FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 3 )

Image

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Part 3~

“Yak, Hae kenapa Yoona bisa sakit ?! Umma kan sudah bilang padamu, tidak usah dulu kalian pindah… aish, kau harusnya bisa menjaga Yoona dengan baik.” Cecar Nyonya Lee, ummanya.

Donghae menatap tangannya yang dari semalam mengganggam tangan yeoja itu lalu menjawab pelan, “Aku tidak tahu Umma, pagi – pagi dia baik – baik saja dan…” Donghae berpikir menepis pikirannya, “Dan.. malamnya dia demam.”

“Lalu sekarang dia  baik – baik saja kan? Kalau semakin parah bawa saja kerumah sakit pagi ini juga !”

“Dia sekarang sedang tidur Umma, mungkin saat bangun nanti akan lebih baik. Semalam dia mengingau, dia memanggil – manggil Appanya dan entah apa, aku tidak begitu jelas.”

“Ya sudah… ya sudah, beri tahu Umma kalau ada apa – apa dan Kau jangan kerja dulu hari ini.”

“Ne Umma.”

Donghae menghela napas usai menutup telepon dari Ummanya. Ia mengamati wajah Yoona yang memerah akibat mengigau sepanjang malam bahkan menangis sementara kedua matanya memejam. Melihat kondisi Yoona, membuat Donghae berpikir, kenapa Ia tidak  membunuh saja keparat itu semalam ?

“Appa… Appa.. dia appa…” racau Yoona, tubuhnya terbaring gelisah. Donghae memperdalam genggaman tangannya pada tangan Yoona sambil  berbisik cemas, “Yoona, kau baik – baik saja… Aku disini. Telanglah Yoong.”

“Ani…”

Genggaman tangan itu kian terasa dingin dan bergetar. Berbeda dengan suhu tubuhnya yang panas. Donghae mengompres Yoona berkali – kali seraya menyingkirkan peluh pada wajahnya. Namja itu meletakkan punggung tangannya kembali pada dahi Yoona. Suhu tubuhnya masih tinggi, tetapi sudah agak mendingan dibanding semalam.

Donghae mengusap kepala Yoona pelan – pelan, yeoja itu agak tenang sekarang, “Umma benar. Seharusnya aku lebih bisa menjagamu, Yoong. Miane.”

“Appa.” Ucap Yoona dengan suara serak. Donghae terperanjat. Mata Yoona mulai berkedip meski pandangannya sayup – sayup.

“Yoona, ini aku Donghae…” ungkapnya dengan raut harap – harap cemas.

“Oppa—“

Donghae mempererat genggaman tangan mereka seraya menunggu Yoona mengatakan sesuatu, “Nde?”

“Oppa, aku kenapa?”

“Semalam kau demam,”

“Kenapa aku bisa demam?” tanyanya kembali ragu – ragu seraya kembali memandang kosong.

Donghae menghela napas, “Kau demam setelah orang itu… Miane…”

“Andwaee… Tolong jangan bahas dia lagi Oppa !” Sungut Yoona yang tiba – tiba saja tersulut emosi. Donghae tersentak.

Yoona menatap tubuhnya yang terbaring, “Aku baik – baik saja sekarang.” Ucapnya lalu menatap Donghae tajam dari balik mata berair, “Aku ingin ke kampus,”

“Tapi kau masih sakit Yoona -ya.” Donghae menahan lengan Yoona.

“Aku sudah baikan.”

“Yoona—“

“Sudahlah.” Keukuhnya mencoba bangkit dari posisi baring.  Donghae mencoba membantu tapi yeoja itu buru – buru menepisnya. Yoona membuang napas keras ketika posisnya sejajar dengan Donghae yang kini duduk kaku ditempat.

“Untuk apa repot – repot mempedulikan kondisiku kalau nyatanya perasaanku saja kau abaikan, Oppa ?”

Donghae menegerutkan kening, “Yoon, Apa maksudmu ?”

“Kau sedang bertanya, apa maksudku?” Yoona terkekeh membuat Donghae semakin bingung, “Kau sudah membayar setengah dari hutang itu kan? Tidak perlu menyangkal lagi, orang itu yang memberitahuku. Dan uangnya, dari mana?” terang Yoona panjang lebar sebelum Donghae bertanya darimana informasi itu Ia dapatkan atau hal lain.

Namja itu terdiam memejamkan mata. Ia mengatur napas lalu mencoba menatap yeoja dihadapannya, “Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu, hanya saja aku menunggu waktu yang tepat. Aku ingin menjaga perasaanmu, Yoong.”

“Kenapa? Oppa takut? Karena itu uang keluargamu?!” Timpal Yoona balas menatap serius.

“Tidak seluruhnya Yoona-ya, sebagian  uang itu hasil tabunganku. Sedangkan sebagiannya  lagi hasil dari penjualan apartemen. Mianhae.”

“Lalu kenapa kau ceritakan masalah ini pada keluargamu ?”

“Karena kita tidak bisa hidup sendiri Yoona ! Keadaan sudah mendesak.” Donghae menjawab cepat sedangkan Yoona langsung bungkam. Yeoja itu perlahan memandang kosong deengan air mata yang jatuh berguguran.

“Aku bisa bekerja, meminjam uang, atau apa saja yang penting tidak merepotkan keluargamu lagi. Aku malu Oppa.” Isak Yoona dengan raut tertekan. Yeoja itu menyeka air matanya kasar, berusaha untuk meredam tangis tapi percuma.

“Kita sudah jadi keluarga Yoong. Keluargaku juga tidak keberatan dan lagi pula kau mau pinjam atau bekerja apa ? Itu hanya memperpanjang masalah sedangkan kudengar bunga hutang semakin bertambah.”

Yoona mendelik lemah, “Keluargamu memang tidak keberatan, tapi aku yang tidak enak Oppa ! apakah kau tidak memikirkan perasaanku dan Appa, huh?”

Donghae terdiam. Yoona langsung berdiri menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit pusing, “Lebih baik aku tidak melihat wajahmu. Aku ingin ke kampus.”

“Yoona—“

Yoona menutup pintu kamar Donghae  lalu berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Donghae tidak bisa berbuat apa – apa. Namja itu tahu bahwa kini, semakin Ia berbuat sesuatu, semakin Yoona membencinya. Donghae bingung, situasinya kini seolah membuatnya serba salah sedangkan Yoona, yeoja itu belum bisa mengerti.

………………

Sudah lewat lima menit. Begitulah kesimpulan Yoona ketika melirik jam tangannya. Sedari tadi ia hanya sibuk duduk , memandangi orang – orang yang berlalu lalang didekatnya. Yoona menelungkupkan kepalanya pada meja kafe. Sebenarnya kepala yeoja itu terasa sedikit pusing, Ia ingin segera pulang tapi malas. Dan secara tiba – tiba Yuri menelponnya agar mereka bisa bertemu di sebuah kafe dekat universitas. Hingga kini, anak itu belum datang juga dan Yoona sudah tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan Yuri kali ini. Seandainya Yuri mau melancarkan caci maki, silahkan.

“Belum memesan apa pun ?” tanya seseorang, sudah duduk dihadapannya. Yoona mengangkat kepalanya dari meja. Ternyata itu Yuri.

“Belum. Aku sedang tidak berselera Yul.”

Yuri mengerutkan kening memandangi temannya yang terlihat malas – malasan, “Kau sakit ?”

Yoona bergeleng, “Anio—“

“Dua jus tomat.” Potong Yuri memberitahukan pesanan mereka kepada pelayan yang datang. Yoona mendengus. Yuri tidak berubah sama sekali, Hobby memesan apa saja seenaknya. Tomat, apa rasanya buah itu?!

“Setelah kupikir – pikir, aku akan mencoba melupakan Donghae Oppa dan juga sikapmu dimasa lalu.” Yuri melipat kedua tangannya diatas meja seraya tersenyum kearah Yoona.

Kedua alis Yoona bertaut, “Benarkah ?”

“Nde, sekarang aku mengerti Yoona-ya, kau tidak perlu merasa bersalah karena kupikir kondisinya memang harus seperti ini.” Yuri berkata yakin sambil mengangguk.

Yoona terdiam, masih mencerna pengakuan Yuri barusan. Beberapa saat, Ia masih menatap temannya ragu.

Yuri membalas tatapan keraguan Yoona dengan gemas, “Aku bersungguh – sungguh Yoona-yaaa.” Keukeuhnya menghela napas, “Kudengar Shinjung datang dan orang itu berkuliah disini Eumm… kau sepertinya beruntung sudah menikah. Kau pikir bagaimana nasibmu kalau Donghae tidak bertindak cepat ?!”

Kedua mata Yoona membola. Tiba – tiba saja keringat dingin keluar dari pori – pori wajanya, “Ani.. k-Kuliah disini?”

“Nde. Aku tidak sanggup membayangkan.” Sambung Yuri beragan – angan, “Mereka akan datang kemari dan menikahkanmu secara paksa !”

Yuri menambahkan lagi sambil menatap Yoona prihatin, “Kau harus beterimakasih pada Donghae

Oppa.”

Yoona menopang dagu  seraya menatap malas, “Tolong jangan bahas orang itu sekarang, Yul.”

“Wae? Apa kalian sedang ada masalah?” tanggap Yuri dengan kening berkerut.

Seraya menunduk, Yoona membuang napas, “Donghae, dia sudah membayar setengah dari hutang.”

“Dan kau marah?

Yoona mengangguk, “Tentu saja yul, aku tidak ingin keluarganya tahu, tapi dia malah memberitahukannya pada mereka bahkan sampai menjual apartement.”

Yuri tertawa, “Wajar saja, dia itukan suamimuu. Donghae Oppa punya keluarga yang bisa membantunya dan kurasa kau harus mendukung tindakannya. Lagi pula tindakannya itu tidak membahayakanmu kan?”

“Yes, tidak membahayakan tapi itu membuatku malu Yul !” Sungut Yoona berapi – api, “Kalau saja bukan istrinya, Aku akan kabur detik ini juga !”ucapnya, “Dan lagi, diawal Donghae hanya bilang kalau Ia sebatas  ingin menyelamatkanku dari pernikahan paksa, dan kalau pun Ia ingin membantuku soal hutang, dia tidak boleh menyangkut pautkan keluarganya. Dia sudah berjanji, hanya aku dan dia yang tahu ini. Titik.”

Yuri tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Yoona menatap sebal.

“Demi Tuhan Yoon, Sudah jadi suamimu saja kau masih sekeras kepala ini, apa lagi kalau dia orang lain?  Eumm apa jadinya ya kalau dia itu orang lain?” Yuri menunjukkan wajah berpikir keras lalu menyipitkan mata, “Kutebak, Kau pasti akan menolak mentah – mentah pertolongan Donghae dan keluarganya kemudian nekad menyanggupi pernikahan bodohmu dengan anak mafia tengik itu. Iya kan?”

“Pantas saja Donghae langsung menikahimu saat itu juga, ya ampun.” Decaknya prihatin.

Perlahan Yoona mendelik, “Huh?”

“Kurasa dia takut kalau dirimu mengambil keputusan gegabah Yoona-ya.”

Yoona ingin membalas perkataan Yuri barusan tapi bibirnya tiba – tiba bergetar, ia gelagapan. Yeoja itu hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya  diantara helaian rambut yang ikut terjatuh. Suasana menjadi sangat canggung, antara dirinya dan Yuri belum berkata apa pun. Yoona masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tanpa sadar, setetes embun dari langit matanya menabur kepermukaan.  Sedangkan Yuri, yeoja itu menggit bibir bawahnya. Merasa bersalah sendiri dengan ucapannya tadi, mungkin sedikit menyinggung Yoona.

“M-mianhae… apa ucapanku tadi menyinggungmu ?” Yuri memajukan wajahnya takut – takut.

“Anio…” Yoona menyeka air matanya kasar  lalu mengangkat wajah, “Kau tidak salah Yul….” tanggapnya mengangguk kecil.  Tatapan Yoona langsung menerawang, kedua matanya bahkan memerah sekarang. Entah, Yuri jadi semakin bingung. Ia belum mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu. Sekarang lihatlah, Yoona mendadak bangkit dari tempat duduknya, tanpa berkata apa pun yeoja itu beranjak keluar kafe. Meninggalkan Yuri yang  terperangah sendiri.

…………….

Sore ini angin berhembus cukup kencang. Hembusan angin menyambar, menimbulkan bunyi gemericik dedaunan juga suara  seng atap rumah yang saling menyahuti tanpa henti. Anak – anak kecil mulai berhamburan dipinggir perempatan jalan perumahan, sesekali mereka menyenggol tubuh Yoona yang kelihatan sedikit limbung. Yoona sama sekali tidak berselera menatap sekitar dan terus melangkah. Ia melangkah tapi pikirannya tidak fokus pada kedua kakinya. Pikirannya melayang, melambung jauh menuju percakapannya dengan Yuri beberapa saat yang lalu.

Apakah benar yang Yuri katakan tentang dirinya? Pendapat Yuri yang berkata bahwa Ia keras kepala lalu itukah alasan utama Donghae menikah dengannya? Karena Im Yoona yang dianggap keras kepala hingga Donghae rela melakukan itu semua? Mungkin. Mungkin rencana gila yang dilakukan Donghae sekedar untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran mafia, ‘tidak lebih !’ Ya ampun, ini sangat lucu ! Yoona terkekeh garing memikirkan kenyataan ini. Harusnya Ia sadar akan hal tersebut sejak dulu.

Dan itu berarti selama ini anggapannya tentang Donghae salah.  Dan tentu saja  salah ! Ini sudah jelas bukan? Selama ini Yoona terlalu dalam menaruh curiga bahwa Donghae.. Bahwa namja itu tertarik padanya, atau memendam rasa suka bahkan lebih dari itu. Mengingat seseorang pernah berkata bahwa tidak ada hubungan persahabatan yang murni antara sepasang lawan jenis karena dibalik itu semua tersembunyi setitik perasaan khusus. Dahulu Ia tidak percaya, dan kini semakin tidak percaya.

Ternyata perkataan seseorang itu memang harus dibuang jauh – jauh. Donghae tidak punya perasaan apa – apa. Tidak, ya… Mungkin karena itu,  Yoona tidak harus hawatir lagi sekarang. Donghae melakukan apa yang dirinya harapkan. Menganggap bahwa  hubungan mereka sebatas sahabat.

Setelah Yoona terbebas dari hutang, Ia juga akan  terbebas dari Donghae. Sederhana bukan?

Yoona mengambil napas, menghirup udara sebanyak mungkin kemudian mulai melangkah yakin. Ia  berbelok dan akhirnya berhenti didepan sebuah rumah. Ditatapnya rumah itu sedikit ragu  kemudian beralih membuka pintu. Yoona baru saja akan  memasukkan kunci kebadan pintu tapi tertahan saat mengetahui ternyata pintu itu tidak dikunci.

“Anyyong…” sahut Yoona menoleh kanan kiri. Ia melangkah pelan – pelan kesetiap sudut. Keadaan rumah masih sama seperti pagi tadi ketika Ia berangkat ke kampus.  Yoona yakin Donghae ada di dalam,  tapi rumah ini tampak seperti kota mati. Hening.

“Opp—“

Yoona membuka pintu kamar Donghae dan terperangah melihat pemandangan  ‘menakjubkan’ didepan wajahnya. Kertas – kertas berterbangan, sebuah gitar juga benda – benda lain tergeletak sembarangan diatas lantai, pensil – pensil menggelinding, juga mangkuk ramen yang belum dihabiskan. Yoona menghela napas.

Tanpa banyak bicara Yoona membereskan benda – benda yang berserakan itu. Sesekali pandangannya mengarah kepada Donghae diatas kasur yang tengah tertidur pulas, sangat pulas hingga tampak seperti tidak tidur semalaman.  Yoona memperhatikan bahwa namja itu masih menggunakan baju yang sama layaknya tadi pagi—saat tiba – tiba Yoona sudah terbangun dikamar ini dengan kepala pusing.  Apa dia sedang libur?

Ketika pikirannya sedikit tidak tenang, Yoona menghampiri Donghae. Ia meletakkan punggung tangannya pada kening namja itu. Tidak terlalu panas tapi mengeluarkan banyak keringat.

Yoona menggerakkan tangannya untuk turun kewajah, keleher bahkan kedada bidang Donghae yang tenyata sudah bermandikan keringat. Yoona berpikir, namja itu pasti merasa tidak nyaman.

Begitu heran dengan apa yang merasukinya, Yoona berinisiatif membuka  kancing kemeja  Donghae satu persatu hingga jemarinya berhenti ditengah perjalanan. Yoona menatap Dongahe sekali lagi. Ia bergeleng. Hatinya seolah berkata.. Tidak ! Jangan…. Hentikan Im Yoona !… ini salah… bisikan – bisikan itu terdengar lagi tetapi percuma. Sesuatu terlanjur  mendorong yeoja itu untuk mendekatkan wajahnya, lebih dekat kewajah Donghae sampai jarak diantara mereka benar – benar lumpuh.

Sedikit tiupan diarahkan Yoona sebelum bibirnya  benar – benar menyentuh benda ranum didepan sana. Hidung mereka serasa bersentuhan hingga napas Donghae terhirup oleh Yoona, sedikit lagi.

Yoona memejamkan mata, yeoja itu mulai meneteskan peluh. Bayangan – bayangan aneh mendadak muncul lalu menghantam kepalanya. Bagaikan sebuah film yang berputar acak, Yoona bisa melihat dan mendengar dengan jelas… Suaranya… Dia… Teriakan…

“Akhhhhh.” Yoona beringsut cepat, menjauhkan diri dari Donghae seraya membekap telinganya rapat – rapat.

“Andwaee…”

Yoona buru – buru bangkit dari duduknya. Yeoja itu berbalik kearah pintu dan bergegas melangkah tetapi kaki kirinya terhalang oleh sesuatu yang berserakan. Sebuah jaket coklat. Ia meraih jaket itu  untuk diletakkan diatas meja sebelum suara kedebug pelan mencuri perhatiannya. Lagi – lagi niat Yoona terhalang akibat sebuah buku yang tiba – tiba jatuh dari kantong jaket tersebut.

“B-Buku ?” gumam Yoona setelah meraih buku itu dengan tangan gemetaran. Ia menoleh kanan kiri lalu memastikan bahwa Donghae belum sadar.  Seiiring dengan rasa penasaran yang membuncah, Yoona membaca judul cover pada buku itu. Alisnya meliuk.

Tidak ingin berlama – lama, Yoona berlari keluar kamar, menutup pintu kamar Donghae rapat – rapat. Sedangkan dibalik pintu, Yoona menghela napas seraya menepuk dadanya seolah baru saja terbebas dari suasana menyesakkan.

“Ini? Kenapa dia membaca buku seperti ini? Buku kumpulan puisi? Untuk menulis lirik lagukah?” terka Yoona, merasa mungkin Donghae memerlukan buku ini sehubungan dengan pekerjaan namja itu sebagai composer  dan penulis lagu.

Yoona membuka buku itu, dihalaman pertama terselip secariik kertas merah jambu. Mata Yoona lantas menyipit.

‘Buku ini untukmu Yoong, gomawo untuk sarapan special darimu. Semoga kau menyukainya… Kupikir kau akan suka karena yang kutahu, kau sangat menginginkan buku ini. Mianhae kalau pengetahuanku tentangmu salah.’

Jemari Yoona kembali menyapu halaman buku dengan tidak sabaran. Kedua bola matanya mulai membaca bait demi bait beberapa judul puisi dalam buku tersebut. Yoona memang menginginkan buku kumpulan puisi ini semenjak hari kelulusan. Yeoja itu ingin sekali membelinya tapi belum sempat. Dan yeah, hal – hal seperti inilah yang dibenci Yoona. Ketika Donghae mengetahui segala yang ia inginkan.

Sampai ditengah halaman, kedua alis Yoona bertaut. Ia meraih selembar kertas yang terselip  disana, satu lagi yang diyakininya dari Donghae. Kedua bola mata Yoona kembali bergerilya. Bibir yeoja itu bergerak – gerak menggumamkan apa yang Ia baca dan baru berhenti ketika tulisan dalam selembaran itu nampak berbayang dalam penglihatannya juga kertas putih yang sejak awal kering kini mulai basah, tercetak rintikan air, satu – persatu meluncur dari pelupuk matanya.

Lewat puisi ini; Tahukah…

( Karya sederhana, Lee Donghae untuk seseorang )

Ketika dirimu berhenti menatapku aku berdiri di sudut sana,  menatapmu

Topeng baja yang kukenakan ini sangat menyiksa. Maukah kamu melepaskannya untukku?

Rengkuhan tanganmu, senyuman dibibir, canda tawa kerap kamu umbar, semua lenyap. Aku bertanya lewat mataku. Aku maju untuk bersungguh – sungguh,  tapi kamu mundur. Cintaku melenyapkanmu.

Aku takut. Bodoh?

Secarik kertas kuselipkan, lalu aku menyadari cintaku satu,  terselip dihatimu… Biar kuambil dan kutempel didahiku, buka matamu dan lihatlah.

Cinta itu,  Kamu.

Melawan arus itu menyakitkan bukan ? membalik hati lebih sakit.

Aku salah ? Sadarkan aku. Mungkin aku perlu mendengar suaramu.

Angin tidak akan mampu menerbangkanmu, aku disini, berpijak  menjadi tiang penyanggah.

Sebelah tangan ada lima jemari. Dua tangan saling bertaut menjadi sepuluh. Mari menggenapkan untuk saling melengkapi !

Itulah kenapa aku selalu ragu  melepasmu.

Kamu pergi, aku rapuh, tumbang, hancur, jadi abu.

Sampai keajaiban datang, sampai air matamu bertabur, sampai kamu jengkel, sampai kamu muak, ingin menjerit di padang gersang,  dan saat itulah hatimu terbuka.  Kamu berjalan kearahku dari balik embun kaca, kamu menyelinap, diujung langkah kamu tahu aku bersungguh – sungguh.

Lalu, setelah rasa mulai terjawab.  Akankah tanya berkumandang?

Entah, aku  bukan Tuhan. Aku hanya insan lemah, berharap menjadi kuat dalam dekapannmu.

Ketika dunia goyah, aku percaya kau akan tetap disini, menghela napas bersamaku karena cinta adalah kamu, Tidak perlu  lagi bertanya, kenapa?

Tuhan ada bersama kita. Berbekal  izin, kuasa dan kepercayaan-NYA

Aku mencintaimu… Im Yoona.

Sebisa mungkin Yoona menahan tubuhnya yang nyaris terkulai. Yeoja itu menghentakkan punggungnya dibadan pintu seraya mendekap selembaran itu,  kertas dengan tulisan tangan seseorang seerat mungkin. Yoona mencoba meredam tangis. Tidak tahu harus berkata  apa. Tidak tahu harus percaya yang mana. Semua serba membingungkan.

Clekkk…

Pintu terbuka. Yoona terperanjat, melihat Donghae sudah berdiri dihadapannya menatap heran. Yoona langsung menyembunyikan buku itu dibalik punggunggnya. Tanpa berbicara sepatah kata pun pada Donghae,  Yoona langsung begegas menuju kamarnya. Ia berlari hingga dari kejauhan terdengar bunyi decitan pintu yang cukup keras.

Donghae masih terpaku mengamati tingkah Yoona sampai pandangannya menangkap sesuatu  yang terjatuh dilantai. Secarik kertas merah jambu.

…………………………….

Setelah tiba – tiba matanya mengerjap dan tubuhnya terangkat secara otomatis, Donghae menggerling,  mengamati keadaan kamarnya, sudah tertata dari bentuk awal. Tidak ada lagi benda – benda berhamburan, meski ada satu atau dua, setidaknya yang ini lebih baik. Donghae mengernyit kemudian menatap diri sediri, juga ada yang berbeda. Ia mendapati kancing bajunya terbuka setengah. Aneh tapi sudahlah. Kini perhatian namja itu lebih terfokus kepada bunyi gerasak – grusuk dibalik pintu. Semisal ada yang  berdiri dibalikknya, Donghae yakin kalau itu Yoona.

Ketika langkahnya sudah beberapa senti dari pintu, Donghae menagkap bahwa suara berisik itu juga bercampur dengan suara isakan seorang yeoja. Namja itu semakin hawatir.  Ia takut seandainya Yoona bersedih secara berkepanjangan akibat masalah hutang tadi pagi. Benarkah itu Yoona? Dari suaranya, mungkin benar.

Clekkk…

Donghae membuka pintu dan terbelakak lebar bersamaan dengan Yoona yang  terperanjat didepannya. Benar, wajah yeoja itu terlihat basah dan memerah. Yoona menangis, Donghae  bisa jamin apalagi melihat gelagat Yoona yang  aneh, ada yang ia sembunyikan dibalik punggung. Donghae memajukan wajahnya berupaya melihat apa yang berusaha disembunyikan Yoona darinya  tetapi Yeoja itu terlanjur pergi sebelum berkata apapun. Yoona berlari masuk, menutup pintu  kamarnya rapat – rapat.

Semuanya kian mentereng manakala Donghae memungut secarik kertas merah jambu yang tergeletak dilantai. Diaraihnya kertas itu dan Ia benar – benar mengerti sekarang. Yoona sudah membaca… membaca apa yang sebenarnya Donghae ingin perlihatkan malam tadi sebelum pembuat onar bernama Shinjung datang  memporak – porandakan suasana…

Donghae meremas secarik kertas ditangannya tanpa sadar. Pikirannya melayang, mungkin Yoona butuh sendiri. Ya, yeoja itu butuh waktu untuk mencerna ini semua, kenyataan yang tidak sesuai harapan.

Setelah mandi dan berganti baju, Donghae berjalan pelan menuju kekamar Yoona. Ia terlalu lama berkelut dengan pikirannya sampai- sampai tidak sadar kalau pijakannya sudah berhenti didepan sebuah pintu kamar. Donghae mengangkat sebelah tangannya, bersiap mengetuk pintu tetapi kepalan tangan itu hanya mengantung diudara. Donghae menarik napas lebih dulu sebelum suara ketukkan dari benda coklat didepannya menguar pelan.

“Yoona..” panggil Donghae, satu kali, dua kali, tiga kali bahkan berkali – kali, tetapi tidak ada bunyi  sahutan dari dalam sana.

Donghae menggenggam kenop dan mendorong pintu kedalam. Ternyata Yoona tidak menguncinya. Dongahe menoleh, menyapu pandangannya kesetiap sudut. Air mukanya berubah panik saat menemumukan Yoona tengah terselungkup disudut ruangan.

“Yoona, apa yang kau lakukan ?” tanya Donghae bergegas duduk, menyamakan posisnya dengan Yoona.

Yoona mendongak, wajahnya mengkirut menahan tangis.  Kedua matanya yang tergenang menatap sendu. Tidak lama Ia terkekeh miris, menemukan hawa kepanikan dalam wajah seseorang,  “Apa maksudnya ini Oppa?” ujurnya memperlihatkan selembar kertas putih yang agak lecak dipinggirnya.

Donghae menunduk, ternyata benar. Yoona sudah melihatnya sendiri, “Mianhae bukan maksudku menyembunyikan sesuatu lagi darimu.”

“Kau benar – benar tulus mencintaiku Oppa ? Bukan karena hutang ?”

“Eoh?” Donghae tersetak.  Ia sudah bisa memperkirakan ini. Yoona membaca pengakuan itu sendiri, tanpa ada penjelasan apa pun darinya. Donghae tidak ingin lagi ada kesalahpahaman. Mungkin… Tidak, Yoona pasti berpikir bahwa Donghae mendekatinya demi menyelamatkan Ia dari hutang.

“Aku bersungguh – sungguh Yoona, a-ku tidak pernah main – main apalagi menyangkut pernikahan ini. Ada atau tidak ada masalah, kenyataan yang terjadi haruslah tetap sama, layaknya sekarang. Aku akan berusaha memastikan itu.”

Donghae meraih kedua tangan Yoona dan menggamnya erat. Ia menatap Yoona jauh menelusuri manik mata yeoja itu lalu bilang, “Aku tahu kau membenci ini… Tapi kuharap kau bisa mengerti. Aku tidak bisa lagi membohongimu Yoong… Aku tidak bisa lagi bersikap seolah situasinya baik – baik saja. Terlalu sulit menunjukkan sikap biasa  untuk memperlakukan sesuatu yang berharga …”

“Aku— aku memang membenci ini. Tidak seharusnya…. Kau namja baik dan sudah seharusnya… Mian.”  Yoona tidak melanjutkan kalimatnya karena dua anak sungai dari  genangan dalam matanya tiba – tiba  menyeruak.  Ia tidak mampu lagi berbicara, suara Yoona tertahan diantara paru – paru dan  tenggorokannya. Begitu sesak.

Donghae yang kehilangan kata – kata melihat kondisi Yoona sekarang hanya mampu menatap sendu. Namja itu menggiring Yoona dalam dekapannya, menyapu lembut puncak kepala Yoona agar ia bisa tenang.  Membiarkan yeoja itu meredam tangis disana, didalam dada bidangnya.

Mendadak, Yoona terpaku oleh denyut nadinya yang tiba – tiba bergemuruh. Yeoja itu melirik sekitar. Ia mendengar bunyi derai napas juga debaran jantung seorang namja yang kini sedang merengkuhnya erat, tapi bukan itu… Bukan itu yang membuat Yoona menegang hingga butiran peluh berjatuhan, menerobos kulitnya.

Yoona membelakak waspada. Dua bola matanya bergerak mengawasi. Suara – suara asing dari sudut ruangan mulai menimpali dan Yoona bisa mendengar dengan jelas, bunyi teriakan  yang serasa mencekik … nyaring… membuat segalanya terkoyak…

“Akhkk !”  Yoona menjerit dan mendorong tubuh Donghae hingga namja itu terjungkal jauh kebelakang. Yeoja itu berteriak lagi seraya  merunduk dan membekap telinganya seperti orang frustasi.

Donghae meringis, merasakan sakit dipunggungnya. Ia menatap Yoona panik kemudian beringsut kemballi ketempat semula.

“Yoona, apa yang terjadi ? katakan padaku,” titah Donghae merengkuh wajah Yoona yang terus menatap kosong. Tidak hanya itu, Kulit putih pucatnya kini semakin basah digandrungi keringat. Bibir Yoona bergetar dengan kedua mata nyaris tanpa kedipan kala menatap  satu – persatu  sisi ruangan disekitar mereka.  Sesekali Yoona memekik ketakutan, membuat Donghae semakin bingung.

“Kau mencintaiku kan Oppa?!” desak Yoona menatap Donghae tajam tetapi matanya masih menggerling  kesana kemari.

“Kalau begitu, lakukan sesuatu Oppa…” pintanya kembali dengan napas terengah.

“Lakukan apa Yoong?” Donghae ikut panik. Ia memengangi wajah Yoona agar Yeoja itu bisa menatapnnya satu arah.

“Mereka datang lagi Oppa ! bantu aku menyingkirkan mereka. AKu…. Aku tidak ingin seperti ini !”

Donghae beralih menggenggam kedua pundak Yoona, mengguncang – guncang badan yang gemetaran itu lekas, “Mereka? Mereka siapa Yoona?”

“Oppa ! Oppa… AKu melihatnya, aku melihatnya…”

Beserta peluh yang menetes, Donghae mengikuti arah tatapan Yoona. Kedua bola matanya mencoba berputar, melihat isi dari setiap  sudut  disekeliling ruangan, tapi nihil.  Dia tidak menemukan apa pun.

Donghae kembali memegangi wajah Yoona, menahan tolehan kepalanya yang liar, “Yoong dengar, aku tidak tahu apa yang kau lihat… Tapi… Tapi kau bisa katakan sekarang. Apa yang harus kulakukan untuk menyingkirkan mereka?”

“Oppa… Aku… Kau…” Yoona berkata setelah terdiam lama. Ia melemparkan pandanganya kebawah sebelum akhirnya mendongak, menatap Donghae lamat.

“Bantu aku melawannya… Melawan ketakutankku….”

“Huh—–”

Tanpa perlu menyia- nyiakan waktu, Yoona melumat bibir Donghae.  Melumat tanpa ampun seolah dikejar oleh bom molotov yang akan menerjang dalam hitungan jari. Donghae  masih mematung, mencerna sikap Yoona yang tiba – tiba berubah menjadi panas. Namja itu tidak berniat menggubris tetapi Yoona terlalu menantangnya untuk segera membalas perlakuannya  lebih, saling menautkan lidah dan berbagi kehangatan.

Akibat desakan dalam dirinya, Donghae melakukan itu. Membalas ciuman agresif yang saling menimpali, nyaris tanpa jeda untuk sekedar mengambil napas. Donghae tidak mengerti, apa maksud Yoona melakukan ini, dan seolah tidak mau mengerti, Donghae yang kalut sudah kehilangan pikirannya. Semua… kulit yang halus, kesejukan dalam keringatnya… Donghae beralih mengecup leher Yoona yang terasa manis. Ia benar – benar kehilangan kendali hingga kecupan – kecupan bibir dalam setiap inci, meninggalkan jejak petualangannya.

Baik Donghae maupun Yoona tidak tahu, kapan persinya pakaian mereka sudah terlepas dan berhamburan dilantai. Satu hal yang mereka resapi  manakala suara napas memburu, menyebut nama satu sama lain perlahan – lahan. Setelah itu semua terjadi… Untuk pertama kalinya dibawah goresan selimut hangat, segalanya pun satu.

Kringg…….. Kringgg #sensor ><

……………….To Be Continued……………….

31 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 3 )

  1. Dhewi pus berkata:

    Aduh msh seru”y bca dah tbc aja. .mkin bngung sbnr’y apa yg trjadi ma yoona perasaan ada aja masalah. . N yoona terlalu egois kshan hae. .smga dngan ada’y kjadian ntu yoonhae makin dkt. .lanjut thor. .jngan lma” pnasaran dhan

  2. Tryarista wacchhyuniie wacchhyuniie berkata:

    lagi serius bca eh mlah tbc dech……!
    Sbnernya yoona knpa sich..? Xo’ktakutan gitu pi diakhir lcu dech tiba2 yoona cium hae …..g kbyang expresinya hae terkejVt , next jgn lma’ donk .and mga mereka tmbh dkat lgi.fighting

  3. HaeNy Choi93 berkata:

    Lagi asyik2 baca + mata melotot meresapi apa yg terjadi antara YoonHae eee malah TBC /somvlak.

    Sebenernya Yoona kenapa sih. Kok tiba2 gitu, dia trauma atw gimna..??

    Ya semoga aja setelah ada kejadian mereka ITU, mereka bisa lebih deketlagi,
    yoona harus bisa melihat kesungguhan Donghae cinta sama dia. Jangan egois, kasihan Haeppa entar.. Hehehe.

    Nextnya ditunggu Chingu..
    Fighting!!

  4. aulia berkata:

    Yah yah padahal lagi serius”nya baca eh TBC muncul dan membuyarkan semuanya hahaha
    Yoona trauma kah? Kalo trauma, trauma sama apa dong kok cara ngilanginnya kayak gitu #eh
    Semoga dengan begitu hubungan yoonhae lebih baik
    Next partnya ditunggu chingu🙂

  5. Vhya ElfishYoonaddict Pyrotechnic berkata:

    shinjung kuliah di tempat yoong kuliah? Wah gawat tuh.
    Yul udah maafin yoong.
    Yoong udah tau perasaan hae. Its great.

    Yoonhae akhirnya ‘bersatu’ juga. Kkk~
    dan…..
    Masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi sama yoong.

    Next ditunggu.
    Fighting.

  6. LoveLy_pyRos berkata:

    sbnr’y yoona knp sih ko diA sll merasa tkut gTu…? knp yoona yg hrz cium donghae dLuan..!? donghae’y ga peka sih…!? dtnggu part sLnjut’y

  7. Made Yunii utamii putrii berkata:

    Aaarrrrgggghhh •̃к☺к•̃ disensor,,
    yadong kumat “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ,,
    Penasaran apa Ÿ̲̣̣̣̥ªϞģ yoong eonni takutkan,,tapi moga dengan gini bisa hadir little lee donghae,,amien..
    Next partnya jangan lama2 ♧ȋ̊γ̲γɑ̤̈αa gomawo,,.

  8. pizza lee berkata:

    tepat 20 menit ane baca nih ff –“… yoon itu knpa sih? jd pnsran bnget sumph..dan apa itu?? Mereka mlakukannya!! nexttt!!

  9. regina berkata:

    msh bertanya2 apa sbnrnya yg terjadi ama Yoona di masa lalu, trauma masa lalu msh membekas kuat dlm diri Yoona apa dulu dia di ‘lecehkan’ seseorang ato dia melihat sesuatu yg menakutkan smp ga bs ngelupainnya, byk pertanyaan di benak yg blm terungkap…

    Dan akhirnya YoonHae ngelakuin ITU, dan smoga stlh sadar Yoona ga marah ama Donghae dan ga ada kecanggungan diantara mrk,,, Ok thor di tgg part selanjutnya, fighting ^^

  10. Echa_yoonhae berkata:

    Mian thor aku baru bisa coment sekarang gwenchana nde??? ini kapan FF nya dilanjut eoh,padahal udah lama bangett….
    penasaran sama trauma nya yoongie. -_-
    jaebal thor dilanjutt🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s