FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 10 )

Image

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah 

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

PART 10

KEHILANGAN semuanya. Yoona tidak punya alasan lagi yang membuatnya tinggal lebih lama disini. Masa depan impiannya tergerus pergi bersama angan – angan dari sinar kebahagian diatas langit penuh bintang. Ia tersadar kini bahwa Langit mendung tak lagi bersinar. Semuanya hancur. Harapannya musnah, pikirannya hilang ditelan bumi  dan disinilah Ia berdiri.  Yoona memejamkan matanya merasakan semilir angin yang mendorong tungkai – tungkai rambutnya. Tuhan, bukankah ini yang terbaik?

Yoona menahan napas. Berpuluh mesin kendaraan  saling menyahut antara satu dengan lainnya. Masing – masing diantara mereka menciptakan deru yang beraneka ragam. Suara kebisingan itu saling berhantaman menyambar telinganya.  Dari pinggir jalan raya, Yoona memantau laju kendaraan yang membumbung tinggi usai lampu hijau baru saja mempersilahkan mereka menerobos jalan.  Bahkan mobil audy hitam yang berada di garda paling depan memacu mobilnya seolah jalan raya dihadapannya adalah sirkuit balap. Yoona harus mencari mobil dengan gaya seperti itu untuk mengakhiri semua ini.  Tatapan Yoona menajam kearah puluhan kendaraan  yang kali ini tertahan karena lampu merah. Yoona menghirup napas dan membuangnya perlahan. Setelah lampu hijau menyala, jejeran kendaraan itu  akan langsung menerobos kencang seperti yang direkamnya beberapa saat lalu.

Dari pinggir trotoar ini separuh langkah Yoona  perlahan menyentuh badan jalan. Tinggal mengitung  jari  untuk beberapa detik lagi Ia akan menikmati akhir dari sebuah penderitaan.

Yoona sudah berjanji dalam serangankaian waktu yang amat singkat, Ia akan mempergunakan  semua itu dengan sebaik – baiknya. Selama ini hadiah yang diberikan Tuhan untuknya sudah terlampau banyak. Yoona merasa perlu untuk mengingat mereka satu – persatu sebagai ucapan terima kasih yang terakhir kali.

Sebelum Ia berhantaman dengan berpuluh mesin berjalan, tersisa lima belas detik lagi untuk Yoona mengucapkan salam perpisahan. Sepasang mata Yoona memejam. Didalam matanya yang menutup Yoona melihat sebuah cahaya yang semakin lama semakin membesar.  Cahaya itu membawa tubuh Yoona seolah melayang diatas angin. Semerbak udara membelai penciumannya.  Yoona bersyukur, amat   bersyukur  atas waktu berharga yang Ia genggam selama ini dan sekarang sudah sepantasnya Yoona mengembalikan  apa yang sudah Ia renggut. Lima belas detik waktu memberinya kesempatan.

Ingatan Yoona berhamburan membuka beragam ekspresi yang penuh kasih. Tiga detik pertama lewat angin yang berhembus,  Yoona memohon maaf kepada kedua orang tuanya karena Ia harus mengambil keputusan untuk mengakhiri pertahanannya meski pun  perjuangan mereka  untuk  mati – matian mempertahankan hidupnya sungguh berat.

Tiga detik selanjutnya Yoona akan  menyimpan segala kenangannya bersama Tuan dan Nyonya Lee, orang tua asuhnya yang berkat mereka Yoona bisa melanjutkan hidupnya. Selanjutnya Yoona  akan mengenang para sahabatnya Kwon Yuri dan adiknya Krystal, Lalu tiga detik setelahnya Yoona akan memberikan itu  kepada para tetangga, guru atau orang – orang yang sudah berjasa dalam hidupnya.

Dan terakhir, Yoona ingin mengenang tiga detik terakhir dalam hidupnya, untuk seseorang yang benar – benar tulus membangun pijakannya dan seseorang yang telah mampu mematahkan pijakan itu sekaligus.  Mereka orang yang sama, Lee Donghae.

Yoona mendorong langkahnya untuk keluar dari kawasan trotoar. Suara klakson beberapa mobil menyambar pendengarannya. Entah kenapa Yoona tak berani melihat kedepan. Yoona sudah pasrah seandainya tak ada lagi nyawa untuknya. Yoona berjalan dengan tatapan kosongnya yang tertumbuk kebawah. Kilapan aspal hitam menyambut tatapanya.

Nada kecaman mengukir adegan tarik menarik didalam benaknya. Seolah ada tambang yang menarik isi kepalanya  penglihatan Yoona berputar – putar. Dirinya  yang beberapa detik lalu berpikir bahwa tubuhnya akan berlari kencang ke tengah jalan, kini  hanya berdiri kaku di bahu jalan, Peluh berjatuhan  ikut membasuh wajah Yoona seiring dengan berpuluh kendaraan beroda empat yang mulai melesat kencang dihadapannya, bukankah Ini yang Ia tunggu-tunggu?

Tiba – tiba wajah  dari seseorang yang tidak diharapkannya muncul. Bayangan wajah Donghae  dengan mata sendunya semakin jelas dalam pandangannya. Kali ini Yoona  tak mampu mengendalikan tubuhnya yang seolah terombang ambing diantara ribuan  jarum  yang menusuk.  Tubuh Yoona berdiri kaku seperti patung, Perih yang kini Ia rasakan membuat langkah itu berhenti sementara. Masihkah Yoona tidak rela melepas Donghae berserta kenangan yang masih  begelayut diantara mereka?

Yoona harusnya tak perlu mengingat itu semua. Mungkin apa yang terjadi selama ini adalah  kesempatan  baginya untuk memantapkan keputusan ini. Bukankah Yoona beruntung? Yoona harus berterima kasih karena Donghae marah padanya, dengan begitu Yoona tak perlu lagi berusaha agar semua orang membencinya. Sekaranglah waktu yang tepat untuknya agar Ia bisa pergi dengan tenang.

Yoona mulai menggerakkan sepasang kakinya. Fokus pandangannya mengarah ketengah jalan. Ia harus berlari kesana secepat mungkin sebelum waktu mengubah pikirannya.

Namun apa yang terjadi? Yoona justru merasakan kepalanya semakin berputar. Kali ini bukan karena Ia mengingat seseorang, sakit dikepalanya adalah sakit yang sesungguhnya. Yoona mencengkram pelipisnya dan meringis menahan beban yang seolah menjepit isi kepalanya.

Rasa mual yang tak tertahankan tiba – tiba muncul. Sebelah tangan Yoona berpindah untuk mencengkram perutnya yang rasanya terkocok oleh sesuatu entah apa.

“Ahgassi, kau baik – baik saja ? Ahgassi…”

Suara seorang namja sayup – sayup  mampir dalam pendengaran Yoona. Seseorang itu juga menepuk pundak Yoona pelan. Yoona ingin menoleh kearah sumber suara tapi rasa sakit disekujur tubuhnya membuat Ia tak mampu berpaling.

“Ahgassi…” dengan nada kehawatiran yang semakin menjadi, seseorang itu berusaha menengok wajah Yoona. Tatapan mereka bertumbuk dan setelah itu Yoona langsung melesat pergi. Rasa mual  yang dirasakannya kian menjadi, Yoona benar – benar tak ingin memuntahkan isi perutnya didepan orang itu.

Segala yang terjadi sungguh diluar dugaannya. Entah bagaimana Yoona  berlari kencang  tanpa arah pasti. Dengan langkah tergesa – gesa, Yoona menerobos  para pejalan kaki yang tengah berjalan santai. Tak Ia perdulikan lagi suara orang – orang yang mengumpat karenanya. Yoona hanya berpikir bahwa Ia harus mencari lokasi  yang pantas untuk memuntahkan isi perutnya.  Tempat  dimana Ia berada kini Ialah kawasan pertokoan yang bersih tanpa noda secuil pun. Yoona akan menjadi tontonan menjijikkan kalau Ia muntah disini.

Sebuah gang kecil menghentikan langkah Yoona yang limbung.  Tanpa pikir panjang Yoona langsung berbelok arah  dan menerobos jalan itu. Yoona mempercepat langkahnya ketika dari kejauhan Ia menangkap sebuah tong sampah berwarna biru tergeletak dipinggir jalan yang sunyi. Yoona sudah tidak tahan,  rasa mual  yang mengoyak perutnya  semakin mendorongnya untuk menapaki langkah demi langkah, kedua telapak tangan Yoona yang menutupi bagian bawah wajahnya mulai merenggang. Sejak tadi  Yoona berusaha  menghalau mulutnya agar tidak terbuka hingga akhirnya…

“Hoeekkk….”  Yoona memegangi perutnya yang serasa melilit. Yeoja itu menepuk – nepuk dadanya untuk menghilangkan sensasi mual yang menderanya. Tapi memakai cara apa pun tetap saja tidak ampuh,

“Mbhooeek.” Bukannya merasa lebih baik, sesuatu didalam perutnya lagi dan lagi berputar – putar tidak jelas hingga menciptakan rasa mual yang tak tertahankan. Berkali – kali Yoona harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menguras habis sesuatu didalam perutnya yang entah apa. Dibarengi oleh muntahan kosong yang juga ikut menyiksanya,   Yoona tidak mengerti kenapa Ia juga memuntahkan cairan bening  yang begitu banyak. Bahkan hingga  detik ini Ia belum sempat   menyentuh makanan atau minuman apa pun sama sekali.

Yoona terbatuk – batuk pada muntahan terakhirnya. Yoona kembali menepuk  dadanya pelan. Yeoja itu menyandarkan tubuh lemasnya ke permukaan tembok. Yoona menyerah untuk memuntahkan sesuatu yang tidak jelas  dan sekarang tubuhnya benar – benar diforsir habis karena hal itu.

‘Mungkin ada masalah dengan lambungnya, ya,’  Ia menyimpulkan pasrah.

Beberapa saat Yoona mencoba menenangkan diri.  Ia memejamkan mata, yeoja itu menghirup udara disekitarnya perlahan berharap dengan begitu Ia bisa bernapas dengan normal. Sekebat udara bergerak pelan menyapu telinganya lembut. Yoona mendengar jelas bisikan angin ditelinganya, jalan ini terlalu sunyi seperti kota mati yang bahkan  Yoona bisa menghitung detak jantungnya sendri. Suara kehidupan mengalun bersama angin itu. Tanpa sadar segaris lengkungan halus terpoles diwajahnya. Benar dia masih ada… Ya, nyawanya utuh dan Yoona cukup jelas  merasakan bagaimana darahnya mengalir tanpa henti.

“Yak apa yang kau lakukan ?!”

Teriakan seorang yeoja membuat fokus perhatian Yoona teralihkan. Yeoja itu terkesiap dengan wajah bertanya – tanya. Lagi – lagi suara seorang yeoja yang menganggu kesunyian kembali berseru,

“Kau harus bertanggung jawab Oppa ! Aku hamil, aku mengandung anakmu?!”

“Aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya kau harus datang menemui orang tuaku ! Titik.”

*Buggghhhh*

“Ahhh!”  Kehisterisan yeoja itu semakin memecah kesunyian yang sebelumnya bunyi hantaman benda keras  sempat mengawali teriakan itu.  Dan tidak hanya sekali, hantaman itu menciptakan suara debuman yang  memantul – mantul dalam pendengaran. Pandangan Yoona berpaling  kepada  sebuah  tong sampah  yang baru saja berguling dari arah pertigaan. Yoona mengernyit ketika  benda itu muncul didepannya sebagai satu – satunya obyek yang bergerak saat ini. Hingga akhirnya tong tersebut mengakhiri perjalanannya usai menabrak sebidang tembok yang menghalau disisi jalan. Tong itu  juga memuntahkan sampah – sampah plastik  yang kelihatannya sudah terkubur cukup lama.

Yoona berjalan kearah datangnya tong sampah itu. Benaknya mulai  mengaitk – ngaitkan hubungan antara sumber  suara  yeoja tadi dengan arah datangnya tong sampah. Rasa penasaran akhirnya mendorong kedua kaki Yoona berjalan menuju tempat dimana suara itu berada.

“Pergi kau dasar murahan !!!”

PLAKK

“Ahwhhwhh.”

~Deg~

Yoona terkesiap ditempatnya. Suara itu… Suara  namja yang tengah menjadi lawan debat yeoja tadi, Yoona sangat mengenalnya, Yoona tidak akn pernah lupa dengan pihak – pihak yang nyaris membuat hidupnya hancur.

Mungkin saja penglihatannya salah, Yoona bergeleng cepat. Dengan tubuh gemetar Yoona bersandar pada permukaan tembok pertigaan jalan.  Yoona mendorong wajahnya sedikit dari balik tembok yang berada disisi jalan itu dan mengintip adegan perseteruan dua orang dihadapannya dengan mata berantakan. Bulir – bulir keringat menjatuhi wajahnya seiring dengan tatapan Yoona yang memancar kaku. Sesak yang Ia rasakan mulai menyerang. Yoona mencengkram dadanya ditengah kondisi tubuhnya yang nyaris ambruk. Penglihatannya tidak salah, dia memang orangnya. Bahkan mengingat namanya saja  pikiran  Yoona langsung berputar pada kematiannya sendiri…

“Shinjung Oppa !”  Yeoja berambut bob yang acak – acakan itu menatap tidak terima dengan perlakuan yang baru saja dihadiahkan kepadanya. Ia memegangi sebelah pipinya yang baru saja terkena tamparan, lalu betapa terkejutnya Yoona melihat  sebelah pipi yeoja itu yang sudah dipenuhi lebam.

“Yakk dengar murahan, aku sudah  repot – repot memungutmu dari jalanan, sekarang apa kau bilang tadi?! Kau menuntut apa? Pertanggung jawaban?! Cih, Aku bahkan tidak yakin kalau itu anakku—“

PLAKK

Yoona memekik tertahan, Ia membekap mulutnya sendiri dengan mata yang memancarkan rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Yeoja itu menampar balik Shinjung. Yoona bergeleng kaku, napasnya berhamburan. Tidak ! Yeoja itu pasti dalam bahaya !

Dan seperti dugaan Yoona, Shinjung naik pitam. Ia mulai berteriak – teriak didepan yeoja itu dengan kalimat yang entah apa, Yoona tidak tahu dan tidak bisa mencerna apa pun dari bentakannya  yang lebih pantas ditujukan kepada seekor harimau ganas ditengah hutan.

PRANGG… Sebuah botol kaca melayang tepat mengenai kepala yeoja itu. Tubuh Yoona berdiri kaku melihat bagaimana darah segar mengalir disekujur wajahnya. Serpihan beling berhamburan. Kedua tangan Shinjung tak henti – hentinya melancarkan sebuah serangan tidak manusiawi. Yeoja malang itu memekik kesakitan, bibirnya yang dipenuhi cairan merah menggumamkan kalimat  pertolongan, berharap bahwa seseorang menolongnya saat itu juga. Tapi disana hanya ada Yoona, seorang yeoja  yang juga akan mati menyaksikan penyerangan sadis yang dilakukan oleh berandal itu… Ingatan Yoona berputar – putar menuju masa lalu. Ia menyaksikan kembali masa – masa terkutuk itu. Yoona tergiring kedalam satu peristiwa dimana perkumpulan orang jahat mulai gencar menghabisi nyawa seseorang yang tak bersalah. Peristiwa yang terjadi persis dihadapannya…

Flashback

 Jalan gelap dan sunyi itu adalah satu – satu jalan untuk menuju tempat tujuan. Hari mulai menunjukkan masa – masa kelamnya ketika jarum jam sudah sampai diangka sembilan, untuk ukuran perkotaan mungkin kala itu belum begitu larut namun lain cerita ketika berada di wilayah pedesaan yang saat jam delapan pun suasananya sudah sangat sepi.  Yoona dan temannya Yuri sudah tidak punya lagi pilihan lain untuk melewati jalan utama, akses jalan itu sedang ditutup sementara karena sedang direnovasi. Merasa tidak punya pilihan lain, Yoona dan Yuri akhirnya melangkah dengan takut – takut, mereka terpaksa melakukannya, dari pada terus berdiri dan menunggu hari semakin larut, mereka memutuskan untuk bergerak. Ditengah perjalanan mereka tak henti – hentinya memperdebatkan soal penyebab dari kondisi yang menimpa mereka.

“Yak, ini salahmu Yul, siapa suruh latihan menari sampai lupa waktu.” Omel Yoona karena seharusnya sejak bel sekolah dibunyikan, mereka langsung pulang ke rumah. Tapi karena bujukan Yuri, Yoona dengan setengah hati mampir kesebuah sanggar tari dan pada akhirnya Ia harus berakhir  menjadi obat nyamuk disana  karena Yuri malah sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Yuri menatap Yoona jengkel. Wajah Yoona tidak kelihatan sama sekali karena sepanjang jalan tak ada penerangan satu pun, kecuali purnama. Meski begitu menurut Yuri nada bicara  Yoona terdengar sangat meyebalkan.

“Sudahlah jangan cerewet, percepat saja langkahmu,” Titah Yuri sambil menambah kecepatan langkahnya. Yoona mengejar Yuri dengan terburu – buru, “Tunggu Yul…” panggilnya ngos – ngosan.

Yuri memberhentikan langkahnya membuat Yoona hampir tersandung badan Yuri. Yoona bersiap memprotes sesuatu tapi kalimat dikepalanya menguap entah kemana. Segerumul suara bising dibumbui oleh bau busuk alcohol tiba- tiba datang  menghampiri, aroma yang menakutkan itu lama – kelamaan kian menusuk penciuman mereka. Yoona dan Yuri saling bertatapan, bulir – bulir keringat berjatuhan seperti air terjun dari pucat wajah keduanya.

“Lihat siapa disini !” Ada tiga orang namja berpenampilan compang – camping dihadapannya, dan salah satunya berepuk tangan girang.

Tiba – tiba seorang namja berjas hitam, mengenakan kemeja serta dasi yang terata berantakan, menampakkan diri setelah muncul dari tiga namja tadi. Yoona memicing, firasatnya sudah menduga bahwa sekelompok berandal yang sering berkeliaran adalah anak pertama dari Tuan Shin, mafia itu punya dua putra, Yoojung dan Shin Jung yang kedua – duanya adalah pemabuk berbahaya.

Orang bodoh mana yang percaya bisa mendapatkan anak cerdas dan penurut jika benih yang membentuk mereka berasal dari seseorang yang sedang dalam pengaruh alcohol !

Yoojung bertepuk tangan lalu memperhatikan Yoona dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan pervert, “Bukankah ini kebetulan yang mengasyikkan ? Malam ini sangat sepi dan kita kedatangan tamu cantik tak diundang…”

“Kau tahu setelah kuhitung – hitung, Appamu tak perlu membayar lunas seluruh hutang – hutangnya, selama putrinya yang “hot” mau menjadi milikku…” Ia menimbang – nimbang disertai tampang menyebalkannya yang sedang berpikir keras.

Yuri menyikut pinggang Yoona mendesak temannya untuk segera kabur. Ketika mereka hendak melesat, seseorang mencekal lengan Yoona lebih dulu.

“Eitss mau kemana?” Tanya seseorang itu dengan senyum aneh. Tubuh Yoona menegang, Ia menatap Yuri yang berhasil kabur, Yuri sempat berbalik dengan ekspresi bingung kearahnya sebelum Ia memutuskan untuk melanjutkan  aksi kaburnya. Yoona menggeleng pasrah.

“K-kau mau apa Tuan?” Yoona tergagap ketakutan.

Seorang namja bertubuh gempal itu mendekatkan wajahnya ditelinga Yoona seraya berbisik, “Tuan? Jangan panggil aku dengan sebutan tuan, panggil aku dengan namaku, Shin Yoojung Oppa.”

Yoona bergidik ngeri usai kalimat itu meraba pendengarannya. Ia ingin menangis ketika tiga anak buah  Yoojung mulai tertawa – tawa dibelakang tuannya. Yoona mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dimata mereka.

Tanpa basa – basi lagi, tiga anak buah Yoojung menyeret tubuh Yoona. Sementara itu anak pertama mafia Shin mengelus wajah Yoona,

“Andai usiamu tiga tahun lebih tua aku akan menikahimu, sayangnya kau masih anak smp yang ingusan, haha, sebentar lagi kau akan lulus bukan? Aku punya pekerjaan untukmu dengan upah lumayan, wajah dan body-mu sudah memenuhi standar untuk syarat menjadi pelayan di club keluargaku, aku akan melupakan semuanya, hutang – hutang ayahmu yang menggunung itu dan kau tidak perlu lagi melanjutkan sekolahmu.” Yoojung mencoba bernegosiasi, tapi  Yoona merasa jijik, Ia tidak tertarik sama sekali dengan tawaran itu.

Yoona terkekeh miris, “Kau sedang mengemis padaku? Dasar menjijikkan.”

Mendengar cara bicara Yoona Yang sinis, Yoojung lantas naik pitam. Ia ingin melayangkan tamparan pada wajah mulus Yoona tapi Ia berpikir ulang. Belum ada satu orang pun yang berani membantahnya dan Yoona harus merasakan hukuman yang lebih dari sekedar tamparan keras.

“Kau berani melawanku?!! Simpan harga dirimu itu Nona !!!” Yoojung mendorong tubuh Yoona kebelakang, yeoja itu tersungkur.

 “Karena aku akan merampasnya  darimu sekarang juga !” ancam Yoojung sekali lagi yang kali ini benar – benar melakukan aksinya.

Yoojung menarik rambut Yoona membuat yeoja itu mengaduh kesakitan, Ia lantas mensejajarkan tubuhnya dengan Yoona yang  tergeletak ditanah. Yoojung mendekatkan wajahnya secara paksa, Ia menciumi dan menghirup kulit wajah Yoona. Betapa pun Yoona ingin berteriak sekencang mungkin tapi Ia sudah tak punya tenaga, yang bisa dilakukannya kini Ialah menangis tersedu – sedu dan memohon agar Yoojung menghentikan aksi bejatnya.

“Jangan lakukan ini, tolong…Tolong Aku ! Tolong Aku Siapa pun disana !” Berkali – kali nada terisak mengiringi permohonan itu tapi tak ada yang menggubrisnya. Tubuh Yoona melemas, Ia hanya seorang Yeoja yang tidak kuat menghadapi penjahat mengerikan itu… Ia tidak tahu nasibnya. Setelah ini… setelah ini Yoona akan membunuh dirinya sendiri atau ia akan gila…

Sepasang mata rabun itu memejam erat. Yoona berteriak dalam tangisannya, ia ingin semua berakhir, Ia ingin Tuhan bersedia mencabut nyawanya sekarang juga !

Tapi belum sempat pikiran – pikiran itu sampai pada kesimpulan yang kuat, harapan bahwa masih ada hidup untuknya mulai kembali. Bagaikan cahaya ditengah badai, Yoona menatap wajahnya, dia… seseorang yang membuka pikirannya untuk terus memiliki harapan itu, harapan untuk selamat dari situasi yang merenggut kehormatannya.

‘BUAGHH’

Yoona terkesiap menyaksikan tubuh Yoojung yang  jatuh tersungkur. Seseorang namja dihadapannya terseyum… senyum itu, harapan satu – satunya bagi Yoona untuk bertahan ditengah usahanya untuk mengakhiri hidup. Melihat matanya yang teduh, tiba – tiba Yoona ingin bernapas lebih panjang…

…………….

Yuri berlari terseret – seret. Wajahnya pucat dan panik. Ditengah kekaluatan yang melanda, Yuri menabrak seseorang. Sedikit kelegaan membubuhi hatinya. Sejak tadi ia hanya berputar – putar seperti orang bodoh, tidak ada satu pun yang bisa dimintai bantuan karena wilayah ini tergolong sepi penghuni seperti desa mati. Dan ketika ada seseorang yang muncul dihadapan Yuri, Ia nyaris pingsan karena kegirangan. Perlahan – lahan Yuri mendongak, tatapan mereka bertemu.

“D-donghwa Op-pa…” Yuri tergagap mengetahui ternyata yang berdiri  didepannya adalah Donghwa, pemuda Seoul yang belakangan ini akrab dengan Yoona kerena mereka sama – sama hobby bersepeda.

“’Yu-yuri? Kau pulang sendiri? Mana Yoona?” Ia mengernyit saat menemukan Yuri masih memakai seragam sekolahnya.

Yuri tersadar dari lamunanya dan kembali panik. Tubuhnya kian bergetar hebat.

“Y-yoona..” Yuri menelan ludahnya lalu mencoba melanjutkan, “Yoona, dia.. dia dicegat Yoojung disana, di jalan  sepi dekat pohon ek… Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa—“

Belum sempat Yuri menyelesaikan kalimatnya, Donghwa sudah menghilang, namja itu melesat dengan langkah terburu – buru, tanpa pikir panjang Yuri mengekorinya dibelakang, Bagaimana pun ia hawatir dengan kondisi Yoona kehawatiran itu mendorong Yuri untuk kembali kesana.

 ‘BUAGHH’

Salah satu namja berkulit gelap tersungkur didepan Yuri. Dongwha baru saja mendaratkan pukulannya diwajah orang itu. Yuri memekik ditambah ia melihat kondisi Yoona yang memprihatinkan. Tiba –tiba kedua kakinya tidak bisa digeraakkan. Ia ingin berlari menghampiri Yoona tapi, ketakutan membuat pikirannya bimbang. Perkelahian antara Yoojung, anak buahnya dan Donghwa tak terhindarkan lagi. Yuri ingin belari dan berteriak meminta bantuan sebelum suara bantingan beling menahan langkahnya. mengambil botol soju dan memecahkannya ditembok hingga benda itu membentuk sudut – sudut yang tajam. Teriakan Yuri melolong, matanya terpejam otomatis menolak kejadian mengerikan dihadapannya…

Pandangan Yoona rabun karena air mata mengalir deras tanpa sanggup Ia hentikan. Bahkan untuk melihat penampilannya sendiri Ia  tidak sempat. Rambut Yoona awutan – awun dan kemeja puith yang Ia kenakan sobek dimana – mana terutama dibagaian pungung. Apapun itu Yoona sudah tidak peduli dengan keadaannya sekarang tapi orang itu…

“Pergi dari situ ?! Awas kepalamu oppa ?!”

“ANDWAE !”

Tubuh Yoona menegang kaku tatkala menyaksikan bagaimana Yoojung dan anak buahnya memukuli Donghwa begitu sebaliknya. Bahkan mereka menggunakan botol minuman sebagai senjata. Adegan itu berputar – putar didepan wajahnya secara bertubi – tubi. Yoona mencoba beringusut ditengah jalan napasnya yang menyempit. Ia harus membantu Donghwa. Ia tidak boleh diam saja dan membiarkan namja itu berjuang dengan tangan kosong…

“Akhhhh.” Yoojung memekik lantang saat Yoona meraih lengannya yang hendak melayangkan pukulan kearah Donghwa, Yoona menggigit benda itu hingga membiru.

Yoona mencoba mendorong tubuh Yoojung agar namja bengis itu menjauh dari Dari DOnghwa tapi tenaganya kalah. Bagaimana pun Yoona hanya seorang yeoja yang sudah kehabisan tenaga. Yoojung benar – benar murka. Ia berbalik mendorong tubuh Yoona hingga tersungkur. Yoona beringsut kebelakang, Ia menggapai gapai sesuatu disekitarnya dan  menemukan sebuah batu. Batu yang dua kali lipat lebih besar dari kepalan tangannya itu langsung mendarat di kening Yoojung. Namja itu lagi – lagi melolong. Kali ini kemurkaan Yoojung bertambah ratusan  kali lipat.

“Beraninya Kau !!!”

Yoojung memungut botol soju yang tergeletak usai pesta soju yang Ia adakan bersama anak buahnya tapi malah terganggu karena kehadiran Yoona, mengingat Itu Yoojung betambah kesal. Ia hendak membanting botol itu kewajah Yoona, yeoja pengganggu yang sudah berani mengusik harga dirinya…

‘Prangg’

Yoona memejamkan matanya bersiap merasakan sakit ketika botol itu hedak melayang kewajahnya— Tidak, botol itu tidak menyentuh wajahnya sedikit pun. Jantung Yoona mencelos tatkala sekapan hangat itu membalut tubuhnya. Yoona lantas menyadari, bukan Ia yang menjadi korban disini, melainkan dia, seorang namja bodoh yang tiba – tiba merengkuhnya…

Darah mulai berceceran ditangannya. Yoona membelalak. Donghwa baru saja terkena lemparan botol soju ditengkuknya. Yoona takut Ia  akan kehabisan darah dan… dan…

“Oppa !!!” Yoona memekik kencang. Yoojung menatap kedua telapak tangannya dan tubuh Donghwa yang sudah tergeletak tak berdaya diatas pangkuan Yoona bergantian. Sungguh Yoojung benar – benar tidak menyangka bahwa lemparannya akan membawa dampak  sefatal ini…

“Tolong… Hikss… Oppa bangun…..”

Yoona mengguncang tubuh Donghwa yang tak bereaksi, “Kenapa ? Kenapa kau lakuan ini?!”

“Bangunlah !!! Tuhan Kumohon jangan ambil dia… hikz…” Yoona berteriak histeris namun lagi lagi tak ada reaksi hingga…

“Y-Yo-ona.” Suara Donghwa sangat rendah, Yoona nyaris tak bisa mendengarnya.

“Oppa,” panggilnya menepuk pipi Donghwa, “Kau sadar, kau sadar kan?” ratap Yoona penuh harap.

Beberapa detik Donghwa sesak napas, meski begitu Ia berusaha membuka mulut. Yoona menantinya.

“P-Pergi d-dari sini”

“Aniya.. Aku— Aku tdak bisa, Aku tidak bisa meninggalkanmu?! Kalau aku hidup kau juga harus hidup, kalau kau mati kita mati bersama Oppa !” tolak Yoona.

Donghwa masih mencoba berbicara, “h-hiduplah deng-an ba-ik, s-sebenarnya aku mencintaimu, mian baru mengatakannya, saranghae.”

Usai mengucapkan kalimat  itu, kalimat yang terakhir kalinya sebelum suara Donghwa menghilang. Dan rupanya benar, Ia sudah kehilangan banyak darah, Ia terkena sayatan yang cukup dalam pada bagian leher.  Donghwa tak tertolong lagi.

“OPPPAAA!” Yoona berteriak histeris. Sebongkah butiran yang menyayat hati meluncur dari matanya.

Sementara itu Yuri hanya bisa mematung, tubuhnya gemetar hebat menyaksikan peristiwa yang menimpa dirinya dan Yoona malam ini juga Donghwa. Dia,  Yuri tahu Donghwa menyukai Yoona, tapi ia tidak menyangka bahwa namja itu akan berbuat sejauh ini…

“Yak siapa disana ?!” Suara petugas keliling menginterupsi kekacauan yang terjadi. Shinjung dan ketiga anak buahnya mencoba kabur.  Dua dari mereka berhasil melarikan diri sedangkan Yoojung dan satu anak buahnya lantas dibawa ke pihak yang berwajib.

Flashback ends

Tiba – tiba Yoona mengingat kembali peristiwa yang menimpanya dimasa lalu. Hal yang paling  membuatnya sesak napas adalah ketika ingatan – ingatan itu menghantam kepalanya, ingatan pada malam mengerikan dimana kehormatannya nyaris direnggut, saat Yoona nyaris kehilangan masa depannya. Yoona ingin bunuh diri saat itu… dan sekarang ia nyaris melakukan hal yang sama. Andaikan dulu tidak ada yang menyelamatkannya, andaikan Donghwa tidak datang saat itu mungkin kehormatan Yoona sudah terenggut oleh penjahat itu dan Ia akan mengakhiri hidupnya saat itu juga. Tapi Donghwa datang memberi satu harapan bahwa Im Yoona pantas bahagia, Donghwa membuka jalan baginya untuk mempertahankan usia yang diberikan Tuhan, membuat Yoona melupakan keputus-asaannya, dan karena Donghwa-lah Ia mati – matian mempertahankan hidup yang namja itu berikan, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri.

Semenjak itu kehidupan Im Yoona berubah seratus delapan puluh derajat….

Karena kejadian itu pula Orang tua Yuri langsung  memindahkan anaknya ke Seoul sedangkan Yoona, Ia tidak bisa berbuat apa  – apa karena Ummanya sedang sakit parah sedangkan Tuan Im sedang mati – matian mencari biaya untuk pengobatan sang istri. Sehingga Yoona hanya terdiam dikamarnya seperti orang gila.

Hingga Tuan Lee yang tengah mengurus kematian Donghwa, melihat kondisi Yoona yang dijadikan saksi oleh polisi kala itu. Meski pun Yoojung dijatuhi hukuman  lima tahun perjara— yang sekiranya bisa lebih dari itu— meskipun penjahat itu sudah menerima hukumannya, Yoona masih  tampak seperti korban intimidasi, Ia begitu tertekan, karena itulah Tuan Lee meminta izin kepada Tuan Im yang adalah sahabat karibnya untuk diberi kesempatan untuk menyembuhkan Yoona. Tuan Lee sangat prihatin dengan kondisi Yoona saat itu dan untuk kebaikan bersama serta demi menjauhkan Yoona dari keluarga mafia itu,  Tuan Im akhirnya setuju mempercayakan Yoona kepada sahabatnya.

Yoona pergi ke Seoul. Sebelum tinggal di rumah keluarga Lee, Yoona lebih dulu tinggal dirumah sahabat Tuan Lee yang adalah seorang psikiater, dari sanalah Yoona dibimbing agar bisa hidup normal seperti sedia kala mengingat sikap Yoona yang masih tampak seperti mayat hidup, sering  berteriak – teriak sendiri, mengigau kejadian tedahulu mengenai peristiwa menakutkan, mengamuk bahkan mengancam untuk melukai dirinya sendiri.

Kira – kira enam bulan lamanya, Perlahan – lahan Yoona mulai menata kehidupannya meski begitu ia masih terbayang – bayang ketika melihat benda – benda, wajah – wajah atau kekasaran – kekasaran yang berhubungan dengan kejadian masa lalunya yang menyakitkan…

Yoona tidak sanggup jika peristiwa mengerikan itu berputar ulang dikepalanya…Yoona tidak akan sanggup menahan itu  semua, perasaan yang bergejolak dihatinya… sendirian.

Namun ketika otaknya merekam garis senyum Donghae yang menyambutnya, menyambutnya untuk pertama kali ketika menginjakkan kaki dirumah keluarga Lee, saat Donghae menyambutnya dengan ucapan  selamat datang… Yoona merasa ada ketenangan dibaliknya, Yoona merasa bahwa Ia tidak lagi  sendirian. Donghae… Yoona tersadar betapa Ia sangat merindukan sosok itu…

Tapi Yoona harus menelan pil pahit. Donghae meninggalkannya, dan itu berarti Yoona sudah tidak punya siapa – siapa lagi, kini Ia sendirian.  Donghae memilih pergi dari sisinya…  Donghae memilih  sibuk dengan sahabat lamanya,  Jessica jung… Jessica dan Jessica… Nama itu berputar – putar diluar harapan Yoona untuk menghapusnya , pandangan Yoona tiba – tiba melayang, ribuan jarum serasa menghantam kepalanya membuat Ia mengerang, hingga pijakan Yoona menjadi  tak menentu arah dan…

‘Prangggg !!!’

“Yak siapa disana ?!” Lengkingan suara menyadarkan Yoona yang tengah berkutat dengan kesakitannya, suara itu… Yoona menatap tong sampah yang baru saja tersenggol olehnya lalu mendongak.

Yoona hampir saja lupa dengan kejadian yang baru saja disaksikannya beberapa saat lalu bahkan Ia lupa bahwa kini sedang berdiri ditengah kandang harimau. Sepasang mata Yoona terbelalak melihat Shinjung tengah membopong seorang yeoja yang sudah tidak sadarkan diri. Shinjung yang menyadari keberadaan Yoona langsung menjatuhkan tubuh yeoja itu.

Yoona ngilu, perutnya kembali bergejolak ingin memuntahkan sesuatu. Ia ingin kabur sekarang juga sebelum Shinjung mengejarnya tapi kini langkahnya membatu. Seorang yeoja berpakain mini tergeletak berdarah – darah dihadapan Shinjung, Yoona shock berat. Sosok Donghae dalam ingatannya bergeser menjadi alur kekejaman yang dilakukan Yoojung dimasa lalu, dan parahnya kejadian itu kembali terulang didepannya dengan pelaku yang berbeda. Seperti halnya Donghae, Shinjung memiliki kemiripan dengan yoojung, amat sangat mirip dari segi apa pun. Menyaksikan yeoja itu berdarah – darah, pecahan botol minuman, tamparan Shinjung, dan perbuatan tidak manusiawi lainnya, membuat tubuh Yoona menegang hebat.

“Kau— Heii-“ Shinjung mulai menyadari bahwa sosok yang dilihatnya adalah Yoona. Ia memekik kegirangan.

 “Rupanya kau !” Selangkah demi selangkah namja itu mendekati Yoona yang juga mundur selangkah demi selangkah.

“Im Yoona- ssi apa kau percaya dengan ungkapan jodoh pasti bertemu ?”

“Bukankah ini kebetulan yang mengasyikkan ? Tempat ini sangat sepi dan aku kedatangan tamu cantik tak diundang…”

Kalimat itu… kalimat yang baru saja dikatakan Shinjung sangat mirip dengan apa yang dikatakan Yoojung saat mencegatnya malam itu…’Bukankah ini kebetulan yang mengasyikkan ? Tempat ini sangat sepi dan aku kedatangan tamu cantik tak diundang…’

Yoona seolah mengalami de javu, Ia tidak pernah berpikir bahwa Shinjung sangat mirip dnegan kakanya seperti halnya Donghae.

Sebelum orang itu benar – benar berdiri dihadapnnya, Yoona berbalik dan memaksa langkahnya untuk mengayuh secepat mungkin. Yoona berlari, berbelok di perempatan yang entah akan membawanya kemana, Yoona tidak bisa berpikir lagi, Ia hanya berpikir bahwa Ia harus keluar dari tempat ini dan tidak lagi melihat wajah bajingan itu bagaimana pun caranya.

”Happ !”

Langkah Yoona berhenti mendadak. Napasnya tercekat melihat Shinjung sudah berdiri didepannya entah bagaimana. Namja itu menyeringai.

“Ternyata sangat mudah melacak pergerakan yeoja sepertimu.”

Shinjung mencekal tangan Yoona ketika yeoja itu mencoba kabur sekali lagi. Shinjung lantas menarik tangan Yoona dengan kasar lalu membenturkan punggungnya ketembok.

“Kau mau kemana HUH?!” Bentak Shinung seolah mehilangan kesebaran.

Yoona menatapnya dengan mata berantakan. Ia menggerling bingung dan mendapati bahwa shinjung mengunci tubuhnya.

“Kau tidak akan macam – macam dengan apa yang  kau ‘lihat’ tadi kan nona?”

Tubuh Yoona bergetar menyaksikan tatapan shinjung yang tajam dan penuh ancaman.  Berteriak, hal yang ingin Yoona lakukan sekarang namun lisannya membeku, bibir Yoona hanya bergerak – gerak tanpa sepatah katapun yang lolos.

“Ah, lihatlah keringatmu bercucuran ya…” bisik Shinjung sambil tangannya membelai pelipis hingga sisi wajah Yoona.

Ia tertawa remeh, “Kelihatannya kau sangat tegang melihatku,”

“Tapi sekarang aku sedang butuh layanan gratis–”

“Huekkk…” Yoona memuntahkan sesuatu dan persis mengenai jaket lusuh milik Shinjung. Namja itu membelalak dan menatap Yoona yang juga tampak kaget dengan ketidaksengajaannya.

“Kau, Aishhh, lihatlah sekarang kau sudah berani muntah didepanku?!” Shinjung memndurkan tubuhnya dan menatap muntahan Yoona tidak suka.

Yoona mendorong bahu Shinjung dan mencoba kabur. Namja itu lantas menarik tubuh Yoona dan membenturkannya kembali ketembok. Yoona meringis. Sesungguhnya Ia masih merasakan mual dalam perutnya.

“Ah kau pikir dengan kau muntah aku akan membatalkan niatku? Tidak nona..”

Yoona bergeleng panik ketika Shinjung mencengkram bahunya. Hembusan napas Yoona berteriak mengisi keheningan, Shinjung menyeringai, Ia tahu bahwa Yoona tidak bisa berbuat apa – apa ketika mengalami kejadian seperti—

“J-jangan.” Yoona bergeleng panik, Ia frustasi, mimpi buruk yang selama ini  terbayang – bayang dikepalanya akhirnya terjadi, mungkin setelah ini Yoona akan mati tapi tidak dengan cara  kotor seperti ini !

Shinjung mecoba mendekati wajah Yoona berkali – kali dan berkali – kali pula Yoona berpaling dari wajah itu. Yoona mendorong tubuh shinjung dengan sisa – sisa tenaganya akan tetapi perlawanan itu tidak membantu sama sekali, gerakan shinjung kian membabi buta hingga akhirnya bulir – bulir kepedihan itu jatuh membanjiri wajahnya. Yoona terisak, Ia hanya mampu terisak.

“Oppa…” Yoona berdesis, Ia memejamkan matanya dengan pasrah,  wajah Donghae tiba – tiba terbayang. Jantungnya tercabik – cabik menyadari bahwa Ia tidak bisa menjaga semua ini untuk Donghae.

‘Bughh’

Yoona terbelalak. Ia membekap mulutnya tidak percaya bahwa Shinjung sudah tersungkur didepannya. Ia shock beberapa saat hingga akhirnya pandangan Yoona jatuh kepada seorang namja berseragam sekolah berdiri dihadapan Shinjung dengan wajah murka, melihat namja itu, tiba – tiba Yoona teringat dengan Kristal, Kristal adik Donghae.. Yoona mengernyit, bukankah dia… Kai? Ya, seingat Yoona dia teman Kristal, lalu sedang apa Ia disini?!

Bugh.. bugh.. bugh..

Kai menghantam wajah Shinjung berklai – kali hingga namja yang kelihatannya setengah mabuk itu tergolek tak berdaya.

“Yak, namja berandal yang payah ! Kau hanya berani dengan yeoja tak berdaya, aishhh rupanya kau tidak lebih baik dari banci di pasar ikan ?! Rasakan ini !”

‘Bughh’

Shinjung kelihatan tidak punya tenaga lagi, Ia mencoba membalas pukulan kai, akan tetapi pukulan itu hanya  menghantam udara disekitarnya. Gerakan Shinjung mulaii berantakan, sebayak Ia mencoba melancarkan pukulan—yang sia – sia, sebanyak itu pula hadiah tinju dari kai menghantam wajahnya.

Shinjung pingsang. Kai mendecih dan mengejek bahwa berandal dihadapannya  benar – benar payah dan bodoh. Orang itu tidak menggunkan otaknya untuk berkelahi, lalu apa bedanya Ia dengan kerbau?

“Dasar pemabuk.” Runtuk kai menatap tubuh Shinjung yang tergeletak diaspal. Pandangannya lalu teralihkan  ketempat dimana Yoona berdiri dengan tubuh bergetar kaku disisi tembok, ekspresi wajahnya penuh ketegangan ditambah bulir – bulir yang mengalir disekujur tubuhnya berjatuhan tanpa henti.

“Nonaa…. nona…” Kai menepuk – nepuk wajah Yoona yang menatap searah ketempat dimana shinjung terkapar. Sepasang bola matanya yang basah bergetar kaku membuat  Kai mengambil satu kesimpulan bahwa jiwa Yoona tengah berkelana entah kemana.

Jadi melihat yeoja dihadapannya bertahan seperti mayat hidup, kai mengibas – ibaskan tangannya dihadapan wajah pucat itu.

“Yoona Nona…” panggil kai yang ingat bahwa Kristal sering menyebut – nyebut nama Yoona sebagai Eonninya dan mereka juga pernah bertemu dua kali.

Tiba – tiba mata Yoona membulat sempurna. Awalnya kai mengira hal itu ialah pertanda bahwa Yoona sudah kembali kedunia nyata, tapi sungguh dugaannya salah. Kai mengangkat kedua alisnya ketika tatapan Yoona yang masih ketakutan berpindah dari wajahnya menuju sesuatu dibalik punggungnya…

Kai memutar pandangannya kebelakang. Napasnya tercekat seperti akan mati ketika bayangan botol beling memantul dipermukaan bola matanya yang hitam. Lantas Ia memeluk Yoona dan mendorongnya kesamping, tubuh mereka berguling – guling diasapal.  Kai tidak peduli Yoona itu siapa, Ia harus menyelamatkan apa pun disekitarnya  sebelum botol itu menghantam kepala mereka.

Kai menatap kondisi Yoona yang berada didalam pelukannya, Ia kelihatan sangat shock, tatapannya kosong dan keringatnya bertebaran. Kai  buru – buru bangkit dan mulai waspada dengan pelaku pelemparan yang rupanya adalah Shinjung, ternyata usai aksi pelemparan yang tidak terduga, penjahat itu langsung pingsan, Kai menatap tajam, barang kali orang itu hanya berpura – pura atau apa… Tapi Kai menjadi tidak peduli dengan rencana pemastian itu ketika Ia menengok kondisi Yoona yang rupanya sudah tidak sadarkan diri..

“Nona, Yoona Nona…” sekeras apapun Ia memanggil, yeoja dihadapannya belum juga membuka mata sedikit pun. Namun kai sedikit menghela napas ketika Yoona bersuara dalam mata terpejam. Setidaknya yeoja itu masih bernapas…

Tapi Yoona terus meracau aneh membuat kai semakin bingung…

“Oppa.. Donghae Oppa…”

Donghae… Mungkin sebaiknya Kai menghubungi Donghae tapi masalahnya disini ia tidak punya nomer ponsel kakak laki – laki Kristal yang satu itu. Jadi dengan mengesampingkan rasa takutnya, kai akhirnya menghubungi Kristal. Dengan tangan gemetaran dan perasaan kalut, Ia mulai mencari nama yeoja itu dikontak ponselnya.

Ketika nada sambung kelima Kristal mengangkat teleponnya, diujung sana kai sudah lebih dulu merentangkan  jarak dari speaker ponselnya, sejauh ini, teriakan Kristal begitu dahsyat dan Ia  masih mencintai telinganya sendiri…

“Yak !!! Kenapa kau bolos lagi pabooo !!!! sudah berapa kali kau melakukannya?! Aku tahu kau takut dihukum karena PR mu belum selesai atau kau mau bilang lagi kalau kau sibuk bekerja ditempat sialan itu demi—“

“Kris dengarkan aku ini penting!!!” Kai membentak. Seperti dugaannya Kristal pasti akan mengomel lagi karena hari ini Ia membolos.

 “Lalu apa? Menurutmu apa yang lebih penting dari—“

“Yoona nona…”

Kristal terdiam sejenak, “M-mwo? Kenapa? Kenapa dengan Yoona Eonnie..” Suaranya memelan ketika Ia mendengar nada dramatis  menyebut nama  Eonni kesayangannya itu.

“Dia.. Dia pingsan dan dan…”

“DAN APA? Cepat katakan?!!!”

“Dan sebelum itu dia diganggu oleh preman…”

Suara Kristal kembali meninggi, “Preman? Preman apa maksudmu, Huh?!”

Kai menggeleng, “Sudahlah itu tidak penting, yang terpenting sekarang aku harus melakukan sesuatu tapi akau tidak tahu harus bagaimana—“

“Kau dimana?!!!”

……………….

Yuri mendapat telepon dari Kristal yang kini sedang terkurung di sekolahnya, dari suaranya anak itu terdengar panik, Seperti dugaan Yuri, Kristal membawa kabar buruk,  Ia bilang Donghae tidak mengangkat teleponnya jadi ia meyuruh Yuri untuk menjemput kai dan Yoona yang tidak sadarkan diri. Kebetulan Yuri sedang berada didalam taxi, Yuri lalu memaksa supir taksi itu untuk membalap kendaraannya menuju alamat yang dikirim  oleh Kristal. Selama perjalanan perut Yuri melilit memikirkan jawaban dari pertanyaan berputar acak dikepalanya, sedang apa Yoona diarea perkampungan seperti itu? Dan.. dan kenapa Kai bisa menemukannya lalu.. bagaimana Yoona bisa tidak sadarkan diri… Yuri hanya bisa bergeleng panik, Ia tidak menemukan jawaban apapun kecuali prasangka bodoh,  Sungguh Ia tidak ingin menyimpulkan sembarangan tapi kejadian ini memaksanya untuk melakukan itu.

Setelah menemukan Yoona yang tidak sadarkan diri Yuri membawanya ke rumah sakit.  Didalam taxi, Yuri tanpa henti menindas dengan sejumlah pertanyaan yang bertubi – tubi kepada Kai, teman krystal yang kini sibuk menjawab satu persatu pertanyaan itu. Kadang – kadang ketika kai sedang sibuk berpikir mengenai kronologis kejadian saat itu, Yuri mencecarnya lagi dengan  pertanyaan selanjutnya hingga membuat anak itu bingung sendiri.

Sesampainya di rumah sakit Kai lantas menggendong tubuh Yoona, Yuri berjalan disampingnya dengan panik. Ia seperti orang gila yang mencari bala bantuan. Perlahan Yuri berjalan kearah petugas rumah sakit dibalik meja, Ia mengurus segala sesuatunya. Hingga tidak lama kemudian, Yoona langsung ditangani oleh tim medis.

Para tim medis mendorong tubuh Yoona yang terbaring diatas tempat tidur. Yuri ikut berlari mengikuti langkah mereka. Dengan napas berkejaran Ia menatap temannya yang masih tidak sadarkan diri. Setelah mendengar cerita Kai, jantung Yuri seolah terbelah – belah. Ia tidak menyangka kejadian seperti ini akan menimpa Yoona. Ya, andaikan Ia bisa memperkirakan ini sejak awal…

“Maaf Nona, silahkan menunggu diluar.” Kata salah satu petugas kepadanya. Langkah Yuri berhenti.  Ia menatap kepergian Yoona yang menghilang dibalik pintu kaca. Yuri tidak bisa menyembunyikan perasaannya ketika Kristal bening dari matanya menetes – netes. Yuri duduk lemas diatas kursi memanjang. Ia mencengkram kuat rambutnya sendiri, Yuri menyesal, Ia tidak bisa berbuat  apa – apa untuk Yoona. Tiba – tiba kai muncul dan duduk disampingnya.

“Yang sabar Nona.” Ujar Kai menenangkan.

Yuri menghela napas. Ia mengingat sesuatu dengan mata berapi – api. Kalau Yoona seperti ini, Yuri yakin ada sesuatu dibaliknya. Yuri tiba – tiba ingat ketika Yoona menelponnya  terakhir kali dengan nada frustasi. Waktu itu Yuri langsung berpikir bahwa temannya itu sedang terlibat suatu masalah yang menyiksanya dan Yuri yakin sumber dari masalah – masalah itu adalah…

“Yak katakan padaku apa yang kaulakukan selama ini?!! bagaimana caramu  menjaga Yoona?!” Yuri berteriak pada seseorang di telepon, Ia tidak peduli dengan situasi hening di ruang tunggu rumah sakit yang menambah kegaduhan suaranya kala itu.

 “A-apa maksudmu? K-kenapa dengan Yoona?” Suara hawatir namja diseberang sana bahkan bisa ditangkap oleh Kai.

Yuri menerawang tajam, “Haruskah aku memberitahumu?! Kalau kau masih peduli datang saja sendiri ke Wu Su hospital !”

Yuri  menekan layar ponselnya dengan kasar. Sambungan terputus. Yuri menghembuskan napas kasar lalu menatap kai, “Gomawo, aku.. aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kau tidak ada,”

“Gwencena Nona,” jawabnya sambil memikirkan sebuah kejadian saat Ia berjalan pulang ke rumahnya.  Adaikan ia tidak lewat diperkampungan itu untuk mencari jalan pintas, Kai tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan preman itu kepada Yoona —kakak Kristal—Yeoja yang selama ini berhasil mencuri perhatiannya di sekolah.

………………..

Donghae berjalan tergopoh. Ia menerobos kehampaan lorong rumah sakit dengan pikiran melayang. Donghae tidak bisa memaafkan dirinya sendiri seandainya Yoona kenapa – napa, Ia ingin melindungi Yoona, Donghae sudah sering mengucapkan mantra itu, tapi berkali – kali Ia mengingkarinya, lalu apa sebutan yang pantas untuknya? Pengecut yang ingkar janji… bahkan lebih dari itu. Donghae terlampau bodoh hingga membiarkan egonya berkuasa. Ia seharusnya sadar bahwa kondisi Yoona sedang tidak stabil, seperti kata Eommanya bahwa Yoona kembali mengalami guncangan masa lalu yang hebat.

Langkah Donghae berhenti didepan sebuah ruangan. Sesaat Ia memastikan bahwa ruangan tesebut adalah ruangan dimana Yoona dirawat. Kemudian matanya menangkap seorang yeoja yang sedang duduk melamun diatas kursi ruang tunggu IGD.

“Yuri-ya.” Donghae menghampirinya. Seseorang yang dipanggil Yuri itu mendongak dengan wajah berlinang air mata.

Yuri tidak bereaksi apa – apa melihat kedatangan Donghae. Sungguh Ia tidak berselera menatap wajah namja itu.  Yuri lalu berpaling ketika Donghae duduk disebelahnya.

“Yuri katakan padaku apa yang terjadi?!” tanyanya segera.

“Tidak tahu, ceritanya panjang, aku tidak tahu dari mana aku harus menceritakannya.” Dengan tatapan dingin Yuri menjawab. Donghae mendesah, “Mianhae Yuri-ya…”

Mian, Yuri sudah sering mendengar kata  penyesalan itu dari mulut Donghae, tapi tetap saja, Donghae selalu saja dikendalikan oleh emosinya ketika terlibat masalah dengan Yoona, hingga terjadilah  hal seperti ini. Andaikan Donghae bisa jauh lebih bijak…

“Kau datang lebih cepat dari dugaanku.” Tanggap Yuri dengan intonasi datar. Setelah mendiamkan Donghae beberapa lama, Ia sedikit merasa bersalah. Mendengar hembusan napas Donghae yang berkejaran, begitu juga bahasa tubuhnya yang gelisah, Yuri menangkap satu kesimpulan bahwa Donghae juga menghawatirkan Yoona sama sepertinya, bahkan lebih.

“Seseorang melakukan sesuatu, padanya…” Yuri bercerita, tatapannya menerawang.

Yuri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Donghae mengetahui kejadian yang baru saja menimpa Yoona hingga tidak sadarkan diri. Awalnya Yuri ragu untuk menceritakannya, tapi Ia mengangap Donghae harus tahu yang sebenarnya. Karena sekarang Yoona adalah tanggung jawab Donghae, jadi Yuri tidak punya alasan apa pun untuk menutupi kasus ini dari namja itu.

Yuri menceritakan semuanya, semua yang Ia ketahui dari kronologi yang diceritakan kai—anak remaja yang menyelamatkan Yoona dari pemabuk. Ketika Yuri menceritakan soal pemabuk, rahang Donghae menggeras, Ia mengepalkan tangannya kuat – kuat seolah – olah ingin menghajar orang – orang yang menyakiti Yoona.

“Sial !” Tanpa sadar Donghae berteriak kesal. Yuri menatapnya takut – takut. Donghae sangat mudah terprovokasi, Yuri takut namja itu akan melakukan sesuatu diluar kendali, tapi untunglah  Donghae masih menggunakan otaknya untuk berpikir, namja itu terdiam dengan tatapan mata  penuh dendam.

Yuri belum menyelesaikan ceritanya, tetapi  Donghae sudah tersiksa oleh gemuruh jantungnya yang  meledak – ledak. Ia ingin sekali memusnakan mereka. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Donghae berjanji setelah ini akan melunasi semua hutang – hutang keluarga Yoona kepada mafia itu, bagaimana pun caranya Donghae berjanji. Donghae berniat akan melempar benda berharga itu persis diwajah mereka !

Yuri juga menceritakan soal Yoona yang menelponnya dan berkata seolah – olah Ia ingin mengakhiri hidupnya. Tubuh Donghae lemas seketika. Donghae ingat bahwa sebelum itu Ia bersitegang dengan Yoona karena suatu hal… Ya mungkin orang – orang benar, Ia tidak becus menjaga Yoona, Ia tidak bisa mengerti sedikit pun tentang yeoja itu.

“Keluarga Im Yoona…” Seorang suster keluar dari ruangan dimana Yoona dirawat. Donghae dan Yuri lantas berjalan menghampirinya.

“Bagaimana keadaannya suster?” tanya Yuri panik.

“Tekanan darahnya tidak stabil, sepertinya pasien baru saja mengalami shock berat, Dia masih belum sadarkan diri tapi sebentar lagi pasien akan sadar,  Dokter akan memantau kondisinya nanti sebelum itu kami akan memindahkannya ke ruang perawatan.” Jelasnya. Jantung Yuri dan Donghae langsung mencelos.

“Baiklah suster, lakukan yang terbaik.” Sambar Donghae dengan nada tidak sabaran. Suster itu tersenyum dan mengangguk. Ia mengucapkan permisi lalu berbalik masuk kedalam ruangan.

Yuri mengatur napasnya yang sesak, “Syukurlah,”

Donghae mundur selangkah dan menyandarkan punggungnya di permukaan tembok. Ia mendongak dan memejamkan matanya, “Yoong, Gomawo… Gomawo karena sudah bertahan…”

………..

Donghae menarik kursi dengan sisa tenaga. Ia menatap seseorang yang tidak sadarkan diri dihadapannya dengan pandangan hampa. Tubuhnya benar – benar lemas melihat kondisi Yoona yang terbaring dengan  jarum infus menusuk kulitnya.

Perlahan Donghae meraih tangan kanan Yoona dan menghirupnya lembut.

“Tidak akan ada lagi hal seperti ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti mu, aku janji, aku berjanji akan membahagiakanmu, menghapus semua lukamu. Kumohon bagunlah Yoong, izinkan aku memulainya dari awal… “ ujarnya lirih.

“Mianhae… Maaf atas sikap bodohku selama ini.” Donghae menautkan jemarinya disela – sela jemari Yoona dan menggenggamnya.

Donghae merasakan hawa dingin dari tangan Yoona yang perlahan menjalar kekulitnya. Tiba – tiba Ia merasakan sakit yang luar biasa. Demi apa pun, Donghae bersedia menukarnya, rasa sakit itu dengan kehangatan ditubuhnya, bahkan apa saja yang Ia punya agar Yoona bisa melupakan seluruh bayang – bayang masa lalu yang menyiksanya…

Donghae menghela napas. Ia tahu bahwa tidak ada gunanya berlarut – larut dalam penyesalan, tapi sekarang Ia juga tidak bisa mengingkari bahwa penyesalan itu seperti bola api yang menghantam tubuhnya. Yoona, tidak ada nama lain dikepalanya. Donghae menatap sekali lagi wajah Yoona yang terbaring dengan pulas. Tidak ada senyuman dan tatapan lembutnya. Segala yang Ia rindukan hilang entah kemana.

Kini tersisa wajah Yoona yang pucat. Donghae memeras handuk kecil  yang terendam pada baskom aluminium lalu mulai  membersihkan tubuh Yoona. Ia membasuh bagian tangan juga wajah yang mulai dipenuhi keringat dingin. Donghae menatap hawatir. ‘sebenarnya apa yang kau lihat didalam sana, Yoona…’

Dering ponsel berbunyi. Donghae tersentak dan menyadari bahwa benda itu adalah miliknya. Namja itu menghela napas lalu segera keluar dari ruang perawatan.

 “Yoboseyo.” Sapa Donghae terdengar seperti desahan lemah. Ia menyandarkan punggungnya ketembok dan menunduk lemas.

“Donghae kau dicari oleh Kim sajangnim.” Ucap seseorang diseberang sana.

Tidak ada jawaban darinya, Donghae menghela napas.

“Donghae ini benar – benar penting ! Kau harus bertemu dengannya kalau tidak kesempatan ini akan hilang !” sambung orang itu ketika reaksi temannya tidak sesuai harapan.

“Katakan padanya aku sibuk.” Ujar Donghae dengan wajah tidak peduli kemudian segera menutup teleponnya.

“Yak—“

Bip.

Donghae  menghempaskan tangannya begitu saja sampai ponselnya membentur tembok. Donghae memejamkan mata.  Wajah Yoona berkeliaran didalam kepalanya. Donghae menghela napas, Ia tidak akan pergi kemana pun.

Beberapa saat Donghae terhanyut dalam pikirannya, Ia menatap Yuri yang baru saja tiba dari kamar mandi. Tahu – tahu Yeoja itu sudah berdiri dihadapannya dengan wajah berkerut. Yuri menatap dengan wajah bertanya – tanya karena Ia mendengar suara Donghae yang terkesan datar kepada orang diseberang sana. Baru saja Donghae ingin berkata sesuatu, dering ponselnya kembali berbunyi. Namja itu berdecak dan segera mengangkat teleponnya yang kali ini dari nomer tak dikenal.

“Yoboseyo.” Sapanya malas. Tiba – tiba Donghae terbelalak ketika seseorang diseberang sana mulai berbicara.

Yuri bisa mendengar bagaimana sang penelpon berbicara tanpa henti dari dalam ponsel. Donghae menyimak pembicaraan itu dengan serius, kedua alisnya terangkat. Lalu tidak lama gurat kesedihan muncul dimatanya, “Oh ye Sajangnim.”

“Nde..”

Donghae mengakhiri teleponnya dengan helaan napas panjang. Yuri yang menatapnya sejak tadi mulai mengerti apa yang menganggu pikiran namja itu.

“Pergilah biar aku yang menjaga Yoona.” Cetus Yuri. Donghae menatapnya, “Tapi Yuri…”

“Pergilah, kupikir itu tidak akan lama kan?” potong Yuri. Donghae mendesah, “Baiklah…”, ucapnya tersenyum getir, “Tolong kau jaga Yoona, Aku segera kembali.”

Yuri mengangguk pelan. Ia menatap punggung Donghae yang menjauh dan menghilang pada tikungan.

Sementara itu sepasang mata yang berdiri dibalik tembok  juga ikut menyaksikan punggung Donghae yang menjauh. Ia mendesah kecewa, Untuk kedua kalinya namja itu tidak mengakui keberadaannya. Donghae melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Ya, mungkin sekaranglah saatnya Ia mengakui bahwa dirinya sudah kalah telak. Ia harus menghentikan permainan ini bagaimana pun caranya.

..…TBC……

 Maaf ya kelamaan heheww😀

 ~Selamat berpuasa ~

42 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 10 )

  1. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    akhirnya nih ff keluar juga.
    hufth nahan nafas,yoong saking frustasinya dia gara-gara sikap donghae jadi pengen bunuh diri. kasihan, yoong ngerasa kalau dia sendiri didunia, karena sikap donghae padahal yoong bergantung sama donghae. misterinya terungkap, tapi yoong bakalan depresi karena kejadian itu terulang lagi.
    next ditunggu kalau bisa jangan lama-lama hhh, yh jjang…!!

  2. DEA OKTAVIKA berkata:

    Udh lama gk baca jd lama ngambungnya ama part sebelumnya. Kyaknya hrus bca ulang deh ini. Emng hae udh bilang ke yoong klo mlih jess dr pda yoong?
    Next chap qw tunggu thor!!

  3. ina gomez berkata:

    Kshn bgt yoona eonni grs mlht n mngalmi kjadian kyk dlu lg yg bt dia trauma…mdh2an kjdian ini yoona eonni cpet smbh n gak terlalu trauma.untung ja da kai lox gak..gak tau pa yg bkln terjdi.tak kira td yoona eonni hmil tp dokter gak blng tu.ditunggu nextnya min

  4. Anonim berkata:

    Hwaaaa… part ini menguras emosii.. aq kira yoona hamil, soalnya dya kek orang hamil sihh.. apalagi dya kn sma donghae menjalani smuanya kek kehidupan rmah tanggal biasa.. cman kadang2 mreka ska crash gegara yoona yg nyimpen masalahnya sndirii..
    Authorr next partnya jangan lma2.. udh g sbar liat yoonhae moment.

  5. vidya berkata:

    aku baca ini malah kesel, mungkin kebawa cerita. bakal panjang kah ff ini? kalo panjang harus punya kezabaran ekstra buat nunggu lanjutannya. cepet dilanjut thor dan ceritanya cepet di ending in. semangat nulisnya…

  6. im pizza berkata:

    sebenarnya aku nunggu fict ini tamat bru baca semuanya haha… tapi krena pnsran ana baca deh,seru..trnya itu kisah kelam yoona selama ini,, donghae juga knpa jadi pngecut bgtu? buruan d ending.. biar ana baca n komen semua kkkk

  7. han ji bin berkata:

    tadi pas baca smpt lpa sii tpi pas diinget2 jdi tw deh
    kai you’re my hero gomawo dah nolongin yoong untung ada kau
    yoong hamil ya, dan jg kira2 sapa yah yg dah merhatiin hae di balik tmbok
    akhir’a rahasia sdh trbka jls knp yoong bsa parno gt
    di lanjut chingu tpi jgn lama2 ya tkt lpa ama crta sblm’a pdhl nii story seru bgt
    aq tunggu, gomawo

  8. kantimur_11 berkata:

    kasian yoona,udah trauma ditambah dateng masalah baru
    semoga tuh masalah cepet selese
    ditunggu next chapter

  9. sfapyrotechnics berkata:

    Yoong eonni frustasi banget… Hae oppa jaga yoong baik-baik,, yoong gitu karna frustasi, Hae marah ama dia,, kejadian yang buat yoong frustasi berat di masalalu keulang lagi,, smoga yoong cpet sadar..

    Next.. jgn lama” yahh.. Fightingg

  10. Anonim berkata:

    Akhirnya dsmbng jga
    Udh lma bgt nngu ff ini,
    Yoong lagi hamil ya? JAngan smpe yoobg jdi depresi lagi.
    Next part dtnggu ya

  11. aisyadewi c'hyunmin loverz berkata:

    Akhh .. ini ff udh sangat lama aku tunggu2 … akhirnya dilanjut juga ..
    masa lalu YoonA sudah terbuka & sekarang siapa orang yg berdiri dibalik tembok itu? Dan permainan apa pula yg dimaksud?
    oke deh, ditunggu Next’a yah Thor …
    Selamat Berpuasa Juga ^^^^

  12. HaeNy Choi93 berkata:

    Ya ampun itu Shinjung kenapa gak kapok2 sih jadi jahatnya. Sumpah ya lama2 gue tendang juga deh tu orang ke neraka..

    Yoona kenapa muntah2? Apa dia hamil??
    Donghae ayo dong bantu Yoona. Supaya sembuh dari trauma masalalunya dia. Kasihan tau. Nextnya ditunggu

  13. Lee nana berkata:

    Akhirnya ff ni muncul lgi 😆
    segitu frustasi nya yoona ditinggal donghae 😢 smpe mau bnuh diri gitu
    Untg aja ada kai
    apa trauma yoona bkl blik lgi kyk dlu ??
    kasian yoona hdupnya selalu tertekan gtu 😢
    Next thor

  14. aprill berkata:

    Ah yoona ksian bgt kjdian dlu hampir keulang lg. Hae mlesin bgt sih km,mentingin krjaan mulu..cepet2 bhagia dh YH ini ^^

  15. idaa ziiosay berkata:

    Sempet lupa udah smpe mana , akhirnya dpost juga stelah menunggu ampe jamuran haha
    Kasian yoong dy harus ngalamin yang kedua kalinya gmna nasib yoong slnjutnya untung si kai datengnya ga terlambat qlo ga gatau dah si yoong bkl ancur bnget
    Nwxt dtnggu chap slnjutnya
    Go go semangat 😉

  16. tryarista w berkata:

    sekian lma menunggu akhirnya mncullll jg nichhh ff ,dah lupa ma cerita dipart sebelumnya,,,,,
    akhirnya tau msa lalu yoona pi kejadiaannya terulang lagi,,,,
    apakah yoona akn depresi lgi,,,,,,
    dan cpa yg nelpon donghae,,,,,,
    next2 jgn lma2 biar cepet selesai dan gnti ff baru,,,,,nich ff kan dah lma bget msa g kelar2,,,,,

  17. Nabilla Utmary Elfishy berkata:

    Akhirnya dipost juga…
    Semakin seru thor,kenapa Yoona harus melihat kejadian yang tidak senonoh lagi..Bagaimana perkembangan Yoong selanjutnya yahh…Berharap Yoona akan baik-baik saja..Lee Donghae harus bertindak cepat nih,si Shinjung itu harus dibasmi \/ next thorrr😀

  18. utusiiyoonaddict berkata:

    aigoo sumveh ya ane ampe baca part sebelumnya saking lupa ama ceritanya dan jg nglanjutin na lama bgt si ampe setengah tahun lamanya,
    dongek gak peka yoona kan hanya minta dongek d sisinya, dikira aku yoong hamil, aduduh semoga yoong gak knapa“ yaa jgn sampe sadar nanti dia berhalusinasi lg dan kambuh lg tuh kejiwaan na,
    dongek jgn janji“ mulu kalo gak pasti, jagain yoona yg bener.

    hayolah d lanjut na jgn kelamaan , nanti lupa ama ceritanya lg jgn smpe berbulan“ nglanjutin na

  19. maya luoxi berkata:

    untung saja yoona tdak jd bunuh diri. tdk tau apa jd nya nanti..
    ahh, donghae tolong jangan sakiti yoona lg…

  20. Rahmania berkata:

    Ini sih complicated,menurtq donghae jg gk sepenuhnya salah bersikap sprti itu sm yoona karna dia tdk tau kebenarannya.klo dr awal ortu donghae bercerita yg sbnrnya pd donghae kejadian sprti itu tdk akan terjadi.

  21. Husni berkata:

    gilaaa, nih ff muncul lg setelah sekitar setengah tahun ga ada kabar..
    sebenarnya semuanya bermula dr kesalahpahaman dan ketidakmau-mengertian para tokoh-tokohnya.
    dan disini aku rasa donghae nya kurang tegas kali yah alias mau-mau engga-engga, harusnya kalo mau nerima yoong ya udah terima secara keseluruhan dan ga usah ungkit-ungkit masa lalu yoong dengan kondisi yg belum bisa ngeluapain donghwa, sempet kesel bgt ama donghae di part 9 dan part ini jd kesian..hmmm
    lanjutannya jangan lama-lama doong, kalo bisa BESOK aja gmn !???! hehe
    Lanjutkan, Fighting !!

  22. sulistiowati_06 berkata:

    kirain yoona tadi hamil pas waktu dia mual trus perutnya sakit. aih kasian yoona masa lalunya yang udah dikubur jauh2 ternyata muncul lagi gegara orang yang sama. donghae tetep aja jadi orang yang egois, lupa sama janjinya ke yoona. next part berharap hubungan yoonhae membaik. next lagi chingu

  23. niahh berkata:

    Miane aku kgak komen di part 7,8,9dan komen di part 10😦
    Itu krna aku simpen ttus buat sklian komen,mianhae😦
    Yoona ksian hrus nginget msa malunya yg pilu dan donghae ngambek masa
    Akhirnya yoona gpp,untng ada kai

    Figthingg
    Lamjut

  24. Haeril Jjang berkata:

    se2orng yg mengmti tu,,apkh dy jessica?
    lw emng bnr syukur dech
    biar dy tw posi2x gmn?
    next chapx jgn lm2 chingu

  25. lee yuna berkata:

    yoona salah paham ke donghae dia menentukan keputusan tanpa tau perasaan donghae seperti apa entah aku binggung siapa yg hrs d salahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s