FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 8 )

Image

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Part 8

Seolah  langit  runtuh nenimpa kepalanya,  tubuh Yoona berubah kaku dan tak ada satu kata pun yang singgah diotaknya,  , “Itu—“

“Ayo makan.” Tanpa wajah curiga sedikit pun, Donghae tersenyum mengangkat bungkusan plastik ditangan kanannya.

Pikiran Yoona menjadi kosong,  Menggunakan jemari kaku dan bergetar Yeoja itu sedikit mencengkram satu buah potret ditangannya, yang tanpa Ia sadari benda itu remuk oleh jemarinya sendiri.

Yoona menarik sudut bibirnya membalas senyum itu, “Baiklah, aku… akan menyusulmu.”

Donghae mengangguk mengerti. Ia segera pergi meninggalkan Yoona sendiri dan menutup pintu kamar. Yoona menghela napas setelah memastikan bahwa Donghae sudah benar – benar pergi. Yoona meraba detak jantungnya sendiri yang bekerja amburadul. Pantas jika Ia merasa bahwa napasnya menipis dan pikirannya terombang – ambing seperti melayang ditengah laut, Yoona tidak tahu kapan ia tenggelam dan terlepas dari semua ini. Pikiran gila tiba – tiba menyerangnya, Yoona ingin menghilang dari kehidupan Donghae dan memintanya melakukan hal serupa namun begitu  menghilang adalah satu – satunya cara yang paling ampuh sekaligus menyakitkan bagi Donghae dan Ia akan menyakiti dirinya sendiri kalau sampai Donghae terluka.

Cukup lama terhanyut dalam pikirannya sendiri, Yoona bangkit dari posisinya kemudian berjalan menemui Donghae yang kelihatan sedang tertidur disofa. Yoona menghampirinya dan sadar bahwa Ia sudah terlalu  lama membuat namja itu menunggu. Yoona berrniat membangunkannya tapi niat itu terhalau sesuatu. Tiba – tiba Yoona merasa terganggu dengan wajah Donghae yang begitu tenang dalam tidurnya. Tangan Yoona terangkat untuk menyentuh wajah mulus itu, sedikit demi sedikit tangan itu melaju  kemudian  bergesekan tipis dengan kulit Donghae.

Gerakan Yoona berhenti seiirng matanya yang menangkap geliatan tubuh Donghae. Buru – buru Yoona menarik tangannya kembali. Seketika Yoona menegapkan tubuhnnya dan bersikap seolah Ia baru saja berdiri disitu ketika Donghae mengerjapkan matanya.

Donghae terkejut mendapati Yoona sudah berdiri didepannya. Ia lekaas bangun dari posisi baring seraya membasuh wajahnya yang tampak letih, “Ah, apa aku ketiduran ? mianhe,” sesalnya.

Yoona membuka telapak tanggannya, “Mana?” Ia menagih , Donghae mengernyit, “Mwoya?”

“Makanan.”

 Donghae berusaha keras  mengingat sesuatu bahkan ketika pandangannya masih rabun, “Oh iya, kau benar.”  Gumam Donghae menjernihkan pikirannya kemudian menarik tangan Yoona segera.

Fokus pandangan Yoona terkunci oleh genggaman tangan Donghae yang membungkus jemarinya. Genggaman itu membuat Yoona merasa bahwa Ia tidak sendiri, Donghae selalu disampingnya dan berdiri memeluknya dalam menghadapi takdir apa pun bahkan Yoona merasa kini, genggaman itu berhasil menghangatkan perasaannya yang dingin.

Satu persatu perlakuan Donghae padanya membuat Ia merasa istimewa. Kerap kali Donghae menaburkan benih ketenangan seolah  namja itu tahu segalanya yang mungkin Donghae belum mengetahuinya.  Kerap kali Yoona berpikir ulang mengenai ini, bagaimana jadinya biIa Ia tidak bisa melupakan orang itu  padahal  Donghae terlampau baik padanya?

“Kau harus menjawab pertanyaanku, kalau jawabanmu bisa kuterima, aku akan memberikanmu satu buah sushi untuk satu pertanyaan, sebaliknya kalau jawabanmu tidak bisa kuterima, aku tidak akan memberikannya padamu, mengerti?”

Donghae menekan bahu Yoona dan membuat yeoja itu duduk didepan meja makan sementara Ia duduk disebelahnya. Didepan mereka tersaji sepiring sushi yang terbungkus oleh tudung merah. Yoona menatap benda itu tidak sabaran lalu tatapannya beralih kepada Donghae yang berbicara lagi.

“Bagaimana?” ujarnya meminta persetujuan.

Yoona mendorong wajahnya  mencerna penjelasan Donghae yang menurutnya kekanak – kanakan, “Baiklah tapi apa cuma kau yang boleh bertanya?”

“Tidak.” Jawab Donghae, “Kau juga boleh mengintrogasiku, lakukanlah sesukamu.”

Yoona terkekeh, “Kau sedang kehilangan ide romantis atau apa?”

“Sepertinya.” Donghae mengangkat bahu seraya membuka tudung saji yang memperlihatkan dengan jelas sepiring sushi ikan tuna yang sangat menggiurkan dimata Yoona. Berkali – kali Ia menenggak ludahnya karena hal tersebut.

Donghae mengambil sepasang sumpit diatas piring dan menatap Yoona, “Karena aku yang mengajakmu, jadi aku yang harus memulainya, begitu kan?”

“Menurutmu aku bisa apa?.” Yoona mengangkat bahu pasrah.  Donghae membalasnya dengan senyum.

“Yang paling kau inginkan sekarang ?” Seketika Donghae mengajukan pertanyaannya seraya menopang dagu sementara itu Yoona langsung mengacungkan telunjuknya kearah  sushi diatas meja sebagai jawaban , membuat Donghae terkekeh.

“Baiklah, kau menang.” Putus Donghae mengambil sebuah sushi dengan sumpitnya kemudian menyuapkan  Sushi itu kemulut Yoona.

Usai menelan habis makanannya, Yoona tersenyum dan melanjutkan bicaranya, “Terbebas dari ketakutan, menjalani hidup seperti air yang mengalir tanpa dihantui rasa penyesalan.”

“hmm?”

Melihat Donghae terheran – heran, Yoona menghela napas, “Kau sedang bertanya apa yang paling kuingikan, bukan?”

Donghae mengingat pertanyaannya beberapa saat lalu kemudian mengangguk pelan. “Ah itu—”

“AAa” Yoona membuka mulutnya lebar – lebar. Ia merasa  kalau pertanyaan Donghae terjawab untuk kedua kalinya.

“Aishhh, kau menjebakku dengan jawaban ganda, baiklah.” Pasrah Donghae kembali memasukkan sebuah Sushi kedalam mulut Yoona. Yeoja itu mengunyah dengan lahap.

“Hal yang paling kau takutkan?” kedua kalinya Donghae mengajukan pertanyaan. Yoona berhenti mengunyah,  tidak lama setelah itu, Ia menelan makanannya sekaligus. Samar – sama ekspresi keterkejutan membias diwajahnya.

“Pertanyaanmu sejenis dengan yang tadi.” Tanggap Yoona dibarengi tawa kecil. Donghae memajukan wajahnya, “Dan jawabanmu?”

 Yoona terdiam sebentar kemudian menjawab, “Yang paling kutakutkan adalah Kehilangan seseorang dan tidak pernah bisa melupakannya. Seseorang itu selalu membayangimu, hadir didalam mimpimu bahkan membuatmu hidup dalam pengandaian – pengandaian tidak berguna juga perasaan bersalah karena tidak bisa berbuat apa – apa untuk membutanya tidak hilang dari sisimu.”

“Jawabanmu terlalu berlebihan, aku tidak bisa menerimanya.” Tolak Donghae yang berarti Yoona tidak mendapatkan jatah sushinya.

Yoona memberengut, “Mwo-ya? Kenapa begitu?”

“Apakah melupakan seseorang begitu sulit ?” Tantang Donghae. Yoona terkekeh seperti biasa namun entah mengapa, kekehannya itu berubah miris dalam pendengaran Donghae,

“Itu sangat mudah seandainya Ia tidak meninggalkan bekas apa pun. Kalau bekas yang ditinggalkanya sangat dalam,  kupikir akan sulit untuk menghapusnya.”  Jawab Yoona, tanpa sadar Donghae bergumam penasaran,

“Bekas?”

“Dihatimu, bekas dihatimu.” Jawab Yoona seolah – olah Ia menyaksikan sesuatu yang entah apa, “Mengenai segala sesuatu yang kalian alami selama ini juga  bagaimana cara dia memperlakukanmu, alasan mengapa kau sangat menyukainya. Semua itu meninggalkan bekas. Bekas itu… aku ingin menguburnya tapi bekas itu terlalu dalam, sangat sulit bagiku menimbunnya.”

“Ah kau benar, pasti sangat sulit.”

Yoona mendongak menatap Donghae yang tiba – tiba menimpali. Namja itu tersenyum tipis membuat Yoona bingung apakah Donghae menerima jawabannya atau tidak. Lalu haruskah Ia membuka mulutnya  agar Donghae memberinya sushi? Yoona  mengigit bibir bawahnya ragu mengingat perubahan atmosfer  diantara mereka—Ia dan Donghae— mengalami penurunan drastis, menumbuhkan hawa dingin yang membuat Yoona sedikit merinding.

“Aku juga sulit kalau harus melupakanmu.” Tambahnya kemudian. Donghae menatap Yoona tepat dimatanya. Cukup lama mereka bersitatap hingga Yoona memalingkan wajahnya.

“Jadi apakah aku berhak atas sushi itu?” Yoona mengangkat alis penasaran. Donghae tersentak oleh pertanyaan Yoona kemudian menyuapi Yoona dengan sushi ketiga.  Donghae memajukan wajahnya ketika Yoona menggigit ujung sussi dan Cup…  Satu kecupan membuat Yoona terbelalak. Setelah berhasil menggigit ujung sushi yang berada diluar, Donghae melepas kecupan itu  namun Ia kembali menempelkan bibirnya ketika Yoona tak kunjung mengunyah setengah dari sushi yang berada didalam mulutnya.  Segera bibir Donghae mengelap serpihan – serpihan sushi yang tampak berserakan membuat Yoona susah bernapas. Ia menatap dengan tatapan kosong namja yang kini sedang tersenyum bodoh seraya mengunyah setengah lagi dari sushi miliknya.  Yoona ingin melakukan sesuatu tapi bahkan menggerakkan lidahnya saja Ia tidak bisa.

“Kau tidak mau menamparku?” Donghae bersiap – siap memasang wajahnya. Kelihatan bahwa namja itu mencoba bermain main, atau entahlah.

“Yak Sincah !” Usai kesadarannya pulih, Yoona menoyor kepala Donghae. Namja itu mengaduh.

Yoona meniup – ubunnya, “Jangan mempermainkanku karena itu sama sekali tidak lucu ! Lagipula untuk apa menamparmu? Hal seperti  Ini jauh berbeda dengan pemaksaan dan kekerasan yang kau lakukan  saat dimobil itu?!” Tiba – tiba Yoona teringat lagi pada kejadian saat Donghae menciumnya didalam mobil yang membuat emosi Yoona memuncak.

“Kapan aku melakukan pemaksaan dan kekerasan padamu?”

“Tentu saja saat…”Yoona menarik napas, “ Apa Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika situasi diantara kita saat itu sedang  dikendalikan oleh emosi yang meluap – luap  dan kau dengan sesuatu yang menuntut… kau tiba – tiba… Aishhh sudahlah.” Cecar Yoona mengacak rambutnya. Ia benar – benar ingin melenyapkan kejadian itu dikepalanya.  Antara kekesalan juga rasa bersalah. Sesungguhnya Yoona merasa kalau Ia sungguh jahat telah menampar Donghae hanya saja, dirinya seperti itu karena punya alasan.

“Aku tidak menerima jawabanmu karena aku tidak mengerti,” ujar Donghae atas pertanyaannya yang berupa, ‘Kapan aku melakukan pemaksaan dan kekerasan padamu?’ Yang ditanggapi oleh  Yoona dengan kernyitan bingung, Yoona bahkan tidak tahu pertanyaan apa yang namja itu ajukan sebelumnya.

“Kau tidak bertanya, kenapa aku tidak mengerti?”

“Huh?”

Donghae terdiam beberapa detik, “Kau punya trauma?” ujarnya seketika Yoona menoleh.

“Kau pernah mengalami kekerasan sebelumnya ?” tambahnya lagi ketika tak ada suara yang menjawabnya. Donghae menatap Yoona dengan senyum samar yang bergelantungan dikedua sudut bibirnya. Sementara itu,  Yoona tidak berekasi apa pun kecuali wajahnya yang berubah pucat.

 “Apakah… Apa ada yang pernah melakukan sesuatu padamu sehingga—“

 “Cukup.” Yoona melerai. Senyum Donghae memudar. Ia sedikit kaget dengan reaksi yeoja dihadapannya. Yang tampak saat ini,  Yoona memejamkan matanya seolah tidak terima dengan apa yang baru saja Ia dengar.

“Kenapa kau malah bertanya hal seperti itu padaku ?  urus saja  pekerjaanmu dengan Jessica?!” Yoona menatap Donghae tidak suka.

Donghae mnegernyit, “Kenapa kau malah membahas Jessica?”

“Aku seperti ini karenanya.” Timpal Yoona. Apa?”

“Kalau saat itu aku tidak melihatmu dengannya… Aishh sudahlah aku benci mengingat ini.  Aku tidak menyukai Jessica atau, atau siapa pun yang, akhhh…” Lagi – lagi Yoona mengacak rambutnya frustasi. Ia menatap Donghae sekilas dengan napasnya yang memburu.

Tak ada kata yang bersinggah ketika Yoona meninggalkannya. Yeoja itu pergi entah kemana. Donghae disibukkan oleh pikirannya sendiri menelusuri sebuah kesimpulan dari percakapannya bersama Yoona beberapa saat lalu.  Ketika Yoona bercerita  tentang yang paling ditakutinya juga reaksi yeoja itu terhadap   masa lalu… Donghae tidak mengerti satu pun.

Berlandaskan pada percakapan singkat antara Ia dengan Eommanya, ingatan Dongnhae berputar mundur. Percakapan  yang begitu singkat bermula ketika Ia datang ke rumahnya—ke kediaman keluarga Lee—  untuk menjemput Yoona usai kemarahan  Yeoja itu karena melihat dirinya  bersama Jessica. Sekelebat perkataan Eommanya membuat Donghae benar – benar bingung saat ini…

 “Donghae-ya,  Eomma ingin berbicara sesuatu, tapi hanya kita berdua…”

“Ne?” Donghae penasaran. Nyonya Lee dengan wajah tidak sabaran membuka mulutnya, ingin berkata sesuatu tapi  Ia merasa Donghae tak begitu memperhatikannya. Wajah Donghae bergerak gelisah seperti mencari keberadaan seseorang. Nyonya Lee mengangguk mengerti, Ia mengurungkan niatnya untuk berbicara empat mata dengan anaknya dan  beralih mengatakan, “Yoona ada di kamarnya.”

Donghae  terkesiap, “Mwo? Baiklah… Err kupikir aku perlu menyusulnya dan setelah ini  aku akan menemuimu Eomma— Janji.”  Ujar Donghae disertai nada bersalah. Nyonya Lee mengangguk mengerti, “Ne, ne temuilah dia dan jangan lupa mengenai janjimu. Eomma ingin berbicara hal penting dan ini juga menyangkut kondisi Yoona yang semakin menghawatirkan—“

“Araseo, Areseo.” Potong Donghae.  Ia menepuk pundak Eommanya pelan, memberi keyakinan bahwa Ia  sudah mengerti dengan isi pembicaraan mereka. Donghae melesat kearah kamar Yoona sedangkan  Nyonya Lee, Ia bergeming. Beberapa langkah ketika Donghae meninggalkan sang Eomma,  Ia  tidak lagi mendengar apa pun, kecuali bunyi helaan napas  yang samar – samar berdesis ditelinganya.

Donghae menghela napas, kalau mengingat kembali percakapan itu Donghae benar – benar menyesal tidak mendengarkan Eommanya. Saat itu Donghae terlalu kalut dengan perasaan Yoona yang sama sekali tidak stabil dan satu – satunya cara untuk menghapus kesalahpahaman diantara mereka adalah Donghae harus menjelaskan yang sebenarnya pada Yoona tentang hubungannya dengan Jessica dan terjadilah… Donghae tidak sempat lagi mendengar soal kekhawatiran apa dalam diri Yoona yang membuat Eommanya terganggu.

Kini Donghae bertekad akan menanyakan langsung pada Eommanya mengenai kondisi Yoona sesegera mungkin. Donghae tidak ingin bertanya – tanya sendiri dalam penjara kebodohannya  dan  menjadi amat brengsek ketika sesuatu yang buruk menimpa Yoona. Ia  harus mengeluarkan Yoona dari masalah apa pun  karena saat ini, satu – satunya orang yang harus melindungi Yoona adalah dirinya sendiri.

………….

Malam yang sunyi tanpa bintang terpapar disana. Yoona berdiri menyenderkan tubuhnya pada tiang balkon. Ia menghirup napas dalam – dalam kemudian menghembuskannya pelan, uap – uap angin keluar dari mulutnya dan Yoona baru menyadari betapa dinginnya cuaca malam ini.

“Pakailah, cuaca dingin tidak baik untukmu.” Sebuah mantel coklat kulit sudah tersampir dibahunya ketika suara bass itu singgah ditelinganya. Yoona menoleh mendapati Donghae sedang tersenyum kepadanya. Ia memalingkan wajahnya ketika mengingat soal kejadian beberapa saat lalu.

Donghae menghapus senyumnya pelan – pelan  saat mendapat tanggapan kosong dari Yoona. Namja itu medongak menatap kearah langit gelap, sebenarnya Donghae tidak terlalu menyukai langit malam ini, tidak ada apa – apa diatas sana,  refleks kepalanya sekedar mengikuti  arah pandang Yoona.

Kesunyian berada diantara mereka. Yoona sibuk dengan dunianya sendiri dan Donghae tahu itu. Diam- diam Donghae memperhatikan Yoona. Dari tatapan matanya yang kosong,  Donghae berusaha menebak apa yang sedang dipikirkan yeoja itu. Beberapa detik setelahnya donghae menyerah, Ia tidak bisa menebak apa pun dan sama sekali  tidak  yakin dengan tebakannya karena Yoona memang sulit ditebak. Donghae menimbang – nimbang sesuatu sebelum Ia  menggapai jemari Yoona yang menggenggam tiang balkon.

Yoona tampak terkejut. Yoona ingin menarik tangannya agar Donghae mengerti kalau saat ini Ia benar – benar tak ingin disentuh, namun pikiran itu sia – sia. Kenyataan yang terjadi, Yoona berakhir menjadi batu. Ia hanya diam membiarkan Donghae melakukannya.  Seperti hilang ingatan, Yoona menatap jemarinya yang kini terbungkus oleh sebuah tangan hangat yang sedikit  demi sedikit  kehangatan itu merembes ketubuhnya. Yoona menatap Donghae tanpa berpikir apa pun, bahkan namja itu sudah menatapnya lebih dulu.

“Tanganmu dingin,” komentarnya, “Mungkin Kau butuh kehangatan lebih dari ini.”

Yoona sedikit terlonjak, Donghae langsung memutar otak untuk berbicara sesuatu agar Yoona tidak salah paham. Namja itu melepaskan genggamannya kemudian berkata dengan canggung, “Tidak, itu bukan seperti itu. Lupakanlah.”  Donghae menggaruk tengkuknya setelah Ia berpikir mengenai penafsiran Yoona  menanggapi kalimatnya beberapa saat lalu.

“Yoona.” Panggil Donghae  memecah keheningan. Yoona diam tak bereaksi.

Donghae menghela napas, Ia memikirkan sesuatu sebelum menarik sudut bibirnya, “Yoona-ya, apa… apa pertanyaanku tadi membuatmu kesal? Mianhae.”

Ketika lagi – lagi tak mendapat jawaban,  Donghae melirik sekilas kearah  Yoona,  yeoja itu nampak  terkesiap, entah karena mengingat percakapan mengenai kekerasan waktu itu  atau apa  yang jelas  Donghae benar – merasa bersalah karena sepertinya Yoona merasa tidak nyaman mengungkit hal itu.

“Yoona-ya mian—“

Lalu tatapan Yoona menghujam kedua  mata Donghae. Yoona tidak mengatakan apa pun, Donghae tidak  mendengar suara Yoona, Ia hanya melihat bibir Yoona bergetar, adalah  isyarat bahwa Yoona ingin berkata sesuatu yang mungkin ragu diutarakannya.

Yoona bergeleng kecil sebelum akhirnya merengkuh wajah Donghae, “Ani Oppa.” Ucapnya dengan suara bergetar, “Kau sama sekali tidak salah, aku… aku tidak seharusnya bersikap seperti ini  padamu. Aku hanya marah  pada diriku sendiri–”

Donghae  terpaku, Ia tak bisa berpaling sedikitpun dari tatapan Yoona.  Kristal – Kristal bening sudah berkilat – kilat didalam mata yeoja itu, “Oppa, Aku sadar kalau tidak seharusnya aku seorang diri mengadapi semua ini, jadi aku akan berkata yang sebenarnya , padamu…”

Donghae mengangkat alisnya, Yoona mempertajam tatapannya meski benih – benih keraguan serasa menggelitiknya, “AKu…”

“Ya ?” Donghae penasaran, Ia memajukan wajahnya. Yoona semakin tidak nyaman ditatap seperti itu  akhirnya menunduk, “Aku… “

“Yoon—“

Memeluk tubuh itu seerat mungkin, Yoona tak mengindahkan lagi rambu – rambu dikepalanya. Ia melingkarkan tangannya disekeliling pinggang Donghae. Yoona memeluk namja itu sekuat yang Ia bisa seakan tidak ingin membiarkannya pergi bagaimana pun caranya. Mungkin ucapan Donghae benar, Ia memang butuh kehangatan lebih dari sekedar menggenggam tangan  karena kenyataannya Yoona memang membutuhkan itu. Pelukan hangat dari seorang Lee Donghae.

Kedua mata Donghae belum mampu berkedip, padahal ia ingin sekali melakukannya. Untuk sekarang, Donghae tak ingin membuka matanya dan melihat Yoona menangis tersedu – sedu didalam rengkuhannya. Donghae  tak ingin mendengar tangisan penyesalan Yoona atas dirinya, bahwa Yoona sendiri tidak pernah menganggapnya.  Donghae tidak yakin bisa menerima ini atau tidak. Sesungguhnya Ia mengetahui apa yang akan dikatakan Yoona selanjutnya, sesuatu yang sangat dibencinya.

“Maaf aku tidak seharusnya marah pada Jessica, aku harusnya mempercayaimu dan tidak membuatmu ketakutan saat bersama dengan yeoja mana pun. Aku sudah mengacaukan pekerjaanmu, aku tidak  seharusnya begini, karena mungkin Kau, dan  atau Jessica sendiri  tak seburuk apa yang ada dalam pikiranku.” Cecar Yoona beserta tangisannya. Donghae bergeleng tidak percaya.  Ia ingin menghalau semuanya. Saat – saat dimana Yoona mengakui hal yang selama ini Donghae hanya berpura – pura tidak tahu sambil berharap suatu saat keinginannya benar – benar terkabul. Bahwa Yoona akan benar – benar melihatnya sebagai Lee Dongahe, bukan orang lain.

“Aku tidak seharusnya marah padamu dan  Jessica karena Aku tidak yakin bisa melakukannya. Sebuah sikap yang kuharapkan darimu untuk hanya melihatku sedangkan aku… Aku sendiri belum bisa melakukannya.” Suara Yoona terdengar semakin parau. Donghae benar – benar ingin menyumpal telinganya sekarang.

“Aku tidak yakin apakah aku benar – benar melihatmu sebagai Donghae yang sesungguhnya. Kalian terlalu sama.”

“Yoona—“

Yoona menutup matanya lalu menyandarkan kepalanya diatas dada bidang Donghae, Ia tidak lagi peduli dengan sinyal – sinyal penolakan dari tubuh Donghae yang bergerak gelisah, “Semuanya… Ekspresimu… Sikapmu… Kalian terlalu sama. Kadang aku berharap agar kau sedikit jahat padaku, agar ada setidaknya satu dari kalian yang berbeda tapi kupikir itu percuma.

Donghae bergeleng, Ia sangat membenci air mata dan sekarang Ia harus mengakui bahwa ia menagis, menangis didepan Yoona.

“Sebenarnya… Aku dan…”

“Kajimal !”

Tatapan Donghae berubah nyalang. Ia menggenggam sepasang bahu Yoona dan mengakhiri pelukan yeoja itu sebelum hatinya benar – benar terluka lebih dari ini.  Donghae Kemudian  menatap Yoona seolah Ia akan mati.

“Yoona Jebal,” Donghae menghela napas sesaknya lalu mencoba berbicara setegas mungkin meskipun Ia tidak yakin dengan suaranya sendiri akan terdengar lurus tanpa getaran. Pada akhirmya niat Donghae sia – sia. Namja itu takut seandainya ini bukan jalan yang terbaik. Berteriak didepan Yoona dan mengutarakan seluruh kekecewaannya adalah hal yang percuma.

Dan suara Donghae menciut lebih dari niatnya, “Jangan bicara lagi, ini sudah malam.”

Donghae memilih pergi, namja itu berjalan membelakangi Yoona. Ketika sampai didepan pintu Ia berhenti untuk menoleh kebelakang. Yoona masih disana, bertahan dengan tatapannya yang sendu.

“Oppa…” nada lirih yeoja itu terdengar membujuk, Donghae mengangkat sebelah tangannya menahan suara apa pun  agar tak ada lagi kalimat – kalimat menggoyahkan setelah ini.

“Anggaplah semua ini tidak pernah terjadi…” Suara Donghae menyusup diantara heningnya malam, suara yang dingin tanpa intonasi yang menyihir Yoona menjadi batu.  Dalam hitungan jari  tatapan mereka beradu dan terputus begitu saja. Setelahnya punggung Donghae dengan cepat  menghilang termakan oleh daun pintu, bahkan sebelum Yoona  benar – benar memahami arti tatapannya.

 “Aku tahu akan sulit bagimu menerima ini, mianhae Oppa.” Tutur Yoona lebih pada dirinya sendiri.

……………………..

Didalam kamar, Donghae menggesek senar gitarnya dan tersenyum miris. Pikiran namja itu melayang – layang tanpa arah dan berlabuh disatu adengan ketika…

Untuk pertama kalinya Donghae  memasuki kamar Yoona  tanpa permisi  dan menjadikannya terlihat bagai Ia sedang menyatroni rumah seseorang. Pelan – pelan Donghae menutup pintu kamar Yoona, sebelumnya Donghae mencari keberaan Yoona dan rupanya yeoja itu  sedang  berdiri di balkon.

Pandangan Dongahe menyapu kesekeliling kamar, Ia berjalan kearah meja dan tidak menemukan sesuatu yang aneh disana. Seingatnya waktu itu, Yoona tengah memandangi selembaran putih dengan pandangan menerawang, Donghae tidak bisa lupa,  Yoona terlihat seperti kehilangan nyawanya,  diam – diam Donghae  menangkap serpihan genangan  disepasang mata yeoja itu, sementara pandangannya tak juga berpindah pada selembar kertas yang entah apa.

Usai berpikir lama, fokus Donghae teralihkan menuju keselebaran putih yang ujungnya terjepit diantara pintu lemari pakaian. Kedua mata Donghae menyipit, Ia berjalan kearah lemari dan segera menarik selembaran itu keluar. Dan seperti dugaannya, benda tersebut adalah photo, photo seseorang yang…

“Jadi ini  yang kau pandangi?”

Donghae menatap Photo itu dengan berdesis tidak percaya. Seorang namja yang begitu mirip dengannya, tersenyum ceria dalam balutan kemeja biru.  Lee Dong Hwa. Sejak Dulu Donghae tahu kalau kakaknya menyukai Yoona. Berbeda dengan Donghae yang hidup di Seoul bersama kedua orang tuanya, Donghwa hidup bersama halmoninya di desa dan disanalah Ia bertemu Yoona yang baru beranjak remaja. Donghae tahu tentang Yoona karena Donghwa selalu bercerita padanya jika kakaknya itu  berkunjung ke Seoul, Donghwa kerap bercerita  mengenai kekagumannya terhadap  seorang gadis cantik di desa tempatnya tinggal. Tapi bahkan kini kakaknya sudah meninggal.

Dan apakah mereka sedekat itu atau… Donghae terpaku ditempat. Ia tidak bisa lagi berpikir jernih. Jadi… Apakah Yoona ?

Donghae menarik napas kuat – kuat dan menghembuskannya penuh sesak. Kini, cuma hal itu yang sanggup Ia lakukan selain meratapi ini semua.

Sejak dulu Ia tahu bahwa Yoona adalah tipikal orang yang sulit melupakan sesuatu. Perasaan yeoja itu terlalu dalam hingga Donghae sendiri sulit menggapainya. Donghae pernah berkata bahwa Ia akan menerima apa pun masa lalu Yoona tapi Ia benar – benar membenci jika sampai saat ini Yoona masih terkurung dibawah bayang – bayang masa lalunya bahkan Yoona seolah hidup bersama masa lalunya ketika Lee Donghae adalah masa depannya. Lalu bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin Yoona  bisa  mengangaap bahwa Ia adalah sosok dimasa lalu, sedangkan mereka tumbuh didalam raga yang berbeda… 

“Aku tidak yakin apakah aku benar – benar melihatmu sebagai Donghae yang sesungguhnya. Kalian terlalu sama.”

 “Yang paling kutakutkan adalah kehilangan seseorang dan tidak pernah bisa melupakannya. Seseorang itu selalu membayangimu, hadir didalam mimpimu bahkan membuatmu hidup dalam pengandaian – pengandaian tidak berguna juga perasaan bersalah karena tidak bisa berbuat apa – apa untuk membutanya tidak hilang dari sisimu.”

Perkataan Yoona terngiang jelas dikepalanya membuat Donghae semakin frustasi. Jadi… Yang dimaksud Yoona dengan ketakutannya bahwa Ia tidak bisa melupakan seseorang dimasa lalu, Ia tidak bisa lupa dengan orang yang telah mengukir kenangan dan memberi  bekas dihatinya secara  mendalam itu… Orang itu adalah Donghwa ?

Kerap kali Donghae merasa kalau Yoona memang tidak pernah melihatnya, pun Donghae sudah memperkirakan ini, bahwa ada  seseorang yang tinggal dihati Yoona tapi ia tidak menyangka bahwa orang itu adalah Donghwa kakaknya sendiri.

Perlahan – lahan Donghae menaruh gitarnya, lantas kemudian menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Donghae memejamkan matanya yang sungguh berat. Ia butuh waktu untuk mencerna ini semua.

Andai saja Yoona tidak mencoba mengungkit – ungkit soal Donghwa didepannya….

Karena Donghae benar – benar  tidak suka melihat  Yoona berusaha menyebut nama Donghwa, Donghae alergi mendengar Yoona  mengungkit kembali perasaannya, membanding – bandingkan atau apa pun yang berhubungan dengan kakaknya…

Kalau saja Yoona bersikap biasa saja meski pun namja itu tahu kenyataannya, Donghae tidak akan bersikap seperti ini dan berusaha menerima apa  pun….

Andai saja Donghae tidak melihat Yoona menitihkan air mata ketika mengingat orang itu…

……………..

Bell sebuah kafé berbunyi pertanda bahwa seseorang baru saja membuka pintu. Beberapa pengunjung kafe mengalihkan perhatian mereka kearah seorang yeoja yang baru saja masuk. Yeoja dengan style classic elegant itu membuka kaca mata hitamnya, pandangannya menyapu sekeliling kafe hendak menelusuri keberadaan seseorang. Ia tersenyum menyeringai saat menemukan seseorang yang dicarinya sedang duduk di bangku paling pojok.

“Sudah lama menunggu?”

Suara seorang yeoja mengalihkam fokusnya, “Ah kau.” Ucap seorang namja berambut gondrong, ia lalu menyapu pandangannya kesekitar, “Orang – orang memperhatikan kita.”

“Suatu kehormatan bukan ? Artis papan atas mengundangmu kemari.” Yeoja itu menarik kursi yang berhadapan dengan lawan bicaranya, “Annyeong Haseyo, Jessica Jung imnida.” Yeoja yang bernama Jessica itu memperkenalkan dirinya.

Namja dihadapannya membungkuk hormat, “Shinjung imnida, senang  bisa bertemu dengan artis terkenal sepertimu.” Ucapnya dibarengi kekehan penuh arti.

“Jadi?” Jessica menagkupkan dagu, Ia memandang penuh tanya seolah meminta jawaban yang menuntut. Shinjung berpikir sejenak lalu menatap Jessica dengan alis terangkat. Ketika Jessica mengerut bingung, namja itu menjawabnya dengan sungkan, selagi tersenyum Ia menggerak – ngerakkan lengannya gelisah. Jessica yang mulai mengerti lantas mengambil sebuah amplop coklat dari dalam tas jinjingnya.

“Ini,” ucap Jessica menyerahkan benda itu, “Maaf aku tidak terlalu mengerti maksudmu.”

Shinjung tersenyum sambil mengagguk, “Tidak apa – apa. Mungkin ini pertama kalinya bagimu bertemu orang sepertiku.” Ia memaklumi sambil menyeret sebuah amplop coklat diatas meja dan memasukkan amplop itu kedalam saku jaketnya.

Jessica memutar bola matanya, menganggap bahwa perilaku lawan bicaranya  sangat kampungan, “Aku tidak punya banyak waktu.”

“Baiklah, baiklah santai saja, aku akan memberitahukanmu segera.” Tukas Shinjung ketika menangkap ekspresi kebosanan  Jessica.  Ia berdehem, “Jadi begini, seperti permintaanmu…”

Jessica memajukan wajahnya. Yeoja itu memastikan bahwa pendengarannya baik – baik saja, Ia berusaha keras mendorong otaknya agar bisa fokus dengan perkataan namja dihadapannya, Karena sepatah kata pun yang terlewat, Jessica tidak akan sudi.

“Jadi apa hubunganmu dengan Yoona? Apa kalian memang bersekongkol memeras Donghae?” Jessica menatap penuh intogasi. Shinjung tertawa konyol, “Kau sedang bermain – main? Aku? Bersekongkol? Asal kau tahu,  Yoona menikah dengan Donghae karena takut dengan keluagaku.”

“Apa?” Jessica mengerut bingung.

Shinjung menghela napas pelan, “Ayahku akan menikahkannya denganku kalau dia tidak membayar hutang – hutang keluarganya yang walau pun hutang – hutangnya lunas, ayahku akan tetap menikahkannya denganku. Tapi gadis itu sangat licik, dia menikah dengan orang lain untuk menghindariku. Tapi aku ragu, apakah dia sanggup membayarnya? Kita lihat saja nanti.”

“Berarti dia tidak benar – benar mencintai Donghae?” Jessica menyimpulkan.

“Entahlah,”

“Ah, tapi kenapa… Kenapa keluargamu berambisi menjadikan Yoona menantunya? Apa Yoona punya sesuatu yang—”

“Tidak, dia hanya cantik, usaha keluargaku di Desa pasti akan laris dengan keberadaan gadis cantik seperti  Yoona,”

Jessica terperangah, “Usaha?”

Shinjung mendekatkan wajahnya seraya berbisik, “Yoona itu sangat penurut dan popular, Kami akan menjual tubuhnya untuk menarik pelanggan. Dan kalau hutang – hutang keluargnya belum juga terlunasi, kami akan menariknya secara paksa.”

“MWO?!  M-menariknya? J-jadi usaha keluargamu adalah usaha prostitusi ? Itu sama sekali tidak bisa dibenarkan.” Kedua mata Jessica membulat sempurna. Ia membentak Shinjung dengan mata nyalang. Demi petir disiang bolong, apakah namja dihadapannya ini benar – benar  manusia ? Atau dia siluman ?

Tertawaan mengejek Shinjung atas reaksinya membuat Jessica muak, hanya saja yeoja itu berusaha tampak  tenang. Bagaimana pun Jessica harus menjaga imagenya dimuka umum.

“Sayangnya pembahasan mengenai usaha prostitusi dan lain sebagainya tidak ada dalam perjanjian, Nona Jung ! Itu bukan urusanmu !” peringatnya disertai senyum menggelikan.

“Baiklah,” Jessica menarik napas, “Namun tetap saja,  berarti semua ini karena salahmumu, bukan ?! Demi menyelamatkan seseorang,  Donghae harus  menikah dengan yeoja yang belum tentu mencintainya?!”

“Aku tidak tahu soal itu, tapi kau bisa melihatnya sendiri, apa Yoona memang memanfaatkan temanmu atau tidak.” Shinjung mengangkat bahu.

“Caranya?” Tatap Jessica ingin tahu.

Shinjung menggaruk kepalanya bosan, Ia merasa kalau dirinya sedang berbicara dengan anak SD, “Gadis seperti Yoona ibarat hewan peliharaan yang lucu tapi selucu – lucunya mahluk itu, Ia akan berubah menjadi buas saat makanannya diambil, apalagi direbut oleh hewan peliharaan lain yang lebih high class.” Jelasnya. Ia menegakkan tubuh berbisik seraya berbisik,

 “Kecuali jika makanan yang Ia genggam tidak berarti sama sekali baginya maka hewan pelaharan itu akan melepas begitu saja ketika hewan peliharaan lain mengambil makanannya, bukankah begitu?”

Shinjung menyeringai. Sementara itu Jessica terlihat sibuk menimbang – nimbang. Lalu haruskah Ia…

“Baiklah, akan kubuktikan.”

………………..

Dengan langkah gontai, Yoona berjalan kearah gerbang kampusnya. Ia menghela napas berat. Kedua kakinya serasa enggan bergerak menuju halte bus yang siap mengantarkannya pulang. Yoona terlalu malas bertemu Donghae atau lebih tepatnya takut. Yoona takut berhadapan dengan Donghae, terlebih menatap mata namja itu atau mendengar suaranya yang dingin. Yoona tak ingin merasakan situasi canggung semacam itu sekarang.

Selama tiga hari ini, Yoona terkatung – katung akibat  sikap Donghae yang seperti memusuhinya. Setiap pagi ketika Yoona memasak untuk sarapan, Donghae selalu pergi dengan terburu – buru dan pulang larut malam, kalau pun Ia pulang seperti jam biasanya, Donghae hanya sekedar lewat dan tidak menyapanya sama – sekali seolah – olah Yoona adalah mahluk tak kasat mata.

Yoona tidak berhak menyalahkan Donghae atas segala perubahan yang terjadi karena ini semua murni salahnya. Yoona yang tidak bisa hidup dengan akal sehatnya dan justru hidup dalam belenggu perasaannya yang sesat. Donghae pasti tersakiti sekarang.

Langkah Yoona terhenti, Ia mendongak secara refleks matanya menyipit menghindari seberkas mentari sore yang menyenter matanya. Yoona berhenti melangkah bukan semata – mata karena Ia ingin, tapi karena seseorang tiba – tiba saja muncul dan  menghalau langkahnya.

Kedua mata Yoona kian menyipit menelusuri wajah orang itu, dia seorang yeoja dengan setelan blazer putih tulang dengan rok span diatas lutut khas busana wanita karir. Yoona tidak yakin bahwa orang itu adalah dia, tapi sepertinya memang benar, dia Jessica Jung.

“Bolehkan aku bicara sebentar?” tanyanya. Yoona mengernyit bingung. Karena penasaran, Yoona pun mengangguk setuju.

Jessica tersenyum agak miring, “Baiklah, mari ikut denganku.” Tawarnya. Yoona menurut dan mengikuti kemana yeoja itu pergi. Beberapa menit berjalan, mereka tiba disalah satu kafe di dekat kampus. Sontak saja para mahasiswa disana berteriak histeris. Mungkin saja mereka adalah seorang fans yang kejang – kejang karena shok melihat sang idola yang bernama Jessica Jung datang ketempat seperti ini. Kafe ini bahkan terlalu sempit seandainya boyband Super Junior dan girlband SNSD berkunjung kemari.

“Kau pasti terganggu, mianhae.” Katanya usai memilih meja dan menyandarkan tubuhnya dikursi.

“Dua lemon tea.” Sahutnya pada pelayan yang menghampiri. Jessica menatap Yoona yang duduk berhadapan dengannya, “Lemon tea, tak apa kan?”

“Nde.” Jawab Yoona sesopan mungkin. Dalam hati Ia bertanya – tanya tentang maksud Jessica menemuinya.

“Begini Yoona-ssi, waktuku tidak banyak.” Katanya perlahan. Yoona menarik kedua sudut bibirnya. Sebagai niatnya Yoona ingin tersenyum, tapi yang muncul kepermukaan tidak lain hanya segores coretan horizontal. Lantas Jessica menyadari itu, Ia terkekeh, “Aku tidak ingin berlama – lama, jadi langsung saja.”

“Aku juga tak ingin berlama – lama denganmu.” sanggah Yoona, Jessica lantas mengeluarkan senyumnya yang mematikan. Tenang dan penuh arti.

“Aku—- menyukai Donghae.”

……………TBC……………

 Mianhae baru di post, jangan timpuk saya…

Aku kira udah part 9 aja nih ff, tau – taunya baru part 8 #oalahhhh O____o #author pikunnn…

Gomawo udah mau ngikutin ini ff, aku akan menyelesaiankanya sampai akhir, tapi aagak ngaret hehehe… Nggak duingg, aku usahain cepet, jadi reader-deul harap bersabarrr… Jangan marahhh pleaseee *___*

33 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 8 )

  1. cha-cha berkata:

    Aaaa… finally, nie FF kluar jgaa.. aq udh lma nungunya. D tunggu part 9 nya.
    Nie FF bner2 bkin penasaran
    Tpi jdi kasian sma donghae.. dya pasti sakit hati bgtzzz

  2. han ji bin berkata:

    akhir”a di post jg
    wah makin tambah seru aja nii, trnyta cowo yg du sukain yoong itu donghwa ya
    wah hae skrg diemin yoong, gmna ya kelanjutan hbgn mrka nanti’a
    jgn lama2 ya chingu post’a tkt ska lpa sma crta sblm’a, aq tunggu lnjtn’a
    gomawo

  3. aisnuratikhoh berkata:

    akhirnya part 8 nongol nih
    yoona suka sama donghwa? jessica suka sama donghae? ini membingungkan
    penasaran akhirnya donghae sama siapa
    ditunggu next partnya chingu
    kalau bisa jangan lama” ne
    keep writing and fighting

  4. chakhan yeoja berkata:

    Ah…si donghae selalu tersakiti…kasihan…
    jd yoona suka sama donghwa..
    tuh..si jess terang”an bilang klo suka donghae..klo gag mau khilangan donghae..pertahankan dia yoona..nanti nyesel…
    next part cepet ya…

  5. ina gomez berkata:

    jadi yoona eonni sukanya ma donghwa bkn ma hae oppa?duh hae oppa cpet ktmu ma eomma mu trs pnta pnjlsan pa yg mau dicrtain ma dia tentng yoona.biar smuanya jls…ditunggu nextnya

  6. maya luoxi berkata:

    ahh, mgkin yoona blum menyadari perasaannya pd donghae..
    eumm, dan jesi mgkin dia hanya menguji yoona, apakah yoona benar2 tulus pd donghae, atau hanya sekedar manfaat.
    next ditunggu ^^

  7. tryarista w berkata:

    occcccchhhh trnyata yoona menyukai donghwa,,,,,,ksihan bget donghae pasti skit hti bget hingga skpnya berubah ma yoona,,,,,,,
    knpa sicccchhhh yooona g mau menatap msa depannnn,,,,,pdhal hae dah baek bget ma yooona dia rela lakuin apapun,,,,,,,pi balsan yooona ky gituuu,,,,jls2 hae ma dgwa brbda.

    q jd sebeeellll ma yoooona,,,,,, ,,

    aduuuuuuccccc akknnn ada mslahhhh bru,,,,apa yg ajb dilakuin jesica, dAn knpa tbc ,

    next jgn lma2,,,,,,,g puas bget dipart ini,,,, nunggu nya dah lma bget,,,, ecccchhh ternyta yoonhae mlh bertgkar ky gitu aissssshhhhhhhh

  8. HaeNy Choi93 berkata:

    Sebenernya aku pengen marah. Tapi ngga jadi ding.

    Hahahah……..

    Makin seru. Setidaknya setelah 2 bulan lbih tidak muncul datang2 bawa lanjtan ff YH. Lumayan panjang lg jd sedikit terobati deh kangennya. Haha

    Kadang suka bingung sendiri sama tingkahnya Yoonhae, kadang baik, tiba2 saling menjauh, tiba2 mesra. Aneh deh.

    Aku kira Yoona punya penyakit trauma, tp hanya karna dia tidak bisa meluakan masa lalunya saja. Wajarlah klo Donghae marah, kesannya Yoona kayak nyama2in donghae dengan donghwa gitu.

    Semoga YH cepet baikan lagi deh. Ditunggu Moment2 wow mereka. Fighting!

    Notes : Jangan Ngilang Lagi!!!😀

  9. lin_yh berkata:

    kasian juga jadi donghae gadis yg selam ini disukainya ternyata suka sama kakahnya sendiri
    semoga yoona cepat suka sama donghae..
    dtunggu netx partnya

  10. nina berkata:

    Buat yoona menyadari perasaanny buat haeppa…jesica mw ngomong ap tu..jgn blg klo dy mw ksih tw klo dy suka donghae…ahhh jdi pnsran dtggu klnjutannya

  11. lee sheolfishy berkata:

    Berasa mau jamuran lama nunggunya tp akhirnya keluar juga . . .
    Konfliknya tambah rumit, smoga yoona bisa suka sama donghae . . .
    Ditunggu next chapter berikutnya, jangan lama”

  12. nabilla utmary elfishy berkata:

    Shinjung-sica,kalian cocok.. -_-
    Making serum Thor…Yoonhae kudu bersatu..next chap jngan lama yah thor

  13. Haeril Jjang berkata:

    wh.. apkh pengakuan sica bs mmbwt yoona hny mlht donghae seorng?n mlupakn ms llux..
    next chapx jgn lm2 chingu,,penasaran bngt..!!!!

  14. S.N.15 berkata:

    Hei author mian aku langsung komen dipart ini🙂 aku reader baruu salam kenal.
    Pertama aku kira di blog ini hanya membuat fanfict Tiffany couple, secara kamu kan Fanytastic kan?
    Eh taunya engga. Kkk~
    Oh jadi begitu kisah hidup Yoong didesa? Memprihatinkan sekali, mau dijadikan pekerja komersial ya? -,- oh no!!
    Cewek sebaik, secantik dan sesempurna Yoong pantas dijadikan pekerja begituan -_-
    Apa Jessica akan melaksanakan niatnya untuk merebut Donghae?
    Dan beneran deh masih penasaran sama masa lalunya Yoong😀
    Aku tunggu chapter selanjutnya~
    Keep writing ..
    Fighting!

    • nanashafiyah berkata:

      Haiii salam kenal ^_^
      iya rencananya si begitu, tp krn pas awal2 aku bingung mau nulis apa, jadilah untk sementra nulis tentang couple sugen. Nah dr stu banyk yg minta dibuatin couple ini couple itu, dan blablabla keterusan deh hehe. Mian kalo membingungkan.
      Gomawo buat waktunya membaca dan berkomentar🙂

  15. aisyadewi c'hyunmin loverz berkata:

    Ohh .. jadi namja di masa lalu YoonA itu Donghwa ..
    U.u.. kasihan Donghae
    tpi aku msih penasaran kisah YoonA & Donghwa wktu didesa …
    Oy .. itu si Jessi ga benar2 mu ngrebut Donghae dri YoonA kan? Dia cuma mu mastiin YoonA cinta ama Donghae apa ngga, iya kan Thor ??

    Ditunggu NEXT’a, jngan lama lagi yaaaahhhh ********

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s