FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 11 )

marry u 2

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

PART 11

LIMA menit berikutnya Donghae sudah keluar dari rumah sakit. Ia berjalan cepat untuk mencegat taxi. Lalu sebuah taxi berhenti didepannya tidak lama kemudian. Segera Donghae membuka pintu taxi itu namun gerakannya terhenti. Donghae menoleh kebelakang. Tidak ada keanehan apa pun. Donghae mengernyit. Tiba – tiba Ia merasa ada yang memperhatikannya. Mungkin hanya perasaannya tapi ini sedikit berbeda. Ia terintimidasi oleh gerak – gerik mencurigakan dari seorang yang entah siapa diujung sana. Donghae bergeleng cepat. Mati – matian namja itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua baik – baik saja. Tidak ada seorang pun yang mengikutinya, penguntit atau apa.

Donghae melanjutkan niatnya untuk masuk kedalam taxi. Ia memberitahu arah tujuannya kepada sang supir taxi dengan nada tergesa – gesa. Supir taxi itu mengangguk mengerti dan segera melaju. Selama perjalanan Donghae menimbang – nimbang dengan gelisah, Ia menatap jam tangannya dan menghembuskan napas kasar. Bahkan ini baru lima belas menit setelah kepergiannya, Donghae merasa seperti berabad – abad lamanya. Lebih dari apa pun, Donghae  menginginkan pertemuan dengan bosnya cepat selesai dan Ia bisa kembali ke rumah sakit. Donghae ingin mengakhiri semuanya. Rasa bersalah dan kekhawatiran mendalam, perasaan yang membuat napasnya tersenggal –senggal. Donghae sudah menelantarkan Yoona dan  Ia tidak ingin meninggalkan Yeoja itu lebih lama.

Tiga puluh menit kemudian, Donghae sudah sampai disebuah kafe, Ia memilih meja yang berada disudut kanan. Donghae merogoh ponselnya dan menghela napas. Ia datang lebih cepat dari waktu pertemuan, pantas saja atasannya itu belum datang.

“Sudah lama menunggu?” Suara berat seorang pria menghentakkan Donghae dari lamunannya. Donghae terkesiap dan membungkuk hormat kepada Mr Kim yang mengambil tempat duduk didepannya.

“Ah ye sajangnim, baru lima menit yang lalu.” Jawab Donghae seraya menarik garis senyumnya. Ia tidak tahu senyumnya itu aneh atau tidak, karena sesungguhnya, Ia kesulitan memperlihatkan wajah gembira disaat – saat seperti ini.

“Kau sepertinya ada masalah.” Tebak Mr Kim dengan senyum hangat. Rona wajah pria itu memancarkan sinar ketulusan, membuat Donghae merasa malu karena mungkin Ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti beliau. Meski pun Mr Kim adalah atasannya, ada saat – saat tertentu dimana namja berkepala lima itu tampak seperti ayah, bukan hanya bagi Donghae tetapi para karyawannya yang lain. Karena itu Donghae kesulitan jika harus menolak permintaan Mr Kim.

Donghae memutuskan tidak menjawab kata – kata Mr Kim. Kalau ditanya soal masalah, Donghae akan menjawab banyak. Tapi sekarang Donghae tidak punya waktu lebih untuk menceritakan itu semua, pada akhirnya Donghae memilih menunggu Mr Kim berkata sesuatu yang menyangkut maksud pertemuan mereka.

“Begini Donghae-ssi,” Mr Kim memulai. Donghae menatapnya penuh minat.

“Aku ingin mengajakmu mengerjakan sebuah proyek film,” katanya.

Donghae terdiam. Sebuah Proyek? Bahkan Ia tidak yakin bisa bekerja dengan baik dalam keadaan seperti ini.

“Kau hanya perlu membuat beberapa soundtrack dan music effect.”

Benar kata temannya, Sungmin, ini adalah sebuah kesempatan berharga. Donghae menimbang – nimbang. Sisa hutang keluarga Yoona masih belum sepenuhnya terlunasi, meski Donghae sudah berusaha kesana kemari tapi hutang itu belum juga lunas karena bunganya yang sangat keterlaluan, bagaimana pun Donghae sangat membutuhkannya, Donghae tidak mau munafik bahwa Ia membutuhkan uang yang banyak, Dengan begitu mereka tidak akan lagi menyentuh Yoona.

……………….

Hilir mudik kendaraan mengiringi langkah Donghae. Setelah pertemuannya dengan Mr Kim berakhir, Donghae langsung menghubungi Yuri. Beberapa kali ia mencoba menghubungi yeoja itu tapi tidak ada satu pun dari sekian panggilannya yang terangkat. Donghae mendesah frustasi, apakah ia terlalu lama hingga Yuri marah padanya? Donghae juga tidak menyangka jika pertemuannya dengan Mr Kim dalam membahas sebuah proyek akan menghabiskan waktu sebanyak lima jam. Donghae tidak punya pilihan lain, mengingat semua  yang dilakukannya demi Yoona, Donghae melakukannya, mengambil pekerjaan itu agar bisa secepatnya membebaskan Yoona dari para mafia itu…

Hari mulai gelap, Donghae semakin hawatir dengan kondisi Yoona. Berkali – kali Ia mengirimkan pesan singkat tapi tak ada satu pun yang dibalas oleh Yuri. Donghae berusaha mencegat taxi tapi tak ada satu pun dari sekian kendaraan itu yang  berhenti didepannya karena kebanyakan dari kendaraan – kendaraan itu sudah mengangkut penumpang.

Baru saja Donghae berniat menaiki bus umum, benda dalam genggamannya bergetar. Pesan balasan dari Yuri.

From : Kwon Yuri

Yoona sudah sadar. Oh y, tadi orang tuamu datang,  kelihatannya mereka ingin berbicara sesuatu yang penting. Cepatlah kemari.

*Sreettt

Donghae baru saja membaca kata terakhir dalam pesan itu, ponsel dalam genggamannya tiba – tiba raib. Donghae mendongak dan menemukan seorang namja berjaket hitam membawa lari ponselnya, Donghae menggeretakkan giginya kesal, refleks Ia segera berlari dan mengejar sang pelaku penjambretan yang berlari tak tentu arah. Kerap kali orang itu menabrak pejalan kaki yang tidak tahu apa – apa membuat Donghae bertambah kesal.

“Kena kau !” Donghae memutar lengan orang itu dan menyudutkan tubuhnya kesisi tembok. Ia tidak memperhatikan lagi wajah orang itu yang sedang menyeringai kearahnya karena di tempat – tempat yang berada disudut jalan, sangat minim penerangan. Donghae merampas ponselnya kembali dan mendorong tubuh orang itu kesudut tembok. Ia lalu berbalik dan melangkah pergi. Namun baru selangkah berjalan, Donghae membatu ditempatnya.

Seharusnya Ia bisa menduga hal ini, seharusnya Donghae bisa menebak siapa yang membuntutinya bahkan sejak Ia keluar dari rumah sakit siang itu. Donghae terlalu sibuk mengurusi masalahnya hingga melupakan orang – orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu seperti orang – orang yang berdiri dihadapannya kini…

“Lihatlah kebetulan sekali aku bertemu denganmu.” Suara orang itu benar – benar membuat Donghae muak. Donghae sudah memperkirakan apa yang akan dilakukan Shinjung padanya. Tentu saja apa yang dicari oleh orang – orang semacam Shinjung kalau bukan uang untuk bersenang – senang.  Tentu saja, selama di Seoul shinjung  hanya menjadi gelandangan dan berkeliaran tidak jelas. Dan ketika biaya ‘kuliah’ dan biaya hidup yang dikirim oleh keluarganya sudah habis, ia akan mengancam sana – sini.

Donghae terkekeh sinis, “Kebetulan? Tidak salah?” tanyanya dengan nada meremehkan, “Bukankah kau memang sengaja membuntutiku, Shinjung-ssi?”

Pandangan Donghae menyapu disekelilingnya, kalau diperhatikan dengan seksama, dua orang berandal berjaket hitam disamping kanan kirinya, Donghae bisa menebak dengan benar bahwa salah satu dari mereka adalah pria yang membuntutinya tadi siang.

“Yoona belum memberitahumu sesuatu kan?” Shinjung tersenyum penuh arti dan Donghae tidak bisa mengukur seberapa menjijikkannya senyum itu karena cahaya disekitar tempat itu meredup samar – samar.

“Kurasa belum.” Katanya menjawab pertanyaan yang Ia ajukan sendiri, “Yoona tidak akan bisa menceritakannya, dia pasti akan gila sebentar lagi.”

Donghae mengernyit. Otaknya berusaha berpikir jernih agar Ia tidak tersulut emosi, tapi Donghae gagal mengendalikan tubuhnya sendiri. Mendengar ocehan Shinjung yang seperti sampah, kedua tangan Donghae  mengepal kuat dan langsung menerjang Shinjung, Ia lantas  menarik kerah jaketnya  tanpa ampun. Donghae menatap orang itu tajam dan berteriak, “Yak apa maksud ucapanmu?! Katakan sekali lagi atau kuhajar kau?!”

Shinjung menyeringai,“Berikan aku sejumlah uang, aku membutuhkannya sekarang.”

Donghae mengela napas berusaha mengatur emosinya.  Mendengar permintaan Shinjung Donghae benar – benar yakin kalau  berandal itu hanya  ingin memanas – manasi. Tapi sungguh Donghae benar – benar takut kalau ucapan Shinjung memang benar terjadi.

Memikirkan kata – kata Shinjung, kedua tangan Donghae melemas, Ia menghempaskan tubuh shinjung tanpa energi yang berarti, “Aku tidak akan memberimu sepeser pun.” Jawabnya datar. Donghae berniat melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kelompok berandal itu tapi kedua kaki tangan Shinjung kembali menahannya.

“Kau tidak lupa kan, Donghae-ssi? Keluarga Yoona masih belum melunasi hutang – hutangnya–” Shinjung berkata dengan suaranya yang semakin mendekat. Donghae bisa mencium aroma aneh dari tubuhnya.

“Aku akan melunasinya,” Donghae menjawab dengan singkat. Ia tidak ingin berlama – lama, Donghae lalu menerobos barisan orang – orang yang menghalangi langkahnya. Merasa bahwa urusan meerka belum selesai, Shinjung mendorong tubuh Donghae agar kembali ketempat semula. Donghae menatapnya tidak suka.

“Lunasi sekarang !” gertak Shinjung.

Donghae tersenyum enteng dan menggigit bibir bawahnya membalas gertakan Shinjung, “Baiklah tapi aku tidak akan memberikannya kepadamu.”

“Yoona punya hutang pada keluargaku, itu berarti dia berhutang padaku juga.” Potong berandal itu. Donghae tertawa mengejek, “Kau pikir aku bodoh?”

Rahang Shinjung mengeras, Ia tidak suka dengan wajah Donghae yang seolah menyiratkan bahwa dirinya benar – benar bodoh.

“Aku akan langsung datang ke rumahmu dan bertemu dengan keluargamu yang busuk itu. Aku akan menyerahkan sendiri sisanya.” Pangkas Donghae.  Ia menatap Shinjung dengan senyum miring, “Wae? Kenapa terburu – buru… Kau sedang terlibat kejahatan dan ingin kabur ketempat yang jauh? Dan kau tidak punya uang, begitu?”

Shinjung terdiam. Keringat dingin muncul diwajahnya. Yeoja itu… Shinjung sudah membuang tubuh yeoja itu entah kemana. Shinjung memastikan bahwa tubuh yeoja itu sudah terbujur kaku dan itu berarti ia sudah tidak bernyawa lagi. Ia kehilangan kontrol karena yeoja itu mengaku hamil anaknya dan Ia meminta pertanggung jawaban dan biaya perawatan yang mahal sekali. Shinjung berhasil membereskannya dan menutupi kasus ini serapih mungkin tapi satu  hal yang menjadi kendalanya saat ini, Yoona. Yoona ada ditempat kejadian dan melihat peristiwa itu.

Shinjung menatap Donghae, apa namja dihadapannya ini mengetahui semuanya? Tidak ! Yoona tidak akan berani menceritakannya ! Lalu untuk apa Ia takut ?! Shinjung berpikir Ia tidak akan takut dengan apa pun, terlebih itu hanya sebatas tuduhan tanpa bukti dari bocah ingusan seperti Donghae.

“Aku rasa membusuk dipenjara jauh lebih cocok untukmu !” Donghae menyeringai

Baru saja Shinjung berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa kejahatannya tidak akan terbongkar, Donghae mematahkan itu semua dengan kata – katanya yang membuat kepala Shinjung nyaris pecah.

Shinjung menatap penuh amarah, tinjunya terkepal kuat menandakan bahwa Ia benar – benar naik pitam, “Yak tutup mulutmu brengs*ek,”

Bughh…

Shinjung melayangkan pukulannya kewajah Donghae membuat namja itu kehilangan pijakannya. Lalu kedua orang dibelakang Donghae menahan tubuhnya yang nyaris oleng. Donghae menepis kasar kedua tangan orang itu.

Donghae tidak berniat mengotori tangannya. Pukulan – demi pukulan melayang kearahnya tapi tak ada niat sedkit pun bagi Donghae untuk membalas pukulan itu. Ia hanya menghindar, namun keputusan itu membuatnya harus menahan rasa sakit disekujur wajah dan bagian perutnya karena  pukulan bertubi – tubi yang diarahkan kepadanya.

Donghae tidak tahan dengan pukulan yang terus menerus Ia rasakan, Donghae mencoba membalas atau sesekali menangkis pukulan itu, satu – persatu dari mereka terdengar memekik kesakitan, namun Donghae tidak bisa berbuat apa – apa ketika tubuhnya mulai dikeroyok. Dua orang berbadan gempal itu  berhasil memegangi tangannya, terakhir Shinjung lalu mencengkram wajah Donghae lalu menatapnya prihatin.

“Apakah  kita perlu menghabisinya?” tanya seorang pria yang memegangi tangan kanannya. Sedangkan Shinjung, namja itu sibuk menagamati wajah Donghae. Shinjung tersenyum meremehkan lalu menghempaskan wajah itu keras – keras. Donghae mengaduh.

“Tidak, tidak perlu. Kita  sudah tidak punya banyak waktu untuk sekedar menghabisinya, lagipula Kalau dia mati, tidak ada untungnya bagiku.” Jawab Shinjung dengan intonasi dingin. Ia menyambung, “Ambil saja barang – barangnya, cepat ! sebelum ada yang melihat kita !”

“Baik bos !” Jawab keduanya serempak. Mereka mulai menjalankan perintah dari Shinjung.Tangan Donghae dilepaskan begitu saja, tubuh namja itu bersimpuh lemas. Salah satu dari mereka lalu menggerayangi bagian kanan tubuh Donghae dan satunya lagi menggerayangi bagian kiri tubuh namja itu. Setelah berhasil menemukan harta benda milik Donghae, mereka lantas meyerahkannya kepada Shinjung.

“Uhh, Yoona pasti akan sedih melihatmu seperti ini.”

“Salahmu sendiri terlibat dengan yeoja bernama Im Yoona.”

“Pulanglah kawan, Yoona sangat merindukanmu.”

Kata – kata itu melayang dalam pendengaran Donghae, sebelum Shinjung menjatuhkan sebuah  dompet hitam yang sudah kosong  dihadapannya. Donghae menatap Dompet itu, tak ada sepeser pun yang tersisa, mungkin yang tersisa hanya beberapa kartu dalam bentuk nontunai dan tanda pengenal.  Bahkan  Shinjung juga  merampas ponselnya.

Shinjung mulai berpikir juga untuk mengambil beberapa kartu didalam dompet Donghae akan tetapi niatnya terhalang olah sebuah cahaya yang menyorotnya.

“Yak siapa disana?!!” teriak seseorang yang kedengarannya semakin mendekat.

“Sudah kubilang kalian harus cepat bodoh !” Shinjung mengumpat kesal, “Lari !”

Suara terakhir yang didengarnya, Donghae tidak mendengar lagi suara Shinjung setelah itu. Yang tersisa adalah bunyi langkah kaki Shinjung dan kawan – kawannya, bunyi langkah kaki yang terbirit – birit itu semakin menjauh hingga Donghae tak mendengarnya lagi.

“Hei, Kembali kalian?!! Dasar Berandal ?!!”  teriak orang itu lagi, Ia hendak mengejar Shinjung dan teman – temannya namun melihat Donghae yang bersimpuh kesakitan membuat namja berseragam keamanan itu datang menghampirinya.

“Kau tidak apa – apa Tuan? Apa mereka baru saja merampokmu?” tanyanya hawatir. Donghae menggeleng pelan, “Gwencana.” Jawab Donghae sambil memegangi perutnya.

Donghae memungut dompetnya yang tergeletak di jalan kemudian tersenyum kepada petugas itu, “Terima kasih.” Ucapnya setelah petugas itu membantunya berdiri. Sang petugas juga menuntunnya kepinggir jalan. Donghae mengucapkan terima kasih sekali lagi dan manyuruh petugas itu pergi. Donghae berniat mengambil uang di ATM terlebih dulu lalu segera melihat kondisi Yoona di rumah sakit. Bagaimana pun tidak ada yang lebih penting sekarang dibanding Yoona.

……………

Sudah satu jam yang lalu Yoona akhirnya membuka mata sejak Ia tidak sadarkan diri siang tadi. Dokter baru saja memeriksa kondisinya. Awalnya Yuri senang melihat Yoona sudah sadar, akan tetapi harapan yang ada dikepalanya jauh berbeda. Yuri berharap Yoona berbicara satu atau dua patah kata padanya tapi sekarang Yoona hanya diam. Semenjak Ia sadar Yoona belum berbicara sepatah kata pun dengan orang – orang disekitarnya bahkan kepada Tuan dan Nyonya Lee yang beberapa jam lalu tiba di rumah sakit. Mereka tampak menghawatirkan kondisi Yoona.

Ketika Tuan dan Nyonya Lee  keluar untuk menemui Dokter, Yuri tinggal sendiri menjaga Yoona. Keadaan Yoona masih sama. Ia hanya berdiam diri dengan tatapan kosongnya.

“Yoona, apa kau baik – baik saja—“ Yuri mencoba mengisi kekosongan dengan memancing percakapan, tapi reaksi Yoona tetap sama.

“Maksudku… apa kau membutuhkan sesuatu?”

“Yoona, bicaralah kumohon?!”

Yuri berdecak frustasi. Ia mengacak rambutnya sendiri dan menatap Yoona putus asa,  “Yoona-ya, aku tahu kau sangat mencintainya dan takut kehilangan orang yang kau cintai, Selama ini kau sudah kehilangan banyak hal, mulai dari ibumu, bahkan masa depanmu yang nyaris hilang karena kasus itu, memang hal – hal seperti itu tidak dapat dihindari tapi bukan berarti kau harus mengakhiri hidupmu karena takut kehilangan orang yang kau cintai… aku benar – benar tidak mengerti jalan pikiranmu, apakah merasa kehilangan seseorang begitu membuatmu trauma?” Yuri berbicara panjang lebar dan mengeluarkan seluruh  kalimat yang mengganjal pikirannya. Yuri mengambil kesimpulan dari cerita  Donghae tadi siang bahwa Ia dan Yoona sempat bersitegang sebelum Yoona menelpon Yuri seolah – olah ingin mengakhiri hidup. Donghae bilang bahwa Yoona tidak suka jika Donghae berinteraksi dengan Jessica…. Ya Jessica, alasan mengapa Yoona menelpon Yuri kala itu pasti ada hubungannya dengan dia. Yuri mengenal Jessica sebagai sahabat Donghae sejak dulu, Yuri beberapa kali bertemu dengannya, tapi Ia tidak pernah sekali pun menyukainya.

Yuri mengatur napasnya yang tersenggal – senggal. Ia lalu memandang kedalam mata Yoona. Bola mata itu tampak berkilap – kilap dibanding sebelumnya. Dan seperti dugaan Yuri, mata bulat Yoona memerah. Lalu butiran – butiran itu meluncur begitu saja.

Menghela napas panjang,  hal pertama yang dilakukan Yuri ketika ia menyadari bahwa mungkin saja kata – katanya barusan menyakiti hati Yoona, tapi ia hanya berusaha untuk jujur.

Setidaknya Yoona menunjukkan padanya bahwa Ia masih mendengarkan. Yuri mengubur anggapannya sendiri bahwa kini Yoona sudah berubah menjadi manusia batu, setidaknya dengan Yoona menangis Yuri bisa menyimpulkan bahwa Yoona masih punya perasaan meski pun tatapannya masih kosong dan dingin, persis seperti manusia batu yang tidak bernyawa.

Yuri menggenggam tangan Yoona yang terbaring lemah, “Mianhae, aku tidak bersungguh – sungguh mengatakannya,” sesal Yuri yang mengutuk kata – katanya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa kata – katanya membuat air mata Yoona mengucur deras.

“Permisi Yuri-ssi.”

Yuri berbalik ketika sebuah suara menyebut namanya.  Posisinya saat itu adalah duduk disamping tempat tidur Yoona dengan arah membelakangi pintu jadi Yuri tidak menyadari bahwa seseorang baru saja tiba dan berdiri dibelakangnya.

Mata Yuri memicing, “Kau?!” serunya kaget. Yuri menatap Yoona yang tidak juga beraksi, pandangannya tetap lurus dan kosong. Tiba – tiba yuri mendengar irama jantungnya yang berdetak amburadul. Jangan sampai orang itu berada disini lebih lama ?! Yuri yakin perasaan Yoona akan semakin terguncang.

Yuri menyambar tangan Jessica dan  segera menyeret yeoja itu keluar. Ketika didepan ruang tunggu Yuri menatap yeoja dihadapannya tajam,  “Apa yang kau lakukan disini?!”

Jessica berusaha menghempaskan tangan Yuri yang mencengkram lengannya, “Memangnya tidak boleh aku kemari?”

Yuri meniup ubun – ubunnya yang panas, dengan terpaksa Ia melepas tangan Jessica, “Kau masih bertanya setelah apa yang kau perbuat sehingga Yoona menjadi seperti ini, huh?!” cerca Yuri, Ia sungguh kehilangan kesabarannya. Yuri cukup mengenal Jessica sebagai sahabat Donghae yang selalu menempel seperti lumut. Kadang kala sikap Jessica yang terkesan manja membaut Yuri muak meski begitu Ia masih menghormati Jessica sebagai Eonni. Akan tetapi Jessica menghancurkan sendiri penghormatan untuknya. Semenjak mengetahui perbuatan Jessica yang membuat Yoona bertambah depresi, Yuri menelan mentah – mentah rasa hormatnya untuk orang seperti Jessica.

 “Dari mana kau tahu Donghae disini? Kau memata – matainya kan?” tanya Yuri kembali ketika Jessica tak bereaksi atas anggapannya.

Yeoja itu terbelalak, “Mwo?”

“Nde, bukankah kau selalu ikut campur urusan orang lain? Berhentilah bersikap seperti itu Jessica-ssi, sebanyak apa pun kau menyangkal, aku sudah hapal sikapmu yang satu itu !”  Tuduh Yuri blak – blakan. Jessica yang mulai tersudut dan tidak tahu lagi harus bagaimana meladeni Yuri lantas membalas dengan kalimat yang tidak kalah blak – blakannya.

“Nde aku memang memata – matainya, Wae ?!”

“Oh ya? Sesuai dugaanku.” Yuri melipat tangannya didepan dada, ia tersenyum remeh.

Jessica menghela napas dan mulai bercerita, “Mianhae kalau kedatanganku mengganggu kalian. Aku hanya penasaran karena siang tadi Donghae Oppa kelihatan sangat panik lalu aku mengikutinya dari kantor, Belakangan aku tahu kalau  Donghae Oppa mengunjungi rumah sakit ini karena Yoona jatuh pingsan,  aku ingin menemuinya, tapi siang itu,  aku melihat Oppa keluar dari rumah sakit dan berlari menaiki taxi, jadi aku memutuskan pulang…” ujar Jessica sebelum yuri menyuruhnya menceritakan awal mula sehingga Ia bisa sampai disini.

 Yuri terkekeh.

“Apa Donghae Oppa belum kembali?” tanya Jessica yang masih penasaran karena Ia tak bisa  menememukan sosok Donghae.

“Apa pedulimu dan bagaimana kau tahu Donghae sedang pergi?” cecar Yuri kembali.

Jessica meniup ubun – ubunnya lelah, “Aku sudah bilang kan? Tadi siang aku datang, aku bahkan mengikutinya dari kantor sampai ke rumah sakit ini,  aku melihatnya, tapi dia tidak melihatku.”

“Jadi kau merasa dicampakan?” yuri menyimpulkan dengan intonasi mengejek. Lagi – lagi Jessica seperti tidak terima dengan kata ‘dicampakan’. Ia menghela napas untuk meredam emosinya dan berujar pelan, “Yuri-ssi, aku tidak peduli kau mau berbicara apa, aku sudah meluangkan waktu untuk datang malam ini.”

“Lalu? Tidak ada yang mengharapkanmu untuk datang.”

“Tapi niatku baik.” potong Jessica.

Yuri memandang sinis,“Niat baik? Memangnya apa niat baikmu itu?”

“Aku ingin… meminta maaf,” Jessica menunduk bersalah karena selama ini ia sudah memprovokasi Yoona seolah – olah Donghae lebih memilih bersama dengannya. Ia tidak tahu kalau emosi Yoona tidak stabil seperti itu. Jessica hanya ingin melihat apakah Yoona benar – benar mencintai Donghae atau hanya  sekedar memanfaatkan sahabatnya itu untuk melunasi hutang – hutang keluargnya. Jessica berharap bahwa Yoona tidak akan cemburu menanggapi ulahnya, dengan begitu ia bisa menarik satu kesimpulan bahwa Yoona tidak benar – benar mencintai Donghae dan itu berarti ia punya alasan untuk menjauhkan Yoona dari Donghae, akan tetapi harapan Jessica sangat melenceng dari kenyataan sebenarnya. Yoona benar – benar cemburu, Ia bahkan hampir bunuh diri karena merasa akan  kehilangan Donghae, begitulah yang dikatakan Yuri tanpa sadar kepada Yoona yang entah mendengarnya atau tidak, tapi Jessica mendengarnya dengan jelas sebelum Yuri menyadari kehadirannya.

Tapi sesungguhnya dibalik tujuan itu, Jessica pun masih mengharapkan Donghae untuk melihatnya sebagai wanita, namun seiring berjalannya waktu, Jessica menyadari bahwa ia tidak ada  apa – apanya dibanding Yoona. Yoona benar – benar mendominasi pikiran Donghae.

Yuri menyeringai membaca pikiran Jesssica yang terdiam, “Yak, kenapa berhenti? Apalagi yang ingin kaukatakan?”desak Yuri menatap curiga dan terkekeh miris,”Dan kau pikir aku percaya? Ini hanya akal – akalanmu saja kan? Aku tahu kau sedang mencari – cari perhatian, sudahlah memangnya diluar sana—“

“Yuri, apa Eomma didalam? Lalu bagaimana Yoona, apa Ia baik – baik saja?” Tanya Donghae dengan  tergesa – gesa. Yuri mengernyit mendengar suara Donghae yang tiba – tiba menegurnya ketika Ia sibuk berdebat dengan Jessica hingga tak menyadari kehadiran namja itu. Yuri menghentikan  percakapannya dengan Jessica.  Mereka berdua sama – sama memandang Donghae dengan ekpresi wajah kaget bercampur hawatir.  Bagaimana tidak, Donghae tiba – tiba muncul dengan wajah lebam dimana – mana, namja itu juga meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.

“T-tadi  Ahjussi dan Ahjumma baru saja keluar menemui dokter.” Yuri tergagap tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun pada Donghae.

Donghae mengangguk. Lalu sepasang matanya beralih menatap Jessica, “Ah Jessica, sedang apa kau—“ pertanyaan Donghae terputus, Ia memikirkan sesuatu lalu menyambung, “Ah baiklah, aku permisi.”

 Yuri dan Jessica saling pandang. Pertengkaran mereka berhenti sejenak. Pertanyaan – pertanyaan aneh muncul, “Ada apa dengannya?” Jessica bertanya dengan suara kecemasan. Yuri terdiam, Ia sibuk  mengamati punggung Donghae yang bergerak tertatih keadalam ruang perawatan Yoona.

“Entahlah…” Yuri mengangkat bahu seraya mengigit bibir bawahnya. Kali ini Yuri tidak tahu lagi bagaimana cara menyelesaikan ini semua, apa yang terjadi sebenarnya, Ia benar – benar tidak tahu.

………

Rasa sakit disekujur tubuh Donghae menghilang ketika Ia melihat Yoona baik – baik saja. Perasaan lega mencelos kedalam jantungnya. Dari belakang Donghae menatap punggung Yoona, yeoja itu memandang kearah jendela. Donghae melangkah mendekatinya, Yoona belum menunjukkan reaksi apa pun, Ia hanya duduk dengan tatapan kosongnya. Tiba – tiba perasaan lega yang sejak tadi dirasakan Donghae berganti setelah Ia menemukan tatapan itu diwajah Yoona. Yoona seperti menerawang sesuatu yang entah apa, bahkan tanpa berkedip sama sekali.

Donghae duduk ditepi ranjang. Dihadapan Yoona Donghae bisa melihat kepedihan dimata yeoja itu.  Donghae menggigit bibir bawahnya, sesak memenuhi rongga dadanya ketika melihat Yoona seperti ini. Tapi Donghae tidak bisa menyalahkan siapa pun, mengenai rasa frustasi Yoona atau perbuatan tidak menyenangkan yang dialaminya semua itu sudah terjadi. Donghae tidak menyangka bahwa kejadiannya akan secepat ini. Bahkan Donghae belum melakukan apa pun untuk melindungi Yoona. Ia tidak tahu ketika Yoona menahan kesakitan dari masa lalunya seorang diri, Donghae tidak memperhatikan Yoona ketika yeoja itu meminta agar ia tetap tinggal disisnya, Donghae tidak ada ketika Yoona menangis… Donghae merasa tidak berguna, Ia menyesali masa lalu dan sekarang dengan tidak tahu diri Ia berharap, masih adakah kesempatan kedua untunya? Donghae tidak tahu apa yang ada dipikran Yoona, tapi Ia masih berharap Yoona memberikan kesempatan itu untuknya, Donghae berharap agar mereka bisa seperti dulu…

Tangan Donghae terangkat. Jemarinya bergerak ragu  membelai kepala Yoona. Donghae bersyukur, degup jantungnya menyahut girang karena pada akhirnya Tuhan berbaik hati memberinya kesempatan untuk menyentuh Yoona dalam keadaan sadar meski pun Yoona belum menunjukkan reaksi yang berarti, Donghae sangat bersyukur.

“Yoona…” Panggil Donghae dengan lirih, tapi Yoona tak membalas tatapannya, Yoona seolah bisu dengan mata kosong yang menatap jendela.

Tanpa menunggu reaksi selanjutnya, Donghae, menggiring kepala Yoona kedalam dekapannya dan menciumi puncak kepala yeoja itu dengan lembut. Donghae tidak peduli lagi dengan penolakan, Ia tidak bisa menahan keinginan  itu lebih lama.

“Katakan sesuatu Yoong, kau boleh memakiku, lakukan sepuasmu, tapi jangan seperti ini, jebal.” Pintanya setengah berbisik, Donghae memejamkan matanya meresapi sesuatu, “Jangan balas aku dengan cara seperti ini Yoong…”

Donghae semakin membenamkan wajah Yoona dalam dekapannya. Sementara itu Yoona seolah pasrah dengan perlakuan itu. Lalu Donghae meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat. Ketika itu, Donghae merasa cairan hangat menembus kemejanya. Cairan itu merembes menyentuh dadanya yang sesak. Samar – asmar Donghae mendengar  deru napas Yoona  yang berhembus naik turun, tampak Yoona yang sesanggukan, Donghae lantas mencium kening Yoona mengirimkan  ketenagan disana.

“Jadi, bukankah aku menyedihkan?”

Donghae bergeleng, “Aku tidak peduli mau semenyedikan apa dirimu.”

“Aku tidak sebaik yang kau kira, kau tidak akan aman bersamaku, mereka masih mengejarku.”

“Aku juga tidak peduli mau semenyeramkan apa dirimu, Yoona.”

Yoona tertegun. Ia  mengangkat wajahnya. Tatapan Yoona yang tadinya  kosong mulai mengamati wajah Donghae.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Yoona dengan panik bercampur cemas. Setelah waktu yang Ia habiskan untuk mengurung diri dalam pikirannya sendiri, Yoona akhirnya menyadari bahwa namja dihadapannya tidak baik – baik saja. Yoona meraba – raba wajah Donghae, seiring dengan perih  yang menggenangi permukaan matanya.

“Shinjung yang melakukannya?”

“Ani…” Donghae menggapai punggung tangan Yoona diwajahnya, menggengamnya dan menggeser tangan itu pelan – pelan. Sebelum ini Donghae sudah menyiapkan jawaban seandainya orang – orang bertanya mengenai masalah diwajahnya, karena terpeleset atau jatuh dari tangga, namun Donghae tak menyangka Yoona bisa membaca situasi dan menebaknya dengan benar.

“Dia sudah  berani menyakitimu?!” Yoona menyeru dengan api amarah yang memancar dari bola matanya.

Donghae menarik napas dan mulai menyusun kata diotaknya, “Yoong—“

“Katakan sejujurnya ! Katakan sejujurnya Oppa !” Yoona mengamuk. Donghae  membatu tidak menyangkal dugaan Yoona yang benar adanya. Karena Donghae yakin sesempurna apa pun Ia mengarang cerita, Yoona tidak akan percaya.

“Ahhhh, Kenapa juga dia harus melakukannya padamu?!! Wae?!”

“Yoona tenanglah !” Pinta Donghae menenagkan Yoona yang mulai sesanggukan.

“Bagaimana aku bisa tenang ?! kutanyakan sekali lagi bagaimana aku bisa tenang?!” Desak Yoona dengan wajah memerah. Tanpa menjawab, Donghae lantas mendekapnya, Yoona sedikit memberontak. Donghae semakin mengencangkan dekapannya lalu berbisik, “Tenanglah Yoong, Jebal, aku baik – baik saja.”

“Ani ! Kau tidak baik  – baik saja ! Aku tahu kau berbohong,” Yoona bergeleng tegas, Ia berusaha menelan sesanggukannya, “Wae? Kenapa kau seperti ini? Oppa lihatkan, aku Cuma menggiringmu kedasar jurang, lalu kenapa kau mengikutiku? Harusnya kau bersama yeoja yang lebih baik! Bukan aku yang hanya bisa membebanimu?! Sekarang untuk kedua kalinya  setelah Donghwa Oppa, aku membuat orang lain terlibat dalam  masalahku dan, dan itu kau. Aku tidak rela. YA tuhan kenapa, kenapa harus kau yang jatuh bersamaku?! Kenapa bukan orang lain atau aku sendiri yang jatuh? Sekarang keluarga mereka juga mengincarmu karena  aku dan hutang – hutang sialan itu?! Kenapa kau malah melibatkan diri dengan mereka?! Aku hanya bisa menyusahkanmu,”

Yoona kehabisan tenaga bahkan untuk menangis sekali pun. Ia merosot didalam dekapan Donghae dan memukul dada bidang namja itu agar Ia melepasnya, pelukan hangat yang membuat Yoona tersiksa. Ia tidak berhak mendapat perlakuan seperti itu dari Donghae. Itulah kenapa Ia tidak ingin Donghae tinggal disisinya, Itulah mengapa Yoona mati- matian menolak perasaannya sendiri, karena jika semua terjadi Donghae akan terluka bersamanya, seperti sekarang.

Yoona menatap bingung, Ia berharap semua ini adalah mimpi dan Yoona harus cepat – cepat bangun agar segera keluar dari mimpi buruk ini. Yoona mengingat dan mengingat, kalau saja dulu… seharusnya dan seharusnya.

“Seharusnya ini semua tidak pernah terjadi…” Yoona mencengkram kepalanya seolah ingin memusnahkan apa yang kini berputar – putar didalam sana.

“Yoona, tenanglah ini semua bukan salahmu.” Donghae mempererat dekapannya. Disaat itu pula Yoona memberontak. Ia mendorong tubuh Donghae sekuat tenaga hingga dekapannya terlepas. Yoona ingin Donghae menjauh, menjauh darinya…

“Siapa? Siapa yang menyuruhmu seperti ini Lee Donghae? Siapa yang menyuruhmu masuk dalam kehidupanku dan  akhirnya sulit untuk diriku  melepasmu kembali.” Pekik Yoona meminta penjelasan, Ia menatap Donghae dengan mata berapi – api.

Donghae menggeleng atas penuturan Yoona terhadapnya, sungguh, tidak ada seorang pun yang menyuruhnya berbuat seperti ini, tidak ada seorangpun yang memintanya untuk jatuh cinta dan  masuk kedalam masa lalu Yoona, Donghae tanpa sadar melakukannya , dengan tulus.

Dan perkataan Yoona tadi membungkamnya.

“Nde aku mencintaimu, Aku mencintaimu Lee Donghae ! Saranghae, saranghae saranghandagooo…”

Suara Yoona menggema disekujur ruangan. Nada getaran dan pilu mengiringi tangisannya hingga di-penghujung kalimat.

Donghae terpatung. Mendengar penuturan Yoona barusan, pikirannya menjadi kosong. Antara senang, bimbang dan sedih. Donghae tidak tahu bagaimana Ia harus menagapi pernyataan cinta dari Yoona yang seperti itu. Donghae sudah lama sekali mengharapkan kalimat seperti itu meluncur dari bibir Yoona tapi… Tapi tidak dalam kondisi seperti ini, jadi haruskah Ia senang?

Yoona menutup wajahnya dengan sepuluh jemarinya yang lentik dan terisak dibaliknya, “Nde semua ini karena salahku, berawal dari keegoisanku karena dulu aku menyetujui untuk menikah denganmu. Kupikir aku tidak bisa hidup tanpamu, Ya, sesungguhnya kau adalah alasanku bertahan sampai sekarang. Kalau aku menikah dengan anak mafia itu, aku punya rencana untuk langsung bunuh diri. Tapi kau memberiku harapan untuk hidup dan aku merasa dunia baik – baik saja  bersamamu dan Ya…”

“Tapi apa artinya itu semua kalau aku malah mengacaukan hidupmu. Kau masih punya keluarga, kau masih punya Eomma Appa dan Krystal. Kau masih harus  memikirkan mereka, dan sekarang, gara – gara aku keluarga kalian hancur. Gara – gara memikirkanku keadaan menjadi sekacau ini.”

Donghae menggenggam jemari Yoona dan menyingkirkan benda itu pelan – pelan, akan tetapi Yoona menepisnya kasar. Seketika Donghae terkesiap ketika tatapan tajam Yoona menghujam jantungnya.

“AKu jahat Oppa, aku sungguh jahat !” amuk Yoona.

Donghae hawatir Yoona semakin tidak terkendali. Ia meraih kepala Yoona dan mendekapnya sekali lagi, Donghae mengerahkan seluruh tenaganya agar Yoona tidak lepas dari dekapan itu.

Donghae mendengar apa saja yang Yoona ucapkan tanpa menyanggahnya sedikit pun, Donghae ingin mendengar apa yang selama itu terpendam dalam pikiran Yoona, Donghae ingin mendengar semuanya apa yang dirasakan Yoona…

“Cinta itu hanya merubahku menjadi orang yang jahat. Kenapa? kenapa kau memilih tinggal dan merubahku menjadi seegois ini?!”

Yoona kembali menghantam dada Donghae dengan pukulannya yang kian melemas dan lama – kelamaan menjadi tak berdaya. Yoona menyadari ia benar – benar kehabisan tenaga, atau… atau sesungguhnya Yoona tidak bisa berbuat apa – apa karena pelukan Donghae terlalu menenangkan untuknya. Yoona tidak menyukai ini, yeoja itu meratapi tubuhnya yang tergolek lemah didalam dekapan seorang Lee Donghae.  Dan Yoona  mulai menangisi dengan apa yang dilakukannya selama ini. Berjuta kalimat penyesalan muncul dari bibirnya.

“Aku benar – benar bingung dengan diriku sendiri. Sejak dulu aku  selalu menghindarimu tapi sekarang aku malah merasa tidak bisa  berbuat apa – apa tanpamu.”

 “Harusnya dulu kau membiarkanku menikah dengan Shinjung, dan hal seperti ini tak perlu terjadi. Kau tahu? Aku bisa mengakhiri hidupku secepat mungkin kalau aku tidak suka.”

“Sejak dulu aku mati – matian menghindarimu tapi  kenapa kau malah tinggal disisiku?  Kenapa kau memilih hidup seperti ini bersamaku dan membuatu tergantung padamu? Wae?!”

“Seharusnya.. seharusnya waktu itu—“

Donghae membungkam lisan Yoona. Yoona memutus kata – katanya ketika bibir Donghae menyentuh bibirnya. Yoona terbelalak, ia berusaha mendorong tubuh Donghae namun apa daya  tenaganya tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh seorang namja. Dorongan pada tubuh namja itu seolah menjadi sentuhan lembut untuknya.

Pada akhirnya Yoona menyerah. Yoona menikmati perlakuan Donghae padanya, tanpa sadar ia terbuai dengan pesona Donghae yang memabukkan. Tiba – tiba otak Yoona lumpuh. Dengan tidak tahu malu Ia memancing Donghae untuk memperdalam ciumannya. Yoona lalu melupakan semua, masalah yang membuatnya nyaris gila. Yoona tidak mengiginkan ini berakhir, Ia menginginkan mereka terus menyatu seperti ini. Yoona tidak ingin mengingat kejadian buruk yang menimpanya. Ia ingin selalu bersama Donghae. Detik ini, Yoona menyadari bahwa hal itulah yang paling diinginkannya. Berada didalam lingkaran hangat seorang Lee Donghae yang membuatnya merasa aman. Kehangatan yang membuat Yoona tak lagi merasa dikekang oleh masa lalunya sendiri.

Dilain sisi, Jessica ikut terisak bersama Yuri. Jessica berpikir seharusnya Ia tidak bersikap seperti itu kepada Yoona, hidup Yoona tak semudah yang Ia bayangkan. Jessica tidak tahu persis apa yang menimpa Yoona, tapi ia bisa melihat kepedihan dimata yeoja itu. Dan kalimat – kalimat Yang diutaran Yoona barusan seperti menusuk jantungnya. Terlalu banyak hal yang menimpa Yoona bahkan Jessica frustasi jika harus menghubungkannya satu persatu dan sekrang apa yang sudah diperbuatnya?! Ia malah mengganggu Yoona dan menambah rumit permasalahan. Kelihatannya jelas bahwa Donghae adalah satu – satunya alasan yang membuat Yoona bertahan begitu sebaliknya. Jessica merasa sia – sia saja bila harus berjuang untuk menarik perhatian Donghae, namja itu tidak akan menggubrisnya sama sekali. Dan ya keputusannya sudah bulat, Ia harus menyerah sekarang juga.

Donghae menjauhkan wajahnya. Kedua tangannya membasuh air mata Yoona yang mengalir dipipi. Ia tersenyum sekilas, menebar kenyamanan tersendiri bagi Yoona.

“Bisakah kau melupakan semua itu? Mulai sekarang aku akan melindungimu, tidak perlu merasa bersalah lagi, apa pun yang terjadi kita akan menghadapinya bersama – sama.” Donghae berujar pelan, sementara itu Yoona tak berkedip menatapnya. Yeoja itu terpatung. Didalam hatinya Ia tidak ingin membiarkan Donghae terperosok lebih jauh bersamanya.

Seorang suster yang baru saja tiba mengalihkan perhatian mereka. Suster itu mendorong troli yang berisi makanan. Ia membungkuk hormat kepada orang – orang didalam ruang rawat yang dimasukinya kemudian meletakkan troli itu disamping tempat tidur Yoona.

“Annyeong maaf mengganggu, sudah tiba saatnya jam makan pasien.” Katanya setelah membungkuk. Donghae balas membungkuk dan mengucapkan terima kasih.

“Baiklah Saya permisi dulu, Jika ada kesulitan silahkan hubungi kami.” Pesannya lagi, tidak lama kemudian, suster itu berlalu dan menghilang dibalik pintu.

Tiba – tiba Yuri datang mendekatinya dan berkata, “Yoona kau harus makan.”

Yoona tidak menjawab. Lagi – lagi seperti itu. Yoona kembali dengan tatapan kosongnya.

…………………..

 Setelah Ia melangkah keluar, Donghae menutup pintu ruang rawat Yoona. Donghae berjalan menulusuri lorong rumah sakit yang tampak sepi. Ia berjalan seraya menyentuh bagian wajahnya yang terasa berdenyut – denyut. Mungkin itu benar, Donghae mengikuti saran Yuri untuk segera membersihkan lukanya, sebelum  luka yang tak kunjung mengering itu mengundang pertanyaan dari orang  – orang disekelilingnya.

Donghae mempercepat langkahnya, Ia harus buru – buru sampai ke apotek rumah sakit. Ia yakin luka diwajahnya tidak terlalu parah, jadi mungkin tidak membutuhkan waktu lama untuk mengobatinya dengan begitu Donghae bisa menggunakan sisa waktunya untuk menemani Yoona. Sekarang Yoona sedang berada dibawah penjagaan Yuri dan Jessica. Jessica… entah kenapa Donghae merasa aneh dengan kehadiran Jessica disini. Terlebih usai dirinya keluar dari ruangan itu,  Donghae melihat Jessica mengatakan sesuatu kepada Yoona entah apa.

 “Donghae-ya, omo !“Langkah Donghae terhenti, tak disang – sangka Ia berpapasan dengan Nyonya Lee. Ya, seingat Donghae, Eommanya itu sedang menemui Dokter. Begitulah yang dikatakan Yuri. Dan sekarang dengan wajah kaget, Nyonya Lee menyentuh wajah anaknya.

“Ada apa dengan wajahmu ?!”

Donghae mendesah, Ia berpikir sejenak lalu mengaku, “Aku berkelahi— dengan seorang teman,”

“Mwo? Kenapa bisa begitu?” Nyonya Lee menatap tidak terima.

“Sudahlah Eomma, aku sedang malas membahas hal yang tidak penting.” Lerai Donghae karena sejujurnya Ia tidak ingin tersulut emosi karena mengingat wajah Shinjung.

Donghae menatap Eommanya ingin tahu, “Jadi apa yang dokter katakan?”

Nyonya Lee menghela napas. Ia tahu anaknya sedikit tertutup jadi tidak ada gunanya memaksa Donghae untuk berkata jujur. Toh, pada akhirnya Ia akan mengetahunya sendiri nanti.

“Itulah yang ingin Eomma dan Appamu  bicarakan.” Ucapnya pada Donghae yang sedang menunggu jawaban.

 “Baiklah, jadi kita bicara dimana?” sambar Donghae dengan wajah penasaran.

“Ikut Eomma.” Jawab Nyonya Lee lalu berjalan ke-suatu tempat.

Dari kejauhan Donghae menatap Appanya yang sudah lebih dulu tiba ditempat pertemuan mereka. Ruang tunggu rumah sakit. Donghae menghampiri Tuan Lee yang duduk disepanjang kursi ruang tunggu disusul Eommanya.

“Appa jadi bagaimana kondisi Yoona?” tanya Donghae usai mendaratkan tubuhnya disamping tuang Lee. Tuan Lee sedikit kaget melihat wajah anaknya yang lebam, Ia ingin bertanya sesuatu tapi istrinya bergeleng dan memberi isyarat padanya agar Ia segera berbicara mengenai masalah Yoona.

 Tuan Lee menatap istrinya lalu menjelaskan, “Donghae-ya, kau harus mengawasi Yoona jangan sampai Ia berbuat sesuatu yang mencelakai dirinya dan ya, kehidupan yang lain—“

 “Eumm begini Hae-ya.” Nyonya Lee mengambil alih percakapan, “Eomma dan Appamu takut seandainya Yoona tidak bisa mengendalikan emosinya, Sekarang saja Ia tak henti – hentinya memandang kosong. Eomma takut sewaktu – waktu dia bisa kehilangan kontrol.”

Nyonya Lee kemudian menimbang – nimbang, “Apakah kita bawa saja Yoona ke-teman Appa yang dulu pernah menanganinya ?”

“Aku tidak peduli Yoona mau dibawa kemana, kalau memang itu yang terbaik kita harus bergerak cepat !” Donghae menyeru. Sekarang Ia tahu arah pembicaraan mereka. Sudah jelas bahwa Yoona mengalami depresi dan itu sangat berpengaruh bagi kesehatannya.

“Kami juga berpikir demikian tapi…” Putus  Nyonya Lee dengan wajah keraguan.

“Tapi apa?”

“Tapi masalahnya adalah…” Nyonya Lee tampak segan untuk menjelaskan. Ia lalu memberikan isyarat kepada suaminya untuk berkata sesuatu.

Donghae mengernyit.

Tuan Lee menghela napas. Namja paruh baya itu menatap anaknya lamat – lamat. “Masalahnya Yoona sedang hamil,”

“Mwo?” Tertegun ditempat, Donghae merasakan gemuruh disekujur tubuhnya…

…………TBC………..

38 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 11 )

  1. sulistiowati_06 berkata:

    mwoya??? yoona hamil? sama donghae kah? haduh kenapa ceritanya sulit ditebak gini. kasian janinnya kalo keadaan yoona ga stabil, bisa berpengaruh. seneng banget ternyata donghae juga punya perasaan yang sama ke yoona. lanjutnya jangan lama2 chingu, ga sabar pengen cepet baca next partnya. daebakkkk

  2. tya nengsih berkata:

    Gregetan banget ma shinjung tu orang jahatnya kelewatan……
    hidup yoona sedih banget ya mana lagi hamil ,dah kaya patung hidup ja,….. masalahnya tambah rumit……

  3. Haeril Jjang berkata:

    wh smkn seru.mdh2an dg k hamilnx yoona bs lbh hdup.brhrp donghae bs menyembuhkn hti yoona sec4x.next chapx jgn lm2 chingu

  4. im pizza berkata:

    kasihan yoona, gx selesai2 masalahnya.. trus mnderita,, mnyedihkan,, tapi Yoona kuat wlaupun dia depresi itu krena donghae.. klu yoona tau dy hamil, ap reaksinya??

  5. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    yoona hamil ?! kalau yoona sampai tau apa yang bakalan dia lakukan, donghae juga terkejut.
    shinjung emang nggak punya hati tuh orang. jessica baru sadar kalau dia bikin yoona tambah depresi setelah apa yang dia lajuib selama ini ? aigo~. yoong kalau ada donghae emosinya keluar. next ditunggu, yh jjang…!!

  6. idaa ziiosay berkata:

    Seneng sih yoong hamil hbngan bertambah erat tapi dsaat kondisi dy ga memungkinkan begitu kasian juga gmna reaksi yoong nanti pas tau dy hamil , donghae aja bgt reaksinya gmna yoong

  7. HaeNy Choi93 berkata:

    Yoona Hamil?? Anak donghae kan??
    Aduh duhh kenapa semakin lama ceritanya semakin menegangkan gini.
    Shinjung si Kepara*t itu benar2 bikin emosi aja. Gak di bikin mati tu orang di sini. Masukin ke penjara atau gimana gitu. Biar Yoona aman. Gemes ane ! Hihih

    next semoga gak lama.

  8. DEA OKTAVIKA berkata:

    Kehidupan mreka main rumit eh hadirnya bayi di tengah” mereka. Kasihan yoona dlu udh merasa bersalah pada donghwa dia gk ingin hwae merasakan kyak hyungnyaa. Di runggu next chapnya.

  9. Anonim berkata:

    Yoona hamil?hamil anak donghae atau gmna??
    kasian bngt yoona ampe depresi gitu ampe ak jg ikut sedih
    ga sabar sma kelanjutan critany,d’tunggu next chapter

  10. kantimur_11 berkata:

    Yoona hamil?hamil anak donghae atau gmna??
    kasian bngt yoona ampe depresi gitu ampe ak jg ikut sedih
    ga sabar sma kelanjutan critany,d’tunggu next chapter

  11. vidya berkata:

    yeee akhirnya yoona hamil. uaaa seneng banget yoona hamil. tapi ini masalahnya kapan selsai? kasian kan ama anak yg dikandung yoona ntar jadi kenapa”. semoga masalahnya cepet selsai. next part ditunggu thor jgn lama”.

  12. Anonim berkata:

    yoona hamil?? ahh tolong jg terlalu stress yoona, mgkin yoona jg tdk tau kalau dia sedang hamil. smoga stelah mengetahuinya, yoona bisa hdup lebih baik lg, jgn merasa terbebani..

  13. maya luoxi berkata:

    yoona hamil?? ahh tolong jg terlalu stress yoona, mgkin yoona jg tdk tau kalau dia sedang hamil. smoga stelah mengetahuinya, yoona bisa hdup lebih baik lg, jgn merasa terbebani..

  14. dela wp berkata:

    ish…
    Shinjung ingin q musnahkan dri muka bumi ini..
    Hae oppa hrs selalu berada di samping yoong eonni.
    Yoong eonnie hamil.
    Hrs extra jaga ketat nich

  15. chohara berkata:

    Yaaampunn yoong hamil?? Tpi dia lagi dpresi berat?? Gmana kalau dya brtndak yg aneh2 dn mlukai bayinya sndri??
    Next cpat post yaa.

  16. Kenz berkata:

    Yoona hamil?duh duh jangan terlalu stress yoong:) di lanjut thorr penasaran nih giman lanjutan nya jangan lama2 ne?^^

  17. haruday berkata:

    udah yakin klw yoona hamil, soal.xa dia mual2
    anak donghae? Udah pasti soal.xa udah 2x mrka mlakukan.xa
    kpan ya shinjung hdupnya brakhir
    smoga donghae bsa mnjaga yoona dgn baik apalgi mrka bkalan pnya bayi,

  18. Nabilla Utmary Elfishy berkata:

    Waduh..pengen benget lah aku bunuh si Shinjung itu :v
    Makin greget thor..
    Yoona hamil?Ya pastilah anak Donghae..wkwkwk
    Next thor..Semoga Happy ending😀

  19. sfapyrotechnics berkata:

    Shinjung jahatnya kebangetan.. Yoong depresi lagikan gaara” kejadian itu,, Aigoooo yuri ama jessica berdebat.. Yoong hamil?? Seneng sih yoong hmil tpi keadaanya yg sdang depresi gini bisa” buat kandungannya terabaikan.. Moga mereka cpet” bebas dari mafia itu,, Yoong cpet smbuh,, hae jaga yoong baik”..

    Nextt. jgan lama” yah eon..FIGHTINGGGG

  20. tryarista w berkata:

    yoona hmil,,,,,,seneng pi sdih jg lht kndisi yoona setres gara2 msalahny g kelar2,,,
    shinjung knpa msih hdup hahahaha
    next bkin yoonhae bhagia donkkkk msa selalu sedih2 melulu ….
    menegangkan dan kdang bosen jg lau sedih2 trus

  21. cha-cha berkata:

    Yoona hamil???hahahaa, ikut2 sma yg coment sbelumnya,.kbanyakan dri mreka pd nulis “yoona hamil??”, lucu aja bacanyaa..
    Tpi dri awal aq udh nebak2 qlow yoona it hamil, cma yoonanya aj yg g sadar, soalnya dya sibuk sma pikiran2 yg brsarang d otaknyaa.. Moga2 yoona jdi tmbah semangat hidup qlow dya tau dya hamil.. Kn biasanya ibu2 muda it pd seneng qlow tau dya hamil., smoga masalahnya yoona cpet kelar., dan smoga jga nie FF cepetan d post next partnyaa.. Hehehee
    Aq sebel jga sihh, knp TBCxa mlh d bagian yoona hamil.. Pdhl aq udh nungguin moment itu dri part 8 qlow g salah.., plisss lanjutannya yaa thorr, maaf jga qlow ini terkesan pemaksaan. Hehehe

  22. utusiiyoonaddict berkata:

    yaaaak,shinjung pengen aku bunuh, udah bkin yoong kambuh lg dpn depresi na, trus mukulin hae pula . Aish menyebalkan bgt si tu holang,
    kan kan kan yoona hamil ane udah nebak pas d part sblum na sii, haduh sayang na d waktu yg tdak tepat.
    haeppa tolong jaga yoong dgn baik,
    hayu ah cpet d next

  23. ina gomez berkata:

    Nyesek pas bca bguan yoona eonni slalu nylhir drinya pa yg mnimpa hae oppa.mdh2an dhn khmilnnya yoona eonni bs smbuh dr traumnya krna dia inget ma bayinya.

  24. niahh berkata:

    kasian klo yoona balik lgi nginget masa lalu yg buru or malah smakin parah,mang bner” yeh shinjung udah bkin donghae babak belur eh malah ngerampok.yoona hamil ? asikkk

    lannjuttt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s