[ Oneshoot ] FF SeoKyu – For This Happiness

For this happiness seokyu

Title :  For This Happiness

Cast : SNSD Seohyun, Super Junior Kyuhyun

Author : Nana Shafiyah

Words : 5500 +

Genre : Romance

Rating : U

~Happy Reading ^____^ ~

Seohyun telah menunggu saat – saat dimana waktu mengantarkannya langsung menuju kegiatan dipenghujung sore. Makan Ice cream blueberry, kegiatan nomer satu sepanjang hari. Seperti sekarang, menikmati semangkuk ice cream ditaman sambil memandangi sinar matahari yang mulai menguning bersama sahabatnya… Cho Kyuhyun.

Seharusnya bukan dia. Seharusnya bukan Kyuhyun yang duduk disamping Seohyun. Yesung, namjachingu Seohyun sudah berjanji akan menemani Seohyun di taman ini. Tapi dia tidak datang. Yesung lagi – lagi menelpon Kyuhyun dan meminta namja itu untuk menyampaikannya pada Seohyun. Seohyun sempat berpikir, apakah Yesung semuak itu berbicara langsung padanya? Seohyun berkata seperti itu pada Kyuhyun yang dijawab dengan sebuah senyuman. Kyuhyun bilang, mungkin Yesung terlalu sibuk mempersiapkan debutnya sebagai seorang penyanyi. Kyuhyun juga bilang, Yesung merasa tidak enak hati membatalkan janjinya, Ia merasa dihantui rasa bersalah seandainya mendengar nada kekecewaan Seohyun. Menurutnya, gagal membahagiakan Seohyun pertanda bahwa Ia gagal membahagiakan dirinya sendiri.

Benarkah begitu? Terkadang Seohyun ragu.

Dua bulan berlalu sejak Yesung sibuk mempersiapkan debutnya sebagai penyanyi, Seohyun lebih sering mengisi waktu sore harinya bersama Kyuhyun. Mereka selalu berdiskusi tentang apa pun, menyangkut pekerjaan, tingkah laku teman – teman mereka sampai kejenuhan – kejenuhan yang terkadang membuat perasaan menjadi kacau.

Seohyun menghela napas panjang. Perasaannya jauh lebih baik setelah menerbangkan rasa kecewa dalam dirinya melalui hembusan napas berat.

“Oppa..” panggilnya. Kyuhyun menoleh.

“Kalau menurutmu saling mencintai dan dicintai antara pria dan wanita itu seperti apa?”

Kyuhyun tampak berpikir sambil mengulum sendok ice creamnya, “ Mencintai berarti memberi, kalau dicintai berarti menerima cinta…” jawabnya tertawa.

Seohyun ikut tertawa, “Kalau begitu, apakah ada kriteria yang membuatmu yakin kalau pasanganmu pantas dicintai dan mencintaimu?

“Eummm…” Mata Kyuhyun menyipit, Ia menatap Seohyun dari ujung kaki sampai ujung rambut, “Kalau pasangaku berkriteria sepertimu, aku pasti yakin.” Kyuhyun tertawa lagi. Bibir Seohyun mengerucut.

“Aku bercanda, Seohyunnie.” Sambungnya lagi mengacak rambut Seohyun kemudian ia mendongak, menatap langit jingga, “Entahlah… Tapi kurasa tidak ada. Maksudku tidak ada kriteria tertentu untuk menjadi yakin bahwa seseorang pantas mencintai dan dicintai.”

“Eoh?”

Kyuhyun tersenyum kecil. Mata teduhnya menatap kilapan manik Seohyun, “Kau bisa saja berpikir kalau seseorang seperti namja jenius kemarin… sipemilik mata indah itu… atau namjachingumu sendiri sebagai orang yang pantas kau cintai atau mencintaimu atau mungkin dua – duanya, Tapi ketika sebuah kebetulan tiba – tiba menghubungkamu dengan orang lain yang menurutmu jauh lebih pantas, kau harus bisa mengiklaskan semua. Karena pada dasarnya cinta sejati selalu muncul dari arah yang tidak terduga lalu—.” Suaranya berganti hening. Kyuhyun menunduk lalu tersenyum singkat kearah rerumputan, “Entahlah, Aku bingung menjelaskannya.”

“Aku juga bingung…” ujar Seohyun tanpa berkedip. Tatapannya masih terpatri diwajah Kyuhyun. Semantara namja itu masih sibuk menerawang.

“Tuhan…” Seohyun terkesiap ketika Kyuhyun mulai berbicara lagi, “Tuhan lebih tahu segalanya. . Perasaan cinta tidak tumbuh begitu saja. Ada yang memberikan…Tuhan lebih tahu kriteria manusia seperti apa yang pantas menerima atau mendapat cinta darimu. Tuhanlah yang membolak – balik hati manusia, jadi ketika perasaanmu mulai goyah pada seseorang, maka semua itu bukanlah suatu kesalahan yang harus kau tangisi. Tuhan hanya sedang menunjukkan orang yang lebih tepat…”

Seohyun merunduk pilu. Diam – diam ingatannya mulai mencerna kalimat panjang yang Ia dengar tiga detik lalu.

Kyuhyun menghela napas, “AAigooo… Kenapa aku jadi melankolis begini ?” Ia merenggangkan otot – ototnya lalu menatap Seohyun lagi, “Bagaimana dengamu?”

“Eoh?” lamunan Seohyun buyar. Ia menatap Kyuhyun setengah sadar.

Kyuhyun tersenyum penuh minat, “Apa kau punya kriteria tertentu ? Apa Yesung sudah masuk dalam kriteria namja yang pantas menerima cinta dan mencintaimu?”

“Aku…” Seohyun membuka mulut dengan bibirnya yang memucat, “Dulu aku bepikir, ingin mempunyai namjachingu yang bisa bermain gitar dan menyanyikan satu lagu untukku setiap hari…”

“Oh… jadi karena itu kau menerima Yesung?”

Seohyun menganguk, “Emm, mungkin.”

Keheningan panjang menaburi mereka. Seohyun masih sibuk mengorek segala hal mengenai awal pertemuannya dengan Yesung, “Kami berteman sejak aku pertama kali beramain musical. Dia membimbingku banyak, mulai dari bersosialisasi sampai mengajari bagaimana cara menghilangkan nervous diatas panggung. Dari situlah aku tertarik padanya dan karena dirinya jugalah aku tertarik untuk menggeluti dunia teater.” Cerita Seohyun seraya memutar memorinya kebelakang.

“Suatu sore, Yesung Oppa mengungkapkan cintanya padaku. Aku menerimanya…”

“Lalu?” Kyuhyun mengernyit.

Seohyun berpaling menatap Kyuhyun, “Lalu seperti inilah kami… Menghabiskan waktu berdua, saling mendukung, jalan bersama… Yaaa seperti itu. “

“Itu dulu bukan?” Kyuhyun menanggapi dengan senyuman yang belum luntur sejak tadi.

“Ya…”

“Dan sekarang bagaimana kabar kalian ?”

“Aku baik – baik saja… Kalau dia… Entahlah.” Jawab Seohyun dengan nada acuh.

“Kau tidak menghubunginya ?”

“Tidak, kupikir dia sibuk haha.”

“Walau hanya sekali?” tanya Kyuhyun kembali.

Seohyun mengingat lagi, “Pernah sekali.“

“Apa yang kalian bicarakan ? apa kau bilang rindu padanya? ”

Seohyun diam, tidak menjawab.

Kyuhyun manggut – manggut seraya menggerakkan sepatu pantofelnya berkali – kali diatas rerumputan. Ia termenung, membiarkan angin liar memporak – porandakan tangkai- tangkai rambutnya. Cahaya yang menyorot pohon – pohon dipinggir taman mulai pudar. Atap langit mulai bergradasi dari jingga menjadi kehitam – hitaman. Dan ketika suara Seohyun tak kunjung terdengar, Kyuhyun lagi – lagi tersenyum halus sebelum akhirnya mengambil alih percakapan, “Dia pasti bersikap baik padamu.”

“Yeah, dia baik, sangat baik. Aku bahkan tidak tahu maksud dari sikap baiknya…” Seohyun bergumam beberapa detik setelah pikirannya mengawang . Ia gelagapan ketika Kyuhyun justru menatapnya bingung. Belakangan Seohyun menyadari kalau dirinya sudah mendiamkan Kyuhyun beberapa saat lalu. Yeoja itu menghela napas lalu mencoba bicara, “Terakhir kali ditelepon, Yesung Oppa berkata Saranghae kepadaku. Aku menganggap kalau kalimat itu adalah tanda bahwa hubungan kami masih berlanjut.”

Kyuhyun tergelak. “Jadi, Itu prinsipmu?”

Seohyun mengangguk polos.

“Mianhae, tapi tidakah kau merasa hubungan kalian sedikit… hambar ?” tanggap Kyuhyun setelah termenung lama.

“Maksudnya?” Kening Seohyun berkerut. Ia menatap Kyuhyun, meminta penjelasan.

Kyuhyun menghembuskan napasnya keudara, Ia memandang dan bertanya, “Apa kau masih merasa jantungmu bergemuruh ketika mendengar seseorang menyebut namanya… Eumm seperti ketika pertama kali dia menatap matamu… atau hal – hal seperti…” Kyuhyun menjeda untuk berpikir, “Ketika dia menggenggam tanganmu, apakah kau masih merasa aliran listrik seolah baru saja tersedot dari pori – pori kulitmu ?”

“Itu… — a-pakah menurutmu… aku harus menjadi sekaku itu ? ”

“Jadi kesimpulannya Ya atau Tidak?” Kyuhyun mengangkat dua alisnya.

Otak Seohyun mulai bekerja rodi. Perlahan -lahan tatapan Kyuhyun yang penasaran dan mengintimidasi mulai memprovokatori rasa gugup dalam dirinya. Peluh Seohyun berjatuhan. Muncul kepanikan tersendiri ketika tangan Kyuhyun terulur dan menepuk bahunya, memaksa Ia mendongak.

“Aku tidak yakin perasaanmu masih sama, Seohyun-ah.” Ujar Kyuhyun dengan senyum memudar. Ia menatap serius wajah Seohyun, “Mencintai Yesung dulu dan sekarang… Kau pasti tahu letak perbedaannya.”

“Oppa…”

“Kau masih mencintainya ?” Tanya Kyuhyun frontal.

Seohyun membuka mulutnya kaku, “Y-ya…”

Kyuhyun menerawang beberapa saat, “Ya, semoga.” Ia tersenyum Kembali. Senyum samar, yang meski begitu, menurut Seohyun—- lengkungan datar itu masih layak disebut senyuman.

“Semoga kau tidak lupa, apa yang harus kau ucapkan ketika mendengar suaranya. Semoga kau tidak lupa untuk berucap rindu padanya dan semoga… Kau bisa menggebu – gebu dan bersemangat ketika menceritakan segala apa saja— kenangan kalian atau menceritakan sikap menyebalkannya padaku. Semoga kau masih peduli padanya…”

Hening panjang. Seohyun lagi – lagi diam.

“Aku punya seorang kakak perempuan…” Kyuhyun menyela, “ Saat jatuh cinta, Ia akan bercerita tentang namjachigunya padaku sambil tertawa dan tersenyum sendiri. Bahkan sebelum aku bertanya, Ia sudah menceritakan semuanya…”

Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap Seohyun, kemudian meraih dua sisi wajah Seohyun yang mulai memanas, “Aku selalu berharap suatu saat nanti, kau bisa menemukan seseorang yang bisa membuatmu jatuh cinta berkali – kali… setiap hari dan selamanya…” ujarnya tersenyum.

Suara Kyuhyun bagaikan kilat yang menyambar kepalanya. Ukiran wajah Yesung dalam benaknya retak perlahan. Seohyun tidak bisa bergerak. Ia berhenti pada suatu titik pergerakan. Titik dimana manik Kyuhyun seakan menguncinya.

“Semoga orang itu adalah Yesung…” Kyuhyun berbisik.

Pada detik itu pula waktu seolah berputar lamban. Seohyun meraba sesak yang memenuhi pelupuk matanya. Tiba – tiba cairan hangat dari dalam sana merebak, bahkan sebelum yeoja itu sempat berkedip.

‘Benarkah? Benarkah kalau dia memang Yesung ?’

‘Benarkah perasaannya masih seperti dulu?’

Pikiran – pikiran itu berputar – putar didalam kepalanya. Tubuh Seohyun memanas, getaran dalam tubuhnya membuat paru – parunya sesak. Belum sempat Seohyun bernapas, tiba – tiba wangi tubuh Kyuhyun sudah merasuk ketenggorokannya.. semakin Kyuhyun mendekapnya penuh kelembutan maka, semakin lekas pandangan Seohyun mengabur. Seohyun pasrah. Ia terlanjur membiarkan kepalanya teronggok menggenaskan. Seohyun tidak sempat lagi berpikir tentang,

apakah pantas Kyuhyun memeluknya seperti ini?

Sepasang mata Seohyun terpejam. Cairan dari dalam sana kian meleleh membentuk barisan anak sungai yang panjang. Entahlah, Seohyun merasa ini seperti… Tuhan baru saja menjatuhkan sebuah bintang dari atas langit. Bintang berwujud manusia yang memberikan perlindungan penuh padanya lalu menggelarkan selimut hangat ditubuhnya. Perlakuan yang tak mampu Seohyun rasakan dari Yesung, namjachingunya sendiri.

‘Mianhae Yesung Oppa…’ batinnya.

………………….

Suasana gelap mulai menghujani jalanan Seoul. Seohyun menghela napas berkali – kali seraya merasakan sambaran angin dari balik kendaraan roda empat yang baru saja melaju kencang menyambar trotoar. Seohyun menatap keatas dan hanya mendapati lampu – lampu gedung menghiasi langit hiatam diatas sana. Kosong, seperti arah pandangannya sekarang.

Pikiran Seohyun mengawang jauh kepada sosok Cho Kyuhyun. Setelah kejadian di taman tadi, Seohyun tidak berbicara apa – pun lagi pada Kyuhyun. Bahkan saat mereka berada dalam satu bus beberapa saat lalu. Seohyun memilih diam bukan tanpa sebab. Ia hanya terlalu… canggung. Seohyun tidak tahu kapan persisinya perasaan canggung seperti itu muncul diantara dirinya dan Kyuhyun…

Ketika langkah Seohyun membelok ketikungan, dari jauh Ia melihat sebuah mobil alphard hitam terparkir dipinggir lahan kosong samping jejeran rumah tingkat. Seohyun memperlekas langkahnya. Ia mengerjap berkali – kali dan spontan menghentikan langkahnya saat tib a- tiba ia teringat bahwa pemilik mobil itu adalah management Yesung.

“Seohyun -ah”

Seohyun lekas berbalik. Ia menatap seseorang itu tanpa berkedip, “O-oppa? Yesung—”

“Bisa kita bicara ?” Suara bass Yesung membuyarkan pikiran Seohyun.

Seohyun mengangguk kaku. Mereka akhirnya memutuskan untuk berbicara ditempat yang kondusif. Tempat yang jauh dari jejeran perumahan atau suasana jalan gelap dan sunyi. Yesung menggandeng Seohyun menuju jembatan kecil diatas sungai. Telapak tangan Seohyun menghangat seiring dengan keberadaan jemarinya dibawah saku mantel Yesung. Kebiasaan Seohyun adalah, Yeoja itu kerap lupa membawa sarung tangan untuk berjaga – jaga melawan cuaca dingin malam hari.

Selama pejalanan, baik Yesung maupun Seohyun cenderung sibuk mendengar derai napas satu sama lain. Tak ada kejadian yang berarti selain, sibuk memandangi suasana sekitar. Diantara obrolan kecil mereka adalah saling bertukar kabar atau Yesung yang mengomentari soal pohon – pohon yang dipangkas atau tata Letak lampu yang berbeda semenjak tiga bulan lalu setelah terakhir Ia melihat semua itu.

“Mian, selama ini jarang menemuimu…” Yesung memberhentikan langkahnya menghadap palang jembatan. Seohyun melakukan hal yang sama. Yeoja itu tersenyum menatap aliran sungai dibawah sana yang mengalir tenang. Seohyun bergelayut sebentar lalu menanggapi santai,“Gwencana Oppa, Kau pasti sangat sibuk…”

Yesung tersenyum kecil, “Itulah yang kumaksud—“

Goresan bibir Seohyun terpangkas pelan – pelan, “Huh?”

Tidak ada suara setelah itu. Barulah ketika sebuah kendaraan roda empat melaju dan menyambar mereka, Yesung menghela napas. Lipatan dahi Seohyun diterjemahkan olehnya sebagai ungkapan kebingungan.

“Seohyun-ah, semakin hari jadwalku semakin padat dan aku harus mengikuti peraturan.” Ungkapnya dengan suara sedatar mungkin.

Seohyun memasang senyumannya kembali, “Ya ! aku tahu.” Ia menatap tanpa beban kearah Yesung. Namja itu beralih menatap serius namun, sekeras apa pun Yesung menatap bersungguh – sungguh, Seohyun tetap kekeuh dengan senyumannya seolah menganggap semua yang terjadi didepannya adalah candaan.. Yesung bisa memastikan bahwa Seohyun sudah bisa membaca tujuannya bersikap kaku—sikap Yesung diluar kewajaran. Hanya saja Seohyun masih seperti dulu, selalu berusaha menampakkan wajah polosnya dan kerap menyembunyikan keahliannya membaca situasi.

“Dan aku mau kita putus…”ujar Yesung to the point karena tidak ingin lama – lama menggantung maksudnya menemui Seohyun.

“Apa?” Seohyun bergumam dan menegang secara serempak tatkala Ia berusaha menelan permintaan bodoh yang baru saja tersedot oleh lubang telinganya. Dipenghujung usahanya mencerana kata per kata, Seohyun terkekeh miris, “Jadi Oppa menemuiku hanya untuk mengatakan itu?”

“Nde, Kita akhiri… itulah peraturan managementku.” Yesung menghembuskan napas dan lagi – lagi berkata datar.

Seohyun tergelak, “Ya ampun… kenapa tidak dari dulu kau mengatakan ini?” Intonasi mengejek terselip lewat peryantaan itu.

Yesung menatap heran. Reaksi Seohyun diluar dugannya, “Jadi menurutmu aku harus bagaimana?”

“Jangan berpura pura peduli padaku dan membuatku tampak bodoh.”

“Aku tidak paham maksudmu tapi kupikir aku harus memperjelas semua…” Yesung meralat.

“Apa? Memperjelas katamu ?!” Seohyun memalingkan wajahnya dengan muak, Ia menatap Yesung beberapa saat setelahnya,“Terus kenapa? Kenapa kau tidak memperjelas semuanya dari dulu kalau ujungnya hanya seperti ini ?! Wae?!”

Mematung. Yesung tidak bisa memikirkan sepatah kata pun untuk melakukan pembelaan. Ia hanya sibuk mendengar caci maki Seohyun padanya. Selama ini Ia memang sibuk mengurusi pekerjaannya didunia hiburan. Lalu semua berubah dalam sekejap. Alasan kesibukan dan padatnya jadwal membuat Ia tidak pernah perduli dengan keadaan Seohyun dan oleh karena itu Yesung amat merasa bersalah. Ia tidak mau terus – menerus membuat Seohyun terpuruk, dan keputusan ini adalah yang terbaik.

“Sejak awal kita bertemu, kau hanya mempermainkanku kan? Bahkan sekarang, kau lebih mencintai pekerjaanmu. Yeah, pilihanmu memang tepat Oppa. Kalau kau popular maka dirimu akan semakin mudah mendapatkan yeoja yang lebih— “

“Aku tidak seperti itu, Seohyun-ah.” Kali ini Yesung benar – benar tidak percaya dengan anggapan Seohyun tentangnya.

“Tidak seperti itu? Tidak seperti itu apanya?” Seohyun memperdalam intonasi suaranya. Ia menatap Yesung tak habis fikir, “Kau menjadikanku seperti pengemis Oppa. Setiap hari aku bergelantungan mengemis kehadiranmu… perhatianmu, semua ! Tapi aku tidak mendapatkan apa pun kecuali pernyataanmu sekarang.” Ia menarik napas lalu terkekeh mengingat pengakuan Yesung padanya, “Putus?” Baiklah lakukan semaumu. Berkarier sesukamu karena aku sama sekali tidak perduli.”

Sepasang mata Seohyun mengunci pandangan Yesung dalam, “ Setidaknya aku tahu… Kau adalah namja ter… terbrengsek yang pernah kutemui !”

Percakapan mereka berhenti sampai disana. Seohyun cepat – cepat berbalik. Ia kabur begitu saja sedangkan Yesung diam ditempatnya. Memori namja itu masih terpaku pada genangan didalam mata Seohyun kala terkikis oleh angin malam.

Mianhae Seohyun, aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah jika kau berada disisiku. Aku hanya ingin, suatu saat nanti, kau bisa menjatuhkan piliahanmu kepada seseorang yang lebih baik dariku. Yesung berbicara sendiri tanpa sadar suara namja itu lebih datar dari biasanya. Ia menatap punggung Seohyun dengan nanar, kedua lengannya terkepal kuat. Kekesalan dan amarah mulai berkecamuk menyerang dirinya sendiri, mengiris jantungnya. Untuk kesekian kalinya, Ia menyakiti Seohyun. Sungguh, Kim Yesung adalah manusia terbrengsek yang pernah ada— Seperti anggapan Seohyun tentangnya.

Yesung bergeming. Perlahan – lahan tubuh Seohyun mengecil, semakin lama kegelapan memakannya hingga tak bersisa.

…………………..

Kegelapan malam tersingkir oleh waktu yang berangsur – angsur menggiring cahaya matahari menelusup melalui celah – celah jendela. Seorang yeoja masih terkubur dibawah selimut degan kondisi mata bengkak. Sejak semalam wajahnya terus diforsir untuk berkerja ekstra menjadi lintasan satu – satunya oleh butiran Kristal bening yang menganak sungai. Dampaknya pagi hari ini, Ia sulit membuka mata karena perih didalam sana. Seohyun memilih untuk tidak bekerja hari ini. Ia akan menghubungi salah satu rekan kerjanya dan berkata bahwa Ia sedang sakit. Seohyun tidak sepenuhnya berbohong karena Ia memang sakit. Ia sakit secara psikis. Seohyun sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya semalam. Hubungan mereka, hubungannya dan Yesung hancur dalam sekejap. Seohyun belum bisa percaya setelah apa yang matian – matian Ia pertahankan selama ini…Dan sekarang, sakit itu, sakit yang menusuk jantungnya berangsur – angsur kian memburuk, membuat yeoja itu benar – benar tak sanggup membendung air matanya sejak tadi malam, mungkin hingga esok pun jejak – jejak air mata akan merasuk kekulitnya yang dalam waktu singkat benda cair tersebut akan berubah menjadi duri es yang menggerogoti tubuhnya.

Seohyun juga tidak bisa melupakan hal terbodoh yang dilakukannya semalam. Tanpa sadar Ia menelpon Kyuhyun dan menangis sejadi – jadinya. Ia menceritakan segala apapun yang Ia rasakan saat itu, bagaimana hatinya sudah hancur berkeping – keping. Entah kenapa, setelah memikirkan ini berulang – ulang, Seohyun merasa hal tersebut sungguh memalukan ! Ya, satu – satunya sahabat yang ia punya adalah Kyuhyun. Seohyun bukan tipikal yang   bisa menahan kesakitannya sendiri. Ia bisa sesak napas kalau menyimpan masalah terlalu dalam oleh karenanya, Seohyun membutuhkan seseorang untuk membantunya bernapas. Hanya saja… malam itu Kyuhyun tidak banyak menanggapi atau bertanya macam – macam. Seohyun lebih mendominasi percakapan mereka. Seohyun terlalu sibuk meresapi nada isakannya yang meluap – luap. Sekarang yeoja itu merasa aneh sendiri. Ia takut Kyuhyun merasa risih padanya. Ia takut Kyuhyun menganggapnya terlalu melankolis dan sangat berlebihan. Tiba – tiba saja Seohyun merasa canggung ketika bayang – bayang Kyuhyun mulai muncul dikepalanya… entahlah.

You raise me up, So I can stand on mountains…

You raise me up to walk on stormy seas…

Im strong when im on your shoulders…

You raise me up, to more than I can be…

Seohyun menggeliat. Masih dalam posisi meringkuk, Ia meraba – raba ponselnya yang tergeletak diatas meja. Setelah mendapatkan benda itu Seohyun segera menjawab panggilannya tanpa melihat nama sang penelpon. Sambungan mereka mulai aktif. Seohyun mencoba membuka mulut untuk menyapa orang diseberang sana tapi ucapannya menjadi tak jelas, kalimat Seohyun lebih mirip seperti nada igauan aneh yang serak bercampur sengau. Benar – benar tidak ada merdu – merdunya sama sekali. Ah, selain kehilangan Yesung, Seohyun juga kehilangan suara emasnya.

“Gwencana ?” Seseorang disana berkata dengan nada hawatir. Seohyun mengerutkan kening. Sepertinya Ia hapal pemilik suara itu… Seohyun terkesiap, Kyuhyun ?!

“Yo- Yoboseyoo.” Seohyun bangkit dari posisi meringkuk. Ia berusaha memperjelas suaranya dan membuka membuka gendang telinganya lebar – lebar, “O-oppa?”

“Kau masih menangis?”

Mengangguk, satu – satunya yang sanggup Seohyun lakukan sekarang, meski Ia tahu Kyuhyun tak bisa melihatnya.

“Masih mengaharapakannya?” Kembali Kyuhyun bertanya. Kali ini Seohyun menjawab cepat, “Tidak.”

Hembusan napas Kyuhyun terdengar seperti sedang menyeringai tapi Seohyun juga tak bisa memastikannya.

“Yakin?”

Seohyun mengangguk.

“Bukan karena kata – kataku kemarin sore itu, kan?”

Seohyun diam. Kyuhyun menghela napas panjang, “Aku sangat merasa bersalah padamu kalau memang benar—“

“Aniyo.” Potong Seohyun tiba – tiba, “Kau tidak salah Oppa, Aku… Aku tidak seharusnya mempertahankan namja yang tidak mencintaiku lagi. Maksudnya kupikir kami memang tak saling mencintai, perasaan cinta itu sudah lenyap. Kesimpulannya, hubungan kami sudah tak seperti dulu…” dengan suara tersendat – sendat Seohyun berhasil menyelesaikan kalimatnya, “Lagi pula namja didunia ini bukan hanya dia seorang, lalu kenapa aku harus memikirkannya ?!” Seohyun bersungut – sungut. Ketika Ia mengingat Yesung maka energinya akan terbuang percuma.

Diseberang sana, Kyuhyun tertawa singkat. Entah kenapa mendengar Kyuhyun tertawa, sudut bibir Seohyun tertarik keatas hingga menciptakan lengkungan lebar yang mengeluarkan kekehan kecil.

“Ayo tunjukkan dirimu !” katanya dengan semangat. Seohyun tertawa mendengar nada suara Kyuhyun yang berubah kekanakan.

“Kau bicara apa sih?”

“Kita ke taman lagi.” Pinta Kyuhyun seperti tengah bernostalgia. Seohyun sibuk berpikir. Sementara hening, derai napas ini namja itu tertangkap ditelinganya. Tiba – tiba Seohyun membayangkan kalau Kyuhyun sedang tersenyum lebar, “Sore ini, mau ya?”

Seohyun ikut tersenyum.

“Tidak menjawab berarti mengiyakan.”

Kedua mata Seohyun membola, “Mwo?” kagetnya yang membuat rasa perih didalam matanya kian menusuk.

“Eum, Aku tahu hari ini kau tidak masuk kerja tapi jangan hawatir aku akan menjemputmu, berdandan yang cantik, ara?”

Terakhir kalinya suara Kyuhyun mengudara dan sambungan terputus. Seohyun menatap layar ponselnya sebal, “Yak— Aishhh…”

Sekian lama terdiam akhirnya Seohyun bangkit dari tempat tidurnya. Ia beringsut kearah cermin persegi yang tergantung dipermukaan dinding putih. Perlahan Seohyun mengamati wajahnya secara rinci. Rambut berantakan, mata sembab, wajah kemerahan. Benar – benar tak ada bagus – bagusnya. Ia menghela napas kemudian mencoba mengumpulkan kemballi serpihan semangat yang berterbangan entah kemana dan Ia tahu persis, hal pertama yang harus Ia lakukan sekarang adalah, berlari kemar mandi lalu membersihkan diri, menenangkan pikirannya untuk memilih style fashion yang pas, juga berdandan secantik mungkin, yeah, Seohyun berpikir kali ini tidak ada salahnya Ia mengabulkan permintaan Kyuhyun, namja itu sudah banyak membantunya. Lagi pula seorang yeoja memang selalu dituntut agar mereka bisa tampil cantik didepan semua orang termasuk Kyuhyun, itu wajar kan?

………..

Wajah Seohyun tampak sendu ketika Kyuhyun membunyikan klakson mobilnya persis dipinggir jalan depan rumah keluarga Seo. Namja itu tersenyum memandangi Seohyun yang saat itu masih sibuk dengan tatanan rambutnya seraya menuruni satu persatu anak tangga dengan sedikit kesusahan. Seohyun meringis kecil kearah Kyuhyun ketika tubuhnya berhasil mendarat diatas bangku samping kemudi. Kala itu, Kyuhyun sulit menahan keinginannya untuk memporak – porandakan rambut Seohyun. Rambut hitam lebat yang tadinya rapih kembali berantakan. Yeoja itu memasang wajah sebal, mengingat usahanya untuk menata rambutnya selama berjam – jam–serapih mungkin –berujung percuma.

Sekarang mereka di taman. Disepanjang jalan taman, Seohyun menarik napas berkali – kali dan menghembuskannya perlahan – lahan . Hampir setiap tiga menit, Ia menatap Kyuhyun yang berjalan disampingnya. Senyum namja itu belum juga pudar sejak tadi. Ia sibuk memperhatikan langit seraya menikmati angin sore yang menggerakkan pepohonan. Musim semi kali ini, Seohyun merasa kehilangan sesuatu. Padahal Seohyun ingin memulai segalanya dengan Yesung, memperbaiki hubungan mereka yang sempat merenggang akan tetapi namja itu memutuskan untuk pergi… Dan musim semi kali ini, tak ada lagi nama Yesung. Yesung bukan lagi peran utama dalam cerita musim favoritnya.

Suara gemericik dedaunan juga tanaman yang berbunga warna – warni menarik perhatian dari para pengunjung taman. Kyuhyun menyapu pandangannya kearah jejeran pohon bunga dengan tatapan kagum. Tak lama kemudian Ia mulai memotret segala hal yang menurutnya menarik. Selain suka menulis, Kyuhyun juga punya ketertarikan sendiri dengan dunia photografi. Dia sangat Hobby memotret, adalah satu – satunya hal yang paling menyebalkan dalam diri Kyuhyun. Seohyun sangat alergi dengan lensa kamera, Ia akan panik jika sewaktu – waktu Kyuhyun mengarahkan benda hitam itu kewajahnya.

Seohyun tersenyum simpul. Selama ini Ia tidak sadar kalau moment – moment bersama Kyuhyun justru lebih berkesan untuknya. Ia baru sadar setelah orang itu, Yesung memutuskan hubungan mereka. Selama ini Seohyun dikenal sebagai tipikal yeoja pendiam dan pemalu. Tidak ada yang berani menyapanya saat yeoja itu pertama kali bergabung dalam sanggar seni teater, kecuali Yesung tentu saja. Dari sanalah, Seohyun mengenal Kyuhyun yang adalah sahabat Yesung. Dan ketika Yesung mulai disibukkan dengan dunia entertainment, Kyuhyun mengajarkan Seohyun bagaimana Ia harus membuka diri dan berani mengahadapi lingkungan luar yang bebas dengan sikap optimis. Harus diakui, selama ini Seohyun memang sering bergantung dengan Yesung. Kalau Yesung tak ada disampingnya Ia akan merasa kesepian.

Tanpa sepengetahuan Yesung, mereka kerap mengunjungi pantai berdua, pergi ke kebun binatang, taman bermain bahkan pernah sekali Kyuhyun mengajak Seohyun untuk mengikutinya menjelajah hutan bersama teman – temannya yang lain. Kyuhyun adalah pencinta alam. Dia juga sangat peduli dengan lingkungan social disekitarnya. Seingat Seohyun, Kyuhyun juga sering ikut acara bakti social di beberapa panti jompo dan panti asuhan. Kyuhyun sangat tenang ketika menghadapi masalah. Bukan hal yang mengherankan mengingat, Ia hanya perlu menghirup udara segar untuk menghilangkan masalah – masalah itu.

‘Click’ suara bidikan kamera berpapasan dengan suara hembusan angin ditelinganya. Seohyun menoleh. Disampingnya Ia mendapati senyum Kyuhyun yang mengembang. Kyuhyun tersenyum seraya menatap layar kameranya, “Eumm tidak buruk.” Ujarnya menimbang – nimbang. Setelah puas melihat photo didalam layar, Ia berpaling kearah Seohyun dan mendapati yeoja itu sedang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.

“Kau sedang memikirkan apa?” Tanya Kyuhyun mengisi keheningan diantara mereka.

Seohyun menggeleng. Namja itu mengerutkan kening, “Tumben tidak berteriak. Biasanya kau akan mengamuk kalau aku memotretmu.”

Pengakuan Kyuhyun tadi membuat Seohyun tertegun. ‘I-iya juga ya?’

“Jangan terlalu pendiam. Kau sangat sulit ditebak.”

Detik ini juga, Kyuhyun berhasil membuat jantung Seohyun berdegup diatas normal. Seohyun merasa tercekik mendengar persepsi Kyuhyun tentangnya. Bahkan Seohyun belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa sadar, Ia kerap kali bertindak bodoh dan bersikap diluar kendali.

“Belajar terbuka, minimal padaku.” Tawarnya dengan senyum tulus yang seolah – oleh bersifat permanent, karena senyum itu belum juga pudar sejak tadi. Seohyun belum menjawab apa – apa. Entah kenapa hari ini Kyuhyun membuanya semakin tak berkutik.

Wajah kebingungan Seohyun diartikan oleh Kyuhyun sebagai isyarat agar Ia bisa memperjelas semua, segala apa pun yang Ia rasa dan pikirkan. Kyuhyun tersenyum penuh arti kemudian lengannya terulur menggapai lengan Seohyun. Kyuhyun mengajak Seohyun berlari kesuatu tempat. Seohyun menoleh kanan kiri dengan wajah gugup. Keringat dipelipis Seohyun bertambah ketika Kyuhyun secara pelan – pelan menyatukan jemari mereka. Dan hembusan napas itu tergiring diatas rerumputan hijau yang luas.

“Wahhh…” Seohyun menatap kagum disaat angin kebebasan menerpa wajahnya. Ia baru tahu ada tempat seperti ini. Setelah melewati tumbuhan pagar yang berliku – liku, mereka akhirnya tiba ditempat yang tak terduga. Hamparan padang hijau yang membentang. Disini hanya ada desiran angin yang bisa tertangkap, kerena pohon berserta dedaunan berada jauh dipinggir.

“Seohyun.”

Mendengar namanya mengudara, Seohyun menoleh.

‘Click’

Kyuhyun terkekeh menatap layar kameranya. Kali ini Ia berhasil menangkap wajah Seohyun secara utuh. Sang pemilik wajah menarik napas, Ia hendak berkata sesuatu tapi ditelannya kembali.

“Wajahku jelek kau tahu…” Akhirnya Seohyun berkata sesuatu meski dengan suara datar, “Lihat mataku.” Seohyun melotot kearah Kyuhyun. Mata yeoja itu memang agak sembab. Kyuhyun lalu mengangguk.

“Mungkin iya waktu aku menjemputmu, kalau sekarang kau cantik kok.”

Seohyun memutar bola matanya seraya berpaling kearah lain. Ia berdehem singkat untuk sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya yang kian memanas, Seohyun bisa memastikan kalau wajahnya pasti memerah sekarang.

Kyuhyun beranjak dari posisinya lalu berdiri didepan Seohyun. Yeoja itu terbelalak melihat Kyuhyun kembali memotretnya. Tubuh Seohyun berputar – putar tidak jelas. Sambil menyembunyikan wajahnya Ia berusaha menggapai – gapai lensa kamera. Sementara itu Kyuhyun seperti tak punya niat sedikit pun untuk memberhentikan aksinya, mengabadikan wajah Seohyun.

Click, click, click…

“Yak Hentikannn Oppaaa..” Seohyun menjerit geram. Kali ini ia benar – benar kesal. Wajah Seohyun merah padam. Tatapan yeoja itu berubah galak.

Kyuhyun tertawa sebenarnya masih ingin memotret wajah Seohyun dari berbagai macam ekpresi. Hanya saja Ia sedikit takut melihat tatapan mata Seohyun yang seolah akan menerkamnya detik itu juga.

Sekali lagi Kyuhyun mengangkat kameranya, Ia mulai menjangkau sudut dimana Seohyun berdiri, tapi rencana pemotretan itu urung Ia lakukan. Seohyun lebih dulu mengejarnya. Kyuhyun tahu kalau Seohyun terobsesi merenggut kameranya, maka dari itu, Ia berusaha lepas dari kejaran Seohyun. Kyuhyun berlari tidak tentu arah sedangkah Seohyun berusaha menggapai – gapa kemeja Kyuhyun tapi yeoja itu hanya sebatas menyentuhnya.

Lima belas menit saling berkejaran, mereka memutuskan untuk berhenti. Seohyun berhasil menggapai kerah kemeja Kyuhyun, sedangkan namja itu mulai pasrah. Ia berusaha mengatur napas seraya menggumamkan kalimat ampun berkali kali. Seohyun juga sudah tak punya tenaga untuk balas dendam, bahkan untuk menggenggam kamera Kyuhyun, sekali pun. Kaki dan tangannya gemetaran, Kyuhyun merasakan hal serupa. Hingga akhirnya mereka ambruk diatas rerumputan.

Kyuhyun benar – benar jatuh terbaring dihamparan taman hijau, begitu pula dengan Seohyun. Kyuhyun merentangkan tangannya meresapi bisikan rerumputan yang begitu menggoda, Seohyun melakukan hal yang sama . Mereka tersenyum kecil, tertawa bersama dan menyadari kebodohan masing – masing.

Sinar jingga yang berserakan diatas langit memantul diwajah mereka. Hembusan sepoi angin menelusup kedalam lubang telinga, meniupkan bunyi tersendiri yang menggema didalam perutnya kemudian ribuan kupu – kupu menari didalam sana. Seohyun mememjamkan mata. Ia mendengar suara napasnya sendiri, melaju dengan cepat lalu berhembus dengan tenang.

Kyuhyun menghirup napas dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia sibuk menormalkankan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat. Setelah cukup bisa mengendalikan tubuhnya, Kyuhyun menatap seorang yeoja yang ikut berbaring disampingnya.

“Seohyun-ah…”

“Hmmm…” balas Seohyun dengan mata terpejam. Kyuhyun tersenyum melihatnya.

“Kau masih berharap Yesung berbaring disampingmu ?”

Seohyun membuka matanya secara paksa. Ia menatap Kyuhyun lamat, “Mwo?”

Kyuhyun memikirkan sesuatu kemudian terkekeh ringan, “Aku hanya bercanda, tak usah dipikirkan.”

“Oppa..” panggil Seohyun kembali. Kyuhyun menoleh, “Hmm?”

“Gomawo,”

Sebelah alis Kyuhyun terangkat. Seohyun menatap Kyuhyun sekilas kemudian memalingkan wajahnya. Tatapan yeoja itu berhenti pada satu titik, titik dimana bulatan matahari sore semakin mengecil ditengah hamparan langit jingga yang berangsur – angsur pekat.

Seohyun tersenyum, arah tatapannya masih sama, “Gomawo untuk hari ini meskipun rasanya sakit ketika harus mengingat kejadian semalam, tapi aku merasa lebih baik sekarang. Kupikir aku harus belajar melupakannya. Aku harus mencari seseorang yang bisa kujaga dan seseorang yang bersedia menjagaku sepenuh hati. Dan pada akhirnya, cerita musim semi impianku akan terwujud,” Ujarnya kali ini dengan mata yang terpejam seperti semula, seakan – akan terhanyut oleh situasi hening disekelilingnya.

Kyuhyun meraih kelima jemari Seohyun. Yeoja itu menatap bingung. Sorotan matanya berpindah – pindah. Ia menatap Kyuhyun seolah meminta penjelasan, kemudian menatap jemarinya sendiri dengan senyum tipis, meski begitu Kyuhyun bersyukur Ia tak mendapat penolakan yang berarti…

“Seohyun aku tahu ini tidak masuk akal tapi…” Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Namja itu menarik napas dalam – dalam sebelum akhirnya berhembus dengan cepat. Seohyun menatap wajah Kyuhyun yang kini berubah pucat. Telapak tangannya yang dingin membuat tubuh Seohyun ikut menggigil

“A-aku…” Kyuhyun menahan kalimatnya, Ia berdecih kesal karena tiba – tiba saja suaranya tercekat ditenggorokan. Seohyun memandangnya bingung.

“Seohyun..” kali ini nada suara Kyuhyun berubah tegas. Namja itu menatap Seohyun penuh keseriusan, “Selama ini kupikir aku hanya berperan sebagai pengganti Yesung disisimu. Yesung selalu menelponku untuk menggantikannya berkencan jika sewaktu – waktu Ia membatalkan janji. Aku ingin menghajarnya karena telah menyakitimu, tapi aku juga tak mau munafik. Aku senang Yesung seperti itu karena disatu sisi, aku bisa lebih dekat denganmu… Aku mulai berpikir kalau moment diantara kita sangat berharga. Dan entah mengapa aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Aku menyukai senyummu, tawamu.,, Aku senang mendengar suaramu dan mengingat wajahmu pada malam hari…”

Seohyun bergeleng pelan. Seohyun tidak mau percaya ini, meski sebelumnya Ia memang sudah berpikir mengenai kemungkinan yang bisa terjadi apabila ia terus – menerus tinggal disisi Kyuhyun. Perasaan – perasaan aneh itu pasti akan muncul seiiring berjalannya waktu.

“Yesung. Aku sudah memberitahunya. Aku berkata padanya kalau aku menyukaimu…”

“M-mwo?”

“Malam setelah dia datang padamu. Kau menelponku dengan isak tangis yang membuatku berhenti bernapas. Aku juga tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Yang kutahu, malam itu aku benar – benar marah pada Yesung….”

“Aku menelponnya malam itu juga. Kukatakan padanya kalau aku mencintaimu dan aku menyuruhnya untuk tidak mengganggu kehidupanmu lagi…”

“Seohyun… Mianhae aku lancang—“

Seohyun beranjak dari posisi baring. Ia mendudukkan tubuhnya diatas rerumputan. Seohyun menggigit bibir bawahnya dan merenung. Selang beberapa detik, suaranya mencuat.

“Aniyooo… Diantara kami sudah tidak ada lagi cinta bahkan rasa rindu untuknya tak sama lagi seperti dulu. Jantungku berdetak normal, aku tak merasakan apa pun ketika melihatnya semalam. Dan setelah kurenungkan kembali, aku mendapat satu kesimpulan bahwa alasanku menangis bukan karenanya. Aku… Aku hanya menangisi kebodohanku karena telah menyia – nyiakan kesempatan juga waktu yang berharga untuk orang seperti Yesung namja yang tidak mencintaiku sama sekali. Dan selama ini aku sadar kalau aku hanya terpenjara didalam angan – angan kosong mengenai hubungan kami yang hambar.” Papar Seohyun dengan raut kecewa yang hinggap dipermukaan matanya.

“Aku menyesal, Oppa…” sesalnya kembali menundukkan wajah. Kyuhyun mengikuti langkah Seohyun. Ia bangkit mendudukkan tubuhnya. Pelan – pelan Ia menepuk pundak Seohyun, berharap dengan begitu, setengah dari perasaan bersalah Seohyun tersalurkan padanya. Ia tak ingin Seohyun berkutat dengan kesedihannya seorang diri.

“Seohyun-ah…” panggil Kyuhyun terdengar ragu – ragu

Seohyun mendongak. Posisi matanya bertatapan langsung dengan manik mata Kyuhyun.

“Saranghae… Jeongmal saranghae…”

Pernyataan Kyuhyun seketika menerobos pendengaran Seohyun. Kini, yeoja itu menatap Kyuhyun seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.

“Oppa… Kau…”

“Aku tahu menurutmu ini konyol, hanya saja aku benar – benar merasakan semuanya. Ucapanku di taman kemarin membuatku sadar kalau semua yang kukatakan padamu, terdengar lebih pantas untuk diriku sendiri. Segala perasaan yang kukatakan padamu, merasa bahagia, merasa rindu, ingin mendengar suaranya dan jantung berdebar jika melakukan sesuatu bersamanya. Kau tahu, dia yang kumaksud adalah kau. Aku bahagia melakukan apa saja bersamamu. Setelah menghabiskan waktu bersama, aku jadi ingin memilikimu…” Kyuhyun menarik napas ketika melihat reaksi Seohyun. Yeoja itu sepertinya ingin berbicara sesuatu tapi entahlah. Kyuhyun mulai gelisah, takut seandainya Seohyun mengucapkan satu kalimat yang mengindikasikan bahwa Ia menolak kehadiran namja mana pun termasuk dirinya. Kyuhyun buru – buru menambahkan, “Mungkin ini terlalu cepat karena hubunganmu dengan Yesung baru saja kandas.”

Gerlingan mata Seohyun bergerak labil. Kyuhyun mulai pasrah. Bagaimana pun ia tak bisa memaksa Seohyun untuk menerima pengakuannnya.

“Seohyun-ah, Kau tidak perlu memberikan jawabanmu sekarang. Hanya saja…” ujarnya berpikir sejenak, “Aku punya satu pertanyaan untukmu…”

Seohyun penasaran. Kedua alisnya terangkat.

“Apa kau bahagia bersama Yesung ?”

“Menurutmu?” Seohyun menatap bertanya – tanya sedangkan Kyuhyun, Ia terdiam memikirkan sesuatu.

Usai menerawang sejenak, pikiran Seohyun kembali fokus. Ia tersenyum yakin kearah namja disampingnya, “Apa aku perlu menjawab pertanyaan yang bahkan kau sudah tahu jawabannya?” ujar Seohyun tanpa ragu namun setelahnya, kening yeoja itu berkerut samar melihat Kyuhyun yang tiba – tiba terkekeh, “Aku terlalu bertele tele ya?”

“Ne?”

“Baiklah langsung saja…” Kyuhyun meraih kedua tangan Seohyun. Perlahan – lahan Ia menyelipkan jemarinya, membungkus kepalan hangat yang bersatu erat. Seohyun diam saja, tak ada penolakan serius yang Ia tunjukkan.

“Seohyun-ah…” Sebelum bicara, Kyuhyun memandangi Seohyun penuh kesungguhan. Ia menegakakkan punggungnya seraya menarik napas dalam, “Jadi masih adakah kesempatan untukku? Aku ingin membahagiakanmu.”

Seohyun menunduk sebelum menjawab, “Bagaimana kalau aku tidak bahagia?”

“Aku akan berusaha.”

“Bagaimana kalau gagal ?” Sekali lagi Seohyun bertanya.

“Aku akan memperbaikinya,”

“Bagaimana caranya ?”

“Lihat saja nanti.” Kyuhyun tersenyum meyakinkan, “Asal kau bisa membuka hatimu, yakinlah, aku akan berhasil membahagiakanmu. Saranghae…”

Mungkin cara Kyuhyun mengakui perasaanya terdengar aneh. Apalagi gerakan tubuh Kyuhyun terlihat sangat gugup. Keringatnya menetes – netes tak jelas. Entah mengapa dimata Seohyun, segala apa pun yang Kyuhyun tunjukkan padanya terasa sangat berkesan. Tiba – tiba Seohyun berpikir mengenai apa yang mereka lalui selama ini. Saat Yesung tak berada disampingnya, Kyuhyun selalu meminjamkan bahunya ketika Ia bersedih. Seohyun mengenal Yesung lebih dulu akan tetapi Ia cenderung berbagi cerita, tangis dan tawa bersama Kyuhyun. Jika masalah datang menghampiri, Seohyun belum tenang sebelum ia bertemu Kyuhyun, memunculkan pemikiran ekstrem bahwa hidupnya bergantung pada Kyuhyun.

Dan mengenang semua itu seolah mendorong kehangatan lain menanjak kepermukaan, kehangatan yang melelehkan hatinya yang beku.

Seohyun meneggak ludah ketika suasana berbalik hening. Kyuhyun menunggu jawabannya dengan ekspresi was – was. Detik itu juga, Seohyun merasa kalau guncangan dalam dadanya bergerak diatas normal juga keanehan lain. Seohyun tak bisa mengartikan seberkas rasa hangat yang menyangkut diwajahnya kini. Mungkin inilah yang dimaksud Kyuhyun… Perasaan itu, perasaan yang tiba – tiba, datang mengetuk hatinya.

“Oppa, aku…”

Kyuhyun tak berkedip.

“Aku tak punya alasan—“ Seohyun memejamkan matanya. Lalu Ia mencoba menatap Kyuhyun, “Aku tak punya alasan berkata tidak padamu.”

“Ya. Baiklah— nado.” ujar Seohyun tersenyum tipis. Kyuhyun berhambur memeluknya. Seohyun membalas pelukan itu. Ia melingkarkan tangannya diseputaran leher kokoh Kyuhyun, menghirup aroma tubuh namja itu dalam – dalam, kemudian saling menyalurkan kehangatan satu sama lain. Kehangatan yang kini berubah sempurna.

Lubang – lubang dihatinya perlahan menutup. Kekosongan itu seolah tergilas oleh sepetak taman bunga yang bersemayam disana. Dan Sebelum senja menghilang, Seohyun ingin bersyukur kepada Tuhan atas kehadiran seseorang. Cho Kyuhyun, namja yang mendekapnya kini. Namja yang telah Ia beri kepercayaan untuk berupaya membahagiakannya, hari ini, esok dan seterusnya…

…………. The End …………….

7 thoughts on “[ Oneshoot ] FF SeoKyu – For This Happiness

  1. ana berkata:

    Nice ff, kyu sosweet bgt ngelindungi seo bgt, seo emang hanya utk kyu. Dr awal seo emang udh tergantung dg seo tnp sadar. Izin baca ff yg lain ya. Klu bisa banyakin ff seokyu nya dong hehe soalnya aq wires. Fighting dtggu ff seokyu lainnya.

  2. Queenzha berkata:

    So sweet…. Seohyun udah gak usah ngarepin Yesung oppa lagi bikin sakit hati ><
    Mending yang ada didepan kamu aja #likir-kyu-hehe
    Kyu perhatian banget ama seoooo, pengen banget ketemu cowok yang kea kyu hehheee.
    Ditunggu ff laennya Eonni ^___^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s