengingatkanku tentangnya, tentang satu rindu yang tak terbalas…

Hujan mengingatkanku bagaimana dia berdiri…

Berdiri dibawah payung hitam…

Menunggu sampai hujan menenggelamkannya seperti saat ini…

Kemudian…

Sosoknya pun tergerus…

Ketika kusadari…

Bahwa, Hujan telah membawanya pergi, menghilang bersama tetesan yang mengering dibalik tanah dan menguap keangkasa.

Hanya terpatung menunggu bagaimana takdir mempersatukan kami, meski bukan hari ini…

Aku akan menunggu hari selanjutnya, dikehidupan berikutnya…

Sampai dia kembali…

Sampai aku berhasil membawanya sendiri kedalam dekapanku…

∞ * ∞

Aku menatap selembaran hijau dari balik kaca berembun… benda itu terlepas dari tangkainya, dia adalah daun.

Hijau melayang pasrah tertiup angin. Aku ingin seperti itu, menjadi daun jatuh yang mengikuti arah angin, membawanya pergi tanpa bisa menolak, atau mungkin tidak punya kakuatan untuk melawan, mengikuti arah angin, mengikuti bagaimana takdir menenggelamkannya dan inilah aku…

Mataku terpejam, rasanya nyaman sekali menghirup aroma tanah  yang terkikis hujan, semakin dalam aku menghirupnya semakin panjang aroma itu berkelana disekitarku.

Tanpa sadar aku melayang – layang diantara alam bawah sadarku dan kedua sudut bibirku merekah…

Aku selalu merasa damai didalam kamarku, tertidur diatas boneka beruang biru kesukaannya sambil tengkurap diatas spring bad, lalu memikirkannya, memikirkannya dalam sepi, sunyi, sendiri… yang selalu kulakukan seperti saat ini, pandanganku tak akan pernah berhenti menembus jendela besar yang menghubungkan antara aku dan pepohonan rindang disudut pagar. Aku menyukai pikiranku tentangnya. Aku menyukai bagaimana  wajahnya terukir sempurna, menyaksikan sudut bibirnya yang indah seperti bulan sabit, aku menyukai bagaimana Ia tertawa… Aku menyukai bagaimana dia hadir didalam kehidupanku dan menghilang begitu saja… Aku menyukainya meski itu menyakitkan…

Dia…

Pikiranku memutar bagaimana  kejadian itu merenggut segalanya dengan tragis. Kami berpisah dengan cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku merindukanmu, Lee Donghae.

Konon ketika nyawamu bertaruh diantara dua dimensi kehidupan, alam bawah sadarmu akan mengulas balik kejadian yang menimpamu sepanjang hidup, secara acak dan tanpa kendali.

Aku ingat pernah merasakannya, mengalami sendiri, bagaimana seluruh kejadian yang kualami sepanjang hidup berputar ulang dikepalaku. Alurnya berantakan, namun begitu, kapan terjadi, aku bisa mengingatnya dengan jelas.

Aku belum bisa menghapus ingatan itu. Rentang waktu ketika aku sekarat.

Peristiwa yang tak bisa terlupa. Ketika hidupku diujung jurang, Disaat kesadaranku diambang batas antara hidup dan mati aku mengingatnya, mengingat seluruh kisah yang terlewat. Menyaksikan lagi bagaimana hidupku bermula  dengan dia yang selalu tinggal disisiku. Seluruh kisah hidupku yang terjadi berputar secara acak, bagaikan film kesepian, tanpa ada yang mengendalikan, tanpa kamera, tanpa judul, tanpa penulis juga seorang sutradara. Cukup menyisahkan  beberapa pemain, aku dan mereka, dan sebuah adegan pun dimulai. Aku cukup menonton saja, seolah – olah berdiri dan melihat sendiri dengan tubuhku yang kaku. Tanpa mencampuri atau berkata – kata, semua lepas kendali meskipun itu kisahku sendiri, takdirlah yang kini mengambil alih segalanya…

Pertama – tama aku menyaksikan pengulangan hari itu, dua bulan lebih seminggu. Hari ulang tahunnya…

Hembusan napas meluncur dari bibir seorang gadis.

Sore itu cuaca mendung, bentangan danau dibawah kegelapan langit sudah tidak lagi menghadirkan pantulan sinar seperti biasa. Sepoi angin dari ufuk barat mendorong air didalam danau yang tadinya tenang menjadi tergerus. Suara gemericik air menghibur telinganya ditambah kegaduhan suara dedaunan dipinggir danau, cukup menghilangkan kesepiannya, bahkan mendekati sempurna untuk membuat gadis itu tersenyum manyaksikan bagaimana mereka berpadu dan  bersorak ria bersama ranting – ranting yang bergoyang.

Yoona menghirup napas dalam – dalam, menghembuskannya. Bibirnya lalu mengerucut kearah pancingan yang digenggamnya. Hampir sepuluh menit lamanya Ia memamancing di danau, tapi seseorang yang ditungguinya belum juga datang. Posisi disebelahnya kosong, tidak ada yang menemani.

“Hai,”

Disaat keputusasaan itu kian menggerus nyali, seseorang menyerukan namanya. Yoona menoleh tanpa minat, namun ketika melihat siapa yang kini duduk disebelahnya, mata gadis itu berseri – seri.

“Kau datang?” seru Yoona terdengar cukup lantang, hingga lelaki  itu meringis, tapi buru – buru merubah ekspresinya menjadi biasa, Ia tersenyum, “Aku tidak punya alasan yang mencegahku datang kemari, kalau aku membatalkannya, bisa – bisa kau mengamuk, Iya kan?” ujarnya sambil tergelak.

Yoona memukul lengan lelaki itu, namun pukulan yang bertubi – tubi tidak jadi diarahkkannya, Yoona ingat kalau kini pancingannya tidak ringan seperti biasa. Tubuh Yoona condong kedepan, lantas Ia menggenggam pancingannya erat – erat.

“Wah pasti ikannya besar sekali,” Lelaki itu menyuarakan pendapatnya dengan menggebu – gebu. Tangannya refleks membantu Yoona menarik pancingannya. Yoona sempat menoleh menatap lelaki itu,  wajah mereka dekat sekali bahkan Yoona bisa merasakan napas lelaki itu menyapu wajahnya. Yoona menelan ludah tapi buru – buru menggeleng.

Lelaki itu bangkit berdiri, mundur kebelakang bersama Yoona yang tampak berusaha menarik sesuatu yang tertangkap oleh pancinganya.

Sebuah kantong plastik hitam. Mereka berdua terperangah menatap benda yang menggantung diujung jaring.

“Ottokhae? Jangan – jangan itu bom.” Cetus Yoona menakuti – nakuti. Lelaki itu tersentak oleh anggapan Yoona. Ia mengambil napas hendak menepisnya, namun Yoona lebih dulu tersenyum selagi menunjuk – nunjuk, “Wahhh kau takut yaa?”

Pihak yang ditudingnya tidak terima, “Biasa saja.”

“Kalau begitu bukalah.”

“Tidak masalah.”

Plastik hitam itu sudah mendarat dihadapan mereka. Lelaki itu duduk diatas gundukan tanah lalu membukanya dengan wajah penasaran. Ia mengernyit ketika menemukan isi dari plastik itu. Sebuah kotak yang dibungkus plastik bening dan  kertas Koran. Bungkusan itu berlapis – lapis, dan Ia harus mengulitinya satu –persatu.

Yoona berjongkok memperhatikan, sebentar lagi.

“Yoona ini…” ucapnya menggantung ketika berhasil membuka kotak itu. Didalam sana terdapat sebuah jas hujan biru dan payung lipat berwarna hitam. Dan jangan Lupa soal selembar kartu ucapan yang membuat lelaki itu terheran – heran.

“Saengeil Chukkaeyo, Donghae Oppa.” Ucap Yoona selagi memberi hadiah tambahan berupa sebuah kecupan manis dipipi kiri kepada lelaki yang dipanggilnya Donghae Oppa.

Donghae menatapnya.

“Aku harap itu akan berguna.” Yoona tersenyum girang, “Ah, dan ada lagi.”

Yoona mencari – cari sesuatu didalam saku mantelnya. Donghae mengangkat alis menebak – nebak apa yang dicari gadis itu.

Usai menemukan sebuah benda yang lagi – lagi berbentuk kotak, Yoona menyerahkan kotak merah muda tanpa pelapis  itu kepada Donghae.

“Apa ini?”

“Hadiah yang sesungguhnya, bukalah.” Perintah Yoona tidak sabaran. Ia menarik napas dalam – dalam saat Donghae mulai membukanya. Sebuah kalung perak berbandul bintang.

“Yoona—“

“Sekali lagi, Saengil Chukkae Donghae Oppa.”

Hening, Yoona menunggu reaksi Donghae selanjutnya, tapi tidak ada.

“Kau tidak suka?” simpulnya menatap kecewa.

Donghae buru- buru bergeleng, “Ani, aku menyukainya, sangat – sangat menyukainya, Gomawo Yoona-ya.” Ucap lelaki itu tersenyum, kemudian senyum itu pudar dengan sendirinya ketika Ia tampak berpikir, “Ah begini saja, Aku akan langsung memakainya.”

Lantas Yoona beringsut mendekati Donghae lalu  duduk disebelahnya, ia membuka telapak tangannya diantara mereka, “Sini biar kupakaikan.”

Donghae menyerahkan kalung bintang pemberian Yoona. Lelaki itu mencondongkan wajahnya, dengan mudah Yoona mengalungkan tangannya di leher Donghae. Tidak lama kalung itu sudah terpasang sempurna.

Arah pandang Donghae tidak henti – hentinya menatap kalung itu. Ia mengusap bandul bintang yang menggantung dilehernya, selagi tersenyum sumringah. Donghae menatap kalung itu dan Yoona bergantian.

Saat Donghae menatapnya barusan, Yoona merasakan sesuatu yang bergejolak didalam tubuhnya. Paru – paru yang kian menyempit  membuat dadanya semakin meyesak bila didekat Donghae, gemuruh jantungnya semakin menggebu – gebu hingga tidak mampu Ia kendalikan.

Semua ini adalah kesalahan dan Yoona tahu ketika kinerja jantung dan aliran darahnya terganggu, itu akan berdampak fatal bagi tubuhnya..

 “Oppa…”

“Nde?”

Bibir Yoona bergerak ragu, sementara Donghae menatapnya. Yoona menarik napas dalam – dalam membalas tatapan itu, “Sarang—“

“Ah Yoona aku hampir lupa.” Sahut Donghae tiba – tiba. Yoona mengunci bibirnya selagi memejamkan mata, jengah dengan keadaan yang selalu menahanannya untuk berbicara jujur.

“Yoona Mianhae, sebenarnya aku tidak bisa lama – lama disini, Aku harus bertemu Tiffany, dia sudah berjanji akan memberikanku hadiah.”

Donghae membayangkan perkataannya, Ia tersenyum lalu Yoona menemukan bola mata lelaki itu berseri – seri, “Aku tidak tahu kenapa, hari ini benar – benar penuh kejutan.”

Yoona terkekeh, “Kau senang sekali, seperti akan berkencan saja.” Ujarnya asal.

Donghae mengangguk, “Hmm tentu,” jawabnya selagi memikirkan kata – kata Yoona, Ia pun tersentak, “Tapi dari mana kau tahu?”

Yoona mengernyit.

Tatapan Donghae berubah ingin tahu, “Apa Tiffany menceritakannya padamu kalau.. Kami berkencan?”

“A-Apa?” Tubuh Yoona rasanya kebas. Seperti petir baru saja menyambar kepalanya.

“Oh ya? Tadi sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu…” tambah Donghae mengalihkan suasana yang mulai senyap.

“Ah itu… ani.” Yoona menggeleng pedih. Ia meredam napasnya yang berantakan lalu tersenyum seolah baik – baik saja, “Tidak jadi.”

“Oh kukira apa.” Donghae mengangguk mengerti. Ia tersenyum lagi kearah Yoona, kali ini senyuman Donghae terkesan pahit dan menghina dimatanya. Baiklah, Yoona baru saja dicampakan.

Gadis itu membuang pandangannya kesamping. Sesuatu berdesakan didalam matanya, hangat dan perih.  Yoona membenci benda itu. Tiffany, lagi – lagi Ia harus mengesampingkan segalanya.

∞ * ∞

Tanggal 08 Oktober 2015,  satu minggu sebelum ulang tahunnya, sebelum kejadian mencekam di danau itu.

Pohon di halaman sudut rumah mereka tampak ramai oleh suara gonggongan dan suara tawa yang mengundang siapapun untuk mendekatinya. Kehebohan tercipta ketika Yoona menemukan Donghae sedang bermain bersama anjing kesayangannya Mello. Mereka berkejar – kejaran, atau paling tidak Donghae melempar piring terbang, dan Mello berlari kencang meraihnya. Kemudian Mello akan membawa piring itu kembali, dan menyerahkannya kepada Donghae. Mello mendapat reward setelah itu, Donghae mengacak – acak bulu – bulu Mello yang panjang dan putih selagi tersenyum.

“Boleh aku bergabung?” ujar Yoona, yang tentu dari  penyambutan Donghae Yoona sudah bisa menebaknya. Wajah lelaki itu berseri – seri ketika menolehkan kepalanya. Donghae sedang dalam mood yang baik, itu cukup kentara.

Tanpa Yoona menduga, Donghae melemparkan piring terbangnya kearah Yoona. Seketika Mello menyerbunya. Yoona memekiik terkaget dengan mello yang bergonggong seperti hendak menggigit. Sementara Donghae tertawa. Lelaki itu berjalan menghampiri Yoona yang masih sibuk menormalkan detak jantungnya.

“Mello jangan nakal pada kakak cantik ini ya…” Donghae berjongkok, mengelus kepala Mello, lalu mendongak menatap Yoona yang bernapas lega dan menatap  tidak terima. Donghae menggombalinya setelah apa yang lelaki itu lakukan.

Yoona ikut berjongkok disebelah Donghae. Donghae megalihkan pandangannya, mata mereka bertabrakan, entah apakah Donghae berpikir kalau kejadian tadi lucu? Mereka tertawa bersamaan.

“Mello pintar, jangan iseng seperti kakak jelek ini ya.” Nasehat Yoona kepada Mello selagi mengelus kepala anjing itu. Donghae tergelak menanggapi, lalu Yoona diam seribu bahasa ketika Donghae tersenyum kearahnya, Senyuman itu tidak berubah, ekspresi wajahnya ramah tapi tampak misterius, lengkungan dibibirnya selalu saja memancing Yoona menebak arti  dari senyuman itu.  ketika pertama kali lelaki itu menginjakkan kaki di rumahnya, Yoona berusia sepuluh tahun. Waktu itu orang tua Donghae meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Tuan dan Nyonya Lee adalah orang kepercayaan Ayah Yoona. Melihat Donghae begitu semangat melanjutkan pendidikiannya, orang tua Yoona berinisiatif menyekolahkan Donghae, menanggung seluruh biaya beserta kebutuhannya. Lama kelamaan kasih sayang mereka tumbuh.  Keluarga Im sudah menganggap Donghae sebagai kakak laki – laki Yoona.

Yoona mulai terbiasa dengan kehadiran Donghae disekelilingnya. Jarak usia mereka empat tahun. Yoona duduk dibangku kelas satu SMP sementara Donghae mulai menginjak bangku kedua sekolahnya di SMA.

Setiap pagi Yoona dan Donghae selalu berangkat bersama meski pun pada akhirnya harus berpisah ditengah jalan. Donghae selalu menunggu Yoona didepan pintu gerbang sekolahnya jika gadis itu terlambat pulang karena kegiatan ekstra kulikuler. Sebaliknya Yoona juga begitu hingga Yoona mengenal teman Donghae, begitu juga Donghae yang mengenal teman – teman Yoona. Mereka selalu pergi berdua kemana – mana  bahkan sesekali membolos dalam waktu bersamaan karena bosan dikelas, lalu mereka akan menghabiskan waktu berdua saja dipinggir danau. Mereka nyaris tidak pernah berjauhan satu sama lain. Bahkan para ahjumma yang tidak mengenal mereka sering kali salah mengira bahwa Donghae dan Yoona adalah kembar fraternal yang hanya terpisah lima menit saja waktu dilahirkan.

Yoona mengetahui kehidupan Donghae meskipun tidak satu sekolah, itu karena Yoona selalu mengikuti desas – desus soal Donghae meskipun lelaki itu tidak pernah bercerita dan menganggap hidupnya biasa – biasa saja. Selalu ada jalan untuk mengorek informasi, Yoona akhirnya mendengar desas – desus dari teman – teman Donghae bahwa Donghae adalah siswa popular disekolah. Pesona Donghae juga merambah kesekolah lain termasuk ke sekolah Yoona. Sebabnya karena wajah Donghae yang tampan itu kerap kali muncul dilayar televisi. Dengan otak cemerlangnya itu, Donghae berpuluh – puluh kali mengikuti olimpiade, mulai dari cerdas cermat antar sekolah, games kreatif hingga acara debat di TV nasional.

Dikelas Donghae selalu mendapat perlakuan baik dan menjadi favorit para guru. Selain dicintai para guru, Donghae juga dikagumi oleh teman – teman perempuannya. Tentu saja bukan hanya Donghae yang merasakan bagaimana dicintai dan dikagumi oleh banyak orang, Yoona juga. Yoona juga punya banyak teman perempuan yang mencintainya, kenapa? Karena sejak orang tua Yoona memutuskan mengodopsi Donghae, mereka yang tadinya mengira Yoona adalah pacar Donghae mulai bertingkah agresif. Sekarang Yoona resmi menjadi saudara perempuan Donghae,  dan itu berarti tembok penghalang mereka untuk mendekati Donghae terkikis pelan – pelan. Mereka yang tadinya iri dengan kehidupan Yoona yang tinggal serumah dengan Donghae, bernapas lega karena rupanya Yoona bukan kekasih Donghae seperti anggapan mereka sebelumnya.

Perilaku para wanita pengagum Donghae yang tadinya selalu menatap sinis, berubah seratus delapan puluh derajat. Yoona selalu menunggu kotak hadiah dari mereka, kamar Yoona penuh dengan boneka – boneka lucu dari fans Donghae, banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, melalui media sosial atau pun secara langsung, tiba – tiba popularitas Yoona meroket.  Yoona suka menjadi popular, Yoona menyukainya namun menyakitkan sekali ketika menyadari bahwa semua itu bukan karena mereka tulus tapi karena mereka punya maksud lain, apa lagi kalau bukan, karena Yoona tinggal serumah dengan Donghae, karena Yoona adalah adik perempuan Donghae  juga karena Yoona adalah satu – satunya orang yang kelihatannya amat berarti dimata Donghae waktu itu.

Donghae adalah anak lelaki, dan dia perempuan, Yoona sadar diri. Namun begitu Yoona sudah bertekad akan melakukan apa saja yang dilakukan Donghae. Ketika di universitas Donghae mengikuti lomba balap sepeda, Yoona juga. Meski pun tidak menjadi juara seperti Donghae, paling tidak Yoona bisa menyelesaikan seluruh rutenya. Donghae minum alcohol, Yoona juga, meskipun saat itu usianya belum cukup dan akhirnya muntah – muntah, Yoona senang bisa melakukannya, ia puas melakukan apa pun yang dilakukan Donghae. Yoona akan mencoba semua hal yang dilakukan Donghae, kalau perlu menyamai perasaannya. Ketika Donghae bahagia, Yoona akan merasa bahagia, ketika Donghae sakit Ia juga harus merasakannya.

Mereka terlampau berbeda. Yoona biasa – biasa saja, Donghae menakjubkan. Sebagai manusia, Yoona merasa iri dengan apa yang dimiliki Donghae, namun begitu Yoona mencintainya sepenuh hati seperti mencintai dirinya sendiri. Donghae juga mencintainya sebagai adik perempuan yang manis. Mereka akan saling perduli dan tidak akan pernah dipisahkan oleh apa pun.

Diawal Yoona masuk universitas keluarga mereka pindah rumah. Disana Yoona berkenalan dengan anak tetangga yang sepantaran dengannya, kuliah di universitas yang sama, jurusan yang sama. Namanya Hwang Tiffany. Tiffany adalah anak perempuan satu – satunya, jadi Ia sering merasa kesepian. Hampir setiap hari Tiffany mengunjungi rumah Yoona bahkan menginap disana. Sadar atau tidak sadar, bukan hanya Yoona, Tiffany juga semakin akrab dengan Donghae.  Lelaki itu sendiri berkerja di perusahaan ayah angkatnya Tuan Im. Saat akhir pekan, Donghae sering kali membawa Yoona dan Tiffany jalan – jalan atau sekedar mentraktir mereka makanan enak.

Tapi, Donghae sepertinya mulai jatuh cinta, dan semua berubah…

Yoona mengetahui sejak lama, mereka berdua punya kedekatan lebih.

Hingga puncaknya dihari minggu, Tiffany meminta Yoona dan Donghae mengajarinya bermain sepeda. Tentu karena Yoona tidak pandai mengajari orang, Donghae mengambil alih sepeda Tiffany.

Seluruh waktu Donghae di taman itu, ia habiskan bersama Tiffany yang berkali – kali terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya diatas sepeda. Yoona tidak ingin melihat, tapi terpaksa melihatnya dengan tidak sengaja. Tiffany berteriak ketakutan sementara Donghae memegangi sepeda yang dikendarai gadis itu seraya mengulang – ulang kalimat  motivasi bahwa semuanya akan baik – baik saja.

Dan ketika Yoona tidak sengaja menabrak sebuah pohon, gadis itu hanya terbangun seorang diri, tidak ada kalimat keterkejutan atau pertanyaan bahwa apakah dirinya baik – baik saja? Jangankan melakukan semua itu menengok pun tidak. Fokus perhatian Donghae terkuras habis untuk memperhatikan Tiffany yang kini tertawa – tawa karena sudah bisa mengayuh sepeda, meski pun ketika menggapai jarak beberapa meter, Tiffany akan terjatuh dan setelahnya Donghae dengan sigap menghampiri bahkan sampai memijat pergelangan kaki Tiffany saking hawatirnya, padahal Yoona yakin bahwa  kakinya lah yang benar – benar terkilir saat ini, bahkan lebih parah dari sekedar luka goresan seperti yang dialami Tiffany.

Mello menggonggong, sontak anjing itu membuyarkan lamunan Yoona. Gonggongan Mello tertuju kearah belakang mereka. Donghae begitu pula  Yoona menoleh dan menemukan bahwa rupanya seseorang tengah berjalan mendekati ketempat ini. Hwang Tiffany. Yoona menghela napas frustrasi. Yoona bukannya tidak senang, Ia juga menyayangi Tiffany sebagai sahabat terdekatnya. Namun ada kalanya Tiffany tampak menyebalkan ketika Ia harus diganggu oleh kemunculan gadis itu. Yoona ingin mengobrol berdua saja dengan Donghae, tanpanya.

Kedatangan Tiffany sukses membuat senyum Donghae beralih kepadanya. Melihat bagaimana Donghae memperlakukan gadis itu dengan baik, Yoona terpaksa mengikuti. Sudut bibir Yoona membentuk lengkungan, meski pun tidak secerah Donghae.

“Hai, Oppa, Yoona-ya.” Sapa Tiffany yang langsung berjongkok disebelah Donghae, merangkul bahu lelaki itu dengan mudahnya, lalu sekarang wajah Tiffany juga bertopang dibahu Donghae. Yoona  menjadi kaku. Bagaimana bisa Tiffany dengan mudah melakukan hal itu?  Bahkan Yoona hanya berani menatap wajah lelaki itu dari dekat.

‘Mungkin karena posisi Yoona hanya sebatas adik perempuan Donghae, sedangkan Tiffany adalah wanitanya.’ Batin Yoona menambahi dengan kejam.

“Oppa minggu ini temani aku membeli baju baru ya ? ya? Ya?” bujuk Tiffany dengan rengekan manjanya.  Sementara Donghae nampak berpikir.

“Baiklah, akan kuusahakan.” Putusnya usai menimbang – nimbang. Tiffany tersenyum kegirangan. Ketika menyadari sesuatu, Tiffany menoleh keseberang kanan Donghae.

“Ah Yoona juga boleh ikut kok.” Tawar Tiffany, Yoona tersentak lalu tersenyum miris.

“Ani, sepertinya aku dirumah saja.” Yoona memasang matanya yang melengkung seperti bulan sabit. Yoona mati – matian tersenyum didepan Tiffany, dadanya sesak tidak tertahankan. Yoona ingin menangis saat itu tapi ditahannya mentah – mentah.

Tiffany menatap bingung, “Waeyo? Padahal kukira kita bisa menghabiskan waktu bersama.”

Yoona bergeleng, “Tidak apa – apa, belakangan ini aku sedang ingin dirumah.” Alibinya.

Tiffany menghela napas seolah barusaja menelan kekecewaanya. Yoona tahu Tiffany tidak sekecewa itu. Tiffany pasti senang sekali karena pada akhirnya Ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Donghae, tanpa Yoona atau pengganggu mana pun.

Yoona merasa tidak berdaya, Ia kehabisan akal mengatur bagaimana cara mengungkapkan perasaannya dengan benar. Yoona hanya bisa meratapi hatinya yang pedih seorang diri, Yoona tidak ingin mengacaukan struktur keluarganya. Yoona harus memutuskan sesuatu, dan  jalan satu satunya ialah merelakan lelaki yang dicintainya untuk orang lain.

Bagaimana pun Donghae adalah kakak laki – lakinya. Dan kenyataan itu sudah tidak terbantahkan.

∞ * ∞

02 November 2015.

Malam naas itu tiba, malam ketika hatinya pecah berkeping keping.

Donghae menuntun Yoona, menggenggam tangannya, sekarang mereka berjalan kearah dimana tempat pertemuan itu terjadi. Dengan tuxedo hitam Donghae tampak menawan, begitu pula Yoona yang mengenakan long dress siffon berwarna biru pastel. Riasan yang natural hingga rambut yang tergelung rapih dengan anak rambut dibiarkan berserakan, membuatnya tampak begitu feminim.

Menatap sekelilingnya, Yoona hanya memasang wajah datar, tidak ada senyum atau segores lengkungan pun diwajahnya, semua rata meski pun Donghae sempat menyakinkannya agar tidak gugup. Hei, Yoona bukan gugup tapi lebih parah dari itu. Yoona merasa tubuhnya berapi – api namun tak kunjung padam, Yoona amat membenci apa yang menimpanya kini. Acara perjodohan sialan.

Kalau saja bisa Yoona ingin mengamuk, tapi sayangnya Ia masih punya harga diri untuk tidak berbuat onar ditengah lalu lalang para  pengunjung restaurant mewah ini.

Donghae menarik kursi, mempersilahkan Yoona diduduk disana, didepan sebuah meja memanjang. Lelaki itu duduk disebelahya mengikuti beberapa orang yang sudah menunggu dan mengisi kursi sebelum kedatangan dirinya dan Yoona. Acara makan malam dengan maksud terselubung itu pun dimulai. Dua orang pelayan membawa troli dan mengantarkan pesanan mereka, menghidangkan satu – persatu makanan pembuka diatas meja.

“Ah senang sekali akhirnya acara ini bisa terlaksana.” Tuan Im tersenyum senang. Dan lelaki tua yang juga sepantaran dengannnya mengangguk, “Ya, anakku Jongwoon juga tidak sabar melihat calon istrinya sejak tadi, ternyata anakmu cantik seperti ibunya.” Puji lelaki paruh baya itu. Nyonya Im tersenyum menanggapi tapi tidak dengan Yoona yang lantas membuang wajahnya.

“Oh sebelumnya perkenalkan dulu, ini anakku, Kim Jongwoon.” Katanya memperkenalkan. Yoona bahkan malas untuk melihat wajah Kim Jongwoon atau siapalah namanya.

“Dan perkenalkan anakku, Im Yoona—“

Tuan Im menjeda kalimatnya ketika menemukan sendiri wajah anaknya yang tidak bersahabat. Yoona bahkan tidak menantap salah satu dari mereka, tatapan anak itu berkeliaran tidak jelas.

“Yoona— hallo Yoona, apa kau mendengar Appa?” tegur Tuan Im. Yoona menoleh usai pandangannya berkelana liar,  Yoona menaikkan sebelah alisnya bingung  menemukan bahwa  dialah satu – satunya pusat perhatian mereka saat ini.

“Mwo-ya?” Nyaris tanpa beban Yoona menanyakan hal yang membuat kedua orang tuanya sakit kepala.

Tuan Im menyelidik, “Apa ada yang lebih menarik diluar sana dari pada pertemuan ini?—“

“Banyak.”  Yoona menjawab ketus.

Semua orang menatap Yoona yang seakan tidak perduli, begitu pula dengan Donghae yang sepertinya sudah mengira Yoona akan bersikap kontra. Sejak awal Donghae sudah melihat gelagat Yoona yang tidak suka dengan acara perjodohannya, tapi Donghae tidak menyangka Yoona akan bersikap sesinis ini.

“Yoona, jangan bikin malu.” Bisik Nyonya Im yang posisinya berada disamping Yoona.

Bibir Yoona mengukir sebuah garis yang condong kekiri,  Ia menampik, “Aku tidak bermaksud membuat kekacauan, sebelumnya maafkan aku tapi aku harus mengatakan ini. Bukannya aku tidak punya rasa hormat, aku sangat menghormati kalian semua namun begitu kalian harus tahu bahwa aku masih punya perasaan yang harus kupentingkan dan tidak boleh kuabaikan jadi—“ Yoona berhenti sebelum memutuskan, “Aku ingin mundur dari rencana perjodohan ini.”

“A-apa kau bilang?”

“Aku mencintai seseorang.” Yoona memejamkan matanya, “Kalian mau tahu siapa seseorang itu? “ bebernya dengan intonasi dingin.

Tiba – tiba hening.

“Seseorang itu adalah…”

Yoona memandang lurus kearah Tuan dan Nyonya Kim beserta Jongwoon yang duduk dihadapannya dan terdiam menunggu pengakuan yang Ia utarakan.

Yoona bangkit dari tempat duduknya. Ia menoleh dan tubuhnya berdiri menyamping ke sebelah kanan, mengarah kepada Nyonya Im dan sosok lelaki tuxedo disampingnya. Tubuh Donghae menegang, Donghae menatap semua orang satu  persatu yang rupanya perhatian mereka menghunus kepada dirinya. Mungkin semua orang berpikir sama, tatapan Yoona terlalu menudingnya dengan telak.

“Aku mencintamu Donghae Oppa. Saranghae.”

“Yoona !” Tuan Im menggertak. Yoona menatap sekilas gertakan itu, menganggapnya sambil lalu. Ia memilih fokus dengan pikirannya sendiri.

Sementara Orang – orang disana terperangah mendengar pengakuan Yoona, termasuk Nyonya Im yang langsung memegangi kepalanya yang serasa berputar – putar, “Ya Tuhan anak itu.”

Yoona merasa sudah tidak ada yang perlu dijelaskan karena Ia menganggap semua orang sudah mengerti, meski pun mereka tidak benar – benar paham perasaannya , Yoona tidak perduli. Gadis itu memilih melesat pergi dari hadapan keluarganya juga keluarga Kim yang mulai berbisik – bisik entah apa.

Ditengah perjalanan menunggu taksi, seseorang menjegat lengannya dari belakang.

“Yoona berhenti.”

Suara itu.. Suara itu, Yoona merasakan getaran dijantungnya. Perempuan itu menoleh. Aroma parfume Donghae menjalar kepenciumannya seiring dengan tubuh Yoona yang berdiri melawan hembusan angin. Rambut Donghae porak – poranda menutupi  sebagian wajahnya namun begitu mata pisau lelaki itu masih bisa Ia rasakan, begitu mengiris – iris ulu hatinya.

“Hentikan perasaanmu sekarang juga, kau melukai orang tua kita.”

Yoona menghempaskan tangan Donghae yang mencekal pergelangannya, Gadis itu lalu menatap berapi – api, “Wae? Kenapa aku tidak boleh mencintaimu? Karena kau kakakku?” Yoona terkekeh miris, membuang napas jengah, “Apa aku salah? Apa salah jika perasaan ini tidak mampu  kukendalikan? Lalu sekarang, kau pikir aku mau seperti ini, huh? Kau pikir aku senang mencintaimu seperti orang bodoh?  Kau pikir  aku senang menahan rasa sakit hati ketika melihatmu bermesraan dengan Tiffany? Atau.. apa kau pikir aku ikhlas menerima perjodohan memuakkan ini?! TIDAK.”

“Aku sudah tidak sanggup.. Aku sudah tidak kuat menyimpan ini semua Oppa. Aku berusaha membuangnya, aku ingin menghapusnya, perasaan ini seperti racun dalam tubuhku Oppa—“ Tanpa Ia sadari bulir – bulir yang memenuhi matanya tumpah. Yoona baru merasakan itu ketika sesak didadanya kian menjadi.

Donghae melangkah mendekatinya, Yoona menepis kasar, “Dan aku tidak mendapat apa – apa dari perasaan ini.” sambungnya menegaskan,  “Aku membencinya, sangat – sangat benci ! Aku benci menyadari bahwa  Semakin aku berusaha melupakanmu maka  keinginanku semakin besar untuk memilikimu, Donghae Oppa, biarkan aku pergi !”

Donghae terdiam ditempatnya. Mungkin jika saat Itu Donghae mengucapkan sesuatu atau paling tidak berkata bahwa ini bukanlah sebuah kesalahan, Yoona akan luluh tapi…

“Maaf membuatmu kecewa.” Ujar Yoona terakhir kali, melihat bagaimana reaksi Donghae yang tampak hampa, Yoona merasa bahwa lelaki itu hanya menganggap bahwa apa yang terjadi dihadapannya kini adalah lelucon. Bahkan jika itu lelucon, maka lelucon itu sia – sia karena terlalu canggung untuk ditertawakan.

Yoona bergegas menuju tempat pemberhentian taksi. Sorot mata Donghae berubah sendu menatap punggung Yoona yang menjauh. Kedua tangan Lelaki itu mengepal kuat, Donghae mendongak, memejamkan mata seraya mati – matian menahan langkahnya agar tidak bergerak tanpa komando. Beberapa detik berselang lelaki itu menemukan punggung Yoona sudah termakan oleh daun pintu taksi. Permintaan maaf rasanya tidak berguna, hingga saat ini Donghae tidak mampu berbuat apa – apa.

Sementara Yoona sempat mengamati Donghae dari balik jendela hitam, menunggu pergerakan lelaki itu yang setia bersama pertahanannya, berdiri kaku. Namun rupanya nihil, hingga taksi berjalan Donghae belum Juga beranjak. Yoona menghela napas, memangnya apa yang kau harapakan Im Yoona?

∞ * ∞

Berjalan dipinggir danau tanpa arah yang jelas, Yoona membiarkan Long dress siffon yang dikenakannya tertiup angin, melambai – lambai seiring laju langkahnya. Cuaca yang menusuk kulit bukan lagi hambatan, Yoona membiarkan udara malam hari menikamnya, membiarkan bibirnya  sampai gemetar  mengigil, bahkan rasa itu belumlah cukup untuk mengalihkan perhatian  Yoona dari memikirkan Donghae. Yoona menatap lurus dan kosong,  Lelaki itu…

Ada sesuatu yang hilang. Yoona yakin Donghae pasti akan menjauhinya setelah ini. Dan Ia sudah bersiap… tapi sesuangguhnya bukan begitu. Yoona tidak rela Donghae jatuh ketangan gadis lain kecuali dirinya, sebelah sisi Ia tidak bisa berbuat apa – apa. Yoona kalah dan Ia harus mengakui. Donghae tidak lagi perduli, Donghae membiarkannya sendiri,  tapi inilah yang diinginkannya, sendiri, tapi Yoona tahu Ia sedang berbohong kepada dirinya.

Yoona memilih duduk ditepi danau, mengistirahatkan pikiran dan perasaannya. Dibawah lampu sorot, permukaan danau tampak berkilap – kilap, sebagian lagi berwarna gelap namun masih tampak bergelombang. Disepanjang hamparan danau malam, sunyi menyerbu, bunyi air bergemericik oleh sapuan angin yang berbisik merdu. Yoona menarik napas, menghembuskannya selagi memejam, disinilah tempat terbaik baginya menenangkan diri.

“Benar kau disini.”

Yoona tertegun.

Ia menoleh dan kinerja otaknya baru mencerna siapa yang tiba – tiba menyampirkan tuxedo dibahunya hingga Yoona merasakan hangat membaluri tubuhnya. Dia… Tidak mungkin, Yoona sedikit tidak percaya bahwa orang itu adalah Donghae. Ia duduk disamping Yoona, tanpa dipersilahkan.

Yoona membuang wajahnya usai tatapan mereka bertumbuk. Ia meremas kesepuluh kuku jemarinya yang dingin, menimbang – nimbang sesuatu. Kemunculan sosoknya disini justru membuat Yoona harus menelan kesesakannya seorang diri. Tidak ada yang bisa dilakukan Yoona untuk menyuarakan rasa sesak yang tertinggal. Seluruh kata – kata dikepala gadis itu habis, bahkan jika  itu hanya untuk menyebut namanya.

Tarikan napas lelaki itu terdengar jelas, kemudian berhembus mengepulkan asap tipis, “Aku sudah bisa menduganya, kau pasti datang kemari.”

Donghae melirik sebentar dan menemukan Yoona yang tidak kunjung menanggapi, lelaki itu diam sejenak,  “Yoona baiklah, aku tidak akan ikut campur soal perasaanmu, tapi aku harus mengatakan ini. Ada sesuatu yang harus kau  pahami.”

Yoona menoleh diam – diam. Tatapan Donghae lurus kedepan, kedua sudut bibirnnya tertarik mengukir senyuman yang lahir bersama gurat misterius yang tampak miris.

“Apa yang kau inginkan tidak selamanya harus menjadi milikmu, bahkan jika suatu saat nanti  pun menjadi milikmu maka kenyataan itu tidak akan mengubah apa – apa, nantinya kau akan tetap menyakiti seseorang yang kau sayangi jadi itu lebih baik jika kau mundur dari sekarang, sebelum semua terlambat, sebelum Ia lebih tersakiti karena kepergianmu.”

Donghae membiarkan hening mengisi kekosongan. Hingga setelahnya pandangan lelaki itu berputar kearah Yoona yang disaat bersamaan buru – buru menggeser fokus matanya dari wajah Donghae. Kini gadis itu tidak kunjung membenahi tatapannya dari pohon – pohon disekitar danau.

“Yoona maaf, aku tidak bisa membalas apa yang kau harapkan—“

“Bisakah kau memperlakukanku, bukan sebagai adikmu?” pinta Yoona tiba – tiba. Dengan pandangan lurus kedepan Ia menambahkan, “Paling tidak untuk saat ini. Perlakukan aku layaknya gadis biasa.”

 “Meski pun setelah ini kau membuangku, aku tidak akan perduli tapi…” Lagi – lagi Yoona memotongnya dan mencegah Donghae menanggapi. Lelaki itu menatap ragu – ragu.

“Perbolehkan aku merasakannya, sekali saja.”

Tatapan Yoona menghujamnya saat itu. Pupil mata gadis itu membesar penuh harap. Donghae terhanyut didalam sana. Ia  tidak bisa berkutik. Hanya sekali… dan terakhir.

Hening bertabur menambah kecanggungan. Donghae tidak tahu apa yang berbeda dari tatapan Yoona saat ini, begitu menghipnotisnya.

“Saranghae.” Bisik Yoona mendorong wajahnya, begitu pula Donghae yang merasakan dorongan ditubuhnya. Wajah itu kian terpangkas hingga tidak menyisahkan jarak.  Hembusan napas memenuhi wajah, dua pasang mata yang menantikan sesuatu terpejam lembut. Dan sensasi aneh menggelenyar keseluruh tubuh, kinerja otak menjadi porak – poranda bersamaan ketika bibir mereka bersentuhan dan menyatu untuk pertama kali.

Yoona menjauhkan wajahnya pelan – pelan, mengamati wajah Donghae dari jarak sedekat ini. Ia menggerakkan ibu jarinya membasuh bibir Donghae yang basah sementara lelaki itu hanya terdiam membiarkan Yoona bermain – main diwajahnya.

Beberapa detik berlalu,  Donghae meraih tangan Yoona, menatapnya sebentar lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya. Ia berpisik, “Jebal, setelah ini tetaplah menjadi Yoona seperti biasa.”

Permintaan Donghae menghentaknya. Yoona tidak mampu berkedip mencerna kata – kata Donghae. Gadis itu juga tidak berniat melakukannya, bahkan sekarang matanya serasa perih dan mengabur. Yoona meyakini bahwa ketika Ia mengedip sekali maka, ribuan tetas hujan akan meluncur dari matanya seperti air terjun.

Pada akhirnya Yoona tinggal untuk menikmati pelukan itu lebih lama. Gadis itu tidak rela melepasnya hingga Donghae mengakhiri semua. Lelaki itu kembali menatapnya, membasuh air mata yang membasahi wajah Yoona.

“Gwencana, menangislah.” Donghae tersenyum tipis selagi mengulum kata – katanya, ‘Menangislah, mungkin ini yang terakhir kalinya aku melihatmu menangis’

“Oppa.” Panggilnya, Donghae memajukan wajahnya penuh minat.

“Bolehkah aku… bersandar dibahumu?” Pinta Yoona ragu – ragu. Donghae menepis keragu – raguan itu dengan anggukan pasti.

Yoona tersenyum hampa selagi menahan udara yang mendesaki  paru – parunya hingga Ia sulit bernapas.  Gadis itu terdiam, lantas menidurkan kepalanya diatas bahu Donghae, lelaki itu membalas dengan rangkulannya. Yoona memejamkan mata, menarik napas lalu menghembuskannya, Seperti inilah keinginan terbesarnya, merasakan hembusan napas lelaki itu juga aroma tubuh yang menghanyutkan, dalam diam.

∞ * ∞

Kira – kira satu jam lamanya Donghae berdiam diri menatap Yoona yang tengah bersandar  diatas bahunya. Sejak beberapa saat lalu mereka berinteraksi tanpa pembicaraan khusus, hanya beberapa ketika Yoona menggumamkan sesuatu dan Donghae menanggapinya sendirian, atau ketika Donghae puluhan kali membasuh wajah Yoona dari hembusan angin yang memporak – porandakan rambutnya. Namun satu hal mutlak yang lelaki itu lakukan, Ialah memandangi wajah Yoona yang kini sedang terlelap dengan sepenuh hati.

Inisiatif tiba – tiba lahir didalam kepalanya. Donghae mempersempit jarak wajah mereka, ingin menggapai benda ranum itu, tapi sesuatu menahannya. Donghae mengehela napas dan berpaling  dari bibir Yoona menuju kening gadis itu. Selama ini Donghae tidak pernah melakukan hal  – hal diluar kewajaran sebagai kakak laki – laki gadis itu. Dan kini detak jantungnya lah yang bekerja diluar kewajaran.

Donghae mendaratkan kecupannya lebih lama. Kening gadis itu serasa dingin, sedingin es. Donghae meraba pelipis Yoona dengan punggung tangannya. Benar – benar dingin, tapi sedikit berkeringat. Donghae menghela napas. Ia sudah menduganya, Yoona sudah menghabisakan waktu lama dengan pakaian terbuka ditengah angin malam, tubuh Yoona tidak sekuat itu melawan hawa dingin yang menyerangnya.

Donghae menghela napas, Ia memikirkan sesuatu lantas meraba saku celananya, mengambil posel. Tampak jemarinya bergerak lekas dipermukaan layar touch screen.

Yoboseyo.” Sapa Donghae  pada akhirnya memilih menghubungi seseorang.

“Yoboseo Oppa.”

Donghae menimbang nimbang, sedikit mengigit bibir bawahnya, “Tiffany-ah bisakah kau datang ke danau?”

“Memangnya sedang apa kau disana Oppa? Bukankah malam ini keluargamu ada pertemuan—“

“Pertemuannya dibatalkan.” Potong Donghae.

“Mwo?”

Pandangan Donghae menyapu sekitarnya. Tiba tiba perih menghadang matanya, mungkin saja Tiffany merasa aneh mendengar suaranya yang bergetar, Donghae menggeretakkan gignya selagi mengedip puluhan kali agar tetesan itu tidak lebih banyak menyesaki penglihatannya.

“Nanti akan kujelaskan padamu dan… kalau bisa kau tidak usah membawa kendaraan, naik taksi saja atau terserahmu.”

∞ * ∞

“Kau akan pulang kan?” desak Tiffany dengan nada hawatir juga prasangka – prasangka buruk yang terbaca dari wajahnya.

Donghae manarik napas, menghembuskannya hingga membentuk kepulan asap. Lelaki itu kembali terdiam, sejenak menatap Tiffany sungguh – sungguh,   “Malam ini aku tidak akan pulang kerumah itu, Tiff.”

“Lalu?”

“Aku akan pergi ke suatu tempat.”

Tiffany terdiam.

“Tolong jaga dia.”

Tatapan Donghae mengawang kearah mobilnya yang terparkir beberapa langkah. Ingatan lelaki itu mengulang pada saat Ia menggendong Tubuh Yoona, Ternyata seluruh tubuh gadis itu serasa dingin, bahkan bibirnya yang merah berubah pucat dan mengigil. Donghae tidak punya pilihan selain membawa tubuh Yoona  sampai kemari, gadis itu hilang kesadaran. Menghadapi situasi itu,  Donghae bergegas  memindahkannya kedalam mobil. Namun begitu Donghae tidak berniat tinggal disini lebih lama, Ia tidak punya cukup waktu menemani Yoona. Gadis itu harus belajar hidup tanpanya.

Fokus perhatian Donghae beralih ketika  Tiffany menggenggam kedua tangannya. Gadis itu memohon,  “Cepat kembali.”

Donghae membasuh wajah Tiffany, menyingkirkan anak rambut yang berterbangan, kemudian tersenyum tipis. Tatapan mereka saling berbicara, dan Tiffany menemukan ada yang janggal didalam sorot mata lelaki itu.

Tiffany belum siap kehilangannya. Entah sejak kapan pandangan gadis itu mengabur. Tiffany beranjak memeluk Donghae, semakin lama pelukan itu semakin dalam dan terkunci. Meski begitu Tiffany terpaksa mengakhirinya.  Ia tahu ada sesuatu, lantas matanya menatap Donghae dengan nyalang.

∞ * ∞

Dari balik jendela hitam, Yoona membisu  bersama tatapan kosongnya. Terakhir kali Yoona mengingat Ia sedang bersandar diatas bahu Donghae, entah apa yang terjadi, Ia terbangun didalam mobil, tepatnya sedang duduk diatas bangku penumpang samping kemudi dengan kepala berputar – putar. Ia menemukan sebuah tuxedo yang mengemuli tubuhnya, ini… tuxedo milik Donghae yang beberapa saat lalu disampirkan dibahunya jelas sekali bahkan wangi parfumnya serupa. Yoona mengingat lagi kejadian di pinggir danau, baru saja kesadarannya terkumpul, gadis itu justru dihadiahi oleh pemandangan yang mengiris – iris jantungnya. Yoona merasa sulit bernapas, bahkan untuk berbicara sepatah kata Ia tidak sanggup.

Seperti halnya kertas  yang terperangkap didalam kepalan tangan, remuk dan hancur, begitulah perasaannya kini. Yoona nyaris tidak berkedip menatap bagaimana mereka berdua, Tiffany dan Donghae berpelukan didepan matanya.

Yoona menggigit bibir bawahnya. Mereka seperti pasangan kekasih… atau faktanya memang begitu. Yoona menatap dirinya  sendiri lewat kaca spion dihadapannnya. Segores lengkungan miris tercipta dari bibirnya.

Yoona tidak berhak melarang Donghae memeluk siapa pun gadis diluar sana, bukan? termasuk Tiffany sahabatnya sendiri.

Yoona menyadari dirinya memang bukan siapa – siapa, tapi kebencian itu sudah tidak terbantahkan lagi.

Mereka tampak membicarakan sesuatu, namun Yoona tidak bisa mendengarnya juga tidak berniat sedikit pun untuk menduga – duga. Ia terlalu muak melihat kejadian itu bahkan melihatnya dari dalam mobil sudah membuat Yoona nyaris memuntahkan sesuatu. Gadis itu kembali memejamkan mata hingga sepertinya Ia tengah bermimpi.

Seseorang membuka pintu samping kemudi. Yoona terbangun dari tidurnya. Ia mengira orang itu adalah Donghae, tapi dugaannya salah. Yoona terbelalak menemukan bahwa seseorang itu adalah Tiffany.

“Kau sudah sadar?” Tiffany mengernyit ketika tatapan Yoona mengarah kepadanya.

“Kenapa?”tanya Tiffany sekali lagi ketika Yoona tidak menjawab,.

Yoona bergeleng sebagai pembuka, “Ani, tidak kenapa – napa.”

Tiffany mengangguk dan memilih fokus memutar kunci mobilnya, atau tepatnya mobil Donghae yang berpindah tangan. Gadis itu menoleh tidak jadi menarik pedal gasnya.

Yoona membalas tatapan Tiffany yang penuh kecurigaan.

 “Sejak kapan?”

“Apa?”

“Sejak kapan kau sadar?”

Yoona diam sejenak lalu menjawab, “Sejak tadi,”

Merasakan atmosfer diantara mereka semakin canggung, Yoona menambah, “Kau dan Donghae Oppa, kalian serasi.”

Selagi menatap setir-nya, Tiffany menyeringai, “Kau melihatnya bukan?”

“Apa?”

“Yoona-ah, Aku dan Donghae akan menikah.” Bebernya. Yoona  mendelik ragu – ragu, menikah?

“Dan kuharap, kau bisa menghapus perasaanmu padanya, Yoona-ah.”

∞ * ∞

Tanggal 03 November 2015, Hari berakhirnya kesakitan

Menjelang siang Ia bertahan dalam posisi serupa. Yoona memilih berdiam diri sepanjang hari dikamarnya. Sejak semalam gadis itu  hanya meringkuk dibawah selimut. Yoona tidak melakukan apa – apa selain memeluk tuxedo Donghae tanpa jeda semenit pun. Jika ada yang menanyakan soal keadaanya, Yoona beralasan bahwa Ia sedang sakit dan  tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Yoona sakit parah, fisik dan batin.

Kejadian semalam kembali terngiang – ngiang didalam benaknya, Yoona belum berhasil membuang jauh – jauh ingatannya mengenai,  bagaimana sikap Donghae yang  misterius juga pikiran mengenai bagaimana Donghae dan Tiffany sahabatnya  berpelukan mesra didepan matanya.  Yoona menahan napas ingin sekali melampiaskan rasa kecewanya terhadap  sesuatu.  Yoona menatap Tuxedo hitam milik lelaki itu dengan nyalang, giginya menggemeretak, hingga kobaran api didalam jantungnya meletup letup, memacu Yoona meremukkan benda itu dan meremasnya hingga teronggok.

Namun ada sesuatu yang menghentikan pergerakan Yoona. Bunyi gemericik seperti kertas. Yoona meremas tuxedo itu sekali lagi, dan suara gemericik kertas kembali terdengar. Gadis itu mengernyit, kedua tangannya lantas menggeledah isi dari masing – masing saku tuxedo.

Lipatan kertas persegi. Yoona melebarkan kertas itu didepan wajahnya. Rentetan huruf dan angka tercetak disana. Yoona membacanya dengan seksama tanpa melangkahi sepatah kata pun.

Yoona tercengang. Bibirnya yang kaku semakin sulit digerakkan, hingga kertas itu terlepas dan melayang akibat tangannya yang tidak mampu lagi menggenggam. Sepasang matanya  memancar kosong. Tubuh Yoona lunglai bahkan untuk menangis, Ia sudah kehilangan topangannnya. Yoona hancur, Ia benar – benar kehilangan seluruh tenaganya, juga harapannya selama ini…

∞ * ∞

Semalam penuh merenung didalam rumah kecilnya dulu yang terletak di dekat kawasan pemakaman, Ia menimbang – nimbang tentang hidupnya…

Didepan sepasang makam yang letaknya bersebelahan, seorang lelaki tersenyum miris. Beratus kenangan berputar memenuhi kepalanya, dari yang terburuk hingga termanis. Kenangan yang nantinya akan tergerus satu persatu dari kepalanya..

Keadaan bertambah suram, Langit disekitarnya tampak gelap. Angin berhembus kencang meniup tubuhnya disusul  gemuruh  petir  juga kilatan cahaya dari langit. Mereka semua bersahut – sahutan mengeroyok bumi yang tengah diguyuri tetesan hujan.

Berbicara hujan. Donghae mengingat orang  itu. Seorang gadis yang memberinya payung hitam sebagai hadiah ulang tahun, payung hitam yang dipakainya kini untuk berlindung dihadapan makam kedua orang tuanya. Donghae mengerti Yoona sangat perhitungan. Yoona pasti sudah menduga bahwa  Ia membutuhkannya dan tepat sekali, sekarang  payung hitam ini menjadi berguna ketika Donghae memutuskan untuk berbicara kepada mereka ditengah hujan badai.

“Eomma, Appa apa kalian merindukanku?” Donghae menatap sendu kearah dua makam itu, “Aku merindukan kalian.”

“Kenapa kalian pergi secepat itu? Bolehkah aku menyusul?”

Kemudian Donghae menerawang seluruh kejadian dalam hidupnya. Ia bergeleng, “Tentu, kalian pasti tidak akan membiarkannya. Tapi tenanglah aku bahagia disini, bahkan hidupku terlalu bahagia, hingga aku nyaris gila ketika mengetahui hidupku akan berakhir, hatiku sakit meninggalkan mereka.”

“Kalian tahu kan? Didunia ini aku tidak tinggal sendiri, aku tinggal bersama keluarga baru yang sangat menyayangiku.”

“Aku punya orang tua baru yang teramat baik dan seorang adik perempuan…”

“Adik perempuan yang kucintai… dalam arti lebih dari sekedar adik.”

“Parah bukan? Tapi ada yang lebih menggelikan… Aku berbohong selama ini tentang perasaanku.”

Donghae terdiam sejenak. Ia meraba – raba kalung bintang yang menggantung dilehernya. Hadiah berharga yang pernah Ia terima dari seseorang.

Wajah Yoona terbayang – bayang. Benaknya yang liar memutar ulang bagaimana wajah Yoona ketika gadis itu tersenyum dengan  matanya yang berbinar – binar, juga tertawa merengek – rengek seperti anak belasan tahun.

“Aku tidak ingin mengukir kesedihan dimatanya,” Donghae membuang napas putus asa,  “Gadis itu akan tersakiti apabila tinggal disisiku. Aku menyadari bahwa waktuku di dunia tidak memungkinkan untuk kami bersama, kalau pun seandainya kami bersama, hubungan itu hanya menyisahkan luka untuknya…”

Donghae merenungkan kata – katanya, “Jadi apakah alasan bodoh itu bisa dibenarkan?”

Untuk terakhir kali pikirannya mengawang jauh, “Entahlah.”

∞ * ∞

Yoona menginjak pedal gasnya dengan penuh emosi. Gadis itu tidak perduli dengan keadaan jalan disekitarnya yang mulai terganggu akibat ulahnya yang mengendarai kekanan dan kekiri tidak tentu arah. Ada berpuluh bunyi klakson yang meramaikan perjalanannya, namun begitu Yoona seolah tidak mendengar, gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri beserta segala umpatan yang keluar dari lisannya.

Yoona  mulai terganggu dengan suara klakson itu ketika mobilnya keluar dari jalan tol, gadis itu beranjak memutar volume speaker mobilnya keras – keras, memutar musik apa saja, hingga suara  berisik diluar sana tidak lagi terdengar. Rupanya musik rock cukup ampuh menyingkirkan  suara penggangu, apalagi hujan deras yang mulai menyerbu bumi, ditambah petir yang bersahut – sahutan kian menelan semua itu.

“Kanker otak? Kau bercanda?” Yoona  semakin membalap mobilnya. Gadis itu tergelak miris,   Kenapa Donghae merahasiakan ini? Dan  pernikahan itu? Apa Donghae ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Tiffany?

Yoona memukul setirnya hingga menciptakan bunyi klakson yang menghentak, Ia terkekeh manatap ulahnya sendiri,  lucu sekali.

Sekarang Ia tidak mau perduli dengan Tiffany atau siapa. Yoona hanya ingin melampisakan seluruh kekesalannya. Bahkan gadis itu tidak  mengerti apa yang terjadi pada dirinya hingga Ia nekat keluar rumah dan mengambil alih salah satu mobil di garasi tanpa tujuan jelas.

Yoona melirik jendela samping kemudi. Daerah perbukitan gersang yang kini tersiram hujan. Gadis itu menahan napas mulai tertegun oleh sesuatu, namun setelahnya Yoona menyeringai. Mengerikan sekali,  lagi – lagi takdir menggelarkan benang merahnya  hingga ke titik dasar, dimana ingatan Yoona mengenang lelaki itu. Tempat ini, setiap akhir bulan Donghae sering mengajaknya kemari menemui kedua orang tua kandung lelaki itu. Yoona tidak habis pikir mobilnya melaju ditengah komplek pemakaman. Tapi masa bodoh karena Yoona menyukainya. Meski pun gersang,  kondisi jalan disepanjang dataran tinggi ini sangat  sepi. Yoona bebas melakukan apa pun disini. Termasuk membalap mobilnya dengan kecepatan penuh.

∞ * ∞

Tetesan hujan dari langit memantul – mantul di-aspal. Donghae berdiri kaku dipinggir jalan, kedua tangannya menggenggam payung hitam untuk melindungi kepalanya dari timpaan air. Hujan yang semakin deras membuat setengah tubuhnya basah, namun lelaki itu bergeming. Ia membiarkan tubuhnya kedinginan, meski pun Donghae tidak merasa dingin sama sekali. Tubuhnya mati rasa.

Ingatan Donghae berputar mundur, hingga berhenti mengukir kejadian itu. Kemarin malam Donghae bertemu Tiffany. Ia menitipkan Yoona kepada gadis itu, meski pun kakinya berat untuk melangkah meninggalkan mereka berdua  tapi Donghae harus melakukannya.

Namun kata – kata Tiffany membuat Donghae merasa lucu. Memang tidak ada yang salah dari kata – kata Tiffany, tapi perkataan itu membuat Donghae kembali berpikir, sebuah harapan yang mustahil, mungkinkah akan menjadi kenyataan?

Flashback

Donghae terkejut oleh pelukan Tiffany. Gadis itu merapatkan pelukannya membuat Donghae terdorong untuk membalasnya, hingga semakin lama pelukan itu semakin dalam dan terkunci.  Ditengah rasa yang menggeliat Tiffany mengakhiri pelukan itu. Sejenak Ia tak berkutik menahan sesak di jantungnya. Tiffany berusaha mengendalikan bibirnya yang bergetar  seiring tatapannya yang berubah nyalang.

 “Kau pasti akan sembuh Oppa.”

Donghae menggenggam kedua tangan Tiffany, membawanya ketengah – tengah mereka dan menatapnya sungguh – sungguh, “Meski pun nanti aku tidak ada disini, tapi percayalah aku akan selalu berada ditengah – tengah kalian, kau dan Yoona kalian berdua harta berharga yang kumiliki. Tolong jagalah Yoona selama aku tidak ada, kau adalah sahabat terbaiknya, aku percaya padamu Tiff.”

Sepasang mata lelaki itu memejam gelisah, benaknya terus membuka percakannya dengan Tiffany. Dunia tiba – tiba berputar, Donghae beberapa kali merasakan sakit disekujur kepalanya hingga Ia tidak bisa menahan sedetik saja untuk tersenyum. Semakin lama rasa sakit itu akan semakin menyerangnya. Penyakit ganas itu berkembang dengan begitu buas hingga Ia kewalahan menghadapinya.

Keluarga Im sudah terlalu banyak membantunya, dan akan sangat memalukan  baginya ketika mereka harus direpotkan lagi oleh hal – hal mengerikan lain. Seperti, kanker otak. Donghae tersenyum miris.

Dari arah utara, deru mobil terdengar melaju kencang kearahnya. Tiba – tiba ide gila itu muncul. Donghae melangkah sedikit limbung. Derasnya hujan tidak menghalangi langkahnya sedikit pun. Ketika deru mobil itu kian mendekat, Donghae berhenti ditengah jalan. Kedua matanya terpejam gelisah menahan kesakitan,  lagi – lagi kepalanya seperti dihujani batu raksasa.

‘Tuhan, Apa aku harus berhenti disini?’

Sebentar lagi Ia akan mengetahuinya sendiri. Apakah setelah ini Tuhan akan memberinya kesempatan untuk hidup? Atau justru sebaliknya?

∞ * ∞

“Apa yang kau inginkan tidak selamanya harus menjadi milikmu, bahkan jika suatu saat nanti  pun menjadi milikmu maka kenyataan itu tidak akan mengubah apa – apa, nantinya kau akan tetap menyakiti seseorang yang kau sayangi jadi itu lebih baik jika kau mundur dari sekarang, sebelum semua terlambat, sebelum Ia lebih tersakiti karena kepergianmu.”

Yoona mendecih, itu hanya alibimu saja bukan, Oppa? Menggelikan’

Meninggalkan? Takut menyakiti? Kenapa Donghae tidak langsung mengatakannya saja bahwa Ia ingin tinggal bersama Tiffany? Kenapa lelaki itu malah berbicara muluk – muluk?

Gadis itu mengumpat sepanjang jalan. Yoona tidak memperhatikan lagi derasnya air hujan yang mengganggu pandangannya saat berkendara. Yoona hanya mengandalkan picingan matanya juga sedikit firasat bahwa didepan sana tidak ada kendaraan lain atau apa. Yoona terus melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali Yoona menggerutu, sungguh Ia menyukai hujan tapi sekarang gadis itu membencinya, hujan benar – benar mengganggu.

~Deg ~

 “Paboya.”

Gadis itu membanting setirnya kesamping hingga mobil yang Ia kendarai berputar – putar dan terlempar jauh dari lokasi kejadian. Tubuh Yoona terguncang kesana kemari, pecahan kaca menghantam tubuhnya. Mobil itu membabi – buta menabrak apa pun disektarnya,  hingga benturan keras membludak dan menjadi akhir pergerkan mencekam itu.

Yoona  baru saja tersadar dari lamunannya kala ia menemukan sosok itu berdiri ditengah jalan. Yoona tidak sempat mengukur gemuruh jantungnya, atau mengatur laju napas yang menyempit, kedua matanya terbuka lebar – lebar, karena orang itu… Sosok yang berdiri disana dengan payung hitam yang menutupi sebagian wajahnya, tapi Ia tidak mungkin salah mengenal, apalagi jika dia adalah…

Donghae, terakhir kali Yoona menatap lelaki itu, Donghae berdiri dibawah payung hitam, dan Ia tidak menyangka sosoknya akan  tergerus pergi bersama hujan secepat ini…

Cairan kental memenuhi wajahnya, Yoona tidak bisa memeriksa apa yang terjadi padanya karena tubunya terjepit diatara besi – besi yang rangsek, asap memenuhi penglihatannya sebelum ledakan yang cukup besar  menghantam pendengarannya. Yoona menduga ledakan itu berasal dari  bagian dalam mesin mobilnya, entah bagian mana, Yoona tidak sempat berpikir lagi karena  api didepan matanya begitu cepat menjalar, membakar seluruh  bagian mobil hingga habis tak bersisa…

Yoona mengenang untuk terakhir kali, bahwa hujan masih setia menemaninya kala itu…

∞ * ∞

Seorang lelaki berdiri mematung ditengah jalan. Ia mengakhiri pejaman matanya ketika merasakan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Bukan… dia tidak kenapa – napa, melainkan seseorang disana.  Donghae menatap dalam beku  sebuah mobil dihadapannya berputar – putar hingga terlempar jauh dan berhenti menabrak pembatas jalan.

Tubuh Donghae bergetar kaku. Ia menatap tubunya sendiri dari ujung kaki hingga pergelangan tangannya, kemudian bergeleng tidak percaya.

*duarrr*

Bunyi ledakan menghentaknya, tampak disekitar mobil itu api menjalar dengan cepat hingga memakan habis seluruh bangkai kendaraan,  kepulan asap berkeliaran memenuhi udara seiring hujan yang  mengikisnya. Api tidak kunjung padam, Hujan yang sekiranya menjadi harapan  hanya bisa meminimalisir namun tidak lantas memandamkan kobaran yang kian menggunung.

Payung hitam dalam  genggamannya terhempas. Donghae nyaris tidak bisa bernapas.  Pijakannya runtuh, hujan lantas menyerbu tubuhnya, lelaki itu menatap tidak percaya, Ia bersimpuh ditengah aspal, meratapi pengendara didalam mobil itu.

Donghae merasakan tubuhnya kebas. Yoona, pengendara mobil itu adalah Yoona. Lelaki itu menyaksikan sendiri bagaimana gadis itu terbelalak menemukannya ditengah jalan, tapi Donghae tidak bisa berbuat apa – apa, Yoona terlanjur membanting setirnya…

Tuhan… Kenapa harus dia… kenapa harus Yoona… Kenapa harus  gadis itu yang menanggung kebodohannya?  Seharusnya Yoona langsung menabraknya saat itu, seharusnya Yoona membiarkannya pergi, seharusnya dan seharusnya…

‘Kau harus mengiklaskannya, Oppa…’

Seseorang berkata seperti itu padanya.  Dirumah sakit semua orang menangis. Sementara Donghae menatap kosong. Ia masih tidak percaya, Yoona…

∞ * ∞

Detik ini…..

22 Desember 2015, Perpisahan tanpa beban.

benarkah seperti itu ?

Pejaman mataku terketuk paksa. Aku menyapu pandanganku mengelilingi sudut ruang. Ingatanku kembali pulih dan tubuhku kembali berpindah dari bayangan masa lalu. Kini kusadari aku tidak lagi dimasa itu. Aku sedang berada dikamarku yang nyaman, membelek hujan bersama pemandangan  sendu dibalik jendela besar.

“Yoona-ya..” panggil seseorang menyadarkanku, aku berpaling dari gerimis yang memenuhi jendela, kusempatkan untuk menoleh lalu aku mendapatinya sedang tengkurap meniru posisiku yang sekarang. Aku bagaikan melihat gerakanku sendiri didepan cermin khayal dengan sosok berbeda.

Hwang Tiffany. Sahabatku yang sudah ditakdirkan. Aku sering menyebutnya seperti itu karena dialah yang mengerti bagaimana keadaanku sekarang. Sampai aku hidup dan berakhir. Tiffany adalah sahabat terbaik sepanjang hidupku, dan detik ini ketika aku sudah tak lagi bernapas. Tiffany, sahabat yang rela menahan perasaannya bahwa Ia juga sama sakit hatinya sepertiku, ketika harus berpura – pura mencintai Donghae didepanku atas permintaan laki – laki itu, agar aku tidak lebih tersakiti nanti. Meski pun pada kenyataannya aku akan tetap tersakiti, namun semua yang terjadi diluar kuasa manusia, dan aku menghargai usaha Tiffany untuk mencegahku merasakan kehilangan yang berkepanjangan.

Aku mestinya berterima kasih, tapi dengan tidak tahu dirinya aku malah membenci hubungan mereka, bahkan sempat – sempatnya berpikir bahwa Donghae sengaja memamerkan hubungannya dengan Tiffany padahal…

Tiffany tersenyum kepadaku, aku membalasnya pasti. Tapi aku tidak bisa membalasnya seperti apa yang Ia suguhkan padaku. Aku menyesal karena sudut bibirku hanya tertarik dengan hampa tanpa ada kesan apa – apa.

Usai menatap mataku yang kurasakan amat kosong senyuman Tiffany memudar pelan – pelan.

Sekarang kami berbeda, aku hanyalah mahluk tidak kasat mata.

“Kau memikirkannya, lagi?”

Aku menangkap suara lisannya yang  terdengar lelah. Bibirnya bergerak ragu. Aku tahu Tiffany datang kemari karena mencoba menghiburku, ia sudah berkali – kali melakukannya terlebih saat hujan membasahi bumi, sayang aku sedang tidak membutuhkan hiburan apa pun.

Dan inilah aku, gadis yang terpenjara didalam pikirannya sendiri.

“Yoong berhentilah seperti ini !” Titahnya menoleh dengan sorot ketajaman seolah memaksaku untuk membalas tatapannya setajam Ia menatapku.

“Aku menghawatirkamu, apalagi saat hujan kau selalu saja seperti ini, aku tahu ada banyak kenangan dibalik hujan dan kenangan itu berbekas untukmu tapi berdiam diri seperti ini tidak ada gunanya. Temuilah dia.”

Aku membatu ketika beberapa menit lamanya jiwaku terhanyut oleh tatapan  Tiffany yang menegaskan kepadaku agar berhenti bersikap seperti ini. Aku melakukan pemborosan waktu, melamunkan masa lalu yang tidak bisa kurubah sedikitpun, lalu menghabiskan nyawaku.. tidak. Nyawaku memang sudah berakhir sia – sia. Aku telah kehilangan masa depan yang semestinya bisa kukendalikan. Aku  sendiri tidak tahu bagaimana cara berhenti dari kebiasaan ini, aku merasa sulit melakukannya. Ada sesuatu hal yang perlu kukatakan pada seseorang, waktuku sudah terpakai empat puluh delapan hari lamanya, tersisa sehari untuk bertemu dengannya sebelum aku benar – benar pergi.

Mengatakan sesuatu, aku sulit melakukannya, aku takut bertemu orang itu, aku takut ketika menatap matanya aku akan tersesat dan tidak bisa kembali. Lagi pula aku telah banyak menyakitinya dengan sikapku yang kekanak – kanakan. Sekarang nasibku menggantung antara hidup dan mati. Apa yang dikatakan Tiffany membuatku berpikir kalau  aku harus menyelesaiakannya ketimbang disini, berdiam dan termenung, tapi lagi – lagi nyaliku menciut ketika membayangkan wajahnya. Perasaan ini sungguh membingungkan.

“Kau benar, tidak seharusnya aku seperti ini dan membuatmu hawatir… Mianhae.”

Pengakuan itu meluncur begitu saja. Suaraku datar bahkan ditelingaku sendiri. Tiffany menghela napas dan terkulai. Ia sepertinya akan menyerah dan tidak ingin lagi mendengar permintaan maafku yang sudah ratusan kali terngiang ditelinganya tanpa bukti nyata. Mungkin ini yang terakhir.

“Mianhae…” ucapku sekali lagi. Tanpa sadar wajahku berpaling. Berpaling kearah tetesan awan yang belum juga mengering. Aku meratapinya lagi, bulir – bulir bening yang meluncur dipermukaan kaca jendela, hingga kusadari bahwa Tiffany memilih tertidur pulas disebelahku.

Membayangkan aroma hujan yang masih tersisa, aku memikirkan sebuah refleksi. Mungkinkah semua ini akan berakhir? Mungkinkah aku bisa melupakannya? Lalu pergi dengan tenang?

Aku berharap waktu bisa menjawabnya, tentang sampai kapan aku harus terperangkap didalam semua kenangan masa lalu.. Aku ingin melupakannya, dan mengenang hidupku sebagai jalan cerita yang indah.

Aku harus baik – baik saja hari ini, agar hari selanjutnya dikehidupan berikutnya aku bisa bertemu dengannya dalam kondisi yang juga baik – baik saja agar setelah itu kami akan bersatu dan mengukir kembali kisah yang sempat tertunda.

Aku akan mewujudkan kenangan kami menjadi masa depan yang indah… Ya, seperti itulah harapanku, harapan bodoh dari seorang gadis bodoh yang terpisah dengan separuh jiwanya…

“Tiffany-yaa…”

Kami menoleh ketika seorang wanita memanggil Tiffany dari belakang. Eomma.. mataku  berkaca – kaca menyaksikan wanita paruh baya yang berjalan kearah kami dan kini sosoknya  duduk ditepi ranjang, selagi tersenyum Eomma membelai rambut Tiffany.

“Ah Eomma.” Tiffany sedikit terkejut, Ia mendudukkan tubuhnya dari posisi tengkurap lalu membalas senyum Eomma. Aku duduk di sebelahnya.

Kali ini aku benar – benar iri pada Tiffany.  Eomma merasa terpukul Semenjak kepergianku dan Tiffany selalu berada disana untuk menenangkannya. Kukira sejak saat itu mereka semakin menjelma menjadi pasangan ibu dan anak.

Kelihatannya Tiffany menyadari persaanku. Terbukti gadis itu menatapku dengan senyum jahil, “Eomma, menurut Eomma siapa yang lebih cantik, aku atau Yoona.” Tanyanya  tiba – tiba, aku terkejut mendengar pertanyaannya begitu pula dengan Eomma.

Eomma tampak berpikir, “Tentu karena Yoona mirip Eomma, jadi Eomma lebih memilih Yoona.”

Tiffany cemberut mendengar jawaban itu. Berbeda denganku yang tertawa puas.

“Jadi aku jelek?” Tiffany memasang tampang sedihnya yang menyebalkan. Eomma tersenyum, “Ani-ya kalian itu  sama – sama cantik, sebenarnya tadi Eomma bingung ketika harus memilih diantara kalian, kau dan Yoona, kalian berdua adalah anak Eomma.”

“Jinja?”

Eomma menggangguk, setelah itu Tiffany memeluk Eomma seolah tidak ingin dilepasnya. Aku semakin iri melihat kedekatan mereka.

“Ah, Eomma.” Panggil Tiffany, Eomma menatapnya lembut.

“Yoona bilang dia sangat sangat sangat menyayangi Eomma.”

Mataku kembali memanas, Tiffany selalu saja menggodaku dengan kalimat seperti itu.

Wajah Eomma berubah murung, hanya sebentar, setelah itu senyumnya merekah seperti biasa. Kuakui, Eomma menguasai emosinya dengan baik namun tetap saja aku merasa janggal dengan senyuman itu. Aku tahu Ia mencoba tegar didepan semua orang. Eomma sebenarnya menangis, didalam hatinya.

“Asal kau tahu Yoona sudah menyayangi Eomma sebelum aku melahirkannya.” Eomma terkekeh pelan, meski pun begitu aku menangkap ada genangan dipermukaan matanya, “Donghae juga sangat  menyayangi Yoona.”

Aku langsung bungkam ketika nama itu disebut. Donghae… Sudah lama aku tidak melihatnya, tapi sebenarnya… akulah yang sengaja menghindar.

Aku tahu Eomma sedang mengalihkan topik pembicaraan. Kisah mengenai  ibu dan anak mungkin terlalu sensitif untuknya.

Tapi, haruskah Eomma menyinggung soal kakak laki – lakiku itu?

Tinggal sehari lagi waktu yang tersisa untuk menyelesaikan masalah yang tertunda selama di dunia. Aku sadar diriku bukan lagi manusia. Sekarang tubuhku berwujud roh yang bergentayangan, aku diberi tenggat waktu selama empat puluh Sembilan hari setelah kematian. Sekarang tinggal sehari lagi sebelum mencapai jumlah tersebut, dan aku harus menyelesaikan  sesuatu yang mengganjal didalam hatiku demi satu tujuan,  pergi dengan tenang.

Dan seseorang itu membuatku gelisah sepanjang hari. Aku berusaha untuk tidak menganggapnya penting, tapi sosoknya selalu menyusup diam – diam kedalam pikiranku.  Namun setidaknya, aku sudah menyelesaikan masalahku yang lain. Melalui Tiffany aku menyampaikan kepada mereka, kedua orang tuaku sebuah permintaan maaf mendalam, dan pengakuan bahwa aku sungguh menyayangi mereka, juga ucapan terima kasih karena telah membesarkanku, anak tidak berguna, walau begitu aku tetap bersyukur menjadi Yoona, anak mereka.

Tiffany menjadi pihak perantara antara aku dan mereka. Aku mungkin beruntung. Tiffany adalah satu – satunya orang yang bisa melihatku. Ada hal yang  belum kuketahui tentangnya. Tiffany mengaku bahwa  sejak berusia tujuh tahun, Ia bisa melihat mahluk lain disekitarnya, namun lama kelamaan  Tiffany merasa terganggu dengan kehadiran mereka, Orang tua  Tiffany lantas menutup mata batin anaknya. Entah bagaimana kemampuan itu kembali dan anehnya hanya berlaku kepadaku.

Aku mengingat saat pertama kali Tiffany melihatku sedang berjalan di koridor rumah sakit, gadis itu berteriak memanggilku dan membuat semua orang menatapnya aneh, bahkan salah seorang perawat menganggap Tiffany sedang frustrasi  karena tidak kuasa menghadapi kepergian sahabatnya yang tiba – tiba. Pada akhirnya gadis itu menyadari ini semua, dan tampaknya kini Ia mulai terbiasa dengan kehadiranku.

“Tiffany-ya, bolehkan Eomma meminta bantuanmu?”

Fokus perhatianku beralih, suara Eomma yang tiba – tiba membuatku menatapnya. Kali ini bukan lagi  senyum yang kutemukan di wajah Eomma, melainkan sebaliknya.

“Tiffany-ya, Tolong kau bujuk Donghae, anak itu selalu  menghabiskan waktunya di danau padahal kau tahukan kondisinya? Eomma sangat hawatir.” Eomma memohon, kedua tangannya membungkus tangan Tiffany.

“Memangnya dimana Donghae Oppa sekarang?” Tiffany menatap ragu – ragu. Ia sempat melemparkan pandangannya kearahku.

Helaan napas Eomma terdengar jelas, namun begitu Ia berusaha mengembalikan senyumnya, “Sekarang anak itu sedang tertidur di kamarnya tapi Eomma yakin setelah hujan mereda, Ia akan kembali  ke danau itu lagi.”

Pandanganku mengabur. Tiba – tiba aku tergelak dan menangis secara bersamaan. Donghae memang punya otak cemerlang, tapi Ia payah dalam hal mengendalikan perasaannya. Bagaimana  mungkin  Ia bisa berpikir  seperti itu? Donghae bodoh, begitulah kenyataan sebenarnya.

“Eomma sudah berusaha membujuknya tapi, setiap Eomma berkata sesuatu Donghae selalu membantah dan beralasan bahwa Ia sedang menunggu Yoona—“ Suara eomma semakin bergetar, ia berhenti sejenak menenangkan diri, “Eomma benar – benar tidak mengerti,  Donghae berkata ia akan terus beraada di tepi danau sampai benar – benar bisa melupakan Yoona. Anak itu seolah mengira  Yoona masih berada didunia, dan seolah – olah Yoona akan datang menemuinya., padahal kau tahu itu tidak benar—“

Eomma kehabisan kata – kata, atau lebih tepatnya sudah tidak sanggup berkata lagi. Tiffany lantas memeluk Eomma. Disela pelukan itu Tiffany membangun kontak mata denganku. Aku  tersentak merasakan tatapannya, pandangan kami bertumbuk. Aku mengerti maksud tersembunyi dibalik pancaran mata Tiffany.

Menemui Donghae dan membuat lelaki itu merasakan kehadiranku.

Bahkan jika harus masuk kedalam mimpinya seperti permintaan Tiffany.

Aku bergeleng tidak yakin bisa melakukannya.

Aku merasa terjebak oleh tatapan Tiffany, maka kuputuskan menghilang dari hadapannya.

Tubuhku lantas berubah menjadi udara hampa dan menghilang bersama tiupan angin.

Aku benar – benar tidak bisa…

Dari kejauhan aku melihat Tiffany mendesah kecewa.

∞ * ∞

Nyonya Im berjalan menuju kamar Donghae. Hujan sudah mereda. Wanita paruh baya itu hawatir Donghae nekat keluar rumah dan pergi kedanau itu lagi. Sesampainya disana, Nyonya Im mendorong daun pintu. Ia bernapas lega ketika menemukan Donghae masih disana, anak itu sedang tertidur dengan lelapnya. Namun  kelegaan itu tidak bertahan lama, Nyonya Im mengernyit,  firasat aneh membuat rasa penasaran didalam dirinya kian menjadi.

Nyonya Im menyentuh pelipis Donghae dengan punggung tangannya. Peluh berbanjir disana, tubuh Donghae sedingin es, nyonya Im semakin kalang kabut. Ia mengguncang – guncang tubuh Donghae dengan panik, namun tidak ada tanggapan.

“Tiffany-yaaa… Tiffany !” sahut Nyonya Im membuat Tiffany berlari tergopoh – gopoh kearahnya. Gadis itu menatap keadaan lelaki yang tidak sadarkan diri, sekujur tubuhnya bergetar kaku.

“Eomma sebaiknya kita bawa dia kerumah sakit.” Usul Tiffany sama paniknya seperti Nyonya Im.

“Omonaa..” Wanita paruh baya itu limbung, dengan sigap Tiffany menahan tubuhnya.

“Donghae Oppa pasti akan baik – baik saja Eomma, percayalah padaku.” Tiffany menatap penuh keyakinan. Nyonya Im memilih untuk percaya meski hatinya berkata lain.

∞ * ∞

Aku terus memikirkan kata – kata Tiffany. Dan disinilah aku berada, berdiri dipinggir danau.  Tidak ada siapa – siapa disini, hanya aku sendiri. Sebenarnya tujuanku kemari adalah karena aku ingin memastikan kata – kata Eomma, apakah memang benar Donghae menungguku disini? Kalau memang demikian maka lelaki itu benar – benar bodoh.

Aku penasaran sejauh apa kebodohan itu akan bertahan dikepalanya. Dia tidak ada disini, dan itu berarti Donghae sudah menggunakan otaknya untuk berpikir.

Aku menatap air dipermukaan danau, masih sama seperti berminggu – minggu yang lalu, tampak tenang tetapi menghanyutkan.

Seorang lelaki berdiri disebelahku, pandangannya menatap lurus.  Aku tidak mau percaya bahwa bumi terbelah dua atau sedang ada gempa dadakan, karena nyatanya bumi baik –baiknya saja, dan sekarang lelaki itu berdiri beberapa langkah dari posisiku.

“Oppa…”

Aku tidak beranjak dan hanya memandanginya dari posisiku saat ini. Hancurlah sudah anggapanku tentangnya. Dia semakin bodoh dengan berdiri mematung seperti itu.

Tatapanku terputus olehnya yang tiba – tiba berjalan kearahku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tatapan mata Donghae membidik mataku seolah – olah wujudku nyata. Aku mundur selangkah demi selangkah. Tubuhku bergetar mengetahui sesuatu yang tiba – tiba. Bukankah cuma Tiffany yang bisa menyadari keberadaanku… apakah Donghae sama seperti Tiffany…

“Berhenti.” Perintahnya. Aku terkesiap. Jadi benar?

 “K-Kau bisa melihatku?” bibirku terbata – bata. Donghae memangkas jarak diantara kami hingga sekarang lelaki itu berdiri dihadapanku.

“Karena sekarang kita sama.” Jawabnya. Aku tertegun, “A- Apa?”

“A-ku koma Yoona, Aku berada diantara hidup dan mati.” Donghae menjelaskan, mataku tidak bisa terlepas dari rahangnya yang bergetar. Sementara Donghae menenangkan diri, aku sibuk dengan pikiranku mencerna ini semua. Jadi?

Donghae tersenyum miris,  “Aku… Aku bosan melihat tubuhku yang terbaring di atas ranjang rumah sakit jadi aku kemari.” Ujarnya lantas menerawang.

“Aku senang kau datang, meski pun orang – orang berkata aku sudah gila karena menunggumu, tapi aku yakin hari itu akan tiba. Kau pasti datang menemuiku.”

Aku belum bicara apa pun tapi Donghae menghadangku dengan kata – katanya. Aku senang mendengarkannya berbicara tapi tidak dengan ekspresi murung seperti ini.

“Mianhae.”

Dahiku mengernyit. Aku berusaha mencari kesalahannya. Tidak, tidak ada yang perlu dimaafkan.

“Hidupku tidak tenang semenjak kecelakaan itu, kau tahu siapa yang menyebabkanmu seperti ini—“ Donghae menggeleng, aku beranjak menepisnya. Aku mengangkat tanganku, menahannya diudara.

 “Tolong jangan mengungkit – ungkit masa lalu, lupakan soal kecelakaan itu— “ Aku bergeleng memohon kepadanya, “Kau tidak salah apa – apa, semua yang menimpaku diluar kuasamu dan manusia mana pun.”

Aku meraih kedua tangannya, meraba – raba, menggenggam dengan erat. Rasanya lebih  halus dan dingin.

“Kau tahu Oppa, Aku sangat  bersyukur, setidaknya untuk terakhir kalinya didunia ini, aku bisa menjadi pahlawanmu.”

Harus kuakui sebenarnya aku tidak pantas menemui Donghae. Tapi setelah kupikir lagi… aku merindukannya.

Aku memeluknya ketika tidak sanggup berkata – kata. Dia membalas pelukanku dan saat itu aku merasa cinta ini seimbang.

Kusandarakan kepalaku diantara lekukan lehernya. Aku membiarkan hening menerpa bersama sepoi angin, menerbangkan seluruh penyesalan itu. Aku tidak menyangka hubungan kami berakhir seperti ini. Andaikan malam itu aku tidak mengungkapkan perasaanku didepan orang tua kami, mungkin Donghae tidak akan menjauh, aku tidak akan seperti orang kesetanan membalap mobil, dan kecelakaan itu bisa dihindari. Aku harusnya bisa menghentikan mobil yang kukendarai,  jauh sebelum mencapai posisi dimana Donghae berdiri, aku harusnya memikirkan berbagai cara meskipun saat itu hujan  membatasi jarak pandangku…  ini semua bukan salahnya, tapi salahku.

Aku mengakhiri pelukan kami, menatapnya penuh sesal, “Oppa, akulah yang bersalah. Aku berprasangka buruk kepadamu dan Tiffany, sebenarnya aku malu menemuimu. Aku sudah berpikir macam – macam tentang kalian. Bahkan aku tidak tahu kalau kau sakit—“

Kalimatku menggantung akibat kecupannya yang tiba – tiba. Donghae  menatapku sebentar, lantas Ia membelai kedua sisi wajahku. Sorot matanya mendorong tubuhku semakin mendekatinya.

“Tolong jangan mengungkit – ungkit masa lalu.”

Aku tertegun mendengar Donghae mengulang kata – kataku beberapa saat lalu. Tubuhku tidak bisa berkutik, aku sulit membantahnya karena seharusnya aku mengerti.

Sensasi dingin itu kembali menyentuh bibirku. Aku membalas pangutannya yang perlahan – lahan membuat dunia ini melayang. Perasaan  yang tependam hanyut seluruhnya. Kegelisahan didalam tubuhku sirna perlahan – lahan. Kehangatan menusuk hingga paru – paruku yang sudah tidak memiliki napas lagi, namun getaran didalam jantungku terbayang dengan sendirinya, Aku tenang dibawah setuhannya.

Tanda kasih sayang itu terlepas. Tanpa terasa bulir – bulur dimataku jatuh membasahi pipi. Buru – buru aku menyekanya, tapi Donghae menahan lenganku.

“Biarkan saja, kau cantik kalau menangis.”

Aku menatapnya dengan pandangan mengabur.

“Selama ini kau jarang menunjukkan air matamu, jadi untuk saat ini biarkan aku melihatmu menangis.”

Aku menghambur kedalam pelukannya. Dengan begini aku bisa menyembunyikan air mataku. Menangis? Aku sangat anti menangis didepannya dan sampai kapan pun tidak akan pernah terjadi. Cukup sekali saat di danau malam itu, selebihnya tidak akan pernah.

“Saranghae.” Bisiknya ditelingaku.

Dadaku sesangguk, bibirku hendak membuka dan membalasnya, tapi aku terlalu bahagia saat ini hingga tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri.

Aku hanya terdiam membiarkan tubuhku melayang bersama  angan – angan tentangnya.  Aku tidak bermimpi, pada akhirnya dia menyambut rengkuhanku, dan keinginan untuk bahagia bersamanya  dikehidupan lain terbentang didepan mata.

Kedua mataku memepejam erat dalam buai dekapannya. Kubiarkan seperti ini hingga beberapa lama. Terakhir kali kulihat Wajahnya,  lelaki itu semakin pucat.

Tapi biarlah, setidaknya dengan begini kesempatan untuk bersama Donghae di kehidupan selanjutnya semakin terbuka lebar.

 ‘Donghae Oppa, aku akan menunggumu, sampai kau kembali.’

‘Nado Saranghae.’

∞ The End  ∞

Ahhh akhirnya selesai juga cerita yang mellow ini, semoga kalian nggak bosen kekekeke. Maklumlah keun bikinnya ngikutin suasana hati hahaha

Sampai jumpa di next FF byee readers – deul🙂

 Jangan lupa RCL

35 thoughts on “[ Oneshoot ] FF Yoonhae – Through The Rain

  1. Sfapyrotechnics berkata:

    Mewekkkk😥😥 Yoong meninggal.. Mereka sling mncintai tpi nggak mau sling nyakitin,, yahh jdi gitu deh,, tmbh lgi status mereka yg adik-kakak meski bkan kndung sih.. Kirain hae bkal ninggal jga.. Trus hae smbuh nggak?? Hahah,, ktmu dan sling ungkapin persaan disaAt bru jdi arwah..😀

    Fighting eonni..

    • nanashafiyah berkata:

      Hae meninggal gak ya? Kalo pengennya Happy end, Hae meninggal terus jadi pangeran Yoona di surga #eaaa , nah kalo maunya sad end berarti Donghae sembuh terus dijodohin sama cewek lain *nngakk ding hahaha.
      Gomawo udah baca🙂

  2. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    awalnya bingung bacanya waktu yoona bilang melihat tubuh kakunya, ternyata yoonanya meninggal dan rohnya masih ada didunia, sedih kisahnya.
    donghae nyesalkan akhirnya sudah bikin yoona sedih, dan waktu yoona pergi dia jadi frustasi. yoona akhirnya bisa dengar kalimat cinta dari donghae walaupun mereka dalam wujud roh.
    aduh ceritanya sediiiiih nih, walalupun ada beberapa bagian yang bikin bingung tapi nice ff.

  3. chalistasaqila berkata:

    Astagaaaaaaa, nie FF bkin banjir air mataaaaaa
    Yoonhae knp miris amat hidupnyaa, g bsa bayangin gmn kecelakaanya yoona dan gmn kondisi donghae saat itu.. Bayangin aja, qlow qm jdi penyebab kematian orang yg qm cintai, qlow jdi donghae psti udh depresiii
    Tpii smoga mreka bsa brsatu d kehidupan selanjutnyaaaa
    Hikkssssss

  4. Vaniza Rianie berkata:

    Nyesekkk bacanya ,awalnya sempet gak suka sama karakter Tiffany tapi ternyata itu cuma akal akalan Donghae aja buat bikin Yoona salah paham dan buang perasaanya ..aku nangis bacanya aku kaya ngerasain apa yany Yoona rasain apalagi pas part di taman yang lagi main sama Mello rahasanya aku pengen Yoona jujur di situ biar gak terlalu nyesek tapi ternyata malah tambah nyesek karna Yoona jujur di malam perjodohan dia dan sceen yang di danau juga bikin mewek karna gemes aja kenapa harus ada penyakit di tubuh Donghae😦
    Sad ending tapi berahir bahagia di kehidupan selanjutnya tapi mungkin kalau mereka masih bisa berasatu di kehidupan normal lebih seruuu dan harepan nya emang kaya gitu walaupun kenyatannyan engga ,yaudah di tunggy ff nya lain un ^^

    • nanashafiyah berkata:

      Iya iya, kadang aku juga suka greget kalau liat orang mau nembak tapi nggak jadi, kayak filmnya BCL dulu yang judunya cinta pertama.
      Mau aku juga mereka bersatu dikehidupan normal, tapi konsep awalnya memang biar mereka jadi roh gitu #gaje banget haha
      Lain kali mungkin pingin buat cerita yang normal – normal aja (?)
      Gomawo udah baca🙂

  5. YH Lulu berkata:

    sedih bgt bacanya..
    ff nya keren bisa bikin meweek..
    yoonhae pdhal saling suka sama tp ga mau saling menyakiti.
    tp masih gantung itu akhirnya donghae sembuh apa meninggal.
    tp ttp keren deh pokoknya.

    • nanashafiyah berkata:

      mungkin terserah reader aja, Kalo pengennya Happy end, Hae meninggal terus jadi pangeran Yoona di surga #eaaa , nah kalo maunya sad end berarti Donghae sembuh terus dijodohin sama cewek lain *nngakk ding hahaha.
      Gomawo udah baca🙂

  6. Tya nengsih berkata:

    Ni ff sedih banget ya……
    Nangis bombay deh ni……. Keren ceritanya kisah cinta yang tak selamanya harus memiliki….

  7. utusiiyoonaddict berkata:

    apa inii!!! Knpa sad end, huaaa hiks hiks, aku gak rela masaa,
    mereka saling mencintai knpa tdak bisa brsatu , ah gak taulah aku sedih baca na meweek mewek gak relaaa

  8. Lee Sheol Elfishy berkata:

    Sedih bacanya, aq kira yg meninggal donghae tp ternyata yoona . .
    Akhirnya gimana itu donghae koma atau meninggal juga . . . :’)

  9. NonnieLast berkata:

    😦 kenapa sedih sih kisah mereka? huhuhuuu
    gak apa apa deh.. yang penting perasaan mereka sama.. sama sama cinta🙂

    semngat Thor..
    FF nya bagus (y)

  10. Ayu_Niyala berkata:

    Duh endingnya ternyata begitu…huhu sumvah sedih kak, tanggung jawab aku jadi ngebayangin yoonhae kisahnya sedih amat yaaaak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s