FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 7 )

Image

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

~Happy Reading ^____^ 

Part 7

‘Kau salah paham Yoong….’

‘Kami hanya sebatas rekan kerja. Jebal aku serius…’

Kira – kira pesan seperti itulah yang terbaca oleh krystal, adik Donghae yang tengah memainkan posel Yoona. Kala itu sang pemilik ponsel baru saja mendorong pintu kamarnya. Ia baru saja akan masuk tapi langkahnya berhenti. Im Yoona mematung kaku diambang pintu kamar. Yoona  kaget melihat Krystal sudah duduk diatas ranjangnya. Dan perasaan itu kian menjadi setelah mengetahui bahwa rupanya Krystal mengaktifkan ponsel tersebut setelah Yoona berusaha mematikan benda itu seharian.

“Eonnie bertengkar dengan Dongdong Oppa?” Pertanyaan itu dilontarkan krystal, menguatkan indikasi bahwa krystal benar – benar membaca rentetan pesan masuk dari Donghae. Pesan- pesan yang belum terbaca karena Yoona sengaja memutus kontak dengan Donghae guna menenangkan pikirannya.

Usai peristiwa mencengangkan siang itu, Yoona kehilangan selera untuk mendengar penjelasan apa pun dari Donghae. Yoona langsung berlari menaiki bus menuju kampusnya. Ia berusaha mengenyahkan pikiran – pikiran buruk dikepalanya, tapi hasilnya tetap sama. Bayangan Donghae dan Jessica berputar – putar seperti alur drama, dampaknya, Yoona benar – benar kehilangan konsentrasi mengikuti mata kuliah apa pun. Hingga jam kuliah berakhir, Yoona berkelantungan di jalan tanpa tahu arah tujuan pasti. Beberapa menit kemudian, tahu – tahu Yoona sudah berdiri didepan pintu rumah keluarga Lee. Keluarga yang selama ini mengasuhnya, sekaligus keluarga Donghae. Karena sudah kepalang basah, Yoona memutuskan untuk tinggal sementara disana sampai Ia benar – benar siap bertemu Donghae.

“Krys apa yang kau lakukan ?!” Yoona bergegas merampas ponselnya dari tangan Krystal. Anak itu meringis canggung karena reaksi ketidaksukaan Yoona.

“Aishh, panik sakali. Aku tidak akan memberitahukannya pada Eomma, tenanglah.” Krystal mencoba bernegosiasi. Ia memasang puppy eyesnya agar emosi Yoona mereda.

Menarik napas panjang, Yoona meniup ubun – ubunnya pasrah. Tidak ada gunanya berdebat dengan krystal. Ujung – ujungnya anak itu pasti akan merengek kalau tersudut.

“Aku kesini karena bosan di kamar. Lagi pula aku sudah tidak sabar ingin menceritakan ini padamu. Sejak Eonni menikah dengan Dongdong Oppa, aku jadi kesepian.” Krystal menunduk memperlihatkan wajah sedihnya.

Kali ini Yoona kehabisan tenaga untuk marah. Ia mendaratkan tubuhnya diatas ranjang, tepat didepan krystal. Yoona mengelus puncak kepala krystal berharap agar yeoja itu tidak bersedih lagi, “Baiklah, sudah lama aku tidak mendengar ceritamu.” Yoona mengangkat wajah krystal supaya menatap kedepan. Krystal tersenyum senang. Dipermukaan matanya tersirat tumpukan kalimat yang siap Ia muntahkan.

“Tebak Eonnie…. Sekarang aku menjalin hubungan dengan siapa?” Tanya krystal dengan wajah berbinar – binar.

Yoona menampilkan wajah berpikir keras, “Minho…”

Krystal menggeleng sedih. Dan itu berarti hubungan mereka sudah berakhir, karena setahu Yoona mereka berpacaran.

“Onew…” timpal Yoona membuat krystal tertawa. Onew adalah namja yang bahkan sampai sekarang mengejar – ngejar Krystal tapi selalu ditolak.

Yoona memberengut karena dugaannya tidak ada yang benar. Yoona kembali berpikir, “Taemin.”

“Bukan…” lagi – lagi krystal menggeleng, beberapa detik setelahnya Ia tersipu, “Bukan Taemin, tapi temannya.”

Kedua mata Yoona membulat, “T-temannya… Kai? Si kulit gelap ithu?!”

Krystal mengangguk.

“Kau gila?! Dia itu kan playboy.” Yoona menatap tidak percaya.

“Aku bosan dengan anak baik – baik. Sekali – kali dengan orang seperti itu, boleh kan?” krystal meminta persetujuan, “Kau tahu Eonnie, bahkan Minho, orang yang kukira anak baik – baik ternyata menduakanku, jadi apa salahnya berpacaran dengan playboy sekalian ?!” ungkapnya lagi membuat Yoona sedikit tertohok. Buru – buru Yoona memasang senyumnya kembali. Ia menatap Krystal penuh minat, “Oh, jadi Kai adalah pelarianmu ?”

Krystal meringis kaku. Yoona sudah tahu  apa jawabannya, “Ya, Itu karena minho yang bermesraan dengan yeoja lain didepan mataku. Aih, dia pikir aku akan menagisinya?!”

Yoona menerawang, “Begitukah?”

Pengakuan krystal lagi – lagi membuat suhu tubuh Yoona memanas. wajah Donghae dan Jessica teringat kembali. Yoona merasakan sesak didadanya, seperti terhimpit oleh  puluhan batu yang baru saja terjun dari atas. Tiba – tiba Yoona merasa kalau suhu panas itu menjalar kematanya. Yoona tidak mengerti kenapa perasaannya menjadi seliar ini. Dan hal – hal seperti sekarang-lah, momok menakutkan yang paling ditakutinya, yaitu ketika logikanya mengabur karena mencintai seseorang terlalu dalam. Harusnya Ia bisa mengerti pekerjaan Donghae. Harusnya Ia bisa percaya kalau Donghae dan Jessica hanya sebatas rekan kerja. Harusnya… dan harusnya. Yoona ingin bersikap biasa dengan keadaan seperti itu, namun hati  kecilnya terlalu sulit menolak rasa tidak suka.

“Eonnie…” panggil Krystal mengibas – ibaskan tangannya didepan wajah Yoona. Setengah kesadaran Yoona berhamburan.

“Eonnieee…” panggilnya lagi setengah berbisik sambil menunjuk – nunjuk sesuatu dengan matanya.  Yoona meminta penjelasan, terlebih Ia menangkap ekspresi panik disekitar wajah Krystal. Yoona bingung, apa sehancur itu wajahnya ketika mengingat Donghae, sampai – sampai Krystal menatapnya seolah baru saja mendengar alarm kebakaran?

“Itu.”  Krystal mencolek lengan Yoona seraya menatap lurus kearah pintu. Yoona membalik wajahnya mengikuti arah tatapan Krystal. Perlahan – lahan tubuh Yoona bergetar, Ia kehilangan selera membahas apa pun sekarang. Ketika sosok itu kian mendekat, Yoona bangkit dari posisinya. Ia ingin keluar dari kamarnya sendiri. Keputusan bodoh yang diambilnya tanpa sadar ialah pulang ke rumah orang tua asuhnya, keluarga Lee dan sialnya, Yoona tidak bisa berpikir kalau  tempat tersebut sangat mudah terdeteksi oleh Donghae.

Secepatnya Yoona bergegas menuju pintu. Ia tidak ingin berpapasan dengan Donghae tapi Yoona sulit  mengelak. Donghae sudah berdiri didepannya bahkan kini Donghae menahan lengan Yoona agar yeoja itu tak bisa keluar.

“Yoona beri aku waktu sebentar.” Pinta Donghae dengan ekspersi bersalah. Yoona menatap Donghae sebentar. Pancaran letih menguar dari Wajahnya yang lusuh berbanjir keringat, kemeja yang melekat ditubuhnya sejak pagi tadi tampak rapih, kini berganti awut – awutan. Disisi lain Donghae tidak peduli dengan keadaannya sekarang. Donghae tidak ingat berapa banyak waktu yang Ia pangkas agar cepat – cepat sampai ke rumah Eommanya beberapa detik setelah sang Eomma mengundang dirinya makan malam dengan iming – iming bahwa Yoona juga ada disana. Bahkan Ia mengabaikan jatah lemburnya malam ini.

“Aku juga butuh waktu menghindarimu.” Jelas Yoona singkat. Ia coba melangkah meninggalkan Donghae namun langkahnya kembali dijegal.

“Yoong dengarkan penjelasannku.” Pinta Donghae sekali lagi.

Yoona menatap Donghae tajam, “Aku sudah tahu apa yang mau kau katakan Oppa, jadi ber—“

“Yoona-ya.” Donghae menarik napas dalam seraya menatap Yoona serius, “Biarkan aku bicara dulu. Jebal.”

Nada permohonan Donghae membuat Yoona menjadi miris. Yeoja itu meniup ubun – ubunnya pasrah kemudian menatap tidak peduli, “Baiklah, bicara disini…”

“Disini ada Krystal.” Donghae menyanggah. Yoona mengikuti tatapan mata Donghae yang menunjuk kearah Krystal. Dibarengi wajah polos anak remaja, gadis itu terheran – heran menonton pertengkaran Eonnie dan Oppanya. Krystal mencengkram ujung sprei tanpa sadar, Ia ketakutan.

“Aku bisa menyuruhnya keluar.” Usul Yoona sesungguhnya tidak tahu apa yang harus Ia lakukan sekarang.

“Lebih baik kita yang keluar.”

“Mwo?”

Tanpa menunggu persetujuan, Donghae menarik tangan Yoona  keluar meninggalkan Krystal sendiri di kamar. Berulang kali Yoona mencoba berontak tapi kekuatan Donghae jauh lebih besar dari tenaga yang Ia miliki saat ini. Yoona tidak bisa berkutik selain mengekori  langkah Donghae kemana saja dengan  pikiran juga rasa yang bertolak.

“Eh mau kemana? Makan dulu baru pulang !” Nyonya Lee yang baru saja menaruh piring diatas meja makan, menginterupsi langkah Donghae juga Yoona. Nyonya Lee mulai hawatir ketika melihat Donghae menyambar kunci mobil diatas meja.

“Lain kali saja Eomma.” Tolaknya halus. Selanjutnya Donghae dengan masih menggiring Yoona, berjalan menuju pintu keluar. Mereka berjalan terburu – buru membuat Nyonya Lee semaikin bertanya – tanya. Yeoja paruh baya itu baru saja ingin melontarkan tanda tanda tanya yang singgah dikepala, namun lebih dulu tertahan oleh Donghae. Tiba – tiba namja itu  berbalik badan karena lupa sesuatu.

“Ah, Bilang pada Appa, aku akan mengembalikan mobilnya besok pagi. Kami pergi annyeong.” Pesannya untuk terakhir kali sebelum punggung Donghae dan Yoona benar – benar termakan oleh daun pintu. Nyonya Lee hanya bisa geleng – geleng kepala. Ia bisa mengerti, pasti sangat sulit bagi Donghae maupun Yoona menyesuaikan perasaan mereka agar bisa saling mengerti satu sama lain. Rasa cinta kalau tidak bisa dikendalikan, sewaktu – waktu akan menjadi boomerang berbahaya yang menghancurkan dinding suatu hubungan. Nyonya Lee berdoa dalam hati. Ia tidak ingin kejadian semacam itu menimpa anaknya. Dan sebagai seorang Eomma  Ia tak henti – henti  berharap yang terbaik untuk anaknya.

……………….

Dalam situasi hening, Yoona menerawang kearah jendela samping mobil. Jalanan gelap mengiringi kepergian mereka. Disamping kanan kiri beberapa kendaraan mencoba menyalip dengan laju yang tak kalah cepat.  Sepanjang perjalanan itu pula, Yoona hanya duduk mematung, membiarkan Donghae sibuk sendiri dengan kemudinya tanpa mencoba membuka topik pembicaraan.

Udara dingin disekeliling ruang mobil berhembus kasar melalui bibir tipis Yoona. Berada didekat Donghae membuatnya ingin kabur.  Bayang – bayang kejadian tadi siang belum bisa terhapus. Terlebih lagi adegan dimana Jessica merangkul pundak Donghae dari belakang. Yoona bergeleng  samar guna mengenyahkan perasaannya yang kian menjadi. Ia tidak boleh meledak sekarang. Dan menahan semua itu nyaris membuat Yoona berhenti bernapas.

“Tidak bisakah kau mengerti ?” Donghae bergumam sendiri, matanya tetap fokus menatap jalan raya.

“uh?” paraktis Yoona menoleh. Ia menatap bingung sambil berpikir. Mungkin untuk  sementara waktu dirinya bisa menerima Donghae berdekatan dengan yeoja, mau itu rekan kerja atau siapa pun tapi kalau lama – lama keadaaan seperti ini  tetap berlanjut…

“Lalu bagaimana dengannya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Yoona.

“Mwo?”

“SIapa yang bisa menjamin dia tidak punya perasaan denganmu atau sebaliknya?” Yoona menatap lurus kedepan lalu berkata lagi, “Dan siapa yang bisa menjamin kalau setelah ini, setelah waktu yang kalian habiskan, kau  malah tertarik dengannya…”

Belum ada jawaban dari Donghae. Yoona mengerling. Sekilas Ia menangkap ekspresi wajah Donghae yang datar sekaligus tampak berpikir keras.

“Ditambah lagi dia cantik dan kaya—”

Donghae membanting stirnya kebadan jalan. Yoona kaget karena tiba – tiba mobil itu sudah berhenti setelah Ia nyaris menerima serangan jantung mendadak. Beberapa mobil  hampir bertabrakan dengan mobil mereka saat hendak menyalip dari belakang. Yoona mengerjap berkali – kali, “Oppa..”

“Yoong Miane.” Donghae membuang napas bersalah, Ia tahu kalau Yoona merasa ketakutan, Donghae sedikit emosi membuatnya kehilangan kendali, dan aksi dadakan itu pun terjadi.

Mereka terdiam lama, Bagaimana pun Yoona butuh waktu untuk menormalkan detak jantungnya akibat kejadian barusan. Tiba – tiba suara Donghae memecah situasi hening ditengah  mereka.

“Aku tidak punya alasan untuk meninggalkanmu, Yoong.” Lirih Donghae tanpa menatap Yoona. Fokus pandangannya tertuju kearah stir mobil yang dingin dan kaku.

Yoona menarik napas dan tersenyum miris, “Entahlah, aku tidak tahu apa aku harus mempercayaimu atau tidak.” ujarnya menghembuskan napas pelan, “Aku  sudah mengorbankan semua Oppaa… perasaanku, rasa bersalahku… .Aku mengorbankan semua itu agar bisa menerimamu seutuhnya. Aku lelah.” Jelas Yoona menerawang. Donghae menatapnya tidak mengerti.

“Kalau kehadiran Jessica- sahabat lamamu membuat kau lebih nyaman.” Yoona menatap Donghae takut – takut, sesekali Ia menyembunyikan wajahnya, “Setelah  masalah shinjung dan keluargnya beres, kau boleh mencampakanku—”

“Im Yoona!”.

Suara Donghae menginterupsi Yoona untuk menahan kalimatnya. Tatapan mereka bertumbuk. Yoona tentu tahu bagaimana perasaan Donghae sekarang. Ketika namja itu memekikkan namanya secara formal, maka berarti ada yang fatal dengan kalimat yang baru saja Ia dengar. Tatapan Donghae kian menusuk dan Yoona seolah baru saja tertimpa gunung es.

 “Aku menikahimu bukan karena masalah Shinjung.” Nada bicara Donghae terdengar dingin. Yoona tidak berani menatap Donghae, tapi Ia nekad melakukannya, “B-Benarkah? Setelah melihatmu dan Jessica, aku jadi ragu dengan keseriusanmu.”

Sepasang mata Donghae memicing. Sementara itu, Yoona sibuk dengan pikirannya menganalisa  suara kegugupan dari caranya berujar tadi. Yoona tidak mengerti apa yang membuat aura Donghae terasa menakutkan sekarang. Padahal namja itu tidak main pukul, atau membentaknya berkali – kali.

“Seberapa ragu ?” suara Donghae bagaikan teraduk oleh butiran es. Satu keterkejutan diluar rencana bahwa  Ia  memutus jarak secara sepihak. Perlahan lahan rentang wajah mereka berkurang  satu jengkal. Yoona memudurkan wajahnya karena tiba – tiba Ia sulit bernapas.

“Enam dari sepuluh…” Jawab Yoona  sekenanya. Ia tidak bisa berpikir tentang maksud dari pertanyaan Donghae. Ia hanya berpikir kalau pertanyaan Donghae harus segera dijawab. Kalau tidak maka…

 “Sebatas itu?”

Dengan Leher tercekat, Yoona menatap Donghae sekaligus menghitung berapa jengkal  lagi jarak diantara mereka hingga Ia benar – benar harus menutup matanya. Yoona menelan salivanya dengan susah payah dan mencoba berbicara lebih tegas.  “Menurutmu?”

“Bagaimana kalau kubalik?”

“Mwo?” Yoona semakin bingung.

“Aku yang ragu dengan keseriusanmu.”

Yoona mengernyit.

Donghae menatap selidik, “Delapan dari sepuluh…” pungkasnya, Yoona tertegun. Ia ingin menembus pikiran Donghae sekarang namun usahanya gagal karena pikiran Donghae, Yoona belum mengerti alur dari pikiran Donghae.

“Kalau begitu tanpa ragu, biarkan aku menikmati keseriusanmu, dua dari sepuluh.” Kali ini Donghae menggapai wajah Yoona, membelai pipi kemerahan yeoja itu lembut, “Kau juga harus menikmati keseriusanku empat dari sepuluh.”

Kedua mata Yoona membulat. Keringat dingin langsung menyesaki wajahnya yang mula – mula tertarik kedepan.

 “Oppa, jangan bercanda…”

“Yak Lee D—mphhh.“

Berawal dari kecupan lalu tumbuh semakin dalam. Donghae sulit mengubah posisinya saat ini. Tubuh namja itu terlanjur memanas. Ia tidak perduli dengan Yoona yang mencoba berontak. Bahkan bibir basah Yoona karena aliran dari kedua matanya, tidak diindahkannya sama sekali. Donghae mencurahkan seluruh kekesalan juga amarahnya. Ia tidak punya daya untuk menjelaskan apapun, betapa Ia serius akan hubungannya dengan Yoona, juga betapa Ia meradang  saat mendengar keputusan Yoona yang tetap meragukannya, sebanyak apa pun Ia meyakinkan yeoja itu. Gemuruh jantung kian bertalu, waktu mengejar mereka dan Donghae belum berniat menyudahi penyiksaan ini. Entah setan apa yang merasukinya.

Yoona tidak merasakan lagi kelembutan dalam diri Donghae. Cara namja itu memulai benar – benar membuat Yoona ketakutan. Perangai kasar yang Ia alami begitu cepat merusak kinerja otaknya. Sikap Donghae yang seperti ini membuat pikiran Yoona berantakan. Memori otaknya seolah tidak bisa membedakan kehidupan masa lalu dengan masa sekarang. Periode – periode itu bercampur menjadi putaran alur yang rancu dan tak berujung. Dan disanalah Yoona bisa menyaksikan sendiri bagaimana perangai kasar itu membuatnya berteriak. Suara – suara itu  kembali bertabur disekitar Yoona, Yoona merasakan tubuhnya lemas tapi Ia tidak bisa menghentikan bayang – bayang dikepalanya  sebelum  Donghae menghentikan semua ini.

Sesak menghantam Yoona. Yeoja itu ingin menangis, berteriak sekencang – kencangnya , namun hanya isakan pilu yang terdengar. Perlahan – lahan tubuh Yoona limbung, ia berakhir dalam dekapan Donghae. Keringat Yoona berhamburan, bahkan untuk berkedip tenaganya habis terkuras. Donghae terperangah melihat kondisi Yoona yang seperti orang sekarat. Dengan tangan gemetaran, Donghae mencoba menggenggam pundak Yoona. Donghae nyaris melakukan itu, sebelum Yoona tiba – tiba mendorong dada bidangnya dengan sisa – sisa tenaga. Tangan mungil Yoona memang tidak cukup untuk menggeser tubuh Donghae sedikipun, hanya saja setelah itu, Donghae harus menerima bonusnya secara mentah – mentah.

#Plakkk

Yoona menampar Donghae kemudian menangis sejadi – jadinya. Yoona pernah berjanji dengan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan bersikap histeris didepan Donghae tapi, kejadian tadi membuat Yoona benar – benar syok. Dan raganya sudah tidak sanggup lagi menahan suara kesakitan itu sendiri.

Butuh waktu lima detik hingga perih akibat tamparan Yoona menghilang tanpa jejak. Kini segalanya mati rasa,  Donghae diam tak berkedip. Ia menyaksikan bagaimana Yoona menangis sesanggukan dibarengi oleh raungan tak percaya dari napasnya yang sempit. Berkali – kali Yoona memegangi kepalanya dengan sedikit mencengkram rambutnya sendiri. Melihat kondisi Yoona yang seperti ini membuat ruang didalam mata Donghae menghangat. Hantaman fisik yang Ia rasakan benar – benar tak sebanding dengan rasa keterkejutan Yoona, meski pun Donghae tidak mengerti kenapa Yoona menjadi sangat ketakutan, hal – hal seperti itu sangat diluar dugaannya. Donghae menyesal. Namja itu menunduk merasa bersalah. Ia sangat ingin menghukum dirinya sendiri karena sebuah kebodohan yang membuat Yoona tersakiti.

Donghae mengulurkan tangannya sekali lagi. Hal yang paling Ia ingin lakukan sekarang yaitu  menenangkan Yoona dalam dekapannya. Saat tangan Donghae mulai menyentuh pundak Yoona yang berguncang, Yoona tidak memberi perlawanan seperti sebelumnya. Donghae menghela napas berat, berpikir kalau mungkin Yoona sudah menyerah melakukan apa pun.   “M-mianhae.”  Satu kata terlontar dari bibir Donghae. Kata yang tidak pantas Ia ucapkan sama sekali mengingat apa yang terjadi.

Tubuh Yoona menghangat oleh dekapan Donghae. Ia membenci sikap Donghae beberapa waktu lalu disisi lain Ia membutuhkannya. Yoona membutuhkan Donghae untuk tinggal. Namun sama sekali Yoona bingung untuk mengerti, Donghae yang agresif membuat Ia membencinya kemudian dalam sekejap mata Donghae yang  bernapas teratur  seolah menyulap keadaan menjadi damai setenang lambaian air sungai. Yoona bisa yakin kalau sebutir debu tidak akan mampu meggores kulitnya, Yoona benar – benar nyaman berada dibawah perlindungan namja itu.

Air mata Yoona perlahan – lahan mengering, hanya saja Ia belum memilih sebuah kata dari otaknya untuk dirangkai. Sekian lama terperangkap dalam keheningan, Yoona  berusaha keras menelan kesedihannya. Yoona mula – mula sadar kalau apa yang diterimanya barusan merupakan buah dari sikapnya yang tidak bisa menjaga ucapan didepan Donghae. Yoona yang tidak  mengindahkan perasaaan Donghae, bermula ketika namja itu mendengar mengakuanya yang ekstrim. Yoona ingin merasa bersalah, kalau saja waktu itu Donghae bisa meluapkan emosinya dibawah kotrol… Sementara Donghae tidak juga mengucapkan apapun selain kata maaf yang Ia gumamkan berkali – kali.  Donghae menepuk lembut punggung Yoona agar ketenangan itu bisa tersalurkan. Tanpa sadar Ia hanyut oleh pikirannya sendiri.

……………….

Lantunan musik menyebar disetiap sudut kafe. Yoona mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kafe setelah Donghae lebih dulu mempersilahkannya masuk. Kala itu Donghae berdiri didepannya seraya mendorong  sebuah pintu kaca. Yoona tidak bisa memastikan kondisi wajah Donghae semenjak Ia membuka pintu, dan tanpa melihat pun Yoona tahu kalau sejak tadi hingga sekarang, Donghae tak juga berhenti mengumbar senyum. Yoona memilih larut dalam pikirannya menebak – nebak kafe ini. Dekorasi warna yang sebagian besar adalah warna musim gugur. Pemiliknya pasti sangat mengagumi musim setelah musim panas berlalu.

Mengikuti kebiasaannya secara praktis, Yoona mengambil tempat disudut kafe. Ia duduk kemudian memalingkan tatapannya kearah jendela kaca tepat disampingnya. Dari sana Yoona bisa melihat lampu – gedung berseliweran disepanjang jalan kota, puluhan kendaraan berlalu lalang dengan lancar menembus gelapnya malam yang bermandikan cahaya lampu, dan beberapa pasang muda – mudi  berjalan silih berganti dengan saling menikmati keheningan malam berdua dalam canda—entah kenapa, Yoona risih dengan hal yang satu itu.

“Kau belum makan, bukan?” Tanya Donghae sesekali mengamati kondisi kafe yang tidak terlalu sesak.

Yoona menoleh sedikit datar. Ia menggeleng sebagai jawaban. Tatapan Yoona kemudian menunjuk kearah jam dinding, “Tapi ini sudah lewat jam dua belas malam…”

“Memangnya kenapa?”

“Yak, Lee Donghae ! Kau ini kemana saja ?”

Yoona baru saja akan menjawab pertanyaan Donghae, namun ditelannya lagi setelah Ia menangkap gerakan seorang namja yang  mendekat kearah mereka. Namja berbadan kurus itu tiba – tiba  menepuk pundak Donghae dari belakang.

Donghae menoleh, sekejap itu pula mereka tertawa. Donghae menonjok lengan pria itu pelan,  “Kau semakin imut saja, Hyung.”

“Aku menunggumu sejak tadi, katanya kau mau kemari dengan—“  Namja yang dipanggil Hyung itu menggantung kalimatnya, bersamaan dengan tatapannya yang berhenti pada Yoona. Yoona yang tidak tahu duduk permaslahan diantara Donghae dan namja itu mulai bingung, ia menatap Donghae meminta penjelasan. Rasa kesal bercampur penasaran menggerogoti kepala Yoona. Donghae tak menjawab reaksinya. Namja itu hanya tersenyum singkat.

“Oh ya, Annyeong Yesung imnida.” Ujarnya membungkuk, tatapanya masih tertuju kearah Yoona, “Kau Im Yoona kan?” sambung Yesung lagi membuat Yoona bingung. Pasalnya mereka belum bernah bertemu sama sekali.

“Donghae banyak bercerita tentangmu. Dia ada adalah hoobae-ku disekolah musik.” Jelasnya kembali saat melihat ekpresi heran dari wajah Yoona.

“Oh ne…” Yoona tersenyum mengerti. Dalam hati ia penasaran dengan apa yang diceratakan Donghae pada namja ini tentangnya.

“Ah Hyung, kau tidak lupa pesananku  kan ?” Sela Donghae seraya mengedipkan matanya. Yoona sekedar menatap kedua namja itu tanpa minat.

Yesung tertawa, “Tentu saja, kau itu kan pelanggan spesialku.” Ucapnya berpikir, “Tunggu sebentar Ya…”

“Nde.”

Setelah Yesung melesat kebelakang,  Donghae kembali menatap Yoona sedangkan Yoona, Ia buru – buru memalingkan wajahnya kearah jendela. Donghae menghela napas. Namja itu berusaha mendekati Yoona pelan – pelan. Ia mendorong  telapak tangannya hendak menggapai telapak tangan pucat milik Yoona yang membeku diatas meja, tapi seolah bisa merasakan itu Yoona menarik tangannnya perlahan, sampai – sampai  menyembunyikan benda itu dibalik meja agar Donghae tak punya kesempatan lagi untuk menggapainya.

Dua pelayan datang menghampiri meja mereka. Pelayan itu membawa nampan berisikan dua gelas mint tea hangat kemudian menyajikannya diatas meja. Donghae mengucapkan terima kasih seraya membalas senyum hangat dari kedua pelayan itu. Beberapa detik berlalu, Ia menatap cangkir teh didepannya ragu. Kedua tanannya membungkus rapat permukaan cangkir, berharap dari situ ia memperoleh kehangatan dan kegugupannya berkurang…

“Yoong…”

“Hmmm.” Gumam Yoona menjawab panggilan Donghae. Tatapannya masih mengarah keluar jendela.

“Kau masih m—“ Donghae menggantung kalimatnya. Ia mengingat – ingat sesuatu sebelum akhirnya terdiam. Yoona menoleh karena dibuat penasaran oleh kondisi Donghae. Dengan raut heran, Yoona kembali memutar kepalanya  memandangi jendela setelah Ia tidak menemukan reakasi  yang ganjil dari namja itu.

Usai merenung, Donghae bangkit dari posisinya. Ia berjalan menghampiri Yoona kemudian mengacak rambut yeoja itu pelan. Yoona mendongak dan tidak menjawab  apa – apa.  Ia hanya terpaku menafsirkan senyum Donghae yang hangat, yang seolah meyakinkannya agar Ia tetap ditempat.

“Tunggu sebentar, aku akan kembali.” Katanya.

Yoona mengangguk. Donghae kemudian berbalik dan berjalan pergi. Yoona menyaksikan punggung  Donghae  yang  kian menjauh.  Ia menatap sendu kearah cangkir teh didepannya. Minuman yang perlahan – lahan menjadi dingin sementara Ia belum menyentuhnya sama sekali. Yoona meraih cangkir itu lalu menyesapnya pelan. Helaan napas Yoona dan kehangatan mint  tea yang mengalir dalam tubuhya keluar dan masuk silih berganti. Yoona mulai bisa sedikit berpikir, Ia ingin membalas sikap Donghae yang menganggap bahwa kondisi mereka baik – baik saja, tapi Ia juga butuh waktu untuk mengerti semuanya…

Perhatian Yoona teralihkan usai telinganya menangkap suara grasak – grusuk khas speaker yang menggantung di sudut ruangan. Suara itu menimpali  lantunan musik klasik yang tengah mengudara hingga suara musik itu akhirnya hilang pelan – pelan. Yoona tidak begitu  tertarik karena menganggap kalau mungkin sedang ada pergantian lagu secara mendadak atau speakernya memang sedang terganggu, tapi Ia salah, hal itu terjadi bukan karena pergantian lagu atau speaker yang rusak melainkan karena…

“Halo, apakah Im Yoona disini ? Eum maksudku apakah dia belum pergi ?” terdengar suara seseorang namja dari dalam speaker. Yoona mengernyit, Ia yakin suara itu bukan suara Donghae atau orang  yang Ia kenal…

Yoona mendongak, hendak menanyakan hal itu kepada pelayan. Tapi diberbagai sudut kafe tidak ada satu pun pelayan yang tampak. Mungkin karena pengunjung mulai berkurang, lalu bukan berarti mereka harus menerima gaji buta karena kasus tersebut, kan?

“Omo bagaimana ini?! Kau mengenal Lee Donghae ? Aku Kim Yesung, dia ada bersamaku sekarang dan Dia sangat membutuhkan bantuanmu ! Dia berkata kalau hidupnya sangat bergantung padamu, cepatlah Im Yoona !” seru suara speaker itu kembali menggema seisi kafe. Yoona mulai panik. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berusaha mencari salah satu pelayan, atau minimal bertanya kepada beberapa pengunjung mengenai apa yang harus Ia lakukan sekarang, karena Ia benar – benar bingung.

Yoona berjalan lingung. Pikirannya tertuju pada donghae. Yoona takut Donghae  kalau kenapa – napa. Takut jika kondisi tubuh namja itu,  yang tanpa sepengetahuannya sedang tidak enak badan, kemudian pingsan, entahlah Yoona kalang kabut.  Yoona sempat bertanya kepada salah seorang pengunjung. Pengunjung itu menyarankan Yoona untuk bertanya pada bagian kasir. Letak meja kasir sendiri berada tak jauh dari panggung. Yoona kemudian berjalan cepat kearah panggung. Keringatnya bercucuran. Ia tidak peduli dengan dirinya yang kini sudah  menjadi pusat perhatian para pengunjung,

Pijakan Yoona berhenti tiga meter didepan panggung. Jantungnya mencelos ketika cahaya lampu  yang mengitari ruang didalam kafe redup seluruhnya. Ia menengok kesana kemari tapi tak bisa melihat apa pun. Disana terlalu gelap dan Yoona cuma bisa menangkap  suara desas desus para pengunjung yang tengah membicarakan sesuatu, entah apa.

“Oppa…” desis Yoona semakin khawatir. Ia bertekad melanjutkan langkahnya meskipun sulit, jalan yang mestinya Ia lalui termakan gelap. Yoona akan menyenggol benda – benda tertentu kalau Ia berlari seperti tadi. Dan  Yoona sepertinya tidak peduli, Ia mulai menggerakkan kakinya…

“Berhenti disitu.” Sekelebat suara menahan langkah Yoona. Ia tertegun, suara itu…

Clek… Clek… Clek…

Satu persatu cahaya lampu dari sudut kesudut mulai benderang. Yoona mengedipkan matanya yang sedikit rabun. Secara berangsur – angsur penglihatan Yoona semakin jernih.  Hal pertama yang dilakukannya Ialah mencari sumber suara. Tanpa butuh waktu lama, sepasang  mata Yoona terpaku satu arah. Panggung didepannya.

Disana Ia melihat  Donghae tersenyum. Tersenyum tanpa dosa  sedangkan dirinya berkelantungan tanpa arah sejak tadi. Ada rasa tidak terima yang bergemuruh, Yoona merasa dikelabui oleh Donghae dilain sisi pula, Ia lega melihat Donghae baik – baik saja.  Kenyataan itulah yang membuat  Yoona rela membuang  kekesalannya.

“Aku tidak akan memintamu  untuk mengerti penjelasan apapa pun dariku, aku hanya ingin melihatmu tetap disana, berdiri disana dan menatapku.”

Donghae berbicara dengan microphone ditangannya. Kali ini senyum namja itu hilang entah kemana. Ekspresi wajah Donghae berganti, dari yang tadinya begitu manis kini berubah serius. Ia menatap Yoona–yeoja yang kini terpaku ditempatnya—penuh kesungguhan.

“Dongh—“ Desis Yoona dengan bibir bergetar. Saat Yoona bergeleng pelan, Donghae menundukkan wajahnya. Namja itu menarik napas dalam – dalam , Ia kembali mengangkat microphonenya, “Yoona, untuk kesekian kalinya aku ingin kau mendengarku, tetap disana dan dengarkan aku. Dan setelah ini aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku.”  Ucapnya diantara  suara – suara pengunjung yang menatap penasaran. Mereka saling berbisik satu sama lain,  tak jarang pula menjadi provokator agar Yoona bersedia menerima Donghae.

Bola mata Yoona mengikuti pergerakan Donghae yang kali ini mendaratkan tubuhnya diatas kursi sebuah  grand piano didepannya. Namja  itu menyelipkan mic pada stand yang terpasang. Donghae memejamkan matanya sesaat, Ia terdiam mengambil napas napas perlahan – lahan .  Yoona terkesiap usai tatapan Donghae menajam lurus kearahnya. Tatapan itu.  Wajah yang menyiratkan permohonan sendu membuat Yoona semakin gugup.

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?


If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?


If you are not mine then why does your heart return my call?


If you are not mine would I have the strength to stand at all?

Jemari Donghae bergerak lancar menekan tuts- tuts dihadapannya. Sesekali Ia melirik Yoona. Sekarang Yeoja itu berdiri layaknya patung didepan panggung.

I don’t know why you’re so far away


But I know that this much is true


We’ll make it through


And I hope you are the one I share my life with


And I wish that you could be the one I die with


And I’m praying you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life


I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

Lantunan musik berhenti. Donghae meraih microphonennya kemudian berjalan menuruni tangga disiisi panggung. Namja itu menatap lurus dengan lengkungan indah yang terpasung dikedua sudut bibirnya. Ia berjalan kearah Yoona dan disaat seperti itulah Yoona merasa kalau Donghae benar – benar jahat. Donghae jahat karena membuat Yoona tampak bodoh didepan semua orang. Dan sekarang  yeoja itu hanya bisa temangu dan berdoa dalam batin supaya pijakannya tak runtuh disini. Sesaat Donghae mendekat,  Yoona berusaha  menahan napasnya yang kian memburu.

Selangkah didepan Yoona, Donghae berhenti. Yoona menatap Donghae yang kini tertunduk. Tiba – tiba Donghae bersimpuh didepan Yoona. Yeoja itu terbelalak, begitu pula dengan beberapa orang disekitar mereka.

“Yoona, kau mungkin sudah bosan mendengarnya, tapi satu hal yang kuinginkan darimu adalah   melihatmu tersenyum. Aku tidak ingin menyesal karena gagal membahagiakanmu. Dan sebelum penyesalan itu semakin dalam kumohon maafkan aku, mian…” sesal Donghae membiarkan suaranya bergema melalui speaker microphone.

Terdiam. Bibir Yoona bergetar. Ia ingin berkata sesuatu tapi hanya mulutnya yang terbuka sedangkan suaranya hilang entah kemana.

“Dan gelang ini…” ujarnya usai meraih sesuatu dari saku celananya. Tangan Donghae terulur. Yoona tesontak karena tahu – tahu tangan Donghae sudah menggapai  lengangannya. Darah Yoona berdesir menatap jemarinya sendiri yang kini digenggam erat oleh namja itu.

Donghae memasangkan sebuah benda dipergelangan tangan Yoona. Sebuah gelang perak yang ditengahnya terukir inisial ‘DY’. Yoona bergeleng, Ia tak ingin mengaku kalau butiran dari pelupuk matanya meleleh, terlalu banyak orang disini.

Napas Donghae berhembus pasrah, “Yoona, kau bisa melepas lalu melempar gelang ini kewajahku  kapan saja, aku tidak akan marah. Aku hanya akan mengerti bahwa kau benar – benar tersakiti saat itu juga, dan semua karenaku.”

Ketika sepatah kalimat belum juga terbersit dikepalanya, Yoona ikut bersimpuh. Sepasang tangannya meraih dua sisi wajah Donghae. Yoona tak kunjung bersuara, Ia mecoba menatap Donghae dengan wajah bergetar karena menahan tangis. Sedangkan Donghae, Ia tersenyum menenangkan kearah Yoona.

Seketika Yoona memeluk Donghae. Orang –  orang mulai berbisik dan Yoona  tidak peduli sekarang. Ia hanya peduli dengan kehagatan yang diberikan Donghae ketika namja itu membalas pelukannya.  Yoona merasa tenang dalam dekapan Donghae. Lantunan nada paling merdu menurut Yoona ialah mendengarkan  detak jantung mereka yang bergerak seirama, juga bunyi tiupan udara ketika mereka saling benghirup napas satu sama lain… Yoona ingin tertidur dalam dekapan Dongahe, kalau saja bisa.  Dan seolah beban itu terbang seluruhnya, Yoona tersenyum tipis tanpa  Donghae bisa melihatnya.  Kemudian Ia bersuara pelan, “Bukan sepenuhnya salahmu, Oppa…”

………………

Berbagai macam buku berseliweran didepannya. Yoona mulai membereskan benda – benda itu satu – persatu. Sesekali Ia menatap jam dinding perpustakaan kampusnya dengan cemas. Yoona merasa waktu berjalan cepat. Baru tadi sore Ia mendaratkan tubuhya disalah satu kursi dan sekarang Ia harus buru – buru keluar karena hari semakin larut.

“Kau sudah liat drama terakhir Jessica Jung? Wah… Dia benar – benar cantik, Jessica mirip bidadari yang terukir dalam fantasiku…”

Tangan Yoona tergantung diudara. Ia baru saja akan menutup notebooknya  perlahan – lahan, namun sedikit melenceng.  Tanpa sadar tangan Yoona bergerak, Ia melipat  monitor benda itu diikuti bonus dadakan. Suara bantingan.

Suasana perpustakaan yang sunyi, membuat beberapa pasang mata bersinggah kearahnya. Yoona pura – pura tidak melihat. Ia memilih sibuk memasukkan barang – barangnya kedalam tas jinjing sebagian pula ia masukkan kedalam ranselnya. Yoona menggerutu, selain karena telinganya yang sakit karena baru saja mendengar nama seseorang, Ia juga kesal karena hari ini barang bawaannya bertambah dua kali lipat dibanding hari biasa.

Yoona menyeringai ketika Ia melewati gerombolan mahasiswa yang tengah berbisik – bisik disalah satu meja perpustakaan, “Aishh bicara apa kau…” cibirnya sembari melenggang. Beberapa orang  yang sadar kalau Yoona sedang menyindir mereka, lantas menatap heran sekaligus kesal. Mereka berbalik mencibir. Yoona mendengar cibiran mereka samar – samar. Ia tidak mau menengok apalagi membalas  karena Ia malas berdebat. Toh, dirinya dan orang – orang itu juga tak saling mengenal.

Lagi pula, semestinya Yoona melupakan kejadian itu mengingat Donghae sudah menjelaskan semuanya. Dan juga masalah kali ini bukan menyangkut soal Donghae. Yoona tidak marah pada Donghae. Ia hanya merasa terganjal  kalau mendengar nama Jessica entah mengapa perasaan Yoona menjadi tidak enak.

Segala pemikiran yang mencuat dikepalanya berangsur hilang. Dari tepi Jalan Yoona memicingkan matanya untuk menghindari lampu bus yang menyorot kearahnya. Tak lama kemudian, keandaraan umum yang Ia nanti – nantikan itu akhirnya berhenti tepat didepannya. Sepanjang perjalanan pulang, Yoona sibuk memandangi  suasana diluar jendela. Hiruk pikuk kendaraan ramai lancar membelah kota. Ia menghela napas.  Lima belas menit berlalu dan Ia akhirnya sampai di halte tujuan.

Ketika turun dari bus, Yoona memegang kedua kakinya yang tiba – tiba terasa kaku. Yoona terdiam memikirkan sesuatu, tidak lama Ia bergeleng. Mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya.

Yoona berbelok ketikungan. Suasana gelap menyambutnya dan Ia sudah bisa memperkirakan ini. Sekali pun terbiasa, Yoona benci berjalan ditempat sepi sendiri. Semakin Ia melangkah angin malam yang begitu dingin mendiring tubuhnya untuk berlari tapi kedua kakinya tidak bisa diajak kompromi. Hingga sekarang Yoona merasa alat pijakannya itu masih bergetar. Apalagi ketika pendengarannya menagkap suara langkah dibelanganya samar – samar. Yoona berhenti untuk melihat sekitar, tapi Ia tak menangkap siapa pun. Yoona bergeleng dan kembali berjalan. Baru tiga langkah, Ia berhenti. Yoona merasa saat Ia berhenti suara langkah dibelakangnya ikut berhenti begitu sebaliknya. Lagi – lagi pikiran Yoona mengawang bebas, jangan bilang…

“Dorr !” Yoona tersentak ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Tanpa menunggu waktu lama, Yoona bergegas menghujam  seseorang itu dengan tas jinjingnya. Sekuat tenaga Yoona menghantam tubuh sang pelaku yang meski sudah dihantam berkali – kali, Ia tak memberi perlawanan. Yoona sedikit aneh dengan itu.

“Yak Yoona hentikan…” Jeritnya mengaduh. Yoona menajamkan penglihatannya usai menangkap suara – suara yang cukup familiar. Beberapa detik setelahnya, Yoona terbelalak. Rasa bersalah sekaligus kaget bercampur menjadi satu.   Ia sangat syok sampai – sampai tak melihat bahwa seseorang yang mengikutinya sejak tadi adalah Donghae.

“O-oppa? Bagaimana—“  Yoona tergagap. Donghae memijat  tengkuknya yang ngilu akibat pemukulan barusan. Sambil meringis Ia menimpail,  “Kita berada didalam bus yang sama.” Ujarnya seolah sudah bisa membaca rasa penasaran Yoona terhadapnya, “Saat kau turun aku mengikutimu.”

“L-Lalu kenapa tidak menegurku dan malah membuatku ketakutan?!” Suara Yoona meninggi. Donghae menatapnya bingung. Namja itu menyentuh dahi Yoona degan punggung tangannya. Setelah diamati, wajah Yoona mengeluarkan banyak keringat. Donghae mengernyit ketika Ia  mendengar  hembusan napas Yoona yang sesanggukan, tatapan matanya terlihat berantakan,

“Apa tindakanku tadi membuatmu takut?” Tanya Donghae  dengan suara rendah. Sesungguhnya Donghae hawatir dengan keadaan Yoona, tapi Yoona menafsirkan nada kekhawatiran Donghae, seolah – olah namja itu sedang mengintrogasinya. Yoona kembali tergagap sementara otaknya berusaha memilah kata, “Aniyooo—“

“Mianhae Yoong, aku hanya ingin memandangimu, cuma iseng  menonton ekpresimu saat duduk sendiri di bus. Err kau suka melamun ternyata.” Papar Donghae seraya tersenyum kearah Yoona. Lalu Ia mengangkat  kedua alisnya penasaran, “Melamunkan siapa? Aku ya?”

“Mwo-ya?!” Yoona cemberut tak terima.

Donghae bergegas merangkul pundak Yoona, “Aku punya sesuatu…”

Dahi Yoona mengkerut. Sembari melangkah, Ia menatap Donghae yang berjalan disampingnya.

“Ayo makan.”

………………

Usai menginjakan kaki di rumah, Yoona memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Ia merasa lebih baik sekarang dibandingkan saat Donghae mengagetkannya dijalan dan membuat detak jantungnya menjadi tak karuan. Donghae sepertinya melakukan hal serupa. Mereka sudah berjanji untuk bertemu dimeja makan nanti. Yoona berpikir apa seharusnya yang Ia katakan pada Donghae jika sewatu – waktu namja itu bertanya soal sikap berlebihannya tadi. Dan ya, mungkin Donghae tak akan bertanya apa pun. Yoona tak harus memikirkannya.

Yoona membuka lemarinya, Ia mengambil selembar sweater berwarna biru pastel kemudian mengenakannya.  Ia menutup  pintu lemarinya dan hendak pergi tapi tangannya tertahan. Yoona teringat sesuatu. Ia buru – buru membuka pintu lemarinya kembali.

Tampak disana, dibawah tumpukan baju terdapat selembar photo yang terlihat ujungnya. Yoona menarik photo itu dengan ragu – ragu. Jemarinya bergetar bahkan untuk menyentuh sekelebat  wajah didalam sana. Bibir Yoona bergerak – gerak. Ia ingin mengeluarkan sepatah kata namun butiran yang menggunung dipelupuk matanya terlanjur mendesak. Yoona belum bisa  berkata – kata dan tersiksa sendiri ketika sesak dalam dadanya, dua kali lipat  lebih menusuk  akibat Yoona, Ia bertekad meredam tangisnya.

“Yoona…”

Suara Donghae membuat  Yoona terlonjak, seiring dengan itu kedua tanggannya bersebunyi dibalik punggung.  Ia menatap kearah pintu dan mendapati Donghae sedang menyembulkan kepalanya.  Namja itu mengernyit menatap ekspresi keterkejutan Yoona. Donghae tampak penasaran. Perlahan – lahan Ia berjalan mendekati Yoona. Rasa penasaran Donghae kian menjadi  ketika  Yoona tak kunjung bergerak bahkan berkedip sekali pun.

“Kau sedang melihat apa?”

Yoona menggerling bingung, Ia menatap Donghae dengan mata yang berantakan, “Ne?”

…………………. TBC ………………….

27 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 7 )

  1. aisnuratikhoh berkata:

    foto apa yg di temukan sama yoona?
    semoga hubungan donghae ke depannya baik” saja ya
    ditunggu next partnya eon, kalau bisa jangan lama” ne
    tetep semangat nulis ff nya
    YOONHAE JJANGGG!!!

  2. HaeNy Choi93 berkata:

    Part ini banyak kejadian tak terduga.
    Dari acara ngambek2an. Permintaan maaf yang super Romantis di Restoran, sampe Yoona yg eumm bisa di bilang ketahuan kali ya. Tp apa?? Itu Foto apa? Kenapa begitu rahasia sekali.
    Yoona.. Kenapa kamu tidak bisaa jujur sama Dnghae, aku kok malah kuatir ya, bagaimana nanti kalau Donghae sdh tau tentang masalahmu selama ini. Dan kamu tdk berusaha untuk membaginya bersama Donghae.?
    Aahh nan molla.. Next partnya jangan lama2 ya? Fighting!

  3. vidya erien berkata:

    Penasaran sebenernya yoona kenapa kok sampe kaya gitu. Apa dia punya trauma? Tp trauma apa coba? Ditunggu lanjutannya thor. Faighting. Jgn lama” yah🙂

  4. yeti anitha berkata:

    Penasaran sm foto apa yg dibawa yoona…semoga mereka ttp baik baik aja hubungannya..walaupun kadang ada masalah yg tak terduga..next part ditunggu ya..

  5. yesa nurmeida berkata:

    Sebenernya apa yang terjadi sama yoona di masa lalu, dan foto apa yang dia simpan, penasaran next jangan lama-lama,

  6. Tryarista wacchhyuniie wacchhyuniie berkata:

    stlah berabad nung2uin akhirnya ,
    hae romantis bgeT,minta ma’af nyA ma yooNg.
    sbenernya mslah ms lalu apa y6 menimpa y0onA smpe dia ketakutan ky g1tu….!!!!
    Knapa dia g mauw crita ma y0oNa …..
    Fto apa y6 dilihat y0ona…,…? Mga aja hub.mreka baek2 aja.
    Dan apa y6 akan trjadi…lau hae tauw fto itu ?
    Next jgn lama2.
    Next q pgen y0onhae bsa sling terbuka , aplag1 y0ona, mrka xan dah nikah…hrusnya bsa sling ju2r dan percya , dan y0ona bsa m0ve oN dr ms lalunya…..krna ada hae y6 disampingnya.
    Pko’e next hruz happy….maaf bnyak maunya.krna xan postnya lama2 bgets dan nich bru part 7 dan konfliksnya kya’nya msih pnjang.
    Ntar lauw nung2u lama2a jga bkin bosen. Mgkin author jg sibuk ….Ma’af2 bget lau coment q bkin authornya mrah… Hnya mengeluarkan pndpat aja .g bermksud nying2ung author.
    Lau bs 1mgu sekali hehehehehe.

  7. deeah berkata:

    Sepertinya itu foto Jessica,OMo!!??tapi janganlah thor kasian YH bru aj rukun msak hrus berantem lg!
    Semoga org laen hemmm…
    *q bru bca ff ni thor dan critany OK

  8. lin berkata:

    dari part 1 smpai part 7 selalu bertanya2 tentang masalalu yoona tpi blem terjawab semoga aja part berikutnya sudah terjawab…
    dtunggu next partnya

  9. ina gomez berkata:

    ayon dong eonni crta ma hae oppa biar hae oppa bs bntu eonni kshn lht yoona eonni mndem mslhnya sndri…foto pa ya yg dilht ma yoona eonni.ditunggu nextnya min

  10. nii berkata:

    apa di msa kecil yoona punya hal yg mmbuat dia stres?
    part ini pnjang critanya,tpi ksian jga lliat yoona yg bgini
    cie klian brdua udh sling baikan kkk
    oh iya sbnarnya siapa di photo iitu
    lanjut

  11. cha-cha berkata:

    moga-moga aj hae tau apa yg d rahasiain yoona, soalnya aq sndiri jga udh penasaran #plak
    tpi bneran tthooorr, aq penasaran sma masa lalu yoona. qok dya bsa jdi stress gitu.. d tunggu dengan sangat next partnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s