FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 12 )

marry u 2

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Part 12

SETELAH Yoona keluar dari rumah sakit, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Donghae dibandingkan harus tinggal berdua seperti sedia kala, usai menimbang – nimbang mereka menemukan satu kesimpulan bahwa rumah keluarga Lee adalah tempat yang paling aman untuk memantau Yoona.

Yoona belum juga mau bicara sepatah kata pun membuat orang – orang disekitarnya termasuk Donghae semakin bingung. Kebanyakan diantara mereka masih beranggapan bahwa Yoona masih shock dengan kejadian yang menimpanya kemarin. Meski begitu Donghae bersyukur karena Ia yakin Yoona masih bisa mendengarnya dan mengerti apa yang Ia katakan. Mengenai kehamilannya, hingga saat ini Yoona belum mengetahui itu, Donghae berusaha mencari moment yang tepat untuk mengatakannya, sampai kondisi Yoona benar – benar stabil. Donghae khawatir ketika kondisi Yoona belum sepenuhnya stabil, Yoona masih dipenuhi rasa penyesalan yang berlebihan lalu merasa bahwa dirinya tidak pantas dan  tidak becus menjaga kehidupan lain yang tumbuh dirahimnya.

Sementara Donghae membereskan barang – barang mereka, Ia menatap nanar kearah Yoona yang duduk di ranjang dengan tatapan kosongnya kearah jendela. Donghae tidak mengerti kenapa Yoona seringkali menatap kearah jendela, entah apa yang Ia lihat dibalik jendela itu.

Donghae menghampiri Yoona, duduk disamping yeoja itu, membelai rambutnya membuat Yoona mendongak.

“Kenapa sekarang kita ada dikamarmu?” tanyanya dengan wajah datar yang tampak gelisah, Donghae mendesah mendengar pertanyaan Yoona yang seringkali bernada kenapa dan kenapa.

“Yoona, untuk sementara kita akan tinggal disini.”

“Mwo?” gumamnya tidak terima, Ia bergeleng memohon kepada Donghae agar tidak mengambil keputusan itu, “Tapi aku baik – baik saja.”

Donghae bergeleng dan menatap kedalam mata Yoona, “Tidak Yoona, kau tidak baik – baik saja.” Ucapnya lalu beberapa detik kemudian Ia berpaling kearah lain, Donghae menerawang tak tentu arah, “Kita tidak akan kembali kerumah itu Yoong, kau selalu terpaku dengan kenangan masa lalumu termasuk dirumah itu, jadi aku akan menjualnya.”

Donghae menatap Yoona sekali lagi yang masih diam terpaku, “Kita akan tinggal bersama ditempat yang baru, tapi untuk sementara kita tinggal disini dulu.”

“Tapi aku akan merepotkan orang tuamu—“

“Stttt—“ Donghae menahan bibir Yoona dengan telunjuknya, Ia memperingati dalam sebuah isyarat agar Yoona berhenti bicara.

“Mereka orang tuamu juga, kau lupa?” Donghae mengingatkan dengan suara pelan namun tajam.  Yoona berlegeng, bukan maksudnya seperti itu…

Sebelum Yoona menyangkal sesuatu, Donghae lebih dulu membungkamnya dengan sebuah dekapan hangat. Yoona terdiam pasrah.

“Aku tahu apa maksudmu dan tolong jangan berpikir lagi bahwa dirimu tidak pantas mendapat perlakuan apa pun dariku, aku sedang mencoba melindungimu, beri aku kesempatan untuk melakukannya, kumohon.”

Yoona terpaku mendengar bisikan Donghae yang menyapu pendengarannya, entah bagaimana kalimat itu membawa ketenangan luar biasa menjalar dalam tubuh Yoona hingga keujung rambutnya. Bagaikan mantra,  Yoona tidak menyangka suara Donghae dapat menyihirnya dalam sekejap.

Belum sedetik pun Yoona membalas pelukan yang menenangkan itu, Ia kembali diterpa rasa mual yang mencekik lehernya. Yoona merasakan perutnya bergejolak, seperti terpelintir sesuatu. Seketika Ia beranjak begitu saja meninggalkan Donghae yang terdiam menatap kepergiannya. Namja itu sudah tahu apa yang terjadi pada Yoona, Ia menarik napas dalam – dalam, mungkin sudah saatnya Yoona tahu tentang hal ini.

Yoona terbirit – birit menuju kamar mandi. Donghae mengikutinya dari belakang dan menatap yeoja itu yang sedang memuntahkan sesuatu di westafle. Donghae menghampirinya beberapa saat kemudian. Ia memijit tengkuk Yoona dan menatap prihatin.

Setelah berhasil memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan, Yoona mengatur napasnya yang berantakan seraya menatap Donghae bertanya – tanya, “Ada apa denganku oppa? Apa aku terserang penyakit kronis, apa aku… akhh” Yoona memegangi kepalanya yang tiba – tiba berdenyut. Pijakannya limbung. Donghae menangkap tubuh Yoona yang tampak lesu. Yeoja itu mengerang kesakitan membuat Donghae semakin hawatir.

“Gwencana?” Donghae bertanya sebuah kalimat yang Ia tahu persis jawabannya. Tentu saja sekarang Yoona tidak baik – baik saja.

Yoona bergeleng sebagai jawaban, Donghae tidak mengerti arti dari gelengan kepala itu ditengah wajah Yoona yang memucat.

Pada akhirnya Donghae menuntun Yoona menuju kearah ruang tengah. Nyonya Lee yang menyaksikan mereka tampak panik dan menghampiri Yoona, yeoja paruh baya itu membantu Donghae menuntun Yoona duduk di sofa.

“Yoona, kau tidak terserang penyakit kronis atau apa pun tapi—“ Donghae yang duduk disamping kanannya mulai buka suara, Ia meraih tangan Yoona dan membawa jemari itu menyentuh perut Yoona sendiri yang tampak rata, ”Apa kau bisa merasakan sesuatu?”

Yoona menatap bagian perut juga telapak tangannya yang kini bersentuhan dengan tatapan tidak mengerti.

“Kenapa kau menangis, a-apa aku benar – benar sedang sakit?” Wajah Yoona menegang ketika tiba – tiba saja Ia melihat mata Donghae berkaca – kaca.

Donghae bergeleng sebagai jawaban. Donghae tidak sadar kalau butiran bening sudah turun melewati kedua pipinya. Sementara itu Nyonya Lee hanya terdiam melihat puteranya seperti itu. Pasalnya baru kali ini Ia melihat Donghae meneteskan air mata.

“Mulai sekarang kau harus sehat demi orang – orang yang menyayangimu dan juga demi—“ Donghae menjeda kalimatnya untuk mengambil napas. Ia berusaha mengukir senyum ditengah isakannya yang tertahan, “Kau harus sehat demi janin yang tumbuh didalam rahimmu.”

“A-apa?” Napas Yoona tertarik, ia bersuara datar dengan intonasi ketidakpercayaan. Bagaimana Ini bisa terjadi? Ya tentu saja ini terjadi karena Ia tidak mampu lagi memendam gejolak yang tertahan apabila berada didekat Donghae, Juga semenjak kemunculan Shinjung dalam hidupnya Yoona sudah mencium gelagat aneh didalam kepalanya sendiri, Yoona tidak ingin Donghae semakin hawatir dengan kegelisahan yang tiba – tiba mencekamnya karena masa lalu yang muncul kembali dalam ingatannya, Yoona berusaha menghilangkan trauma dari kasus seperti itu dengan cara seperti itu, Ia pikir semua akan terobati, namun dampaknya sebuah kehidupan tumbuh dirahimnya.

“Yoona, bukankah ini kabar baik? Kau harus bersyukur, Nak.” Nyonya Im mengelus pundak Yoona ketika yeoja itu hanya diam terpatung. Suaranya terdengar halus dan penuh kasih sayang, yeoja paruh baya itu tentu senang mendengar kabar ini, Ia ingin Yoona juga seperti itu. Tapi kenyataannya…

Tidak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan Yoona, selain ekpsresi datar dengan pandangan menerawang entah kemana.

“Kau tidak berbohong kan Oppa?” suara Yoona menunjuk pendengaran Donghae.

Donghae bergeleng, “Tidak Yoong, aku sungguhan.”

Tatapan Yoona kembali menerawang, seraya mengelus perutnya sendiri Ia bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.“Jadi itu benar? aku, hamil.”

Donghae meraih kedua tangan Yoona dan menggenggamnya, Ia menatap Yoona penuh harap, “Kita akan menjaganya bersama – sama Yoona, kita berdua.”

“Kita… berdua..” Kata – kata Donghae tercipta kembali dari bibirnya, Yoona menikmati tetesan demi tetasan yang meleleh dipermukaan wajahnya. Sensasi yang meledak – ledak membuncah begitu saja didalam hatinya dan membawa kelegaan luar biasa namun disisi lain ada sesuatu yang menganjal, sesuatu yang membuatnya berpikir bahwa dengan lahirnya kehidupan baru diantara mereka maka  Ia akan semakin terikat dengan Donghae, dan jika suatu saat nanti Yoona ingin berpisah dari Donghae maka Yoona harus memikirkannya, buah cinta mereka.

“Kau harus bahagia Yoona, aku akan melindungi kalian.” Donghae memeluk tubuh Yoona dan berbisik ditelinganya. Sementara itu Yoona hanya diam terpatung. Perlahan – lahan Ia membalas pelukan Donghae dan membelai bahunya penuh kelembutan. Yoona tidak sanggup memprediksi kejadian apa yang menimpanya nanti, tapi Ia ingin terus seperti ini. Menikmati perasaan yang berharga ketika Donghae mendekapnya penuh kasih.

………………

Semua orang tampak sedang sibuk dengan makan malam mereka. ­ Nyonya Lee tanpa henti  berbicara mengenai hidangan dihadapan mereka. Ia berbicara mengenai pentingnya menjaga kesehatan, sesekali menyuguhkan berbagai makanan yang tersaji diatas meja kepada orang – orang disekitarnya, terlebih kepada Yoona yang sedang hamil cucu pertama mereka. Krystal yang mendengar berita itu sontak memekik kaget. Posisi yang duduk persis disebelah Yoona membuat gerakannya refleks memeluk Yoona kegirangan.

“Chukaeee ?!! Benarkah aku akan memiliki keponakan sebentar lagi?! Oh Tuhan benar – benar tidak bisa dipercaya !” Krystal semakin mengeratkan pelukannya. Yoona melirik Donghae dengan senyum begitu sebaliknya. Yoona menatap rona bahagia yang memancar dari wajah Donghae begitu pula dengan orang – orang disekitar mereka.

Kristal melepas pelukannya, namun begitu Ia memeluk Yoona sekali lagi. Semua orang berpikir hal yang sama, bahwa tingkah Krystal yang satu itu  seperti anak – anak yang tidak mau berhenti memeluk ibunya.  Tuan Lee yang duduk dihadapan mereka sempat menegur Krystal karena ulahnya yang bisa – bisa membuat Yoona sesak napas.

Krystal cemberut, ia tidak suka jika ada yang menegurnya terlebih appanya sendiri. Lantas Ia beralih  menatap Yoona  dengan senyum meyakinkan, “Tapi kau baik – baik saja kan Eonni? Kudengar dari Kai katanya preman yang menganggumu itu sangat menyeramkan.” Ia bergidik, “Aihh,  apa Eonnie mengenal berandal itu?”

Yoona tertegun, bahkan semua orang disekitar mereka ikut tertegun mendengar pernyataan itu, kecuali Krystal belum juga sadar dengan perubahan atmosfer ditengah – tengah mereka. Anak itu masih menatap bertanya –  tanya.

‘TAPP’

Ketika Pertanyaan itu tak kunjung terjawab, suara hentakan meja memecah keheningan.

Yoona menancapkan dengan keras kedua sumpitnya diatas mangkuk.  Kedua matanya terpejam dengan gelisah. Donghae menyentuh punggung Yoona untuk memastikan apakah yeoja itu baik – baik saja.

Nyonya Lee  berkedip kearah Krystal, anak itu terkesiap dan melirik Eommanya yang entah menyampaikan isyarat apa, namun begitu Ia merasa ada yang tidak beres, “Errr apa ada yang salah dengan ucapanku—?” Krystal menggigiti kuku telunjuknya dengan  gugup,  Ia menatap bersalah dan memutar pandangannya kesekeliling. Dan hening.

“Gwencana?” ucap Donghae hawatir. Yoona tidak menjawab apa – apa, Ia bertahan dengan sesuatu yang berputar didalam pejaman matanya.

“Aniyo, Gwencana.” Rintih Yoona berusaha menepis kehawatiran Donghae.

“Aku sedikit pusing, bolehkah aku beristirahat?” Tatapan Yoona berubah sayu, nada suaranya tidak stabil dan nyaris tidak kentara bahkan untuk mendengarnya dibutuhkan pendengaran yang tajam.

 “Nde nde, istirahatlah kau pasti masih lelah,” Nyonya Lee melempar tatapan penuh makna kepada Donghae. Seketika  Donghae  langsung membaca maksud dari tatapan Eommanya itu. Sudah pasti Ia harus segera membawa Yoona pergi, setidaknya menjauh dari posisi mereka saat ini.

“Terimakasih untuk makan malamnya.” Yoona menunduk hormat lalu segera bangkit berdiri. Donghae melihat gerakan Yoona sedikit sempoyongan ikut berdiri dan hendak menahan tubuh yeoja itu, namun seketika Yoona menepis lengan Donghae.

“Oppa aku baik – baik saja—“

“Kau selalu berkata seperti itu, tapi kenyataannya tidak demikian.”  Potong Donghae sekali napas. Yoona terkesiap oleh tatapan Donghae yang  tajam dan penuh kecemasan.

Beberapa detik berlalu, Donghae justru menghela  napas ketika menyaksikan bola mata Yoona yang dipenuhi sinar keterkejutan. Donghae berusaha menetralisir situasi diantara mereka. Ia beralih memeluk Yoona dan berbisik pelan ditelinganya, “Tolong tetap diam dan biarkan aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan.”

Setelah Donghae mengatakannya tidak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan Yoona untuk membantah segala perlakuan Donghae terhadapnya. Donghae menuntun Yoona menuju ke kamarnya dan membawa yeoja itu duduk diatas ranjang.

“Donghae-ya…” panggil Nyonya Lee dari daun pintu. Donghae menoleh dan mengartikan tatapan eommanya yang seperti ingin berbicara sesuatu. Donghe mengangguk mengerti. Ketika Nyonya Lee menghilang, Donghae memutar pandangannya kearah Yoona.

“Tunggu sebentar aku akan kembali.” Pintanya seraya beringsut mendekati Yoona. Ia lantas mencium kening Yoona dengan gerakan lembut dan segera menghilang dibalik pintu.

Sementara itu Yoona menatap punggung Donghae dengan nanar. Kenapa, kenapa dan kenapa, tanda tanya seperti itu melayang – layang dikepalanya. Kedua tangan Yoona mencengkram kuat sprei yang mengalasi tubuhnya. Sungguh, Ia membenci ketika tubuhnya sendiri bereaksi tanpa kontrol. Yoona ingin menghentikan semua, darah yang berdesir memanas, debaran jantung yang berantakan hingga mencekik tenggorokannya, atau, perasaan ingin berteriak seperti orang gila, Yoona ingin memusnahkannya agar Donghae tidak lagi menghawatirkannya. Yoona pikir Ia sudah baik – baik saja ketika berita bahagia itu sampai ditelingnya, tetapi Ia salah. Ketika ingatan buruk itu kembali terbayang – bayang dan berbalik menghantuinya, Yoona muncul kembali sebagai onggokan  nyawa tidak berdaya yang nyaris kehilangan akal sehatnya.

“Tapi kau baik – baik saja kan Eonni? Kudengar dari Kai katanya preman yang menganggumu itu sangat menyeramkan.”

“Aihh,  apa Eonnie mengenal berandal itu?”

Bagaikan mantra, pertanyaan Krystal yang belum sempat terjawab itu berputar – putar didalam kepala Yoona. Yoona bergeleng berusaha menepis kejadian menyakitkan yang menimpanya sebagai awal mula dari pertanyaan itu.

Yoona menutup kedua telinganya, Ia tidak bisa mendengar suara apa pun saat ini kecuali suara masa lalu dari kejadian itu yang menghantam pendengarannya. Yoona ingin menolaknya, menghentikan semua itu, tapi semakin keras Ia mencoba maka semakin kuat pula suara – suara itu mencekiknya.

……………….

Donghae masuk dengan membawa nampan makanan ditangannya. Ia sudah menduga bahwa Yoona akan seperti itu lagi, terdiam dan merenung tanpa berbicara sepatah kata pun. Dan saat Donghae menyaksikannya, dugaan itu terbukti.

Meletakkan nampan ditangannya keatas meja samping ranjang, Donghae duduk disamping Yoona dan menatap serius namun sepertinya Yoona tidak menyadari kehadirannya, hingga Donghae menyentuh pundak Yoona dengan sedikit tepukan, Yoona tersentak dan membalas tatapannya.

“Minumlah, paling tidak ada sesuatu yang masuk keperutmu.” Donghae menyodorkan segelas air putih, Yoona memalingkan pandangannya dan bergeleng.

Donghae menghela napas, “Yoong—“

*PRANGG*

Yoona menghempaskan tangan Donghae begitu saja hingga gelas dalam pegangannya terjatuh. Donghae menatap pecahan gelas yang berserakan diatas lantai dan Yoona  bergantian, gelas beling itu sudah tidak berbentuk, sedangkan Yoona, yeoja itu terkesiap menyaksikan bagaimana gelas itu hancur berantakan. Napas Yoona berkejaran, Ia tidak bermaksud melakukannya sungguh, lagi pula pecahan itu mengingatkan Yoona dengan kejadian masa lalunya, Kini tubuh Yoona berubah kaku, bahkan  ia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.

“Ya Tuhan, ada apa denganku… Ada apa denganku…” Yoona menatap kedua tangannya yang berguncang – guncang tanpa perintah, Ia bertanya – tanya sendiri tanpa tahu jawabannya. Kenapa, kenapa Ia jadi seperti ini? Kenapa ketakutannya menjadi semakin parah… Yoona tidak menyangka ketika seseorang menyinggung soal berandal itu atau ketika Ia menyaksikan pecahan  kaca,  napasnya berhenti seperti ia akan berakhir  saat itu juga, Lalu bagaimana… bagaimana  kalau nanti langkah kaki seseorang pada akhirnya ikut mengigatkannya  pada kejadian itu, bagaimana kalau semua hal didunia ini berbalik menghantuinya, Yoona tidak ingin itu terjadi, dirinya tidak separah itu?!

“Yoona, Im Yoona.” Donghae mengguncang tubuh Yoona yang masih gemetaran, yeoja itu masih sibuk dengan ketakutannya sendiri membuat Donghae bertambah panik.

“Tenanglah Yoona, Jebal !” Donghae mencoba bersitatap dengan Yoona, namun Ia merasa sulit sekali melakukannya. Alur tatapan Yoona berantakan kemana – mana. Secara paksa Donghae mendorong tubuh Yoona menuju dekapannya. Sesuai dugaan, Yoona berontak, namun semakin Yoona berontak, semakin Donghae mengencangkan dekapannya, hingga Yoona menyerah karena kehabisan tenaga. Ia terperosok kedalam dekapan Donghae dengan suara napas yang terputus – putus oleh tangisannya sediri .

*Tok tok tok* Suara ketukan pintu membuat kalimat Donghae tertahan.

“Hae-ya, apa yang terjadi?! Kalian baik – baik saja?!” Teriakan Nyonya Lee yang dipenuhi nada kehawatiran terdengar dari luar. Donghae menoleh  kearah pintu kamar dan balas menyahut, “Tidak apa – apa Eomma, kami baik – baik saja.”

“Benarkah? Tapi sepertinya ada yang pecah—”

“Bukan apa – apa Eomma aku tidak sengaja menyenggol gelas, akan kubereskan nanti.” Donghae menimpali

“Jadi benar tidak apa – apa?”

“Hmmm…”

“Oh, syukurlah… Kalau begitu Eomma pergi, tapi kalau ada apa – apa jangan ragu meminta bantuan.”

“Nde, arasseo.”

Fokus perhatian  Donghae kembali tertuju kepada Yoona. Namja itu memperdalam dekapannya, menciumi kepala Yoona dan berbisik lirih, “Yoong, kalau kau begini terus kau  bisa menyakitinya,”  Donghae merenungkan sesuatu lalu berbicara hati – hati , “Yoona, kau tahu  dia bisa merasakan kesakitanmu,”

Yoona tidak menjawab, namun Donghae yakin Yoona bisa mendengarnya dan menyetujui apa yang Ia katakan.

“Aku tidak bisa—“ Suara Yoona dipenuhi oleh desahan lelah, Ia lantas mendongak menatap Donghae dengan mata berair, “Aku juga  tidak ingin seperti ini Oppa, Aku tidak menginginkannya sama sekali tapi… Tapi aku tidak bisa melupakannya—kejadian itu, Ya Tuhan.. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi—“

“Baiklah kalau begitu.” Tukas Donghae memutuskan sesuatu. Yoona terdiam seketika dengan wajah penuh harap.

“Yang harus kau lakukan adalah segera sembuh Yoona, dan aku yakin Tuan Kim bisa membantumu keluar dari masalah ini sepeti saat Ia bertemu denganmu dulu—“

“Andwae, andwae Oppa aku tidak mau.” Yoona bergeleng. Ia tentu mengenal siapa orang yang dimaksud Donghae. Tuan Kim. Yoona pernah tinggal beberapa bulan di rumahnya untuk menjalani serangkaian hal menyakitkan. Yoona benci dengan tumpukan obat yang harus ditelannya setiap hari. Pun Yoona tidak menyukai ketika Ia harus berbicara mengenai peristiwa naas masa lalu dan memaksanya untuk berteriak seperti orang gila.

”Kau hanya perlu  berbicara intens dengannya. Kami pikir dia lebih tahu kasusmu.” Jelas Donghae mencoba meyakinkan Yoona. Yoona tetap bergeleng. Ia menagangkat kepalanya dan menatap Donghae dengan wajah memohon agar Donghae tidak mengambil tindakan itu.

Dan tentu saja Donghae akan melakukan berbagai cara untuk mengeluarkan Yoona dari masalahnya, dan Ia tidak akan mundur sedikit pun demi kebaikan Yoona, meski pun yeoja itu menolaknya.

Donghae meraih kedua tangan Yoona untuk menguatkan keyakinannya, “Kau harus melakukannya Yoona, demi kalian.” Tatap Donghae dengan wajah sendu. Yoona tertegun. Kalian?

“Ya kalian, kau dan anugrah yang sedang tumbuh dirahimmu.” Sambung Donghae seolah bisa membaca tatapan Yoona.

Seketika tubuh Yoona lemas. Ia tidak bisa merasakan tulang – tulangnya. Perkataan Donghae menohoknya.  Perkataan Donghae mengisyaratkan agar Ia tidak boleh egois karena tubuhnya bukan cuma miliknya seorang, akan tetapi ada kehidupan lain yang  berhak untuk menerima perlakuan layak darinya. Lantas Yoona mengaris bawahi hal itu.

Maka Yoona hanya bisa terdiam, ia memikirkan dengan pasrah. Yoona pikir Donghae tidak akan menyerah sebelum Ia menyetujui hal itu. Mungkin kata hatinya benar, Donghae takut seandainya Ia berbuat sesuatu yang nantinya bisa menyakiti buah cinta mereka.

 Namun tetap saja…

Ini sangat sulit untuknya, Yoona berupaya menyanggupi permintaan Donghae selagi hatinya menolak mentah – mentah.

“Aku mohon padamu sekali ini saja, cobalah.” Tatapan Donghae menghujam  ulu hatinya, Yoona kehilangan fungsi otot – ototnya untuk menoleh keberbagai arah. Kilatan tajam Donghae menguncinya.

Arah pandang Yoona terjun kebawah, napasnya berhembus begitu saja. Secara tidak langsung Yoona menunjukkan kepada Donghae bahwa bendara putih sudah berkibar diatas kepalanya. Yoona menyerah. Dan Ia yakin Donghae bisa mengerti bahasa tubuhnya.

“Tapi bagaimana denganmu, apa kau akan meninggalkanku disana?” Yoona membuka suaranya yang tak sejernih biasanya. Donghae mungkin berpikir  apa yang ditakutinya itu sungguh konyol, Yoona takut Ia akan diasingkan dari orang – orang sekitarnya.

“Tidak tentu saja.” Donghae bergeleng dengan ketidaksetujuannya, Ia tersenyum dengan singkat dan tulus, “Aku akan ada disampingmu.”

Yoona terhanyut ditempatnya. Benarkah ? Kalau begitu seharusnya sejak tadi Yoona menyetujuinya…. Ia tidak perlu berpikir  terlalu jauh. Karena selama Donghae disampingnya, entah mengapa keyakinan itu selalu hadir memenuhi hatinya, dan semua  akan baik – baik saja.

…………..

Hari ini Yoona  mengikuti kemana Donghae akan membawanya. Donghae berkata bahwa tiga hari lagi, Ia akan sangat sibuk jadi, menikmati akhir pekannya bersama Yoona adalah pilihan satu – satunya untuk memanfaatkan waktu sebaik yang Ia inginkan.

Sejak malam itu dan semua yang telah terjadi, Yoona memilih memercayakan semuanya kepada Donghae.  Dan Ia merasa beban di pundaknya terangkat.  Ketika mengingat bahwa Donghae akan selalu ada disampingnya dan tidak akan berpaling sejengkal pun Yoona berusaha memasrahkan bahwa segala yang terbaik menurut Donghae adalah yang terbaik baginya.

Angin musim panas membelai dengan serpihan halus, Yoona menghirup napas dalam – dalam  selagi menikmati bentangan hijau dihadapannya. Aroma dedaunan yang terbang bersama udara pagi itu berhasil mencuci seluruh organ didalam tubuhnya.

“Sudah berani meninggalkanku?” dekapan hangat yang menghinggap dipunggungnya membuat Yoona terkesiap sekaligus lega dalam sekejap mata, Ia bersyukur karena orang itu adalah Donghae.

Yoona memutar tubuhnya­ dan mencapit hidung Donghae, “Salahmu sendiri sempat – sempatnya berkencan dengan mobil itu.” Kilah Yoona mengingat  bagaimana Ia sebal menyaksikan bagaimana Donghae lebih mengurusi posisi mobilnya di parkiran. Akhirnya Yoona memutuskan untuk pergi dari sana dan berjalan kearah taman bunga.

Donghae mengangkat alis ketika otaknya sibuk menerjemahkan arah pembicaraan Yoona. Tidak lama kemudian Ia terkekeh, ditambah melihat wajah sebal Yoona yang memberengut kesal membuat Donghae semakin gemas,  “Tadi itu aku sedang menyingkirkan batu yang mengganjal, lagi pula mobil itu adalah mobil bersejarah keluarga Lee, kami semua sangat menyayanginya.” Donghae mencubit kedua pipi Yoona yang dirasanya semakin tirus lalu menambahkan, “Berhenti cemberut nona manis, karena sekarang aku sudah berdiri didepanmu dan merelakan diriku dengan sepenuh hati untuk menjadi milikmu sepenuhnya, apa belum cukup?” Donghae merentangkan tangannya lebar – lebar dan tersenyum penuh isyarat bahwa tidak ada lagi penghalang diantara mereka.

“Menurutku belum cukup sebelum kau menerima hukuman.”

Donghae mengenyit.

“Kemarilah.” Pinta Yoona selagi  ikut membantu Donghae memangkas jarak diantara mereka. Langkah Yoona berhenti didepan Donghae begitu sebaliknya hingga dada mereka menempel satu sama lain. Segera Yoona menarik kerah kemeja Donghae dan menciumnya, Yoona menganggap hal ini Ialah bentuk hukuman karena namja itu sudah membuatnya kesal.

Yoona berpaling sebelum Donghae mencoba memperdalamnya. Yeoja itu sedikit mendorong tubuh Donghae yang nyaris kehilangan napasnya. Yoona menyeringai sebelum memutar tubuhnya dan kabur begitu saja, akan tetapi, sekali sambar Donghae berhasil menggapainya karena dari dulu kemampuan berlari Yoona memang tidak ada peningkatan. Prestasinya di sekolah dulu selalu membawanya terpuruk menuju level terpayah.

Donghae berhasil menangkap punggung Yoona. Yeoja itu bergerak – gerak gelisah dengan untaian tawa yang tidak terputus karena Donghae terus menggelitikinya dipinggang.

Sambil tertawa Yoona memohon untuk dilepas, “Berhenti Oppa kau menyiksanya.”

Kalimat Yoona membuat Donghae semakin bernapsu mengeluarkan hasrat diotaknya, “Aishh, menyiksa apa, kau yang menyiksaku Yoong.” Donghae berbisik ditelinga Yoona membuat yeoja itu merinding seketika. Namun begitu Yoona belum juga menyerah untuk membebaskan diri dari jeratan Donghae.

“Diamlah setelah itu dengarkan aku.” Bisiknya lagi ketika situasi diantara mereka belum kondusif. Yoona menurut, Ia membiarkan Donghae mendekapnya semakin dalam tanpa suara gesekan tubuhnya sekali pun.

“Kau harus melihat ini segera.”

Yoona tidak bisa menahan senyumannya ketika mendengar suara Donghae yang semakin jelas menyapu pendengarannya, “Melihat apa?” Kepala Yoona sedikit menoleh kebelakang, dari ekor matanya Ia melihat Donghae tersenyum penuh arti seolah membayangkan sesuatu, entah apa.

Lantas Donghae meraih tangan Yoona dan menggiringnya dengan tergesa – gesa. Sepanjang jalan Yoona tidak berhenti mengernyitkan dahi akibat  rasa penasaran hebat yang menderanya. Perlahan Yoona menoleh, angin bertiup memporak – porandakan rambutnya. Yoona menikmati wajah Donghae tanpa namja itu sadari, Yoona selalu suka melakukannya, menunggui ekspresi Donghae yang sedang memikirkan sesuatu dari arah menyamping seperti ini.

Langkah mereka berhenti dibawah pohon lebat yang lumayan tinggi. Yoona tidak bisa menahan ekspresi bingungnya karena tidak ada apa – apa yang Ia temukan ditempat itu, kecuali hamparan hijau dan tumbuhan pagar yang menjalar disekitarnya, tidak ada yang aneh kerena taman bunga ini memang bentuknya seperti itu.

“Cha..” entah sejak kapan Donghae berdiri dibelakang pohon. Yoona menoleh dan memukan sepasang tangan Donghae terulur dari baliknya. Namja itu menggerak – gerakkan sebuah benda yang dalam genggamnya.

Yoona mengernyit, Ia memperhatikan ukiran kertas yang berwujud kupu – kupu dengan warna analog. Kemudian mata menangkap sebuah gulungan senar juga menggangtung ditangan kiri Donghae.

“Layang – layang?” Yoona bergumam kepada dirinya sendiri, kemudian memandang Donghae yang kini sudah berdiri dihadapannya, “Apa kita akan bermain layang – layang Oppa ?”

Donghae mengangguk dengan senyum. Yoona mengernyitkan hidungnya penuh keraguan.

“Tapi aku tidak bisa—“

“Kau bisa, aku akan berdiri dibelakangmu.” Ucap Donghae penuh keyakinan. Yoona tidak bisa berbuat  banyak. Matanya terkunci didalam manik Donghae yang berkilat – kilat. Meski yang dimaksudkan cuma sebatas permainan, Kata – kata Donghae yang seperti itu membuat hatinya menghangat…

……………..

Yoona menyukai sinar matahari yang menyala namun tidak membakar. Ia menikmati ketika Donghae menggenggam kedua tangannya dan menyelipkan gulungan tali senar didalam sana. Donghae mengambil posisi dibelakangnya selagi menggerak – gerakkan tangan Yoona, Ia dengan hati – hati menuntun Yoona untuk menerbangkan layangan kupu – kupu yang sudah tersambung dengan tali senar.  Sebelah tangan Donghae membantu Yoona menarik layangan itu, sementara sebelah tangannya yang lain melingkar disekeliling pinggang Yoona, namja itu mundur secara perlahan – lahan membawa Yoona bersamanya. Diam – diam Yoona tidak serius dengan layangannya, Yoona sekedar mengikuti gerakan Donghae namun begitu arah pandangannya tertuju kepada ekpresi wajah  Donghae yang berkerut samar, namja itu serius memicing selagi mengendalikan layangan kupu – kupu diatas kepala mereka. Angin mendorong kupu – kupu kertas itu semakin menjulang keangkasa.

“Lihat keatas jangan terus melihatku,” pinta Donghae tanpa menatap lawan bicaranya. Donghae memandang dengan tatapan kagumnya mengikuti pergerakan  kupu – kupu terbang  yang sudah menggantung sempurna dilangit.

Yoona tersentak karena rupanya Ia tertangkap basah. Lalu Yoona mendongak pasrah mengikuti  arah pandang Donghae. Beberapa saat berlalu, sudut bibir Yoona terangkat. Kekaguman Donghae menjalar ketubuhnya. Mungkin karena pijakan mereka nyaris tak berjarak atau apa, bibir Yoona menganga tanpa sadar menyaksikan baigaimana kupu – kupu kertas itu tampak  bebas dan lepas melayang – layang diatas sana meski seseorang mengendalikannya dari bawah, tiba – tiba Yoona ingin terbang seperti layang – layang itu.

Pandangan Yoona teralihkan, ia mendengar suara napas Donghae yang kian memburu, ketika Ia merasa Donghae semakin memperat genggamannya Yoona terkesiap dan memandang sekali lagi keatas, layangan itu semakin tinggi hingga angin semakin gencar meniupnya. Donghae menuntun Yoona untuk mundur selangkah – demi selangkah agar layangan itu tidak terlalu jauh dari posisi mereka di bumi. Lagi – lagi Yoona terhanyut dengan pergerakan Donghae yang seolah – olah mendekapnya dari belakang.

Tiba – tiba Donghae melepaskan genggamannya, kini hanya tinggal Yoona dengan bentangan tali senar yang terguncang – guncang oleh angin.   Dengan tatapan yang tidak fokus Yoona membuat layangan kupu – kupu itu menari – nari entah kemana hingga terlepas dan menyangkut dipohon.

Yoona berdecak sebal, Ia merasa semua yang terjadi adalah salah Donghae. Yoona menuntut Donghae dengan tatapan meminta pertanggung jawaban, lalu ia bersungut – sungut,“Oppa, kenapa kau melepaskan tangannku ?! Lihatlah layangannya jadi lepas !”

Donghae meringis sungkan hingga Yoona tak bisa menemukan matanya, “Mianhae, awalnya aku berpikir kelihatannya kau lebih suka mencobanya sendiri.”  kilah Donghae selagi menyusun kata, “Jadi kau benar – benar tidak suka–”

“Keunde.” Potong Yoona, Ia menambahkan, “Lagi pula Oppa melepaskannya secara tiba – tiba…” Yoona menatap Donghae sebelah mata,  “Sementara  aku, tahu sendiri kan? aku kan tidak punya persiapan apa – apa untuk menggenggam tali senar itu sekuat dirimu.”

Tangan Yoona bersilang, Ia berpaling selagi memandang prihatin kearah  layangan kupu – kupu yang teronggok diatas pohon.

“Jadi aku harus bagaimana?”

Yoona mengangkat bahu, “Entahlah, kupikir tidak ada lagi yang bisa kila takukan disini—“

“Tentu saja ada.” Donghae menyanggah, “Ini belum selesai Yoong.”

“Huh?” seketika tatapan Yoona mendarat dimatanya, ekspresi yeoja itu tampak bingung. Donghae tidak bisa menahan tawanya saat melihat bibir Yoona terbuka, meski hanya tawa singkat yang menjengkelkan dimata Yoona.

 “Tunggu disini dan jangan berbalik sebelum aku menyuruhmu, awas ya !” Donghae memerintah dengan seenaknya lalu menghilang begitu saja. Yoona menatap kepergian Donghae tanpa kata – kata. Kebetulan sekali Yoona sedang ingin marah – marah, jadi kalau Donghae sudah berdiri didepannya, Yoona berencana akan mengomelinya habis – habisan, dan tentu saja Ia akan menggunakan kasus layangan itu sebagai tamengnya.

“Berbaliklah.”

Seruan itu muncul dari belakang membuat Yoona sadar bahwa Donghae sudah kembali. Segera Yoona memutar tubuhnya dengan malas. Donghae melakukan hal serupa  bersamaan dengan Yoona  hingga pijakan mereka berhadapan.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.”

Detik berlalu mendadak diam tak bergerak. Keheningan berputar – putar menghapus kebisingan, kecuali deraian napas yang tenang berhembus tidak wajar. Yoona merasa aliran darahnya merembes ke-kepala. Kata – kata yang sejak tadi mengantung dilidahnya hilang seketika.

Kedua mata Yoona mengerjap tak percaya, Ia terpatung begitu saja.   Yoona tidak bisa melihat wajah Donghae, saat ini karena wajah namja itu tertutup oleh sesuatu, sesuatu yang membuat Yoona sulit untuk memalingkan pandangannya dari benda itu.

 ‘Welcome to my sweetheart Lee Yoona, Saranghae ^___^’

Ya kata – kata yang membuat Yoona tersihir. Layangan berbentuk hati dengan kalimat yang tertera disana membuat Yoona tidak bisa berhenti untuk membuat kata – kata itu berterbangan diotaknya.  Donghae menyingkirkan layangan berbentuk hati merah itu dari wajahnya, lalu kembali menatap Yoona. Secara otomatis Yoona mengerti dengan kalimat itu, tanpa perlu mendengarkan tatapan Donghae padanya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan.

Mungkin bukan apa –apa, atau dirinyalah yang terlalu berlebihan, tapi apakah semacam kesalahan jika Ia menganggap dirinya sendiri istimewa… Istimewa dimata Donghae.

“Ayo kita mainkan lagi… Kali ini aku tidak akan melepaskan tanganmu.”

“Oppa….”

Donghae merentangkan tangannya dan berjalan memeluk Yoona yang tergugu, “Selamat datang Yoong, aku merindukanmu jadi maukah kau membiarkan masa lalumu berlalu seperti layangan kupu – kupu itu ?”

Kedua mata Donghae memejam, hembusan angin membelai wajahnya dan mengantarkan ketenangan lebih diantara mereka.  Donghae mengatur napasnya dan berbicara penuh sesal, “Mianhae, jeongmal mianhae karena dulu, aku sempat melepasakan tanganmu, juga terima kasih atas kesempatan yang kau berikan kepadaku untuk menggenggam tanganmu sekali lagi. Gomawo.”

Hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari lisannya. Yoona membalas pelukan Donghae, membelai punggung namja itu dan berharap agar Donghae mengerti bahwa Ia teramat mendengarkan dan teramat menikmati setiap dekapan hangat yang menjalari tubuhnya.

“Mulai sekarang berjanjilah padaku dibawah langit yang cerah ini, mulai sekarang kau harus menjadi Yoona yang baru. ” bisiknya penuh harap, “Berjanjilah kepadaku juga kepada dirimu sendiri.”

Kalimat terakhir Donghae yang terdengar ditelinganya, membuat hati Yoona tertohok. Berjanji… Yoona bisa berjanji tapi Ia tidak yakin bisa memenuhinya. Disisi Lain kehadiran sosok Donghae yang sekarang membuatnya yakin, bahwa Ia bisa berubah dan melupakan masa lalu yang membelenggunya  juga menyelesaikan masalah yang serasa mencekik nadi.

 Hingga kalimat itu berakhir dan keheningan mengambil alih segalanya…

Yoona tidak tahu apa yang terjadi. Sejak kejadian itu, dimulai dari fase tersulit dalam hidupnya, Yoona selalu bertanya kepada diri sendiri, mengenai alasan untuknya hidup di dunia ini… Sekian banyak waktu yang terlewati kini Ia berhasil menemukan alasan itu.  Yoona tidak tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya, namun Ia percaya tidak ada yang tidak mungkin. Yoona pasti bisa melupakannya, menghapus seluruh masa lalu yang nyaris menghancurkan hidupnya. Yoona harus bertahan, bertahan melawan ketakutannya sendiri,  mempertahankan sesuatu yang berharga demi satu –satunya alasan hidup. Alasan dari sebuah persembahan hidup yang diberikan seseorang untuknya.

“Ayo mainkan lagi dan jangan sekali – kali melepaskan tanganku.” Yoona mengakhiri pelukan mereka dan menatap Donghae dengan senyuman.

Dan sudah lama Donghae merindukannya, senyuman itu…

……………TBC…………….

40 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 12 )

  1. sulistiowati_06 berkata:

    akhirnya diposting juga capter ini. mudah2an yoona bisa ngelupain masa lalunya yang suram dengan semangat dari donghae dan calon anaknya. mudah2an juga donghae bisa ngejaga yoona dengan baik. seneng kalo liat mereka bahagia tanpa ada tekanan. mudah2an donghae selalu jadi penyelamat dan semangatnya yoona. so sweet sekali akhir part ini. ditunggu next capternya lagi chingu. jangan lama2 yaa

  2. Husni berkata:

    Daebaaak… akhirnya yoong ydh ga aedih berkat kehadiran donghae oppa, semoga seterusnya sosweet kaya gini.. adegan terakhir itu bikin senyum2 sendiri..hahhayyy
    Daaan aku ga aku ga akan bosen kok, malah aku pengennya partnya ampe 20 an..hahaaa
    Semangat nulisnyaaaa, jangn ampe gara2 sider kamu jd males nulis ff… fighting yey

  3. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    bolak-balik blognya unni, dan sudah ada nextnya.
    akhirnya yoong tau kalau dia sedang mengandung, donghaenya terharu.
    setiap kalimat tentang masa lalunya tubuh dan pikiran yoong bereaksi sendiri,dia masih trauma.
    semoga kehadiran janin dalam kandungannya dan juga semangat dari donghae bisa bikin yoong ngelawan masa lalunya yang kelam dan berjuang bersama buat ngelawan rasa takutnya pada shinjung. next ditunggu unni,yh jjang…!!

  4. triyoona_im berkata:

    hmm aku merindukan ff ini^^
    semoga yoona dan donghae bisa melewati cobaan ini dgn baik.. smga yoona bisa melupakan masa lalunya yg buruk, ah tbc nya ganggu padahal yoonhae sedang romantis”nya😀

  5. Uly Assakinah berkata:

    Akhirnya di post, yoona semoga cepet sembuh, donghae suami yang perhatian banget laki” idaman, next ditunggu

  6. Nabilla Utmary Elfishy berkata:

    Momentnya manis banget thor😀
    Semoga semua ingatan buruk akan masa lalu Yoona perlahan memudar..Next thor..
    Saatnya menantikan Baby Hahahah

  7. nina berkata:

    awal2 sempet nyesek bcanya,, kasian yoona…
    moment yoonhae so sweettt bgttt,,, hae jga romantis…. ditggu nextnya

  8. yoonhae3015 berkata:

    kasian yoona masih dibayang bayangin kisah masa lalu nya. semoga dia cepet sembuh dari keterpurukannya itu. donghae jangan di sia sia in lagi tuh kesempatannya harus lebih extra bahagiain yoona.
    ditunggu next chapternya

  9. vidya berkata:

    akhirnya ada juga momen bahagia yoonhae jadi nggak selalu dalam masalah dan keterpurukan. next part ditunggu

  10. ina gomez berkata:

    Berhrap dgn hae oppa slalu dismpingnya yoona eonni.yoona eonni bs sembuh n bs bhgia ma hae oppa n anak mreka ☺

  11. HaeNy Choi93 berkata:

    Di saat YoonHae sedaang membenahisemua permasalahan yg ada. Semoga saja Shinjung tidak muncul lagi. Hadeeehh kalo keinget tu orang gedek gue lama2.

    Nextnya ditunggu.. Hehe

  12. tryarista w berkata:

    so sweet yoonhae ,,,,semoga yoona cepet sembuh dri trauma msa lalunya dan mreka bsa hdup bhagia tanpa gangguan ,,,,
    aplgi sekrang ada baby lee yg tmbuh dirahim yoona,,,,
    next jgn lma2

  13. im pizza berkata:

    so sweeett >~< tapi kasihan ya,msih trbyang2 malaram nya… cuma aku msih mudng nih, yooja kan gx d perkosa, cuma hmpir aja.. kurasa gx prlu smpai trauma berat kek gtu, cuma mngkin orng yg dulu hmpir mmprkosany mndtanginy/ktemu tdk sengja itu yg bkin dy mrsa ktkutan bnget ya? apa jngan2 krena donghwa oppa jug?? yah.. aku brhrap cpat ending aj #pletak soalnya, tinggal pngobtan yoona aj kan.. yah klu tuh lelaki brngsek gx dtang lg k khidpan yoona

  14. cha-cha berkata:

    Duuhh…sempet khawatir ps liat yooma jdi gilAa,. Dya kasian bgtss slalu d hantui sma masa lalunyaa.,
    Smoga yoong bsa sembuh total dan g membahayakan anak yg d kandungnyaa..
    Authorr.. Aq tunggu next partnyaaa

  15. han ji bin berkata:

    mudah2an mrka tetep bisa seperti itu selama’a saling tersenyum dan gembira tanpa ada yg mengganggu di tambah dengan hadir’a baby lee nanti sebagai pelengkap cinta mrka
    di lanjut chingu tmbh seru

  16. tya nengsih berkata:

    Kayanya yoona ga perlu ke psikiater……klou terus ma donghae lama kelamaan traumanya pasti hilang dengan sendirinya…….

  17. idaa ziiosay berkata:

    Akhirnya yoong udah tau qlo dy hamil semoga yoong bisa cepet sembuh dari traumanya biar lengkp dah kebahagianya , so sweetnya donghae semoga ga ada masalah besar yang dateng lagi

  18. maya luoxi berkata:

    semoga setelah ini, hidup Mrka lebih bahagia lagi, ditambah sudah ada calon bayi meraka yg akan lahir. dan kuharap yoona bisa melupakan masa lalunya yg buruk..

  19. Sfapyrotechnics berkata:

    Yoong masih kebayang-bayang ama masa lalunya,, smoga dgan adanya bayi dlm kandungan yoong buat dia smangat dan dukungan hae dan kluarganya dpat membantu yoong bangkit.. Momentnya soswett,, lanjut yahh

    fighting

  20. mynameisdessy berkata:

    Kshan yoona traumanya bner” parah, tpi tenang ad donghae, ngeliat donghae sdih sndri dia bner”brusaha buat yoona bngkit jdi yoona hrs semangat apalgi ad baby dlm perutnya

  21. niahh berkata:

    memori masa lalu bkar teringet bnget sma yoona,smoga yoona mau blik buat di terapi
    asikk donghaee akan jdi plindung yoona,ksian kehamilannya tkut bkin yoona stress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s