FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 2 )

Image

Anniyonghaseo Readersdeul😉, Aku kembali dengan membawa lanjutan FF Yoonhae, Semoga Kalian Suka…lebih suka lagi kalo ninggalin jejak..haha #peacee ^_^

Happy Reading to All Pyros :))

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-17

Part 2~

Kepulan napas diudara terlihat bagaikan kabut ketika Yoona meletakkan koper yang Ia  angkut sedari tadi. Yeoja itu duduk lalu bersender pada dinding putih dibekangnya. Tiba – tiba pintu ruangan bergeser, menimbulkan suara gemuruh. Perhatian Yoona teralihkan. Ia menatap lelah kearah Donghae yang saat itu sedang tersenyum. Namja itu lalu memijakkan langkah disampingnya.

“Baru begitu saja kau sudah lelah… Payah.” Ujarnya mendudukkan tubuh disamping Yoona. Yeoja itu melotot sambil menggeretakkan gigi, “Aku sudah membersihkan rumah yang tidak pernah kau bersihkan, menata perabot yang berdebu dan membantumu mengangkat koper – koper ini, kau harusnya berterimakasih untuk itu.” Yoona tersungut kesal sambil menunjuk – nunjuk barang – barang disekitar mereka.

“Oh, jadi aku harus berterimakasih padamu, ya ?” Donghae tersenyum kembali membuat Yoona bergeleng, “Anio, mungkin lebih baik jika kau tutup mulut.” Balas Yoona sambil meringis, membalas senyuman Donghae.

Donghae berbisik sambil merangkul  pundak Yoona tiba – tiba, “Kau tahu? sebenarnya disini banyak tikus ! Rajin – rajinlah memelukku jika tidak ingin dinganggu.” Sarannya seraya tersenyum aneh. Yoona meronta namun namja itu malah semakin mengencangkan dekapannya. Akhirnya Yoona memilih untuk mencubit perut Donghae.  Namja itu mengaduh kesakitan.

“Awhh…”

Yoona berkacak pinggang sambil memasang tampang sebal, “Makanya jangan sering iseng padaku… Haisshhh…”

Seketika Yoona berdiri tanpa memperdulikan Donghae yang masih menikmati kesakitannya. Yoona sedang tidak ingin ambil pusing karena Ia yakin namja itu hanya menunjukkan tingkah berlebihan.  Yoona lebih memilih untuk beralih membuka sebuah koper coklat dan mengeluarkan isinya secara awut – awutan kemudian satu persatu Ia masukkan kedalam lemari.

Beberapa saat kemudian Donghae tertawa melihat tingkah Yoona yang seperti anak kecil itu. Ternyata masih belum berubah.

Mereka berada ditempat ini karena belakangan Yoona mendapat berita bahwa Ia mendapatkan beasiswa dari sekolahnya untuk melanjutkan kuliah di Dong Guk university. Yoona langsung menerima beasiswa itu dan  berencana untuk mencari tempat tinggal yang letaknya tidak jauh dari lokasi universitas.

Secara pintas, Ingatan Donghae langsung tertuju kepada rumah tingkat dikawasan perumahan. Kawasan yang lokasinya strategis dengan universtas itu. Donghae sudah membeli rumah itu sejak lama, hanya saja rumah itu lebih banyak Ia pergunakan untuk  bersinggah atau  menyendiri sambil mengomposer sebuah lagu mengingat pekerjaannya sebagai seorang composer dan song writer disalah satu record label. Namun rumah itu sudah jarang Donghae kunjungi mengingat penduduknya semakin padat.

Mendengar Donghae mengatakan hal itu, Yoona langsung  meminta agar mereka bisa  secepatnya pindah. Donghae pun mengabulkan permintaan Yoona. Meski keluarganya hendak menahan mereka pergi namun Donghae nampaknya mengerti apa yang  terbersit dalam pikiran Yoona. Yeoja itu tidak mau lagi menyusahkan keluarga Donghae setelah  lulus dari sekolah menengah. Ia berpikir, Cukup namja itu  saja yang Ia susahkan, keluarganya jangan.

“Bagaimana menurutmu rumah ini ?”

Yoona  melipat baju ditangannya tanpa menatap seseorang yang  menurutnya sedang mencoba sok akrab, “Yeah, menurutku ini sudah lumayan. Dari jumlah ruangannya, ruang tengah, dua kamar dan dapur, kurasa cukup sudah cukup untuk menampung dua orang.”

“Benarkah ? kalau ditambah satu orang lagi apakah masih muat ?”

“Satu orang lag—-“ Yoona tersentak sambil berpikir,  “Yakk apa maksudmu ?! “ sungutnya lalu menimpa wajah Donghae dengan baju ditangannya, “Aku baru masuk universitas… Jangan coba – coba menyentuhku atau kau akan mati.” Ancam Yoona sambil menyibakkan rambutnya. Seketika aroma shampoo rasa buah menyeruak dalam penciuman Donghae. Namja itu menatap heran Karena tidak biasanya Yoona berkeramas pagi hari.

………………………

“HUaaaaaa…” Yoona berlari menerobos gerbang universitas. Yeoja itu merentangkan tangan dan berhenti sambil memejamkan mata, membiarkan semilir angin menerpa wajahnya sejenak. Ia tidak mempedulikan tatapan heran orang – orang sekitar. Yang Ia pedulikan sekarang adalah impiannya untuk belajar dan duduk dibangku kuliah sudah terpampang didepan mata. Yoona mengambil jurusan bahasa dan sastra korea yang memang sejak dulu Ia idam – idamkan. Tanpa diduga semua itu benar – benar terwujud.

“Lihat, mulai besok, secara resmi aku sudah berkuliah disini…” ucap Yoona pada Donghae yang menyusul berdiri disampingnya dengan mata berbinar – binar.

“Nde aku tahu Yoong. Tapi kau tidak perlu senorak  itu.”  Donghae menunduk seraya melirik kanan kiri. Takut – takut kalau seseorang tiba – tiba bertanya tentang siapa Yoona sebenarnya.

Yoona mengerucutkan bibir menatap Donghae. Tidak lama Ia menepis perasaan itu karena sungguh sekarang moodnya sedang bagus dan Yoona sama sekali hilang selera untuk mengomentari ocehan Donghae.

“Dan kau pikir aku perduli?” Yoona tersenyum mengejek kemudian merangkul tangan Donghae untuk ikut bersamanya, menengok ruang kuliah yang akan  Ia tempati esok. Donghae berjalan pasrah dengan langkah berat. Padahal Donghae hanya ingin menunjukkan jalan ke Dong Guk university ketika mereka akan pergi membeli bahan makanan, tetapi Yoona yang dasarnya tidak sabaran justru menunda niat awal dan malah memaksa masuk ke gerbang universitas.

“Wah ruangannya lebih luas dari pada ruangan di sekolah…” Komentar Yoona sambil berdadah ria kepada mahasiswi  yang tengah membaca buku dan kemungkinan  terganggu oleh suara Yoona. Terlihat dari tatapan kesalnya.

Donghae mengganggam tangan Yoona  erat, berharap agar yeoja itu bisa tenang sedikit dan mengontrol ucapnnya.   Namja itu memohon kepada Tuhan agar mahasiswi tadi  cepat – cepat melupakan wajah mereka.

“Gomawo Oppa sudah menuntunku kemari, sehabis ini aku akan memasakanmu menu special dan besok kau tidak perlu lagi mengantarkanku kemari. Aku sudah hapal rutenya hehe.” Yoona berjalan  tanpa melihat jalanan didepannya. Ia malah sibuk senyum – senyum sendiri sambil menarik – narik lengan Donghae kegirangan.

Donghae menatapnya sekilas, “Memangnya kau mau memasak makanan se-spesial apa Yoona-ya? Aku sudah sering mencicipi masakanmu. Atau jangan – jangan kau ingin menemaniku makan sambil berperan menjadi badut.” Ucapnya terkekeh.

Yoona cemberut. Senyumnya luntur ketika Ia ingat  beberapa bulan lalu ketika  dirirnya pernah berdandan seperti badut sambil menari – nari didepan Donghae karena kalah bermain game. Kenangan menjengkelkan dan namja itu sangat puas sepertinya.

“Aku sedang tidak ingin membahas itu, Dong-hae-Op-pa.” Yoona tersenyum jahil seraya mencubit kedua pipi namja disampingnya gemas. Donghae mengaduh kesakitan dan lantas meraih kedua tangan Yoona dan berbalik menggenggamnya. Yoona berusaha melepas genggaman itu sambil tertawa – tawa. Kenapa Ia jadi merasa kalau ini lucu?

“Yoona…”

Tiba – tiba  suara seorang yeoja menyentak telinganya. Yoona menoleh kearah sumber suara dan mendapati sang pemilik suara sudah berdiri dihadapannya, menatap heran.

“Yu-Yuri…” gagap Yoona mematung. Yuri berdehem dan Yoona baru sadar kalau tangannya masih bergenggaman erat dengan tangan Donghae. Yoona langsung melepaskan genggaman itu dengan wajah gelagapan.  Yeoja itu menundukkan wajah ketika sahabatnya, tersenyum penuh teka- teki.

“Ka-u sudah pulang dari Jepang ?” Yoona kembali memasang wajah sumringah, menatap Yuri dengan mata berkilat kilat.

Yuri mengangguk, “Iya dan maaf aku tidak memberitahukanmu lebih dulu.” Ujarnya sambil menatap Yoona dan Donghae bergantian, “Kurasa kita perlu… Maksudku berbincang berdua…”

Yoona ikut mengangguk sambil tersenyum setelah kemudian menarik Donghae menjauh dari Yuri, “Aku ingin pergi dengan Yuri sebentar, kau pulang saja dulu atau tunggu aku di kantin atau dimana saja terserahmu.” Ucap Yoona setengah berbisik. Donghae menggut – manggut paham.

“Baiklah, aku pergi dulu, Bye…” Yoona melambaikan tangannya sambil tersenyum. Yeoja itu tidak pergi begitu saja, Ia mencubit kedua pipi Donghae sekilas kemudian lenyap sambil tertawa – tawa. Donghae pasrah dan hanya bisa memegang pipinya yang pasti sudah memerah akibat cubitan Yoona yang bertubi – tubi. Bukannya kesal, Donghae malah menatap Yoona dari kejauhan. Ia tersenyum, merasakan jejak tangan Yoona dipipinya.

………………………

Jemari Yoona sibuk bermain ketika suasana hening mulai menyelinap diantara dirinya dan Yuri. Yoona melirik Yuri sekilas sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk membuka perbincangan antara sahabat yang sudah seminggu ini berpisah karena salah satu dari mereka harus pergi ke Jepang dan sekarang tiba – tiba bertemu. Yoona tidak pernah merasa secanggung ini ketika bersama Yuri. Entah hal apa, tapi Yoona takut menguak informasi tentang dirinya sendiri belakangan ini.

“Kupikir kau tidak akan kembali ke Seoul dan memutuskan untuk kuliah di Jepang.” Ujar Yoona akhirnya secara spontan.

Yuri mengangkat bahu, “Awalnya kupikir begitu tapi kurasa aku lebih nyaman disini.”

“Kau mengambil jurusan sastra ?”

“Anio, aku mengambil jurusan fashion desain. Aku kemari ingin memberikan titipan berkas pada salah satu dosen sastra disini.”

Yoona mengangguk seraya ber’Oh’ ria.

“Oh ya, cincin apa yang kau pakai? Tumben. Aku baru sekali ini melihatmu pakai cincin.” Tanya Yuri memajukan wajah penasaran, melihat cincin perak yang dihiasi berlian kecil ditengahnya tersemat dijemari kiri, tepatnya dijari manis Yoona. Yuri berpikir cincin itu pasti penting karena setahunya Yoona bukanlah tipe orang yang nyaman jika ada benda asing mengganjal jemarinya.

Yuri berpikir lagi. Kali ini satu senyuman tersungging. Ia lalu menerka dengan tatapan kagum, “Kau baru saja mendapat pacar? Wah, manis sekali.”

Yoona tersentak. Kenapa dirinya bisa lupa melepas cincin itu?

“Emm… ini… Ah ini sebenarnya cincin dari seseorang yang—-“

“Maaf Yuri bukan maksudku merahasiakannya darimu hanya saja, aku juga tidak mengerti apakah aku pantas memberitahukanmu karena ini seperti tidak sungguh – sungguh awalnya kurasa tapi aku tidak tahu akhirnya bagaimana, aku juga bingung…”

“Yoona, apa maksudmu ?”

“Begini, apa menurutmu aku harus memenuhi keinginan Appa yang memintaku bersungguh – sungguh atau… Atau menunggu masalah terselesaikan dengan menjalankan rencana bodoh dengan seseorang yang mengaku –dan entah kenapa kau percaya padanya– bahwa dia bisa memecahkan masalahmu? Kemudian setelah masalah terselesaikan dia berjanji akan memberiku kesempatan untuk memilih apakah tetap melanjutkan rencana bodoh ini atau tidak….”

“Yoona kumohon jangan berbelit – belit aku tidak mengerti.”

“Kurasa ini cukup aneh ketika kau menganggap orang yang sama tetaplah sama bahkan setelah statusnya tidak sama lagi… Dan kau tahu ? akan ada masalah besar jika aku berhasil melihatnya dari sisi berbeda…”

“Masalah besar ? Dari sisi berbeda ? Yoona berhenti berbicara sesuatu yang tidak aku me—“

“Aku sudah menikah dengan Donghae…” ungkap Yoona dengan mata dipejamkan. Ia membuka mata seperti semula ketika lawan bicaranya tak kunjung bereaksi.

“It-itu benar Yul, Aku…  sudah menikah dua hari yang lalu. Pernikahan itu hanya dihadiri Appaku juga keluarga Donghae. Mian aku ingin sekali mengabarimu tapi—-“

“Cukup.” Tandas Yuri sambil memejamkan matanya. Ia lalu  menatap Yoona meminta penjelasan, “M-menikah ? Bagaimana mungkin Yoona? Bukankah Donghae hanya kau anggap sebagai sahabat atau kakak?”

Yoona menelan ludah, “Ne, i-itu memang benar, sampai sekarang pun masih tetap sama, hanya saja ada sedikit masalah yang membuatku—“

“Stoppp !” Yuri menarik napas ketika Ia  menganggap kalau  Yoona akan meracau kembali seperti tadi, “Biarkan aku mencerna ini…”

Cukup lama Yuri memproses kenyataan yang saat ini menimpa kepalanya. Mengenai pernikahan Yoona, Yuri sangat tidak bisa percaya ini. Dulu, Yoona sendiri yang bilang kalau dia ingin Yuri berkenalan dengan Donghae bahkan Yoona sering mengatur jadwal kencan sembarangan. Dan… dan sekarang dia mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan Donghae, menikah diusia muda?! Padahal Yuri tidak pernah menangkap adanya tanda – tanda bahwa Yoona menyukai namja itu—dalam arti lain.

“Kalau dari awal memang ada niat untuk membuat Donghae menikahimu, setidaknya kau tidak perlu berusaha mendekatkanku dengan orang yang kau anggap sa-ha-bat-mu itu, Yoona.”

“Yuri, biarkan aku menceritakan yang sebenarnya. Kau adalah satu – satunya sahabatku dan kuharap kau akan mengerti keadaanku sekarang.” Harap Yoona sangat sambil menunjukkan wajah lelah penuh keringat.

“Baiklah, tapi jangan lama – lama.” Jawab Yuri akhirnya dengan nada tidak peduli. Yoona menghembuskan napas pasrah sambil menatap bersalah.

Mianhae Yul, aku juga tidak menginginkan ini terjadi.’  Yoona meratap tersiksa kemudian mulai menceritakan apa yang menimpa dirinya hingga pernikahan itu bisa terlaksana.

………………………

Jalan didepan sana masih ramai dipenuhi oleh beberapa  mahasiswa yang berlalu lalang. Donghae menenggok kanan kiri mencari keberadaan Yoona. Yeoja itu mengiriminya pesan singkat tadi dan bilang bahwa Ia  ada disekitar sini.

Donghae berjalan kedepan beberapa langkah ketika penglihatannya ingin memastikan, apakah seseorang yang dicurigainya kini adalah  Yoona. Yeoja  yang berjalan didepannya dengan rambut tergerai sebahu dan pakaian sama persis. Dari cara berjalannya Donghae yakin kalau itu Yoona.

“Happp… Kena kau !” sergap Donghae menutup kedua mata Yoona dari belakang. Yoona memberhentikan langkah, Ia hanya diam ditempatnya dan tidak bereaksi. Belakangan Donghae merasa ada yang aneh, ketika biasanya Yoona menyikut perutnya atau berteriak geram minta dilepas ketika Ia melakukan hal seperti tadi.

Namja itu semakin mengerutkan kening ketika mendapati kedua telapak tangannya basah. Ia lantas menyingkirkan kedua tangan itu dari wajah Yoona. Donghae mengamati tangannya yang  mulai dirembeti benda cair.

“Yoona, kau menangis ?” Donghae langsung berdiri didepan Yoona sambil menatap Yeoja itu cemas. Yoona menundukkan wajah, tidak berniat mendongak karena ketika Ia membalas tatapan Donghae yang seperti itu, genang – genangan dalam matanya akan semakin terprovokasi untuk tumpah dalam sekali kedip.

Donghae tampak bingung dan Yoona langsung menyeka air matanya sebelum namja itu melakukannya duluan karena mau tidak mau, setelah itu terjadi Yoona pasti akan membenamkan dirinya dalam dekapan namja itu tanpa mampu Ia lepas. Dan jujur,  Yoona ingin sekali memeluk Donghae sekarang, tapi dirinya malu karena disini banyak orang.

“Yuri, sepertinya dia marah padaku Oppa.” Ungkap Yoona memilih berdiri ditempat sambil menunduk, sebagian wajahnya pun tertutup  akibat  rambut hitam yang tergerai dan terkibas angin.

Donghae menghela napas. Inilah yang selalu Ia pikirkan. Yoona selalu  berusaha mengenalkan dirinya bahkan sampai mengatur jadwal kencan agar Ia dan teman yeojanya bisa saling mengenal. Donghae terpaksa menerima karena anak itu selalu merengek dan mengancam tidak mau makan kalau Donghae belum mau melakukannya.

Dan sekarang Donghae tidak heran kalau Yuri marah, mungkin setelah mendengar kabar mereka. Namja itu tetap membiarkan Yoona menangis. Yoona memang terlalu sensitive jika menyangkut perasaan teman – temannya. Saking sensitive-nya Donghae merasa kalau perasaannya sering diterlantarkan.

“Kita Pulang saja, ya ?” Donghae mengacak rambut Yoona sebelum melesat kearah gerbang universitas. Yoona mendongak setelah Donghae sudah berjalan tiga meter didepannya. Ia menatap punggung namja itu lekat. Tidak biasanya Donghae bersikap seperti tadi saat Yoona besedih. Biasanya namja itu akan menceramahinya dengan sejuta petuah agar Ia tersenyum kembali tapi sikapnya barusan membuat Yoona risih. Yeoja itu bergeleng. Yang ada dalam pikiran Yoona saat ini adalah… Bahwa Donghae  terlalu, sulit diprediksi.

……………………………

Yoona membenamkan tubuhnya dibawah selimut. Ketika tiba dirumah yeoja itu tidak lantas mencuci kaki atau sekedar mencicipi sereal yang tergeletak dimeja.  Ia lebih memilih masuk kamar lalu merenungkan apa yang menimpanya kini.

Satu persatu butiran bening keluar dari matanya dan terus saja menetes membasahi bantal busa yang tertindih. Yoona mengerang frustasi ketika batinnya terasa tertusuk, kalimat Yuri beberapa waktu lalu seolah menghantam dadanya. Yeoja itu lantas mendudukkan tubuh ditepi kasur  lipat, menatap langit – langit kamar untuk menghalau genangan yang nyaris mengucur kembali.

Donghae, tiba – tiba saja teringat pada namja itu. Semenjak perjalanan pulang tadi mereka lebih memilih diam, tidak. Sebetulnya Yoona saja yang belum mau berbicara.

Yoona mengintip dari celah pintu kamar, mengikuti suara petikan senar menuntun jalannya menuju ruang tengah. Suara dengan nada yang sama diulang – terus menerus sesekali berkumandang lagu yang utuh. Sepertinya lagu itu belum sempurna dan masih dalam perbaikan sana sini.

Rupanya suara itu bukan berasal dari ruang tengah melainkan berasal dari balkon rumah. Yoona membuka pintu keluar menuju balkon. Arah pandangannya kemudian Ia tujukan pada seorang namja yang tengah duduk di kursi panjang, persis didepan tiang rumah. Yoona berpikir bahwa namja itu pasti sangat menghayati lagu yang dibawakannya sampai – sampai tidak menyadari seseorang yang berdiri kaku didekatnya.

Donghae memberhentikan permainannya kemudian mentap Yoona dengan alis meliuk, “Yoona…”

Yoona mengambil napas dari udara dingin disekitarnya. Yeoja itu lebih memlih mendongak kearah langit gelap dibanding bertatapan dengan namja dihadapannya kini. Sejak teringat Yuri, Yoona jadi merasa semakin aneh didekat Donghae.

“Duduklah…” ujar Donghae seraya menepuk – nepuk kursi panjang disampingnya.

“Aku tahu sangat canggung bagimu Yoong.” Donghae berkata lagi setelah Yoona mendaratkan tubuh disampingnya. Yoona menyisahkan jarak beberapa jengkal, membuat namja itu tersenyum menerawang, “Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa merusak hubungan kita atau membuatmu merasa tidak nyaman. Baik aku dan kau juga pasti tahu bahwa keadaanlah yang mendesak kita melakukan ini—“

“Oppa—“

“AKu juga tidak akan mengekangmu lebih lama. Setelah masalah  keluargamu selesai, aku juga tidak akan memaksamu meneruskan hal gila ini.” Donghae menatap senar gitarnya yang sudah dialiri kebekuan.

“Tapi kalau boleh aku memaksa, aku ingin kau tetap disini Yoona-ya… tinggal disampingku.”

“Anio…” Gumam Yoona sambil bergelang, “Aku… Aku tidak sebaik yang kau kira. Kau tidak tahu–”

Yoona menatap Donghae pelan – pelan. Namja itu mengerutkan kening meminta agar Yoona melanjutkan kata – katanya lagi.

“Oppa, bolehkah aku…  bersandar dipundakmu?” Yoona berkata  tiba – tiba dengan nada memohon. Donghae tersentak karena perubahan sikap itu. Tidak ingin membuat Yoona menunggu lebih lama, Donghae langsung mengangguk,  “Baiklah.” Setujunya seraya tersenyum, meski sepercik rasa penasaran masih terselip dibaliknya.

Yoona beringsut mendekati Donghae. Beberapa saat kepala Yoona sudah bersandar sampurna pada pundak Donghae. Yoona tersenyum menatap lampu – lampu gedung perkantoran setelah akhirnya memejamkan mata. Suhu beku malam yang menusuk kulit sudah tidak terasa lagi sekarang.

“Aku ingin memainkan sebuah lagu.  Terinspirasi dari seseorang.  Aku berharap bahwa dialah pendengar pertama satu – satunya,  Dan harapan itu  terkabul. Detik ini.” Ujar Donghae sembari memutar senar gitarnya.

“Jeongmal? Yeoja itu beruntung sekali… Ayo mainkan Oppa ! Aku akan mendengarkan.” Tanggap  Yoona masih dengan mata terpejam.

Donghae tersenyum sesaat merasa bahwa Yoona hanya berpura – pura tidak mengerti, jika yeoja beruntung itu ialah dirinya. Donghae terdiam sejenak, berkosentrasi beberapa detik setelah itu  dan senar gitar dalam genggamannya pun mulai bergesekan.

Han namjaga geudaereul saranghamnida— Seorang pria yang mencintaimu
Geu namjaneun yeolsimhi saranghamnida— Pria itu yang mencintaimu sepenuh hati
Maeil geurimjacheoreom geudaereul ttaradanimyeo— Dia mengikutimu seperti bayangan setiap hari
Geu namjaneun useumyeo ulgoisseoyo— Pria itu tertawa dan menangis

Eolmana eolmana deo neoreul— Seberapa banyak, berapa banyak lagi
Ireoke baraman bomyeo honja– Yang harus aku lakukan untuk menatapmu seorang
I baramgateun sarang i geojigateun sarang– Cinta ini datang seperti angin, mengemis cinta ini
Gyesokhaeya niga nareul sarang hagenni— akankah kau mencintaiku?

Donghae berhenti sejenak untuk menarik napas lalu melanjutkan,

Jogeumman gakka i wa jogeumman— Datanglah sedikit lebih dekat, sedikit lagi
Hanbal dagagamyeon du bal domangganeun— Jika aku ambil satu langkah lebih dekat denganmu, lalu kau ambil dua langkah mundur
Neol saranghaneun nan jigeumdo yeope isseo— Aku yang mencintaimu ada di sampingmu sekarang
Geu namjan umnida Pria itu menangis

Geu namjaga naraneun geol anayo— Apakah kau tahu bahwa pria itu adalah aku?
Almyeonseodo ireoneun geon anijyo— Kau tak berpura-pura bahwa kau tak tahu, kan?
Moreulkkeoya geudaen babonikkaKau sungguh tak tahu karena kau bodoh

( Trans : [FuRaha] @furahasekai.wordpress. Ini adalah lagu Hyun Bin — That Man ost secret Garden hehe ^^ )

Sembari menghela napas, namja itu  berpaling kearah yeoja yang masih bersandar dibahunya.

“Saranghae Yoong…” Donghae memberhentikan permainannya ketika Ia sudah bisa memastikan  bahwa jiwa Yoona sudah melayang kealam mimpi. Ia berkata lirih sambil menatap dirinya sendiri yang begitu payah. Bagaimana mungkin ungkapan nada hatinya itu baru bisa tersurat sempurna ketika yeoja itu sudah tidak bisa lagi mendengarnya?

Egois, Donghae merasa terlalu egois andai kata perasaannya terungkap dan membuat Yoona merasa tidak nyaman, mengingat lama – kelamaan yeoja itu pasti menjauhinya. Ia belum sanggup kehilangan Yoona. Meski tidak ada yang bisa menjamin bahwa yeoja itu akan terus disini, tapi setidaknya kini, yeoja itu masih disini… berada disampingnya. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Cuaca malam ini semakin menusuk, Donghae menggotong tubuh Yoona setelah meletakkan gitar coklatnya diatas lantai. Sesampainya didalam kamar, Ia meletakkan tubuh yeoja itu lalu mengemulinya dengan selimut. Yoona menggeliat membuat Donghae hampir beranjak dari posisinya.

Ditatapnya kembali Yoona. Sebelum Ia benar – benar pergi. Donghae mengelus rambut Yoona seraya memperhatikan secara detail wajah yeoja itu. Donghae cukup sering melakukan ini sambil berusaha membuang jauh – jauh perasaannya, mengikuti alur keinginan Yoona, bersikap seperti apa yang yeoja itu pikirkan, terus – menerus hingga dirinya tampak bodoh dan aneh… Segala upaya sudah pernah dia lakukan tapi hal tersebut sama sekali tidak ampuh. Justru sebaliknya, perasaan itu semakin kuat.

“Tidurlah yang nyenyak, Yoona-ya… Aku berjanji akan selesiakan masalah itu untukmu, secepatnya.”

Setelah berkata , Donghae langsung beranjak dari kamar menuju  balkon untuk mengambil gitarnya yang tertinggal. Disana Donghae meresapi malam yang bertambah gelap  kemudian beranjak lagi menuju ruang tengah.

Donghae harus menyelesaikan pekerjaannya yang menupuk, menyusun soundtrack sebuah proyek drama.  Namja itu cukup bisa diandalkan jika menyangkut lagu – lagu yang sedih menyayat hati, ataupun lagu – lagu romantis yang menciptaan suasana haru biru. Dan kali ini Donghae harus menyelesaikan kurang lebih lima puluh lagu untuk dipilih oleh produser drama.  Sesungguhnya lagu – lagu sebanyak itu terinspirasi dari satu orang. Satu – satunya orang…  di dunia ini dan sangat langka.

Sinar matahari menyelusup dari celah jendela dan Donghae sudah bisa menyimpulkan bahwa Ia ketiduran. Dipandangnya sekitar, sudah rapih. Tidak ada lagi barang – barang yang berhamburan seperti semalam sejak terakhir kali Ia melihat kondisi ruang tengah.

Donghae cukup tersentak. Alat tulis yang bergeletakan diatas meja lantai kini berubah menjadi sepiring nasi goreng berbentuk hati juga sepotong telur mata sapi dengan bentuk serupa.

Penglihatan namja itu lantas menjangkau secarik kertas yang ditaruh dibawah gelas berisi air. Bukan hanya itu, dua carik kertas yang lain juga terselip dibawah piring. Donghae meraih kertas – kertas itu dan menemukan tulisan tangan Yoona disana.

( “Kemarin aku berjanji untuk memasakkanmu makanan special, tapi berhubung kita belum membeli bahan makanan, aku hanya bisa memasak ini. Semoga kau suka.”)

(“Seperti Yuri, apa kau juga marah padaku, Oppa ? Aku merasa sikapmu sedikit dingin tadi malam. Tolong jangan buat aku takut dan hawatir padamu. Bersikaplah seperti biasa. Sungguh, Aku tidak keberatan kalau kau iseng padaku !”)

(“Pagi – pagi sekali ketika aku akan bersiap ke kampus, aku menemukanmu tergeletak di ruang tengah dengan kertas – kertas lagu yang berserakan. Aku memungutnya satu – satu dan sudah menaruhnya didalam map. Jaga kesehatanmu. Im Yoona.” )

Senyum sumringah menghiasi bibirnya. Tanpa berkata – kata lagi, Donghae langsung menyambar sepiring nasi goreng diatas meja dan memakannya cepat seperti orang yang belum makan tiga hari.  Setelah menyelesaikan sarapannya namja itu lalu bersiap menuju studio musik.

“Gomawo Yoong…” gumamnya usai berada diluar pintu rumah. Ia menahan langkah lebih dulu seraya  memikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian Ia terkekeh sendiri. Lee Donghae, kau sinting.

……………….

Beberapa Lampu jalan dikanan kirinya berkedip – kedip seperti sedang sekarat. Yoona terkaget berkali – kali ketika lampu jalan yang Ia anggap mati, menyala  tiba – tiba begitu pun sebaliknya. Yeoja itu mulai menoleh kanan kiri sambil mengeratkan jaketnya dan teringat tentang cerita hantu putih yang sering berterbangan diatas kepala pada malam hari. Apalagi jika mengingat pertigaan jalan  yang gelap dan sepi dihadapnnya. Yoona bergeleng menepis pikiran mistis dalam otaknya kemudian memilih mempercepat langkah agar sekilat mungkin bisa menjejahkan kaki di rumah.

Hari pertama pulang kuliah dan menyusuri jalan sendiri membuat bulu kuduk Yoona merinding. Pengalaman – pengalaman mengesankan juga menyebalkan selama sepanjang hari di universitas buyar begitu saja, padahal sepanjang jalan tadi Yoona tengah menyusun kata – kata dalam otaknya untuk diceritakan pada Donghae. Namja itu memang terlihat agak bosan jika Yoona berbicara tentang hal yang sama berulang – ulang… Tapi sudahlah, dia juga tidak keberatan… Entahlah, Yoona  merasa ada yang mengaganjal sebelum Donghae mendengar ceritanya.

Yoona akhirnya sampai didepan pintu rumahya. Ia menghela napas lega sekaligus kecewa karena mendapati ternyata rumahnya masih gelap. Dan itu berarti Donghae belum pulang.
Yeoja itu lantas merogoh ponselnya dari saku celana.

‘Aku sendiri di rumah. Cepatlah pulang.’ Ia mengetik dalam menu pesan singkat kemudian mengaduk isi ranselnya dengan tangan berhamburan.

“Aishhh kenapa susah sekali mendapatkanmu…” kesal Yoona menatap sebuah kunci diujung  jarinya. Ia lantas memutar kunci itu dengan tangan gemetaran.  Sambil menengok kanak kiri, Yoona mendorong kenop pintu kedalam. Ia bergeleng seraya meyakinkan, tidak ada orang disekitarnya apalagi memata – matai… Mungkin karena terlalu banyak berpikir mistis atau…

Begitu masuk, Yoona langsung bergerak menyalakan lampu secara hati – hati karena takut menendang meja atau apa pun mengingat barang – barang dari rumah yang ditempatinya sekarang, serba melantai.

Ketika Yoona sudah berbaring dikasurnya, bunyi getaran dalam saku membuat Ia beranjak bangun. Tenyata pesan balasan dari Donghae.

‘Secepatnya Yoong🙂 Oh ya Aku punya sesuatu, kuharap kau bersedia melihatnya..’

Yoona mengerutkan kening. Ia langsung pernasaran dengan maksud Donghae berkata seperti itu. Belum selesai rasa penasaran itu hilang, suara ketukan pintu tiba – tiba menyahut.

Yoona bangkit dan beranjak membukakan pintu. Ia sedikit meringis ketika semakin lama suara ketukan itu semain keras hingga terdengar layaknya suara gedoran.

Apakah itu Donghae ? Tapi Yoona sedikit curiga karena tidak biasanya Donghae mengetuk pintu dengan sangat keras seperti itu.  Ketukan Donghae itu pelan sekali, bahkan Yoona nyaris tidak bisa mendengarnya.

Dan segala kerancuan itu terjawab, seseorang diluar sana bukan Donghae, hantu atau apa pun. Tapi Dia… Seseorang itu ternyata lebih menyeramkan dari hantu atau mahluk buas lain di dunia ini.

“K-kau…” Yoona nyaris menutup pintu dengan dorongan kuat tetapi tamu ‘tidak diundang’ itu secara tanggap menahannya, “Eitsss…”

“Yak, apa yang kau lakukan disini Shinjung?!”

Seorang namja bernama Shinjung itu kemudian masuk secara paksa dari celah pintu. Ia lalu duduk didepan meja lantai dan menancapkan sebotol arak disana hingga Yoona memekik akibat suara gedoran meja yang sangat menyentak.

“Aku dengar kau  sudah menikah Yoona.” Ucapnya sambil meminum seteguk arak dari dalam botol. Seketika itu juga Yoona langsung mual akibat bau arak yang sangat dibencinya menguar.

“Perjodohan kita batal dan orang tuaku mengirimku kesini untuk melakukan hal yang menjijikkan ! Kuliah kau tahu ?!”

Yoona mimilih berdiri, melipat kedua tangannya sambil melengoskan wajah tidak peduli, “Langsung saja ! Menemuiku ada per—”

“Yeah,  aku… memilih bersenang – senang daripada melakukan kegiatan bodoh itu…” potongnya tanpa mempedulikan ucapan Yoona. Yeoja itu langsung tersungut,“Yak ! Jangan berbelit !“

“Aku dikirim kemari karena kau IM YOONA !” Shinjung menggertak menatap Yoona tajam, “Kau dengan seenaknya menikah dengan orang lain ! Untuk menghindari ku kan?”

Yoona menelan ludah, berusaha meredam  ketakutannya, “Itu bukan urusanmu, SHINJUNG ! Kau pikir aku suka dengan namja sepertimu ? Keluargamu memang kaya tapi… kau memprihatinkan.”

Shinjung bangkit dari duduknya kemudian bertepuk tangan kearah Yoona, “Wah… hebat ! Kau sudah merasa hebat rupanya ya? Oh… kudengar keluargamu sudah membayar setengah dari hutang. Tapi jangan senang dulu, masih ada setengah lagi dan bunganya akan terus bertambah, Yoona.”

Kening Yoona berkerut. Ia mencerna kembali ucapan Shinjung dan sama sekali belum mengerti.

“Melunasi setengah?”

Shinjung mengangguk, “Ne.” jawabnya mengamati wajah Yoona yang kian memucat, “Kenapa terkejut begitu ? Kau tidak diberitahu oleh pangeranmu yang sekarang ? huh?”

Yoona terdiam masih memproses fakta – fakta yang baru saja diterimanya. Donghae tidak pernah bicara padanya mengenai hutang. Lalu dari mana Donghae mendapatkan uang sebanyak itu?

“Kau sudah tahu kan? Aku sangat terobsesi dengan kecantikanmu Yoona…” Bisiknya. Ia mengangkat tangan untuk mengelus kepala Yoona tapi yeoja itu langsung menepisnya.

“Pergi !” bentak Yoona dengan suara bergetar. Shinjung menanggapinya dengan senyum. Ia mundur selangkah demi selangkah, mengikuti gerakan Yoona kebelakang.

“Kau mau ap—- Hmmppp—“

Tubuh Yoona terkunci ketika Shinjung mulai mencoba menyentuh bibirnya dengan ganas. Yeoja itu mengerahkan segala kekuatannya untuk meronta, mendorong orang itu hingga tersungkur lalu  menendangnya meski percuma. Yoona kehilangan  napas ketika namja itu mulai menggerayangi tubuhnya, menciumi lehernya bahkan dengan kasar menarik kemejanya berkali – kali  hingga sobek. Yoona jatuh, Shinjung mendorongnya hingga terjunkal membentur tembok. Namja itu mulai mendekat dan kembali mengunci tubuhnya.

“Jangan… jangan… “ Yoona menjerit miinta tolong sambil menutupi pakaiannya yang berubah compang  camping. Wajah yeoja itu memerah dan tubuhnya berkeringat dingin. Pandangan Yoona menerawang, kali ini Ia seperti sudah kehabisan suara. Sementara itu Shinjung mulai menjamahi tubuhnya kembali dan Yeoja malang yang menjadi korban napsu bejatnya itu sudah kehilangan tenaga.

“Ayolah Yoona…” desah Shinjung tidak karuan.

Yoona berteriak tidak tahan, melihat dunia berputar dan tiba – tiba saja ada bayangan abu – abu menghantam kepalanya. Didalam sana, dalam bayangan itu terulang kembali kejadian terkutuk beberapa tahun silam. Yoona mendengar isak tangis dan teriakannya sendiri. Teriakan penuh ampun seorang anak kecil yang tidak berdosa.

‘Brukkk’

Shinjung terseret dan terlempar pada sisi dinding. Namja itu berteriak dan mengaduh kesakitan, “Yak… kau…”

“APA YANG KAU LAKUKAN, BRENGSEK?!” Donghae menarik kerah baju Shinjung secara paksa lalu menyeret orang itu menuju pintu.

Rupanya Shinjung belum menyerah juga. Ia menyambar sebuah botol arak diatas meja kemudian mulai mengarahkan benda itu kekepala seseorang yang tengah menyeretnya kasar. Cukup disayangkan Donghae bisa membaca niat itu dan langsung menghempaskan tangan Shinjung di udara  sehingga botol yang dipegangnya terlempar lalu pecah membentur sisi dinding.

“PERGI ATAU KUBUNUH KAU SEKARANG JUGA !”  Donghae mendorong tubuh Shinjung keluar dari pintu. Ia menendang perutnya dan mengahajar bajingan itu berkali – kali.

“Ampun… Aku akan pergi…”

Donghae menarik kerah baju namja yang tengah tersungkur itu kembali lalu berbisik tajam, “Jangan pernah lagi muncul didepan Yoona atau aku akan menjebloskanmu kepenjara, mengerti?!”

Shinjung mengangguk takut  tanpa menjawab.

“Pergi !” perintah Donghae melempar tubuh Shinjung ke tengah jalan di depan rumahnya. Shinjung mulai bangkit sambil berjalan sempoyongan hingga siluetnya menghilang ditelan kegelapan.

Seketika wajah Yoona muncul dan  berterbangan dalam otaknya. Donghae berlari kedalam rumah dengan napas tersenggal,  Ia mendapati Yoona sedang terselungkup ketakutan di sudut ruangan. Donghae bersimpuh menyejajarkan posisinya. Ia hendak meraih wajah Yoona tetapi yeoja itu menepisnya.

“Kau siapa ?! Jangan sentuh aku !” Teriak Yoona seraya menunduk menutupi tubuhnya.

“Ini aku Yoona… Donghae…” jawab Donghae dengan wajah memanas. Sungguh, Ia baru melihat ekspresi Yoona yang seperti ini. Ekspresi dengan pandangan kosong ditambah kejengkelan juga ketakutan  semua bercampur.

Yoona menatap sekeliling sebelum akhirnya memberhentikan tatapannya kearah Donghae, “AKu melihatnya Oppa, aku melihatnya !”

Donghae bergeleng sambil mengguncang tubuh Yoona pelan, “Melihat apa Yoong ?” tanyanya heran kemudian membenamkan kepala Yoona dalam dekapannya,  “Dia sudah pergi, tenanglah.”

“Bukan Shinjung, Oppa… mereka.”

Sepelan mungkin, Donghae berusaha mengatur napas. Jadi, nama keparat itu Shinjung.

“Oppa… dia datang lagi… tolong aku—” jerit Yoona dalam tangisannya yang amat menyayat hati Donghae. Yoona terus meronta sambil berteriak ketakutan. Air mata yang sedari tadi begitu sulit Ia  tumpahkan, membajiri sepenuhnya hingga dalam hitungan detik kemeja biru yang dikenakan Donghae basah terkena rembesan kesesakan Yoona. Kesesakan akibat ulah Shinjung, bajingan yang hampir saja merebut kehormatannya.

“Tenanglah Yoona, tenanglah.” Bisik Donghae seraya menepuk punggung Yoona pelan – pelan,  mengalirkan rasa tenang disana.

“Tidak Oppa… mereka belum pergi Oppa… Tolong aku.”

Donghae terdiam mencerna ucapan Yoona. Ia mengeratkan dekapannya ketika Yoona mendongak dengan wajahnya yang kian memerah, seolah memintanya melakukan sesuatu. Sesuatu yang  hingga kini , Donghae masih tidak mengerti  apa yang dimaksud Yoona. Mengenai orang tadi?  Entahlah…

.…………To Be Continued……….

31 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 2 )

  1. Dhewi pus berkata:

    Orang yg d maksud yoona cpa si penasaran. .lanjut thor n bkin yoona ma hae lbh dkt. .n bwat yoona jdi milik hae. .fighting thor. .

  2. Ahn Ri Chan berkata:

    wuahhh akhirnya krluar juga🙂
    hm.. maksud yoona apa? siapa yg blm pergi?
    penasaran. cepat dilanjutkan yah authour :))

  3. Tryarista wacchhyuniie wacchhyuniie berkata:

    waaaccchhh
    gi asyik2 bc dah tbc…cpt dilanjVt thor .pnasaran ma yoona ! And bwt yoonhae bersatu….! Sbnernya yoona knpa !

  4. HaeNy Choi93 berkata:

    Woaaahhh…
    Makin seru..
    Emosinya nyampe banget..
    Keren..

    Hmm.. Part 2 ini satu per satu maslah mulai terlihat.
    Dari Donghae yg ternyata ada rasa ke Yoona dan Trauma Yoona.. Tp msih belum paham sih..
    Siapa yg di maksud Yoona.

    Dan Soal Yuri.. Hm.. Q rasa yuri terlalu gimana nanggepin soal pernikahannya YoonHae..
    Heheh itu menurutq sih ya..

    Next partx ditunggu sekali.. Chingu..
    Jangan lama2 yaa..
    Fighting!

  5. LoveLy_pyRos berkata:

    sbnr’y s’pA oRg yg d mkZd yoona itu kLo bUkn shinjung…!? donghae kau mEmng pahLwan dtang tept wkt…!? dtnggu part sLnjut’y

  6. Dhe Pyrotechnics berkata:

    Yoona nya punya trauma yahh??
    Kasian..

    Donghae suka am yoona tapi yoona pura ga tau?
    Why??
    P E N A S A R A N ama kelanjutannya..
    Part sebelumnya aku gga komen🙂
    Mian..
    Semoga cepet di post kelanjutannya yahh..

  7. lulu_paramita berkata:

    Eonni lanjut Dong, udah gak sabar, gimana nasib YH selanjutnya dan itu Shinjung… semoga dia gak punya rencana buat jahatin Yoong. Tapi kalau misalnya Yoong dijhatin juga, semoga Donghae bisa ngelindungin… Plisss BGT… o__0

  8. Vhya ElfishYoonaddict Pyrotechnic berkata:

    wah makin seru.
    Hae baik banget.
    Daebak.
    Penasaran ma ‘mereka’ yang dimaksud yoong.

    Next ditunggu.
    Fighting.

  9. regina berkata:

    sedih bgt part ini…
    Ternyata Yoona punya trauma yg mendalam ttg masa lalunya, kira2 siapa yg di mksd dgn ‘mereka’… Donghae hrs bs ngelindungin Yoona dan nyembuhin traumanya…

    Trus ttg Yuri dia sahabat Yoona mgkn dia sebel ama Yoona krn dl-nya kan Yoona prnh mo deketin dia ke Donghae, yah tp kan dia udah tau alasan sbnrnya apa hrsnya di dukung Yoona-nya jgn di jauhin dan di musuhin, jdnya makin terpuruk dan sedih😦
    Tp moga2 aja Yoona dan Yuri bs baikan lagi ^^

  10. pizza lee berkata:

    lohh?yoona knpa tuh?? ad hbungannya dgn msa llu ya? d part 1 juga yoona prnh pngen ngomong ssuatu tp btal gtu..
    wah..mkin bkin pnsran,tp part 1 kok ane gx bisa komen ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s