FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 6 )

Image

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

~Happy Reading ^____^ ~

Part 6

“Oppa, telepon untukmu.”

Donghae berbalik menghadap Yoona, “Nugu-ya?”

“Jessica.”

Yoona menjawab datar.   Donghae tak lantas menerima teleponnya. Ia mendelik bingung. Tubuhnya membatu menatap Yoona dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kenapa malah melihatku?” Yoona mendorong – dorong benda persegi empat ditangannya. Ia menatap Donghae bertanya – tanya, sementara itu Donghae gelagapan sendiri. Lehernya tercekat begitu sadar kalau Yoona tengah menunggu reaksinya. Buru – buru Donghae meraih ponsel itu dari tangan Yoona, sungguh Ia tidak tahu apa yang membuatnya kehilangan pikiran ketika melihat tatapan Yoona yang misterius.

“Nde… Iya aku tidak lupa.” Donghae mulai berbicara kepada seseorang diseberang sana. Sesekali ekor matanya mengamati pergerakan Yoona. Yeoja itu sedang sibuk memotong – motong sesuatu, Ia berkali – kali mondar – mandir membuka kulkas. Tanpa sadar, Donghae terhanyut oleh wajah Yoona yang tampak serius dengan kesibukannya.

“Donghae-ya. Kau dengar aku atau tidak ?!!” Hentakan suara Jessica membuyarkan pikiran Donghae. Namja itu hampir saja memekik seandainya Ia lupa kalau Yoona bisa saja terganggu.

Bergeleng pelan, Donghae segera menyusun kembali fokus perhatiannya yang sudah terpecah – pecah itu pada seseorang ditelepon, “Ya, ya aku dengar.”

“Aku akan sampai didepan kompleks rumahmu lima belas menit lagi oke !”

Donghae membelalak, “Dari mana kau tahu rumahku—“

“Dari managermu, aku punya banyak koneksi, kau tahu? Sudah ya… Sampai jumpa lima belas menit lagi.”

“Jess—“

Bip.

Helaan napas Donghae terdengar kasar mengisi keheningan disekelilingnya. Namja itu menggesek tengkuknya, merasa kalau sikap Jessica yang semena – mena harus dirasakannya kembali setelah sekian lama tak berhubungan dengan yeoja itu. Selama ini Donghae sedikit kesulitan merangkai kata untuk menolak permintaan siapa pun, tak terkecuali Jessica.

Seraya bergumam tidak jelas, Donghae berjalan meninggalkan dapur, Ia lantas mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Yoona menghela napas kemudian melanjutkan aktivitasnya memotong sayuran. Kegiatan yang sempat terhenti usai beberapa menit lalu, Ia sibuk memperhatikan gerak – gerik Donghae diam – diam.

Dering ponsel Donghae yang berada diatas kulkas berbunyi lagi. Buru – buru Yoona menyambar ponsel itu. Ia kembali mendapati nama Jessica Jung tertera pada layar ponsel Donghae yang didalam sana, Yoona melihat wallpaper dirinya, ia dan seikat anggrek putih layaknya saling mendekap sambil tersenyum ceria. Sejenak Yoona tertegun mengingat memori kala itu, ketika Donghae mengajaknya bermain di taman bunga, dan pada moment tersebut Yoona masih ingat betapa Ia ingin menggengam tangan Donghae atau Donghae yang mencoba menggenggam tangannya lalu Ia tepis mentah – mentah, membuat suasana menjadi canggung.

Sesaat lamunan Yoona buyar. Ia kembali dikejutkan pada dering ponsel yang lagi – lagi berbunyi setelah diam beberapa detik. setelahnya tanpa pikir panjang, Yoona menekan tombol merah ponsel itu, berkali kali dengan tekanan yang cukup kuat bahkan terhadap tombol – tombol yang berada disamping kanan dan kirinya hingga ponsel itu benar – benar mati, dan ketika tenaganya mulai terkuras, Ia buru – buru menaruh ponsel itu ditempat semula dengan malas dan sedikit membantingnya.

Donghae keluar dari kamar mandi dengan langkah terburu – buru, Ia setengah berlari menuju kamarnya. Lima menit kemudian Ia keluar dengan setelan kemeja biru yang baru dikancing setengah. Donghae berusaha menutup kemejanya sampai atas namun rupanya fokus namja itu terpecah karena semrawut mencari sesuatu.

“Kau mencari ini ?” Sebuah buku agenda terpampang diwajahnya. Donghae menghela napas dan tersenyum lega kearah Yoona yang seolah berbicara, ‘aku benar kan?’ Buku itu memang harus dibawanya karena berisi lirik lagu yang harus Ia sempurnakan hari ini juga.

“Benda sekecil itu, seharusnya dijaga baik – baik.” Yoona berjalan mengambil ransel hitam yang tergantung kemudian memasukkan buku agenda Donghae kedalamnya. Yoona berjalan lagi kearah Donghae sambil menenteng tas itu. Seburat ekspresi heran terpantul dari matanya. Kepala Yoona miring tiga puluh derajat kearah Donghae.

“Berapa usiamu Oppa?”

Donghae yang sedari merekam langkah Yoona tanpa berkedip mulai bingung dengan petanyaan yeoja itu.

“Bahkan mengancing baju kau tidak bisa.” Yoona mendekat selangkah lebih maju. Kedua tangannya terulur meraih satu persatu kancing kemeja Donghae, dari baris tengah hingga atas, menyisahkan satuu kancing yang terbuka.

Yoona membantu Donghae menggulung lengannya sampai siku lalu merapikan kemeja namja itu kemudian tersenyum, “Nah selesai.”

“Gomawo Yoong, kau selalu muncul disaat – saat yang tepat dan itu amat sangat menolong.”

“Yeah amat sangat menolong orang sepertimu…” Yoona membenarkan seraya mengulurkan telapak tangannya didepan Donghae, “Jadi beri aku imbalan.”

Donghae memasang ekspresi berpikir keras yang dibuat – buat, “Baiklah, apa yang kau inginkan ?”

Telunjuk Yoona bersinggah didagunya, sepasang bola matanya berputar acak, “Eummm…”

Sambil menebak nebak, Donghae mengikuti arah tatapan Yoona yang berpindah pindah. Hingga saat ini Donghae belum sanggup menahan senyumnya. Ia sendiri bingung mengenai apa yang membuat segalanya dalam diri Yoona tampak menarik hingga Ia terhipnotis. Biasanya Yoona akan meminta makanan kesukaannya atau bertanya sesuatu hal yang aneh dan meminta Donghae menjawab jujur.

Sementara itu dilain sisi, Yoona berpikir semakin lama Ia mengalihkan perhatian Donghae semakin besar kemungkinan Jessica merasa jenuh karena menunggu terlalu lama dan itu berarti kesempatanya untuk mengusir Jessica secara tidak langsung terbuka tanpa perlu buang tenaga. Sekarang masalahnya adalah, apa yang harus Ia minta pada Donghae sehingga cerita dikepalanya benar – benar terjadi?

“Aku mau…”

Alis Donghae terangkat sebelah menunggu kalimat Yoona selanjutnya.

“Ah ya Jess—“

Yoona membungkam Donghae. Kalimat Donghae buyar ketika baru akan meluncur dari ujung lidahnya. Apa yang Ia pikirkan meleleh bersama dengan rasa kaget yang tiba – tiba menyerangnya. Yoona menautkan bibirnya menimbuni bibir Donghae. Beralih Donghae mencoba memperdalamnya namun tautan itu lepas setelah Yoona memundurkan wajahnya.

Napas mereka terdengar sempit. Yoona menunduk merasa bersalah, “Mian, tidak seharusnya—-“

Donghae menutup bibir Yoona dengan telunjuknya,”Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan Jessica, jangan salah paham Yoong,”

Sepasang mata Yoona membulat. Ia tidak tahu kalau Donghae membaca pikirannya sejak tadi.

“Jessica hanyalah seorang teman yang kini merangkap sebagai rekan kerjaku.” Donghae tersenyum lembut penuh ketenangan. Tanpa sadar Yoona terlarut oleh senyum Donghae. Yoona balas tersenyum. Senyum yang meluncur begitu saja setelah satu kalimat Donghae membelenggu Yoona dalam sekejap, Ia langsung menafsirkan perlakuan Donghae barusan sebagai bentuk kejujuran.

Tatapan penuh arti yang diarahkan Donghae membuat Yoona membatu. Yeoja itu mengedipkan matanya kaku, Ia mundur sedikit demi sedikit sampai punggungnya membentur tembok. Yoona tak mampu menemukan jalan keluar. Ia pasrah sekarang. Ia membiarkan Donghae mendekapnya lembut penuh kehangatan. Detik itu pula segalanya terjadi. Dimulai dari wajah Donghae yang perlahan mendekat, juga kedua mata Yoona yang menutup pelan – pelan.

Dan Yoona berhasil, Yoona sukses membuat Jessica agar tidak lagi menunggu Donghae tanpa perlu mengusirnya secara langsung.

………………………

Tepatnya sudah lima belas orang pejalan kaki berjalan melewati mobilnya yang terparkir dipinggir jalan, namun tak ada satu pun dari mereka adalah orang yang Ia tunggu kehadirannya. Berkali – kali Jessica melirik jam tangannya, berkali kali juga Ia berdecak emosi . Tanpa sadar Jessica menghentakkan kedua tangannya diatas stir mobil. Ia terkaget setengah mati saat klakson mobil hitam yang Ia tumpangi berbunyi tiba – tiba.

“Akhhh… Sebenarnya dia sedang apa sih?” Geram Jessica seraya menyambar ponselnya diatas dashboard. Terhitung sejak dua puluh menit lalu Ia menunggu kedatangan Dongahe, tapi namja itu belum menunjukkan batang hidungnya sedikut pun. Jessica mengecek kembali apakah pesan yang Ia kirimkan untuk Donghae sudah sampai atau apakah ponsel sialan milik Donghae sudah aktif ?! Dan rupanya belum sama sekali.

Disertai napas memburu, Jessica menyeringai, “Baiklah kalau begitu…” Jessica bersiap menginjak pedal gasnya. Mobil yang ia kendarai mulai bergerak. Deru mesin kendaraan menguar menggesek tepi jalan berbatu. Jessica baru saja akan menambah kecepatannya sebelum suara gedoran kaca mengulurkan niat itu.

“Donghae…” desis Jessica begitu melihat sosok Donghae menggedor kaca belakang mobilnya dari balik spion luar. Jessica menarik napas dalam – dalam. Kedua tangannya mencengkram kuat stir mobil dengan tidak tanggung – tanggung. Ia benar – benar tak sanggup   menahan gejolak amarah yang kian menumpuk, membabi buta dan sebentar lagi akan meledak dihadapan Lee Donghae.

Setelah mesin mobilnya mati, Jessica turun dari kendaraan beroda empat itu disertai gebrakan suara pintu mobil yang menghentak telinga.

“Apakah Hobbymu adalah membuat seseorang menunggu selama ini?” Sinis Jessica berjalan pelan kearah Donghae.

Namja yang berdiri selangkah didepan Jessica itu menghela napas, “Sica-ya, dengar aku. Barusan sesuatu terjadi, jadi aku harus membereskannya lebih dulu. Kehadiranmu sangat mendadak jadi aku tidak bisa—-“

Jessica terkekeh,“Oh jadi kau menyalahkanku karena tiba – tiba muncul begitu? Donghae?”

“Aku tidak menyalahkan siapa pun, aku hanya ingin kau mengerti.” Donghae berusaha menyusun kata – kata dikepalanya menjadi kalimat penjelasan agar Jessica sedikit melunak. Namun apa daya pernyataannya justru membuat Jessica kian memberengut. Terlihat jelas disepasang mata itu, genangan bening menyala – nyala memenuhi pelupuknya.

“Oke, baiklah aku berjanji hal seperti ini tidak akan terulang.” putus Donghae akhirnya. Jessica menatap tidak terima, “Mwo? Bagaimana bisa Kau berkata segampang itu tanpa peduli padaku yang sudah membuang – buang waktuku yang berharga—“

“Lalu aku harus bagaimana Sica-ya, huh?” Pinta Donghae menuntut penjelasan. Ia menatap Jessica dengan mimik putus asa.

“Apa karena Yoona ?” Bukanya menjawab, Jessica seolah menggiring topik pembicaraan mengenai acara buang – buang waktu dengan masalah lain yaitu menyangkut pautkan Yoona yang menurut Donghae tidak bersalah sama sekali.

Ia tertegun, “Mwo ?”

Jessica dan Donghae masih saling bersitatap. Donghae sedikit tidak terima ketika Jessica berbalik menyangkut pautkan Yoona dalam masalah mereka sementara itu Jessica tetap kekeuh dengan tumpukan amarah dalam dadanya. Luapan kekesalan yeoja itu, Ia tunjukkan lewat bulir – bulir air mata yang semakin lama kian membanjiri wajahanya. Mendapati suara Jessica yang berubah terisak,  Donghae berbalik panik, merasa bersalah sekaligus bigung.

“Sica, kau mena—“

Tangan Donghae hendak menggapai wajah Jessica namun tiba – tiba diurungkannya.

“Oppa.”

Pandangan Donghae teralihkan. Ia berbalik, menoleh kearah sumber suara. Seseorang berjalan kearahnya sambil tersenyum tipis. Donghae mengernyit atas kehadiran Yoona yang tiba – tiba. Ia bertanya – tanya, sejak kapan Yoona berdiri disitu ? Donghae bergeleng kecil menepis pikiran bodohnya mengenai Yoona yang menyaksikan langsung perseteruan antara dirinya dan Jessica.

“Yoona…” gumam Donghae tidak menyangka kalau yeoja yang sekarang berdiri didepannya adalah Yoona. Diam – diam Jessica memperhatikan Yoona begitu sebaliknya. Sementara itu ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu, baik Yoona maupun Jessica keduanya langsung memalingkan wajah satu – sama lain.

“Ponselmu tertinggal.” Ujar Yoona menjawab rasa penasaran Donghae karena tidak biasanya Ia mengantar namja itu sampai di depan jalan kompleks.

“Oh…” Donghae tersenyum lega . Pagi ini Yoona kembali menjadi penyelamatnya. Entah kenapa Donghae merasa begitu istimewa, karena Yoona mengejarnya untuk mengantarkan benda yang tertinggal, sekaligus karena perhatian Yoona untuknya.

“Gomawo Yoong.” Tanpa sadar Donghae mengacak rambut Yoona, membuat yeoja itu tertawa senang.

“Ekhmmm…”

Jessica berdehem cukup keras. Donghae dan Yoona praktis menoleh kearahnya. Tampak didepan mereka Jessica tengah menunjuk – nunjuk arloginya dengan ekspresi datar.

“Kita sudah terlambat.” Tegur Jessica menjernihkan suaranya, sebisa mungkin tidak menyelipkan nada isakan, “Ayolah Oppa.”

Sekali lagi Donghae menoleh kearah Yoona seraya menatap, kalau semua akan baik – baik saja. Donghae merasa kalau embel – embel Oppa yang jarang dipakai Jessica untuk memanggilnya, sering kali membuat dirinya tidak nyaman apalagi didepan Yoona. Jauh lebih baik andai kata Jessica memanggilnya dengan sebatas nama seperti biasa meski Ia lebih tua dari yeoja itu.

“Kau yang menyetir.” Tiba – tiba Jessica mengoper kunci mobilnya kearah Donghae. Namja itu terkesiap dari lamunannya. Ia menatap Yoona sesaat lalu segera naik ke mobil.

Sebelum Donghae benar – benar melajukan mobilnya, namja itu sempat melihat Yoona melambai – lambaikan tangannya dari kaca spion. Donghae tersenyum singkat. Sudah pasti Ia merindukan Yoona sepanjang hari ini.

……………………….

Setelah mobil yang membawa Donghae dan Jessica melaju, Yoona menghela napas panjang. Kelima jemarinya yang sempat menggantung diudara perlahan – lahan mulai gugur. Yoona menatap kosong seraya menendang –nendang batu krikil didepannya. Padahal Donghae tidak pernah mengantarnya dengan mobil, sedangkan Jessica ? Ya, meskipun mobil itu milik Jessica sekali pun, tapi Yoona tetap berharap bisa merasakan bagaimana duduk satu mobil dengan Donghae dengan hanya mereka berdua didalamnya. Selama ini Yoona selalu meminta Donghae menaiki bus umum seandainya mereka pergi berdua, karena meskipun keluarga Lee punya satu unit mobil yang bisa dipakai kapan pun, Yoona selalu merasa tidak nyaman menggunakan mobil itu. Ia selalu takut kalau – kalau Appa, Umma atau adik Donghae ingin menggunakannya.

Yoona berjalan menunduk, tiba – tiba langkahnya terhenti. Ia melihat seseorang berdiri didepannya sedang menggunakan sepatu kets lusuh berwarna putih tertimbun noda. Yoona mendongak memastikan orang itu, meski dari bau tubuhnya, Yoona sudah bisa menebaknya.

“Cepat minggir.” Perintah Yoona datar tanpa menatap orang itu. Ia menutup hidung juga mulutnya dengan telapak tangannya sendiri karena tidak tahan dengan bau alcohol yang semakin menguar lewat udara.

Yoona melesat kesamping, seseorang didepannya melakukan hal yang sama. Yoona memilih berbalik arah tetapi orang itu mencengkram tangannya.

“Lepaskan Shinjung !” perintah Yoona tajam. Ia berusaha lepas dari genggaman Shinjung tapi namja kumal itu semakin memperkuat cengkramannya.

Shinjung tertawa, “Kau mencoba berbohong, huh?” katanya terdengar meracau.

Yoona menatap malas sekaligus tidak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Kau selalu bilang tidak punya uang, padahal suamimu bergaul dengan artis.”

“Artis? Artis siapa?”

“Yeoja yang tadi, Jessica Jung.” Gelandangan itu menyeringai.

Yoona terkekeh, “Mwo? Memangnya kenapa? Dia artis atau bukan, tidak ada urusannya denganku. Cepat lepaskan !”

“Tidak, sebelum kau berjanji— Aishhh sialan !”

Sebelum Shinjung menyelesaikan kalimatnya, Yoona menyikut pinggang namja itu kemudian menendang selangkangannya keras – keras. Shinjung mememekik kesakitan. Kelegangan tersebut dimanfaatkan Yoona untuk berlari secepat mungkin. Menjauh dari sesosok makhluk yang bisa saja membunuhnya saat itu juga. Yoona benar – benar muak melihat wajahnya. Kalau saja bisa, Yoona ingin segera membunuhnya.

Lagi – lagi seperti ini. Yoona merasakan sesak didadanya. Ia hampir saja pingsan ditengah jalan kalau saja tidak melihat bahwa ternyata bangunan yang berjarak beberapa senti didepan sana adalah rumahnya sendiri. Yoona berusaha melangkah seraya memegangi lehernya. Yeoja itu terbatuk berkali – kali, “Ya Tuhan.” Desisnya lirih.

…………………

Ditengah perjalanan menuju studio musik, Jessica bertopang dagu dengan sebelah tangannya Ia senderkan disamping kaca mobil. Berulang kali Ia mengetuk – etuk bibirnya yang berwarna pink pastel itu dengan telunjuknya yang lentik. Konsentrasi Jessica mengawang. Ia terdiam mengulas balik ingatannya beberapa saat lalu. Bukan tentang Donghae, namja yang sekarang tengah fokus dengan kemudinya, tapi tentang Yoona.

Kala itu, Sebelum mobil yang Ia tumpangi keluar dari kompleks perumahan, Jessica sempat melihat Yoona berinteraksi dengan seorang namja di pinggir jalan. Penampilan namja itu agak berantakan, maksudnya sangat berantakan, lebih mirip gelandangan. Seingat Jessica, namja itu menarik tangan Yoona dan Yoona terlihat memberontak.

Flashback didalam kepalanya buyar, Jessica memekik shock, Ia terkesiap dengan wajah panik. Donghae yang duduk dibangku kemudi, menatap heran kearahnya.

“Ada apa?” Donghae menoleh selagi tetap fokus kearah jalan raya.

Jessica gelagapan. Tidak, Donghae tidak boleh tahu. Jessica tidak akan membiarkan Donghae berurusan dengan gelandangan suruhan Yoona atau siapa pun itu, entahlah… “Anio… tidak apa – apa.” Jessica bergeleng kecil dan kembali menyenderkan tubuhnya dipermukaan tempat duduk.

‘Apa hubungannya Yoona dengan orang itu? ’ Jessica mulai gelisah atas pikirannya. Ia menggigit bibir bawahnya keras – keras.

‘Mungkinkah Yoona memanfaatkan Donghae?’

…………………

Yoona menghambur kekamarnya, mengunci pintu rapat – rapat dan memastikan bahwa siapapun tidak akan ada yang bisa menerobos masuk. Pijakannya runtuh tepat dibalik benda persegi itu. Yoona menangis sejadi – jadinya. Air matanya mengalir deras tanpa saggup Ia kendalikannya. Yoona mendengar suara isakannya sendiri yang begitu menyayat, menggugah hatinya untuk berteriak lebih dan lebih agar semua ketakutannya terurai kemudian terbawa oleh hembusan angin menuju neraka. Demi Tuhan, Yoona tidak akan pernah melakukan hal seperti ini didepan Donghae ?!

Yoona tidak akan bisa melupakan orang itu. Pihak – pihak yang nyaris menghancurkan masa depannya, menghancurkan seluruh kenangan indah bersama Umma dan Appanya juga dengan seseorang. Seseorang dimasa lalu yang belum mampu Ia lenyapkan sampai sekarang.

Bertahan dengan posisi meringkuk, Yoona menahan sisa – sisa isakannya. Menghalau bekas – bekas tangis yang berpotensi menghasilkan air mata yang lebih deras dari sebelumnya. Yoona menarik napas nalam – dalam, menghembuskannya pelan. Raungan tangis pilu seperti tadi benar – benar memangkas tenaga juga rasa, dan Yoona menyerah. Perlahan – lahan Ia menghapus butiran bening yang keluar sedikit demi sedikit.

Teringat suatu hal, Yoona beringsut kearah lemari pakaian. Jemarinya yang gemetaran mulai mencari sesuatu dibalik tumpukan baju, Yoona menarik selembar photo yang tertanam dilapisan paling bawah. Ia menatap photo tersebut lirih. Photo seorang namja memakai kemeja merah dengan senyum lebar. Memandangi senyum itu membuat Yoona menarik sudut bibirnya keatas. Dengan sedikit paksaan Ia mencoba melakukan hal yang sama dengan seseorang itu dalam dimensi berbeda, “Mianhae Oppa, tidak seharusnya aku seperti ini…”

Tetes air mata kembali menghantuinya. Bersamaan dengan itu, suara dering ponsel berbunyi. Buru – buru Yoona mengembalikan selembar photo ditangannya ketempat semula. Pijakannya beralih kedepan meja.

“Yoboseyo…” sapa Yoona dengan nada malas. Ia tidak tahu siapa yang menelpon. Yoona hanya tahu kalau ponselnya berbunyi dan Ia harus segera mengangkatnya.

“Yoboseyo Yoona, aku didepan rumahmu. Aku mengetuk pintu berkali – kali tapi tidak ada yang membukanya, kau sedang apa, eo?”

“Jadi itu kau,” Gumam Yoona seraya mengingat kembali suara ketukan pintu beberapa saat lalu. Yoona mendengar suara itu samar- samar, Ia sangat takut seandainya orang didepan sana adalah dia, Yoona memilih bertahan hingga suara diluar sana mereda, sampai kapan pun meski detik itu juga terjadi terjadi gempa bumi , Yoona tidak akan pernah membukanya.

“Yoona, kau masih disana kan?” suara sang penelepon membuat Yoona terkesiap, “Iya Yul, tunggu sebentar.”

Yoona berusaha bangkit dari posisinya. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan pandangan kosong bahkan sampai harus menyenggol ujung kursi karena berjalan dengan langkah yang sedikit limbung. Yoona mengcengkram kenop pintu, ia sedikit was – was membayangkan mahluk diluar sana ternyata bukan Yuri.

“Annyeooong.” Sapa Yuri begitu pintu terbuka. Ia merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar.

Yoona membalas tingkah Yuri dengan senyum tipis, karena senyum leabar, seperti yang dilakukan Yuri sangat tidak cocok dengan keadaannya sekarang.

Yoona segera menarik Yuri kedalam rumahnya, mengunci pintu dan memastikan bahwa pintu tersebut benar – benar terkunci. Yuri mengernyit melihat tingkah temannya. Perilaku Yoona lebih mirip buronan.

“Matamu sembab, kau menagis lagi ?” Yuri berjalan mengekori Yoona menuju ruang tamu. Pertanyaan Yuri hanya dijawab Yoona dengan gumaman kecil yang tidak jelas. Yuri menahan tangan Yoona kemudian menatap mata temannya itu dalam.

Ini pasti soal Shinjung. Yoona selalu begini kalau menyangkut orang itu. Yuri ingat kejadian beberapa saat lalu, Ia melihat shinjung sekilas ketika dalam perjalanan menuju rumah Yoona. Penampilan orang itu sangat tidak terawat, terutama paling membuat Yuri jijik adalah bajunya yang tampak compang – camping. Orang itu sudah pergi tapi Ia yakin kehadiraanya ditempat ini masih meninggalkan trauma bagi Yoona.

“Kau masak apa?!” Yuri mengalihkan topik pembicaraannya. Yuri tidak jadi bertanya tentang kejadian sebenarnya yang menimpa Yoona hingga sahabatnya itu seolah – olah berubah menjadi mayat hidup. Toh, Ia sudah bisa menebaknya.

Yoona bergeleng. Ia memang tidak memasak apa pun pagi ini. Donghae buru – buru pergi dengan Jessica. Yoona sekedar memotong – motong sayuran tapi belum berniat mengolahnya sama sekali.

“Yul apa yang kau lakukan?” Tanpa aba – aba Yuri menggiring Yoona kearah dapur. Penglihatan Yoona yang tadinya buram menjadi terbuka lebar tatkala Yuri menarik tangannya tiba – tiba.

“Jauh – jauh aku berkunjung ke rumahmu, rupanya tidak ada makanan. Menurutmu apa lagi yang mau kulakukan selain memasak, eoh?” Sepasang mata Yuri menelusuri dapur Yoona. Ekspresi wajah Yuri berubah sumringah ketika matanya menangkap sebuah kulkas disisi dapur.

“Memasak ? Memangnya kau bisa?” Yoona menatap ragu. Ia baru saja membayangkan kondisi dapurnya yang hancur lebur setelah Yuri memasak.

Yuri baru saja membuka pintu kulkas, Ia menoleh seraya meniup ubun – ubunnya pasrah, “Kau meragukan kemampuanku?”

Yoona mengangguk polos, sementara itu Yuri memasang tatapan prihatin yang Ia lemparkan kearah Yoona, terlebih kepada dirinya sendiri, “Ok, fine.”

Sekali pun Yoona melarang, Yuri akan selalu memaksakan kehendaknya. Yoona menggumamkan doa sebanyak mungkin agar Yuri tidak mengukir kelalaian apa pun nanti. Pernah suatu waktu, Yuri hampir saja membakar dapur Karena lupa mematikan kompor atau hal tidak disangka – sangka seperti menjatuhkan makanan yang baru selesai dimasak. Kala itu, Yoona benar – benar merasa bersalah pada Umma Donghae atas ulah temannya yang satu ini.

Yoona membasuh wajahnya didepan westafle, kemudian menyuruh Yuri untuk mengikat rambutnya yang tergerai. Yuri baru saja menaruh air keadalam panci lantas menatap Yoona dengan senyum beserta cengirannya. Yuri juga mengambil celemek yang disodorkan Yoona untuknya. Kecerobohan pertama adalah, Yuri tidak bisa mempersiapkan suatu hal sebaik mungkin.

“Wah dari mana kau belajar memotong bawang secepat itu ? Dari nyonya Lee ya?” Yuri menatap kagum kearah Yoona. Yuri menghabiskan waktu satu menit untuk memotong satu biji bawang merah sedangkan Yoona, dalam waktu lima detik semuanya beres.

“Padahal dulu, memegang pisau saja, kau tidak bisa haha.” Ledek Yuri. Yoona mendelik tajam.

Yuri meringis. Ia sedikit ngeri dengan tatapan temannya, “Baiklah maksudku, kau menjadi lebih anggun setelah menikah, Yoong. Sebenarnya apa yang Donghae lakukan padamu ?”

“Aku memang anggun sejak dulu.” Timpal Yoona membenarkan. Dulu yang dimaksud Yuri bisa jadi adalah sifat Yoona yang cuek dan kekanak – kanakan. Yoona bersikap seperti itu karena Ia punya alasan tersendiri, tidak lain agar Donghae merasa ill feel padanya. Tapi cara itu tidak ampuh sama sekali. Yoona terlalu melankolis. Akan sangat melelahkan seandainya Ia harus bertindak sebagai gadis remaja yang polos dan berisik dalam jangka panjang.

Yuri mengangguk, “Ah ya…” gumamnya kemudian berpikir kembali, “Kau tidak berencana menambah keluarga baru dalam waktu dekat ini khan?”

“Huh? Keluarga baru?” Yoona mengeryit, Ia menoleh dengan ekpresi terkejut.

“Iya… Maksudku,” Yuri mendemontrasikan bagaimana bentuk siluet tubuh seseorang, apabila didalam tubuhnya ada nyawa yang tumbuh.

Yoona mengangguk mengerti. Yuri memberengut ketika Yoona tidak menanggapi apa- apa dan beralih melanjutkan pekerjaannya.

“Menurutku, Kau harus menundanya Yoona-ya, selesaikan dulu kuliahmu.” Yuri menengapkan tubuhnya, Ia berkata yakin membuat Yoona menunda pekerjaanya mengocok telur.

“Begitukah?”

Yuri mengangguk, “Hmm, Pasti akan sangat repot merasakan sakit pinggang sambil mengerjakan tugas kuliah yang mencekik leher. Ditambah lagi, kau akan menjadi pusat perhatian di kampus karena perutmu—”

“Sudahlah Yul, kita disini untuk memasak, bukan malah mengobrol yang tidak – tidak.” Sanggah Yoona menghalau angan – angan Yuri yang sudah mengantri diujung lidah. Yuri memicing. Hari ini Yoona sedikit menyebalkan menurutnya.

……………..

Napas Yoona terasa sesak berada diantara beberapa karyawan yang kaluar masuk didalam ruangan serba putih itu. Ia mengencangkan pegangannya diatas sepasang tali ransel yang sering Ia pakai ke kampus. Siang ini, Yoona mempunyai beberapa jandwal kuliah dan Ia berada disini, tepatnya di kantor Donghae untuk menyempatkan diri mengantarkan makan siang untuk namja itu sesuai saran Yuri ketika mengunjungi rumahnya. Yoona sedikit ragu dengan keputusannya ini, hanya saja Yoona berpikir kalau tadi pagi Ia belum sempat memasak untuk Donghae, lalu apa salahnya jika kekosongan itu dibayar dengan makan siang?

Yoona berjalan seraya menyapu keadaan sekeliling. Terlalu banyak hal – hal yang berlalu lalang dikepalanya hingga Ia lupa dibagian mana Donghae bekerja. Kantor label rekaman ini cukup luas dan Yoona tahu, Ia tidak bisa menemukan Donghae seorang diri.

“Apa kutelepon saja ?” tangan Yoona bergerak merogoh ponselnya tapi Ia urungkan. Niat awal yang sudah tersusun adalah Yoona memberi kejutan pada Donghae, tapi kalau memberitahunya dimuka, sama sekali bukan kejutan.

Lima menit lagi waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Dan itu berarti Yoona masih punya lima menit untuk mencari keberadaan Donghae sebelum namja itu pergi entah kemana. Dengan segala perasaan cemasnya Yoona bertanya kepada seorang karyawan. Rupanya dia tidak mengenal Donghae. Karyawan kedua, ketiga, barulah yang keempat, Yoona menagkap dari ekpresi wajahnya yang menatap penuh teka – teki. Ia sepertinya mengenal Donghae.

“Kau siapanya? Teman ?”

Yoona berpikir sebentar lalu mengangguk. Ini adalah pertama kalinya Ia mengunjungi kantor Donghae. Karena sudah dikejar waktu, Yoona terpaksa membenarkan apa apun pendapat orang tentangnya.

“Nde, Yoona imnida.” Sapa Yoona seraya membungkuk. Namja didepannya melakukan hal serupa.

“Oh Ya, Donghae berada di studio latihan, kau bisa berjalan terus kemudian belok kanan. Disitu ada beberapa ruangan, pilih ruangan dibaris kiri urutan ketiga dari belakang.” Jelasnya. Yoona mengangguk mengerti, “Gomawo.”

“Ah tunggu.” Suara namja itu menahan langkah Yoona yang baru saja akan beranjak. Yoona mengangkat alis.

“Sebagai teman ajaklah dia keluar.“ pesannya lagi. Yoona tersenyum mengiyakan. Namja itu berbicara lagi, kali ini sambil mengacak rambunya pelan, “Aishh anak itu, mentang – mentang lagunya akan dinyanyikan oleh yeoja cantik, makan siang pun terlupakan.”

Yoona mengerjap-erjapkan matanya. Yeoja apa?

“Aku permisi ya, annyeong,”

Setelah orang itu berlalu, Yoona masih dibuat bingung oleh peryataan yang didengarnya barusan. Yoona bingung sekaligus penasaran. Yoona berusaha menggerakkan kakinya meski pun rasanya sedikit berat. Ia mengingat kembali penunjuk arah yang berulang kali ia hafal sampai membuatnya sakit kepala. Yoona menghembuskan napas, seraya berusaha menghilangkan segala prasangka yang merasuk pelan – pelan. Mungkin sebagian dari prasangka buruk itu tidak sesuai kenyataan. Mungkin dirinya cuma ketakutan sendiri, karena semua baik – baik saja.

Yoona berjalan mengikuti perintah otaknya. Setelah berjalan lurus, Ia berbelok kekanan. Tepat seperti yang dikatakan namja tadi, Yoona menemukan jejeran ruangan yang berhadap hadapan. Ia melangkah perlahan, menatap jejeran pintu dibaris kiri, kemudian menghentikan langkahnya didepan pintu ruangan nomer tiga dari belakang.

Jantung Yoona berdebar – debar. Ia mendorong pelan pintu ruangan itu, pintu yang memang sedikit terbuka. Yoona mengintip seseorang dibaliknya, takut seandainya Ia keliru memilih ruangan. Yoona mempertajam penglihatannya, Situasi didalam sana terpantau legang membuat Yoona agak hawatir. Namun kekhawatiran Yoona tidak berlangsung lama. Ia terkesiap ketika melihat seseorang yang—benar adalah Donghae terlihat sibuk dengan pianonya disudut ruangan. Yoona tersenyum memandanginya tapi senyum itu memudar seketika.

Oppa…

…………………….

Donghae berusaha membereskan beberapa lembar kertas yang bertaburan diatas pianonya. Donghae cepat – cepat menyelesaikan semua pekerjaan yang tersisa agar ia bisa menikmati waktu istirahatnya segera. Hari ini entah mengapa, Jessica melakukan banyak kesalahan terutama dipertengahan lagu, membuatnya pusing sendiri.

“Donghae-ya.” Donghae terkesiap mendengar seseorang memanggil namanya. Bukan karena panggilan itu, tapi karena jemari sang pemanggil menari – nari diatas pundaknya.

“Sica—“

“Aku tidak mau makan sebelum kau memainkan satu lagu untukku.” Jessica menggantungkan tangannya diatas pundak Donghae. Ia mendorong kepalanya dari balik punggung namja itu seraya tersenyum iba, “Mainkan satu lagu, dengan piano itu, ya ya?”

“Yoona-ssi kenapa tidak masuk ?” samar – samar suara pembicaraan diluar membuat perhatian Donghae teralihkan. Satu nama dari kalimat itu membuat jantungnya terbelah. Keringat dari kepalanya mengucur kebawah. Donghae bergeleng dengan tatapan kosong kearah pintu. Bagaimana mungkin? Donghae tidak mau percaya bahwa Ia benar – benar mendengar nama Yoona. Tidak dalam keadaan seperti ini.

“Yak Donghae-ya temanmu datang kenapa masih di— eh kemana dia?“ Lee Sungmin, rekan kerja Donghae tampak bingung. Barusan Ia melihat sosok gadis yang beberapa saat lalu memperkenalkan dirinya sebagai  teman Lee Donghae, bersandar dipermukaan tembok, tepatnya di sebelah pintu. Wajahnya tampak pucat. Sungmin sempat hawatir. Ia lalu memanggil Donghae tapi yeoja itu menghilang tiba – tiba.

Tanpa sadar Donghae menghempaskan tangan Jessica yang masih menempel dipundaknya. Jessica terdiam kaku.

“S-siapa katamu ?” lirih Donghae, sudah berdiri didepan Sungmin. Bahkan sungmin sendiri tidak bisa melihat bagaimana cara Donghae berjalan kearahnya.

“Siapa?” Heran Sungmin. Ia menyaksikan wajah Donghae yang semakin Frustasi membuatnya semakin pusing.

“ I- Itu temanmu…” Ia menunjuk pintu keluar dengan nada meyakinkan, “Temanmu Yoon—.”

Donghae berlari menyambar tubuh Sungmin. Namja itu berlari secepat yang Ia bisa. Pikirannya kalang kabut. Terlalu banyak hal yang menyesaki kepalanya sampai  Ia tak  sempat lagi menerapkan bagaimana melangkah dengan baik. Semaikin lama berkelantungan didalam gedung kantornya, semakin bertambah pula korban tabrak lari akibat ulahnya.

Donghae memutuskan keluar dari lingkup gedung. Dibawah cuaca terik Ia mempertajam penglihatannya yang mulai mengabur. Donghae mulai putus asa. Ia tidak bisa menemukan Yoona disudut manapun. Detik ini juga, Donghae ingin berhenti bernapas kalau saja bisa… Kalau saja dengan cara itu Yoona bersedia memaafkannya…

“Mianhae, Yoong. Jeongmal mianhae.”

……………..TBC……………

47 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 6 )

  1. Tryarista wacchhyuniie wacchhyuniie berkata:

    aduch tbc .
    Heem sbel ma jessica… Mauw tak buang kelaut aja, dah tau hae pny istri ganjen amat sich sbel2…
    YoonHae m0mentnya krg aish……aduch y0ona cemburu yahhh…. Gue sbel bget nich jdiNya . Next jgn lma2, lau bsa 1mgu sekali dipost .hehehehehd karne gue suka bget ma nich ff ,kelihatanya endnya masih lma bget,apalagi ngepostnya jga lama.

  2. dilla berkata:

    Duh mbak jess..
    Knapa kelakuan mu bgitu sih..
    Pdhal aku suka lho ama kamu..
    PLeas jngan ganggu rumah tangga uri yoonh ae..
    OH ya kapan nih ad little yoonhae..
    Ayo dong yoonhae buat little yoonhae lgi biar ad baby kecil d ff ini..

  3. vidyaerien berkata:

    kesel dicerita ini, donghaenya kenapa mash aja nanggepin jessica. ditnggu lanjutannya, jgn lama” thor. ini ff lama bnget dipostnya jd agak lupa sma ceritanya. endingnya jg kayanya msh lama ini ff.

  4. Vedora aliansi mindri berkata:

    Author aq readers baru.aq bru aja nemu ff ini lngsung ska.
    iih…Merusak moment aja jessica.kasihan yoona seharusnya dia jujur sama donghae msalah shinjung agar dksih plajaran th org.lnjut thor

  5. ina gomez berkata:

    kshan yoona eonni lox trs dibyang2 masa lalu…kpn terlepas dr msa lalunya.cpet crta ma hae oppa biar gak tkut eonni.mdh2an hbungan yoonhae gak da mslah…sica please jgn ganggu hbungannya yoonhae.ditunggu nextnya min

  6. Echa_yoonhae berkata:

    Ahh mbak jes mah penggangu RT orang!!! di ilangin bisa gak ? HHH Aku masih belum ngerti Sinjung itu siapanya Yoona ya?? karena aku belum baca Part 1 nya *plakkkk
    langsung ke part 3 Kemaren😀
    makin seru.. ditunggu part selanjutnya yaa^^

  7. regina berkata:

    aduhh Yoona salah paham ama Donghae, knp mslh ga pernah selesai2 kasian Yoona mulai dr mslh shinjung yg blm selesai skrg mslh sica, bnr2 dah…

    Semoga Donghae bs nenangin Yoona, di tgg next chaptnya thor. Gomawo

  8. risky trizuliarti berkata:

    itu jessica mwnya apa sih, ganggu rmh tangga orang aja isshhhh nyebelin
    mdh”an yoona mw dengerin penjelasan donghae
    jgnlah ada slahpaham yg berkepanjangan
    oh ya mnding yoona jujur aja sma donghae soal masa lalunya, dr pda dy tertekan trs

    ditunggu next partnya ya

  9. Dhina Lestari Sukria Yoonaddict berkata:

    Hwaaa!!!! Anyeong aku reader baru disini, salam kenal semua….
    Kasian banget yoong eonni thor dia salah paham kemana perginya yoong eonni?
    Next thor Fighting…!!!!

  10. Anonim berkata:

    Wahhhh akhirnya dilanjutin juga, lama bgt kira2 sebulan yahhh hehehehe kereeennn bgt duhh yoongie~a keep strong huaaa next part smg ga lama

  11. agustina berkata:

    waduh si sica ini mah ganjen bnget… pngen q bejek” aja…
    sumpah pnsaran bnget ma masa lalu yoona…
    ni yoona pkek slah paham lagi… aduh… bngung q…
    oc dlanjut cpet y chingu… hehehe

  12. im pizza berkata:

    yoona punya masa lalu apa sih?? smpai sgitunya?? dan ad ap dgn lelaki kumuh itu.. d tmbah lg dgn skap sica.. makin buruk hbungan.mreka.. next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s