[ Oneshoot ] FF YeFany – Our Precious Time

Yefany our precious

Annyeong, aku lagi pengen refreshing bareng  Yefany couple. Semoga suka yaaaa😀

Title :  Our Precious Time

Cast : SNSD Tiffany, Super Junior Yesung

Author : Nana Shafiyah

Words : 5600 +

Genre : Romance, married life

Rating : Pg-15

~Happy Reading guys ~

Tiffany menutup pintu kamar Eunbi putri kecilnya yang tiga bulan lagi genap berusia 4 tahun. Tiffany baru saja menenangkan Eunbi yang tiba – tiba menangis karena mengigau, mungkin anak itu baru saja bertemu dengan penyihir jahat dalam mimpinya.

Terdengar bunyi penekanan tombol sandi apartemennya hingga disusul oleh pintu yang berderit. Tiffany menghela napas. Pukul dua belas tengah malam dan yang berdiri didepan sana tidak mungkin orang lain, seseorang itu pasti adalah suaminya Yesung. Beberapa bulan ini Yesung sering sekali pulang malam, Berkali – kali Tiffany dan Eunbi menunggu kehadiran Yesung ditengah – tengah mereka, akan tetapi penantian itu berakhir sia – sia. Jangankan menghabiskan waktu akhir pekan, bertatapan wajah dengan anaknya saja nyaris tak pernah bagi Yesung.

“Sampai kapan kita akan terus begini ?” tanya Tiffany kepada yesung yang tengah melonggarkan dasinya. Yesung menghempakan tas tangannya pada sofa merah didepan Televisi dan menatap Tiffany.

“Apa maksudmu?”

Tiffany mendekati Yesung dan membalas dengan tatapan serius agar Yesung benar – benar mendengarkan, “Setiap hari kau pulang malam, bahkan diakhir pekan kau masih saja bekerja, Lalu kapan waktu yang kau sisakan untuk kami? Ingat, kita berdua punya Eunbi dan dia membutuhkan orang tuanya bukan hanya aku tapi juga kau.”

Yesung berbalik dan melemparkan tubuhnya kesofa, “Aku lelah, besok saja bicaranya.” Ucapnya seraya memejamkan mata.

Tiffany membuang napas penuh keputuasaan lalu duduk disamping Yesung, “Eunbi tadi bertanya padaku tentangmu yang tidak pernah muncul didepannya walau sedetik, dan aku bingung harus menjawab apa, Oppa.”

“Katakan saja aku sibuk.”

“Mwo? Sibuk? Memangnya kau sesibuk apa, apakah kau tidak bisa menyisihkan waktu senggang walau hanya semenit untuk anakmu sendiri ?” Tiffany menuntut Yesung untuk menjawab yang sebenar – benarnya tapi namja itu tidak menghiraukan. Ia bertahan dengan pejaman matanya yang seperti hendak tertidur.

“OPPA!” Tiffany memekik kencang.

Bisakah kau diam?!” bentak yesung tiba – tiba. Tiffany terlonjak, Ia tidak menyangka Yesung membentaknya.

Sorot mata Yesung menghujam jantung Tiffany, “Memangnya kau pikir aku berkerja siang malam untuk siapa? Untuk kalian ! Memangnya aku mau seperti ini?! Tidak! Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu dan Eunbi ! Aku juga tidak mau seperti ini, tapi kenyataanya aku harus bekerja tanpa henti ! Jadi Tiffany-ah, tolonglah, jangan membuatku bertambah pusing?! ARA?!” Yesung mengakhiri kalimatnya dengan suara meninggi, sedangkan Tiffany Ia terpatung ditempatnya. Sepasang matanya berkaca – kaca. Dadanya sungguh sesak mendengarkan pengakuan yesung yang penuh bentakan. Apa salahnya? Memanganya salah kalau Tiffany meminta Yesung untuk memperhatikan keluarganya? Tiffany mengerti sejak restoran Yesung terbakar, suaminya itu harus mencari pekerjaan lain untuk membangun usahanya kembali. Asuransi dari kebakaran itu belumlah cukup. Yesung harus bekerja dua kali lipat lebih keras. Tapi bukan itu maksudnya, Tiffany bukan bermaksud menambah beban suaminya dengan tuntutan harus melakukan ini dan itu. Tiffany tidak meminta yesung untuk meluangkan seluruh waktuya untuk Eunbi, paling tidak mereka bisa sarapan bersama. Kini bahkan untuk sarapan yesung tidak sempat. Namja itu selalu pergi ke kantor pagi – pagi buta bahkan sebelum tiffany selesai menyiapkan sarapan.

“Baiklah..” tiffany memutuskan untuk mengalah, mungkin saja Yesung sedang kesetanan atau apa, Tiffany memperjelas lagi kata – katanya, “jadi kau mau kita terus seperti ini, tidak pernah berkumpul sama sekali walau hanya satu menit, begitu?”

Yesung menghembuskan napas jengah, “Kau bisa melakukannya sendiri, aku lelah.” Usai menjawab datar yesung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah kamar.

“Apa kau masih mengaku sebagai Appa Eunbi?”

Langkah yesung berhenti. Kepalanya berputar menatap tiffany dengan ekspresi bingung.

“Diluar sana masih banyak Appa lain yang menyayangi Eunbi, bahkan Siwon Oppa tetangga kita sering mengajak Eunbi jalan – jalan,” jelas Tiffany menceritakan bagaimana Siwon, namja yang baru saja pindah disamping apartemen mereka memperlakukan Eunbi.

“Ya sudah kalau begitu menikah saja dengan Siwon.” Yesung menanggapi begitu saja dengan wajah datarnya. Ia kembali berjalan tanpa memperdulikan Tiffany yang sesak napas sendirian.

~deg~

Tiffany merasa jantungnya bergemuruh hebat. Ia tidak percaya ini. Bagaimana Yesung tega mengucapkan kalimat itu padanya ?

………………

Sejak malam percakapan itu Tiffany mulai bertanya – tanya sendiri, apakah Yesung masih mencintainya? Kenapa Ia bisa dengan mudah menyuruhnya untuk menikah dengan orang lain?

Tiffany masih berusaha menjadi istri yang baik bagi Yesung, ia memasak, beres – beres dan mengurus Eunbi seorang diri.

Jam menunjukkan pukul lima pagi, saat itu Tiffany sibuk didapurnya. Tiba –tiba ia melihat Yesung berjalan kearahanya. Seperti bayangan Tiffany, Yesung sudah tampil dengan setelan kemeja rapih. Bahkan ini masih pagi – pagi buta.

“Tiff, apa kau melihat map merah yang tergeletak dimeja?” tanyanya tanpa beban. Tiffany menatapnya sekilas dan menjawab malas, “Aku tidak melihatnya.”

Yesung berdecak gelisah, Ia menatap curiga, “Tiffany, aku tahu kau sedang marah padaku tapi apa boleh kau membalasku dengan cara seperti ini? Kau ingin mengacaukan seluruh pekerjaanku?” Tuduh yesung seolah menyuruh tiffany mengaku, “Kembalikan map itu Tiff..”

Yesung mengguncang lengan Tiffany ketika yeoja itu tidak menatapnya, “Tiffany ! Kau mendengarku atau tidak?!”

Tiffany menatap yesung dengan datar, “Aku tidak tahu.”

“Katakan dimana Tiffany ! Aku sedang buru – buru ?!” Itonasi Yesung semakin meninggi, bahkan Ia semakin mengguncang tubuh Tiffany.

Tiffany berontak, Ia menghempaskan tangan Yesung dengan sekuat tenaga. Bulir – bulir hangat sudah menggenang dipelupuk matanya, “Kenapa kau seperti ini Oppa? Wae? Setelah kau membentakku tadi malam, haruskah kau bersikap kasar padaku?!”

Yesung menghela napas jengah, Ia malas jika harus berurusan dengan seorang Yeoja yang dikendalikan oleh perasaannya.

“Baiklah kalau tidak lihat.” Ucapnya pasrah. Yesung berencana untuk berbalik meninggalkan Tiffany tapi yeoja itu menghalau langkahnya.

“Hari ini kau tidak boleh pergi kemana pun.” Perintahnya merentangkan tangan lebar – lebar.

Yesung menatap penuh isyarat supaya Tiffany cepat menyingkir, Tiffany menolaknya mentah – menatah, Ia bergeleng mantap.

Melihat reaksi Tiffany yang sepeti itu, rahang Yesung mengeras, giginya mengeretak “Yak kenapa kau seperti ini?! Kau tidak berhak sama sekali untuk melarangku—”

“Karena aku istrimu dan kau punya putri kecil bernama Kim Eunbi! Aku punya hak untuk berbicara denganmu sebanyak waktu yang kau habiskan diluar?! Aku berhak untuk memintamu menyelesaikan masalah kita detik ini juga?! Sadarkah kau KIM JONG WON-ssi !” Tiffany berteriak. Ia seperti kehilangan kesadarannya , tatapannya berapi – api, berjuta cacian sudah menggenang dipermukaan matanya.

“YA sudah, selesaikan ?! Selesaikan sekarang lalu cepat minggir?!! Kau tidak perlu menahanku seharian disini?!” Yesung ikut meninggikan suaranya.

“Apa? Aku tidak perlu menahanmu katamu?!! Jadi menurutmu masalah kita akan selesai dengan hanya membunuh seekor semut ?! Tidak ! Kau memang tidak pernah benar – benar peduli. Kau tidak pernah menganggapku dan Eunbi. Ya tentu saja itu karena kau menganggap kami bukan sebagai manusia, kau menganggap kami hanya sebagai pajangan?!”

Yesung menatap tidak terima, “Yak bagaimana bisa kau berkata seperti itu ?! Kenapa kau menganggapku sejahat itu? Aku selalu memikirkanmu dan Eunbi asal kau tahu?! Aku bekerja mati – matian untuk kalian bukan untuk siapa – siapa jadi bisakah kau sedikit bersabar?!”

“Bersabar? Sampai kapan aku harus bersabar? Sampai Eunbi menikah dan kau baru menyadari bahwa anak kita sudah sebebesar itu, begitu?! Mau sampai kapan kau mendustakan waktu yang dianugrahkan Tuhan untukmu untuk aku dan Eunbi?!” Tiffany sesak napas. Bulir – bulir bening akhirnya meluncur deras dari matanya.

“Cukup Tiffany Cukup ! Kau teralu mencemaskan masa depan, itu yang membuatmu jadi aneh seperti ini?!” pekik Yesung membuat Tiffany terkekeh tidak percaya.

“Aneh aku aneh katamu?” Nada Tiffany merendah tajam, Ia menatap Yesung miris, kata miris itu tidak hanya tertuju untuk Yesung tetapi juga bagi nasib pernikahan mereka yang sudah berjalan lima tahun. Dan bukankah sangat miris ketika sebuah penyatuan sakral harus berakhir dengan cara seperti ini?

“Ya sudah kalau menurutmu aku aneh dan tidak bisa bersabar, untuk apa kau bertahan dengan yeoja aneh dan tidak sabaran sepertiku?! Kenapa kau tidak membiarkanku pergi—“

“CUKUP.” Bentak Yesung Tiffany terlonjak tidak percaya.

Suara tangis memecah perdebatan meraka, Yesung dan Tiffany menatap Eunbi yang rupanya sedang berdiri dibalik meja makan. Tidak tahu sejak kapan Ia berdiri disana, sudah jelas bahwa Eunbi mendengarnya. Semua kalimat – kalimat penuh ketegangan Yesung dan Tiffany. Tiffany kian dihujani isak tangis, Ia menyesal, tidak seharusnya Ia berteriak – teriak seperti itu. Kemarahannya kepada Yesung membuatnya melupakan bahwa Eunbi ada ditengah mereka.

Tiffany mendekat kearah Eunbi, Ia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak itu, sedangkan Yesung Ia masih berdiri kaku ditempatnya.

“Eomma, apa Eomma mau pergi? Eomma mau pergi kemana? Jangan tinggalkan Eunbi dan Appa sendiri.” Isak Eunbi.

Tiffany mendekap putri kecilnya, “Ani.. Eomma tidak akan kemana pun, Eomma akan selalu bersama Eunbi dan—“ bibir Tiffany bergerak ragu. Ia melihat Yesung pergi meninggalkan mereka.

“Jadi Appa yang akan pergi, hikzz huaaaa…” Setelah menyaksikan Yesung yang berlalu begitu saja Eunbi menyimpulkan. Tiffany tidak bisa menjawab, karena kenyataannya, Yesung memang memutuskan pergi meninggalkan mereka.

Tiffany membasuh pipi Eunbi dan bergeleng, “Aniya, Appa juga akan tetap bersama kita, sekarang Appa hanya pergi kekantor nanti juga akan bertemu dengan Eunbi lagi.”

“Tapi Appa tidak pernah bertemu Eunbi.”

Tiffany menyeka air matanya, “Appa sibuk, nanti Eomma akan meminta Appa untuk menemani Eunbi.”

“Tapi Eomma dan Appa tidak akan berpisah kan?”

Tiffany mengeryit.

Eunbi menunduk sedih, “Siwon Ahjussi pernah berkata kalau dia dan istrinya sering bertengkar jadi mereka memutuskan untuk berpisah.”

~DEG~

Jantung Tiffany seolah disayat – sayat. Sesak memenuhi rongga dadanya. Kenapa? Kenapa anak sekecil Eunbi bisa menghubung – hubungkan kejadian seperti ini? Kata perpisahan menjadi bom waktu untuknya. Tiffany tinggal menunggu kehancurannya yang akan terjadi sebentar lagi. Dan Ia masih tidak bisa mencerna ini semua.

“Eomma aku haus.” Ucap Eunbi dengan suara serak tapi Tiffany tidak menggubrisnya. Tiffany memandang kosong, Ia berkelana dengan pikirannya sendiri.

Tuhan, inikah awal dari tanda – tanda perpisahan mereka?

………

Yesung menatap dengan pandangan tidak fokus kearah monitor. Sebenarnya Yesung tidak suka pekerjaan kantoran seperti ini, Ia lebih suka membuka usahanya sendiri, oleh karena itu ia berusaha mati – matian untuk membangun restorannya yang merugi karena peristiwa kebakaran. Yesung punya ambisi untuk bisa mengumpulkan modal dalam tiga bulan jadi ia mengambil lembur yang banyak bahkan bekerja disetiap akhir pekan di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai, bekerja dirumah membuat Yesung tidak bisa berkonsentrasi karena terkadang Eunbi menganggunya.

Baru saja Yesung mengumpulkan nyawanya kembali untuk bekerja, salah seorang rekan kerjanya Heechul datang menghampiri, Ia meletakkan secangkir teh diatas meja dan duduk disamping Yesung.

“Jangan terlalu serius bekerja, bersantailah sedikit.” Nasihat Heechul padanya. Yesung menatap temannya itu sekilas dan memilih mengabaikan kalimat itu. Yesung kembali fokus pada layar monitor dihadapannya.

“Ah, ini anakmu.” Heechul melihat sekeliling kubikel Yesung. Tampak dipermukannya tertempel photo Yesung yang sedang tersenyum bersama Istri dan anaknya yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 3 tahun. Anak itu sedang memegang kue ulang tahun. Yesung meliriknya dengan wajah miris. Photo itu diambil sebelum kehidupan mereka berubah. Sebelum kebakaran itu terjadi.

Yesung terlalu sibuk akhir – akhir ini sehingga lupa mencabut photo itu. Ketika Heechul sibuk memperhatikannya, yesung menyambar photo itu begitu saja.

“Yak, aku belum selesai melihatnya, pelit sekali.” Umpat Heechul. Yesung diam tidak peduli. Ia buru – buru memasukkan benda itu kedalam laci.

“Aish kau beruntung memilikinya.” Ujarnya dengan nada kecemburuan. Yesung tidak menanggapi.

“Apa kau masih sering bertemu dengan mereka? Kulihat setiap hari kau selalu berada di kantor sampai tengah malam.”

Yesung masih tidak menjawab.

“Padahal anakmu lucu, kulihat senyumnya mirip sekali denganmu.” Tanggap Heechul, Ia memajukan wajahnya ingin tahu, “Jongwon-ssi, Kau tidak merindukan mereka? Sedikitpun?”

“Bisakah kau diam?!” Peringat Yesung dengan tatapan penuh ketajaman. Heechul terkesiap.

Yesung menyingkirkan tangannya pada keyboard komputer, Ia menghempaskan tubuhnya pada punggung kursi dengan wajah frustasi. Tiba – tiba yesung teringat Tiffany. Ia ingat kejadian tadi pagi saat bertengkar hebat didepan Eunbi. Yesung menatap layar monitor dihadapannya dengan tidak berselera. Ia memejamkan mata.

“Kau sedang ada masalah, maaf kalau aku ikut campur.” Sesal Heechul. Lagi – lagi Yesung tidak menanggapinya. Namja itu melayang – layang dengan pikirannya sendiri.

“Aku bertanya seperti itu, tentang apakah kau merindukan meraka… Atau berkata bahwa kau beruntung memiliki mereka karena aku tidak ingin kau menyesal, karena sesungguhnya kehilangan orang yang kau cintai itu sangat sakit.” Heechul tersenyum getir, “Aku tidak ingin ada korban lain yang hidup dalam penyesalan seperti diriku.”

Yesung melirik Heechul sekilas, kata – kata Heechul barusan seolah menamparnya. Yesung tertegun dalam hati.

Heechul menghela napas, tatapannya menerawang “Biar kuceritakan bagaimana penyesalan itu muncul usai kebodohan yang tidak bisa kuperbaiki datang menghancurkan hidupku,” Heechul terseyum getir, “Malam itu aku pulang kerumah delam keadaan lelah, Hyorin istriku menuntut agar aku bisa pulang lebih awal, saat itu aku marah karena pekerjaan di kantor benar –benar menumpuk. Lalu aku mulai berteriak padanya ‘aku berkerja untukmu !’ dia membalasku lagi dengan berteriak membalasku, ‘Kenapa pekerjaanmu yang kau jadikan alasan, asal kau tahu, aku juga bisa bekerja bahkan penghasilanku bisa lebih besar darimu, aku hanya perlu waktumu untuk keluarga bukan uang ! aku tidak sepenuhnya butuh uangmu, aku bisa mencarinya sendiri, tapi waktu… waktu yang kita habiskan bersama, aku tidak bisa mencarinya tanpamu.’” Heechul terdiam sejenak Ia mengingat – ingat. Yesung mengerutkan dahinya mencerna kata – perkata dari kisah Heechul, dan ketika namja itu menatapnya Yesung berpaling kearah lain.

Heechul tersenyum lalu menghela napas, “Aku tidak mempedulikan kata – katanya karena aku sungguh lelah, hingga keesokan hari, Hyorin menelantarkan rumah dan malam itu Ia mengaku kalau dirinya mendapat pekerjaan yang menggiurkan, menjadi model, aku sangat kaget. Dia seperti ingin menunjukkannya padaku kalau dia bisa mencari uang sendiri.”

“Lalu…” Jeda Heechul dengan wajahnya yang dipenuhi gurat kesedihan, “Hubungan kami semakin memburuk, Hyorin pergi dipagi hari dan pulang larut malam, kami bertengkar setiap hari. Singkat cerita hubungan kami semakin memburuk, dia lebih suka – berhura- hura dibanding menghabiskan waktu bersamaku. Aku berpikir jika hubungan ini berjalan, kami akan saling menyakiti satu sama lain, jadi aku memintanya untuk mengakhiri pernikahan kami. Dan perpisahan itu terjadi. Kami bercerai.” Heechul menyudahi ceritanya. Ia menunduk pilu, “Kau beruntung memiliki putri, sedangkahn aku? Aku belum punya seseorang pun dengannya sampai kami berpisah. Mungkin seandainya kami punya seorang putri sepertimu, kami bisa memilih pertimbangan ‘demi anak’ untuk tetap bersama tapi kenyataannya tidak, kami tidak punya apa – apa untuk dipertimbangkan, maka perpisahan itu akhirnya terjadi. Percayalah padaku, kau benar – benar beruntung.” Ucapnya menepuk punggung Yesung.

Yesung membatu ditempatnya. Ia memutar ulang satu demi satu cerita yang baru saja didengarnya dari Heechul. Yesung tidak percaya bahwa kini sekujur tubunya kaku, bahkan untuk menoleh Ia tidak mampu. Semua yang ada didepannya kini tampak blur. Tanpa sadar Ia bergeleng pelan. Ia tidak akan membiarkan hubungannya dengan Tiffany berakhir seperti Heechul. Tiffany dan Eunbi terlalu berharga untuknya. Selama ini Yesung sudah dibutakan oleh ambisisnya untuk membangun kembali restoran miliknya sehingga Ia bekerja tanpa henti bahkan sampai menelantarkan keluarganya. Ambisi yang berakhir petaka, Yesung tidak menginginkan itu terjadi.

Yesung merindukan mereka akan tetapi ambisinya meluluh lantakan segalanya. Yesung merasa perlu untuk mencapai tujuannya dengan mengesampikan perasaan Tiffany dan Eunbi anaknya.

Diluar sana banyak orang yang menginginkan keluarga yang lengkap, sedangkan Ia? Ketika Tuhan memberinya anugrah seperti itu, Yesung malah menyia – nyiakannya.

Yesung mengingat lagi senyum mereka yang merekah di photo itu, senyum Tiffany dan Eunbi yang tidak pernah ditemuinya akhir – akhir ini. Kerinduan membuncah dalam dadanya. Kasih sayang itu kembali memenuhi hatinya bagaikan angin yang baru saja bertiup disekujur paru – parunya.

Tanpa harus berlama – lama Yesung bangkit, ia mengambil jaket dan mengemasi barang – barangnya yang lain. Ia menatap Heechul dengan mata gelisah.

“Aku harus pulang.”

Belum sempat Heechul bertanya lebih jelas, Yesung menambah.

“Kalau sajangnim bertanya, bilang aku izin hari ini, ada keperluan mendadak.” Ujarnya sebelum menghilang dibalik pintu. Sementar itu Heechul tersenyum pernuh arti menatap kepergian temannya.

…………

Tiffany berlari kesana – kemari untuk mengejar Eunbi yang tidak mau diam. Anak itu sedang bermain bola plastik, melempar – lemparnya keudara dan menangkapnya lagi secara berulang – ulang. Tiffany menghela napas karena Ia sangat kelelahan mengikuti gerakan Eunbi yang sangat aktif sedangkan anak itu harus menghabiskan makanannya. Sambil membawa mangkuk nasi, Tiffany membujuk Eunbi agar mengunyah makanan yang Ia sodorkan.

“Eunbi-ya, makan dulu, Aaaa.” Untuk kesekian kali Tiffany memasukkan sendok yang berisi nasi, ikan laut dan kacang merah kedalam mulut Eunbi. Anak itu menelannya dengan cepat, setelah itu Eunbi kembali melempar lempar bolanya sambil tertawa- tawa sendiri. Entah Tiffany juga tidak tahu apa yang Ia tertawakan.

“Eunbi-ya sekali lagi…” ujar Tiffany kembali menyodorkan sendok berisi makanan. Eunbi menolaknya. Anak itu merengek agar Tiffany menjuah ketika Ia sedang asyik bermain.

“pokoknya Eunbi belum boleh masuk Tk kalau tidak mau makan.” Ancam Tiffany. Eunbi langsung berteriak tidak setuju. Tiffany tersenyum penuh kemenangan ketika eunbi berlari – lari kearahnya seraya membuka mulut.

“Aaaa…” Tiffany beringsut, Ia bersimpuh mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.

Suara derit pintu berbunyi. Sontak pandangan Tiffany teralihkan. Ia menatap kearah pintu dan langsung mengenali seseorang yang baru saja datang. Ia mengernyit. Tadi pagi Yesung pergi dengan terburu – buru Tiffany yakin ada sesuatu yang tertinggal. Tiffany membuang pandangannya, Ia kembali memfokuskan perhatiannya pada Eunbi yang kini sedang mengunyah makanannya seraya memperhatikan poster Cinderella yang tergeletak dilantai. Sesekali anak itu berbicara tentang kekagumannya kepada sosok putri didalam sana. Tiffany tersenyum kepada Eunbi, Ia mengangguk – angguk setuju ketika Eunbi menatapnya penuh keyakinan, Jujur saja Tiffany sedikit tidak mengerti dengan kalimat Eunbi yang sangat acak menurutnya. Ya, Tiffany harus mengaku bahwa cara berbicara Eunbi terkesan mirip seperti Yesung yang kadang kala bersifat absurd.

Memikirkan Yesung adalah keputusan yang salah, Tiffany menggaris bawahi kata hatinya, Karena begitu Tiffany memikirkan wajah Yesung, maka tidak akan mudah bagi Tiffany untuk menghapusnya. Sekarang saja, aroma tubuh Yesung semakin menusuk penciumannya seolah –olah Yesung berdiri dibelakangya, entahlah mungkin saja laki – laki itu sedang mencari barang – barangnya disekitar sini atau—

“Bogoshipo.” Tiffany terkesiap.

Gemuruh jantung itu meledak – ledak. Tiffany tidak mau percaya ini, pelukan hangat menyelimuti tubuhnya dari belakang. Yesung memeluknya… Tiffany belum bisa mencerna kenyataan yang terjadi, Ia ingin berbicara sesuatu, Ia ingin bertanya langsung mengenai tujuan Yesung memeluknya seperti ini, tapi bibirnya terlanjur pilu bahkan mangkuk ditangannya sampai terjatuh dilantai. Tiffany benar – benar kaget dengan perlakuan tiba – tiba itu. Tapi Ia menyukainya, sungguh…

…………….

Yesung melangkah buru – buru. Ia mendorong pintu apartemennya dan segera menghampiri Tiffany yang sedang duduk bersimpuh menatap eunbi, anak itu sedang asyik berbicara sesuatu entah apa. Yesung menangkap senyum diwajah Tiffany, senyum yang Ia rindukan selama ini.

“Bogoshipo.” Yesung meraih pundak Tiffany dan memeluk tubuhnya erat – erat. Ia menyalurkan semua energinya, marah sedih dan kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Ada banyak penyesalan yang berputar – putar didalam kepalanya, dan Yesung membutuhkan sebuah ketenangan, ketenangan berupa tempat bersandar, ketenangan yang hanya bisa ia dapatkan ketika menyatu dengan anugrah terindah yang diciptakan Tuhan untuknya, Tak dapat ia pungkiri Tiffany adalah candu baginya. Segala kelemahan dan kekurangan dari sikapnya selama ini terhapus begitu saja lewat rengkuhan penuh ketulusan, membuat kegelapan yang mengitari hatinya luluh oleh kehangatan cahaya terang yang membara.

Prakk, Mangkuk dalam genggaman Tiffany terjatuh. Yesung tersadar dari perasaan yang terlanjur menguncinya dalam sebuah kepasrahan yang menenangkan.

“Maaf, biar aku bereskan.” Ujar Tiffany sedikit gelagapan. Entah kenapa setelah pertengakaran itu, Tiffany merasa canggung dengan Yesung. Ditambah dengan sikap Yesung yang berubah seratus delapan puluh derajat membuat kecanggungan itu kian menjadi.

Yesung membiarkan Tiffany melakukan pekerjaannya. Ia memperhatikan gerakan tubuh Tiffany dan ekspresi wajahnya dari samping. Perasaan bersalah tiba – tiba menggerogotinya. Yesung sudah menyia – nyiakan ketulusan diwajah Tiffany. Yesung sudah membuat air mata kepedihan mengalir dari mata indahnya… Yesung sudah menodai perasaan Tiffany dengan amarah. Bahkan karena kebodohannya situasi diantara mereka semakin kehilangan arah. Mungkin selama ini Tiffany merasa seperti dirinya adalah orang lain, karena Yesung sudah terlalu lama membiarkan hubungan mereka mengeras dan semakin kaku.

Sudah terlalu lama Yesung memandangi wajah Tiffany, dan Ia yakin Tiffany menyadari tatapan itu hanya saja ia terlalu sungkan untuk sekedar menatap wajahnya. Yesung tahu pelukan tadi sangat mendadak bagi Tiffany. Yesung tidak mengharapkan Tiffany untuk percaya bahwa Ia benar-benar ingin mereka seperti dulu, Yesung tidak akan memaksa Tiffany mempercayainya sebelum Ia memperlihatkan dengan sungguh – sungguh usahanya untuk membangun keluarga yang seideal mungkin. Yesung akan membuktikan itu.

Selagi Tiffany membereskan benda – benda yang berceceran disekitarnya, Yesung beringsut mensejajarkan posisinya di samping Eunbi.

Saat Tiffany memungut kartu anime yang bersebaran dilantai, wajahnya tidak sengaja mendongak dan melihat Yesung memberikan sebuah boneka teddy bear kepada Eunbi, Eunbi tersenyum senang. Tiffany mengernyit, bahkan Ia baru menyadari bahwa Yesung tidak datang dengan tangan kosong, Ia datang dengan membawa goodie bag berisi boneka fovorit Eunbi. Tanpa sadar Tiffany ikut terhanyut bersama senyuman Eunbi. Tatapannya mulai berbaur menatap Yesung yang sedang serius bermain dengan Eunbi, sesuatu yang jarang bahkan tidak pernah dilihatnya selama ini.

“Appa, Eunbi sekarang sudah bisa berhitung hana, dul, set, net, daseo, yeoseot, ilgop, yeodeol, ahop, yeol…” ucap Eunbii dengan logatnya yang cadel, “Eunbi sudah bisa berhitung, berarti Eunbi sudah bisa masuk Tk kan Eomma?” Eunbi dengan percaya diri menatap Tiffany yang terhanyut ditempatnya.

Tiffany tersentak karena tiba – tiba Eunbi meminta persetujuannya begitu pula dengan tatapan Yesung yang langsung bertabrakan dengan matanya. Tiffany mengambil napas untuk menghilangkan grogi sebelum akhirnya mengangguk mengiayakan.

“Eunbi juga bisa nyanyi.” Sambungnya bangga. Lalu anak itu bernyanyi lagu tiga beruang sambil menari didepan Yesung. Tangan mungilnya bergerak – gerak lincah. Ekspresi wajah Eunbi yang ceria seperti itu mengingatkan Yesung pada Tiffany. Yesung pun sadar kalau selama ini dirinya telah banyak melewatkan moment- moment bersama Eunbi. Sekarang Eunbi sudah bisa berhitung, bernyanyi dan menari, dan selama ini Yesung tidak pernah tahu atau lebih tepatnya tidak pernah mau tahu…

“Eunbi-ya, bidadari Appa yang cantik.” Panggil Yesung bersama gombalannya yang mematikan. Eunbi tampak senang sekali dipanggil seperti itu oleh Appanya. Ia tersenyum, berlari kegirangan dan melemparkan tubuhnya kedalam pelukan namja itu.

“Minggu ini ayo pergi ke taman bermain.” Bisik Yesung ditelinga Eunbi yang sedang bersandar manja diatas dada bidangnya.

“Yaksok?” Eunbi mengangkat jari kelingkingnya seraya menatap Yesung penuh harap.

“Yaksok.” Yesung menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking mungil milik Eunbi. Lalu Mereka berdua saling melemparkan senyum penuh arti. Eunbi memeluk Yesung dan ikut berbisik, “Jangan sampai Eomma tahu janji kencan kita, kasihan Eomma nanti cemburu.”

Tiffany seperti orang bodoh ketika menatap dua orang yang sedang terkikik geli, entah memperbincangkan apa. Setelah keduanya saling berbisik, Tiffany merasa ada rahasia yang mereka sembunyikan. Bahkan mereka sudah mulai bersekongkol. Tiffany merasa tidak adil. Bagaimana mungkin Eunbi sudah berani menghiatinya padahal anak itu baru saja bertemu dengan Yesung ?!

Tiba – tiba Tiffany merasa jantungnya berdebar – debar tanpa tahu penyebabnya, tidak, sebenarnya Tiffany tahu apa yang menyebabkan debaran aneh pada pada jantugnya tapi Ia memilih untuk mengabaikan hal itu. Awalnnya Tiffany tidak mempedulikan tatapan Yesung yang memandangnya penuh makna, tapi lama – kelamaan Tiffany merasa risih sendiri. Ia mendongak lalu Tatapan Yesung kembali bertabrakan dengan matanya. Keringat dingin menembus permukaan wajah Tiffany membuat Yeoja itu merasa seperti pertama kali jatuh cinta dengan seseorang.

Perasaan ini… mirip seperti ketika Ia jatuh cinta untuk pertama kali dengan sekeping hati. Tiffany mengingat lagi tentang jatuh cinta dengannya yang sungguh menyusahkan, Tiffany harus mati matian menjaga aliran darahnya agar tidak berantakan, Tiffany tidak pernah suka, Lalu Kenapa Ia harus merasakanya lagi?

………….

“Pada akhirnya mereka semua hidup bahagia selamanya…”

Sejenak Tiffany termenung. Ia mengingat lagi apa yang baru saja dibacanya. Seorang puteri yang terperangkap dalam dunia penyihir. Puteri itu lalu mendengar rencana jahat ratu penyihir yang ingin memusnahkan dunia peri, Ia berniat menghentikannya, tapi sang puteri merasa kekuatan penyihir jauh lebih besar dibandingkan seorang peri jadi puteri itu mulai bingung bagaimana cara melawan kekuatan jahat itu. Cara satu – satunya adalah sang puteri harus mencari mutiara kedamian yang juga dicari bahkan ditakuti oleh penyihir jahat. Konon, Batu mutiara itu bisa memancarkan cahaya dan cahaya dari batu itulah yang ditakuti penyihir jahat, energy cahaya dalam batu itu bisa menghancurkan kegelapan sihir dalam sekejap.

Bersama beruang dan kupu – kupu, sang puteri mulai menjelajah hutan untuk mencari mutiara itu akan tetapi sebelum itu terjadi, sang penyihir berhasil menangkap sang puteri lalu mengutuknya menjadi batu, tak disangka – sangka batu mutiara yang juga dicari oleh penyihir itu ternyata adalah batu sang puteri yang baru saja dikutuknya, batu itu bersinar seperti mutiara dan memancarkan cahaya yang sangat terang, kegelapan sihir hancur… pada akhirnya sang ratu sihir kalah, seluruh kutukannya musnah. Tubuh sang puteri kembali seperti semula tapi Ia sekarat karena kehilangan banyak energi. Sang puteri terbujur kaku diatas tempat tidurnya, akan tetapi karena cinta dari seluruh rakyatnya, sang puteri mendapatkan energinya kembali. Sang puteri keluar dari masa kritisnya. Pada akhirnya sang puteri hidup bahagia selama – lamanya dengan mereka, rakyat yang sayang padanya. Dan tamat.

Terkadang kita merasa tidak punya kekuatan apa – apa dibanding orang lain padahal didalam diri kita tersembunyi sesuatu yang sangat berharga. Baru usai berbagai cobaan dan masalah terjadi segalanya terungkap, bahwa diri kita menyimpan banyak potensi untuk bisa menyelamatkan orang banyak lalu menciptakan sebuah timbal balik yang indah, bahwa saat berada didalam keterpurukan meski tanpa permohonan orang – orang itu akan berbalik menyelamatkan kita. Kejahatan akan kalah, dan sebuah kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang setimpal bahkan lebih, begitulah makna tersirat yang ada didalam buku cerita Eunbi.

Tiffany menutup hardcover buku cerita itu dan berpikir ulang mengenai makna tersirat didalamnya. Bahkan Tiffany tidak sadar kalau Yesung memperhatikannya sejak tadi.

Tangan Eunbi menggenggam jemarinya membuat Tiffany sadar dari lamunannya. Mata anak itu berkilap – kilap menatap Tiffany dan yesung bergantian. Eunbi senang hari ini Eomma dan Appanya berada di kedua sisinya dan bersama – sama membacakan sebuah pengantar tidur. Eunbi tidak pernah merasakannya lagi, Eunbi juga tidak tahu kapan persisnya tapi yang pasti kejadian itu sudah lama sekali.

Eunbi menyuruh Yesung dan Tiffany untuk ikut berbaring disampingnya. Tiffany meletakkan buku cerita Eunbi yang digenganggamnya keatas meja dan mulai mengikuti langkah Yesung yang sudah berbaring mendahuluinya. Ranjang Eunbi yang sempit membuat mereka saling berhimpitan. Menyadari itu Eunbi terkikik geli. Anak itu lalu menatap Tiffany yang berbaring disebelah kanannya dan Yesung disebelah kiri.

Eunbi meraih tangan Yesung dan Tiffany kemudian mempersatukannya. Satu demi satu Eunbi menatautkan jemari mereka hingga benar – benar pas.

“Wah jari Eomma cocok dijari Appa.” Ucapnya girang. Eunbi menatap Yesung dan Tiffany lagi dengan gigi susu kecilnya.

“Appa dan Eomma tak boleh kemana – mana, Appa dan Eomma harus ada disamping Eunbi. Besok bacakan cerita lagi ya? Ya?” pinta Eunbi penuh harap. Ia menatap Tiffany lalu Yesung bergantian. Tiffany menjawabnya dengan senyuman lembut. Sedangkan Yesung, entahlah Tiffany ragu memikirkan apa jawaban Yesung dari pertanyaan Eunbi yang lebih kepada janji diantara mereka.

Sebelah tangan Yesung terangkat dan membelai kepala Eunbi, “Appa akan berusaha melakukannya.” Jawab Yesung, mendadak jantung Tiffany mencelos, Ia lega mendengarnya.

“Benarkah wahh horeeee…” Eunbi kegirangan. Kali ini anak itu menyatuakan jemari mereka bertiga.

“Appa, Eomma dan Eunbi akan bersama selamanya…” Eunbi menatap tangan mungilnya yang kini terbungkus oleh tangan Yesung dan Tiffany. Ia tersenyum lalu berandai – andai dengan tatapan polosnya.

Tiffany dan Yesung membalas senyum Eunbi yang tidak henti – hentinya menatap mereka berdua. Hingga akhirnya mata Eunbi berkunang – kunang, tidak lama kemudian anak itu jatuh kedalam mimpinya. Eunbi tertidur pulas.

“Tiff…” Panggil Yesung.

Tiffany menyingkirkan tangannya dari genggaman Eunbi dan bergumam,“Hemmm..”

“Aku tidak sadar Eunbi sudah sebesar ini.”

“Benarkah? Aku juga memikirkan situasi diantara kita sejak tadi.” Ucap Tiffany seraya membelai wajah Eunbi.

Yesung menghela napas sesal, “Aku tahu, kau pasti kecewa padaku, kau boleh membenciku sepuasmu—”

“Ani.” Tiffany bergeleng, “Mungkin aku bisa membencimu tapi tidak dengan Eunbi, Eunbi tidak akan bisa membencimu ” akunya tersenyum lirih, “Aku bisa menyaksikannya, sinar kebahagiaan dari mata Eunbi ketika bersamamu, Oppa.”

“Aku langsung berpikir, kenapa tidak dari dulu kau melakukannya bersama Eunbi? Cukup satu menit saja kau seperti itu Eunbi akan senang sekali, tapi kenyataannya—“ Tiffany menerawang, lalu melanjutkan kata – katanya, “Kau selalu menganggap rendah dirimu yang sekarang, kau sibuk mencapai ambisimu untuk kembali seperti dulu, bekerja siang malam dan mengumpulkan modal untuk membangun bisnis restoran atau menjadi seperti teman – temanmu untuk menyenangkan kami tapi, tapi kenyataannya semua bertambah hancur.”

Yesung mendengarkan semua, segala yang diutarakan Tiffany tanpa penyangkalan satu pun.

“Itu karena kau tidak sadar mengenai sesuatu yang lebih berharga, asal kau tahu waktu yang ada padamu adalah hal terpenting bagi kami bahkan jika dibandingkan dengan harta didunia ini.”

Sekian lama, Yesung terhayut dalam nada kesakitan yang menusuk jantungnya, Ia tertegun ditempatnya.

“kau tahu?” Tiffany memulai, “Setelah musibah kebakaran itu kita tidak punya apa – apa lagi tapi lihatlah, Aku masih bisa bertahan dengan kesederhanaan ini tapi ketika kau tidak menyisahkan waktumu sedikit pun untuk kami, aku merasa tersiksa.”

Miris. Itulah yang dirasakan Tiffany ketika membayangkan kehidupannya selama ini bersama Eunbi. Tiffany butuh kekuatan untuk mengatakan ini semua, Ia menggenggam tangan Eunbi yang begitu hangat ketika menyentuh kulitnya,

“Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa kehilanganmu, aku merasa seperti itu bukan kau Oppa, aku merasa hanya tinggal berdua dengan eunbi, aku merasa ada jurang pemisah diantara kita. Dan aku sadar kalau waktu yang kau sisakan untuk kami adalah mutiara yang bisa memperbaiki itu semua.”

Suara Tiffany bergetar dan semakin dalam, “kau tidak perlu berpikir jauh untuk menyenangkanku seperti dulu, aku akan memakan apa pun yang kau berikan.” Tiffany berujar dengan penuh keyakinan.

Tiffany menghela helaan napas dalam, ia berusaha menenangkan suaranya sendiri, “Kau juga tidak perlu sampai menyelamatkan orang banyak seperti tokoh utama dalam cerita Eunbi, kau hanya perlu menyelamatkan keluarga ini dengan mengorbankan waktumu untuk aku dan Eunbi maka kita akan mengarungi dimensi waktu bersama – sama, kami berjanji tidak akan melepaskan tanganmu apa pun yang terjadi, itulah timbal balik yang indah.” Tanpa Tiffany menyadarinya, bulir – bulir bening dari matanya tumpah dan mengarungi wajahnya. Tiffany menyeka aliran kesesakan itu yang selama ini tertahan didasar hatinya.

Jadi sudah sedalam ini? Jadi sudah sedalam ini Yesung menyakiti mereka, Tiffany juga Eunbi?

Yesung bangkit dari posisinya, Ia berjalan mendekati Tiffany. Melihat gerakan Yesung yang berjalan kearahnya, Tiffany lantas bangkit dari posisi baringnya dan bersandar pada punggung ranjang Eunbi.

Setelah berhasil menggapai posisi didepan Tiffany, Yesung menggenggam tangan istrinya itu, seseorang yang rela menghabiskan waktunya untuk mengurus mereka, dirinya dan Eunbi. Yesung menatap penuh harap, “Tiffany, mianhae…”

Dan Luka itu bertambah pedih ketika Yesung menangkap suara napas Tiffany yang terputus – putus, seolah menahan isak tangisnya. Namja itu bergerak ragu untuk menyentuh wajah Tiffany, Ia merasa tidak pantas melakukannya, tapi Ia tidak bisa menunggu lagi karena sekaranglah saatnya. Yesung harus membuktikan kepada Tiffany bahwa Ia benar – benar serius.

Yesung mengangkat wajah Tiffany, Lalu menghapus air mata yang terlanjur tumpah, “Mari hidup bahagia, seperti akhir dalam cerita itu, kita akan melakukannya bersama – sama, aku berjanji padamu dan juga Eunbi.” Yesung mengeratkan genggamannya sekali lagi. Tiffany menatapnya dalam hening, seolah menunggu Yesung untuk mengucapkan sesuatu yang lebih meyakinkannya.

“Maukah kau memberiku energy untuk keluar dari keterpurukan ini? Kau tidak perlu menjadi rakyat yang banyak seperti dalam cerita Eunbi kau hanya perlu menjadi Tiffany seorang, Tiffany yang berjanji akan mengarungi dimensi waktu bersamaku dan Eunbi.” Yesung merengkuh kedua sisi wajah Tiffany. Ia menatap penuh keseriusan.

Tatapan Yesung berhasil menembus irisnya, membuat Tiffany merasa bahwa aliran darahnya merembes kekepala. Tiffany terdiam merenungkan sesuatu. Hiingga pada akhirnya Ia memutuskan untuk percaya. Percaya bahwa kesungguhan itu nyata.

Tiffany mengangguk,Ia harus melakukannya demi Eunbi, demi kebahagiaan mereka.

Suara Yesung berbisik ditelinganya, “Gomawo, jeongmal gomawo…” namja itu merengkuh Tiffany penuh kelembutan. Tiffany memejamkan matanya merasakan sebuah sensasi hangat dalam pelukan Yesung yang menenangkan. Tiffany membalas pelukan Yesung, ia menepuk pundak namja itu dan membelainya.

Tubuh mereka menjauh pelan – pelan. Tatapan mereka kembali bertabrakan. Tiffany bisa membaca tatapan penuh makna yang diutarakan kepadanya. Tanpa sadar wajah mereka sudah berada didalam jarak lima senti.

“Sttt…” Tiffany menutup bibir Yesung dengan telunjuknya. Ia melirik Eunbi yang menggeliat gelisah. Tiffany membelai wajah Eunbi seraya bersenandung kecil. Anak itu kembali nyenyak beberapa saat kemudian.

Yesung tersenyum kagum menyaksikan bagaimana Tiffany menenangkan Eunbi dalam tidurnya. Tiffany merasakan tatapan Yesung yang sedikit aneh menurutnya, namun Ia tidak terlalu peduli, Tiffany kembali fokus memperbaiki posisi tidur Eunbi.

Usai Tiffany selesai menangani Eunbi, Yesung lalu mengambil alih anak itu. Ia meraih tangan Eunbi dan menggenggamnya. Yesung menatap sekali lagi wajah damai puteri kecilnya, Malaikat yang dititikapkan Tuhan kepada mereka, Malaikat yang tercipta melalui kasih antara benihnya dan Tiffany.

~Chup~ Yesung mengecup kening Eunbi penuh sayang. Namja itu tersenyum membelai kepala anak itu, sebelum akhirnya menatap Tiffany penuh makna.

“Aku juga ingin melakukannya padamu, tapi tidak disini.”

Hening. Tiffany terdiam mencerna kalimat Yesung. Hingga namja itu mengedipkan sebelah matanya dan Blushhh… Wajah Tiffany memerah.

…………..

“Kata Eunbi tangan kita cocok.” Tiffany menatap jemarinya yang kini bertautan dengan jemari Yesung. Setelah memastikan bahwa Eunbi benar – benar terlelap, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua.

Tiffany duduk berselonjor dan bersandar dengan nyaman dikepala ranjang. Yesung duduk disampingnya sambil menikmati wajah Tiffany yang semakin disadarinya bahwa Ia amat merindukan sosok itu, bidadari yang selalu bersabar dengan sikap kekanak-kanakannya. Mungkin itu benar, ungkapan bahwa seorang namja tidak akan pernah dewasa, maka dari itu mereka sangat membutuhkan seorang pendamping. Dan Yesung bersyukur Tuhan telah mengirimkan Tiffany untuk mendampinginya sampai maut memisahkan.

Melihat wajah Tiffany yang dibubuhi kedamaian, Yesung semakin yakin dengan keputusannya, bahwa Ia akan terus ada disamping bidadari kepunyaannya itu, menikmati wajahnya lebih lama dan mengarungi waktu tanpa batas.

“Apa wajahku tampak aneh ?” Tiffany berbicara tanpa menoleh kearah seseorang disampingnya. Bahkan Tiffany sengaja memalingkan wajahnya agar Yesung berhenti menatapnya.

Yesung merangkul pundak Tiffany seraya menelusupkan wajahnya disana. Yesung berusaha agar Tiffany bersedia menatapnya atau paling tidak menoleh kearahnya. Tapi yeoja itu seperti jual mahal. Lalu telunjuk Yesung menyebrang kesebelah pipi Tiffany dan mencoleknya, Tiffany langsung berdecak kegelian, wajah yeoja itu berputar paksa kearahnya.

“Minggu ini ayo pergi berkencan.” Bisik Yesung seolah sedang menawarkan sesuatu yang menggiurkan. Tiffany menajamkan pandangannya, “Oppa kau mencoba berselingkuh denganku?!” protesnya tidak terima, Tiffany menepis tangan Yesung yang masih bertengger dipundaknya,  “Kau sudah membuat janji kencan dengan Eunbi.”

Sebelah alis Yesung terangkat, “Dari mana kau tahu?”

“Tentu saja Eunbi sendiri yang memberitahuku saat kau sedang mandi, anak itu tidak akan bisa menutupi apa pun dariku, kau tahu? Seorang wanita akan mencari jawaban dari apa yang menurut mereka mencurigakan?!” Tiffany menatap bangga dengan kemampuannya itu, Ia menyambung, “Asal kau tahu, aku tidak suka kalian berbicara dibelakangku.”

“Jadi kau cemburu dengan Eunbi?” Yesung menarik sebuah kesimpulan, Tiffany terbelalak mendengarnya, “Iya—eh— tidak !”

Yesung tersenyum menyaksikan tingkah Tiffany yang heboh sendiri. Yeoja itu sepertinya tengah menyusun kata diotaknya, “Untuk apa aku cemburu? Eunbi hanya anak kecil, aku jauh lebih sexy darinya.”

Tatapan Tiffany menantangnya. Yesung tertegun, Ia mengakui bahwa Tiffany memang sexy, apalagi malam ini…

Yesung kembali merengkuh pundak Tiffany, bahkan perlakuannya semakin possessive. Yesung menghirup leher jenjang Tiffany dan berbisik, “Ya sudah, karena aku sudah terlanjur membuat janji dengan Eunbi, ayo kita kencan sekarang saja. Kurasa melakukannya di kamar ini akan jauh lebih menyenangkan.”

“Yak, apa maksudmu—“ Tiffany baru saja akan memprotes banyak hal, namun Yesung lebih dulu membungkamnya dengan kecupan hangat dibibir.

~Chup~

Tiffany membatu ditempatnya, Ia tahu bahwa inilah awal dari permainan Yesung. Ya, sepertinya mereka akan mengarungi sebuah malam yang panjang…

Lalu semua menghitam dan gelap…

……The End…..

Duh akhirnya bisa comeback nulis Yefany jugaaa…

Kangen sama ini couple apa lagi sama Yeppa #ngehehehe

Maaf kalo ceritanya aneh, endingnya gantung, tapi menurut aku gak gantung sih yaa kkk

Bye byee ^___^

18 thoughts on “[ Oneshoot ] FF YeFany – Our Precious Time

  1. Diandita Miranda berkata:

    Wahh ceritanya manis dan ringan, ngebayangin eunbi gemes sendiri..hehe
    Un, kalo bisa bikin sequel pasti bagus, satu sequel aja please eonni…ya ya ya ? #puppy-eyes
    fighting fighting

  2. yefanycouple berkata:

    Eonnie akhirnya balik lagi dengan FF Yefany yeyyyy… tapi bener Eon, terakhirnya tuch nanggung banget, masak tiba2 udah gelap aja #readers kecewaaa Y___Y… Entah kenapa aku gretetan ama bang yeye, masa dia menelantarkan keluarganya demi perkerjaann… biar tau rasa dia kalo Tiffany kyk Hyorin, untung Tiffany baik hatiii #eaaaa
    Nah gitu dong, bang yeye akhirnya nyesel, kan ga baik menelantarkan istri secantik Tiffany dan anak selucu Eunbi, seperti kata Heechul Pa hehe…
    Ditunggu FF Yefany selanjutnya, Coz AKU NUNGGU PEKE BANGET! soalnya kok jarang banget, padahal mereka cocok T__T
    Daebak dehh FF nya buat aku kesel, gemes, meleleh dan terharu dalam sekejap… Pokoknya aku nungguin banget cerita Yefany lainnya. FIGHTING!

    • nanashafiyah berkata:

      Huss ngebayangin yang gelap2 ntar dosa loh lagi puasa wkwkwk,
      Iya tuh endos, Yesung biar tau rasa kalau Tiffany kek Hyorin, iyap Tiffany emang baik hati kayak authornya kkk
      Duhhh kamu meleleh gimana tuh O___O

  3. smartoblique berkata:

    diawal sempet sebel ama yeppa, cuek ama tiff eonni, ngebentak-bentak terus kayak udh ga peduli lg..
    tp emang sebg kepala keluarga aku gbs nyalahin yeppa yang restorannya abis kebakaran, cuman jangan jadi workholic yg ampe kelewatan juga sih !!!
    FF nya romantis, sweet, menghibur.. oh iya yg adegan terakhir Yefany ngapain tuh ???!!!!! hahaha
    sebenarnya ff ini blm end loh, kan yeppa masih ngajakin ke taman bermain. kalo buat sequel pas mereka jalan2 ke taman bermain oke juga tuh…semngat eonnie buat bikin FF Yefani yg banyak..

  4. riri riwa berkata:

    Wah daebak Yefany sweet banget. Bang yeye ngeselin, kalo nae jd tippa bakal sakit hati bgt itu😦
    buat ff yefany lagi ne ^^

  5. Lulu_paramita berkata:

    Nana oennie akirnya balik lagi, HOAA sukak bangetttt DEMI APA< yesungnya sweet meski diawal – awal pengen ditabok dan Eunbiiii astagagaaaa lucunya kmu deeekk. Ngak bisa ngomong apa -apa, Selalu nunggu FF oenni dan jangan berhenti bikin FF yefany teyuzZ FF Yoonhaenya DILANJUT segera Ne ???! #dateng2-nagih-ff

  6. Hana Wu berkata:

    Annyeong.. Aila mampir ya..
    Wah emang greget yaa YeFany ini.. ㅋㅋㅋ tatanan scene-nya jg bagus.. Nice deh.. Bikin sequel ya.. Kan Eunbi belum maen ke taman bareng Appanya yg super sibuk itu.. Hhehee okay~~~

      • Hana Wu berkata:

        Iya sama sama ya…
        Wah chingu jg punga utang ff??
        Aigoo sama ternyata.. ㅋㅋㅋ Derita seorang Author mungkin ya..

        Ok,okeh.. Gumawo ndee~~~

        Btw Aila 95L.. Chingu Line berapa ya? Biar enak gt manggilnya…

  7. Hani berkata:

    Wiih nashaa comeback dengan yefany, udh lama bgt nih kayaknya ga ngepost tentang ini couple… hehew
    yeppa minta dikeroyok (?) pas awal-awal, akhirnya ga tenang juga kan ? G bisa kerja kan ? Makanya tiffany unni ama eunbi diperhatiin jdnya kan teenang.. Buat ff nya, adegannya teratur, bahasanya juga simple tp tetep teratur cuman mungkin moment yefany nya kuraaaang…#jiwa shipper kumat
    Aku pengen sequel yg full moment hahaha

  8. Ayuri Permata berkata:

    Fuihh susah loh nemuin ff yefany yg bagus, yg ada cuma di blog ini ama blog yefanycouple tp udh jarang update..
    Aku suka aku sukaaa !!!
    ditunggu cerita yg lain nyaaa sama ff yoonhaenya dilanjutin cepattt..hehe
    mian q maruk bgt tp emng udh penasaran sihhh.. #kedip-2-mata

  9. sulistiowati_06 berkata:

    untung ya yesung yang absurd itu cepet sadarnya. kalo ga gimana akhir cerita keluarga yefany kalo yesungnya egoisnya ga ketulungan. berefek ke eunbi nanti. keren chingu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s