FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 13 )

marry u 2

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Maaf lama, ide ngambang jadi harus bertapa dulu (?)

Maaf juga kalau  ada yang kurang – kurang, aku bikinnya ngebut, nulis cerita seharian, ngedit seharian sampai begadang – begadang, Nah tiba – tiba ditengah proses edit  mengedit kepala ini rasanya pusing sekali baca tulisan yang riweh, jadi kemungkinan masih ada typo yang nyempil atau apalah – apalah…

Okelah dari pada kebanyakan minta maaf, langsung Happy reading aja ya Pyros J

~Happy Reading ~

Bibir Yoona bergetar mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan padanya. Ia bingung harus menjawab apa karena otaknya tiba – tiba buntu. Apalagi ketika Mr Kim memperlihatkan gambar sebuah benda yang mirip pecahan kaca, kepala Yoona serasa berputar – putar seperti dunianya jungkir balik.

“Menurutmu kenapa botol ini pecah?”

Yoona mengalihkan pandangannya kearah Donghae. Mata mereka bertemu, Yoona bisa merasakan tatapan Donghae yang menghangatkan hatinya. Donghae tersenyum penuh keyakinan, mendorongnya untuk berbicara sesuatu.

“Jadi kenapa botol ini pecah?” ulang Mr Kim sekali lagi.

Yoona menoleh sekilas, lalu untuk selanjutnya Ia  kembali  merunduk  seolah – olah hendak menghindari kontak mata dengan seseorang dihadapannya, “Itu—karena terbanting keras.”

“Siapa yang membantingnya…”

“Dia—eh…” Yoona menjawab ragu, Ia berusaha meralat jawabannya namun pertanyaan Mr Kim kembali membuatnya terpatung.

“Apa ada yang terluka?”

Memejamkan mata, ingatan Yoona berkelana. Ia seolah berada ditengah lorong waktu dan melihat segala peristiwa yang dialaminya selama ini hingga ingatannya berhenti didepan serpihan – serpihan beling yang berhamburan. Yoona melihat bagaimana salah satu berandal yang mengganggunya melempar kepala lelaki itu dengan botol minuman dari arah belakang hingga mengeluarkan banyak darah. Dan lelaki itu adalah Donghwa, bukan hanya terluka tapi…

Yoona bergeleng, Ia tidak tahu.

Mr Kim kembali memperlihatkan gambar. Gambar sebuah jalan sunyi, gelap dan sepi. Donghae mengernyit. Ia tidak mengerti dengan maksud lelaki paruh baya itu memperlihatkan gambar yang menurut Donghae biasa – biasa saja.

“Bayangkan apa yang terjadi ditengah jalan ini?”

Pandangan Yoona gelap. Ruang konsultasi yang ditimbuni cat berwarna serba putih, tampak seperti neraka didepan matanya. Tubuh Yoona terbakar oleh kilas balik peristiwa itu. Ditengah jalan sunyi gelap dan sepi segalanya dimulai, dan perbuatan tidak menyenangkan yang Ia dapatkan ditengah jalan itu telah merubah hidupnya, membuatnya seperti orang gila hingga Ia sampai dianggap gila karena terus menerus mengurung dirinya, Ia merasa ketakutan bertemu dengan siapa pun, hingga yang dilakukannya saat itu ialah membekap tubuhnya sendiri dipojok ruangan.

Lagi – lagi kepala Yoona berdenyut. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri, Seluruh tenaganya seolah dikuras habis. Entah bagaimana dunia terombang ambing seperti halnya kapal tertimpa ombak, terakhir kali Yoona menangkap bayangan Donghae, setelah itu gelap.

Tubuh Yoona lunglai dan terjatuh begitu saja diatas pundak Donghae. Donghae terkejut dengan perubahan situasi yang tiba – tiba. Ia tidak pernah berpikir bahwa pertanyaan seperti itu akan sangat menyakiti Yoona sampai sejauh ini.

“Yoona… Yoona.” Donghae menepuk – nepuk pipi Yoona namun yeoja itu tidak juga membuka mata, hanya bibirnya yang bergerak – gerak kecil dan mengeluarkan segumam kalimat yang tidak jelas. Donghae tidak mengerti, apakah gambar – gambar tadi begitu menakutkan?

“Meski bagimu semua gambar itu wajar tapi baginya tidak.” Ujar Mr Kim tiba – tiba, seolah Ia membaca pikiran Donghae.

“A-apa?”

“Selama ini Yoona-ssi hanya mencoba mengindari masalahnya, ketika masalah itu datang kembali Ia menjadi ketakutan dan kelabakan seolah – olah benda – benda atau peristiwa – peristiwa itu datang menghantuinya. Itu  karena selama ini Ia hanya bisa bersembunyi. Yoona harus diajari mengatasi masalah bukan menghindar atau semacamnya, Yoona harus diingatkan terus – menerus dengan sesuatu yang menerornya agar dia terbiasa.” Jelasnya menjawab pertanyaan diwajah Donghae. Lalu Mr Kim memajukan wajah serius untuk memperjelas kata – katanya.

“Ada kalanya seseorang cenderung memendam perasaan  traumanya hingga jauh kedasar untuk menghindari rasa sakit, sadar atau tidak sadar, dipermukaan dia akan terlihat baik – baik saja. Namun trauma model ini seperti bom waktu. Bila dikemudian hari terjadi sebuah peristiwa yang mirip, maka monster yang tertidur akan bangkit dan mengobrak – abrik segalanya. Dampaknya sendiri bersifat jangan panjang.”

Donghae terdiam. Ia mencerna dengan sangat dalam apa yang dikatakan Mr Kim. Yoona memang tampak normal – normal saja selama ini sebelum Tuan Im datang menjemput dan menyuruh anaknya menikah dengan Shinjung untuk membayar hutang dimasa lalu. Kemudian Shinjung berkeliaran disekitarnya, berandal itu mulai mengusik hidup Yoona dan melakukan sesuatu yang membangkitkan monster dalam diri Yoona.

Donghae menyesal, Ia menyesal tidak mencari tahu mengenai masa lalu Yoona saat pertama kali Yoona menginjakkan kaki dihadapannya. Sejak pertama Donghae terlanjur menyukai sikap Yoona yang polos hingga Ia tidak menyadari keanehan didalam diri yeoja itu.

Menatap sekali lagi sesosok wajah yang tampak gelisah didalam mimpinya, mungkin saja sekarang Yoona sedang melihat sesuatu didalam mimpi buruk masa lalunya. Memang benar dampak dari pelecahan itu akan bersifat jangka panjang, tapi Donghae yakin ada jalan keluar untuk menghapus ingatan buruk itu, pasti.

“Aku hanya ingin mengetesnya. Kulihat keadaannya yang sekarang tidak separah dulu, Yoona tidak lagi  berteriak sewaktu menjawab pertayaanku, Yoona terlihat jauh lebih tenang. Mungkin karena Ia merasa nyaman didekatmu. Ini jauh lebih baik, mengingat ia juga sedang mengandung ada baiknya Yoona dijauhkan obat – obatan anti depresi.”

Donghae menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu separah apa kondisi Yoona dulu, yang Ia tahu  hanyalah kondisi Yoona yang sekarang, rapuh dan tertekan.

“Namun begitu Kau harus lebih bersabar, mungkin selama ini perasaannya menjadi sangat sensitif, seperti perasaan curiga yang berlebihan terhadapmu atau cepat tersinggung, tapi itu semua karena Ia merasa takut kebahagiaannya pergi untuk kedua kalinya setelah kejadian itu… ah dan yang terpenting  Donghae-ssi, kau harus terus mengawasinya, jangan sampai dia berbuat nekad—“

Sontak Donghae mendelik. Ia menunggu Mr Kim melanjutkan kata – katanya. Dan Ia berharap ini bukanlah sesuatu yang buruk.

“Ah tapi itu hanya perkiraanku saja, jangan terlalu dipikirkan.” Lanjutnya kemudian tersenyum menenangkan seolah semuanya baik – baik saja. Namun begitu Donghae tidak bisa berhenti memikirkan kata – katanya…

………….

Menendang kerikil yang tergeletak didepan kakinya, Yoona menatap bagaimana batu – batu itu menggelinding hingga akhirnya berhenti. Yoona menghela napas, Ia tidak merasakan sesuatu yang membuat jantungnya berdebar – debar atau semacam itu. Andaikan perasaannya bisa seperti ini kemarin. Bahkan Yoona tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah Ia melihat gambar berisi jalanan sepi dan gelap. Yoona tidak bisa membayangkan apa yang terjadi disana, tidak bisa.

Yoona bergeleng, menepis ingatannya sebelum peristiwa itu menghadangnya kembali. Sesaat Yoona menatap benda ditangannya, semprotan tanaman. Dan Yoona menyadari sejak tadi Ia hanya berdiri mematung ditengah taman pekarangan rumah. Yoona melewatkan tugasnya untuk beberapa saat, dan membaut bunga – bunga disekitarnya menunggu untuk dimandikan.

Yoona beranjak dari keadaan termenungnya, Ia mengarahkan semprotan tanaman itu keberbagai arah. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya mengukir lengkungan halus. Selama Yoona tinggal dirumah keluarga Lee sejak dulu hingga sekarang, kegiatan yang berhubungan dengan tanaman adalah tugasnya. Dan sejak kepergian Yoona bunga – bunga itu tampaknya sudah tidak terawat.  Krystal, anak itu lebih perduli dengan kuku – kukunya.

“Bukankah bunga – bunga ini sangat indah?”

Seseorang berhambur memeluknya dari belakang, Yoona terkesiap. Ia merasakan suara Donghae menggetarkan telinganya, suara tenggorokan yang serak layaknya Ia  baru saja terbangun dari tidur. Yoona kegelian, Ia menoleh sekilas, wajah Donghae hanya  berjarak sesenti dari wajahnya, Yoona bisa merasakan napas Donghae, berhembus teratur bagaikan sepoi angin yang berlomba masuk ke tubuhnya..

Donghae mengencangkan dekapannya, “Bagaimana jika setiap kau berjalan hanya ada bunga – bunga seperti ini yang mengikuti langkahmu….”

“Itu pasti akan  jadi semacam hari yang terindah didalam hidupku.”

“Kalau begitu coba bayangkanlah.”

Donghae mengangkat alisnya ketika Yoona berbalik menatapnya tidak mengerti.  Donghae kembali memandang lurus dengan pelukannya yang bertambah erat, “ Ayolah Yoong, bukankah kau sangat menyukai bunga- bunga ini, hmm?”

“Baiklah, jadi?”

“Bagaimana jika setiap kau berjalan hanya ada bunga – bunga seperti ini yang mengikuti langkahmu….” Ulang Donghae.

Yoona memejamkan matanya, membayangkan seandainya kalimat Donghae benar – benar terjadi. Tentu saja Yoona menginginkan Donghae ada disampingnya. Yoona membayangkan Donghae terus memeluknya seperti ini ditengah bunga yang bermekaran, setiap hari tanpa ada yang satu pun yang mengusiknya. Yoona mengetahui dengan pasti betapa Ia menginginkan kehidupan yang seperti itu, hidup damai tanpa digentayangi kehawatiran apa pun.

“Kau merasa jauh lebih baik?” Udara yang dihembuskan Donghae menyapu permukaan pipinya. Yoona menggeliat, debaran jantungnya menjadi tak beraturan, tapi ini berbeda, bukan debaran yang memusingkan, tapi debaran yang memecah kebahagiaannya.

“Ah kutambahkan lagi.” Donghae menyelipkan wajahnya dengan nyaman disela – sela tengkuk Yoona lalu berbicara dengan hembusan napasnya yang hangat, “Bagaimana kalau setiap kau berjalan bunga – bunga yang banyak sekali itu akan bernyanyi untukmu… bukankah menyenangkan?”

Yoona tersenyum, kemudian dengan matanya yang masih terpejam, Ia mengangguk.

Yoona tidak menghitung berapa lama waktu berlalu, namun tiba – tiba Donghae menempelkan pipinya diwajah Yoona,“Ya, teruslah membayangkannya, tapi jangan lupakan aku.” Donghae meperingati,  terselip nada kecemburuan didalam ucapannya.

Pandangan Yoona lantas mengarah padanya, “Apa?”

“Berikan aku ciuman termanismu.”

Yoona terdiam, Ia berpikir mengenai tingkah Donghae yang kian menjadi. Dari ekor matanya. Yoona menangkap Donghae semakin mendorong wajahnya.  Tentu saja Donghae tidak akan mendapatkannya semudiah itu, Donghae memintanya membayangkan bunga – bunga indah, lalu ketika Yoona mulai merasa nyaman, Donghae mengakhirinya begitu saja dengan rengekan manjanya itu.

‘Sreetttt..’

“Mandi dulu  sana.” Yoona mengarahkan semprotan tanamannya kewajah Donghae. Namja itu terkejut menerima hujan tiba – tiba yang menghantam wajanya. Dan disaat Donghae lengah,  Yoona kabur begitu saja dan berlari ke arah sudut pekarangan. Sesaat Yoona berbalik hanya untuk menjulurkan lidanya kearah Donghae.

Donghae berdesis, Ia tidak menyerah sampai disitu, Ia berlari mengejar Yoona dan berhasil menyergapnya dari belakang. Donghae menggunci lengannya diseputar pinggang Yoona, kali ini Yoona tidak akan bisa kabur, Donghae tidak akan melepasnya meskipun sekarang Yoona sedang  berteriak memohon – mohon  agar Donghae mengampuninya.  Yoona benar – benar takut Donghae akan balas dendam karena ulahnya beberapa saat lalu, jadi Ia berusaha kabur dari jangkauan namja itu. Bahkan semprotan tanaman yang sejak tadi berada didalam genggamannya, kini entah dimana.

“Maaf mengganggu.”  Dua orang pria memakai jaket hitam berdiri dihadapan mereka. Sontak pemandangan yang tadinya ricuh berubah hening.

Donghae menarik tangannya dari pinggang Yoona. Ia melangkah kesamping memberi jarak agar posisi mereka tampak wajar dihadapan dua orang pria yang menatapnya bingung.

“Nde?”

 “Permisi, kami dari kepolisian pusat Seoul.”

Donghae dan Yoona saling pandang. Salah satu dari pria itu lalu melanjutkan,“Apakah benar ini rumah Im Yoona?”

“Iya, itu saya sendiri.” Yoona menjawab dengan suara seramah mungkin. Seraya menyingkirkan pikiran buruk dikepalanya, Yoona berusaha untuk tersenyum, “Ada apa ya?”

“Kami datang kesini untuk mengantarkan surat pemanggilan.”

“Surat pemanggilan?”

“Iya surat pemanggilan terkait kasus Tuan Shin Jung Hee.”

Deg~ Senyum Yoona tiba – tiba hilang, luntur dan hancur. Pinjakannya limbung,  tubuh Yoona hampir saja roboh kalau saja Donghae tidak menangkapnya.

“Ani, aku baik – baik saja.” Yoona menepis kehawatiran Donghae yang kentara. Mata Yoona memejam kuat, tangannya terangkat menekan pelipisnya yang berdenyut. Beberapa saat usai berperang dengan dirinya sendiri, Yoona  berusaha bangkit.

“Bisa bicara sebentar Nyonya ?”

…………………..

Dua orang pria itu duduk di ruang tamu, usai mempekenalkan diri mereka berbicara langsung mengenai inti masalahnya.

 “Shinjung diduga membunuh seorang wanita.” Salah satu dari mereka memulai pembicaraan. Yoona duduk dihadapan mereka, membuang napas jengah. Baru saja Yoona berencana untuk tidak terlibat lagi dengan kejadian atau orang – orang yang menyeret dirinya menuju masa lalu… Namun takdir seolah tidak mengizinkan Yoona untuk memulai cerita yang baru, selalu saja hidupnya terhubung dengan masa – masa mengerikan itu. Bahkan kini Yoona ingin melupakan kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu, saat Ia tidak sengaja melihat sendiri dengan mata kepalanya Shinjung mencelakai seorang wanita. Yoona sudah bisa menduga bahwa ketenangannya tidak akan berlangsung lama usai menyaksikan kejadian yang berhubungan dengan Shinjung.

“Bukti CCTCV memang tidak menjangkau tempat saat Shinjung membunuh seorang wanita, tapi CCTV didekat sana merekam kejadian saat Tuan Shinjung mengejarmu.” Jelasnya lagi. Donghae merenung, sejenak ia menatap Yoona disampingnya. Yoona tidak juga berbicara sesuatu, Ia hanya memandang lurus kedepan.

“Kau adalah satu – satunya orang yang berada ditempat yang sama dengan waktu yang hampir berdekatan, jadi kami memintamu untuk bersedia menjadi saksi dalam kasus ini.”

Donghae memperhatikan bibir Yoona, bergetar namun tetap berusaha untuk membuka. Yoona adalah pusat perbincangan mereka, saat ini kemungkinan Yoona sulit mengutarakan perasaannya mengenai kasus hari itu. Donghae tidak tahu kejadian yang menimpa Yoona sebelum pingsan dan ditemukan oleh Kai disuatu tempat, Donghae hanya tahu kalau berandal yang mengganggu Yoona saat itu adalah Shinjung sedangkan kasus  berandal itu dengan seorang wanita, Donghae benar – benar tidak tahu.

Mungkin… Mungkin itu sebabnya setelah ditemukan pingsan, Yoona menjadi sangat terpukul. Donghae juga ingat kalau malam itu Shinjung menguntitnya. Jadi berandal itu berusaha kabur setelah menghilangkan nyawa orang lain?

“Begini, kami hanya ingin mencari informasi  untuk menguatkan bukti, karena  tersangka sepertinya  melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada Yoona-ssi juga kepada seorang wanita, menganiayanya sampai wanita wanita itu kehilangan nyawa.”

“Kalau Yoona-ssi bersedia memberikan kesaksiannya itu lebih adil bagi Shinjung untuk mendapatkan vonis yang setimpal.”

“Kami menyambut baik panggilan dari kepolisian hanya saja sekarang Yoona—“

“Baiklah.” Potong Yoona. Donghae menatapnya tidak percaya.

“Aku akan memenuhi panggilan itu sebagai warga Negara yang baik.”

“Yoona—“ Donghae menginterupsi, wajahnya mengerut hawatir. Ia tahu Yoona tidak sungguh – sungguh mengatakannya.  Jangankan menjadi saksi, bahkan kemarin Yoona sampai pingsan ketika  diminta menjelaskan sebuah gambar.

“Gwencana.” Putus Yoona meyakinkan lebih kepada dirinya sendiri, meski gejolak didalam dadanya nyaris tidak mampu Ia redam. Ini kedua kalinya Yoona menjadi saksi kasus pembunuhan setelah dulu menjadi saksi dari kasus perkelahian Donghwa dan para berandal yang mengganggunya dimasa lalu hingga menyebabkan lelaki itu tewas.

Donghae menghela napas, merasa serba salah, karena sesunggunya Donghae juga menginginkan berandal seperti Shinjung membusuk didalam penjara, tapi kenapa harus Yoona?

“jadi apa yang harus kulakukan?” Tatapan Yoona menajam, ini yang terakhir kali. Setelah ini Yoona benar – benar tidak akan sudi berhubungan lagi dengan mahluk itu. Ia akan membuat Shinjung menghilang, Yoona tidak akan membiarkan orang itu mengganggu kehidupannya lagi setelah ini.

“Begini, kami akan mendengarkan kesaksian anda dan membandingkannya dengan pembelaan tersangka.”

“Baiklah kalau begitu  lakukan saja.”

…………..

Pandangan Yoona menenelusuri kegelapan diluar sana. Tangannya terangkat menyentuh permukaan jendela mobil dengan ragu – ragu. Sekilas Ia menoleh kearah Donghae, namja itu tengah membuka seat belt-nya. Langit tanpa bintang lebih gelap dari malam sebelumnya, meski cahaya lampu yang menghiasi gedung – gedung itu sama wajarnya setiap hari tapi malam ini berbeda, lebih mencekam.  Malam ini adalah Giliran Yoona memberi kesaksiannya. Yoona tidak berharap lebih, Ia hanya ingin menceritakan semua lalu segera pergi dari tempat ini.

“Yoong kau yakin?” Donghae menatapnya dan tersenyum. Tangan Donghae terangkat mengelus kepala Yoona. Donghae memikirkan keputusan Yoona seharian ini. Dan Donghae memutuskan untuk mendukung apa pun rencana Yoona.

Yoona mengangguk. Yoona memang tidak sepenuhnya yakin, tapi ketika Donghae tersenyum kearahnya, kesejukan rona wajahnya juga ikut mengalir bersama senyum itu, menularkan energy tersendiri kedalam tubuh Yoona. Keyakinan Yoona bangkit sepenuhnya.

“Kau mengenalnya?” Pertanyaan kesekian kali usai penyidik itu bertanya soal identitasnya dan hal – hal umum lain, dan semakin lama pertanyaan penyidik itu semakin mengerucut, jantung Yoona berdebar – debar menunggu pertanyaan selanjutnya, Ia berusaha tampak tenang ketika mengingat kejadian itu, tapi kini keringatnya mengucur deras, bahkan sebelum penyidik itu bertanya mengenai peristiwa sesungguhnya.

Dan tak bisa dipungkiri, ditengah keadaan seperti ini Yoona menginginkan Donghae untuk berada disampingnya, namun kali ini Yoona harus merasakan kesendirian. Kini Yoona hanya duduk berhadapan dengan penyidik itu, sedangkan Donghae, namja itu tengah berada di ruang tunggu, jauh beberapa langkah dari tempatnya berada kini.

“Apakah benar orang ini yang kau lihat?” tanyanya sekali lagi, fokus perhatian Yoona terpecah. kali ini menyidik itu menatap kearah belakang punggung Yoona. Praktis Yoona menoleh mengikuti tatapan sang penyidik.

Kedua mata Yoona terbuka lebar. Seorang namja dengan tangan diborgol yang sedang dipegangi oleh dua orang petugas kepolisian adalah orang itu… Yoona mengatur napasnya saat petugas itu membawa Shinjung kehadapannya. Yoona mensugesti dirinya agar tidak ketakutan didepan Shinjung, ditambah Donghae tidak ada disampingnya. Yoona benar – benar kalut menangkis tatapan intimidasi yang ditujukan kepadanya. Baru sedetik saja tatapan Shinjung membuat Yoona membeku ditempatnya.

“Benar dia orangnya ?” Ulang penyidik itu.

Yoona menatap Shinjung sekali lagi, Ia membuang tatapannya segera lalu mengkonfirmasi,  “Ya.”

“Hubungan kalian baik?”

Menarik napas dan menghembuskannya, Yoona berkata rendah, “Tidak, dia selalu memeras dan menerorku.”

“Kau tahu kenapa dia melakukannya?”

“Mungkin… karena ayahku punya hutang yang banyak dengan keluarganya.”

“Berapa banyak?”

“Itu, banyak sekali apalagi bunganya membengkak.”

“Lalu apa ini yang pertama kalinya Ia melakukan tindak asusila padamu?”

“Tidak, ini bukan pertama kalinya.” Jawab Yoona sedikit enggan, Ia benci mengatakannya, kalimat itu membuat tubuhnya berapi – api.

“Jadi sudah pernah ?”

“Ya, tapi selalu gagal.” Fokus tatapan Yoona menajam kearah penyidik dihadapannnya,  “Aku ingin dia dihukum seberat – beratnya,”

“Seharusnya kau juga pantas dihukum Yoona !” Shinjung berteriak menimpali. Semua mata lantas tertuju padanya. Kecuali Yoona yang benar – benar muak.

“Bawa dia pergi.” Perintah penyidik itu kepada dua orang petugas yang membawa Shinjung.

“Ayahmu punya banyak hutang padaku.”

 “Kau ingin membuatku masuk penjara seperti yang kau lakukan pada  Hyungku dulu. Baiklah lakukan saja tapi jangan salahkan aku kalau setelah ini kau akan gila seperti dulu.”

Teriakan – teriakan Shinjung menggema dari kejauhan. Berusaha tidak mendengarnya, Ia tidak akan terpengaaruh, tapi pada akhirnya…

Yoona menutup telinganya,  “Tutup mulutmu?! Aku tidak gila, kau yang gila?!”

“Nyonya… Nyonya…”

Sang penyidik berusaha menyadarkan Yoona, Ia dilanda kepanikan, pasalnya saksi yang duduk dihadapannya tiba – tiba menangis, memegangi kepala seperti orang frustrasi dan berbicara sendiri, mengatakan sesuatu yang Ia tidak mengerti.

Seorang petugas datang bersama Donghae. Namja itu menghela napas ketika berdiri dihadapan Yoona yang sibuk dengan tangisannya,  Ia sudah bisa menduga sejak awal, Yoona pasti akan seperti ini…

“Aku baik – baik saja kan Oppa? Aku baik – baik saja…” Yoona mendongak dengan mata memerah, air diwajahnya sudah tidak terbendung.

Donghae berdiri kaku selagi menatapnya, “Ya, kau baik – baik saja…” ucap Donghae meyakinkan Yoona, meski yang Ia ketahui tidak sepenuhnya demikian.

Tanpa berkata apa pun lagi, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya. Ketika wajah Yoona mendekap sempurna dipermukaan perutnya, Donghae melingkarkan tangannya, mengelus kepala Yoona sampai benar – benar tenang. Bagaimana pun Yoona tidak boleh seperti ini. Ia harus melanjutkan kesaksiannya. Disaat bersamaan Donghae merasakan pelukan Yoona yang kian mengunci disekitar pinggangnya membuat Donghae akhirnya membatalkan niatnya untuk pergi dari sana, Yoona belum mau melepasnya, itulah yang Donghae pikirkan.

Sementara itu dua orang petugas yang membawa Shinjung mulai jengah dengan tersangka ditangan mereka. Salah satu petugas membuka bui, dan salah satunya lagi mendorong Shinjung kedalam sana, hingga tersungkur.

“Aiishh  dasar berisik ?!” umpat keduanya menatap tidak suka, lalu mereka menghilang. Kini tinggal kesunyian yang berbisik disekitarnya.

 “Ini tidak akan berlangsung lama. Kau  menang sekarang Yoona tapi lihat  nanti kau akan hancur… Ingat itu Im Yoona.” Shinjung menyeringai.

 ……………….

Baru kali ini Yoona merasa senyaman ini, tanpa merasa dikejar – kejar sesuatu atau merasa ketakutan sendiri menyusuri jalan sepi di malam hari. Karena Donghae berjalan disampinya, Yoona merasa dilindungi.

Donghae merangkul pinggangnya dan menarik tubuhnya mendekat, lalu kehangatan mulai merasuk keseluruh tubuh Yoona. Ia tidak lagi mengigil kedinginan meski pun cuaca malam hari mendekati suhu lima belas derajat, ditambah angin sepoi yang menusuk mulai berhamburan kewajahnya, akan tetapi Yoona merasa dunia baik – baik saja didalam genggamannya.

“Ah Yoona.” Langkah Donghae berhenti, membuat langkah Yoona otomatis mengikutinya.

Yoona mengernyit, “Ada apa?”

“Sepertinya aku melupakan ponselku di kedai tadi.” Donghae meringis, Yoona membelalak panik, “Yasudah, ambilah cepat !” perintahnya.

“Baiklah, tunggu sebentar, jangan kemana – mana. “ Donghae beranjak dengan terburu – buru,  Ia mencium kening Yoona sekilas. Yoona terkejut dengan perlakuan itu, Ia mematung ditempatnya.  Mata Yoona tidak henti – hentinya memandangi punggung Donghae menjauh, bahkan ketika sosoknya perlahan menghilang ditengah kegelapan.

Yoona berdiri disamping jalan. Ia terus menghitung dari  angka satu sampai entahlah Yoona tidak tahu. Namun begitu Ia akan terus menghitung sampai Donghae berdiri didepannya.

 “Hai Yoona…”

Yoona mendelik. Ia tidak perlu lagi mengira bahwa lelaki dihapannya adalah Donghae. Sungguh mengerikan. Yoona terlanjur hapal suara itu, dan Ia sudah muak mendengarnya.

Yoona mundur selangkah demi selangkah, “B-bagaimana bisa kau disini?”

“Gampang saja… Kau tahu kan aku punya berbagai macam cara untuk melarikan diri, apa kau tidak pernah mimikirkannya?” Orang itu, Shinjung tertawa bangga. Ia  melangkah mendekati Yoona seiring langkah Yoona yang akhirnya berakhir akibat terhalang oleh pagar taman dibelakangnya.

“Kumohon jangan—“ Shinjung meraih wajah Yoona lalu mencengkramnya. Shinjung mengamati wajah Yoona, sorotan mata berkaca – kaca, hembusan napas yang memburu. Tidak ada yang lebih menyenangkan menenurutnya dibanding melihat itu semua.

“Jangan?” Shinjung terkekeh, “Kau tidak bisa kemana – mana lagi Yoona-ya, sejauh apa pun kau pergi, kita kan selalu dipertemukan, bukankah itu romantis?”

Lalu Shinjung mendekatkan wajahnya, Yoona memberontak sekuat tenaga, kedua tangannya berusaha mendorong tubuh berandal itu, Yoona menendang apa saja, namun bukannya lepas, tenaga yoona habis terkuras, hingga Ia terdiam dan terkulai.

“Kau menyerah?—“

BUG

Samar – samar pandangan Yoona menangkap tubuh Shinjung jatuh tersungkur. Ia belum bisa berpikir apa yang terjadi sebenarnya , karena kini otaknya belum sepenuhnya berfungsi untuk mencerna sesuatu. Yoona hanya bisa merasakan bahwa kini tubuhnya merosot diatas bumi dan tergeletak tak berdaya.

 Yoona berteriak histeris ketika pukulan Shinjung justru mengenai wajah Donghae. Donghae masih berusaha menangkis serangan yang dilayangkan kepadanya, dan sesaat Shinjung kembali tersungkur. Namun tidak bertahan lama. Kedua mata Yoona membola ketika menangkap sebelah tangan Shinjung menggenggam pisau lipat, benda tajam itu disembunyikannya dibelakang punggung. Donghae seolah tidak menyadarinya, Ia tanpa kendali menarik tubuh Shinjung hingga membentur permukaan pagar, dan… greppp

“AKHH…”

Donghae memegangi  perutnya. Darah segat mengalir dari luka tusukan itu. Sementara tidak berhenti sampai disitu Shinjung kembali melayangkan tikamannya berkali – kali hingga Donghae benar – benar roboh.

“OPPAAAA !”

Yoona berteriak tidak percaya. Air matanya tumpah, Ia ingin menyelamatkan Donghae, tapi tubunya mati rasa. Yoona bergeleng, Ia ingin seseorang mengatakan padanya bahwa ini semua hanyalah mimpi, dan sebentar lagi Ia akan terbangun.

Kenyataannya Yoona memang terbangun. Yoona terbangun ditengah kegelapan kamarnya. Pandangan Yoona menyapu sekeliling. Dia tidak berada dipinggir jalan atau di bawah langit gelap, Yoona memaksa otaknya untuk memastikan kembali bahwa Ia benar – benar ada dikamarnya, tertidur diatas ranjang dengan selimut yang membalut tubuhnya.

Yoona bangkit dari posisi baring, Ia memengangi kepalanya yang kini dibasahi oleh kengat dingin. Ditengah heningnya ruangan, debaran jantung Yoona berguncang – guncang, napas memburu seilah baru saja dikejar – kejar hantu. Dan kehawatirannya memang tidak terjadi, karena kejadian mengerikan itu bukan sesungguhnya, kejadian barusan hanya sebatas bunga tidur yang tidak berarti, Yoona mengulang anggapan itu didalam kepalanya, berkali – kali hingga Ia melupakannya.

“Yoong gwenchana?” Seseorang memegang bahunya. Yoona tersentak, lalu Ia menghela napas ketika orang itu adalah Donghae. Yoona tidak bisa menahan tangisannya ketika melihat Donghae baik – baik saja. Perlahan Ia membayangkan bagaimana seandainya kalau kejadian didalam mimpinya memang terjadi, bagaimana kalau Donghae benar – benar terluka. Yoona bergeleng dengan matanya yang kian basah dipenuhi genangan krystal.

“Hush… hushhh ada apa denganmu?”  Donghae menyeka wajah Yoona yang mulai basah tertimbun air matanya sendiri. Sementara Yoona terdiam didalam tangisannya.

Sesaat tangan Yoona terangkat membelai wajah Donghae. Merasakan sentuhan tangannya dikulit namja itu. Yoona takut kehilangannya. Yoona tidak punya kekuatan apa pun lagi kalau Donghae tidak ada disampingnya.

Donghae menatap Yoona, bingung sekaligus hawatir, “Kau mimpi buruk hmm?” tanyanya yang dibalas anggukan pelan oleh Yoona. Donghae benar – benar terkejut menemukan Yoona berteriak lalu menangis tiba – tiba.

Lantas Yoona memeluknya, hingga semakin lama pelukan itu semakin mengencang. Didalam rengkuhan itu,  Yoona menempelkan wajahnya dipermukaan dada bidang Donghae, seolah menginginkan Donghae untuk selalu berada disisinya, bahkan tidak  akan membiarkannya pergi selangkah pun.

“Nde Arasseo, arasseo.” Ucap Donghae menenangkan, meski pun Ia tidak tahu kejadian seperti apa yang dimimpikan Yoona. Tapi mungkin kejadian itu terlalu mengerikan hingga membuat Yoona seperti ini.

“Aku tidak akan kemana –  mana, tenanglah.” Donghae mencium kening Yoona, yang seingat Yoona Donghae pun melakukan hal serupa, didalam mimpinya…

…………

Minggu selanjutnya Yoona harus berhadapan dengan Mr Kim. Kecemasan melingkupi hatinya ketika Ia melangkah ketempat ini. Yoona takut Ia tidak bisa mengendalikan sikapnya, Ia takut hilang kesadaran lagi seperti halnya minggu lalu, kejadian itu terlalu mencekam untuknya hingga membuanya kehilangan napas.

Sampai disana hawa dingin merasuk kedalam kulitnya. Langkah Yoona tiba – tiba berhenti, Donghae menatap penuh tanda tanya, alisnya meliuk penasaran. Ketika Yoona tidak kunjung berekasi, Donghae meraih tangan Yoona lalu menariknya melanjutkan langkah mereka yang tertunda. Yoona tersentak, Ia menatap Donghae yang berjalan dengan pandangan lurus kedepan, seolah tanpa beban. Yoona mengigit bibir bawahnya. Ia kehilangan  rasa percaya diri, Nyalinya hilang bahkan ketika pertama kali menginjakkan kaki diruang serba putih itu.

Donghae berbincang dengan Mr Kim. Yoona tak juga memperhatikan mereka yang tampak sanagt akrab. Yoona hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.

Hingga Donghae meraih tangannya, yang secara tidak langsung meminta Yoona untuk menghilangkan segala kepanikannya. Yoona sekedar membalas tatapan Donghae. Yoona menarik napas dan menghembuskannya, Ia menggaris bawahi, apa pun yang terjadi Donghae akan selalu disampingnya, Yoona sendiri masih tidak yakin apakah sikap Donghae yang seperti itu pantas untuknya, entalah.

Yoona terbaring nyaman diatas ranjang pemeriksaan. Donghae tersenyum memebelai rambut Yoona, kemudian saling menggenggam tangan seolah menguatkan diri masing – masing. Terakhir kali Yoona mengingat Donghae memcium punggung tangannya, mata teduh Donghae selalu membuat Yoona rindu untuk memeluk namja itu sekaligus luluh. Tidak ada perbincangan, hanya tatapan mereka yang saling berbicara.

“Tenangkan dirimu dan fokuslah melihat titik ini,” Mr Kim mengarahkannya melihat sebuah titik hitam ditengah lingkaran labirin. Yoona mengikuti arahannya. Dalam hitungan jari Yoona merasakan kantuk yang berlebihan. Pandangannya mengabur hingga perasaan nyaman luar biasa membawa Yoona terbang jauh seperti berada diatas awan, tubuhnya ringan seperti kapas, dan seluruh beban didalam tubuhnya terangkat.  Sayup – sayup Yoona merasa bahwa kesadarannya jatuh perlahan – lahan seiring dengan kedua matanya yang terkatup…

“Yoona-si, kau bisa mendengarku?” Mr Kim memastikan, Ia mengibas – ibaskan tangannya didapan pasiennya itu.

Yoona bergumam disertai anggukan. Mr Kim menarik napas. Selesai memastikan Ia menatap Donghae dan menjelaskan,

“Donghae-ssi, kau harus siap mendengar apa pun yang dikatakannya nanti. Aku akan melakukan sesi tanya jawab untuk mengeluarkan perasaannya yang tertahan selama ini dan Yoona tidak tertidur seperti kelihatannya, dia hanya sedang relaks, jadi jawaban apa pun yang Yoona berikan, itulah yang sebenar – benarnya.”

Donghae menimbang – nimbang penjelasan Mr Kim. Paling tidak Donghae sudah  mendengar cerita masa lalu Yoona dari orang – orang disekitarnya. Dan sekarang, mungkin saja Ia akan siap mendengar pengakuan itu  langsung dari Yoona sendiri. Tentu saja dengan begitu tidak ada lagi yang ditutup – tutupi Yoona darinya, tapi sesungguhnya Donghae belum siap dengan reaksi tubuhnya sendiri ketika mendengar bagaimana sikap kasar mereka terhadap Yoona. Donghae belum siap membayangkannya sekali lagi ketika Yoona tersakiti dan Ia tidak bisa berbuat apa – apa.

Menarik napas dan menghembuskannya, Donghae mengangguk dengan kehawatiran yang tidak bisa lagi disembunyikannya. Namun Donghae tidak bisa mendur sekarang, Ia sudah membuat keputusan dan apa pun keputusan itu adalah demi kebaikan Yoona.

Mr Kim bersiap dengan catatannya dan sebuah alat perekam, sesaat Ia menatap Yoona intens. Yoona tampak tenang sekarang layaknya benar – benar menikmati puncak alam bawah sadarnya.

“Baikah Yoona, kau hanya bisa mendengar suaraku sekarang. Aku akan bertanya kepadamu mengenai beberapa hal. Katakan apa  yang kau ingin katakan, keluarkan semua perasaan terpendam didalam hatimu  dan jawab aku dengan sebenar – benarnya, kau mengerti?”

Yoona mengangguk pelan. Mr Kim tersenyum, “Baiklah dengarkan aku.”Ucapnya, “Hari ini kau harus melupakan semua masalah yang mengganggummu. Lupakan ketakutanmu, kau yakin bisa melakukannya?”

“Aku— tidak terlalu yakin.” Jawab Yoona.

“Lakukan Yoona, Lupakan, aku yakin kau pasti bisa.”

“Meskipun aku selalu merasa baik – baik saja ketika Donghae Oppa disampingku, tapi aku takut.”

“Takut?”

“Ya, aku takut orang jahat itu kembali dan menyakitinya.”

“Orang jahat? Siapa mereka?”

“Sekelompok orang, mereka benar – benar jahat, aku tidak akan pernah melupakannya.”

“Melupakan apa?”

“Melupakan kejadian itu.”

“Apakah kejadian itu sangat mengerikan?”

“Ya, sangat mengerikan, kejadian yang berlangsung aku menemani Yuri pulang dari latihan menari hingga pukul sembilan malam.”

“Apa yang paling kau ingat?”

“Suara pemabuk itu, dia tertawa didepanku seolah aku lelucon, bau minuman keras yang membuatku ingin muntah, Pecahan kaca berserakan, darah, kegelapan, dan segala bentuk pemaksaan.”

“Bisasakah kau menceritakannya padaku?”

Yoona tidak langsung menjawab, hening melingkupi ruangan itu karena semua orang menunggu Yoona mengatakan sesuatu.

 “Malam itu… “Jedanya sesaat hingga Ia bercerita, “Aku berjalan pulang  bersama Yuri, sedang ada perbaikan disepanjang jalan utama jadi kami memilih jalan  lain. Jalan itu tampak sepi.” Ucapnya.

“Ketika setengah jalan, kami mencium bau alcohol yang sangat menyengat dan rupanya dipinggir jalan Yoojung anak pertama Tuan Shin sedang berpesta minuman keras bersama teman – temannya.”

“Apa yang mereka—Yoojung dan teman – temannya—lakukan kepadamu?”

“Mereka tampak sempoyongan tapi tenaga mereka sangat kuat, seperti kerasukan jin.

“Aku diseret seperti binatang.” Intonasi suara Yoona meninggi, “Mereka menghempaskan tubuhku ketembok, rambutku dijambak hingga rasanya hampir terlepas dari kepala. Mereka bilang kalau ayahku berhutang kepada mereka jadi untuk membayar hutang ayahku itu, aku bisa menyerahkan tubuhku kepada mereka.”

Kegelisahan muncul dari bahasa tubuhnya, “Aku tidak mau.”

“Mereka tiba – tiba marah dan menganggapku gadis sombong.”

“Yoojung mencengkram wajahku dan bilang kalau tidak seharusnya aku berkata seperti itu, lalu tanpa basa- basi Yoojung memajukan wajahnya.”

Mr mengalisa cerita Yoona, kemudian mempertajam suaranya , “Apa yang dia lakukan padamu?”

“Dia memaksaku melakukan—itu—“

“Dan setelahnya?”

 “Tiba – tiba seseorang datang bersama Yuri. Ya, seingatku Yuri memang berhasil kabur tapi aku tidak menyangka dia datang lagi bersama orang itu.”

“Apa yang dilakukan orang itu disana, Dia membantumu?”

“Itu— bukan lagi sekedar membantu, dia telah menyelamatkan hidup dan masa depanku.”

“Kalau begitu apa kalian selamat?”

“Selamat? Hanya aku bersama Yuri tentu saja, aku berhasil diselamatkannya, sedangkan dia, orang itu tidak berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.”

“Boleh kusebut, orang itu Donghwa betul?”

“Iya, dia yang menyelamatkanku.”

“Jadi apakah nyawanya tidak tertolong?”

“Dia kehilangan banyak darah ketika salah satu berandal disana memukulnya dengan botol minuman berkali – kali hingga botol itu pecah berhamburan… Dan setelahnya dia sudah tidak tertolong lagi, mungkin karena kami tinggal di sebuah desa, jadi penanganannya sedikit lambat, tapi apa pun alasannya dia  benar –benar sudah pergi untuk selamanya,  Dia kehilangan  satu – satunya nyawa yang Ia punya karena orang sepertiku…” Kerutan samar muncul didahi Yoona seiring peluh yang membasahi wajahnya perlahan – lahan.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Aku sangat merasa bersalah.”

“Bisakah kau menceritakannya kepadaku, tentang rasa bersalahmu itu? Keluarkan perasaan yang mengganggumu dan setelah itu tenangkan dirimu. Berusahalah Yoona-ssi”

Yoona terdiam cukup lama, “Aku—“ ujarnya menimbang – nimbang sesuatu, hening melanda sesaat hingga suara Yoona menggema, “Setelah aku nyaris mengakhirnya, kenapa seseorang kembali muncul dan berdiri didepanku?  Seharusnya Donghae tidak membantuku, Seharusnya aku tidak disini, Ya seharusnya aku sudah sampai ditempat yang jauh.”

“Bagaimana kalau Donghwa Oppa membenciku karena telah mengacaukan keluarganya? Bagaimana kalau dia melihatku membuat  adiknya terluka?”

“Aku berhutang hidupku padanya dan setelah aku diberikannya kesempatan untuk hidup aku malah menggunakan hidupku itu untuk menyusahkan keluarganya. Dimulai dari Tuan dan Nyonya Lee yang menangggung seluruh beban hidupku, dan sekarang Donghae harus berhubungan dengan para berandal itu… hutang – hutang ayahku benar – benar menyusahkan mereka.”

“Kalau aku bertemu Donghwa Oppa suatu saat nanti apa yang akan kupertanggung jawabkan kepadanya atas hidup yang dia berikan ?”

“Tidak ada… Donghwa tidak seharusnya menyelamatkan seseorang yang akan menghancurkan keluarganya dimasa depan.”

“Seharusnya aku tak berada disini.”

“Mungkin jika Donghwa bisa membaca masa depan, malam itu Ia tidak akan pernah menyelamatkanku dari pemabuk. Ya sudah memang seharusnya dia membiarkanku hancur ditangan mereka.”

“Aku benar – benar merasa bersalah, apalagi Donghae mengingatkanku padanya, tapi aku tidak boleh punya perasaan apa pun.”

Donghae tersentak oleh pernyataan Yoona. Tatapan matanya mengesankan sesuatu.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Donghae akan menderita hidup bersamaku, Tuan Shin pasti akan mengejar – ngejarnya karena hutang Appa, aku tidak mau dia terluka, mereka masih sering kali memerasku, aku tidak ingin Donghae tersakiti karenaku, keselamatannya bisa terancam. Jadi kupikir lebih baik dia mencari gadis lain.”

“Lalu bagaimana kenyataannya?”

“Kenyataannya kami bersama, dan dia benar – benar tersakiti. Dia tersakiti oleh sikapku, masa laluku, hutang – hutang Appa, bahkan Donghae harus berurusan dengan Shinjung, adiknya Yoojung yang saat ini berkeliaran di Seoul.”

“Padahal sejak awal aku sudah memperingatkan diriku sendiri agar tidak mencintainya, tapi semakin hari takdir semakin menghubung – hubungkan kami, hingga aku tidak bisa meredam perasaanku sendiri, aku mulai takut kehilangannya. Ketika sahabat lamanya Jessica muncul ditengah kehidupan kami aku benar – benar membencinya. Aku takut Jessica akan merebut Donghae Oppa dariku.”

“Kau mencintainya?”

“Iya, aku sangat – sangat mencintainya.”

“Lalu apa yang kau dapatkan dari perasaan cintamu itu?”

“Aku merasa berarti. Karena Donghae aku bahagia menjadi manusia normal  yang hidup untuk seseorang, tapi ada kalanya aku berpikir untuk menjauh…”

“Maksudmu?” Mr Kim mengangkat alis, sementara Donghae terdiam menunggu Yoona menjelaskan sesuatu.

 “Semakin terikat dengannya membuat penyesalan itu semakin besar. Aku sudah mengacaukan keluarganya jadi itu lebih baik  jika aku menjauh…”

Mr Kim menghela napas, Ia merenungkan segala yang didengarnya dari cerita Yoona dari awal hingga akhir. Dan berujung pada satu kesimpulan, “Yoona tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi, buang rasa bersalahmu itu.”

“Kau beruntung Yoona-ssi. Kau adalah wanita yang beruntung. Tuhan masih menganugrahkan kepadamu perasaan cinta untuk seseorang, kau harus menjaga dan mensyukurinya. Menurutku kau harus melakukan sesuatu untuk bisa keluar dari lubang hitam yang menjeramu, dan yang harus kau lakukan sekarang adalah—“

Mr mencondongkan tubuhnya dan berkata pelan, “Tenangkah dirimu, hanya itu. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Karena peristiwa yang kau ceritakan sudah terjadi dan sulit bagimu melupakannya, kau harus menganggapnya sebagai sebuah pelajaran berharga. Kau boleh saja menyesal karena menganggap dirimu pernah menghancurkan seseorang dari masa lalumu, itu wajar, tapiada kalanya kau harus menghentikannya sebelum berkepanjangan,  penyesalan akan menjadi boomerang bagi masa depanmu nanti. Berfokuslah  untuk menemukan kebahagiaan, lakukan saja sebisamu, hidup dengan normal seperti dulu.  Ingatlah bahwa orang – orang dari masa lalu, masa sekarang bahkan masa depan, mereka hanyalah orang – orang  yang singgah didalam kehidupmu, pada akhirnya kaulah yang menjadi tokoh utamanya… Kau sendiri yang menentukan akhir cerita hidupmu.”

“Kau harus bangkit dari keterpurukan demi orang – orang yang mencintaumu. Mereka menantikan senyumanmu. Tersenyumlah setiap hari.” Sambungnya penuh nada tekanan, lalu merenung sejenak, sedangkan seseorang yang Ia sebutkan tadi, tetap sama didalam posisinya.

“Yoona katakan kepada dirimu sendiri bahwa hidupmu akan lebih baik dari hari – kehari. Aku tidak menyuruhmu melupakan tapi kau harus belajar menerima, hadapilah masalahmu. Hidupmu  adalah hidupmu. Ia akan terus berjalan. Bukankah Kau ingin menjalani hidup seperti apa yang kau inginkan ? Yoona, belajarlah menerima kenyataan. Semua yang terjadi baik pahit, asam atau manis  punya  cerita berharga . Apa pun yang menimpamu, semua itu diluar kuasamu jadi kau harus yakin pada dirimu sendiri diluar  kesimpulan tentang siapa yang harus disalahkan menyangkut sesuatu diluar keinginanmu karena semua orang menginginkan yang terbaik baginya, tidak ada pihak yang patut disalahkan, karena kita semua sedang berproses menuju level terbaik, dia atau dirimu punya jalan masing – masing, kalian tidak bersama, mungkin itu yang terbaik. Apap pun yang terjadi kau harus  belajar menerima kenyataan.”

Dan terakhir kali Mr Kim menutup sugestinya. Ia memberi jeda panjang agar Yoona bisa mencerna apa yang harus Ia lakukan agar bisa menghapus perasaan negatif yang selama ini bersarang didalam tubuhnya.

 “Kau mengerti bukan? Hidup dengan bahagia.” Mr Kim memastikan sekali lagi. Sedangkan Yoona, usai terdiam lama, Ia akhirnya mengutakan sebuah anggukan paham.

Mr Kim tersenyum puas. Ia sangat yakin Yoona mendengarkan kata – katanya dengan baik. Seluruh nasehat yang Ia utarakan, Yoona pasti bisa menanamkan sekaligus mengembangkan sendiri didalam hatinya. Dilihat dari faktor eksternal, keadaan Yoona sangat tertolong oleh dukungan orang – orang sekitarnya, jadi lebih mudah baginya untuk kembali pulih.

Yoona menjernihkan pandangannya. Sebelah tangan Yoona terangkat otomatis. Ia memijt kepalanya yang mendadak pusing. Perlahan – lahan matanya menajam kearah tembok didepannya. Kemudian pandangannya tersapu menuju sekeliling ruangan. Benda- benda disekitar sana tampak blur termasuk dua orang yang duduk disisi kanannya, seingat Yoona kedua orang itu adalah Mr Kim dan Donghae, Yoona tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas.

“Yoona-ssi kau bisa melihatku? Berapa ini?” tanya Mr Kim menunjukkan jari telunjukkan diantara kedua mata Yoona.

Yoona memicing, Ia butuh waktu sebelum menjawab, “Satu.”

“Baiklah kupikir tidak ada masalah.” Simpulanya, “Bagaimana keadaanmu, apa jauh lebih baik dari sebelumnya?”

Yoona mengangguk otomatis. Yoona melakukannya bukan karena terpaksa, Ia memang merasa jauh lebih baik. Jantungnya tidak lagi  berdebar – debar dan juga kepalanya terasa jauh lebih ringan. Ia tidak tahu kenapa.

Mr Kim tersenyum kepadanya dan juga Donghae bergantian, “Ini kabar baik, selamat ya.”

Mr Kim kembali mengutarakan kalimat motivasi sebelum mengakhiri pertermuan itu. Yoona keluar dari ruangan Mr Kim setengah jam kemudian. Sementara Ia melangkah, Kata – kata Mr kim tanpa henti memenuhi kepalanya, memancing seulas harapan dan keyakinan perlahan tumbuh. Disamping itu Yoona terus memikirkan bagaimana Ia bisa menjawab segala pertanyaan yang  menggali perasaannya dengan tenang, tanpa tangisan atau teriakan seperti biasa. Yoona tidak percaya mampu mengutarakannya sekaligus lega. Dari awal Ia hanya berniat untuk jujur kepada dirinya, terlebih kepada Donghae. Ia tidak ingin merashasiakan apa pun lagi dari Donghae dan sekarang Namja itu sudah mengetahui segalanya. Yoona tidak ingin lagi menyakiti Donghae dengan sesuatu yang ditutup – tutupi.

Yoona melirik Donghae yang sibuk dengan kemudinya tanpa membuka perbincangan apa pun, Sementara ini Yoona belum menangkap adanya reaksi berarti yang ditunjukkan Donghae. Selama perjalanan pulang  Donghae hanya terdiam.

Yoona pikir Donghae akan mengarahkan setir mobilnya menuju kediamannya, tetapi Ia keliru. Donghae  membawa Yoona kesebuah kawasan pertokoan. Yoona mengernyit ketika Donghae memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan, seingat Yoona toko tersebut adalah toko perhiasan langganan keluarga Donghae.

“Pilih yang kau inginkan.”

“Apa?” Yoona belum sepenuhnya mengerti, melalui kerutan didahinya Yoona meminta Donghae menjelaskan sesuatu.

Bukan jawaban yang Ia dapatkan, Donghae lantas merangkul pundaknya membuat Yoona tidak bisa berkutik, “Ayolah tentukan pilihanmu.” Pintanya seraya menjentikkan jemarinya diatas permukaan kaca etalase.

Pada akhirnya Yoona menatap perhiasan yang terpajang didalam etalase. Berbagai bentuk perhiasan memantulkan cahaya keemasan hingga putih berkilau yang berpendar kemana – mana.

 “Aku belum mampu membawamu ketempat yang lebih mewah dari ini, tapi kuharap kau menyukainya.” Ujar  Donghae membuat tatapan Yoona kembali menyerbu wajahnya.

 “Aku menyukainya tapi kenapa tiba tiba­­—“

“Selama kita menikah aku jarang memberimu hadiah.” Potong Donghae. Yoona tertegun mendengar alasan itu.

“A-da sesuatu diwajahku?” Donghae membasuh kedua pipinya bergantian, menatap bingung kearah Yoona, “Kenapa melihatku seperti itu?”

Yoona begeleng, Sesaat Ia menjatuhkan pandangannya. Bukan apa – apa tapi sungguh,  Yoona hanya sedang mencoba menyembunyikan matanya yang menghangat. “Ani, Aku hanya merasa…  tidakkah ini berlebihan?”

“Baiklah kalau kau menganggap ini berlebihan, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih.” Donghae membasuh kepala Yoona lalu beranjak dari posisnya. Yoona terkejut ketika menemukan Donghae sudah berdiri dihadapannya, meraih kedua tangannya, menggenggamnya sungguh – sungguh, dan membawa genggaman itu diantara mereka. Lantas kepala Yoona terangkat membalas tatapan Donghae.

“Terima kasih karena telah memilih tinggal bersamaku, tetaplah seperti ini. Aku yakin bisa menghadapinya kalau itu denganmu.”

Mereka bersitatap dalam diam. Hingga semakin lama sudut bibir Donghae terangkat perlahan – lahan, membuat Yoona akhirnya tertular. Saling melempar senyum itulah yang terjadi. Wajah Yoona memerah. Karena malu dengan situasi seperti ini Yoona sedikit berontak, Ia menghujani pukulan kecil yang bertubi – tubi  kearah  bahu Donghae.

“Baiklah coba kulihat disini.” Yoona mengalikan fokus perhatiannya kembali menuju perhiasan didalam etalase, “Aku akan memilih yang paling mahal, bersiaplah Lee Donghae-ssi.” Ucapanya seraya melihat – lihat. Donghae terkekeh menatap tingkah Yoona, yeoja itu tengah menimbang – nimbang dengan wajah serius. Donghae belum juga melepaskan tatapannya. Ia terhanyut menyaksikan bagaimana bibir Yoona  mengerucut bingung. Kerutan samar terlukis dipermukaan dahinya yang indah. Yoona memiringkan kepalanya ketika melihat sebuah kalung yang terpasang diatas manekin. Yoona seolah bergelut dengan pikirannya sendiri tanpa memperhatikan sekitar, bahkan Donghae belum  sekali pun melihat kedipan mata Yoona ketika sibuk memilah.

“Bolehkah aku melihat yang itu?” pinta Yoona kepada pramuniaga toko yang sejak tadi memperhatikannya. Pramuniaga itu beranjak lalu mengambil benda yang diinginkan Yoona. Seketika wajah Yoona berseri – seri menatap sebuah kalung didepan matanya. Sebuah kalung perak berhiaskan permata kecil berwarna putih yang berjejer membentuk tiga tingkatan dari yang terbesar hingga yang terkecil .

“Bukankah ini bagus?” Yoona mentap Donghae meminta pendapatnya.

Namja itu tersenyum setuju, “Apapun yang kau pakai akan terlihat bagus.”

“Baiklah aku pilih yang ini.” putus Yoona akhirnya. Beberapa menit kemudian kalung itu resmi menjadi miliknya. Yoona lantas meminta Donghae memasangkan kalung permata dilehernya saat itu juga. Bahkan Yoona sempat mencegah sang pramuniaga toko untuk memasukkan benda itu kedalam kotak belundru, Ia bukanlah tipe penyabar kalau sudah menyangkut hal – hal semacam ini.

Keluar dari toko Yoona merasakan terpaan angin segar membelai wajahnya. Serasa menyenangkan sekaligus membuatnya mengigil. Yoona bepikir untuk mencari kehangatan lain. Tanpa menimbang lama Yoona meraih lengan Donghae, merangkulnya tanpa batas kemudian mereka berjalan seperti biasa. Namun ditengah perjalanan menuju mobil, Yoona terpaku. Tiba – tiba saja pendengarannya menangkap sebuah sinyal negatif.  Entah kenapa sejak dihantui ketakuan pasca trauma, perasaan Yoona menjadi  jauh lebih sensitif. Yoona menggerling waspada, Ia merasa ada  seseorang sedang memperhatikannya, tidak tahu siapa, tapi firasat Yoona mengatakan seperti itu.

“Ada apa?” Donghae menoleh dengan alis bertaut. Donghae bingung dengan langkah Yoona yang berhenti tiba – tiba.

“Aniyo, gwenchana.” Sangkal Yoona mengejar Donghae yang berdiri beberapa langkah didepannya, “Aku ingin berkata sesuatu tapi tiba – tiba saja lupa.” Yoona tersenyum memamerkan eye smilenya,  meraih lengan Donghae lalu kembali melanjutkan langkahnya.

“Tapi sudahlah tidak penting juga, kaja.”

……TBC…..

Segini Dulu Ya, Ok Byee ^___^

Keep RCL !

37 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 13 )

  1. tryarista w berkata:

    sedikit lega akhirnya yoona dah jujur pd donghae tntang msa lalunya,,,,,
    pi msih ada aja orng2 jhat dr msa lalunya,,,,

    so sweeettttt yoonhae jgn bkin hdup mereka susah lgi,,,,,kasihan calon babynya ntar kalsu mereka bnyak msalaaaahhhh truz2″an

  2. ina gomez berkata:

    Ya ampun berharap yoona eonni bs cpt smbh dr traumanya pa lg skrg hae oppa dh tau smua jd yoona eonni bs cpt smbh pa lg dgn hae oppa dismpingnya.
    kpn hae oppa ngsh tau lox yoona eonni hamil al y Q tkut nanti byinya knpa2.sp tau dgn yoona eonni tau lox dia hamil yoona eonni bs lbh kuat n cpt smbh krna bt ngelindungi anaknya.
    tu si brengsek kpn matinya si prsaan ganggu hdup yoona eonni trs lo.bkin dia cpt mti npa min hehe…
    ditunggu nextnya min

  3. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    akhirnya muncul juga nih ff…..
    sedih kisahnya yoona, sampai-sampai awal dia di hipnotis sempat pingsan gitu untung buat yang kedua kalinya yoona tenang dan donghae jadi tau perasaan yoona sama dia.
    yoona ngerasa ada yang ngikutin mereka, apa jangan-jangan itu shinjung lagi ?
    next,,,

  4. Aenin SonElf berkata:

    Waah akhirnya Yoong unni mau jujur. Sosweet ya mereka ><… Sikap Donghae itu lohh bikin melting kkk. Tapi Yoona kenapa tuh, merasa ada yang mengikutinyaaa.. Hmmm mungkin kah itu bagian dari rencana Shinjung? penasaran. Semoga gak terjadi sesuatu yang buruk. NEXTnya CEPAT yaaa… jebal dah ga sabar hehe

  5. yefanycouple berkata:

    Kira2 siapa yah yang ngikutin Yoona?
    Shinjung jahattt banget asli kapan orang itu kena batunya? udah ketangkep kenapa masih aja nyebelin?!!!!!
    Yoonhae harus bahagia Thorr, part selanjutnya jangan lama – lama Ya eonni🙂

  6. diandita miranda berkata:

    Daebak nih so sweet bangetttt… Yoona unnie kayaknya udh lebih kuat mungkin pengaruh baby jugaa..hehe
    Semoga shinjung ga bikin ulah lg, semoga utang2 appa yoong unni juga cept lunas supaya shinjung ga rese’..
    Next jangan lama2 yaaa un, jngan ampe 6 bulan baru ngepost, keburu yoong unnie lahiran dehh..
    Fighting !

  7. Tya nengsih berkata:

    Sedikit demi sedikit yoona mulai berani menghadapi masalahnya sendiri…..berharap yoona cepet sembuh….kan ada donghae yang selalu menemaninya…..

  8. idaa ziiosay berkata:

    so sweet dah yoonhae semoga yoona traumanya bisa hilang secara perlahan , jangan smlpe mimpi yoona jdi kenyataan ga bisa ngebayanginya dy pasti tmbah kepikiran
    next dtnggu chap slanjutnya go go semangat 😉

  9. cha-cha berkata:

    woowowooo., part nie keren bgtzz, donghae jdu suami idaman bgtz lahhh… slalu ad d samping yoona,.. seneng bgtzz qlow punya suami kek g-t,..
    so, please jangan ganggu kebahagiaannya yoonhae.. hbis nie mreka fokus k kandungannya yoona ajaa,.. udh cukup konfliknyaaaa

  10. chalistasaqila berkata:

    wooowowoooo
    part nie keren bgtzzz., donghae slalu ad bwat yoona.. dannn donghae jga setia nunggu yoona terapi.. pliss konfliknya udh ajaa,.. hbis nie fokus sma kandungannya yoona ajaaa..
    plisss authorrr… ya ya yaaa

  11. Sfapyrotechnics berkata:

    Akhirnya yoong jujur jga tntang traumanya,, shinjung bneran yahh dgan kata2nya?? Malah takut klo bneran terjdi. Smoga khidupan yoonhae baek2 aja.. Yg dirasain yoong yg terakhir itu bneran ya, ada yg ngikutin mereka?? Shinjung kahh??

    Next.. fighting

  12. im pizza berkata:

    terharu.. kelam bnget hdup yoona yg trus d teror sama masa lalu dan juga orang2 itu yg trus jahat padanya.. bkin senyum juga, krena mlihat keromntisan mreka.. smoga khdupan mreka mnjdi lbih baik dan gx ad yg gnggu,,smpah ini ff bgus bnget

  13. aisyadewi c'hyunmin loverz berkata:

    Ahh .. syukurlah , akhirnya Donghae tau semua tentang masa lalu itu langsung dari YoonA sendiri …

    Semoga YoonA bisa lebih baik lagi ..
    di akhir tentang firasat YoonA itu bneran yahh .. jangan sampe mimpi buruk YoonA tentang Donghae itu terjadi …

    Oke Thor, ditunggu Next’a yaaah ..

  14. YH Lulu berkata:

    ikut tegang bacanya..
    tp yoonhae so sweet bgt^^
    duh semoga aja tadi ga ada yg ngikutin deh.
    tolong jangan buat yoonhae sedih lg thor..semoga masalahnya cpt selesai..

  15. chilla yoonaddct berkata:

    maaf baru komen .. soalny dari awal udah ketinggalan ….. keren bgt ff nya jadi ikutan nagis tegang dan berdebar2 ketularan … hihihi .. tapi kereen .bagus ah semua ny lah …. nex ya thor .. ini bner2 ff yg kren bgt …aq suka .. maafberlebihan

  16. sulistiowati_06 berkata:

    akhirnya yoona bisa jujur juga dimasalalunya. mudah2an yoona bisa lebih semangat lagi ngejalani hidupnya. sedih kalo yoona terus2an terpuruk, padahal disampingnya ada donghae yang terus nopang dia kalo lagi sedih. kenapa orang2 dimasalalunya terus ngeganggu sampek sekarang. ah bener2 bikin geregetan. next jangan lama2 chingu

  17. Vaniza Rianie berkata:

    Akhirnya yoona bisa jujur tentang masa lalunya semoga setelah ini semuanya baik baik aja , aku berharap mulai sekarang mereka bisa jalanin kehidupan pernikahan mereka dengan normal apalagi yoona lagi hamil semoga di next part nya gak akan ada konflik aneh aneh lagi

  18. Nurul hidayah berkata:

    Sweet , akhirnya yoong ju2r juga , sem0ga dia berani ng0m0ng langsung ke hae tntang perasaanya !! N cerita yg buat dia trauma emang bener2😦
    D tnggu next chap ne? Fighting!!!

  19. Anonim berkata:

    Ff pertama yang membuat aku merinding keren banget ff ini kayak nyata aku tunggu kelanjutanya
    SEMANGAT KAKAK………..
    :-* :-* ❤❤ @):-

  20. lee yuna berkata:

    berat banget hidup yoona,baru bahagia sedikit ada kejadian yg sama terjadi lagi,kpn akan aman dan tenang hidupnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s