[Oneshoot] FF SooWon – Diary For An Angel

Untitled-1 copyKali ini aku bawa  FF Soowon, Lanjutan FF Yoonhae entar ya nyusul kkk… Lagi pengen nulis tentang Soowon soalnya hehe.

~Happy Reading~

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Title : Diary For An Angel

Cast : SNSD Sooyoung, Super Junior Siwon

Other Cast : SNSD Tiffany, SNSD Yoona

Genre : Romance

Words : 5600+

Rating : General

Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Malam hari usai pelajaran sekolah, aku berjalan melawati jalanan panjang dengan pohon – pohon yang berjejer dikanan kirinya. Tiba – tiba sambaran angin menggilas wajahku dan seseorang baru saja jatuh dari langit…

Diary For An Angel

Aku mulai menulis lagi diatas kertas merah jambu diantara lembar diary, buku yang selama ini menemani situasi hening yang membelenggu sebelum aku terlelap dalam mimpi. Hidupku tak akan lama, mungkin besok atau lusa aku sudah tak bernapas lagi. Jangan berpikir kalau aku sedang menderita penyakit parah atau sudah kronis. Aku tak seputus asa itu, kalau pun punya penyakit, aku pasti akan melakukan hal – hal yang kusukai dan tak mungkin menghabiskan hari – hariku dengan kegiatan menulis diary yang malah membuat air mataku semakin mengucur, bisa – bisa tumpukan kertas dalam buku diary itu menjadi hancur.… perlu diingat bahwa kali ini aku, Choi Sooyoung hanya memasang target terburuk dalam hidupku. Sebelum saat itu tiba, aku ingin seseorang membaca tulisanku malam ini…

Aku merasakannya, perasaan yang luar biasa… Menit – menit itu tiba dan untuk pertama kalinya aku melihat bulan purnama yang bulat dan kesepian menjadi tampak mengagumkan. Malam ketika rumahku yang sempit dan berantakan ini terlihat seperti istana…. Dia, bagaimana mungkin seorang hantu terlihat bagaikan malaikat dimataku?

Kisah itu dimulai. Kisah ini bercerita tentang bagaimana aku yang bodoh ini atau dia yang bodoh itu menjalin suatu benang merah dan akhirnya, takdir mengambil alih hidupku dan dia…

………….

Choi Siwon, nama itu berputar – putar mengitari setiap celah dalam kepalaku, He’s like merrygoround.

Hari di sekolah, saat Lee Sosaengnim mulai membagikan kertas ujian, aku sibuk memandanginya. Sambil bertopang dagu aku mulai berhayal, andai saja dia bisa menatapku seperti aku yang menatapnya sekarang, andai saja dia bisa berbalik dan melangkah, tiga langkah saja untuk berdiri dihadapanku….

Kurasakan mataku berair karena tidak berkedip memandanginya. Aku tidak bisa melihat reaksi teman sebangkuku —-Yoona— atau teman – temanku yang lain, karena dalam mataku semua tampak blur…

Yoona menepuk punggungku, aku menatapnya bingung. Dia lalu menunjuk – nunjuk sebuah kertas dengan matanya , memberikan isyarat bahwa aku harus menjawab kalimat – kalimat yang sialnya sudah mendarat dimejaku. Kecewa…. Aku menatap lembar soal itu dengan malas – malasan dan menghela napas. Kenapa, kenapa waktu tidak bisa berhenti walau cuma sedetik? Aku belum puas memandanginya. Dan tanpa pikir panjang, aku memandanginya lagi. Mataku berfokus padanya semenit tiga puluh kali sambil berusaha menyelesaikan soal – soalnya secepat yang aku bisa. Jemariku mulai mengarang bebas, soal yang diajukan berhubungan dengan pendapat. Berikan penjelasannya… mengapa dan bla bla bla… Pertanyaan studi kasus tentang masalah social dan personal. Aku cukup handal dalam menjawab soal ini. Bahkan sambil memejamkan mata, semua bisa selesai.

Aku harus membuatnya terkagum – kagum, Harus !

Kalian tahu?

Alih – alih membuatnya terkagum – kagum aku malah punya rencana dadakan kalau setelah ini, aku akan memakai topeng setiap kali bersekolah. Alasannya karena… karena aku benar – benar malu. Dia tertawa, teman temanku, bahkan Lee Sosaengnim tertawa melihat kekonyolan yang baru saja terjadi, dan itu karena aku yang terlalu ceroboh… Dan juga salahnya…

Kejadian itu bermula saat sinar matahari benderang diluar sana. Lee sosaengnim mulai membagikan kertas hasil ujian, satu persatu siswa – siswi dipanggil kedepan kelas. Aku mulai gelisah karena sudah mampir seluruh penghuni kelas dipanggil oleh Lee sosaengnim sedangkan namaku belum juga disebut. Dan sesuai dugaannku, kertas ditangan Lee sosaengnim sisa selembar. Aku diam sambil berkomat – kamit. berharap itulah dia, kertas ujianku. Tapi… tapi ternyata bukan, Selembaran yang tersisa bukan kertas ujianku, melainkan milik Choi Siwon. Semua orang mulai heran termasuk Lee sosaengnim. Bukahkah Siwon sudah mengambil kertas ujiannya? Bahkan namanya dipanggil duluan oleh Lee sosaengnim.

“Choi—Siwon.” Ulang Lee sosaengnim dengan nada ragu.

“Disini tertulis nama Choi Siwon, nomer induknya juga sama. Siwon ini punyamu? Bukankah namamu sudah kusebut ? Aku juga heran dengan lembar jawaban ganda milikmu.” tanya Lee sosaengnim pada Siwon. Namja itu mengernyit.

“Bukan sosaengnim, aku sudah memegang lembar jawabanku.”

“Lalu tulisan siapa ini?” Pandangan Lee sosaengnim meyapu seisi ruangan. Ia menatap siswa – siswi dikelasnya yang mulai terperangah lebar.

Jantungku berdegup semakin kencang. Bayangan- bayangan buruk mulai menubruki kepalaku. Jangan – jangan…

Semua mata langsung tertuju kearahku. Indikasi kebenaran dari kecurigaan mereka adalah, aku yang belum menyentuh lembar jawabanku sama sekali. Yoona mulai menyikut pinggangku sementara itu aku mematung meratapi butiran hangat yang jatuh melewati pelipisku. Ini tidak mungkin… Bagaimana bisa aku salah menulis identitas di lembar jawabanku sendiri ?! bagaimana mungkin aku menulis nama Choi Siwon disitu…

Habislah aku ! Aku membeberkan rahasiku sendiri. Dan kini, semua orang tahu bahwa selama ujian, aku diam – diam memikirkan Siwon sampai – sampai tidak sadar menulis namanya dikertas ujianku sendiri. Pabo-ya…

“Choi Sooyoung, kemarilah ! Lembaran ini punyamu kan?” ujar Lee sosaengnim sambil menahan tawa. Aku pun berjalan menunduk kearahnya. Aku punya firasat, Lee sosaengnim sudah tahu ini sejak awal. Mungkin itulah alasan mengapa Ia sengaja menaruh kertas jawabanku—yang janggal itu—diurutan paling bawah. Sekarang aku malah berpikir, apa Lee sosaengnim sedang meledekku ? Kalau Ia serius, namja tua itu pasti akan memanggil Siwon untuk meminta klarifikasi atau hal lain. Bukan malah membeberkannya didepan kelas ?!

Aku memeluk kertas itu tanpa melihat isinya. Wajahku pasti sudah hangus sekarang. Aku benar – benar tidak berselera menatap kertas itu, barang seujung kuku. Apalagi membacanya… aku ingin mati saja ! Sayangnya aku masih ingin hidup. Jadi kuputuskan untuk meremasnya, lembaran sial pembawa bencana?! Dengan emosi yang melup – luap, aku menjadikannya seperti bola sampah. Sepanjang perjalanan menuju meja yang kutempati, aku mendengar beberapa siswa – siswi meneriakiku dengan nada mengejek. Mungkin hanya Yoona yang menatapku iba kala itu…

Hari – hariku mulai berubah. setiap hari yang tadinya damai berubah gaduh. Yang tadinya biasa – biasa kini tidak biasa, terlebih ketika sahabat – sahabat Tiffany— yeojachingu Siwon— mulai melakukan aksi labrak – melabranya didepan umum. Mereka juga menerorku setiap hari. Mereka selalu bilang kalau aku ingin menarik perhatian Siwon. Tiffany, aku tidak terlalu mengenalnya karena kami tidak sekelas. Aku sekedar mengenalnya sebagai yeojachingu Siwon. Tidak kusangka Tiffany begitu baik padaku, berbeda jauh dengan tingkah sahabatnya. Ia memaklumi kejadian yang sempat jadi trending topic diantara murid – murid tingkat akhir, yeoja bereyes smile itu malah memberikanku dukungan supaya aku tetap berjuang memperoleh takdir paling sejati, melalui cinta.

Tiffany bagaikan malaikat, tidak cocok dengan Siwon yang punya aura kelam—menurutku— tapi anehnya aku malah bertekuk lutut, sampai – sampai harus menahan malu karena sang pemilik aura kelam itu. Beberapa kata yang kuingat dari quotes Tiffany adalah…

“Memang menyakitkan mencintai seseorang yang tak mencintai kita tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika kita tidak memiliki keberanian untuk mengucapkan cinta padanya. Kadang kala waktu cepat sekali menggilas kesempatan itu hingga dia pergi, kemudian datanglah sesuatu yang sering orang sebut dengan —penyesalan.

Orang – orang menghabiskan waktu lama untuk menemukkan separuh dari jiwanya, lalu hanya berakhir sia – sia dengan kesimpulan bahwa ternyata dia bukanlah orang yang benar – benar kita cari.

Saat kau menemukan separuh dari jiwamu, kau harus berjuang untuknya Sooyoung-ah. Jangan menyerah, atau dia akan pergi.

Ketika dia pergi, kau akan hidup dibawah bayang – bayang masa lalumu kemudian tanpa sadar kau telah menyakiti masa depanmu…

Dari balik matanya, aku seperti melihat Tiffany yang berbeda. Ia bukan lagi siswi kebanggan sekolah yang gemar mengoleksi puluhan piagam karena prestasinya dalam bidang seni musik, bukan lagi sosok percaya diri tapi lebih kepada Tiffany yang punya segudang masalah. Entahlah aku tidak tahu… aku juga tak punya hak untuk tahu urusan orang lain. Hanya saja, Kalimat Tiffany benar – benar mengganggu hidupku. Kalimat – kalimat itu berkali – kali menengur memoriku dan membuatku terhanyut. Aku tidak memperdulikan lagi pelajaran disekolah atau Yoona yang sesekali bercerita mengenai kekagumannya terhadap Lee Donghae, ketua osis di sekolah kami.

Setiap siang, aku melampisakan perasaan gusarku melalui makanan. Ya, memakan apa saja asal bisa dimakan. Para penghuni kantin sekolah mulai menatap jijik dengan tingkahku yang rakus seperti tidak makan tiga bulan. Yoona berkali – kali menegurku, apa lagi ketika makanan – makanan itu mulai tersangkut ditenggorokanku.

“Pelan – pelan Soo- ya… Kau ini kenapa sihhh?!” tanya Yoona geram sekaligus prihatin. Aku tidak bereaksi apa – apa dan tetap melakukan aksi makanku secara membabi buta.

Entahlah… Aku juga merasa aneh dengan kelakuanku sendiri. Setiap malam aku begadang memikirkan hal ini. Kepalaku sudah benjol karena sering kujitak berkali – kali. Aku benar – benar menjadi autis karena Siwon.

Berulang kali aku berpikir, ‘Berjuang ?! Aku bahkan tak bisa melakukan apa pun selain memandanginya diam – diam.’

‘Terus, aku akan menyesal karena diam saja, begitu, kah?’

Sungguh, bisa – bisa rambutku rontok ! Aku tak bisa terus – menerus seperti ini, aku harus bangkit. Ya.

Belum genap sehari setelah kondisiku mulai normal, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Malam hari usai pelajaran sekolah, aku berjalan melawati jalanan panjang dengan pohon – pohon yang berjejer dikanan kirinya. Tiba – tiba sambaran angin menggilas wajahku dan seseorang baru saja jatuh dari langit…

Ketika bunyi “Brakkk” menghentak telingaku. Aku melihat seorang namja terjun dari atas bersama ranting yang patah. Namja itu telentang dihadapanku dengan wajah kesakitan. Kedua tangannya Ia letakkan didepan dada. Berkali – kali kutangkap suaranya yang mengaduh.

Aku terperangah dan mendongak melihat ranting – ranting pohon diatas sana. Dia bukan malaikat dari langit—seperti dalam fantasiku— Dia hanyalah seorang namja yang baru saja jatuh dari pohon… Angan – anganku mulai merekaulang bagaimana namja dihadapanku ini bisa terjatuh.

‘Dia Siwon?’ mataku menyipit menelusuri kegelapan yang menghalangi penglihatanku. Aku berlutut, mensejajarkan tubuhku agar bisa menjangkau posisi baring orang itu.

Ternyata benar dia Siwon. Siwon dengan seragam sekolah lengkap, juga tas ransel berwarna hitam kusam yang masih tersemat dipundaknya.

“Se-sedang apa kau—“ kata – kataku melayang diudara. Lama – lama pandanganku mulai menelusuri wajah Siwon lebih jauh. Ada lebam diujung bibir dan pipinya. Dan apa ini? Kedua kaki dan tangan Siwon diikat dengan tali.

“Ah… Kau rupanya” ujarnya sempoyongan, “Untunglah.”

“Siapa, Siapa yang melakukan ini ? Huh? Kenapa kau bisa jadi seperti ini?!” Tanpa sadar aku mengguncang – guncang tubuhnya, suaraku meninggu dan air mataku mengucur deras. Aku tidak tahu kenapa. Lebih dari apa pun di dunia ini, aku menghawatirkannya.

Tatapan Siwon mengarah padaku. Ia mengangkat alisnya heran. Hening panjang menyertai napasku yang memburu. Aku mulai salah tingkah ditatap seperti itu. Aku membalik wajahku, tidak ingin bertemu mata dengannya. Buru – buru kulepas tali yang mengikat kaki juga tangannya. Tali tambang itu terlalu kuat. Butuh waktu sepuluh menit untuk membuka ikatan ditangannya. Setelah lepas, Siwon ikut membantuku melepaskan tali dikakinya. Wajah kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan derai napasnya. Aku menggunakan kesempatan yang ada untuk memandangi wajahnya diam – diam. Dewi fortuna jarang – jarang berpihak padaku.

Jantungku bergemuruh dua kali lipat dibanding ketika aku memandanginya dari kejauhan seperti waktu dikelas. Aku menenggak ludah. Dia bukan sekedar namja… Maksudku dia memang malaikat.

“Apakah aku tampak menyedihkan, sampai – sampai kau memandangiku seperti itu?”

Suara bassnya tiba – tiba membuyarkan pikiranku. Mata Siwon masih menyiratkan tanda tanya. Aku memutuskan bangkit untuk menghilangkan rasa gugup yang perlahan menyerang. Kuulurkan tanganku untuk membatunya berdiri. Dia membalas uluran itu dan… Ohhh betapa lancangnya aku sudah menyentuh hal ajaib yang selama ini kuimpikan. Menggenggam tangannya !

Jalanan panjang terhempas didepan kami. Aku memapah Siwon dibawah kolong langit yang kelam. Suara hembusan angin menyerempet gendang telingaku. Aku semakin merinding didekatnya. Apa lagi aroma lembab yang menguar dari tubuh Siwon, aku punya sensasi tersendiri waktu menghirupnya. Begitu menenangkan dan lembut. Aroma favoritku.

“Bagaimana kau bisa— diatas sana?” Ucapku ragu – ragu, takut kalau Siwon marah karena mengira aku menganggu privasinya.

“Aku dipukuli.” Jawabnya sedikit merintih seraya berusaha melangkah dengan stabil.

“Eh? S-siapa?” Aku tergagap.

“Sungmin dan genknya,”

Aku menyipitkan mata, “Mwo?!Dan kau diam saja?!”

“Aku dikeroyok, mereka lima orang. Lagi pula tidak ada untungnya melawan mereka, Kalau aku melawannya, apa bedanya aku dengan mereka?” Dia menyeringai.

“Kau tidak berusaha meminta bantuan?”

Siwon terdiam sejenak, “Aku ingin berteriak minta tolong saat itu, tapi sungmin menggunakan jurus taekwondo dan memukul tengkukku. Setelah itu aku tidak merasakan apa – apa lagi. Tahu – tahu aku sudah jatuh didepanmu.”

“Besok akan kulaporkan pada sosaengnim.”

“Jangan !” Cegah Siwon mengagetkanku. Praktis langkah kami terhenti. Aku mulai bingung dengan jalan pikirannya, “Kenapa?” tanyaku heran setengah mati.

“Tidak apa –apa.” Jawabnya dengan datar. Aku mengerutkan kening. Amat kecewa dengan keputusan Siwon. Aku saja yang bukan korbannya begitu marah saat ini. Sedangkan dia?!

Aku menghela napas setelahnya. Bagaimana pun kecewanya, aku tak berhak melarang Siwon melakukan apa pun yang dia mau,

“Baiklah, biar kuobati lukamu.”

Dia menatapku, “Dimana?”

“Ikuti saja aku,”

………………..

Dari kejauhan, aku melihat cahaya putih dari sebuah kedai mie mengitari sekelilingnya. Leherku semakin tercekik seiring dengan aku yang mulai menambah kecepatan langkah. Siwon tampak kesusahan, terdengar dari napasnya yang memburu. Aku kasihan padanya tapi pikiranku terdorong untuk cepat – cepat sampai agar bisa menyembuhkan luka Siwon.

Aku langsung masuk kedalam kedai dan langsung membantu Siwon duduk diatas kursi panjang dekat jendela. Aku lalu menarik kursi plastic, mengambil posisi didepannya setelah meminta kotak obat pada ahjumma Min. Aku tidak canggung dengan suasana di kedai mie Nyonya Min karena Keluargaku adalah langganan tetap disini. Aku sudah menganggap ahjumma Min sebagai Eommaku sendiri.

Aku mengangkat dagunya secara paksa karana sedari tadi Siwon hanya menunduk. Pandanganku mulai jelas, meski tidak terlalu banyak, lebam diwajah Siwon bisa – bisa menarik perhatian guru. Siwon terkenal dengan image baik di sekolah. Semua orang tak akan percaya kalau namja itu berkelahi.

“Aku merepotkanmu Soo…” lirihnya, memberhentikan tanganku membersihkan luka diwajahnya dengan alcohol.

Aku menatapnya sambil bergeleng kecil. Entahlah, bibirku tak sanggup berkata – kata hingga aku berpaling lima detik kemudian, “Biar aku bersihkan.” Tanggapku memasang ekspresi datar. Aku hanya fokus mengobati luka lebam diwajahnya, seperti tujuan semula, itu saja.

Aku mengoleskan salep pada luka lebamnya, menutupi luka goresan pada wajah dan tangannya dengan tensoplas. Setelah semuanya seselai, aku membereskan sisa kapas dan benda – benda yang berceceran diatas meja.

“Kau mau tahu kenapa aku begini ?”

Tanganku tertahan, tidak jadi memasukkan beberapa buah salep kedalam kotak. Aku tertegun menatapnya, tidak mengerti kenapa Ia berkata seperti itu. Meski dalam hati sangat ingin tahu, aku bukanlah tipe yang suka memaksa.

“Eh?” tanpa sadar aku berdesis pelan. Dia membalas tatapanku dengan ekspresi datar.

“Apa kau kenal Tiffany?”

“Iya… K-kenapa?” Jawabku mulai heran dengan tingkahnya.

“Aku sudah putus dengan Tiffany. Aku yang mengakhirinya duluan.”

Aku menatapnya tidak percaya, benda – benda dalam genggamanku jatuh, “Mwo?!”

Siwon menghela napas, “Semenjak itu, dia shock dan berubah murung. Aku sangat merasa bersalah padanya.”

“L-lalu apa hubungannya dengan semua ini ?” Aku mulai bingung dengan apa yang terjadi. Tentang apa yang terjadi dengan Siwon sekarang, mengapa harus berhubungan dengan Tiffany ?

“Tiffany punya sahabat, namanya Lee Sungmin.”

“Sungmin? Yang memukulimu?!” Aku mendorong wajahku lebih dekat dengannya, dari jarak sepuluh senti aku yakin suaraku yang setengah berbisik dapat terdengar olehnya.

Siwon mengangguk, “Em. Sungmin marah padaku karena menganggap kalau penyebab utama dari kondisi Tiffany yang mengalami gejala depresi adalah aku.”

“Tiffany mengalami gejala depresi?” Dadaku bergemuruh. Kenyataan yang kudengar barusan sangat bertolak belakang dengan apa yang kubayangkan selama ini. Tiffany? Yeoja itu selalu tampak ceria, bagaimana mungkin dia mengalami gejala seperti itu?!

“Kedua orang tuanya resmi bercerai setelah dua puluh tahun menikah, ditambah lagi aku memutuskannya. Oleh karena itu Sungmin bertambah marah padaku.” Siwon menatapku serius. Kupikir dia sudah punya bayangan tersendiri soal reaksiku selanjutnya. Aku mencecarnya habis – habisan.

“Mwo?! Lalu kenapa kau harus mengakhiri hubungan kalian ?! setidaknya kau bisa tinggal disampingnya untuk sementara atau berpura – pura —”

“Aku tidak bisa Soo, aku sudah mencoba. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri apalagi berpura – pura.” Potong Siwon. Aku terdiam mencoba mencerna ucapannya, “Membohongi apa maksudmu?”

“Aku menyukai orang lain.”

“Omoo… “ Aku menghembuskan napas keudara, menerbangkan kekesalan yang mengendap sejak tadi, “Tak kusangka kau sejahat itu Siwon. Setidaknya meskipun menyukai orang lain, kau harus bisa menjaga perasaannya. Apalagi dia sedang terguncang.”

Siwon berdecak, seolah bosan dengan reaksiku yang itu – itu saja, “Aishh Kau ini dari tadi hanya sibuk menanggapi ceritaku. Kalau pun bertanya, pertanyaanmu masih kutangkap sebagai tanggapan.” Ucapnya menggaruk kepalanya frustasi. Aku menatapnya campur aduk. Antara bingung dan kesal. Tentu saja, perasaan seorang yeoja lebih peka dari mahluk apa pun di dunia ini. Aku bisa merasakan sakitnya menjadi Tiffany. Ditambah lagi Tiffany begitu baik pada semua orang.

“Kau tak ingin bertanya sesuatu ?” tawarnya tiba – tiba.

“Maksudnya?”

“Maksudku, apa kau tidak ingin tahu siapa yang menjadi alasan, kenapa aku putus dengan Tiffany ?”

“Eh?” Aku makin bingung. Aku baru tahu kalau Siwon aneh. Selama ini dia sangat cool dimataku.

“Dia seorang yeoja—“ Mata Siwon bergerak liar. Dia tidak lagi menatapku. Dia menunduk, “Yang menganggap cinta seperti kupu – kupu.”

Perasaanku mulai tak enak, “S-siapa?”

“Kau.”

Siwon mendongak, mata kami saling bertumbuk. Oh Tuhan… jantungku mulai bergemuruh, aku sampai takut, sewaktu – waktu benda itu meledak. Napas, aku butuh selang oksigen sekarang juga ! Aku mulai lumpuh, tatapan Siwon yang satu ini benar – benar menghipnotisku.

“Aku menyukai, seorang yeoja yang menulis ini.” Siwon menarik napas dalam lalu merogoh sesuatu dari dalam saku celananya. Selembar kertas yang dilipat menjadi bentuk segi empat. Aku mengernyit. Sebelum membuka lipatannya, Siwon menatapku,

“Cinta seperti lebah, hinggap begitu saja tanpa menyakiti bunga yang dihinggapinya.” Siwon terdiam sambil berpikir sedangkan aku terhenyak seketika.

“Cinta seperti kunang – kunang, mengukir bintang ditengah gelap.” Lanjutnya lagi. Aku mulai gelisah tidak karuan.

“Dan cinta itu seperti kupu – kupu, apabila dikejar Ia akan terbang dan ketika kau membiarkannya terbang, Ia akan datang lalu bersarang dibahumu.” Katanya lagi, lagi dan lagi hingga aku hampir pingsan.

“Cinta menghubungkan manusia dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu seseorang harus mencintai dirinya sendiri sebelum meminta orang lain mencintainya.”

Keringat dingin mengucur bebas dari pori – pori wajahku yang bagaikan mata air.  Aku menatap sebuah lembar segi empat ditangan Siwon. Siwon membukanya dan membuat lembaran itu terpampang jelas didepan mataku.

Tulisan – tulisan disana, bukankah itu tulisanku dan… kalimat – kalimat yang tadi, bukankah itu jawabanku? Dan , dan rupanya… Siwon baru saja menghapal jawaban yang kukarang dari Pertanyaan tentang, apa itu cinta? Pertanyaan gombal dari Lee Sosaengnim saat ujian akhir minggu lalu.

“Itu lembar jawabanku, bagaimana bisa?!”

“Ini milikku. Lihat saja, disini tertulis ‘Choi Siwon’.” Sangkal Siwon seraya menunjuk namanya.

Aku bergeleng. Lembar jawaban itu memang tertulis nama Siwon tapi sungguh, aku selalu hapal setiap kata yang kukarang dalam ujian, “Tapi kertas itu sudah kuhancurkan ?! lalu bagaimana bisa benda itu utuh ditanganmu?!”

“Memangnya lembar jawaban siapa yang kau hancurkan ?!” Kali ini Siwon menyeringai.

“Lembar jawabanku yang namanya Choi Si—“ Aku tertegun. Jangan jangan aku salah…

“Itu punyaku pabo…”

Terhenyak. Semua dihadapanku tampak melayang. Detik ini juga aku tahu… Lembar jawaban yang tertukar. Maksudku, Siwon sudah tahu ini dari awal tapi dia dengan sengaja membiarkannya dan membuatku tampak bodoh didepan kelas. Kalau saja Siwon mengklarifikasi lebih awal kepada Lee sosaengnim bahwa lembar jawaban itu bukan tulisannya— meskipun identitas ‘Choi Siwon’ tertulis disitu— aku tidak akan pernah sepanik itu karena menanggung malu kemudian menghancurkan begitu saja lembar jawaban yang ternyata milik Siwon !

Dan apa katanya tadi. Berani – beraninya dia mengataiku pabo ?! tanganku sudah gatal ingin menoyor kepalanya, tapi saraf – saraf tubuhku mendadak lumpuh total.

“Soo..” Panggilnya, Aku mendongak ragu – ragu. Pita suaraku rasanya terjepit oleh debaran dadaku sendiri, “Mwo-ya?”

“Aku selalu membaca kertas ujianmu setiap malam dan saat itu aku sadar kalau cinta memang tak boleh dipaksakan. Cinta harus mengalir seperti air…”

“K-kau membacanya ? setiap malam?” ucapku tak percaya.

Dia mengangguk sambil tersenyum sekilas. Meskipun sekilas, ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum, padaku.

“Aku menyukai—”

“Aku menyukai semua yang kau tulis.” Dia menatapku dengan mata sayu. Aku bergeleng sebelum jiwaku hilang karena terhanyut oleh tatapannya. Sebelum pertahananku runtuh, aku mulai beranjak karena kupikir tidak ada lagi yang perlu dibahas. Sesungguhnya, Aku tidak kuat kalau harus berbicara dengan Siwon lebih intens lagi. Berbicara menyangkut perasaanku didepannya sama saja dengan terjun ke jurang, Aku sangsi apakah nyawaku bisa terselamatkan atau tidak.

“Aku pamit… ” Aku berdiri tegak didepannya, membungkuk sedikit lalu kuputuskan berbalik badan.

“Mau sampai kapan kau begini Sooyoung-ah ? Apa tidak bosan memandangiku diam – diam selama dua tahun? Hari ini aku memberikanmu kesempatan untuk memandangiku dari jarak dekat, sedekat yang kau mau.”

Aku mematung. Siwon tiba – tiba menginterupsi langkahku yang baru tiga jengkal. Kepalaku berputar kearahnya, “B-bagaimana…” Kakiku gemetaran. Sambil menahan napas amburadul, aku bertanya – tanya sendiri, dua tahun? Apakah selama itu? Lalu sejak kapan dia menghitungnya?

Lima detik kemudian aku sadar kalau niatku selama ini untuk diam – diam mengaguminya gagal total. Dia sudah mendeteksi hal tersebut sejak lama dan aku bahkan tidak tahu apa – apa. Dan selama ini aku hanya tampak bodoh didepannya.

“Kau tak akan bisa menyembunyikan apa pun darinya. Cinta bisa membuat wajahmu yang tadinya kusam menjadi cerah, mengukir kegelapan menjadi cahaya dan membuat orang sakit menjadi sembuh.” Suara Siwon membuyarkan lamunanku, “Kalau tidak salah kau menulis kalimat seperti itu dalam ujian.”

Aku tertegun. Sebanyak apa Siwon menghapal jawabanku ?

“Berkatmu, aku tahu bagaimana memperhatikan seorang yeoja dari kejauhan. Bagaimana mungkin aku tidak hapal tatapanmu yang setiap detik memandangiku ? Aku ingin mengenalmu Soo-ya. Mengenalmu secara nyata, bukan lagi sebagai bayangan rahasia. Aku ingin menatapmu dari dekat. Aku tidak kuat lagi menyembunyikan ini darimu. Aku tak sanggup lagi berbohong. Aku tidak peduli dengan Appa Tiffany yang memberikanku beasiswa, atau Ahjussi Tiffany yang merekrutku bekerja diperusahaannya. Aku tak peduli semua itu, aku ingin merasakan perasaan yang sesungguhnya dan bukan karena balas budi.” Hembusan napas Siwon terdengar jelas ditelingaku. Tatapan namja itu belum berpindah dari wajahku. Setidaknya itu yang bisa kutangkap sebelum mataku mengabur. Kalau saja bisa, aku sangat ingin berteriak dan berhambur kepelukannya.

“Siwon—“

Mata kami saling beradu. Udara dingin menerobos tulang rusukku. Aku terdiam, dia terdiam. Dia seolah menungguku bereaksi, sayangnya aku masih bertahan dengan   tubuhku yang membeku seperti es.

“Kau bisa pulang sendiri kan? Kau tinggal berjalan lurus, ada halte bus diujung jalan sana.” Seraya memberikan reaksi datar, Aku berhasil membuang tatapanku darinya. Dia tak menyanggah lagi saat mendengar jawabanku yang jelas – jelas sangat melenceng dari topik pembicaraan. Tanpa menatapnya atau menunggu isyarat apa pun, aku berlari menuju pintu keluar. Kutarik gagang pintu itu dengan kasar sampai – sampai ahjumma Min berteriak padaku dengan nada hawatir sedangkan aku hanya melenggang tak peduli.

“Tuhan, kenapa hal ini sangat tiba – tiba ?!” sambil berjalan pulang menuju rumahku yang hanya beberapa meter lagi, aku memandangi langit gelap diatas sana. Rasa bersalah tiba – tiba datang menghantuiku. Bayangan tak diundang mulai merasuki kepalaku. Wajah Siwon tergambar jelas, Siwon dengan wajah kecewanya, Siwon dengan mata sendunya, membuatku ingin menampar wajahku sendiri. Hati kecilku berkata kalau tindakaku ini salah….

Lalu bagaimana dengan Tiffany ? Aku merasa tidak enak padanya.

……………..

Angka didalam kalander mulai berganti. Aku menjalani hari – hariku disekolah dengan biasa, malah terkesan datar. Yoona berkali – kali menegurku karena menurutnya aku seperti mayat hidup. Mungkin orang – orang akan berkata kalau sikapku ini berlebihan. Tapi percaya atau tidak, Siwon adalah orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta secara permanen. Selama dua tahun aku membuntutinya diam – diam. Lalu ketika dia berbicara sesuatu yang mengejutkan, seluruh organ dalam tubuhku hampir meledak karena pengakuannya. Bahkan malam itu aku sampai kejang – kejang membuat Eomma sangat hawatir dengan keadaanku.

Siwon tidak masuk sekolah selama tiga hari. Semua orang bertanya – tanya perihal itu. Aku sendiri sudah memperkirakan alasannya. Mungkin saja badan Siwon masih ngilu akibat pemukulan itu atau… atau dia frustasi karena kutolak. Yeah, amat tidak masuk akal.

Aku senang akhirnya Siwon masuk sekolah. Kuakui, aku kesepian tanpanya karena tidak ada lagi obyek yang bisa kuamati.

Tapi kali ini sensasinya berbeda. Siwon lebih bayak diam dikelas, meski sifatnya memang pendiam tapi kupikir ada yang aneh dengannya meskipun dia memang aneh. Sudahlah, aku bingung. Jelasnya, aku seperti melihat Siwon yang berbeda terlebih lagi ketika jam istirahat, aku tidak sengaja memergokinya sedang mengobrol bersama Yoona di koridor sekolah. Mereka terlihat sangat akrab. Padahal setahuku Yoona belum pernah mengobrol dengan Siwon sebelumnya. Dalam waktu singkat saja mereka sudah seakrab itu…

Biasanya aku akan tertular saat Yoona mulai terbahak lebar – lebar tapi kali ini tidak. Anggapanku berbalik, tawa Yoona terlihat menyakitkan. Tawanya itu bagaikan pisau yang mengiris – iris tubuhku.

Aku langsung berlari kekamar mandi untuk mengantisipasi kalau sewaktu – waktu butiran bening didalam mataku mengalir tanpa sadar. Bisa – bisa Yoona dan Siwon melihatnya. Bagaimana pun aku tidak mau terlihat rapuh didepan mereka.

Setelah sampai di kamar mandi, aku mengambil posisi didepan cermin westafle. Kutarik napas dalam – dalam kemudian menghembuskannya pelan. Aku tak boleh marah.

Lagi pula kenapa aku harus marah?

Siwon bersikap dingin. Kulihat dia mendekati Yoona. Dan semua itu bukan urusanku.

“Hikz….”

Suara tangisan membuat pandanganku berpaling. Aku mengernyit dan mulai penasaran. Sambil mengendap – endap, aku mencari sumber suara, aku menyapu pandanganku kesetiap sudut toilet, tidak ada siapa pun. Pendengaranku lalu menajam kesalah satu bilik toilet. Bilik paling kanan yang tertutup. Ingin mendengar lebih jelas, aku beralih menempelkan telingaku pada daun pintu.

‘Clekkk…”

Aku terhuyung kedepan saat tiba – tiba pintu itu terbuka. Sebisa mungkin aku menopang tubuhku agar tidak terjatuh. Siswi dihadapanku tampak membulatkan matanya. Aku juga melakukan hal yang sama,

“T-tiffany-ah…”

“Sooyoung…”

Kami sama – sama terkejut dan saling menunjuk satu sama lain. Aku bertemu dengan Tiffany. Matanya sembab. Bukan hal yang aneh bagiku, mengingat cerita Siwon tempo lalu mengenai kondisi orang tuanya.

“Semua orang akan heboh kalau mereka melihatku menangis.” Tiffany terkekeh. Salah satu orang yang dimaksud Tiffany pastinya adalah aku. Tiffany terkenal dengan senyumnya yang lebar, matanya yang jernih, bahkan ketika diterpa masalah, Tiffany masih bisa tersenyum.

Saat ini aku duduk dengannya disebuah bangku taman. Tiffany butuh udara segar setelah menangis sendiri dikamar mandi. Kuamati wajahnya sekilas, lebih ceria dibandingkan waktu di kamar mandi tadi.

“Padahal aku juga manusia.” Sambungnya lagi kali ini kekehannya berubah miris namun senyumannya belum juga pudar.

Aku tersenyum tipis. Dalam hati merasa prihatin. Tiffany benar – benar sosok yeoja tegar dimataku. Aku kagum padanya.

“Bagaimana hubungan kalian?” Tiffany menatapku dan bertanya tiba – tiba. Pertanyaan yang membuatku mengernyit. Bukankah terbalik? Harusnya aku yang bertanya padanya.

“Aku sudah tidak memiliki hubungan dengannya.” Tiffany berbicara lagi saat aku tak menjawab pertanyaanya. Sungguh, aku bingung harus menjawab apa. Kalian yang dimaksud Tiffany, aku yakin dia pasti Siwon.

“Aku baik – baik saja Soo, percayalah.”

Aku masih diam. Tiffany menepuk – nepuk bahuku sambil memasang ekspresi penuh keyakinan, “Jangan sekali – kali menyerah jika kita merasa sanggup, jangan sekali – kali mengatakan tidak mencintainya jika kita belum bisa melupakannya.”

Aku mendongak, menatapnya tanpa berkedip.

“Sooyoung-ah.”

“Eoh?”

Tiffany tersenyum memperlihatkan eyes smilenya, “Be happy.”

…………

Hembusan udara dari kerongkonganku bertiup keawan – awan. Entah berapa kali aku melakukan ini, menghirup udara dengan rakus dan menghembuskannya secara kasar. Udara dingin malam ini tidak lagi menciutkan nyaliku mengundang angin masuk kedalam perutku. Aku tidak bisa berpikir apa pun. Sedari tadi aku hanya berjalan sambil menerawang. Kejadian – kejadian yang menimpaku akhir – akhir ini selalu saja berputar – putar tanpa henti, hingga aku bingung mana yang harusnya kuingat dan mana yang mesti kuhapus.

Langkahku berhenti disepanjang jalan dimana aku pernah mendapati Siwon terjatuh. Dia terjatuh dari pohon dan aku sempat mengiranya malaikat dari langit. Pikiran bodohku mulai hadir, aku berharap Siwon jatuh lagi didepanku. Aku ingin melihatnya malam ini. Aku… aku merindukannya.

Srekk… Srekk… Aku tertegun. Suara ranting bergoyang tanpa ada angin yang meniupnya tertangkap dalam pendengaranku. Aku menoleh kanan kiri. Jalanan ini sudah sangat sepi. Tubuhku mulai dingin, aku merinding memegang tengkukku dan merasakan denyutan yang cepat disana.

Trakkk… Aku hampir saja berteriak kalau kesadaranku sedang labil saat itu. Sebuah boneka beruang dengan senar bening yang mengikat lengannya jatuh dari atas dan bergelantungan didepanku. Aku benar – benar terkejut apalagi ketika melihat benda yang terselip dibagian perutnya. Bibirku membeku, bahkan ingin berteriak rasanya sulit sekali. Aku menatap kagum kearah boneka pink itu sekali lagi. Boneka yang didalam kantungnya terselip sebuket kecil bunga baby breath— bunga favoritku.

Aku mendongak seraya terperangah lebar. Mataku berusaha menyusuri ranting pepohonan, berusaha mencari wajah dibalik boneka yang membuatku terkejut setengah mati. Aku melihatnya. Dia… Bagaimana mungkin dia lagi?

“Yak sedang apa kau disana?! Cepat turun.” Sahutku dari bawah. Siwon hanya terkekeh seraya berancang – ancang untuk turun.

Namja itu terjun dari atas pohon yang kupikir hanya enam  jengkal diatas kepalaku. Ia mendaratkan kaki kirinya lebih dulu kemudian berpijak dengan posisi berlutut. Siwon melangkah kearahku seraya tersenyum. Aku menenggak ludah dan hampir tersedak ketika Ia sudah berdiri didepan mataku.

“Kenapa kau lama sekali? Aku kedinginan diatas sana.” Ucapnya dengan bibir memucat, membuatku percaya kalau Siwon memang sudah menunggu lama, “Langkahmu itu seperti semut, ck.” Ia berdecak dan aku menatapnya tak terima, “Aku memikirkanmu, tahu?!” Kata – kata itu meluncur begitu saja. Aku terhenyak oleh ucapanku sendiri. Siwon menatapku bertanya – tanya, membuatku salah tingkah.

“K-Kenapa kau bersikap dingin hari ini?” aku menunduk seraya menelitiki kuku jariku karena terlalu gugup. Aku benar – benar gelagapan didepannya.

“Aku hanya memberimu waktu untuk berpikir Sooyoung –ah…” jawabnya setelah terdiam lama. Saat terdiam barusan aku yakin Siwon sedang menatapku. Aku yakin dia juga memperhatikan gerak – gerikku yang aneh.

“Dan apa maksudnya ini semua?” Tanyaku memberanikan diri menatapnya. Mataku sudah beraiir karena hembusan angin menusuk benda itu hingga lapisan terdalam sedangkan aku masih sulit berkedip ketika tatapan Siwon menajam.

“Yoona bilang kau menyukai baby breath.” Siwon tersenyum. Napasku tercekat. Jadi itukah tujuan Siwon menemui Yoona saat di koridor sekolah?

“Karena aku menyukaimu, aku memberikanmu baby breath.”

Aku bergeleng. Tubuhku mati rasa. Aku bahkan tak berani membayangkan wajahku saat ini. Kalau boleh kukatakan, ekspresi wajahku mungkin terlihat mirip seperti melihat zombie gentayangan. Apa lagi ketika Siwon tiba – tiba membelai rambutku dengan tangannya yang gemetaran.

“Aku berharap kau juga menyukaiku melebihi kekagumanmu terhadap bunga itu.” Siwon meraih tanganku yang teronggok kaku. Dia tersenyum dengan kesungguhannya, “Saranghae, Sooyoung.”

Aku sesak napas. Setelah itu, semuanya gelap. Aku pingsan.

……………………..

Sebenarnya aku belum pernah menjawab pernyataan cinta Siwon waktu itu. Pagi harinya aku sudah tergeletak di kamar tidurku. Eomma berkata bahwa seorang namja menggendongku di punggungnya, selain aku, namja berseragam sekolah itu juga membawa boneka beruang yang ia kalungkan dilehernya. Ia sempat menaruh boneka itu disofa kamarku kemudian pamit tanpa memberitahu namanya pada Eomma. Aku benar – benar yakin kalau itu Siwon. Aku pingsan bukan berarti tak sadar sepenuhnya, aku masih bisa mencium wangi tubuh Siwon. Perlu kutandaskan sekali lagi bahwa wangi tubuh Siwon adalah wangi favoritku. Dan penciumanku tak mungkin salah.

Hubungan kami mulai mengalir. Aku mulai akrab dengannya tanpa perlu diam – diam memperhatikannya. Sekarang aku lebih leluasa berjalan disampingnya atau menatap matanya dari dekat, menikmati senyumannya juga hal utama.

Aku sedikit bingung dengan satatus kami. Meski Siwon sudah mengucapkan cinta pada malam naas itu, aku belum menjawabnya sampai hari ini. Siwon juga belum berkata apa – apa untuk mengulang adengan itu… Dan Oh, andaikan waktu bisa kuputar mundur, aku akan minum banyak suplemen sebelumnya ketika Siwon akan berkata, Saranghae.

Bingo ! Aku bahkan meminum suplemen setiap hari sebagai langkah antisipasi agar aku tidak pingsan lagi jika sewaktu – waktu Siwon berlutut dan mengungkapkan perasaannya padaku meski sampai sekarang, Ia belum pernah melakukannya. Namun begitu, caranya memperlakukanku selama ini sudah cukup menegaskan jika Ia serius dengan hubungan kami.

Tanpa sadar aku melamun. Aku tersentak tiba – tiba. Diaryku sudah penuh. Kulihat sisa selembar lagi yag belum terisi. Aku tersenyum lebar. Kupikir Tuhan sudah merencanakan halaman itu agar aku menulis sesuatu untuk Siwon disana.

Aku mulai mengambil bolpoin kemudian menuliskan sesuatu ditengah halaman. Tanganku menari dengan lincah seiring dengar getaran dalam dadaku yang belum sepenuhnya normal sejak tadi.

Aku menarik napas melihat tulisanku sendiri dan tersenyum tipis, “Siwon, cepatlah kembali.”

……………

Seorang namja membolak – balik satu demi satu halaman diary pink, benda yang baru saja Ia dapatkan melalui post. Siwon tersenyum ketika mendapati setangkai bunga baby breath yang agak layu tersemat dibeberapa lembar halaman. Seharian ini, namja itu hanya berkutat didepan mejanya seraya membaca sebuah diary yang dikirimkan Sooyoung untuknya. Semakin lama Siwon membacanya maka semakin besar pula kerinduan dalam diri namja itu menguap. Ia seolah ingin mendorong waktu bergerak lebih cepat agar bisa bertemu dengan Sooyoung. Tiga bulan belakangan ini mereka jarang bertemu. Sejak Siwon ditugaskan oleh Group Hwang untuk mengawasi sebuah pembangunan gedung di daerah Incheon, mereka hanya berbicara melalui telepon, itu pun mulai jarang. Siwon selalu mencuri – curi waktu untuk menghubungi Sooyoung disela – sela kesibukannya sebagai seorang arsitek. Namun adakalanya Sooyoung mengabaikan teleponnya. Siwon mengerti kesibukan Sooyoung sebagai wedding planner. Sooyoung sendiri memiliki alasan kenapa Ia memilih profesi itu. Ya, tak ada alasan lain, karena Ia sangat menyukai bunga baby breath yang identik dengan sakralnya upacara pernikahan.

Dan Siwon punya memori tersendiri ketika mengingat bunga yang satu itu.

Jangan bertanya apa pun, karena Siwon juga hampir pingsan ketika Ia menggendong tubuh Sooyoung dipunggungnya. Ditambah lagi kalung boneka beruang yang cukup besar, membuat namja itu hampir mati ditengah jalan. Untungnya Siwon sudah hapal rute menuju rumah Sooyoung. Diam – diam Siwon pernah membuntuti Sooyoung ketika yeoja itu baru saja mengobati lukanya di sebuah kedai mie.

Siwon mengernyit. Ia membalik lembar terakhir dalam buku diary itu. Mata Siwon menyipit, memperhatikan dengan seksama sebuah paragraph yang posisinya ditengah halaman. Tulisan Sooyoung tampak rapih didalam paragraph itu, berbeda dengan tulisan sebelumnya yang tampak sangat padat dan acak –acakan.

Mata Siwon tak berkedip, Ia memandangi dengan serius seolah tak ingin melangkahi satu huruf pun termasuk tanda titik.

( Aku belum menanggapi penyataannya. Padahal malam itu, dia secara terang – terangan, berbicara mengenai kesungguhannya padaku. dan ketika diary ini sudah sampai ditangannya. Dia, Choi Siwon kau harus tahu ini… )

( Cinta adalah keabadian dan kenangan adalah keabadian dari cinta. Aku ingin kau mengingatku sepanjang hidupmu, mengingat buku diary ini setiap hari, setiap menit dan setiap detik. Kau harus rajin – rajin membacanya karena suatu saat nanti malaikat – malaikat kecil yang kau tiupkan kepadaku akan ikut membacanya dan mereka akan tersenyum bersama kita.

Salam untuk seseorang yang harus menungguku didepan altar. Saranghae Siwon. Nado. )

Kedua matanya terpejam. Siwon menahan napas seraya mengatur detak jantungnya yang mulai bersungut. Keinginan terbesarnya kini adalah, Siwon ingin sekali membanting stirnya menerobos jalanan Seoul, berdiri dihadapan Sooyoung kemudian memeluk yeoja itu seerat mungkin.

Setidaknya Siwon harus lebih bersabar sekarang. Ia menghela napas sambil merenung , Benaknya mulai mengukir sesosok wajah yang begitu Ia rindukan. Sooyoung.

“Tunggulah beberapa minggu lagi, aku akan pulang dan segera melamarmu Soo.”

Siwon menutup sampul merah jambu itu pelan – palan. Ia menatap jam dindingnya. Sudah jam empat subuh. Perlahan – lahan bayangan Sooyoung bersama cincin permata yang akan Ia berikan kepada yeoja itu semakin jelas dikepalanya. Semakin lama bayangan itu semakin jauh. Kepala Siwon menubruki permukaan meja. Sayup – sayup Siwon tersenyum sebelum Ia jatuh tertidur. Bayang – bayang Sooyoung mulai hadir kembali. Kali ini bayang – bayang itu menjelma menjadi mimpi yang sangat manis dan panjang. Dan Ia yakin, bisa mewujudkannya.

“Saranghae Choi Sooyoung.”

…………….. The End …………………

Kyaaa, gimana nih FF nya?

Mianhae ya cuma oneshoot soalnya aku masih ada utang FF Chapter yang belum selesai, takutnya nanti malah menelantarkan readers ><

Sampai jumpa di FF berikutnya

Pai paiii

22 thoughts on “[Oneshoot] FF SooWon – Diary For An Angel

  1. kim eun sub berkata:

    Kyaaaaaa, Ff soowon is back, banyak babget author yg katanya udh ga dpt feel karena kejadian awal tahun 2014…tappi eh dirimu malah bikin ff yg sweet ini ceritanya mengalir bahkan aku ga peduli ama berita yg kemarin haha…
    Ayoo unni terus bikin ff soowon yg banyak, ff nya bagus bngt ngalir kayak ngeliat film beneran haha, cerita nya ringan tp asiiik..

    Keep writing, jangan lupa ff yoonhae di lanjutin cepet..hehe

  2. lulu_paramita berkata:

    Itu sungmin tega banget ma siwon T__T untung ada sooyoung eon… aku ikut nge byangin wonpa jatuh didepan aku, pasti aku bakal melting dan ngira dia malaikat ganteng kali yqqqq hehe…
    Sooeon keliatn bgt malu2 nya disini mpe pingsan lagi ps siwon blng saranghae… ngakakk

    Ffnya so sweet eonn…. widih soo eon mau dilamarr… Daebakkkk… pingin sequel sihh tp kalo gak ada, aku pinginnya eonnie buat lg ff ttng soowon><

    Gomowo eonnie, buat lg ne msh ttng soowon…

    Soowon jjangggg !!!!!

  3. riri riwa berkata:

    FFnya keren Chingu. Sampai nggak nyadar kalau udah end. Nasib Sooyoung Unni mujur banget🙂 beruntung banget dia dapet Siwon yang bener2 tulus mencintainya.

    Aku tunggu ff mu yang laen. Kamsa🙂

  4. Beauty SooyounG berkata:

    So sweet.

    Tiffany eonni makash udah nyatuin eomma dan appa guardians. Aku suka karakter Tiffany disini.

    Keep writing, sy suka tulisnnya cuma ada sedikit typo kekna hehehe. Mian tapi keren kok.

  5. Nisa berkata:

    Wow wow wow keren chingu.
    Ceritanya easy banget pas dibaca, tapi feelnya dalem banget.
    Buat lagi yang banyak yang kayak gini.
    keep writing ya chingu🙂

  6. soowonester berkata:

    terima kasih buat author yang udah bikin ff yang sangat manis ini.🙂 bahasaya ringan banget tapi feelnya dalem banget. Wuahhh saya jadi merasa ikutan jatuh cinta😀 Buat author keep writing ff soowon ya!!!??? Saya do’akan semoga author dapet banyak inspirasi buat nulis ff soowon. Oh iya satu lagi maaf kalo baru comment karena jujur saya baru ketemu sama ff ini. Sekali lagi thanks ya thor🙂

    • nanashafiyah berkata:

      makasih doanya😀
      Aku jd sulit berkata2 niiih ><
      ff ini msh byk bngt kurangnyaaa, sykurlah kalo readers pd suka.
      Iya pengen bngt dpt inspirasi yg bnyk, jd terharu deh hikz…
      Btw gomawoo y

  7. rainguardians berkata:

    Aaaaahh akhirnya balik lg .. Aku suka baca yang i love for a reason tp maaf chingu aku baru bisa comment sekrg ..😦
    Inii baguuuss bangeett aku mauu nangiiss .. Serasa kehidupan pribadi ini aku ,, makasiih chingu udh bikin ff seindah ini seindah bunga baby breath .. Terus bikin lg ya chingu … Aza aza fighting^^

  8. sooyeon_choi berkata:

    Ceritanya manis banget,,,, meskipun diawal harus nanggung malu dulu…. hihihihi

    Bikin ff SooWon yang banyak ya Thor…. Fighting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s