[Oneshoot] FF YeFany – One Spring in Happiness

Image

Title : One Spring in Happiness

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Poster :  asriredityani @ http://theartlockers.wordpress.com/ 

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Tiffany, Super Junior Yesung

Other Cast : Super Junior Eunhyuk, SNSD Taeyeon

Leght  : Oneshoot ( 4700 words )

Annyong Readers-deul J

Hari ini Aku ingin menyuguhkan kepada kalian sebuah Fanfic Oneshoot dengan cast Yefany. Udah lama kan aku gak nge-post apa pun tentang mereka?

Semoga kalian betah membaca fanfic yang *ehmm* lumayan panjang ini. Tapi jangan ada yang dilangkahin yah biar readers sekalian lebih bisa menghayati #ceillah- hahaha.

Oke silahkan dibaca J

Happy reading😀

Kalau ada yang lebih manis dari gula, itu pasti kamu. Benda terlengkung sebelum bulan sabit disebut senyumanmu.  Sesuatu yang lebih cantik dari bunga kubilang itu hatimu…

^____^____^____^

Waktu memang cepat berjalan. Kemarin musim dingin dan sekarang sudah tiba musim semi. Musim dimana bunga – bunga bermekaran ditengah cuaca sejuk. Musim yang cukup menggiurkan untuk  sekelompok  yeoja  keluar dengan anggun—memakai jaket sambil menggerai rambut mereka. Riasan mereka tebal dan body mereka langsing. Kalimat seperti itulah yang sekarang menjadi topik obrolan Yesung.  Namja pengoceh disampingnya. Andaikan Yesung bisa diam semenit lagi, mereka berdua pasti akan menikmati taman hijau  dibawah sana dari dataran tinggi seperti ini—- tentunya dengan  tenang dan Tiffany  tidak akan menggondok.

“Dari  pada membicarakan hal – hal aneh semacam itu, Lebih baik  jika kau menuliskannya saja.”  Tiffany menatapkan wajah kesamping. Yesung mengangkat alis sambil memperhatikan Tiffany yang sedang merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Dua buah pulpen dan kertas origami.

Tangan Tiffany terulur memberikan sebuah pulpen hitam  dengan selembar kertas origami biru. Yesung meraihnya. Namja itu lalu menatap bingung Tiffany yang sedang duduk menegakkan lutut seraya  lembar kertas origami pink bertumpu diatasnya.

“Tuliskan apa saja keinginanmu,” Ucap Tiffany tampak  sibuk meggoreskan pulpen hitam diatas kertas.

Yesung tertawa tapi sedikit dia tahan, “Apa? Sejak kapan kau menjadi mellow begini ?!” Ledekan namja itu sukses membuat Tiffany melayangkan delikan jengkel. Yesung menelan ludah lalu sambil mengangkat bahu berkata, “Yeah, baiklah…”

Dengan lincah Yesung mulai menarikan pulpennya. Bibirnya begerak – gerak mengucapkan sesuatu tanpa suara. Mata namja itu juga memicing melihat tulisannya sendiri dan berdecak saat menemukan kalimat ganjil.

‘Serius sekali !’ pikir Tiffany menoleh sekilas pada namja disampingnya. Padahal dia sendiri yang memvonis bahwa menuliskan keinginan diatas kertas adalah hal yang mellow.

Bukan apa – apa. Tiffany menyuruh yesung menulis dikertas adalah sebatas ingin agar Yesung bisa diam. Namja itu sering kali berbicara panjang lebar tanpa tahu apakah lawan bicaranya tertarik atau tidak. Tiffany sendiri selalu  tertarik dengan obrolan namja itu. Sangat tertarik bahkan. Kecuali jika Yesung sedang membahas yeoja incarannya seperti sekarang.  Entah karena kebiasaan atau apa, Yesung senang sekali berbicara tentang yeoja – yeoja cantik yang berkeliaran di musim semi — itu masalah lain.

Tiffany menghela nafas, hitung – hitung sambil membuang kekesalannya diantara angin lembut musim semi. Ia menatap  kertas origaminya kembali. Membaca ulang rentetan keinginan yang  selesai dia tulis. Tinggal penyelesaian.

Menggoreskan lambang ‘cinta’❤

“Kalau sudah lipat kertasnya, berdoa lalu terbangkan !”

Tiffany tersenyum sambil melipat kertas origaminya menjadi bentuk pesawat terbang. Yesung yang menyadari itu langsung mengikuti Tiffany dan ikut  melipat kertasnya.

“Aku ingin kita tetap seperti ini…” ucap Yesung tiba – tiba. Tiffany yang tadinya akan memejamkan mata secara reflex menoleh. Yesung hanya meringis. Tidak tahu kalau Tiffany ‘sedikit’ sesak nafas.

“T-tetap seperti ini ? Seperti apa?”

Yesung menggigit bibir bawah sambil tentunduk menatap lipatan kertas ditangannya, “Kau dan aku…”

“Eh?” Tiffany menatap takut – takut.

Kepala yesung terangkat dengan cepat. Namja itu langsung menatap Tiffany dengan senyum sumringah, “Kau dan Aku… Kita ini sahabat bukan? Aku ingin selamanya seperti ini.”

Tertegun dan itulah yang terjadi saat Yesung menyelesaikan kalimatnya. Tiffany tidak berkata apa – apa. Ia hanya terdiam mengangguk – anggukkan wajah sambil tersenyum tipis hingga akhirnya menjawab,

“Iya… Tentu.”

………………………

Menginjak awal bulan april Tiffany menatap bangga dengan bunga – bunga dihalaman rumahnya yang semakin bermekaran. Yeoja itu dengan cekatan menyirami satu – persatu tumbuhan baik yang hidup dipot maupun dihalaman rumah. Sambil bersiul dan bersenandung kecil Tiffany tersenyum. Sesekali bibirnya berhenti melengkung dan hanya menerawang. Sosok Yesung tiba – tiba saja menggerogoti pikirannya. Yesung belum juga menampakkan diri sejak seminggu lalu. Dia menghilang. Dasar pabo !

Barusan  Tiffany akan mendongak, penglihatannya tiba – tiba menjadi buram. Semuanya terlihat gelap saat terasa sesuatu menekan matanya. Tiffany mendengar deraian nafas seseorang dari belakang. Yakin orang tersebut adalah Yesung, Tiffany langsung mengarahkan selang  ditangannya  kearah namja itu—menyemprotkan air. Langsung saja lengkingan suara berbunyi teriakan ‘minta ampun’ terdengar menyeruak.

Tiffany berkacak pinggang, “Kau harus bersikap sopan Tuan Kim. Seminggu tidak ada kabar dan sekarang malah muncul dengan cara seenaknya !”

“Selamat pagi Nyonya Hwang, kenapa sewot sekali? Bukankah cuaca hari ini sangat cerah ?” ucap Yesung tersenyum polos menunjukkan wajah tanpa dosa.

“Kau memanggilku Nyonya Hwang, jangan sampai Ummaku keluar.” cibir Tiffany memayunkan bibir lalu segera berbalik untuk masuk kedalam rumah minimalis didepannya.

Menyebalkan sekali ! perasaan itulah yang muncul dihatinya sekarang. Tiffany menganggap kalau Yesung sudah bermain – main dengan kekhawatirannya selama ini. Kemana atau apa yang dilakukan namja itu seminggu terakhir Tiffany tidak tahu—- Dan sangat ingin tahu.

Secara mendadak nafas Tiffany yang tadinya wajar menjadi amburadul. Sepasang tangan besar melingkar dipingganggnya. Langkah Tiffany berhenti seketika. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Yesung tengah memeluknya.

“Mian maksudku Nona Steph… Stephanie.”

Tiffany cepat – cepat melepaskan dekapan itu seraya merapikan poninya— bermaksud juga untuk membasuh keringat dingin sebelum benda tersebut mengucur. Yeoja itu menelan ludah dan tertunduk gelagapan.

 “K- Kelihatannya kau senang sekali ?” bibir Tiffany bergetar. Ia yakin kalau Yesung sedang bahagia hari ini karena tidak biasanya namja itu memeluknya seperti tadi. Tiffany ingat bahwa terakhir kali dirinya dipeluk oleh Yesung adalah saat acara kelulusan sekolah.

“Masa sih?” Yesung menggaruk kepalanya sambil memikirkan sesuatu.

“Iya, tidak biasanya.”

Yesung manggut – manggut, “Mungkin karena ada kau didepanku.” Duganya masih menampakkan wajah berpikir keras. Tiffany langsung tersentak kaget mendengar kalimat Yesung.  Bagi Tiffany, kalimat barusan menimbulkan debaran tersendiri. Ia butuh napas dan ingin berteriak tapi  hanya senyuman tertahan yang begitu konyol menghiasi bibirnya. Tiffany baru saja akan  membuka mulut untuk membenarkan dan berkata ‘mungkin saja’  tapi tidak jadi.  namja itu tiba – tiba  menimpali, “Mungkin juga karena aku banyak bertemu yeoja.” Duganya kembali dan  langsung membuat Tiffany memutar bola matanya malas.

Hendak melanjutkan pekerjaannya, Tiffany beranjak mengambil gunting kebun disamping keran kemudian mulai membuang beberapa daun tanaman yang sedikit layu. Yesung terus saja mengekori Tiffany. Sangat serius memperhatikan sahabatnya yang sedang menata bunga – bunga dipot. Yesung berpindah kesamping lalu ikut berjongkok. Ia tersenyum sendiri. Tiffany begitu serius dan—- Dia terlihat lucu.

Yesung bisa merasa berbangga hati karena Tiffany terlihat menghawatirkannya. Mungkin pula Tiffany  merindukan dongeng konyol yang sering Ia ceritakan. Yeoja itu terlihat  kesepian padahal saat ini  orang – orang sedang menikmati musim semi. Tidak seharusnya Tiffany bersedih dalam suasana seperti sekarang.  Sikap Tiffany yang mencurigakan membuat Yesung mulai menduga – duga tentang penyebab yang mungkin terjadi.  Bisa saja karena— menyangkut namja atau sikap mendesak ummanya. Entah.

“Kudengar Ummamu sedang mengatur jadwal kencan ?”  Tanya Yesung tiba – tiba membuat pandangan Tiffany beralih padanya.

Tiffany menggidikkan bahu, “Umma memang selalu begitu. Terlalu khawatir bila aku akan menua tanpa pasangan seperti Eonnie. Mengatur jadwal kencan  sudah menjadi hobby-nya,” Tiffany berhenti untuk kembali menggunting dedaunan lalu menyambung, “Bahkan aku  sering sekali dikirimi banyak coklat, pita pink dan mawar merah. Setiap aku selesai makan siang, berjalan – jalan atau apa pun dengan namja – namja kenalan Umma— benda – benda tadi selalu saja tergeletak didepan pintu rumahku. Tapi aku menyukai benda – benda itu.”

“Kau tidak tertarik dengan mereka?” tanya Yesung dengan wajah ingin tahu. Mata namja itu sampai membola.  Sungguh kalau Tiffany ingin tertawa melihatnya.

“Tidak. Maksudku belum ada.”

“Kenapa?”

“Sudah seharusnya hidupku berakhir seperti Eonnie. Mencintai sekali seumur hidup. Tidak peduli apakah seseorang itu melihatnya  atau tidak.”

Yesung mengangkat alis. Tiffany tersenyum menatap langit cerah diatas kepalanya, “Tidakkah kau berpikir bahwa aku pun begitu?”

………………………….

Namsan Park  adalah tempat untuk melihat bunga sakura bermekaran pada musim semi.  Tidak hanya bunga sakura, terdapat juga bunga  lain seperti forsythias dan azela yang terdapat disekitar  jalan Namsan. Meski terhitung sudah seminggu  waktu puncak bermekarannya bunga sakura namun masih banyak pengunjung yang hanya sekedar berjalan – jalan atau berfoto. Pemandangannya  masih indah maka dari itu, setiap musim semi mereka kesana. Lebih tepatnya lagi, Yesung yang memaksa. Apa yang paling ingin dilihat namja itu selain yeoja cantik dibawah bunga sakura. Tiffany sudah bisa—atau biasa– menebak isi pikiran Yesung. Meski namja itu berkata bahwa dirinya sangat ingin melihat Cheongpungho Cherry Blossoms Festival, Tiffany urung percaya. Huh, siapa pula yang percaya ? Yesung—tukang pengumbar modus !

Tapi sekarang berbeda.

Kali ini bukan Yesung yang memaksa. Melainkan Nyonya Hwang. Seperti biasa, Ummanya mulai mengatur jadwal kencan dengan seorang namja yang ‘katanya’ baik dan mapan. Tiffany lagi – lagi harus menghela nafas gerah. Ditambah sekarang ada Yesung disampinganya. Kalau bukan karena Nyonya Hwang, sang umma yang meminta agar namja itu menjadi ‘pengawal pribadi’ untuk mencegah dirinya kabur.  Sudah pasti Tiffany akan mengusir Yesung dari beberapa menit lalu.

“Namanya Lee Hyuk Jae.” Ungkap Yesung membaca pesan teks pada ponselnya, “Baiklah kita cari orang itu sekarang, Kajja !”

Yesung menarik tangan Tiffany membuat yeoja itu sedikit terlonjak. Bagaimana pun tangan Yesung terasa hangat. Tiffany biasanya masih merasa mengigil  saat  pertengahan musim semi. Tapi tidak untuk detik ini.

“Apakah menurutmu  orang itu akan menepati janjinya ?!” tanya Tiffany sambil menapaki jalan yang dikanan kirinya tengah dilebati bunga sakura.

“Bisa iya bisa tidak.” Jawab Yesung sambil menyapu pandangannya. Info menyebutkan bahwa orang tersebut sedang memakai jaket merah dengan topi hoondie untuk membungkus rambutnya yang pirang. Dia tinggi dan matanya sangat sipit.

“Bisakah kita duduk sebentar ? Aku lelah berjalan…” rajuk Tiffany menarik – narik tangan Yesung untuk menepi dipinggir jalan.

Yesung berdecak, “Dasar payah,” ejeknya lalu mengikuti Tiffany untuk duduk dibangku pinggir jalan. Tepat diatas mereka ada barisan bunga sakura yang masih bermekaran. Karena itu, Mata Tiffany tidak henti – hentinya menatap keatas sambil menganga lebar. Sampai – sampai Ia tidak menyadari jika ada beberapa kuntum bunga sakura yang berguguran dari atas dan menyangkut dirambutnya.

Pelan – pelan Yesung mencoba meraih bunga berwarna pink  yang menyangkut dirambut Tiffany. Entah sadar atau tidak, yeoja itu  langsung menoleh kemudian menatap dengan  sepasang eye smile. Cepat – cepat Yesung menarik tangan yang terulur dan membiarkan Tiffany menyadari bahwa dirinya baru saja menggaruk tengkuk.

“Itu… Dirambutmu.” Peringat Yesung sedikit kikuk.

Tiffany mengarahkan bola matanya keatas. Yeoja itu tersenyum menyadari bahwa guguran bunga sakura menyangkut diatas kepalanya. Dibersihkannya bunga – bunga itu. Beberapa dari bunga tersebut juga  ia taruh  diatas kepala Yesung. Tiffany lalu terkikik sendiri.

“Yak…” seru Yesung lalu mengambil sekuntum bunga dari kepalanya. Ia melihat Tiffany masih tersenyum dengan sedikit tawa. Baiklah namja itu harus mengakui bahwa betapa sebalnya Ia dengan senyum Tiffany yang semakin mengembang. Kalau Yesung ambruk disini siapa yang mau menolongnya?

Yesung menyeringai, “Bunga ini wangi sekali.” Ledeknya menjejalkan bunga sakura kehidung  yeoja yang saat ni sedang sibuk menoleh kanan – kiri untuk mencari bunga jatuh. Yeoja itu kaget juga merasa kehilangan napas, “Lepaskan Yak namja pabo !” teriaknya meronta namun Yesung semakin tertawa – tawa.

Sekuat tenaga Tiffany menyinggirkan tangan Yesung beserta bunga yang segaja namja itu gosok- gosokkan kehidungnya. Tiffany ingin marah tapi suaranya tertahan. Yesung tersenyum sambil tertawa lebar sampai matanya kian menyipit   dan sedikit berair.  Wajahnya  juga semakin merah lama kelamaan. Tiffany tertegun pasti. Namun sikap bodohnya itu tidak terlalu kentara. Segera ia membalas perlakuan Yesung.

 “Bunga ini lebih wangi dari yang tadi.” Balas Tiffany seraya menyandarkan kepalanya dibahu kiri Yesung yang  sontak membulatkan mata. Tiffany sadar itu dan langsung menempelkan bunga kehidung Yesung. Namja itu geli sendiri  saat merasa kalau hidungnya gatal akibat ulah Tiffany.

“Apa aku mengganggu kalian?” Tanya seorang namja kepada kedua orang didepannya yang sedang tertawa- tawa dibangku taman.

Yesung diikuti oleh Tiffany langsung menoleh kearah sumber suara. Suara seseorang yang sedari tadi menatap mereka curiga. Tiffany langsung  berdiri terkesiap bergitu pun Yesung.  Ia malu sendiri karena orang – orang disana pastilah menganggap bahwa dirinya dan Yesung  adalah sepasang kekasih.

“Apakah Anda Lee Hyuk Jae?” Duga Yesung sambil mengingat. Ia manggut – manggut saat merasa jika dugaannya tepat. Namja berambut pirang dengan jaket hoondie merah dan tinggi. Itulah dia !

Namja itu lantas menarik tangan Tiffany dan beralih merangkulnya, “Kau pasti yang bernama Stephany itu kan? Tiffany Hwang.”

“Kalau betul memangnya kenapa?!” sahut Tiffany seraya berusaha lepas dari rangkulan namja tidak jelas itu.

“Aku Lee Hyuk Jae lebih tepatnya Eun Hyuk.”

“Lalu ?!”

“Ummamu bilang kau itu nakal sekali, tapi aku memperkirakan jika dirimu terlalu menarik dan ternyata benar !” ucapnya tersenyum miring.

‘Dasar Angkuh !’  Tiffany menatap jengkel. Ia bersiap menyahuti sesuatu. Benaknya  pun terdorong untuk  memaki Eunhyuk habis – habisan tapi  niat itu terhalang. Yesung lagi – lagi menjadi pengusik. Ia datang menepuk bahu Tiffany membuat yeoja itu terdiam.

“Kencan dengannya.” Yesung menatap serius lalu tersenyum samar, “Tidak ingin menjadi anak durhaka, kan?”

Tiffany mengangguk. Hanya bisa mengangguk.

…………………

Tiupan angin musim semi diwajahnya membuat yeoja itu mendongak. Ia memperbaiki helaian rambut yang berterbangan sambil menjuruskan pandangannya keatas. Diatas sana sudah berterbangan serpihan krystal berwarna pink— bunga sakura. Benda – benda cantik itu terus saja berguguran menimpali jalan. Beberapa juga masih bermekaran.  Bukan keajaban jika orang – orang masih ramai berhamburan. Termasuk Dia— Yesung yang masih berdiri disana. Dari jarak sekitar tiga meter, Tiffany masih bisa menjangkaunya. Tampak namja itu sedang serius memperhatikan pemandangan kanan kiri sembari mengambil gambar dengan ponselnya. Pelahan rambut lebat Yesung mulai disangkuti guguran bunga. Namja itu menyingkirkannya cepat – cepat.  Tiffany tertawa sendiri saat teringat akan kejadian beberapa jam yang lalu.

“Miss Tiffany Hwang.” Sebuah suara bernadakan panggilan membuat dunia Tiffany teralihkan. Ia menoleh kearah namja disampingnya —- Eunhyuk. Sejak tadi, Tiffany memang tidak memperhatikan Eunhyuk. Mereka berjalan pelan berdampingan tapi yeoja itu merasa seperti berjalan sendiri.

“Nde.”

“Kau benar – benar mendengarku?” Eunhyuk memegang kedua bahu Tiffany. Yeoja itu langsung memundurkan wajah saat tatapan Eunhyuk semakin mendekat, “Lihat aku… Bukan orang lain atau namja yang berdiri disana.” Peringatnya kembali. Tiffany menundukkan wajah sambil memandang kearah Yesung takut – takut.

“Yesung tidak ada hubungannya—“ Tiffany memberhentikan rentetan kalimatnya ketika teringat sesuatu, “Maksudku adalah…”

“Maksudmu, dia tidak ada hubungannya dengan perasaanmu… Atau bolehkah kubilang jika kau  menganggap dia hanya sebatas sahabat?” Eunhyuk menyambungi kalimat yeoja didepannya. Yeoja itu langsung membelakakkan mata. Didalam mata beningnya terbaca sekali jika terlintas pernyataan tidak terima.

“Eunh—-“

“Yesung sudah punya kekasih. Anggaplah dia seperti apa yang kukatakan tadi karena orang itu juga memperlakukanmu sama persis.” Eunhyuk memotong kalimat Tiffany  seraya memajukan dagu kearah Yesung. Tiffany mencoba melihat sesuatu yang coba namja itu tunjukkan padanya. Ia menoleh cepat dan  langsung dihadiahi oleh beribu  jarum yang menusuk perutnya. Tiffany mual.

Seorang yeoja duduk dikursi roda. Yeoja bertubuh mungil itu menatap Yesung dengan keharuan membuncah juga kebahagiaan tak terhingga. Yesung perlahan mulai menggenggam sepasang tangan halus milik  yeoja berkursi roda itu.  Juga tidak lupa mengelus rambut coklat kelamnya yang tergerai sebahu.

Tiffany membatu ditempat. Yeoja itu berontak keras saat Eunhyuk mencoba menarik tangannya. Dia dan Eunhyuk akhirnya  berjalan menuju tempat dimana adegan tidak-menyenangkan itu berlangsung.

Tiffany lebih baik pulang sekarang untuk mengunci dirinya dalam kamar selama beberapa minggu. Sungguh !

“Yesung-ssi.” Panggil Eunhyuk membuat sang pemilik nama menoleh. Yeoja disampingnya juga. Tiffany hanya tertunduk sambil meruntuki dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia menganggu ‘kencan’ Yesung juga sebaliknya. Yeah…

“Tidak ingin memperkenalkan kepada sahabatmu—- Tiffany tentang ini ?”

“Eh?” Yesung menatap sekali lagi. Mulai dari Eunhyuk, yeoja berkursi roda itu hingga tatapannya berhenti dimata Tiffany. Cukup lama mereka beradu pandang dalam diam. Tiffany yang merasa tidak nyaman langsung menorehkan eye smile beserta senyum kaku. Yesung balas tersenyum dan Tiffany langsung menghela nafas.

Jangan menagis ! jangan menangis. Tiffany berusaha menguatkan hatinya dengan kalimat penyemangat yang bagaikan mantra. Yesung mulai menatap yeoja berkursi roda itu sambil tersenyum menenangkan. Tiffany mengira jika senyum hangat Yesung hanya ditujukan untuknya. Tapi ternyata salah…

“Perkenalkan dia Taeyeon.” Kata Yesung menghadap Tiffany. Ia menyambung lagi sambil menghadap kearah Taeyeon, ”Taeyeon, perkenalkan dia sahabatku namanya Tiffany.”

“Annyong.” Sapa Tiffany membungkukkan badan. Taeyeon juga balas menyapa.

“Dia siapa? Yeojachingumu? Kenal dimana?” tanya Eunhyuk yang langsung menyosor masuk. Tiffany menatap sebelah mata. Dia Selalu saja merecoki masalah orang lain, ck

“Dia— seorang teman baik… Aku menyukainya dan kami berteman saat Aku merawatnya di rumah sakit selama seminggu. Taeyeon sedang menjalani terapi karena kecelakaan mobil yang menimpanya tiga minggu lalu. Kebetulan aku relawan di kampus dan akhirnya kami sering bertemu. Aku tidak menyangka kalau kami akan bertemu lagi disini.” Jelas Yesung sambil tertawa kecil. Taeyeon juga ikut tertawa tapi entah perasaan ini salah atau… Tiffany merasa kalau Taeyeon seperti melemparkan sebuah delikan tajam kearahnya.

“Berarti kalian memang berjodoh. Sudah pacaran sajalah !” Eunhyuk kegirangan sedangkan Tiffany langsung mengepalkan tangannya kuat – kuat. Yeoja itu bisa menyimpulkan sekarang. Yesung ikut dalam organisasi kesehatan dikampusnya. Ia menjadi sukarelawan dan seminggu ini merawat Yeoja itu—Taeyeon. ‘Jadi  itukah yang dilakukannya selama seminggu dan menghilang tanpa kabar?’

“Tiff…” panggil Yesung. Tiffany langsung memandang malas kearahnya. Kentara sekali jika segerumul raut kekesalan terselubung disana, “Ya.” Jawab yeoja itu ketus.

“Bisa kita bicara sebentar ?”

“Dimana?” Tiffany bertanya balik sambil melengoskan wajah.

Yesung bersiap menarik pergelangan tangan Tiffany tapi Eunhyuk langsung menghalangi. Eunhyuk memicingkan mata sambil berkata, “Bicara saja disini. Jangan lupa kalau Tiffany akan menjadi milikku.”

“Kau suka padanya?” Tanya Yesung tanpa basa basi lagi pada Tiffany. Ia berbicara sambil matanya menatap Eunhyuk yang tengah memandang sinis.

Tiffany menyesak mendengar pertanyaan Yesung. Ia masih bisa bertanya seperti itu padahal didekat mereka ada Taeyeon. Sepertinya Taeyeon gadis baik. Dia menderita kelumpuhan tapi masih bisa memasang wajah sumringah. Tiffany jadi merasa bersalah karena sudah muncul ditengah – tengah mereka.

Tampak jika Yesung masih menunggu jawaban. Tiffany menelan ludah, “Tentu saja… Aku menyukainya—- Maksudku menyukai, Eunhyuk…” ungkapnya susah payah.

“Baguslah.” Yesung menganggapi dengan santainya sambil tersenyum singkat.

Sepasang kakinya terasa melemas. Tiffany tidak menyangka jika Yesung akan bertingkah datar. Yesung sepertinya tenang – tenang saja dan malah bersikap tidak peduli tehadap keberadaannya. Namja itu bersimpuh ditanah dengan maksud untuk mensejajarkan posisinya menjangkau Taeyeon. Ia tampak  bercengkrama kecil dengan yeoja bermata kucing tersebut. Sesekali mereka saling melemparkan tawa. Saling menggenggam juga menepuk pundak. Dan Tiffany hanya mampu  tersenyum miris.

“Sebaiknya kami pergi dari pada menganggu kalian. Annyong.” Ujar Tiffany langsung memusnahkan keberadaanya. Ia benar – benar melenggang pergi. Melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Eunhyuk juga ikut mengekori Tiffany. Namja itu tahu kalau Tiffany sedang menangis. Sebuah ekspresi kesedihan yang berusaha Ia sembunyikan. Terlebih didepan Yesung.

Eunhyuk menarik tangan Tiffany yang tetap kekeuh menatap kedepan. Secara paksa Eunhyuk menghalau langkah yeoja itu. Didekapnya tubuh mungil tersebut se-erat mungkin. Benar kalau dia menagis. Tiffany menagis sejadi – jadinya… dibahu Eunhyuk.

“Sebenarnya Aku berusaha mendekati Nyonya Hwang untuk diperkenalkan padamu. Aku ingin melindungimu lebih dari apa pun. Ingin mengenalmu dengan caraku tapi Yesung selalu saja disampingmu. Aku iri padanya…”

Tiffany menatap Eunhyuk dari balik mata berair. Ia bisa merasakan dengan jelas tentang bagaimana namja itu membasuh air matanya dengan begitu lembut. Tiffany tidak waras jika menyia – nyiakan namja sebaik Eunhyuk.

“Jadi bisakah kau mulai melihatku  ?”

………………………….

Duduk diatas kursi roda sambil menikmati keindahan alam musim semi. Bunga – bunga bermekaran bahkan hati manusia pun banyak yang bermekaran contoh saja hatinya. Taeyeon menggerlingkan matanya keatas. Tampak seorang namja berwajah tirus sedang mendorong kursi besi beroda dua yang Ia Tumpangi. Yeoja itu tersenyum bahagia. Tadinya kursi roda tersebut didorong oleh adiknya namun kini beralih tangan karena keajaiban menyenangkan telah terjadi. Taeyeon bertemu dengan— Yesung, namja yang menemaninya sekarang.  Ia juga bertemu bertemu  sahabat Yesung. Namanya Tiffany…

Bukankah sosok Tiffany terasa begitu janggal? Yesung sudah lama mengenal Tiffany. Mereka bersahabat. Kenyataan tersebut sukses sekali membuat hati Taeyeon menciut. Juga ragu.

Taeyeon mendongak. “Yesung Oppa…”

“Nde.” Yesung memberhentikan laju kursi roda yang tengah didorongnya. Namja itu balas menatap Taeyeon sambil bertanya – tanya dalam hati. Wajah Taeyeon yang tiba – tiba berubah sendu membuatnya cemas.

“Apa… Apa kau menyukaiku ? Maksudku… Kau cin— cinta… mencintaiku ?”  Tanya Taeyeon terbata – bata. Seperti ada duri yang menyangkut ditenggorokannya. Ia mulai mengamati gerak langkah Yesung. Tampak jika namja itu kembali bersimpuh menyejajarkan posisi didepannya.

Yesung menggenggam kedua tangan Taeyeon sambil tersenyum, “Sudah berapa kali kukatakan. Aku menyukaimu…” ucap Yesung mengingat sesuatu lalu melanjutkan, “Tidak bisakah kau menerimaku?”

“Aku masih ragu.” Taeyeon menunduk.

“Kau bisa belajar menerimaku dan aku juga bisa belajar memahamimu.”

Seketika ucapan Yesung barusan membuat Taeyeon tertohok. Belajar memahami? Sejak kapan Yesung belajar memahaminya? Tidak pernah. Yesung hanya memahami Tiffany.  Bahkan semua yeoja di dunia ini, dia sama ratakan dengan sosok sahabatnya itu.

Taeyeon tersenyum miris, “Benarkah kau bisa belajar memahamiku?”

“Tentu—“

“Tentu?” Taeyeon menganggat alis seraya menahan nafas,  “Lalu Apa maksudmu dengan memberikanku coklat dengan pita pink? Mengirimiku bunga mawar padahal aku alergi bunga berduri itu. Coklat yang kau kirimkan juga mengandung kacang. Tidak tahukah dirimu kalau aku benci kacang?!” ungkap Taeyeon dengan Intonasi semakin meninggi. Yesung terdiam kaku cukup lama. Ia berkeringat dingin ketika mencerna kebodohannya. Semua itu… dluar kesadarannya. Yesung memang ingin membeli pita putih waktu itu tapi kenapa dirinya malah membeli pita pink ? Yesung ingin membeli bunga anggrek tapi kenapa saat itu bunga mawar lebih menarik perhatiannya? Menikmati coklat dengan campuran kacang  selalu dianggapnya lebih lezat entah kenapa.

Taeyeon menyeringai, “Tidak. Kau tidak akan tahu kecuali hal – hal yang menyangkut Tiffany. Aku suka warna putih tapi yang kudapatkan darimu adalah Pita pink. Pink, warna kesukaan Tiffany, kan?” Ucapnya semakin menatap Yesung lama, “Begitu juga dengan bunga mawar. Bunga kesukaan Tiffany dan kacang adalah cemilan kesukaanya.”

“D-darimana kau tahu ?”

“Dari temanmu—- Leeteuk. Kau sering bercerita padanya tentang Tiffany. Mungkin dihatimu hanya ada seorang Tiffany saja. Maka dari itu aku menyuruh Leeteuk Oppa untuk menaruh barang – barang yang telah kau berikan padaku ke rumah Tiffany. Dia lebih pantas menerimanya…”

Yesung memicingkan mata. Namja itu mulai memutar mundur ingatannya. Perkataan Taeyeon barusan seperti ada hubungannya dengan—- dengan kejadian yang dialami Tiffany.

*(“Bahkan aku  sering sekali dikirimi banyak coklat, pita pink dan mawar merah. Setiap aku selesai makan siang, berjalan – jalan atau apa pun dengan namja – namja kenalan Umma— benda – benda tadi selalu saja tergeletak didepan pintu rumahku. Tapi aku menyukai benda – benda itu.”)*

Ya, Yesung ingat seperti itulah pengakuan Tiffany. Benda – benda yang selalu tergeletak didepan rumahnya. Apakah itu?

“Tae—-“

“Temuilah dia Oppa.” Potong Taeyeon menahan air matanya yang mendesak keluar.  Ia memegang dadanya yang sesak. Yesung mengulurkan tangannya  untuk menghapus air mata Taeyeon tapi yeoja itu menepisnya.

“Cium aku.” Pinta Taeyeon tiba – tiba.

Yesung menteleng, “Mwo?”

“Kau menyukaiku, kan?” Taeyeon memastikan datar.  Yesung memandang diam tapi membenarkan.

“Aku… Aku  hanya ingin melihat seberapa tulus dirimu, Oppa”

Yesung menelan ludah seraya menjelajahi sinar keseriusan dimata yeoja itu—-Kim Taeyeon. Jemarinya bergetar menimbang – nimbang sesuatu. Yesung menunduk pasrah tatkala merasa  kalau pikirannya sudah mandeg. Beberapa detik kemudian Ia mulai mendekatkaan wajahnya kewajah Taeyeon.

Suara derai nafas menjadi kian menyesap. Taeyeon menggeliat ketika hantaman arus listrik seperti menjalari tubuhnya. Ia memejamkan mata. Terasa nyata ketika sebuah kecupan lembut mendarat sempurna dikeningnya. Kening. Hanya dikening. Taeyeon sudah bisa memperkirakan ini. Yesung tidak akan mampu menciumnya dibibir.

“Mianhae…” sesal Yesung.

“Tak apa. Kalian bersahabat bukan berarti dilarang untuk saling jatuh cinta.”

“Tiffany…” sahut taeyeon ketika pandangannya menangkap sesosok yeoja yang entah sejak kapan sudah muncul didekat merea. Yesung berbalik mengikuti tatapan Taeyeon. Tiffany, dia disana. Sedang berdiri kaku sambil menutupi mulut dengan kedua tangannya.

“Tiff—-“ Yesung bangkit namun langkahnya terhenti. Melihat Taeyeon dengan wajah memerah membuat Yesung merasa bersalah. Namja itu akan duduk kembali namun Taeyeon menahannya.

“Bicara padanya… Kumohon.” Tegas yeoja itu dengan mata terpejam.

“Taeyeon-Ah..”

“Kumohon !”

…………………

Yesung menyeka cucuran keringat dipelipisnya. Namja itu berlari tergopoh menyusuri jalanan berbukit yang masih dipadati  oleh puluhan manusia. Seraya, menoleh kanan kiri Yesung bertanya kepada beberapa pengunjung tentang Tiffany. Yeoja dengan ciri – ciri  rambut  hitam panjang sepunggung, memakai jaket pink muda dan celana jeans biru panjang. Lagi – lagi hanya kekecewaan. Mereka hanya menggeleng.

Beberapa menit melaju membuat kakinya terasa keram. Yesung membungkuk, memegang lututnya untuk mereggangkan otot – otot yang kaku. Ia susah payah mengatur nafas dan berdiri cepat. Tidak ada kesempatan lagi. Tiffany menyaksikan saat dirinya dengan Taeyeon tadi. Yesung harus bisa menemukan Tiffany sekarang. Terlambat sedetik maka yeoja itu akan mengurung diri didalam kamar selama berhari – hari bahkan berbulan – bulan. Sifat kekanak-kanankan Tiffany memang seperti… Tunggu… Jika itu kebiasaannya berarti,

“Dia pasti pulang !” Gumam yesung pada dirinya sendiri.

Secepat kilat, Yesung berlari menghalau rute jalanan dimana saat beranjak pulang, Ia yakin bahwa Tiffany pasti melewatinya. Namja itu kembali berlari menerobos jalan tersebut secapat angin. Yesung berdecak saat menganggap bahwa jalan tempuh dari Namsan Park  menuju halte pemberhentian bus bertambah panjang. Sial !

Yesung langsung memotong jalan. Ia berbelok menyusuri bukit – bukit kecil disebelahnya. Lokasi yang dipenuhi tumbuhan pagar itu diterobosnya langsung. Ia tidak peduli dengan kayu atau duri – duri tumbuhan disana yang menggores kulitnya.  Bahkan saat dirinya terperosok jatuh—- Yesung benar – benar tidak peduli.

Matanya membola saat melihat sosok yang mirip— bukan mirip karena dia benar Tiffany.  Meskipun dari belakang tetapi namja itu mengenali siluet Tiffany. Itu pasti dia ! Yesung mempercepat langkahnya lantas  meraih tangan Tiffany dari belakang. Yeoja itu menoleh sebentar untuk menatapnya kemudian melengos tidak peduli.

“Dengarkan Aku, kumohon !” Pinta Yesung menghalau langkah seorang yeoja (Benar adalah Tiffany)

“Kenapa Aku harus mendengarmu ?” tanyanya ketus. Tiffany beranjak kesamping untuk melanjutkan langkahnya tapi Yesung kembali menghalangi. Tiffany langsung menatap Yesung dengan isyarat, ‘cepat menyingkir’.

“Karena kita bersahabat.” Jawab Yesung yang sukses membuat Tiffany mengerutkan kening.

Tiffany tertawa hambar, “Aku sudah tahu ! Sekarang minggir !” tegasnya mendorong bahu Yesung sekuat tenaga.

“Minggirr ! Kenapa kau susah sekali mengerti sih?!” serunya sekali lagi tapi namja itu belum  juga menyerah dan masih saja berdiri kaku meskipun kedua tangan Tiffany bertubi – tubi menghantam bahunya.

“Kenapa kau marah?” Tanya Yesung membuat Tiffany terdiam. Yeoja itu menatap hening dengan ekpresi bingung, “Apa?”

Yesung menopang bahu Tiffany kemudian meraih pipi yeoja itu agar mendongak kearahnya,  “Aku mencintaimu jadi dengarkan aku sekali saja.” Pintanya pelan menatap lamat  kearah yeoja didepannya.

Kali ini Tiffany benar – benar mematung. Nafasnya terengah dan terdengar jelas sakali. Tiffany ingin berkata sesuatu tapi otaknya blank. Syarafnya lumpuh total.

“Jangan berpikir bahwa Aku menyukai Taeyeon. Kenapa? karena aku menyukaimu. Saranghae.”

Tiffany menatap tidak percaya, “Yesung—-“

“ Aku ingin mengatakan ini sudah lama sejak kita berdua mengunjungi bukit—- awal musim semi lalu. Saat itu kukatakan padamu bahwa aku ingin kita bersahabat selamanya tapi kau tahu ? Kalimat itu adalah kalimat terkonyol dan terbodoh yang pernah kukatan. Aku pembohong besar !” Yesung tersenyum miris kemudian berkata lagi, “Saat kau berbohong sekali maka akan ada kebohongan selanjutnya. Itulah yang terjadi padaku. Aku… menghindarimu dan akhirnya bertemu dengan Taeyeon. Selama seminggu aku membohongi perasaanku sendiri. Berusaha melihat Taeyeon seperti aku melihatmu tapi percuma.”

Tiffany bergeleng. Ia mengepalkan tangan sambil berusaha membuka mulut tapi mengaga pun sulit. Dengan wajah memerah juga mata yang sudah dibanjiri oleh genangan, mustahil jika tiffany masih bisa  menggerakkan tubuhnya, sedikit pun.

“Aku tidak peduli apakah kau sudah jatuh cinta pada Eunhyuk atau tidak. Tapi saat itu aku kesal pada diriku dan lagi – lagi menyakiti Taeyeon…” Yesung menerawang saat menyebut nama ‘Taeyeon’. Dia tidak sadar jika Tiffany sudah terisak didepannya.

“Kau Jahat ! jahat !” Tiffany berontak memukul dada Yesung, “Kau yang bersikap penuh sayang kepada Taeyeon didepanku dan sekarang dirimu malah mengganggap bahwa akulah yang menyukai Eunhyuk ! Aku sudah menolaknya ! Dasar Yesung pabooo.” Tiffany mengatur nafas sambil menatap kesal.

Yesung mengangkat alis, “Apa?”

“Kalau Aku menolak Eunhyuk kemudian marah saat melihatmu berduaan dengan Taeyeon, menurutmu Aku kenapa?” Tiffany bertanya dengan Intonasi tinggi sedangkan namja didepannya masih plongak – plongok kebingungan.

Tiffany berdecak, “Aku juga mencintaimu… masa  tidak  mengerti sih?!”

Yesung tertegun sambil menatap Tiffany seolah berkata ‘benarkah?’ Tiffany langsung mengangguk. Beberapa saat kemudian mata namja itu berubah berbinar, “Bisakah kau katakan sekali lagi ?!” tayanya sambil mengguncang pelan tubuh Tiffany.

“Aku mencinta—–“

Kalimat Tiffany terpotong. Yesung tiba – tiba saja mendekapnya erat. Tiffany bisa merasakan debaran jantung namja itu dari jarak yang begitu dekat. Ia tidak pernah tahu jika ternyata tubuh Yesung sehangat ini. Tidak juga menyangka bahwa dirinya bisa setenang ini dalam dekapan namja itu. Tiffany memejamkan kedua matanya erat kemudian menepuk punggung yesung pelan – pelan.

“Gomawo…” gumam Yesung dengan nafas berkejaran. Tiffany tersenyum dan membalas pelan, “Nde..”

“Aku mohon jangan pernah lagi berkata bahwa dirimu pantas untuk hidup menua tanpa pasangan…”

Yesung melepaskan dekapannya kemudian beralih menatap Tiffany. Yeoja itu tampak kaget  dengan kalimat barusan.

“Karena aku tidak akan membiarkannya… Karena kau sama sekali tidak pantas.” Yesung tersenyum membuat Tiffany juga ikut tersenyum. Diluar dugaan ketika namja itu mengingat ucapnnya dulu. Yesung  yang saat itu diam—- tidak memberi tanggapan apa pun— membuat Tiffany berpikir bahwa dia tidak peduli.

 “Mian… Mianhae Aku membuatmu hawatir… Aku akan menghilangkan pikiran bodoh itu. “

“Hidup dengan baik… Bersamaku…” Yesung menghapus air mata Tiffany yang mulai mengalir. Tiffany menggenggam tangan Yesung. ‘Aku pasti hidup dengan baik… karena  dirimu adalah kehidupan bagiku’.

Satu hal yang disadarinya bahwa perasaan dalam hati tidak bisa dibeli maupun ditawar. Ada hal – hal didunia ini yang tidak dapat diukur. Perasaan suka, kagum, kasih juga cinta. Kepada siapa saja perasaan itu akan berlabuh entah satu pun manusia tidak ada yang tahu.

Mereka menganggap hal itu sebagai, ‘Hadiah kejutan dari Tuhan’.

…………….. The End ……………..

Uwahhh gimana ini Happy Ending kan ?!

Semoga kalian suka ^___^

Maaf Cuma Oneshoot soalnya masih ada beberapa FF yang harus Aku selesaikan. Mian >___<

Kapan – kapan Aku buat lagi, Ok !

YeFany Jjang !

5 thoughts on “[Oneshoot] FF YeFany – One Spring in Happiness

  1. yefany shipper berkata:

    hore… happy ending..
    yeppa knapa gak mau ngaku dr awal klo ska sma tiffany ..huh..!!takut ya..hihihi
    ditnggu krya slnjtnya..

  2. lulu_paramita berkata:

    Ih jadi sebenarnya coklat itu buat taeng yah ? Tp taeng marah karena yeye belinya sesuai selera tiff ? Ada2 aja deh >.<

    Yg yeye gak jadi nyium taeng gegara inget tiff itu so sweet❤
    Yg bagian akhir jg so sweet. Pokoknya semua so sweet dehhh =D

  3. ksunmi1248 berkata:

    Hadiah kejutan dari Tuhan yang membuat pembaca jadi senyum2 sendiri wkwkwkw
    Meskipun cuma oneshoot tapi penceritaan konfliknya pas
    Jarang banget dapet ff yefany yg bagus, dan jujur aja aku sering banget mampir ke blog ini cuma buat liat apakah ada ff yefany yg baru hehwheh soalnya semua ff yefany yg udah ada disini bagu2 banget
    Klo author ga sibuk bikin ff yefany lagi ya
    Ditunggu banget lo

  4. maia berkata:

    Daebakkk, yefany emang couple tercute di super generation!
    Na eonnie, kpan update ff yefany lagi?!
    Please udh kangen baca ff ttng mereka, kalo ada wktu update ya jebaalll…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s