FF Taeteuk – Till The End Of Time ~ Part 2 of 2 ~

Image

Anniyonghaseyoo ^_^ … Gimana nih para adorkable, udah puas belumm kangennya ??? Pastinya Belom yahh…wkwkkw, taapi mungkin FF ini bisa sedikit mengobati..

Okay !!! aku datang lagi dgn membawa lanjutan akhir dari Twoshoot FF Taeteuk.. Semoga kalian sukaa..

Happy Reading All🙂

Title : Till The End Of Time

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance

Category : General

Cast : SNSD Taeyeon, Super Junior Leeteuk

Other Cast : SNSD Tiffany, SUJU Eunhyuk

Part 2 ~ Till The end of Time

Kilapan cahaya lampu memantul pada knalpot motor putih yang baru saja dipoles. Leeteuk mengatur napas setelah satu hari penuh Ia mempersiapkan apa – apa saja peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkannya untuk pertandingan. Beberapa jam lagi pertandingan dihari kedua akan dimulai. Tuan Kim berkata bahwa lawannya akan lebih susah dibandingkan semalam. Leeteuk benar – benar tidak peduli dengan sekuat apa lawan – lawannya nanti. Jelasnya, sebatas peduli kalau dirinya harus menang apa pun yang terjadi. Ia harus mendapatkan  uang agar Taeyeon bisa diobati secara maksimal.  Taeyeon harus sembuh, itulah motivasi utama dalam tekadnya.

Usai berkelut dengan motor andalannya, Leeteuk berjalan menuju teras gudang—markas club— Namja itu memejamkan mata merasakan udara malam yang lembab, melakukan seperti apa yang biasa Taeyeon lakukan. Taeyeon ? Leeteuk sadar betapa Ia merindukan sosok itu.

Ia meraih dompetnya, Membuka lalu menatap selembar photo dirinya dan seorang Yeoja, sedang tersenyum manis. Leeteuk ingat saat itu dirinya dan Taeyeon sedang berphoto diatas bukit. Kenangan akan masa lalu kembali menyeruak. Dan kalau bisa Ia ingin waktu mengulangnya sekali lagi…

(“Wahhhh.” Taeyeon berlari menerjang angin. Ia merentangkan kedua tangannya, merasakan hangatnya mentari yang menyorot dari atas sana.

Bukit hijau, dipenuhi oleh rerumputan terhempas jelas didepan mata. Dedaunan pohon besar bergerak melambai tertiup dorongan angin. Langit biru menaungi mereka, Taeyeon dan Leeteuk. Taeyeon tersenyum senang menarik tangan Leeteuk untuk berlari menyusuri bukit.

“Kenapa mangajakku kemari?” Taeyeon menoleh sedikit kearah namja disampingnya. Mata Yeoja itu berkilat – kilat memandang miniatur kota dihadapnnya.

“Karena Kim Taeyeon menyukai pemandangan alam.”

“Yappp…Yappp.. Ternyata diam – diam Kau peduli padaku…” kagum Taeyeon tertawa senang.

“Itu karena kau sering mengatakannya,”  Leeteuk menjulurkan lidah. Taeyeon lantas memanyunkan bibir sambil melipat tangannya dan bilang, “Itu supaya Oppa juga tertarik dengan alam, tidak hanya bejibaku dengan jalanan aspal.”

Leeteuk terkekeh. Ia memandangi Taeyeon, yeoja itu sedang asyik meneropong beberapa petak sawah dari kejauhan. Sebuah ide tiba – tiba terlintas. Leeteuk perlahan berdiri dibalik punggung Taeyeon kemudian memeluk yeoja itu erat.

“Sedetik saja perhatikan aku juga.” Katanya dengan nada merajuk. Taeyeon sedikit berontak. Disikutnya perut namja itu. Seharusnya sakit tapi Leeteuk malah tertawa tawa dan semakin mempererat tautan tangannya yang mengitari pinggang Taeyeon.

Taeyeon pasrah kemudian ikut tertawa, entah mengapa Ia anggap ini lucu. Yeoja itu menghirup udara disekitar. Paru – parunya terasa diciptakan kembali. Wangi dedaunan, sudah lama ia melupakan aroma ini.

“Kau sangat suka bukan? Kalau begitu, ayo kita bangun keluarga kecil ditempat ini.” Bisik Leeteuk ditelinga Taeyeon. Yeoja itu mengangkat alis, menahan senyumanya.

“Benarkah? kalau begitu aku ingin rumah kecil minimalis dengan pekarangan luas bagaimana?” 

Leeteuk berpikir sejenak, “Rumah kecil minimalis? Aku menginginkanmu untuk lahirkan banyak anak tapi kalau rumahnya kecil, mau kita kemanakan mereka?”

“Yakkkk !” Taeyeon menyikut perut Leeteuk kembali Ia merengut, “Sekalian saja dirikan team sepak bola dan masukkan saja mereka kedalam kardus !”

Suara tertawaan dari namja dibelakangnya muncul kembali,“Kalau anak – anak kita mirip denganku, aku berani jamin kalau dirimu tidak akan tega memasukkan mereka kedalam kardus.”

Taeyeon diam saja setelah ia menggerutu kecil. Leeteuk menyolek dagu yeoja itu lalu berkata dengan senyum terselubung, “Tersenyumlah sedikit, kalau cantikmu hilang bagaimana?” Ia mengeratkan dekapannya lalu berbisik lagi, “Marah saja sepuasnya tapi kau harus ingat bahwa ucapanku barusan itu  serius.”

“Eh?” Taeyeon menoleh.

 “Berjanjilah  agar selalu baik – baik saja. Aku ingin wujudkan keinginan sederhana itu bersamamu, Park Taeyeon…”)

Satu tepukan dipundak membuat Leeteuk tersadar. Leeteuk memandangi seseorang yang baru saja menepuknya. Dia, teman sesama Club, Lee Donghae selalu saja mengganggu disaat – saat seperti ini.

“Apa yang kau pikirkan, hyung ?” tanya penasaran.

Leeteuk mengangkat bahu, “Tidak… Hanya menangkan diri…”

Donghae melihat sesuatu ditangan temannya. Sebuah Dompet yang didalamnya berisi  photo Ia dengan seorang yeoja, “Dia yang kau pikirkan ?” Donghae menunjuk gambar Taeyeon. Leeteuk langsung menutup dompetnya.

“Kalau iya, kanapa?”

“Hyung, kau benar – benar menyukainya ?” Donghae meringis dengan wajah meledek. Leeteuk berdecak, “Lebih dari suka.”

“Kudengar kalau  Hyung akan keluar dari club balap.” Donghae menerka, “Apa karena dia?”

Leeteuk melirik Donghae sebentar, Ia terdiam lalu tidak lama menjawab, “Kim Taeyeon, aku sudah  memintanya agar tetap baik – baik saja, jadi tidak mungkin kalau aku membuatnya semakin buruk, bukan?”

“Apa?” Donghae megerutkan kening. Leeteuk tersenyum singkat, “Sudahlah, ayo kita siap – siap. Pertandingan  dimulai sebentar lagi.”

…………………..

Taeyeon merasakan sesak didadanya. Ia belum tahu dimana Leeteuk sekarang. Apa yang dilakukan namja itu dan apa yang akan terjadi lagi kedepannya. Usai keluar dari rumah sakit, yeoja itu beristirahat seharian sembari  menunggu  poselnya berdering, berharap bahwa  seseorang disana akan memberitahu kondisinya saat ini tapi nihil. Tidak ada kabar dari Leeteuk bahkan ponsel milik namjachingunya itu tidak aktif.

Taeyeon membuka jendela dilantai dua kamarnya. Ia menarik napas lalu membuangnya perlahan.  Yeoja itu membiarkan angin  menerpa, membuat kulitnya meremang. Taeyeon mendekap tubuhnya sambil mendengarkan suara gemerutup gigi dari dalam mulutnya sendiri. Bukan hal biasa, hembusan udara malam di  Seoul saat ini cukup dingin dari pada malam – malam lain. Maka Taeyeon harus mengeratkan sweaternya berkali – kali.

“Oppa kau dimana? Apa kau juga melihat langit malam ini?” Taeyeon bertanya sendiri, menatap langit. Langit kosong tanpa hiasan bintang. Apa sekarang mendung ? Tapi yeah, mungkin saja tidak, mengingat langit dikawasan perkotaan memang seperti ini. Berbeda ketika Leeteuk mengajaknya kepedesaan, disebuah bukit. Mereka menghabiskan waktu ditempat itu mulai dari pagi sampai malam. Taeyeon tersenyum. Kapankah namja itu  akan mengajaknya lagi kesana?

‘Kapan?’ Taeyeon bertanya dalam batin. Yeoja itu meringis, mengedip – edipkan mata keatas langit guna menghentikan laju genangan bening dipelupuk matanya. Menghentikan butiran – burtiran itu agar tidak merembes lebih jauh.

“Oppa, jawab aku ! Dimana kau sekarang !” teriaknya melampiaskan sesak yang tertahan sejak tadi. Taeyeon memegang dadanya. Ia tidak kuat lagi memendam angan – angan buruk tentang Leeteuk. Perasaan takut, cemas, tidak ingin kehilangan, semua teraduk menjadikan Ia  tersiksa sendiri.

Tanpa menutup jendelanya kembali, Taeyeon bergesas menuruni tangga. Sampai diruang TV,  Ia mengintip sebentar kearah Tiffany yang saat ini sedang ketiduran diatas sofa.  Inilah waktu yang tepat untuk dirinya pergi tanpa harus memohon – mohon kepada temannya itu—yang ujung – ujungnya juga berkhir dengan kata ‘Tidak’.

“Mianhae Tiffany-ah, aku harus mencarinya…” ujar Taeyeon kemudian berlari menuju pintu keluar tanpa Tiffany bisa mendengarnya.

………………………

Sebuah gudang tua dipinggir kota menjadi pijakannya saat ini. Tumpukan kaleng bekas serta sampah – sampah plastik yang menumpuk berbunyi nyaring mengiringi langkah Taeyeon. Dalam ruangan minim cahaya itu, Ia melihat beberapa kepulan asap berterbangan disatu sudut , terdengar pula suara percakapan namja,  pertanda bahwa ada segerumul orang disana.

Dari kejauhan indra penciuman Taeyeon sudah bisa menangkap adanya pembakaran tembakau dari benda bernama rokok. Debu – debu berjatuhan dan lumut – lumut masih menempel ditembok. Taeyeon hapal setiap sudut diruangan itu.  Terdiri atas ruang depan yang biasa mereka tempati untuk mempoles mesin motor atau mereka  jadikan  sirkuit kecil – kecilan  sedangkan ruang tengah adalah tempat para anggota club bercengkrama.  Bukan hal langka baginya karena Leeteuk sering membawa Ia ketempat yang dianggap sebagai markas club nya tersebut sebelum ini.

“Uhukk…” Taeyeon terbatuk sambil mengipas – ngipaskan udara disekitarnya. Seluruh pandangan tertuju padanya. Ada beberapa orang disana yang sedang bercakap dan Taeyeon hanya ingin berbicara kepada salah satunya. Taeyeon tidak ingin berlama – lama. Lagi pula dirinya pun sudah tidak tahan. Kepulan asap rokok terlalu penuh memenuhi ruangan  membuat yeoja harus menahan napas sebisa mungkin.

“Taeyeon-ssi ?” Seorang namja berjaket hitam menoleh.  Dia tampak terkejut. Dia, Taeyeon bisa lihat kalau Eunhyuk mengerutkan dahi begitu lekat. Namja itu melirik jam tangannya. Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Ia menatap Taeyeon yang saat ini tersenyum ramah kearahnya. Tidak biasanya yeojachingu temannya itu datang sendiri malam – malam begini. Kalau pun datang malam – malam, dia selalu ditemani oleh Leeteuk.

“Taeyeon-ssi ada apa?” Namja berkulit putih susu itu menghampirinya. Sambil menggaruk lehernya yang panjang, Ia berkata, “Lama tidak melihatm—“

“Mana Leeteuk Oppa ?!” Timpal Taeyeon dengan nada medesak. Yeoja itu merasa kalau Eunhyuk menyembunyikan sesuatu.

“Dia… Dia, aku belum melihatnya.”

“Bohong !” jerit Taeyeon membuat suaranya menggema keseisi ruangan, “Kau  bohong Oppa. Dia pasti kesini kan?”

Eunhyuk berdecak, “Taeyeon-ssi sebaiknya kau pulang. Sudah malam dan banyak namja – namja liar dalam ruangan ini. Nanti kau kenapa – napa, apalagi Leeteuk Hyung tidak ada.”

“Dia ada ! Aku tahu pasti orang itu ada disekitar sini. Kalian menyembunyikannya, iya kan ?!” Taeyeon hendak menerobos masuk kedalam bilik – bilik kecil di ruang tengah  namun Eunhyuk langsung menghalau dan menegaskan, “Dia tidak ada Taeyeon -ssi ! Percayalah padaku !”

Taeyeon menatapnya dari balik genangan. Disekanya kasar butiran – butiran yang perlahan jatuh dan bilang, “Kalau dia tidak ada disini lalu dimana? Huh?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau tahu…”

“Tae—“

“Kau pasti tahu tentang penyakit yang kuderita. Aku yakin Leeteuk sudah menceritakannya.”

Eunhyuk mendelik.

“Tolong beritahu… Sebelum aku sekarat.” Taeyeon menatap Eunhyuk nanar. Matanya merah sembab. Dalam benak Eunhyuk, muncul pemikiran bahwa yeoja dihadapannya itu menangis seharian ini.

Eunhyuk menarik napas, “Baiklah akan kuberitahu.” Ucapanya berpikir sebentar, “Jadi Leeteuk Hyung dia…”

Taeyeon menatapnya tidak sabar, “Wae?”

“Dia sedang melakukan pertandingan balap dipinggiran kota. Pertandingannnya sudah berjalan dua hari dan sekarang sedang berlangsung… Taeyeon-ssi jangan marah padanya.“

“Apa?”

……………….

Raungan knalpot motor saling menimpali, memecahkan aura hening disepanjang jalan sepi di pinggir kota. Asap – asap mengepul disekitarnya dan beberapa orang berlalu lalang hendak mencari tempat yang pas tentang dimana seharusnya mereka menghabiskan waktu selama  dua jam kedepan untuk menjadi saksi dari pertandingan final malam ini. Hanya ada tiga peserta balap dan penonton yakin bahwa akan ada kejadian sengit sebentar lagi.  Seperti sekarang, motor – motor itu tengah berjejer rapih didepan garis start. Mereka–para  pemain—mulai melemparkan tatapan sulit diartikan kepada lawan mereka masing – masing.

“Jangan salahkan aku kalau setelah ini orang – orang yang mencintaimu tidak akan pernah melihatmu lagi.” Kata salah seorang pesaing dengan bangga dari atas motor hitamnya. Leeteuk sekedar memandang sinis.

“Kita lihat saja.” Tanggapnya  tersenyum miring sembari memasang sarung tangan dan sebuah helm putih yang membungkus kepalanya.

Namja bergigi besar itu berdecih. “Percaya diri sekali kau.”

Beberapa menit setelah itu pertandingan dimulai. Hitungan mundur beserta suara sumpritan juga lambaian bendera kotak – kotak menjadi awal mula segalanya terjadi. Orang – orang disekitar mulai bersorak gila. Tidak ada yang lebih penting dalam pikiran mereka semua kecuali kemenangan.

Tanpa pikir panjang, Leeteuk mulai mengendalikan motornya jauh diatas kecepatan rata – rata. Sesekali namja itu menatap sengit kepada pengendara motor yang coba menyalipnya. Ia menambah kecepatan agar tetap menjadi nomer satu, seseorang disana pun melakukan hal sama hingga jarak mereka berdekatan, mengundang saling senggol terjadi.

Leeteuk menendang sedikit badan motor seorang pengendara yang Ia deteksi akan mendekat dan menggoyahkan  posisinya kini. Sang pengendara itu oleng, membuatnya tertinggal jauh. Leeteuk tersenyum sinis. Barusan bukan curang tetapi berusaha melindungi diri.

Tidak ada siapa pun didepannya. Leeteuk mempertajam fokus pandangnya. Ia menambah kecepatan, energinya menggebu seolah garis finish sudah terpampang didepan mata.

“Sial.” Leeteuk memekik ketika dari kejauhan terlihat seorang yeoja mungil merentangkan tangannya, berdiri menghalau jalan.  Awalnya Leeteuk mengira bahwa dia adalah salah satu penonton namun dugaannya meleset.

Yeoja itu, Leeteuk tersadarkan oleh angannya sendiri ketika tubuh namja itu langsung bergetar, keringatnya mengucur tiba – tiba.  Leeteuk bahkan lupa mengenai cara mengendalikan motornya. Sama sekali buntu. Ia hanya ingat bagaimana menghentikan motornya sekarang dan…

Leeteuk menekan rem beberapa kali sampai jarinya menegang. Naas ketika motor yang ia kendarai masih melaju cepat. Motor dalam kecepatan tinggi tidak bisa diberhentikan secara mendadak, teori kiamat lantas berbayang.

Ia memaki sambil memejamkan mata, benar – benar tidak sanggup menyaksikan kejadian yang akan terjadi didepan matanya, “Taeyeon-ah kenapa kau lakukan ini ?!!!”

Sreeekk…

………………

Berlari tanpa tahu harus kemana, mengikuti instingnya Taeyeon sangsi apakah Ia mampu untuk mencari jejak Leeteuk atau tidak. Yeoja itu cukup mengingat tentang lokasi yang diberitahukan Eunhyuk bahwa pertandingan gelap itu tengah terselenggara ditempat ini—pinggir kota sunyi—Fokus pandangnya cukup mampu untuk menjangkau kerumunan manusia yang berdiri dengan wajah tegang disatu sisi jalan. Taeyeon menerobos kerumunan itu, kebanyakan dari mereka adalah para ahjussi tua  maniak balap dan Leeteuk tidak nampak sama sekali.

“Wahhh… itu pasti Leeteuk-ssi…” Tunjuk seorang ahjussi berkumis kearah ujung jalan. Taeyeon tidak melihat apa pun disana. Tidak ada sesuatu kecuali deru motor yang berisik… Tapi… Mungkin itu juga…

Motor putih, helm putih, jeket putih, semua serba putih. Putih—warna favorit seseorang— Satu pengendara motor dengan kecepatan kilat mendekat. Mata Taeyeon menyipit. Ia tidak ingin percaya ini. Berusaha mengingkari bahwa pengendara disana bukanlah dia. Namun sayang, mengingkari kebenaran bukanlah hobbynya. Taeyeon bergeleng. Dalam rentan waktu itu,  deguman hebat mengambil alih kinerja jantungnya. Perasaan takut, marah kecewa hingga rasa tidak jelas… teraduk liar tanpa kontrol.

“BERHENTIII !!!!” Taeyeon menjerit, berlari ketengah jalan sambil merentangkan tangannya.  Ia memejamkan mata menahan silau akibat lampu kendaraan yang menyorot terlalu tajam. Tiba – tiba saja suasana menjadi gaduh. Orang – orang dipinggir jalan bersorak ; ‘menyingkir !’ Mereka dengan sikap sok prihatin, mulai bersungut ngeri seolah dirinya akan berpindah alam sebentar lagi.  Peduli maut ! Tak ada yang perlu ditakuti, Taeyeon sudah mengalami kebekuan otak dan kewarasannya putus. Dia gila, Fine.

“BERHENTI KUBILANGGG!”

“Sreeekkkk… …”

Suara decitan mengaung begitu nyaring didekat telinganya. Taeyeon merasakan dadanya kembang kempis. Dapat Ia dengar suara deraian nafas dari paru – parunya juga suara detakan jantung yang menandakan bahwa Ia masih hidup.

“Taeyeon-ah…” Suara namja didepannya bergumam. Taeyeon membuka mata perlahan dan mendapati Leeteuk dengan helm yang sudah Ia lepas beserta butiran peluh yang menetes – netes memandangnya takut – takut meski tersemat pula ekspresi keterkejutan disana.

Mendadak Taeyeon kehilangan seleranya untuk berbicara didepan Leeteuk. Ia bepaling membalikkan tubuh, membiarkan namja itu mematung rancu diatas motornya.

“Taeyeon !!!” Sahut Leeteuk seraya menyusul Taeyeon dengan motornya ke bahu jalan. Namja itu menghalau langkah Taeyeon dengan benda beroda dua yang begitu memuakkan.

“Taeyeon dengarkan aku dulu !”

Taeyeon menatap malas lalu menjawab tanpa minat, “Apa yang perlu kudengarkan? Kau juga tidak pernah mendengarkanku, kan?”

“Taeng—-“ Leeteuk menekan napasnya, “Aku tidak bermaksud melakukan ini. Aku… Aku juga sudah lelah berbuat seperti ini…”

“Lalu ? Kau akan bilang kalau dirimu terpaksa melakukan ini ? Membohongiku?”

“Membohongi? Aku tidak pernah membohongimu …” bantahnya dengan nada mendesak. Taeyeon tertawa hambar sambil melengoskan  wajah, “Ini semua demi kebaikanmu, Taeyeon -ah…”

“Aku pasti akan baik – baik saja Oppa, tanpa harus ada hal seperti ini—-“

“Kau tidak bisa…” Leeteuk bergeleng menatap Taeyeon. Yeoja itu mematung bingung, “Apa maksudmu?”

“Biarkan aku seperti ini sampai kau benar – benar sembuh Taeyeon-ah….”

“Apa?”

Tidak tahu mantra apa yang baru saja Leeteuk ucapkan, Taeyeon langsung terdiam dengan tubuh lemas. Ia meresa kedua kakinya tidak mampu berjalan begitu pula kedua tangannya tidak bisa digerakkan. Kalau pun bisa Taeyeon ingin sekali mengarahkan tendangan atau tamparan kepada namja dihadapannya itu sekeras mungkin.

Bingung harus berkata apa, Taeyeon terkekeh dengan butiran yang terjatuh dari genangan dimantanya, “Aku tidak butuh jika kau harus mengorbankan nyawamu demi pengobatanku.  Aku memang yatim piatu, aku tidak punya siapa – siapa tapi…” Taeyeon menyeka air matanya kasar kemudian mempertegas kembali, “Tapi… tapi bukan berarti kalau aku terbiasa melihat orang – orang yang kucintai meninggal satu persatu didepan mataku Leeteuki-ssi !!!”

“Tae—“
“Kau akan berkata bahwa dirimu baik – baik saja sekarang?! Sekarang kan? Bagaimana jika nanti. Bagaimana kalau kau melakukan balapan liar dan.. dan…” Potong Taeyeon mengatur napas. Ia memegang dadanya sebelum menatap Leeteuk lamat dan berkata, “Kita p-u-t-u-s.”

Leeteuk membatu melihat punggung Taeyeon yang semakin lama semakin pudar. Dua kali dalam hidupnya, namja itu menengar Taeyeon mengucapkan kalimat terkutuk itu. Satu –  satunya hal yang menjadi sebab ‘kelumpuhan total’. Leeteuk kehilangan napas. Mati – matian ia berusaha mengumpulkan tenaga—setelah ini akan mengejar Taeyeon kemana pun—sebuah suara mengusiknya tiba – tiba.

“Yakk Leeteuk-ssi, sedang apa kau disana?! Cepat kejar lawanmu, kau sudah tertinggal satu putaran ! Cepatlah! Mumpung masih ada waktu… Aishhh… Apa – apaan kau ini?!” desak seorang ahjussi. Leeteuk menoleh, sang wasit yang tengah mengawasi jalannya pertandingan menatap dengan wajah geram. Leeteuk membalas tatapan itu datar kemudian mulai mengarahkan mototornya ketengah jalan untuk melanjutkan pertadingan.

“Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, Taeyeon-ah…”

Untuk terakhir kalinya Leeteuk berucap sebelum namja itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Orang – orang mulai bersemangat setelah beberapa menit lalu hening akibat menonton drama gratisan dari jagoan balap mereka.

Leeteuk merasakan tubuhnya melayang diudara. Ia semakin menambah kecepatan. Entah, tidak ada tujuan tertentu apalagi memenangi pertandingan. ‘Cukup arahkan stirmu dengan membabi buta maka segala kekesalan juga amarah, meluap bebas diudara’. Dan bisikan – bisikan iblis seolah merasukinya kini.

………………

Taeyeon berbalik melihat apakah namja itu masih peduli padanya atau tidak. Ternyata tidak sama sekali. Bahkan Leeteuk langsung melajukan motornya dengan sangat kencang begitu seorang ahjussi menginterupsinya dari belakang. Secara gamblang, namja itu lebih memilih berkelut dengan dunianya sendiri, dunia lamanya dibanding yeojachi…. Salah. Mantan yeojachingunya dan Taeyeon memang tidak berhak ambil pusing.

Hembusan angin yang menerpa menerbangkan rambut pirangnya hingga teracak bergelombang. Taeyeon merasa bahwa angin malam ini tidak cukup ampuh untuk membuat matanya mengering. Tetap saja satu persatu butiran air dari pelupuk matanya menrobos jatuh tanpa bisa Ia tahan. Bersama sesak dalam dadanya, Taeyeon berjanji; Ia harus bisa melupakan orang itu, Leeteuk. Pasti.

Mungkin saja ucapan Tiffany tempo lalu ada benarnya, ‘Semakin dalam perasaanmu maka semakin sakit pula ketika seseorang itu meninggalkanmu’.’Taeyeon mati – matian membantah itu. Dengan berkata bahwa dia manusia dan berhak atas perasaannya sendiri.  Yeah, Ia berhak merasa bahagia, berhak pula merasa sakit.

Taeyeon meremas ujung jaketnya dengan tangan basah dan bergetar, “Akhhhhh….” Yeoja itu menjerit frustasi sambil Ia hentakkan sebelah kakinya. Orang – orang disana menatapnya aneh, masa bodoh ! Sambil berjalan tanpa arah Taeyeon terisak, Ia benar – benar tidak kuat  menahan ini sendiri. Sialnya lagi, Dia tidak bisa melupakan orang itu. Ini terlalu kampungan tapi… tapi dia ingin Leeteuk sekarang ! Titik.

“BRAAAKKKKK ?!… DRRRR!”

Mata semua orang mebelalak. Kegaduhan mulai merayapi suasana yang tadinya diselimuti oleh keteganangan dari satu pertandingan sengit. Sekelompok orang mulai memandang kearah asap abu – abu didekat tikungan. Mereka berteriak heboh sambil menunjuk – nunjuk sesuatu dari kejauhan.

“Selamatkan dia, Woi !”

“Padamkan apinya, cepat !”

“Yak ! Siapa itu ?!”

“Mungkin dia Leeteuk, entahlah…”

“Malang sekali ! Kenapa motornya bisa sampai meledak ?!”

“Bisa saja sabotase!”

“Apa?” Taeyeon menahan langkah, mengurungkan niatnya untuk berlari kencang. Ia berbalik, air mata beserta tetesan peluh berkombinasi menaburi wajahnya.  Tidak tahu harus berkomentar apa mendengar kalimat – kalimat  horror dari orang – orang, Ia pun berlari menuju arah tikungan. Matanya belum juga terlepas dari kobaran api merah dan abu hitam yang bergerumul diaasnya. Bau menyengat bensin terbakar mulai menyeruak dari kejauhan. Taeyeon berusaha menutup hidung sembari mendekat meski percuma. Ia mulai terbatuk seraya matanya menyusuri si pengendara motor malang itu. Tidak jelas dimana, terlalu banyak asap disana membuat  penglihatannya  hilang focus.

“OPPPAAAA….”

Tubuh  Taeyeon berputar mengitari sekitar. Kedua tangannya mengatup diwajah, memanggil – manggil sebuah nama dengan suara serak memilukan. Taeyeon terisak, menyadari bahwa Ia tidak menemukan Leeteuk disana.  Yeoja itu kembali menjerit seperti orang gila. Ia terisak mengacak  rambutnya berkali – kali. Hingga tenaganya menipis, yeoja itu bersimpuh sambil menyaksikan orang – orang  tengah berusaha memadamkan api.

“Yak Ahgassi menyingkir dari situ ! Matamu bisa perih, pernapasanmu bisa terganggu !” peringat seorang ahjussi. Taeyeon menoleh sekilas dengan pandangan kosong. Ia bergeleng, tidak berniat menyingkir barang sejengkal pun.

“Uhukkk… Ukkk…” Asap hitam berpolusi mulai menampakkan reaksinya. Taeyeon terbatuk. Ia memegang lehernya merasa bahwa nafasnya tercekat. Rasa sesak yang menusuk muncul kembali.  Dalam hitungan menit, pandanganya buram. Jalanan menjadi berbayang. Taeyeon berusaha membuka mata. Sekedar tetesan peluh yang terlihat. Yeoja itu kembali terbatuk hebat untuk terakhir kalinya sebelum pandangannya resmi menggelap.

“Taeyeon-ah… Taeyeon-ah buka matamu !!!” Tepukan dipipinya membuat Taeyeon tersadar, Ia merasakan seseorang mendekapnya. Hangat.  Yeoja itu menarik nafas diantara paru – parunya yang sudah terlalu sempit.

“O-p-p-ah…”

…………………

“O-p-p-ah…”

Leeteuk menepuk pipi Taeyeon. Berusaha agar yeoja dalam dekapannya itu tersadar. Ia menilik keadaan sekitar. Kepulan asap hitam masih berkobar dimana – mana dan orang – orang saling bersungut mengenai hal terbaik apa yang seharusnya mereka lakukan saat ini. Leeteuk lantas menggotong tubuh Taeyeon menjauh. Dengan langkah panik namja itu berlari kesana kemari mencari tempat yang aman agar pernapasan Taeyeon bisa membaik.

“Taeyeon bertahanlah ! Sebentar lagi…” Leeteuk menuju kesebuah pohon besar. Mendudukkan dirinya dan Taeyeon disana. Ia kembali menepuk pipi Taeyeon pelan – pelan. Memeriksa detak nadi yeoja itu, kecepatannya jauh diatas normal.

“Hhh..hhhh…” Derai napas Taeyeon terdengar sesak. Leeteuk meraba jaket yang Taeyeon kenakan. Mungkin ada sesuatu disana, misalnya inhaler atau  alat bantu pernapasan lain. Sialnya, namja itu tidak menemukan satu pun.

“Taeyeon-ah, mianhae…”

Leeteuk membaringkan tubuh Taeyeon sambil menatapnya bersalah. Jemarinya mengigil kaku menimbang – nimbang sesuatu. Dengan terpaksa, Leeteuk menunduk yakin  ketika merasa bahwa keadaan begitu mendesaknya. Beberapa detik kemudian Ia mulai mendekatkaan wajahnya kewajah Taeyeon.

Leeteuk mengambil napas dalam – dalam. Ia memejamkan mata. Waktu pun terhenti ketika perlahan tapi pasti Leeteuk mengalirkan napasnya melalui bibir Taeyeon. Bibirnya  dan bibir yeoja itu menyatu membiarkan energy dalam tubuh Taeyeon mengalir bebas. Leeteuk mengangkat kepalannya kemudian membuka bibir Taeyeon menjadi lebih lebar untuk memasok udara yang lebih dari itu.  Leeteuk kian memompa udara membuat tautan bibirnya semakin erat.

Beberapa saat Taeyeon menggeliat. Dagu yeoja itu terangkat keatas. Ia terbatuk berkali – kali sambil memegang dadanya. Leeteuk menjauhkan wajahnya dari wajah Taeyeon. Ia tersenyum tidak sabar melihat Taeyeon mulai membuka mata.

Padagannya berlahan – lahan kian nyata. Taeyeon mempertajam matanya, tersenyum lega, melihat bahwa Leeteuk menatapnya dengan mata berkilat – kilat.

Leeteuk membasuh peluh yang membanjiri wajah Taeyeon dengan selembar sapu tangan. Ia menghela napas lega ketika Taeyeon juga tersenyum kearahnya.

“Taeyeon-ah, Syukurlah…”

“Oppa…” Taeyeon berkata lemah. Leeteuk mengerutkan kening.

“Kenapa aku bisa bernapas?”

“Apa?” Pandangan Leeteuk menerawang. Menyadari bahwa Taeyeon pasti akan marah jika yeoja itu tahu mengenai apa yang sudah dilakukannya.

“Apa yang kau lakukan?”

Tamatlah. Leeteuk terdiam kaku. Peluh membanjiri wajahnya. Ia tertunduk sesal dan bilang,  “Taeng— Mianhae… tadi aku tidak tahu harus melakukan apa saat pernapasanmu … maksudku adalah—“

~Chup~

“Saranghae… Aku senang kau baik – baik saja…” Taeyeon yang kini sudah bangkit dari posisi baring menatapnya dengan senyum mengembang.

~Chu~

Leeteuk mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Taeyeon lembut. Ia merasakan aliran listrik dalam tubuhnya mengalirkan kehangatan. Menenangkan debaran jantung setelah sekian waktu terus berpacu. Leeteuk menatap Taeyeon kembali sambil membelai kedua pipi yeoja itu, “Mianhae… Untuk aku yang tidak pernah mendengarmu…”

Taeyeon tertawa, “Mungkin butuh waktu untuk aku menjinakkanmu Oppa…”

Leeteuk manggut – manggut, “Baiklah, terserahmu…”

Sebenarnya Leeteuk baru saja akan measang wajah kesal dan bilang; ‘Memangnya aku ini peliharaanmu?’ tapi dia urungkan mengingat situasinya tidak tepat.

“Nado… Saranghae Kim Taeyeon. Terimakasih sudah memaafkanku…”

Taeyeon memeluk Leeteuk erat, “Terimakasih juga karena telah mencintaiku selama ini…” Ucapnya tersenyum senang, merasakan aroma tubuh namja dalam dekapannya.  Taeyeon bisa menghitung debaran jantung mereka,  berdetak seirama. Betapa yeoja itu sangat suka mengenai segala apa pun yang terjadi kini, disaksikan oleh satu rembulan beserta kegelapan malam, Ia berharap Tuhan akan memberhentikan… Memberhentikan waktu, untuknya…

………………. THE END ………………

2 thoughts on “FF Taeteuk – Till The End Of Time ~ Part 2 of 2 ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s