[ Oneshoot ] FF Soowon – Summary Of The Evening

Image

Title : Summary Of The Evening

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Sooyoung, Super Junior Siwon

Other Cast : Changmin, SNSD Seohyun

Leght  : Oneshoot ( 5000 words )

Kau tidak perlu tahu apa pun tentangku. Tidak dengan itu. Sejatinya tanpa dirimu mengerti, aku terlukis dari setiap kata yang kau ucapkan, aku dalam suaramu. Maka sekarang, aku benar – benar tidak sendiri bahwa aku memang tidak perlu sendiri.

Aku terselungkup dibawah pendar cahaya malam. Redup. Kerlip bintang yang membentuk rasi selalu membuatku berbinar – binar. Sesekali pandanganku menangkap berekor kunang – kunang dari balik semak, tubuh mereka menyala dalam kegelapan. Anganku tiba – tiba menerawang jauh, memutar sosoknya dimasa lalu. Sosok bercahaya, jalan keluarku ketika terperangkap dalam satu lubang hitam yang menganga, menyadarkanku.

Aku benar – benar tidak sendiri bahwa aku memang tidak perlu sendiri.

Detik mengagumkan tatkala malam bersinggah dan  menuntunnya padaku. Layaknya patung, aku menatap langit berbintang yang sinarnya menghilang begitu saja, tertutupi oleh awan gelap. Kurasakan bahwa gerimis jatuh menitiki puncak kepalaku. ‘Sial’ Aku mengumpat berkali – kali.

“Maaf ahgassi, tidak ada tempat untuk menikmati udara paling menyenangkan selain disini. Boleh aku duduk disampingmu?”

Aku menoleh kearah sumber suara, mengamati seseorang dihadapanku. Posisinya yang berdiri memunggungi lampu jalan membuat mataku menajam . Seorang namja mengenakan jaket kulit keabuan, serupa dengan warna bebatuan gunung yang kujadikan sandaran. Sesaat aku terhanyut ketika senyumannya tersungging tepat dimataku. Kulihat ada kemerlip diwajahnya. Kekorsletan otakku tiba – tiba saja berkata bahwa dewa bulan baru saja menjatuhkan titisannya persis didepan wajahku. Kuputuskan bahwa aku tidak boleh marah jikalau sang rembulan tidak juga bersinar malam ini, termasuk pada awan gelap atau pun gerimis.

“Boleh kan?!” ulangnya sekali lagi dengan ramah. Wajahnya seperti menorehkan tatapan harap. Aku mengangguk kaku. Menyisahkan sedetik untuk menelan ludah kuberanikan diri  membalas senyumannya. Demi ! Baru kali ini aku mengigil kegugupan.

“Tidak ingin berteduh?” Suara baritone namja itu menyadarkanku seketika. Aku mengerutkan kening mencerna pertanyaannya. Pertanyaan yang bukan berupa misteri atau pun teka – teki  yang kubenci, tapi bibirku kelu untuk menjawabnya.

Aku pun menggeleng. Sama sekali tidak terarik untuk berteduh. Lagi pula ini kan hanya gerimis?

Lagi – lagi dia tersenyum, mungkin sekedar untuk memecahkan keheningan akibat berbicara dengan manusia robot sepertiku. Aku melengos tidak berani bertemu mata dengannya. Namja itu kemudian melemparkan pandanganya pada tumpukan batu  besar dihadapan kami. Seolah menghitung berapa lama lagi gerimis akan mengikisnya menjadi kerikil. Aku hanya diam memperhatikan. Kuhembuskan nafas ditengah cuaca malam daerah perbukitan Seoul.

“Kukira kalau di dunia ini tidak ada yang tertarik untuk duduk diatas perbukitan seperti ini. Bersender disamping batu besar. Terselungkup malam hari, menegandah keatas, menikmati sinar bulan yang tertutupi awan.”

Aku terkesiap saat Ia kembali buka suara. Refleks aku berbalik kearahnya, menatap ia lamat. Namja itu balas menatap lalu tersenyum kembali, “Ternyata ada kau…”

 “Gomawo…” lanjutnya

“Eoh?”

Kurasakan jika kerutan dikeningku semakin menumpuk. Mataku menyempit untuk menegaskan padanya bahwa aku benar – benar tidak mengerti. Aku tidak melakukan apa pun untuknya,  tidak juga menjadi wonder woman sedetik pun selama aku bernapas di dunia.

“Jeongmal gomawo… Aku tidak sendiri sekarang !”

Kepulan asap keluar begitu saja dari mulutku. Dia berlebihan !

“Aku hanya terbiasa menikmati malam di atas bukit  atau bersandar disamping bebatuan. Aku suka bintang dan apa pun yang berkerlip, duduk dibawah keheningan malam yang damai, sebatas itu.” Tandasku setengah kesal. Kukira bahwa kami pernah bertemu dimasa lalu kemudian aku  menyelamatkan hidupnya kala itu.

Namja tadi mengangguk angguk mengerti. Lantas Ia membasahi bibirnya yang merah nan tipis dan mengeluarkan buku sketch beserta sebatang pensil kayu dari dalam jeketnya. Kuperhatikan Ia lekat – lekat dan aku yakin kalau dia juga memperhatikanku dari ekor matanya.

“Aku datang kesini mencari Inspirasi untuk dilukis.” katanya.

“Dengan sebatang pensil ?” Ucapku heran. Kupikir jika sebelum melukis, orang – orang selalu mengeluarkan alat lukis  dengan sejuta embel – embel warna. Begitu yang kulihat diteve – teve.

“Aku ingin membuat sketsa, lalu kusalin menjadi lukisan, nanti.”

“Pada malam hari ? Kenapa ? Bukankah sekarang gelap? Apa yang bisa dilihat? lagi pula tidak ada warna disini.”

Dia terkekeh sambil menatap kedepan. Beberapa detik namja itu terdiam. Aku ikut terdiam. Masih bingung dengan jalan pikirannya.

“Kau … maniak hitam ya?” sahutku tiba – tiba membuat Ia menyemburkan tawa. Bibirku mengerucut. Apa dia baru saja menertawakanku ?!

Ia menepukkan tangannya dipuncak kepalaku. Seketika tubuhku memanas seolah aliran listrik tiba – tiba menyambar. “Memangnya kenapa kalau aku suka hitam ? Apakah warna hitam tidak boleh dilukis?”

“Tidak… Bukan begitu.. Maksudku kau itu pelukis tau apa sih sebenarnya?” tanyaku yang merasa tidak mengerti dengan apa yang mulutku sendiri ucapkan. Aku hanya mengerti bahwa Ia menatapku sekarang. Matanya kecoklatan dan irisnya tajam, aku baru sadar akan  itu.

“Aku bukan pelukis…”

“Lalu?”

“Pengagum alam.”

Sudah kubulatkan tekad kalau Aku benar – benar menyerah untuk mengerti tentangnya. Satu pun tidak ada yang bisa kusimpulkan. Pengagum alam? Terpaksa kuhembuskan nafas, Yeah, jawaban bagus untuk mengalihkan persepsiku tentangnya.  Berbicara tentang alam, sepertinya aku lupa sesuatu. Bukankkah sekarang gerimis…

Gerim…

Gerimis?!

Lalu kenapa Ia mengeluarkan alat gambarnya, Ya Ampun. Meski tidak hujan tapi tetap saja rintikannya pasti akan berbekas… Ini aku yang bodoh atau dia yang bodoh ?

 “Bukankah sebaiknya kau berteduh dulu jika ingin menggambar atau membuat sketsa sebelum dilukis dan apa pun itu? Disini gerimis !” Tandasku penuh penegasan. Kali ini tidak akan aku biarkan pikiranku yang cerdas ini dirusak olehnya.

Dia mengangkat sebelah alis sambil menatapku. Aku gugup sendiri ditatap penuh intimidasi seperti itu. Sejenak naluriku menduga, ‘Ada yang salah dengan ucapanku?’

“Meskipun ini hanya sketsa sebelum dilukis, kau juga harus bisa merasa, mencium, menerawang juga  meraba dengan nalurimu… Tak apa jika tubuhmu berantakan setelah itu… Nanti juga akan bersih kembali. Seperti kertas ini, akan kering setelah terkena rintikan air… Tapi sensasi yang kau rasakan saat tanganmu menari diatas kertas tidak pernah kembali.”

Ia menatap langit gelap diatas sana kemudian mengadahkan wajah dengan mata terpejam, “Kau harus merasakan ini. Saat tetasan air menyentuh wajahmu. Hanya menyentuh dan tidak akan membasahi.”

“Kau suka gerimis?” Refleks aku bertanya. Kupikir kalau dia sangat menyukai gerimis. Kali ini aku tidak berharap  kalau tebakanku benar.

Ia menoleh sekilas lalu menjawab, “Ditengah gelap, gerimis akan menjadi putih jika dilukis dan itu menarik.”

Kali ini otakku semakin rancu dibuatnya. Berarti dia memang suka, kan? Tinggal jawab iya atau tidak, kenapa susah sekali sih?  Bisa kucerna jika namja aneh disampingku ini adalah pengagum alam yang menyukai gerimis. Cukup itu. Titik.

Setelah percakapan itu suasana menjadi hening. Aku sibuk dengan langit tanpa bintang diatas sana sedangkan namja itu mulai sibuk menggoreskan sebatang pensil diatas kertas. Aku mencuri pandang kearah apa yang sedang Ia gambar. Baru saja aku menyembulkan kepalaku, dia sudah menatapku seolah tidak ingin digangaggu. Aku berubah kikuk. Langsung kupejamkan mata seraya mengadahkan kepalaku keatas, merasakan rintikan air menusuki wajahku. Dan sialnya aku sadar bahwa yang kulakukan sekarang sama persis seperti yang namja itu lakukan tadi. Yes, Aku melakukan kekonyolan besar !

Secara paksa mataku terbuka saat suara namja itu kembali mengalun. Aku tidak bertanya apa pun padanya, sebaris saja kalimat tidak ada. Entah sambaran angin apa, tiba – tiba Ia bercerita tentang betapa dirinya sangat  mengagumi benda apa pun di malam hari. Apa saja asalkan dimalam hari. Bintang, bulan, pepohonan, gerimis, angin… Dia menyukainya. Aku bertaruh kalau Ia benci senja. Malam dingin sedangkan senja hangat. Malam gelap sedangkan senja penuh warna. Jingga… merah… hijau… yeah memusingkan. Aku berkata seperti itu dan kulihat dia mengangguk. Sekilas juga tersenyum.

Aku sudah lupa berapa kali benakku menerka – nerka tentangnya. Ini pertama kalinya dalam hidupku untuk ambil pusing dengan selera orang lain diluar keluargaku.  Kutemukan setitik pembenaran untuk menilai dirinya.  Bahwa Ia… menarik. Ia berhak menarik perhatianku. Karena dia istimewa.

Satu lagi. Hal yang akan kusesali seumur hidupku bila saja harus terlewatkan. Aku menanyakan siapa namanya. Dia tersenyum seperti biasa sebelum mengeja, Choi Si Won. Yeah, namanya Siwon. Kurasa kami punya banyak kesamaan termasuk nama. Aku Choi Sooyoung. Dia Choi Siwon. Mr dan Ms Choi S. Konyol… lagi !

“Sepertinya kau sangat suka lukisan? Kenapa?” tanyaku padanya. Aku memperhatikan bagaimana ekspresi wajahnya saat pertanyaan itu keluar dari mulutku—Sumringah—seperti Ia sudah tahu bahwa aku akan menanyakan hal tersebut sejak tadi.

“Lukisan menyimpan beratus macam suasana, tersirat disetiap garisnya. Ia bisa memutar ulang memori kita mengenai cita rasa dari setiap dimensi yang kita lalui. Sedih… senang.. Kecewa… marah… Bahagia. digambarkan melalui lukisan. Cukup menorehkan tangan diatas kertas, tidak perlu menangis atau tertawa terpingkal – pingkal. Praktis kan?”

Aku hanya mengangguk sambil mengingat kembali beberapa lukisan yang pernah kulihat meski sekilas. Padahal selama ini aku tidak pernah peduli mengenai apa – apa tentang lukisan. Makna dan perasaan yang terkandung didalamnya, aku belum  paham.

“Dalam lukisan terdapat sebuah cerita yang bisa dinikmati tanpa harus mengukir beribu kalimat. Tulisan atau foto bisa diedit atau dirubah tapi lukisan tidak. Mereka berasal dari tangan dan hanya si pemilik tangan inilah yang paling tahu akan arti sebenarnya. Cerita yang sudah terlukis tidak akan pernah berubah.”

Aku tertegun mendengar pernyataannya. Detik ini kusadari bahwa orang – orang seperti Siwon seperti memiliki banyak rahasia dibalik apa pun yang mereka ciptakan . Dia terlalu misterius dan kupikir akan sangat sulit untuk aku menerobos pikirannya. Namja itu  membuatku menerka  sendiri apa pun tentangnya tanpa perlu tebar pesona, tidak seperti namja lain diluar sana. Aku menyukai sesuatu yang berkerlap kelip dan aku baru menangkap jika salah satu dari sekian ratus benda yang berkelap kelip itu adalah matanya.

“Menurumu apa yang menarik dimalam hari?” tanyanya mendadak.

Pikiranku yang mulanya tidak fokus mendadak dibuyarkan oleh suaranya. Aku menatapnya bingung. Dia tertawa kecil mengangkat  kedua rambut tebal diatas matanya. Kutarik nafasku dalam – dalam hendak membaca apa yang sekarang Ia pikirkan. Tapi rasanya sulit.

“Apa yang membawamu kemari ?” Sekali lagi Ia bertanya. Mulutku langsung terbuka, “Suasana…”

Dia terkekeh memandangi angkasa. Sontak aku menatap tidak terima. Aku benci ketika orang tertawa kala aku sedang mengatakan hal sungguhan. Siwon punya mata telinga dan pastilah Ia  tahu betapa seriusnya aku.

“Apa yang kau pikirkan tentangku ?” Tanpa perlu interuksi lagi, lidahku bergerak begitu saja. Jujur kalau aku sudah tidak tahan melihat sikapnya.

Siwon menyipitkan mata, melihatku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku langsung merinding dibuatnya.

“Yeoja pengagum malam biasanya identik dengan seorang penyendiri, tidak suka keramaian…Yeoja pencari kedamaian?” jawabnya tersenyum seperti tadi. Lengkungan itu… lama – lama jadi begitu mengesalkan.

Aku tersungut tidak paham, “Apa maksudmu ?!”

“Jangan jadi penyendiri lagi. Kau tampak seperti, pengecut.”

Siwon berdiri dari pijakannya. Ia berdiri membelakangiku yang juga ikut berdiri. Sejurus Ia melangkah dan aku belum bisa mengikhlaskaannya pergi setelah pernyataannya terhadapku. Pertanyaan yang berkumandang tajam hingga aku ingin berteriak kencang persis disamping telinganya.

“Aku tahu jika dirimu juga begitu, Siwon-ssi. Apa yang kau ucapkan barang kali tidak jauh – jauh dengan apa yang menimpa dirimu. Bukannya kita sama – sama suka dengan malam?!” Teriakku memberhentikan langkahnya. Siwon berbalik, aku menatapnya kesal.

“Begitukah ?“

Dia menanggapi enteng ucapanku. Tidak ada kalimat selanjutnya, dia speechless. Aku tahu kalau dia sedang tersudut. Sungguh aku sedang kehilangan selera untuk memulai perkelahian apalagi dengan orang baru kenal seperti dia. Dadaku berubah sesak. Beribu kekecewaan harus kutelan pahit – pahit karena nyatanya aku belum bisa mengerti setitik pun mengenai Siwon. Ia memang menarik. Sangat menarik sampai membuatku ingin muntah.

 “Lalu  apa malam selanjutnya kita akan bertemu ?”

Katanya lagi – lagi dengan enteng. Aku sudah hilang kesabaran.

“Mungkin iya, tapi semoga tidak !” Jawabku tidak kalah datar. Memangnya dia saja yang bisa bersikap dingin?!

Jantungku mencelos sesaat setelah kalimat itu terucap. Aku langsung pergi meninggalkannya. Air mataku tiba – tiba tertumpah tanpa bisa kukendalikan. Berjalan ditengah gelap tidak ada yang memperhatikanku. Terlebih saat gerimis berubah menjadi hujan. Kugelar Hondie diatas kepalaku kemudian berjalan cepat menghindari hujan. Mencari tempat berteduh tapi tidak kutemukan satu pun.  Alih – alih memikirkan diriku yang sudah basah kuyup, pikiranku malah jauh melambung kepada sosok Siwon. Buru – buru kutepis dan meyakinkan bahwa dia pasti baik – baik saja. Lebih baik dariku dan mungkin sedang tertawa – tawa  membayangkan penderitaanku.

Siapa peduli !

…….

Malam selanjutnya aku menekan segala keinginanku. Kuremas sepuluh jemariku tatkala naluri ini memanas. Aku tidak tahan, sesuatu didalam dadaku  seolah mendorong agar tubuhku berlari sekencang mungkin. Perasaan aneh pun menjalar,  rindu untuk betukar sapa dengan  ribuan bintang juga memandangi cahaya bulan diluar sana, semua itu menyeruak dalam anganku. Akhirnya kutarik napas dalam.

 Lagi – lagi  tidak akan.

Aku terlanjur bertekad bahwa sebisa mungkin tidak bertemu dengan namja itu lagi. Aku benci Siwon, titik. Masih terngiang jelas ditelingaku bagaimana Ia mengataiku, Pengecut. Hah ?! Aku berteriak frustasi sejak tadi. Kubenamkan wajahku dibawah bantal. Orang rumah tidak bisa mendengarku.

“Youngie, malam ini aku tidak bisa datang. Seohyun membutuhkanku. Mianhae Youngie…”

Mataku membulat seketika. Tanganku bergetar usai mengeja setiap kata dari pesan singkat yang seketika menusuk jantungku. Pipiku basah,  meninggalkan catatan kaki berupa kepayahanku dalam menghadapi seorang Shim Chang min. Seohyun ?  Harusnya aku terpingkal karena Sejak dulu Seohyun adalah nomer satu, dibanding aku, yeojachingunya sendiri.

“Br*ngs*kkk !”

Benda – benda disekitarku kulayangkan tanpa arah. Kutatap  sudut ruangan,  handphone yang tadinya kugenggam sudah hancur. Aku muak dengan benda itu ! Lalu seperti orang gila aku menjambak rambutku, kuinjak sebuah bantal dalam genggamanku. Berbisik pada diri sendiri  bahwa betapa menyedihkannya aku. Menangis terisak.  Aku benar – benar  tidak peduli bahwa apakah orang rumah mendengar suaraku atau tidak. Dan yeah, Kendati mendengar sekalipun mereka tidak akan berbuat apa – apa. Mereka bekerja seharian, Mereka lelah dan tidak ingin diganggu, begitu kan?

Kenapa semua orang didunia ini tidak ada yang waras ?!

Malam terburuk sepanjang sejarah. Saat dunia begitu menyakitkan, aku pergi menerobos kegelapan. Seorang diri  aku berlari menyusuri bukit tanpa alas kaki. Pikiranku  rusak. Aku sudah lupa bagaimana cara melangkah dengan benar. Arah pandanganku limbung. Aku tersesat  bahkan disepanjang jalan yang biasa kulalui.  Kupandangi perempatan dihadapanku dengan mata berair. Tidak jelas ada apa disana.

Tiba – tiba saja aku merasakan kehangatan lain.. Kugelengkan kepala melihat seseorang dihadapanku. Namja itu… namja bermata coklat dengan alis tebal. Aku mengenalnya. Seharusnya aku terhindar dari orang itu sekarang.  Tidak seharusnya Aku bertemu dengan Siwon disini lalu membiarkannya mendekap tubuhku juga Tidak seharusnya aku berdiri disini, menikmati kehangatan yang ia berikan tanpa mampu berontak.

Aku ingin menampar wajahku sendiri. Jelas – jelas aku benci Siwon dan sekarang tanpa mampu berkutik, aku malah  menangis diatas dada bidangnya. Kemejanya sudah basah oleh tangisanku sedangkan air mataku belum juga kering.

“Kau benar… Aku pengecut…”

Tidak sanggup kupercaya, aku mengakui kelemahanku dihadapannya. Seolah aku membenarkan semua yang Siwon ucapkan tentangku. Mempertaruhkan harga diri, terserah manakala namja itu menertawakanku habis – habisan karena sekarang aku terlalu letih untuk menyangkal.

Selama ini, aku hanya mampu menyiksa diriku sendiri saat Changmin berbuat semena padaku. Saat Ia lebih mementingkan sahabatnya, Seohyun. Aku tidak berani marah sama sekali, sebatas karena alasan klasik. Karena aku mencintainya. Karena aku takut kalau dia meninggalkanku. Terlalu payah menahan sesak sendiri. Choi Sooyoung  benar – benar seorang pengecut.

“Kita sama.”

Aku terkesiap mendengar tanggapannya. Kuarahkan pandanganku menatap wajahnya. Ia menunduk menampakkan gurat kegelisahan disana. Perlahan Ia menarik nafas lalu mencoba membalas tatapanku.

“Aku juga pengecut,  Sesungguhnya aku selalu teringat oleh perkataanmu terakhir kali… mengenai ‘Apa yang kau ucapkan barang kali tidak jauh – jauh dengan apa yang menimpamu. Bukannya kita sama – sama suka dengan malam?!”

Dia terkekeh sambil menerawang. Aku terkesima dengan cara Siwon  mengigat serentetan kata yang pernah kuucapkan dulu. Tidak menyangka kalau itu berkesan.

Aku kaget saat Ia meraih daguku. Aku mendongak. Ia menatapku lembut seolah aku boneka kaca yang mudah pecah.

“Sooyoung, aku sudah lama memperhatikanmu… Mianhae karena selama ini aku lancang  memandangimu dari kegelapan malam. Mengagumimu dalam bisu tanpa berani mendekat. Menyelidiki setiap detail kehidupanmu dari belakang tanpa mau menunjukkan diri lalu  memperkenalkan diriku seolah aku baru pertama melihatmu… Sungguh, akulah sebenarnya  pengecut sejati.”

Kali ini aku yang terkekeh. Aku terkekeh juga tertegun disaat bersamaan. Jadi apa perlu kucerna lagi kalimat barusan ? Siwon memperhatikanku dari lama, memandangiku diam – diam setiap malam. Bahkan tanpa aku sadari, Ia  memata – matai kehidupanku, begitu? Siwon sudah lama mengenalku dan aku layaknya kehilangan akal saat kali pertama mengenalnya. Pertama bertemu kuanggap dia menarik.

Aku merasa dipermainkan. Kugelengkan kepalaku tapi aku tidak bisa marah. Bukan tidak bisa tapi tidak berhak, mungkin. Baik diriku maupun Siwon, masing – masing dari kami memiliki kepantasan  untuk mengagumi dan dikagumi. Baik  itu dalam diam atau pun terang – terangan. Tidak ada yang boleh menghalang – halangi, satu pun tidak.

“Aku ingin kau putus dengan Changmin, Sekarang…”

Satu hal membuat persendianku lemas hingga nyaris ambruk. Siwon tidak terlalu pintar berbasa basi. Masalah besar, karena rupanya dia cukup pandai menyalurkan shock teraphy.

“Kita akan bertemu lagi kan?” tanyanya kepadaku yang masih membatu. Dia selalu mengungkapkan sesuatu secara bertubi – tubi hingga aku bingung tanggapan apa dulu yang pantas kuberikan.

“Soo, lupakan ucapanku yang tadi, tentang Changmin.”  Ia menatap serius kemudian  tersenyum seperti biasa. Kedua tangannya menggenggam bahuku. Aku menenggak ludah sambil merasakan setruman listrik dari tubuhnya merembes ketubuhku.

 “Apa kau bersedia bertemu denganku lagi?”

Aku mengangguk. Kesalahan pertama, aku membiarkan aliran darah dikepalaku mengalir tanpa kontrol hingga wajahku  terasa memanas. Kedua,  jantungku berdegum ditengah situasi hening seperti ini tanpa bisa ku-minimalisir hingga Siwon, kemungkinan besar namja itu mendengarnya. Ketiga, aku setuju untuk bertemu dengannya lagi dikemudian hari.

……………….

Malam menjemput dihari berikutnya. Besok, lusa, besoknya dan besok lusanya lagi. Ketika sosok Changmin mulai terkikis, tergeser secara perlahan dari daftar orang yang paling kuinginkan. aku mulai bisa berpikir jernih bersama Siwon disampingku. Aku nyaman berada didekatnya. Aku bahagia menyadari bahwa Ia ada disini, disisiku. Menikmati cahaya rembulan juga taburan kemerlip bintang dalam angkasa gelap. Ada banyak keindahan dalam sejengkal kegelapan. Aku selalu hapal bagaimana Siwon mengutarakan kalimat itu. Penuh kehangatan.

“Ada banyak hal yang bisa kau lihat saat gelap. Ketika memejamkan mata, rintikan cahaya muncul diatas background hitam.”

Sambil mendongak, Ia meneropong bintang dengan kedua tangannya. Aku tersenyum lebar melihat tingkah kekanak – kanakan namja berkepala dua disampingku. Seperti biasa, dia mulai bercerita tentang apa yang menarik menurutnya, aku menanggapinya kadang dengan tertawaan ataupun wajah kesal yang kubuat – buat.  Entah, aku ingin segalanya terus seperti ini. Saat Siwon juga mendengarkan ceritaku dengan wajah penuh minat—- padahal aku menganggap bahwa ceritaku tidak ada menarik – menariknya— ketika dia tersenyum memperhatikanku. Itu sesuatu. Sesekali dia memperlihatkan hasil sketsa yang sudah Ia salin menjadi lukisan padaku, seperti sekarang. Aku membolak – balik tumpukan kertas miliknya sedangkan Ia masih berkutat dengan ribuan inspirasi diatas sana.

“Soo-ya…”

Aku mengalihkan pandanganku dari tumpukan kertas  untuk menatapnya. Sekelebat cahaya remang – remang lampu jalan menyatu dengan siluet tubuhnya. Perlahan memoriku tentang pertemuan kami—- saat pertama kali aku melihatnya— terulang kembali. Aku pernah menganggap bahwa Siwon adalah titisan dewa bulan, persis saat cahaya malam tertutupi awan gelap, aku menyukainya.

“Dengarkan aku baik – baik.” Ia mulai berkata. Diseputar  raut wajahnya terjuntai nada serius ketika menatapku. Kutarik nafas panjang untuk mengimbangi irama jantungku yang ‘lagi – lagi’ berdetak tidak normal.

“Saranghae.”

Nafasku tersendat. Aku menatapnya tanpa berkedip. Siwon lalu menggenggam kedua tanganku. Aku terkesiap saat kepalan hangatnya membungkus rapat  jemariku. Mata kami bertemu  dan kukira irisnya semakin tajam.

“Aku berani mengatakan ini karena kuyakin bahwa  aku sedikit  paham tentangmu…”

 “Aku ingin temukan dirimu lebih jauh dari sebelumnya. Tidak  dalam bisu atau pun dalam gelap.”

Aku membatu panjang sebelum menjawab ‘Nado’. Dalam diam aku memohon kepada waktu untuk berhenti sejenak,  lebih lama dari sebelumnya. Kuabadikan malam ini sebagai sesuatu paling berharga. Selama – lamanya…

……

Sudah dua kali berturut – turut ketika purnama membentang  jauh diatas  kepalaku. Cahayanya semakin redup—menurutku—Benda bulat itu seakan tersenyum hambar, memandangiku yang  lagi – lagi tercenung sendiri. Kutatap purnama membayangkan bahwa wajah dia yang muncul diatas sana untuk beralih menggeser benda – benda langit. Kugerakkan telunjukku mengukir angkasa, menyambung – nyambungkan bintang satu dengan lainnya hingga  namanya tertoreh diudara. ‘Choi Siwon’ Kuhembuskan napas keras, menyuarakan asap tebal dari dalam dimulutku. Aku rindu pemilik nama itu dan sudah lelah menanggung rindu. Begitu sangat.

Tidak sepenuhnya meleset, dugaanku saat awal pertemuan kami ada benarnya. Siwon yang menyebut bahwa dirinya seorang ‘pengagum alam’ kini sedang  sibuk mempersiapkan pameran lukisannya. Ia selalu direpotkan oleh aktivitas barunya—merampungkang sebuah karya—-sedangkan aku masih seperti dulu.  Sendiri ditengah gulita.

Sedikit rasa pahit mendobrak naluriku lalu berbisik bahwa Siwon sudah berubah. Merembes arus sesak tatkala pernyataan itu muncul dan menghanguskan segala  kepercayaanku tentangnya. Aku ingin Siwon yang dulu. Seseorang yang selalu meluangkan waktunya setiap malam demi aku. Berbagi cerita dan tertawa bersama. Dia berubah. Tapi aku tidak bisa bilang begitu jika nyatanya cukup  aku saja  yang belum berubah hingga detik ini. Masih begini dan begini.

Aku bertahan dengan diriku sekarang sedangkan Siwon melambung jauh dengan segala yang ia miliki.

Malahan aneh seandainya aku merasa bahwa Ia  seperti dulu. Choi siwon dua sebulan lalu.

“Youngie…”

Kutatap seseorang dibelakangku. Alisku meliuk. Dahiku terlipat lebih lekat dari biasanya.  Pantas jikalau aku merasa agak ‘bagaimana’ dengan panggilan orang itu padaku. Ternyata dia itu, coretan masa laluku. Tuan Shim.

“Changmin oppa !” Aku bergumam menunjukkan padanya betapa aku kaget akan kehadiran Ia disini. Tidak seperti malam biasa. Changmin memang tahu akan diriku yang menyukai malam. Ia tahu betapa tergila – gilanya aku akan daya tarik cahaya ditengah gelap seperti aku yang tergila – gila padanya dulu.  Aku tidak mengerti tentang maksud namja itu menyambangi tempat favoritku, bersama Siwon.

“Youngie…” Panggilnya lagi, mulai melangkah kearah tumpukan bebatuan yang menjadi sandaranku sekarang. Kutarik napas kasar.

Kulengoskan pandanganku, tidak berselera untuk  menatapnya sama sekali. Kurasakan bahwa dia mulai menatapku lekat. Aku tahu isi pikirannya. Kemungkinan tidak jauh – jauh dari, kenapa aku begitu menyedihkan sekarang.

Sesunggunya aku lebih menyedihkan saat bersamamu, Chang Oppaa.

“Kenapa kau selalu menghindariku akhir – akhir ini, memangnya apa salahku?”

Nada memelas dari mulut Changmin membuat amarahku membuncah. Harus kuakui, sejak aku mulai kenal dengan Siwon—atau katakan saja sejak malam itu—Aku menghindar,  lebih tepat lagi, aku mulai melupakan Changmin karena sepertinya Ia lebih bahagia dengan Seohyun.

“Aku bukan menghindarimu, aku memang tidak punya apa pun lagi yang harus aku bicarakan… “

“Apa?”

“Hubungan kita sudah berakhir…” kataku datar dengan pandangan searah. Dia menatapku tidak terima.

“Kau bercanda?!”

Kali ini kutatap dia penuh keseriusan, “Menurutmu begitu ? Terserah.”

Baru kali ini aku merasa senang berbicara dengan Changmin. Mengungkapkan apa yang selama ini mengendap dikepalaku. Tidak dengan berpura – pura senang hanya karena takut kehilangannya. Tapi lama – lama berada disini tubuhku menjadi kian memanas. Kuusahakan untuk tidak berlarut – larut menatap wajahnya. Meski begitu  perasaan ini seakan teraduk kembali. Antara marah… kecewa… kasihan.. dan… sudahlah. Jelasnya, aku sudah menerima Siwon untuk memainkan peran penting dalam hidupku, tidak ada lagi nama Changmin sekarang.

“Kalau begitu kembalikan cincin yang sudah kuberikan padamu.”

Aku yang baru saja akan melangkah tiba – tiba tertegun. Kutolehkan wajahku sekali lagi. Dia menatapku dengan seringaian. Dia sedang menguji keseriusanku atau apa? Baiklah ! Jangankan cincin, semua barang – barang yang telah Ia berikan padaku dulu akan aku kembalikan.

Detik itu juga langsung saja kuraih sebuah benda yang sialnya masih melingkar dijari manisku. Mungkin aku dungu karena masih memakainya. Dan yeah, tidak akan kubiarkan kebodohanku ini berubah kronis. Aku melangkah ketempat dimana Ia berdiri. Kubuka telapak tangannya kemudian menepukkan cincin itu disana keras – keras.

“Selamat tinggal.”

Berbekal rasa tidak peduli dengan keberadaan Changmin, aku menggalakkan langkah seribu sambil memeluk tubuhku sendiri. Dingin sekali rasanya. Udara malam ini sempai menembus jaket kulit yang kukenakan. Suara gemerutup mulai terdengar dari dalam mulutku bahkan indra penciumanku sudah perih karena suhu udara kian menurun. Terus – terusan begini, aku bisa membeku.

Dapat kudengar suara langkah kaki dari belakang. Aku tidak berharap bahwa itu Changmin—entah mau apa—sedang mengikutiku. Lebih dari itu pun suara tepakan kaki dari arah tikungan mengalihkan perhatiaku. Setitik firasat  membelenggu. Deguman dalam dadaku tiba – tiba saja berdetak diluar keharusan. Ketika deguman—entah keberapa—menggema, aku melihatnya lagi…

“Siwon Oppa.”

Kala itu juga aku melihatnya. Melihat sosok Siwon berdiri dihadapanku setelah kerinduan dalam dada ini sudah tertanam lama. Dia tersenyum tanpa dosa. Aku menekan tangisku sendiri. Menahan Kristal bening hingga serasa diujung tanduk.

Lesung pipinya masih terpasang jelas ketika aku membalas senyumnya. Setengah dahinya tertutupi beberapa helai rambut yang terhempas  angin tatkala aku melambaikan tangan kearahnya. Mata bulatnya menyipit kaget manakala aku menyahutinnya dari jarak beberapa langkah. Bisa kurasa bahwa udara dingin malam  mula – mula berganti dengan rasa hangat  dan dia adalah kehangatan paling sempurna yang pernah kumiliki.

“Soo-ya…”

“Youngie…”

Satu waktu dari arah berlawanan, dua suara berbeda, sapaan berbeda beserta rasa yang berbeda pula menyatu dalam indra pendengaraanku. Aku menoleh  kearah dua sumber suara. Satu persatu kuperhatikan mereka. Kuberhentikan mataku pada sosok didepanku—menurutku ia penting—Kutatap Siwon dalam diam. Dalam keheningan terpancar setitik harapan agar Ia tidak berpikir macam – macam tentangku. Bergeleng kearahnya, aku memohon takut – takut. Tidak ingin apabila Siwon berpikir bahwa aku bersama Changmin selama Ia tidak ada. Siwon membatu, kuperhatikan jika Ia  menatap Changmin yang mulai mendekat. Sejurus aku ingat bahwa orang itu masih ada disana.

Tubuhku bergetar. Aku masih hapal betapa mencekamnya serigaian Changmin saat melewati tubuhku tadi, setelah akhirnya Ia  berhentikan langkahnya didepan Siwon lalu menatapnya tajam.

“Bilang pada Youngie-ku. Gomawo karena telah menemani Shim Changmin selama ini…”

Kutangkap ucapan Changmin dengan jelas. Pandanganku rasanya berputar. Aku tidak mengerti dengan maksud Ia berkata seperti itu pada Siwon. Dan lagi, Kenapa harus kepada Siwon ? Kenapa tidak denganku?

“Kurasa dia sudah mendengarnya,”  Siwon lantas menjawab permintaan Changmin dengan datar. Ia menatap jalan raya, mengisyaratkan agar Changmin pergi sekarang. Sedangkan aku masih mematung menatap keduanya. Aku takut terjadi sesuatu.

Pandanganku mengabur, mataku tiba – tiba berair tanpa sebab. Bukan, bukan tanpa sebab karena aku merasa bersalah pada Siwon. Tidak seharusnya aku melangkah di-tikungan ini dan bertemu dengannya sedangkan Changmin mengikutiku dari belakang…

Sampai ketika Changmin berlalu, aku tersadarkan oleh pandangan Siwon yang beralih kearahku. Kedua tangannya meraih daguku agar mendongak. Dari sudut mataku, kurasakan ada sesuatu yang mengalir disana. Embun malam  dari langit – langit mataku. Siwon menyeka pipiku lembut kemudian  menegakkan telunjuknya didepan bibirku.

“Jangan coba – coba bertemu dengan satupun namja diluar sana tanpa sepengetahuanku…”

“Dia yang menemuiku…” Kujawab dengan bibir tertutup. Siwon tidak juga melepas telunjuknya dibibirku. Aku hanya mampu menelan ludah karena bernapas sangat sulit sekarang.

“Kalau begitu jangan lagi keluar malam sendiri,  tanpa aku…”

Setelah kalimat tadi, aku tidak merasa lagi bahwa telunjuknya menutupi bibirku melainkan… Sentuhan bibirnya yang mendarat malam itu, pertama kali membuatku terhanyut.

“Mianhae Soo…” Siwon lalu berbisik setelah Ia mengakhiri sentuhannya. Aku tersenyum untuk meyakinkan dia bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Baru saja ingin kukatakan; aku merindukanmu. Tapi mulutku terlanjur bungkam. Kedua kali, Ia membenamkan tubuhku  dalam dekapannya. Dekapan hangat yang begitu lama kurindukan.

…………………….

Berjalan menikmati malam ketika biasanya hanya duduk termangu. Aku mencuri tatap kearah namja yang berjalan disamping kananku. Kurasa bahwa Ia semakin menarik ketika ditatap dari samping. Pandanganku beralih saat Siwon memasukkan genggaman tangan kami kedalam saku jaketnya. Hangat. Aku tenang  disampingnya. Tidak seperti dulu, merasa sendiri meski aku punya Changmin.

Tidak ada perbincangan untuk sekedar menemani  langkah kami. Aku dan Siwon sama – sama diam dalam keheningan. Hampir dua bulan lepas kontak  membuat diriku—mungkin Ia juga— sedikit canggung. Apalagi setelah kejadian dengan Changmin tadi.

Aku mengerti perasaannya dan dia mengerti apa yang kupikirkan. Sedikit ragu akan itu, sesunggunya dirikulah yang sok mengerti… pura – pura bersikap biasa. Entahlah.

“Kau benar – benar serius kan Soo?” tanyanya. Seketika aku menyetop langkah. Kutatap dia tidak mengerti.

Siwon tersenyum menatapku lalu memperjelas lagi, “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu.”

Begitu meyakinkan dia tersenyum manis sebelum menarik tanganku untuk berlari bersamanya, menggerayangi jalan sepi yang membentang. Siwon merangkul pundakku ketika laju kami semakin pelan. Perlahan – lahan  kutarik  napas dalam, menghirup  aroma  tubuhnya yang  bercampur dengan bau khas angin malam. Aku suka itu.

Sebuah gedung aula terpampang didepan kami. Aku menatapnya heran. Ia membalas tatapanku dengan senyum lebar, membuatku percaya tanpa mengerti apa pun maksud dia  sampai aku bersedia mengikutinya. Siwon mengajakku untuk berdiri didepan sisi dinding berwarna putih. Aku mengernyit.

Diam – diam,  Siwon menggenggam tangan kananku. Seketika aku terkesiap, menahan segala keinginan; jangan sampai bertemu mata dengannya. Aku menduga kalau Ia sedang tersenyum saat ini.

Dinding didepan kami berputar, sebuah benda persegi ukuran 200 x 200  terpampang jelas didepan mataku. Kuberanikan diri untuk menatap namja disampingku. Dia tersenyum ringan—seperti dalam bayanganku— meski tergambar jelas bahwa Ia sangat gugup.

Beralih menatap  dalam,  Aku disadarkan oleh  benda yang  ada dihadapanku kini, Sebuah kolase lukisan. Lukisan yang didominasi  oleh warna hitam siluet seorang yeoja dari samping. Yeoja dengan rambut terikat, ada pula dengan rambut  teruarai sebahu tapi aku yakin mereka orang yang sama. Beberapa gambar itu ditempel dan digabungkan sedemikian rupa kemudian diberi efek cahaya dari  bintang dan bulan yang menerangi malam itu. Sesuai tema ‘Cahaya dalam gelap, Hitam dengan cahaya.’

Aku memajukan wajah penasaran.  Sosok yeoja itu, seperti aku mengenalnya. Tapi… Ini tidak lucu seandainya kukatakan bahwa yeoja itu adalah… Aku?

Sudut mataku menatap hal lain, meski sebelum ini pikiranku masih rancu tapi aku merasa aneh dengan sebaris kata disudut kanan kolase. ‘Aku dan Sooyoung… ‘

“Itu aku ?” tanyaku padanya. Kali ini Siwon tidak tersenyum tetapi sekedar menggaruk tengkuk. Aku memanyunkan bibir. Aku bersumpah, setelah ini dia akan kumintai bayaran tinggi.

“Kalau Iya kenapa ? Aku menjadikan kolase ini sebagai tema utama dalam pameran. Kau tidak marah kan?”

Aku memasang wajah berpikir keras sambil menatap plafon, “Eummm marah tidak ya? Masalahnya, wajahku juga tidak keliatan, hanya siluet.”

“Jadi ?” Ia mengangkat alis.

Aku yang masih berpikir tiba – tiba saja tersadarkan oleh sesuatu, “Kau menjadikanku model dalam pameranmu ?” Ucapku dengan nada kagum. Siwon mengangguk, “Iya, hanya kau satu – satunya model dalam pameranku.”

“Kenapa?”

“Karena kau cantik.”

Kalau disini bukan tempat umum, aku sudah tumbang sekarang. Aku akan jatuh dengan wajah memerah didepannya. Dan yeah,  kepalaku ngilu membayangkan itu karena saat ini pun wajahku sudah memanas  akibat lengkungan bibir yang kutahan sejak tadi

“Lalu, Kenapa lukisan wajahku tidak dipajang ?” aku menyuarakan pendapatku. Mencoba bernegosiasi dengannya. Aku hapal betul bahwa Siwon  juga pernah menggmbar wajahku secara utuh lalu dijadikannya lukisan, bukan sekedar siluet.

“Jawabannya singkat…” Ia tertunduk lama sebelum akhirnya menjawab, “Hanya tidak ingin apabila keindahan wajahmu dinikmati orang – orang. Cukup aku yang menyimpannya… Mian…”

Mian… Kata itulah yang berhasil kurekam. Aku menahan napas, tidak sanggup untuk merekam pengakuannya sebelum itu. Dan lagi, tidak seharusnya Ia meminta maaf. Sesungguhnya apabila berada diposisinya,  akan kulakukan hal serupa.

Kembali Siwon menggenggam tanganku. Kali ini bukan sebelah tapi kedua tanganku. Tidak ada lagi senyum dibibir. Dia menatap serius dan aku hanya mampu memperhatikan.

Suara  bergemuruh, mengalihkan perhatianku pada dinding dihadapan kami. Dinding yang lagi – lagi berputar keposisi semula. Kali ini tidak sekedar dinding putih, ada sesuatu yang tertulis. Aku tercenung ditempat. Kurasakan bahwa tubuhku melemas,  Siwon mengencangkan genggamannya. Aku bergeleng tidak percaya.

‘Saranghae…”

“Cahaya  dalam gelap, Choi Sooyoung…”

“Would you be my wife?”

Kubaca satu persatu tulisan didepanku. Tulisan bertinta hitam  diatas dinding putih. Aku tidak mampu berkata – kata lagi. Hanya air mata, hanya tetesan deras dari dalam sana. Satu – satunya yang  mewakili perasaanku sesungguhnya.

Selama ini kukira bahwa tidak ada seorang pun namja yang peduli padaku. Kukira kalau apa yang kurasa selalu bertepuk satu sisi. Memang, aku tidak begitu mengerti tentang Siwon, tapi aku akan mencoba. Memang, aku tidak punya apa – apa—suatu kebanggaan—tapi akan kucoba memberikan apa pun yang aku miliki,  padanya…

Siwon menatapku sekali lagi sedangkan aku mengangguk. Sebatas  anggukan tanpa kata. Naluriku dapat masuk kedalam matanya dan berbicara  tentang kesungguhan didalam sana. Setiap orang memiliki  kepantasannya masing – masing.  Mencoba  tulus pada siapa pun yang dikirimkan Tuhan untukku dan Tuhan telah  mengirimkan Siwon, sosok yang juga tulus padaku, aku padanya.

“Gomawo Soo-ya…” Untuk kesekian kalinya Siwon membenamkan tubuhku kedalam dada bidangnya. Aku masih terisak belum mampu berkata apa pun. Aku senang, sebab kini ada Siwon yang menjagaku.

“Kenapa selalu menggambar didekatku,  diam – diam mau menjadikan  aku model ya?” Pikiranku tiba – tiba saja menerawang jauh. Sepotong percakapan kala itu membuatku tersenyum.  Tidak hanya model, lebih dari itu ternyata.  Siwon sedikit licik, aku akan mengingatnya selalu.

‘Cahaya dalam gelap, Choi Sooyoung’ kalimat awal untuk membuka lembar baru, bersamanya…

Seketika alur cerita pada masa itu berputar kembali. Siwon, aku memilih  untuk berbagi hidup bersamanya. Didepan pendeta kami mengucap janji suci sehidup semati. Kulihat bahwa masing – masing  keluarga kami tersenyum bahagia meski awalnya keluargaku sedikit minder dengan keluarnga Siwon. Karena nyantanya Siwon adalah anak seniman besar di Korea. Aku terkejut awalnya. Tapi bukan masalah, karena aku mencintainya bukan sebagai siapa – siapa. Karena dia Siwon. ‘Pengagum Choi Sooyoung dalam gelap’ begitulah aku menyebutnya. Bahkan ketika Ia akan pergi untuk melanjutkan Study-nya keluar negeri. Aku masih sempat bercanda dengannya.

Andai saja saat itu rahimku belum ditumbuhi kehidupan ditambah pekerjaanku di seoul sebagai penulis majalah anak tidak menumpuk, aku pasti sudah terbang jauh. Berdua dengan Siwon saat ini juga.

Dua bulan sebelum Siwon pergi, dia sudah menitipkanku janin. Nyawa yang harus kujaga  baik – baik. Dan karena ini kehamilanku yang pertama, aku jadi tidak diizinkan pergi jauh. Baik dari pihak  keluargaku maupun keluarga Siwon menegaskan larangan untuk aku menetap di luar negeri. Rawan kata mereka.

Kini sebelum dunia nyata mengantarkanku kealam mimpi,  pandanganku selalu mengarah pada sisi dinding kamar. Melihat kembali kolase lukisan Siwon kala menawarkan diri untuk menikah denganku. Aku terikik. Tiba – tiba saja aku teringat mengenai perkataannya dulu.

“Selembar lukisan memuat beratus macam suasana yang tersirat disetiap garisnya. Ia bisa memutar ulang memori kita mengenai cita rasa dari setiap dimensi yang kita lalui. Sedih… senang.. Kecewa… marah… Bahagia. digambarkan melalui lukisan. Cukup menorehkan tangan diatas kertas, tidak perlu menangis atau tertawa terpingkal – pingkal. Praktis kan?”

Sepenggal kalimat Siwon yang berhasil kuingat. Aku baru berpikir; Yeah praktis, sangat praktis seperti caranya mendekatiku. Dan bodohnya aku bisa jatuh hati.

Dan satu lagi kusadari bahwa ada dimensi lain dari setiap lukisan. Sedih, marah, kecewa, bahagia. Seperti lukisan ditanganku ini. Lukisan yang dikumpulkan menjadi bentuk kolase berisi siluet diriku. Saat aku marah, tersenyum, kecewa…  semua teringat kembali tanpa aku menuliskannya, meski hanya titik. Aku bahkan ingat berapa kali aku menunjuk – nunjuk bintang diangkasa, dan Siwon sedikit—ehmm sangat— terganggu dengan suaraku yang berisik …

“Gomawo Siwon Appa….”

Kupandangi angkasa gelap dari tangga teras rumahku. Suasana malam kurasa cukup untuk mengobati rasa sepi yang membelenggu meski  kadang aku juga rindu dengan kebiasaanku dulu. Memanjat bukit, menghitung bintang,  bersender dibebatuan sambil menatap malam. Mustahil jika aku melakukannya sekarang kan ? Siwon akan terbang ke Seoul sekarang dan memarahiku habis – habisan.

Dari suasana malam, kutatap perutku yang mulai membuncit. Empat bulan lagi bayi ini akan lahir dan aku akan menceritakan segala apa pun padanya, tentang  kami. Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu. Hari dimana malam memutarkan kisah kami, dalam memoriku kala itu…

…………….. THE END…………….

Hayy sudah lama tidak menyapa…. huuhuhu

Kangen banget ama Soowon dan Guardian juga hehheeehe…

Akhir2 ini mata aku suka perih kalo berhadapan dengan layar notebook jadi jarang nulis lagi deh…

Tapi demi rasa kangen aku ama SooWon jadilah FF Oneshoot ini ><

Semoga kalian suka tapi kalo gak, jangan timpuk aku yaaachhhh =D

See Youuu

Byeee :-p

10 thoughts on “[ Oneshoot ] FF Soowon – Summary Of The Evening

    • nanashafiyah berkata:

      Eh aku juga suka endingnya hehe… Moga – moga jadi kenyataan yah kkkk
      Mungkin km Rada bingung sm bahasanya (?) Mian bangett… Ini lagi ngadain eksperimen bahasa (?) mumpung oneshooot.
      Namanya juga eksperimen (gagal) kalo berhasil syukur kalo enggak digorok (eh?)
      Pokoknya Gomawo udah baca terus coment lagi :-DDDD

      • LoveLy berkata:

        Hahhaha..tapi keren koq..aku aja klo lagi nulis gak berani eksperimen kayak githu..hehehhee..sukses trus..dan di tunggu FF SooWon berikutnya..

  1. Alyssa sooyoungster berkata:

    eonnie.. emg gag diragukan lagi dlam hal menulis…
    tpi aq lbih kangen ff soowon yg series..
    aq klo lgi bca ffmu yg series berasa kyak nonton drama tpi gag berbelit2 tpi juga terburu2….NEOUMMUU JOA..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s