FF YoonHae – Princess Cliche 3

Image

Title : Princess Cliche

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Comedy Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : Super Junior Siwon, Eunhyuk, SNSD Sooyoung

Poster : G.Lin @ http://theartlockers.wordpress.com/

Happy Reading ^^

Part 3

“Sialan !”

Dengan nafas tersenggal Yoona berjalan sambil membanting tasnya. Ia langsung mengambil posisi disamping sahabatnya—Sooyoung.

Sooyoung mengerutkan kening sambil menerka – nerka dalam hati, “Tumben pagi – pagi sekali sudah datang, atau jangan – jangan ingin temani aku makan bimbap dikantin sebelah ya ? Enak looh, sampai jam istirahat saja makanan itu sudah habis.” Ujarnya sekalian promosi.

Lagi –  lagi  makanan. Yoona menyemburkan nafas gerah.  Bagaimana cara agar temannya yang tembem itu bisa peka? Yoona sangat bad mood pagi ini. Ia tidak bisa tidur barang sedetik pun— memikirkan hari – harinya kedepan. Sedangkan Sooyoung ? yeoja itu bahkan tidak peduli dengan lingkaran hitam dibawah mata Yoona. Sooyoung hanya peduli dengan jajanan kantin sampai memaksakan diri untuk datang pagi buta hanya demi benda – benda itu.

“Soo-ya, Ini bukan soal makanan.“

“Lalu?”

“Ini tentang Eunhyuk.” Yoona menatap berapi – api. Yeoja itu  menggedor meja kayu didepannya menggunakan kepalan tangan seraya memaki, “ Dia benar – benar tidak waras ! Dia sarap dan pikirannya miring !”

Sooyoung mengangkat pundak, “Mungkin saja, dia terlalu pintar dan saking pintarnya malah jadi stress.” Tanggapnya beralibi.

“Siwon, dia juga miring. Aku yakin kalau otaknya itu hanya sebesar biji jagung (?) bahkan Dong… Maksudku mahluk yang satunya lagi aiisshh, Aku bisa gila !”

Bukankah Yoona memang sudah gila? Sooyoung prihatin karena semenjak hari itu, hidup Yoona kelihatan sangat rumit. Mulai dari kabur, menjalani hukuman hingga bertemu orang – orang menyebalkan. Semuanya karena dia—-Eunhyuk.

Yoona sudah langganan dengan berbagai jenis hukuman tapi kali ini Sooyoung merasa ada yang aneh dari  cara yeoja itu menanggapinya—hukuman dari Eunhyuk. Ia begitu gelisah… Salah tingkah entahlah atau Jangan – jangan… Dia menyukai Eunhyuk?! Yeah,  seperti dalam drama remaja. Saat tokoh utama pria memberi hukuman pada tokoh utama wanita. Mereka awalnya saling benci lalu… Jatuh cinta.

Sooyoung menggigit bibir bawah lalu berkata, “Kau tahu ? hari ini sekolah lain akan berkunjung kesekolah kita untuk melakukan survey sarana dan prasarana… jadi semuanya harus bersih termasuk lapangan basket jadi—-“

“Stoopppp Aku tahu !”

Tuh kan ! Temannya sudah tahu kalau Eunhyuk ditugaskan oleh para guru untuk memantau sarana dan prasarana di sekolah. Nah, berarti saat Yoona menjalani hukumannya, dia akan bertemu dengan Eunhyuk. Sooyoung curiga kalau Yoona mengalami  insomnia karena memikirkan hal itu. Lihat saja matanya yang menghitam—seperti panda !

………………

Berbeda dari hari – hari sebelumnya. Saat ini lapangan basket sudah ramai dipadati oleh kerumunan – kerumunan fanatic beserta teriakan mereka. Yoona membekap telinganya serapat mungkin. Matanya terpejam  tatkala suara sekelompok remaja putri melengking tajam persis saat  para atlet basket menampakkan diri mereka. Para namja – namja itu mulai tersenyum manis. Menurut kabar, mereka akan melakukan pemanasan untuk menyambut pertandingan persahabatan dengan sekolah tetangga. Hmm… Baru latihan pemanasan saja pendukung fanatic mereka sudah bejubal apalagi saat pertandingan.  Tahu jika hal itu merupakan pertanda bahwa semakin banyak limbah yang akan berhamburan di area lapangan.

Menyebalkan !

 “OPPA SARANGHAEYOOO !”

Yoona tersentak kaget tatkala sorakan seorang siswi yang bagaikan toak itu melengking persis didekat telinganya. Yoona menjatuhkan sapu dalam genggamannya kemudian bekacak pinggang,

“YAKK KECILKAN SUARAMU?!”

Sekuat tenaga Yoona berteriak menghimbau namun cuma tanggapan angin yang Ia dapat karena suaranya langsung tenggelam diantara teriakan – teriakan yang semakin menyeruak. Yeoja itu lantas menghembuskan nafas diudara sekeras mungkin namun tiba – tiba saja paru – parunya terasa menyempit. Yoona tercenung.

Pemandangan disekitar ruangan tampak blur kecuali seseorang disana. Namja pebasket yang berdiri ditengah kerumunan dan tersenyum hangat kepada semua orang. Sesekali bibirnya bergerak – gerak mengucapkan sebaris kalimat sambil mengangguk mengerti mendengar penjelasan singkat dari Han Sosaengnim— guru olah raga. Yoona tidak berpaling sedikitpun melihat dia tertawa kecil saat itu, entah apa yang lucu disana. Dibalik raut letih pula ia membasuh  bulir – bulir peluh  yang membasahi rambutnya.  Demi Tuhan … betapa  Donghae… Keren !

Dan sampai sekarang jantung Yoona masih belum sanggup diajak kompromi saat teringat akan namanya bahkan hingga kini tatapannya masih saja berfokus kearah dia dan… dan selanjutnya Donghae… dia balas menatap. Ini mimpi? Tanpa diduga iris kecoklatan namja itu mengunci pandangan Yoona bagaikan kilat.   Yoona  menahan nafas tatkala Donghae tersenyum padanya.

Dia benar – benar manis.

Yoona bergeleng cepat sambil mengetok kepalanya sendiri. Tidak ! Dirinya masih waras, titik.

Cepat – cepat Yoona mangambil sapu yang tergeletak dilantai dan berlari menyambagi sekelompok siswi yang sedang menggosip disudut ruangan,  “Permisi, bisakah kalian pindah ? Aku akan membersihkan tempat ini.”

Para siswi itu mendengus tidak suka kemudian membubarkan diri. Yoona tidak peduli bahwa mereka mau mengamuk atau memaki  yang pasti dirinya bisa bernafas lega sekarang. Ia tidak lagi menjangkau sosok Donghae dari jarak sejauh ini yang berarti bahwa dirinya terbebas dari serangan jantung. Yoona lantas menoleh kanan kiri sambil manggut – manggut meyakinkan, ‘Jangan sampai bertemu lagi dengan Donghae’.

Perlahan Yoona mulai menggerakkan sapunya sambil menggerutu sendiri melihat  Sampah  makanan dan minuman yang berhamburan dilantai. Huhh… Mata mereka taruh dimana sih? bukankah ada gentong sampah disana ?

Yoona menghentikan sejenak aktivitasnya saat sebuah tangan menggenggam bahunya dari belakang. Yeoja itu merasakan sesuatu yang mengganjal hati sejak tadi terlebih saat tubuhnya dipaksa berbalik.

“Kau benar – benar takut padaku ya?”

Yoona  menelan ludah. Yeoja itu sudah bisa memperkirakan ini. Maka, Ia tidak boleh terlihat gugup. Sedikit pun didepan Donghae…

……………

Secara terperinci Donghae memperhatikan setiap perkataan Han Sosaengnim. Sosaengimnya itu sedang menjelaskan tentang beberapa strategi yang harus diterapkan sebelum latihan dimulai. Donghae mengangguk paham seraya mempertajam konsentrasinya. Sedari tadi Ia agak terganggu dengan kerumunan siswi yang sangat berisik tapi bukan masalah karena pendengarannya sudah terbiasa dengan lengkingan katulistiwa(?)  Donghae tetap coba untuk tersenyum sayangnya perasaan terganggu itu belum juga sirna. Bukan lantaran suara pekikan ‘Oppa Saranghae’ yang terus menerus diarahkan padanya—-meski diawal ia mengira begitu— namun nada meninggi seseorang yang entah siapa tertangkap jelas ditelinganya. Suara itu… Sepertinya familiar…

Donghae merasa seperti ada yang memperhatikannya.  Bukan sesuatu yang biasa karena bulu kuduknya langsung merinding (?)  Namja itu mengikuti nalurinya untuk mendongak kedepan. Ternyata… Yoona. Yeah, Donghae mendengar  jika Siwon memanggilnya dengan nama itu kemarin.

Entah apa yang salah dari senyumanya, Yoona mematung. Donghae baru saja akan menyambangi tempat dimana Yeoja itu berdiri tapi Ia langsung beranjak.  Yoona buru – buru menuju… Sudut ruangan. Begitu penasaran, Donghae lantas mengendap – endap ketempat Yoona.

Dari belakang, Donghae menangkap  bahu Yoona yang sedang menyapu  kemudian memutar tubuh itu agar menghadap kearahnya, “Kau benar – benar takut padaku ya?”

“Tidak ! Siapa bilang?”  Jawab yeoja itu enteng tanpa memandangi lawan bicaranya. Ia beralih menuju sudut kiri lapangan kemudian mulai memunguti beberapa lembar sampah disana.

Donghae buru – buru mengambil sebungkus  sampah makanan sebelum tangan Yoona sempat menjagkau lalu melemparkan benda itu pada tepat seharusnya,  “Lalu kenapa menghindar ?”

“Aku tidak menghindar… Kau saja yang berpikiran buruk.” Ungkap Yoona buru – buru menegakkan badan kemudian menggerakkan sapunya kembali.

“Masa sih?”

Donghae mengangkat alis. Ia melipat kedua tangannya didepan dada sembari  memperhatikan yeoja didepannya. Yoona masih menggesek sapu dilantai dengan wajah ditekukkan. Bibirnya bergerak seolah mengucapkan sesuatu entah apa.

Yoona sesekali mendelik tidak suka. Tampak jika Donghae tersenyum tipis. Senyum meremehkan? Atau… Uhhh… Lama kelamaan Yeoja itu jengah juga. Ia menjatuhkan sapunya asal kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Jujur, Aku merasa risih karena terus saja diperhatikan olehmu. Tahu tidak? Hal itu sangat… sangat mengganggu dan tidak nyaman atau apalah… Wajar ‘kan  kalau aku  menghin—-“

“Dar.. Menghindariku?”

Donghae menatap lamat – lamat kearah Yoona. Yeoja itu tersentak gelagapan lalu menampik, “Dengar Donghae sunbae, Aku tidak ingin merepotkanmu apalagi untuk  ketiga kalinya. Annyong !”

Yoona berbalik memasang raut tidak peduli.  Langkah demi langkah terus saja ditapakinya. Dengan  yakin Ia menerobos kerumunan manusia yang sudah sepanjang dan setebal tembok China (?) tanpa peduli akan beberapa pasang mata yang menatap tajam kearahnya karena sedikit Ia senggol. Yoona pasrah terhadap nasib lapangan basket.  Mau kotor atau hancur lebur, Bye !  Donghae mulai berteriak – teriak dibelakang —entah meneriaki apa—  Tidak bisakah namja itu mengejarnya saja dari pada harus menghamburkan suaranya dengan percuma?

“SIWOON OPPPAA !”

Teriakan super histeris —-bahkan lebih histeris dari sebelumya —-  tiba – tiba saja mengejangkan suasana ruangan. Yoona mula – mula oleng ketika segerumul orang menyambar tubuhnya.  Dari  arah berlawanan,  desakan manusia tiba – tiba saja menghadang—- kearah Seorang namja pebasket  didepan tiang ring. Tubuh Yoona langsung terhuyung. Yeoja itu jatuh tengkurap, mencium betapa hangatnya lantai lapangan.

Yoona meringis merasakan sakit didengkulnya. Ia masih berusaha berdiri tapi sulit. Tulang belulangnya terasa ngilu. Yoona merasa jika tenaganya benar – benar menipis.  Yeoja itu memekik tertahan, kesal pada dirinya sendiiri. Ia tertunduk lemas hingga uluran tangan itu membuatnya mendongak.

“Aku sudah berteriak memperingatkanmu, ck ! Dasar bandel !”

……….

Donghae masih berdiri mengamati tubuh Yoona. Duduk disebuah bangku kayu tepatnya didepan pintu masuk lapangan basket, Yeoja itu tertunduk takut – takut  seolah Donghae akan menerkamnya saat itu juga. Hening.  Belum terdengar suara sama sekali semenjak Donghae berhasil memapah tubuh Yoona keluar. Membebaskannya dari kepengapan ruangan.

Yoona tersentak saat Donghae tiba – tiba berjongkok sambil mengadahkan kepalanya.  Mata mereka bertemu. Yoona melengos untuk cepat – cepat menegakkan badan sambil mengangin – angini kerah bajunya.  Kenapa udara di Seoul panas sekali?

Kegerahan suhu menjadi kian memuncak tatkala Donghae menggeser rok Yoona tanpa permisi. Yoona membelalak. Ia menahan roknya sambil menatap Donghae dengan ekspresi bingung bercampur kaget.

“I-ini..” Yoona menurunkan kembali roknya menjadi dibawah lutut tapi Donghae tidak menyerah juga. Namja itu menaikkannya kembali, berkali – kali tanpa henti.

“APA YANG KAU LAKUKAN ?!” jerit Yoona membuat orang – orang menatap aneh kearahnya. Terlebih lagi kepada Donghae  yang  lagi – lagi harus menghembuskan nafas jengah. Orang – orang menatap jijik tatkala melihat ia sedang berkelut  menaik turunkan rok seorang yeoja. Okelah Kalau begini ceritanya,  predikat ‘mesum’ dari orang – orang harus rela Ia tanggung.

“Lututmu terluka,” Ujar Donghae yang lantas menaikkan rok Yoona sedikit, “Lain kali bisa kecilkan suara, tidak?”

Yoona terdiam dengan wajah ditekuk. Ia mengigit bibir penuh kebimbangan, Ini bukan termasuk kesalahan ketiga, kan ?

 “Sebutkan nomer ponselmu…”  Donghae menodong Yoona dengan permintaan sembari  membalut luka dilutut yeoja itu dengan selembar sapu  tangan.

“Aku tidak punya ponsel.”

“Iya kah?” Donghae meliukkan kedua alisnya seraya tersenyum singkat, “Kita tidak sedang hidup di zaman batu, kan?”

“Apa?” Yoona tersentak.

Donghae mengusap telapak tangannya setelah berhasil menghentikan pendarahan dilutut Yoona. Namja itu memicingkan mata seraya melanjutkan kata – katanya tadi, “Atau setelah ini kau akan bilang bahwa dirimu berasal dari dinasti lain ? juseon? Silla? Lalu tersesat di-era modern. Makanya  tidak tahu menahu tentang ponsel. Begitukah?”

“Eh.. “ Yoona meringis kaku. Ia baru saja akan mengarang cerita itu tapi Donghae… Dia juga penggemar cerita begituan ternyata. Huee…’

“Dari caramu mengungkapkan sesuatu kupikir kalau  orang tuamu  bukanlah sosok otoriter. Harusnya Kau cukup diiziinkan untuk memegang ponsel.” Sela namja itu kembali kemudian mulai berkata lagi tanpa peduli bahwa Yoona sedang  mengambil oksigen.

“Jadi nomer ponselmu berapa?”

Yoona membelakak lalu menghembuskan nafas gerah, “Baiklah, tapi aku harus tahu untuk apa?!”

“Singkat saja, Aku hanya ingin menanyakan keadaanmu.”

“Menanyakkan keadaan atau… Agar lebih mudah menjadikanku pesuruh ?” Terka yeoja  itu takut – takut.  Menatap Donghae yang nampak seperti berpikir keras.

“Nah, itu juga boleh !”

Yoona memijit dahinya. Tiba – tiba saja benda itu berdenyut. Ia lantas memasang wajah malas, “Simpan ! Nomerku O67 XXX XXX”

Donghae mengangguk – gangguk kemudian mulai menaruh alat komunikasinya itu disamping telinga.

“Oh… Oh… Oh… Oh…’ppareul saranghae… Oh… Oh… Oh… Oh mani-manihae..”

Tiba – tiba saja ring tone lagu ‘Oh’ dari girlband SNSD berbunyi,  awalnya dari kejauhan tapi semakin kesini bertambah nyaring. Yoona mematung. Ia menggerling bingung manakala temannya, Sooyoung semakin mendekat ke lokasi dimana ia berada. Sooyoung menyetopkan badan menghadap Yoona sambil matanya memicing serius kearah layar segi empat ditangannya. Ketika ponselnya berbunyi, Nomer tidak dikenal pun muncul  dan… Hanya ‘miss call !’

‘ Otte?! Kenapa temannya itu hadir disini ketika  sosoknya sangat – sangat  tidak diharapkan muncul !’ Yoona membatin panik. Donghae pasti marah karena dirinya memberikan nomer palsu yang adalah nomer temannya dan… dan…

 “Aku pernah makan orang lohh…” Ujar Donghae sedatar mungkin.

Yoona mendelik. Suaranya mengendap  ditenggorokan saat Ia berusaha memutar ulang pengakuan Donghae barusan. Pengakuan tentang, ‘Pernah makan orang ?’ Yoona menelan ludah.  Tadi itu bercandaan atau memang… atau  Donghae adalah keturunan Suamanto
(?)  sang manusia kanibal !

“Tenang… tenang !” Yoona menginterupsi, “Handphoneku ada dua jadi—“

“Huhh, kenapa ponselku ini speaker-nya nyaring sekali ?” Sooyoung bergumam  tapi suaranya masih jelas terdengar. Beberapa waktu suasana menjadi hening…

“Ponselmu?” Tanya Donghae memandang Sooyoung dengan selidik.

Orang yang dipandanginya langsung mengerut heran, “Iya, kenapa memang?”

Donghae lantas menatap Yoona lamat. Yoona langsung gelagapan seraya tampak buru – buru memutar otak. Donghae memiringkan wajah, Dia lucu juga kalau seperti itu !  Jadi sekarang, menggoda Yoona adalah Hobby barunya (?)

”Oke, Oke berikan ponselmu.” Pasrah Yoona merasa tersudut.  Ia mengulurkan tangannya pada Donghae. Segera namja itu menyerahkan ponselnya untuk dimasuki kontak baru.

Jemari Yoona berhenti  mengeluarkan suara ketikan. Bibirnya melengkung samar seperti ada garis terselubung yang tertahan.  Segera Ia kembalikan ponsel itu pada pemiliknya.

“Klinggg… kringgg…. Hihihiihi.” Ring tone suara hantu menyeruak. Benar bahwa itu adalah bunyi ponsel Yoona. Donghae melongo, sesaat kemudian bibirnya melengkung disertai kikikan kecil yang tertahan. Sedikit malu, Yoona  mengerucutkan bibir lantas melemparkan wajah kecut bin asem kearah namja itu.

“Sooyoung Sudah makan?”  Tanyanya mengalihkan perhatian.

Sooyoung cepat – cepat  memasang senyum sumringah kemudian menyeru lantang, “Makan itu urusan belakangan.” Ujarnya membuat Yoona terheran – heran. Sooyoung sedang kerasukan jin diet atau apa?

Melihat temannya menatap aneh,  Sooyoung kembali menyeru, “Yoona Ada kabar baik ! Eunhyuk mencarimu. Ayolah ini kesempatanmu untuk mengungkapkan Saranghae padanya. Aku tahu ini memang mirip seperti kisah – kisah tertentu tapi bagaimanapun kau harus mengatakannya meski dia menyebalkan. Kau ingat kan? Ending dari drama benci jadi cinta (?) yang kita tonton minggu lalu?” Celotehnya express tanpa melihat wajah Yoona yang berubah pucat pasi. Apa maksudnya?

“Apa ada namja yang kau sukai ? Siapa?” Donghae memajukan wajah penasaran.

“Eh?” Yoona membelakak bingung. Ini tidak lucu seandainya Yoona berkata bahwa orang yang saat ini Ia sukai adalah… adalah…

“Mianhae…” Suara Donghae tiba – tiba menimpali membuat Yoona tersentak,  “Aku pikir kau suka padaku. Ternyata Eunhyuk.” Akunya dengan nada semakin rendah.

“Apa?!” Yoona memelototkan mata. Sooyoung menggut – manggut kearahnya. Sorotan mata Sooyoung seolah menyiratkan pesan agar Yoona mengakui semua. Mengakui?

‘Tidak bukan Eunhyuk ! Huaaaa apa yang harus aku katakan ?!.’ batin Yoona menampik mentah – mentah. Ia menatap wajah Donghae yang juga menatap sendu. Matanya sayu. Yoona sadar kalau dia suka Donghae. Bukan Eunhyuk !

Pandangan Yoona mengabur. Please, hidup seorang Im Yoona tidak selamanya seperti sinetron apalagi tentang benci jadi cinta ! Kalau begini caranya Donghae bisa – bisa jadi ill feel ? Lalu, apakah Ia harus mengungkapkan perasaannya sekarang ? Bahwa Ia menyukai Donghae? Yoona bergeleng, berusaha mengesampingkan pikiran kosletnya yang tiba – tiba saja bermonolog sendiri. Bersamaan dengan itu, bisikan – bisikan entah dari mana menimpali tanpa henti membuat kewarasannya tersumbat.

 “Ungkapkan sajalah, siapa tahu dia juga menyukaimu…” Suara penyeru dari arah kanan terdengar. Yoona membuka mulut namun tidak bersuara ketika ada hal lain yang membuatnya bungkam.

“Jangan… Masa iya, seorang  yeoja yang harus membongkar isi hatinya duluan, gengsi dong !” Kali ini suara dari arah kiri terus saja mendobrak pikiran Yoona.

“Kalau seorang namja meminta nomer ponsel, ada kemungkinannya bahwa dia  tertarik padamu…”

“Hah? Bagaimana kalau ditolak ? Eksistensimu sebagai seorang yeoja akan tercemar…”

Yoona menghentak – hentakkan jemarinya  panik. Ia betul – betul  bingung dengan pikirannya sendiri.  ‘Lalu sekarang harus bagaimana?!’

“Kurasa kalian perlu bicara !” Donghae bangkit dan menatap Yoona dan Sooyoung datar. Ia menundukkan kepala sedikit untuk berpamiit, “Aku kedalam dulu, harus latihan…” ujarnya kemudian berlalu begitu saja melewati tubuh Yoona yang  sudah kaku seperti robot.

Sooyoung menatap Yoona dan Donghae bergantian. Ia memicing merasa bahwa ada rahasia diantara mereka. Yeoja itu terus saja memutar otak hingga deritan ringtone pesan dalam saku seragamnya membuat ia kaget.

“Huaaa Yess yess !”  Tiba – tiba Sooyoung memekik kencang dan membuat seluruh mata bersinggah padanya. Sooyoung cengengesan sambil menggaruk tengkuk tatkala Yoona menteleng kearahnya.

“Mian…” sesal Sooyoung masih cengengesan, “Eh barusan Eunhyuk mengiriku pesan kalau dia ingin bicara denganmu…”

Yoona memutar mata, “Kenapa Eunhyuk harus  menghubungimu   jika dia  ingin berbicara denganku ? Tidak gantle sekali.”

“Bagaimana mungkin dia bisa menelpon kalau kau saja tidak mau memberikan nomer ponselmu kepada sembarang orang !” pungkas Sooyoung menatap kearah pintu masuk lapangan basket, “Kecuali namja tadi… Yeahhh…”

Yoona  meniliki pintu lapangan basket kemudian memasang tatapan memohon-untuk-tidak-membahasnya-lagi  kepada Sooyoung. Temannya pun mengangguk

“Kalau begitu akan kutelepon Eunhyuk. Bersikap baiklah padanya, mungkin saja dia tertarik mencabut hukumanmu.” pungkas Sooyoung bersemangat sedangkan Yoona sekedar merespon dengan gumam, “Hmmm.”

Lebih semangat lagi kedua tangan Sooyoung mengepalkan diudara, “Pokoknya Aku mendukung ! Satu – satunya jalan agar  dirimu bisa bebas dari segala bentuk kesialan di lapangan basket adalah, mendekati Eunhyuk, bukan begitu?”

Menghela nafas pelan, Yoona seolah kehabisan tenaga, “Iya, Mungkin,”

Sooyoung manggut – manggut. Ia harus bisa membantu Yoona untuk keluar dari kebimbangan dan kemelut hatinya (?) sekarang. Harus !

………………………

Seorang namja berseragam sekolah menaikkan sebelah kakinya diatas meja. Perlahan Ia menghentak hentakkan jemarinya pada meja penuh coretan dalam ruangan kosong itu. Penghuni  kelas sedang sibuk – sibuknya menonton pertandingan basket atau futsal dengan sekolah lain. Sunyi. Tidak ada seorang pun kecuali dirinya yang sedang melakukan komunikasi melalui benda elektonik ditangannya. Perlahan ia menyunggingkan senyum miring.

 “Yoona, aku ingin mempertimbangkan hukumanmu.” Ucapnya pada seorang yeoja diseberang sana.

“Kapan? Sekarang?”

“Bukan… Maksudku bukan sekarang tapi nanti malam.  Bukan juga disini tapi diluar.”

“Di luar? Diluar mana ?! Eunhyuk, tolong bicara yang jelas !” Suara yeoja bernadakan tidak mengerti terdengar nyaring.

Kembali Ia tersenyum miring, “Aku akan mengirimkanmu alamat tempat itu, tunggu saja. Sedikit pemaksaan, Kau harus datang atau hukumanmu aku tambah ! Camkan yah.”

Tuttt… Terputus. Tidak peduli bahwa seseorang diseberang sana sedang merutukinya karena telepon yang terputus tiba – tiba. Dia, Eunhyuk puas karena rencananya menuai sukses. Eunhyuk puas karena akhirnya Yoona akan jatuh ketangannya setelah bertahun – tahun yeoja itu terus saja bersikap ketus terhadapnya. Karena seorang Lee Hyuk Jae culun? Kutu buku?

Jenuh. Malam ini Yoona harus melihat bagaimana penampilannya saat Ia sudah mencapai titik kejenuhan paling maksimal !

“Yeah, Belakangan ini aku sangat stress karena tanggung jawabku sebagai wakil untuk menyambut sekolah tamu jadi  mungkin harus ada sedikit Refreshing… Yoona, ayo kita bermain – main cantik !” ujarnya bermonolong seraya menerawang.

……………………..

Sebenarnya kau itu manis kalau tersenyum lhooo ><

Mengistirahatkan tubuh lelah, Donghae memejamkan mata diatas kasur king size-nya sambil melengkingkan senyum mengembang. Perlahan namja itu meraba – raba ponselnya yang ia letakkan dibawah bantal. Donghae beranjak dari posisi baring lalu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Lagi – lagi ia tersenyum sambil menatap layar ponselnya untuk membuka aplikasi ‘Note’.

“Ck, ternyata ada juga makhluk seperti itu di dunia ini…” Donghae bergumam sendiri sementara pandangannya menerawang.

Beberapa saat yang lalu nada alarm dalam ponselnya berdering. Kejadian yang janggal karena Donghae merasa bahwa Ia sama sekali tidak mengatur jadwal note apa pun. Tiba – tiba saja pikirannya langsung berputar pada kejadian tadi siang. Saat Ia memberikan ponselnya kepada Yoona agar yeoja itu mengetikkan beberapa digit angka didalam sana.  Diakah orangnya?! Iseng sekali menulis di-note orang lalu mengatur nada alarm sembarangan, kurang kerjaan pikirnya. Lalu bagaimana mungkin Donghae bisa jadi segila ini hanya karena itu? Hanya karena note yang bertuliskan…

Sebenarnya kau itu manis kalau tersenyum lhooo ><

Yoona bilang begitu tapi apa dia tidak pernah berkaca dan melihat bahwa lengkungan bibirnya itu jauh lebih manis?

Donghae memutar kepalanya menatap jam weker diatas meja. Ia mengernyit menampakkan raut tidak percaya. Mungkin sudah sangat lama Ia membiarkan pikirannya kosong hingga lupa bagaimana cara memejamkan mata. Biasanya saat detakan jarum  sudah menanjak keangka sebelas, Donghae sudah terbang menuju alam bawah sadarnya.   Tapi malam ini sulit.

Ia jadi teringat Yoona. Lama – lama perasaan berbunga – bunga tadi berubah menjadi perasaan cemas. Kenapa sekarang dirinya  jadi khawatir akan kondisi Yoona? Yeoja itu pasti baik – baik saja, kan? Tidak mungkin Yoona keluyuran malam – malam begini dan…

“Ya ampun ! apa yang baru saja kupikirkan.” Donghae berbisik sendiri dan bergeleng – geleng.

‘Sudah tidur?’

Sambil menarik napas, Donghae mengetikkan beberapa kata dalam pesannya. Ia tersenyum kecil sekedar untuk menenangkan diri kemudian mulai memejamkan mata meski Ia tetap terjaga.

…………………………..

Sorotan lampu warna – warni bependar kesana – kemari  membuat Ia harus menajamkan matanya sebisa mungkin. Yoona  sudah duduk ditempat mengerikan ini sejak satu jatu jam lalu dan yang ia lakukan hanya sekedar mengetuk – ngetukkan tangan diatas meja. pandangannya melengos berkali – kali. Melihat suasana club yang dipenuhi oleh  jingkrakan gila membuatnya jijik. Kalau pihak sekolah tahu atau ada razia mendadak, matilah Ia. Lagi pula kenapa juga Eunhyuk menyuruhnya untuk bertemu ditempat seperti ini ? Supaya dikira gaul? Beuhh…

Yoona terus melirik jam tangannya. Ia mendengus tidak suka. Mau sampai kapan lagi dirinya menunggu? Yoona harus tiba dirumah sekitar  jam sepuluh tapi ini sudah hampir jam sebelas. Ia sudah janji pada ummanya.

Mulai bosan, Yoona bangkit mengambil tas selempangnya diatas meja. Tiba – tiba yeoja itu memekik saat  sesuatu  mencengram pergelangannya.

Berbalik melihat orang dibelakangnya,  pupil Yoona menyusut. Pikirannya berusaha keras untuk mencerna tentang siapa orang yang saat ini menahan lengannya. Sepertinya familiar tapi Yoona betul – betul tidak kenal.

“Aku sudah datang… Kupikir  sudah menunggu lama, jadi tidak ada salahnya jika kau duduk sekarang.” Ucap seseorang itu membuat  Yoona semakin terbengong. Matanya tidak berhenti memperhatikan namja tersebut dari ujung kaki ke ujung kepala. Dandanan ala bad boy dengan skinny jeans, sepatu boot berduri, rambut  gimbal berdiri. Serta make up dengan eye liner tebal.

“Tidak perlu keget begitu, aku Eunhyuk.” Ujarnya santai.

Merasa kakinya lemas, Yoona kembali duduk. Ia menghela  nafas sekedar menenangkan diri. Ini betulan Eunhyuk? Penampilannya jomplang sekali ketika Ia di sekolah. Dia bukan lagi Eunhyuk, si culun  berseragam rapih dengan kaca mata tebal. Bukan  lagi  Eunhyuk. Si kutu buku dengan wajah mindernya. Dia orang lain.

“Apa maksudmu berdandan seperti ini?” Yoona menatap selidik.

“Singkat saja…” Jawabnya membalas tatapan Yoona lamat, “Ingin menarik perhatianmu.”

Yoona terkekeh, “Ya ampun ! Sebegitu pentingnyakah aku?”

“Penting !” Timpalnya, “Sangat penting. Aku selalu menunggu saat – saat seperti ini. Hanya kita bedua.” Samar – samar Eunhyuk berkata dramatis.

Yoona menelan ludah menunggu Eunhyuk menyelesaikan kalimatnya kembali, “Akan kuambilkan minum, sepertinya kau haus.”  Katanya berlalu pergi meninggalkan Yoona yang masih membatu. Ini mustahil !

Kenapa pembawaan Eunhyuk jadi layaknya psikopat ? Demi Tuhan, tampang  Eunhyuk yang seperti itu terlihat mengerikan baginya.  Yoona ingin kabur dari tempat ini tapi Ia takut. Takut manakala Eunhyuk berhasil mencegatnya. Takut apabila besok hukumannya ditambah. Takut seandainya namja itu marah dan.. dan  Ia akan bertindak diluar batas.. andwae !

Tiba – tiba saja handphonnya bergetar pertanda bahwa satu pesan singkat masuk. Yoona buru – buru membukanya. Dari Donghae.

‘Sudah tidur?’

Yeah, mestinya  sudah tidur tapi sekarang… Sial ! Yoona semakin kalang kabut. Dirinya harus membalas sesuatu… harus ! Tapi apa? Apa?

“Bisakah kau kesini? Aku takut sekali. “

Jawaban itu sangat tidak nyambung sungguh otaknya  sedang buntu ! Yoona meremas sweater ungunya seraya menimbang – nimbang panik.  Kira – kira Donghae jawab apa ya?

Yoona tersentak. Kali ini  ponsel dalam genggamannya bergetar. Seseorang menelpon. Dan dia Donghae ? Yoona memelototkan mata. Mana mungkin suaranya bisa terdengar kalau dirinya saja sedang berada ditengah suasana gaduh seperti ini ?

“Yoboseo…” jawab Yoona menempelkan mulutnya dibadan ponsel lekat – lekat.

“Yoona apa yang terjadi? Kau kenapa?”

“Nde… Nde Dongh—-“

“Yoona-ya, kau dimana?  Bisa dengar aku?”

“Aku… Aku  di appu-jeong…  di club yang didekat perumahan itu lohh …Yoboseo?”

Sebisa mungkin Yoona menajamkan artikulasi dari setiap kata yang diucapannya namun suara Donghae dari alat komunikasi itu semakin hanyut. Dan Yoona ragu, apakah Donghae juga mendengar suaranya dari seberang sana, percuma. Yoona terpaksa memutus komunikasi diantara mereka. Menggunakan jemari gemetaran, Ia  baru saja akan mengetik beberapa kata dalam pesan singkat tapi segalanya tertahan.

“Sedang menelpon siapa?”

……………TBC…………

33 thoughts on “FF YoonHae – Princess Cliche 3

  1. Me_kJs berkata:

    ada yang baru……
    salam kenal, reader lama yang baru komen…..
    ff yang ini gaya penulisannya atau cara penyampaian beda..
    cuma rasanya waktu chapter 1, begitu cetar membahana, tapi ke chapter2 berikutnya kok sepertinya jadi agak kurang,, padahal yang awal itu asli bikin heboh bacanya….

    • nanashafiyah berkata:

      Maaff sayy… karena yang part 1 kebanyakan pada bilang aneh jd part selanjutnya aku edit lagi… Sebenarnya ini ff untuk menghibur adek aku yang lagi sakit dingg, sudah end siii cuman akunya lg males ngedit yang vers aslinya hehehe, nggak nyangka kamu suka yang part 1 itu hehehe ^___^

  2. yena berkata:

    ternyata eunhyuk dluar amt berbeda
    ap eunhyuk mau bls dendam k yoona gt?
    Kl gt donghae cptn tolongn yoona
    d tunggu part selanjutnya

  3. LoveLy_pyRos berkata:

    apa yG kan eunhyuk Lakuin k yoona…? smga dia tdak b’bUat jahat k yoona n donghae bza nyLmetn yoona…!? dtnggu part sLnjut’y

  4. Annisa Icha berkata:

    Ma’af bacanya kemarin komennya sekarang,sinyalnya lemah.
    Menegangkan… Donghae cepet tolongin Yoona…
    Ditunggu kelanjutannya…

  5. Dhewi pus berkata:

    Apa tu rencana eunhyuk wah macem”. .mga aja hae bru” dtng. .uh gra” soo ne sotoy jd yak gni deh. D tnggu lanjutan’y bruan ea thor. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s