FF SooWon – From This Moment On [ Part 1 ]

from this moment on

Title : From This Moment On

Cast : SNSD Sooyoung, Super Junior Siwon

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance

~Happy Reading ~

Udara yang transparan tampak hambar dalam benakku. Menunggunya sampai sekarang, apa yang bisa dihasilkan dari menunggu? Bunga mawar yang tertanam didalam gelas setahun yang lalu sudah hancur dan kering, kini tak ada lagi peninggalan darinya selain angan – angan masa lalu yang membawaku seperti orang bodoh duduk sendiri disini. Satu dari sepasang ayunan bergerak mendorong tubuhku tanpa alur yang jelas. Dengan pikiran kosong dan hampa, mahluk hitam dikepalaku mulai berbicara tentang sampai kapan aku akan begini? Sampai kapan aku sanggup menelan harapan palsu darinya? Mungkin, mungkin lebih baik aku berpindah jalan. Ya, menelusuri jalan lain yang lebih jelas dan terarah, menelusuri hati yang lain , sosok yang lain juga, cinta yang lain.

“Sooyoung…” suara bass dari arah ayunan yang bergerak disebelahku membuat fokus perhatianku buyar.

Kutatap orang itu tanpa ekspresi. Cho Kyuhyun, senyum darinya tersungging membalas tatapaku yang seperti biasa, datar. Kyuhyun lalu mendorong ayunannya menerobos udara.

“Apa Siwon pernah menghubungimu?”  Ia bertanya dengan suara yang berpindah akibat pergerakan dari sepasang tali yang mengayunkan tubuhnya.

Aku bergeleng kecil, tidak tahu harus menjawab apa. Siwon memang belum pernah menghubungiku. Kami menjalin kasih dua tahun belakangan ini. Hubungan kami terbilang baik hingga akhirnya Siwon berangkat ke jepang untuk melanjutkan sekolah musik disana. Terdengar kabar bahwa keluarga Siwon juga ikut ke Jepang, katanya mereka akan menetap disana, entahlah.  sejak saat itu hubungan kami semakin renggang. Ia jarang menghubungiku, yang dulunya sehari sekali, tiga hari sekali, seminggu sekali, sebulan sekali berakhir menjadi  tak pernah sekali. Aku berusaha membangun komunikasi denganya namun percuma, Ia sering tak mengindahkan panggilanku juga surat yang kukirimkan berakhir sia – sia. Aku berusaha mendatangi temannya dan lagi – lagi percuma. Pun satu dari temannya tidak ada yang tahu bagaimana kabar Siwon sekarang.

Pergerakan Kyuhyun terhenti. Ia tak lagi mendorong ayunannya. Kyuhyun hanya diam menatapku. Aku tersenyum sekilas padanya lalu kembali menunduk. Dalam hening aku  membenarkan dugaanku, Kyuhyun menatapku prihatin saat ini.

“Lalu sekarang ?” Kyuhyun menunggu jawabanku. Lagi – lagi aku bergeleng, tidak tahu harus berbuat apa, Dia menghela napas kasar, mungkin karena jengah dengan tanggapanku yang itu – itu saja. Aku benar – benar bingung. Siwon seperti menghilang tanpa aku bisa melihat amarah, atau mendengar makiannnya untuk terakhir kali. Aku  ingin bebas dari tali yang mencekik leherku  namun semua menjadi sulit. Aku tak bisa berbuat semena – mena dengan mengakhiri hubungan kami secara sepihak, meski Aku ingin sekali melakukannya kalau perlu menggeret Siwon keluar dari sejarah hidupku andai saja bisa, andai saja mudah bagiku melakukannya.

“Sekian lama aku mengenalmu,” Suara Kyuhyun kembali menyambar telingaku, “Lima tahun.” Ia menatapku setelah pandangannya menelusuri cahaya langit yang berangsur – angsur menguning, “Lima tahun, apa menurutmu lama?”

Aku mengangguk sambil menatapnya bingung.  Pertanyaan Kyuhyun membuatku bertanya – tanya mengenai hubungan Lima tahun dengan masalah Siwon. Aku mengenal Kyuhyun lebih dulu ketimbang mengenal Siwon. Lima tahun berbanding dua tahun. Siwon adalah kakak kelas Kyuhyun di sekolah musik. Aku sendiri tak sengaja bertemu dengan Siwon ketika menghadiri Show Case di sekolah Kyuhyun. Karena penerangan didalam Show Case agak minim cahaya, Aku jadi salah mengenali Siwon sebagai Kyuhyun. Tahu – tahu Aku menutup matanya—Siwon— dari belakang. Kyuhyun tiba – tiba memanggilku dari sisi lain, seketika aku panik.

Dipenghujung pertemuan kami, Aku berusaha mengatakan sesuatu agar Siwon tidak salah paham dengan tragedi salah orang beberapa jam lalu. Dia  malah tertawa. Aku agak bingung dengan reaksinya, namun terlepas dari semua itu, Aku menyukai senyum juga tawanya. Lalu entah kenapa, aku meminta nomer ponselnya, dia melakukan hal yang sama dan sejak saat itulah  hubunganku dan Siwon bermula. Dimulai dari saling menyempatkan diri bertukar kabar, hingga akhirnya hubungan kami berlanjut sampai sekarang.

“Aku tidak pernah melihatmu  selemah ini menghadapi seseorang. Kalau dia tak bisa membuatmu bahagia, tidakkah kau berpikir untuk mencari kebagaianmu sendiri?”  semakin lama ucapan Kyuhyun membuatku tersudut. Satu – satunya yang bisa kulakukan saat ini adalah diam. Aku tidak mau terprovokasi oleh Kyuhyun sampai harus mengeluarkan air mata didepannya.

“Harus berapa lama lagi Sooyoung-ah?” lirihnya semakin dalam. Kyuhyun menatapku meminta jawaban sedangkan aku hanya diam terhanyut dalam kesendirian, lalu kutatap wajah Kyuhyun, wajahnya penuh harap. Dan kupikir tidak ada gunanya Ia mengharapkan sesuatu dariku.

 ‘Harus berapa lama lagi?’ dalam batin, aku bertanya – tanya sendiri, dan pada akhirnya aku tenggelam  bersama rasa bersalah yang kian menggerogot.

……………

Bulan sabit mengapung kesepian dan aku duduk dibawahnya. Pikiranku mengarah keatas dengan sorot mata ini yang sama kesepiannya. Kuhantarkan jemariku menggores udara sekeliling. Choi Siwon. Aku mengukir namanya diantara angin yang mengudara. Angin berbeda menyambar silih berganti menerbangkan namanya, satu demi satu ukiran itu tergerus pergi. Dan jadilah aku sendiri. Duduk bersama hayalan kosong lalu wajahnya tampak bersinar didalam angan – anganku yang liar.

Ini gila bukan?

“Sooyoung-ahaa… Sooyoung-ah”

Dari jarak beberapa meter aku mendengar suara Eomma memanggil – manggil namaku. Aku terkesiap seraya bertanya – tanya dalam hati. Eomma tidak pernah memanggilku dengan suara sekeras itu. Karena merasa aneh, aku buru – buru melompat dari tembok pagar yang jaraknya tiga meter dari permukaan. Lompatanku cukup mulus hingga akhirnya mampu berpijak diatas  jalanan berbatu. Tidak ada lampu yang menerangi sepanjang jalan menuju rumahku jadi aku kerap kali tersandung. Perlu kugambarkan, jalanan yang kulalui ini terselimuti kegelapan, Aku sendiri berjalan sambil meraba – raba layaknya pengendap yang ingin menyatroni rumah warga.

“Kenapa kau selalu menghilang setiap malam ?”

Laju napasku tergopoh – gopoh didepan Eomma.  Pertama kali menginjakkan kaki di rumah, aku melihat Eomma sedang berkacak pinggang di ruang tamu. Kemudian selagi menatapku geram, Ia mengomel panjang lebar. Aku menghampirinya dengan membawa serta kalimat – kalimat tanya  yang mengapung dimataku.

“Kau tidak membawa ponselmu ?!”

“Aniyo, wae?” jawabku heran. Aku memang tidak sering membawa ponsel ketika keluar malam atau membawa serta benda – benda tertentu dalam kegiatanku sendiri termenung diatas tembok yang menjulang disepanjang jalan  gelap dan berbatu. Aku butuh ruang pribadi tanpa benda penganggu satu pun.

“Tadi ada telepon.” Sela Eomma. Seketika itu, segala perasaanku bercampur dengan rasa penasaran, “Nugu?”

“Eomma tidak tahu, sepertinya private number. Dia menelponmu beberapa kali, kemudian saat Eomma mengangkatnya dia mengaku ingin berbicara denganmu sesuatu hal yang penting. Lalu waktu Eomma meninggalkan telepon itu karena ingin memanggilmu yang entah dimana,  seseorang itu sudah mematikan sambungannya duluan.” Jelas Eomma panjang lebar.

Sesuatu terbersit dikepalaku, cepat – cepat aku menghapusnya karena kupikir memang tidak mungkin.

“Eomma Apa… apa dia namja atau—-“

“Ah,” Eomma mengingat,  “Kalau tidak salah namanya Won… Si, Si—“

Aku ragu, tapi perasaanku tidak enak,  “Si-siwon?” jelasku terbata – bata.

Eomma membenarkan, “Nah itu, kalau tidak salah namanya Siwon.”

Dan disaat itu pula bumi seolah runtuh. Aku terperosok kebawah tanpa ada satu pun yang sanggup menolongku. Tubuh ini rasanya kebas. Aku tak sanggup lagi berkata – kata. Siwon ? Usai lama menghilang, dia muncul dengan cara seperti ini?! Dan masalah private number itu…

“Kenapa diam begitu?”

Eomma berhenti dari kalimatnya,  dan menatapku penuh selidik, “Kau mengharapkan namja itu kan?  Yang katanya pindah ke jepang untuk sekolah musik dan sekarang entah orang itu masih hidup atau tidak.”

‘Aah jangan – jangan orang itu ya? namja yang menghubungimu tadi, sipengecut itu—‘

“Eomma !”  Aku menatap Eomma dalam – dalam. Nampaknya Eomma terbelalak oleh reaksiku yang tiba – tiba. Kuamati bibirnya yang sedikit bergetar meskipun Ia mencoba menutupinya.

“Aigoo… “ ratapnya padaku, Eomma memajukan wajahnya seolah menantangku untuk menyangkal sesuatu, “W-wae? Eomma benar bukan? Siapa namanya tadi Wo.. Won… Si won, ” Eomma  mendesakku lagi, Ia memberi jeda untuk  menatapku dengan geram,

“Nde Nde dia memang Siwon, Aku punya hubungan special dengannya, terus kenapa?! Apa itu masalah ?!”

“Nde tentu saja masalah ! Lalu bagaimana nasib hubunganmu dan Kyuhyun? Bagaimana pula aku  mempercayakan anakku dengan seseorang yang tidak jelas, bahkan statusnya sebagai manusia atau—“

“EOMMAAAA !”

Suaraku melolong lebih panjang dari sebelumnya. Aku benar – benar tidak tahan, untuk kedua kalinya Eomma bersikap  keterlaluan. Sebenarnya aku tidak harus berlaku sejauh ini, yang lagi – lagi menyetop ocehan Eomma dengan intonasi kelewat batas, namun dadaku rasanya terhimpit mencerna kalimat itu yang sesungguhnya mengerikan…

Tidak ada yang menimpali setelahnya. Aku dan Eomma sama – sama terdiam. Pikiranku mulai rancu. Semoga dugaanku salah tapi aku menangkap sebuah genangan di kedua mata Eomma. Kesedihan Eomma membuatku terpukul dan rasanya aku ingin membenturkan sendiri kepalaku ketembok. Hingga akhirnya…

“Aku dan Kyuhyun, kami hanya berteman.” Setelah menghela napas diantara rasa menyesal hebat, aku berhasil menanggapi ocehan Eomma baik – baik, meski sejatuh – jatuhnya suaraku terdengar dingin, bahkan ditelingaku sendiri.

Tatapanku kearah lain, tapi aku bisa merasakan wajah keprihatinan Eomma mengarah kepadaku.

“Tapi dia mencintaimu Sooyoung-aha, Eomma bisa melihatnya.” Ratap Eomma penuh harap. Ia menggenggam sepasang pundakku. Eomma menatapku lembut. Tangannya berpindah merengkuh wajahku, “Ingat Sooyoung,  kalau orang itu  mencintaimu dia pasti akan memberimu kabar, sesibuk apa pun.”

“T-api Sekarang, sekarang  dia menelponku, Eomma?” Suaraku terdengar menyayat. Suara yang bergetar dan putus asa. Sepertinya Eomma senang sekali mendengar suaraku, kepercayaan diri Eomma berada diatas angin sebelum akhirnya bersiap menjatuhkan pendirianku.

“Setelah sekian lama ? Apa Kau tahu? Siwon menghubungimu semata – mata  karena Ia mengakhiri hubungan kalian yang tidak jelas itu dan hubungan kalian juga cukup singkat—-”

“Cukup Eomma !” kutarik napas dalam – dalam. Tanggapan Eomma mengenai waktu membuatku benar – benar ingin menagis. Apakah waktu bisa mengukur segalanya? Apakah waktu bisa menentukan kualitas?

Aku berlari terombang – ambing tanpa arah bahkan aku lupa bagaimana caranya sehingga aku bisa tiba di kamarku dengan selamat.  Sebuah pintu menjulang dihadapanku dan bodohnya tanpa mengingat lagi mengenai fungsi pintu itu, aku menarik gagangnya.

Alih – alih sampai di kamarku dan sebuah spring bad empuk tersedia didepan mata, aku dihadapkan pada situasi dimana gelap gulita  menyambutku dengan senyuman pahit.

Aku lupa bahwa kami baru saja pindah rumah, dan tata letaknya bukan lagi kamarku yang berada disamping ruang tamu melainkan sebuah tempat dimana  bangunan ini terhubung dengan dimensi lain.

Singkatnya, aku membuka pintu yang salah. Ini pintu keluar.

Eomma mengejarku dengan helaan napas panjang, “Kau mau kemana? Apa diluar adalah kamarmu?”

Aku membatu karena tidak tahu mesti bagaimana. Menutup pintu yang terlanjur kubuka lalu berbalik menuju kamarku sama saja  dengan  membenarkan isyarat bahwa baru saja aku salah membuka pintu dan hal tersebut pastilah berakhir menjadi bahan tertawaan. Sialnya, Eomma seolah bisa membaca pikiranku. Meski tak melihatnya aku sudah  bisa meramal bahwa kali ini Eomma menatapku dengan sinis. Pantang mundur,  aku tidak akan membiarkan kekalahanku berakhir dengan cara seperti ini.  Mungkin inilah jalan takdir, aku harus membuktikan pada Eomma bahwa aku bisa mengatur hidupku sendiri. Beberapa saat melalui pertimbangan singkat aku berkata dramatis, “Aku lelah, aku lelah dengan sikap Eomma yang terlalu mencampuri urusanku…”

“Sooyoung-ah—”

“Biarkan aku pergi setidaknya malam ini, jangan mengejarku. Aku bisa menjaga diriku, Annyeong.”

“Yak.. Yak mau kemana kau?!” Eomma berteriak dibelakangku. Aku melangkah tak gentar dan bersikap tak acuh padanya.

“Terserahmu mau kemana?! Pergilah semaumu?! Ka ! Dan Jangan kembali sebelum kau berubah pikiran?!” Eomma berteriak  lagi tanpa beban. Eomma sepertinya tersinggung karena aku tak menggubrisnya. Eomma bahkan tidak menahanku atau apa…

Pasti Eomma berpikir bahwa aku akan pergi ke rumah Halmoni, seperti beberapa waktu lalu saat aku mencoba kabur dari rumah. Rumah halmoni tidak jauh dari sini, dan kupikir aku juga akan kesana sekarang.

Tapi… tapi keraguan menyelumuti pikiranku. Aku galau.

Helaan napas kasar lolos dari bibirku yang pucat. Malam ini… Malam dimana aku menjauh dari rumah. Disepanjang perjalanan, kedua mataku tidak bertemu dengan sang rembulan. Benda bulat yang selalu kunanti – nantikan itu masih saja  asyik bersembunyi dibalik awan, tanpa menghiraukanku sedikit pun.

Malam ini aku benar – benar sendiri.

………………..

Suara angin berlalu mengalun sempurna dalam pendengaranku. Aku berjalan menerobos udara dengan pandangan melayang – layang. Tak ada cahaya menyilaukan didepan sana. Hanya  tersisa jalanan lebar yang membentang untuk kulalui. Gelap, hitam dan kelam, aku benci kesunyian seperti ini. Aku ingin memasang bola lampu didalam kepalaku agar bisa berpikir jernih  bagaimana pun caranya, karena aku tak  berniat  runtuh disini karenanya. Hidupku nyaris kacau…

Aku memikirkan sebuah refleksi. Haruskah terus – menerus seperti ini? Haruskah aku menelan harapan palsu darinya? Atau haruskah aku menukar orang – orang yang kucintai demi seseorang yang bahkan tidak jelas batang hidungnya? Tidak.

Aku bergeleng seraya memikirkan kejadian – kejadian tidak penting yang kulalui selama ini. Aku berusaha mengisi pikiranku dengan apa saja, tidak akan kubiarkan pikiranku ini kosong belompong. Meski sulit aku bekerja  keras untuk menutup segala akses dikepalaku. karena disaat pikiranku menciut, sosok Siwon akan  diam – diam menyelinap kedalam fantasiku dan berakhir menjadi hayalan gila yang terkubur sia – sia.

Masih berusaha menghapusnya pikiranku berputar. Bagaikan mantra, nama itu berulang – ulang muncul didalam kepalaku yang mulai berdenyut. Aku nyaris ambruk,  Kedua mataku memejam kuat, rasanya sakit. Hati ini rasanya tercabik cabik oleh ribuan jarum dan seluruh anggota tubuhku menolak apa yang kuperintah. Melupakan orang itu. Mereka semua berkhianat. Aku terguncang bahkan bumi seolah menolakku melakukan hal itu… menghapus namanya…

Siwon, Choi Siwon….

‘Kenapa rasanya sulit? Kenapa rasanya sulit  untuk kumusnahkan?!’

“AKHHHH…”

Rambutku porak – poranda. Ini melelahkan ! Aku bosan, aku bosan meratap kepada bayangannya yang paling kubenci. Bayangan itu, aku membencinya ! Aku benci terpenjara oleh sosoknya yang selalu hidup dalam benakku ! Aku benci karena ia tampak sungguh nyata ! Dan Aku benci karena Ia sama sekali tak bisa kusentuh !

Aku benci tidak bisa melihat seorang namja selain dirinya ! Aku benci menyadari kenyataan bahwa tidak ada seorang lagi yang bisa menembus hatiku selain dia, aku benci karena dengan seenaknya, tanpa sepatah keyakinan  dia bisa membuatku bertahan dengan keputusanku menunggunya tanpa kepastian,  aku benci menyadari bahwa aku  mencintainya sampai mati dan aku sungguh membencinya !

Napasku tercekat. Kedua kakiku tak sanggup lagi menopang berat tubuh ini beserta beban – beban yang ditanggungnya. Aku berjongkok dipinggir jalan, tiba – tiba lupa bagaimana cara hidup dengan normal. Aku frustasi bahkan  untuk melihat dunia. Kusembunyikan wajahku dibalik sepasang kaki yang menekuk prihatin.

“Seorang gadis berjalan ditengah malam.” Memecah sunyi, suara itu menggema disekujur tubuhku. Ada yang aneh. Tepakan kakinya wangi tubuhnya…

~DEG~

Aku mendongak dan disaat itulah bumi seolah berhenti berputar. Waktu urung membiarkanku berpindah dari wajahnya. Seluruh pergerakanku terkunci hanya untuk memastikan bahwa seseorang dihadapaku benar adalah dia.

Choi Siwon

Aku tak mau percaya bahwa yang kudengar barusan adalah suaranya. Dadaku  terhimpit menyadari  bahwa semua ini memang nyata. Mematung tanpa berkedip, Isakan kecil dari bibirku membawa kehangatan perih menyusup kedalam mataku yang payah.

“Kalau aku penjahat, aku bisa menculikmu.” Ucapnya dengan senyum yang sudah lama kunanti. Aku selalu mengiginkan senyum itu, senyum yang akhirnya tumbuh dikepalaku dan berkembang sampai sekarang, tapi…

‘Salah Siwon-ssi, Kau memang penjahat, kau jahat karena sudah menculik jiwaku selama ini.’

“Aku menelpon Kyuhyun dan dia memberitahuku alamatmu yang baru, kupikir dia membohongiku, rupanya tidak, jadi rumahmu pindah ke kawasan ini?” Sekali lagi suaranya berterbangan. Kupikir tak ada reaksi yang bisa kutunjukkan, tapi akhirnya aku mengangguk, sebatas mengangguk selagi berpikir, Kyuhyun? Dia memberitahunya?

 “Aku ingin membawamu kesuatu tempat.” Tanpa bertanya lebih dulu mengenai kenapa aku berakhir menggenaskan dipinggir jalan  atau bertanya apakah  aku masih ingin hidup atau tidak karena berjongkok seperti orang gila, namja itu mengutarakan sebuah ajakan yang membuatku bingung.

Aku mengernyit mencerna ajakannya, “N-nde?”

“Mari pergi, ke tempat yang jauh.” Dia menyambar. Aku terdiam. Yang tinggal dipikiranku kala itu adalah Siwon punya sesuatu dibalik matanya.

 “Kau percaya padaku, kan?” Dia tersenyum, lagi.

Dan Ya, aku percaya. Sangat percaya. Bahkan seandainya Siwon berniat melemparku ke dasar jurang, aku tetap percaya bahwa ia akan menemuiku di surga.

Sebelah tangannya terulur. Lantas aku menggapainya dengan yakin. Segera aku berdiri. Aroma tubuhnya yang khas menyambut kebangkitanku.

Tatapan kami bertumbuk. Tungkai – tungkai energi yang patah, satu – persatu tumbuh dan bersatu membangun kekuatan. Hadiah yang dikirimkan Tuhan untukku ditengah malam keputusasaan.  Aku menerima tiang penyanggahku.

Dia kembali, napasku kembali dan aku hidup.

Siwon membelai kepalaku. Helaan napasnya memanjakan wajahku. Kehangatan yang lahir diantara kami berpendar merasuki urat nadi.  Tanpa peduli resiko dicampakan, Kupeluk dia seerat mungkin, tak akan kubiarkan sehelai angin pun meniup tubuhnya dan menggeser langkahnya  walau hanya sesenti. Akan kujaga dia  sebaik mungkin, pegang janjiku.

Rengkuhannya mengencang membuat paru – paruku  nyaris berhenti mengolah napas, tapi aku menyukainya, dia membalas pelukanku dan saat itulah aku berani menyimpulkan bahwa cintaku seimbang. Lupakan soal cinta sebelah sisi karena aku tak sempat berpikir mengenai itu. Pikiranku terlanjur buntu dan  melayang  – layang bersama sosoknya.

Betulkah seperti ini, rasanya bernapas dari udara yang ia hembuskan?

Sekian lama aku berpisah dengannya, tidak pernah bertemu dan saling menyapa, namun jauh didalam lubuk hatiku, tersisa ruang untuknya agar aku bisa menjaga dan menumbuhkan rasa kepercayaan itu. Dan kini aku percaya bahwa Siwon punya sesuatu yang disembunyikannya, untuk kebahagiaan kami.

……………….

Aku mengikuti Choi Siwon kemapun, meski aku tidak bisa membaca kemana Ia akan membawaku pergi. Biasanya aku selalu waspada dengan seseorang disampingku meski aku sudah mengenalnya lama, misalnya Kyuhyun. Tapi tidak dengan Siwon, selalu ada ketenangan yang kutemukan disetiap iris matannya yang tajam. Mata hitam yang mendamaikan, aku selalu terhipnotis oleh matanya lebih dulu sebelum memilih untuk percaya, percaya bahwa dia tidak akan menyakitiku walau seujung rambut.

Siwon menghentikan laju mobilnya didepan sebuah bangunan yang  begitu familiar dalam benakku. Karena ini sudah malam, aku sedikit tidak percaya. Sambil memicingkan mata aku menatap bangunan itu dari balik kaca mobil.

“Oppa, a-pa kau tinggal disini—“

“Ikutlah nanti kujelaskan.” Patongnya membuka sabuk pengaman kursi dan menatapku dengan lengkungan bibir yang menentramkan. Lagi – lagi aku terhipnotis dan menurut.

Dari dulu aku selalu curiga, apa Siwon punya kekuatan rahasia untuk meyihir pikiranku? Dan Ya, Aku pikir Siwon memang punya kekuatan aneh, aku tidak tahu apa namanya, namun aku mulai penasaran, apa kekuatan itu hanya mempan untuk memikat  seorang yeoja bodoh sepertiku?

Langkahku mengikuti langkahnya dengan gerakan wajar, akan tetapi ketika aku melihat baik – baik bagunan klasik didepanku ini, pikiranku mulai berantakan. Lalu tanpa sadar  laju langkahku memelan ragu.

“Oppa ini…” Suaraku ikut memelan menatap pintu gereja yang menjulang dihadapanku. Ya Siwon membawaku ke sebuah gereja dan menurutku sudah terlalu malam untuk pergi ketempat ini.

Sebelum Siwon menjelaskan sesuatu, Ia meraih tanganku dan menariknya kedalam. Aku belum sepenuhnya mengerti, pikiranku  masih mengambang namun begitu aku membiarkannya tanpa penolakan, hingga tubuh kami menembus daun pintu.

Berhenti di depan altar, aku menatapnya tidak mengerti, “Besok lusa menikahlah denganku.”

“M-mwo?”  .

Menikah? Aku bergeleng selagi menatapnya. Bagaimana mungkin Siwon berkata segampang itu, bahkan suaranya begitu datar, dia bertahan dengan pandangan lurus kedepan disaat ucapan seperti itu seharusnya  mengudara saat Ia menatap seseorang. Setidaknya Ia menatap mataku sebagai bukti bahwa Ia serius tapi…

“Kau gila !” tanpa aku menyadariya, umpatan seperti itu meluncur begitu saja. Tidak ada yang tersisa didalam kepalaku, disamping berpikir bahwa Choi Siwon memang benar – benar sudah gila. Dia gila karena membuat jantungku porak – poranda, dia gila karena membuat napasku berhenti, dia gila karena ucapannya—yang  bahkan jika itu hanya lelucon— ucapannya itu bisa membunuhku detik ini.

 “Sooyoung aku mengikutimu sejak kau keluar dari rumahmu. Kau tahu? Kita sama –sama kabur dari rumah.”

Meski tatapanku bertepuk sebelah tangan, Aku masih menunggu Siwon  menjelaskan ketidakwajaran ini.

“Apa?”

“Dua minggu lalu aku memaksa mereka untuk memulangkanku ke korea. Aku merasa tidak tega menghabiskan hari – hariku di Jepang. Aku ingin menghabiskan sisa – sisa hidupku di korea.”  Siwon menekuk wajahnya sejenak lalu beberapa saat kemudian Ia mulai berani menatapku. Pijakannya beranjak. Dan kini posisi kami berhadapan.

Sepasang matanya menatapku dan saat – saat  seperti inilah yang kutunggu sejak tadi.

“Sooyoung-ah, aku tidak hanya gila, tapi lebih dari itu.”

Tubuhku mati rasa. Aku tidak mengerti apa yang  diucapkannya sejak tadi. Bohong, aku mengerti hanya saja aku menolak menolak mentah – mentah  pengakuannya.. Menghabiskan sisa waktu? Lebih dari gila? Kalimatnya tidak sesuai persetujuanku. Dia berkata seolah – olah  hidupnya omong kosong…

 “Aku sekarat.”

……….TBC……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s