FF SooWon – From This Moment On [ Part 2 ]

from this moment on

Title : From This Moment On

Cast : SNSD Sooyoung, Super Junior Siwon

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance

~Happy Reading ~

“Aku sekarat.”

Pijakanku limbung. Tiba – tiba segalanya tampak berputar – putar. Masa depan indah yang sejak dulu kurajut dan tertanam dikepalaku, hancur begitu saja. Entah sejak kapan Siwon menggenggam tanganku dan meremasnya. Aku merasakan kepedihan yang lahir dari matanya, dan sejak saat itu fokus pandanganku pecah mengabur.

Dia menghela napas dan menatapku yang kehabisan tenaga,“Aku mengidap leukimia kronis dan Seharusnya aku melakukan transplantasi  sumsum tulang, tapi—“

 “Aku tidak suka di rumah sakit, aku lelah menjalani kemoteraphy. Ketika sampai di Korea, keluargaku memohon padaku agar aku bersedia menjalani perawatan di rumah sakit. Aku yakin mereka akan menyeretku kesana kalau aku tidak buru – buru melarikan diri dan kabur, sekarang  aku merasa seperti buronan yang dicari polisi, tapi sudahlah itu semua karena kupikir aku masih bisa bertahan dengan obat – obatan itu jadi tidak ada gunanya membuang –  buang waktu di tempat  yang kubenci, lagi pula meski pun operasi itu berhasil  aku yakin hidupku tidak akan lama.”

“Kau bohong?! Kau bohong Oppa ! Kau membohongiku ?!” Aku merota mendorong pundaknya bertubi – tubi. Sekarang aku tidak percaya padanya.. Aku tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal seperti itu?!

“Sooyoung…” Siwon mendorong kepalaku menuju dekapannya. Suara detak jantung itu justru menghancurkan pendengaranku. Ada yang tidak beres, ada yang aneh didalam sana. Suara detak jantungnya terdengar tidak wajar.  Aku mengikuti bagaimana jalan napasnya yang berhembus sesak. Jelas – jelas aku tahu bahwa Siwon mengalami nyeri yang menekan dadanya namun aku mengingkarinya lalu justru  mati – matian menganggap bahwa semua baik – baik  saja.

Aku membelai punggungnya dan merasakan bagaimana tubuh Siwon bergerak gelisah. Bulir – bulir keringat menetes dari keningnya yang tersembunyi dibalik  ruas – ruas poni menyamping. Sekilas rambutnya tampak basah berantakan.

 “Aku tidak mau menghabiskan waktuku di rumah sakit… aku, aku ingin menghabiskan waktuku yang singkat ini denganmu. Jadi…” dia berbisik, suaranya yang hangat membuatku tidak berdaya.

“Menikahlah denganku.” Bisiknya lagi membuat dunia didepan mataku porak – poranda. Kepalaku bergeleng tanpa sadar, aku tidak bisa percaya ini semua?! Kenapa? Kenapa harus dia?!

Aku terus berteriak dalam hati, bertanya – tanya mengenai ketidakadilan ini, namun tidak ada yang bisa kulakukan, Aku hanya tinggal dengan pasrah. Pelukan kami berlangsung lama. Sampai aku belum menerimanya, Siwon tidak akan mengakhiri pelukan itu. Aku tahu dia sedang memohon kepadaku dengan caranya, hingga  membuatku sesak napas dan terjatuh didalam dekapannya. Bagaimana pun Siwon membutuhkan waktu terakhir yang berharga. Dia pantas mendapatkannya. Sekian lama waktu yang Ia habiskan untuk menjaga hatinya untukku, dia pantas menerima balasan dariku, karena aku juga sama menginginkannya, bahkan perasaanku sudah tidak tertahankan.

Aku tahu semua ini ialah kesalahan dimata keluarga dan sahabatku yang tidak tahu menahu soal perasaanku yang menggila. Demi kesempatan untuk merasakan bahagia bersama Siwon, aku harus melakukannya.

Sekali lagi aku memastikan keputusanku.

Dan dihadapan Tuhan, keputusanku tidak akan pernah  berubah.

Aku Choi Sooyoung, menerima tawaran itu. Aku akan menikah dengannya.

…………….

“Ya, aku bersedia berjanji dihadapan Tuhan, akan selalu menjaganya sepenuh hati  dalam keadaan suka mau pun duka, senang maupun susah, sehat mau pun sakit  hingga maut memisahkan.”

“Dan Aku akan setia padanya hingga akhir hayat.”

Ruas Jemariku membuka satu – persatu ruang diantara tungkai – tungkai hitam yang halus. Rambut lebat dengan segala kilau yang melekat disana tidak mengizinkanku untuk berhenti membelainya.  Sudah satu jam lamanya aku seperti ini. Usai menikmati  malam yang indah diatas ranjang  bersamanya aku mengalami insomnia. Disela waktu sunyi, aku berbaring memeluk tubuhnya yang semakin ringkih. Terus membelai rambutnya,  Ingatan mengenai apa yang sudah kami lakukan selama satu bulan belakangan ini terulang didalam kepalaku.

Siwon memberi semua yang aku butuhkan. Temasuk  beberapa lembar pakaian yang tidak kumiliki sama sekali kecuali yang melekat ditubuhku. Tidak kusangka Siwon menyimpan banyak tabungan,  yang membuatku miris adalah Siwon ingin menghabiskan seluruh hasil kerja kerasnya itu sebelum waktu memanggilnya, Ia ingin melewati segalanya bersamaku.

Sebelas Januari kami mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Dihadapan kami berdiri satu – satunya orang yang menyaksikan upacara sakral itu. Seorang pastour. Beliau adalah Paman Siwon yang memilih pensiun dari pekerjaannya dan  memilih mengabdikan dirinya sebagai pastour di gereja. Awalnya beliau menolak, namun mendengar semua yang terjadi pada keponakannya, juga melihat kami yang bersungguh – sungguh, Paman Jung akhirnya bersedia menjadi saksi tunggal dalam pernikahan kami sekaligus menuntun pengucapan janji dihadapan Tuhan, janji yang melekat seumur hidup bahwa kami akan serius menjalani kehidupan ini bersama – sama sebagai sepasang suami istri.

Sebelum pengucapan janji suci itu Siwon berlutut dihadapanku yang tengah duduk menunggu kedatangan paman Jung. Siwon memberiku seikat mawar putih lalu menbungkus jemariku dengan tangannya yang sedingin es,“Mianhae aku tidak bisa membuatmu seperti mempelai wanita diluar sana.”

Aku menerobos paksa matanya yang terlihat kuat dipermukaannya namun tersembunyi kerapuhan utuh yang tidak bisa disembunyikannya dariku. Ya, aku tahu dia sedih melihatku seperti ini. Aku mengangkat wajahnya dan bergeleng pelan. Semua ini bukan salahnya dan bukan sebuah kesalahan yang perlu dipermasalahkan. Aku tidak keberatan memakan apa pun yang Ia berikan, aku tidak keberatan memakai dress putih berbahan siffon sederhana yang Ia berikan padaku dari hasil kerja kerasnya, aku tidak akan ragu menobatkan gaun itu sebagai satu – satunya gaun terindah yang pernah kukenakan seumur hidupku.

Aku akan bercermin dan berfoto untuk seterusnya, aku akan selalu  mengingat wajahku yang sekarang, dengan riasan seadanya yang menjadikanku sebagai wanita tercantik didunia.

Dan dengannya, aku tidak akan melupakan setiap gerakannya saat ini. Siwon adalah pria tertampan yang pernah kulihat didunia ini. Aku akan selalu mengingat bagaimana cara  Ia menggandeng tanganku saat berdiri didepan altar . Aku tidak akan melupakan itu  karena segala yang aku lakukan bersamanya begitu berarti. Hingga bagian tersudut bibirnya begitu membekas didalam memori otakku. Melihat bagaimana benda itu melengkung dengan sempurna, berhasil membuatku terpikat seperti ketika aku menyaksikan tenggelamnya matahari dikala senja.

Aku mengatakan semua itu padanya, tanpa ada satu pun kata yang terlewatkan. Lantas dia tersenyum dan memelukku. Tuhan, bisakah waktu berhenti sekarang juga?! Aku ingin tetap seperti ini, aku ingin Siwon selalu hidup disampingku, bersamanya dengan tangisan haru antara aku dan dia.

Bersama keheningan malam ini peristiwa masa lalu yang memenuhi pikiranku tergerus pergi menuju ruang penyimpanan khusus yang aku sisahkan, ruang istimewa yang terkubur rapih didalam kepalaku . Kembali aku memandangi seseorang disampingku  yang tengah berkelana bersama mimpi indahnya. Kedua mata itu mengatup damai  hingga aku tidak tega menyentuhnya. Hembusan napas teratur yang bergesekan dengan udara disekitar kami, membuatku bersyukur bahwa Ia masih berada disampingku, bersamanya didalam satu atap.

Aku merasa nyaman disini, bernaung didalam rumah minimalis yang merupakan peninggalan nenek Siwon lima tahu lalu. Letaknya sendiri sangat terpencil dari kota, namun begitu aku menyukainya. Aku suka ketenangan, dan ditempat inilah aku bisa menggapai ketenangan yang sudah lama kuimpi – impikan sejak dulu.

Aku tidak pernah menyesal hingga detik ini, dan tidak akan pernah menyesal sedetik pun. Meski suatu saat nanti ombak besar memisahkan kami, aku juga tidak akan pernah menyesal, karena setidaknya aku pernah memilikinya, setidaknya kami pernah berbagi cinta bersama, dan setidaknya aku bisa merasakan makna kebahagiaan yang murni dari hati.  Kebahagiaan sejati yang kutemukan ketika bersamanya.

“Kenapa belum tidur, hmm?” Siwon menggapai jemariku yang berhenti membelai rambutnya karena suara tiba – tiba itu.  Ia menggeser dengan hati – hati lalu menggenggamnya perlahan – lahan  sementara kedua matanya setengah terbuka.

“Aku tidak bisa tidur.”

“Oh ya?” dia mengernyit.

Aku cemberut karena sesungguhnya aku ingin lebih lama lagi memandangi wajah Siwon ditengah alam mimpinya. Sangat disayangkan ketika Siwon rupanya menyadari pergerakan tanganku disela – sela rambutnya.

“Jadi apa yang harus aku lakukan untukmu agar kau bisa tidur? Apa kita perlu melanjutkan kegiatan yang ‘tadi’ itu sekali lagi, mungkin dengan begitu kau akan kelelahan dan jatuh tertidur.” Tawarnya sambil menyeringai. Aku membaca tatapannya yang dipenuhi maksud terselubung.

“Yak apa maksudmu?!” Aku mendorong kasar dada bidangnya. Dia hanya tertawa menyaksikan bagaimana wajahku memanas karena godaan itu, “Dasar cabul !” sungutku mulai salah tingkah didepannya.

Tiba – tiba Siwon mencium bibirku dalam hitungan detik Ia melepasnya, “Aku hanya bercanda sayang, jangan cemberut terlalu lama, aku bisa gila kalau kehilangan wajah cantikmu.”

“Gombal.” Aku menatapnya sebelah mata. Dia mengamit daguku lalu menariknya. Dalam sekejap mata hidung kami bergesekan. Senang rasanya menghirup harum nafas yang Ia hembuskan. Seperti melambung keangkasa, aku tersenyum seperti orang gila sampai tidak menyadari perubahan yang terjadi.

Selagi memperhatikan ekpresi wajahku dengan detail, Siwon menatap bertanya – tanya, “Kau sedang marah atau—“

“Ya aku sedang marah, marah sekali padamu !” sungutku tiba – tiba. Maaf Siwon Oppa, aku sedang ingin dimanja – manja olehmu jadi aku terpaksa melakukannya keke.

“Jadi?”

Aku mengangkat tubuhku sendiri dan bersandar pada bantal yang sengaja kutaruh dipermukaan kepala ranjang. Kedua lenganku terlipat dengan angkuh,  “Nyanyinkan sebuah lagu untukku.” Pintaku padanya selagi berpaling kesembarang arah.

Diam – diam aku meliriknya. Tampak Siwon tengah mengambil sesuatu dari kolong meja disamping ranjang. Ketika suara benturan kayu terdengar ditelingaku, Siwon sudah duduk didepanku, dengan wajahnya yang mempesona Ia memangku sebuah gitar coklat. Bibirnya bergerak tanpa suara selagi matanya fokus kearah  juntaian senar yang mengeluarkan bunyi petikan.

Siwon terdiam sejenak menatap gitarnya, beberapa saat kemudian Ia menghela napas dan memejamkan mata penuh konsentrasi.

Bogo sipeun naui sarang unmyeongijyo
Pihalsudo eobtjyo
Every day I’m so lucky sumgyeowatdeon
Nae mameul go back hallae neoreul saranghae 

Naui modureul geolmankeum neol saranghago
Akkyeojundago geudae yaksokhalgeyo wo 
Sigan jina modu byeonhaedo I sesangi
Kkeutnanda haedo naui sarangaa

( Chen – best luck lyrics )

Aku terpaku menatapnya. Sesekali Siwon tersenyum kearahku meski pun hanya senyum singkat, namun rasanya seperti Ia tengah pendekapku dengan tubuhnya yang hangat.

Mendengar bagaimana lagu itu mengalun bersama tekanan suaranya membuat sesuatu didalam perutku bergejolak. Satu – persatu lirik yang dilantunkannya berhasil mengundang ribuan kupu – kupu mengitari tubuhku. Aku bahkan lupa bagaimana cara bernapas dengan wajar.  Penampilannya menghipnotisku. Tanpa sadar aku memandangnya dengan mata berkaca – kaca.

Petikan gitar yang mengiringi konser dadakan itu berakhir. Aku ingin bertepuk tangan mengakhiri permainan yang luar biasa indah namun faktanya  tenagaku menguap entah kemana. Cara Siwon membawakan lagu itu membuat jantungku seolah tertelan bumi. Aku tidak bisa menemukan letak perbedaan antara dunia nyata dan dunia mimpi.  Merasa seperti melayang diatas awan,  Aku beringsut mendekati Siwon,  perlahan – lahan kepalaku yang sudah melayang – layang terjatuh diatas pundaknya.

Apakah aku sedang berada di surga? Kenapa rasanya nyaman sekali…

Tertidur pulas dibawah jangkauannya, Aku menanti dengan harapan tulus bahwa  keajaiban akan berpihak kepada kami tapi…

Suara kesakitan itu kembali menyadarkanku…

Kupikir tidak sama sekali.

……………

Ombak senja menggilas jejak langkahku. Seharian ini kami menghabiskan waktu bermain di pantai. Hanya kami berdua menyaksikan bagaimana matahari terbit sejak pagi tadi hingga tenggelam sore ini.  Tinggal menunggu beberapa menit lagi hingga saat – saat itu tiba. Aku membuang napas tidak sabaran,  pandanganku tidak juga berhenti mengagumi sesuatu yang bertengger di ufuk arat, aku amat  menunggu momen indah itu terjadi  ketika matahari turun ketempat peraduannya.

Aku menoleh kebelakang, tampak disana Siwon bertolak pinggang menatapku. Aku menjulurkan lidahku kearahnya, Siwon tidak pernah bisa mengimbangi perasaanku yang terlalu bersemangat ketika sudah menginjakkan kaki di tempat ini,  pantai senja.

Sepertinya Siwon berlari menghampiriku, aku tak ingin  berlari menjauh karena sudah terlalu lelah berada didalam kejarannya sejak tadi. Ditempat ini kami selalu berkejaran seperti anak kecil, ada kalanya aku lelah dan langsung menghempaskan tubuhku dan berbaring ditepi pantai, seperti sekarang. Aku memejamkan mata dan merasa nyaman ketika ombak mengambil alih tubuhku dan menyelimutinya dengan hangat. Berselimut ombak, bermandikan cahaya, bertiupkan sepoi angin, aku menyukainya apalagi ditambah Siwon disampingku.

Seperti dugaan awal, Siwon  berbaring disampingku. Dia selalu ingin melakukan apa pun yang aku lakukan, begitu sebaliknya.

“Kelihatannya kau lebih menyukai senja dari pada aku.” Tiba – tiba Siwon mengeluh. Sesuatu yang hampir membuatku tertawa.

“Mwo?” Aku menoleh padanya. Dia membalas tatapanku, “Kalau senja itu adalah manusia, kau pasti lebih memilih dengannya dari pada aku.” Siwon memasang wajah cemberutnya yang sangat jelek itu. Aku tidak bisa mencegah diriku sendiri untuk tertawa.

Siwon menatapku dan bangkit dari posisi baring. Matanya belum juga terlepas dari wajahku yang masih tertawa. Aku belum bisa memastikan ekspresi Siwon selanjutnya karena dia duduk membelakangi cahaya.  Senja yang saat itu bertabrakan dengan punggungnya melebur menjadi cahaya  kemilau yang memacar disekujur tepi wajahnya, sedangkan siluet yang tak tersentuh cahaya menjadi misterius dimataku.

Aku duduk disebelahnya. Terpaan ombak menyambut kebangkitanku. “Kau cemburu?” tanyaku.

“Ani.”

Kedua alisku terangkat otomatis. Jelas – jelas dia berbohong. Ketika Siwon berbicara dengan nada sinis bercampur keyakinan hingga mencapai sepuluh oktaf, aku tahu dia sedang menutup – nutupi sesuatu.

Mungkin dugaanku benar. Oh.. Jadi begini wajahnya kalau dia sedang cemburu?

Aku meraih pundaknya dan memasang senyum termanis, “Tidakkah kau berpikir, seandainya senja adalah manusia, dia akan menjadi sepertimu oppa.”

Alisnya terangkat, Tanpa menunggu reaksi apa pun, Aku beringsut. kusandarkan kepalaku dibahunya.

“Aku tidak akan memilih kerena sejatinya tidak ada pilihan dalam hal ini, Karena kau adalah satu – satunya  senja didalam hatiku.” Kupejamkan mataku hingga deru napas Siwon serasa mendekati wajahku.

Kedua mataku membuka. Entah siapa yang memulai ini semua, wajah kami seolah menyimpan energi magnetik. Tubuhku tertarik begitu saja hingga kami nyaris tidak berjarak. Diam- diam aku mencuri oksigen, aku takut kehabisan napas seperti ketika kami melakukannya. Tanpa sadar kedua mataku terpejam lagi.

Cahaya senja yang  berani menerobos ruang diantara wajah kami, membaur dengan sepoi angin. Disaat seperti itu, tubuhku menggigil hebat, gemuruh jantung ini memberontak. Aku menikmati dengan jelas bagaimana Siwon meraba sisi wajahku, lalu…

Diluar perhitunganku,  Siwon mencipratkan air dengan jemarinya, Ia mengarahkan beberapa tetes kewajahku. Dan seketika bayang – bayang indah yang menggenang di kepalaku musnah begitu saja. Sontak aku berteriak supaya dia menghentikan aksi kekanak – kanakannya itu. Aku benar – benar tidak suka. Siwon sudah menghancurkannya padahal momen- momen seperti inilah yang kutunggu sejak tadi.

“Yak apa itu yang ada dikepalamu. Aishh otak yadong.” Ucapnya lalu mengacak rambutku. Dia tersenyum dengan lidahnya yang menjulur seperti cicak kelaparan. Aku menatapnya tidak suka.  Wajah menyebalkan yang  kutahu sengaja Ia pamerkan membuat ubun – ubunku memanas hingga  suhu maksimal.

“M-mo? Apa katamu? O- Otak ya-d—“

“Ternyata kau sudah pintar menggombal, belajar dari mana huh?” Pertanyaan Siwon memotong kemarahanku. Lantas aku bersungut – sungut. Memangnya ada orang lain lagi selain dirimu?!

“Tentu saja darimu ?! memangnya siapa lagi namja penggombal sedunia selain kau?!” aku membalasnya mantap.

Dia terdiam. Aku terpaku oleh aksi diamnya itu, aku takut terjadi sesuatu, aku takut Siwon merasakan sesuatu yang berhubungan dengan penyakitnya… Aku bergegas  hendak memegang keningnya, aku ingin memastikan bahwa dia baik – baik saja, namun segala niat itu urung tejadi, tiba – tiba Siwon menarik kedua sudut  bibirnya, Ia meringis tanpa dosa. Seketika jantungku mencelos lega.

Saking leganya, aku menepuk bahu Siwon dengan sekuat tenaga. Dia mengaduh, “Awhh bagaimana ini, aku baru saja menikahi seorang kuli.” Sesalnya dengan ekspresi dibuat – buat. Lagi – lagi dia memancing kemarahanku.

“M-mo?”

“Tenagamu seperti tenaga kuli Sooyoung-ah.”

Satu pukulanku kembali mendarat dipunggungnya. Dia kembali mengaduh sambil memohon – mohon agar aku tidak mengamuk lagi. Aku memicing padanya setajam silet. Bagaimana pun aku ingin membuat Siwon  merasakan buasnya  para wanita kalau seseorang berani menyinggung hati mereka.

Belum sempat aku berbuat apa – apa, Siwon sudah bisa membaca gerakanku. Namja itu kabur begitu saja sebelum aku bergerak dan melakukan sesuatu padanya.

Dia berlari meninggalkan  jejaknya yang terukir diatas pasir putih. Tidak mau kalah, aku mengejarnya sekuat tenaga, kulihat kecepatan lari Siwon tidak terlalu lekas, jadi kupikir sangat mudah untuk menggapainya.

Dan benar, tidak lama usai aksi  kejar – kejaran itu aku berhasil menarik t-shirtnya dan memaksa Siwon  untuk berhadapan denganku. Dia hanya tertawa – tawa sambil mengacak rambutku.

“Berhenti tertawa ! Apa kau tidak tahu kalau sekarang aku sedang marah sekali padamu huh?!”

Siwon belum juga menghentikan tawanya. Aku semakin sebal melihatnya seperti ini. Memangnya apa yang lucu?

~Chu~

Dengan cara pamungkas aku berhasil menghentikan suaranya yang berisik itu. Aku menghitung waktu pertemuan bibir kami selama lima detik, kuakhiri semua itu namun rupanya niat itu gagal. Siwon lebih dulu menarik tengkukku dan memperdalam ciuman kami. Aku terhanyut oleh belaiannya yang memanjakanku. Tanpa sadar sebelah tanganku membelai wajahnya, Siwon lantas menggenggam tangan itu dan meremasnya kencang, aku tidak tahu arti dari sikapnya namun Jauh didalam lubuk hatiku, aku ingin waktu berhenti dan semua ini tidak akan pernah berakhir. Aku ingin menghalau waktu, kalau saja bisa…

Cahaya senja menunjukkan gradasinya menjadi kehitam – hitaman. Aku merasakan sensasi hangat yang dipancarkannya sedikit demi sedikit mulai menghilang, hingga kusadari bawa matahari tinggal menunjukkan setengah badannya, Ia nyaris tenggelam.

Pandanganku berpaling kearah ufuk barat dimana pancaran itu tenggelam. Aku memandanginya dalam diam. Tanpa kusadari Siwon sudah berdiri dibelakangku dan memeluk tubuhku dari belakang. Pelukan itu menambah kehangatan tersendiri didalam tubuhku.

Sore berganti, petang tiba. Aku berhasil menutup hari ini dengan segaris lengkungan  yang terpoles dari bibirku. Ingin terus seperti ini, aku berdoa dalam hati. Aku ingin seterusnya bernapas bersama kehadiran Siwon disisku, aku ingin kami menikmati waktu berdua seperti ini selama – lamanya.

Apa keajaiban masih berlaku ? Aku ingin menjaganya lebih lama lagi…

Tuhan… Aku ingin menatapnya lebih dalam, sekali lagi.

Jadi kumohon  perbolehkanlah dia menikmati hidup  yang lebih panjang…

Pudarkan kesakitan itu, Aku mohon…

Siwon menarik tanganku. Ia tidak sabar untuk pulang kerumah dan memasak makan malam bersamaku. Bibirnya dengan lugas menceritakan beberapa keinginannya memakan sesuatu dari yang manis hingga yang pedas. Aku menyimaknya dengan senang hati.

Jalanan beraspal membentang disepanjang kawasan pantai pasir putih. Bunyi desir ombak mengambil alih keramaian disepanjang jalan. Kusadari bahwa, suara ocehan Siwon yang hadir bersama bunyi desir pantai, menyatu dengan sempurna.

Beberapa langkah kami berjalan, sesuatu yang lain menarik perhatianku. Ketika Siwon masih berbicara panjang lebar, pandanganku tak kuasa berpaling kearah gagang telepon yang diam membisu di pinggir jalan.

Sebuah telepon umum yang dipenuhi debu yang dingin mengalihkan duniaku. Telepon itu… Tiba -tiba dalam pikiranku terngiang – ngiang wajah Eomma dan Seohyun adikku. Aku merindukan mereka, sungguh. Hampir sebulan ini aku tidak mendengar suara mereka apa lagi melihat wajah mereka, aku sungguh merindukannya.

“Mianhae…” lisanku bergumam tanpa sadar. Masih terngiang – ngiang wajah Eomma dan Seohyun, aku dikagetkan oleh wajah Siwon yang tiba – tiba berdiri dihadapanku dan berkedip beberapa kali dengan tatapan tidak mengerti.

Dan kusadari pula bahwa langkah kami berhenti sejak tadi, tepatnya saat kedua kakiku tiba – tiba   melemas ketika bertatapan dengan alat komunikasi itu. Memang, aku tidak membawa ponsel ketika malam itu disaat aku keluar dari rumah. Dan sekarang aku tidak tahu menahu soal  kabar mereka.

“Mianhae?” suara Siwon mengembalikan fokus mataku yang tadinya menerawang.

Bibirku merekah begitu saja. Terkadang senyum pun diperlukan untuk menutupi suasana hati yang tidak baik.

“Ani hanya ingin meminta maaf. Mianhae karena memintamu menemaniku seharian di pantai.”

Siwon menjepit kedua sisi wajahku dengan telapak tangannya dan berkata,”Gwencana, aku senang bersamamu disini, jika  kau ingin melakukan sesuatu katakan saja padaku, aku akan selalu ada untukmu.”

“Jeongmal?” ucapku dengan girang, dan sebisa mungkin menunjukkan ketertarikanku dengan apa yang baru saja diucapkannya.

Siwon mengangguk dan tersenyum meyakinkan. Aku membalas senyuman itu tulus dari hatiku.  Untuk kesekian kali Siwon menggiring tubuhku kedalam dekapannya. Aku menerimanya dengan pasrah dan memejamkan mata. Meski pun sekarang aku merindukan keluargaku, namun aku  harus bersyukur bahwa salah satu yang kusayangi dalam hidupku berdiri didepanku kini dengan sebuah janji bahwa Ia akan selalu tinggal disampingku.

Namun begitu…

Aku sungguh meminta maaf pada Siwon untuk hari ini. Aku memaksanya datang kemari untuk menemaniku demi sebuah cita – cita terpendam. Sebuah cita – cita yang sangat kekanak – kanakan.

Dan memang seperti inilah cinta – citaku sejak dulu. Pergi bersama seseorang dan berkejar – kejaran dipantai  selagi memantau pergerakan matahari. Berjalan – jalan mengitari pasir putih dengan bermandikan cahaya musim panas. Hingga duduk berdua disepanjang pantai sambil  merasakan sensasi aneh ketika berpisah atau bertemu untuk pertama kalinya dengan matahari.

‘Tuhan lindungilah dia selalu…’

…………….

Siang hari Siwon masih berkutat dengan selembar kertas ditangannya. Kira – kira menghabiskan waktu  satu jam lebih untuknya seperti itu, hingga tak bergeming sama sekali. Aku menghampiri Siwon yang masih duduk dengan tautan wajah serius, sejak tadi Ia memang begitu, menulis sesuatu diatas meja makan tanpa menoleh sama sekali. Bahkan aku sengaja mempertajam suara langkah kakiku tapi rupanya hal itu tidak cukup untuk membuat Siwon menoleh.

Aku menaruh jus jeruk itu disampingnya dan mengambil posisi duduk berhadapan. Tanganku bersidekap selagi memandanginya dalam diam. Aku tahu berbicara apa pun percuma karena Siwon tidak akan menggubrisku sama  sekali.  Tiba – tiba aku menguap ketika tanpa kusadari rupanya aku sudah menghabiskan waktu lama untuk sekedar memandanginya. Sedikit bosan rasanya karena Siwon seolah tidak menyadari kehadiran siapa pun disini. Lantas kedua tanganku menyanggah masing – masing sisi wajahku yang rasanya akan tumbang sebentar lagi.

‘Serius nih yaaaa…’

Aku mengambil sebuah buku note yang letaknya tidak jauh dari jemari Siwon yang masih menari – nari. Kebetulan didalam buku itu terselip bolpoin hitam. Sebelum tertidur disini, aku berpikir untuk menuliskan isi kepalaku kedalam buku itu  lantas kusodorkan buku  itu kesebelah lengan Siwon.

Siwon menatapnya dengan alis berkerut. Dia menatapku sejenak lalu membalas tulisanku.

‘Hush hush pergi sana.’

Bibirku mengerucut. Aku memicing tajam kearahnya, namun Siwon tak memperhatikanku sama sekali. Rasanya percuma saja menunjukkan tatapan tidak suka padanya, Siwon tidak akan menyadarinya. Aku menunduk frustasi ketika melihat Siwon kembali sibuk dengan pekerjaaannya, entah apa.

‘Kau mengusirku?!!!!!!’

Tulisku dengan tanda seru yang banyak. Perhatian Siwon  teralihkan, bibirnya sedikit tersunggung keatas usai membaca tulisanku.

‘Marah nih yaaa :-p’

Hembusan napas kasar meluncur dari bibirku. Apakah Siwon menganggap bahwa ketidaksukaanku adalah permainaan?

Kulihat dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Lama – lama aku semakin penasaran dengan apa yang Ia tulis. Leherku  mendongak semakin panjang dari pada sebelumnya, diam – diam aku berusaha mengintip tulisannya, namun Siwon merasakan tatapanku, lalu tanpa basa basi lagi Ia membalik kertasnya dan menatapku dengan mata membulat.

Aku bersungut – sungut lalu menulis dengan kesal.

‘Apa yang kau tulis?!  Dasar pelit L

Belum sampai satu menit Siwon sudah memberikan balasan. Kepalaku mendongak secara otomatis menatapnya. Aku terkejut menemukan Siwon sedang menatapku, sedari tadi aku hanya menunduk hingga tak menyadari tatapanya.

‘Haruskah aku memberitahumu? Memangnya imbalan apa yang akan kau berikan kepadaku.’ Siwon berkata lewat tulisannya, aku terdiam sejenak untuk berpikir lalu membalas,

‘Aku akan memasak makanan kesukaanmu.’

‘Itu sudah sering, aku menginginkan lebih.’ Balasnya kembali. Dengan wajah penasaran dia memajukan wajahnya tidak sabar.

‘Apa?’

‘Terserahmu.’

Masih  berpikir, aku menulis lagi balasan untuknya.

‘Aku akan menjadi pelayanmu.’

‘Yang lain?’

Apa ini? Dia meminta yang lain? Baiklah… Tiba – tiba sebuah pikiran gila menyangkut dikepalaku. Bahkan memikirkannya saja  membuat perutku bergejolak.

‘Aku akan menciummu kk.’

‘Setiap hari kau juga melakukannya.’

Aku membaca tulisannya sambil memasang ekspresi meremehkan, ‘Tapi yang ini berbeda, lebih panas dari sebelumnya, aku jamin.’

Siwon tampak berpikir. Karena tak kunjung mendapat balasan, aku merenggut buku note itu dari tangannya.

‘Tidak panas, uang kembali deh,’

‘Yak lihatlah tingkahmu seperti perempuan penggoda di club malam.’

Aku terkikik membayangakan bagaimana wajah Siwon ketika sedang mengomel – ngomel dengan tulisannya itu. Pasti sangat lucu mempermainkan perasaannya yang kini sedang berapi – api.  Aku berkedip dengan polos ketika  tatapan matanya yang tidak biasa tengah mengintorosiku dari jauh.

‘Hah masa sih? Memangnya dari mana kau tahu kalau perempuan di club malam ada yang  seperti itu, jangan – jangan kau sering bertemu mereka ya…’

‘Lalu kau sendiri?’ balasnya cepat.

‘Hanya insting.’ balasku tidak kalah cepat darinya.

‘Aku bukan si hidung belang itu ><’

Siwon memiringkan kepalanya sambil menatapku menimbang – nimbang sesuatu.

‘Aku juga baru pertama kali menggoda seorang lelaki, bagaimana aku berbakat kan?’ Aku tahu apa yang dia pikirkan, jadi aku bertanya seperti itu padanya.

Ketika Siwon membaca tuliskanku, dii manggut – manggut. ‘Ya kau berbakat sangat. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menggunakan BAKAT YANG SANGAT LUAR BIASA itu  kepada seseorang selain aku.’

Mata Siwon melebar ketika menyerahkan balasannya padaku.

Aku mengangkat bahu, Ok, jadi bagaimana penawaranku, deal?’

Lidahku berdecak gemas. Karena Siwon tak kunjung mengirim balasannya, aku merenggut lagi buku note itu dari tangannya. Aku menulis sesuatu disana dengan yakin. Siwon pasti akan suka.

‘Baiklah bagaimana kalau imbalannya adalah aegi–hmmm tapi aku ragu apakah seorang bayi bisa membuat bayi juga? Kk’

Tanpa menunggu balasan darinya, aku bangkit dengan buru – buru sebelum dia memakanku hidup – hidup. Siwon mulai menatapku. Seringaian aneh bersemu diwajahnya sebelum Ia  bangkit dan mengejarku yang berlari  tergesa – gesa menuju pintu keluar.

Langkah kami terdengar ricuh, apalagi suara kekehanku dan Siwon menambah kegaduhan peristiwa itu. Kurasa bahwa Siwon mulai berhasil menangkap pinggangku dari belakang, lantas aku berteriak meminta dilepas. Aku benar – benar geli karena Siwon menggelitiki bagian itu dengan tidak kira – kira.

Kami terlalu asyik berdua, hingga tidak menyadari kehadiran seseorang…

Seseorang yang rupanya sudah berdiri didepan kami…

~TBC~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s