[ Oneshoot ] FF YoonHae – Leaving to Come Back

yoonhae comeback

Title :  Leaving to Come Back

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah

Genre : Romance

Rating : Pg-15

Udah lama buat tapi baru bisa post sekarang, karena aku juga lupa2 ingat  pernah nulis FF in hehe.

Cerita ini murni karanganku, Sebenarnya  ga punya ide apa – apa, tapi karena udah terlanjur baper jadi waktu itu aku paksain nulis…

Kalau jelek… Ya udah tinggalin aja hehe

~Happy Reading~

Dia bukan lagi seorang pria yang hangat seperti dulu. Mulai dari seminggu yang lalu, dia sudah Jarang mengangkat telepon atau membalas pesan singkat bahkan mulai sering mencari – cari alasan untuk menghindari pertemuan mereka. Sibuk adalah alasan utama. Perangainya berubah dingin dan misterius. Kehangatann yang selama ini dia tunjukkan telah luntur diterpa sinar yang menusuk. Yoona tidak bisa menemukan sinar teduh itu berpendar didalam matanya, kini tersisa sorot mata dingin  yang sekali tatap bisa menghancurkan hatinya. Donghae bukan lagi sosok yang Ia kenal seperti dulu.

Hari Ini Yoona sengaja menemui Donghae, Ia  berusaha menunjukkan perhatiannya kepada namja itu, Mungkin dengan begitu Donghae akan berubah. Yoona tersenyum memasang wajah tanpa beban, lama – kelamaan Yoona seolah terbiasa dengan sikap Donghae yang semakin jarak. Donghae seperti itu bukan berarti ia harus menjauhinya.

Namun tetap saja,  terkadang Ia bertanya – tanya sendiri, “Memangnya apa yang salah denganku, Oppa?”

Yoona menyapa beberapa staff yang menghandle acara pemotretan sebuah produk fashion pria. Semua orang langsung paham bahwa kedatangan Yoona ke lokasi pemotretan adalah untuk mencari Donghae. Mereka sedikit membantu Yoona menunjukkan arah jalan dimana Ia bisa menemukan Donghae. akhirnya Yoona menemukan pria itu. Tampak disana Donghae sedang duduk memainkan ponselnya. Salah seorang stylish wanita sedang membantu merapikan rambutnya. Meski pun Yoona hanya bisa menemukan punggung Donghae, Yoona benar – benar yakin kalau pemilik punggung tegap itu adalah Donghae.

“Oh ya baby… Oke…  Santai saja aku tidak akan mengecewakanmu… Hmm kalau begitu bagaimana dengan sebuah kamar hotel…  berdandanlah yang cantik, haha… baiklah, aku memang tidak bisa membantahmu, saranghae Miss Hwang…”

“Oppa.” Yoona berdiri dibelakang Donghae, menatap tanpa berkedip.

Donghae tersentak, “Yoong- sejak kapan kau berdiri disana?”

“Sejak tadi.” Jawab Yoona, “Aku lihat Oppa sedang serius menelpon jadi aku tidak berani menganggumu.”

“I-itu…” Donghae berusaha menjelaskan sesuatu. Namun sebelum Donghae menjelaskan apa pun Yoona lebih dulu menarik bangku yang menganggur didekat mereka, mengarahkan bangku itu kehadapan Donghae lalu duduk diatasnya.

“Hari ini temani aku bertemu teman – temanku ya, temanku mengadakan pesta ulang tahun dan Ia memintaku datang bersamamu.”

Donghae berdecak, “Yoona, kau tahu akhir – akhir ini jadwalku padat jadi—“

Bibir Yoona mengerucut kecewa.

“Yoona bisakah kau belajar mandiri? Selama ini aku selalu menemanimu kemana – mana, bahkan aku sering berjam – jam menungguimu di salon, menemanimu makan siang, dan baru – baru ini menghabiskan waktu bersamamu ke taman bermain. Semua itu aku lakukan sampai harus mencuri waktu disela jadwalku.…”

Donghae menghela napas dan menatap Yoona serius, “Sesuatu yang bisa kau lakukan sendiri lakukanlah sendiri.”

“Baiklah arasseo arasseo aku memang  tidak bisa mandiri, tapi kali ini aku tidak bisa melakukannya sendiri.  Apa kau akan membiarkanku menjadi obat nyamuk diantara pasangan – pasangan di pesta ulang tahun temanku? Sekali ini saja jebal temani aku ya? Ya?”

Yoona menegdip – edipkan matanya yang membola dengan binar – binar aneh. Bola mata Yoona yang jernih berhasil membuat Donghae tidak bisa bergerak ditempatnya. Sorot mata Yoona bagaikan membelah – belah hatinya menjadi potongan – potongan kecil,  Donghae merasa tidak berdaya.

“Baiklah, tapi ini yang terakhir Yoong.”

Yoona tersenyum senang. Tangannya menari- menari kegirangan. Sedangkan Donghae menatap Yoona nyaris tanpa ekspresi, kelihatannya Donghae sudah kehabisan akal untuk menghindari Yoona dan membuat gadis itu berhenti dari sikapnya yang suka bergantung dengan orang lain.

“Nde, aku janji ini yang terakhir Oppa.” Yoona memastikan dengan senyum penuh arti.

…………..

Donghae memarkirkan mobilnya didepan gedung apartemen Yoona. Ia hanya duduk merenung didepan bangku kemudi. Ia melirik jam tangannya, sudah lima belas menit Ia menunggu tapi Yoona tidak muncul, Ia mendengus. Biasanya kalau sudah seperti ini Donghae akan datang menghampiri Yoona didalam apartemennya dan membantu gadis itu membereskan masalah yang membuat waktunya terbuang, misalnya Donghae beberapa kali mencarikan sepatu Yoona yang entah dimana. Namun begitu Donghae tidak akan  melakukan hal semacam itu sekarang. Cukuplah Yoona menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tiba – tiba ponsel Donghae berbunyi. Pesan singkat dari Yoona.

“Oppa, aku pergi duluan ke café tempat diadakannya pesta ulang tahun itu. Tadi aku mampir ke salon bersama temanku, kami langsung pergi kesana. Oppa menyusul Ya? Maaf aku tidak sempat memberitahumu, aku menunggu kedatangangmu Oppa.”

Donghae mendengus. Ia sedikit merasa dipermainkan. Apa maksud Yoona memintanya datang kemari tadi siang kalau ujung – unjungnya seperti ini ?

Roda mobil Donghae berdecit nyaring. Ia melesat pergi dari sana dan mengarahkan stir mobilnya menuju sebuah kafe dimana acara ulang tahun itu diadakan.

Suara musik menghentak telinga langsung menyambut kedatangannya. Kelihatannya café ini telah disewa khusus untuk acara ulang tahun. Begitu banyak kerumunan muda – mudi  yang sedang menari ditengah ruangan bahkan dengan ritme tarian yang sangat ektrim. Sebuah kafe berhasil di sulap menjadi club malam.  Puluhan lampu sorot berpendar kemana – mana ditengah kegelapan. Donghae juga beberapa kali melihat sepasang muda mudi yang tengah berpelukan diantara kerumunan itu. Ia mengalihkan fokus perhatiannya. Donghae masih berusaha menemukan Yoona. Ia tidak habis pikir ternyata pesta ulang tahun yang dieluh – eluhkan Yoona berwujud seperti ini !

Sekilas Mata donghae mengarah kepada sosok wanita yang sedang menari bersama kerumunan itu. Tidak butuh waktu lama Donghae langsung mengenalinya. Kian melangkah, Donghae semakin terperangah menyaksikan bagaimana  penampilan wanita itu, dia Yoona.

Penampilan Yoona jauh berbeda dengan hari sebelumnya bahkan saat Yoona menghadiri pesta pernikahan sekali pun. Yoona yang biasanya tampil anggun dengan gaun feminim  kini berubah drastis. Mata Donghae tak bisa berkedip menatap rok mini potongan  lingkar berbahan  oranganza yang dikenakan Yoona. Ban pinggang rok itu jatuh dibawah pinggang Yoona sedangkan bagian  atas tubuhnya memperlihatkan bustier yang panjangnya sekitar sesenti diatas pinggang Yoona,  kombinasi busana itu berhasil mengekspos titik pusar Yoona beserta  lekukan tubuhnya. Donghae juga tidak melewatkan rambut Yoona yang tergelung  kebelakang begitu saja. Model rambut seperti itu sukses mempertajam tengkuk Yoona yang mulus.

Rahang Donghae mengeras, melihat bagaimana seorang namja yang entah siapa menjalin eye contact dengan Yoona seolah mereka saling merindukan. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal, Ia menahan napas penuh amarahnya dan berjalan terburu – buru. Donghae harus menghentikan interaksi mereka sebelum lelaki itu berpikir menarik Yoona kedalam pelukannya… Bayangan gila membuat Donghae hampir meninju wajah lelaki itu, tapi karena Ia masih punya pikiran bahwa tidak ingin membuang – buang uangnya untuk membayar ganti rugi kalau saja lelaki itu terluka, Donghae memilih datang kesana dan menarik tangan Yoona.

“Yoong.” Donghae  memanggil namanya dengan volume punuh, Ia tahu tidak ada gunanya berbicara pelan ditengah suasana gaduh seperti ini.

Yoona berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Donghae, namun tenaganya tidak ada apa – apanya dibanding lelaki itu.

“Yoona kita perlu bicara?”

“Bicara apa lagi?!”

 “Yoona ada apa denganmu? Huh?!”

Yoona tampak tidak terima dengan nada bicara Donghae yang seolah menghakiminya, “Aku? Kau bertanya ada apa denganku?” Yoona berhasil membuang cengkraman Donghae ketika lelaki itu sibuk dengan pikirannya, Yoona menghujam dengan tatapannya, “Harusnya akulah yang bertanya padamu, Kau yang kenapa?! Kau yang kenapa Lee Donghae !” Yoona menghantam bahu Donghae dengan pukulan bertubi – tubi. Lalu gerakannya berhenti mendadak…

“Yoona siapa dia?” Lelaki yang  dirisaukan Donghae berdiri diantara mereka dengan tanpa beban. Yoona menekan deru napasnya yang berantakan lalu menatap lelaki itu dengan sorot mata penuh ketenangan, jauh berbeda saat Ia menatap Donghae.

Sedikit melirik Donghae Yoona menjawab, “Ani Yonghwa Oppa. Dia hanya salah orang.” Usai mengarang cerita Yoona memijit kepalanya yang tiba – tiba berdenyut. Pijakannya limbung. Dan saat itu juga lelaki bernama Yonghwa itu menahan pinggang Yoona.

“Gwenchana?”

Napas Donghae berhembus frustrasi. Ia tidak bisa lagi melihat sesuatu yang lebih dari ini.  Hawa panas  yang tadinya coba Ia redam kini menjalar keubun – ubun. Lekas Donghae menyingkirkan lengan Yongahwa, menatap lelaki itu penuh tekanan.

“Jangan gangggu Yoona, dia kekasihku.” Tukas Donghae menegaskan status Yoona, tidak hanya didepan Yonghwa tapi semua orang yang melihat mereka. Donghae menarik Yoona keluar dari sana. Yoona menunjukkan wajah tidak suka, namun tetap mengikutinya, Yoona ingin melihat apa yang dilakukan Donghae setelah ini.

 Yonghwa  masih berdiri ditempat yang sama,  terperangah menatap kepergian Yoona juga seorang lelaki yang mengaku kekasih gadis itu.

…………

“Aku bisa berjalan sendiri, Lepaskan !” Yoona berontak, Ia  berusaha menghempaskan lengan Donghae yang menariknya hingga  beberapa meter dari kafe. Donghae tidak ingin menyakiti Yoona lebih jauh lagi dengan tarikan dilengannya, Donghae melonggarkan cengkeramannya dilengan Yoona dan membiarkan gadis itu lepas.

Yoona mengatur napas yang tersendat akibat insiden penyeretan itu. Tatapannya berkelana, Ia muak menatap Donghae.

“Apa hubunganmu dengan pria itu?” Tanya Donghae mengintrogasi tanpa basa – basi.

Yoona  menatap Donghae remeh, “Kenapa? Cemburu ya? Kau bisa cemburu juga?—“

“Yoona !”

Ketika Donghae membentaknya Yoona tidak tinggal diam, “Lalu kalau kubilang Yonghwa adalah pria yang dekat denganku kau mau apa, huh? Kau mau kita putus, ya sudah kalau begitu kita akhiri sampai disni?!”

Donghae bergeleng tidak percaya dengan Yoona yang begitu mudahnya mengatakan kalimat terlarang itu.

“Ulangi sekali lagi.” Donghae mengguncang bahu Yoona memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan sadar. Pandangan mata mereka bertemu. Donghae menemukan genangan didalam mata Yoona yang Donghae tahu Yoona juga merasa terpukul mengatakan kalimat perpisahan itu. Donghae tahu Yoona tidak sungguh –sungguh mengatakannya.

Sorot mata Donghae memicing teduh, “Katakan ada apa denganmu, eoh?”

Yoona terkekeh mendengar pertanyaan Donghae, Ia menyingkirkan kedua tangan Donghae yang bertengger dipundaknya, “Sekarang kau malah bertanya, ada apa denganku?” Ia berdecih lalu melanjutkan, “Tidakkah kau senang Donghae? Sekarang kau sudah bebas bertemu dengan siapapun termasuk Miss Hwang dikamar hotel atau apalah.”

Donghae mengernyit bingung. Miss Hwang? Kamar hotel ?

“Kau saja bisa bermain dibelakangku dengan Miss Hwang itu?! Lalu kanapa aku tidak bisa?! Wae?”

Masih tidak mengerti, Donghae berusaha menggali sesuatu dibalik kalimat protes Yoona. Tiba – tiba ia teringat sesuatu.

“Itukah sebabnya kau berubah? Apa kau  sadar kalau sikapmu berbeda selama ini? Kau yang setiap hari menelponku, menanyakan keadaanku, sekarang mana? Bahkan menatap mataku saat berbicara pun kau tak acuh?!”  Cecar Yoona mengeluarkan semua kekesalan didalam dadanya. Ia tidak perlu menimbang, . Yoona tidak membutuhkan penjelasan apa pun lagi untuk menyimpulkan bahwa apa yang terjadi ditengah kehidupan cintanya bersama Donghae, semua sudah jelas bahwa Donghae berpaling darinya. Yoona mendengar sendiri pembicaraan Donghae yang begitu mesra dengan seseorang entah siapa tadi siang. Yoona setengah mati menahan perasaannya saat itu, dan Ia tidak sanggup menahannya lagi hingga detik ini.

“Kau tidak bisa menjawabnya? Jadi itu benar?”  Yoona berkelut dengan prasangka sepihaknya, sementara Donghae terdiam, Ia membutuhkan pikiran yang tenang untuk menjawab ini semua. Menarik napas selagi berpikir, Donghae akhirnya menatap Yoona dengan rasa bersalah, “Yoona Mianhae kalau kau merasa aku berubah… Aku tidak  bermaksud melakukannya , semua demi kebaikanmu, dan ini tidak ada hubungannya dengan Miss Hwang atau wanita lain.”

Yoona meniup ubun – ubunnya. Ia tidak suka mendengar alasan Donghae. Demi kebaikan? Kebaikan apa? Lucu sekali…

“Jangan coba membuat kebohongan apa pun Oppa, itu cuma menambah dosamu.”

“Ini sungguhan.” Sangkal Donghae, “Aku tidak berbohong, Yoona.”

Tidak ada yang mempercayai omong  kosong itu, Yoona ingin membuat Donghae berhenti berbicara kebohongan, namun sebelum itu terjadi Donghae-lah yang lebih dulu membuatnya berhenti berbicara.  Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya. Menjelaskan betapa Ia tidak mau kehilangan Yoona dan ingin terus bersama tanpa harus mengarang sejuta kalimat.

Sementara itu, Yoona belum bisa mencerna apa yang terjadi. Syaraf – syarafnya lumpuh total. Ia tidak bisa bergerak ketika Donghae mendekapnya tiba – tiba seperti ini. Atmosfer diantara mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Yoona berapi – api dan hanya karena pelukan Donghae Ia bisa meleleh secepat ini.

“Mulai sekarang kau harus belajar hidup tanpaku.” Bisik Donghae menyapu sisi wajahnya. Yoona merinding bersamaan dengan sepoi angin yang menerpa.

“Biasakan dirimu untuk makan siang sendiri, berjalan – jalan sendiri, pergi kepesta sendiri…”

“Oppa—“

 “Tiga hari lagi aku akan pergi, menjalankan wajib militer.”

“M-mwo…”

Bagaikan dihantam bunyi petir, degup jantung Yoona berantakan. Tiga hari lagi, seharusnya tiga hari lagi Donghae merayakan ulang tahunnya bukan? Harusnya hari itu menjadi moment bahagia mereka, harusnya dan harusnya. Yoona membekap bibirnya sendiri.

Wajib… militer ?

Dan air mata itu tidak bisa lagi dibendung oleh Yoona. Hatinya sakit mengetahui kabar yang begitu tiba – tiba. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang Donghae memberitahunya? Kenapa Donghae menutup – nutupi rencana ini darinya ?

“Memangnya aku ini apa bagimu?” Yoona mendorong tubuh Donghae menjauh darinya, Ia menuntut penjelasan, “Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang?! Kenapa kau merahasiakannya? Jawab aku Lee Donghae !”

Donghae menenangkan pikirannya sejenak, kebetulan sekali Donghae memang berencana membersihkan kesalahpahaman diantara mereka malam ini, “Yoona, aku tidak ingin kau merasakan kesedihan lebih lama, aku akan pergi memenuhi tugas Negara.  Lagi pula kau butuh  waktu untuk belajar  hidup tanpaku sebelum mengetahui kabar ini, jadi… Jadi aku sengaja menghindarimu, paling tidak seminggu terakhir sebelum hari itu tiba.  Mianhae Yoong.”

Apa pun alasan Donghae Yoona tidak ingin mendengarnya. Kepala Yoona belum mampu menampung kisah penyesalan yang  keluar dari lisan Donghae. Kabar ini membuat kepalanya bagaikan tertikam dari belakang, Yoona tidak menyangka Donghae pergi nyaris tanpa sepengetahuannya…

 “Michyeosseomichyeosseo kau jahat Oppa. Kau jahat !” Yoona mengarahkan pukulannya kepermukaan dada bidang Donghae, pukulannya itu tidak terasa apa – apa ditubuh Donghae. Lelaki itu semakin mengunci rengkuhannya, Ia tidak perduli semarah apa Yoona padanya. Donghae ingin memeluk Yoona seperti ini lebih lama, hanya itu.

……..

Donghae menyusul Yoona yang kini berdiri termenung di pinggir sungai Han. Ia menatap gerak gerik Yoona yang gelisah karena membiarkan kulit mulusnya bergesekan tertimpa angin. Segera Donghae melepas jasnya dan menyampirkan benda itu diatas pundak Yoona. Gadis itu terlonjak baru menyadari bahwa Donghae berdiri dibelakangnya.

Yoona menatap Donghae sekilas, Ia memalingkan wajahnya secepat yang Ia bisa. Tangan Yoona terangkat untuk buru – buru menghapus air matanya sebelum  Donghae melesat kehadapannya dan menyaksikan bagaimana krystal bening itu menetes.

 “Yoona, Mianhae kalau sikapku akhir – akhir ini melukaimu,–“ Donghae meraih tangan Yoona dengan wajah menyesal. Awalnya Yoona tidak suka dengan sikap Donghae tapi mengingat alasan Donghae melakukan hal tersebut, hati Yoona menjadi luluh sedikit demi sedikit. Selama perjalanan mereka ke sungai Han—atas permintaan Yoona—gadis itu berpikir kalau sikapnya selama ini memang sangat bergantung pada Donghae. Mungkin itulah sebabnya Donghae menginginkan dirinya supaya bisa membiasakan diri dan terus  belajar untuk melepaskan rasa ketergantungan itu perlahan – lahan. Yoona menyadari sebagai lelaki Korea selatan, Donghae harus menjalani kewajibannya memenuhi panggilan Negara, mengikuti wajib militer. Yoona tidak punya hak untuk melarangnya…

“Ani Oppa tidak perlu minta maaf lagi atas sikapmu, sekarang aku akan belajar mandiri, aku akan belajar menyelesaikan masalahku sendiri.” Yoona melepas genggaman tangan Donghae untuk beralih mengelus wajah Donghae yang dipenuhi keringat lalu turun menuju dada bidangnya.

Donghae tertegun mendengarnya. Sikap Yoona berubah drastis. Namun jauh didalam lubuk hatinya Donghae senang mendengar keputusan itu . Dibalik sikap dinginnya seminggu ini Donghae juga menderita memperlakukan Yoona dengan tingkanya yang menyebalkan.

Bersikap tak acuh kepada Yoona membuat hatinya sakit, Ia tidak tega melihat kesedihan diwajah Yoona saat ia berakting menjadi pria jahat yang tidak perduli pada kekasihnya sendiri. Tapi Donghae akhirnya bersedia menahan egonya demi kebaikan Yoona, demi agar Yoona bisa belajar hidup dengan tidak terlalu mengandalkannya. Donghae semata – mata melakukan semua itu karena kehawatirannya pada Yoona. Donghae belum bisa membayangkan bagaimana kacaunya hidup Yoona selama Ia tidak ada. Gadis itu terlalu ceroboh. Donghae hawatir Yoona akan semakin menderita menyelesaikan masalahnya jika tidak ada seseorang yang tinggal disisinya, Donghae belum tenang membiarkan  Yoona merasa sendiri dan kesepian. Jadi bagaimana pun Yoona harus terbiasa mengarungi derasnya waktu tanpanya,  Yoona harus terbiasa hidup sendiri, dengan begitu Ia akan terbiasa dengan hawa kesendirian yang  nantinya Yoona tidak akan terlalu menderita ketika Donghae pergi.

Yoona berdiam diri dengan pikirannya. Donghae Menyibak helai helai rambut Yoona yang tertiup angin, lelaki itu menatap Yoona seolah dihadapannya adalah permata berharga yang mudah saja pecah hanya karena tersentuh tangan manusia yang bergerak sembarangan. Donghae menyeka air mata Yoona yang jatuh memenuhi pipinya.

Sebelumnya Yoona tidak sadar bahwa air matanya menetes. Hingga sebelah tangan Donghae membelai wajahnya. Namun semakin Donghae seperti itu, bulir – bulir didalam matanya semakin mendesak terjun. Yoona tidak ingin menahan, penglihatannya terlanjur mengabur. Donghae harus tahu betapa Ia belum sepenuhnya ikhlas dengan kepergiannya, harus.

“Jadi katakan keinginanmu, aku akan mengabulkan keinginanmu, apa pun itu.” Pinta Yoona dengan hati bagaikan tertusuk ribuan jarum. Egonya menolak ini semua. Ia tidak rela kebahagiaan antara dirinya dan Donghae direnggut secara paksa. Tapi sekarang Yoona bisa apa?

Donghae mengangkat wajah Yoona yang lagi – lagi menekuk. Yoona berusaha menyembunyikan bulir – bulir yang menetes. Tapi percuma Donghae terlanjur menyadarinya karena ketika Yoona menundukkan wajahnya bulir – bulir itu juga ikut menetes – netes dan terjatuh diatas rerumputan.

“Kau bertanya apa yang kuinginkam darimu?”

Yoona mengangguk.

Beralih kedua tangan Donghae menangkup kedua sisi wajah Yoona, Donghae mulai hawatir wajah Yoona dua tahun kemudian akan bertambah tirus. Sama seperti Yoona, Donghae pun belum rela berpisah dari Yoona. Donghae merasa dua tahun sangat lama, bahkan sedetik pun menunggu Ia tidak akan bisa bernapas tanpa udara yang dihembuskan Yoona kepadnya.

Perasaan yang menimbulkan keresahan itu membuat Donghae menarik Yoona kedalam dekapannya. Menghirup wangi tubuh Yoona yang menjadi candunya setiap hari.

 “Aku menginginkanmu Yoong, hanya menginginkanmu tinggal disisku,  tunggulah dua tahun lagi sampai aku datang padamu sebagai Lee Donghae yang baru, Lee Donghae yang lebih tangguh dari sekarang.”

Suara Donghae begitu rapuh didalam pendengaran Yoona. Memejamkan matanya, Yoona bisa mengerti  bagaimana perasaan Donghae. Memang sangat berat bagi seseorang ketika terpaksa menerima kenyataan, meninggalkan sekaligus ditinggalkan. Donghae harus meninggalkan kehidupan pribadinya beserta orang – orang yang Ia cintai, selaligus ditinggalkan seorang diri.  Tapi bagi Yoona  meskipun Donghae akan meninggalkannya, Yoona tidak akan membiarkan Donghae merasa ditinggalkan olehnya. Karena dua kali lipat jauh lebih sakit. Dan itu lebih baik jika Donghae bersedia membagi kesakitannya, kepada seseorang. Yoona akan menjadi seseorang itu.

“Tetaplah seperti ini hingga saat itu tiba. Bisakah? Bisakah kau melakukannya untukku?” Ia memohon penuh harap.

Perlahan Yoona mulai menikmati dekapan Donghae yang kian mengencang. Dinginnya malam yang menusuk kulit tubuhnya tidak lagi terasa. Yoona merasa terbang diatas awan ketika Donghae memeluknya sehangat  ini. Begitu menenangkan seolah tidak ada masalah yang terjadi. Andaikan mereka bisa lebih lama berpelukan seperti ini… Namun sebelum itu terjadi Yoona terlebih dulu mengingat sesuatu, sesuatu yang cukup mengganjal pikirannya sejak tadi. Yoona menyudahi pelukan itu sepihak.

“Tapi Oppa…” Yoona menyusun kata diotaknya selagi menatap Donghae pernasaran,  “Kau menginginkan aku tinggal disampingmu, lalu bagaimana dengan Miss Hwang ? Memangnya siapa dia? Saat kau menelponnya kau juga berkata Saranghae…”

Donghae tergelak ringan menatap kecurigaan di mata Yoona. Ia hampir melupakan masalah itu. Sebelum menjelaskan Donghae mencapit hidung Yoona gemas, membuat yeoja itu bertambah sebal. Oh, jadi gadis ini sedang cemburu? Pikir Donghae.

 “Miss Hwang hanya sebatas rekan kerja, lagi pula Miss Hwang itu seumur dengan halmoniku.” Jelas Donghae. Yoona terkejut, tatapan matanya menunjukkan rasa geli, “Lalu kenapa kau memanggilnya Miss Hwang?” Yoona tidak habis pikir.

Donghae menggaruk kepalanya, Ia bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Yoona. Donghae menarik napas, menghembuskannya perlahan.

“Yoona begini, Meski pun aku sudah memutuskan cuti dari pekerjaanku tapi aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan dengannya. Miss Hwang punya sifat yang unik. Beliau adalah wanita tua yang  akan merasa tersanjung jika ada yang memanggilnya dengan sebutan Miss, dan kalimat saranghae… Namun begitu Miss Hwang adalah rekan kerja yang terkenal galak jadi aku berusaha mengambil hatinya agar semua berjalan lancar. Aku harus melakukan itu sebelum Miss Hwang marah – marah dan menggangapku tidak menghargai yang lebih tua. Aku bisa kehilangan gaji tambahanku. Kalau aku tidak sejahtera, kau pun akan repot sendiri.”

Yoona mencerna penjelasan Donghae.  Miss Hwang bukan wanita Tua yang unik tapi, Miss Hwang adalah wanita tua yang menyebalkan karena obsesinya untuk selalu dipanggil Miss dan selalu ingin mendengar kalimat ‘saranghae’ dari semua orang.  Obsesi anehnya itu menyebabkan Yoona—mungkin juga orang lain— menjadi salah sangka.  Apalagi sifat Miss… tidak ! Hwang halmoni yang  entah bagaimana bisa melakukan berbagai cara agar  mereka yang tidak punya kriteria kesopanan menurutnya  kehilangan tambahan gaji, membuat Donghae kelimpungan, tapi…

Yoona mengernyit bigung,  “Eh tunggu… Kenapa juga aku yang repot? Kalau tidak ada tambahan  gaji atau materi, itu urusanmu sendiri,”

Yoona menunggu jawaban Donghae lalu mendengus. Secara tidak langsung Donghae seolah mewanti – wantinya untuk tidak merecoki hubungan antara Ia dan Miss Hwang jika tidak ingin terkena batunya karena lelaki itu akan berakhir  dengan hidup pas – pasan, dan Yoona akan merasakan dampaknya.

“Aku tidak mau kehilangan gajiku beserta tambahannya karena aku sendiri sedang mengumpulkan uang untuk kebahagiaan masa depanku.” Tambah Donghae membuat Yoona semakin penasaran membaca maksunya.

“Lalu?”

Donghae membelai puncak kepala Yoona, menatapnya sungguh – sungguh, sedangkan Yoona Ia terdiam tak berkedip membalas tatapan itu.

“Kau adalah masa depanku,”

Yoona tertegun. Sementara Donghae meraih genggaman Yoona membungkusnya erat dengan genggamannya, menuntun genggaman itu ke tengah – tengah mereka, lantas Ibu jarinya bergerak membelai jemari lentik Yoona.

 “Dan Aku akan melakukan apapun yang bisa kulakukan, demi masa depanku yang  cerah  ini, demi seseorang yang berdiri dihadapanku.”

Baiklah kali ini Yoona tidak bisa membantah jawaban Donghae karena Ia pun menyukainya. Sesuatu bergejolak didalam dadanya ketika membayangkan dirinya  menjadi masa depan Donghae. Napas Yoona berantakan tidak karuan, perasaan senang didalam dirinya membuncah, Yoona ingin menari kegirangan tapi momennya tidak tepat. Pada akhirnya Yoona hanya berdiri kaku seraya mengulang didalam dirinya  Ia adalah masa depan Donghae sekaligus tempatnya kembali setelah pergi jauh menjalani kewajibannya.

Berkelut dengan pikirannya yang menari diatas awan, Yoona tidak menyadari bahwa wajahnya dan Donghae sudah tidak berjarak lagi. Yoona tersentak, Ia agak memundurkan kepalanya kebelakang, namun entah sejak kapan tangan Donghae menahan tengkuknya membuat Yoona tidak bisa menggerakkan kepalanya sama sekali. Satu – satunya hal yang bisa Ia lakukan sekarang adalah pasrah. Lagi pula Yoona menyukai wangi tubuh Donghae yang mendekat kearahnya. Juga nafas Donghae yang berhembus mesra bersama sepoi angin . Yoona merasakan hidung Donghae bersentuhan dengan keningnya, napas lelaki itu berhembus, membelai garis tengah wajah Yoona, hingga turun kebibirnya.

 Yoona membiarkan Donghae menguasai bibirnya. Ia tidak punya kendali untuk mengakhiri permainan ini begitu saja. Donghae memperdalam pagutannnya seolah mendesak Yoona untuk membalasnya.  Meski terpojok Yoona menyukai pemaksaan itu. Ia sedikit membuka bibirnya dan membiarkan kesempatan bagi Donghae. Ditengah permainan mereka Yoona mulai terbang kedalam alam bawah sadarnya bersama Donghae, Ia merasa nyaman dengan posisi mereka yang seperti ini.

Pertemuan itu terlepas begitu saja, suara gemuruh ombak menghentikan kegiatan mereka. Perhatian Yoona teralihkan menuju air mancur jembatan sungai Han yang menyala mengeluarkan cahaya pelangi yang indah. Yoona tak henti – hentinya menatap kagum, pupil matanya membesar selagi Ia memandangi jembatan dihadapan mereka.

Donghae membungkus tubuh dari belakang. Yoona tersentak oleh perlakuan tiba – tiba itu. Pandangan Yoona jatuh kebawah, dan menemukan lengan kekar Donghae melingkar sempurna disekitar pinggannya. Tidak lama setelah itu Donghae meletakkan kepalanya menerobos bahu Yoona yang tampak rapuh. Menghirup aroma yang tertinggal.

“Yoong..” bisik Donghae diikuti suara desahannya.

Yoona menoleh sekilas lalu kembali membuang pandangannya kearah air mancur. Pandangan Yoona tampak fokus kearah air dengan lampu warna – warni,  tapi tidak dengan pikiran dan hatinya. Yoona dilanda kegugupan luar biasa. Mata Yoona menggerling, Ia ragu apakah pikirannya benar ataukah keliru, kehangatan tubuh Donghae yang didatang bersama rengkuhan itu seolah punya maksud tersembunyi.

Yoona tidak tahu kapan persisnya Ia  tiba di apartemen Donghae dan menghabsikan malam panjang mereka berdua…

…….

Donghae menunggu kedatangan seseorang. Tiga hari berlalu dengan  begitu cepat. Hari yang  dipastikan Donghae sebagai awal dari gerbang kehidupan barunya pun tiba. Kini tinggal menunnggu hitungan menit Ia akan memasuki camp militer, namun seseorang yang paling ia nanti belum juga menampakkan batang hidungnya.  Salah satu teman Donghae, Kyuhyun memperhatikan kegelisahan yang tampak jelas sekali dimata teduh itu. Lalu Kyuhyun menghampirinya, menepuk pundak Donghae. Namun lelaki itu bergeming, Ia terus menengok keujung jalan, membiarkan Kyuhyun menebak – nebak sendiri. Dugaan sementara Kyuhyun memastikan kalau Donghae memang sedang menunggu seseorang..

“Yak Donghae—ya ada apa denganmu?”

Donghae manghela napas seraya menatap jam tangannya.

“Kau menunggu Yoona?” tebak Kyuhyun sebelum Donghae menjawab.

Lantas Donghae menoleh dengan tatapan membenarkan.

“Ini hubungilah dia..” Kyuhyun menyodorkan ponselnya. Ia tahu Donghae sudah tak memegang ponsel saat ini. Sejak tadi semalam, Donghae  sengaja menonaktifkan ponselnya dengan alasan tidak ingin membaca pesan  atau mendengar segala bentuk kalimat perpisahan dari teman – temannya yang lain.

“Nomer yang ada tuju sedang tidak aktif…” Donghae mendesah kecewa, ia berharap bisa mendengar suara Yoona tapi yang muncul ditelinganya  justru suara operator.

Berkali – kali Donghae menghubungi Yoona tapi hasilnya tetap sama. Lagi – lagi operatorlah yang menjawab panggilannya.

Donghae bergeleng ketika tatapan Kyuhyun melahirkan sejuta kalimat tanya. Donghae mengembalikan ponsel Kyuhyun dengan wajah kecewa sebagai jawabannya, tak lupa Ia berterimakasih karena Kyuhyun bersedia meminjamkan ponselnya, meskipun tidak membuahkan hasil sama sekali.

“Ah, kalau begitu aku akan mencoba menghubungi Seohyun, dia pasti tahu dimana Yoona saat ini.” Cetus Kyuhyun mengambil inisiatif untuk menghubungi Seohyun, sahabat Yoona.

Dan benar sekali, Seohyun mengangkat panggilan Kyuhyun. Kyuhyun lantas menanyakan keberadaan Yoona padanya. Jeda panjang. Donghae memperhatikan Kyuhyun sedang mendengarkan seseorang diseberang sana berbicara, entah apa yang terjadi wajah Kyuhyun berubah tegang, nyaris temannya itu tidak mengedipkan mata.

“Bagaimana Kyu ? apa yang dikatakannya?”

“Donghae kau harus kuat.” Kyuhyun menggenggam pundak Donghae sekali lagi, tanda penguatan agar Donghae mendengar kabar ini dengan lapang dada.

“Yoona.. Yoona dia..”

Donghae berdecak, “Ada apa kyu? Cepatlah katakan.”

“Semalam dia pingsan karena demam tinggi, sekarang dirujuk ke rumah sakit.”

Pijakan  Donghae lemas, “A-apa?”

Donghae merenung dengan wajah frustrasi. Sosok Yoona tidak ada disini. Donghae hanya bisa membayangkan sosok Yoona dalam bentuk halusinasi semata. Gadis itu jelas tidak akan datang.  Perih yang Ia alami bagaikan nyawa yang  terlepas dari jasadnya.

 Donghae mengusap wajah mencoba memulihkan pikirannya kembali. Namun begitu Ia kebingungan sendiri mengenai apa yang harus dilakukannya saat ini. Donghae ingin berada disamping Yoona dan memastikan kondisi Yoona saat ini tapi keadaannya tidak memungkinkan. Sudah waktunya Donghae pergi menjalankan kewajibannya menuju ke camp militer,  meski pun hatinya ingin sekali berlari dan memeluk Yoona, paling tidak untuk terakhir kali sebelum Ia pergi, tapi tidak mungkin Ia lakukan sekarang, Donghae sudah di ujung jurang untuk  berlindung ketempat yang aman.

Tapi hidup harus menerima, menerima bahwa Yoona tidak disini.

Tibalah saatnya Donghae harus berpamitan dengan ketiga temannya dalam satu management. Donghae memantapkan hatinya sebelum masuk ketempat pelatihan militer. Ia menatap satu persatu wajah teman – temannya. Mulai dari Kyuhyun yang jahil dan bermulut ember, Sehun yang terlalu polos, dan Siwon yang suka tebar pesona tapi sedikit absurd. Donghae akan sangat merindukan mereka, pertengkaran juga canda mereka. Selain para sahabatnya itu Donghae juga akan sangat merindukan seseorang. Donghae akan sangat merindukan sifat manjanya, atau rengekan kekanak – kanakannya yang berisik  apabila keinginannya  tidak terpenuhi. Orang itu adalah Yoona.

Sekali lagi Donghae menatap ujung jalan, bagaimana pun Ia masih berharap Yoona berdiri dihadapannya. Tapi…

Mungkin lebih baik Yoona tidak melihatnya pergi…  Mungkin jauh lebih baik kalau Ia tidak melihat air mata Yoona menetes sia- sia seperti malam itu.

Mungkin, Donghae harus menyerah mengharapkan Yoona disini, memeluknya sebelum Ia berjuang menjalani kehidupan militer.

Waktunya berakhir. Sudah saatnya Donghae bergabung dengan teman – temannya di camp militer. Kyuhyun, Sehun dan Siwon datang memeluknya satu – persatu membuat hatinya perih namun begitu Ia harus terlihat tegar didepan para sahabatnya. Donghae tidak ingin mereka hawatir.

“Selamat berjuang Donghae-ya, kami akan selalu mengingat dan mendoakanmu.”

Donghae tersanjung mendengar kalimat yang dilontarkan padanya, namun ketika mendengar  bahwa yang berbicara adalah Kyuhyun Ia justru tergelak. Apakah mungkin doa mahluk ‘evil’ akan di-ijabah?

“Hyung kami pasti akan merindukanmu.” Sehun menyeka air matanya, Sejak tadi dialah yang paling banyak mengelurkan air mata. Donghae bahkan berusaha menghindari kontak mata dengan sehun karena takut tertular. Namun Kini Donghae memutuskan untuk memberi pelukan terakhirnya untuk Sehun.

 Donghae mundur selangkah demi selangkah, Tangannya terangkat melambai – lambai menandai perpisahan mereka. Sementara disana Siwon, Kyuhyun, dan Sehun menatap dengan nanar. Kontak mereka terputus. Donghae memutuskan berbalik badan,  melangkah dengan cara seharusnya, lurus kedepan. Hingga dari belakang hanya tampak punggungnya yang semakin mengecil.

Donghae memejamkan mata disaat kesendirian itu menemani langkahnya. Bagaikan terkuras habis  bendungan hangat yang sedari tadi mendesak keluar akhirnya meluncur seperti air terjun. Donghae tidak bisa lagi menahannya lebih lama, sepintar apa pun Donghae mencoba menutup – nutupi kesedihannya, perasaan perih itu lambat laun akan menghadangnya juga . Donghae membuang napas berusaha menguatkan hati. Selamat tinggal, orang – orang yang mencintainya selama ini. Mereka, para sahabatnya dan juga…

“OPPAAA !”

Langkah Donghae berhenti tiba – tiba. Pendengarannya menangkap suara seseorang… yang sedang mengejarnya dari belakang, begitulah yang ada didalam pikiran Donghae karena semakin lama bunyi tepakan langkah semakin berlari mendekatinya.

Donghae berbalik. Seketika Ia terbelalak menemukan Yoona. Yoona dengan rambut yang tergerai, Yoona dengan tubuh yang hanya dibalut setelan piama rumah sakit, berdiri didepannya dari jarak  kurang dari semeter. Yoona  tersenyum, wajahnya tidak lagi berbinar seperti terakhir kali Donghae bertemu dengannya malam itu, Yoona yang berdiri dihadapannya kini berwajah  pucat dengan seputar mata  bengkak. Yoona memangkas jarak, langkah kecilnya tersendat – sendat.

“Oppa…”

~Brakk~ Tubuh Yoona terhempas kedalam pelukan Donghae.  Seketika Donghae menahan tubuhnya. Ia tidak menyangka Yoona ada disini, berdiri dihadapannya dengan sisa – sisa tenaga, Melihat dari kondisinya, tidak seharusnya Yoona ditempat ini.  Seharusnya Yoona beristirahat di rumah sakit, bukan?

“Kau lihatkan Oppa Aku kesini seorang diri, aku bisa mengandalkan diriku sendiri… Oppa lihatkan sekarang aku berhasil sampai kemari, …” Bibir pucat Yoona berusaha  mengeja dengan jelas, namun  caranya berbicara  seperti Ia sedang menggumam.

Yoona semakin merosot didalam  dekapan Donghae. Dengan terpaksa Donghae membawa tubuh Yoona  bersimpuh dipinggir jalan berbatu dengan keadaan sama, Yoona meringkuk lemas didalam dekapannya. Lantas Donghae membasuh kening Yoona, ternyata memang benar, Yoona mengalami demam tinggi. Wajah Donghae menggurat hawatir,  “Yoona apa yang kaulakukan… bukankah harusnya kau di rumah sakit ? Kau tahu tubuhmu—“

 “Aku tidak apa – apa.” Jawab Yoona memotong Donghae, lalu memeluk namja itu  seolah tidak sudi melepaskannya,   “Biarkan aku seperti ini kumohon !” Pintanya dengan intonasi gemetar, “ A-Aku disini untuk  bertemu denganmu. Meski pun mereka melarangku pergi, tapi aku berhasil kabur dari rumah sakit.”

Baru kali ini Donghae melihat dengan mata kepalanya sendiri aksi ternekad yang dilakukan Yoona. Kabur dari rumah sakit. Yoona melakukan hal terlarang hanya untuk datang kemari…

“S-Saengil Chukhaeyo, Donghae  Oppa.”

Donghae tertegun. Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Seharusnya Donghae merayakannnya dengan penuh suka cita, dengan sejuta harapan untuk menuju kedewasaan, dengan ratusan kado yang memenuhi kamarnya. Tapi  yang terjadi lebih dari seharusnya, lebih dari istimewa. Hari ini Donghae merayakan ulang tahunnya dengan kado berharga, sebuah kado berisi perjuangan Yoona berlari ketempat ini  ditengah keadaannya yang sedang sakit hanya demi menyampaikan sepatah kalimat, selamat ulang tahun.

Bukan hanya Donghae, Tapi Kyuhyun, Siwon dan juga Sehun ikut terkejut menemukan Yoona  yang tiba – tiba datang dalam kondisi lemah seperti ini. Awalnya mereka ingin melarang dan memberi pengertian agar Yoona tidak menahan Donghae tapi melihat wajah Yoona yang pucat,  mereka tidak tega. Pada akhirnya mereka hanya   berdiri kaku menyaksikan sepasang kekasih itu.

 “Saengil Chukkaeyo.” Ulang Yoona.

Sesaat Donghae menjatuhkan wajahnya hendak menelusuri kondisi Yoona,  bersamaan dengan itu  Yoona mendongak kearahnya  dengan tatapan permohonan, menjadikan sepasang mata mereka bertemu, “Tiga hari aku memikirkan tentang kita. Aku mencoba hidup tanpamu tapi tidak bisa, setiap malam aku menangisimu. Oppa, aku benar – benar  merindukanmu jadi, tidak bisakah kau tinggal sejenak? Biarkan kita merayakan ulang tahunmu bersama.” Tarikan napas Yoona menyempit, Ia berusaha meredamnya dan memohon sekali lagi, “Entah bagaimana penyakit demam ini menyerangku, dan kau tahu? Perayaan ulang tahun yang sudah kupersiapkan selama tiga hancur dalam sekejap, jadi haruskah kau pergi? Bahkan sampai detik ini aku masih bertanya – tanya seperti orang bodoh, apa aku masih punya waktu untuk menahanmu?”

Donghae mencoba melonggarkan jeratan lengan Yoona yang melingkar diseputar pinggangnya namun apa daya, Donghae tidak bisa melakukan apa – apa ketika Yoona justru semakin mengincinya rapat – rapat.

“Yoong—“

“Oppa Kajima.”

 Donghae menghela napas, Ia menangkup kedua sisi wajah Yoona sekaligus menyeka tetes air yang berhamburan dengan ibu jarinya, lalu berujar pelan, “Yoona jangan mengorbankan tubuhmu, kita sudah menghabiskan waktu bersama sebelum ini, kau butuh istirahat.“

Yoona bergeleng, “Aku serius Oppa, aku serius mengatakannya, kajima.”

“Yoona aku sudah disini, aku tidak bisa mundur begitu saja…” Donghae menjelaskan dengan telak. Yoona kalah. Dari dulu belum ada seorang pun yang sanggup menghalangi prinsip Donghae, memulai sesuatu dan lakukan sampai akhir.

Mengigit bibir bawahnya, Yoona mengangguk menelan kekecewaannya sendiri,” Ya, sudah kuduga.” Yoona melepaskan pelukannya dengan sukarela. Pada akhirnya Yoona menjauhkan diri dan duduk tergeletak di pinggir jalan. Tatapannya berubah kosong.

“Yoona Mianhae… Mian.”

Yoona bergeleng pelan menepis air matanya, “Aniya,  kau tidak perlu minta maaf Oppa.”  Sangkal Yoona menarik napas  panjang. Dengan sengaja Ia memaksa  perih didalam dadanya tertekan hingga kedasar.

Yoona merogoh sebuah benda didalam saku piamanya. Donghae mengernyit, sebuah korek gas. Lantas Yoona menekan putaran  benda itu hingga menyembulkan api.

Saengil chukha hamnida saengil chukha hamnida .” Tiba – tiba suasana menjadi ramai. Tiga orang yang sejak tadi asyik menonton acara drama gratisan akhirnya buka suara. Kyuhyun, Siwon dan Sehun bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tak lupa mereka ikut – ikutan duduk di pinggir jalan seperti yang dilakukan Donghae dan Yoona.

Saranghaneun uri Donghae, saengil chukha hamnida.” Usai bernyanyi kegirangan, mereka mulai menggoda Yoona dengan siulan menyebalkan.

Yoona menatap Donghae penuh makna agar Donghae meniup api korek gas ditangan Yoona. Tentu Donghae harus meniupnya sebelum hembusan angin datang dan mengambil alih ritual yang seharusnya dilakukan oleh pemilik hari ulang tahun. Pada akhirnya Donghae menurut, Ia menarik napas lalu meniup korek itu.

“Horeeee.” Kyuhyun siwon Ryeowook kembali bertepuk tangan. Kelakuan mereka seperti murid sekolah dasar yang sedang merayakan ultah temannya. Benar – benar kekanakan.

Perhatian Yoona kembali tertuju pada Donghae. Ia menguatkan hatinya dan kembali berkata,

“Lupakan soal permintaan bodohku tadi. Sekarang fokuslah dengan permintaanmu sendiri.”

Tentu Yoona mengingat dengan jelas apa  yang menjadi tujuannya datang ketempat ini. Membujuk Donghae untuk merayakan ulang tahunnya paling tidak sehari lagi bersama Yoona. Tapi Donghae kekeuh dengan keputusannya, Yoona bisa menduga, Donghae memang keras kepala. Akhirnya perayaan itu tetap terjadi, tanpa kue atau lagu – lagu romantis. Sama sekali bukan sesuatu yang pantas  jika dilakukan pada saat – saat seperti ini. Tapi tidak ada waktu lagi melakukannya. Perayaan ulang tahun terburuk sepanjang sejarah.

Yoona meraih kedua tangan Donghae, Yoona melakukannya dengan sedikit memaksa karena namja itu tidak kunjung beranjak dari posisinya. Kedua tangan Donghae lalu dipersatukannya, usai bertaut sempurna Yoona membungkus genggaman tangan Donghae dengan kesepuluh jemari miliknya.

Kedua mata Yoona terpejam, membayangkan dengan Sirius apa yang tengah diucapkannya, “Berjanjilah akan menjadi sosok yang lebih hebat jika suatu saat nanti bertemu dua tahun kemudian.”

Donghae tersenyum memikirkan tingkah Yoona, tak bosan – bosan Donghae memandangi wajah Yoona yang serius  memejamkan matanya. Pada akhirnya Donghae melakukan hal serupa sebelum Yoona mengamuk, “Nde aku janji, akan menjadi Donghae yang lebih baik dari hari ini.”

Yoona memberikan kepada Donghae sebuah pelukan singkat lalu menunduk menyesal, “Mianhae tidak bisa membawa kue ulang tahun kemari, aku tidak sempat mempersiapkannya, aku benar – benar menyesal,”

“Stt—“ Donghae menahan bibir Yoona yang belum juga mengakhiri penyesalannya. “Yoona kehadiranmu disini sudah lebih dari cukup.” Jelasnya meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dengan semua ini. Donghae cukup bisa membayangkan kondisi Yoona yang tiba – tiba drop semalam, kondisi seperti itu sudah pasti  membuat waktu dan tenaga Yoona terkuras habis. Donghae memang menyukai kue ulang tahun, tapi tidak untuk saat –saat seperti ini.

 “Cha, bangunlah,” Donghae bangkit seraya mengulurkan tangannya kearah Yoona. Yoona membalas uluran itu, diikuti Kyuhyun Siwon dan Sehun yang ikut berdiri. Siwon sempat menpuk bahu Donghae memberi dukungan agar perjuangannya berjalan lancar. Donghae tersenyum sekilas membalas perlakuan Siwon, hingga beberapa saat fokus perhatian Donghae kembali mengarah pada Yoona.

“Yoona sebelum aku benar – benar pergi, kau harus mendengarku baik – baik.” Donghae menyampirkan anak rambut Yoona ke samping telinga lalu berkata, “Ingat, aku hanya pergi sementara, aku tidak selama nya meninggalkanmu, suatu saat nanti aku pasti akan kembali padamu, percayalah Yoona.”

Donghae mengecup sudut bibir Yoona, lalu menyekanya benda ranum itu dengan gerakan lembut,  “Kau hanya perlu bersabar menungguku maka semuanya akan baik – baik saja.” Bisiknnya, sementara Yoona tidak juga mengalihkan tatapannya. Ia memandang lurus kedalam mata Donghae. Yoona tersesat didalam iris mata Donghae yang seperti labirin baginya.

“Kau mengerti?”

Yoona terhenyak, sesaat Ia tidak bisa melepaskan diri mengikuti bibir Donghae yang melengkung sempurna. Aksi diam Yoona itu diartikan Donghae sebagai jawaban pembenaran.

“Jadi sebelum aku pergi?” Donghae menaikkan sebelah alisnya, seraya merentangkan tangannya lebar – lebar, melapangkan dada bindangnya agar Yoona lebih leluasa merengkuhnya dengan utuh.

Mendengar kata ‘pergi’ mengalun dari bibir Donghae, membuat mata Yoona kembali berkaca – kaca. Tanpa menunggu detik ketiga Yoona melemparkan tubuhnya kedalam dekapan Donghae. Dalam sekejap mata seluruh beban didalam hatinya lepas, air dimatanya yang mendesak keluar jatuh meleleh. Yoona tidak bisa menghitung tangisan keberapa tepatnya yang Ia gunakan untuk menagisi kepergian Donghae.

“Kita akan bertemu lagi, Yoong. Percaya padaku.” Suara Donghae menyapu pendengarannya. Detik – detik terakhir sebelum pelukan itu lepas, Donghae menyesap wangi tengkuk Yoona, aroma favorit yang menjadi candunya selama ini, aroma yang menjadi penguat langkah Donghae sebelum mengarungi hari – harinya yang baru.

Rasa tidak rela memenuhi hati Yoona ketika akhirnya pelukan itu terlepas. Yoona ingin merasakan pelukan itu lebih lama lagi, dilain sisi Yoona menyadari posisi mereka saat ini.  Ia harus berlapang dada melepas kepunyaannya yang pergi, pergi untuk sementara. Mereka sudah ditakdirkan.  Donghae akan kembali kedalam pelukannya.

Ingatan Yoona menjentik. Kelihatannya Ia melupakan sesuatu. Hampir saja kesedihan yang menguasai Yoona membuat otaknya berantakan. Yoona merasa beruntung, Ia tidak melupakan tujuan utamanya bertemu Donghae ditempat ini.

Donghae memperhatikan gerak – geraik Yoona. Usai menimbang – nimbang Yoona merogoh sesuatu dari dalam saku piamanya. Sebuah kalung perak. Yoona membawanya ketengah – tengah mereka. Ujung Kalung itu berada didalam kepalan tangan Yoona, sedangkan ujung lain menggantung memperlihatkan sebuah liontin hati berukuran sedang. Donghae memperhatikan setiap bagian dari kalung itu dan Yoona bergantian.

“Sekarang benda ini milikmu.” Ujar Yoona meraih telapak tangan Donghae, membukanya lebar – lebar, meletakkan kalung  itu disana, dan menutup genggaman itu rapat – rapat.

“Saengil chukhaeyo, meskipun tidak berbentuk kado, tapi kumohon terimalah sebagai hadiah ulang tahunmu.” Yoona tersenyum kearah Donghae yang  bergeming ditempatnya. Bibir lelaki itu membuka tapi tidak ada suara yang keluar.  Tatapan Donghae yang belum sepenuhnya percaya mengundang Yoona beranjak menyentuh kepala lelaki itu.  Tidak ada lagi rambut panjang berponi yang memahkotai kepalanya. Kini hanya tersisa rambut bermodel cepak yang membuat Donghae  tampak berbeda.

Donghae menatap sebuah kalung liontin pemberian Yoona dalam genggamannya, Ia tersenyum kearah gadis itu seraya megucapkan rasa terima kasihnya. Beralih Donghae mengecup kening Yoona, bukan hanya sekilas tapi untuk  jeda waktu lama. Donghae tampak begitu menikmati setiap kecupannya ditengah pejaman mata yang terkatup. Setiap detik diantara pejaman mata itu  Ingatan Donghae memutar ulang segala kenangan indahnya bersama Yoona. Diam – diam tangisan Yoona kembali meleleh. Donghae yang menyadari isakan Yoona lantas  menyeka wajah gadisnya. Menatap binar mata Yoona hingga kadalam pupilnya.

Desakan yang muncul tiba –tiba membuat Yoona melingkarkan tangannya diseputar leher Donghae, Ia yang sedikit berjinjit lantas meraup bibir Donghae dan mengecupnya, “Baik – baiklah disana. Jika suatu saat nanti kau merindukanku, kuharap kalung itu akan menjadi penawarnya.” Yoona merapikan seragam Donghae yang sedikit berantakan, lalu tersenyum agar Donghae tidak lagi menghawatirkannya dan bisa menjalankan tugas dengan baik.

Donghae meraih tangan Yoona berusaha mencari penguatan sekali lagi. Waktu memangkas jarak diantara mereka. Dan semakin lama genggaman itu semakin merenggang. Donghae bisa  melihat bagaimana Yoona menyembunyikan tangisan dibalik senyumannya, begitu juga dengan mereka para sahabat Donghae.

Donghae berjalan memantapkan langkahnya. Ia tidak merasakan keraguan apa pun. Ia melangkah dengan sebuah janji, bahwa Lee Donghae akan menjadi seseorang yang lebih tangguh, menjadi Donghae yang baru.

Donghae menengok sekali lagi. Saat itulah terakhir kalinya Donghae menyaksikan mereka yang paling berharga dalam hidupnya melambaikan tangan dari kejahuan sebagai tangan perpisahan. Siwon, Sehun, Kyuhyun dan… Yoona. Satu yang kini disadari Donghae bahwa dimanapun Ia melangkah,  doa mereka akan selalu ada untuknya, sebanyak apa pun jarak yang membentang tapi Donghae bisa merasakan energi mereka menyatu disepanjang aliran darahnya, menyatu   melahirkan irama disetiap degup jantungnya. Karena mereka-lah Donghae yakin sekarang hari – harinya akan menjadi lebih hidup dan berarti.

………..

Donghae merebahkan tubunya diatas ranjang kamarnya. Usai latihan dasar militer yang melelahkan kini saatnya Ia mengistirahatkan tubuh. Tidak seperti dunia keartisan dengan  kepadatan jadwal yang tidak menentu, kehidupan militer membuat seluruh kegiatannya menjadi sangat terorganiasir.

Ditengah keheningan seperti ini, ingatan Donghae berkelana menyibak wajah Yoona, Donghae menyadari betapa Ia merindukan Yoona. Merindukan segalanya, senyuman, tangisan dan juga rengekan manja gadis itu. Donghae tersenyum mengingat semua hal yang telah dilalui bersama Yoona. Untunglah teman sekamarnya sudah tidur, kalau Jonghyun melihat, Ia pasti disangka orang gila.

Tangan Donghae menelusup kebagian bawah bantal yang tengah Ia tiduri. Sebuah kalung liontin perak kini mengantung manis disela – sela jemarinya. Donghae meraih liontin kalung itu, membasuhnya dengan ibu jari dengan hati – hati, entah sejak kapan benda itu resmi menjadi separuh jiwanya. Menatap kalung itu membuat Donghae berpikir, Yoona ada disini, di sampingnya.

Kemudian seperti yang terjadi setiap malam, Donghae mendekatkan liontin kalung itu disamping telinganya, menyimak suara yang berbicara dari dalam sana, menerobos kesunyian.

“Annyeong, langit diatas sana apa kau mendengarku? Aku sedang menunggu seseorang yang pergi memenuhi tugas Negara. Orang itu bilang kalau aku selalu membuatnya hawatir , tapi sesungguhnya dialah yang  pantas dihawatirkan. Seseorang disana… Apa kau tahu? Aku begitu menghawatirkanmu, aku hawatir dengan pijakanmu yang mudah patah  ketika tidak ada seorang pun yang menggenggam tanganmu. Namun begitu tak perlu kau risaukan, aku akan menggenggam tanganmu dari jauh, tidak akan kulepaskan.  Raga kita memang terpisah tapi  jiwa kita telah menyatu dengan begitu indah.  Jaga dirimu baik – baik,  kutitipkan doaku lewat Tuhan yang selalu menyertaimu disetiap napas yang berhembus. Cepatlah pulang dan kembalilah dengan sosok  yang lebih tangguh.  Akan kusimpan cinta dan rindu ini, selalu ada tempat tersindiri untukmu  dihatiku. Saranghae Lee Donghae. Dari kekasihmu, Im Yoona.”

Donghae mengingat saat pertama kali membuka liontin itu. Ketika liontin membelah dua, persisnya disebelah kanan liontin,  Donghae memukan foto  dirinya dan Yoona tersenyum menempelkan sisi wajah mereka satu sama lain. Sementara  disebelah sisi kiri liontin  terdapat tombol kecil yang bentuknya seperti permata bening. Tanpa sengaja Donghae menekan permata itu, dan  tiba – tiba muncul suara seseorang gadis. Donghae terlonjak bahkan teman sekamarnya terkejut karena tiba – tiba saja seorang gadis yang tidak jelas wujudnya berbicara didekat mereka.  Donghae mengerutkan dahi, merasa familiar dengan suara itu, seperti suara Yoona. Setelah ditelusuri Donghae baru menyadari adanya bulatan lubang kecil layaknya  Speaker didalam liontin itu.

Donghae berkesimpulan,  jadi benar. Yoona sengaja merekam suaranya keadalam liontin itu, agar Donghae bisa mendengar suaranya setiap saat, agar Donghae menemukan pijakannya, juga agar Donghae mengingat janji  yang telah diucapkannya…

Pikiran gila memenuhi kepala Donghae. Suatu saat nanti, tepatnya dua tahun setelah ini  Donghae akan berdiri dihadapan Yoona dengan jiwa dan raga yang utuh, kalau perlu Donghae akan membawa Yoona  langsung  menuju ke-pelaminan saat itu juga.

Tunggu saja, Lee Yoona.

………..The End………

Aku ngarang bebas, melenceng jauh  dengan kejadian asli -___- kaaan yang penting judulnya Donghae Oppa wamil dan Yoong Eonni sedih >< gitu aja sih hahaha,  ini hanya sebatas imajinasi semata kok, karena asli aku nulis cerita ini awalnya gak punya ide sama sekali, nulis ya nulis aja, sukur – sukur jadi nih FF,  kalau gak ya dianggurin aja, nyimpennya paling lupa dimana -___-

19 thoughts on “[ Oneshoot ] FF YoonHae – Leaving to Come Back

  1. sulistiowati_06 berkata:

    aku kira donghae ngejauhin yoona selama seminggu itu karena punya selingkuhan, ternyata itu cuma ngebuat yoona biar bisa mandiri tanpa donghae. donghaenya berangkat wamil. jadi sedih kalo inget2 donghae berangkat wamil. ditunggu ff yang married with my best friend chingu

  2. Tya berkata:

    Ceritanya romantis banget
    Sempat salah paham di awal, kalo donghae mulai berpaling, trnyata dy lg menyiapkan mental yoona sebelum menjalankan kewajibannya

    Salut sm kenekatan yoona kabur dari rumah sakit buat menjumpai donghae
    Semoga di dunia nyata hubungan yoonhae semanis di fanfic 😄

  3. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    wooow aku kira awalnya dknghae beneran selingkuh eh ternyata nggak donghae ngekjuin itu cuma pengen ngebiasain yoona supaya dia bisa mandiri.
    yoonhae manisnya, sedih yoonhae harus berpisah sementara. yoonanya uwah hebat lagi sakit bisa-bisanya kabur itu nggak ada yang ngejer yoona apa yah seharusnya ada yang repot yuh unni-unninya yoona kek hehehe.
    yoonhae jjang…

  4. kantimur_11 berkata:

    yoona bener2 keren,dalam keadaan sakit dia masih aja datengin donghae
    andai aja yoona bener2 mau nunggu donghae sampai dia keluar wamil
    ditunggu fanfic yg lain yahh

  5. YH Lulu berkata:

    Ff nya baguuss..
    jadi baper keinget donghae oppaa… T_T
    yoonhae sweet bgt^^ berharap bgt dikehidupan nyata kaya gitu.kkk
    ditunggu thor ff yh lainnya🙂

  6. Sfapyrotechnics berkata:

    Awalnya aku kira hae ada slingkuhan atau masalah gitu shingga mnjauh dri yoong.. Eh ternyata cma buat yoong bisa mndiri tnpa dia nnti.. dan aku jga berfikiran bhwa ini ff akan k jlur(?) wamilnya hae. kan akhirnya bkin mewek dan baper keingat hae..

    Keren eon.. fighting yahh

  7. Ristiafiani berkata:

    Weeeh berasa kek liat mereka reka adegan langsung dong
    sampe baper + nangis juga haha
    semoga dua tahun yg akan dtang mereka beneran bakalan nikah dan hidup bahagia
    nah cuman itu sih harapannya
    gomawo eonni buat good ffnya, ditunggu karya lainnya

  8. Ristiafiani berkata:

    Weeh berasa kek liat reka adegannya langsung dong
    sampe baper + nangis kaya gini haha
    semoga dua tahun yg akan dtang yoonhae bisa nikah dan hidup bahagia
    harapan yg semoga saja bisa terwujud amiin
    gomawo eonni buat good ff ini, feel berasa banget
    ditunggu karya selanjutnya ya

  9. Ristiafiani berkata:

    Weeh berasa kek liat reka adegannya langsung dong
    sampe baper + nangis kaya gini haha
    semoga dua tahun yg akan dtang yoonhae bisa nikah dan hidup bahagia
    harapan yg semoga saja bisa terwujud amiin
    gomawo eonni buat good ff ini, feel berasa banget
    ditunggu karya selanjutnya ya eonni

  10. yoonhae3015 berkata:

    awal awal kirain donghae oppa bakal ninggalin yoona unnie karna punya yang lain eh tapi biar bisa buat yoona unni mandiri.
    ah sempet nangis pad ending endingnya perjuangan yoona unni sungguh luar biasa keren
    ditunggu ff lainnya

  11. Limhyelim berkata:

    Maaf unnie, aku baru sempat membaca ff mu yg ini. setelah membaca ff yg berhubungan dengan wamil, Seketika baper, aku jd merindukan haeppa yg sampai skrg belum muncul juga:(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s