FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 9 )

Image

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

“Aku juga tak ingin berlama – lama denganmu.” sanggah Yoona, Jessica lantas mengeluarkan senyumnya yang mematikan. Tenang dan penuh arti.

“Aku—- menyukai Donghae.”

Part 9

“Apa?” Yoona terperangah. Pada dasarnya Yoona sudah bisa membaca hal itu dari awal  hanya saja Ia tidak menyangka bahwa Jessica akan seterus – terang ini.

“Ini pesanan anda aghassi.” Seorang pelayan menghampiri dengan nampan ditangannya yang berisi dua gelas lemon tea. Jessica dan Yoona mengucapkan terima kasih kemudian melanjutkan obrolan mereka.

“Aku menyukai Donghae Oppa,” ulang Jessica. Sementara itu, Yoona hanya bisa menahan napas.

Jessica menagkupkan dagu menggunakan dua tanggannya, Ia menatap ingin tahu, “Hari ini dia sepertinya tidak dalam kondisi baik, kalian bertengkar?”

Yoona terdiam. Ia membalas tatapan Jessica  namun tak menjawab apa – apa. Aksi diam Yoona itu diartikan Jessica sebagai jawaban pembenaran.

“Sejak pagi tadi aku berusaha menghiburnya. Aku sangat senang melihat Donghae Oppa tertawa lagi. Kami selalu menghabiskan waktu bersama akhir – akhir ini.”

Yoona masih diam. Ia memejamkan matanya tidak ingin terprovokasi oleh pernyataan Jessica yang justru malah menambah sesak didadanya.

“Besok adalah latihan bersama kami yang terakhir jadi sebelum proses rekaman, aku akan mengadakan perpisahan istimewa dengannya—“

“Tidak !” Yoona menggebrak meja seraya bangkit berdiri, Jessica langsung bungkam, “Aku tidak akan membiarkannya !”

Jessica  terkekeh, baru kali ini ada yang menggertaknya dimuka umum. ‘Sungguh memalukan’ batinnya tak habis pikir dengan perlakuan frontal Yoona padanya.

“Jadi, kau bisa apa?!” Tanya Jessica dengan nada menantang lalu tanpa kata, Yoona membalas  Jessica dengan mata nyalang.

Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Jessica setelahnya, meski begitu ekspresi tenang dan menyebalkan Jessica masih bergentayangan diseputaran mata Yoona  yang  dibalik itu, Jessica amat menunggu reaksi Yoona beberapa detik kemudian.

“Aku akan mencegahnya.”

Jessica tersenyum samar, “Sincah?”

Yoona terkekeh tak habis pikir bahwa  yeoja seperti Jessica rupanya  sudah tidak waras. Yoona menarik napas ingin mengatakan sesuatu tapi urung Ia lakukan. Kali ini Yoona tidak ingin buang – buang tenaga, Ia menatap Jessica tidak suka kemudian segera melesat pergi.

Sementara itu Jessica sibuk dengan pikirannya sendiri seraya  fokus menyoroti  punggung Yoona yang perlahan – lahan  termakan oleh pintu kaca. Samar – samar punggung itu  bergerak menjauh dan  menghilang dipertigaan jalan. Pada akhirnya Jessica menyeringai.

…………….

Ditengah kegelapan Yoona melangkah dengan ragu – ragu.  Ia mengigit bibir bawahnya dan menghela napas berkali – kali. Beribu ketakutan yang berputar – putar sejak Donghae mengetahui apa yang coba Ia sembunyikan menumpuk dikepalanya. Bayangan mengenai kemarahan Donghae  sebagai buah dari sikapnya selama ini membuat Yoona takut bahkan sudah tergambar jelas  bagaimana tubuhnya menjadi kaku  seandainya nanti bersitatap dengan namja itu. Yoona sungguh menyesal. Yoona menyesal karena Ia juga tak bisa berbuat  apa – apa untuk mengembalikan situasi harmonis diantara dirinya dan Donghae. Hari ini sesuai dugaan Yoona,  Donghae pulang dari tempat kerjanya hingga larut malam. Entah apa yang namja itu lakukan hanya saja penciuman Yoona samar – samar menghirup aroma alcohol ketika Donghae melawati tubuhnya tanpa kata. Yoona tidak sempat bertanya barang sebaris pun, karena Donghae tampak sibuk sendiri. Setelah mandi, Donghae langsung masuk kekamarnya bahkan Ia tak menyentuh sedikit pun makanan yang sengaja Yoona masak untuknya.

Sekedar ingin memastikan apakah Donghae baik – baik saja, disanalah Yoona berpijak.   Didepan sebuah pintu Yoona memberhentikan langkah keragu – raguannya. Ia menggumam tanpa sadar, menyuarakan kalimat doa yang mengendap diotaknya.

Yoona berhasil mendorong pintu kamar Donghae yang tidak terkunci. Dengan langkah meraba – raba Yoona berjalan menuju meja disamping kasur dan menyalakan lampu tidur. Seberkas cahaya temaram hadir dan  menaburi wajah Donghae. Sekilas namja itu  baik – baik  saja. Tidak segores pun luka ditubuhnya, berbeda jauh dengan yang ada dibalik itu semua. Dia pasti sangat sakit. Lagi – lagi penyesalan Yoona bertambah dalam. Ia sama  sekali tidak berdaya menghadapi kekacauan akibat perasaannya sendiri yang menyakiti Donghae.

Getaran rindu mendesir lewat aliran disekujur tubuhnya. Sudah lama sekali rasanya Yoona tak merasakan sentuhan Donghae, kala tubuhnya bersesir oleh  sentuhan hangat yang sekaligus  mengalirkan  banyak energi. Bahwa Donghae  tak berarti apa – apa baginya, itu salah.  Karena pada kenyataannya Yoona membutuhkan Donghae untuk tinggal disisnya, melawan masa – masa sulit bersamanya. Lebih baik Ia menyerah detik ini  daripada mengetahui bahwa Donghae menghilang, Yoona tak akan sanggup memijaki bumi bahkan ketika membayangkan  Donghae berhenti menggenggam tangannya, napas Yoona nyaris terkubur.

Yoona menggapai wajah Donghae, suhu tubuh namja itu menjalar kekulitnya dan memberi sensasi hangat. Kerinduan membuncah seiring pergerakan tangan Yoona yang menyentuh satu persatu bagian wajah Donghae. Jemari Yoona berputar putar mengitari pipi, mata dan telinga sebebas yang Ia butuhkan, Gerakan Yoona berputar lembut untuk memastikan bahwa Donghae tetap terjaga bahkan Ia sungguh takut, air matanya tertumpah dan membuat mimpi indah itu pergi. Pergerakan Yoona terhenti. Ia beralih menidurkan tubuhnya disamping Donghae yang sedang berlayar mengarungi alam bawah sadarnya.

“Oppa, tidak seharusnya kau begini,  aku tidak punya apa – apa untuk membalas perasaanmu, ini benar – benar sulit.” Yoona bergumam usai akhirnya  matanya menutup. Ia menyusul Donghae menikmati dimensi tanpa batas. Hadiah kecil yang sulit dijangkau, goresan senyum  hangat yang hilang entah kemana, dan Yoona bisa melakukan apa pun agar Donghae bisa  tersenyum lagi untuknya, Yoona sangat ingin walau pun hanya sebatas mimpi.

Satu pagi yang ditakutkan Yoona, ketika Ia terbangun nanti memori dikepalanya akan memproses kembali sikap Donghae yang begitu dingin padanya, Donghae yang dulu seolah hilang ditelan bumi….

Dalam tidurnya, Yoona memeluk Donghae seerat mungkin, kesempatan ini tidak datang dua kali. Ketika namja itu  membuka mata dan tersadar dari malam ini, Yoona ketakutan jika  pada akhirnya Donghae memutuskan untuk pergi dan Ia akan benar – benar kehilangannya..

Yoona khawatir bertemu esok pagi, pagi yang bahkan tidak berani Ia bayangkan.

Dan pagi itu tiba…

Yoona mengerjapkan matanya.  Dalam kondisi setengah sadar Ia mendudukkan tubuhnya lalu tatapannya bependar kesekeliling. Yoona mengumpulkan pikiran waras yang berhamburan lalu mencerna sedikit demi sedikit apa yang Ia lakukan di kamar orang lain…

Donghae ! Dan Yoona ingat semuanya.

Tatapan Yoona  berpaling. Donghae sudah tidak berada disampingnya. Yoona mengernyit, Ia baru sadar akan sebuah selimut menaburi tubuhnya padahal seingat Yoona, semalam Ia tidur disamping Donghae diam – diam tanpa sehelai selimut pun. Pikiran – pikiran aneh mulai berpacu di kepalnya. ‘Tidak mungkin kalau Donghae…’ Yoona bergeleng kecil kemudian  beralih menatap jam dinding diatas kepalanya. Pukul enam kurang lima belas menit, saat ini bukan waktunya untuk mempersiapkan segala yang berhubungan dengan urusan pekerjaan , masih terlalu pagi. Tapi seperti itulah Donghae sekarang…

Dengan langkah gontai Yoona  berjalan menuju dapur. suara aliran air memenuhi gendang telinganya. Tatapan Yoona berpaling kearah kamar mandi. Yeoja itu menghela napas, selalu saja seperti ini. Bersiap diri dengan lekas, Donghae seringkali berangkat pukul setengah tujuh, lebih cepat satu jam dari keadaan normal.

Yoona mencari sesuatu yang bisa dimasak. Ia membuka kulkas dan menemukan sayur – sayuran dan beberapa buah telur. Yeoja itu berpikir sebentar kemudian lekas menggerakkan tangannya  untuk mengolah bahan makanan yang ada, sebelum Donghae menghilang secepat kilat.

…………………..

 “Awwhhh” Yoona  berpaling kearah kamar mandi usai Ia memekik. Bukan tanpa alasan, Yoona menunggu – nunggu reaksi seseorang didalam sana. Suara gemericik air masih terdengar sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Seketika raut wajah Yoona  berubah kecewa padahal Ia sudah memekik  dengan  nada sedramatis mungkin agar Donghae percaya bahwa Ia dalam bahaya.

“Ya Tuhan… Jariku teriris pisau… Darahnya bercucuran banyak sekali.”

Memikirkan cara lain, Yoona berbicara lantang seolah situasinya benar – benar gawat. Kali ini Yoona berakting  bahwa jemarinya  baru saja tersayat oleh sebilah pisau. Disela suaranya Yoona menyisipkan nada mengaduh, tapi hasilnya tetap sama, tak ada tanda – tanda bahwa Donghae peduli padanya.

 “Seseorang tolong aku, jebaaall.” Yoona mengarahkan suaranya kearah kamar mandi, lagi – lagi tak ada reaksi.

‘Trek’

Bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatian Yoona. Mengetahui Donghae tiba – tiba keluar dari kamar mandi, bibir Yoona merekah. Bayangan – bayangan mengenai Donghae dengan wajah hawatir membuat Yoona ingin berteriak girang, namun bayangan – bayangan itu harus Ia musnahkan dengan segera karena pada kenyataannya Donghae berlalu tak acuh. Berjalan dengan handuk yang melilit ditubuhnya, Donghae bahkan tak menatap Yoona sama sekali. Yoona yang kala itu sedang  berdiri  didepannya hanya bisa terperangah  dan menunduk pasrah.

Treenggg…

Tak berniat mengibarkan bendera putih, Yoona menjalankan misi selajutnya. Ia sengaja membanting  sebuah panci kosong. Suasana pagi yang cerah tiba – tiba saja dikejutkan oleh suara dentingan logam yang cukup nyaring dan menusuk telinga. Yoona sama sekali tidak peduli, Ia kembali mendramatisir keadaan.

“OMONA ! Bagaimana ini air panasnya tumpah ?!!!” Pekiknya yang sama sekali tak mendapat tanggapan. Suara Donghae urung terdengar, batang hidungnya tak terlihat bahkan untuk mengecek keadaan Yoona, Donghae sama sekali tidak peduli. Tersadar bahwa kenyataan tidak seperti bayangan,  Yoona mendengus kesal. Ia menendang meja didepannya tanpa sadar.

“AWHHH kakiku !”

Bunyi dentuman meja memecah situasi sengit kala itu. Yoona merintih dengan menahan rasa sakit diseluruh jemari kaki kanannya. Ini bukan acting atau cari perhatian, Yoona benar – benar kesakitan. Hanya saja kenyataannya tetap sama, Donghae tak kunjung merespon.

…………………

Dari kejauhan, Yoona memperhatikan Donghae yang  tampak sibuk dengan kertas – lertas ditangannya. Namja itu berkutat dengan tulisan – tulisan yang entah apa. Tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya, Yoona terus mengamati pergerakan Donghae yang bagi kebanyakan orang adalah hal biasa. Tapi Yoona  belum juga bosan. Kegiatan seperti mondar mandir, meminum segelas air putih, bercermin atau merapikan rambut sekali pun terekam dalam benak Yoona. Yeoja itu hapal bagaimana gerakan tubuh Donghae melakukan serangkaian kegiatan itu bahkan urutannya.

“Ada yang bisa kubantu?” Yoona memberanikan diri mendekati Donghae.  Namja itu menoleh sekilas kemudian melanjutkan aktivitasnya menata barang – barang didalam ransel.

“Ani, kau hanya perlu membiarkanku pergi.” Jawab Donghae tanpa menatap lawan bicaranya.  Ia menutup ranselnya dan bersiap angkat kaki. Yoona terguncang melihat reaksi Donghae, Ia tertegun seperti benda tak bernyawa. Air matanya menggenang, sekedar menggenang. Yoona ingin menangis sekencang – kencangnya didepan Donghae, tapi kini tinggal kesesakan yang terkunci,  bahkan untuk  menangis pun rasanya sulit.

“Oppa, Kenapa kau seperti ini?” Yoona mengekori langkah Donghae yang berjalan menuju pintu keluar.

“Oppa Jawab aku?!” desak Yoona kembali. Ia menghalau langkah namja itu dan berbicara lantang, “Kenapa kau seperti ini?!  Memangnya apa salahku—“ Yoona menjeda kata – kata yang belum tuntas ketika tatapan Donghae menyipit kearahnya. Ketajaman mata Donghae langsung menghujam jantungnya.  Seketika Yoona paham apa yang ada dipikiran Donghae, adalah Im Yoona,  yeoja yang amnesia mengingat kesalahnnya, lebih kasarnya lagi, tidak tahu diri.

Yoona sedikit meralat, suaranya mulai bergetar, “ Ya—A- aku memang salah tapi aku juga tidak mau  hal seperti ini terjadi.”

Menurut Yoona, tindakannya kini ialah kenekatan yang berbahaya, Yoona menajamkan tatapannya kearah  Donghae menuntut  sebuah kejelasan. Donghae membalas tatapan Yoona tak kalah tajam, “Benarkah? Benarkah kau tidak mau hal seperti ini terjadi?”

Yoona baru akan menjawab tapi Donghae tiba – tiba menimpali, “Lalu sanggupkah kau melupakannya?”

Kali ini Yoona terdiam. Melupakannya?

“Kau tidak perlu menjawabnya karena aku sudah tahu.” Sebelum Yoona menjawab, Donghae menyimpulkan.

Yoona bergelng dan berusaha menjelaskan sesuatu, “Ani, bukan begitu.”

“Kau, tidak bisa melakukannya karena kau yang meginginkannya. Sadar atau tidak sadar, Yang mengendalikan perasaanmu adalah dirimu sendiri jadi kalau sampai sekarang kau tidak bisa melupakannya maka sikap itu  adalah bagian dari pilihanmu, Yoona.”

Yoona bergeleng, “Ani…”

“Kau memberi ruang untuknya agar tetap  hidup dihatimu, Kau membiarkan dia menguasainya, tidak akan ada tempat untukku.”

“Aniyo,”  Air mata Yoona bercucuran.  Dari balik matanya Yoona berharap bahwa ada setidaknya, segores kepercayaan Donghae tinggal untuknya. Sangat,  Yoona berharap keajaiban itu  datang padanya disaat Ia sudah tidak sanggup lagi berkata – kata.

“Oppa—“ Rintih Yoona  seiring Donghae yang membuang tatapannya kearah lain. Siapa pun yang mengenal Donghae, namja itu  tidak akan kuat menyaksikan  apalagi bersitatap dengan seorang yeoja yang menangis karenanya.

Donghae memejamkan matanya, beberapa detik berlalu, namja itu  melesat kesamping  dan Yoona melakukan hal yang sama.

“Yoona minggir aku sudah terlambat !”

Donghae mencoba melewati tubuh Yoona namun langkah itu benar – benar terhalau. Yoona merentangkan tangannya lebar – lebar,  tak ada ruang sedikit pun bagi Donghae untuk berjalan.

“Im Yoona.” Dengan intonasi penuh tekanan, Donghae memperingatkan. Ia menatap Yoona lamat –lamat, “Aku tidak mau bersikap kasar padamu Yoong, jadi sekarang minggirlah.”

“Ani, kau tidak boleh pergi, aku tidak akan membiarkannya !” Kali ini Yoona menjawab  dengan nada tegas. Seolah tak ada keraguan dimatanya, Yoona membalas tatapan Donghae tanpa berkedip sekali pun.

Donghae menghela napas pasrah, Ia  menarik tangan Yoona dan memboyongnya kepermukaan tembok. Tidak ada permberontakan berarti hanya saja langkah Yoona bergerak ragu, lalu Donghae harus memastikan bahwa cengkraman tangannya tidak terlalu menyakiti Yoona.

Usai punggung Yoona mendarat dengan sempurna, Sebelah tangan Donghae menopang kesisi kanan tembok.  Donghae mendekatkan wajahnya hingga sapuan napas itu bertiup  dan mengalir kepermukaan kulit Yoona hingga yeoja itu membatu ditempatnya.

“Yoona, aku ini apa bagimu?” Donghae menatap yeoja dihadapannya lamat – lamat.

Kedua mata Yoona membulat tegang. Ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Donghae. Atau lebih tepatnya mengingkari bahwa Ia  mengerti,  ketakutan Yoona sekarang adalah ketika Ia menjawab sesuatu maka Donghae akan bertambah sakit.

“Kau… Aku ingin kau menjadi satu – satunya yang percaya padaku, dan membantuku menata kehidupanku yang kacau…” ungkap Yoona. Donghae terdiam, kedua matanya memejam beberapa saat, lalu Ia berbicara dengan nada rendah, “Haruskah aku mempercayaimu disaat kau tidak percaya padaku dan hanya menganggapku sebuah replica, replica Donghwa.”

 “B-bukan seperti itu, kalian penting bagiku.”

Donghae beralih menggapai dagu Yoona dan mengangkatnya pelan, “Kalian?”

“Ya kalian, kau dan—“ Yoona ragu untuk melanjutkan.

Donghae mendekatkan wajahnya ketelinga Yoona, “Seandainya kami berdua terjun ke Jurang, dan kau adalah seekor burung, siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu?”

“Oppa—“ Yoona menatap Donghae tanpa berkedip. Namja itu benar – benar membuatnya tersudut. Rasanya  Yoona ingin menguras habis genangan perih yang menyiksa matanya.  Yoona ingin menangis agar Donghae berhenti mengintrogasinya. Tapi kenapa sesusah ini?

Donghae menghela napas kasar, “Anggaplah aku sedang tidak ingin bermain tebak – tebakan denganmu.”

 “Dan perlu kau tahu,” Tatapan Donghae menajam, sebelah tangannya kembali terulur kesisi tembok, “Sama halnya dengan tebakan konyol itu, aku juga tak ingin dan tidak akan pernah bermain – main dengan perasaanku, karena perasaan bukanlah permainan melainkan sebuah kepastian dan kejelasan. Aku harap kau juga berpikir seperti itu dan–”

“Ah,” sambungnya mengingat, “Bukankah kau menganggap kami terlalu sama?  Lalu, apakah  aku harus sedikit lebih jahat darinya? Aku harus menjadi jahat dan  perasaanmu akan jauh lebih pasti.”

Yoona bergeleng tak percaya, “Apa maksudmu?”

“Apa yang Donghwa Hyung lakukan padamu sehingga kau sulit  melupakannya? Dia menjamahmu? Bagaimana rasanya—“

*Plakk*

Satu tamparan menghantam wajah Donghae. Apadaya namja itu sudah mati rasa. Tidak ada lagi yang bisa diperbuatnya selain menatap Yoona tanpa kata. Hening bergelimang diantara mereka. Kemudian sepasang mata Donghae menyapu kesekelilingnya bosan seolah tak ada apa pun lagi yang menarik untuk dibahas.

“Baiklah aku pergi.” Putusnya  tidak peduli kemudan berbalik menuju pintu keluar.

Yoona mengejar Donghae yang kala itu berjalan santai, “Oppa, hari ini kau akan bertemu Jessica kan?”

Donghae diam saja. Ia  mengambil  sepatu hitamnya yang tersimpan  rapih dijejeran rak sepatu di samping pintu kemudian memakainya. Tanpa menengok Yoona, Donghae beralih mengambil ranselnya yang tergeletak diatas meja.

 “Kemarin Jessica menemuiku.”

Sepasang tali ransel itu sudah tersemat dipundaknya, Donghae kembali berjalan menuju pintu keluar, “Jangan bertemu Jessica lagi. Dia tidak pernah suka padamu.” Ucap namja itu tanpa bersitatap dengan  lawan bicaranya.

Mengekori Donghae kemanapun, Yoona mengeryit atas reaksi namja itu. Ia  membalasnya  dengan pertanyaan yang bertubi – tubi, “Wae? Apa karena dia merasa aku lebih dekat denganmu? Apa aku punya salah ? Ataukah dia cemburu ? Wae?”

Langkah Donghae tertahan. Ia menatap Yoona sebentar, “Kenapa kau bertanya seperti  itu padaku?”

“Karena Jessica bilang dia menyukaimu.”

Donghae terdiam kemudian menjawab, “Aku tahu.”

“Kau sudah tahu perasaannya?”

“Dia sudah pernah mengatakannya padaku.”

“Lalu?”

“Biarkan saja.”

Donghae baru saja akan melanjutkan langkahnya tapi niat itu batal. Setengah berlari Yoona berhambur dihadapannya dengan  wajah  keterkejutan, “Mwo?!”

Sebelum berbicara lebih banyak, Donghae menahan bibir Yoona dengan telunjuknya. Ia lalu  memperhatikan Yoona  dari ujung kaki hingga rambut.. Tiba – tiba saja Donghae  menggenggam kedua tangan Yoona  dan membuat yeoja itu tersentak.  Satu persatu jemari Yoona tak luput dari pengamatannya.

 “Sepertinya kau  baik – baik saja,” Ia menyimpulkan. Yoona tidak mengerti maksud dari kalimatnya.

Beberapa detik setelahnya, Donghae menghela napas usai memikirkan sesuatu,  “Jangan lagi  bertingkah  seolah  kau dalam bahaya karena itu sama sekali tidak lucu, Yoong.”

Yoona mencerna ucapan Donghae. Ia memutar mundur ingatannya berharap  dari situ Ia bisa menemukan jawaban. Mungkinkah…. Yoona menatap Donghae bertanya – tanya. Apakah Donghae sedang mempermasalahkan  actingnya yang berpura – pura teriris pisau beberapa saat lalu ?

Disaat Yoona masih disibukkan oleh pikirannya sendiri, Donghae memilih berpindah dan melesat pergi. Sambaran tubuh Donghae membawa angin segar menyapu wajah Yoona. Ia tersadar. Pandangan Yoona langsung bertumbuk kearah punggung Donghae. Tertinggal beberapa langkah dibelakang, Yoona  kembali mengejarnya.

“Jangan pergi Jebal !” Pinta  Yoona. Yeoja itu  kembali menahan lengan Donghae.

 Donghae melirik sebentar jemari Yoona yang tersemat dilengannya, “Yoona, kalau kau seperti ini terus aku bisa dipecat.”

“Tapi Jessica—“

Terpaksa membalik tubuhnya Donghae menghela napas, “Yoona dengarkan aku,” pintanya  memandang  serius, “Tidak ada yang benar atau salah, perasaan Jessica adalah bagian pilihannya dan aku yakin kau juga punya pilihan untuk menyukai seseorang, bahkan ketika orang itu sudah pergi dari dunia ini, kau tetap punya pilihan untuk membiarkannya tinggal dihatimu atau tidak.”

Hanya memandang lurus, Yoona terdiam tak berkata – kata.  Ia membisu.

“Jadi mulai sekarang baik – baiklah dirumah.” Donghae menepuk dahi Yoona sebelum akhirnya melesat pergi. Kepergian Donghae kali ini tak digubris oleh Yoona, hingga akhirnya…

 “Oppa ada yang tertinggal.” Panggil Yoona tanpa ekspresi.

Donghae berbalik. Kerut samar terpoles didahinya. Sementara Yoona mendekat selangkah demi selangkah. Ia tidak bolah membiarkannya, bukan? Sesuatu yang berlarut – larut akan semakin menggunung maka  akan sulit memusnahkannya, Yoona harus melakukan apa pun yang bisa Ia lakukan. Yoona tidak mau kahilangan Donghae. Yoona sudah trauma kehilangan seseorang dan ketakutannya bertambah, Ia tidak sanggup lagi kehilangan untuk kedua kalinya. Dan tiba – tiba ingatan  Yoona  memutar ulang peristiwa kemarin, peristiwa mengenai pertemuan sengitnya dengan Jessica. Suhu tubuh Yoona menanjak seiring ingatannya yang berputar gelisah dan disaat itulah Yoona benar – benar yakin bahwa Ia perlu  menahan Donghae untuk tinggal lebih lama lagi disisinya.

Lima senti dari jangkauan penglihatannya, Ia berhenti. Yoona menatap Donghae yang masih bertanya – nyata perihal tujuan Yoona menyusulnya beberapa langkah, juga maksud dari ucapan Yoona sebelum itu. Benda tertinggal?

Donghae belum sempat berkedip sebelum Yoona  memiringkan wajahnya dan meraih tengkuk namja itu. Tanpa hitungan mundur Yoona melumat habis bibir Donghae.  Kecupan – kecupan dalam ia sisipkan dan Donghae tak mampu menolaknya. Seolah lupa dengan konflik yang ia hadapi selama ini, Donghae membalas perlakuan Yoona dengan permainan yang menggebu – gebu. Donghae mulai terbawa suasana, Ia benar – benar  menyambut godaan itu  penuh nafsu.  Sepasang lengan kekar melingkar dipingganya dan Yoona bisa  merasakan energi terdalam Donghae semakin menghimpitnya. Donghae berkuasa diatas segalanya dan Yoona  tidak peduli lagi apakah hal yang dilakukannya kini merupakan hal yang benar atau salah. Yoona hanya mengiginkan bahwa penyatuan ini akan berlangsung sangat lama, bahkan jika ia harus merelakan bibirnya  berdarah, Yoona sanggup menanggungnya, asalkan Donghae tetap disini menghabiskan seluruh waktunya dan tinggal lebih lama lagi …

Drtt… Drt… Drrt…

Dering telepon menggema. Awalnya Donghae tak begitu mempedulikannya tapi semakin lama, dering itu berbunyi terus menerus, Lalu seolah kepalanya baru saja tertimpa batu, mendadak Donghae tersadar  oleh kewajibannya pagi ini. Segera namja itu melepaskan tautan bibirnya setelah  Ia benar – benar sadar mengenai kondisinya sekarang. Pagi ini beberapa perkerjaan harus segera Ia selesaikan, dan  sekarang lihatlah apa yang diperbuatnya?

Perlahan Donghae mengatur napasnya yang amburadul. Ia merogoh saku celanya dan mengeluarkan benda persegi yang  berkedip – kedip dari dalam sana.  Lantas Ia menerima teleponya usai melihat sebuah nama yang tertera dilayar.

Yoona tertegun ditempat. Ia tidak menyangka akan begini jadinya.  Wajah mereka berbanjir keringat. Rambut  Donghae sedikit acak – acakan, kemeja birunya tak selicin beberapa menit lalu. Dan mengenai telepon sialan itu… Yoona benar – benar membencinya.

 “Yoboseyo…. Nde… Ah gwencana, aku tidak sedang berlari marathon… Karena pagi ini cuacanya sangat panas… Baiklah tunggu  aku sebentar lagi,  tunggulah disana kira – kira sepuluh menit lagi  aku   sudah akan berdiri didepanmu… Ah pesta? Tentu saja, memangnya aku sudah sepikun itu?… Baiklah… Annyeong…”

Donghae mengakhiri panggilannya dan menatap Yoona sekilas.  Hanya sekilas sebelum Ia pergi bersama desahan napas yang masih amburadul. Tatapan sekilas Donghae menari – nari dalam pikiran Yoona bahkan setelah namja itu benar – benar pergi dan menghilang dari jangkauan penglihatannya.  Tatapan Donghae menyiratkan betapa  Ia tak percaya dengan  yang telah mereka lakukan.

Dia pergi,

Seharusnya tidak secepat ini. Seharusnya Yoona bisa menahan Donghae lebih lama lagi…

“Sejak pagi tadi aku berusaha menghiburnya. Aku sangat senang melihat Donghae Oppa tertawa lagi. Kami selalu menghabiskan waktu bersama akhir – akhir ini.”

 “Besok adalah latihan bersama kami yang terakhir jadi sebelum proses rekaman, aku akan mengadakan perpisahan istimewa dengannya…“

“Akhhh !!!” Yoona menjambak rambutya sendiri. Aliran kristal bening dari bendungan matanya mengalir tanpa henti. Yeoja itu menangis dalam sesak. Kedua kakinya melemas, Ia tak bisa menghentikan semuanya. Ia tak bisa menahan langkah Donghae agar  tetap disisnya… Yoona tidak tahan untuk berteriak atas kepayahannya sendiri. Pijakannya runtuh. Yoona sudah tak bisa melihat apa – apa lagi, selain benda cair yang menggenang dipermukaan matanya. Yoona bergeleng tak percaya.

Pembicaraan Donghae barusan mengenai pesta atau apa pun itu, mengingatkan Yoona bagaimana wajah  Jessica ketika berbicara padanya, bahwa Ia akan mengadakan pesta dengan Donghae, tertawa bersama…  Dan percakapan itu benar – benar terwujud. Mengingat apa yang terjadi, Yoona ingin lenyap saja dari dunia ini kalau perlu. Kenapa harus Donghae? Kenapa takdir juga harus merenggutnya?! Yoona tidak punya siapa – siapa lagi, Donghae adalah  satu  – satunya harapan  Yoona  untuk  menuntunnya kepada sebuah pengertian mengenai  apa itu bahagia.  Selain Donghae tiada seorang pun yang bisa Ia percayai  dan  mustahil bisa. Harapan itu lenyap dan Yoona benar – benar sendiri.

Keadaan berbalik sepi, awan hitam membelai wajah Yoona. Suhu udara kelabu semakin  mencekik lehernya hiingga nada isak tangis Yoona benar – benar pecah, dan tanpa terasa bulir – bulir hangat meluncur drastis menimpa lantai.

Apakah sesakit ini? Sesakit inikah kehilangan seseorang? Tentu. Sayangnya Yoona tidak seharusnya  penasaran dengan itu, benar – benar bodoh bukan ?  Yoona sudah kebal  merasakan bagaimana itu kehilangan. Dan ini bukan pertama kalinya Yoona kehilangan seseorang…  Bahkan ini lebih sakit….

…………

Yuri selesai menyematkan beberapa lembar kertas pola yang telah Ia gunting diatas lipatan satin merah. Yeoja itu bersiap dengan gunting ditangannya dengan keringat berbanjir. Yuri benar – benar  takut melakukan kesalahan lagi seperti kemarin. Tanpa sadar bibir Yuri berkomat – kami seolah mengucapkan mantra. Bentangan meja putih dihadapannya dan beberapa mahasiswi yang juga tengah menggunting kain terlihat bagai siluman didalam neraka.

Sebanyak – banyaknya, Yuri menghirup oksigen. Ia menatap kain yang harus di potongnya detik ini. Baru saja  Yuri menggerakkan guntingnya, sebuah ponsel yang tergeletak diatas meja  berderit. Yuri menoleh dan meraih benda itu. Ia menghembuskan napas  ketika menyadari bahwa  ponsel itu miliknya.

Dahi Yuri mengernyit. Yoona? Lantas yeoja itu terbayang – bayang wajah Yoona yang kaget setengah mati setelah temannya itu mengingat sebuah hari special pagi ini. Yuri sudah membayangkan Yoona dengan seketika menepuk dahi mulusnya keras – keras.

“Hmmm Akhirnya kau menelpon ?!” Dengan percaya diri Yuri mengawali pembicaraan. Ia berdiri didepan pintu kelasnya sambil mengamati beberapa orang yang lewat.

Yuri memberengut, “Kau tahu? Tubuhku sudah dipenuhi lumut karena kau , aku terus  menunggumu memberi kado atau apalah…”

Tak ada reaksi dari seseorang diseberang sana, Yuri menatap layar ponselnya yang ternyanta panggilannya dalam keadaan aktif. Yuri bergeleng, berusaha menyingkirkan sekelebat firasat buruk yang menghampirinya tiba – tiba. Ia melanjutkan, “Hari ini  aku ulang tahun tau?! Jangan bilang kau lupa !” peringanya akan tetapi tak mendapat balasan apa pun. Berterbangan suara angin hampa yang menyahut didalam telinganya.

Kali ini Yuri meresa bahwa Ia tak bisa tinggal diam,  raut wajahnya berganti panik, “Yoona, kau masih disana? Yobose—“

 “Yul…” potong Yoona akhirnya, Yuri terdiam ketika pendengarannya menangkap helaan napas Yoona yang terdengar tajam.

 “Kalau aku menghilang dari dunia ini, apa tidak  ada lagi  yang bisa  marah padaku ?”

“Mwo?” Yuri mengeryit. Ia ingin berkata sesuatu tapi otaknya tiba – tiba dipenuhi oleh nada kekhawatiran hingga Ia bingung harus memulai darimana.

“Apakah semua orang  akan berbalik merindukanku ? Ya,  meskipun itu cuma pura – pura, aku akan sangat berterima kasih. ? Lalu berapa banyak yang akan menagis? Apa kau juga akan menangis?” Dari suaranya Yoona seperti antara menyeringai dan tersenyum sinis, entahlah. Yuri panik.

“Yoona, kau ini bicara apa sih?!”

“Tidak. Tidak ada yang akan menagisiku, mereka justru bahagia, itu artinya  beban mereka sudah hilang bersama dengan hilangnya diriku.”

“Kau sedang menulis diary, atau apa?” Terka Yuri asal. Ia semakin putus asa menanggapi  tingkah temannya.

“Kau bilang hari ini ulang tahunmu kan? Aku akan ke rumahmu sekarang  hanya saja  aku tidak  yakin bisa menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukmu. Maka sebelum itu aku punya satu permintaan,”

“Yakk—”

“Separuh napasku sudah pergi jadi kalau nanti selebihnya hilang, menurutmu  tak apa kan ? Aku  berharap  bahwa apa pun itu,  kau bisa menerima bagaimana wujudku nanti  saat berada didepanmu.”

“Yoona, kau mau apa ?!—“

Bip.

“Yoboseyo Yoona… Im Yoona ?!”

Yuri menatap ponselnya bimbang. Tanpa sadar Ia mondar mandir sambil mengacak rambutnya. Yuri tidak bisa berpikir mengenai apa yang harus dilakukannya. Sungguh Yuri tidak tahu menahu mengenai masalah Yoona dan Yuri tahu bahwa Ia tak berhak menerka – nerka tanpa bukti apa pun mengenai keanehan Yoona  yang terlalu mendadak baginya….

Tapi untuk Donghae… Yuri yakin Donghae mengetahui semua, asal muasal dari sikap Yoona yang tiba – tiba, Donghae punya andil tersendiri.

Yuri mencari nama Donghae dikontaknya. Berkali – kali ia salah menekan tombol akibat jemarinya yang mulai gemetaran, benda – benda itu bergerak semaunya  tanpa  bisa Ia kendalikan.

….tut.. nomer yang anda tuju…

Bip.

Yuri berdecak frustasi. Namja itu tidak mengangkat teleponnya. Lalu kemana sih dia?! Bahkan Yuri sudah menghubunginya berkali – kali dan Yuri langsung menyimpulkan bahwa menghubungi Donghae adalah hal sia – sia.  Donghae cuma menghabiskan waktunya sementara Ia harus bergerak cepat sekarang. Ya,  sebelum Yoona bertindak gegabah.

Tak ingin terperosok lebih lagi kedalam mimpi  buruk, lantas Yuri menerobos bagian pintu kelas, buru – buru Ia membereskan  seluruh  barang – barangnya diatas meja dan memasukkan benda – benda itu  sekaligus kedalam ransel ungu.  Tak Ia pedulikan aksi keheranan teman – temannya yang tiba – tiba hening. Yuri kabur begitu saja. Tatapanya berantakan dan Ia tak bisa mengingat apa pun kecuali tentang Yoona.

…………

“Apa kalian bertengkar ?”

Donghae terdiam ketika Eommanya bertanya. Namja itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah beberapa saat ia menggeleng.

“Bukankah Eomma ingin berbicara hal penting?” Donghae mengingatkan.  Beberapa saat lalu Eommanya menelpon dengan intonasi panik. Meskipun masih tersisa satu jam lagi sebelum  jam istirahat tiba, Donghae kabur begitu saja menuju kafe dekat kantornya, Ia benar – benar khawatir mengenai kondisi eommanya saat itu.

“Bisakah kau lebih mengerti soal kondisi Yoona..” ujar Nyonya Lee memohon,

“Itukah hal penting yang Eomma akan katakan?” Terka Donghae sekenanya. Nyonya Lee menghembuskan napas kasar.

“Hae dengarkan Eomma.” Nyonya Lee menginterupsi. Donghae menatapnya tanpa minat.

“Mungkin ini sulit bagimu tapi sesungguhnya Yoona mengalami kondisi  yang lebih sulit dari pada yang kau bayangkan.”

“Aku tahu.”

Nyonya Lee mengernyit memandangi Donghae yang berbicara tanpa menatapnya. Yeoja paruh baya itu tidak yakin bahwa Donghae benar – benar tahu. Reaksi Donghae terlalu datar  untuk menanggapi betapa gentingnya masalah Yoona.

“Benarkah kau tahu?” Nyonya Lee menekan setiap kata dari pertanyaannya.

Donghae mengakhiri tatapan liarnya dan menatap Eommanya penuh selidik. Perlahan Donghae menangkap adanya makna tersirat dibalik ucapan Eommaya.

“Kau ingat ? Siang hari ketika Yoona tiba – tiba berkunjung ke rumah.? Ia datang dengan wajah frustasi, Eomma mulai hawatir,” Nyonya Lee bercerita. Tanpa sadar Donghae menggiring memorinya berputar mundur. Hari ketika Yoona datang ke rumahnya, rumah keluarga Lee  dengan perasaan kacau balau. Kala itu  tengah terjadi kesalahpahaman antara Yoona, dirinya dan Jessica.

“Eomma ingin memberitahumu secepatnya tapi kau terlihat sibuk, dan lagi pula  kalian  berdua sedang bercekcok  hari itu  jadi Eomma baru bisa memberitahumu sekarang. Lalu ini memang soal Yoona”

Donghae menatap hawatir, sedetik berlalu Ia mengernyit, “Eomma, A-apa Yoona baik – baik saja?” tanpa sadar  intonasi suara Donghae melemah.

Nyonye Lee bergeleng, Ia menunduk penuh sesal, “Yang sebenarnya adalah kebalikan dari itu.” Jawab Nyonya Lee menghela napas, Ia berpikir sejenak,  “Awal kedatangannya Yoona tertidur di sofa dan mengigau. Dia mengigaukan sebuah kejadian lama  yang menimpanya,” Nyonya Lee menerawang jauh. Donghae mengerutkan kening melihat Eommanya  yang kini tengah sibuk memikirkan sesuatu.

*Flashback*

“Jangan lakukan ini, tolong…Tolong Aku ! Tolong Aku Siapa pun disana !” Nyonya Lee berjalan melewati seorang yeoja yang tengah tertidur disofa. Ia mengernyit bingung, Yoona? Yeoja itu tampak gelisah dalam tidurnya. Bulir – bulir peluh berjatuhan tanpa henti. Nyonya Lee menghampiri dengan dengan panik.

“Aniya.. Aku— Aku tdak bisa, Aku tidak bisa meninggalkanmu?! Kalau aku hidup kau juga harus hidup, kalau kau mati kita mati bersama Oppa !”

Langkah Nyonya Lee berhenti tiba – tiba. Lehernya serasa tercekik oleh kalimat Yoona yang terdengar meracau dalam tidurnya.

“Tuhan Kumohon jangan ambil dia…”

“Pergi dari situ ?! Awas kepalamu oppa ?!”

“ANDWAE !”

Yoona tersentak. Ia terbangun dari mimpi buruknya dan mendapati tubuhnya sendiri sedang terduduk di sofa. Yeoja itu bergeleng seperti orang linglung.

Nyonya Lee menghampirinya dengan mata sendu. Ia duduk disamping Yoona dan memeluknya seerat mungkin. Yeoja paruh baya itu tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang untuk mengembalikan Yoona yang kini  terdiam  dengan tatapan kosongnya itu.

Ditengah pelukan hangat yang menenangkannya, Yoona berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ini. Sekeras mungkin Ia melakukannya tapi wajah Donghae bersama Jessica tiba – tiba muncul. Yoona bergeleng tidak terima. Tanpa diperintah kedua tangan Yoona mencengkram kepalanya sendiri.  Yoona berusaha mengatur napasnya yang semakin  berhamburan. Ia menangis sejadi – jadinya sedangkan Nyonya Lee yang tanpa henti menyelimutinya dengan rengkuhan hanya mampu bergeleng pasrah. Nada  Isakan Yoona  terlalu menyayat  hingga kedasar hingga semakin lama, Nyonya Lee ikut  tenggelam  bersama tangisannya.

*Flsbck Ends*

  “Dan Kau tahu apa artinya?” Nyonya Lee mengusap air matanya yang perlahan tertumpah. Ia menatap Donghae ketika perhatiannya berpaling ke dunia nyata.

“Enam tahun silam, Ada seorang Dokter yang memantau kondisi Yoona sebelum  Appamu membawanya untuk tinggal di rumah kita. Ia berkata bahwa ketika anak itu kembali pada kebiasaannya mengigau dan memimpikan kejadian yang menimpanya dimasa lalu seperti sebuah film yang berputar acak, maka disaat itu pula kejadian – kejadian dalam pikirannya yang telah terkubur lama bangkit kembali.” Jelas Nyonya Lee menahan napas, Ia melanjutkan,  “Maksudnya adalah  dia akan mengalami halusinasi, seolah – olah kejadian buruk itu mengejar – ngejarnya seperi hantu,”

Terdiam. Donghae berusaha mencerna penjelasan Eommanya dengan tubuh kaku.

“Tapi ini tidak bisa terjadi begitu saja Hae.” Tambah Nyonya Lee memajukan wajahnya, “Yoona, sebelum kami membawanya untuk tinggal bersama, dia memang remaja yang punya semacam trauma saat itu tapi dia  baik – baik saja setelah kami  membawanya ke psikiater yang adalah  teman lama Appamu. Dan setelahnya,  teman Appamu memperingatkan kami bahwa Yoona harus dijauhkan dari hal – hal tertentu. Jangan sampai pikirannya menerima rangsangan yang membuatnya teringat  pada kejadian masa lalu.  Maka itu adalah  satu – satunya jalan  untuk mengubur  segala memori buruk yang Ia miliki.”

Nyonya Lee meremas kesepuluh jemarinya ketakutan, Ia menatap Donghae tak berkedip, “Oleh karenanya Eomma yakin pasti ada yang menyebabkan ini semua terjadi… Salah satu tanda bahwa  trauma itu kembali adalah mengalami mimpi buruk dan meracau tanpa henti. Eomma takut kebiasaan itu terus berlanjut dan membuat kondisinya semakin kritis.”

Donghae bergeleng tanpa sadar. Selama Yoona tinggal di rumah keluarganya, tidak sekali pun Donghae melihat tanda – tanda aneh pada diri yeoja itu. Ya, tak sekali pun kecuali malam itu. Untuk pertama kalinya Donghae merasa aneh dengan perilaku Yoona adalah ketika Yoona pertama kali melihat sikeparat itu masuk kerumah mereka dalam  kondisi mabuk. Donghae mulai ingat  wajah Yoona yang  kerap  kali memancarkan ekspresi ketakutan bahkan ketika mendengar nama orang itu. Dan akhir – akhir ini Donghae sering mendapati wajah Yoona yang berah pucat. Mungkinkah… Mungkinkah Yoona sering kali bertemu Shinjung, mengingat orang itu berkeliaran seperti gelandangan ditengah Seoul maka terbuka kemungkinan bahwa Shinjung kerap kali mengincar Yoona.

“Hae-ya, bukankah kau yang terus bersamanya selama ini… Eomma  yakin kau pasti tahu kapan persisnya Yoona sering mengalami ketakutan seperti itu ? Bukankah kau  selalu ada disampingnya? Eomma yakin kau pasti  bisa menebaknya dengan benar.” Nyonya Lee mengangguk yakin seraya menggenggam erat tangan Donghae.

Sementara itu Donghae tak bereaksi. Pandangannya melayang – layang entah kemana, Nyonya Lee semakin hawatir.

“Eomma menunggu jawabanmu Hae?!” Desaknya memperingati namun  tak juga menerima tanggapan. Nyonya Lee mengamati wajah Donghae. Namja itu seperti kehilangan nyawanya. Kini, Donghae lebih terlihat seperti mayat hidup.

Yeoja paruh baya itu mendesah putus asa, “Kalau kejadian – kejadian buruk yang dialami Yoona pada masa lalu terus menghantuinya, Eomma hawatir anak itu  akan gampang frustasi dan akhirnya—“

 “Jadi ada lagi belum kuketahui?!” Terawang Donghae.

Pertanyaan itu membelah situasi hening, Nyonya Lee memandangi sang pemilik suara tersebut prihatin,

“Hae—“

“Tentang Yoona.” Pangkas Donghae. Ia menatap Eommanya dengan mata nyalang, “Eomma, Jujurlah padaku.”

…………….

Donghae tertatih menembus kerumunan pekerja yang berjalan dari arah berlawanan. Orang – orang itu berbondong – bonding keluar  dari gedung untuk menikmati jam istirahat. Harusnya pada saat inilah Donghae datang menemui Yoona. Harusnya Donghae datang menemui Yeoja itu dan memeluknya erat. Donghae harusnya mengatakan bahwa semua akan baik – baik saja. Donghae sudah berjanji menjaga Yoona  da Ia harus bertanggung jawab atas janjinya.

Dan kenyataannya, Ia jahat bukan? Donghae sudah mengingkari janjinya dengan bersikap dingin pada Yoona. Donghae terlalu dikuasai oleh emosinya sendiri sehingga Ia buta akan perasaan seseorang yang jauh lebih sakit darinya.  Yoona pasti membencinya dan Donghae terlalu malu untuk bertemu yeoja itu. Ketika  sebuah ingatan Donghae berputar mundur, Ia terbayang – bayang cerita Eommanya. Mendadak napasnya berhenti, tubuhnya bergetar kaku dan kini tak ada lagi yang bisa ia harapkan  dari dirinya yang payah. Wajah Yoona  yang muncul dengan tatapan sendunya  semakin  mengurai tubuh Donghae menjadi  benda tak kasat mata.

*Flashback*

“Jadi ada lagi belum kuketahui?!” Terawang Donghae.

 “Hae—“

“Tentang Yoona.” Pangkas Donghae. Ia menatap Eommanya dengan mata nyalang, “Eomma, Jujurlah padaku.”

Nyonya Lee menarik napas seraya mengumpulkan keberaniannya. Beberapa saat kemudian, Ia memandangi Donghae lamat – lamat.

“Kau tahu apa alasan Appamu membawa Yoona tinggal bersama kita?”

Donghae bergeleng. Selama ini Ia menerima Yoona dengan senang hati, Donghae tidak membutuhkan alasan  apa pun dibalik keputusan  Appanya membawa Yoona untuk tinggal di rumah mereka. Dan Lagi pula tak sekali pun Donghae memikirkannya karena sejak pertama kali melihat Yoona memperkenalkan diri dengan tingkahnya yang canggung, Donghae sudah langsung menyukainya, ia  lantas melayang dengan segala anggapannya, bahwa Ia hidup untuk Yoona juga berlaku sebaliknya. Perasaan konyol itu, Donghae tak akan pernah lupa.

“Kau pasti menggangap Yoona adalah pengganti kakakmu yang telah tiada…”

Dalam diam, Donghae membenarkan asumsi Eommanya. Ya, mungkin kehilangan kakaknya pada saat itu membuat Ia lebih bisa menerima  kehadiran Yoona.

“Sesungguhnya pada saat itu, Appamu sedang membantu Yoona melarikan diri ke Seoul. Di desa, segala  kenangan buruk akan sangat  menyiksanya,”

Donghae mengernyit, “M-melarikan diri?”

“Ya, setelah kejadian itu Yoona kelihatan sangat frustasi. Yoona tidak  mau bicara bahkan menangis sekali pun, Ia hanya tinggal dengan tatapan kosongnya.” Nyonya Lee memikirkan sesuatu dibalik matanya yang berantakan.

“Setelah menerima telepon mengenai kejadian yang menimpa hyungmu di desa, Appa langsung menuju kesana. Ia bertemu dengan  sahabatnya,  tuan Im. Tuan Im sama frustasinya dengan Yoona, Ia lalu meminta Appamu untuk membawa anaknya pergi.”

“A-ku tidak mengerti Eomma, mengenai kejadian itu… kejadian apa?”

Nyonya Lee menghembuskan napas kasar, “Kejadian yang menyangkut Yoona dan hyungmu.”

“Mwo?”

“Meski tanpa Eomma dan Appa, setiap musim liburan hyungmu selalu pulang ke desa karena Ia menyukainya.  Disana Ia bertemu dengan Yoona dan Eomma pikir mereka sangat akrab. Hingga suatu hari…” ceritanya kemudian.  Yeoja paruh baya itu memandang kosong lalu bertanya, “Kau kenal dengan tuan Shin  bukan ?”

Donghae terkesiap. Tentu.  Ia tentulah kenal siapa orang itu. Dia adalah seorang mafia, dia adalah orang yang berusaha merenggut Yoona, anaknya bernama Shinjung dan Donghae ingin sekali menghajar anaknya itu, bahkan sekedar menilik batang hidungnya,  Donghae benar – benar muak.

“Untuk membayar biaya pengobatan istrinya yang sakit, Tuan Im meminjam sejumlah uang pada Tuan Shin.”

“Nde aku tahu.”  Tanggap Donghae dengan wajah tidak suka.

Seolah kehabisan tenaga, Nyonya Lee membiarkan suaranya meluncur begitu saja, “Menurut pengakuan seorang saksi yang adalah teman Yoona, sekitar jam sembilan malam, Yoona dan temannya itu  baru saja pulang dari rumah salah satu teman mereka. Berhubung karena jalan yang sering mereka lalui sedang dalam proses perbaikan, mereka  akhirnya mimilih jalan lain.” Ucapnya menerawang, “Jalan itu sangat gelap, sepi dan sunyi. ”

Nyonya Lee memandangi Donghae dengan ekpresi menenangkan. Ia tahu anak itu sudah membayangkan apa yang terjadi setelahnya.

“Tidak lama setelah mereka berjalan, bau alcohol mulai bercampur dengan udara disekitarnya.  Mereka tetap berjalan seperti biasa akan tetapi semakin lama aroma itu semakin menusuk hidung, ditambah lagi suara kekehan aneh dari sekelompok pemuda yang menghadang langkah mereka.”

“Eomma—“ Donghae menatap tak percaya.

“Dari sanalah semuanya dimulai. Saksi mengatakan, salah satu dari mereka  adalah Yoojung, kakak Shinjung atau lebih tepatnya putra sulung Tuan Shin.” Lanjut Nyonya Lee. Donghae bergeleng frustasi.

“Yoojung dengan aksen mabuk langsung meneriaki Yoona tanpa henti. Yoojung berkata bahwa ayah Yoona sudah berhutang banyak pada keluarganya dan mustahil Tuan Im bisa membayar seluruh hutang – hutangnya jadi, Yoojung menganggap bahwa Yoona bisa membayar seluruh hutang itu dengan tubunya…” Intonasi Nyonya Lee melemah,

“Dan semua tejadi… Yoojung hampir melakukan sesuatu pada Yoona.”

Sepasang tangan Donghae terkepal kuat. Detak jantungnya bergemuruh mendengar setiap kata yang meluncur dari lisan Eommanya. Kondisi tubuhnya amat  berantakan. Tak ada satu  pun kata yang meluncur dari lisannya menanggapi fakta yang baru saja Ia ketahui, karena dikepalanya kini hanya tertinggal niat untuk menghajar orang itu, orang  yang mencoba melakukan hal  menjijikkan itu pada Yoona, Donghae ingin segera melemparnya kedasar jurang.

 “Teman Yoona yang saat itu bersama Yoona di tempat kejadian, berhasil kabur dan meminta bantuan. Ditengah jalan Ia bertemu Donghwa dan tak disangka – sangka hyungmu langsung berlari untuk menyelamatkan Yoona…” Wajah nyonya Lee memucat. Dari balik matanya mulai hadir genangan – genangan  bening yang berkaca – kaca.

 “Sesuatu terjadi…” sesaknya  berusaha menahan rasa tidak rela yang kian menjadi. Ia melanjutkan bersama sisa keberanian, “Mungkin kakakmu berkelahi atau apa… Tapi setelah kejadian itu nyawa kakakmu tak tertolong dan Yoona, Ia selamat akan tetapi sikapnya lebih seperti mayat hidup.”

“J-jadi… Donghwa hyung meninggal bukan karena kecelakaan…” Donghae menyimpulkan lebih kepada dirinya sendiri. Keringat dipelipisnya mulai berhamburan. Mendadak tubuhnya sulit bergerak. Selama ini Donghae mengetahui bahwa Donghwa meninggal karena kecelakaan saat berlibur di desa. Ia tidak menyangka kalau cerita tersebut hanyalah rekayasa yang sengaja dikarang orang tuanya untuk menutupi kasus Yoona.

“Ada satu lagi Hae, tapi Eomma mohon kau jangan kaget…” tambah nyonya Lee yang seolah lehernya sedang  tercekik tambang.

“Sebenarnya teman Yoona yang meminta bantuan itu…” Ia menghirup oksigen diantara ketakutannya, sebelum mengaku, “Dia adalah Yuri.”

Kedua matanya kaku. Tanpa sanggup bekata – kata,  Donghae menatap Eommanya bingung .  Sungguh, Ia butuh penelasan lebih dari ini. Donghae bertanya – tanya diantara pikirannya yang kosong. Yuri… Apakah Yuri sudah tahu semuanya?

Nyonya Lee mengangguk sekali, “Yang kau pikirkan…  itu memang benar “ jawabnya, “Setelah kejadian itu orang tua Yuri langsung  memindahkan anaknya ke Seoul. Mungkin mereka ketakutan. Tuan Shin akan mengincar Yuri dan melakukan aksi intimidasi. Yuri adalah saksi dalam kasus itu.”

Donghae terdiam. Namja itu sibuk dengan pikirannya sendiri mencerna sebuah kronologi yang membuatnya tak sadar bahwa Ia masih bernapas dan berbicara dengan seseorang.

“Polisi menyelidiki kasus ini, tapi kau taulah… Yoojung, tersangka utama hanya dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas kasus pembunuhan.”

Donghae mendelik dengan  tatapan sulit diartikan, yang meski begitu, Nyonya Lee menterjemahkan tatapan itu seolah Donghae memintanya untuk berhenti berbicara. Peluang terbesarnya Ialah ketika  yeoja paruh baya itu  memaksa untuk  membicarakan hal ini lebih dalam maka Donghae akan mengamuk disini.

“Eomma—“ Panggilan Donghae mengalihkan perhatian Nyonya Lee. Sang Eomma balik memandang.

Dibelakang mata itu, tersisa luapan amarah yang memantul – mantul dikepalanya, rahang  Donghae mengeras. Ia membenci kenyataan ini, membenci bahwa Ia tak punya  apa – apa untuk merubah kenyataan. Bahkan untuk meratapi dirinya sendiri, hal itu terlalu sulit ia lakukan. Donghae terlanjur dibutakan oleh emosi yang menguasainya. Lebih dari apa pun, Donghae membenci ketidaksanggupannya  membayangkan  bagaimana penderitaan yang harus ditanggung Yoona selama ini. Dan ia terlalu bodoh untuk menyadarinya.

“Jadi hanya aku yang tidak tahu?” Terka Donghae usai menggali beberapa saat.

“Ani, kau dan Krystal.” Sangkal nyonya Lee lalu memandang dengan sejuta permohonan.

“Donghae-ya mengertilah,” Pintanya mendalam,  “Eomma dan Appa tidak mau mengungkit  masalah ini lagi. Kami tidak ingin kau hawatir karena kelihatannya kau sangat menyayangi Yoona. Dan lagi pula setelah melakukan terapi, Yoona sudah bisa menjalani kehidupannya dengan normal.”

“Mwo?” desisnya pelan. Memikirkan apa yang terjadi selama ini, Donghae menggigit bibir bawahnya kuat –kuat dan memejamkan mata.

“Hae-ya, Eomma melakukan ini semua untuk membantu Yoona menghapus masa lalunya—“

“Nde Aku tahu… Aku tahu Eomma !” tarikan napas kasar menjedanya, “Tapi meskipun begitu, tidak bisakah Eomma jujur padaku lebih awal?” sanggah Donghae menatap Eommanya tajam. Sejurus kemudian Ia mencecar frustasi,  “Dan sekarang, seandainya Eomma menjadi aku, apakah Eomma akan merasa bahwa  selama kami hidup berdua, sikap Yoona normal ? Dan seandainya Eomma menjadi aku, Apakah Eomma bisa menerima ketika Yoona masih saja mementingkan seorang namja yang  sudah tiada bahkan Ia lebih menganggapnya ada dibandingkan aku yang jelas – jelas berdiri didepannya—“ Donghae bungkam. Mendadak Ia tersadar akan ucapannya yang  nyaris melampaui batas. Meskipun Nyonya Lee adalah Eommanya, tidak seharusnya Donghae mengumbar  begitu saja masalah antara dirinya dan Yoona. Akan ada banyak masalah yang melebar  kalau sampai Ia melakukannya.

“Semenjak namja itu, si pemabuk yang bernama Shinjung itu  datang mengganggu Yoona, Aku selalu merasa kalau Yoona menyembunyikan sesuatu dariku.” Nada suara Donghae merendah. Ia menunduk sesal. Hanya kalimat itu yang mampir diotaknya.

“Shinjung?” Wajah nyonya Lee menegang, “A-apakah Ia menemui Yoona? Dan apa maksudmu dengan mabuk— Donghae-ya—“

Donghae menghela napas. Ia memejamkan matanya dengan berat hati. Sepatah  kata untuk menjelaskan segala yang terjadi menguap entah kemana. Donghae tidak tahu dari mana ia harus menjelaskan semuanya kepada sang Eomma yang masih tampak menungguinya untuk berbicara sesuatu. Donghae benar – benar bingung.

Lalu pada akhirnya Donghae menceritakan betapa Ia mulai curiga dengan sikap Yoona yang seringkali merasa gelisah tanpa sebab, atau sikap Yoona yang kadang kala menunjukkan rasa ketakutan mendalam, begitu pula dengan kalimat – kalimat Yoona yang tidak pernah Ia mengerti.  Entah alur pembicaraannya jelas atau tidak,  Donghae berusaha menjelaskan dengan   bibirnya yang beku.

“Mianhaeyo, seharusnya Eomma membiarkanmu tahu  masalah ini lebih awal… Mianhae.” Sesal nyonya Lee dibarengi oleh tetesan  bening yang menganak sungai diwajahnya.

“Tapi tolonglah… Jangan sekali – kali bersikap kasar padanya… Karena sikap kasar dari seseorang dapat membuka ingatan Yoona mengenai kejadian itu, Eomma mohon.” Pinta Nyonya Lee kembali.

Wajah Donghae memucat. Ia mematung menatap Eommannya yang tengah  memandanginya  penuh harap. Tak terbantahkan lagi, Donghae pernah bersikap kasar pada Yoona. Ditengah emosi, Donghae  terus saja menciumi Yoona meski pun yeoja itu memberontak sekuat tenaga. Dan ciuman itu berakhir dengan tamparan keras.

*Flsbck Ends*

Donghae berjalan lemas. Tanpa Ia sadar kapan persisnya, namja itu berjalan meraba – aba dipermukaan tembok. Bahkan untuk membantunya berjalan, Donghae harus menggantungkan hidupnya pada sebuah tembok. Kali ini pijakannya benar – benar runtuh.

Jadi Donghwa sudah  menyelamatkan Yoona sampai Ia rela mempertaruhkan nyawanya ? Dan karena itu Yoona tidak bisa melupakannya, begitukah?

Donghae tersenyum miris. Ia mengingat kembali alasan yang pernah diutarakan Donghwa padanya. Donghwa selalu bercerita bahwa Ia sangat menyukai kampung halaman mereka kerena satu alasan. Seorang gadis. Seorang gadis yang selalu ingin dilihatnya setiap hari bahkan Donghwa berencana untuk tinggal di desa demi melihat gadis itu sepanjang waktu, pikiran konyol itu meluncur dari seorang remaja yang masih labil.  Maka kini segalanya  terbuka lebar. Gadis itu Yoona, bukan?

Terlepas dari apa yang terjadi, Donghae menginginkan Yoona untuk tinggal disisnya dan hanya melihatnya, Apa sesulit itu? sesulit itukah merengkuh satu hati?

Tapi Donghae tak bisa memaksa. Memaksa bukan keahliannya.

Jadi sekarang, membiarkan Yoona tetap seperti itu adalah pilihan yang terbaik. Asalkan bisa melihat Yoona setiap  hari, memandangi senyumnya dan tinggal disisnya sepanjang waktu, Donghae rela menaggung apa pun. Mungkin rasanya sedikit sakit, tapi Donghae percaya bahwa  lama – kelamaan Ia akan terbiasa dengan semua itu.

Tapi bagaimana dari sisi Yoona?  Apakah Yoona masih sudi menerimanya?  Bahkan Donghae tak berani memikirkannya.

Alasan utama yang membuat kepala Donghae berputar saat ini ialah rasa bersalahnya terhadap Yoona. Ia gagal memenuhi janjinya menjaga yeoja itu. Sekarang juga, Donghae ingin sekali datang memeluk Yoona, mendekapnya erat lalu memohon padanya  agar Ia bersedia  tinggal sebagai  satu – satunya tulang rusuk  Lee Donghae yang bodoh ini.  Tapi Donghae  sadar bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mewujudkan mimpi itu. Donghae  membutuhkan waktu sendiri untuk mencerna kesalahannya yang terlanjur menggungung.

Sepasang mata Donghae memejam. Punggungnya membentur tembok dan tanpa sadar kepalanya ikut membentur berulang kali. Bunyi deguman tembok sekilas menyambar telinganya, persoalan Ia tidak merasakan apa pun adalah diluar kewajaran.  Donghae menatap nanar segerombolan orang yang tengah mengantre di depan lift.  Donghae menghela napas memandangi lift yang akan membawanya kelantai atas mulai bergerak lamban, benda itu masih tersangkut dilantai lima.

Sepasang mata Donghae kembali memejam. Ditengah rentang waktu menunggu, wajah Yoona tiba – tiba saja hadir dalam pikiran kosongnya. Donghae tak bisa berbohong, sedingin apa pun sikap yang Ia tunjukkan didepan Yoona selama ini, Dibalik itu, Donghae amat sangat merindukannya. Dan kerinduan itu berubah menjadi berkali – kali lipat usai pengakuan Eommanya beberapa saat lalu. Pengakuan yang tidak hanya mengundang kerinduan tetapi juga rasa penyesalan yang lebih dalam.

“Yak Donghae –ssi kau kemana saja?” Donghae membuka matanya dan seorang namja berkacama sudah berdiri didepannya. Fokus penglihatan Donghae berpaling kearah pintu lift yang baru saja dimasuki oleh segerombol orang yang sejak tadi mengantre.  Mungkin saja namja dihadapannya ini baru saja keluar dari lift.

“Kenapa kau kabur ditengah jam kerja? Tadi Bos mencarimu.” Ujarnya mengintrogasi. Donghae menatapnya sebentar lalu  menatap lift didepan sana bergantian.

“Baiklah aku akan menemuinya nanti, Gomawo.” Donghae membungkukkan tubuhnya dengan terburu – buru . Kedua kakinya melangkah cepat menuju lift yang sebentar lagi menutup.

“Yak .. Yak kau mau kemana? Aku belum selesai bicara.”  Interupsinya seraya menahan lengan Donghae. Dari saku celananya Ia mengeluarkan sebuah benda hitam persegi. Donghae mengernyit, itu ponselnya.

Belum sempat Donghae bertanya tentang bagaimana ponselnya bisa berada ditangan orang itu, namja dihadapannya menjelaskan lebih dulu, “Tadi seseorang menelponmu beberapa kali.” Jelasnya, “Mereka berpikir kalau kau pergi ke kafe. Kebetulan  Aku ingin pergi ke kafe untuk menemui seseorang jadi Sungmin menitipkan ponselmu  yang tertinggal ini padaku.”

Ah, Donghae baru sadar. Setelah Eommanya menelpon dengan nada panik, Ia tidak memikirkan apa pun lagi termasuk dimana letak ponselnya kala itu.

Namja itu meyodorkan ponsel ditangannya, Donghae meraih benda itu. Alisnya bertaut ketika pandangannya beradu dengan  layar  yang  bertuliskan sembilan panggilan tak terjawab.

“Sungmin sempat  mengangkatnya sekali dan katanya  Ia langsung kaget karena yeoja diseberang sana marah – marah memanggil namamu.” Ujarnya lagi dengan wajah serius.

Ia menatap Donghae prihatin, “Kau harus menelponnya kembali. Mungkin telah terjadi sesuatu.”

Donghae memikirkan apa yang baru saja didengarnya. Pikiran – pikiran buruk mulai berterbangan. Kalau pun benar, semoga hanya salah sambung.

“Nde Gomawo.“ Usai berkutat lama, Donghae tersenyum singkat kepada namja dihadapannya. Donghae sedikit menyesal bahwa Ia telah mendiamkan orang itu.

Drt… Drt… Drt… Ponsel Donghae berderit. Layar yang menyala – nyala mengundang perhatian orang itu.

“Nah ada penelpon lagi, angkatlah.” Ujarnya spontan.

Donghae membungkuk pamit. Ia berjalan memunggungi namja tadi sebelum akhirnya menekan tombol terima. Perasaan was – was menggerayangi pikirannya yang mulai kalut. Terlebih lagi Donghae tak mengenal nomer sang penelpon.

“Yoboseyo—”  Sapa Donghae yang tak lama kemudian langsung disambut oleh berjuta peluh yang meluncur dari pori – pori kulitnya. Donghae tak menanggapi apa pun ketika seseorang diseberang sana mulai berbicara tanpa henti, Ia membatu. Tatapannya menerawang tak percaya  dengan apa yang baru saja didengarnya.

“A-apa maksudmu? K-kenapa dengan Yoona?”

Dan petir seolah menghadang kepalanya detik itu juga. Gemuruh napas Donghae berhamburan. Namja itu kehilangan pikirannya, Ia segera berlari menembus jalanan terik yang berliku. Apa pun diterobosnya hingga seorang yeoja berambut pirang yang menjadi salah satu korban hanya sempat bergeming heran. Sepasang matanya tanpa berkedip memandangi punggung Donghae yang kian menjauh.

“Apa yang membuatmu seperti ini, Oppa?” lirihnya tersenyum miris  dengan kilat cahaya dimatanya.

………TBC………

Huaa akhirnya selesai juga part ini huftttttfff

Awalnya  pengen ngetik buat satu part eh malah kebablasan jadi 7700+ words O___0

Karena sudah terlanjur makanya aku post aja semua ngehehe😀

jadi jangan heran kalau pas lagi baca, Readers-deul malah mikir, “Ini koks nggak habis – habis ya ceritanya? Kalo duit yang nggak habis – habis sich aku seneng LOL :-D” #Canda dinggg

Untuk part selanjutnya mungkin nggak akan sepanjang ini, jadi jangan bilang part selanjutnya kependekan yaaaa, karena justru  part inilah  yang kepanjangan  hehe😀

Bye – Bye ^____^

57 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 9 )

  1. tryarist w berkata:

    yooona knpa jgn smpai dia knapa2,,,,,,,,,,,trnyta hdup yoona tragis bgeeeetttt,,,,,

    ayooo hae oppaaaa pasti nyseellll dechhhhhh,,,,,
    kpn mreka bsa jdi suami istri yg bhgia siiiiiccchhhh susah amatttttttt,,,,,critanya mkin rumit ajaaaaa ,,,,,,,trus smpai kpnnn yoonhae ky gni bosen jg lma2,,,,,,,,,,,,kyaknya yoona dah mulai ada rsa lebih bwt hae,,,,,
    next pasti bkal ada msalah lgi yg rumitttt,,,,,,,,,

  2. han ji bin berkata:

    akhir’a semua rahasia terbuka, tntg trauma yoong, tntg si pemabuk dan kematian donghwa
    tinggal nunggu perasaan yoong ke hae nti bagaimana
    chingu aq suka part ini feel’a dpt bingiiitt dah gt aq langsung ngerti jln crta’a
    please chingu di lanjut tpi jgn lama2 ya chingu soal’a lg penasaran akut nii chingu
    kira2 yoong mau ngelakuin apa ya, mdh2an hae gk trlmbt
    aq tunggu next chapt’a kepanjangan sii gpp asalkan jgn kpendkan
    semangat chingu wat nulis ff
    gomawo

  3. HaeNy Choi93 berkata:

    Tuh kan Donghae jadi menyesal setelah tau masa lalu Yoona yg benar2 tragis.
    Kasian juga sih sama Yoona.

    Lalu tentang Donghwa.. Aku yakin bukan perasaan yg seperti itu yg di maksudkan Yoona ke Donghae. Mungkin Yoona tidak bisa melupakan Donghwa larna ia lelaki yg berjasa buat dia.
    Dan semoga Yooona baik2 saja.
    Pleasee. Mikirku td dia seolah2 akan bunuh diri..
    Nextnya beb.. Ditunggu ya?

  4. Monicha pyrofnsdeerfishy berkata:

    Hufth rumitnya kisah yoong eonni di masa lalu,kasihan. Donghae oppa baru tau masalah yoong eonni baru sadar kalau sikapnya bikin yoong eonni depresi. Yoong eonni kenapa,? Donghae oppanya sampai panik kek gitu.nice chingu chaptrnya panjang banget jadi seru bacanya,nggak bakaln bosan kok kalau ceritanya bagus kek gini wkwkwk,jadi penasarn sama nextnya, Next di tunggu,YH jjang..!!

  5. ina gomez berkata:

    mudah2an yoona eonni gak berbuat hal2 yg nekat..akhirnya hae oppa tau pa yg terjadi ma yoona eonni,kshan yoona eonni hrs mngalami truma bertahun2 epas skrg dh sembuh mlh kambuh lg gr2 tu si mnusia krang ajar muncul lg..ditunggu nextnya min

  6. deer sria berkata:

    .mantab…puas baca.a…
    .smoga yoona ga papa…kasian yoona…punya trauma yg serem…
    .itu yg ending cwe.a jessi yah…

    .ayo d.lanjut thor…

  7. aisyadewi c'hyunmin loverz berkata:

    Akhh … ada apa dgn YoonA ?????
    Jngan smpe sesuatu yg buruk trjadi sama YoonA , semoga Yuri & Donghae ga trlambat sblum YoonA berbuat nekat,
    Bener2 ga yangka masa lalu YoonA serumit itu ..

    Ditunggu Next Chapter nya Author ^^^ …

  8. 착한 여자 berkata:

    gag tahu ya..sbnarnya yg salah disini itu siapa…
    yoona yg tak mau trbuka atau si donghae yg salah ambil ksimpulan…
    yoona jngan brtindak macam-macam..
    lanjut ne..

  9. clouds... berkata:

    Emosinya semakin dapet.. seakan akan readers adl pemerannya, jd bner2 dapet banget feelmya.. greget pengen baca kelanjutannya..
    Beneran deh q gk suka bgey sma kta2 tbc tuh… hihhhh

  10. Rahmania berkata:

    Hemm….complicated,gk bs nyalahain donghae yg gk tau apa2 jd gk slh klo donghae pnya pemikiran sprti itu kpda yoona.sbnrnya pokok permslahannya hnya 1 yaitu ketidak jujuran.

  11. Queenzha berkata:

    hah ini semua gara2 shinjung! Kalo bukan krn orang itu, yoona gak akan kambuh dan teringat masa lalunya lagi !
    Hua donghae jd serba salah… Aku kasihan bngt, dia kayak nggak jelas gitu hikzz T_T
    dan apakah yoona merasa bersalah pd donghwa sehngga ia g mau membuka hatinya untk hae?
    Ataukah dia jg sdh trauma kehilangan orang yg dicintainya? Akh rumit bngt ! Belum lg masalah sica ! Dan lg apa yg trjadi pada yoona?!
    Msh bnyk pertanyaan. Please jangn lama2 updatenya *_*

  12. nindy YH berkata:

    kok aku mikir kalo perasaan yoong buat donghwa cman skedar prasaan mengenang org yg tlah b’jsa ya???
    Aku rasa yoong px prasaan ma hae tp ia gak enak ma hae krn sdh melibatkan donghae dlm masalahnya… Hmm apalg dulu dongwa jg sdh mexelamtkanx dr keluarga shin, skarang hae yg mncoba ngelindungin dia tp dng cra berbeda… mngkn yoona jg trauma dengn itu…Next thor

  13. cha-cha berkata:

    Wara… D partai nie semua teka teki terjawab sudah.., fiuhhh
    Tpi Yoona knp??! Jangan2 dya bunuh diri lagi, andwe!!!!
    D tunggu bgtzz next partya

  14. Husni berkata:

    Duh hidup yoona penuh perjuangan bgt yayy. Yoona kayaknya udh mau nyerah ama hidupnya yg rumit itu -_-
    aku mikirnya tujuan Appa Amma hae itu baik, mrk pen ngapus memori buruk seolah-olah g pernah terjadi.. Tp yg terjadi memorinya balik lg dan hae beserta para readers FF ini jadi bingung “what happened with yoong?” part ini udh menjawab semuaaa dan denger cerita umma lee benar2 berasa horor hehe.
    Apa yg dilakukan hae, yoong, yuri, jessi, appa umma lee… Penasaran bingit nihhh -_-
    Next part jangan lama2 please dong authooooorr, kalo bisa besok udh jadi dan lebih panjang #evilsmirk
    cemungut buat ff yoonhae nyaaa

  15. eilistha berkata:

    akhirnya semua rahasia terbongkar…
    yoona waktu tlfon yuri kyak orang yg udah putus asa, apa jangan” dia mau bunuh diri..
    jangan sampai deh…
    d tnggu lnjutannya..

  16. Haeril Jjang berkata:

    oh.. da ap dg yoona?ap dy mncb bnuh diri..
    haeppa tlong slmtkn hti yoona hny u lh yg bs mlkuknx.next chapx jgn lm2 chingu..

  17. Riska Calistha Lee berkata:

    Hebat thor ff’nya..
    Sukses buat aku menangis. Kasian ya Yoona, mau bahagia aja susah.. FF’nya keren.:)

  18. aprill berkata:

    Bca part 9 dlu..hehe
    Ntah kyana prnh bca ini FF..khdpn rmh tngga YH complicated bgt..kasian Yoonanya,Hae krg peka jd cowok..huft-,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s