FF Taeteuk – Till The End Of Time ~ Part 1 of 2 ~

ImageAnnyong Haseyo para Adorable and Readers-deul, sudah lama aku menghilang dari dunia perwordpresan(?) akhirnya hari ini bisa ngepost juga hehehe ^^. Ngomong – ngomong soal couple diatas (nunjuk – nunjuk poster) Kalian masih cinta kan sama mereka? #eaaaa

Sudah lama ngak buat FF jadi kangen sama Taeteuk… Liat – liat lagi moment di laptop jadi histeris sendiri, apa deh?

Semoga kalian suka sama FF ini yah… Terutama yang udah kangen banget – banget sama TaeTeuk kkkk😀

~Happy Reading ~

Title : Till The End Of Time

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance

Category : General

Cast : SNSD Taeyeon, Super Junior Leeteuk

Other Cast : SNSD Tiffany, SUJU Eunhyuk

Part 1

‘Kapan kau menghindarinya ? Dia itu berbahaya bagimu, Taeyeonnie.’

Taeyeon menerawang kalimat yang pernah diucapkan oleh sahabatnya, Tiffany. Ia tahu persis kehawatiran Tiffany yang sungguh beralasan. Taeyeon tidak bisa meninggalkan Leeteuk tapi, hal utama yang harus dilakukannya adalah… adalah itu…

………Till The End Of Time………

Asap  halus menyesakkan berlalu lalang membentuk kepulan. Kepulan – kepulan menyesakkan itu perlahan mengombinasikan dirinya dengan helaian udara segar pagi hari. Angin yang tadinya berhembus sepoi menenangkan kini telah berganti dengan aroma zat kimia mematikan.

Pagi ditengah taman, Taeyeon duduk diatas sebuah bangku lusuh. Pemandangan yang indah baginya. Persepsi yang berlaku bukan ketika burung – burung berkicau menyambut hari, bukan ketika jejeran bunga warna – warni bermekaran menyambut mentari, bukan pula karena tetesan embun dedaunan yang menyegarkan penglihatan.

Tapi karena Dia…  Leeteuk. Namja yang sekarang duduk disampingnya.  Namja penyebab pencemaran udara yang selalu memulai aktivitas pagi harinya dengan menghirup beberapa puntung rokok. Benda terkutuk yang mengandung  zat – zat  racun seperti tembakau, nikotin atau berbagai senyawa berbahaya lainnya, benar – benar membuat Taeyeon harus menahan nafas.

“Oppa ! Kemarin Kau sudah berjanji padaku, kan?!” Taeyeon bangkit sambil menatap Leeteuk tajam. Lengkingan yang amat menyentakkan tapi namja itu malah melengos tidak peduli sementara tangaannya begitu asyik memelintir puntungan rokok.

Lagi dan lagi awan – awan gelap yang dihembuskan Leeteuk dari dalam mulutnya kembali berkeliaran bebas. Bau menyengat pembakaran tembakau  mulai terhirup. Taeyeon terbatuk berkali – kali, membuat Leeteuk  memasang wajah terganggu. Namja itu beralih membuang setengah  dari sisa puntungan rokok yang tersemat disela jemarinya.

“Kalau terganggu menyingkir saja dulu.” sungut Leeteuk menajamkan pendangannya kearah yeoja yang masih terbatuk.

Taeyeon menepuk – nepuk dadanya kemudian mengatur napas, “Bukan begitu Oppa. Aku masih sanggup bertahan disampingmu dengan atau tanpa asap – asap itu… Aku tahu jika kau lebih mencintai benda – benda itu. Memuja mereka lebih dari apa saja didunia ini, termasuk  aku— yeojachingumu sekali pun.”

Leeteuk yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Taeyeon hanya terkekeh kaku, “Lalu?”

“Aku ingin kau segera menepati janjimu untuk keluar dari keanggotaan balap motor.”

Merasa bahwa ada yang salah dengan ucapan Taeyeon, Leeteuk mendelik, “Aku sudah bilang kalau aku akan keluar bulan depan. Aku harus bersikap professional dan menyelesaikan beberapa pertunjukan lagi. Saat round musim panas berakhir, aku pasti akan menepati janji.”

“Bagaimana jika dalam waktu kurang dari satu bulan terjadi sesuatu… Kau beratraksi menantang maut dengan motormu demi kesenangan orang – orang. Carilah pekerjaan lain asal jangan ada lagi atraksi – atraksi berbahaya . Ini benar – benar mempertaruhkan nyawa—“

“Kau menghawatirkanku?” Timpal Leeteuk lalu menyambung curiga, “Atau sedang meyumpahi?”

“Apa?”

Wajah Taeyeon berubah pucat. Keringatnya menetes. Leeteuk segera bangkit lalu meraih pundak mungil didepannya dengan tatapan yakin,“Tenanglah Taeng, tidak akan terjadi apa – apa. Aku akan langsung menemuimu saat pertandingan berakhir.”

“Menemuiku ? Bertemu diamana? Di kamar mayat, iyakah?!”

“Taeng !“

Nada keterkejutan Leeteuk membuat Taeyeon semakin kesal. Ia menghempaskan kedua telapak tangan hangat dibahunya keras – keras. Taeyeon menatap sengit. Ia menarik napas, berupaya untuk menahan tanggul asing dipelupuk matanya. Ia pun menyeru, “Mungkin tidak seharusnya Aku menahanmu… Oppa masih ingin hidup dudunia atau dialam lain juga bukan urusanku !”

“Apa maksud—-“

“Kita putus !”

Hening. Setelah penegasan itu tidak ada lagi suara – suara penimpalan. Hanya hempasan angin kosong menerpa telinga, berlalu lalang menusuk kulit. Leeteuk merasa bahwa langit akan runtuh seiring dengan tatapan Taeyeon. Tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya…

“Kau serius?”

“Menurutmu ini guyonan?” Taeyeon berkata lirih, “Aku ingin menghentikan semua ini, terbebas darimu… Kau tahu?  Saat seperti inilah yang kunantikan dari dulu. Saat dimana aku mempunyai alasan untuk menjauhkan diri darimu.”

Untuk terakhir kali Taeyeon tersenyum singkat, “Jadi kuharap kau bisa tenang, tanpaku…” ujarnya berbalik meninggalkan Leeteuk yang masih membatu mencerna kalimat barusan. Beberapa detik namja itu tersadar. Leeteuk berlari mengejar Taeyeon yang lekas berlari tanpa arah. Sial ketika namja itu benar – benar kehilangan jejaknya.

Beberapa kali menyebut nama ‘Kim Taeyeon’, Leeteuk berjalan gontai dengan pandangan menerawang. Ia tidak ingin menjadi cengeng tapi Taeyeon meruntuhkan keyakinan itu. Leeteuk merasakan sesak pada dadanya, ini lebih sakit ketimbang dihantam oleh berpuluh ton batu. Terlebih saat mengingat pengakuan Taeyeon beberapa menit lalu. Sebelum yeoja itu pergi…

Puluhan kendaraan berlalu lalang namun terlihat kosong dalam penglihatannya. Disaat puluhan orang bergerumul dipinggir jalan—- entah melihat apa—- Leeteuk hanya menengok sebentar. Namja itu memasang wajah datar hingga beberapa saat Ia berhenti melangkah ketika pikirannya disadarkan oleh sesuatu.

“Ya Tuhan ! Siapa gadis malang ini?”

“Dia pingsan?!”

Mendengar kata ‘gadis malang’ membuat pikiran Leeteuk terbayangi oleh wajah Taeyeon . Tiba – tiba benaknya dihinggapi oleh firasat terselubung yang mengganjal. Bisikan halus menyambar tiba – tiba dan menyeru bahwa si gadis malang itu adalah…

“Taeyeon ?!” Leeteuk memekik begitu dia melihat sweater biru donker milik yeoja itu. Ia beralih menerobos kerumunan dengan tubuh bergetar. Tidak salah lagi, dia Taeyeon. Sedang terkapar sesak napas. Tubuhnya  tersenggal – senggal seperti paru – parunya menyempit. Lebih dari itu !

“Cepat panggil ambulance !” serunya pada orang – orang sekitar.

Leeteuk mengangkat tengkuk Taeyeon kepangkuannya. Sayup – sayup pandangan Taeyeon terbuka sedikit, manatap kearah namja yang sedang berkeringat dingin sambil mengguncang pelan wajahnya.

“Ophh-“ Taeyeon mencoba untuk berbicara. Leeteuk  bergeleng mengisyaratkan agar Taeyeon berhenti bicara. Namja itu menatap genangan dalam mata Taeyeon. Genangan yang coba dia halau tapi berhasil menerobos keluar.  Sungguh, Leeteuk tidak tahan melihat kondisi Taeyeon yang seperti ini. Dirinya ingin sekali melihat lengkungan halus di bibir taeyeon, tidak dengan sorotan keputusasaan dalam matanya.   Ingin mendengarkan  suara merdu yeoja itu bukan lagi dengan suara kesakitan atau ringisan memilukan seperti tadi.

Beberapa saat berlalu, suara sirine ambulance dari kajauhan kian menyeruak. Mereka akhirnya tiba. Beberapa orang petugas mulai mengangkat tubuh Taeyeon yang kini benar – benar pingsan. Leeteuk mengikuti dari belakang dengan langkah panik. Detik ini juga namja itu benar – benar percaya pada perkataan Tiffany—-sahabat Taeyeon—- kemarin.

Hanya dia. Penyebab dari semakin buruknya kondisi Taeyeon… Adalah dirinya sendiri.

………………………

Hawa pengap dalam area lorong rumah sakit terasa kian kental. Sepi. Hanya ada suara terkanan angin beserta tepakan sol sepatu yang sedari tadi mondar – mandir dalam pendengaran. Sambil mengacak rambut pirangnya, Leeteuk mendongakkan wajah berharap bahwa ia dapat melihat wajah Taeyeon didalam sana. Ia berdecak dan mendukkan tubuhnya diatas bangku panjang sambil membasuh wajah dengan kedua telapakan tangannya kasar.

Tidak lama setelah itu Tiffany datang dengan masih menggunakan seragam lengkap dengan name tag karyawan—masih terkalung dilehernya. Ia mendudukkan diri disamping Leeteuk seraya menatap kesal. Leeteuk tahu bahwa Tiffany pasti membencinya… Karena dia, Taeyeon jadi seperti ini ! Tiffany pasti berpikir begitu.

Tiffany menoleh memandang Leeteuk dengan mata sayu yang tajam, “Aku sudah bilang padamu tentang keadaan Taeyeon kemarin ! Belum percaya juga? Taeyeon menderita asma yang mungkin saja semakin akut. Kau tahu kan?”

“Aku percaya Tiffany, sangat percaya itu !” Leeteuk menimpali lalu balik menatap tajam, “Aku juga sudah menyuruh Taeyeon untuk menyingkir… Aku merokok didepannya untuk membuktikan kata – katamu , dia terbatuk tapi malah berkata bahwa dirinya baik – baik saja—“

“Itu bohong !”

“Aku tahu… Aku ingin dia jujur padaku,  Aku tidak suka jika Taeyeon menutup – nutupinya dariku.” Leeteuk meyuarakan isi hatinya dengan lantang. Berlarut – larut Ia berusaha menormalkan helaan napas.

Sesaat kemudian suasana lumayan tenang, Tiffany  menghela napas sebagai bentuk tanggapan awal. Lantas Ia menunduk seraya menurunkan nada bicaranya,   “Dia tidak ingin membuatmu hawatir…”

Menatap Tiffany tidak percaya, Leeteuk membatu. Apakah Taeyeon begitu naïf hingga tidak bersedia dihawatirkan? Taeyeon terlalu polos atau tidak peduli dengan diri sendiri? Jika masih ingin hidup,  kenapa Taeyeon tidak menjauhi dirinya dari sejak dulu saja?

“Aku ingin menghentikan semua ini, terbebas darimu… Kau tahu?  Saat seperti inilah yang kunantikan dari dulu. Saat dimana aku mempunyai alasan untuk menjauhkan diri darimu.”

Kalimat Taeyeon tiba – tiba saja berputar ulang. Mungkinkah ? Mungkinkah karena Taeyeon belum punya cukup alasan?

Leeteuk meremas kepalan tangannya yang berkeringat. Dia tidak bisa marah, bukan tidak bisa tapi tidak pantas. Karena dirinyalah Taeyeon menjadi seperti ini. Dua tahun hubungannya dengan Taeyeon tanpa tahu tentang kondisi yeoja itu sebenarnya membuat penyesalan dalam dirinya kian mencuat.  Dua tahun ini Leeteuk sering meminta Taeyeon untuk hadir dalam atraksi balapan motornya. Dua tahun ini Leeteuk selalu menghirup asap didepan Taeyeon, Selalu menggiring Taeyeon untuk berjalan ditengah debu dan polusi…

‘Taeyeon menderita asma…’

“Sejak kapan ?”

“Sejak kecil saat… Sejak Taeyeon tinggal di rumah, halmeoni sering memperlakukannya bak seorang putri. Aku iri padanya, sungguh. Belakangan kuketahui bahwa anak yatim piatu itu menderita penyakit…  ” Tiffany menjawab dengan pandangan kosong. Leeteuk mengangguk, “Dan Aku semakin memperparahnya !”

Tidak ada suara- suara lagi, mereka sama – sama terdiam. Tiffany takut. Taeyeon pasti akan marah mengingat Ia memberitahukan rahasianya pada Leeteuk. Namun disisi lain Tiffany takut akan kondisi Taeyeon jika terus – terusan bersanding dengan seorang penggila tembakau  dan asap kendaraan.

“Kau tidak tahu apa – apa. Kurasa bahwa sahabatkulah yang bodoh dalam hal ini. Dia terlalu menganggapmu berharga hingga tidak ingin jika kau menghawatirkannya. Taeyeon takut jika kau akan menjauhinya setelah mengetahui tentang penyakit asma yang Ia derita.” Tiffany menerawang dengan mata berkaca – kaca, “Kuyakin kalau Ia tidak akan sanggup melepasmu, meski pada kenyataannya, kau bisa saja membunuhnya pelan pelan. Dasar yeoja kepala batu !”

Leeteuk tercenung. Tiffany berkata sendiri seperti itu. Taeyeon tidak sanggup melepasnya lalu seorang Park Jung Su pun sama. Lebih dari itu malah. Dirinya harus bertahan hidup maka Ia harus meyakinkan Taeyeon sekali lagi. Leeteuk tidak ingin kehilangan nafasnya. Begitulah lambang dari keberhargaan Taeyeon didunia ini. Leeteuk rela melakukan apa pun. Demi Taeyeon meski itu harus mengorbankan hidupnya sendiri.

Maka detik ini juga Ia akan melakukannya—menyanggupi permintaan yeoja itu.

……………

“Aku ingin mengundurkan diri.”

Namja paruh baya berkumis dengan dahi terlipat – lipat itu mengeraskan rahang. Ia menggeretakkan giginya menatap tajam seorang namja pirang dihadapannya. Seseorang yang  juga merangkap anggota Motorcycle stunt  dibawah kepemimpinannya itu baru saja  memancing  hal yang membuat  desiran darahnya berhenti sementara. Tuan Kim Nam In, memasang wajah intimidasi dan berkata dengan nada pelan menggertak, “Kau butuh uang ? kalau butuh uang bilang saja Leeteuk-ssi.”

“Ini bukan soal uang…” Leeteuk menatap kosong, “Ini hanya permintaan seseorang… Aku merasa bersalah padanya….”

Tuan Kim menarik sudut bibirrnya sebelah, “Kenapa kau jadi cengeng ?! Kau itu namja atau bukan, Huh?!”

Leeteuk memandang nanar dengan sedikit senyuman, “ Terserah Tuan mau menganggapku namja atau apa, aku tidak peduli.”

Droggg… Tuan Kim memukul meja membuat namja dihadapannya tersentak, “Kau tahu? Pertunjukan dan juga pertandingan dengan club lain sudah menunggu! Banyak uang yang sudah kita hamburkan untuk itu—-“

“Uang ? Apa yang kau maksud uang taruhan ? !  Kalau atraksi yang kulakukan lebih baik dari club lain kau mendapatkan uang banyak, begitu ? !” Leeteuk menarik napas sejenak, “ Asal kau tahu selama ini aku bergabung disini karena aku menyukai pekerjaan ini… Mendapat bayaran yang lumayan darimu mungkin juga penting tapi… Taeyeon lebih penting. Aku tidak ingin lagi menyeret Taeyeon  untuk melihatku ke arena balap… Dia—-”

“Penyakit asma- nya semakin parah?” Tuan Kim menimpali tiba – tiba membuat Leeteuk mendelik.

“D-darimana anda tahu ?”

Dia menarik napas, “Kau itu selalu dibawah pengawasanku Leeteuk-ssi, pemain andalan di club ini… Kau pasti bisa berpikir betapa tidak relanya aku melepas buruan emas sepertimu…”

“Apa?”

“Kau butuh uang berapa ?” Tuan Kim tersenyum simpul seraya memajukan wajah, “Taeyeon, kondisinya pasti semakin buruk. Yeojachingumu itu membutuhkan pengobatan dan pengobatan membutuhkan biaya.”

“Tuan…”

“Hubungi aku kalau bersedia lalu  datanglah untuk mengikuti pertandingan malam ini.”

“Pertandingan ?” Leeteuk bertanya heran. Setahunya pertandingan baru dimulai seminggu lagi.

Tuan Kim terkekeh, “ Kau ini seperti anak baru saja !” Dia melanjutkan, “ Maksudku pertandingan taruhan dengan club lain. Seperti biasa kau harus menunjukkan atraksi memukau, Tahu kan? Dimana ada pertandingan Motorcycle stunt, disitu ada uang. Dan jalan satu – satunya untuk mendapatkan uang adalah memenagkan pertandingannya.”

Leeteuk terdiam. Wajahnya berkeringat menatap takut  takut kearah Namja paruh baya  yang saat ini berjalan menuju pintu keluar. Perlahan punggung namja itu menjauh. Leeteuk menunduk, mengepalkan tangannya. Apakah Ia harus menerima tawaran itu? Ia sangat membutuhkan uang sementara tabungannya kian menipis. Namja itu tahu bahwa dirinya harus bertanding malam ini guna mendapatkan uang untuk pengobatan Tayeon…

“Yoboseo, aku terima tawaranmu…”

“Benarkah ? Kalau begitu datanglah nanti malam. Jangan lupa berdoa karena ini bukan pertandingan resmi…”

Leeteuk mematikan sambungan teleponnya sepihak. Tangannya bergetar menyadari bahwa dirinya sudah mealanggar suatu tekad untuk menyanggupi permintaan Taeyeon. Menghentikan pertunjukan balap. Apa daya, kebaikan lebih mendorong dirinya untuk mengikuti pertandingan dan Leeteuk tidak bisa membayangkan betapa marah juga cemasnya Taeyeon  jika mengetahui hal ini….

Sambil menghela napas, Leeteuk memejemakan mata, membiarkan benaknya mengukir wajah seseorang, “Mian Taeyeonnie…”

………………..

Dinding putih terpampang disekeliling penglihatan. Hingga fajar menyingsing, dinding itu masih putih layaknya tadi pagi ditempat ini, tempat dimana ia harus merasakan aroma obat – obatan. Memusingkan. Leeteuk benci untuk berada dalam ruangannya sekarang. Ruangan yang dipenuhi oleh benda – benda rumit juga suara – suara aneh dari mesin pendeteksi detak jantung.  Terlalu memilukan terlebih ada Taeyeon dihadapannya, terbaring menutup mata dengan selang infus juga alat bantu pernapasan. Alat alat yang menurut Leeteuk menyedihkan tapi nyatanya  kini dari sanalah hidup Taeyeon bergantung.

Hanya mampu memandangi wajah mengatup seorang yeoja kekanakan yang sekarang kehilangan anerginya. Bagaikan malaikat, dia begitu damai dengan nafas teratur. Leeteuk menatap wajah itu lamat. Menyusuri sejengkal kenangan dari setiap lekukan yang telah terukir disana. Dahi, mata, alis, hidung, bibir, dagu… Lantas namja itu tersenyum simpul, dieratkannya selimut hingga mengemuli tubuh Taeyeon dengan sempurna.

“Taeng, kau harus cepat sembuh, bogoshippoyo…” Leeteuk mengelus dahi Taeyeon, menyingkirkan  poni halus yang menutupi wajahnya.  Ia menarik nafas. Biasanya Taeyeon akan memasang wajah cemberut apabila Leeteuk berani menyentuh poni kebanggaannya. Tapi Ia tidak menemukan ekspresi itu sekarang.

Leeteuk meraih tangan Taeyeon, digenggamnya tangan pucat itu erat lalu dihirupnya perlahan, “Kau harus sadar dan aku akan mengajakmu ketaman bermain… Menonoton pertunjukan ballet kesukaanmu juga akan menaktirmu ice cream stroberi dan akan—-“

Drttt….

Getaran ponsel dari saku celananya membuyarkan semua. Leeteuk melepaskan tautan tangannya dengan wajah tidak rela.  Ia menghela nafas seraya berdecak.

From : Kim Nam In

Jangan lupakan pertandingan nanti malam… Berkumpul di komplek  pinggiran Chung Nam pukul sepuluh malam. Pesiapkan semua dan jangan sampai terlambat.

Hampir saja Leeteuk membanting ponselnya kalau saja Ia tidak ingat kalau ada Taeyeon disini, ditempat umum seperti rumah sakit, saura nyamuk berterbangan sudah cukup membuat ribut. Namja itu memegang dadanya, berdegum keras. Paru – parunya menyempit tatkala rasa bersalah akan janjinya pada Taeyeon tiba – tiba menghantui. Ia mengacak rambutnya dan menunduk mengatur napas.

“Oppa…”

Leeteuk terkesiap saat sebuah suara samar – samar memanggil. Ia mendongak mendapati Taeyeon  dengan mata setengah terbuka berpaling padanya. Lengkungan halus pada bibir namja itu bertambah sumringah ketika Taeyeon mencoba lagi membuka mulut dan mengeluarkan suara serak meski sedikit terbata, “Oppa… Aku kenapa?”

“Taeyeon -ah, kau bisa bicara? Aku menghawatirnmu… Kau tidak apa – apa sekarang tenanglah…” Leeteuk kembali menggenggam Tangan Taeyeon seraya menatap penuh harap.

“Apa tadi aku… Bukankah tadi pagi…”

“Kau pingsan dijalan…” Leeteuk memberhentikan kalimatnya lalu terdiam lama. Hening menyelimuti mereka sedangkan Leeteuk belum berkata apa – apa. Ia masih membiarkan matanya bersitatap dengan Taeyeon seolah mengerti pikiran masing – masing, “Kau pingsan karena… Penyakit asmamu kam—“

“Andwae Oppa, aku baik – baik saja ! Percaya—-”

“Taeng ! Aku belum selesai bicara !” Leeteuk menimpali balik. Seketika Taeyeon diam. Leeteuk menghela napas sambil menatap bersalah  kemudian berkata lagi dengan intonasi rendah, “Dengarkan aku sebentar, ya?”

Taeyeon melengoskan wajah menatap plofon. Matanya memerah, tidak lama genangan kristal yang sedari tadi mengintai akhirnya menerobos. Leeteuk tahu akan penyakit yang Ia derita. Sudah jelas ! Sudah jelas betapa bodohnya Ia sampai pingsan dijalan dan membiarkan kesempatan untuk membuka kedoknya…

“Taeyeon-ah… Kau harus jaga kesehatanmu. Dokter menyuruhmu untuk istirahat yang cukup.” Katanya dengan senyum, terlihat dipaksakan.  Wajahnya tampak resah dan itu kentara sekali meski Taeyeon belum bisa melihat jelas. Kendati Leeteuk menutupinya dengan topeng sekali pun, namja itu tidak akan berhasil mengibulinya.

“Hanya itu yang kau katakan Oppa…” Taeyeon menahan tangisnya sebisa mungkin. Ia menatap Leeteuk serius. Namja itu terdiam bingung. Taeyeon langsung terkekeh sambil mengagguk – nggakkun seolah memikirkan sesuatu, “Setelah ini kau akan meninggalkanku ? Baiklah, Aku tahu kalau  penyakitku ini sangat bertentangan dengan kebiasaanmu yang mencintai asap—-”

Leeteuk menutup bibir Taeyeon dengan telunjukkanya kemudian berujar setengah memohon, “Aku lebih mencintaimu Taeyeon-ah. Tolong jangan bicara lagi karena aku tidak akan meninggalkanmu, sedikitpun…”

Taeyeon menggigit bibir bawah ketika pelupuk matanya terasa panas. Ia berpaling menyembunyikan mata sembabnya dari pandangan Leeeteuk, sebatas mendengarkan namja itu berkata, “Aku bisa menahannya… asap juga  balap – balapan juga semua yang mengganggumu aku akan meninggalkannya. Asal kau berjanji akan terus disampingku…”

“Teuk—“

Leeteuk mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Taeyeon yang terbaring diranjangnya. “Jadi jangan berpikir kalau akau akan meninggalkanmu begitu pun sebaliknya. Dan mulai detik ini kuharap jika kau bisa terbuka padaku, jangan menutup – nutupi apa pun…”

“Mianhae…” lirih Taeyeon membiarkan dua anak sungai membasuh wajahnya. Ia menghela napas, membiarkan kehangatan lain membalut tubuhnya. Taeyeon tidak  peduli, tentang keadaannya sekalipun. Ia hanya peduli bahwa ada Leeteuk disampingnya.

Taeyeon berusaha terjaga  ketika tahu bahwa Leeteuk  kembali menatapnya. Menatap dengan senyum tulus, bukan senyum terpaksa layaknya tadi. Taeyeon menggerak – gerakkan tangan, mengangkat benda itu keatas, menyentuh pelan wajah namja dihadapannya. Taeyeon tersenyum, sadar bahwa Leeteuk baik – baik saja , tidak ada luka—akibat terjatuh dari motor—seperti yang selalu Ia hawatirkan.

“Aku tidak suka disini, aku mau pulang…” Mohon Taeyeon.

Leeteuk mencubit hidung Taeyeon, tersenyum lalu bilang, “Kalau begitu cepatlah baikan, agar Dokter membolehkanmu pulang. Aku bisa memintanya agar kau dirawat jalan. Kalau bisa.”

Taeyeon memasang wajah cemberut. Ia berpikir sebentar lalu meringis, “Kalau begitu temani aku sampai aku tertidur.  Kalau perlu sampai pagi besok, Oppa harus ada disampingku… ya?? Yaya?”

“Ck. Permintaan macam apa itu?” Leeteuk tidak terima.

“Aku berjanji akan sehat kalau permintaanku terkabul.” Taeyeon mengedip – edipkan matanya sambil tersenyum hingga bibirnya tipis, setipis mungkin.

“Yaya… baiklah…” Leeteuk berkata setelah memasang wajah berpikir keras. Melihat Taeyeon tersenyum senang membuat dirinya juga ikut tersenyum meski dalam hati, Leeteuk ragu apakah dirinya bisa memenuhi janji itu atau… atau tidak.

………………………

Jalan dipinggir kota terpayungi bentangan gelap yang diramaikan oleh lengkingan  mesin  bermotor. Dari kejauhan suara bising makin menyeruak, melambung suara bising lainnya yang membelah jalan secepat kilat. Benturan – benturan teng terdengar samar – samar, membuat penonton dipinggir jalan berteriak mengemukakan segala hal. Segala tentang protes atau dukungan – dukungan rancu, takut apabila diujung acara illegal itu, uang mereka melayang.

Keringat membanjiri wajah seseorang, seperti terlihat bahwa orang itu baru saja kabur dari rumah sakit, terlihat dari baju pasien yang melekat ditubuhnya. Sudah lama Yeoja itu berlari setelah ia terbangun tengah malam akibat seorang teman mengabarinya perihal diadakannya taruhan balap.  Mendongak keujung jalan dan berharap bahwa Ia bisa menemukan sosok yang dihawatirkannya. Sosok yang juga ikut meregang nyawa dengan motornya disepanjang jalan sunyi.   Dia, Taeyeon tidak bisa membayangkan apabila motor yang dikendarai orang itu, Leeteuk akan terpelanting jatuh, terpeleset atau hal lain akibat melajukan motornya dengan kecepatan jauh datas rata – rata.

“Leeteuk Oppa…” teriaknya dari balik mata berair. Pita suaranya terasa tercekat dan syaraf dikepalanya seperti akan putus.  Yeoja itu memegang dadanya, menahan sakit akibat deguman keras juga sesak yang kian kental.

Taeyeon menahan napas. Suara decitan ban terdengar, sebuah motor putih berputar – putar persis didepannya. Beserta suara gesekan, beling – beling kaca terpecah nyaring dan berhamburan didepan jalan… “BRAAAAKKK…” teng beroda dua itu akhirnya berhenti terguling akibat membentur trotoar.

Helm sang pengendara terlepas. Ceceran darah mengucur menambah daftar panjang benda – benda memilukan yang tergeletak diaspal. Taeyeon masih belum mempercayai penglihatannya. Ini tidak mungkin, Tuhan ! Pengendara tadi bukan Leeteuk. Itu bohong !

Taeyeon maju beberapa langkah, perlahan menggerakan kakinya yang gemetaran. Yeoja itu bergeleng, berusaha menepis bahwa orang itu bukan Leeteuk. Orang yang terbaring mengenaskan dipinggir jalan, bukan namja itu.

“Leeteuk-ssi…”

“Dia masih bernapas ?”

Suara dari berbagai arah mengalihkan pandangan Taeyeon. Leeteuk ? Kata mereka dia Leeteuk ? masih bernapas?

“Andwae… Andwe…” Taeyeon berdesis ketakutan. Anak sungai dari pelupuk matanya menerobos. Tubuhnya memanas, syarafnya lumpuh. Ia tidak percaya ini. Leeteuk… Leeteuk dia sudah…

Taeyeon menerobos kerumunan orang orang. Dipangkunya  kepala seseorang yang sudah berlumuran darah.

“Leeteuk Oppa bertahanlah, Kumohon !” isak Taeyeon menatap Leeteuk nanar.

“Ta-eng… Aku s-sangat senang,”

Taeyeon bergeleng tidak percaya, “Oppa…”

“Se-setidaknya aku tahu ba-bagaima-na sakitnya di-diri-mu  ketika mena-han sesak, ba-bagaima-na perih-nya ke-ketika alat pernapasanmu me-menyem-pit, ternyata se-seperti ini.”

“se-la-ma-t ti-nggal.”

“ANDWAEEEE !!!!”

……………..

“ANDWAEEEE !!!!”

Taeyeon terbangun dari alam bawah sadarnya. Ia terduduk seketika dengan keringat membaluti tubuhnya. Ia melihat kesekeliling. Kosong. Raut panik mendominasi wajahnya. Ia menoleh kanan kiri, mencari keberadaan seseorang yang sudah berjanji akan tetap bersamanya sampai pagi ini.  Tidak ada. Dia sudah tidak ada disampingnya.

Memegang kepalanya, Taeyeon berusaha menormalkan detak jantung, berharap bahwa mimpi buruk yang membangunkannya pagi ini bisa sirna. Mimpi buruk tentang Leeteuk dan balapan liar diluar sana.  Yeah, itu Cuma mimpi… ‘Hanya mimpi, tenganglah.’

“Taeyeonnie…” Teriakan nyaring seorang yeoja membuat Ia mendongak. Tiffany.

“Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baikkah?” tanyanya dengan keceriaan yang tidak pudar sedikitpun. Tiffany meletakkan dua kantong plastik ditangannya keatas meja kemudian menatap dengan senyum mengembang. Taeyeon mengernyit aneh. Ia selalu iri; bagaimana temannya yang satu ini selalu tampak gembira.

“Aku baru saja  berbicara dengan Dokter, katanya kau boleh dirawat jalan dengan syarat ; dirimu harus pandai jaga kesehatan. Debu dan asap bertebaran diluar sa—“ Tiffany menghentikan kalimatnya. Ada raut tidak enak tergambar disana. Sejenak Ia berkata lagi, “Maksduku—“

“Tiff…” Taeyeon bergumam pelan ketika Tiffany  duduk gelisah dikursi samping ranjangnya. Tiffany menopang dagu sambil mengangkat sebelah alis.

Sedikit ragu, Taeyeon mulai bertanya, “Apa kau melihat Leeteuk Oppa ?”

“Eoh ? Bukankah semalam dia menjagamu?!”

Taeyeon tersenyum samar, “Iya, memang benar tapi pagi ini dia tidak ada…”

“Mwo ?” Tiffany berpikir sejenak lalu kembali mengukir senyum, “Mungkin saja dia ada urusan mendadak.” terkanya mengangkat bahu lalu bertanya, “Wae ? Apa kau sangat mencemaskannya?”

“Ani…” Taeyeon menekuk wajah, Ia bergeleng kecil.

Tiffany menghela napas, “Taeng…”

“Ya?”

“Jangan biarkan perasaanmu semakin dalam…” Kali ini ekspresi Tiffany berubah serius, “Semakin dalam perasaanmu maka semakin sakit pula ketika seseorang itu meninggalkanmu.”

Taeyeon membatu. Seolah ada yang janggal dari kalimat Tiffany. Mengenai perasaan, Taeyeon tidak bisa mengukur sejauh mana kapasitas maksimal dalam mencintai seseorang. Dan kalau bisa yeoja itu ingin sekali  menolak  rasa cinta dalam dirinya agar  Ia tidak perlu lagi merasakan bagaimana itu sakit. Tapi dunia memperlihatkan bahwa dia manusia… Dan Itu cukup manusiawi untuk manusia  mengenal cinta. Apa yang salah?

………TBC………

2 thoughts on “FF Taeteuk – Till The End Of Time ~ Part 1 of 2 ~

  1. rizki407 berkata:

    ishh.. keren thor♥♥
    kirain teuk oppa meninggal beneran
    huft~ FF nya keren, melupakan sejenak potek ttg baekyeon -_-
    miss taeteuk~ FF nya daebak! ‘-‘)b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s