[Oneshoot] FF YeFany – There Is A Hero Like You

Image

Title : There Is A Hero Like You

Cast : SNSD  Tiffany, Super Junior Yesung

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance

Rating : PG-13

Leght : Oneshoot (3350 words )

Kosong…

Hati ini terlanjur berlubang, kehilangan rasa kemudian dileburkan oleh racun…

Hampa…

Hati ini dipenuhi oleh lubang yang menganga lebar. Lubang yang menghitam, mengikis nurani…

Dear,

Kosong dan Hampa.

 Musim Gugur di Seoul pagi itu…

Tiffany membuka mata, merasakan udara dingin kota Seoul menghantam tubuhnya pagi ini. Suasana mendung masih bertahan menyelimuti kamarnya, tanpa cahaya sedikit pun. Seperti hari – hari sebelumnya, dia tetap sama. Selalu terbangun dengan dua mata bengkak yang memunculkan rasa panas, menjalarkan rasa perih. Karena itu Ia benci cahaya.

Ketenangan musim gugur dimaknai Tiffany dengan; kurungan dalam sesal.

Tiffany lelah perpergian. Berdiri diluar cuma memaksa dirinya untuk menghitung; ’sudah berapa banyak daun berwarna merah kecoklatan jatuh menimpa tanah?’ Atau kenapa Daun tidak bisa menolak angin untuk menerbangkannya? Apakah daun begitu lemah? Selemah – lemahnya daun bukan berarti mereka pantas ditindas, jatuh ketanah dan diinjak orang. Kalau Tiffany jadi daun, dirinya sudah pasti akan membenci angin…

Seperti kebenciannya pada dirinya  sendiri.

Tiffany belum bergerak, masih terbaring layaknya mayat hidup. Napas yeoja itu masih berhembus teratur namun dadanya terasa sesak. Pikirannya terbang kearah langit – langit kamar. Kosong. Belum ada tanda – tanda sedikit pun bahwa benda dalam kepalanya akan terisi.

Mencoba menggerakkan jemari tapi benda itu membatu, sial tapi sudahlah ! Dengan begitu Tiffany tidak perlu lagi menekadkan diri untuk  mencoba mengangkat tangan atau kakinya.  Semalaman Ia tidur tapi terjaga.  Ia berusaha Memejamkan mata tetapi dua anak sungai terlanjur  keluar dari dalam matanya. Ditengah sepi. Tiffany hanya mencoba meredam tangis, menyisahkan mata yang kian membengkak dan rasa sesak yang belum juga pudar sampai sekarang.

Ini sudah hari apa, Ia tidak tahu.  Bahkan Tiffany sudah melenyapkan diri dari alam nyata sekitar tiga bulan lamanya. Ia lebih memilih untuk  masuk keadalam dunia khayalnya. Meratapi nasib, miris.

Tiffany juga tidak mengerti  kejadian model apa yang kini menimpanya. Yeoja itu malas melakukan apa pun apalagi mencari tahu. Cukup satu yang Ia sadari, motivasi hidupnya sudah terkubur dalam dalam, layaknya Orang yang terusir.

Tiffany tersenyum miris, memikirkan lambang dari kehidupannya kini. Tidak lebih dari kamar yang Ia tempati sekarang. Berantakan, gelap dan lembab. Ambisinya dimasa lalu sudah meluluh lantahkan segalanya. Bermimpi menjadi seorang peyanyi terkenal, menjunjung cita – cita itu diatas awan. Menyingkirkan manusia – manusia yang dianggapnya penghalang.

Temasuk keluarga, sahabatnya dan… Orang itu…

Tiffany terlalu lama bertarung dengan raganya sendiri. Melawan kata hati. Kini dirinya tidak lebih dari sekedar replica manusia dalam lingkup dunia fana.

Mata Tiffany mengerjap. Penglihatannya menangkap bayangan siluet bergerak – gerak dibalik jendela. Tidak lama kemudian suara gedoran pintu terdengar. Tiffany tidak mengacuhkan dan memilih membenamkan terlinganya dibawah bantal tetapi gedoran yang terus menerus diarahkan pada pintunya itu benar – benar membuat telinganya berdengung.

“Tiffany-ah buka pintunya!”  teriak  suara berat itu dengan nada tegas. Tiffany  mengibas selimutnya sekuat tenaga. Hingga kain berbulu hangat dan tebal itu tersibak jatuh menimpa lantai. Ia lalu berjalan malas kearah pintu.

Clekkk… pintu terbuka dan Tiffany nyaris memaki manusia tidak punya sopan santun itu separah mungkin. Nyaris, kalau saja bukan dia… Orang itu, Tiffany bisa melihat wajanya sekarang. Yeoja itu mulai mengerahkan otak bekunya untuk menyusun memori tentang orang itu, mengingat lagi suara khasnya… Seorang namja yang kini berdiri dihadapannya.

Tiffany tidak lantas menyambut. Otaknya masih sibuk mengingat – ingat. Yeah, Yesung… nama orang itu adalah Yesung.

“Kenapa Oppa kema—“

“Menemuimu.” timpalnya cepat lalu menatap Tiffany dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Tiffany bedehem setelah terpaku cukup lama diambang pintu, “Kukira Oppa sibuk dengan… pernikahan…” ucapnya kelu. Ia mendengar suara kecil dan serak keluar dari kerongkonganya.  Terdengar aneh.

Tidak pernah bercakap dengan orang lain dalam waktu lama membuat lehernya dipenuhi lendir. Meski begitu, ini pertama kalinya setelah tiga bulan terakhir, yeoja itu bisa mendengar suaranya sendiri dengan layak.

“Mengenai rencana pernikahan, Itu bukan masalah, Tiff…”

Menurutku itu masalah.’ Tiffany tersenyum miris . Ia lalu menatap tidak peduli kemudian beranjak malas menuju kasurnya  tanpa mempersilahkan seseorang diluar untuk masuk. Yeoja itu lenyap begitu saja tanpa menutup pintu dan membiarkan pintunya  menganga.

“Bangunlah ! “ ujarnya tiba – tiba sudah berdiri disamping Tiffany yang kembali tergolek mengubur dirinya dibalik selimut.  Yesung menarik  lengan Tiffany. Cukup lama waktu yang Ia habiskan agar tubuh yeoja itu duduk tegak sepenuhnya.

Tiffany mengatup – atupkan matanya sambil  menatap kosong orang itu, terlebih kepada dirinya sendiri yang tampak kacau sekarang. Tanpa perlu namja dihadapannya itu berkata apa pun, Tiffany sudah sadar, sesadar – sadarnya. Dirinya amburadul.

 “Tiffany, kau benar – benar tidak waras ! Apa sebenarnya yang kau rencanankan ?!”  cecarnya mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang, menatap tajam.

Hening. Tiffany dan Yesung bersitatap. Tiffany tiba – tiba tertawa keras, membuat Yesung mengerutkan kening.

Tidak ada yang lucu dari kalimat barusan. Kalau Tiffany masih waras, yeoja itu tidak akan tertawa geli sambil terpingkal – pingkal  seperti sekarang ketika seseorang menanyakan hal serius.

“Apa pedulimu Oppa?” Ia berkata remeh seraya meneruskan sisa – sisa tawanya.

Yesung menggenggam kedua pundak Tiffany,”Hentikan ini Tiff…” ujarnya berusaha mengeluarkan suara selembut mungkin. Tiffany berhenti tertawa. Ia menatap Yesung dengan mata memerah.

“Lupakan kejadian itu dan  berhenti menyiksa dirimu…”

Masih saja seperti itu. Tiffany ingat kebiasaan masa lalu ketika Yesung senang sekali menceramahinya tanpa jeda seperti pastour di gereja. Yeoja itu sampai bosan mendengarnya tapi disitulah ia melihat bahwa masih ada seseorang di dunia ini yang menaruh perhatian padanya, bahkan ketika bola bumi mulai terlepas dari genggamannya.

“Tidak… Aku bukanlah orang yang pantas kau pedulikan Oppa.”

Mata Yesung bergerilya menelusuri wajah Tiffany.  Yeoja itu menunduk, berusaha menyembunyikan matanya. Mata ialah jendela hati. Yesung sudah terlalu sering menebak jalan pikiran Tiffany hanya dengan melihat matanya.

Mata Tiffany memejam erat, meminta Yesung untuk berhenti menatapnya, “Jangan lakukan ini.” Pinta Tiffany dengan suaranya yang serak.

Seraya menyingkirkan tangannya, Yesung menghela napas, “Kau memutus kontrakmu?”

Tiffany mendelik. Ia baru akan bertanya dari mana Yesung tahu akan berita itu. Tapi benaknya lebih dulu menjawab. Ya, untuk apa Tiffany mempertanyaan itu ? Bukankah sudah jelas? Berita ini sudah tersebar diseluruh media. Para fans, anti fans, keluarga, sahabatnya atau pihak mana pun sudah lama mendengar kabar menggemparkan itu.

Bukan perkara mudah untuk menjadi idol di Korea. Seseorang harus memiliki bakat serta wajah yang menarik perhatian. Belum lagi proses training yang ketat dan sangat panjang. Seorang trainee harus bersaing habis – habisan dengan trainee lain agar bisa debut menjadi artis. Tidak sampai disitu, setelah menjadi artis, seseorang juga harus pintar – pintar menjaga image, bekerja rodi, hingga tidak bertemu keluarga mereka sampai waktu yang tidak ditentukan.

“Apa yang membuatmu seperti ini ? Apa sudah bosan mempunyai anti-fans yang adalah sahabatmu sendiri?” Cetus Yesung, mengajukan pertanyaan bodoh. Namja itu mestinya  tahu bahwa Tiffany sudah tidak punya sahabat lagi sekarang dan sedang tidak ingin menjadikan mereka sebagai topik perbincangan.

Tiffany menunduk sambil bergeleng. Sesungguhnya Ia menolak apa pun yang ingin Yesung katakan padanya. Tiffany sudah bisa menduga. Hal itu mesti buruk.

“Sahabatmu sendiri membuat situs anti-fans, menjelek – jelekkanmu. Kau merasa bersalah pada keluargamu karena dulu kau anggap mereka menyusahkan karena mereka sering bergantung pada hasil jerih payahmu sebagai seorang penyanyi di dunia keartisan. Kau merindukan mereka, begitu kan?”

Kali ini air mata Tiffany benar – benar mengucur tanpa mampu Ia redam. Yeoja itu menyekanya kasar sampai punggung tangannya basah dan tetes air mata yang semakin deras itu jatuh membanjiri seprai pink miliknya.

 “Kau bicara apa Yesung !!!! Kau bicara apaaa ?!” Tiffany mulai meronta, tidak tahan dengan dorongan sesak dalam dadanya.  Dengan sigap Yesung membenamkan kepala Tiffany kedalam dada bidangnya. Menepuk punggug Tiffany pelan – pelan, membisikkan kalimat lembut agar tercipta benih ketenangan. Yeoja itu terisak, menenggelamkan kepalanya disana, menumpahkan segala keluh – kesah serta amarah, juga mempertaruhkan harga dirinya sendiri. Tiffany, seorang superstar hebat kini hanya mampu tergolek lemah dalam pelukan seseorang.

“Apakah Oppa sudah menghafal isi surat yang kukirimkan padamu ? hikzz,” Isak Tiffany sambil mengingat kekacauan besar yang terlanjur timbul sebagai buah dari sikapnya sendiri.

Yesung tersenyum. Ia mengelus puncak kepala Tiffany, membiarkan yeoja itu meredam tangis dalam dekapannya.

Awal musim gugur ketika daun – daun mulai berjatuhan, Tiffany menulis surat untuk Yesung. Dengan segenap tenaga Tiffany berjalan keluar rumah dengan jaket tebal serta masker yang menutupi wajahnya. Ia berjalan sendiri ke kantor post untuk mengirimkan surat itu pada Yesung di Busan. Ia memakai nama koreanya, Hwang Mi Young agar petugas post disana tidak curiga. Dan itu berhasil, tidak ada yang mengenaliya satu pun.

“Kau mendesakku untuk secepatnya kembali ke Seoul lalu menyuruhku meninggalkan bisnisku di Busan, kau kesepian tanpaku?”

Sangat Tiffany sangat kesepian karena Yesung tidak ada didekatnya. Ketika Tiffany terlalu malu untuk bertemu dengan keluarganya juga ketika  sahabatnya pergi entah kemana, sosok Yesunglah yang pertama kali muncul dalam benaknya. Harapan terakhir dan satu – satunya.

“Oppa kemari, karena itu ?”

Yesung mengangguk, “Hmmm.”

Tiffany mendongak lemah, “Oppa meniggalkan bisnis di Busan ?”

Mendengar itu Yesung lantas tertawa sambil  mengacak rambut Tiffany. Rambut yeoja itu memang tidak sehalus dulu, tetapi sensasi yang Ia rasakan ketika mengelus kepala Tiffany tetaplah sama.

“Tentu saja tidak. Aku berusaha  menyelesaikannya, untukmu.” Ujar Yesung mengeratkan dekapannya  ke tubuh Tiffany,

“Aku tidak ingin lagi  orang – orang menyakitimu Tiffany… Seburuk – buruknya sikapmu, seangkuh – angkuhnya dirimu… hatiku tetap sakit saat orang – orang diluar sana menghinamu.” Ungkapnya menerawang, membuat Tiffany  tidak bisa berhenti  menangis.  Yesung matian – matian membelanya sedangkan Ia sendiri, apa yang sudah dirinya perbuat ?

Dulu ketika dirinya dan Yesung masih menjalin hubungan kasih, Ia sudah  terlalu sering menyia – nyiakan namja itu. Hari – harinya lebih banyak Ia habiskan di ruang latihan, bekerja keras agar bisa debut menjadi seorang penyanyi. Nyaris tidak ada waktu luang untuk sekedar bertemu dengan Yesung tetapi namja itu berusaha mengerti. Hingga suatu ketika hubungan mereka memburuk dan hancur kerena kebodohannya sendiri.

“Yesung Oppa, kau boleh memakiku sekarang … Makilah aku sepuasnya….” Napas Tiffany tersendat oleh isakan yang seolah menjalari tubuhnya.

“Tiff—-“

“Lakukan saja Oppa… Lakukan,… !” Tiffany memukul dada Yesung lemah. Membiarkan suara tepukan ringan mendobrak suasana sepi.

“Tiff aku —-“

“Lakukan Oppa….” Napas Tiffany  makin tersendat, Ia mendongak, memperlihatkan wajahnya yang begitu tersiksa, “Kumohon.”

 Yesung menarik napas dalam. Baik, kalau Tiffany begitu ingin Ia melakukannya, Ia akan lakukan.

 “Kau…” Yesung memejamkan mata  perlahan untuk mengumpulkan segenap keberaniannya. Namja itu menatap kosong sisi dinding, “Saat berhasil didebutkan oleh agensi besar, kau sangat senang sekali. Kau berlari memeluk teman – temanmu… memeluk keluargamu… ibumu… menelponku tengah malam dengan nada menggebu.”

Yesung terdiam sejenak mengambil napas untuk tersenyum. Meski sejatuh  – jatuhnya senyuman itu tidak lebih dari sekedar rasa kecewa, putus asa mendalam.

“Tidak lama albummu habis terjual, beberapa single-mu merajai seluruh chart musik. Lagumu diperdengarkan dimana – mana, kau popular… Tapi semua berbalik merubahmu… Nyaris aku tidak mengenalmu kala itu. Berkali – kali aku meyakinkan diriku sendiri bahwa itu masih kau tapi entah apa yang terjadi hatiku menolak… Mungkin kau sedang buta akan jalan panjang dihadapanmu, antara salah dan benar, dirimu sudah tidak bisa membedakan keduanya.”

Tiffany membiarkan Yesung mengorek lubang itu… Kristal hangat diwajahnya belum juga kering dan Yesung membuat mereka semakin bertambah. Tiffany bergeleng, tidak mempu berkata – kata. Yesung tahu segalanya, apa pun yang bahkan Ia sendiri tidak tahu.

“Keluargamu yang sederhana mulai bertopang. Kebutuhan hidup sehari hari, baik primer, sekunder dan tersier diserahkan kepadamu…Terus menerus seperti itu hingga pada akhirnya kau merasa terbebani. Menurutmu, Uang yang kau dapat, belum juga cukup untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri. Membeli mobil mewah, barang – barang mahal, apartement, pergi ke club malam bersama sahabat artismu kemudian melupakan sahabatmu yang dulu. Sahabat  yang malah kau anggap mereka tidak lebih dari sekumpulan rakyat jelata… Semua kau lakukan tanpa ingat keluargamu yang kau terlantarkan. Mampu membeli mobil mewah tetapi mengaku tidak punya uang ketika sepupumu sakit dan harus dirawat seminggu…”

“Pada akhirnya kau benar – benar tidak punya uang, kau jatuh Tiffany.” Yesung menunduk namun pandangannya masih kosong.

“Penjualan album ketigamu anjlok karena kau tidak bisa menjaga sikap. Menerobos lampu merah dengan keadaan mabuk. Agensimu membayar ganti rugi dan mengambil jalur damai, masalah terselesaikan tetapi setelah itu, kau mesti rela kehilangan simpati para fansmu. Kau hampir saja menghilangkan nyawa orang lain, tetapi dengan tidak tahu malu berbicara didepan media bahwa ; orang yang kau tabraklah yang tidak punya mata… Kemudian media mengabadikan moment itu. Kau benar – benar jatuh setelahnya dan terlanjur kehilangan muka didepan publik.”

“Mian—“

“Agensimu mulai berniat membuangmu, saat itu pula managermu frustasi karena dianggap tidak mampu menngintrol artisnya… dan… dan…” Suara Yesung bergetar, Ia mengepalkan kedua tangannya. Tiffany bisa mendengar detak jantung namja itu yang semakin berdebar tidak karuan. Saat itu pula perasaan Tiffany terpecah. Ia menangis kencang, mengeluarkan suara amarah yang tidak mampu ditahannya.

“Si berengsek itu… Si berengsek sialan itu hampir saja memperk— mem—akhhh…” Yesung berteriak frustasi kemudian bangkit berdiri. Tiffany tersentak dan menatap Yesung dengan tatapan memohon agar namja itu tidak melakukkan hal bodoh.

“Dasar Manager brengsek ! Aku akan membunuhnya sekarang juga !”

Amarah Yesung memuncak. Namja itu langsung berjalan menuju kearah pintu. Tiffany menjerit agar Yesung berhenti tetapi namja itu tidak mendengarkan. Dengan sisa – sisa tenaga Tiffany bangkit, mengejar Yesung dengan langkah terseok – seok.

Tiffany memeluk punggung Yesung dari belakang,  menahannya sebisa mungkin. Ia  menangis tersedu – sedu bercampur dengan sejuta rasa takut mendalam. Tetesan demi tetesan terus saja mengalir, membasahi punggung kemeja biru yang dikenakan namja itu.

“Jangan lakukan… Kumohon…” pinta Tiffany lemah seolah sudah pasrah jika  nantiya Yesung tidak menggubris apa yang Ia ucapkan tadi.

“Kenapa aku tidak boleh melakukannya ?” tanggap Yesung dengan nada dingin. Saat itu pula Tiffany sedikit bernapas lega.

“Tidak, Oppa tidak boleh melakukan itu… Aku… Aku tidak ingin kehilanganmu… Aku tidak ingin tejadi sesuatu…”

Tiffany bergeleng, “Aku sudah tidak punya apa – apa lagi, agensi menuntutku untuk membayar ganti rugi akibat pemutusan kontrak dan aku sudah menjual seluruh harta benda yang kumiliki untuk itu—-“

Yesung berbalik sebelum Tiffany sempat menyelesaikan kalimatnya. Namja itu meraih dua sisi wajah Tiffany lembut, agar yeoja itu bersedia  menatapnya. Menelisik kebenaran disana.

“Benar, aku jatuh miskin… Satu – satunya yang kupunya adalah Kau..” Tiffany berusaha menghindari tatapan Yesung, Ia menahan tangis lalu bilang, “Aku menyesal Oppa… Semuanya kembali seperti semula, tidak ! Bahkan aku lebih buruk sekarang… aku, aku menji—-“

Dekapan lembut kembali mengemuli tubuh Tiffanny yang mengigil. Lagi – lagi Yesung menggiringnya kedalam sana.

“Mianhae—“

“Aku tidak pantas menerima permohonan maaf itu Oppa. Aku… sudah hancur. Tidak ada  orang yang mau menerimaku lagi.”

Yesung menggeleng, “Anio kau … Kau masih punya Aku dan keluargamu Tiff…”

“Aku malu bertemu mereka Oppa…”

“Sttt…” Yesung melepaskan dekapannya kemudian beralih menutup bibir Tiffany dengan telunjuknya, “Tiffany dengarkan Aku.”

Tiffany mendongakkan wajah, Yeoja itu memberanikan diri untuk menatap Yesung pada akhirnya.

“Sehancur – hancurnya seseorang, tempat terbaik untuk kembali adalah keluarga. Mereka pasti akan meyambutmu dengan hangat. Yakinlah, apalagi selama kau ada  niat baik untuk merubah diri, mereka—kedua orang tuamu—pasti akan membimbingmu kejalan yang benar. Camkan… sejahat – jahatnya anak, orang tua tidak akan membenci darah dagingnya sendiri, percayalah.”

“Be-begiitu?”

Dengan tatapan meyakinkan Yesung mengangguk, “Hmmm…”

Setelah kalimat itu tercerna sepenuhnya, dorongan rasa haru membawa angin rindu menyambar wajah Tiffany. Yeoja itu terdiam, merasakan angin sesak memenuhi paru – parunya. Sedikit demi sedikit genangan yang tadinya mengintai keluar dari peraduannya. Tetesan – tetesan itu perlahan membentuk anak sungai, mengalir bersama kesesakan – kesesakan yang sejak tadi memenuhi rongga dadanya.

Kenapa dirinya begitu bodoh ? Selama Ia menjadi artis, orang tuanya memang tidak menuntut hal – hal tertentu diluar kewajaran. Kebutuhan hidup, makanan, tempat tinggal, pakaian… hanya itu. Bahkan mereka tidak menuntut apa – apa sebenarnya. Kewajiban seorang anaklah yang mendorong Tiffany untuk memenuhi itu semua… Yang lama  kelamaan perasaan itu menjadi beban tersendiri. Tiffany sadar, dirinyalah yang tidak bisa bersyukur ketika memiliki harta melimpah. Sering membelanjakan seenaknya, selalu merasa kurang dan kurang hingga imbasnya adalah ketersiksaan dalam menopang biaya hidup keluarga yang sebenarnya jauh lebih murah dibanding perawatan salonnya selama seminggu.

“Menangislah…” ujar Yesung, memilih diam ditempat. Ia melihat Tiffany dari sini, berdiri dihadapannya dengan pijakan rapuh, menangis tersedu menyesali semua.

“Eomma… Mianhae… Appa… Hikzz…”

“Kau harus memperbaiki dirimu. Berhenti menyiksa diri dan kembalilah. Setidaknya tunjukkan dirimu sebagai Tiffany yang dulu. Tiffany yang selalu tersenyum  dengan eye smile cantik diwajahnya. Tiffany yang ramah kepada siapa pun… Menolong orang – orang kesusahan, seperti itulah dirimu.”

“Aku merasa ini—“ Tiffany berkata ragu. Ini sungguh berat baginya. Yeoja itu tidak mampu menghadapi ini sendiri, terlalu banyak yang mencacinya diluar dan itu…

 “Kurasa aku butuh dirimu, Yesung Oppa …” Harap Tiffany memancarkan sinar kegelisahan, “Kau akan tetap disampingku, kan ?” Tatap Tiffany dengan nada memohon.

Yesung terdiam. Cukup lama namja itu merenungkan sesuatu, entah apa. Beberapa saat kemudian segalanya mencelos, “Aniyo Tiff… Aku akan menikah, apa kau lupa?”

~DEG~

“Menikah ?” Gumamnya pelan. Yeah, Tiffany benar – benar pikun sekarang.

Yesung  lalu mengangguk tanpa ada keraguan sedikit pun.

Apakah diluar hujan? Kenapa Tiffany merasa kalau petir baru saja menyambar kepalanya?

Tiffany mencerna sejenak, air matanya tiba – tiba kering. Ia tercabik,  merasa kalau dulu namja itu terlalu mengekangnya. Yesung selalu melarang untuk dirinya  pergi dengan teman – teman artis ke club, melarang dirinya membelanjakan uang  sesuka hati bahkan selalu menyinggung masalah sikap yang namja itu anggap bahwa dirinya berubah. Tiffany tersungut dan entah setan apa, Ia langsung memutuskan hubungan mereka saat itu juga. Tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dan rasa penyesalan itu baru datang sekarang. Ketika namja itu membalas suratnya sebulan lalu dan berkata bahwa Ia akan menikah.

Tiffany sama sekali tidak mau tahu dengan siapa namja itu akan menikah… Tiffany bukan siapa – siapa. Ia hanya benalu yang merepotkan

Tiffany tertawa dengan suara sedikit tersedak,  “Chukae…” katanya girang seraya mengulurkan tangan kearah Yesung. Tiffany berpikir, Yeoja itu pasti beruntung sekali mendapatkan namja seperti Yesung. Tidak seperti dirinya yang harus menanggung derita bertubi – tubi layaknya sekarang.

 Tidak membalas uluran tangan Tiffany, Yesung menyipitkan mata, “Kau tidak marah?” Dibalik mata sipit itu, Tiffany bisa melihat keteduhan dibaliknya juga tersirat ekspresi kekecewaan yang…entahlah.

“Rupanya kau belum mengerti, Tiff…”

Tiffany tertegun ditempat ketika Ia menangkap bahwa—Andai kata pendengaraannya baik – baik saja—- seperti ada nada sesal dalam ucapan Yesung barusan. Tapi sudahlah dirinya juga tidak ingin berharap jauh. Tiffany hanya bergeleng lemah lalu menunduk.

Yesung lalu menarik tangan Tiffany, membawa yeoja itu kedepan cermin. Tiffany melihat wajahnya dari pantulan cermin saat itu. Wajah merah dengan mata bengkak dan sembab, rambut awut -awutan, dan pakaian terlipat – lipat. Tiffany benar – benar jelek.

Karena itu kah Yesung lebih memilih yeoja lain?

“Aku akan menikahi yeoja ini. Yeoja didalam cermin yang berdiri disampingku.” Yesung tersenyum tanpa dosa kemudian menggenggam kedua tangan Tiffany, “Kita akan hadapi ini berdua, aku akan berusaha tinggal disampingmu.”

“Ta- tapi bagaimana dengan pernikahanmu ?”

Yesung tertawa, “Kau pikir yeoja itu siapa?  Kehidupan ini terlalu megenaskan untuk melakukan hal sulit Tiffany-ah. Aku belum bisa melupakanmu…”

Tiffany tersentak. Ia sendiri bingung, harus bahagia atau sedih menerima kenyataan ini. Ia menatap Yesung sekali lagi. Namja itu, Tiffany tidak ingin menyia – nyiakan Yesung untuk kedua kalinya. Cukup sekali rasa penyesalan itu menghadang jalannya, ketika Tiffany dengan seenaknya memutus hubungan mereka dimasa lalu secara sepihak akibat dibutakan oleh dunia glamour selebriti.

“Oppa—“

 “Aku tidak pernah main – main Tiff…” Ujar Yesung meraih wajah Tiffany, menuntun yeoja itu agar mendongak kearahnya, “Saranghae, Stephany Hwang.”

Tiffany membuka bibirnya yang bergetar lalu menjawab, “Na-nado Oppa.”   Ucapnya berusaha menghalau tangis juga teriakan sekaligus. Berbarap bahwa saat itu juga Ia berseru, menjerit kepada dunia bahwa Ia  tidak lagi sendiri. Kini sudah terbuka sedikit ruang  untuk udara mengisi paru – parunya secara manusiawi.

Sesaat kemudian Yesung mengecup bibir Tiffany semakin dalam dan berakhir dengan lumatan lembut.  Perbuatan mendadaknya itu sukses membuat syaraf Tiffany berhenti bekerja. Tiffany mematung, membiarkan Yesung menciumnya sekaligus memenuhi pasokan udara dalam tubuhnya. Menjadi penawar racun, alternative dalam menutup lubang hitam pada diri Tiffany.

Cukup menunggu waktu, menjalani proses menjadi manusia yang layak disebut manusia dengan saling berpegang satu sama lain, bersama seseorang disampingnya…

Gomawo sudah kembali untuk menyadarkanku, Yesung Oppa.’

Dan ketika waktu mengizinkan dirinya untuk memeluk yeoja itu kembali, Yesung ingat secarik kata yang begitu ingin ditulisnya dalam surat balasan untuk Tiffany sebulan lalu, kalimat yang terlalu takut Ia tuliskan sehingga namja itu hanya menyelipkanya ditengah buku…

Aku ingin menjadi… Layaknya Kristal yang tumbuh di hatimu. Lahir dari matamu, mencair di pipimu kemudian tumpah dalam genggamanmu, seseorang yang aku ingin menjadi bagian dari dirinya… Tiffany Hwang

…………………….The End……………………

Aku nggak tahu FF ini bagus apa nggak… Tapi bagaimana pun semoga kalian suka…. hehe😀

Aku cuma berharap kalau masih ada orang yang mau baca FF ini. Gomawo sebelumnya. Saranghae ^^

8 thoughts on “[Oneshoot] FF YeFany – There Is A Hero Like You

  1. HaeNy Choi93 berkata:

    Akhirnya berakhir Happy Ending..
    Suka banget sama ffnya.
    Pertama2 sih sedikit kurang ngerti.. Tiffany kenapa sih?
    Kok kayak orang kehilangan nyawa gitu..
    Ternyata…
    Semua scenenya.. Bagus banget.
    Tata bahasa, penggambaran ceritanya juga pas. Ngga ribet.
    Feelx juga ngena.. Pokoknya Daebak..!! Good Job. Chingu..
    Ditunggu ff selanjutnya.

  2. yefanycouple berkata:

    hUaa Q gak nyangka ternyata TIffany punya masalah kek gituh… Pantes aja dia jd keliatan frustasi T____T
    YeFany ceritanya balikan lagi ya Eon. Yeuuuuuu😀
    Eon so sweet banget. Q juga mau dong di peyuk Yesung Oppa hehehehe…. Yesung Oppa, tetaplah menjadi kristal dalam hati Tiffany Eonnie yachhh kkkk…. lanjut cerita lagi Eon please yang YeFany.

  3. harani berkata:

    yeahh ~ ↖(^▽^)↗
    akhirnya ada ff yefany juga..
    bagus thor ceritanya:)
    buat lagi ff yefany yang chapteran yaa thor🙂

  4. ksunmi1248 berkata:

    Min bagus bangeeeewwtt!!!
    Tau gak min dlu aku hampir setiap hari ngecek blog mimin buat liat ada atau enggaknya ff yefany baru dan baru belakangan ini agak jarang buka gara2 sibuk tapi yeaaaaayyy ada ff baru yang sangaaaaaaattt membayar penantian
    Awalnya sempat ngira tiffany depresi gara2 menyesal udah ninggalin yesung sementara yesung akhirnya nikah ama cewek lain eh ternyata yesung justru pahlawannya
    Ditunggu deh ff ff yefany selanjutmya dan kalau bisa makin panjang dan seru, oh ya mau ngasih satu saran atau lebih kayak masukan gtu, mimin kn gaya menulisny bagus tuh, bagus tu kalo sesekali bikin ff yefany tentang marriage life gtu. Ya apapun temanya pokoknya ditunggu deh ff yefany yg lainnya. Fighting!!!

  5. Selin Ayu Angelina berkata:

    Aku suka banget sama Couple yang satu ini :*
    Ceritanya daebak abiss (y)
    Aku fikir Yeppa mau nikah sama yeoja lain, eeh ternyata yeoja yang dicintainya cuman Fanyeonni🙂
    Ditunggu FF YeFany lainnya min ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s