FF YoonHae – Princess Cliche 6 – End

Image

Title : Princess Cliche

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Comedy Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : Super Junior Siwon, Eunhyuk, SNSD Sooyoung

Poster : G.Lin @ http://theartlockers.wordpress.com/

Happy Reading ^^

Sementara para orang tua tengah sibuk berbincang ria di sudut ruangan, Sooyoung masih sibuk menguping sambil berdiri kaku disamping mereka. Sependengarannya barusan, Umma Yoona menyebut Nyonya Lee… Lee?

Benarkah kalau mereka orang tua Lee Donghae?! Andwaeee! 

……………

PART 6 – END

Seraya menundukkan wajah Donghae melangkahkan kakinya kedalam  ruang paling mencekam selama Ia bersekolah. Yoona berjalan dibelakang. Kakinya bergerak ragu melihat atmosfer ruangan yang nyatanya cukup hening dan dingin ketika Ia dan Donghae menampakkan diri. Yoona memijakkan tubuhnya disamping Donghae ketika namja itu memberhentikan langkah tepat didepan Park Sosaengnim.  

Keringat Yoona tampak mengucur tanpa henti, bibirnya bergetar dan wajahnya sedikit pucat.  Donghae menggengam tangan  Yoona sembunyi – sembunyi. Donghae lalu tersenyum sekilas kearahnya membuat yeoja itu agak terkejut.  Ia tahu Yoona sangat terpukul akibat perlakuan Eunhyuk dan Siwon padanya yang menyebabkan  semua  ini terjadi. Namja itu juga tidak mengerti kenapa dirinya juga ikut terlibat.

“Donghae Yoona ! Kenapa sejak tadi kalian menempel terus seperti surat dan perangko ?!” Park Sosaengnim lantas berdiri diantara Yoona dan Donghae kemudian mengamit lengan keduanya, “Maaf Tuan – tuan dan Nyonya – nyonya… Anak – anak seusia mereka memang kerap terlibat skandal cinta…, Mereka harus belajar bagaimana mendekati seseorang dengan benar dan ‘layak’, bukankah begitu? Siwon, Eunhyuk, Donghae, Yoona ?!”

“Nde Sosaengnim…”  jawab keempatnya meski dengan nada terpaksa.

“Bagus !”, Park Sosaengnim kemudian menatap Eunhyuk dan Siwon yang berdiri didepan sisi dinding, “Kalian berdua, Choi Siwon Lee Hyuk Jae tetap disitu. Jangan berpikir untuk kabur ! Awas !”

Soengnim itu lalu menatap Donghae dan Yoona begantian disamping kanan kirinya, “Dan Lee Donghae, Im Yoona, didepan kalian sudah ada orang tua kalian masing – masing. Apa yang ingin kalian katakan pada mereka  tentang berita itu ?  Ingin melakukan pembelaan?  Baik, lakukan saja…. Terserah…”

Yoona mendongakkan wajah menatap kedua orang tuanya dan Sooyoung juga orang tua Donghae masih terpaku melebarkan mata mereka. Yoona sedikit heran karena Ummmanya pasti akan berteriak histeris jika mengetahui kalau Ia berbuat ulah. Tapi kali ini berbeda. Ummanya malah mematung shock.

“Eh… Tunggu sebentar…” Nyonya Lee buru – buru menyela ketika Yoona akan membuka mulut. Yeoja paruh baya itu menatap suaminya kemudian orang – orang disekitar mereka, “Ke-kenapa.. maksudku kenapa harus melakukan pembelaan ? Aku bisa maklum bagaimana sikap anak muda, tidak apa – apa melakukan pembelaan Yoona, haha…” Nyonya Lee tertawa tapi terlihat dipaksakan. Tawanya baru reda ketika ia sadar bahwa orang – orang sedang bengong menatapnya.

“Bukankah begitu Im Soo Jung ?” tanya nyonya Lee akhirnya.

Orang yang diajukan pertanyaan malah tersentak kaget, “Ah… iya benar… namanya anak muda kan memang seperti itu, selalu ingin mencoba hal baru. Jadi kita maklumi saja tingkah anak – anak ini…” ujarnya  antusias.

“Tapi Umma, mianhamnida.” Sooyoung menginterupsi dengan nada rendah. Ia  menatap polos kearah nyonya Im, “Tadi bukannya Umma bilang mau mencincang cincang orang itu, maksudnya  Donghae kan Umma?”

Nyonya Im menatap gemas. Sooyoung tersentak kemudian menatap bersalah, “Mianhamnida aku hanya bicara tiba – tiba. Umma tidak marahkan ? Umma harus maklum, karena kurasa yeoja sekarang memang tidak punya sopan santun, iyakan Lee ahjumma?”  Sooyoung menatap nyonya Lee. Yeoja paruh baya itu lalu mengangguk buru – buru, “Iya…iya.”

Sementara Sooyoung tertawa – tawa dalam hati, nyonya Im nelangsa dalam batin, ‘Ya Tuhan Sooyoung ! Anak ini benar – benar…’

Yoona menyikut pinggang orang disampingnya—yang Ia kira adalah Donghae— tapi ternyata Yoona Lupa bahwa Park sosaengnim masih berdiri diantara dirinya dan namja itu. Park sosaengnim langsung melotot kearahnya.  Yoona lantas menunduk dan diam  – diam ternyata Donghae melirik kearahnya berkali – kali. Tidak lama mereka saling bertatap dengan kening berkerut.  Yeoja itu berbisik – bisik pada Donghae dengan menggerakkan mulut selebar mungkin ; Ada apa sih sebenarnya ? Donghae bergeleng  kemudian membalas, ‘Kau bilang apa pa—“

“Haishhhh… Kalian ini sama saja !  masih sempat – sempatnya bisik – bisik tetangga dalam situasi seperti ini ? Yeah, pasangan serasi !” tukas park Sosaengnim menghentikan interaksi Yoona dan Donghae. Ia  lalu berpindah posisi dengan berdiri diantara barisan siswa sisiwi dan orang tua mereka.

“Ehmmm, begini nyonya, meskipun kalian memaklumi, tetap saja mereka juga harus menjelaskan bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Bagaimana pun nama sekolah juga ikut dipertaruhkan karena kasus ini—”

“Sebenarnya aku yang salah.” Yoona berkata tiba – tiba membuat perhatian orang – orang teralih padanya, “Aku yang meminta Donghae untuk datang ke club.. Itu karena aku takut sekali waktu itu…Aku baru pertama kali ke club. Jika  bukan karena Eunhyuk yang bilang akan menghukumku kalau kemauannya tidak dituruti, aku akan menolak mentah – mentah untuk datang ketempat seperti itu… Dan ketika semuanya terlanjur, Donghae kebetulan mengirimiku pesan, dia menulis; apakah sudah tidur?’ aku ingin membalas kalau aku sedang sibuk tapi entah kenapa aku malah berinisiatif memintanya datang. Mungkin karena panik.. entahlah tapi semua yang terjadi memang salahku…”

“Miianhamnida tapi semua bukan salah Yoona.” Balas Donghae membantah cepat. Yoona langsung menatapnya kaget, “Aku yang salah ! sebenarnya saat itu aku bisa datang lebih awal setelah Yoona memintaku datang. Bodohnya aku tersesat ketika sadar kalau ternyata club itu berada dipinggiran. Andai saja aku bisa datang lebih cepat, mungkin tidak akan ada berita tentang mabuk – mabukan—-”

“Salahku…” sela Yoona.

“Tidak Yoona ini salahku…”

“Andwae-yooo Opp— sunbae.”

“Yoona—“

“Ini Salahku !”

“Stop.” Teriak nyonya Park. Sejenak Ia menarik napas,  “Kalian menjalin hubungan? Bersahabat dekat?” tanyanya pada Donghae.

“Tidak.”

“Lalu Kenapa kau mau – maunya mengabulkan permintaan Yoona, padahal kalian tidak akrab?”

“Aku hanya ingin menolongnya. Karena ditelepon dia terdengar panik.”

“Begitukah ? Atau jangan – jangan kau juga bersekongkol dengan Siwon dan Eunhyuk.”

Donghae membelakakkan mata, “Aniyo”

“Benarkah ? Siwon Eunhyuk, Donghae bukan bagian dari kalian?” ujar nyonya Park menatap introgasi kearah Siwon dan Enhyuk.

“Bukan Soasaengnim…”

“Baiklah, kuanggap kalian punya kontak batin.” Park sosaengnim mengarahkan tatapan tajamnya pada Yoona, “Dan selanjutnya Yoona Donghae, Kalian sadar pelanggaran apa yang kalian perbuat ? Siswa sekolah ke club malam. Meskipun aku sudah tahu kalau Eunhyuk menjebak Yoona tapi tetap saja ke club dengan alasan apa pun adalah bentuk pelanggaran.”

Hening. Donghae dan Yoona terdiam menunduk begitu juga dengan orang  tua mereka. Nyonya Im dan Nyonya Lee saling bertatap canggung sedangkan Sooyoung menatap Iba kearah Yoona.

 “Sementara aku berbicara empat mata dengan para orang tua, Kalian berdua ditambah Eunhyuk dan Siwon, bersihkan pekarangan sekolah sampai bersih – sebersih bersihnya. Sekarang cepat !” Perintah Nyonya Park diiringi oleh anggukan patuh dari keempat siswa yang bersangkutan. Mereka buru – buru keluar untuk menghindari resiko akut  sebelum jiwa serigala dalam diri Park sosaengnim bangkit.

“Mari Tuan Nyonya…”  Park Sosaengnim tersenyum kearah keluaga Im dan keluarga Lee. Ketika mereka akan masuk kesebuah ruangan, Nyonya Im yang berjalan paling belakang tiba – tiba  menyahut, “Tunggu sebentar, Donghae Umma…”

Nyonya Lee berbalik sambil menaikkan alis. Yeoja paruh baya itu masih tersenyum canggung, “Iya kenapa Yoona Umma?”

“Uhmmm itu… Bagaimana kalau nanti malam  kita adakan acara makan bersama dirumahku?” bujuk nyonya Im dengan nada harap.

“Oh, ide yang bagus ! lama sekali keluarga kita tidak melakukannya.” Balasnya setelah berpikir sebentar.

Tidak mereka sangka, Sooyoung tiba – tiba datang dan menyela percakapan, “Aku ikut yach Umma, Aku kan saudara Yoona juga, yeah meskipun kami dilahirkan dari keluarga berbeda.”

Sooyoung memasang aegyonya kearah nyonya Im, “Jeballll….”

Nyonya Im memutar bola matanya kemudian mengangguk. Sooyoung kegirangan sementara itu nyonya Lee terkekeh melihat tingkah ‘saudara Yoona’ itu.

Sooyoung berbalik dengan rasa bahagia mendalam.  Ia berniat menuju pintu tapi entah kenapa  malah melangkah kearah jendela. Ia lantas mengintip dari jendela yang menghubungkan penglihatannya dengan suasana pekarangan. Diawal, yeoja itu ingin melihat keadaan sahabatnya tapi yang terlihat kini adalah Siwon. Siwon sedang mencabuti rumput. Sooyoung tertawa sendiri. Lucu saja melihat namja sepopuler Siwon harus bersaing dengan tukang kebun sekolah ! Tapi yeah, kalau dilihat – lihat namja itu ganteng juga. Lumayan sih…

“Jangan Cuma jadi pengagum rahasia… Payah !” ujar seseorang dibelakangnya. Dia staff sekolah. Ahjussi berkaca mata  itu  sedang duduk santai sambil membaca Koran dibalik bangkunya.

Sooyoung mengerutkan kening. Pengagum rahasia? Ya Tuhan ! Dasar Ahjussi tua sok tahu!

Mengacaukan mood. Sial.

…………………….

Angin bertiup kencang. Sampah sampah pohon dan beberapa kemasan makanan berterbangan. Yoona memungut benda – benda itu sesekali sambil mencabut rumput dipekarangan yang sudah tiga hari ini tidak dibersihkan. Berkali – kali Yoona menatap kuku kukunya yang sudah mulai menghitam dipenuhi pasir.

“Sudahlah biar aku saja, nanti tanganmu jadi kasar.” Saran Donghae yang tiba – tiba sudah berjongkok disampingnya. Namja itu menyingkirkan tangan Yoona dari rerumputan.

Yoona tersenyum lebar, “Baiklah… “ ujarnya sambil membersihkan kukunya yang kotor.

Donghae mulai mengarahkan sekop ditangannya untuk mencongkkel akar rumput. Dalam hitungan menit rumput yang tercabut sudah menggunung. Yoona terkagum – kagum. Sedari  tadi Ia perhatikan Donghae memang begitu semangat memangkas rerumputan itu, berbeda dengan Siwon dan Eunhyuk diujung sana yang tampak malas – malasan dan lebih banyak mengomel dari pada berkerja.

Yoona menyeka keringat Donghae dengan sapu tangan biru bergambar ikan nemo.  Yeoja itu tersenyum ketika Donghae menatap keget. Sesungguhnya Yoona hanya ingin agar Ia juga bekerja, menyeka keringat jauh lebih ringan tapi entah Yoona sadar atau tidak namun ulahnya itu membuat Donghae gugup. Justru keringat namja itu malah semakin banyak.

Donghae lalu menatap Yoona kali ini tepat dimanik matanya. Senyum Yoona belum juga pudar. Donghae tertegun. Ia ingin  sekali berpaling tapi seolah magnet menguncinya untuk tidak bergerak. Bibirnya kelu dan hanya bisa terpaku bersitatap dengan sinar sumringah yang mengintai dibalik mata coklat yeoja itu. Akibat dua tangan Donghae membatu, sekop dalam genggaman tangannya lepas tanpa sadar.

“Sepertinya aku pernah melihat sapu tangan itu.” Ujar Donghae setelah Ia tersadar. Namja itu lantas melanjutkan pekerjaannya.

“Uh?” Balas seseorang heran. Seingat Yoona sapu tangan miliknya itu belum pernah Ia perlihatkan pada Donghae. Mungkin seseorang punya barang yang sama dengannya. Atau jangan – jangan Donghae juga memiliki sapu tangan seperti itu. Yoona pikir mereka punya banyak kesamaan.

“Benarkah? Dimana?” tanggap Yoona antusias.

“Ditoko.”

Yoona mendelik. Ia ingin berkata sesuatu namun bibirnya terlajur mengerucut.  Raut wajah yeoja itu tampak kecewa seolah harapannya meleset. Sesungguhnya Donghae tidak ada maksud untuk membuat Yoona berpikir jauh. Donghae berkata seperti itu agar kegugupannya berkurang, tapi belakangan Ia malah membenarkan pernyataannya sendiri. Donghae merasa kalau dirinya memang pernah melihat sapu tangan Yoona sebelum ini. Donghae lupa kapan persisnya, benda itu  mengingatkan Ia pada seseorang.

“Mian, aku hanya asal bicara, jangan terlalu dipikirkan.”  Donghae tersenyum menenangkan.

“Baiklah tidak apa…. Maksudku itu bukan masalah…”

Setelah perbincangan itu, tidak terdengar lagi  suara perbincangan berikutnya. Baik Yoona maupun Donghae memilih untuk sibuk dengan pekerjaan mereka. Yoona mulai memegangi karung sampah yang terbuka lebar sedangkan Donghae memasukkan sampah organik dan non organik itu kedalamnya.

Selesai mengikat karung yang terisi penuh, Donghae berdiri menegapkan badan diikuti dengan Yoona.

“Aku ingin melihat bagian sana.” Katanya sambil melihat menunjuk bilik pekarangan disudut kiri, “Oppa, kau bisa membuang karung – karung ini ketempatnya kan?”

Donghae mengangguk seraya menatap lurus yeoja didepannya.

Yoona berjalan kedepan melewati tubuh Donghae untuk menuju salah satu bilik pekarangan. Saat Yoona sudah jauh dibelakangnya, Donghae berbalik dan berteriak, “Yoona Tunggu…”

Yoona berbalik kearah sumber suara dan menatap heran ketika Donghae berlari ketempatnya.

“Aku ingin berkata sesuatu.” Ucap Donghae susah payah mengatur napas.

“Mwo?” pikir Yoona bingung, “Baiklah katakan saja.”

Donghae menunduk, “Mian, aku menciummu saat di lapangan basket…”

“Sudahlah lupakan saja sebelum aku balas menciummu.” Yoona terkekeh. Ia bersiap untuk berbalik tapi Donghae menahannya lagi, “Aku belum selesai bicara, deer Yoong?”

Yoona tertegun, “Deer Yoong ?”

“Mi-an…” Donghae tersentak sendiri kemudian mengoreksi, “Mi-an… aku teringat… maksudku kau mengingatkanku pada seseorang yang—“

“Kau suka? Seseorang special ?“ Cecar Yoona merasa tidak nyaman dengan Donghae yang seolah menyamakan Ia dengan seseorang.

“Tidak ! Bukan begitu. Aku hanya berkata kalau kau punya—-“

 “Kelakuan aneh ? kesempatan untuk menyusahkanmu ?”

“Yoona—“

“Yah, aku menderngarkan !”

Yoona menatap lamat – lamat dalam hening.  Satu detik… dua detik,… tiga detik… Donghae menghela napas, “Baiklah begini saja…”

Kali ini Donghae  benar – benar membiarkan keheningan kembali menerpa.  Donghae menatap dengan raut memohon. Meminta agar Yoona bisa tenang. Sesungguhnya Yoona benci ini. Bersitatap dengan Donghae sementara  suara napas mereka terdengar beradu juga tidak suka  dengan suasana hening yang memberikan peluang pada angin untuk bersinggah dalam pendengarannya juga Donghae.

“Sedikit saja, apakah kau ingat deng—“

“Yooonaaaa.”

Teriakan sacara tiba – tiba diarahkan kepada mereka. Donghae memberhentikan ucapannya sambil menatap kesal. Sooyoung, sahabat Yoona itu secara tak terduga datang dan mengacaukan segalanya. Kini, Ia tampak berlari ketempat dimana orang yang dicarinya berdiri.

“Aku merindukanmu Yoonaaaa…” Girang Sooyoung memeluk Yoona erat. Ia baru melepaskan pelukannya ketika sadar bahwa Yoona hampir saja kehilangan napas.

“Donghae sunbeae, bisakah kupinjam Yoona sebentar?” Tanya Sooyoung berniat basa basi. Belum sempat Donghae menjawab, Sooyoung sudah merangkul Yoona menjauh.

“Akan ada kejutan untukmu… Maksudku untuk kalian…” ujarnya ketika mereka sudah berada sekitar satu setengah kilo dari tempat Donghae berdiri.

“Aku dan—“ Yoona menatap bingung sambil menunjuk dirinya sendiri dan orang dibelakangnya ragu – ragu.

“Iya, kau dan Donghae.” Tegas Sooyoung.

“Apa?”

Sooyoung tersenyum jahil menatap Yoona, “Lihat saja nanti malam. Bye…” pungkasnya kemudian berdiri dihadapan Yoona. Sooyoung lalu merapikan seragam temannya itu sebelum akhirnya  berjalan mundur kebelakang, “Kau harus terlihat cantik Yoona-ya.”

Brakkkk

Sooyoung berbalik. Rupanya Ia  baru saja menabrak Siwon yang–mungkin—tengah berjalan menunduk dibelakangnya. Namja itu sedang membawa karung sampah. Akibatnya, karung sampah itu jatuh dan seperempat isinya tumpah. Sooyoung langsung berjongkok merasa bersalah. Siwon juga berjongkok secara bersamaan. Ia hendak menggapai karung itu  dan tangan Sooyoung juga hendak menggapainya. Tanpa diduga tangan mereka bersentuhan.  Siwon dan Sooyoung bersitatap dalam beberapa menit hingga Yoona berdehem, membuat keduanya salah tingkah.

“Biar aku saja.” Ucap Siwon tidak enak.

“A-apa?” Sooyoung tersentak, ‘Baiklah. Terserahmu.” Putusnya langsung berdiri sambil membetulkan poni. Ia lantas berbalik kearah Yoona, “Aku pergi, bye…”

“Bye…” Balas Yoona melambaikan tangan nya malas.

……………………

Setelah hukuman bersih – bersih itu selesai,  Yoona langsung pulang kerumah. Yeoja itu merasa kehilangan selera untuk  berbicara dengan Donghae. Lagi pula setelah Sooyoung pergi, namja itu tidak berencana melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda  bahkan Ia lebih banyak diam.

Berungkali Yoona mencoba untuk menepis rasa penasarannya terhadap sikap Donghae waktu itu. Meyakinkah bahwa namja itu pasti hanya ingin menyampaikan lelucon konyol. Dan hasilnya… Tidak ada. Yoona tetap saja terbayang – bayang wajah itu.

Yoona menatap langit langit kamarnya dengan pandangan kosong. Dunia serasa hambar. Kasur empuk yang Ia tiduri, lemari bermotif bunga sakura, warna – warna pastel yang mengemuli dinding kamarnya, semua itu lenyap  kemudian berganti  dengan warna abu – abu keruh. Benar – benar hambar.

“Yoona-ya kenapa malah tidur – tiduran?”

Tersentak, Yoona langsung bangkit dari posisi baring. Tampak Ummanya masuk setelah Ia menyembulkan kepalanya dari pintu yang sedikit terbuka.

Nyonya im duduk ditepi ranjang kemudian mengamati wajah anaknya, “Wajahmu tampak kusut.”

“Mungkin karena aku terlalu lelah memikirkan hukuman di sekolah.” Jawab Yoona sekenanya.

“Ayolah Yoona, Umma tahu kau sudah dijahili oleh sunbaemu. Pihak sekolah hanya memberikanmu peringatan karena kau mengunjungi club…”

“Iya Umma aku tahu…”

“Lalu kenapa harus sedih?” sela nyonya Im tampak gemas, Yeoja paruh baya itu kemudian menerka dengan nada  rendah, “Karena Donghae?”

Kening Yoona berkerut, “Apa?”

“Ayolah Yoona jangan berbohong lagi… Umma sudah bisa menyimpulkan saat di sekolah tadi.” Bujuk nyonya Im agar anaknya percaya.

“Menyimpulkan apa?”

“Kau menyukai Donghae, kan?”

Yoona memanyunkan bibir tidak suka, “Donghae ? Siapa dia ? Aku tidak kenal.”

Nyonya Im tertawa, “Benarkah kau tidak mengenalnya?”

“Anioo”

“Kalau nyatanya Donghae datang kerumah ini dan sudah menunggu dibawah, tidakkah kau berniat menemuinya ?” Goda nyonya Im menaik turunkan kedua alisnya.

Yoona mendelik kaget. Jantungnya seakan mencelos. Antara percaya dan Tidak percaya Yoona bersitatap dengan Ummanya dalam diam. Yoona memohon dalam batin ; ‘Umma ! jangan coba bohong padaku !’

“Katanya tidak kenal ? Lalu kenapa kaget begitu?”

Tanpa menjawab pertayaan nyonya Im, Yoona bergegas berdiri dan berlari menuju pintu kamarnya.  Ia melongok dari lantai atas untuk melihat keadaan ruang tamu di lantai bawah. Tidak ada orang disana. Begitu penasaran, Yoona akhirnya berlari menuruni anak tangga. Ia memeriksa ruang  tengah, dapur bahkan kamar mandi sampai yeoja itu mengecek lagi ke ruang tamu. Hasilnya tetap sama, tidak ada siapa pun.

‘Jadi, Umma sedang berbohong ?’

Napas Yoona memburu. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang akibat berlari kesana – kemari tanpa henti.  Dalam keheningan, pendengaran Yoona menajam. Telinganya mulai menangkap sesuatu yang bising. Perlahan Ia melangkah mencari sumber suara.  Semakin jelas bahwa suara – suara itu berasal dari pekarangan rumah.  Yoona  menggenggam kenop pintu rumahnya  kemudian membuka pintu itu hati – hati. Dan suara – suara itu makin terdengar jelas.

Kini bukan hanya suara, tetapi Yoona menemukan pemilik – pemilik suara yang sedari tadi mengganggu pendengarannya. Mereka sedang berkumpul dipekarangan  rumah untuk… Berpesta barberque?

“Yoona kenapa Cuma berdiri disana ?! Cepatlah kemari !” sahut Tuan Im sambil melambai – lambaikan tangannya.

Yoona tersenyum kecut. Ia menangkap Donghae berdiri disana. Ia sedang mengipas daging diatas arang. Donghae bahkan tidak meliriknya sedikit pun padahal, jelas namja itu tahu akan keberadaannya ditengah orang – orang ini. Sedikit kecewa karena nyatanya Donghae tidak sendiri. Siapa pun tahu, namja itu datang bersama tuan dan nyonya Lee–orang tuanya— untuk memenuhi jamuan makan malam keluarga Im yang bertempat  di pekarangan rumah keluarga Im. Appa Yoona sendiri juga Sooyoung kelihatan menyambut mereka dengan hangat.

Hebat, Yoona merasa kalau dirinya tidak penting lagi sekarang.

“Yoona-ya kau harus coba ! Ini enak sekali !” komentar Sooyoung pada sepiring bareque ditangannya. Ia lalu menyodorkan satu tusuk barbeque kemulut Yoona, “Aku tidak berselera Soo…”

“Ayolah, sekali saja kau cicipi.”

“Soo aku—“

“Ini buatan Donghae, kau harus cicipi.” Sooyoung mengedip jahil kearah Yoona. Yeoja itu lantas berbisik, “Dia sengaja membuatkan ini untukmu… Kau tidak lihat betapa seriusnya Ia memanggang daging sejak tadi !”

Yoona tertegun. Sedikit tidak percaya, tapi Yoona berharap ini sungguhan. Ia menatap Sooyoung sekali lagi. Sahabatnya itu mengangguk anggukan kepala hingga tampak begitu meyakinkan.

“Baiklah…” putus Yoona akhirnya.

Sooyoung tersenyum senang lalu menyodorkan piring ditangannya pada Yoona. Dengan ragu, Yoona menerima piring  barbeque itu. Sooyoung  bertepuk tangan kecil kemudian berbalik hendak melanjutkan aktivitasnya mencicipi barbeque – barbeque lain.

Yoona menatap sepiring barbeque ditangannya dan Donghae bergantian. Namja itu tampak bahagia berbincang hangat dengan Appanya, Tuan Im. Benarkah yang Sooyung katakan ? Benarkah kalau barbeque ini memang sengaja dibuat Donghae untuknya? Benarkah?

Ia harus memastikan ini sendiri.

……….

Donghae menyapu pandangannya kesegala arah. Namja itu sedang mencari keberadaan seseorang. Yoona, seingatnya yeoja itu berdiri didekat pot bersama Sooyoung tadi. Karena terlalu serius berbincang dengan Tuan Im, Donghae akhirnya kehillangan jejak Yoona. Apakah yeoja itu memilih masuk kedalam rumahnya?

Dan ternyata Ia salah. Donghae merasa kalau Ia bisa bernapas sekarang. Yoona masih ada. Yeoja itu perlahan muncul dari kegelapan sudut rumah yang tidak diterangi lampu. Yoona tampak tersenyum kearah nyonya dan Tuan Im juga Umma dan appanya, Tuan dan Nyonya Lee. Yeoja itu terlihat lebih baik sekarang dibanding tadi.

Donghae berjalan mendekat kearah Yoona. Tidak disangka—mungkin penglihatannya saja yang salah— Yoona juga  melakukan hal sama. Berjalan mendekat.

“Bisa kita bicara ?” ujar Donghae dan Yoona bersamaan ketika mereka berhadapan. Keduanya langsung terdiam. Donghae tidak menyangka kalau Yoona akan mengatakan hal serupa dan menyulap keadaan menjadi canggung.

Yoona menunduk, “Bicara saja dulu, Oppa.”

Donghae menggaruk tengkuk seraya  melihat keadaan disekeliling mereka.. kenapa ramai sekali? Para orang tua masih betah bercakap ria, sesekali mereka tertawa sedangkan Sooyoung tidak berhentinya mengeluarkan candaan.

“Disini?” Donghae meyakinkan Yoona–sekaligus dirinya sendiri—sekali lagi.

“Tentu !” Yoona berkata yakin dengan nada meninggi. Entah mengapa Semua mata langsung tertuju kearahnya. Mungkin ini wajar karena sejak tadi perhatian para orang tua  itu memang selalu tertuju kearah mereka. Sesekali para orang tua menancapkan Pandangan – pandangan yang tampak dipenuhi oleh rasa ingin tahu mendalam. Mereka rupanya sudah tidak sabar menunggu Yoona  maupun Donghae berkata sesuatu kepada satu sama lain.

Air muka Yoona berubah tidak nyaman. Ia langsung menarik lengan Donghae menjauh dari orang orang itu, “Maksudku tidak disini…. Ikut aku !”

…………………………

Rasa penasaran dalam diri Donghae tentang kemana Yoona akan membawanya pun terjawab sudah. Setelah berpacu menaiki anak tangga dengan langkah cepat, Yoona lantas memberhentikan langkah mereka di loteng rumahnya.

Yoona membuka jendela loteng rumahnya. Ia memejamkan mata kemudian menghirup angin malam sebanyak – banyaknya. Meski angin malam menimbulkan penyakit, sesekali boleh kan?

“Tempat yang  bagus…” Tanggap Donghae memfokuskan pandangannya kearah Lampu – lampu gedung kota Seoul. Yoona menatapnya dari samping. Donghae balas menatap dan dalam hitungan lima detik mereka  terkekeh meski tidak ada lelucon disana.

“Yoona…” Suara Donghae membuyarkan tawa Yoona. Yeoja itu kembali menatap serus ketika merasa Donghae seolah memintanya untuk melakukan itu.

“Ya?”

“Aku punya sesuatu yang harus kau lihat. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak di sekolah tapi… tapi sungguh aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Mungkin aku harus memikirkan cara yang tepat untuk memberitahumu dan akhirnya keputusanku adalah  memberitahumu sekarang…” Cerocos Donghae panjang lebar. Dilihatnya Yoona masih terpaku mencerna ucapan barusan. Sesungguhnya yeoja itu bukanlah orang yang pandai  memahami paragraph panjang, sepanjang ular dalam waktu singkat.

Donghae merogoh sesuatu dari saku celananya. Selembar sapu tangan pink bergambar rusa. Donghae membasuh wajah Yoona dengan sapu tangan itu, menyingkirkan keringat yang mengalir disana. Yoona tersentak.

“Aku ingin melakukan hal yang sama denganmu….”

Yoona tertegun mendengar ucapan Donghae barusan. Kata  kata itu dan sapu tangan rusa… memaksa ingatan Yoona berpacu ulang menuju masa lalu…

Flashback…

( Seorang yeoja kecil menangis melihat mobil open cup berlalu lalang didepan jalan rumahnya. Yeoja berusia tiga tahu itu  kian terisak ketika seorang namja kecil yang usianya terpaut dua tahun diatasnya datang dengan wajah tanpa dosa.

“Kenapa Oppa harus  pindah ke Jepang? Bukankah Oppa sudah berjanji akan menikahiku kalau kita sudah besar nanti ?” Sesalnya terisak dengan suara cadel bercampur sengau yang khas dalam pendengaran sang namja.

“Yoong, Ambillah sapu tangan ini sebagai benda pengantar sebelum kita berpisah.,,,” ujar namja itu meraih tangan yeoja dihadapannya lalu memberikan sapu tangan biru bergambar ikan nemo.

“Mianhae… Aku juga sedih harus berpisah denganmu tapi suatu saat nanti kita pasti akan bertemu kembali.”

“Tapi bagaimana kalau kita sudah tidak ingat wajah masing – masing ketika dewasa?” protes yeoja kecil dengan nada cemas.

Namja dihadapannya menggenggam pundak yeoja itu lalu berkata lembut, “Tenanglah,  kalau bukan takdir yang mempertemukan kita maka akulah yang akan menemukanmu, deer…” ucapnya berlagak dewasa.

Yeoja deer itu menyeka cairan yang keluar dari hidungnya kemudian ikut meraih tangan namja dihadapannya, “Ini ambillah juga…” ujarnya memberikan sapu tangan pink bergambar rusa.

“Bukankah ini sapu tangan kesayanganmu Yoong?”

“Tidak apa… Aku ingin melakukan hal yang sama dengamu, Nemo Oppa.”

Namja kecil  yang dipanggil nemo itu tersenyum lebar, “Gomawo Deer Yoong.” )

Flashback End

Donghae berdehem, menyadarkan Yoona dari lamunannya. Ia megibas – ibaskan tangannya didepan wajah Yoona ketika nyawa yeoja itu nampak belum sepenuhnya terkumpul.

 “Tadi bukannya kau ingin mengatakan sesuatu? Sekarang giliranmu, Deer Yoong.”

Yoona tersentak sebelum akhirnya menjawab,  “A-aku hanya… ingin berterima kasih.” Ujarnya gugup dengan senyum tertahan.

“Untuk?”

“Gomawo sudah membuatkan barbeque untukku.”

Donghae mengangkat alis sambil tersenyum, “Sooyoung memberitahumu ?”

Yoona mengangguk. Donghae ikut mengangguk.

Suasana hening kembali menyelimuti mereka. Yoona sibuk memandangi lantai kayu sedangkan Donghae memilih untuk mengamati tingkah keluarga mereka dibawah sana. Sesekali Donghae melirik Yoona juga sebaliknya. Sungguh, situasi seperti ini sangat amat tidak nyaman dan… begitu menyiksa. Baik Donghae maupun Yoona perlahan tersadar bahwa tindakan yang mereka lakukan sekarang tidak akan bisa menemui titik terang jika mereka terus- terusan seperti ini.

“Saranghae…” Ujar Donghae dan Yoona akhirnya yang lagi – lagi mereka ucapkan secara bersamaan.  Usai menyadari kekonyolan masing – masing, Donghae mulai melirik Yoona lalu pelan – pelan berubah menjadi tatapan  hingga mereka berdua bersitatap.

Entah pihak mana yang memulai lebih dulu, wajah mereka semakin dekat. Donghae semakin memajukan wajahnya begitu pula dengan Yoona. Tiba – tiba keduanya merasa aneh dan…  dengan kompak mereka memutus pikiran – pikiran  ‘jauh’ dalam kepala mereka dengan  tertawa aneh meski tidak ada  lelucon yang diperbincangkan.

Yoona memberhentikan tawanya duluan. Yeoja itu mendadak berjinjit lalu mengecup bibir namja dihadapannya kilat. Merasa belum puas, Yoona lantas berjinjit kembali untuk memperdalam kecupannya menjadi lumatan lembut.

“Ini hukuman karena sudah menciumku di lapangan basket.” Tegas Yoona memasang ekspresi kesal yang dibuat – buat. Donghae lalu mencubit pipi chubby Yoona yang  dibalas dengan sebuah jitakan dikepalanya.

“Awhh… tanganmu lembut sekali sungguh ! bahkan  masih terasa lembut saat kau menjitak kepalaku !” Gombal Donghae yang hampir saja mendapat tinju maut ala Im Yoona. Donghae tertawa konyol meratapi tingkahnya. Ia lalu memeluk Yoona dari belakang. Yoona menunjuk  orang tua mereka dibawah sana sambil menghubung – hubungkan pengalaman keluarganya dengan sebuah gedung. Gedung yang rupanya tengah berkerlap kerlip menghiasi malam dihadapan mereka. Dan malam itu diatas loteng, Yoona dan Donghae tidak henti – hentinya mencari topik pembicaraan. Sesekali topic – topik itu membuat mereka tertawa renyah.

“Aku berharap tidak akan ada hukuman setelah ini…” Yoona menghela napas seraya tersenyum penuh harap.

“Tidak akan ada lagi Yoong, percayalah.” Ujar Donghae balas tersenyum sumringah. Sejenak Ia terdiam ketika wajah – wajah seseorang terngiang dalam benaknya. Jika berbicara soal hukuman, Ia jadi  teringat dengan teman sekelasnya, Siwon dan Eunhyuk. Harus diakui, mereka memegang andil besar dalam rangka mendorong takdir untuk mempertemukan dirinya dan Yoona. Akibat ulah Eunhyuk dan Siwon, Donghae semakin punya banyak kesempatan mendekati Yoona. Meski begitu, Donghae  menolak jika dirinya dianggap bersenang-senang diatas penderitaan orang lain.

Karena apa? Karena banyak cara lain bagi takdir untuk membuka kesempatan  agar Lee Donghae  dipertemukan kembali dengan Im  Yoona. Karena Donghae sudah terlanjur menelan sebaris tekad. Cinta akan menemukan jalannya…

 ‘Kalau bukan takdir yang mempertemukan kita maka akulah yang akan menemukanmu, deer…’

…………………..

Bonus Flashback.

Yang terlupakan…

Sosaengnim berambut keriting itu menghentak – hentakkan tongkat pada punggung kedua siswa sambil menyerocos, “Membully hoobae, memfitnah orang, melakukan pembiusan, taruhan… Aishhh kalian bisa hitung sendiri sudah berapa kilo dosa kalian, terutama kau Eunhyuk !”

“Choi Siwon, Lee Hyuk Jae… Aku sudah berbicara kepada orang tua kalian ditelepon, mereka menolak datang kemari karena apa? Karena malu. Dan itu berarti kalian sudah mempermalukan orang tua kalian sendiri, bukankah begitu?” cerocosnya lagi. Kedua murid dihadapannya itu masih menunduk takut.

“Kalian menyadari kesalahan kalian?!”

“Nde sosaengnim.”

“Jawab sekali lagi !”  Sosaengnim itu berteriak kembali ketika nada suara dari siswa ‘andalannya’ itu belum menendang telinga.

“Ulangi !”

“NDE SOSAENGNIMMMM…” teriak Siwon dan Eunhyuk sekuat tenaga.

“Bagus !” Sang sosaengnim lalu berkacak pinggang, “Mengingat kedua orang tua kalian telah menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab atas anak mereka kepadaku maka berdasarkan keputusan bersama, hukuman yang akan kalian terima adalah…”

Hening. Wajah kedua siswa itu memucat.

“Hukuman kalian adalah membersihkan kamar mandi, lapangan basket, pekarangan sekolah, perpustakaan, juga seluruh ruang kelas dan ruang sosaengnim  serta menghapal kitab undang – undang Negara kita sampai kalian lulus dari sekolah ini!”

Para siswa itu kaget tingkat akut. Tapi belum cukup disitu,  sosaengnim mereka lalu menjerit kembali, “Dan Kalau perlu, kalian harus melakukan pekerjaan itu selama lama lama lama lama lama selama lama lama lama selama lama lamanyaaaaaaa……”

“MWO !!!!” Jerit Siwon dan Eunhyuk. Salah satu dari mereka—siswa bernama Eunhyuk—langsung kejang – kejang dan pingsan ditempat. Siswa satunya—bernama Siwon— langsung menggotong tubuh Eunhyuk ke UKS…

Sementara itu Park Sosaengnim langsung berpose didepan layar  kalian masing – masing. Yeoja cantik itu ingin memberikan wejangan sebelum FF ini ditutup.

“Ingat ! Seperti juga cinta, kejahatan pasti akan menemukan jalannya. Waspadalah waspadalah (?)”

Bye… Bye… Muachhh ( cium jauh ) kkkkk ><

……………… The End ………………

Huaaa udah End O___o #heboh sendiri

Mianhae sempet lama ngepostnya… padahal tinggal ngedit kata – katanya doang ><

Nunggu koneksi inet ga lola juga sihhhh😀

FF ini sebenarnya buat seseorang yang lagi sakit dan sedih hehehe #lirik C’pupuh ><

Tapi ngak papa kalo di post, semoga kalian suka ^___^

Sekali lagi, Mianhae kalo ada salah salah kata. Bye. Saranghae ^^

 

14 thoughts on “FF YoonHae – Princess Cliche 6 – End

  1. Annisa Icha berkata:

    Udah end ya…
    Agak gantung ceritanya,tapi tetep bagus kok,serius deh…
    Aku suka banget sama FFnya,karena sempat lama di post,aku sampai inbox eonni 2x,hehehe…
    Ditunggu FF yang lain… keep writing…
    Oh ya boleh request FF SooWon-MinSul-YoonHae?

  2. LoveLy_pyRos berkata:

    akhr’y happy end…!? ga nYngka yoona tMn kciL donghae…!? kzian amt eunhyuk n siwon…!? dtnggu ff yoonhae Laen’y

  3. HaeNy Choi93 berkata:

    Jiiaahhh..
    Yg scene terakhir itu bikin ngakak… Wkwkwk😀
    ada2 aja nih…

    Btw.. Ternyata YoonHae itu temen semasa kecil..
    Wiihh hebat anakumur 3 thun dah paham ad nikah2n..
    Hahahah..

    Scenex YoonHae tu. Gimana ya.. Kelihatan bgt malu2 kucingnya. Canggung dan aiihh susah ngejelasinnya.. Tp suka,, /aneh

    sebenernya q lebih suka genrex itu yg marriage life atw ga yg bkan School life gini..
    Tpi karna ceritax menarik n lucu jdx kebablasan deh..

    Eungg… Cinghu..
    Apakah aanda tidak berniat bikin sequel ff ini??
    *plaaak* /digamparauthornya /kabuuurr

  4. yoonhae shipper (Rhiana) berkata:

    Owgh yoonhae tmanan sjak kecil toh!!
    Aq suka kata2 donghae “kalau bukan takdir yg mempertemukan kita maka aku lah yang akan menemukanmu deer!!”
    Bwat ff yoonhae yg bnyk yah,ditunggu!!

  5. aulia berkata:

    Lama gak main ke sini eh udah end aja nih ff hehehe
    Kasian siwon sama eunhyuk makanya jangan taruhan hahaha
    Ternyata yoonhae teman masa kecil yang terpisah dan akhirnya bertemu lagi dan happy ending deh
    Ditunggu ff yoonhae lainnya chingu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s