FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 1 )

ImageAnnyong ^^

Berhubung karena FF satunya udah mau End, udah selesai aku tulis dan tinggal di publish, aku mengeluarkan FF baru sebagai pengganti. Semoga kalian suka…

~Happy Reading~

Title : Marry You, My Best Friend !

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG-16

Dear, Yoona Anakku…

Bagaimana kabarmu di Seoul, Nak ? Appa berharap kau baik – baik saja, semoga juga Donghae dan keluarganya juga dalam keadaan sehat. Bagaimanapun mereka- adalah keluarga  yang mengasuhmu semenjak kau remaja sepeninggal ibumu. Jadi janganlah terlalu merepotkan mereka dengan kelakuanmu yang kekanak- kanakan.

Maafkan Appa yang selama ini sibuk bekerja di Busan dan harus menitipkanmu di Rumah Tuan Lee, sahabat Appa. Mianhae…

Oh ya, dalam waktu dekat ini Appa akan datang ke Seoul. Appa akan datang ke Acara kelulusanmu dari sekolah menengah atas. Selamat anakku ! Kau memang selalu bisa diandalkan.

Sebelumnya Appa ingin minta maaf sekali lagi. Kau harus tahu sesuatu yang penting Nak. Jadi begini, mungkin kau sudah tahu ketika mendiang ibumu sakit kanker darah, Appa sebenarnya meminjam uang dari tuang Shin, teman Appa di Busan. Beberapa kali operasi ibumu dijalankan, tapi apa daya takdir berkata lain. Ibumu meninggal dan tanpa terasa hutang Appa pada Tuan Shin pun bertambah. Sekitar 85  juta Won. Kau tahu Nak? Appa tidak mungkin mempunyai uang sebanyak itu. Penghasilan  Appa sebagai  koki disebuah kedai mie China di Busan sangat tidak mungkin menutupi jumlah nominal yang menggila itu.

Maukah kau menolong Appa? Jika kau bersedia, kau bisa menyetujui pertunangan antara dirimu dengan anak Tuan Shin. Kau pasti sudah mengenalnya, Shin Jung Hee. Appa tidak akan memaksamu, tapi harus kau ingat Nak, nasib Appa sepenuhnya ada ditanganmu.  Kau tahu kan, siapa Tuan Shin itu ? mafia terkenal. Sebenarnya Appa tidak ingin dirimu jatuh ke-tangan para tengik itu, tapi ini adalah jalan satu satunya, Nak.

Appa sangat merasa bersalah karena telah meminjam uang dari mereka dulu. Appa menyesal, kenapa saat itu menerima tawaran pinjamaan Tuan Shin ditengah pikiran Appa yang terus memikirkan keselamatan ibumu?

SeKali lagi, Mianhae Yoona…

Dan satu lagi ! Jangan perlihatkan surat ini pada siapa pun, termasuk  pada Donghae maupun keluarganya. Mereka sudah berusaha keras membantu biaya hidupmu. Appa tahu, mereka sama kekurangannya dengan kita. Jangan merepotkan keluarga mereka terlalu jauh ! Demi Appa.

Dariku, Appa tidak berguna.

Im Jong Won

“Jangan perlihatkan surat ini pada siapa pun termasuk  Donghae?”

Seorang namja  bergumam seraya mengangkat alis tebalnya usai membaca sebuah surat. Jelas, merupakan hal terlarang untuknya dalam membaca surat Yoona, Yeoja dihadapannya yang saat ini masih sibuk melahap beberapa potong pizza. Terpampang jelas dibelakang yeoja itu, plank yang tertulis ‘Italian Restourant’. Salah satu restaurant favorit untuk melampisakan selera makan sang shinksin. Bahkan setelah mengetahui kabar mencengangkan dari Appanya, Ia masih tetap memiliki selera makan yang menggila, “Yoona katanya surat ini tidak boleh diperlihatkan padaku…” Donghae berkata dengan kening berkerut.

“Jeongmal ???” Yoona memberhentikan acara mengunyahnya sejenak. Ia lantas menatap Donghae dengan mata membola. Yoona cepat – cepat merebut surat tersebut dari tangan Donghae. Yeoja itu mengerang,  “Oh, Tidak ! Aku melanggar periantah Appaku.” Ucapnya frustasi.

“Tak usah berlebihan, sayang…” ucap Donghae santai. Yoona menatap tidak terima. “Sayang ? Aku bukan pacarmu !” rengut Yoona. Yeoja itu sebal jika Donghae memanggilnya dengan sebutan Seolah mereka sepasang kekasih. Itu terasa aneh. Sejak kecil dirinya tumbuh bersama Donghae dalam satu  atap. Mereka berdua sudah seperti keluarga. Yoona menghormati Donghae sebagai sahabat yang paling sejati dan mengerti dirinya.

“Jadi ?” Donghae menegaskan topik,  “Bagaimana tindakanmu selanjutnya ? apa kau…”

“Menerima pertunangan itu ? Entahlah…” sambung Yoona memandang lesu kearah beberapa potong Pizza  diatas meja. Sedikit kehilangan selera.

“Dari penuturan Appamu, kurasa mereka orang yang… Eum jahat ? Kau mengenal Keluarga Shin ?” Donghae mengambil surat dari atas meja kemudian membaca kembali sebuah nama didalamnya,”Shin Jung Hee. Kau kenal?”

“Iya…” Yoona menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan, “Shinjung? Ya Tuhan, bagaimana nasibku bila nanti hidup bersama orang itu. Sebenarnya dia adalah musuh bubuyutan-ku saat aku masih tinggal di Busan. Shinjung selalu memalaki uang teman- temanku saat  di sekolah , suka mabuk – mabukan, berjudi dan hal – hal menjijikkan lainnya. Aku pernah menendang perutnya saat… saat… ” Terang Yoona menghela nafas.

“Saat kenapa?” Tanya Donghae ingin tahu.

“Saat… Sudahlah tidak penting !” Yoona menunduk perlahan kemudian menunjukkan wajah paniknya, “Itu sangat konyol jika aku harus menikah dengannya ! Dia pasti akan merasa diatas awan, dia pasti akan belas dendam padaku ! ”

Donghae menatap Yoona dengan penuh rasa Iba. Meski sedikit kekanak- kanakan dan tomboy, Yoona adalah tipe penurut. Sangat jauh ketika melihat penampilannya yang seperti… pencopet di pasar ikan. Sepatu cat putih yang dari hari ke hari  terus ber-value menjadi abu – abu hingga kaos longgar kuning jreng andalannya. Bahkan dibalik rambut panjang yang selalu dikat itu, Donghae tak yakin jika Yoona berkeramas hari ini. Donghae mengerti jika semenjak ditinggal Ummanya, Yoona berubah menjadi yeoja acuh yang cuek dengan penampilan.

Sifat menggebu dalam diri Yoona menghilang seketika, karena surat itu. Yoona mungkin tak tega menolak permintaan Appanya tapi… Masa Iya, Donghae membiarkan Yoona jatuh kelubang Harimau ? Namja itu belum siap kehilangan Yoona. Apa lagi  membiarkan adik kecilnya jatuh ketangan orang jahat. Tidak akan !

Belakangan Donghae berpikir, apa yang bisa dilakukannya untuk Yoona? Sekedar menghiburnya kah?

“Maukah kau menolong Appa? Jika kau bersedia, kau bisa menyetujui pertunangan antara dirimu dengan anak Tuan Shin Lee. Kau pasti sudah mengenalnya, Lee Donghae. Appa tidak akan memaksamu, tapi harus kau ingat Nak, nasib Appa sepenuhnya ada ditanganmu,” Donghae membaca surat itu kembali dengan mengganti  dengan namanya. Yoona tertawa.

“Lee Dong Hae? Ya Ampun, mimpi apa aku menikah denganmu.” Kekehnya, “Eummm… tapi kalau dipikir – pikir, aku lebih memilih menikah dengan orang sepertimu dibandingkan musuhku !” Sambungnya dengan mata berkilat – kilat.  Perlahan Ia tersenyum tapi lama – lama senyumnya pudar, “Tapi bagaimana aku bisa selamat dari rencana gila ini?!”

Donghae balas tersenyum tipis. “Kau harus siapkan senjata pamungkas jika ingin selamat !” Donghae mencondongkan wajahnya.

 “Jadi ? menurutmu apakah aku harus kabur  dari acara pertunangan ? berbuat kurang ajar didepan calon mertua atau…” Yoona berbicara sambil mengingat ingat.

“Kabur ? itu sulit, mengurus tempat dan lain-lain, lalu jika kau berbuat kurang ajar, bukankah mereka malah bertambah senang ? Mereka lebih jahat ! Bayangkan saja, mafia !”

Yoona mengangguk mengerti, “ Baiklah biar kupikirkan cara lain…”

Hening. Yoona ikut  berpikir  menatap  namja dihadapannya serius, “ Ah !” Sanggah yeoja itu memecah suasana. Ia tersenyum miring. Senyum khas evil yang membuat Donghae mengerutkan kening. Namja itu memperkirakan bahwa ketika Yoona sudah tersenyum seperti itu, maka sebuah ide gila baru saja terlintas diotaknya. Ide gila yang dapat saja membuat Donghae stroke mendadak.

“Oppa, Kau sering menonton drama?”

“Eoh?” Donghae menatap penasaran.

“Jadi, biasanya sebuah pernikahan atau pertunangan akan batal karena sang yeoja sedang… Berbadan dua…”

Donghae membulatkan mata. Perasaannya makin tidak karuan. Namja itu lantas meneguk segelas soda disampingnya.

“Belakangan kupikir, “ Yoona mencoondongkan tubuhnya menatap Donghae. Ia memicingkan mata kanan kiri  kemudian berucap pelan, “Donghae Oppa, kau bisa membuatku hamil, bukan ?”

Donghae terbatuk. Ia memegang lehernya yang terasa tercekat, “M-m-o?”

Yoona tertawa jahil, “Tak usah kaget begitu !” ucapnya berusaha memberhentikan tawa, “Atau  aku harus mencari pacar?” sambungnya dengan nada santai. Seolah kalimat sebelum itu hanya sekedar bahasa basi yang dicecarkan oleh  sekumpulan penggosip.

Sungguh, Donghae merasa sedikit geram karena Yoona benar – benar  menganggap  jika ucapan ‘kehamilan’ barusan  hanya sebatas guyonan konyol yang patut ditertawakan. Untunglah namja yang mendengar penuturan menggelikan itu adalah dirinya. Bukan orang lain, Seorang namja mesum misalnya.

“Iya, bagaimana menurutmu dengan mencari pacar?” ulangnya kembali.

“Mencari pacar dalam waktu dekat ini?” Donghae menatap ragu, “Ngomong – ngomong, namja mana  yang tertarik denganmu?”

“Yak !!!” Yoona menatap jengkel. Dalam hati Yoona sangat membenarkan ucapan sahabatnya itu. “Iya juga”, pikirnya lesu.

“Lalu ?” Donghae menyambung.

“Ya sudah, aku pasrah…” Yoona menundukkan wajah.

Donghae menghela nafas penuh keputuasaan. Yoona menggeram frustasi. Yeoja itu mengacak – ngacak rambutnya asal.

“Ah ! Aku tahu…” pekik Donghae Seolah ide brilliant baru saja terlintas diotaknya.

“Apa?”

“Serahkan semua padaku !” Donghae tersenyum bangga penuh rahasia. Dan Yoona sama sekali kehilangan selera untuk mengetahui rencana tersebut.

…………………………

Yoona mengepalkan tangannya yang basah. Tiga detik kemudian, Ia mengusap wajahnya yang memerah penuh kecemasan. Gugup. Hari ini di upacara kelulusan sekolah, harusnya Ia tersenyum bangga, harusnya Ia bisa tertawa riang dengan teman – temannya. Terkecuali sekarang, saat  Appanya muncul di Seoul. Oh, tentu saja Yeoja itu senang karena Appanya bersedia  menghadiri acara kelulusan sekolah. Ia bangga, semua orang bangga. Setiap saat terjadi situasi yang membanggakan. Terkecuali detik ini. Detik dimana riwayat kehidupan Seorang Im Yoona nyaris berakhir.

“Bagaimana Yoona ? apa sudah kau baca surat Appa kemarin ? Mianhae karena Appa tidak mampu berbicara langsung padamu, Appa hanya sanggup menulis sebuah surat.” ucap Tuan Im menatap Yoona sendu.

 “Maukah kau menerima pertunangan itu ?” tanyanya kembali.

 Yoona menunduk, menilik marmer dingin dalam kamarnya. Ia sungguh tak tega menatap wajah Appanya. Wajah yang mungkin tegah terbalut  oleh sekelebat harapan dan permohonan mendalam. Cukup lama berkelut dengan argumen sendiri, yeoja itu lantas mendengak berusaha memantapkan keputusannya.

“Ne… Appa….” Desis Yoona. Tetes demi tetes Kristal bening terjatuh begitu saja. Sangat sakit..

Tuan Im menarik nafas dalam. Penyesalannya bertambah, namun apa mau dikata ? Inilah jalan satu – satunya, atau keluarganya akan dalam bencana besar.

“Baiklah, sekarang juga Appa akan membawamu ke Busan…”

“Mwoooo?!” Yoona membelakkan mata. Secepat itu ?

“Keluarga Shin ingin pertunangan secepatnya dilaksanakan, kalau perlu minggu depan…”

“Minggu depan ? Lalu bagaimana dengan Donghae? Appa dan Umma Lee ? Krystal? Kalau mereka  bertanya perihal keberangkatanku ke Busan,  aku harus jawab apa?!” sergah Yoona sedikit meninggikan suara.

“Bilang saja Appa yang menyuruhmu… menjalankan usaha !”

“Appa ?!” Yoona mendelik kesal. Yeoja itu memejamkan matanya erat, Ia benar- benar sudah jengah. Selama ini  Yoona selalu mencoba menjadi Seorang anak penurut, tak sekalipun melanggar perintah Appanya.  Yoona tak menyangka jika  semua itu nyatanya telah menjadi boomerang tajam disaat  sekarang.

“Terserah Appa ! Aku bahkan sudah  tidak   peduli dengan diriku sendiri , toh Appa juga sudah tidak mempedulikanku lagi, kan?” Ujar Yoona sepelan mungkin, juga tentu saja setajam mungkin. Ia lantas meraih handphonnya kasar, kemudian mengetikkan beberapa pesan.

To : Donghae Oppa

Oppa, Aku ingin keluar ! bersiaplah di depan pintu, sekarang ! Jalankan rencanamu  dengan baik !!!

From : Donghae Oppa

Okay, Fighting ne !!!

“Yoona … Yoona…” Panggil Tuan Im bekali – Kali. Yoona beranjak menuju pintu keluar. Ditariknya kesal gagang pintu putih yang menjulang tinggi itu sekuat tenaga.

Langkah Yoona terhenti saat pintu kamarnya terbuka. Terhenti oleh kenampakan  Donghae yang  berdiri tegak persis dihadapannya. Tangan namja itu disebunyikan dibalik punggung. Yoona memasang wajah harap – harap cemas. Ia tidak pernah tahu rencana Donghae. Yang Ia ketahui sekarang hanyalah wajah Seorang namja paruh baya yang terbelakak mengenaskan  disampingnya.

…………………………………….
“Terserah Appa ! Aku bahkan sudah  tidak   peduli dengan diriku sendiri , toh Appa juga sudah tidak mempedulikanku lagi, kan?”

Donghae mengerutkan kening. Suara Yoona terdengar samar. Baru saja namja itu ingin mempertajam pendengarannya, satu pesan masuk tiba  tiba saja menggetarkan handphonnya. Dari Yoona. Donghae cepat – cepat membaca pesan itu.

Menjalankan rencana. Donghae tidak Yakin jika rencana yang disusunnya akan berhasil. Yeah, semoga saja berhasil ! Semoga pula Yoona tidak jatuh pingsan ketika melihat aksi dari rencana ini.

Clekkk… pintu kamar Yoona yang berdiri kokoh dihadapannya terbuka. Donghae menegakkan badan. Tampak Yoona sudah berdiri dengan tatapan cemas. Tuan Im yang berdiri dibelakangnya seketika kaget. Namja paruh baya itu memasang wajah penuh mistery. Donghae gelagapan.

“Annyong, Errr Aku benar – benar tidak menyangka jika Anda akan membawa Yoona secepat ini. Mianhamnida aku tidak sengaja mendengar, ah tidak ! Sebenarnya aku sengaja.”  Donghae menjeda ucapannya.

“Lalu? Kau sudah tahu Donghae – Ah?” Tuan Im menatap serius.

“Iya, aku tahu tentang pertunangan itu. Alasan dibalik pertunangan itu dan… Perasaan Yoona. Aku tahu Yoona sama sekali tidak suka dengan anak tuan Shin. Tentu saja karena Yoona mencintai orang lain. Sejak kecil Yoona dan orang itu selalu bersama…  “

“Siapa?” desak Tuan Im penasaran.

Donghae menarik nafas dalam, “ Dia adalah seseorang yang berdiri dihadapan Anda dengan segala kesungguhan. Dia, ‘Lee Dong Hae’, Namja yang selalu berdiri disamping Yoona dalam keadaan suka maupun duka, susah maupun senang, sehat maupun sakit,  baik itu  sejak dulu, sekarang maupun selamanya. Maka dari itu, Aku Lee Dong Hae sangat menentang jika sebelah nyawa dalam kehidupanku berpindah raga dalam jiwa orang jahat. Aku akan mencegah siapa pun yang mencoba  menggores sehelai rambut Yoona sekalipun. Segala yang ada dalam diri Yoona adalah segalanya bagiku. Biarkanlah Aku yang tidak tahu diri ini, menjaga Yoona, biakanlah aku yang nyaris sekarat ini melengkapi kehidupannya. Tolong Hidupkan kembali nafasku dengan mebiarkan Yoona mengisi kekosongan hampa dalam kesesakan hati ini. Aku tidak meminta Anda untuk percaya setiap detail kata yang kuucapkan, hanya saja yakinlah jika Yoona akan mendapatkan namja yang baik, jangan bertanya siapa. Karena namja itu adalah aku, Lee Dong Hae.”

Tuan Im tercengang mendengar penuturan namja dihadapannya. Ia tergagap, bingung harus berkata apa. Betul – betul tidak menyangka jika Donghae dan Yoona saling mencintai sejak dulu. Setahu Tuan Im, mereka berdua sudah seperti kakak adik. Selama ini hubungan mereka lebih terlihat seperti sahabat ketimbang sepasang kekasih, semua orang tahu itu termasuk keluarga Donghae.

Seperti Tuan Im, Yoona tidak kalah tercengangnya. Donghae memang tidak pernah mengungkapkan rencananya, tapi Yoona sungguh terkaget setengah hidup dengan penuturan Donghae yang bisa saja membuat semua orang mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, layaknya Romeo dan Juliet yang menolak berpisah dari satu sama lain. Donghae benar – benar memainkan peran itu dengan luwes dan rapih.

“Yoona lihatlah bunga yang kupegang.” Donghae tiba – tiba saja  berlutut menengadah sekuntum bunga mawar merah. Yoona membelakakkan mata. Ini Sungguhan?

“Jika dirimuu masih ingin bersama denganku maka terimalah bunga ini, tapi jika tidak, kau bisa membuang bunga ini.” Sambungngnya memberi pilihan. Yoona menatap Appanya yang seperti tengah berpikir keras. Yeoja itu menggigit bibir bawah.

Yoona masih terdiam menatap Donghae yang Seolah  sedang memberikan isyarat tersirat, ‘Cepat ambil bunganya’. Sungguh, tidak bisakah Donghae sekali saja mengerti perasaan Seorang yeoja jika dihadapkan dengan sitasi seperti ini?

“Bagiamana Nak?” Suara Tuan Im menyadarkan Yoona dari lamunan panjang, “Appa tidak akan memaksamu, tapi tolong kau pikirkan konsekuensi jika dirimuu membatalkan pertunagan dengan keluarga Shin.”

Yoona menghela nafas, ”Baiklah, aku memilih… Donghae.” Jawab Yoona pelan meraih sekuntum bunga mawar yang ditujukan padanya. Yoona sadar jika semua ini hanyalah awal dari kepura – puraan yang sempurna.

Donghae tersenyum seraya bangkit dari posisinya, “Jadi apa konsekuensinya ? Biar aku yang menanggungnya.” Tanya namja itu yakin.

Tuan Im menghela nafas, “Begini, Keluarga Shin itu adalah keluarga kaya raya yang licik. Mereka menginginkan Yoona karena aku… tidak bisa melunasi hutang sekaligus bunga hutang yang terus beratambah, jadi jika mereka tahu bahwa Yoona menolak pertunangan ini maka aku takut Yoona kenapa – napa…”

“Kalau begitu biarkan aku menjaga Yoona…” Donghae menimpali. Yoona mendelik bingung.

“Donghae-Ah, Kau tidak mungkin mengawasi Yoona terus menerus, mereka bisa saja menganggu, bahkan memaksa Yoona untuk menikah… maksudku adalah…”

“Jadi apakah aku harus menikahi Yoona lebih dulu?” potong Donghae. Yoona dan Appanya sesak nafas. Langit terasa seperti akan runtuh sebentar lagi.

“Lalu bagaimana dengan masalah hutang ? Kita tidak punya uang sebanyak itu ?”  panik Yoona.

“Hutang ? Jika berbicara tentang hutang, apa berarti kau  lebih berniat menerima pertunangan itu ?” Donghae memicingkan mata.

“Tidak, bukan maksud… ”

“Kalau begitu menikah saja denganku secepatnya ! Anggaplah sebagai penyelamatan pertama, sebelum mereka datang kemari dan memaksamu menikah !”

Menikah ? Ya ampun, bisa – bisanya Donghae mempermainkan sesuatu yang sakral. Sesuatu hal yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan dan bukan sebuah kedok kepura – puraan.  Yoona berpikir jika Donghae itu… Benar benar tidak waras.

………………………..

“Lee Donghae maukah kau menerima dan mencintai yeoja bernama Im Yoon Ah dalam keadaan suka maupun duka serta sehat maupun sakit ?

“Ya, aku bersedia.”

“Im Yoon Ah, maukah kau menerima namja bernama Lee Donghae dalam keadaan suka maupun duka serta sehat maupun sakit ?

“Ya Aku bersedia.”

Disinilah mereka sekarang. Mengenakan busana pernikahan berupa tuxendo putih bagi mempelai pria serta gaun putih panjang bagi mempelai wanita, tepat didepan altar gereja yang sunyi.  Berdiri dihadapan para keluarga besar. Hanya itu. Umma dan Appa Donghae beserta Krystal, adik Donghae ditambah dengan  Appa Yoona  yang rela menunda keberangkatannya ke Busan demi mengahadiri upacara pernikahan anaknya. Acara yang sempurna. Semua orang percaya jika Donghae dan Yoona saling mencintai sebagai sepasang kekasih. Palsu. Meski  tidak terlalu buruk karena mereka nyatanya  merupakan  sepasang sahabat yang saling menyayangi.

Menyelamatkan Yoona. Itulah alasan yang digenggam Donghae saat ini, hingga acara sacral didepan matanya sekarang dapat terwujud. Terasa aneh saat namja itu memasangkan cincin pernikahan pada jari manis Yoona. Tampak wajah Yoona yang tak kalah datarnya. Yeoja itu balas memasangkan cincin pada jari manis Donghae sambil menatap langit – langit gereja Seolah upacara sacral didepan matanya tidak lebih dari pada sekedar menunggu akhir  pertunjukan komedi membosankan. Sungguh tidak ada sedikitpun rasa gugup yang menghinggap layaknya acara pernikahan sepasang kekasih idaman.

“Sekarang kalian sah menjadi sepasang suami istri. Mempelai pria silahkan mencium mempelai wanita, sebagai symbol bahwa kalian adalah satu.”

Jadi satu ? Demi Tuhan, kata – kata pastor tadi terdengar seperti sebuah guyonan menyebalkan dalam pendengaran Yoona. Yeoja itu yakin jika Donghae pasti akan tertawa terpingkal – pingkal usai  melewati acara lawakan (baca : pernikahan ) ini.

Cup… Donghae mengecup kening Yoona. Yeoja itu merasa sedikit canggung. Ini pertama kalinya Donghae mencium keningnya. Oh, bukan, Donghae terakhir kali mencium kening Yoona, saat yeoja itu genap menginjak usia 5 tahun.

Rangkaian acara didepan altar pun berakhir. Donghae tampak berpeluk gembira dengan anggota keluarganya. Sedangkan Yoona langsung beranjak menemui Apanya yang telah menunggu dibaarisan bangku paling muka.

“Maafkan aku karena tidak bisa memenuhi permintaan Appa… Aku gagal menjadi anak yang bisa membahagiakan orang tua…” ucap Yoona merasa bersalah.

“Tak apa Yoona-ah, mungkin seperti inilah jalanmu.” Tuan Im terdiam kemudian melanjutkan, “Jadilah istri yang baik anakku. Bertahanlah seperti Ibumu dulu. Bertahanlah demi keluargamu apa pun yang terjadi. Appa ingin kau menjadi seSeorang yang bijak dalam mengambil keputusan. Jangan main – main dengan sebuah pernikahan. Upacara ini adalah awal dari masa depanmu, Nak.” Nasehat Tuan Im. Namja paruh baya itu terus menatap anaknya dengan raut permohonan.  Seperti dapat membidik hati terdalam Yoona, yeoja itu merasa jika Appanya sudah curiga… dan.. dan.. Bagaimana pun Tuan Im adalah Appa Yoona. Feeling orang tua lebih kuat dari apa pun.  Yoona sangat percaya itu.

“Berjanjilah pada Appa bahwa kau akan bersungguh – sungguh dengan semua ini.” Mohon Tuan Im kembali. Yoona hanya tersenyum miris dengan hati bagaikan tercabik – cabik.

“Ne… Appa…”

………….

 Pulang ke rumah dengan status baru. Ini tidak ada bedanya dengan hari – hari lain. Tidur di kamar Donghae. Bahkan Yoona setiap hari melakukan itu.  Hampir setiap hari ditengah malam jika Yoona tiba – tiba saja mimpi buruk. Seperti dikejar zombi atau setan tanpa kepala.  Sebisa mungkin Yoona menyambangi kamar Donghae jika dirinya takut tidur sendiri. Yoona sadar harusnya Ia menyambangi kamar Krystal, adik Donghae saja. Tapi Krystal sering mengunci kamarnya dan  anak itu pun susah untuk dibangunkan.

“Bukankah pasangan yang sudah menikah harus tinggal terpisah dengan keluarganya ?”  Yoona mengeratkan selimutnya seraya menatap plafon kamar.

Donghae yang berbaring disampingnya pun terkekeh, “Apa kau menganggap jika kita patut menamakan diri sebagai keluarga kecil ?”

“Keluarga kecil, keluarga cemara, Keluarga baru, keluarga bahagia  atau apa pun itu, aku tidak peduli. Yang pasti, kita berdua sudah terlanjur ‘menikah’. Jangan mengingkari hal itu.  Salahmu, Seenaknya saja  mengajakku menjalankan rencana gila.” Cerocos Yoona tanpa Jeda.

“Rencana itu kan demi menyelamatkanmu, sayang !”

“Sayang ?” Yoona mengerutkan kening tidak terima.

“Wae? Mau bilang jika aku ini bukan pacarmu?!” timpal Donghae. Yoona mendumal dalam hati. Yeoja itu berbalik tubuh membelakangi Donghae. Seperti sangat – sangat tidak berselera dengan ucapan basa – basi Donghae yang terus saja terdengar, Yoona menutup telinganya rapat – rapat dengan tumpukan bantal diatas kepalanya, ‘Bicaralah sepuasnya ! Memangnya Aku peduli.’ acuh Yoona tetap  berbalik memunggungi Donghae sembari memejamkan mata.

“Yak !” Pekik Yoona dengan mata terbelakak. Terasa sesuatu yang hangat tiba – tiba membungkus tubuhnya.

Yoona mencoba berontak saat sepasang lengan melingkar disekeliling pinggangnya. Yeoja itu memukul bahkan mencubit tautan jemari yang melekat diperutnya. Donghae, namja itu tak kunjung melepas balutan tangannya. Yoona menarik nafas seraya menyikut perut namja yang masih memeluknya dari belakang. Donghae dengan lantang  meneriakkan nada ‘ampun’ berkali – kali dan tanpa henti tertawa – tawa Seolah acara ledekannya sukses besar.

“Lepaskan sekarang atau kucekek lehermu !” Yoona memberikan peringatan pelan penuh penekanan.

“Coba saja ? Kalau kau mencekikku, siapa yang akan melindungimu dari kejaran orang  – orang jahat diluar sana.” Bisik Donghae menyapu pendengaran Yoona.

Yoona menggeliat pelan saat nafas Donghae menerbangkan beberapa helai rambutnya, “Aku tidak pernah memintamu untuk melakukannya…” ucapnya dengan nada tidak terima.

“Memang tidak.” Donghae bergumam  setelah terdiam cukup lama, “Tapi…”

Yoona berbalik menghadap wajah Donghae yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Yoona baru saja akan menyanggah, namun pancaran  penuh ketajaman dari bola mata pekat milik Donghae,  membungkam segalanya. Tatapan penuh rahasia dan intens. Yoona menelan ludah, menunggu Donghae meneruskan kalimatnya.

“Kau memang tidak pernah memohon padaku untuk melakukan sesuatu untukmu, tapi aku tahu yang Kau butuhkan sekarang !”

“Eoh?”

“Seorang pelindung… Dan Aku memiilih untuk melindungimu.” Ujar Donghae secara perlahan mengelus puncak kepala Yoona pelan. Membenamkan benda itu kedalam dada bidangnya.  Yoona terdiam, Ia pun tidak mengerti tentang scenario apa yang tengah dijalankan Donghae. Ini hanya rencana kepura – puraan atau, atau sungguhan ?

…………………. TBC…………………

 

34 thoughts on “FF YoonHae – Marry You, My Best Friend ! ( Part 1 )

  1. LoveLy_pyRos berkata:

    apa sbnr’y donghae itu mncintai yoona shngga ide giLa itu muncuL d otak’y…!? LaLu bgaimna sLnjut’y khdupan yoonhae…? dtnggu part sLnjut’y

  2. HaeNy Choi93 berkata:

    Wehehehe…
    FFnya kereeeeeeeeeennn..
    Suka banget sama ide ceritanya..
    Menarik..
    Mm.. Q kok merasa disini Donghae sedikit tertarik ya sama Yoona. Cuma mereka belum saling menyadari aja.
    Q suka karakter mereka berdua. Cocok banget..
    Ditunggu part 2nya ya..
    Semoga aja kejutan tak terduga muncul.. Hehehe /otakyadong.
    Moment YHnya banyakin lagi dong.. /readers banyak mau.
    Hehehee fighting!!

  3. Tya Nengsih berkata:

    mungkin ide gilanya donghae hanya sebuah alasan yang sebenernya donghae sangat mencintai yoona dan ga rela klou yoona harus jadi milik orang lain…….keren ffnya ……
    lanjut thor……

  4. putri_chenexo berkata:

    donghae ternyata kau begitu perhatian skali sma yoona….smga yoona bisa luluh sma donghae.
    author di tunggu ya chapter slnjutnya…..

  5. lulu_paramita berkata:

    Sbenernya aku lagi agak ngak mood bca YH sih Eon, soalnya masih nyesek pas dengar berita kemarin. Tp aku berusaha baca, mungkin mood aku bisa kembali hehehe ^^
    Lanjut ya Eon, penasaran ma nasib YH🙂

  6. vhya elfishyoonaddict pyrotechnic berkata:

    wah daebak.
    Ceritanya unik.
    Aku mau tanya dong.
    Disini usia yoonhae berapa sih?
    Seperti masih belasan tahun, kalau berdasarkan pemikiran donghae di ff ini.

    Next ditunggu.
    Fighting.

    • nanashafiyah berkata:

      Kalo yoong baru lulus skolah, hae sektr 4 thn diatasnya (kek didunia nyata gt deh bayanginnya hehe)
      Donge cma iseng aja chingu sm yoong, jdnya kyk seumuran gt mrk.
      atau mungkn krn umur authornya yg msh belasan aja kali ya #ngekkk><
      Mudh2 an next lbh jelas hehe.

  7. regina berkata:

    bagus ffnya…

    Untung Yoona ga jd nikah ama calon tunangannya, kl bnrn nikah sprt kata Yoona ‘akan jd apa nasibnya dia’
    Donghae hrs bs ngelindungin Yoona, suka ama interaksi YoonHae🙂
    Next part, penasaran ^^

  8. pizza lee berkata:

    aq hrap yg donghae oppa lakukan sedikitnya krena ia bersungguh2..kreennn, gx tau mau ngomong apalagi,cuma pngen nglihat mreka saling jtuh cinta nntinya

  9. lee yuna berkata:

    kya’nya donghae emang punya rasa sma yoona,smpk2 berani mengambil keputusan senekat itu,nice ff ☺☺☺

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s