FF SooWon – From This Moment On [ Part 3 ]

from this moment on

Title : From This Moment On

Cast : SNSD Sooyoung, Super Junior Siwon

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance

~Happy Reading ~

Part 3

Kami terlalu asyik berdua, hingga tidak menyadari kehadiran seseorang…

Seseorang yang rupanya sudah berdiri didepan kami…

“Maaf menganggu.” Ucapnya usai menerobos daun pintu utama, bahkan sebelum dipersilahkan. Aku menatapnya dari bawah keatas.

Tik..Tik.. Tik…bunyi detakan jarum di dinding  terlampau jelas menyapa pendengaran, saking sepi dan heningnya suara seperti itu serasa amat mencekam. Tentu saja karena tiba – tiba Siwon terdiam, ia mematung seperti batu yang tidak tahu harus berbuat apa, terlebih padaku. Kedua mata Siwon belum juga lepas dari tatapan yeoja yang kira – kira berkepala empat tersebut. Aku menungguinya bereaksi namun tak ada yang aku temukan, dia tetap diam.

 “Siwon—“

“Imo sedang apa disini… aku sudah mengatakannya  berulang kali, berhenti mencariku.”

Perdebatan yang sudah aku perkirakan sejak tadi menemukan garis awalnya. Tatapan Siwon terlalu dingin untuk dikatakan biasa – biasa saja. Sensasi perselisihan mulai kental diantara mereka. Lagi – lagi aku tidak tahu harus berbuat apa, hingga yeoja yang dipanggil Imo oleh Siwon itu berpaling padaku. Dari wajahnya terpancar berjuta makna yang tak bisa kujelaskan.

“Kau Sooyoung kan?” Tanyanya. Aku mengangguk tanpa mengalihkan tatapanku sedikit pun.

“Perkenalkan aku Jung Taeyeon Imo Siwon.” Ucapnya memperkenalkan diri yang lebih terdengar seperti basa – basi.

“Imo—“

“Tidak ingin memperkenalkan kerabatmu padanya?” Imo berkata dengan tajam ketika Siwon menyanggahnya.

“Oh Annyeong haseyo.” Aku membalas perkenalan itu dengan bungkukan hormat. Suasana diantara kami kelihatannya semakin tidak bersahabat.

Choi Imo lalu tersenyum kepadaku sebelum berbicara, “Sooyoung-ssi selamat atas pernikahan kalian meskipun aku tidak mendengar kabar ini dari Siwon sendiri, untunglah paman Siwon memberitahu pihak keluarga, kau ingat beliau kan? Yang menikahkan kalian di gereja.” Jelasnya dengan wajah sedikit kecewa.

Aku mengangguk, tentu saja aku tidak akan melupakan siapa saja yang berjasa dalam hidupku termasuk paman Siwon, kerabat yang menikahkan kami.

Choi Imo tersenyum senang lalu Ia berpaling kearah Siwon sebentar lalu kembali menatapku, “Aku tahu kau gadis yang baik, jadi bisakah kau membiarkanku berdua dengan Siwon? Bukan apa – apa hanya saja aku ingin berbicara empat mata dengannya, kuharap kau mengerti.”

“Ah ye…” secara otomatis persetujuan itu meluncur dari bibirku. Aku melirik Siwon. Dia membuang napas kasar dan menatap tidak suka pada Choi Imo.

Kemudian Choi Imo menepuk pundakku tiga kali tanpa suara. Aku tahu maksud beliau melakukannya, jadi segera kukayuh langkahku menuju pintu keluar sekaligus meninggalkan Siwon dan Choi Imo berdua.

Aku berharap apa pun yang terjadi adalah jalan  terbaik bagimu, Siwon Oppa…

…………..

Aku menatap beberapa kepingan koin ditelapak tanganku. Melihat Choi Imo membuat rasa rindu yang perlahan terkubur mulai bangkit lagi. Sungguh aku merindukan mereka, Eomma dan Seohyun adikku.

Pikiranku kembali tertuju kepada potongan kejadian sore kemarin, perjalanan pulang yang kutempuh bersama Siwon usai menghabiskan waktu seharian di pantai. Aku menemukan sebuah telepon umum dipinngir jalan , diam – diam aku ingin berjalan kesana tapi disisi lain aku tidak ingin membuat Siwon hawatir. Aku berpikir untuk mencari waktu yang tepat saja. Dan sekaranglah waktunya.

Aku memasukkan tiga keping koin kedalam badan telepon, lalu  segera menekan nomer rumahku yang sudah berada diluar kepala. Nada sambung mengitari pendengaranku seiring dengan gemuruh jantung yang meledak – ledak. Sesungguhnya aku takut mendengar reaksi Eomma, Ini pertama kalinya aku menghubungi Eomma setelah hampir sebulan lamanya aku kabur dari rumah dan kami kehilangan kontak. Aku selalu takut menghubungi Eomma. Setelah perdebatan malam itu bisa kupastikan bahwa Eomma menentang habis – habiasan hubunganku dan Siwon. Aku hawatir Eomma akan menggoyahkan keputusanku menikah dengan Siwon. Seperti perdebatan yang sudah – sudah, Eomma selalu membangga – banggakan Kyuhyun, lebih dari apa pun ketimbang Siwon yang dianggapnya sebagai pria tidak jelas. Meskipun Kyuhyun adalah pria baik namun aku tidak punya perasaan  apa – apa yang  lebih dari sekedar sahabat. Perasaanku terhadapnya tidak sebanyak perasaanku kepada Siwon…

“Yoboseo…”

Suara diseberang sana memecah lamunanku. Eomma… sosoknya dalam sekejap mata mengusai seluruh pikiranku. Aku ingin bertanya padanya mengenai apa saja. Berjuta kata sudah menggantung diujung lidahku tapi, tapi entah kenapa dari sejuta kata itu, satu pun tidak ada yang lolos. Bibirku membeku. Lisanku hilang tertelan bumi. Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa. Mendengar suara Eomma membuat dadaku sakit. Napas ini rasanya sempit sekali.

“Yoboseo…”

Lagi, suara Eomma, sosok yang amat kurindukan menggebrak pendengaranku. Aku terkesiap mencoba mengatakan sesuatu. Namun lagi – lagi aku gagal melakukannya. Kenapa? Kenapa sulit sekali?

“Eomm—“

“Uhukk..”  Kudengar Eomma sedikit terbatuk, apa terjadi sesuatu?

“Maaf,  kalau anda tidak mau bicara tolong jangan menelpon ! Selamat siang,—“

Bip. Sambungan terputus. Aku menatap gagang telepon dengan hampa. Helaan napas sesal menerobos kerongkonganku. Bagimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Suara Eomma terdengar berbeda, aku mulai hawatir.

Dengan gerakan tergesa – gesa, aku memutuskan untuk menghubungi rumahku sekali lagi. Kutarik napas dalam – dalam lalu kuhembuskan  perlahan ketika nada sambung mulai terdengar. Bagaimana pun  aku harus berbicara sesuatu, Ya harus.

“Yoboseo.”

Aku terkesiap, kali ini bukan suara Eomma tapi suara adikku. Bulir-bulir hangat yang memenuhi mataku akhirnya meleleh bersama sesak yang kian menjadi.

“N-Seohyun…”

“Eonnie?”

“Seohyun ini aku Sooyoung.” Aku mendesaknya untuk memastikan. Seohyun masih kenal dengan suaraku, itu berarti dia masih ingat padaku, jadi itu benar, aku belum dilupakan.

“Iya aku tahu.”

“Seohyun bagaimana kabarmu dan Eomma apa kalian baik – baik saja?” tanyaku lagi dalam sekali napas, sungguh aku tidak sabar mengetahui bagaimana keadaan mereka.

“Apa perdulimu Eonnie? Selamat atas pernikahanmu.  Berbahagialah sana dengan namja pilihanmu itu, aku dan Eomma sudah ikhlas, kau mau berbuat apa pun terserah.”

Bumi seolah runtuh. Aku merasa masa depanku sudah hancur ketika Seohyun berkata dengan kalimat sekejam itu. Mereka sudah tidak peduli padaku, mereka membuangku, tidak ini pasti salah. Aku bergeleng menepisnya mentah – mentah. Lalu itukah alasan kenapa mereka diam saja selama ini? karena mereka sudah tahu…

“D-Dari mana kau tahu aku sudah menikah…”

“Tentu saja, hampir semua keluarga Siwon-ssi mengetahui ini bahkan teman – temannya termasuk Kyuhyun Oppa. Jadi sekarang tak usah bersembunyi dari mereka, dan satu lagi…”

Aku mengernyit tidak percaya, kalau boleh memilih aku tidak ingin mendengar apa pun yang dikatakannya. Karena keadaan sedang tidak berpihak padaku jadi semua kata – kata Seohyun adalah yang terburuk menurutku.

“Aku mohon padamu jangan pernah muncul didepan Eomma.”

Aku terdiam dengan isakan tertahan yang menyiksaku sejak tadi. Ini pasti mimpi bukan? Seohyun tidak mungkin mengatakan hal sekejam itu.

“A-apa maksudmu—“

Bip. Lagi – lagi sambungan terputus  karena ulah sepihak. Tanganku masih gemetaran ketika aku berusaha menutup gagang telepon. Pijakanku melemas bahkan nyaris runtuh. Dihadapanku dunia tampak blur, aku tidak bisa melihat dengan jelas dan fokus. Aku benar – benar payah karena membiarkan mataku mengeluarkan air mata. Aku tidak seharusnya menangis, aku tidak seharusnya menangisi mereka. Aku sudah mengambil keputusan sampai detik ini dengan segala resikonya dan kebencian yang aku terima  sekarang mestinya sanggup kutelan mentah-mentah dengan cara sepahit apa pun.

Aku menyeka air mataku yang membanjir. Tersisa tiga koin lagi untuk menghubungi seseorang. Dan satu – satunya orang yang terpikir didalam kepaku adalah dia.

“Yoboseyo.”

Usai menunggu nada sambung sebanyak empat kali, seseorang diseberang sana akhirnya mengangkat teleponnya.

“Yoboseyo—“ aku menarik napas selagi memikirkan sesuatu. Tidak bisa aku pungkiri selain merindukan Eomma dan Seohyun, aku juga merindukannya.

“Oppa, Oppa ini aku Sooyoung.”

“E-Sooyoung?”

Dia sedikit tidak percaya mendengar suaraku. Aku yakin ini pasti akibat menangis tanpa henti.

“Kyuhyun Oppa? Benarkah ini kau? Nde aku Sooyoung.” Aku menegaskan suaraku sekali lagi.

“Sooyoung kau dimana?” tanyanya kemudian. Tak ada kata yang meluncur dari bibirku, lalu Kyuhyun mengambil alih percakapan, “Kau tahu Eommamu sedang sakit, pulanglah sekarang juga !”

Aku terdiam dengan lamunan panjang,“M-mwo?”

“Sooyoung dengar, aku tidak perduli kau sudah menikah dengan Siwon atau apa yang jelas kau harus pulang Sooyoung-ah.”

“Tapi Oppa, aku tidak bisa meninggalkan Siwon Oppa begitu saja.” Aku bingung, kepalaku bergeleng cepat karena tidak tahu harus berbuat apa.

“Eommamu lebih penting Sooyoung-ah ! Setiap hari dia mencarimu asal kau tahu.”

“Tapi – tapi Seohyun—“ Aku menjeda selagi berpikir ulang mengenai percakapanku dengan Seohyun sebaiknya Kyuhyun tidak perlu tahu.

“Tapi Oppa, Siwon juga sedang sakit dan dia ingin tetap disini.” Aku menjelaskan kebingunganku padanya namun Kyuhyun sepertinya tidak puas, Ia menghela napas kasar.

“Sekarang kau pilih Siwon atau Eommamu !” ucapnya tegas dan lugas, membuat nada bicaranya terdengar seperti meneror.

“Apa?”

“Aku tahu Siwon sedang sakit parah tapi Eommamu juga membutuhkan kehadiranmu.”

Lisanku hilang ditengah kebingungan. Aku dilema berhadapan dengan  pilihan sesulit ini, bagaimana bisa aku memilih diantara mereka?

“Kau harus memilih salah satu, besok aku akan menjemputmu dan mendengar sendiri keputusanmu.” Kyuhyun berbicara sepihak. Aku mulai panik karena rencananya itu. Buru – buru aku mencegahnya. “Kau tidak perlu melakukannya Oppa.”

Namun dia membantahnya begitu saja dengan berkata, “Tidak Sooyoung-ah aku harus melakukannya. Jadi katakan dimana kau sekarang?”

“Ani, aku tidak akan mengatakannya.” Bagaimana pun aku tidak akan mengatakannya. Aku akan menemui Eomma sendiri tanpa Kyuhyun yang harus menjemputku ditempat ini. Aku tidak mau memberikan harapan palsu kepada Eomma kalau terus menerus didekat Kyuhyun apalagi sampai mengantarku pulang.

“Baiklah, kalau kau tidak mau mengatakannya aku akan melacak nomer telepon ini.”

“Mwo?” Mataku membulat sempurna, aku ingin menjelaskan sesuatunya lebih rinci tentang kenapa Ia tidak perlu melakukannya tapi segalanya buyar didalam kepalaku.

“Bersiaplah Sooyoung.”

“Yak Oppa !”

Bip. Aku kembali menelan kenyataan pahit. Kenapa dari semua orang yang aku hubungi selalu menutup sambungan teleponnya secara sepihak?  Padahal aku ingin berbicara lebih lama dengan mereka, aku membutuhkan waktu banyak untuk menggambarkan betapa aku rindu, betapa aku ingin mereka semua mendengar penjelasanku.  Tapi yang aku terima kini berbanding terbalik dengan harapanku. Mengingat semua itu membuatku sedih.

…………

Aku berjalan limbung tanpa melihat situasi disekitarku. Wajahku yang basah rupanya sudah mengering karena terpaan angin yang menggilas wajahku. Sudah kuputuskan untuk membuat segalanya telihat baik – baik saja didepan Siwon. Tidak boleh ada setetes pun air mata yang tertumpah didepannya. Aku berjanji.

Langkahku terhalang ketika ada seseorang yang berhenti didepanku. Sekejap mata Ingatanku terbayang wajah Choi Imo sebelum aku  mendongak dan memastikan bahwa dia adalah sosok yang kukenal. Hening menerpa dan tatapanku jatuh kedalam bola matanya.

“Annyeong Imo.” Aku menunduk bersama penyesalan, sedikit canggung rasanya karena tidak mengenali Choi Imo secepat yang seharusnya.

“Aku tidak punya banyak waktu Sooyoung-ssi.” Ia melirik arlogi yang mengitari pergelangan tangannya sebentar, “Sooyoung-ssi kebetulan kita bertemu disini ekhm— aku salah sebenarnya aku sudah lama menunggumu.” Sambungnya lagi seraya menatapku.

“Siwon tidak akan melihat kita jadi aku memutuskan untuk berbicara padamu disini saja.” Jelasnya lagi. Memutar pandangan kesekeliling, aku setuju dengan inisiatifnya. Bertemu disepanjang persimpangan terpencil sehingga Siwon tidak bisa menjangkau dari rumah kami. Rumah kami… entah kenapa aku menyukai kata – kata seperti itu. Meja kami… dunia kami dan kepunyaan kami..

“Nak, terlepas dari kau sudah mengetahuinya atau belum, aku ingin menceritakan sesuatu.” Choi Imo tampak menelan isakannya dan berusaha tegar didepanku. Aku tahu perempuan dengan kondisi seperti itu sangat mudah dibuat menangis hanya dengan menyenggol bahunya.

“Siwon… sebenarnya dulu pernah menjalani tranplantasi sumsum tulang dari Eommanya di Jepang.”

Tatapanku membatu, aku butuh penjelasan lebih dari ini. Siwon pindah ke Jepang beberapa waktu lalu, jadi itukah penyebabnya…

“Apa?”

“Sejenak kondisinya membaik tapi—“ Wajahnya berkerut sedih.

Choi Imo menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, “Tapi kondisi Eommanya berubah memburuk. Sejak saat itu Eomma Siwon sakit- sakitan dan sering jatuh pingsan. Siwon mulai menyalahkan dirinya sendiri, dan berpikir kalau Eommanya mengalami hal buruk karena transplantasi itu.”

Ingatanku berputar kebelakang, tiba – tiba denyutan dikepalaku menghantam. Aku tidak tahu masalah ini sama sekali karena Siwon tidak pernah menceritakannya padaku. Karena setiap kali aku bertanya mengenai kondisinya atau yang berhubungan dengan itu, Siwon selalu mengubah topik pembicaraan kami hingga aku benar – benar lupa.

“Keadaan semakin rumit ketika penyakit itu kembali menggerogoti tubunya. Siwon kembali divonis leukimia. Dan itu makin membuatnya frustasi dan memilih mengasingkan diri.”

Jadi itukah alasannya? Alasan mengapa Siwon membawaku hingga ketitik ini?

“Sekarang aku ingin membujuknya melakukan transplantasi itu tapi sesuai dugaanku Siwon menolaknya mentah – mentah. Aku sudah berkali – kali membujuknya tapi usaha itu belum membuahkan hasil.”

Kedua tangannya menangkup dikedua tanganku lalu menggenggamnya yakin, “Tolong aku mohon bicaralah dengannya, aku yakin dia akan mendengarmu.”

Beliau memohon padaku namun agaknya permintaan itu lebih kepada desakan agar aku patuh, “Siwon sangat mencintaimu Sooyoung-ah, kau penting baginya jadi kumohon lakukan apa saja yang terbaik untuknya.”

“Aku akan mencobanya tapi aku tidak janji akan berhasil.” Ucapku sedikit ragu awalnya, namun karena ini semua demi kebaikan Siwon maka tidak ada alasan untuk menolak. Aku memutuskan untuk memenuhi permintaannya. Bagaimana pun inilah yang terbaik untuk Siwon. Dia mengalami penderitaan yang bertubi –tubi dan sekarang memilih pasrah begitu saja. Aku berpikir Siwon mengalami depresi tapi mengingat bagaimana perilakunya selama ini, aku tidak jadi berpikir demikian. Dia hanya menghindari kesakitannya.

“Yang penting kau sudah mencobanya, Imo akan sangat berterima kasih padamu.” Choi Imo tersenyum penuh harap. Ia lalu mendekapku penuh kelembutan. Dan betapa pelukan itu mengingatkanku pada Eomma.

Eomma, bagaimana keadaannya sekarang?

…………

Ketika sampai di rumah aku tidak bisa menemukan Siwon. Dia tiba – tiba menghilang. Keadaan disana sepi dan hening. Aku melangkah perlahan – lahan berusaha mencari keberadaannya. Barusan dari ruang tamu wangi tubuh Siwon menyerbu dengan ketajamannya, wangi  itu berkeliaran menuju ruang lainnya bersama oksigen yang merasuk kedalam penciumanku. Jadi aku berpikir kalau Siwon tidak pergi  kemana pun, dia ada di rumah ini, entah dimana.

Biasanya dia akan muncul sebentar lagi.

Aku melempar tubuhku diatas sofa ruang tengah, menyandarkan punggung yang rapuh lalu memejamkan mata. Bayangan – bayangan mengenai kejadian di telepon umum juga di persimpangan jalan menyerbuku tiba – tiba. Dimulai dari kondisi Eomma, sikap Seohyun padaku, kata – kata Kyuhyun, Choi Imo  hingga alasan Siwon menjadi seperti ini….

“Sooyoung-ah.”  Aku terkesiap dan langsung mengenali suara yang memanggilku. Kulihat Siwon sudah berdiri didepanku. Sempat kusadari bahwa wangi tubuhnya semakin menajam kearah posisiku saat ini, tapi aku tidak sempat memikirkannya, seluruh tenagaku habis terkuras oleh banyak kejadian rumit.

“Kau dari mana?” ucapku beringsut agar bisa mempersilahkannya duduk disampingku.

Usai mendudukkan tubuhnya disampingku, Siwon tersenyum dengan kedua alis terangkat. Sepertinya Ia terheran – heran melihatku.

“Bukankah harusnya aku yang bertanya? Aku tidak pergi kemana – mana.” Jawabnya  sekaligus menanyaiku balik.

Aku tertegun. Siwon benar, harusnya dia yang bertanya, bukan aku. Lalu apa yang harus kukatakan?

“Aku berjalan – jalan sebentar lagipula aku takut mengganggu kalian. Aku bisa saja mendengar pembicaraanmu dengan Choi Imo, sepertinya itu pembicaraan  penting.”

Siwon terkekeh sekilas. Aku memikirkan ucapanku lagi dan menemukan bahwa tidak ada yang salah. Kutatap wajahnya yang berubah sinis, Ia menerawang sesuatu entah apa.

“Jadi menurutmu itu sesuatu yang penting?” tanyanya tiba – tiba. Aku terkejut ketika Siwon berpaling menatapku.

Dengan gerakan seadanya aku mengangguk.

Senyuman dibibirnya kembali tersungging. Aku berpikir kalau terkadang Siwon tampak menyeramkan karena ekspresinya yang cepat sekali berubah. Dia seperti punya dua kepribadian.

“Imo hanya terlalu mengawatirkanku. Dan asal kau tahu, tidak ada yang lebih penting darimu.” Siwon membelai kepalaku. Tatapannya melunak.

“Tetap saja kau harus mendengarkannya Oppa. Lakukan saja apa yang beliau pinta. Aku yakin itulah yang terbaik bagimu.” Aku berbicara dengan nada sedikit menuntut. Siwon berhenti membelai kepalaku. Tangannya pergi begitu saja bersama kehangatan itu. Kini tersisa hawa dingin yang menerobos hening. Aku tak bisa menebak apa yang Ia pikirkan, Siwon merenung dengan tatapan misteriusnya yang hampa, membuatku harus ektra berpikir untuk menyadarkannya.

“Aku lebih tahu  apa yang terbaik bagiku,” katanya memandang lurus.

Aku bertahan dengan tatapanku yang sepihak. Dari sebelah sisi aku menemukan rahangnya mengeras, detaretan giginya menggeretak jelas sekali dalam pendengaranku. Aku mengesampingkan api amarah yang menjeratnya kini, Suka atau tidak suka Siwon harus menyadari bahwa manusia tidak hidup sendiri.

“Tapi kau juga harus mendengarkan orang lain–”

“Aku tidak perlu mendengarkan mereka,” sambarnya dengan tatapan kilat yang menghunus jantungku, “Aku tidak perlu mendengarkan Choi Imo atau siapa pun, karena yang terbaik bagiku adalah bersamamu disini.”

“Tapi tidak selamanya aku disini.” Balasku tidak kalah tajam darinya. Aku berpikir mengenai hal ini berulang – ulang. Aku tidak mungkin terus – menerus tinggal disisinya, aku masih punya keluarga, begitu juga dengannya. Tidak ada jalan lain. Seandainya aku pergi, Siwon pasti akan jatuh ke-tangan keluarganya.

Siwon tak berkutik, Ia terdiam hingga  bola mata kehitaman itu seolah menelanjangiku, “Apa maksudmu—“

 “N-nde, karena tidak selamanya aku disini, kau harus menuruti permintaan Imo.”

Aku menungguinya dengan perasaan cemas bercampur sesal. Kata – kataku mungkin melukainya tapi aku tidak punya pilihan lain.

“Katakan sekali lagi.” Pintanya yang seketika membuat paru – paruku menyempit.

Siwon membungkam lisanku dengan tatapannya,  “Katakan sekali lagi, kau berencana meninggalkanku?”

Aku tidak bisa menjawab. Bingung, tepatnya bibirku kelu bahkan untuk menggerakkan lidah aku tidak sanggup.

“Imo pasti sudah mengatakan sesuatu padamu.” Simpulnya membuatku tertohok, harusnya aku sudah bisa memperkirakan bahwa sikapku mencurigakan.

“Apa?” aku menatapnya pura – pura tidak mengerti. Dia membalas tatapanku itu dengan fake smile, “Jadi apa yang dikatakannya ?”

“Aku harus menjalani perawatan bodoh itu lagi ?” Dia memulainya dengan kekehan miris,  “ Aku harus pulang ke Seoul dan melihat semua orang menderita, terisolasi didalam kamar serba putih, dan setiap hari menghirup aroma  racun busuk yang nantinya juga akan membunuhku, begitu? Jadi seperti itu yang Imo inginkan?” Siwon menyambar begitu saja.

Aku kehilangan kata – kata. Siwon mengambil alih segalanya bahkan menutup kesempatan bagiku untuk menjelaskan sesuatunya.

“Kau tahu, didunia ini tidak ada lagi yang bisa kupercayai selain dirimu, mereka semua bersekongkol ingin menjerumuskanku  kedalam neraka !”

“Dan sekarang kau juga ingin mengikuti jejak mereka?”

Aku bergeleng tidak percaya,”Bukan begitu–”

“Lalu apa Sooyoung? Lalu apa kalau bukan seperti itu?!” Siwon kembali memotong penjelasanku.

“Kalau pun kau ingin seperti mereka, silahkan.” Wajahnya memandang kearahku tetapi tidak demikian dengan pikirannya, aku yakin.

“Tapi tidak Sooyoung-ah, kau tidak akan pergi kemana – mana karena aku tidak akan membiarkamu pergi.” Siwon meraih daguku, kali ini matanya benar – benar fokus memandangku. Aku frustasi melihat matanya yang tajam seolah akan membunuhku detik itu.

“Kau harus tahu betapa aku menginginkanmu.”

“O-oppa…”

Siwon beringsut hingga tubuh kami menempel satu sama lain. Peluh berjatuhan dari wajahku. Kegugupan menyerbu, aku butuh napas.

Kedua mataku memejam, aku tidak tahu apa yang dilakukan Siwon selanjutnya karena pandanganku menggelap. Tiba – tiba desiran napasnya berputar – putar diwajahku,  aliran darahku buntu.

Tidak kusangka dia melakukannya. Melumat bibirku dengan segala emosi yang berteriak didalam tubuhnya. Aku tidak suka cara seperti ini, dimana Siwon yang aku kenal? Siwon yang selalu memperlakukanku dengan lembut. Aku tidak bisa menemukan itu didalam dirinya yang sekarang, sedikit pun.

Memberontak, aku berusaha lepas dari jeratan tubuhnya. Berpuluh kali kuhantam bahunya bertubi – tubi.

 “Mian, mianhae.” Akhirnya dia terduduk lemas sambil memegang kepalanya. Baru kusadari bahwa bulir – bulir bening dari wajahku lepas dari bendungannya. Sesak memenuhi dadaku melihatnya seperti ini, napasku tersenggal – senggal tanpa bisa kukendalikan. Aku sudah kehilangan kata – kata bahkan untuk sekedar meratapi nasibku.

“Mianhae Sooyoung-ah, aku… aku tidak bermaksud melakukannya—“

Sebelum dia selesai bicara, aku berdiri dengan air mata tertumpah. Tidak ada lagi yang ingin kukatakan, aku menatapnya sebentar lalu segera enyah dari sana. Suara bantingan pintu kamar mengakhiri perdebatan kami kala itu.

~TBC~

One thought on “FF SooWon – From This Moment On [ Part 3 ]

  1. Ayu_Niyala berkata:

    Ini kok ga dilanjut kak ? Udh lama banget.. Dilanjutin dong please, kira2 keputusan soo apa ninggalin siwon atau ketemu eommanyaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s