[Oneshoot] FF Yoonhae – Here You Come Again

Image

 

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Title : Here You Come Again

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Genre : Romance

Words : 3500+

Rating : PG-15

Aku, membuang keindahan paling berharga. Dan itu kamu…

Aku duduk meratapi langit. Pikiranku mengawang jauh. Kesadaranku  terkunci  bersama  memory tentangmu. Disana, diatas langit itu, dunia tampak menertawaiku sekarang. Bayangan diirimu terpantul lewat bola mataku. Aku melihat kau menjadi matahari siang ini,begitu  silau dan terik.

Harapanku menguap seiring dengan sengatan cahaya yang kian menusuk. Aku berbicara sendiri bila mana angin musim panas menerbangkan harapan itu,  bahwa aku ingin semua kembali layaknya semula ketika sepasang tarikan itu masih tersungging dibibirmu, tarikan sempurna dari  satu – satunya yang bisa aku lihat ketika cahaya malam tertutup oleh mendung.

Senyuman yang hanya untukku.

Kupertegas kembali, bahwa Aku tak sanggup dan belum bisa… Melihatmu  pergi. Melihatmu bersamanya seperti membiarkan mataku sendiri tertusuk awan panas. Perih, terluka, sakit. Lalu  aku sadar kalau sekeping benda yang merintih dibalik dadaku, rupanya sudah hancur.

Berkali -kali kutempuh ribuan cara untuk melupakanmu tapi nihil, satu pun cara tidak  ada yang ampuh. .

Aku melupakanmu.

Tapi tidak lama.

Ketika  mata ini memejam, kembali Aku terjatuh menuju  dunia bawah sadarku. Didalam sana, kutelusuri jejak langkahmu.  Setiap inci dari  sepenggal kisah  kita dimasa lalu berputar acak  layaknya film tanpa alur, aku tersiksa sendiri. perlahan  wangi tubuhmu hadir. Wangi tubuhmu berterbangan  datang dan pergi seperti candu dan aku bisa mati kalau tidak menghirupnya.

Memimpikanmu begitu meyiksa, Melihat wajahmu kembali dalam mimpi, membuat perasaanku  bergejolak. Batinku yang rapuh mulai menganga, kutemukan lubang didalam sana. Aku mengorek lubang  itu dan ternyata sakit.

Semua benar – benar percuma.

Gagal melupakanmu adalah kutukan… Dan membuang kutukan itu sulit dan tidak akan pernah bisa.

……………..

“Kalau Oppa ingin aku tetap disini,  aku bisa bertahan dan menolak pernikahan itu.”

“Tidak Yoong. Jangan jadi anak durhaka.”

“Oppa—“

“Pergilah.”

Jam dinding berdetak seiring dengan angka yang termakan olehnya. Satu persatu detakan jam berlalu tanpa ada satu pun  aktivitas yang mengiringi kepergiannya. Detakan itu berlalu dalam hening. Tanpa namja didepannya sadari, tiga jarum jam yang berdetak itu  selalu merekam aksi termenungnya dibalik meja.

Donghae meraih bingkai photo kecil diatas meja. Ia menatap gambar dalam photo itu sambil menerawang. Perlahan jemari Donghae terulur menyentuh   detail ekspresi yeoja didalam sana.  Sebuah potret yang setiap incinya meninggalkan kenanangan tersediri bagi Donghae.

Indah. Semua kenangan – kenangan itu sangat indah.  Donghae hampir frustasi mengingat segala keindahan itu. Keindahan yang  rupanya harus  ditelannya mentah – mentah dengan cara sepahit ini. Bukan sia – sia karena Donghae tidak pernah menganggap jika apa yang Ia lewati bersama Yoona adalah hal percuma. Donghae memilih menyimpan kenangan itu bukan mengubur karena sampai kapan pun Donghae tidak akan pernah menghapus Yoona dari daftar, satu – satunya orang yang paling Ia butuhkan didunia ini untuk bernapas.

Bodoh. Betapa Ia sangat bodoh. Donghae membuka lubang perpisahan itu. Donghae yang membiarkan Yoona pergi. Yoona pergi setelah yeoja itu bercerita bahwa Ia akan dijodohkan dengan anak sahabat orang tuanya. Yoona dan orang itu sudah dijodohkan sejak mereka kecil oleh keluarga masing – masing. Donghae Yakin tujuan orang tua Yoona mempercepat pernikahan anaknya  semata – mata karena mereka  tidak pernah suka dengan Donghae. Entah kenapa persisnya tapi Pekerjaan Donghae sebagai musisi yang tidak tetap membuat orang tua  Yoona  menganggap bahwa dirinya bukanlah sesuatu yang pantas untuk membahagiakan anak mereka. Donghae sadar itu dan akhirnya membiarkan Yoona pergi dari sisinya meski yeoja itu menolak. Donghae sama sekali tidak berniat menghancurkan hubungan Yoona dengan keluarganya, jadi Ia menelpon orang tua Yoona pada malam itu ketika Yoona bersikeras tinggal diapartemennya—Yoona hendak menghindari acara perjodohan. Orang tua Yoona akhirnya  datang dan malam itu terjadilah acara seret menyeret antara orang tua dan anak mereka. Donghae masih ingat seberapa nyaring jeritan Yoona ketika memanggil – manggil namanya kala itu dan hanya  Ia tanggapi dengan  hampa.  Jahat? Donghae merasa Ia jahat, membiarkan orang yang dicintainya pergi secara paksa tapi ia tidak mungkin membiarkan hubungan Yoona dan keluarganya memburuk lebih lama karena dirinya.

Dan diakhir cerita, bukan sekedar sosoknya, Yoona menghilang dengan membawa serta kenangan indah mereka. Meninggalkan kesakitan tersendiri dalam raga Donghae.

Berminggu – minggu Donghae menghabiskan waktunya dengan mencoba menghapus Yoona dari pikirannya. Menyibukkan diri bersama teman – teman yeojanya. Yeoja – yeoja itu bahkan  lebih cantik dari seseorang yang berusaha Donghae lupakan —Tapi entah bagaimana, mereka membosankan. Donghae selalu melakukan hal – hal  menyenangkan bersama teman – temannya, tapi perasaan itu masih berjalan ditempat,  Donghae selalu berjalan dibawah bayang – bayang Yoona tanpa mampu Ia terobos. Donghae sendiri  tidak bisa menghitung berapa banyak obat tidur yang dikonsumsinya selama ini agar Ia bisa tidur dengan tenang tanpa mengingat atau memimpikan Yoona. Kemudian percuma, satu – persatu perjuangannya gugur mengingat pada kenyataannya, Donghae tidak mampu menghapus jejak Yoona dari garis tangannya.

Mungkin tidak seharusnya Ia begitu. Donghae sudah harus melupakan Yoona, lima detik setelah Ia membiarkan Yoona pergi, Donghae berupaya mengikhlaskan semua terjadi, tapi namja itu belum bisa menerima kepergian Yoona bahkan sampai hari ini, hari dimana Donghae harus merelakan separuh jiwanya direnggut oleh orang lain.

Hari ini Yoona akan menikah…

Begitulah yang tertulis diatas undangan merah jambu bergambar merpati. Entah sejak kapan, undangan itu terselip dibawah pintu apartemennya. Donghae menemukan benda itu tergeletak bersama  kalung perak berinisial YH. Donghae tersenyum miris ketika menyadari bahwa Yoona… Yoona sudah mengambil keputusan untuk menyelami  takdir yang menghanyutkannya.  Takdir untuk menjalani pernikahan dan membuang masa lalu agar takdir emas itu tidak terhambat.

Dan keputusan Yoona adalah yang terbaik.

Jangan tanyakan dimana undangan itu sekarang, karena Donghae sudah membakarnya seminggu lalu.

Donghae mengembalikan figura photo ditangannya keatas meja lalu melirik jam dinding. Sabtu menjelang siang.  Beberapa detik lagi atau mungkin sekarang juga, Yoona sudah resmi  menjadi milik orang lain.  Tubuh Donghae memanas ketika membayangkan situasi pernikahan saat ini. Membayangkan  keramaian disana, teman – teman Yoona berdatangan lalu mengucapkan selamat atas pernikahan bahagia, Yoona berjalan dialtar, mengucapkan janji suci,  tersenyum pada seseorang lalu… Akhh !!! Donghae mengacak rambutnya asal. Ia harus cepat- cepat menyingkirkan Yoona dari benaknya atau kalau tidak Ia  bisa gila ! Sekarang saja Donghae sudah menggebrak mejanya tanpa sadar,  juga tanpa tujuan jelas, Donghae  menggerayangi  sebuah  kotak diatas meja dan…

Prang….

Kotak itu menyenggol photo Yoona hingga terjatuh. Donghae menemukan photo itu sudah pecah dan belingnya berhamburan. Namja itu menghela napas.

Donghae menyambar photo Yoona yang tergeletak dilantai. Ia tidak lagi memperdulikan beling tajam menggesek jemarinya hingga berdarah.

Donghae  bangkit, menyambar jaket kulit yang tersampir diatas kursi  lalu memakainya.  Donghae menatap photo Yoona sekilas. Ia memasukkan benda itu kedalam saku  jaketnya, kemudian menghilang  dari balik pintu yang sengaja Ia  banting.

…………………..

Suara nyaring dari gabungan tuts piono terdengar memantul – mantul didalam studio music. Donghae sedang mencoba mengulang kembali lagu yang Ia bawakan ketika pertama kali menyatakan cinta pada Yoona. Lagu yang didalamnya tercecer nada pengharapan agar Yoona bisa memberi kesempatan bagi Donghae untuk  mengutarakan kesungguhannya. Didalam lagu itu terselip pula penekanan – penekanan  yang menunjukkan betapa Donghae sudah jatuh kedalam tekadnya untuk memiliki Yoona.

Donghae ingat, Yoona yang kala itu duduk disampingnya mengangguk pelan. Yoona tersenyum, pertanda bahwa Ia menerima upaya Donghae untuk membahagiakannnya.  Sampai sekarang, Donghae masih ingat wangi tubuh Yoona ketika Donghae memeluknya tiba – tiba hingga Yoona hampir kehilangan napas. Padahal Donghae mengira kalau Yoona bisa memilih namja yang lebih darinya. Yoona cantik dan popular, Donghae tertinggal jauh dari kriteria Yoona.

Tapi… Pada akhirnya Donghae membiarkan Yoona pergi dengan orang lain.  Dia Bodoh bukan?

“Jangan melakukan apa pun kalau suasana hatimu sedang kacau, kau tahu ? permainanmu  benar – benar menyiksa telingaku.” Suara bernadakan protes terdengar dari belakang. Seketika jemari Donghae berhenti memainkan pianonya. Donghae  hafal pemilik suara itu, dia pasti Kyuhyun.

“Miane.”

“Perminataan maafmu kedengaran asal.” Tukas Kyuhyun lagi. Donghae berbalik mentapnya malas, ”Benarkah?”

“Piano itu lama – lama bisa hancur.” Kyuhyun menunjuk piano didepannya lalu  beralih mendekati Donghae kemudian berdiri menopang kedua tangannya diatas kepala piano.  Lalu tanpa diduga Kyuhyun berkata lagi, kali ini air wajahnya berubah suram.

“Ketika berjalan di altar, Yoona pingsan.”

Donghae terdiam. Ia menggeleng  tidak percaya ketika pernyataan Kyuhyun tercerna sepenuhnya,  “Apa?”

“Dia dilarikan kerumah sakit. Yoona terus memanggil – manggil namamu, Dan kau masih disini?!”

Donghae menatap Kyuhyun sekali lagi. Ia berharap kalau apa  yang dikatakan temannya adalah bohong. Yoona tidak mungkin pingsan !

“Dia benar – benar pingsan Hae. Aku terkejut melihat itu.  kupikir Yoona hanya pingsan sebentar tapi belakangan terdengar kabar kalau  setengah jam kemudian, Yoona belum juga sadarkan diri.”

Kedua tangan Donghae gemetaran. Berjuta peluh berguguran dari wajahnya. Donghae masih sibuk menerawang sambil menatap tuts pianonya dengan pandangan kosong.

“Dia memanggil – manggilmu, Hae. Temuilah dia, kumohon.” Kyuhyun berbicara penuh harap. Beberapa saat Ia menunggu tapi Donghae tidak kunjung merespon. Mendapati reaksi Donghae tetap sama, tubuh Kyuhyun memanas. Bom Molotov yang tadinya tidak ingin Ia lempar dan perlihatkan pada Donghae, akhirnya meledak juga.

“Yak ! APA YANG KAU LAKUKAN ?! Kenapa diam saja !” Tanpa basa basi, Kyuhyun  beralih posisi lalu  menarik kerah kemeja Donghae membuat temannya itu tersentak.

Kyuhyun menatap Donghae tajam. Bagaimana pun ekspresi Donghae yang tampak datar semakin membuat Kyuhyun geram, “Dulu, aku berusaha mati – matian mendapatkan hati Yoona. Aku hampir mati ketika mengetahui kalau ternyata… ternyata Yoona… Dia MENCINTAI SAHABATKU SENDIRI ?! kau tahu bagaimana perasaanku saat itu?! SAKIT ! Dan sekarang apa yang sudah kau perbuat?!  Kau dengan gampangnya  melepas Yoona  bahkan hanya diam seperti patung ketika kubilang Yoona jatuh pingsan ! Brengsek kau !” teriaknya lalu menghempaskan tubuh Donghae hingga namja itu tersungkur dari kursinya.  Kyuhyun hampir saja meninju wajah temannya itu sebelum Ia teringat Yoona. Yoona pasti akan sedih sekali jika mengetahui kalau si brengsek yang dicintanya terluka. Kyuhyun memang bodoh. Ia  malah mengulurkan tangannya kearah Donghae. Donghae membalas uluran itu dan mencoba bangkit.

Kyuhyun tidak menatap Donghae, Ia hanya memasang wajah kecut, “Pergilah, temui Yoona di rumah sakit, kumohon untuk yang terakhir kali.”

Donghae tercenung. Ia yakin, Kyuhyun mencintai Yoona lebih dari  sekedar sahabat. Dan perasaan itu masih tertanam. Perasaan yang membuat Kyuhyun hilang kontrol.

“Pergilah…”

Donghae tidak berkata apa – apa menanggapi kekesalan Kyuhyun.  Donghae diam saja bukan tanpa sebab.  Kyuhyun hanya tidak tahu kalau  saat itu, Donghae melihat  bayangan berjubah putih seolah  datang kepadanya.

…………………….

Donghae merasakan tamparan yang menggesek pipinya. Tidak lama, Donghae bisa rasakan sesuatu  yang lembab   mengalir dari sudut bibirnya. Donghae meraba sudut bibirnya kemudian Ia menatap jemarinya yang terkena noda darah. Donghae menghapus cairan merah itu sekali lagi  sambil menatap kosong. Aneh. Donghae merasa aneh karena Ia tidak merasakan sakit sama sekali.

“Apa sebenarnya yang kau lakukan ? Kenapa Yoona bisa seperti ini ?! Kenapa Yoona bisa pingsan ?! Kenapa Yoona bisa memanggil – manggil namamu ?! Kenapa Yoona bisa memberontak seperti ini ? Kenapa dan kenapa…”

Nyonya Im terus berteriak didepan Donghae. Orang – orang  di koridor rumah sakit— kebanyakan memakai seragam acara pernikahan—- menatap Donghae kasihan. Mereka yang tidak tahu  apa – apa itu mencoba memisahkan Nyonya Im dari Donghae.

Sementara itu, Donghae masih sibuk menatap marmer putih yang memantulkan cahaya  dan baru mendongak ketika Tuan Im memanggil namanya, “Ahjussi, aku ingin melihat kondisi Yoona—”

“Dengar ! aku tidak bisa membiarkan gelandangan sepertimu melihat puteriku.”

Donghae terperangah. Demi Tuhan, Gelandangan ?

“Sebaiknya kau pergi sebelum aku memanggil orang – orangku kemari dan menyeretmu keluar.”  Tuan Im berkata dingin. Namja paruh baya itu menghela napas sebentar ketika melihat istrinya dibawa masuk oleh pihak keluarga maupun  tamu pernikahan kedalam ruangan, tempat Yoona dirawat.

“Kau lihat bukan ? Istriku sangat shock dengan kehadiranmu disini jadi, sebelum suasana bertambah gaduh, sebaiknya kau pergi.” Tambahnya lagi. Donghae membatu ditempat. Sesulit inikah ? Donghae hanya ingin melihat wajah Yoona, sekedar itu !

“Sebentar saja—“

“Tidak !” Tuan Im menolak tegas. Ia menggerakkan bola matanya kearah pintu keluar.

Tuan Im berbalik menuju pintu, hendak  memasuki ruang rawat anaknya. Seketika itu juga, Donghae berusaha menerobos sekuat tenaga. Tetapi tiba – tiba tiga namja berjas hitam  datang. Orang – orang suruhan Tuan Im menahan tubuh Donghae. Mereka mengamit lengan namja itu  dan berusaha menyeretnya keluar.

“YOONAAA !!!”

Donghae berteriak memanggil – manggil Yoona. Namja itu memberontak, sebisa mungkin berusaha  melepaskan diri dari   orang – orang berwajah sangar  dikanan dirinya. Donghae juga memohon – mohon pada  mereka untuk dilepas.  Tidak lama, Donghae meringis ketika punggungnya membentur benda keras.  Orang – orang itu menghimpit tubuh Donghae ketembok koridor. Salah satu dari mereka lalu mencengram wajah Donghae. Namja berkulit sawo itu menghembuskan napas kasar, seolah jengah melihat tingkah anak kecil didepannya.

“Ck, kau masih muda. Carilah yeoja lain yang setara denganmu.” Nasihatnya kemudian sebelum orang itu benar – benar menyeret tubuh Donghae dan melemparnya  keluar. Tubuh Donghae tersungkur kebadan jalan. Beberapa mobil  yang hendak melewati pintu rumah sakit itu  lalu menghentakkan klakson mereka kearah Donghae, menyudutkan satu pilihan kepadanya untuk bergegas menyingkir, sebelum orang – orang didalam sana berteriak memaki.

Donghae perlahan bangkit, kemudian berjalan tertatih menuju sisi jalan. Donghae menggiring langkahnya  kian jauh dari rumah sakit.   Ketika sudah didepan pagar gedung , Donghae menopong tubuh itu dengan sebelah tangannya terulurur ketembok pagar. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar.

“Yoong kenapa kau lakukan ini ?!” Donghae merintih dengan suaranya yang bergetar. Ia menununduk, memejamkan mata, “Aku tidak bisa memberikan apa pun padamu Yoong, miane.”

“Akhhh…” Tanpa sadar, Donghae meninju tembok didepapannya. Ia benar – benar tidak tahan atas kepayahannya sendiri.  Donghae berusaha agar genangan didalam matanya tidak tertumpah, Ia menghempaskan diri ketembok seraya mendongak menatap langit,  namun semua percuma. Namja itu sadar kalau seberapa kuat seseorang berusaha menahan, cairan yang  mengintai dari ujung pelupuk mata akan menerobos juga. Menerobos  lewat bulir – bulir kesesakan… lalu membutakannya.

…………..

“Dia tidak ada disini Nak, berhentilah meracau. Umma mohon.”  Nyonya Im berkali – kali meyakinkan anaknya. Yoona. Yeoja paruh baya itu memegang kedua pundak Yoona lalu menatap anaknya sekali lagi, “Mungkin hanya halusinasimu saja Yoona-ya, percayalah pada Umma.”

“Tidak Umma, aku… Aku benar – benar medengarnya tadi… Dia memanggilku, aku yakin.” Yoona bergeleng tidak percaya. Sepasang matanya yang sembab itu memerah.  Yoona menatap Ummanya, meminta kejujuran. Pasalnya tadi, Yoona masih bisa menangkap suara kegaduhan yang terdengar beberapa menit lalu meskipun  Ia dalam kondisi setengah sadar kala itu.

Nyonya Im bergeleng kembali. Yoona langsung menjerit, kerena merasa orang – orang membohonginya. Yoona yakin, Donghae datang kemari dan orang – orang itu mengusirnya, pasti.

“Tenang Yoona, tenang !”

“Hentikan Itu Yoona, kau bisa menyakiti dirimu sendiri !”

Mereka didalam sana mulai panik. Mereka mulai berteriak kepada Yoona setelah yeoja itu mencabut selang infus ditangannya.  Yoona meronta dan berteriak kepada orang – orang yang mencoba mendekatinya. Yoona yakin mereka akan memasung tangannya atau memanggil Dokter untuk menyuntikkan obat penenang. Sebelum  adegan dramatis itu terjadi, Yoona melompat dari ranjangnya kemudian menyambar pisau buah diatas meja.

Yoona mengacungkan pisau buah ditangannya sambil berjalan kearah pintu. Orang – orang mulai menatapnya ngeri, sebagian berteriak ketakutan. Yoona menyeringai, mereka payah.

“Mendekat selangkah atau kalian akan terluka.” Ancam Yoona benar – benar hendak melukai siapa saja yang mendekatinya. Bahkan ketika tuan Im, Appanya berusaha mendekat, Yoona mempertegas kembali ancamannya dengan lantang “Kalau kalian berani mendekat,  maka aku yang akan mati.” Sahutnya lagi. Tuan Im langsung memberhentian langkahnya. Namja paruh baya itu tahu kalau Yoona juga ketakutan. Putri semata wayangnya itu terlalu nekad mengibaskan ancaman. Tuan Im mendapati sepasang tangan Yoona bergetar hebat dan buliran peluh tampak mulai membanjiri wajah Yoona, pertanda kalau anaknya sangat ketakutan.

“Yoona jangan lakukan , Nak.” Pinta Tuan Im memohon.

“Kalau begitu minggir kalian semua !”

Yoona melangkah keluar dari kamar rawatnya. Ia berjalan mundur sembari  tangannya masih terulur mengacungkan pisau. Ketika sudah di koridor, Yoona langsung berlari sekencang mungkin.  Ia tahu orang – orang itu mengikutinya dari kejauhan. Yoona semakin mempercepat langkahnya.

“Hah, anak muda zaman sekarang, kenapa susah sekali diatur ?!”

Yoona melesat kebelokan tembok ketika pandangannya menangkap tiga orang berjas hitam sedang berjalan mendekat. Mata Yoona memicing. Jelas  Yoona ingat siapa orang – orang itu, orang – orang suruhan Appanya. Mereka yang sebulan ini terus berjaga agar Yoona tidak bertemu Donghae.

Ketika  situasinya aman,  Yoona langsung berlari menuju pintu  keluar rumah sakit. Ia bergegas menuju lift, masuk kedalamnya lalu  memencet tombol  panah  secepat mungkin.  Kemudian, saat pintu lift mulai menutup, Yoona melihat orang orang itu sedang berlari kearahnya.

Pintu lift benar – benar menutup dan mereka, orang – orang itu terperangah menatap kepergian Yoona.

………………

Lampu hijau ditepi jalan berganti merah, puluhan mobil dari utara mulai berhenti. Seketika itu, lampu hijau pejalan kaki mulai menyala.  Donghae menyusuri zebra cross  dengan pandangan kosong. Disekitarnya beberapa pejalan kaki melangkah dengan lebar dan cepat. Berkali – kali Donghae mendengar umpatan orang – orang itu kerena  langkah mereka  harus tersendat  akibat bertabrakan  dengan punggungnya.

“Oppa… Donghae Oppa.”

Donghae tidak mengerti apa yang dipikirkannya saat ini. Ia merasa kesadarannya mengawang ketika  menangkap seseorang meneriaki namanya. Donghae tertawa sebelum berpikir kalau Ia benar – benar gila. Suara yang meneriaki namanya itu seperti suara Yoona. Lau Setelah ini, Donghae yakin Ia akan mendengar suara burung berkicau seperti suara Yoona. Atau suara pedagang obat seperti suara Yoona.

“Oppa, Oppa, Donghae.”

Menit berlalu dengan lamban, Donghae sudah sampai diseberang jalan halte bus, dan suara misterius itu masih saja berdegung ditelinganya.

“Oppa…”

Donghae berhenti. Ia berpaling mengikuti arah suara yang memanggilnya dari belakang.  Lalu begaikan tersambar petir, tubuhnya tiba – tiba menegang, kedua kakinya mendadak tidak bisa digerakkan. Donghae mengerjapkan mata. Pandangannya  berpindah menyusuri palang lampu ditepi jalan . Lampu bergambar pejalan kaki berubah merah dan lampu hijau bergambar mobil mulai menyala kemudian, beratus kendaraan dari  arah sebaliknya  pun  menerobos perempatan jalan. Kendaraan – kendaraan itu melaju dengan kecepatan penuh. Donghae terperangah sementara itu sepasang  bola matanya kian menajam, memantulkan bayangan seorang yeoja. Yeoja diseberang sana yang sedang tersenyum.

Seraya memunguti serpihan tenaga yang  jatuh  , Donghae bergeleng lemah, “Tidak Yoong, jangan…” gumamnya menatap tidak percaya kearah yeoja diseberang sana. Entah apa yang terlintas dalam otaknya, ditengah hilir mudik kendaraan, Yeoja itu nekad membaur ke badan jalan. Tiga… Dua… satu…  Jemari Donghae terkepal erat, sepasang matanya mengatup.  “Kumohon jangan sekarang…  kumohon !”

Dan entah kekuatan apa yang mendorongnya, tiba-tiba saja tubuh Donghae bergerak sendiri.  Tanpa mampu Ia kendalikan, sepasang kakinya melesat dan berlari menghampiri yeoja itu.

…………….

Tanpa rencana sebelumnya, Yoona  berlari menyusuri berbagai tempat. Yoona tidak tahu tempat apa persisnya karena  Ia sekedar mengikuti arah angin.  Hembusan angin berbelok, maka Yoona akan berbelok. Arah angin berputar, maka Yoona ikut berputar. Begitu seterusnya  sampai orang – orang disekitar situ, mungkin mengira kalau Yoona adalah pasien rumah sakit jiwa yang tersesat di rumah sakit umum.

Yoona berlari kearah pagar rumah sakit. Ia memejamkan matanya, angin sepoi mulai berbisik. Hembusan itu lalu menuntunnya menuju jalan raya. Yoona menengok kanan kiri seperti orang kebingungan. Tiba – tiba Ia melihat sebuah halte bus diseberang sana. Halte itu mengingatkan Yoona bahwa dulu, dirinya dan Donghae sering berpergian menggunakan bus umum. Yoona tersenyum mengingat situasi dimana Donghae melindungi tubuhnya dari kesesakan penumpang bus  ketika penumpang dalam bus itu membludak. Yoona masih ingat wangi tubuh Donghae ketika menghimpitnya agar tidak tersenggol penumpang lain. Begitu menenangkan.

Beribu kenangan mulai mengitari kepalanya. Lalu tiba – tiba saja Yoona melihat sosok mirip— tidak— bahkan Yoona yakin kalau itu memang Donghae ! Yoona meneriaki nama Donghae berkali – kali. Donghae baru saja selesai menyebrang jalan ketika Yoona memanggilnya lagi. Donghae menoleh kebelakang dengan ekspresi heran. Lalu Yoona berteriak lagi, seketika itu juga Donghae sadar.

Tanpa aba – aba, Yoona melangkah  kebadan jalan. Seseorang diseberang sana seolah menghipnotisnya untuk tetap melangkah. Yoona tidak habis pikir, kenapa orang – orang disekitarnya berteriak – teriak juga mengapa… mengapa banyak sekali suara klakson yang menimpali tanpa henti… dan kenapa bisa…  Ini seperti nyata, Yoona melihat Donghae berlari menghampirinya.

Donghae terlihat panik…

Tapi dia semakin tampan…

Dan Yoona begitu merindukannya…

Brukkk..’

Bummpp ! Bunyi debaman keras menggetarkan seisi jalan.  Seketika, dunia tampak melayang dan sepoi angin menerbangkan bau amis yang kian menusuk. Samar – samar, Yoona memejamkan matanya beralih menikmati sisa – sisa  napanya sebanyak mungkin. Yoona harus bernapas karena Donghae disini. Dan sekaranglah saat – saat itu. Sebelum Tuhan benar – benar mencabut titipan-NYA.

“Sekali ini saja, mohon biarkan aku berada dalam pelukannya, Tuhan.”

………..

Donghae mati rasa ketika sesuatu yang keras menghantam tubuhnya  dan Yoona. Suara pecahan beling  beberapa kali memantul – mantul di aspal dengan nyaring. Rasanya sakit juga perih. Entah ini wajar atau tidak, meski besetan luka tertancap dimana – mana. Donghae merasa senang. Donghae bahagia melihat Yoona untuk terakhir kali. Meskipun dengan kondisi seperti ini, Donghae tetap bahagia.

Orang-orang berkerumun, melihat sepasang muda mudi terbaring diaspal. Mereka mulai berbisik, membicarakan totontan  langka didepan sana. Sebagian menatap ngeri sebagiannya lagi sibuk menelpon—ambulan atau semacamnya.  Yoona mendongak, menatap seseorang yang terkapar disisinya. Yoona memperhatikan detail wajah itu, semua sempurna. Dia sangat tampan.

Sehelai  rasa hangat  menyusup ketika Donghae beringsut dan sepasang lengan kokohnya melingkari tubuh Yoona.  Dalam sisa waktu ini, Donghae bertekad melindungi Yoona sampai akhir. Dan Yoona bisa merasakan upaya Donghae  untuk melindunginya meski Yoona bisa menangkap kalau jantung Donghae mulai berdetak lamban. Yoona tidak memikirkan apa – apa lagi  ketika Donghae membenamkan wajahnya kedalam dada bidang itu. Yoona menangis ditengah kesesakan napas yang kian menjadi.  Donghae, namja itu membiarkan Ia tahu bahwa detak jantung mereka berjalan seirama,  berdetak tidak karuan  saat mereka saling beratapan, setelah sekian lama.

“Yoong.” Panggil Donghae terbata.

“Huh?”

“Ja-Jadilah bidadariku disurga.”

Yoona mengangguk.

“Sa-ranghae Yo-ong.”

“N-nado, Op-pa.”

Pandangan Donghae dan Yoona mengabur, hal terakhir yang mereka ingat sebelum cairan merah pekat itu menerobos kelopak mata adalah senyuman tulus dari masing – masing bibir mereka.  Senyuman satu – satunya  yang maling manis, menakjubkan dan indah

Seketika itu, Donghae menyentuh jemari Yoona dan menggenggamnya. Semakin lama tautan itu semakin renggang hingga  mata mereka menutup. Wajah Yoona tergambar dalam benak Donghae begitu sebaliknya. Kemudian sekarang, Donghae dan Yoona bisa mengikhlaskan sosok bersayap putih muncul dari langit dan menarik sesuatu dari dalam tubuh mereka.

Terimakasih Tuhan…

Terimakasih karena sudah mengembalikan Yoona…

Terima kasih untuk kebahagiaan paling sempurna, lebih dari apa pun di dunia ini.

Tuhan, Terima kasih untuk  kesempatan  memiki Yoona, kesempatan satu – satunya lebih dari kekal.

…………The End……….

Huaa Mianhae akhirnya harus begini T___T

Tahu  kaaaaan akhirnya gimana ? Kalau kalian bingung berarti ff ini emang  rada ngawang (mianhae lagi ) ceritanya juga pasaran sihhh…

Tapi gpp, aku juga lg mentok. Dan karena otak ini rada buntu, akhirnya aku pake aja ide sejuta umat (?)  heee >< jd jangan heran kalau cerita ff ini pasaran, peace ^*

Sekali lg miane, Aku lagi bad mood dan yah…. Begitulah hehe😀

Oh ya, aku nulis ff ini sambil dengerin lagu pasto — jujur aku tak sanggup (Gomawo buat lagunya ^^)

Menurut kalian lagu ini sedih gak sih ?!  Aku kok malah nangis… hikzz T___T aneh.

Huaa, jd banyakan curhat deh >< Yesungdah kalau begitu aku pamit…

~ Bye bye ~

37 thoughts on “[Oneshoot] FF Yoonhae – Here You Come Again

  1. elyyoonaddictpyro85 berkata:

    Hwaaaa……..sedih bacanya thorrrr tapi tetap keren ff nya hebat banget perjuangan cinta mereka sampai akhir mereka tetap saling mencintai didunia mungkin mereka banyak yang menentang kebersamaan mereka tapi Tuhan mempersatukan mereka ditempat yang abadi bahkan disaat2 terakhir pun mereka masih tetap bersama…..terharu bangetttttt……ditunggu ff YoonHae lainnya thorrrrrr

  2. seo yeon hee berkata:

    huaaa…thor ini cerita sumpah sedih bgt aku juga nunggu ffmu udah sebulan ini #ampejamuran tapi ga apa walaupun genrenya sad ending tapi aku suka bgt thor ffmu daebak.
    oh ya lanjutin yg marry you,my best friend ya thor aku penasaran tingkat akut..
    ff yoonhaenya dipublish di story of yoonhae dong thor disana banyak readersnya #aku juga mangkal disana ???
    ok panjang bgt coment aku thor pokoknya buat authornya gue kasih indoMInG seleraKYu dah daebakkkkkk bgt bkin air mata keluar

  3. HaeNy Choi93 berkata:

    Huweeeeee T.T T.T..
    Kenapa kisah cinta YoonHae begitu memilukan…
    Banyak scene yg bikin q nyesek banget..
    Apalagi yg Appanya Yoona nyebut hae gelandangan n ngusir eh maksudnya nyeret Donghae keluar rumh sakit.. Huaaa.. Itu benar2 tega..

    Yg scene terakhir itu keren banget.. Walaupun YoonHae meninggal, tapi mereka mati bersama, kalau di dunia mereka tidak dapat bersatu, yah setidaknya mereka bisa bersatu di surga kn??

    Ffnya keren, sebulan dah nungguin publishn ff, akhirnya di suguhin ff in.. Ya walaupun genrenya angst, ga apa2 lah, yg penting YoonHae.. Wkwkw.
    Ditunggu ff YH lainnya ya..
    Fighting!

  4. Dhe Pyrotechnics berkata:

    Wah kita sama thor..
    Aku juga suka banget lagu ini..
    Menurut aku sihh sedihh,,
    Banget,,
    Biasa pengalaman pribadi😦
    #huh jadi curhat:/

    Ff nya keren thor,, sedih banget ceritanya,, tetep sedih meskipun akhirnya mereka bersama, tapi sepertinya akhirnya meninggal yahh??😦
    Not Happily ever after,,😦
    Tapi tetep suka dan bagus sekali ceritanya,,
    Semoga bisa update ff YH terbaru yg lainnya yahh thorr
    #fighthing ^-^

  5. DHHaru berkata:

    Baca ini sambil denger lagu GG Tears, bikin aku nangis😦 ini air mata udah keluar.. Huwaaa.. Ceritanya emang udah sering sih.. Tapi ga tau knpa ini bikin aku nangis😦 kerennn

  6. Yethi Anitha berkata:

    Kenapa akhirnya harus sedih gini sihh, kasian mereka berdua, berharapnya happy ending tp malah sad ending tp nggak papa lah..kerenn ceritanya, perjuangan cinta mereka besar banget..next ditunggy ff yoonhae yg lainnya yaa🙂

  7. im pizza berkata:

    endingnya bikin nangis.. keegoisan orangtua mngakibatkan 2 ank mnusia khilngan segalanya..mereka tidak bersama,tp mreka kekal sampai d surga..indah bnget ff nya..itulah knpa donghae ktemu sosok putih d sekitarny dan yoona juga waktu d jlan.. Tuhan sudah menakdirkan mereka bahagia d dunia sana

  8. LoveLy_pyRos berkata:

    knp ending’y bkin nysek…!? aq pkir dgn skit’y yoona org tua’y bkLn ngrestuin donghae tp t’nyta sma ja da akhr’y hRz sprt nie hikz hikz…!? dtnggu ff yoonhae Laen’y

  9. regina berkata:

    nyesekk dah baaca ni ff, tp plg nyesek wkt Donghae di blg ‘gelandangan’ kejam bgt ya appanya Yoona😦

    Tp meski di dunia fana YoonHae ga bs bersama tp mrk hidup bahagia di surga yg damai dan indah…
    Di tunggu ff YH lainnya thor, kamsa^^

  10. im pizza berkata:

    Tiap baca ini pasti nangis,, puluhab x baca terasa bnget feelnya,,, klu d jadikan film wah,, psti ratingnya tinggi hehe keren, kpan bkin ff baru nay?

  11. pikachul berkata:

    sedih banget ceritanya. Perjuangan cinta merka bikin miris T_T apalg donghae yg nyesel meleps yoona dan disatu sisi yoona kyk depresi gt. Nyesek hikzzz……

  12. RachelYH berkata:

    JUJUR..

    Ceritanya sangat MENYESSAKAN HATI..

    Udah,komenya segtu aja..

    Intinya.. cerita ini benar2 sangat MENYESSAKAN HATI..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s