FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 14 )

marry u 2

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Maaf lama, soalnya kemarin2 lg menderita kebosanan, jd nulis FF lain dulu ^^

~Happy Reading ~

Sekitar tengah malam Yoona terbangun dari tidurnya. Ia terbangun didalam pelukan Donghae yang tengah mendekapnya dari belakang. Yoona merasa sesak napas mengingat Donghae memperlakukannya seperti bantal guling. Yoona bergerak gelisah hendak lepas dari dekapan itu. Ia berusaha menyingkirkan tangan Donghae. Entah sejak kapan Donghae tertidur disampingnya, seingat Yoona terakhir kali ia hanya tidur sendiri. Akhir – akhir ini Donghae selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan pulang tengah malam. Yoona hanya bertemu Donghae sesekali untuk menyiapakan sarapan atau ketika Donghae membawa pulang pekerjaannya dan Yoona setia menemaninya seperti obat nyamuk, bercerita panjang lebar mengenai apa saja mulai dari berita di televisi hingga tetangga mereka yang sering memasak dan aroma masakannya menguar kemana – kemana termasuk kepenciuman Yoona. Donghae kadang kala menanggapi seluruh ocehan Yoona  dengan senyuman atau gumaman singkat. Yoona merasa saat itu dirinya terlalu lelah bercerita   hingga pagi harinya Yoona acapkali menemukan dirinya sendiri terbangun diatas ranjang.

Membayangkan soal aroma masakan yang dimasak oleh tetangganya, Yoona merasakan air liurnya sudah menggantung diujung lidah. Bayangan – bayangan gila mengenai makanan lezat mulai bergentayangan dikepalanya. Yoona menyibak lengan Donghae diperutnya dengan susah payah, ini yang ketiga kalinya Yoona menyingkirkan lengan Donghae, setelah sebelumnya lelaki itu selalu melingkarkan lengannya lagi – dan lagi. Yoona terpaksa meyikut perut Donghae ketika untuk kesekian kalinya tangan Donghae mengunci kembali disekeliling pinggangnya. Donghae mengaduh, tubuhnya mundur kebelakang dan kesempatan itu dimanfaatkan Yoona, lantas ia mendudukkan tubuhnya dan bersandar di punggung ranjang. Yoona bernapas lega. Entah mengapa Yoona merasa puas ketika  berhasil melepaskan diri dari jeratan lelaki itu.

“Oppaaaa…” Yoona berbisik ditelinga Donghae, lelaki itu tengah tertidur dalam posisi telentang. Donghae  bergeming, bahkan ketika bisikan Yoona berkali – kali menyapu telinganya. Yoona tahu Donghae mendengarnya, lelaki itu hanya pura – pura tidak mendengar.

“Oppaa.” Kali ini  Yoona merengek seraya mengguncang – guncang tubuh Donghae. Suara tenggorokan Donghae terdengar ditelinga Yoona tetapi lelaki itu tidak kunjung membuka matanya. Yoona bertambah sebal.

“Oppaaa.” Yoona beranjak mencubit kedua pipi Donghae, menggerak – gerakkannya kekanan dan kekiri. Donghae tampak meringis tapi kembali tertidur, tepatnya pura – pura tertidur  sebab kini lelaki itu hendak menangkap pinggang Yoona.  Yoona yang lebih dulu membaca gerakan Donghae lebih dulu menangkisnya dan beringsut kebelakang.

“Ayolah Oppaaa.” Yoona hampir menyerah, ia menyodok perut Donghae dengan ujung jarinya. Donghae  menggeliat. Samar – samar Yoona menangkap gelak suara Donghae, tampaknya lelaki itu merasa kegelian.

Yoona berdecak. Lelaki itu malah membalik tubuhnya untuk menghindari serangan Yoona.

“Baiklah kalau tidak mau, aku bisa melakukannya sendiri.” Yoona bangkit melempari Donghae dengan bantal. Baru beberapa langkah berjalan, Donghae sudah melompat dan mendarat dihadapannya.

Yoona melipat kedua tangannya, Ia mengamati Donghae dari ujung kaki sampai ujung rambut. Penampilan lelaki itu sangat berantakan. Celana pendek dan kaos oblong ditambah rambutnya yang acak – acakan. Benar – benar mengganggu pemandangan. Donghae hanya beruntung karena dia tampan.

Dengan mata sayup – sayup menahan kantuk, Donghae menatap Yoona. Perempuan itu memutar bola mata kemudian berlalu melewatinya. Donghae tidak tinggal diam. Ia melingingkarkan satu tangannya diseputar pundak Yoona, sedangkan satunya lagi menggapai pinggang Yoona, hingga Yoona tidak berkutik.

Donghae menempelkan bibirnya membelai telinga Yoona, “Akhir – akhir ini kau cepat sekali marah.”

“Itu karena kau menyebalkan ! Ishhhh.” Yoona memutar tubuhnya menghantam dada Donghae dengan sekepal tinju.

Donghae tergelak, Ia menuntun wajah Yoona agar menatapnya. Yoona memberengut. Ia menyingkirkan tangan Donghae.  Donghae pikir Yoona akan merajuk tapi dugaannya salah. Yoona malah menggenggam kedua tangannya, dan lagi – lagi merengek seperti tadi, “Oppaaa, ayolahhh aku menginginkannya.”

Sepasang alis Donghae terangkat mencerna arti lain dari kata ‘menginginkan yang dimaksud Yoona.’

“Aku ingin makan. Makanan apa saja yang penting enak.” Tambahnya membuat Donghae mengerti sekaligus kecewa karena tebakannya salah. Ia mencoba fokus dan berpikir mengenai topik perbincangan mereka. Makanan? Di rumah mereka sudah tidak ada makanan.

Yoona menghambur kepelukan Donghae, mengelus bahu lelaki itu menuju dada bidangnya. Ia lalu mendongak dengan mata berbinar – binar, “Bawa aku kemana saja yang penting disana ada makanan enak, yaa jebaal, pikirkan ini semua demi anak kita..”

Donghae mengecup kening Yoona sambil berdoa dalam hati, Semoga Yoona tidak mengidam aneh – aneh.

……………

Donghae menimbang – nimbang dibalik kemudinya. Ia melirik Yoona yang saat ini sibuk melemparkan pandangannya keluar jendela. Donghae menggigit bibir bawahnya, bingung harus membawa Yoona kemana, pasalnya Yoona tidak mengatakan makanan seperti apa yang Ia inginkan, Yoona hanya berkata bahwa makanan itu harus enak. Donghae mengamati sekitarnya. Tengah malam seperti ini rumah makan yang menjadi pilihan mereka jumlahnya terbatas karena sebagian sudah tutup, hanya beberapa yang masih buka.

Usai dua puluh menit lamanya  mengitari jalan raya, Donghae memutuskan untuk memarkirkan mobilnya didepan sebuah restaurant tofu. Sebelum turun dari mobil, Donghae sempat meminta pendapat Yoona.

“Apa kau yakin makanan disini enak?”

Donghae mengangguk, “Kau lihat saja pelanggannya banyak. Itu  berarti makanan di restaurant ini digemari oleh sebagian besar orang.”

Yoona mengangguk mendengar kesimpulan Donghae. Tanpa menghabiskan waktu Yoona membuka seatbelt– nya dan segera turun dari mobil sementara Donghae mengekorinya dari belakang.

“Oppa, kenapa rasanya begini?” Yoona memeletkan lidahnya. Donghae yang penasaran langsung  merebut sendok dari tangan Yoona, lantas Ia mencicpi  sup tahu dihadapan mereka.

Enak. Donghae merasa tidak ada yang salah dengan makanan ini. Donghae lalu menatap sekelilingnya. Keadaan tampak normal – normal saja. Tidak ada satu pun pelanggan yang melancarkan aksi protes terhadap makanan yang mereka pesan, kecuali Yoona tentu saja.

“Yoona menurutku sup ini—“

“Ani Oppa, sekali tidak enak tetap saja tidak enak.” Potong Yoona, lalu menatap Donghae penuh harap, “Kita ketempat lain saja, ya?”

Donghae mendesah, “Baiklah, terserahmu.”

Tempat selanjutnya mereka mendatangi sebuah restaurant Jepang. Donghae ingat Yoona sangat menyukai makanan khas dari negeri sakura itu. Lagi pula bukan pertama kalinya mereka datang kemari. Bahkan  Yoona sudah mencoba semua menu di restaurant ini,  dan sushi udang adalah menu favoritnya.

“Hoekkk…” Yoona memuntahkan kembali sushi yang baru saja masuk kedalam mulutnya. Donghae yang saat itu tengah menahan kantuk, membuka matanya lebar – lebar. Donghae menarik selembar tissue dan membersihkan berkas muntahan sushi disekitar bibir Yoona.

“Oppa baunya amis, aku tidak suka.”

Lagi – lagi Donghae mendesah, “Sudahlah, tidak usah dimakan lagi.”

Sepasang mata Yoona berkaca – kaca, “Apa disini tidak ada makanan yang enak satu pun hikzz…”

Donghae membasuh kepala Yoona, “Gwencana jangan menangis, kita bisa mencarinya lagi.”

Untuk ketiga kalinya Donghae memarkirkan mobilnya didepan sebuah restaurant. Kali ini Donghae memilih restaurant bulgogi. Wangi rempah – rempah dan aroma panggangan daging menyambut kedatangan mereka begitu menginjakkan kaki disana. Selain suasananya yang tenang dan akrab, beberapa pelayan yang mereka temui di restaurant itu juga cukup ramah. Donghae memesan satu porsi menu spesial, tidak lama pesanan itu datang.

“Oppa.” Yoona mengerucut.

Donghae menatapnya malas, namun Ia masih berusaha menunjukkan perhatiannya, “Hmm.”

“Tiba – tiba aku tidak berselera melihat makanan ini.”

Donghae mendesah putus asa, “Baiklah nanti biar aku yang makan.” Putus Donghae. Namun belum habis Donghae menikmati makanan itu, Yoona justru membujuknya agar mereka segera meninggalkan restaurant. Donghae sempat menolak namun Lagi – lagi Ia harus menyaksikan air mata Yoona terjun bebas. Donghae mendadak kehilangan selera makannya.  Lelaki itu  berdecak dan segera membayar seluruh makanan – makanan yang telah mereka pesan, Donghae lalu menarik tangan Yoona menuju parkiran. Sampai didalam mobil, Donghae memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. Lantas ia mencecar Yoona dengan berbagai pertanyaan.

“Yoona aku tidak mengerti sebenarnya makanan seperti apa yang kau inginkan?”

Yoona terisak, Ia merasa Donghae baru saja membentaknya. Sementara Donghae yang sejak tadi sibuk berpikir dibalik kemudinya terkejut melihat wajah Yoona yang rupanya sudah  basah akibat tertimpa  bulir – bulir bening. Tangisan itu tak ubahnya seperti hujan ditengah malam.

“Kalau aku bisa langsung menemukannya, aku juga tidak akan menyusahkanmu seperti ini.” sesal Yoona menyeka air matanya. Donghae menghela napas, Ia menggenggam sepasang tangan yang berada dipangkuan Yoona, dan bertanya sekali lagi dengan lebih halus, “Jadi dimana kita bisa menemukan makanan itu, hmmm?”

“Makanya itu aku tidak tahu.” Desak Yoona dengan tatapan memohon. Yoona menginginkan Donghae mencari tahu namun sepertinya lelaki itu sudah kehabisan akal.

“Begini saja, apa kau pernah memakan makanan itu sebelumnya ? Melihatnya mungkin?”

Yoona bergeleng, matanya berkerdip lebih cepat akibat ganjalan air mata, “Aku tidak tahu pernah memakannya atau tidak, aku juga belum pernah melihatnya yang  pasti makanan itu sering dimasak oleh tetangga kita.”

Donghae menyingkirkan surai yang menghalangi wajah Yoona seraya menanggapi dengan alis bertaut, “Memangnya makanan seperti apa yang dimasak oleh tetangga kita itu?”

Yoona berdecak merasa pertanyaan Donghae stagnan disitu – situ saja, “Itu masalahnya, aku tidak tahu Oppa. Setiap sore tetangga kita sering memasak sesuatu dan aromanya itu sampai kepenciumanku.”

Sejenak Yoona menerawang bentuk dari makanan yang dimaksud olehnya. Yoona menelan ludah, kali ini batas kesabarannya sudah diambang jurang. Ia menatap Donghae memelas, “Aku tidak bisa berhenti membayangkannya Oppa, kelezatan dari makanan  milik tetangga kita,  meski pun aku belum pernah  mencobanya entahlah, aku hanya mengiginkan rasa dan aroma yang seperti itu.“

Donghae termenung. Berbicara soal tetangga dilingkungan rumahnya, lelaki itu mencurigai sesuatu, “Sebentar Yoona, boleh kutahu tetangga mana yang kau maksud…”

Yoona memajukan wajahnya tidak sabaran, “Maksudku itu… Tetangga yang rumahnya di sebelah kanan rumah kita.”

Donghae menatap Yoona tidak percaya. Dahinya berlipat – lipat memikirkan sesuatu. Awalnya Donghae berpikir untuk minta tolong kepada tetangganya itu, tapi melihat tetangga yang dimaksud Yoona, nyali Donghae menjadi ciut. Lelaki itu merasakan bulu kuduknya merinding.

Melirik Yoona sekali lagi, Donghae  menimbang – nimbang berbagai  cara agar Yoona berhenti  dari masalah ngidamnya. Tentu saja Donghae tidak menginginkan Yoona menangis semalaman hanya karena makanan bodoh itu. Sekarang ini pergi ke restaurant mana pun rasanya akan percuma, Donghae memprediksi  Yoona  akan memuntahkan semua makan itu, tidak jauh berbeda dengan kejadian di ketiga  restaurant yang mereka tinggalkan begitu saja.

Sekarang ini  satu – satunya cara untuk memenuhi keinginan Yoona adalah pergi kesana. Donghae menghela napas, mau tidak mau Ia harus  pergi  ke tempat menyeramkan itu….

…………….

Telunjuk Donghae bergerak ragu hendak menekan bel pintu. Ia menekan rasa gugup yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Donghae merasa tidak enak hati kepada  siapa pun tetangganya itu, tidak sopan rasanya harus bertamu tengah malam, apalagi seingat Donghae mereka adalah tetangga baru yang baru saja pindah seminggu yang lalu, Donghae ingin membujuk Yoona untuk pulang atau paling tidak menunggu sampai besok, tapi Yoona kembali merengek dan menangis. Donghae mengusap – usap wajahnya frustrasi selagi mengatur napas, Ia menatap pintu itu ragu – ragu, sementara Yoona yang berdiri dibelakang pungggungya terus mendesak lelaki itu dengan sikutan diperut.

*Ting Nong*

Donghae menelan ludahnya. Pintu tidak kunjung terbuka. Yoona harap – harap cemas, sementara Donghae berharap pintu itu  tidak akan terbuka sampai pagi, dengan begitu Ia  punya alasan agar mereka segera pulang.

Yoona mengguncang – guncang bahunya tidak sabaran. Donghae membaca perintah Yoona dan segera menekan bell pintu itu sekali lagi.

*Ting Nong*

Donghae menggit bibir bawahnya, *Ting Nong*

Clekk—

Mata mereka bertemu. Donghae lantas membungkuk meminta maaf kepada tuan rumah dihadapannya. Belum sempat Donghae mengucapkan sesuatu pintu itu tertutup lalu terbuka lagi beberapa saat kemudian.

Seorang lelaki berambut pirang menatap Donghae tanpa berkedip dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Permisi,”  Donghae menyadarkan lelaki itu, Ia sedikit risih dengan tatapannya. Namun posisinya sekarang Donghae hendak  meminta bantuan dari tetangga barunya  itu, jadi apa pun yang terjadi Ia harus menunjukkan sikap yang  seramah mungkin.

“Ekmmm, ada perlu apa ya ?” Lelaki itu berdehem selagi mengibaskan poni. Entah bagaimana suaranya lebih mirip seperti suara wanita, atau lebih tepatnya suara pria yang dilembut – lembutkan, hingga suaranya itu mendengung ditelinga.

Donghae merasakan tepukan Yoona dipunggungnya, segera Donghae membuka bibirnya susah payah, “Maaf kami datang malam – malam sekali.”

Belum sempat Donghae berbicara lelaki itu menyodorkan tangannya lebih dulu, kalau tidak salah lihat Donghae juga menangkap matanya yang berkedip manja. Seketika Donghae merinding.

“Kim Hyun Bin, alias Hyorin…” Ia mengeja  namanya dengan  intonasi halus disamping desahan napasnya yang berkejaran.

Donghae menatap ragu – ragu, Tidak lama Ia membalas jabatan tangan itu, “Lee Donghae dan—“ Donghae menatap Yoona yang baru saja bergeser dari belakang  punggungnya, “Im Yoona,” sambung Yoona membalas tatapan Donghae dengan ringisan penuh arti, lalu membungkuk kearah pria yang mengaku bernama ‘Hyorin’ itu.

Donghae yang menyadari tangan mereka masih bertautan buru – buru melepaskan. Otaknya langsung berputar untuk menjelaskan sesuatu, “E..e.. begini ka—“

“Ah masuk saja dulu tidak apa – apa kok.” Potong Hyunbin alias Hyorin ramah. Mata Yoona berbinar – binar karena rupanya mereka tidak diusir dari sana, sementara Donghae menghela napas tidak mengerti dengan kejadian yang menimpanya malam ini.

Diruang tamu Donghae menjelaskan perihal kedatangan mereka. Hyorin lantas menganggung – angguk mengerti. Lelaki yang ternyata bertubuh ramping itu berlalu dari hadapan mereka, sepuluh menit kemudian Ia kembali dengan semangkok sup kimchi ditangannya. Yoona kegirangan menatap kepulan asap yang mengepul dari mangkuk sup itu.

“Silahkan untuk ibu hamil,” Hyorin duduk disebelah Yoona selagi menghidangkan makanannya diatas meja, “Mungkin rasanya berbeda karena makanan ini habis kupanaskan dari kulkas,” jelasnya.

Yoona menggeleng, “Gwenchana, ini lebih dari cukup.”

“Jinja?” Hyorin tersenyum malu, diam – diam Ia melirik kearah Donghae yang saat itu sibuk memandangi lukisan pemandangan senja di permukaan dinding.  Donghae merasakan tatapan tersembunyi Hyorin, Ia  memilih untuk berpindah tempat duduk, menghindari kedua ‘wanita’ yang sedang asyik mengobrol. Donghae mengambil posisi diseberang Yoona dan Hyorin.

“Oh iya Yoona,  kalau kau tidak bilang, aku pasti tidak akan tahu kalau kau—“ Hyorin membusungkan perutnya lalu tertawa.

“Mungkin karena usianya belum genap satu bulan.” Jawab Yoona.  Hyorin mengangguk mengerti, Ia mencubiti kedua pipi Yoona gemas, “Ya ampun kau kurus sekali, sekarang makanlah yang banyak !”

“Gomawoo Eonnie.” Yoona  memeluk Hyorin, kemudian menatap makanan yang sejak tadi memanggil – manggilnya dengan berjuta aroma kelezatan. Yoona beranjak dari posisinya lalu duduk bersilah didepan meja ruang tamu yang mungil, Ia menghirup aroma sup itu sambil memejamkan matanya.

“Haii ganteeeng.”

Hyorin menghampiri Donghae yang kelihatannya sedang memperhatikan Yoona. Hyorin merasa Donghae tengah dirundung kesepian karena saat ini Yoona lebih memilih berkencan bersama sup kimchi dari pada suaminya itu. Hyorin menempel disebelah Donghae, berusaha membangun kontak dengan lelaki itu seraya mengedipkan matanya.

Sementara Yoona yang tengah menikmati makanan itu tersedak  melihat tingkah Hyorin yang mencoba bermanja – manja disamping Donghae.  Kalau saja punya kesempatan Yoona pasti sudah merekam wajah Donghae yang dipenuhi keringat dingin.  Hyorin sendiri  mencoba menyeka keringat dipelipis Donghae namun buru – buru ditepis Donghae dengan senyum sungkan. Diujung sana, Yoona cekikikan sendiri menyaksikan penderitaan Donghae. Ia tahu lelaki normal mana pun sangat anti dengan ‘lelaki yang seperti itu.’

Tapi jangan salah Hyorin sangat berbakat dalam hal masak memasak. Mungkin karena terlalu sering menghirup aroma masakan Hyorin setiap sore, Yoona jadi terobsesi mencicipinya. Sekarang bukan hanya mencicipi, Yoona memakan semuanya sampai Ia puas dan ingin berhenti. Yoona menyesal membuat Donghae seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, Donghae tidak pernah tahu penderitaannya kalau keinginan itu tidak terpenuhi. Yoona akan lebih menderita dari hanya sekedar dipeluk Hyorin.

………………..

Benaknya belum juga mampu menyingkirkan pikiran tentang Hyorin malam itu. Donghae tidak menyangka Ia akan bertemu dengan lelaki sejenisnya, lagi didepan mata, setelah sebelumnya pernah mengalami pengalaman buruk semasa sekolah menengah. Tetangga barunya itu mengingatkan Donghae  saat Ia dikejar – kejar oleh seorang lelaki sejenis Hyorin yang hendak menciumnya dulu.

Donghae bergeleng mencoba fokus dengan pekerjaannya. Ia harus segera merampungkan beberapa lagu – lagunya untuk proyek ost drama. Pekerjaan yang menumpuk membuat Donghae kekurangan waktu untuk menikmati akhir pekannya seperti hari ini. Sejak pagi tadi Ia hanya menghabiskan waktunya didepan laptop sementara Yoona mondar – mandir disampingnya sejak tadi.  Donghae berusaha tidak memperhatikan tapi lama kelamaan gerakan itu cukup menyita perhatiannya.

“Yoona.” Panggil Donghae. Yoona menoleh dan berhenti memperhatikan kuku jarinya.

“Apa setelah menginginkan makanan itu, kau juga menginginkan dirimu menjadi setrikaan baju?”

Yoona meringis mendengar pertanyaan Donghae yang lebih terdengar seperti sindiran. Yoona tidak sempat menjawab, Ia memilih menghampiri Donghae yang saat itu kembali fokus dengan laptopnya.

“Oppa, Apa kau marah?” Yoona memeluk Donghae dari belakang, menyisipkan wajahnya diatas pundak lelaki itu.

Donghae menoleh mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bergesekan, “Memangnya apa alasanku harus marah kepada putri yang cantik ini.”

Yoona berusaha menahan senyumnya, Ia membenamkan wajahnya diantara lekukan leher Donghae, “Baguslah… Kupikir kau marah karena masalah tetangga kita.” Sangkanya. Yoona menatap lagi sisi wajah Donghae lalu bergelayut manja, “Terus kenapa dari tadi diam saja?”

“Aku bukan diam saja, aku sedang berusaha fokus  menyelesiakan pekerjaanku secepatnya, tentu agar bisa menghabiskan waktu bersamamu setelah itu, kau  mengerti kan?”

Yoona mengangguk.  Yoona mengerti tapi kesibukan Donghae tampak menyebalkan.

“Kau sendiri kenapa mondar – mandir?” Pertanyaan Donghae menghentak Yoona.

Yoona mempererat pelukannya, “Aku hanya sedang  memperhatikanmu… dan lagi aku bosan di rumah.”

“Lalu?”

Yoona beranjak posisi. Ia duduk bersandar dipermukaan meja di depan Donghae, Yoona melipat kedua tangannya  lalu dilepas begitu saja ketika Ia mencondongkan tubuhnya,  “Kita Jalan – jalan sebentar, ya?”

“Yoona—“

“Kenapa harus menunggu pekerjaanmu selesai? Kalau bukan sekarang lalu kapan lagi?” potong Yoona, lagi – lagi Ia merengek, membuat Donghae kelimpungan. Lelaki itu memijat pelipisnya.

“Kau sudah menjawabnya dengan pertanyaanmu.” Terang Donghae. Wajah Yoona semakin berkerut – kerut. Yoona kembali mendesaknya  dengan bibir mengerucut,  “Oppa, kau bisa menyelesaikannya besok, masih ada hari minggu. Hari ini aku ingin bermain denganmu, ayolaahhh.”

Donghae menghela napas. Mau bagaimana lagi…

………………

Berjalan – jalan sebentar, begitulah kira – kira yang dikatakan Yoona tapi kenyataannya acara jalan – jalan itu bukan lagi sebentar, yang benar adalah sepanjang hari. Donghae pikir Yoona berhasil menculiknya dari pekerjaan – pekerjaan itu. Sesungguhnya Donghae sudah memprediksi kalau acara jalan – jalan mereka kali Ini akan memakan waktu lama. Sebelum pergi Yoona memasukkan banyak barang – barang ke mobil, bahkan sebuah tikar ikut serta diboyongnya seolah – olah mereka akan pergi piknik. Donghae tidak berkata apa – apa, Ia membiarkan Yoona berbuat semaunya. Hari ini Donghae hanya akan mengikuti kemauan Yoona. Donghae lelah dengan rengekan Yoona ketika kemauannya tidak terpenuhi, disisi lain Donghae juga menyukainya, meski pun permintaan Yoona menguras habis seluruh tenaganya namun entah mengapa  semua itu terbayarkan oleh  keberadaan Yoona disampingnya. Sosok Yoona memberikan pasokan udara tersendiri kedalam tubuhnya hingga Donghae bisa merasakan napasnya kembali, dan segala beban yang ditanggungnya menguap begitu saja.

Seperti permintaan Yoona, Donghae memarkirkan mobilnya disekitar  kawasan pantai Incheon usai satu jam lamanya menempuh perjalanan. Donghae menoleh kearah bangku penumpang disampingnya. Tampak Yoona tertidur pulas, rambutnya yang dibiarkan tergerai  menutupi separuh wajahnya hingga Donghae kurang bisa menikmati wajah terlelap itu. Donghae menyingkirkan surai – surai yang mengahalangi, tidak lama kemudian Yoona tersadar.

Pandangan Yoona memutar dan mengamati sekitarnya, “Ini… kita sudah sampai?”

Donghae mengangguk ketika Yoona menatapnya.

“Wah, Jinja?”

“Hmm.” Gumam Donghae membantu melepaskan seatbelt Yoona, “Turunlah.” Perintah Donghae ketika Yoona hanya terbengong menatap situasi disekitarnya.

Membutuhkan waktu sebentar untuk Yoona mulai beranjak. Yoona turun dari mobil, dan langsung berhambur dengan alam. Seraya menghirup udara dalam – dalam, Yoona setengah berlari menggapai bibir pantai, sementara Donghae mengikutinya dari belakang. Hari menjelang sore, Yoona merasakan sinar matahari menerpa wajahnya, hangat namun rasanya menyejukkan ketika sinar itu berpadu dengan hembusan angin pantai yang berbaur dengan suara ombak.

Yoona merentangkan  kedua tangannya, tiba – tiba Donghae muncul dan menagkup tubuhnya dari belakang. Lelaki itu berbisik, “Bukankah kau ingin bermain – main?”

Yoona mengangkat alis, “Apa?”

Donghae menyeret Yoona mendekati ombak di bibir pantai. Yoona berontak, namun perempuan itu kegirangan saat ombak mulai menyentuh pergelangan kakinya.

“Lepaas ! aku tidak mau basah Oppa !” Pekik Yoona kepada Donghae yang berusaha menyeret Yoona ketempat yang lebih dalam. Untunglah sekarang Yoona memakai celana selutut. Sementara Donghae karena sudah tahu akan ke pantai, lelaki hanya memakai kaos dan celana pendek. Kini kedalaman air sudah mencapai betis mereka.

Donghae berhenti menyeret Yoona, Ia beralih melingkarkan tangannya diseputar pinggang Yoona, dan menarik perempuan itu kedalam dekapannya, “Tenanglah hanya kakimu yang basah.”

Entah  kenapa Yoona merinding mendengar bisikan Donghae ditengah lolongan ombak. Yoona membalik tubuhnya dengan mata menyipit, Ia mengalungkan tangannya diseputar leher Donghae, “Kau tidak berniat melakukan apa – apa disini, kan?”

“Melakukan apa?” Donghae tergelak menanggapi kecurigaan Yoona.

“Seperti… “ Yoona semakin menempelkan tubuhnya hingga tubuh Donghae terdorong kebelakang , “Seperti ini…” Yoona menukar napasnya dengan udara yang dihembuskan Donghae, yang dipertegas lelaki itu dengan penyatuan kening mereka. Donghae memiringkan wajahnya hendak menyentuh Yoona, benda ranum yang sedikit terbuka itu semakin menariknya.

Yoona menyambut gerakan Donghae yang tinggal sesenti lagi menyentuh bibirnya, tapi bukan seperti itu, Yoona mengecup juga  sedikit menjilati sudut  bibir Donghae.  Yoona akhirnya kabur setelah meninju perut Donghae hingga lelaki itu terdorong menjauh. Sementara Donghae mengigit bibir bawahnya dan berdecak menatap kepergian Yoona yang tengah berjalan mundur seraya melambai – lambaikan tangannya. Donghae berkacak pinggang  seraya mengamati pemandangan di sekitarnya putus asa. Ia menghela napas. Seluruh ekspektasi didalam kepalanya buyar.

Donghae menghampiri Yoona yang tengah sibuk dengan dunianya. Menggambar diatas pasir. Senyum dibibirnnya tergores mengamati bagaimana bibir Yoona mengerucut ketika mulai berimajinasi. Tidak tahan melihatnya, Donghae mencapit bibir Yoona, “Apa ada yang lebih menyebalkan dari bibir seperti ini?”

Yoona menapis tangan Donghae. Tatapan Yoona menajam lalu membuat bibirnya  semakin mengerucut.

Donghae berdecak membalas ketajaman mata Yoona yang tertuju padanya, “Ah bagaimana ini ? Bibirmu  bahkan lebih jelek dari  Byeol.”

Yoona tertawa tiba – tiba. Ia menerjang Donghae hendak mencekik lelaki itu. Bagaimana tidak, Donghae malah membanding – bandingkannya dengan Byeol sampai – sampai Yoona kegelian membayangkan wajahnya sendiri. Memang Byeol punya arti yang bagus, bintang. Tapi  Byeol yang dimaksud disini  adalah bebek peliharaan Yoona dulu. Byeol punya paruh yang lebar juga kumis tipis yang menyembul. Byeol sendiri adalah unggas teraneh yang pernah dipelihara Yoona. Tapi bebek itu sudah disembelih karena mematok wajah Krystal hingga anak itu menangis jejeritan.

Donghae mati – matian menghindari Yoona yang berusaha menggappai – gapai wajahnya. Bukan apa – apa tapi tangan Yoona kini dipenuhi pasir, Donghae membaca dari seringaian diwajah  Yoona. Perempuan itu berniat melumuri wajah Donghae dengan sisa pasir yang menempel disela jemarinya.

Yoona tidak mampu menggapai Donghae. Tangannya yang penuh pasir hanya mengenai dada juga beberapa  jemari  Yoona tercetak dipunggung pakaiannya.

Sementara Yoona tertawa – tawa melihat reaksi Donghae yang berhasil ia takut – takuti. Yoona menjulurkan lidahnya.

Donghae menatap penuh dendam. Ia berlari menghampiri Yoona, lalu menangkapnya dalam sekejap mata disaat perempuan itu tengah asyik tertawa.  Yoona terperanjat oleh Donghae yang tiba  – tiba muncul didepannya. Yoona mencoba kabur tapi sudah terlambat. Donghae terlanjur menguncinya, bahkan Yoona tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat Donghae menggendongnya ala bridal.

Yoona melingkarkan tangannya diseputar leher Donghae selagi berteriak ketakutan karena hawatir akan terjatuh. Donghae berlari menerjang ombak. Lelaki itu mengayun – ayunkan tubuh Yoona seolah akan melemparnya bersama ombak yang mulai pasang. Yoona memukul – mukul bahu Donghae, meminta lelaki itu menurunkannya sekarang juga.

Puas dengan balas dendamnya, Donghae menurunkan tubuh Yoona. Sementara Yoona berjegit ketika merasakan ujung kakinya menyentuh pasir yang terendam air.

“Apa yang kau lakukan? Aku kan sudah bilang, aku tidak mau basah – basahan.” Yoona kembali memukul bahu Donghae bertubi – tubi. Donghae langsung menghentikannya dengan sebuah pelukan.

“Makanya jangan berbuat ulah.” Peringat Donghae berbisik diteliinga Yoona.

Yoona menatapnya sengit, “Menurutmu siapa yang duluan melakukannya, hah?” tantang Yoona. Kalau otak Donghae masih berfungsi, lelaki itu pasti ingat dengan unggas bernama Byeol yang Ia sebut – sebut tadi.

Donghae mengorek telinganya. Percuma mendengar Yoona mengoceh, Donghae percaya tidak akan menang melawan mulut perempuan.

“Baiklah jadi sekarang kau mau apa? Mau berenang bersama? Baiklah sekarang buka bajumu—“

“Yak !” Yoona menghentikan  kalimat asal Donghae. Ia menatap sebal. Yoona menoleh kearah batu besar dipinggir pantai, dan berpikir lebih baik dirinya duduk disana. Lalu Yoona memutuskan pergi dari hadapan Donghae. Yoona melangkah dengan hati – hati, takut kalau nanti terpeleset.  Belum tiga langkah berlalu, Donghae sudah muncul dihadapannya.  Yoona menghembuskan napas kasar, kali apa lagi?

“Naiklah nanti kau basah.” Donghae berlutut memunggungi Yoona. Lelaki itu menoleh dengan isyarat agar Yoona naik kepunggungnya, “Aku akan membawamu jalan – jalan.”

Yoona menatap ragu – ragu.

“Aku tidak akan menjatuhkanmu kedalam air, Janji.” Ucap Donghae. Yoona tampak berpikir keras. Tidak lama Ia mendekati punggung Donghae dan menaikinya.

Donghae bangkit menggendong Yoona. Dari belakang Yoona menelusupkan kepalanya dileher Donghae dan berbisik, “Baiklah, tapi Kalau kau melakukannya aku tidak segan – segan menendangmu.”

“Lakukan saja, membunuh seekor semut pun kau tidak berani.” Donghae mengulum kalimatnya.

“Apa katamu?”

Donghae bergeleng, “Aniya hanya saja kau cantik.”

Yoona memutar bola mata. Jelas – jelas bukan itu yang dikatakannya.

Mereka berlalu menyusuri pantai. Yoona mendengar Donghae sedang  berbicara sesuatu. Yoona menyimak, lama kelamaan matanya sayup – sayup. Ia beralih menyandarkan kepalanya diatas bahu Donghae.

“Walaupun ada batu karang yang menghalagi, ombak akan selalu berdesir ketepi pantai.  Sama halnya dengan Kehidupan ini yang  tidak selamanya mulus akan tetapi punya satu tujuan utama yaitu menjadi bahagia…”

“Ada banyak hal yang bisa kau lihat disini. Terutama langit yang selalu mengikutimu, meskipun kau merasa tidak membutuhkannya dia akan selalu ada mendampingimu kemana pun…. Disini kau akan menjadi dekat dengan matahari yang setia menerangimu sepanjang hari, dan selalu ada dibelakangmu ketika kau tengah dirundung kegelapan, meski pun kau tidak melihatnya saat itu.”

 Angin pantai berkeliaran seperti menerbangkannya. Senyum Yoona tersungging menatap Donghae  yang masih serius dengan pembicaraannya. Yoona mengunci pelukannya dileher Donghae, menghirup dengan benar aroma tubuh lelaki itu. Yoona tidak menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan Donghae untuk membawanya berjalan ditepi pantai. Namun berkat Donghae Yoona bisa merasakan  rasanya berdiri ditengah ombak tanpa harus menjadi basah, atau Yoona tidak harus merasa kedinginan karena disini ada kehangatan lain yang menemaninya.

……………

Warna Langit berganti menjadi kemuning dan matahari  berangsur – angsur lenyap. Senja telah berlalu  meninggalkan kegelapan yang membentang diatas bumi. Usai menikmati bekal makan malam,  Yoona menikmati kegelapan langit diatas sana bersama Donghae disampingnya. Beralaskan tikar yang diboyongnya dari rumah, Yoona mengajak Donghae berbaring menikmati pemandangan langit malam hari. Meski pun kini posisi mereka berada dibalik batu besar, Yoona masih bisa menikmati pemandangan pantai dari tempatnya sekarang.

Yoona menarik selimut yang membungkus tubuhnya juga Donghae hingga mencapai sepertiga wajah. Kedua matanya terpejam mengikuti nyanyian ombak yang bedesir tanpa henti. Kesunyian malam itu membawa hembusan angin menyatu dengan suara ombak hingga membentuk kesatuan yang merdu. Donghae memperhatikan Yoona yang sibuk dengan pejaman matanya. Lengkungan senyum tercipta dari bibirnya.

Donghae memperbaiki letak jaket yang dipakainya untuk alas kepala lalu mengubah posisi tidurnya menyamping kearah Yoona.

“Dimana kau sembunyikan tanganmu, hmm?”

“Taraaa.” Yoona memunculkan kesepuluh jemarinya yang baru saja keluar dari timbunan selimut. Setelah menunjukkannya, Yoona menggoyang – goyangkan kesepuluh benda lentik itu  didepan wajah Donghae.

Memasang telapak tangannya diudara, Jemari Yoona tampak berbaur dengan bintang – bintang  diangkasa. Yoona memutar – mutar telunjuknya kearah salah satu bintang berwarna kebiruan, Bibirnya mengukir senyum dengan mata berbinar – binar  membayangkan, “Oppa.”

“Hmm.”

Yoona memiringkan posisi tidurnya seperti  yang dilakukan Donghae, “Kau mau tahu apa mimpiku selama ini?”

“Apa?” alis Donghae terangkat, “Katakanlah.”

Segores senyum tipis lahir dari bibir Yoona. Ia menerawang segala yang terpendam hingga dunia serasa miliknya. Yoona tenggelam oleh angan – angannya sendiri.

Hening berjalan. Yoona mengamati dalam bisu tatapan mata Donghae yang menyimpan sejuta kekuatan yang menjadi alasannya untuk berpijak sampai hari ini, didalam sana Yoona menyaksikan segala pengorbanan Donghae untuk membahagiakannya… Donghae adalah yang paling berharga. Yoona tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya, lagi.

Yoona meletakkan tangan kanannya dipermukaan wajah Donghae, menatap lelaki itu dan membuat tatapan mereka saling berbicara.

“Aku ingin—“

“Aku ingin tinggal bersamamu ditempat yang jauh dari keramaian.”

“Aku ingin membebaskan diriku dari kenangan – kenangan itu.”

 “Aku ingin tinggal disuatu tempat dan hanya kaulah satu – satunya orang yang kukenal, aku ingin memulai semuanya dari awal tanpa perlu hawatir mereka akan kembali muncul dihadapanku.”

“—dan membuatku gila seperti kemarin.” Yoona berhenti. Sejenak Ia merenungkan apa yang terjadi kepada dirinya sampai detik ini. Dan penantian wajah Donghae membiarkan Yoona mengeja …

 “Aku ingin  pergi ketempat jauh… tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang – orang itu.”

“Mengubur semuanya disini, meninggalkan segala yang membuatku teringat akan masa lalu…”

“Aku ingin disampingmu, selamanya…”

Donghae menggapai punggung tangan Yoona disisi wajahnya. Lelaki itu terdiam membiarkan Yoona dengan segala mimpi – mimpinya. Donghae tidak menanggapi, tidak pula membantah.

“Aku mengerti.” Donghae membungkus jemari Yoona dengan telapak tangannya, menggenggamnya erat, “Kau sudah terlalu banyak tersakiti Yoona.”

Yoona terhanyak menatapnya tanpa berkedip.

“Kejahatan yang mereka lakukan—“ Donghae terdiam, tiba – tiba perih mengusiknya.

“Mendengarkanmu sendiri jauh lebih menyakitkan, berkali – kali lipat dibanding aku harus  mendengar cerita dari orang lain tentangmu. Saat kau dibawah pengawasan Mr Kim, aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka menyakitimu. Aku nyaris kehilangan kontrol, emosiku meluap – luap didalam hati,  aku  marah kepada diriku sendiri,  aku juga ingin menghajar mereka semua tapi tidak ada yang bisa kuperbuat.” Donghae tersenyum miris membayangkan lagi bagaimana kejadian itu mengiris – iris ulu hatinya.

“Sepanjang perjalanan pulang aku merenungkannya, bahwa semua sudah terjadi dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah masa lalu bahkan untuk melupakan sekali pun,  aku sadar yang harus kulakukan sekarang adalah menerima dan memperbaiki semua.”

Menggiring Yoona menuju dekapannya, Donghae bergeser dan memeluk perempuan itu, menghirup puncak kepalanya,  “Aku harap kau juga berpikir begitu.”

Yoona membalas pelukan Donghae, melingkarkan tangannya diseputar pinggang lelaki itu. Sementara malam semakin dingin. Donghae menarik pinggang Yoona lebih dekat kepadanya.

“Yoona.” Panggilnya.

Yoona mendongak dengan mata tergenang, lantas Donghae mengecup kening Yoona dan bergumam, “Dimana pun kau berada, aku akan selalu disampingmu.”

Dekapan itu kian terkunci rapat. Hembusan napas Donghae yang berterbangan dikepalanya membuat Yoona terbang melayang. Yoona menyukai menghirup udara yang dihembuskan Donghae. Wangi tubuh lelaki itu yang bercampur dengan aroma pasir menciptakan sesuatu yang menyenangkan dalam penciumannya. Yoona mendongak sekali lagi, menemukan bahwa Donghae kini  berpindah menuju alam mimpinya. Segores senyum tersungging dari bibir Yoona. Acara jalan – jalan sebentar yang mereka sepakati sebelumnya, detik ini berubah menjadi acara jalan – jalan sampai pagi.

Sayup –sayup memandangi wajah Donghae, Yoona menyusul lelaki itu menuju alam mimpinya.  Esok matahari akan bersinar lagi, malam ini mereka menginap di pinggir pantai.

……………

Donghae membuka ranselnya dan memasukkan seluruh barang – barangnya yang berhamburan diatas meja. Ia mendongak kearah jam dinding. Seharusnya Donghae sudah sampai dikantornya tapi kenyataannya kini Ia bahkan belum selesai membereskan kertas – kertas yang menumpuk dan berterbangan. Tadi malam Donghae berdagang sampai pagi karena harus menyelesaikan lagu – lagunya. Dan pagi ini Ia benar – benar kesiangan.

Minggu pagi setelah Ia mendapati dirinya dan Yoona terbangun di pinggir pantai, Donghae bergegas pulang setelahnya mengantar Yoona check up. Donghae pikir setelah mengantar Yoona Ia akan sampai ke rumah dengan tenang tapi rupanya  ditengah perjalanan Yoona tidak sengaja melihat game di pinggir jalan. Yoona merengek lagi dan meminta agar mereka singgah ‘sebentar’ disana, lagi – lagi bukan hanya sebentar. Yoona tidak juga mau berhenti memukul habis tikus – tikus sialan itu saat memainkan permainan hit and run. Tidak sampai disitu, Yoona juga  mengiginkan seekor  boneka beruang berwarna pink yang terperangkap didalam kotak kaca.  Yoona merengek agar Donghae berjuang memainkan permainan capitan boneka untuk menyelamatkan sang beruang mini.

“Aku bisa membelikanmu yang lebih besar.” Bujuk Donghae. Yoona bergeleng menolaknya mentah – mentah. Tiba – tiba Yoona mengeluarkan air mata membuat Donghae tidak bisa berkutik.

Donghae menghela napas terpaksa melakukannya, berkali – kali  Ia gagal mencapit boneka beruang itu, berkali – kali pula Yoona mendesah kecewa membuat Donghae semakin bernapsu untuk menjenggut beruang sialan itu.

Sepanjang hidupnya Donghae belum pernah sekali pun memenangkan  permainan capitan boneka, tapi entah mantra apa yang digumamkan Yoona, Donghae akhirnya bisa mengeluarkan boneka beruang itu usai perjuangan panjangnya melawan kegagalan. Kemenangan Donghae membuat Yoona senang bukan main. Ia kegirangan seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan kesayangannya, bahkan Yoona  sampai memeluk Donghae hingga lelaki itu nyaris kehabisan napas.

Pasokan energi yang tersisa kian menipis. Beruntung setelahnya Yoona setuju untuk tidak meminta hal aneh – aneh lagi. Donghae menyambutnya dengan kelegaan luar biasa sebelum akhirnya menyadari bahwa malam telah menjemput mereka.

Urusan dengan Yoona akhirnya  berakhir detik itu namun tidak dengan pekerjaannya. Pulang ke rumah Donghae harus mengedit beberapa lirik dan lagu yang terbengkalai. Satu – satunya pilihan untuk menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan itu adalah bergadang sampai pagi. Donghae berencana mengambil waktu tidur satu jam, tapi malah membengkak menjadi dua jam.

“Ayolah makan dulu.” Pinta Yoona membujuk Donghae.  Meskipun mendapat penolakan Yoona tidak juga menyerah menyodorkan telur gulung kebibir Donghae.

“Kau marah padaku ya karena tidak membangunkanmu?” Intonasi Yoona berubah kecewa. Donghae berhenti sejenak dari kesibukannya. Ia berpaling kearah Yoona yang berdiri menekuk wajah, “Mianhae Oppa, aku tidak tega membangunkanmu karena kau kelihatan lelah sekali.”

Donghae menangkup wajah Yoona agar menatapnya. Pancaran air yang menggenangi sudah bertebaran dipermukaan mata Yoona.

“Baiklah – baiklah aku makan, Aaaa…”

Yoona terkejut Karena tiba – tiba saja Donghae membuka mulutnya sekaligus terharu karena usahanya tidak sia – sia. Yoona tersenyum senang, lantas Ia mulai menyuapi Donghae dengan telur gulung  ditangannya lagi – dan  lagi hingga mulut Donghae penuh dan sulit mengunyah.

Menyambar segelas air putih yang disodorkan Yoona, Donghae menenggaknya sampai habis, lalu memberikan gelas kosong itu lagi kepada Yoona yang mengekorinya dengan pancaran kehawatiran  menyaksikan tingkah laku Donghae yang semakin panik bukan main.

“Aku pergi dulu.” Pamitnya menatap Yoona gelisah.

“Kau yakin tidak ada yang tertinggal—“

Sesuatu berguncang  didalam dadanya. Yoona menahan tubuh Donghae yang hendak memangkas jarak wajah mereka. Bayangan – bayangan itu kembali menusuknya dari belakang. Hening melanda, Sepasang mata Yoona memejam rapat  hendak menenangkan diri.

“Yoona, gwencahan—” Donghae terhenyak ketika tiba – tiba Yoona menghadiahi kecupan singkat dibibirnya.

“Nan gwenchana.” Jawab Yoona  meninggalkan Donghae lalu berjalan kearah meja, menancapkan  gelas kosong yang digenggamnya.

Donghae berdiri disamping Yoona. Sebelah tangan Donghae terangkat hendak meraih wajah Yoona menuju dekapannya, namun tangannya sebatas menggepal diudara, bimbang. Pada akhirnya niat itu batal. Donghae menarik tangannya kembali.

“Oppa aku… aku merasa kejadian buruk itu selalu datang menghantuiku setiap kali aku ingin melakukannya denganmu. Aku memaksa tubuhku untuk menerimamu, menghalau kejadian – kejadian itu agar tidak membayangi kepalaku, terkadang aku berhasil melakukannya, terkadang aku gagal.”  Yoona menunduk sesal. Sebelah tangannya bertumpu pada meja, tangan satunya belum lepas dari badan gelas.

“Lakukan saja pelan – pelan.”

Yoona menoleh mendengar jawaban Donghae.

“Tidak selamanya kau gagal kan?” Ia tersenyum namun ketika diperhatikan lagi, lengkungan bibir Donghae hanya sebatas garis yang lebih condong kekiri.

“Mau mencobanya lagi denganku?”

“A-apa?”

Donghae melangkah mendekatinya. Mengelus puncak kepala Yoona.  Seketika tubuh Yoona menegak dengan sendirinya. Ia tidak punya kendali atas dirinya, kini tatapan Donghae berhasil menghujam pergerakannya.

“Letakkan tanganmu disini.” Pinta Donghae meraih tangan Yoona, menghirupnya dan menggenggam rapat seolah tidak ingin dilepasnya.  Donghae mencium punggung tangan Yoona, lantas menuntun satu persatu jemari Yoona mengukir jejak diwajahnya.

Yoona terdiam memejamkan matanya. Ia terlampau menggali permukaan  wajah Donghae. Yoona bisa merasakannya, napas Donghae yang berhembus juga wangi tubuh lelaki itu. Yoona ingin mengenang lebih dari itu, Ia membiarkan jemarinya menyusuri  sisi wajah Donghae, mengukir alis, mengusap mata, membelai  hidung dan  meraba  bibir merah lelaki itu,  hangat dan lembut. Yoona menyingkirkan jemarinya menangkup kedua sisi wajah Donghae, Ia memangkas jarak diantara mereka menyisahkan sesenti untuk bernapas. Yoona menghirup dalam – dalam  udara yang baru saja berhembus dari rongga Lelaki itu.

Yoona meresapi ketenangan dari setiap hembusan napas Donghae.  Guncangan hebat  didalam jantungnya  pudar. Yoona  tenang karena Donghae disampingnya. Yoona bahagia menyadari bahwa Donghae disini menemaninya, maka mulai detik ini Yoona hanya akan menyimpan ingatannya mengenai Donghae, Yoona hanya akan mengenangnya, setiap bagian terkecil sekali pun  dari sentuhan yang sengaja ditaburkan Donghae untuknya, tanpa pengusik.

Kening mereka saling bertumbukan. Donghae menyesap bibir Yoona dengan hati – hati, namun semakin lama pangutan itu semakin meluap – luap. Donghae mencumbu Yoona dengan segala gairah terpendam atas perasaan yang tidak mampu ditahannya sejak tadi. Lelaki  itu semakin menarik tengkuk Yoona menjadikan tubuh mereka benar – benar menempel satu sama lain.

Yoona merasakan tubuhnya lemas kehabisan napas, namun begitu sensasi hangat yang merasuk kedalam aliran darahnya membangkitkan energi tersendiri. Yoona semakin menempelkan tubuhnya lebih intim, Ia sungguh menyukai bibir Donghae yang manis. Yoona mengagumi cara lelaki itu meluapkan perasaanya. Ditengah gairah yang meledak – ledak Yoona  pasrah menyambut segala perlakuan Donghae. Jemarinya bergerak memijat rahang lelaki itu yang mengeras.

~Clekk~

Sekali hempas, Yoona mendorong bahu Donghae hingga mereka saling menjauh. Keduanya sibuk mengatur napas, sebisa mungkin tidak menghadap kearah pintu. Donghae menggaruk kepalanya salah tingkah, sama halnya dengan Yoona yang tidak tahu harus berbuat apa. Yoona hanya menunduk seraya menyeka bibirnya yang basah.

Sementara diambang pintu Nyonya Lee belum juga berkedip saking terkejutnya, Ia tidak tahu Donghae ada didalam bersama Yoona, “Ah Donghae-ya, Eomma pikir kau sudah berangkat.”

Donghae berbaik menatap Eommanya, “Itu… sebentar lagi Eomma.”

Nyonya Lee mengangguk mengerti, “Oh, kalau begitu cepatlah ini sudah jam berapa.” Ujarnya lalu menutup pintu itu kembali.

Donghae menghembuskan napas, berusaha memperbaiki kecanggungannya didepan Yoona karena sesuatu menghalangi disaat –saat  penting mereka. Tapi kemudian Donghae tidak sengaja menatap jam dinding.

“Aihh Jinja Eomma benar, aku sudah telambat.”Usai meruntuki dirinya sendiri wajah Donghae berubah panik. Donghae menyambar ranselnya yang berada diatas meja, kemudian berlari kerah pintu. Baru saja sampai diambangnya, Donghae berbalik badan, seperti dugaannya Yoona masih berdiri mematung ditempat yang sama.

Donghae berdehem memaksa Yoona berhenti melamun. Perempuan itu menatapnya.

“Mau sampai kapan berdiri disitu, Nona manis?”

Puing – puing  dikepala Yoona belum sepenuhnya terkumpul. Yoona tampak gelagapan menyadari bahwa Donghae sudah berdiri diambang pintu. Yoona buru – buru menyusulnya.

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan Eomma pasti mengerti,”

Yoona mendelik ketika Donghae membisikkan kalimat itu ditelinganya. Tatapan Yoona berubah galak, kepalan tangannya meninju bahu Donghae bertubi – tubi.

“Apa yang sedang kau pikirkan, huh?!” tantang Yoona.

Donghae menghalau serangan Yoona, membekap kedua tangan perempuan itu hingga  tidak bisa lagi menyerangnya.

“Aku benar kan?” Bibir Donghae membentuk seringaian tajam membuat Yoona sulit berkata – kata.

Yoona menatap sebal, didalam hati Ia sedang menahan malu karena Donghae terus saja menggodanya.

“Jadi?” Yoona melipat kedua tangannya.

“Jadi Lebih baik sekarang antarkan aku kedepan.” Donghae menggeser pundak Yoona dan merangkulnya sampai kedepan pintu rumah. Sesampai mereka di teras, Donghae mencium kening Yoona, sedikit menghirupnya bersama udara hangat disekitar mereka. Lima detik berlalu Donghae melepaskan kecupannya.

Sebelum benar – benar pergi, Donghae berbisik, “Kita lanjutkan nanti malam.”

Yoona membuang wajahnya kesisi kanan. Donghae tidak membiarkannya, Ia menangkup kedua sisi  Yoona agar kembali menatapnya.

“Lihatlah wajahmu memerah.”

Yoona mendorong tubuh Donghae menjauh. Bibir Yoona nyaris melengkung sewaktu menatap ekspresi lelaki itu, namun sebisa mungkin ditahannya.

Yoona berdehem singkat, “Kalau tidak salah ingat, Tuan Lee Donghae -ssi sudah telat setengah jam.”

“Kau mengusirku?”

Yoona mengangguk dengan senang hati. Mengartikan anggukan Yoona,  Donghae memasang wajah kecewa, “Kalau begitu berikan aku sekali lagi.” Ujarnya.

“Apa?” Yoona mengernyit.

Donghae menyodorkan wajahnya. Yoona mencibir, sekarang ini kenapa jadi dia yang bermanja – manja?

Akhirnya Yoona menuruti permintaan Donghae. Yoona mendaratkan satu kecupannya diarea pipi. Donghae belum juga berhenti, Ia menunjuk lagi sebelah pipinya. Yoona menyanggupi, lantas menggali kecupannya lebih lama. Pun sebelum diminta,  Yoona berpindah  mengecup bibir Donghae, menyesap lalu membasuh dengan lidahnya agar lelaki itu puas.

“Setelah ini apa lagi?” selidik Yoona usai berada di jarak pandang normal.

Berpikir menimbang – nimbang sesuatu, Donghae berkata dengan santainya, “Baiklah sudah cukup, sebelum Eomma menangkap basah kita lagi.”

“Yak !” Yoona baru saja akan mengomel, namun Donghae lebih dulu membungkamnya dengan satu kecupan dikening membuat Yoona terdiam.

Donghae mengusap wajah Yoona dengan ibu jarinya, lalu tersenyum, “Entah kenapa hari ini aku sangat merindukanmu, Yoong.”

Tiba – tiba saja Donghae memasang tampang seolah Ia adalah lelaki misterius yang sulit ditebak,  “Kau harus menungguku sampai aku pulang, ara?”  Donghae menyodorkan jari kelingkingnya didepan wajah Yoona.

Yoona tergelak, Ia menanggapi kelingking Donghae dengan tautan. Setelahnya Donghae langsung mengacak rambut Yoona.

Donghae mundur selangkah demi selangkah, melambaikan tangannya kearah Yoona. Sementara Yoona membalas laimbaian tangan itu dengan kelima jemarinya yang bergerak naik turun.

Hingga punggung Donghae benar – benar menghilang, Yoona tersenyum kecut,  “Aku juga Oppa, aku sangat  – sangat merindukanmu bahkan  sampai detik ini.  kalau saja bisa aku akan menahanmu lebih lama lagi, disampingku.”

……………..

“Kira – kira lima belas menit lagi  aku sampai. Nde.”  Yoona menutup panggilan teleponnya. Hari ini Yuri mengajak bertemu. Yoona mengingat terakhir kali mereka bertemu adalah saat dirinya berada di rumah sakit selebihnya tidak pernah. Yoona mendesah melirik jam tangannya. Beberapa jam lalu seperti dugaan Yoona, Donghae melupakan sesuatu karena pergi dengan buru – buru ditambah Donghae sempat bermain – main membuat lelaki itu menjadi tidak fokus dengan barang – barangnya.  Sebuah kotak berisi kepingan cd yang tersimpan didalam laci. Benda itulah yang menjadi alasan sehingga Yoona duduk di area tunggu Lobby kantor Donghae, menunggu lelaki itu untuk turun kemari tapi sepuluh menit lamanya  Yoona menunggu  disana tapi tanda – tanda Donghae menghampirinya belum juga  nampak.

Yoona mendengus, seharusnya Ia membiarkan Donghae mengambil benda yang tertinggal itu sendiri di rumahnya. Yoona mewarkan diri mengantarkan ini, selain karena setelah ini Yoona sekalian menemui Yuri… Yoona juga kasihan jika harus melihat Donghae bolak – balik rumah dan kantornya. Yoona pun menawarkan diri untuk mengantarkannya, tapi kalau satu menit lagi Donghae tidak datang, Yoona akan menitipkan benda ini ke petugas keamanan atau  meninggalkannya disini. Bagaimana pun Yoona masih punya janji dengan Yuri.

“Lama menunggu?”

Tatapan Yoona berpaling dari layar ponsel yang menyala menuju seseorang yang berdiri dihadapannya. Orang itu adalah Donghae.

“Menurutmu?” Yoona sengaja memasang tampang malas agar Donghae mengerti bahwa Ia benar – benar lelah menunggu.

Donghae mendaratkan tubuhnya disamping Yoona. Menatap Yoona dengan senyum.

“Apa?” desak Yoona yang sedikit terganggu dengan senyuman Donghae.

“Ei jangan marah – marah terus, kau tidak takut aku melirik wanita lain…”

Yoona mendelik. Lantas Donghae merangkul pundak Yoona, sebelah tangannya lagi melingkar dipinggang, “Saat berangkat kesini aku bertemu Hyorin di tengah jalan, aku sempat mengobrol – ngobrol dengannya dan ternyata setelah kulihat – lihat lagi Hyorin cantik juga, kau pernah bilang masakannya enak bukan?”

Memundurkan wajahnya dan menatap Donghae dari ujung kaki sampai ujung rambut, Yoona malah terbahak. Yoona tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Donghae bertemu Hyorin di jalan. Yoona yakin cerita Donghae hanyalah fiktif. Kalau pun terjadi, Donghae pasti akan menghindarinya. Bahkan duduk  didekat Hyorin Donghae sudah keringat dingin apalagi kalau mengobrol.

“Jadi Hyorin adalah sainganku sekarang.” Yoona mengangguk – angguk selagi menikmati sisa tawanya.

“Kau tidak cemburu ya? Padahal tadinya aku berharap kau akan cemburu.”

Yoona mencapit pipi Donghae, lantas menyingkirkan wajah kekanak – kekanak  itu dari pandangannya. Tubuh Donghae terdorong, sebisa mungkin Ia berusaha agar tangannya tetap melingkar dipinggang Yoona sehingga  posisinya tidak bergeser.

“Jadi sekarang—“ Yoona menangkup wajah Donghae,  “Kembali bekerja sebelum aku memanggil Hyorin kesini.” Ucap Yoona  lantas meraih kotak cd disampingnya dan menyerahkan benda itu kepangkuan Donghae, “Ini ambillah.”

Donghae terkekeh mendengar ocehan Yoona. Beberapa saat kemudian tangan  Donghae terangkat membelai surai hitam dihadapannya, “Gomawo.” Ucap Donghae dengan senyum yang tersungging bersama lengkungan dimatanya. Sementara Yoona membalas senyum itu disertai gelak tawa.

“Sudah sana !” usir Yoona mengibas – ibaskan tangannya. Hidung Donghae mengernyit. Ia sedikit enggan mengakhiri pertemuannya dengan Yoona. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang ini waktulah yang mendesaknya.

“Baiklah kau benar.” Simpul Donghae. Sebelum beranjak, lelaki itu  mengacak rambut Yoona seperti biasa, “Sampai ketemu di rumah.”

Dari kejauhan Yoona membalas lambaian Donghae. Yoona ingat pagi ini Ia melakukannya ketika mengantar Donghae sampai pintu, sekarang Ia harus mengulangnya lagi. Yoona seolah tidak pernah bosan melakukan hal itu karena Ia selalu yakin Donghae akan kembali kepadanya.

Tapi sekarang… ada yang berbeda, sesuatu yang membuat jantung Yoona berdenyut lebih memompa dari sebelumnya. Pandangan Yoona menyusuri sekitar. Tidak lama Yoona bergeleng ketika tidak menemukan apa pun. Sekilas Yoona menyaksikan bagaimana punggung Donghae termakan oleh pintu lift yang lekas bergeser. Mengingat lagi bagaimana sosok itu menghilang tatapan Yoona berubah sendu.

Mendadak Yoona melempar pandangannya kesatu arah merasa ada sesuatu tapi tidak ada, hanya  beberapa orang yang berjalan mondar – mandir, tidak ada yang salah disini.

Yoona buru – buru keluar dari gedung kantor Donghae.  Ia berusaha menenangkan dirinya. Langkah Yoona serasa limbung.   Yoona memegangi kepalanya, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan – lahan.

Drttt… Yoona merogoh benda persegi dari dalam tas selempangnya yang menggantung dibahu. Ia menatap layar, berusaha menyatukan fokus pandangannya yang mulai berputar – putar. Yoona melebarkan matanya membaca nama sang penelpon. Dan rupanya sang penelpon itu adalah Yuri, tiba – tiba Yoona ingat kalau Ia punya janji.

“Yoboseyo.”

“Yoona aku sudah sampai di kafe.” Ujar Yuri dari seberang tanpa basa – basi.

“Oh ya, aku masih dijalan, tunggulah sebentar lagi, tak apa kan?” Yoona mendengar suaranya sendiri seolah tidak bertenaga, entahlah dengan Yuri.

“Yoona kau sakit? Ada apa dengan suaramu?”

Ah, Yuri menyadarinya, pikir Yoona.

“Tidak apa – apa Yul, aku baik – baik saj—“

Ponsel dalam genggaman Yoona hampir terlepas kalau saja Yuri tidak memanggil  – manggilnya dari seberang sana.

“Y-yuri tunggu aku, nanti kutelepon lagi ok.” Tanpa menunggu persetujuan Yuri,  Yoona mematikan sambungan teleponnya begitu saja.

Yoona menoleh kesana kemari, Ia memutar pandangannya tidak tentu arah.  Seorang itu… Orang itu tidak mungkin menghilang secepat ini. Yoona yakin orang itu baru saja berpapasan dengannya, Yoona bahkan menghafal ciri – cirinya. Lelaki berjaket hitam, Ia memakai celana dan topi yang kumuh. Yoona tidak sengaja melihat tanda dilehernya. Tanda itu, mengingat tanda itu membuat bumi seolah terguncang. Yoona bisa menjamin matanya berfungsi dengan normal. Yoona bisa melihat dengan jelas tanda luka baret berbentuk silang dibagian tengkuk lelaki itu, dan berarti…

Yoona menggeleng tidak mau percaya. Tanda baret silang itu adalah lambang dari pengikut setia keluarga Shinjung. Dulu beberapa dari pemabuk yang mengganggunya juga memiliki tanda seperti itu. Lelaki tadi memang bukan salah satu dari mereka tapi Ia memiliki tanda yang serupa.

Rasanya puluhan beton runtuh dari atas. Pandangan Yoona mulai mengabur. Yoona berusaha melangkah sedikit demi sedikit, Ia berusaha membuang segala pikiran buruk yang menyerangnya.

“Akhhh…”Kedua tangan Yoona mencengkram kuat rambut diujung kepala. Sepasang matanya memejam paksa. Tidak… Ia tidak boleh seperti ini.

…………….

Yoona berdiri didekat pintu kaca, Ia mengintip Yuri sedang duduk dimeja belakang kafe, tampak Yuri sedang sibuk memainkan poselnya. Yoona menimbang – nimbang sebelum menemui Yuri. Ia menarik napas dan menghembuskannya berkali – kali. Didalam kepala Yoona, baret silang itu masih bentayangan. Sepanjang perjalanan  menuju kafe Yoona berusaha menepisnya, bagaimana pun Yoona tidak ingin Yuri menyadari sikap anehnya. Yoona sampai berpikir untuk membeli obat penenang di apotek, sialnya Yoona ingat kalau sekarang tubuhnya tidak lagi sama. Yoona hampir lupa kalau kini Ia tengah mengandung sekitar tiga minggu. Jadi Yoona memutuskan untuk membuang obat penenang yang terlanjur dibelinya ketengah jalan. Alhasil sekarang ini Yoona hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk menenangkan diri. Tiba-tiba ia teringat dengan sugesti yang tertanam dikepalanya. Yoona cukup bersyukur ia masih bisa mengingat sugesti yang ditanamkan Mr. Kim kedalam pikirannya. Ia harus menghadapi kenyataan.

“Annyeong…” Yoona mendarat dihadapan Yuri. Yuri tersentak dari layar ponsel, Ia menatap Yoona  yang sudah duduk dihadapannya.

“Kau tidak apa – apa kan ?” Yuri menatap hawatir.

Yoona mengangkat bahu lalu tersenyum, “Seperti yang kau lihat.”

Yuri menghela napas lega, “Syukurlah, oh ya aku sudah memesankamu jus jeruk dengan tingkat keasaman level 10.”

“Kau gila.” Umpat Yoona terbelalak. Yuri hanya tertawa melihat reaksi sahabatnya.

Tidak lama seorang pelayan kafe datang menghapiri mereka dengan nampan ditangannya. Yoona pasrah mengetahui bahwa Yuri memang tidak main – main dengan omongannya.

Usai berterimakasih kepada pelayan itu, Yuri menatap Yoona berseri – seri, “Coba kau cicipi.”

Yoona mengendus – endus minuman kuning yang terpajang diatas meja. Dari aromanya saja, Yoona sudah bisa membayangkan betapa asamnya minuman itu.

“Cepaatlah dicoba.” Yuri semakin tidak sabaran menunggu ekspresi Yoona yang tampak ragu – ragu.

“Tidak buruk.” Komentar Yoona usai mencicipi minumannya. Bahkan Ia menyeruputnya sampai habis.

“Benarkah?” Yuri kagum. Apakah seenak itu?

Lantas Yuri mencoba minumannya sendiri yang persis seperti Yoona, “Hueekkk…” lidah Yuri menjulur, Ia merasa minuman ini terlalu asam hingga tidak bisa melewati tenggorokannya.

Yoona terperangah menyaksikan reaksi Yuri. Menurut Yoona tidak ada yang salah dari jus jeruk level 10 yang dipesan yuri. Entahlah, kenapa Yuri tiba – tiba ingin memuntahkannya lagi.

“Mungkin karena aku sedang mual, minuman ini cocok untukku.” Yoona menduga – duga.

Yuri menyingkirkan minuman kuning itu dengan tidak berselera, “Ya kau benar, efek kehamilan.” Simpulnya bertopang dagu.

“Kau semakin membuatku iri.” Protes Yuri dengan wajah cemberutnya,  “Eummm bagaimana rasanya?”

“Apa?”

Yuri menghembuskan napas kesal karena Yoona seolah pura – pura tidak mengerti, “Ceritakan padaku bagaimana rasanya memiliki seorang pria disampingmu.”

“Apa sih Yul.” Yoona terkekeh memutar matanya.

“Huh tetap tidak mau cerita?” desak Yuri dengan bibir mengerucut. Yuri memperhatikan Yoona dengan picingan matanya. Meski pun Yoona tidak mau bercerita, Yuri bisa mengetahuinya sendiri dari seburat merah yang memenuhi wajah Yoona.

“Ya baiklah mungkin lebih baik kau simpan saja ceritamu. Bisa – bisa wanita single sepertiku tidak bisa tidur mendengarnya.” Yuri mengangkat bahu setelahnya Ia tersenyum. Senyum penuh arti yang membuat Yoona bingung sendiri.

“Oh ya bagaimana dengan kuliahmu?” Yuri memajukan wajahnya ingin tahu.

“Itu… aku berencana mengambil cuti.” Jelas Yoona.

Yuri mengangguk, tentu Ia tahu bagaimana kondisi Yoona sekarang, “Baguslah, itu lebih baik jika kau menyelesaikan masalahmu dulu.”

Yoona tersenyum. Didepan sana Yuri sedang  berbicara panjang lebar. Yoona tidak mendengar apa yang dibicarakannya, Yoona hanya melihat bibir Yuri yang bergerak – gerak tanpa suara. Tentu karena sekarang jiwa Yoona tidak lagi berada didalam tubuhnya. Pikiran Yoona melayang – layang.   Aneh kenapa justru Ia tidak merasakan sesuatu disini, Mungkin lelaki baret silang itu tidak bermaksud mengincarnya. Yoona meraba – raba jantungnya yang tidak lagi berguncang  diluar batas dan serasa mencekiknya tapi kenapa sewaktu dikantor Donghae…

“Yak kenapa murung? Kangen Donghae ya?” Yuri memicingkan mata penuh selidik.  Telunjuknya menuding Yoona.

Yuri mengedip – edipkan  matanya, “ Ayolah mengaku..”

Menyadari perhatian Yuri tertuju kearahnya, Yoona gelagapan. Ia menatap Yuri tidak mengerti.

Yuri menghela napas. Perlahan – lahan Ia mulai sadar kalau Yoona tidak memperhatikannya sejak tadi.

“Yoona bisa kau ulangi—“

“Yuri mianhae aku harus pergi !”

Yuri terperangah, Ia bingung dengan Yoona yang tiba – tiba bangkit dari tempat duduknya. Belum sempat Yuri menanyakan apa yang terjadi, Yoona lebih dulu meninggalkannya dan bergegas keluar kafe.

“Yoona, Yoona..” sahut Yuri hendak mengejar Yoona. Yuri melangkah tergesa – gesa namun ketika langkahnya berada diambang pintu kafe,  sahabatnya itu sudah menghilang entah kemana. Yuri berlari mencari – mencari keberadaan Yoona. Ia menoleh kesana kemari, tapi tidak kunjung menemukan sahabatnya itu. Yuri mengatur napas berusaha berpikir jernih. Mungkin Yoona sedang ada keperluan mendadak, atau sesuatu yang lain… mungkin.

……………….

Punggung Yoona membentur tembok sebuah ruko. Ia tidak kuat berjalan lebih jauh lagi. Yoona mengatur napas. Sejak tadi Ia berusaha meredam pikirannya mengenai orang itu. Beberapa hari ini Yoona selalu merasa dihantui oleh sosok misterius, dan perasaan itu datang dan pergi dengan tiba – tiba. Kecemasan yang paling parah adalah ketika di toko perhiasan dan kantor Donghae. Yoona merasa ada yang mengamatinya dari jauh. Yoona tidak tahu siapa… Lalu apa mungkin lelaki berbaret silang itu? Tapi apa maksudnya…

Yoona tertegun. Yoona teringat lagi kejadian saat lelaki berbaret silang itu melewatinya begitu saja, bahkan tanpa meliriknya sedikit pun. Kalau saja lelaki itu mengincarnya berarti Yoona bisa tertangkap saat itu juga, tapi kenyataannya sekarang,  Yoona yakin lelaki itu tidak lagi berada disekitarnya.  Lalu siapa? Siapa yang mendalangi firasat buruknya selama ini?

Yoona menimbang – nimbang gelisah. Yoona berusaha menggali peristiwa saat Ia merasa sedang diawasi. Yoona selalu berada ditengah  kondisi yang sama, yaitu berdua dengan Donghae tepatnya di toko perhiasan juga di kantor itu.  Yoona membandingkan dengan kondisinya sekarang. Ia merasa baik – baik saja saat sendirian atau lebih tepatnya saat tidak bersama Donghae, dan itu berarti…

“Nomer yang ada tuju sedang sibuk—“

Tanpa sadar Yoona  memukul tembok dibelakangnya.  Berkali – kali menghubungi Donghae tapi panggilan Yoona sama sekali tidak membuahkan hasil. Yoona kesal Karena bunyi sambungan teleponnya lagi – lagi berakhir dengan suara operator.

Mendadak pijakan Yoona lemas. Yoona berjongkok menelungkupkan wajahnya diatas lutut. Yoona menangis, menangis putus asa menahan rasa yang mencekiknya. Yoona bergeleng memohon – mohon entah kepada siapa.

Yoona meremas kepalanya yang berdengung. Tidak… jangan Donghae…

“Yoboseyo…”  Ditengah keputusasaan itu, seseorang diseberang sana akhirnya menjawab telepon. Yoona mengangkat wajahnya. Harapan itu masih ada, Ia yakin.

“Oppa, Oppa kau masih di kantor?”

“Tidak, aku di—“

“D-dimana?!” Yoona terhenyak mendengar suaranya yang bergetar.

“Yoona…memangnya ada apa—“

Yoona tidak menjawab. Yoona berusaha menelan sesak didadanya. Padahal Yoona berpikir bahwa dugaannya belum tentu benar, tapi memikirkan hal ini membuat kinerja tubuhnya berantakan.

“Yoboseyo, Yoona gwenchana?”

“Kau dimana Oppa, cepat katakan Oppa jebal…Jebal…” Yoona tidak mengerti, air matanya mengalir tanpa perintah. Suara Yoona tertahan oleh isakannya sendiri. Bibir Yoona  gemetar kaku, Ia sudah kehabisan kata – kata.   Yoona hanya menanti seseorang diseberang sana menjawab, menjawab sesuai harapannya…

……………………..TBC……………….

 

Haiii readersdul🙂  Lama ga ketemu, kembali lagi dengan lanjutan FF ini yang penuh dengan konflik, rumit, bikin pusing plus ngepost nya lama..hahaha

Sebenarnya aku udah rada males lanjutin ff ini karena ada sesuatu hal yang berhubungan dengan FF ini yang bikin aku jadi bad mood, hmmm tapi tenang aja, tetep aku lanjut kok J.

Please aku nulis ff ini dengan susah payah mikirin ide, jadi jangan di apa-apain (?). pokoknya gitu deh yaa..

Sampai jumpa di dua chapter terakhir FF MYMBF, secepaatnya bakal di post sebelum bad mood kembali meradang. Oke Bye Bye !!

Don’t forget to RCL and Don’t steal this !!!

38 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 14 )

  1. ina gomez berkata:

    Ya ampun bru ja yoona bhgia tas kbersmaanya ma hae oppa kok da ja yg ganggu.tu bneran msh da pengikutnya si pnjht tu pa cm halusinasi dr ktkutannya yoona?mdh2an yoona cpt smbh dr traumanya.
    min gimn awal crtanya yoona tau lox dia hamil?al y kmren2kn hae lum ngsh tau khmilnnya al y tkut bt yoona kwatir.
    Lucu pas lht hae nurutin ngidam yoona yg minta mskn ma tetangga n ternyta tu tetangga cwek jadi2an hehe…ditunggu nextnya min

  2. indri chilla berkata:

    akhiiirrr nya di post jg … udah hampir setahun .. heheee lebay …. klw gni terus kpn bhagia ny yoona …. nex ny jngn lama2 y thor …..

  3. Dewi.lucia berkata:

    Duh jangan bad mood lagi ya thor aku tungguin sampe ending ini.

    Kehidupan yoonhae bener bener bikin greget baru juga tenang udh dbkin was was lagi, konfliknya jangan berat berat dong thor kasian. ditunggu lanjutannya

  4. tryarista w berkata:

    akhirnya dilanjut jg nichhh ff,,,,,yoonhae dah ada kemajuan bnyak dan seneng aja lhat mereka ky gitu ,,,,,,
    heemmm knpa msalahnya g selesai2,,,,$pa lgi yg bkin yoona khawatir,atau jgn2 donghae dlm bhaya nichhhhhh,,,,
    jgn lma2,,,,

  5. Lee Sheol Elfishy berkata:

    Kira2 firasat yoona benar gak ya? klau ada yg ngikutin dia dan mungkin bakal ngecelakai donghae . . . Lagi tegang2 bacanya malah tbc, penasaran sama kelanjutannya smoga donghae gak kenapa2 . . .
    Next, secepatnya ya? Fighting!!!

  6. aisyah berkata:

    akhirnya ff yg aku tunggu2 di publish juga ^^
    lg bahagia2nya masalanya dateng lagi2 kasian yoona unni😥
    next ya thor jgn lama2 hehehe
    semoga happy terus yoonhae ^^

  7. Dhe pyrotechnics berkata:

    Heran deh sama yang neror yoona
    Gak ada kapoknya..
    Ngerusak moment bahagia yoonhae aja dwhh

    ngeselinn
    tapi.. semoga aka firasat yoona salah
    Semoga donghae gpp yaaa

  8. monichamindari@ymail.com berkata:

    hahaha, yoona ngidamnya aneh bikin donghae frustasi. sayang banget makanannya nggam dimakan aduh. hahaha hyunbin a.k.a hyorin ckck donghae geli lihatnya hahaha yoonanya senyum gaje. yoonhae tambah sweet jalan kepantai,,,
    firasat yang yoona rasain itu firasat buruk akan keadaan donghae, senoga donghae nggak kenapa-kenapa dan yoona sempat nolong donghae kalau emang bener donghae dalam bahaya.
    yoonanya jadi bisa ngerasain sesuatu, gara-gara dia sering tertekan…..
    next unni, semangat…!!

  9. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    hyorin hahaha bikin donghae geli, yoonanya senyum-senyum kasihan donghae sabar…
    yoonhae tambah romantis nih, ngidamnya yoona bikin donghae frustasi hahaha, dari banyaknya restoran yang dikunjungin nggak ada makanan yang enak, ternyata dia pengen makanan yang hyorin masak aigooo~~
    donghae dalam bahaya kah, semoga yoona bisa cegah sesuatu yang buruk terjadi sama donghae dan donghae nggak kenapa-kenapa.
    yoonanya jadi sensitif perasaannya…
    next unni, semangat nulisnya…!!
    YH Jjang!!…

  10. idaa ziiosay berkata:

    so sweet lucu kali ya liat tampangnya si donghae pas d.deketn hyorin haha
    baru juga yoona bahagia ad lagi muncul sebenernya siapa itu org jangan2 donghae dalam bahaya
    next dtnggu chap slanjutnya semoga authornya ga bad mood lg biar cepet dlanjut 😄
    #fighting

  11. novi simm berkata:

    aduhhh kenapa masalah ny ngk kelar2 sih,baru aja bahagia bntar udh datang lg penganggu…kasian bnget yoona pasti dia tertekan…next ny di tunggu thor…fighthing

  12. YH Lulu berkata:

    waahh banyak yoonhae momen nya^^
    tp konfliknya jg masih ada.
    kasian bgt yoona jiwanya masih belum tenang.
    semoga aja ga ada masalah yg menimpa yoona lagi.
    ditunggu next nya thor🙂 ceritanya makin menarik^^

  13. Tya nengsih berkata:

    Yang ditunggu keluar juga …..makin tambah penasaran ceritanya…..kira2 sapa orangnya yg ngikutin yoona?shinjung kah?…

  14. Vaniza Rianie berkata:

    Aku suka di awal awal semuanya manis dan so sweet banget, suka liat cara ngidam Yoona yang aneh dan pengen ngakak sama Donghae yang takut sama Hyorin haha 😃
    tapi pas part terakhir yoona mulai di hinggapi perasaan gitu lagi, kapan sembuhnya aku kasian dia kan juga lagi hamil takut itu ganggu kehamilannya😔 cepet di next lagi 👍

  15. sulistiowati_06 berkata:

    pas baca awalnya seneng banget ada momen manis2nya yoonhae. huhuhu donghae rindu sama yoona ya? rindu apa emang? pas baca terakhirnya deg2an banget, trauma yoona mulai kambuh lagi. mending yoona dirumah aja ga usah kemana2, tapi kasian kalo dirumah terus ga dapet suasana baru. part akhirnya ngegantung chingu, next chap jangan lama2 yaa. gomawo

  16. chalistasaqila berkata:

    YEayyyy.. Akhirnya ktemu sma nie FF iniii
    FF nie slalu bsa memporak-porandakan hatiku, rasanya greget bgtzz sma kondisi yoona.. Smoga dya baik2 ajaa, donghae smoga jugaaa.. Kasian yoona qlow stress lgiii, dya lagi hamil kannn, jangan smpe knp2..
    Ntr qlow ad ap2 sma yoona, author bkal aq tuntuttt..
    #peace

  17. yoonhae3015 berkata:

    akhirnya ff yang aku tunggu keluar juga setelah sekian lama hehe
    disini moment yoonhae seru banget tambah keren aja. yoona ngidamnya lucu banget bikin greget hehe..
    itu yoona di incar lagi atau gimana? kasian liat nya udah bahagia juga sama donghae.
    ditunggu kelanjutannya

  18. utusiiyoonaddict berkata:

    dari awal ampe pertengahan udah sweet bgt,
    eh d akhir bkin dagdigdug siapa lg tuh yg ngikutin yoonhae, ada motif apa sebenarnya,
    apa mau mencelakai donghae apa yoona? Next next
    smga authornim jgan sampe bad mood yaah biar cpet d lanjt

  19. LimHyelim berkata:

    Aku bingung, apakah Yoona cuma berhalusinasi atau emang bener pengikut para penjahat itu masih ada. Baru aja mereka bahagia, tapi di hadapkan lagi sama kenangan2 buruk Yoona di masa lalu. Semogaaa uri Yoonhae baik baik saja 😚 di tunggu next part nya eon. Fighting!

  20. lia861015 berkata:

    ngidamnya yoona kayanya pengen selalu dideket donghae ya,krn dia masih trauma sama kejadian sebelumnya ^^
    cepet dilanjut ya thor….penasaran apa yg terjadi sama donghae deh😉

  21. detolyhhun berkata:

    yang sabar ya donghae oppa.. org hamil emg gitu ngidam yg aneh2 hhihihi… knp yoong eonnie mdih kebayang-bayang trz kasihan dia… dan itu di akhir donghae oppa ada dmn ? penasaran.. cepet di lanjut yah . next chap di tunggu … fighting !!!!

  22. irma nytha berkata:

    huee mereka sosweet, pada bikin ngiri😥
    kira” yoona masih jadi incerannya keluarga shin?! semoga yoona gak tambah frustasi sama semua teror” yg dia terima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s