[ Oneshoot ] FF Yoonhae – If I Wear A Mask

yh if i wear a mask

Title :  If I wear a mask

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah

Words : 6900 +

Genre : Romance

Rating : Pg-17

~Happy Reading guys ~

If I wear a mask, I can fool my heart but I can not fool you ~

Koridor gedung agensi begitu sunyi. Langkahku menelusuri marmer putih yang mengkilap.  Tak sedetik pun kutemui tanda – tanda kehidupan. Apakah pikiranku terlalu mengambang sehingga tidak menyadari hal apa pun yang berkeliaran disekitarku?

Sebuah tali selempang masih tersemat dipundakku ketika langkahku bergemuruh semakin nyata ditelingaku sendiri, sambil menikmati  suara monoton  itu aku menatap layar ponsel yang sejak tadi kugenggam.

Tidak ada tanda apa pun

Pesan atau panggilan

Darinya…

Aku mendesah. Jemariku mulai  kebas mengirim berpuluh kali pesan tapi tak ada tanggapan. Aku sudah mengecek seluruh ruangan tempatnya sering bersinggah tapi nihil, dia tak berada ditempat satu pun.

Apa dia mencoba menghindariku?

Dia meninggalkanku?

Tiba – tiba aku mendengar bisikan prasangka bodoh itu menyapu telingaku. Tidak, Donghae tidak pernah meninggalkanku, sedetik pun, tidak akan pernah.  Ketika kami mengunjungi taman bermain sore hari, Aku  tertidur pulas diatas bangku taman. salah satu petugas menegur kami, aku terbangun. Dari sanalah kusadari rupanya  langit  sudah menghitam. Taman bermain akan tutup,pantas kalau kami diusir.

 Dia bahkan rela  menunguiku hingga terjaga.

Donghae tidak akan pernah meninggalkanku…

Sejengkal pun.

Mungkin  dia memang tak berada disini atau apa. Kedua tangan ini  nyaris  mengibarkan bendera putih, kalau saja melewatkan sesuatu yang mengantarkanku padanya. Entah kenapa pandanganku jatuh kearah daun pintu yang setengah terbuka diujung koridor..

Ruang tari…

Donghae tidak akan kesana…

Dia bisa terluka

Aku melangkah ragu sebelum akhirnya membuang pikiran pikiran aneh yang mengendap dikepalaku dan melangkah wajar. Sebelah tanganku mendorong gangang pintu. Bunyi derit pintu meledak ditelingaku membuat tubuhku ngilu, tapi ada objek lain yang membuat segala teralihkan. Aku menemukannya, sesuatu yang membuat jalan napasku akhirnya melonggar.

Aku berhasil…

Menemukan dia…

Lee Donghae, Namja berkulit putih itu duduk tenang menyandar di sisi tembok. Wajahnya yang damai kini terhanyut dalam mimpi. Tubuhnya yang dipenuhi gurat keletihan seolah tak mengizinkan siapapun menyentuhnya.

Donghae harus tinggal disisku, ia tidak boleh pergi kemana pun. Tidak akan pernah kubiarkan hal itu terjadi. Walau hanya seujung jari. Rupanya ia memang tidak meninggalkanku. Donghae tidak akan pernah bisa meninggalkanku.

Aku mendekati Donghae yang sibuk dengan mimpinya. Satu persatu langkahku  mengayun pelan. Aku berusaha tak meninggalkan bunyi apa pun hingga aku duduk disampingnya. Kuselami ekspresi wajahnya. Satu persatu tak luput dari jangkauan pengamatanku. Garis rahang yang kokoh membuatku terbayang – bayang ketika aku menatapnya dari samping. Aku menyukai sisi eagle dimana aku menatapnya berbicara tanpa Ia menyadari bahwa aku memperhatikannya. Dia selalu berbicara tentang mimpi – mimpinya dan aku selalu merekam  apa yang Ia bicarakan, termasuk ketika ia tersenyum, mengakhiri kalimatnya dan menatapku.

Matanya yang berbinar membuatku terhanyut, hingga kusadari bahwa aku sudah jatuh terlalu dalam, hingga aku sadar bahwa sudah terlambat untuk keluar dari perangkap yang sengaja Ia gali untukku, seorang gadis bodoh yang belum pernah jatuh cinta kecuali dengannya. Dengan mudah aku mengatakan ‘ya’ saat Ia memohon dengan sangat, agar aku bersedia menjadi kekasihnya dua tahun lalu.

Tungkai – tungkai hitam yang basah mengundang sebelah tanganku untuk membelainya.  Aku menulusuri satu persatu helaian rambutnya yang lembut.  Lantas Jemariku menyingkirkan  anak rambut yang menutupi telinganya–benda yang selalu tampak dimataku ketika aku bersandar dibahunya.

Bergeser menuju pipinya yang mengkilap, aku mencari tanda atau apa pun disana yang mungkin saja perlakuanku selama ini melukainya, tapi tak kutemukan apa pun. Barangkali Aku sudah tahu bagaimana  cara menyentuhnya dengan baik.

Telunjukku beralih mengukir matanya. Disanalah lekukan yang begitu kukagumi. Aku menyukai mata teduhnya yang penuh rahasia, membuatku penasaran mengenai jalan pikirannya, apa yang Ia  rasakan didalam hatinya juga bagaimana Ia melihat masa depan,  apa yang Ia sukai dan bagaimana pendapatnya tentangku, tentang kami dan tentang  beberapa namja  yang tersenyum padaku.

Dari matanya, jemariku meluncur mengikuti garis hidungnya, dia masih bernafas dan aku bisa menghirup napasnya yang hangat dan teratur. Aku tak akan pernah rela melewatkan hal itu, juga bibirnya…

Bibir merah candu yang selalu menggetarkan jantungku,  yang selalu bisa membuatku terpaku ketika benda itu mengukir nama Im Yoona disetiap lekukannya.  Kapan pun selama pertemuan kami aku selalu menunggu  namaku tercipta dari  gerakan bibirnya.

Jangan berpikir aku pernah menjamah benda ranum itu, dan sebaliknya . Donghae selalu ingin melindungiku dari sisi mana pun termasuk menahan apa yang seharunya tidak kami lakukan hingga acara sakral itu tiba.

Lantas kusadari bahwa aku telah menghabiskan waktu lama untuk mengagumi wajah Donghae. Tanganku kini berjalan membelai permukaan lehernya. Aku tidak tahu apa yang Donghae saksikan didalam mimpinya hingga tubuhnya berbanjir keringat. Mungkinkah tentang masa depan…

Dua kancing atas dari T-shirt  Donghae terbuka. Tanganku refleks memasangkannya dalam posisi wajar, tapi detik selanjutnya aku tersadar akan sesuatu…

Bekas luka itu…

Donghae mengalami kecelakaan lalu lintas empat  bulan yang lalu. Mobil yang Ia kemudikan  tergelincir dan terguling lalu menabrak pembatas jalan. Kecelakaan itu merenggut segalanya. Meski pun selamat, Donghae sempat koma tiga minggu lamanya, Ia mengalami patah tulang dimana – mana, serta bagian – bagian tubuhnya mengalami cedera parah. Dokter memvoisnya bahwa Ia sudah tak bisa menari lagi karena hal itu akan mengakibatkan cedera ditubuhnya semakin parah. Dua bulan ini Ia vakum dari kegiatannnya sebagai personel boyband. Sepertinya Donghae masih belum bisa menerima kenyataan. Dia masih sering menghabsikan waktunya untuk datang ke gedung agensi dan menari sesuka hati, padahal yang kutahu,, Donghae masih dalam proses pemulihan usai kecelakkan yang menimpanya. Semenjak kejadian itu pula, Aku sering kali beradu mulut dengannya. Masalah yang menjadi topik peraduan kami hanya itu – itu saja. Ia selalu memaksakan diri untuk menari dan aku selalu menyuruhnya untuk mengundurkan diri  sebagai main dancer anggota boyband, aku benar – benar takut Ia akan melukai dirinya sendiri.

“Sudah puas memandangiku?” Suara Donghae memecah kesunyian. Kedua matanya masih terpejam. Aku kaget awalnya tapi perasaan itu berganti menjadi rasa jengkel dan malu.

Aku mulai menebak – nebak dan mengernyit. ‘sejak kapan dia menyadarinya?’, ‘apa sejak tadi Donghae hanya pura – pura tidur?’

Donghae menatapku dengan garis senyum dibibirnya. Sebelah sisi kiri tangannya menepuk lantai berulang kali sebagai isyarat agar aku duduk disampingnya. Aku menurut karena tidak punya pilihan lain. Aku sudah tertangkap basah olehnya.

Baru saja tubuhku mendarat disampingnya, kepala Donghae mendarat dibahuku. Aku hanya pasrah menerima perlakuannya yang cukup— dan seringkali bermanja ria.

Aku menghirup aroma dari tungkai – tungkai rambutnya. Wangi vanilla bercampur wangi kulitnya. Aku belum pernah merasakan itu sebelumnya, tapi bisa kupastikan bahwa aroma itu akan menjadi daftar aroma favoritku.

Dari ekor mataku, aku menatap Donghae, sepasang matanya terpejam lagi. Tangan kananku terangkat dan menyantuh keningnya.

“Kau sakit?” tanyaku dengan suara tegang dan rendah. Dia hanya bergumam. Entah bergumam apa aku tidak bisa menafsirkannya.

“Kau sudah menyiapkan pidatomu hari ini?” Lagi – lagi Donghae bergumam, tapi kali ini intonasinya cukup  jernih ditelingaku.

Aku berpikir sejenak, “Entahlah.” Jawabku malas. Pidato yang dimaksud Donghae adalah, tumpukan kalimat yang aku utarakan ketika kami berdebat. Aku mengingat bagaimana kami saling berteriak satu sama lain. Rusuh dan berantakan. Aku menangis didepannya lalu dia akan memohon – mohon padaku agar aku memaafkannya. Esok kemudian, Donghae seolah lupa ingatan. Ia kembali mengulang  sesuatu yang membuat kami bertengkar. Dia tertangkap basah olehku sedang menari di ruang tari ketika seharusnya Ia istirahat.  Dan hal – hal seperti diatas kembali terulang.

Aku terlampau lelah usai latihan  menari dengan puluhan anak TK yang menjadi peserta trainee, aku tidak suka anak kecil dan menjadi seorang guru meski pun itu guru tari— kegiatan yang adalah hobby ku sekali pun— ya, aku dan Donghae punya kegemaran yang sama, bekerja dalam agensi yang sama, aku sebagai pelatih tingkat kanak – kanak dan dia sebagai personel boyband. barangkali itulah mengapa kami berdua dipertemukan  oleh Tuhan sebagai sosok yang memiliki hobby serupa dan keras kepala. Berbicara soal keras kepala, sepertinya detik ini aku sedang kehilangan kata – kata untuk mempertahankan watak itu didalam kepalaku. Berbicara dengan Donghae apalagi bila harus memaksakan diri  terjun dalam arena debat hanya akan membuka jalan kekalahan bagiku. Lagi pula  aku hanya mendapatinya sedang tidur— atau pura – pura tidur— di ruang tari, jadi tidak masalah menurutku.

“Yoong.” Panggilnya. Kali ini Donghae mengangkat kepalanya dari bahuku. Matanya yang sayu membuat pandanganku terkunci.

“Aku ingin menari.”

Jantungku mencelos. Kukira dia akan berkata sesuatu yang penting atau apa, rupanya hal itu. Aku sudah bosan mendengar Donghae berkata demikian.

“Jadi, apakah aku harus melakukannya?”

Aku sempat memikirkan sesuatu. Donghae menunggu persetujuanku. Pada akhirnya penantian Donghae terjawab lewat  hembusan napas  kasar yang meluncur dari mulutku, “Melakukan gerakan – gerakan seperti itu hanya menyiksa tubuhnya, apa kau lupa? Dokter melarangmu—“

Donghae tergelak kecil, “Memangnya siapa orang tua itu? Dia bekerja hanya menempelkan stetoskop dan sekarang seenaknya memerintah orang melakukan ini dan itu,  dan kau apa semudah itu menuruti ocehannya?”

Aku menatapnya heran sekaligus tidak suka “Terserahmulah.”.sahutku tidak peduli. Seperti yang kubilang, aku lelah berdebat dengannya, jadi lebih baik aku kabur.

“Yoona… Yoona..” Dia memanggilku sesaat setelah aku beranjak darinya, tangannya sempat terulur untuk menjangkauku, tapi aku melesat terlalu jauh sehingga dia tidak bisa menggapai tanganku.

Aku tidak bisa menghitung secepat apa Ia berlari. Namun aku merasakan degup jantungnya yang berpacu memantul diatas permukaan punggungku. Donghae memelukku dari belakang, langkahku terhenti. Aku diam. Kelemahanku adalah  selalu diam dalam  pelukannya, semarah apa pun aku padanya.

  “Aku akan berhenti menari.”

Aku terdiam, tidak sanggup berkata – kata. Baru kali ini Donghae mengucapkannya, bahwa Ia akan berhenti menari. Bahkan ketika kami beradu karena masalah tari menari, Donghae hanya meminta maaf padaku dan berkata bahwa Ia tidak akan membuatku hawatir lagi. Donghae selalu mengucapkan kalimat ambigu untuk menenangkanku dan menyamarkan bahwa Ia tak bersungguh – sungguh mengucapkannya, tapi barusan… Donghae berkata dengan sangat jelas. Dia ingin berhenti.

 “Kau serius?”

 “Ya,” Jawabnya tegas dan yakin, “Aku akan keluar dari agensi, seperti katamu, tidak akan ada gunanya lagi aku disini.”

Aku terpatung. Aku pernah mengatakannya. Bukan bermaksud menyingungnya, namun aku benar – benar hawatir akan kondisi Donghae akhir – akhir ini. Menurutku tidak ada gunanya Donghae bertahan dengan boybandnnya , mengingat posisi Donghae sebagai main dancer dalam group itu sudah tak mungkin lagi Ia pertahankan, maka cepat atau lambat, Donghae akan ditendang dari groupnya. Semua orang tahu bahwa selain  menyanyi dengan baik dan prima, seorang personel boyband amat dituntut untuk menciptakan gerakan yang energik dalam setiap lagu. Gerakan – gerakan tersebut membutuhkan  latihan ektra yang aku harus mengakui bahwa—  Donghae tak diperbolehkan untuk melakukannya terlalu intens.

Jahat?

Apa aku sudah terlalu jauh?

Sungguh, tidak ada maksud lain mengatakannya diluar karena aku benar – benar hawatir.

Pelukan Donghae kian menghimpit jantungku. Aku menggeliat menikmati hembusan napasnya yang  mengalun lembut menciptakan sepoi hangat, hembusan yang menjalar dengan tenang menyapu permukaan kulit leherku.

“Harusnya aku menuruti perkataanmu sejak awal, aku bodoh karena membuatmu hawatir sangat lama, mianhae Yoong.” Bisiknya ditelingaku  yang berhasil membuat napasku  hilang. Aku memuja sentuhannya  yang selalu membawaku mengitari awan, lalu menjatuhkanku kembali ke dasar bumi saat ia mengakhirinya.

“Sebelum aku benar – benar berhenti…” Masih dengan bisikan lembutya,  Donghae menjeda, Ia menarik napas dalam, degupan jantungnya kian menggema dalam pendengaranku, “Terakhir kalinya dalam hidupku, aku ingin mengakhirinya denganmu, sungguh…”

Donghae terdiam, kupikir tak ada lagi kata yang tersisa dalam benaknya, namun…

“Aku ingin menari denganmu Yoong.”

Seketika aku menatapnya. Tubuhku yang sudah kehabisan tenaga berputar seratus delapan puluh derajat. Aku ingin melihat matanya. Menggali kesungguhan didalam sana, memastikan bahwa pendengaranku baik – baik saja.

 “Sttt.”

Telunjuk Donghae menginterupsi bibirku yang baru saja akan memprotes sesuatu. Aku menjejaki tatapannya dan menyadari ada  hal lain,  bahwa tersembunyi  makna tersirat  dari kalimat Donghae.

Donghae menyela ucapanku “Aku benci penolakan.” Ucapnya lalu menatapku serius, “Kau tahu itu kan, Im Yoona?”

Aku tertegun. Dia tidak pernah menatapku seserius ini sebelumnya. Donghae tidak  pernah—dan tidak akan berani— menyebut  namaku dengan lengkap dan tajam. Ia bersungguh – sungguh, Aku memastikannya  berkali – kali dan berakhir dengan kesimpulan yang sama.

Perlahan  – lahan  sepasang tangan Donghae berpindah menuju kedua sisi wajahku, benda hangat dan kekar itu menangkupnya dengan lembut seolah – olah apa yang disentuhnya kini Ialah benda berharga yang mudah rapuh. Hawa dingin berteriak diantara kami saat Ia menatapku dan aku bisa menemukan wajahku sendiri tengelam diantara bola matanya yang sepekat jelaga. Tatapan kami bertumbuk lebih intens dari sebelumnya dan itulah mengapa aku merasakan kedua kakiku seolah akan lumpuh

“Yoona, Please.”

Aku memilih opsi diam untuk menggali ucapannya sekali lagi. Kugenggam sepuluh jemarinya yang masih bertaut diwajahku.  Aku tidak bisa mengendalikan apa pun sekarang diantara kondisi yang berantakan. Aku tidak bisa… Darahku terus berpacu semakin deras, tubuhku memanas dan pikiranku semakin menggila… Mungkinkah… Dunia baik – baik saja bukan?  Donghae pernah berjanji tidak akan menari denganku sebelum kami menikah. Dan itu berarti ketika Donghae mengajakku menari, dia ingin aku menikah dengannya.   Dan sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya ,  aku ragu apakah kesimpulan yang kupikirkan sepihak ini benar atau salah, Jadi Donghae ingin aku menikah dengannya?  jika benar maka…

“Menikah denganku, jebal…”

“A-apa —”

Seolah – olah ada batu didalam ternggorokanku, lisanku tergagap dan dia hanya diam menyaksikan, tidak ada upaya apa pun darinya untuk menutupi kegagapanku. Donghae membawa serta keheningan didalam percakapan kami. Sesungguhnya aku tidak membutuhkan dia untuk berkata sesuatu karena cukup dengan hanya menatapnya, aku sudah tahu bahwa Donghae serius dengan perkataanya . Tak ada keraguan disetiap guratan irisnya yang menyala. Donghae tidak pernah main – main soal ini hanya saja  Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya, Ini terlalu mendadak bagiku, tapi…

Aku bersedia, …Ya aku besedia.

Kupikir Donghae mengerti itu. Donghae sudah lama berada disisku dan ia cukup bisa membaca arti dari tatapanku, bahwa aku bersedia, sangat bersedia..

…menikah dengannya.

Setelah lama terdiam, aku memperdalam tatapanku dan menjawab dengan parau, “Jadi bagaimana?”

Tatapan kami saling berbicara.

Satu detik… Dua detik… Donghae belum bereaksi apa pun, perlahan sudut bibirku tetarik membentuk bulan sabit, aku tidak bisa menahannya lebih lama, wajah Donghae yang tampak bodoh didepanku membuat senyum itu meluncur begitu saja,  hingga akhirnya pada hitungan kelima Ia bergeming, senyumnya merekah sama sepertiku.

Tanpa menunggu detik ke sepuluh, Donghae  merengkuh  tubuhku dengan penuh kelembuatan—seperti biasa. Aku membalas pelukannya—tentu saja. Bahunya terasa hangat dan kedua mataku terpejam secara otomatis menikmati kehangatan disepanjang pertemuan kami.

Bulir – bulir hangat menyilaukan pandanganku. Aku tidak mengerti sensasi apa yang meledak – ledak didalam tubuhku ini, tetapi yang bisa kusimpulkan Ialah, bahwa aku bahagia, amat bahagia…

…bersamanya disini, separuh jiwaku

Dalam rengkuhannya, napas Donghae berhembus dibahuku. Aku memperdalam pelukan kami, mengirim ketenangan untuknya..

“Gomawo Yoona.” suara Donghae bergetar dalam pendengaranku.  Keharuan menguasai tubuhnya, sama sepertiku yang hanya mampu tersenyum bodoh  diantara isak tangis yang menggeliat . Ya, kami benar – benar sama,

…. dan benar – benar ditakdirkan.

………………….

Tidak ada seorang pun  didunia ini yang mengetahui dengan pasti, takdir yang akan menimpanya, sedetik nanti, semenit kedepan, sejam lagi, hari setelah esok, juga beberapa tahun kemudian  setelah tahun ini berganti dengan singkat…

Dulu, aku berpikir untuk  bertemu dengan seorang pangeran tampan yang bisa membahagiakanku, membahagiakanku dengan segala kesempurnaan, aku meraih segala – galanya. Kami tinggal disebuah istana yang megah dan dikaruniai sepasang putra – puri yang sehat dan cerdas. Aku membayangkan bahwa setiap detiknya- setiap jam berganti,  waktu kami hanya dipenuhi oleh senyum dan tawa, dimana aku setiap hari akan memasak makanan yang lezat dan merawat mereka—seseorang yang tersepecial dalam hidupku  dan anak – anak kami  nanti, aku akan merawat mereka dengan baik, lalu  disepanjang hari  sebelum Ia pergi kekantornya, seseorang itu akan mencium keningku dengan penuh sayang… Atau hal – hal seperti dimana kami akan menghabiskan malam yang panjang… Entahlah, mungkin  aku sudah terlalu jauh berhayal, hanya saja aku masih berharap agar kehidupanku berjalan seperti  apa yang aku harapkan sebelumnya… Ya sesuatu yang sempurna.

Tapi kesempurnaan itu hanya milik Tuhan…

Aku tak bisa berbuat apa – apa ketika Tuhan menakdirkanku dengannya. Inilah jalan yang harus kutempuh. Jalan yang dilapangkan Tuhan agar aku mensyukuri segala yang kupunya. Dia sudah menjadi milikku, bagian dalam hidupku, inilah takdirku,  merawatnya dengan segala kelebihan dan kekuragannya, separuh jiwaku bertaruh, aku akan menyatu dengannya usai peresmian sakral itu berlalu dan hiduplah kami untuk menyatukan benih – benih cinta yang selama ini tertanam, benih – benih cinta yang dihidupkan oleh Tuhan. Aku mempersembahkan untuknya, sesuatu yang selama ini kujaga baik – baik.

Dia berjanji akan membahagiakanku, Aku percaya padanya.

Dia tidak sempurna dan  aku bersumpah tak bisa berjalan tanpanya… Dialah yang paling bersungguh – sungguh. Jadi aku menyimpulkan bahwa selama ini  seseorang itu bukanlah seorang pangeran tampan, bukanlah  milyader yang kaya raya tapi hanya dia…

…dialah yang aku tunggu.

Pernikahan sederhana kami terlaksana. Keluarga, sahabat, media bahkan ribuan fansnya datang memadati gedung acara. Segala prosesi yang kulakukan tak luput dari perhatian kamera. Mulai dari ketika Appa menggandeng tanganku dengan kasih, menuntun langkahku menyusuri karpet merah bersama gaun putih yang menyapu lantai, ketika Donghae menyambutku dengan senyum hangat, seolah Ia sudah tahu segalanya, bahwa  tanggung jawab atas diriku berpindah kepundaknya, Donghae mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku, mata teduh itu menyambutku dengan kata ‘selamat datang’, hingga tibalah saat pengucapan janji suci antara kami dihadapan Tuhan. Aku tidak terbiasa dengan cahaya blitz yang menggores wajahku, tapi kupikir sekarang aku harus terbiasa, paling tidak detik ini.

Saat cincin perak itu menyala diseputan jari manis kami, Aku sudah menyerahkannya, seluruh jiwaku padanya.  Donghae tersenyum padaku dan aku akan berdosa jika tidak membalas senyum itu, kerena sekarang dia penting dalam hidupku.

 “Sekarang kalian resmi menjadi sepasang suami istri.” Suara pastour dihadapan kami melayang – layang ditelingaku. Usai mengarungi bahtera panjang. akhirnya aku bisa mendengar kalimat itu, kalimat yang sudah lama kuidam – idamkan, akhirnya mengikat kami, aku dan dia akhirnya hidup dibawah janji suci sebuah pernikahan. Akhirnya…

Sekali lagi aku menatap wajahnya, seseorang yang akan menemaniku sampai mati. Kutangkap getaran halus dari kesungguhan dimatanya, Segala kesungguhan yang perputar – putar disana membuatku ingin menangis. Aku kalah bahkan sebelum ini, aku sudah jatuh dalam pelukannya. Dia mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningku dan keharuan membubuhi segalanya.  Perasaan diinginkan perasaan dicintai dan dihargai semua perasaan itu membawa  jutaan kristal bening menyerbu wajahku.

Tuhan sudah mengirimkannya, khusus untukku, hasrat terindah yang harus aku lindungi…

Hari itu berakhir, hari melelahkan usai perhelatan akbar dalam hidupku…

Aku selesai mengganti gaun putih yang mencekik tubuhku seharian ini, aku menggantinya dengan dress katun berwarna merah yang nyaman. Saat itu di ruang ganti, kupikir hanya ada aku, tapi Donghae tiba- tiba memelukku dari belakang.

Donghae belum mengganti pakaiannya, Ia masih mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, aku meliriknya dari ekor mataku.

Donghae menciumi sisi wajahku dan berkata, “Sekarang apa? Kau ingin aku menggendongmu kemana?”

Aku langsung menyikut perutnya, Ia mengaduh. Tanpa melihat wajahnya sekali lagi, aku beranjak meninggalkannya. Tubuhku mulai memanas, rona merah sudah pasti menghantam wajahku, dan aku tidak memperbolehkan siapa pun melihat ini apalagi Donghae.

Tapi sepertinya Donghae membaca gerakanku…

Dari belakang, tepakan langkah Donghae mengejarku. Dia  merangkul pundakku namun rasanya seperti—atau kenyataannya memang begitu, Donghae memelukku dengan possesif  dalam posisi berjalan. Aku sungguh malu seandainya ada yang melihat kami.

Aku sesak napas, jadi kubilang saja, “Lepaskan, Keringatmu bau!” protesku berdusta. Aku berbohong karena sesungguhnya aku menyukainya. Aku meyukai wangi tubuh Donghae, selalu.

Dia hanya tertawa mengacak rambutku, lalu melepaskan pelukannya. Aku tak mau berbohong lagi, bahwa aku kecewa…

Donghae mencubit bibirku yang manyun. Aku tidak mengajaknya bicara saat itu. Donghae lantas melanjutkan langkahnya tanpa pelukan atau rengkuhan, kala itu kami hanya melangkah bersama tanpa kata, bahkan semakin lama aku merasa Donghae semakin menjaga jarak dariku.  Sekilas aku menyadari, bermesraan didepan umum atau di tempat terbuka bukanlah gaya seorang Lee Donghae. Sebagai seorang idol, kupikir Donghae lebih terbiasa bermain dibelakang layar, tadi itu, dia hanya kelepasan.

Butuh proses untuk menggeser kebiasaan yang selama ini tertanam dalam pikiran seseorang. Harus ada kebiasaan baru untuk membentuk sebuah tindakan dalam hal ini, kupikir Donghae juga memerlukannya. Dia memerlukan banyak waktu untuk belajar memeperlakukanku dihadapan semua orang.

Tiba – tiba ketakutan aneh menyerang pikiranku.   Meski semua orang termasuk fansnya sudah mengetahui pernikahan kami, aku mencemaskan sesuatu. Aku hawatir bahwa Donghae akan menunjukkan sikapnya seolah aku orang lain seperti sebelum kami menikah.  Aku  selalu ingat, didepan ribuan fans, Donghae selalu menjaga profesionalismenya, Ia bersikap normal kepada semua orang termasuk aku, Donghae menjaga imagenya sebagai mana idol pada umumnya, menyapa fans, sibuk dengan konser, kegiatan yang dipadati jadwal latihan atau hal – hal  semacam itu. Memang belum terjadi, hanya saja ketakutan ini kembali menyerangku. ‘Tidak akan ada yang terjadi, tenanglah Yoong’ batinku menenangkan.

Aku memilih untuk tidak membahas apa pun…

Lagi pula Donghae sudah berjanji untuk berhenti… Jadi seharusnya tak ada lagi yang perlu kutakutkan..

Soal dia ingin berubah pikiran atau tidak …

Entahlah… Tubuhku sudah lunglai untuk berdebat masalah fans atau apa dengannya. Jika dulu masalah ini selalu menjadi makanan kami sehari – hari maka sekarang aku harus belajar menerimanya. Namun jauh didalam lubuk hatiku, aku tidak suka Donghae sebagai idol. Tapi sudahlah, kuanggap masalah ini selesai…

Aku tidak keberatan dia berprofesi apa asalkan dia mau tidur denganku. Aku bersedia memakan apa pun yang Ia berikan. Sosok bertubuh kekar itu menyusulku masuk kedalam kamar setelah sebelumnya tertinggal beberapa langkah. Donghae melangkah melewati karangan bunga yang diukir diatas pintu masuk. Donghae sengaja memesankan satu kamar hotel disekitar gedung pernikahan. Kamar itu sudah dihias sedemikian rupa. Aku terkejut bukan main menemukan sebuah  kamar yang dipenuhi bunga anggrek—bunga favoritku— serta gorden dan sprei silk dengan ukiran smock yang indah. Dia sengaja memesankan kamar itu untukku. Donghae pernah berkata bahwa Ia takut apabila sewaktu – waktu aku pingsan karena kelelahan menjangkau tempat yang jauh.

Aku menunjukkan wajah tidak apa – apa saat Donghae menatapku, tapi sesunguhnya aku lelah sekali. Aku tidak terbiasa bekerja seharian layaknya Donghae. Itulah yang membuat tubuhku tak terbiasa dengan hal ini.

“Aku tidak akan memaksamu,” Katanya sambil tersenyum, Ia mendekat kearahku dan membelai rambutku—entah mengapa Donghae sering sekali melakukannya.

Aku mengernyit, lalu dapat kudengar kekehan dalam suaraku, “Apa maksudmu? Memaksa siapa yang kau paksa ? aku?” aku bertanya seperti orang bodoh.

Donghae memutar tubuhku dan memlukku dari belakang, Ia berbisik, “Sepertinya kau menyambutku dengan baik, Nyonya Lee.”

Aku tertawa,”Mwo-ya?”

Donghae berusaha menciumku. Pertama kali aku merasakannya dan itu sangat menggelikan, aku tahu dia hanya mencoba meledekku seperti biasa. Aku berusaha membuang muka, berpaling dari wajahnya. Terdengar dari belakang punggungku, suara Donghae yang mulai tertawa jahil.

Aku ikut tertawa dengannya dan berusaha lepas dari dekapan menggelikan itu. Hingga akhirnya tubuh kami terjatuh kekasur dan memantul – mantul diatasnya. Aku tak bisa berhenti tertawa mengingat tingkah kami yang seperti bocah TK. Kelihatannya Donghae sudah berhasil menghentikan tawanya lebih dulu dariku. Ia menatapku dari samping dan mendaratkan telunjuknya dibibirku. Secara spontan aku berhenti tertawa dan berbalik menatapnya.

Mendadak situasi menjadi hening. Tidak ada kegaduhan seperti sebelumnya.

Donghae mendekatkan wajahnya. Kali ini aku percaya bahwa dia tidak main – main. Lalu kami berciuman cukup lama dibibir dan memisahkan diri sebelum kami benar – benar pingsan karena kehabisan napas.

Aku menangkap kekecewaan dalam matanya. Ini pertama kalinya untukku, melakukan first kiss dengan seseorang. Donghae mencobanya sekali lagi, Ia menarik tengkukku dan mengulangnya semakin dalam, bahkan kini permainannya kian membabi buta seperti ingin menelan bibirku.

Aku sesak napas. Refleks tanganku mendorong dada bidangnya, “Bisakah kita, sedikit pelan?” pintaku dengan napas terengah. Kulihat bulir keringatnya berjatuhan.

“Aku tidak akan pergi kemana – mana, tenanglah.” Bisikku padanya sambil menyingkirkan bulir – bulir keringat diwajahnya.

Ratapan sesal memenuhi matanya yang teduh. “Mianhae, aku menyakitimu,” Ia membalas dengan parau.

Kepalaku bergeleng menepisnya. Aku tahu Donghae sudah memendam gejolak itu cukup lama dan sekaranglah puncaknya. Tanpa sadar aku meraih pundaknya, memeluknya, memberi ketenangan melalui kecupan didahi . Kami berpelukan  layaknya sepasang belut yang tengah memadu cinta, lalu  ketika aku mengangguk membalas persetujuannya, Donghae melanjutkan apa yang seharusnya terjadi malam ini…

Kami mencobanya… Sekali lagi.

……………

Donghae akan tinggal disisiku apa pun yang terjadi…

Itulah yang terpenting…

Malam itu Donghae tidak pulang ke apartemen kami. Aku hawatir padanya. Seperti orang bodoh, aku berjalan mondar mandir di depan gedung apartement. Setiap ada yang menanyakan soal kegelisahanku, aku hanya menggeleng. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Mereka pasti akan berpikir kalau Donghae sedang sibuk atau apa, tapi masalahnya Donghae tidak menghubungiku— seperti biasa ketika dia tidak pulang lewat dari jam sepuluh malam.

Dia tidak mungkin kabur begitu saja karena bosan padaku bukan?

Bahkan ini baru satu minggu…

Aku mengingat lagi jadwal Donghae hari ini. Beberapa pemotretan majalah, video clip dan… bertemu teman – temannya. Aku menghubungi satu – persatu teman – temannya yang kukenal. Dan hasilnya nihil. Orang terakhir yang kuhubungi adalah Eunhyuk, dia berkata bahwa Ia sempat bertemu Donghae di café, dan setahu Eunhyuk Donghae sudah pulang sejak dua jam yang lalu.

Aku berpikir lagi… Berpikir dan berpikir. Ada satu tempat dimana aku tidak percaya bahwa Ia disana, Donghae tidak mungkin ada disana…

Gedung agensi masih terbuka.  Ditengah gelap gulita aku berdiri mengumpulkan napas usai mati – matian memaksa supir taksi agar  membalap kendaraannya. Tak menghabiskan waku lama, Aku berlari memacu langkahku yang semakin terseret – seret karena kehabisan tenaga. Kutelusuri jalan berliku diantara koridor yang sepi dan lembab. Hanya beberapa orang yang menyaksikan tingkahku. Mereka mengenyit. Aku baru saja mengundurkan diri  sebagai pelatih traine di agensi ini, mungkin salah satu dari mereka mengenalku atau apa dan menyangka aku gila.

Aku mendobrak ruang tari mulai dari pintu  kesatu, kedua, ketiga, keempat dan kelima, keeam ketujuh tapi nihil, aku tidak menemukan batang hidungnya sedikit pun…

Tapi kutemukan dia di ruang tari ke sepuluh, Aku lega, sangat lega melihatnya masih bisa terjangkau oleh pandanganku,  dia ada disana seperti dugaanku, seperti dugaan yang mati – matian kusangkal sejak tadi. Ruang tari kesepuluh adalah favorit Donghae. Dia punya banyak kenangan disana, semenjak awal debutnya sebagai idol. Aku bertaruh, ruangan itu akan sangat menyakitinya.

Ruangan itu kosong dan remang. Ruang tari kesepuluh hanya dipakai untuk personel boyband, dan sekarang bukanlah jadwal latihan mereka, tapi Donghae… mataku fokus menelusuri keberadaanya, apa yang Ia  lakukan dipojok ruangan, dan apa yang membuatnya menjadi seperti ini.

Aku menyalakan lampu utama dan berjalan mendekatinya.

“Aku  sudah keluar dari agensi, Yoong.” Ucapnya parau ketika aku duduk disampingnya. Kepalanya bersandar disisi dinding. Keringat dari pelipisnya bercucuran memenuhi leher dan seluruh anggota tubuhnya. Aku baru melihat wajah Donghae yang sepucat ini, sungguh aku tidak tega melihatnya begitu frustasi. Karena impian itu, impiannya yang musnah…

“Aku bukan lagi seorang idol. Aku mengakhiri kontrak dengan management.” Getaran halus terselip dari nada bicaranya. Aku ingin menangis. Tiba – tiba perih memenuhi dadaku.

Aku mendekap tubuhnya yang  seperti tak bertulang. Kusenderkan kepalanya dibahuku, lalu mengusapnya pelan.

“Aku ingin vakum dari dunia Entertaiment entah sampai kapan…”

“Oppa—“

“Jadi kau tidak perlu menghawatirkanku lagi, Kau tidak perlu mencemaskan soal fans, jadwal yang padat atau apa, aku akan selalu ada untukmu…” racaunya aneh ditelingaku.

Dia membebaskan diri dari dekapanku. Raut wajahnya memancarkan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa aku baca. Tubuh Donghae tegak lurus. Tatapannya lalu menusuk mataku, “Sekarang kau puas?” Tanyanya miris. Aku tidak mengerti dengan maksudnya.

“Donghae Oppa.” Panggilku setengah memohon. Aku bingung apa yang membuatnya seperti ini, mungkin Ia terlalu frustasi atau apa.

Tangaku berpindah membelai dua sisi wajahnya. Jemariku berhenti untuk mengusap pipinya,  “Kau idol,” kataku meyakinkan. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, yang kutahu Donghae butuh pegangan agar tenaganya pulih seperti semula, agar Ia kuat menghadapi cobaan ini.

“Lee Donghae masih seorang idol.” Ulangku. Tatapan Donghae belum berpindah. Matanya yang tajam seolah menunggu pergerakan bibirku.

Aku meraih sepasang tangannya, meletakkan benda kekar itu didadaku, “Disini,” ucapku mengangguk, meyakinkannya sekali lagi bahwa Ia masih seorang idol, untuk selama – lamanya disini, didalam jantungku. Dia terdiam, Donghae tidak pernah sudi menunjukkannya padaku, bahwa Ia menangis. Tapi sekarang untuk yang pertama kali aku melihatnya. Aku menyaksikan bagaimana Kristal bening itu keluar dari permukaan matanya yang sayu. Aku merasakan gejolak dalam dadaku, begitu menyakitkan. Aku sesak napas melihatnya seperti ini.

Tiba – tiba Donghae memelukku. Memelukku dengan pesan tersirat seolah aku tak boleh pergi kemana – mana.  Ia mendekap tubuhku dengan hembusan napas bekejaran. Tubuh kami berdempetan seperti kembar siam. Dari jarak sedekat ini, Aku bisa menghitung detak jantungnya yang berantakan.

Tanpa sadar aku tersenyum, kutepuk pundaknya yang bidang. Aku terharu dengan sikapnya. Setidaknya Donghae bisa belajar bahwa di dunia ini selalu ada pilihan untuk menentukan jalan hidup masing – masing, Terkadang apa yang kita pilih  bisa mengorbankan salah satu, tidak ada yang bisa menolak ini,  siapa pun harus bisa menerimanya.

Kami saling berpelukan dalam rentang waktu cukup lama hingga menghabiskan malam itu dengan menari, menari dengan hanya kami berdua dalam hasrat penuh cinta, kami berdua  dengan gerakan saling menuntut satu satu lain  juga nada – nada kasih yang berbaris memenuhi ruangan.

Pertama kali aku  menari dengannya. Kami berdansa dengan jarak yang intens. Disepanjang gerakan kami Donghae menciumi leherku tanpa henti, aku mendesah tanpa sadar dan membelai pipinya. Kutelusuri mata teduh itu,  aku menemukan didalam sana sebuah  harapan, kekecewaan serta keputusaan mendalam  yang bersatu, menghujam jantungku.

Donghae memutar tubuhku disaat instrument musik yang mengiringi kami berubah semakin ricuh. Entah bagaimana dia menarik tangaku dan tubuhku sudah menyatu dalam dekapannya. Donghae melumat bibirku. Aku terbuai mengikuti permainannya.

Aku tidak mengerti bagaimana gerakan dansa yang romantic berubah menjadi erotis. Hampir saja aku berhenti mengimbangi gerakan Donghae yang seolah ingin menjamah seluruh bagian dari tubuhku, Aku tidak menyangka bahwa Ia melakukan gerakan yang seliar ini bersamaku yang tidak tahu apa – apa. Donghae menuntunku melakukan sexy dance ketika biasanya aku hanya bejibaku dengan para peserta traine usia belia  yang rewel. Aku kewalahan mengahadapinya, namun begitu  Aku berusaha  menjadi yang terbaik untuknya, maka kubiarkan dia mengusaiku malam ini.  Paling tidak aku sudah memenuhi janjiku, menari bersamanya untuk yang terakhir kali…

………………….

Kami berbagi waktu selama satu jam lebih untuk menari. Aku dengannya lantas terkulai kehabisan tenaga. Tubuh kami panas membara sehingga hawa dingin dari lantai dansa tak begitu menyengat. Kudekatkan tubuhku meraih sisi kiri pundaknya, menidurkan kepalaku yang terbaring diatas sana.

Kutatap wajah Donghae dari samping, kedua matanya memejam erat. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya  sekarang, tidak tahu pula apakah Donghae benar – benar  tertidur atau hanya sekedar menutup matanya. Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu, selama aku bisa menatapnya dengan damai, asal Ia tinggal disampingku.

Kening Donghae berkerut, seolah – olah memikirkan sesuatu yang sengit didalam pejaman matanya. Jemariku lantas terangkat untuk mengelus dahinya, tiba – tiba aku mulai penasaran dengan apa yang Ia pikirkan…

“Yoong…” panggilnya, aku menggumam atas kehadiranku.

Kedua matanya terpejam damai, ketika Ia melanjutkan, “Gomawo,  Gomawo sudah bertahan… aku tidak tahu bagaimana jadinya aku, kalau itu bukan kau…”

“Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kecelakaan itu tidak terjadi…”

Aku terpatung. Hembusan napas Donghae menerbangkan rambutku, “Mungkin, kita tidak akan pernah seperti ini, menari sampai kehabisan napas.”

“Mungkin…” Ia menjeda sesaat, “ Aku akan dibutakan oleh karierku… Mungkin kita sudah berakhir hari itu juga dan aku akan berpikir bahwa  yeoja diluar sana banyak yang lebih baik darimu, tapi kenyataannya tidak. Sekian banyak diantara mereka, kaulah yang paling ingin kumiliki. Karena dirimulah… seorang yeoja yang memberiku sejuta pelajaran berharga…”

“Im Yoona… Tidak, maksudku Lee Yoona.”

Donghae membuka matanya. Ia berpaling ke samping, menatapku yang membisu panjang usai tersentak oleh kata – katanya.

Sisi kanan tangannya terangkat membelai puncak kepalaku. Tiba – tiba mataku nyaris terpejam karena sentuhannya.

Donghae menghela napas,  gerakan tangannya memelan hingga berhenti diatas puncak kepalaku, sampai hitungan ke-sepuluh aku menantinya berkata sesuatu, bibirku bergetar bahkan untuk menatapnya aku tidak berani.

“Mianhae…”

 “Aku bersalah karena sempat  menyia – nyiakanmu  dan membangkitkan sisi lain dalam dirimu, aku benar –  benar pantas mendapat hukuman, hukuman yang terindah dalam hidupku, hukuman itu… aku sangat menyukainya, membahagiakanmu dengan sekuat tenaga. Aku akan menebusnya semua kesalahanku padamu sepanjang hidupku.” Donghae mengakhiri kalimatnya yang panjang dengan getaran suara yang membuatku ingin menangis. Aku tahu perasaaannya, sakit.

Donghae menggiring tubuhku yang kaku seperti mayat hidup, Ia menuntun kepalaku menuju dekapannya.  Gemuruh jantung itu menyambutku, menyambutku dengan ricuh dan berantakan lalu membuatku mengerti bahwa perasaannya tengah terhimpit sesuatu.

Seharusnya aku tahu apa yang ada dipikirannya.. Aku tahu tapi…

‘Tolong jangan katakan apa pun’

Aku terdiam. Barangkali pendengaranku salah atau apa, tapi, tapi aku tidak mengerti maksudnya… sisi lain diriku? Kesalahan… Hukuman terbahagia…

Aku menantinya berbicara sesuatu. Aku ingin memastikan apakah kesimpulan yang ada dikepalaku benar – benar akurat atau hanya sebatas prasangka bodoh. Tidak, Donghae tidak berbicara apa – apa lagi, suaranya menghilang.

Aku lantas membernarkan semuanya, semua yang ada dikepalaku, tentang apa yang ada dalam pikiran Donghae juga maksud dari perkataannya sejak tadi, rupanya benar.

Donghae memperdalam rengkuhannya, mendekapku erat hingga aku merasa terhimpit, hingga aku sesak napas.

Kejadian terdahulu berputar – putar dikepalaku. Ketika aku nyaris gila karena takut kehilangannya dan melakukan sesuatu yang diluar akal sehatku sebagai seseorang yang mencintainya. Aku tidak percaya ini… Bahwa Donghae melakukan ini padaku. Aku sudah menyakitinya, menghancurkan mimpinya… Seharusnya dia mencampakanku… Seharusnya dia melancarkan caci maki didepan wajahku, seharusnya dan seharusnya…

Sulit bagiku untuk menahan  isakan napas yang tertahan ditenggorokanku. Tubuh ini tergeletak tak berdaya ditengah dekapannya. Penglihatanaku tiba – tiba rabun karena bulir – bulir hangat mengalir seperti air terjun.

Tapi aku tidak salah, aku tidak salah karena takut kehilangannya… Aku tidak ingin dia pergi, aku tidak ingin seseorang merebutnya dariku. Lee Donghae adalah milikku, kepunyaan  Im Yoona untuk selama – lamanya.

‘Aku tidak salah… Katakan aku tidak salah !”

Aku meraba dada bidangnya setelah menghilangkan sebongkah air mata diwajahku. Donghae masih terdiam meresapi pelukannya. Sepasang matanya terpenjam dengan nyaman,

“Maaf membuatmu jadi seperti ini…”

“Kau tahu siapa yang membuatmu kecelakaan, hingga malam itu mobilmu tergelincir dan menabrak pembatas jalan, Donghae Oppa?”

“Aku.”

“Itulah mengapa…”

“Kau harus belajar bagaimana agar tidak menyakiti perasaan wanita.”

“Sekarang aku tidak takut lagi, kau bukan lagi seorang idol.”

“Sebentar lagi kau akan kehilangan banyak fans, jadi tidak ada lagi yang akan mengganggu waktu kita…” Aku membuat satu kesimpulan dan berbicara sepihak, kubelai wajahnya dengan lembut.Tidak ada reaksi apa pun darinya. Kupejamkan mataku sekuat tenaga. Aku tidak boleh terdengar lemah, ditelinganya.

Entah setan apa yang baru saja merasuki tubuhku, tiba –tiba deraian tawa  meluncur dari birbirku. Kupikir ini gila ketika ingatan – ingatan pahit itu tampak seperti lelucon dimatamu. Aku ingat bagaimana Donghae mengabaikan pertemuan kami hanya karena fansnya. Dia selalu takut apabila aku muncul didepan para fansnya dan menyakiti hati mereka. Aku ingin Donghae mengakui keberadaanku didepan para fansnya yang kebanyakan adalah yeoja. Aku ingin dia berkata bahwa aku adalah satu – satunya  yang terpenting dalam hidupnya bukan fans atau apa.

Tapi Donghae tidak bisa melakukan itu, aku mempertanyakan keseriusaannya, aku tahu dia memang sungguh – sungguh mencintaiku sayangnya perasaan itu terkesampingkan  oleh rasa profesionalisme seorang personel boyband. Donghae merasa punya  tanggung jawab lebih  untuk menjaga perasaan para fansnya. Aku bukannya tidak tahu konsekuensi memiliki kekasih dari kalangan idol yang banyak dikagumi kaum hawa, aku mengerti bahkan sangat mengerti, akan tetapi ada hal lain yang tak bisa kuterima…

FlashBack….

“Mianhae Yoong, aku tidak bisa kesana, terlalu banyak fans yang mengenalku, kau tahukan, groupku baru saja comeback.”

“Yoona sayang, aku tidak menyangka banyak fans ditaman hiburan, aku sangat merasa bersalah padamu, aku meminta maaf atas nama mereka yang telah mengganggu waktu kita, oh yak kau pulang dengan selamat kan?”

 “Yoona jangan menungguku dan pulang saja… Aku sedang tidak bisa pergi kemana – mana.”

“Tunggu aku lima menit lagi…”

“Sepertinya aku tidak bisa menemui orang tuamu hari ini. Mianhae, sampaikan salamku untuk mereka.”

“Astaga, aku baru ingat janji kita ! Mianhae Yoong, aku hilaf, lain kali aku akan menghabiskan waktu lebih lama bersamamu, aku janji.”

Jemari Yoona meremas sebuah ponsel  ditangannya usai membaca seluruh pesan yang dikirimkan Donghae padanya beberapa waktu lalu hingga detik ini.

Yoona menyeringai, , “Ya itu harus… kau harus menghabiskan waktu yang sangat lama bersamaku, Oppa.”

………….

Didepan gedung agensi Star Museum Ent, tampak seorang namja berkacamata gelap  yang tengah menjadi pusat perhatian dari sebuah kerumunan yang bergerumul histeris. Mereka berteriak membawa spanduk, ikat kepala dan embel – embel lain, beberapa dari mereka mencoba berfoto dengan sang idola personel boyband yang saat ini tengah naik daun. Selain berposisi sebagai main dancer, member tersebut juga dilansir merupakan personel yang memiliki fans paling banyak diantara member lainnya, tak heran kini Lee Donghae didaulat untuk menutupi kekacauan yang terjadi dalam groupnya. Salah satu member dalam graoupnya baru saja tersangkut kasus tabrak lari, Jadi sebisa mungkin ia harus mengalihkan isu tersebut dan menenangkan para fans. Pihak agensi sudah mengatur jadwalnya, sebuah jumpa fans mendadak, padahal Donghae baru saja ingin bertemu seseorang. Mati – matian Donghae menelan rasa tidak sukanya demi sebuah profesionalisme didepan ratusan fansnya/

Tiba – tiba ditengah kerumunan itu matanya menangkap sesuatu. Yeoja berjaket abu – abu dengan rambut tergerai sebahu  yang tertiup angin sangat familiar dimata Donghae. Namja itu bergumam tanpa sadar menyebut nama sosok tersebut hingga akhirnya tersadar akan sesuatu, untung tidak ada yang mendengarnya menyebut nama ‘Yoona’.  Pandangan Donghae tak lepas dari sosok yeoja  berekspresi datar yang semakin lama posisinya kian mendekat.Yoona yang sedang mengangkat banner berjalan kearahnya, bukan banner  penuh cinta yang biasa ditunjukkan fans padanya, tetapi sebuah banner berisikan nada kecaman.

Tubuh Donghae menegang, Ia takut salah satu fans  mereka melihat tingkah Yoona, Donghae takut Yoona kan menjadi bulan – bulana mereka mengingat isi dari banner ditangannya yang membuat yeoja itu lebih tampak seperti haters, Untung saat itu para fans sedang sibuk masing – masing jadi tidak ada yag menyadarinya.

‘Saranghae Lee Donghae, Nappeun Namja’ begitulah yang tertulis diatas  banner memanjang berukuran sedang milik Yoona. Buru – buru Donghae menyerahkan acara jumpa fans yang masih berlangsung kepada seorang temannya, Eunhyuk. Donghae lantas berlari kesuatu tempat dengan panik membuat temannya keheranan.

Setelah menerima isyarat dari Donghae agar keluar dari kerumunan fans yang menyesakkan, Yoona lantas mengekori langkah namja itu, kesuatu tempat. Sebuah gang kecil disamping gedung agensi menjadi pilihan  yang tepat bagi seorang Lee Donghae. Yoona sudah menduganya dari awal, Donghae selalu memulih untuk mereka berdua bertemu ditempat terpencil.

“Apa yang kau lakukan disini ?”

Yoona melempar banner bodoh ditangannya dan menatap Donghae, “aku ingin menuntut keseriusanmu.”

Donghae menatapnya meminta penjelasan, Ia tidak habis pikir dengan tingkah yeojachingunya yang berubah garang. Yoona membuang napas kasar, setelah itu melanjutkan, “Kau tahu berapa lama aku  mempersiapkan ini semua? Kau seenaknya saja membatalkan janji,  bahkan Eomma dan Appaku menunggu kedatanganmu…”

“Kau bisa mempermainkanku, tapi tidak dengan mereka…”

“Mempermainkan? Aku tidak mengerti bagian mana yang kau anggap mempermainkan.” Intonasi  Donghae  meninggi. Ia  merasa tersinggung dengan persepsi  Yoona,“Aku hanya meminta pertemuan itu ditunda, Yoong.”  Ralat namja itu penuh harap agar Yoona menghapus anggapan sepihaknya.

“Aku tidak peduli apa pun alasanmu… Pertemuan itu tidak terjadi berarti hubungan ini berakhir ! jelas bukan?”

Donghae terdiam, Ia tidak bereaksi apa – apa menanggapi ancaman Yoona.

“kau mau kemana? Biar aku antar..” Tiba – tiba Donghae bertanya sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan topik pembicaraan membuat Yoona semakin jengah. Yoona merasa ini konyol, Ia terkekeh sinis, “Kenapa ? Kau takut aku akan berdiri didepan para fansmu dan berteriak bahwa aku adalah yeoja yang kau campakan—“

“Yoona !”

Donghae menghirup udara yang semakin  memanas lalu menghembuskannya perlahan,  “Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu Yoong–”

“Lalu kau pikir aku senang berdebat denganmu–”

Donghae menarik tangan Yoona sebelum yeoja itu berbicara lebih banyak.  Donghae menggiring Yoona menuju parkiran. Tanpa berkata – kata Donghae membuka pintu mobil samping kemudi, tapi Yoona lebih memilih duduk dibelakangnya. Donghae menghela napas.

Mobil Donghae melaju. Yoona diam saja, Ia duduk tenang  diatas bangku penumpang dibelakang kemudi seolah – olah Donghae adalah supirnya, namun ditengah jalan yang sepi,  Ia meminta mobilnya dihentikan. Sambil  terbatuk – batuk, Yoona  mengeluh  tiba – tiba perutnya  mual. Donghae tampak hawatir, Ia berbalik menatap Yoona dari kursi kemudi.

“Gwencana?”

Yoona memegangi perutnya dengan wajah kesakitan lalu berkata, “Bisakah kau memberikanku sebotol air… uhuk… dan sesuatu yang manis seperti permen?”

Donghae tidak ingin membiarkan Yoona menunggu lebih lama. Donghae tidak punya benda – benda itu jadi, Ia keluar untuk mencarinya. Sebelum pergi, Donghae berpesan agar Yoona tetap tinggal di mobil.

Setelah kepergian Donghae, Yoona menyeringai. Ia mengecek ponselnya, lalu tidak lama seorang namja dengan jaket hoodie dan masker hitam datang menghampiri, seseorang itu datang menenteng sebuah kotak besi ditangannya.

“Lakukan dengan benar,” perintah Yoona usai menurunkan kaca  mobil. Tiba – tiba saja suaranya menjadi normal, Ia tidak terbatuk – batuk lagi atau merasakan mual seperti saat Donghae didekatnya.

“Cepatlah !” Perintah Yoona sekali dengan nada desakan. Seseorang itu mengangguk dan mulai melakukan sesuatu pada roda mobil Donghae.

…………………

Ketika jantungnya bekerja  amburadul usai mengetahui Yoona menghilang, Donghae kembali dikejutkan oleh sesuatu. Selembar note  terselip diatas dashboard mobilnya, Donghae mengeryit mendapati tulisan Yoona tertera disana.

‘Aku pulang naik taxi, aku ingin ke rumah Halmoni untuk  menenangkan diri jadi  jangan mengejarku.’

Tanpa menunggu waktu lama, Donghae  lantas membanting stirnya kesuatu tempat. Ia tidak memperdulikan lagi panggilan – panggilan yang berdenting – denting didalam saku jaketnya, ini pasti soal jumpa fans. Dongahe cukup lelah untuk memikirkan acara itu ditengah pikirannya yang berantakan.

Jujur Donghae pun sudah lelah dengan sikap Yoona selama ini, masih banyak Yeoja menurutnya.

Donghae akan bertanya kepada Yoona sekali lagi, dan membiarkan yeoja itu lolos kalau memang Ia menginginkanya, Ia akan melepas Yoona agar perasaannya tak lagi tersiksa… Melepas Yoona? Ini terdengar mudah tapi…

“Akhhh” Donghae mengacak rambutnya frustasi dan memukul stir mobilnya tanpa sadar. Ketakutan  mengenai sebuah perpisahan mulai menggerogoti kepalanya.

Donghae terus memacu mobilnya, hingga ditengah  jalan tol, Donghae merasakan mobilnya miring kekiri sebelum kendaraan itu berputar – putar ditengah jalan. Dalam hitungan detik, suara deguman keras lantas menghantam telinganya. Donghae sempat merasakan sebuah kesakitan yang luar biasa menusuk tubuhnya yang mulai dihinggapi  benda cair  setelah itu ia tidak merasakan apa – apa lagi, karena semuanya berubah gelap.

Flashback End…

Ingatan pahit yang berputar – putar membuat dunia mereka porak – poranda. Pikiran Yoona menjadi kosong. Ia bergumam dengan dirinya sendiri, tidak peduli apakah Donghae tertarik mendengarnya atau tidak, Yoona seolah kehilangan jiwanya,

“Tidak bisakah kau mengerti bahwa aku juga fans mu…”

“Fans yang paling mencintaimu hingga menjadi seperti ini…”

“Saranghae Donghae Oppa.”

“Nado Yoong,” Suara yang berbisik halus tak kunjung menyadarkan Yoona dari lamunannya, yeoja itu terus menerawang, menerawang jauh. Kedua matanya lantas terpejam nyaman ditengah dekapan hangat Lee Donghae.

Sementara itu Donghae hanya terdiam dengan apa yang baru saja didengarnya. Kenyataan dari apa yang terjadi dibalik kecelakaan yang menimpanya tak lantas membuatnya tercengang. Jauh sebelum ini, Donghae sudah mengetahui semua, berawal saat penyidik yang disewa managemennya untuk menyelidiki kasus kecelakaan itu menemukan sebuah bukti, bukti yang membuat dunianya runtuh juga bukti yang sengaja Ia bungkam, karena seseorang dibaliknya. Yoona.

Karena Donghae sangat mencintai Yoona. Ia berbohong dengan dirinya sendiri ketika berkata bahwa banyak yeoja lain seperti Yoona. Lee Dnghae pembohong besar, karena sampai kapan pun Ia tidak akan sanggup membiarkan Yoona lolos dari sisinya, bagaimana pun kepemilikan  atas Yoona sudah tertanam secara permanen didalam jantungnya, dan perasaan itu tidak akan tergantikan oleh apa pun. Bahkan Donghae besedia menukar apa saja yang ia punya, asalkan Yoona bahagia. Termasuk harta dan karirnya, karir yang dicapainya dengan susah payah, semua demi Yoona. Ketika Yoona tidak bahagia dengan karirnya, Donghae bersedia menghilang selama – lamanya dari dunia Entertaiment.

Kesalahan yang Ia lakukan pada Yoona, segala kesalahan yang membuat usia yeoja itu terbuang cuma – cuma karena kesia – siaan yang Ia lakukan. Ini bukalah rasa bersalah atau kasihan, tapi Seperti perkataannya beberapa saat yang lalu, bahwa Lee Donghae harus menerima hukuman terindah sepanjang hidupnya, membahagiakan Yoona dengan sekuat tenaga. Donghae memilih dibutakan oleh cintanya sendiri, dan Ia tidak akan menyesalinya sedikit pun.

…………..The End…………

Duh Udah lama ga buka wordpress dan update ff, ini FF pertama aku setelah lama vakum, maafin yah udah ngegantungin kalian, aku juga ngerasa bersalah banget nih, aku usahain ff lainnya bakal lanjut, Semoga kalian masih sabar nunggu, bukan karena aku ga mau ngelanjutin tapi karena waktu yg ga memungkinkan dan keyboard laptop yg lagi rusak jd ga bisa dipake, ngetik ff inipun pake laptop minjem hehe…

Sekali lg maaf yahh apalagi udah mau memasuki bulan ramadhan.. Maafin kesalahan aku yah yg disengaja maupun engga sengaja🙂

Bye-Bye, see you next readers tersayang….

38 thoughts on “[ Oneshoot ] FF Yoonhae – If I Wear A Mask

  1. Husni berkata:

    Aku ga tau harus senang apa sedih.. Ff nya ya amvvun, ternyata yoona punya sisi gelap dan donghae masih mau nerima yoona, itu buat aku sedih kata2 “harusnya donghae ninggalin yong, harusnya donghae menyalahkan yoong” tp ternyata jadinya donghae malah nikahin yoong dan ingin menari untuk terakhir kali dengan yoong..OMG !!!! FF nya aku suka, ga duga yoona punya sisi lain..hmmm good bgt lah, jangan lupa yaa ff marry u nya dilanjutin soalnya udh lama bgt nunggu hehee..
    Sukses ya naaa ~ #miring kiri

  2. monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    wooow cinta yoonhae sangat kuat dan suci. walaupun yoong yang buat donghae kecelakaan tapi donghae tetel cinta sama yoong dan begitu juga sebaliknya yoong rela ngelakuin apapun demi donghae. ceritanya kereeen. next ff yoonhaenya ditunggu. yh jjang…!!

  3. novi berkata:

    smpat ngk nyangka rpa ny yoona yg buat donghae kcelakaan Wkwkwk yoona cmburu krna donghae lbih peduli ama penss ny …..next ff d tnggu thor

  4. ina gomez berkata:

    astga bner diluar dugaan lox yoona eonni pnyeba kecelakaanya hae oppa.tp smuanya bkn slh yoona eonni cb ja lox hae oppa gak bt yoona eonni sakit hati krna jnji2 palsunya pasti yoona eonni gak mungkin berbuat kyk gtu. tp kesabran yoona eonni slam ini membuahkn hasil dgn kcelkaan tu hae oppa sdr lox dia dh bt yoona eonni sedih n dh yakitin hati yoona eonni jd skrg hae oppa mau nebus kslhn itu dgn brda dismping yoona eonni slmnya.

  5. Amha Fragaria Vesca berkata:

    sempat takut awalnya pas yoona ngakuin kalo dia yg nyelakain donghae. eh, ternyata donghaenya tetep cinta wkwk keren pokoknya lah. ditunggu ff lainnya. dan welcome back jg buat nana udh balik dri masa vakumnya😀

  6. sfapyrotechnics berkata:

    yoong sendiri yang buat hae kecelakaan.. Yoong pelatih trainee?? kirain artis… Hae kluar dari agensinya begitu dgan yoong.. wow :-O mereka menari bersama tuk terakhir kalinya(?)

    Fightinggg

  7. lulu_paramita berkata:

    Siapa yg nyangka kalo yoona yg celakain dongek !!!!! Siapa yg nyangka kalo dongek udh tau sejak lama kalo pelakunya yoona !!!!! ff nya tragis abiezzz tapi kereen, so sweet juga, pokonya gado-gado deh yaw…
    Seneng bgt akhirnya unnie muncul lg, setelah lama hibernasi (?), di lanjut ff lainnya..
    ff couple lain juga dong un hehew

  8. maia berkata:

    Apah ??? Yoona kayak punya penyakit syco gitu kayaknya (?) masa dia nyelakain org yg dia cintai ???? tp entah kenapa nih ff jd keren padahal sebenarnya sereeem, donghae nikahin org yg udh hampir buat dia meninggal…hmmm mungkin yoona khilaf, lagian donghae aturan jgn nyia-nyian yoona, jdnya yoona berubah 😦 jd garang kan, sekarang donghae harus nerima hukuman dr yoona, dan hukumannya so so sweeet…

  9. riri riwa berkata:

    q ga tau karakter yoona disini kayak apa, ga bisa baca, kadang dia baik jd hawatir ama kesehatan donghe tp dia yg nyelakain donghe.. q mikirnya kalo yoona marah jd kayak gimana nasib donghe..hehe, ini ff g bisa ketebak isinya, pokoknya daebak ! Yoonhae jjang

  10. tryarista w berkata:

    merry u my best friend lnjutin donkkkkk….
    trnyata yoona diblik kecelakaan hae,,,,mgkin dia dah g than ma sikap dongeekkk jd yoona lskuin semuanyas

  11. Nabilla Utmary Elfishy berkata:

    Pantes yah,Yoona kok ngerasa bersalah banget..ternyata Yoona yang nyelakain Donghae..
    Karakter Donghae disini bener-bener bikin tersentuh T_T
    Ditunggu fanfic lainnya Author…
    Karyamu selalu dinanti.. ^_^

  12. aprill berkata:

    Jd Yoona yg ngcelakain Dongek dan Dongek maafin gto aja??wah itu namanya cnta buta…FFnya daebak,crtanya jjang,gaya bhsanya jg bagus..
    Oy slam knal author ^^

  13. niahh berkata:

    Oh jdi yg buat donghae kecelakan itu yoona krna donghae kgk pnya wktu buat yoona,tpi wlau gtu donghae ttep aja menikahi yoona sma berhenti dri karirnya demi cinta wow
    Daebak lu bang
    Ffnya campur aduk

  14. maya luoxi berkata:

    ahh, sumpah ngena bgt bacanya. Gk nyangka yoona berbuat sprt itu, tp ya. mrka saling mencintai. kuharap hiduplah dgn bahagia setelah itu,, ^^

  15. cha-cha berkata:

    Pengen nangis baca ff ini😥
    Perjuangan n keikhlasan donghae oppa disini bener2 kerasa, semoga mereka bisa bahagia setelah semua kejadian dan kehilafan.. Daebak buat nana unni, aku selalu nunggu ff mu yg sweet n g lebay🙂

  16. Queen_Zha berkata:

    Yoona disini ibarat anak kecil yg dikasih anak ayam, anak ayamnya mungkin akan terluka bukan karena anak kecil ingin menyakiti anak ayam tapi anak kecilnya ingin melindungi anak ayam tapi cara merawatnya yg salah, mungkin karena anak kecilnya takut buat kehilangan tuh anak ayam..
    Jadi yoona takut kehilangan donghae dan cara buat ngejagain donghae yg salah.. Hmm manusia emang ga ada yg sempurna yah unn…

  17. cha-cha berkata:

    Huwaa.. FFnya qokk nyesekk bgtzz yachh,. Yoona qlow d pikir2 egois, tpi dya kek g-t karena takut kehilangan donghae..
    Tpi seandainya donghae g kecelakaan, donghae bkalan jarang perhatiin yoona..
    Emang hidup g ad yg sempurna..!

  18. Im Pizza berkata:

    sudah sepantasnya Donghae bersama dengan Yoona,,, Yoona bgtu juga bkan krena dia egois,, wajar x seorang wanita ingin d perhatikan, apalgi Donghae selama mnjadi seorang idol berubah mnjadi lebih sibuk, sedikitnya dia bisa meluangkan waktu untuk Yoona.. ini keren bnget feelnya dapat, tp tindakan Yoona mmng ekstrim sih hahaha untung Donghae gx meninggal,,, kecelakaan gx selamany membawa keberuntungan

  19. lin_yh berkata:

    gak nyangka ternyata yg membuat donghae kecelakaan yoona, untung aja donghae cinta mati ke yoona jdi bisa happy ending

  20. Nur khayati berkata:

    Dalang kecelakaan.a D0nghae trnyata Y00na yg n0tabene adalah kekasih & ‘fans’ yg ingin trs d dekat D0nghae,,.
    D0nghae harus nanggung ‘hukuman’ dgn ngebahagiain Y00na krna ingin menebus kesalahan.a dulu.,
    Salut deh sama cinta mereka yg tulus,,..

  21. utusiiyoonaddict berkata:

    yaampuun aku gak nyangka trnyata yoong yg menyebbkan hae kecelakaan,
    saking cinta na yoong k hae ampe segtunya, bgtupun hae saking cintanya dia ama yoong tp mlah menutupi itu semua, sumpah ni epep kereeen eh, aku sukaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s