FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 5 )

ImageTitle : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Part 5

Langkah panjang Yoona berjalan menerobos jejeran mahasiswi yang berjalan lambat didepannya. Ia sentengah berlari menyusuri koridor sebuah gedung fakultas yang panjang. Pandangan Yoona mendongak keberbagai arah dengan terburu – terburu. Ia lekas masuk kesebuah kelas yang letaknya disuduk kiri jejeran pintu.

Yoona menghamburkan tubuhnya diatas kursi kelas. Ia menaruh tas selempangnya asal. Seketika napas Yoona berhembus kencang. Ia menunduk seraya menekan pelipisnya dengan kedua sikutnya bertopang diatas meja. Yoona berusaha menghilangkan bayang – bayang itu didalam kepalanya, Ia mencoba mengatur napas dengan sebaik mungkin dan mencoba menekan denyut jantungnya yang kian memburu. Yoona ingin beteriak sekarang, Ia berharap semua akan kembali normal setelah itu.

“Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi Ya tuhan.” Desis Yoona dengan napas amburadul, pikirannya mulai mengawang kemana – mana. Wajah orang itu masih menyangkut. Berawal dari ketika Ia berjalan menuju halte bus dan Shinjung tiba – tiba muncul dan mencegat langkahnya.

‘Dia… Kenapa dirinya harus berurusan lagi dengan orang itu?!’

Tanpa sadar, Yoona mengacak pelan rambut hitamnya yang terurai. Ia tak peduli lagi dengan berjuta peluh yang berceceran mulai dari ujung kepala sampai leher. Gerombolan mahasiswa dalam ruangan itu mulai terheran – heran . Mereka menatap kelakuan Yoona bagaikan menyaksikan orang frustasi.

“Kau kenapa ? Wajahmu pucat sekali.” Seorang yeoja tiba – tiba datang dan mengambil kursi didepannya. Yeoja itu duduk menopang dagu diatas sandaran kursi kemudian menyentuh kening Yoona dengan punggung lengannya. Ia menatap Yoona cemas, “Kalau masih sakit jangan kuliah dulu.”

Yoona menatap orang itu yang ternyata adalah Yuri, “Kenapa kau kesini?”

“Aku sedang tidak ada kelas lagi pula aku merasa bersalah padamu Yoona-ya.” Yuri menggigit bibir bawahnya. “Kemarin setelah kau pergi dari kafe , aku terus menerus memikirkanmu, sungguh,”

Tidak ada yang perlu disalahkan. Setidaknya itulah yang ada dipikirkan Yoona ketika mendengar pengakuan Yuri. Kala itu, ucapan Yuri yang menganggap Ia keras kepala memang sedikit mengganggunya, tapi dari sana Ia mulai berpikir kalau Donghae memang punya maksud baik padanya.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Yoona-ya?” tanya Yuri lagi, kali ini setengah memaksa.

“Ani Yul. Aku tidak apa – apa…”

“Wajahmu tidak bisa berbohong Yoona.” Yuri mengamati bibir Yoona yang kaku. Kulitnya pun lembab karena keringat yang mengucur.

“Aku baik – baik saja sungguh.” Sangkal Yoona dan nada yakin.

“Yoona…” Yuri tidak bisa berbuat apa –apa, Ia angkat tangan. Yeoja itu menghela napas membiarkan Im Yoona si kepala batu berkutat dengan anggapannya sendiri.                                                    

“Baiklah, lakukan apa saja semaumu.” Putus Yuri dengan nada malas.

Yoona merasa bersalah dengan reaksi kekecewaan Yuri padanya. Yuri menatapnya tidak peduli. Yoona menundukkan wajah ditatap seperti itu. Ia menarik napas dalam – dalam lalu bicara, “Aku melihatnya lagi yul.”

Pandangan Yuri yang tadinya liar kembali berfokus pada Yoona, “Melihatnya? Melihat siapa?”

Yoona terdiam lalu menjawab, “Shinjung.”

“Mwo?!” Yuri membulatkan matanya lebar – lebar, “Mau apa lagi orang itu?!”

“Dia memalakku di jalan. Katanya dia butuh uang untuk sarapan.” Napas Yoona berhembus kasar.

“Lalu kau memberinya?” cecar Yuri.

“Iya.”

Tatapan Yuri mulai meluap – luap, “Kenapa kau kasih?! Aku yakin uang yang diberikan oleh keluarganya sudah habis untuk foya – foya. Dia datang ke Seoul bukannya kuliah malah bersenang – senang. ” ujarnya berorasi. Yuri berpikir sejenak lalu menatap Yoona dalam – dalam. “Kau harus melaporkannya pada Donghae.”

“Jangan !”

“Kenapa?” Yuri menatap bertanya – tanya.

Yoona menunduk cemas, “Semenjak malam itu, Donghae Oppa sangat membenci Shinjung, aku takut Donghae berbuat sesuatu padanya.”

“Bukankah itu bagus ? Kalau perlu suruh saja Donghae menghajarnya sampai babak belur.” Yuri mengepalkan kedua tangannya.

“Yul, aku takut Shinjung marah padaku dan berkata macam – macam pada Donghae.” Yoona memohon, membuat Yuri terperangah.

“Eoh?”

“Shinjung tahu tentang itu. Hal yang ingin kukubur dalam – dalam, dan aku tidak mau dia memprovokasi keadaan. Aku hanya mau hidup tenang sekarang Yul.” Yoona meremas kesepuluh jemarinya. Kejadian – kejadian yang Ia cemaskan mulai mengggerayangi pikirannya. Ia takut Shinjung terbuat sesuatu pada Donghae, mengingat orang itu kerap kali mengumbar kekacauan demi mendapatkan apa yang Ia inginkan.

“Lalu bagaimana kalau dia memanfaatkanmu?” Pertanyaan Yuri membuat Yoona terhenyak.

“Entahlah. Mungkin tidak masalah bagiku, selama dia tidak muncul didepan Donghae. Aku baru saja berbaikan dengan Donghae. Aku sempat marah padanya karena kupikir dia terlalu ikut campur dengan masalah keluargaku. Sekarang ini, aku tidak mau merusak itu.”

Bibir Yoona mengerucut, Ia menunduk menyaksikan jemarinya yang bergerak gelisah. Yuri membuka mulutnya tapi Ia tutup kembali. Yuri rupanya belum bisa mencerna alasan dibalik sikap Yoona yang seolah menutupi apa saja demi mendapatkan ketenangan yang Ia impikan.

“Apa – apaan dia? Kenapa hanya membalas pesanku dengan huruf J ?” Diam – Diam Yoona membuka handphonenya. Ia memekik saat melihat balasan dari Donghae atas pesan yang Ia kirimkan tadi pagi.

“Siapa? Donghae?”

Yoona mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Yuri. Ia masih disibukkan oleh tatapan kesalnya kearah layar persegi empat. Jemari Yoona mulai mengutak – atik tombol huruf dibawah layar.

Yuri mengalihkan perhatiannya dengan mencoba menebak – nebak misteri dibalik pesan singkat dari Donghae, meski tebakannya terdengar asal, “Jangan – jangan itu inisial nama.”

“Nama? Nama siapa ? Namaku huruf Y bukan J.” Yoona membang – nimbang dengan ekspresi bingung.

“Kau harus hati hati Yoona. Donghae Oppa, dia tampan dan berbakat, bahkan aku yakin kalau dia mau, dengan wajahnya yang lumayan itu, Donghae Oppa bisa jadi anggota boyband terkenal, paling tidak jadi cover boy.” Terang Yuri seperti memanas – manasi sedangkan Yoona masih bertahan dengan tatapan bingungnya, “Lalu apa hubungannya denganku ?”

“Bagaimana kalau ada yeoja yang dekat – dekat dengannya ?” Timpal Yuri tidak sabaran. Sesungguhya Ia belum pernah melihat Yoona cemburu dalam arti melihat namja yang disukainya berdekatan dengan yeoja lain. Tentu saja karena selama ini Yuri belum pernah melihat Yoona berhubungan dengan namja mana pun selain Donghae.

“Donghae memang dekat dengan banyak yeoja. Eomma, adik, bahkan dengan rekan kerjanya sekali pun—“ Pikir Yoona membuat Yuri geram dengan tingkah Yoona yang tidak peka sama – sakali, “Bukan begitu maksudku Yoona-yaaa… Lee Yoonaa.” Yuri menarik napas dalam – dalam lalu menghembuskannya pelan – pelan, “Kau tahu, diluar sana banyak sekali kasus seperti… Seorang namja yang mengabaikan istrinya karena yeoja lain. “

“Kau korban Drama Yul.” Yoona terkekeh, sementara itu Yuri merasa diremehkan oleh jawaban Yoona. Ia pun memandang sinis, “Aishh Sincah… Drama juga diangkat dari kehidupan nyata ?!”

Sepasang mata Yoona bergerak kekanan dan kekiri. Ia tampak memikirkan kata – kata Yuri barusan. Hingga waktu berjalan semenit, Yoona belum bisa percaya kalau cerita – cerita drama yang sering Yuri tonton di TV akan menimpanya juga. Yoona percaya, Donghae bukan tipe namja seperti itu.

“Annyeong…”

Seorang namja paruh baya baru saja menginterupsi seluruh penghuni kelas agar duduk dibangkunya masing – masing. Yoona terkesiap begitu juga dengan Yuri. Rupanya Profesor Kim datang tepat waktu pagi ini. Yuri buru – buru keluar dari kelas Yoona. Begitu keluar Ia sempat melambai – lambaikan tangannya dari luar jendela.

Setelah kepergian Yuri, Yoona menghela napas. Proses introgasi yang yang dilakukan Yuri benar – benar menguras isi kepalanya. Terkadang Yoona menganggap kalau jalan pikiran Yuri terlalu ekstrem sehingga untuk mengeremnya, Yoona harus mendramatisasi keadaan agar temannya itu bisa menaruh empati. Yuri adalah pencinta drama sejati yang tidak tanggung – tanggung. Sampai – sampai kehidupan teman – temannya ikut Ia sangkut pautkan dengan cerita dalam drama. Yoona hanya bergeleng dan tidak mau ambil pusing menanggapinya.

“Im Yoona… Im Yoona.” Sahut suara dari arah depan kelas. Yoona tersentak ketika namanya dipanggil oleh professor Kim. Profesor Kim memanggilnya sampai dua kali karena tak ada suara sahutan yang menunjukkan kalau seorangan Im Yoona berada dikelasnya.

Yoona mengangkat tangannya, ia mencoba memperlihatkan wajahnya kearah professor Kim. Namja beruban itu mulai menandai kehadiran Yoona. Ia sempat bergeleng kecil dan menggerutu.

Dia kelihatan galak. Yoona bisa melihat guratan lekat dikeningnya juga bibir kehitaman yang terus saja melengkung kebawah. Namja tua itu selalu berbicara dengan nada tegas dan tidak ada ramah – ramahnya sama sekali.

Yoona menarik napas dalam – dalam. Mau tidak mau, ia harus siap dengan tugas – tugas yang menumpuk. Yah, mungkin dengan begitu pengganggu – pengganggu yang menghantui pikirannya bisa sedikit terlupakan.

…………..

From : Yoona

J ???????????????????! -___-

Donghae mulai panik ketika Ia mengecek ponselnya. Beberapa jam yang lalu pesan singkat dari Yoona terkirim keponselnya. Awalnya Donghae tidak mengerti maksud Yoona menulis seperti itu tapi lama – kelamaan namja itu mulai mengerti.

“Mian Yoong soal pesan itu… Saat aku ingin membalas pesanmu, manager Kim memanggilku dan aku tidak sadar menekan tombol send padahal aku baru menulis huruf pertama.” Disela jam makan siang, Donghae akhirnya menelpon Yoona. Tidak ada jawaban dari Yoona, Donghae tersenyum lebar, Ia melirik jam tangannya sambil menghitung berapa lama lagi makanan yang Ia pesan akan diantar, “Kau menghawatirkanku ya ?”

“Mwooo?!” Terdengar nada tidak terima dari seberang sana, “ Menurutmu kenapa aku harus hawatir ? Memangnya kau ini anak bayi yang baru bisa jalan ?!”

Donghae mengedarkan pandangannya kesetiap sudut restaurant ayam yang ia kunjungi, “Disini banyak yeoja cantik.”

“Oh ya? Mereka tidak akan suka dengan namja menyebalkan seperti dirimu.” Yoona berbicara cepat, Donghae yakin kalau sekarang ini mulut Yoona tengah dipenuhi olrh dua sendok bimbap.

“Mwo-ya ?! Aku namja romantis dan semua orang mengakui itu.”

Yoona terbatuk – batuk. Suaranya sempat menghilang kemudian muncul lagi, “Kecuali aku, dasar ikan jelek !” ujar Yoona dengan lidah menjulur meski Donghae tak bisa melihatnya.

Donghae terkekeh. Dari nada bicaranya, Yoona terdengar berapi – api. Yoona seringkali seperti itu kalau mood-nya sedang buruk, “Kedengarannya kau sedang kesal?”

“Ya, aku memang sedang kesal. Tugas kuliahku sangat menumpuk aku harus begadang malam ini dan itu berarti—“

“OPPA!”

Obrolan Donghae dengan seseorang diseberang sana menggantung. Donghae keget, Ia mendongak mendapati seorang yeoja pirang berdiri didepannya setelah berteriak dengan nada nyaring. Yeoja itu berkacak pingggang kemudian menunjuk – nunjuk arloginya, memberikan isyarat kalau sekarang adalah waktunya makan siang, bukan berbicara dengan seseorang di telepon. Bagaimana pun prinsip Jessica adalah hal utama yang orang kerjakan saat di restaurant adalah makan dan bukan yang lain, kalau Donghae ingin menelpon, namja itu bisa melakukannya nanti setelah makan.

Donghae mulai heran, sejak kapan Jessica memanggilnya Oppa ?! Meskipun status Jessica adalah dongsaeng, Jessica kerap kali bertingkah kurang ajar padanya.

“Siapa?” Suara Yoona membuyarkan interaksi Donghae dan Jessica. Namja itu berusaha fokus dengan teleponnya kembali, “Itu Temanku. Dia sudah datang rupanya. Mian Yoong, suaranya cempreng sekali bukan ?”

Yoona tertawa, “Yak, berani – beraninya kau berkata seperti itu didepan temanmu ?! Ya sudah temuilah temanmu.”

Jessica menyeringai. Ia sempat mendengar Donghae menyebut nama ‘Yoong’—panggilan khususnya untuk Yoona. Ia tidak berharap Yoona mendengar suaranya tapi rupanya yeoja itu mendengarnya.

“Oke baiklah, nanti kutelepon lagi ya.”

“Hmmm.” Suara anggukan Yoona mengakhiri sambungan mereka detik itu. Donghae mengembalikan ponselnya kedalam saku celananya, kemudian menatap Jessica yang rupanya sudah menopang dagu dihadapannya.

“Sudah memesan ?!”

Donghae mengagguk lalu Jawabnya tersenyum seperti biasa. “Aku juga sudah memesankannya untukmu, sesuai perintah dari tuan putri Jessica Jung.”

Berpaling. Jessica membalik wajahnya sambil melihat – lihat suasana restaurant yang bertambah ramai. Beberapa dari mereka mulai menyadari keberadaannya. Jessica tidak takut kalau orang – orang itu akan mengambil gambarnya dengan Donghae, karena toh, Ia bisa beralasan kalau mereka cuma sebatas rekan kerja. Jessica hanya takut kalau salah satu dari mereka membidik sebuah gambar yang mengabadikan wajah bersemu Jessica Jung ketika Lee Donghae menyebutnya tuan putri.

“Ngomong – ngomong yang berbicara denganmu ditelepon, itu Yoona ?” Tanya Jessica ketika seburat merah dipipinya mulai luntur.

Donghae mengangguk. Sedikit penghilang bosan, namja itu menggerak – gerakkan bibirnya tanpa suara sambil  memperhatikan pantulan wajahnya melalui meja kaca restaurant.

“Eumm apa kau—“ Suara Jessica membuat Donghae menoleh. Apa daya ucapan tadi terpotong, bibir Jessica tiba – tiba membatu. Sesungguhnya ia amat tidak ikhlas bertanya soal ini. Donghae menatapnya dan Jessica semakin grogi ditatap seperti itu, “Apa Yoona—dan kau–“

“Aku sudah menikah dengan Yoona.” Jawab Donghae sebelum Jessica selesai dengan pertanyaannya.

Jessica terkejut mendengarnya. Meskipun Ia sendiri sudah mendengar berita itu dari adik Donghae—krystal—Jessica masih shock mendengar pengakuan tersebut berguguran langsung dari mulut Donghae. Krystal bilang pernikahan Donghae dan Yoona dilakukan secara mendadak dan hanya dihadiri oleh pihak keluarga. Jessica semakin bingung dengan alasan Donghae menikahi yoona, padahal yeoja itu baru saja lulus dari sekolah menengah atas.

Apakah karena sebuah ‘kecelakaan?!’ Tapi mana mungkin Donghae melakukannya ?! Jessica bergeleng kecil, berusaha menghilangkan pikiran – pikiran negatifnya tentang Donghae.

“Aku kecewa.” bibir Jessica mengerucut.

“Eoh?”

“Kau tidak mengundangku?!” Protesnya.

Donghae tersenyum meledek, “Aishh… Kau pasti sangat sibuk. Lagipula aku juga tidak tahu cara menghubungimu. Semua orang tahu Jessica Jung seorang artis. Tidak semua orang punya nomermu, sedangkan nomermu yang lama sudah tidak aktif.”

Jessica mengibaskan tangannya, Ia bersungut, “Ya sudahlah, aku tidak peduli kau sudah menikah atau belum, yang jelas sekarang, aku ingin makan sebanyak – banyaknya selagi managerku tidak ada disini.”

“Yak, seorang artis terkenal harus menjalani diet ketat.” Donghae memberi sedikit warning tapi Jessica menatapnya tajam. Ia terkekeh sebentar, “Kau belum mengerti rupanya.”

Yeoja itu memajukan wajahnya seraya bersilah, melipat kedua tangannya diatas meja, “Dengarkan Aku Lee Donghae-ssi, hidup hanya sekali jadi, Aku harus meraih apa saja yang kuinginkan, termasuk memakan semua ini.” Jessica menunjuk – nunjuk sesuatu didepannya.

Seiring dengan pernyataan Jessica, dua orang pelayan sudah mendatangi bangku mereka. Dua orang itu membawa satu buah nampan berisi dua gelas es jeruk, juga sebuah troli, yang mengantarkan dua mangkuk sup ayam dengan asap yang mengepul diatasnya.

Jessica dan Donghae mulai menikmati makanan mereka. Selepas ini Jessica dan Donghae masih harus melakukan latihan. Tinggal berberapa sesi lagi dan Jessica tidak akan membuang kesempatan untuk membuat dirinya dan Donghae menjadi semakin akrab.

…………………..

Suasana ramai menyelimuti jalan – jalan besar ibukota. Lampu – lampu gedung pencakar langit mulai menggantikan bintang yang belum juga muncul. Diantara gedung – gedung itu, beribu langkah kaki pekerja, berjalan cepat menyuri trotoar jalan, beberapa dari mereka juga mengunjugi coffee shop dipinggir jalan.

Lampu merah untuk pejalan kaki berganti hijau. Kerumunan dipingggir jalan mulai menyebrang kesisi jalan lain. Donghae masuk dalam kerumunan itu dan sebisa mungkin harus berjalan pelan untuk menghindari baku tabrak dengan orang – orang yang berjalan dari arah berlawanan.

“Padahal sudah lewat jam Sembilan.”Gerutu Donghae tidak sabaran, melirik arloginya. Namja itu selalu ingin pulang lebih awal ketika Ia teringat Yoona. Pikiran Donghae selalu diming – imingi oleh senyuman Yoona ketika Ia sampai di rumah nanti.

Langkah Donghae berhenti. Bayang – bayang Yoona hilang dari kepalanya ketika namja itu mendapati namja berambut gimbal dengan jaket lusuh sedang menelpon seseorang. Ia tampak berdiri diseberang jalan. Donghae mempercepat langkahnya untuk memastikan lagi, apakah dia adalah orang yang pernah mengganggu Yoona atau bukan.

Dia… Kalau tidak salah namanya, Shinjung. Orang itu berusaha kabur ketika menyadari langkah Donghae yang kian mendekat. Donghae mempercepat langkahnya menyusuri zebra cross. Tanda penyebrangan itu masih saja disesaki oleh kerumunan hingga tak jarang, Donghae menangkap suara decakan dari orang – orang yang terkena senggol, menjurus kearahnya.

Donghae kalah cepat. Ketika Ia baru sampai diseberang jalan, Shinjung sudah menghilang. Donghae menyapu pandangannya kesetiap sudut jalan. Ia berdesis frustasi saat tak menemukan apa pun.

“Sial.” umpatnya. Donghae mengacak rambutnya. Ia tidak menyangka orang itu masih berkeliaran di Seoul dan Donghae tak seharusnya heran karena Seoul adalah tempat yang paling tepat untuk bersenang – senang bagi berandalan semacam Shinjung. Donghae sangat menghawatirkan kondisi Yoona. Ia berharap orang itu tidak melakukan apa pun padanya.

Setengah jam berdiri didalam bus, Donghae akhirnya sampai didepan pintu sebuah rumah. Rumahnya dan Yoona. Ia memutar kenop yang ternyata tidak dikunci. Seberkas cahaya dari dalam tiba – tiba menyilaukan matanya ketika Ia membuka pintu.

“Yoong, aku pulang.” Sahut Donghae tapi tak ada seorang pun yang membalas sahutannya. Namja itu menaruh ranselnya diatas meja kemudian melangkah kearah pintu kamar Yoona. Dongahe mengintip dari pintu kamar yang terbuka sedikit, seorang yeoja sedang serius menyalin sebuah buku diatas meja lipatnya. Donghae tersenyum.

“Hei, mahasiswi teladan.”

Yoona mencibir. Sekilas Ia melirik kearah Donghae yang kini duduk bersilah didepannya. Yoona diam saja dan memilih berkutat dengan tugas – tugasnya. Ia menguap lebar – lebar, secara otomatis Yoona mendongak. Ia menatap Donghae dengan matanya yang merah. Yoona betul – betul risih, Donghae sering sekali memperhatikannya tanpa suara, ditambah lagi dengan senyumnya yang aneh.

“Oppa bantu aku menyalin ini oppa. Aku sudah menandai kalimatnya. Aku disuruh menjawab dan merangkum ini semua dengan tulisan tangan.” Yoona mulai putus asa.

“Jebal… Dari tadi sore aku mengerjakan ini dan kurasa aku mulai mengantuk. Ini sudah jam sepuluh, Aku mau tidur sebentaaaar saja,” rengeknya.

Donghae masih berpikir. Bukannya mempertimbangkan permintaan Yoona, Ia malah sibuk memperhatikan bola mata Yoona yang sudah digenangi oleh titik – titik air. Yoona menguap lagi dan matanya mengatup – atup.

“Ayolah Oppaaa.” Pintanya yang lebih terdengar seperti menggerutu, “Professor itu tidak akan ingat tulisanku. Aku akan melakukan apa pun yang kau mau…”

Donghae mengangkat sebelah alisnya, “Apa pun ?”

Yoona mengangguk. Belum sempat Donghae menjawab, tubuh Yoona sudah terkulai diatas lantai. Donghae menjulurkan lehernya, melongok kondisi Yoona. Yeoja itu benar – benar jatuh tertidur. Ia sudah pulas dengan mimpinya.

“Yoong… Tidurlah dikasurmu.” Ucap Donghae yang dibalas oleh Yoona dengan gumaman lemah dan malas – malasan, “Sebentar saja Oppa, nanti aku akan bangun lagi.” Yoona mengosok – gosok hidungnya kemudian tertidur kembali.

“Yoong.” Donghae memanggil pelan, tidak ada lagi suara yang membalasnya. Ia terdiam sejenak kemudian mulai menatap kertas – kertas dan beberapa buku yang berserakan diatas meja. Donghae meraih sebuah buku yang tadi ditunjukkan Yoona padanya. Ia mulai menyalin kalimat – kalimat yang sudah digaris bawahi sebelumnya.

Membutuhkan waktu satu jam lebih untuk menyalin tugas Yoona. Donghae merasakan tubuhnya mulai gatal – gatal. Ia membereskan peralatan – peralatan tulis diatas meja kemudian bangkit dari tempatnya dan memutuskan untuk mandi. Donghae berdiri memperhatikan Yoona. Ia menghela napas karena tidak tega mengganggu Yoona, putri tidur yang masih terpulas dengan damai.

Sekembalinya Donghae dari kamar mandi, posisi Yoona masih tetap sama. Bahkan namja itu sudah menghabiskan waktu lama untuk membersihkan diri dan berganti baju, tubuh Yoona masih teronggok dilantai.

“Yoona.” Donghae menepuk – nepuk pipi Yoona. Yeoja itu mengerjap dengan kondisi setengah sadar, “Bangunlah, tidur di kasurmu.” Suruhnya lagi.

“Bangunkan Oppa.” Yoona menjulurkan tangan kirinya dengan mata menutup.

“Cepatlah Yoona, jangan manja.”

“Oppa…” Yoona merengek, keadaanya sekarang malah terlihat seperti orang mabuk.

Donghae berdecak. Ia segera menarik tangan Yoona dan menyampirkan tangan tersebut dipundaknya. Donghae meraba – raba pinggang Yoona kemudian memegang lipatan kaki yeoja itu. Donghae baru saja hendak memacu tenaganya untuk mengangkat tubuh itu namun, kepala Yoona terhuyung – huyung dan mendarat ditengkuknya. Donghae tertegun. Perhatiannya berpaling kearah hembusan napas Yoona yang meniup lehernya. Tanpa sadar tangan Donghae meraih tangkai – tangkai rambut Yoona lalu menyampirkannya pelan – pelan. Wajah Yoona tergambar jelas, tampak tenang dan pulas.

“Oppa kau wangi sekali.” Ucap Yoona dengan suara sayup – sayup, yang ditangkap oleh Donghae sebagai bunyi igauan. Yoona menggeliat berkali – kali sedangkan Donghae masih mematung ditempatnya.

Beberapa saat terkurung dalam kebekuan, Donghae mendekatkan wajahnya kewajah Yoona. Donghae memejamkan matanya. Namun, tinggal selangkah lagi ia menyentuh bibir ranum dihadapannya, Donghae memutuskan untuk berhenti. Ia memilih bertahan dengan posisinya, menatap wajah Yoona dari jarak sesenti.

Dari jarak sedekat itu, Donghae bisa mendengar bunyi detak jantung Yoona yang bergemuruh mengiringi hembusan napas halus, selembut sutra. Hembusan napas pelan itu, menyapu hangat dalam penciuman Donghae.

Semakin lama Donghae menatap wajah Yoona membuatnya ingin melakukan hal yang lebih dan lebih. Tanpa menghiraukan perintah dari otaknya, punggung tangan Donghae mendarat diatas pipi merah kepunyaan Yoona. Donghae mengelus permukaan itu pelan, permukaan putih mulus tanpa noda sedikit pun. Ia mengirup tengkuk Yoona dalam – dalam, menciuminya tanpa suara, namun sesaat Ia menarik wajahnya kembali ketika napas Yoona berubah sesak. Donghae menemukan Yoona— yang masih terkubur dialam mimpi— mulai bergerak gelisah, Donghae berusaha memeluk tubuh Yoona seerat mungkin berharap dengan begitu, Yoona bisa memperoleh ketenangan.

“Oppha…” racau Yoona dengan mata memejam. Donghae memperdalam dekapannya. Ia menciumi puncak kepala Yoona. Napas sesaknya mulai hilang sedikit – demi sedikit, membuat Donghae menghela napas.

Donghae langsung menunduk, merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Tiba – tiba namja itu sadar kalau tak seharusnya Ia melakukan ini. Tidak seharusnya Donghae melakukan hal – hal yang memancing akibat fatal. Sekarang tengah malam, dan Yoona kelihatan sangat lelah. Donghae akan merasa bersalah seandainya pagi hari nanti. Yoona terlambat mengikuti kuliahnya atau yeoja itu sakit karena kelelahan.

Buru – buru Donghae mengangkat tubuh Yoona menuju kasurnya sebelum tubuhnya sendiri bertambah memanas. Sekarang pun tubuh Donghae belum bisa stabil. Dadanya serasa ditekan oleh tiupan badai dan aliran darah disekitar kaki dan tangannya kian menerobos kencang.

Tatapan Donghae menjurus kearah kasur kuning milik Yoona. Ia berjalan menggunakan kedua lututnya. Butiran keringat dari kening Donghae menetes perlahan, Ia mengerjap ketika butiran – butiran itu menelusup kedalam matanya, perih. Donghae sedikit oleng. Salah satu ujung selimut melilit lututnya. Donghae   hilang keseimbangan, pada akhirnya Ia tumbang bersama dengan tubuh Yoona yang terbanting diatas kasur.

 

Ketika bunyi ‘Dukk’ mengiringi benturan tubuh mereka, Donghae berusaha menahan tubuhnya agar tidak menindihi tubuh Yoona. Donghae sulit berkedip. Ia kembali mematung mendapati wajah Yoona yang berjarak lima senti dibawah wajahnya. Namja itu mati – matian menahahan napas, takut seandainya sekali Ia bernapas, suara hembusan udara akan terdengar berisik. Donghae ingin agar Yoona tetap berada dialam mimpinya tapi segala yang ia usahakan sia – sia.

Sayup – sayup mata Yoona membuka. Ia mengerjap begitu pula dengan Donghae. Saat Yoona sadar bagaimana posisinya sekarang, Ia membuka matanya lebar – lebar hendak berteriak, tapi Donghae membekap mulut itu, membuat suara Yoona tertahan.

“Jangan berteriak Yoona. Bagaimana kalau para tetangga mendengarnya?” Donghae memperingati. Namja itu melepaskan tangannya saat bibir Yoona mulai mengatup.

“A-apa yang kau lakukan Oppa?” Tanyanya setengah berbisik. Yoona memeriksa tubuhnya dan tidak mendapati hal yang ganjil. Pakaiannya utuh.

“Kau sudah berjanji akan melakukan apa pun kalau aku mengerjakan tugasmu,” Donghae menelusuri wajah Yoona. Jemarinya berpindah – pindah membelai pipi Yoona, yeoja itu sesak napas. Bulir – bulir uap dari keningnya bercucuran tanpa henti. Melihat reaksi Yoona membuat rasa bersalah kembali menghantui pikiran Donghae namun disisi lain Ia menyukanya, seburat merah yang baru saja terlukis dari wajah Yoona juga permukaan kulit yang menghangat…

“B-Benarkah? Kau sudah menyelesaikannya?” Ujar Yoona tanpa berkedip seraya menenguk saliva. Tubuhnya kaku menatap mata teduh Donghae yang semakin turun kewajahnya.

Donghae mengangguk. Yoona kehilangan kata – kata. Ia benar – benar tidak menyangka kalau Donghae akan meminta hal aneh padanya.

Wajah Donghae semakin mendekat, “Sekarang tutup matamu.” Bisiknya membuat Yoona merinding. Kedua tangan Yoona bersiap untuk mendorong tubuh Donghae, tapi jemarinya terkulai. Yoona sekedar menaruh telapak tangannya dibawah dada bidang namja itu. Yoona ingin berteriak ketika hembusan napas Donghae mulai terhirup olehnya. Kedua mata Yoona terpejam kuat. Kejadian – kejadian itu terpotong potong dan masuk kembali dalam memorinya. Yoona merasakan sesak dalam dadanya kembali menghujam dan—

Donghae mengecup kening Yoona, “Tidur yang nyenyak.”

Dan tiba – tiba kehawatikan Yoona lenyap. Sesaat Ia sadar kalau pikiran mengenai apa yang akan menimpanya atau apa yang akan Donghae lakukan padanya salah, karena… Karena Donghae tidak melakukan apa yang Ia takutkan. Donghae hanya sebatas memberi kecupan ringan seraya berpesan kalau Ia harus ‘tidur yang nyenyak’.

Donghae mulai menjauh. Ia membenahi t-shirt nya yang acak – acakan lalu duduk disebelah Yoona yang juga ikut duduk disebelahnya.

“Tidurlah Yoong.” Ucap Donghae setelah mengacak – acak rambut Yoona

“Oppa.” Cegah Yoona. Donghae batal beranjak.

“Bolehkah aku minta tolong lagi ?” Yoona menatap penuh harap. Sisa – sisa peluh masih menempel diwajahnya.

Donghae mengangkat alis, sebagai ganti dari pertanyaannya.

Yoona menunduk sebelum menatap Donghae, “Tidurlah disampingku, aku takut sendiri oppa.” Entah, Yoona mulai takut dengan alur gentayangan yang tiba – tiba bertumbuk dikepalanya karena ulah Donghae beberapa saat lalu.

Donghae menimbang – nimbang. Tak lama Ia mengangguk, “Baiklah, kau pasti kesepian tanpaku.” Ia tersenyum lebar. Yoona lalu memaksakan sedikit senyumnya untuk Donghae.

Yoona mengeratkan selimutnya. Ia mulai gelisah tidur disamping Donghae. Yoona menatap namja itu dari samping. Ia tidak bisa melihat jelas wajah namja itu karena lampu ruangan sudah dimatikan, yang tersisa hanya lampu remang – remang diatas meja. Yoona mengibas – ibaskan tangannya didepan wajah Donghae. Rupanya namja itu sudah tertidur. Yoona mengigit bibir bawahnya, Ia ingin menyentuh wajah Donghae, tapi Ia menarik tangannya kembali. Berulangkali seperti itu, hingga Yoona bingung dengan dirinya sendiri.

Donghae tidak salah kalau meminta Yoona melakukan itu, bukan ? Yang salah adalah Im Yoona, dirinya sendiri. Ia yang kerap kali bersikap aneh, merasa terkurung dengan kejadian – kejadian abstrak yang menghantui ingatannya. Yoona meremas selimut yang menutupi seperempat tubuhnya. Ia harus melawan itu semua, karena kalau tidak maka, Ia akan terpuruk selamanya. Donghae sudah bersedia menerimanya dan Yoona tidak boleh mengecewakan namja itu. Ia sudah berjanji tidak akan pernah membuat Donghae hawatir.

“Donghae… Oppa.” Yoona mendekatkan wajahnya ketelinga Donghae dan berbisik disana. Donghae menggeliat. Matanya membulat ketika menemukan wajah Yoona bersandar dibahunya.

“Bolehkah aku meminta bantuanmu, lagi?” bisiknya lagi.

Donghae mengerutkan keningnya. Ia memandangi Yoona dengan matanya yang mengatup – atup.

Yoona menatap Donghae diantara jeda panjang. Kali ini Donghae tak berkedip. Ia semakin bingung dengan maksud Yoona. Kemudian Yoona memperjelas maksudnya lewat tatapannya yang kian menajam. Sorotan mata Yoona mulai mengisyaratkan sesuatu. Lama – kelamaan benda bulat itu semakin jernih dan berpendar seolah – olah bintang dilangit baru saja terseret kedalamnya, Donghae tak bisa berkutik, otaknya terkunci.

“Lakukan sesuatu untukku…”

Entah siapa yang memulai duluan, Sepasang wajah itu perlahan mendekati satu sama lain. Mereka berbagi kehangatan, cinta dan kasih. Untuk kesekian kalinya hal itu terjadi, lagi…

…………………….

Beku. Satu kata yang mewakili kinerja tubuh Yoona sekarang. Organ – organnya sulit bergerak menghadapi situasi seperti ini. Yoona ingin berteriak keras – keras saat menemukan Donghae memeluk tubuhnya dari belakang dengan kondisi yang mencengangkan. Tak ada sehelai pun benang yang melilit tubuh mereka kecuali selembar selimut yang menjadi saksi bisu atas kejadian semalam.

“Andwae.” Yoona bergeleng seraya membekap mulutnya rapat- rapat, keringat dingin terjun mengguyur kepalanya membuat Yoona mengerti kalau Ia benar – benar panik sekarang. Yoona mengingat – ingat dimana Ia melempar pakaiannya semalam. Rupanya pakaian – pakaian itu teronggok asal dibawah kasur. Yoona menyingkirkan tangan Donghae pelan – pelan dari pinggangnya, Ia merosot sedikit lalu menjulurkan kakinya untuk mengais pakaiannya. Begitu selesai, Yoona buru – buru mengenakan pakaian yang seharusnya Ia pakai sebelum Donghae terbangun.

Yoona berjalan mengendap – endap kearah pintu. Langkahnya sempat tertahan ketika Donghae menggeliat dan tertidur kembali. Yoona menghela napas. Beberapa saat Ia membuka pintu dan melangkah keluar. Begitu pintu menutup Yoona lantas mengelus dadanya. Ia menarik napas dan menghembuskannya kasar.

‘Tenangkan pikiranmu Yoona ingat, kaulah yang memancingnya.’

‘Lagipula… Bukankah ini yang kau inginkan?’

…………………

Lagi –lagi nada alarm membangunkannya. Kali ini bunyi nyaring itu berasal dari sebuah jam weker diatas meja. Tangan Donghae meraba – raba permukaan meja. Ia segera menekan tombol samping, mematikan suara jam weker bergambar boneka rusa itu dengan lekas.

Pandangan Donghae mengerjap. Penglihatannya yang merabun mulai jernih. Ia bangkit dari posisi baring sambil memegang kepalanya. Aneh, Donghae berpikir tidak biasanya Ia pusing ketika bangun pagi kecuali saat tertentu, dimana Ia kurang istirahat karena tidur dibawah lima jam. Donghae tertegun, jangan bilang…

“Yoona…” Donghae menyapu pandangannya mengamati suasana sekitar. Tak ada apa pun kecuali beberapa potong pakaian yang berceceran dilantai, “Aishh… Apa yang sudah kulakukan?” sesalnya mengacak – acak rambutnya frustasi.

Donghae meraih baju yang semalam Ia kenakan. Donghae buru – buru memakai pakaian itu asal. Ia hampir saja menabrak pintu karena mencoba memakai t-shirnya sambil berjalan cepat.

Donghae mencari Yoona keberbagai ruangan. Setelah ruang tengah dan ruang tamu, Ruang ketiga yang ia periksa adalah dapur, dan ternyata Yoona ada disana.

Suara isakan tertangkap jelas seiring dengan langkah Donghae yang kian mendekat. Namja itu memicing memandangi Yoona yang berdiri memunggunginya. Didepan Yoona terdapat sebuah meja yang dipenuhi oleh perabotan, entah benda apa karena Donghae tidak terlalu memperhatikannya. Sorotan mata Donghae menjurus kesatu sisi dimana, Ia bisa memastikan dengan jelas kalau semakin lama punggung Yoona semakin bergetar.

“Kau menangis?” Donghae meraih pundak Yoona, membalik tubuh yeoja itu agar memandang kearahnya.

Yoona menyeka bulir – bulir bening dari sudut matanya, “Coba lihat baik – baik mataku?!” ucap Yoona seraya menahan isakannya. Donghae kian menatap bingung. Yoona tidak kuat lagi menahan perih dimatanya untuk bertatapan dengan seseorang. Karena itu Yoona lalu mengangkat sebuah pisau yang Ia genggam disebelah tangannya. Benda itu terpampang jelas didepan wajah Donghae. Cahaya yang masuk lewat ventilasi jendela terpantul disana, kerlipannya mempertegas kalau benda perak itu benar – benar tajam.

“Apa yang kau lakukan?!” Donghae mencengkram lengan Yoona. Sementara itu Yoona tergelak. Donghae semakin bingung dibuatnya.

“Aku sedang memotong bawang Oppa, jangan berlebihan.”

Yoona menyeka kembali, bulir – bulir hangat yang keluar dari matanya. Ia memandangi Donghae seraya menahan tawa. Namja itu berdiri mematung dengan ekspresi bodoh.

“Oh Syukurlah…” Donghae membuang napas lega. Ia sempat mengira kalau Yoona akan melakukan hal nekad yang bisa mencelakai dirinya sendiri.

“Menurutmu apa yang akan kulakukan? Huh?” Yoona tersenyum menantang.

“Entahlah.” Donghae mengangkat bahu. Ia lalu berbelok menuju westafle, meninggalkan Yoona yang tampak menjulurkan lidahnya. Donghae berpikir kalau sikapnya tadi memang sangat berlebihan. Jujur, melihat Yoona tertawa membuat Donghae sedikit malu.

Yoona mulai membuka topik pembicaraan baru mengenai menu sarapan juga kamar yang belum dibersihkan. Sementara itu Donghae masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Perlukah Ia menciumnya, agar yeoja itu berhenti mengoceh ? Dan juga, apa salah? Apa ia salah kalau mencemaskan kondisinya—Yoona— yang tampak sesanggukan ? — meski Yoona baik – baik saja.

Donghae memutar keran westafle dan membasuh wajahnya. Ketika Ia menutup keran itu, air yang mengalir dari sana belum juga berhenti. Donghae memutar – mutar kerannya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama.

“Yoong, apa kerannya rusak ?” Donghae bertanya pada Yoona yang baru saja mematikan kompor. Kemudian Yoona datang menghampiri namja itu.

“Benarkah?” Yoona menatap heran. Ia memajukan wajahnya dan ikut memutar – mutar keran itu. Airnya memang tak bisa diberhentikan.

“Awwhhh…” Aliran air yang keluar dari keran, menggugah tangan Donghae untuk mencipratkannya kewajah Yoona. Yoona keget dan mundur kebelakang. Ia berteriak protes sementara itu Donghae belum berniat menghentikan aksinya. Tidak mau kalah, Yoona ikut mencipratkan air kewajah Donghae. Mereka tertawa – tawa dan tidak peduli dengan lantai yang basah karena ulah kekanak – kanakan mereka. Hingga saat ini, Yoona berhasil menangkap pundak Donghae lalu mengguyur kepala namja itu dengan air ditangannya. Donghae sendiri menarik pinggang Yoona mendekat kearah westafle. Yoona berusaha kabur dan…

‘Sreeettt’

Yoona hampir terpeleset kalau saja Donghae tidak menahan tubuhnya. Waktu melambat dalam hening, mata mereka saling bertumbuk. Yoona menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lipat mendapati wajah Donghae yang memandang lurus kearahnya.

“Eung, Donghae…” Gumam Yoona sebisa mungkin menyembunyikan kegugupannya tapi tetap saja suaranya tidak stabil. Donghae tersentak dengan maksud Yoona. Namja itu segera melepaskan dekapannya seiring dengan Yoona yang berusaha berdiri.

Donghae menggaruk tengkuknya, “Aku akan memeriksa kerannya,” ucap Donghae mengalihkan suasana. Yoona masih diam ditempatnya, hingga suara dering telepon dari arah kamar Yoona tertangkap dalam pendengaran mereka. Yoona mengingat, nada dering itu berasal dari ponsel Donghae.

“Biar kuambilkan,” Yoona tersenyum canggung lalu segera berlari menuju kamarnya. Disisi lain, Donghae memperhatikan langkah Yoona yang kian menjauh. Ia menatap punggung Yoona dengan senyum mengembang.

Pandangan Yoona melelusuri isi kamarnya. Ia ingat kebiasaan Donghae menaruh ponsel disembarang tempat. Yoona menghamburkan diri keatas kasur setelah pendengarannya menangkap bunyi getaran. Tangannya lalu berpindah menggerayangi kolong meja.

“Donghae-ya, kau tidak lupa janji kita hari ini kan? Pagi – pagi sekali aku akan datang ke studio musik. Jangan membuatku menunggu, aku sangat sibuk hari ini dan—“

Karena tidak ingin sang penelpon yang bernama, ‘Jessica Jung’ itu menunggu lebih lama, Yoona berinisiatif menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ketelinganya. Seorang yeoja diseberang sana mulai berbicara panjang lebar sementara Yoona belum berbicara sedikitpun.

“Yoboseyo.” Yoona menyapa pelan. Suara dalam ponsel itu menghilang setelah menggantung kalimatnya secara tiba – tiba. Yoona semakin bingung. Ia mengecek layar ponsel Donghae dan menemukan bahwa sambungan telepon mereka masih aktif.

“Yoboseo…” ulang Yoona sekali lagi. Suara grasak – grusuk terdengar dari sana sebelum suara Jessica Jung kembali muncul. Tapi kali ini dengan nada bicara yang berbeda…

“Oppa… Jadi datangkan pagi ini? Aku menunggumu, kau juga sudah janji padaku…” Yoona mendengar suara itu, seolah – olah Jessica sedang berbicara sambil mengemut lollipop.

“Oppaaa…” rengeknya kembali. Tidak ada yang berbicara lagi. Mereka saling menunggu reaksi satu sama lain. Tiba – tiba yeoja itu memekik shock, “Eh, mianhae… Apa ini benar—“

“Ya, tunggu sebentar.” Tanggap Yoona setelah terdiam lama. Ia bangkit dari posisinya lalu beranjak menemui Donghae yang masih sibuk memeriksa keran air di dapur.

“Oppa, telepon untukmu.” Yoona menjulurkan tangannya kearah Donghae. Selama lima detik tangan itu menggantung diudara, Donghae baru menegakkan punggungnya setelah Ia mengakhiri pekerjaannya memperbaiki keran westafle.

Donghae berbalik menghadap Yoona, “Nugu-ya?”

“Jessica.”

Yoona menjawab datar. Donghae tak lantas menerima teleponnya. Ia mendelik bingung. Tubuhnya membatu menatap Yoona dengan tatapan yang sulit diartikan.

………………… TBC ………………….

Udah segitu dulu yaaaa ^^

Semoga kalian suka dengan part ini , maaV lama dan hasilnya yaa… begitu ><

See Youuuu Byeee J

 

39 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 5 )

  1. sintayoonhae berkata:

    ihhh tambah bgus cerita.a thor… jngn smpe jessie ngerebut hae oppa dri yoona… ahhh andweee…
    d’tggu next chapter.a thor..🙂
    YH Love😀

  2. inggridanjani berkata:

    masih penasaran banget sama hal yg disembunyiin yoona dr hae. chapter selanjutnya pengen deh liat yoong cemburu hehehe

  3. chakhan yeoja berkata:

    Awas tu ya si jess….sukanya ganggu rumah tangga orang..
    si yoona gag mau ngaku tuh klo mlai cemburu sama donghae…
    msih bngung sama masa lalunya yoona..

  4. yesa nurmeida berkata:

    Kelitannya yoona cemburu,, hihi
    penasaran sebenarnya yoona nyembunyiin apa, dan kehadiran jessica semoga gak ganggu rumah tangga YH.
    next ditunggu, semoga gak lama nunggu

    Semangat buat lanjutinnya

  5. VthreeYH berkata:

    huwaaaaaa kenapa mesti TBC????? Jangan lama2 yaaah dilanjut…:)..
    DDaebak… berhasil mmbuatku takut dgn khadirn Jess… smoga Jess kagak rebut Haeppa dri yoong

  6. Pyrotechnics fishydeer berkata:

    YoonHae ngapain tuh *tutup mata*
    jessica gk jdi org ke tiga kan?
    Rumah tangga.xa hancur dong
    next next thor

  7. Ariesta berkata:

    Yoona cemburu yahh???? Jgn sampe sica ngarusak rumah tangga mereka, apa yg disembunyikan yoona dr hae? Mga ja hae tetap cinta sm yoona lw tw yg disembunyikan yoona tu apa dan bantuin yoona bwt solusi mslh dia.

  8. cha-cha berkata:

    akhh.. jessi, muncul d saat yoonhae lgi sweet2nya.
    duuh.. knp mreka kyk masih canggung g-t?? bikin mreka jdi romantis doong…, hehehee
    d tunggu part selanjutnyaa

  9. ina gomez berkata:

    sbenarnya pa yg bt yoona eonni trauma..pa dy pernh mau diperkosa?.mdh2an hbungan yoonhae gak da yg ganggu al y mreka dh mli so sweet…ditunggu nextnya min

  10. HaeNy Choi93 berkata:

    Masih bingung sekaliguspenasaran sama masalalunya Yoona. Sebenernya apa yg membuat Yoona takut saat Donghae menyentuhnya. Seolah2 dia Trauma seperti itu.

    Dan Untuk Jessica.. Heumm kurang tau nih bakal jadi masalah tidak nantinya. Aku harap tidak ya?
    Donghae oppa! Jangan nakal ya? Jngn tergoda sama cewe lain ya? Oke ! Eheh

    next ditunggu beb. Fighting!

  11. dilla berkata:

    cie..yoonhae make a baby again..
    penasaran yoona knapa y??
    tu s jessi ngapain sih gangguin kebahagian yoonhae aja..
    yoona kayak ny juga cemburu tu..
    hihi..
    moga cepet2 punya momongan..
    next thor .

  12. amalia berkata:

    hwaaa keren yoonhae dah baikan…ih bt banget pakek ada jessi jga mana masalalu yoona yang di tutup’n belum jelas bikin penasaran…malah di tambah jessi …yoona cemburu akut gak ea tik ma hae hehe…jangan buat jessi jadi penggagu hubungah yoonhae ea thor…bikin happy ending…di tunggu lanjutannya……

  13. lee yuna berkata:

    aku benci sma jessica,klo dia kya’ gitu takutnya kepercayaan yoona ke donghae hilang lagi -_- ,,kan susah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s