FF YoonHae – Princess Cliche 4

Image

Title : Princess Cliche

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Comedy Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : Super Junior Siwon, Eunhyuk, SNSD Sooyoung

Poster : G.Lin @ http://theartlockers.wordpress.com/

Happy Reading ^^

Part 4

“Sedang menelpon siapa?”

Hampir saja ponsel Yoona menubruki lantai kalau saja benda itu tidak hinggap dipangkuannya. Eunhyuk meliukkan alis seraya  menyipitkan mata. Ia sedikit curiga bahwa Yoona mengadu kepada orang  tertentu. Setahunya, yeoja itu tidak memiliki banyak teman satu – satunya yang ia ketahui adalah, Sooyoung.

“Yoona…” Eunhyuk memanggil seraya meletakkan segelas orange juice diatas meja, Yoona menoleh kearahnya. Perlahan Eunhyuk duduk lalu dengan seringaian aneh Ia memajukan wajahnya  membuat Yoona gemetaran.

“M-mau apa kau?!” Yoona memejamkan matanya takut – takut sambil menyilangkan kedua lengannya dipundak.

Eunhyuk diam saja. Ia terus memperhatikan Yoona yang mulai menatapnya mau – tidak mau. Wajah yeoja itu berkeringat membuatnya semakin terlihat menggemaskan.

Yoona menelan ludah. Tenggorokannya begitu kering dan nafasnya tersenggal. Matanya sontak mengarah pada benda beling diatas meja. Minuman tadi. Segelas orange juice langsung diteguknya dalam hitungan detik. Dahaganya menghilang. Sejenak Yoona merasa ada ruang untuk bernafas tapi lama kelamaan perasaan itu mulai berubah. Beralih menjadi sensasi memusingkan. Yoona mengedip – edipan matanya karena tiba – tiba saja penglihatannya menjadi rabun. Dan… Kenapa sekarang dunia jadi terbalik?

“Yoona bisakah kau jawab pertanyaanku?” Eunhyuk tertawa prihatin kepada yeoja disampingnya. Yeoja yang tubuhnya sudah limbung keberbagai arah. Yeoja itu, Yoona mulai meracau tidak karuan. Perlahan Ia terhuyung kedepan membuat wajahnya tersamarkan oleh rambut hitam tergerai miliknya sendiri.

Eunhyuk menyematkan rambut Yoona disamping telinga. Dalam keadaan setengah sadar atau katakan saja sudah mabuk—karena obat yang dimasukkan Eunhyuk pada minuman Yoona tadi—- membuat Yoona tidak bisa menolaknya sama sekali.

Tapi Eunhyuk bukan pengecut yang pasti memanfaatkan situasi emas seperti ini. Karena sungguh namja itu masih punya otak cerdas.

“Bisa kau jelaskan hal – hal yang amat tidak kau sukai?” tanya Eunhyuk memulai.

Yoona  menoleh dengan pandangan remang – remang, Ia tertawa seperti orang gila, “Heyyy kau itu bicara apa siiihhh?” ucapnya  berintonasi nasik turun.

Eunhyuk menopang kepala kemuidan berkata, “Misalnya tentang guru disekolah, Park sosaengnim ?”

“Yah itu !” Yoona menaikkan telunjuknya sementara tubuhnya semakin melangsai keberbagai arah, “Park Sosaengnim… Dia itu  Eummm kurasa dia tidak pernah sikat gigi karena mulutnya berbau gas… terus… Aku tahu kalau dia menangis di kamar mandi karena baru saja diputuskan oleh pacarnya… Pikir saja ! dia itukan nenek sihir… namja waras mana yang tahan dengannya? Hahahaha…”  Tawanya semakin membludak. Eunhyuk menatap alat perekam ditangannya. Ia berpikir bahwa obat pemabuk tadi benar – benar ampuh, layaknya menghipnotis seseorang !

“Lalu sekarang apa kau punya rahasia?” Eunhyuk memasang wajah ingin tahu sedang Yoona mengerutkan kening. Matanya berputar – putar tanpa henti kemudian tertawa lagi,“ Hah? Rahasia ?“

Eunhyuk memajukan wajah tidak sabar. Ia melihat Yoona yang tengah fokus mendelik keatas plafon. Rahasia Yoona. Dari dulu Ia ingin tahu itu !

Pertanyaan demi pertanyaan Ia layangkan kepada Yoona yang masih berada dalam pengaruh obat bius. Suara Yoona layaknya racauan aneh, membuat kening Eunhyuk mengerut dan tangannya mengepal. Kepalan tangan namja itu semakin memanas saat nyatanya jawaban Yoona membuat Ia kian naik darah.  Kali ini kesabaran Eunhyuk menipis. Ia merubah tekad bahwa Yoona harus menjadi miliknya malam ini.

“Kau pernah dicium seorang namja ?”

Yoona menggeleng limbung, “Tidak.”

“Kalau begitu biarkan aku menjadi namja yang melakukan itu malam ini.” Eunhyuk berbisik seraya tersenyum miring. Wajahnya mendekat hingga Ia bisa memandangi wajah Yoona lebih intens.

‘PRANGGG’

……………….

Dari luar tampak beberapa orang hilir mudik dari sebuah tempat. Tempat gelap yang luarnya dipenuhi oleh lampu warna warni menusuk penglihatan. Donghae menyipitkan mata sambil menahan napas. Organ – organ dalam perutnya tiba – tiba saja bergejolak akibat bau anyir alcohol.  Donghae cuma berharap agar ia bisa masuk ketempat itu dengan keadaan tidak-menyemburkan-sesuatu-dari-dalam-mulutnya karena sejak tadi Ia menderita penasaran akut akibat keberadaan Yoona ditempat seperti ini. Donghae ingin tahu Yoona datang kesini karena mengikuti temannya, atas kemauannya sendiri atau karena motif tertentu. Seperti film yang Ia tonton kemarin, tentang seorang yeoja yang rela bekerja sampingan sebagai XXX untuk melayani lelaki hidung belang hanya demi menambah uang jajan -____0

Mengendap – endap, Donghae berjalan dari sudut – kesudut. Namja itu menyapu pandangannya perlahan disekitar ruang sesak bernuansa remang – remang yang ternyata tidak terlalu luas. Sambil mendongak pikirannya mulai mengidentifikasi wajah orang  – orang. Dia Yoona atau bukan. Satu persatu hingga matanya menangkap sosok yang mirip Yoona. Mulai dari gerakan tubuh, warna kulit putih susu serta rambut panjang sebahu, meski dari belakang tapi Donghae yakin kalau itu Yoona. Terlihat yeoja itu sedang berada didepan meja bar,  duduk terhuyung. Dia mabuk? Dan tunggu ! ada seorang namja disampingnya. Namja itu… seperti familiar?

Tanpa berpikir lagi Donghae melangkah kearah dua orang yang entah kenapa membuat tubuhnya memanas.

“Kau menyukaiku?” Dari jarak dua langkah dibelakang namja yang menemani Yoona, Donghae memberhentikan niatnya untuk menampakkan diri. Suara namja itu, dia Eunhyuk? Donghae kenal suara itu karena mereka sekelas. Tidak salah lagi.

“Kau… hahaha mana mungkin ! Kau itu memang pintar  tapi sangat sangat menyebalkan… Aku bukan korban drama  TV seperti kata Sooyoung ck…”

“Sedikit pun ?” Tanya Eunhyuk lagi. Donghae terus memperhatikan sambil bertanya – tanya sendiri; kenapa tegang sekali rasanya?

Yoona menggeleng. Kedua bola matanya berputar – putar seakan bola bumi sedang terombang – ambing sekarang. Yoona mabuk tapi Donghae tidak menemukan  segelas pun minuman beralkohol diatas meja, tidak satu pun kecuali segelas orange juice yang sisa setengah… Dan mungkinkah?

“Tidak sampai kapan pun kurasa, karena aku sudah menemukan seseorang. Seseorang yang lebih baik darimu…”

“Siapa?”

“Eummm….” Yoona menunjukkan raut berpikir sambil tertawa – tawa, “Dia, Lee Dong Hae..”

Hampir saja Donghae tersedak oleh napasnya sendiri. Ia sedikit terbatuk sambil  memegang tenggorokannya agar tidak mengeluarkan suara yang lebih lagi.

“Kau pernah dicium seorang namja ?”

Donghae terbelakak saat pertanyaan itu keluar dari mulut Eunhyuk. Sekilas niatan buruk dari teman satu kelasnya itu  mulai tercium.

“Kalau begitu biarkan aku menjadi namja yang melakukan itu malam ini.” Eunhyuk mendekatkan wajahnya. Terlihat Yoona mematung dengan rambut awut – awutan. Eunhyuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Yoona perlahan.

PRANGG…

Ekspresi keterkejutan begitu kentara diwajah Eunhyuk saat bersitatap dengan seseorang yang tiba –  tiba saja menarik kerah bajunya kuat – kuat.  Mata Eunhyuk membola melihat wajah penuh emosi seseorang dihadapannya. Tubuhnya bergetar kaku sampai  lengannya menyenggol segelas orange juice diatas meja hingga pecah. Suara pecahan yang tertelan oleh kebisingan rupanya tidak cukup ampuh untuk menahan beberapa pasang mata menatap bertanya – tanya. Pandangan orang – orang sudah tertuju kearah mereka namun cengraman tangan Donghae dilehernya tidak juga terlepas.

“Yak lepaskan, orang – orang melihat kita !” ujar Eunhyuk terbata – bata sambil memegang lehernya.

“Apa yang sudah kau lakukan pada Yoona ?!” Gertak Donghae membuat Eunhyuk semakin ketakutan, “Aku tidak melakukan apa pun Sungguh…”

Donghae menarik nafas jengah. Eunhyuk pasti melakukan sesuatu karena tidak mungkin Yoona bisa mabuk seperti itu, “Bicara yang jelas !” tanyanya satu kali lagi dan semakin memperkuat cengkramannya.

“Ba-baik… Aku me-memasukkan obat kedala…”

“Sial.” Umpat Donghae menghempaskan tubuh Eunhyuk kebelakang hingga terjatuh dari kursi.  Eunhyuk memegang bokongnya seraya meringis kesakitan. Donghae hanya melirik temannya itu sekilas lalu mengarahkan perhatiannya pada yeoja yang sudah terkapar diatas meja.

Namja itu menghela napas, “Mau sampai kapan terus menyusahkanku, Im Yoona.”

…………………..

Menyusuri malam gelap, Donghae berjalan terpatah – patah sambil mengencangkan sebuah gendongan dipunggungnya. Bersusah – susah Ia berusaha mengatur nafas agar energinya tidak terkuras habis. Memiliki tubuh kurus rupanya tidak menjamin bahwa seseorang memiliki massa tubuh yang ringan. Lihat saja Yoona. Baru beberapa meter berjalan, Donghae merasa kalau punggungnya akan patah sebentar lagi. Menggendong Yoona sama saja dengan menggendong karung semen seberat seratus kilo gram.

“Wahhh anginnn… Aku terbang yeyeyyyy…” Tiba – tiba saja Yoona berteriak kegirangan sambil melambai – lambaikan tangannya. Tubuh Yeoja itu bergoyang – goyang membuat tubuh Donghhae oleng ditambah rambut Yoona yang berterbangan kewajahnya, membuat Ia kehilangan fokus.

“Yoona… Jangan bergerak, tenanglah sedikit !” Pinta Donghae sambil menyeimbangkan tubuhnya. Tidak ada respon apa pun kecuali tubuh Yoona yang tiba – tiba saja memeluk lehernya erat.

“Ah sepertinya aku mengenalmu… Suaramu seperti… “

Yoona memajukan wajah, menelusupkan benda itu  kedalam bahu seseorang yang menggendongnya  Donghae menggeliat ketika Yoona mulai memperhatikannya dari samping. Dapat Ia rasakan derai nafas Yoona menyapu wajahnya lembut. Seketika muncul gejolak aneh dalam dadanya. Donghae manarik nafas hendak menormalkan detak jantungnya. Ia melengos tidak berani bertemu mata dengan Yoona meski yeoja itu sedang dalam kondisi setengah sadar.

“Kau Donghae Sunbae?!” Ucapnya takut – takut.  Yoona semakin memajukan wajahnya, beralih menyembulkan kepalanya kedalam bahu Donghae sebelah kanan.

“Bukan, kau salah orang…”

“Oh Iya kau benar… Mana mungkin dia kemari, apalagi menggendongku. Dia itukan anak baik – baik, tidak mungkin keluyuran malam – malam kan… Lagi pula aku sudah terlalu banyak merepotkan sunbae itu….”

,”Lalu?”  Donghae balik bertanya, bingung sendiri  mengenai tanggapan yang diucapkannya barusan.

“Aku sudah merepotkannya dua kali. Kalau yang ketiga kalinya terjadi, dia akan menciumku…”

Apa- apaan dia? Hampir saja Donghae terjengkal akibat tertawaan geli diperutnya. Namja itu menarik nafas guna  menahan suaranya yang hampir membludak keluar. Kalau saja Donghae tidak ingat bahwa ada Yoona diatas punggungnya, Ia pasti sudah terpingkal sekarang. Dia menganggapnya serius? Donghae bahkan  lupa  adegan itu. Adegan  kekanak – kanakan yang dilakoninya tempo  lalu untuk menakut – nakuti Yoona.

“Bagaimana kalau aku benar – benar dia…” Donghae bergumam.

“Apa?!” Yoona memekik kaget. Donghae ikut kaget, tidak menyangka kalau Yoona mendengar gumanmannya barusan.

“Cepat turunkan akuuuu !” teriak Yoona tidak jelas sambil memukul – mukul punggung Donghae hingga namja itu memekik kesakitan.

“Aku mau pulang…. Hyaaa…” Tangisan Yoona semakin menjadi. Tubuh Donghae oleng akibat pukulan Yoona yang diarahkan kekepalanya.  Berkali – kali Ia menyeimbangkan tubuh, berusaha agar tidak terjatuh tapi Yoona terus saja meronta – ronta.

“Yoon… hentikan ! Kita bisa jat…”

Dukkk ^%^%^

Suara kedebug keras menyeruak disepanjang jalan sunyi. Donghae tahu persis bagaimana kerasnya aspal yang menggesek kulitnya. Ia meleguh kesakitan sambil memegang lutunya. Perlahan namja itu menggerakkan sikutnya yang ngilu guna menopang tubuh untuk bangkit, ia meringis. Ini lebih sakit dari memar yang Ia rasakan saat bermain basket.

Donghae menggelengkan kepalanya yang pening. Namja itu melayangkan pandangannya  kesamping dan seketika Ia terbelakak.

“Yoona-ya !”  paniknya ketika melihat Yoona sudah  tergeletak tidak sadarkan diri disampingnya.  Donghae meraih tengkuk Yoona seraya membaringkan wajah itu kepangkuannya. Donghae menepuk pipi Yoona  pelan – pelan tapi percuma. Tidak ada respon apa pun kecuali racauan aneh.

“Eomma… Eommaa… “

Donghae mendesah putus asa. Ia mendongak melihat sekitar tapi tidak ada seorang pun disana.  Perempatan jalan seperti ini memang sudah sepi kalau tengah malam. Dan lagi, Tempat pemberhentian taxi juga masih jauh, karena sialnya club barusan itu  berlokasi dipinggiran (Eunhyuk benar – benar tidak modal -___-)  lalu Bagaimana ini?

“Eomma… Dingiinnn.” Racau Yoona kembali. Donghae baru memperhatikan kalau bibir Yoona bergetar menggigil.  Tubuhnya semakin putih pucat bahkan kuku- kukunya sudah mendekati keunguan.  Donghae menghela nafas, membuat kepulan asap disekitarnya.

“Yoona sadarlah…” Donghae mengguncang – guncang tubuh Yoona keras – keras, “Yoona, jangan pingsan dulu ! Kumohon mengertilah keadaanku sekarang !!!” teriaknya frustasi. Namja itu mengacak – acak rambutnya asal, menatap langit gelap diatas sana. Tidak ada pilihan lain.

Berbekal sedikit kekuatan, Donghae menggotong tubuh Yoona diatas punggungnya. Sekuat tenaga Ia mempercepat langkah menuju sisi jalan. Semakin cepat lebih baik, Donghae tidak harus menahan sakit ditubuhnya lebih lama.

Perlahan Donghae menyandarkan tubuh Yoona pada tembok pinggir jalan. Yeoja itu masih saja meracau memanggil – manggil Eommanya. Ia harus menghubungi Sooyoung lalu  Eooma Yoona tapi… Donghae meraba kantong celananya. Kosong ! Dan itu berarti Ia lupa membawa ponsel.  Ini akibat dari terlalu panik ketika Yoona menelpon tadi atau apa?

Pandangan Donghae beralih kearah Yoona. Donghae memperhatikan Sweater Yoona. Tidak ada apa – apa disana ! Baik Ponsel atau apa pun, Sial !  mungkin ia lupa mengambil tas Yoona saat di club tadi.

“Yoona bertahanlah…” Pintanya semakin cemas dengan tubuh Yoona yang semakin mengigil. Donghae menyentuh kening Yoona. Dingin. Yeoja itu  benar – benar kedinginan.

“Mianhae…”  Yoona bersuara Lemah. Donghae langsung menatapnya penuh harap.

“Yoona katakanlah sesuatu, katakan kalau dirimu ba…” Belum sempat Donghae menyelesaikan kalimatnya, kepala Yoona sudah ambruk dibahunya. Kali ini yeoja itu benar – benar tumbang. Donghae tidak berharap apa – apa lagi.  Dipandanginya  wajah Yoona dari samping.  Wajah terlelap,  bernapas dibahunya. Wajah lembut seperti malaikat.  Hanya saja  dia, ‘sedikit’ menyebalkan.

……………

Yoona mengendus kala menghirup udara lembab  yang berbau tajam. Sayup – sayup  Ia mengerjapkan mata. Gelap dan hening, pikirnya usai mencerna keadaan sekitar tempat ia berada.  Bersamaan dengan itu dirasakannya hembusan udara hangat yang menyapu pipinya lembut, seperti derai napas. Yoona mendelik, ditangkapnya wajah seseorang, sedang terlelap. Yoona menelan ludah dan baru sadar betul akan  bagaimana posisinya sekarang. Bersandar dibahu seseorang namja, tertidur  di… dimana ini?!

Kalang kabut Yoona menegapkan badan. Ia lantas mengecek apa yang kurang dari… Tubuhnya, mungkin itu sweater. T-shirt, sapu tangan atau apa pun itu. Setidaknya yeoja itu memastikan bahwa dirinya masih mengenakan pakaian lengkap. Seketika Yoona mengerutkan kening. Bukan akibat sehelai kain yang lenyap dari tubuhnya melainkan karena sebuah benda mencurigakan, sebuah jaket kulit. Yoona mengamati lekat- lekat benda berwarna coklat tua yang mengemulinya. Pantas kalau Ia merasa hangat meski cuaca selembab ini, ternyata… Tapi jaket siapa ini? Yoona mengingat kejadian terakhir kali semenjak kesadarannya hilang. Bertemu Eunhyuk di club, Ia ketakutan dan… menghubungi seseorang… Seseorang ?

Pandangan Yoona tertuju kepada namja disampingnya. Wajah itu, Ia tahu persis. Wajah yang begitu damai, terlelap tanpa beban seperti tidak ada masalah sekarang. Entah, Yoona merasa tenang, menyadari bahwa sosok Donghae lah yang kini disampingnya. Hingga titik tersudut Yoona  mengamati  wajah namja itu.  Wajah putih bersih sampai Yoona tidak menemukan setitik pun noda. Senyum Yoona mengembang,  mengikuti  untaian napas kecil yang keluar masuk dari dalam sana, paru – paru, tenggorokan dan hidungnya… Semua sempurna, tanpa celah.

“Euughh…”  Donghae menggeliat membuat Yoona tersentak. Seketika  Yoona bergerak panik. Ia memejamkan mata kembali, menundukkan kepalanya seolah  tertidur.

“Yoona…” Suara itu memanggil pelan – pelan. Apa namja itu tahu kalau dirinya  sudah sadar ? Demi ! Yoona merasakan dadanya berdetak tidak karuan. Ia bersikekeuh memejamkan matanya, seolah bisa pingsan kalau Ia membuka mata dan mendapati Donghae sekarang.

Berpikir keras Yoona bertanya sendiri; kapan Ia harus buka mata. Mungkin saat ini juga kerena tidak terdengar lagi suara Donghae sejak tadi. Bisa jadi namja itu berbalik mengira bahwa dirinya belum sadar.

Yoona menghitung mundur seraya membuka mata. Seketika Ia berteriak kencang kala mendapati Donghae menatap intens. Menatap wajahnya dengan jarak kurang-lebih-lima senti. Yoona terlonjak dari tempatnya seolah sosok  Donghae adalah setan tanpa kepala.

“Huaaa… Menyingkir dariku !” Yoona menjerit seraya mendorong tubuh Donghae kesamping hingga namja itu terjengkal membentur tembok.

“Auhhh aishhh…”  Donghae meringis memegang lengannya sembari bangkit merenggangkan punggungnya yang terasa ngilu  akibat  benturan tadi.

Yoona gelagapan. Tangannya bergetar hendak memeriksa keadaan namja itu tapi… tapi Ia takut…

“Mi- mian…” ucapnya panik.

Donghae masih meringis sambil membetulkan posisi duduknya menghadap Yoona. Ia memijit pundaknya seraya memukul – mukul punggungnya sendiri,  “Kau itu yeoja atau bukan?”

“Mian…” Yoona berdesis sekali lagi layaknya tidak ada kata lain yang terbersit dikepalanya selain, rasa sesal. Ia sembunyikan wajahnya dibalik kegelapan malam. Sesungguhnya Yoona sangat takut menatap Donghae sekarang… Ada perasaan malu, tidak enak hati tentang dampak dari sikapnya selama ini.

Donghae menarik napas lalu mencoba menegapkan badan, “Permintaan maaf itu sudah terlambat Nona Im.”

“Apa?” Yoona mengerutkan kening menatap Donghae tidak mengerti.

Donghae menatap Yoona sekilas. Namja itu tersenyum simpul sebelum mengalihkan pandangannya kearah langit gelap diatas sana, “Kau tahu apa itu batas kesabaran ?”

Yoona membulatkan mata. Ia memutar otak kemudian menjawab sekenanya, “Itu… mungkin saat  tertentu dimana seseorang menunjukkan kekesalannya.”

“Berarti, aku sudah tidak punya batas kesabaran.”

“Eoh?” Yoona semakin bingung. Bicara apa  sih dia?

“Aku ingin marah padamu tapi kenapa sulit sekali, ya? Kita  bertemu  selalu dalam keadaan memprihatinkan. Im Yoona, pengukir kekacauan. Kau menyebalkan tapi aku tidak bisa memakimu sedikit pun. Mungkin karena  setan –  setan yang biasanya  menggoda, menyingkir saat itu. Kupikir kalau Mereka juga bosan melihat dirimu buat ulah.” Ujar Donghae sambil tertunduk.

“Aku tidak marah jadi tidak usah minta maaf.  Marah cuma buang – buang tenaga karena kemana pun itu selalu kau yang kutemui. Berkali – kali  terjebak dalam situasi tidak biasa karenamu, bukan salah siapa – siapa.  Salahkan dunia yang terlalu sempit.”

Yoona mengigit bibir bawah. Bingung harus menanggapi apa. Yeoja cerewet di sekolah bermetamorfosis menjadi yeoja bisu. Hanya karena Lee Donghae, dunianya berputar seratus delapan pulu derajat.

……………..

 “Berapa lama lagi kita akan berjalan ketempat pemberhentian taxi ?” Yoona bertanya menatap Donghae  yang  serius melihat kedepan jalan. Yeoja itu sedikit susah menyesuaikan langkahnya  dengan langkah Donghae yang semakin panjang dan cepat sementara Yoona berjalan agak pincang akibat baru saja dihadiahi  oleh rasa  ngilu pada dengkul dan punggungya. Ia pun ingat kalau sedari tadi Donghae sudah bercerita tentang kejadian saat mereka jatuh terjengkal, Dan Yoona tidak ingat sama sekali mengenai itu, tahu – tahu badannya  sudah sakit.

“Sebentar lagi…”

“Lalu,  bisa tidak langkahnya sedikit diperlambat ?!” Yoona meyeru dengan wajah lelah.

Donghae menyetop langkah membuat bahunya tersenggol Yoona, “Oh, mian…”

Yoona mengamati tubuh Donghae sambil melipat tangannya, “Kelihatannya… Eummm apa Yaa… Kelihatannya Sunbae cepat sekali sembuh padahal tadi.…”

“Sunbae?” Dongahe tertawa, Yoona berpikir; Kenapa dia tertawa?

 “Aku sudah biasa mendapatkan cidera saat latihan basket… Jadi ngilu sedikit bukan masalah.” Jawabnya tersenyum menatap Yoona yang masih berpikir, “Dan satu lagi. ,  lain kali panggil saja aku, Oppa.”

“Heoh?” Yoona memajukan wajah keterkejutan. Donghae tertawa lagi sambil mengacak rambut Yoona, “Apa dirimu tidak mau kalau kita jadi akrab?”

“Sunb… Em maksudku Oppa mau kita jadi akrab… Seperti… aku dan Sooyoung ?” Yoona memasang wajah bertanya – tanya. Sebelah alis Donghae terangkat kala  melihat  sikap Yoona, seperti keponakanya yang berusia lima tahun ketika menyamakan benda satu dengan lainnya.

“Kau dan Sooyoung ?” Donghae memperjelas. Yoona mengangguk dengan mata berkilat – kilat.

“Tentu… tapi aku mau yang lebih akrab dari itu…”

“Maksudnya?”

Donghae menunjukkan wajah berpikir keras. Beberapa detik kemudian Ia meraih jemari Yoona, memasukkan benda – benda mungil itu kedalam saku jaketnya. Yoona tersentak menatap Donghae yang  memandang lurus.

“Maksudnya suatu saat  nanti aku ingin berbagi denganmu. Berbagi cerita, berbagi energy, berbagi kehangatan denganmu… Semua, aku ingin melakukannya denganmu…” Donghae menunduk seraya menarik napas, “Bisa tidak?”

“Apa?” Yoona bingung, lagi – lagi tersentak memandang namja disampingnya. Sesungguhnya Yoona takut apabila bertemu mata dengan namja itu.  Tapi untunglah tidak. Donghae  tersenyum menerawang tanpa menoleh kanan kiri. Dia  tersenyum seolah sedang memikirkan sesuatu.

Yoona melangkah dalam diam dan tidak berhenti menatap tangannya yang terasa semakin bertautan erat dengan tangan Donghae dibalik jaket. Dalam fokus pandangnya, Jaket kulit yang membungkus tubuh namja itu seakan menjelma menjadi api unggun. Penuh hangat. Lalu  Ia biarkan rasa hangat  itu, dari ujung jemarinya menjalar kekepala.

“Yoon…”

Menoleh cepat, Yoona menatap Donghae takut –takut.  Tersirat dalam sinar wajahnya, suatu bentuk permohonan agar Donghae berbicara dengan jelas juga agar namja itu berhenti menatapnya lamat —seperti sekarang—  Karena Yoona hawatir kalau -kalau jantungnya akan melompat keluar.

“ Oppa, aku sama sekali tidak paham dengan apa yang—“

“Kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama ?”

Yoona menegguk ludah. Ia mendongak menatap donghae dengan peluh membanjiri; cinta pada pandangan pertama? Awalnya memang tidak percaya, tapi… Tapi… Bagaimana mungkin yeoja seperti dirinya mengingkari itu padahal dia sendiri juga pernah mengalami, pertama kali sejak Donghae menyelamatkannya di belakang sekolah.  Berawal dari kekaguman dan Yoona bisa jamin kalau perasaan  kagum itu lebih mendekati.… cinta pada pandangan pertama.

“Kupikir kalau cerita seperti itu Cuma ada di drama TV… tapi sekarang aku percaya.” Donghae berucap tiba – tiba. Kali ini Ia menjatuhkan tangannya dikedua pundak Yoona, “Kau sependapat denganku, kan?”

Yoona terkesiap dengan mata membola, tanpa berkedip Ia lirik dua tangan Donghae, menggenggam  bahunya yang bergetar. Tentu saja Yoona sependapat. Sangat sependapat, karena itulah yang ingin dikatakannya tadi.

“K-kenapa kau percaya ?”  Yoona ingin mencakar mulutnya sendiri kala mendengar suaranya yang bergetar seperti baru saja melihat zombie. Donghae terkekeh, sedikit kaku karena mungkin  dia juga menahan gugup.

“Aku percaya karena aku punya bukti saat pertama kali bertemu dengan—“ Donghae menarik nafas . Ia lepaskan tangannya dikedua pundak Yoona.

“Bukti?” Yoona mengerut meminta penjelasan lebih.

“Yeah, bukti…Bukti saat pertama kali melihatmu.. kalau aku menyukaimu… ” Donghae menatap Yoona dalam dan hening. Di kepala namja itu sudah tergambar kemungkinan- kemungkinan yang bisa saja Yoona berikan. Entah Kaget, marah, tidak suka, canggung…

“Aku tidak memaksamu untuk menanggapi ini… Hanya sekedar kau tahu. Itu saja .” Donghae berkata tiba – tiba begitu melihat  bahwa tidak ada respon dari Yoona. Satu pun tidak ada kecuali sinar keterkejutan yang belum juga pudar.

Beberapa saat, Yoona mengangguk pelan dan bilang, “Aku mengerti.”

Sudah hampir pukul lima pagi ketika jalan masih dipayungi oleh pekatnya hitam. Beserta itu, Cahaya purnama  yang sudah memudar menjadikan tiang lampu remang – remang  yang ada disisi jalan  menjadi sumber cahaya paling berfungsi saat ini. Dalam menunggu fajar tiba adakalanya  Yoona meminta kepada langit supaya tetap seperti ini. Berjalan disamping Donghae sementara minim cahaya hingga namja itu tidak perlu  tahu akan dirinya yang menatap sesekali. Kejadian beberapa menit lalu membuat Yoona harus menarik napas berkali – kali… Yeoja itu sempat kehilangan suaranya, bahkan sekedar untuk berkata ‘Nado.’ Otaknya terlalu payah guna mengontrol apa pun, Ia rasa jantungnya  mengeras dan… Kali ini  Yoona sadar kalau pikirannya memang sudah tidak waras.

Donghae melambai – lambaikan tangannya keseberang jalan. Secara prakstis, pikiran Yoona yang tadinya mengawang diangkasa, terhempas lagi kebawah. Ia menatap sebuah taxi dan Donghae bergantian. Yoona Baru sadar kalau mereka sudah sampai di tempat pemberhentian taxi.

“Naiklah…” perintah Donghae sambil membukakan pintu taxi didepan mereka.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku menyusul…” jawabnya dengan tersenyum. Yoona berpikir sejenak kemudian mulai melangkah kedalam taxi.  Melihat kalau Yoona sudah duduk manis,  Donghae menutup pintu taxi setelah berkata, “Sampai jumpa di sekolah…”

Benda beroda empat yang Ia tumpangi mulai berjalan. Yoona menoleh kebelakang lalu melambai – lambaikan tangannya kearah Donghae—yang masih berdiri disana—dari balik kaca. Ia bergumam, “Aku akan menunggumu di sekolah…”

…………………

Dengan langkah sempoyongan, Yoona berjalan menuruni anak tangga. Satu persatu anak tangga yang terletak diteras rumahnya itu dia lewati dengan malas. Yoona baru saja pulang kerumah —sejak kejadian semalam— tapi harus pergi lagi ke sekolah pagi – pagi sekali padahal dirinya masih ngantuk, Ia letih. Ditambah lagi proses introgasi yang dilakukan Ummanya sebelum ini. Untunglah Yoona berhasil meyakinkannya—walau sedikit ragu—dengan bilang kalau semalam dirinya menginap di rumah Sooyoung guna mengerjakan tugas mendadak dari sosaengnim killer.  Meski ummanya setengah tidak percaya tapi… Siapa peduli !

“Hoaaaa.mmm.” Yoona merentangkan tangan selebar mungkin . Perlahan Ia hirup udara pagi hari yang sedingin es. Sambil melangkah terpaksa, Yoona meraba – raba tubuhnya guna merapikan seragam sekolah yang terlihat acak – acakan karena belum disetrika -___-

Pandangan Yoona yang mulanya buram tiba – tiba saja dipertajam oleh sebuah benda yang tergantung diatas pagar besi rumanya. Yoona mengucek mata. Sebuah tas selempang berwarna ungu tersampir disana. Tas itu !

Yoona mempercepat langkah. Memastikan bahwa apakah tas itu benar miliknya atau bukan. Usai mengaduk isinya, Yoona bisa memastikan  kalau tas itu miliknya. Tas yang semalam Ia cari – cari… dan. Eunhyuk ? Yoona yakin kalau dialah biang keladi dari ini semua. Dugaan itu diperkuat oleh secarik kertas yang tersemat pada reusleting depan.

 “Selamat pagi sayang… Semalam tas ini tertinggal di meja club. Mian, aku sudah melihat isinya tapi tenanglah, Handphone dan dompemu aman… Semoga harimu menyenangkan !”

(Eunhyuk)

Sayang ?! Cuih. Yoona meremas geli, melempar lalu menginjak kertas itu dengan emosi  yang membludak, ‘Dasar Eunhyuk pabooo !!!!’

……………………..

Sekolah masih sepi. Suasana ramai belum kentara sama sekali. Yoona melirik jam tangannya. Tujuh tiga puluh. Ia mendengus, apa yang harus dilakukannya sekarang? Bosan ! Beberapa menit Ia berjalan – jalan tanpa arah, pikiran yeoja itu langsung tertuju kepada alat komunikasi didalam tas selempangnya. Guna mengisi kekosongan, dirinya bisa Online, berkirim pesan, menelpon…. Yeah menelpon, menelpon Sooyoung.

“Yoboseyo….” Senyum Yoona merekah ketika terdengar suara seseorang dari seberang sana.

Belum sempat Yoona bertanya apa pun, temannya itu langsung menyercos, “Yoona kau kemana saja? Barusan Ummamu menelpon, dia bertanya apakah kau bermalam dirumahku semalam ?”

Yoona menghela napas. Sambil berjalan mengelilingi lorong kelas ia arahkan tatapan lesunya kesepanjang jalan, “Iya, aku baru sampai rumah tadi pagi dan bilang kalau aku menginap di rumahmu. Lalu, apa jawabanmu ? Kau bilang ‘Ya’ bukan ?”

“Tentu saja… Tidak…”

“Sooyoung ?!”  Yoona melotot sambil menjerit.  Siswa siswi  disekitarnya  ikut kaget.  Mereka mengumpat berkali – kali tapi Yoona pura – pura tuli. Meski tidak enak dengan kerumunan yang terganggu  tapi toh, percuma kalau memikirkan itu sekarang.  Tidak penting.

“Sooyoung, kau sedang mengigau kan? Demi makan siangmu hari ini ! katakan kalau itu bohong  !” desaknya penuh harap.

Suara cekikikan Sooyoung terdengar pelan – pelan, “Aku hanya bergurau hehehe… Tenanglah aku sudah tahu  sifatmu, maksudku kau itu kan selalu cari masalah. Mungkin saja semalam kau terpaksa tidur di halaman gedung apartemen atau tempat sauna karena tersesat. Kutebak saat itu sudah tengah malam dan kau tidak punya uang ditambah ponselmu mati sementara dirimu  terlalu menjunjung harga diri untuk minta bantuan orang…  Aku sudah hapal hehehe…”

Yoona menghela napas, sembari menengok berita yang tertempel di mading sekolah, “Ini bukan soal tersesat, tempat sauna, harga diri atau minta tolong Soo…”

“Hah Bukan ?! Lalu apa?! Kau tidak melakukan hal  aneh – aneh  semalam kan ?! Ngomong – ngomong bagaimana dengan Eunhyuk…”

Yoona meringis akibat volume nyaring membahana yang menusuk telinganya dari seberang sana.  Sejenak Ia rentangkan alat komunikasi  itu lalu bicara dengan malas, “Kejadian semalam Ceritanya panjang sekali. Mulutku bisa berbusa kalau menceritakannya ditelepon dan Soal Eunhyuk, aku benar – benar pusing membahas orang itu…”

“Kenapa ?”

“Akhh… Sudahlah jangan tanya – tanya lagi, yang jelas  aku baik – baik  sa—- ja—-se—-” Yoona menjauhkan ponselnya pelan – palan. Jemarinya mati rasa tatkala melihat selembaran hitam putih yang tertempel disamping kotak madding.

“Yooboseo ? Yoona kau masih disana bukan ?”

“Soo…” Yoona berdesis tidak sadar kalau ponselnya sudah berada jauh dari jangkauan telinganya.  Mata yeoja itu belum berpindah dari  berita mengejutkan pagi ini. Yoona memegang tengkuknya seolah Ia akan tumbang detik itu juga.

(Hot News) Seorang siswi berinisial YA terlihat mengunjugi sebuah club malam di appujeong. Ia bersama teman namjanya DH (yang juga seorang siswa sekolah) dicurigai sedang bepesta minuman keras pada dini hari di club tersebut. Sebuah bukti berupa photo tersangka menunjukkan bahwa YA mabuk berat dan berjalan sempoyongan dibantu oleh  DH untuk menuju pintu keluar. Selain bukti Photo, kesaksian seseorang menyebutkan bahwa keduanya memang sedang melakukan hal yang mestinya tidak pantas dilakukan oleh siswa sekolah tersebut. Dengan ini, YA dan DH terancam hukuman bahkan bisa terkena system drop out dari pihak sekolah dimana mereka menambah ilmu.

Yoona menggeleng. Berita itu tidak benar ! Ini tidak mungkin…. Pasti ada kesalahan… Orang yang dimaksud bukan dirinya dan Donghae,  bukan? Tapi kalau benar  lalu siapa… Siapa yang tega menyebarkan gossip seperti ini ?!

Tidak salah lagi !

‘Eunhyuk?!’ secara spontan nama itu langsung terbayang dalam benaknya. Yoona menuduh bahwa Satu – satunya orang yang pantas dijadikan tersangka akibat  kekacauan semalam adalah… Eunhyuk !  Mungkin karena dia sakit hati, punya dendam atau hal lainnya. Eunhyuk memanipulasi fakta—menyebarkan isu sialan—dan… Ya Tuhan, Donghae. Dia tidak tahu apa – apa.

Yoona menatap berapi – api, ‘Eunhyuk  ! Dia harus jelaskan ini semua!!!’

…………… TBC ……………

19 thoughts on “FF YoonHae – Princess Cliche 4

  1. Dhewi Pus berkata:

    keren thor…
    wah eunhyuk cari masalah aja kerjaannya.

    mga aja hae ma yoona ndak kena masalah lagi…..
    bikin eunhyuk jera apa bikin balasan wat eunhyuk dong thor….
    di tunggu lanjutannya….

  2. ziieziie berkata:

    hadeuh, knp eunhyuk tega gitu? tuh kan yoona, susah bgt buat bilang iya pdhl jg suka -.-”
    ditunggu lanjutannya🙂..
    uh, jgn smp euhyuk manfaatin keadaan buat dapetin yoona..

  3. LoveLy_pyRos berkata:

    eunhyuk eviL bGt sih…!? wah,yoona suka ma donghae…!? trz,donghae jg suka ma yoona…!? smga mrka bZa jdian…!? amiin…!? dtnggu part sLnjut’y

  4. deerweirdo berkata:

    ihh enhyuk kah itu yg nyebar britanya ?
    hyuk jahat dee
    cie hae juga suka tuh sama yoong ..
    lanjut author penasaran sama nasib yoonhae selanjutnya hehe

  5. yoonhae shipper (rhiana) berkata:

    lnjt thor,aq bru bca part 3 n 4 ny mlam nie ternyata udah dilnjtkan dikirain blom,,
    waduh eunhyuk jhat bngd sih!smoga part slnjt ny yoonhae jdian!!amin
    lnjtkan thor,ditunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s