SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 6 – END)

Image

Title : Rose for Love

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Poster : Widhi Thania (widhiadhisthania.wordpress.com)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Tiffany, Super Junior Yesung

Other Cast : SNSD Sunny, Jessica, Yuri, Taeyeon,  Super Junior Sungmin, Leeteuk

Annyong ^___^

Kejutannn *Ngak kaget  tuhh -__-

Oke ini emang terbilang mendadak tapi Aku memutruskan untuk menjadikan part ini sebagai part terakhir dari kisah yefany dalam FF ini T___T

Semoga part terakhirnya bisa memuaskan kalian… *yeyyy

Happy reading ^___^

“Kenapa diam saja ? Tidak ingin menanggapinya ?”

“Apa? Aku…” Tiffany tergagap. Bagiamana ini? Ya Tuhan.

Sungmin mengangkat alis, menunggu penuh harap sepatah kata yang akan dilontarkan langsung dari mulut yeoja dihadapannya.

Tiffany mengangkat wajah menampakkan raut kepasrahan, “Aku butuh waktu… Oppa”

Part 6 – END

Pintu sebuah ruangan terbuka menampakkan seorang yeoja berseragam sekolah yang betaut murung. Ia menghembuskan nafas berat kemudian terduduk di koridor ruangan. Inilah yang dibutuhkannya, udara liar yang membebaskannya dari perasaan terpojok yang ia alami. Keluar dari kepengapan ruang didalam sana.

“Tiffany-ah…” seorang yeoja memanggilnya. Praktis Tiffany menoleh kearah sumber suara.

“Yuri-ah…”

Yuri duduk disamping Tiffany, memegang punggung yeoja itu, “Wae? Ada masalah?”

Tiffany kembali menghela nafas, “Tidak ! seharusnya ini bukan masalah…” desisinya pelan.

“Wae?” desak Yuri semakin tak mengerti.

“Yuri-ah, seharusnya hal seperti ini tidak boleh terjadi…”

“Apa?”

“Aku… Yuri-ah Aku….”

“Memikirkannya lagi ?” Potong Yuri sejenak, “Barusan Yesung datang kemari. Ia memberikan Surat ini untukmu.”

Tiffany tersontak, “Barusan ?” Ucapnya lalu menatap sepucuk surat dalam amplop biru muda ditangan Yuri, “Lalu dia bilang apa?!”

“Dia tidak bilang apa- apa, hanya menitipkanmu surat.” Jawab Yuri.

Cepat – cepat Tiffany menyambar surat itu dari tangan Yuri. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya. Tiffany berjalan menuju koridor yang sepi. Ia lebih memilih membaca surat itu sendiri ditempat yang tenang dan hening…

Yuri menatap heran kepergian temannya. Sebenarnya apa yang salah dengan perasaan Tiffany?

…………………..

Langkah Tiffany berhenti pada salah satu dinding koridor. Tangannya buru- buru menyobek kepala amplop. Ia perlahan membuka lipatan kertas segi empat didalamya. Tampak tulisan tangan namja itu sudah terpampang penuh dalam satu halaman. Yesung ? Haruskah dengan surat? Sebegitu muaknyakah namja itu melihat wajah seorang Tiffany Hwang sekali lagi?

Dear Tiffany….

Bagaimana perasaanmu sekarang, chingu ?

Chingu ? Aku merasa aneh dengan panggilan itu. Sampai sekarang aku masih bingung dengan sebutan apa yang pantas untuk menyebut hubungan seperti ini… Aku bukan siapa- siapamu dan sebaliknya. Entah bagaimana, hatiku selalu menolaknya, Kau mungkin bukan siapa – siapaku. Tapi aku peduli…

Kau berdiri dihadapanku membawa nama organisasi menyanyi sekolah dengan wajah terpaksa. Aku tau kau sangat benci kekalahan. Termasuk membenci pemenang yang hanya menginginkan sebuah gitar. Kau benci saat aku meremehkan acara kompetisi. Aku jengkel, dirimu lebih dari itu kurasa. Mianhae…

Pertama kali, di bukit belakang sekolah, kau menangis disampingku. Seketika itu juga aku seperti melihat sebuah pohon kisut yang nyaris tumbang. Rapuh dan membutuhkan topangan, begitulah dirimu. Semakin aku memikirkannya, semakin timbul perasaan untuk melindungimu. Tak ingin melihatmu menangis kerena orang lain. Aku tidak suka. Terlebih saat kau masih bersandar pada harapan semu tentang dirimu dengan namja lain. Aku ingin sekali memusnahkan pikiran bodohmu. Menyadarkanmu Seperti saat dirimu menyadarkanku tentang cinta  sebelah tangan-ku  pada Sunny. Gomawo…

Aku  benar- benar terpenjara dalam suasana konyol.

Setiap kali nuraniku bertanya, “Apa sebenarnya yang kau inginkan ?” Aku hanya bisa menyeka kebingunganku sendiri, “Dirinya, Tiffany.” Jawabku bergumam pada nuraniku sendiri.

Hanya ingin melihat senyumnya. Hanya ingin merasakan aura kebahagiaan dalam dirinya yang berkilau-kilau dalam mataku. Tapi semua itu menjadi suram.  Menghilang saat pikiranmu terganggu oleh sosok namja itu… Kumohon jangan memikirkannya bila didekatku…

Saranghae…

Aku mengatakannya sekarang, namun entahlah untuk nanti. Aku tidak bisa memperkirakan sejauh mana perasaan ini akan tetap terpatri. Aku tidak bisa mengingkari jalan takdir begitu pula dirimu… Mungkin perasaanmu pada Sungmin terlalu kuat, hingga aku begitu sulit menerobosnya… Jadi cukup kukatakan. Kau tidak harus membalasnya.

Oh yah, sore ini pihak Kirin akan menjemputku menuju sekolah mereka. Aku akan diajak untuk melihat – lihat suasana sekolah itu lebih dulu. Besok aku sudah mulai belajar. Mianhae hanya berpamitan lewat surat ini dan malah mengacuhkanmu pagi tadi. Mianhae.

Akan ada jarak diantara kita. Kurasa itu cukup sebagai langkah awal melupakanmu. Aku akan berusaha…

Tetaplah menjadi yang terbaik. Jangan nakal. Sekarang Sungmin akan menjagamu, kurasa. Semoga kau tidak terlalu merepotkannya, seperti dirimu meepotkanku :-p

Ah, kupikir kertas ini sudah penuh…

Kalau begitu aku pergi dulu….

Sekali lagi, selamat tinggal…

My Candy…

~ Yesung ~

Tangan Tiffany bergetar hebat. Kedua kakinya benar – benar lemas. Kali ini bukan hanya ucapan. Tetapi tindakan. Yesung benar-benar pergi. Lagi – lagi Yesung Membuat air mata Tiffany mengalir deras. Namja itu ingin melupakan dirinya, Tiffany, setelah mengucapkan kata ‘saranghae’ dan.. dan kenapa juga Tiffany harus sedih. Kenapa?

‘Jika kamu mencintai sesesorang maka kamu harus mengatakan perasaan itu ketika moment itu tiba, karena jika tidak, maka moment itu akan hilang dan kamu akan menyesal…’

Kalimat itu kembali terngiang. Kali ini kembali dengan sejuta rasa sesal yang bermekaran. Kini Tiffany hanya berharap jika Tuhan bersedia penghapus perasaan ini sekarang juga, atau… atau dirinya akan mati sesak nafas !

Tiffany bejalan lemas dengan pandangan menerawang. Kedua kakinya tanpa sadar telah membawa tubuh itu kedepan sebuah ruangan. Tiffany tersentak. Sejak kapan dirinya ada disini?

Bersiap masuk kedalam sebuah ruangan, namun langkah itu tertahan…

“Aku sudah tahu semuanya, dari temanmu, Kim Heechul…” seru suara yang Tiffany kenal adalah suara Jessica.

“Tentang ?” Kali ini Sungmin terdengar tidak mengerti.

“Oppa hanya bermain-mainkan?” seru Jessica kembali. Ada apa ini?

“Ah, ternyata namjachingumu itu tidak bisa memegang rahasia rupanya !”

“Bukan dia yang tidak bisa memegang rahasia, tapi Oppa yang jahat ! berani – beraninya mempermainkan sahabatku, Tiffany !”

~DEG~

Mempermainkan?

…………………………..

“Ah, ternyata namjachingumu itu tidak bisa memegang rahasia rupanya !”

“Bukan dia yang tidak bisa memegang rahasia, tapi Oppa yang jahat ! berani – beraninya mempermainkan sahabatku, Tiffany !”

“Mempermainkan ? Aku tidak merasa mempermainkannya !” Sungmin tidak terima.

Jessica terkekeh, “Oppa bilang padaku jika Oppa mencintai Tiffany, itu bohong bukan ? Kau masih belum sepenuhya melupakan Sunny. Lalu Tiffany itu mau Oppa kemanakan ? hanya pelampiasanmu begitu?”

“Pelampiasan? Aku bukan namja pengecut ! Dengar ! Tiffany disini atas kemauannya, aku tidak memaksanya juga untuk tetap disini!” Sulut Sungmin berapi – api.

“Mwo???  Kau bilang tidak memaksanya?” Jessica menarik nafas gerah,” Iya Oppa memang tidak memaksanya, tapi dirimu menyebut – nyebut namanya sambil meminta maaf selama ini apa Oppa sadar, Lee Sungmin?”

“Tiffany, aku memang menyukainya, hanya sekedar untuk melihat sesuatu yang menarik, tidak lebih ! Dia yang terlalu berharap  dan itu membuatku kesal !”

“Mwo??!!!”

PLAKKK

Hening. Sejenak suasana berkabut seperti datang merasuk kedalam ruangan bersuhu dingin itu. Sungmin masih memegangi pipi kanannya yang perih terkena tamparan tiba – tiba. Sementara itu Jessica  masih menatap Shock kearah Tiffany yang entah sejak kapan sudah ada disampingnya. Mungkin saking serius gelutan percakapannya dengan Sungmin,  Ia menjadi lengah dengan kedatangan Tiffany.

“Tiffany-ah..”Jessica berusaha melerai. Tampak Tiffany menatap tajam wajah namja dihadapannya. Namja itu, seperti maling yang tertangkap basah. Sungmin hanya terdiam seribu bahasa.

“Oh, jadi begitu yah? Ternyata aku salah menilaimu Oppa ! Sudah cukup yang kudengar barusan.” Tiffany mengatur nafas kemudian melanjutkan, “Terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk mengenal orang sepertimu !”

“Tiffany…” Lirih Jessica seperti ketakutan. Baru pertama kali Ia melihat, sahabatnya bisa semarah ini.

“Aku tidak akan lagi mengganggu hidupmu, jadi tenang ! Mulai sekarang kau bisa  membebaskan dirimu untuk memikirkan Sunny ! Selamat Tinggal !”

Tiffany beranjak dari ruangan dengan derai air mata yang kian menjadi. Bahkan sahutan penuh kebingungan Yuri dari depan pintu ruangan diacuhkannya sama sekali. Pikiran yeoja itu terlalu rancu untuk memproses apa yang terjadi sekarang. Yesung ? Tiba – tiba Tiffany teringat sosok namja itu.

‘Oh yah, sore ini pihak Kirin akan menjemputku menuju sekolah mereka. Aku akan diajak untuk melihat – lihat suasana sekolah itu lebih dulu. Besok aku sudah mulai belajar’

Begitulah yang tertulis dalam surat namja itu. Sore ini? Ya Tuhan…

Dengan Langkah terburu- buru Tiffany menggotong tubuh resahnya kembali menuju sekolah. Yeoja itu memilih menaiki bus umum. Tiba disana, Ia lantas berlari kencang saat dilihatnya gerbang sekolah yang sedikit terbuka mulai terbuka sepenuhnya.

Tampak mobil luxio hitam keluar dari sana. Mobil yang dibagian sisinya terapampang lambang beserta tulisan Kirin Art School.  Jangan – jangan !

Tiffany mempercepat larinya. Ia terus mengejar mobil itu. Berteriak memanggil nama ‘Yesung’. Namun nihil, mobil mewah itu semakin menjauh. Hanya menyisahkan asap dan debu samar. Tiffany tak sanggup lagi mengejarnya. Tamatlah sudah.

Bersimpuh diatas pasir kering seraya memegang dadanya yang menyesak. Tiffany sadar jika Kini, sosok  namja itu semakin sukar untuk  digapai. Mungkin sudah seharusnya Tiffany menyetujui keputusan namja itu untuk melupakan semua. Cukup. Mulai sekarang Ia tidak akan lagi membiarkan nama Kim Jong Woon berlabuh dalam pikirannya. Sedikit pun.

………………………….

2 Tahun kemudian

Ditengah keramaian, seorang yeoja menoleh kanan dan kiri. Sesekali Ia melirik secarik kertas undangan ditangannya.

“Jessica-ya, dimana gereja pernikahannya?”

“Mana aku tahu Fany-ya ? Dalam undangan tertulis jalan Dae In.”

Yeoja bernama Tiffany itu mendengus. Harusnya pernikahan Taeyeon Sosaengnim dan Park Jung soo Sosaengnim dimulai setengah jam lagi. Tapi dirinya beserta Yuri dan Jessica masih terpelanting bergelantungan dijalan raya.

Tittttt…

Terdengar suara klakson mobil yang nyaring.  Tiffany, Yuri dan Jessica praktis menoleh kearah sumber suara.

“Sungmin Oppa !” pekik Yuri seolah Ia baru saja melihat super hero. Tiffany memasang raut tidak senang. Entah mengapa semenjak adegan dramatis yang dilakukan Sungmin dan Jessica dua tahun lalu dirumah sakit,  membuat dirinya begitu terlihat konyol. Yah, Sungmin dan Jessica berakting agar Tiffany bisa meyakinkan perasaannya sendiri.  Sungmin berakting seolah dirinya adalah orang jahat yang mempermainkan yeoja sedangkan Jessica berakting tak ubahnya seperti orang tolol.  Memalukan !

“Niaklah..” seru Sungmin mempersilahkan.

Jessica menyikut lengan Tiffany sedangkan Yuri langsung menarik tangan kedua temannya hingga berhasil menyeret mereka masuk kedalam mobil sport hitam itu.

Tak ada kata yang keluar dari mulut Tiffany. Hanya Jessica dan Yuri yang sibuk bercuap – cuap menceritakan pengalaman mereka saat tersesat dijalan tadi. Setelah itu, Yuri mulai memperlihatkan kekagumannya pada Jessica karena dulu, Yeoja berambut pirang itu pernah menduga – duga tentang hubungan Taeyeon dan Jung Soo Sosaengnim yang memang benar adanya. Sedangkan Jessica malah  menceritakan  tentang kekhawatirannya melihat ulah beberapa  pasang siswa  siswi sekolah menengah  yang sedang  bermesraan  disepanjang jalan beberapa waktu lalu. Sungguh, Temannya yang satu itu benar – benar tukang gossip !

“Uh, Seperti dirimu tidak begitu !” Sindir Tiffany membuat Jessica memberhentikan ucapannya sejenak. Jessica lantas menatap Yeoja berambut terikat disampingnya.

“Tiffany, aku tahu kau pasti iri karena tidak pernah berkencan… selain dengan Err… “ Jessica memberhentikan ucapannya, “Sudahlah… kurasa hal itu tidak bisa dimasukkan dalam kategori pacaran.”

Tiffany terkekeh, “Yeah, aku mau berkencan… Tapi bagaimana jika kedua sahabatku itu tidak suka !”

Pletak.. Jessica memukul kepala Tiffany dengan undangan pernikahan ditangannnya. Tiffany mengerucutkan bibir seraya mengelus – elus kepalanya.

“Mana mungkin ada sahabat seperti itu ! Jika perasaanmu berubah atau kau menyukai seseorang, jujurlah pada kami, jangan terus mengurung diri dalam kegalauan lalu membohongi kami terlebih dirimu sendiri. Itu seperti memancing banyak  kesalahpahaman. Kau tahu kan apa akibatnya?” omel Jessica. Tiffany meringis.

Dalam hati Tiffany merenungi kalimat Jessica. Dirinya benar – benar terperangkap dalam perasaan bercabang. Perasaan yang sebenarnya tidak boleh terjadi saat dimana seseorang harus menentukan pilihan. Namun masalah cinta terkadang membuat seseorang menjadi ragu atas pilihannya. Dan menyesal saat salah satu pilihan itu lenyap. Diakhir cerita , seseorang tersebut lalu menyadari bahwa seharusnya kesempatan itu tidak boleh dilepas.

“Sudah sampai !” Sungmin memberhentikan mobilnya saat mobil itu telah terparkir dihalaman gereja. Seperti halnya acara pernikahan.  Tamu – tamu undangan sudah banyak memadati halaman gereja. Rangkaian bunga berisi ucapan selamat terpajang disepanjang jalan dan hal – hal semacam itu. Tak lama melihat – lihat suasana sekitar, Sungmin akhirnya memilih bergabung dengan teman-temannya.

Tiffany mulai menyapu pandangannya kesetiap sudut ruangan. Yeoja itu berjalan mencari kursi kosong yang bisa diseret menuju tempat Jessica dan Yuri duduk.  Nah itu dia kursinya !

Tiffany berusaha menggapai kursi dihadapannya. Sial seseorang juga melakukan hal yang sama. Tangan mereka menggenggam masing – masing sisi kursi. Yeoja itu mendengak.

~DeG~

“Yesung –ssi” desis Tiffany pelan.

Suasana mendadak hening. Tiffany tertegun, menatap dalam diam namja dihadapannya. Layaknya tidak bertemu seribu tahun lamanya. Ada perasaan canggung, senang juga… rindu teraduk menjadi satu…

Hingga beberapa detik kemudian, Namja yang dipanggil Yesung itu tersenyum perlahan. Tiffany mengangkat alis, “Tiffany ? Kukira kita tidak akan bertemu disini !”

Tiffany menunduk gugup, “Kau tidak banyak berubah…. Mmm Kurasa…”

“Oh ya? Biasanya teman lama akan bilang, banyak yang berubah.” Ucapnnya seperti tidak percaya. Yah, Tiffany mengakui bahwa namja itu memang banyak berubah. Garis wajahnya tampak lebih tegas, sangat menonjolkan segi kedewasaan seseorang. Badannya lebih berisi sedangkan potongan rambutnya lebih stylis. Kecuali senyuman itu. Senyumnya masih seperti dulu. Tunggu… Dia bilang apa tadi, teman?

“Teman?” Entah mengapa nada tidak terima itu keluar begitu saja.

Yesung mengangkat alis, “Eoh?” tanyanya seperti hendak memperjelas.

Menyadari ada yang salah dengan ucapnnya, Tiffany terkekeh kaku, “Iya, teman. Teman lama, aku ingat.”

Terdiam. Yesung menunduk berpikir. Namja itu kemudian menatap Tiffany sekali lagi,“Kau kuliah? Dimana ?”

“Universitas Chung Ang, mengambil seni musik. Kau sendiri?” Jawab Tiffany pelahan.

“Mwo? Jeongmal?” Yesung membulatkan mata.

“Wae?”

“Aku juga kuliah disana, mengambil seni musik.”

Tiffany menatap Yesung dengan mata berbinar, “Kau menjadi Sunbaeku lagi? Aku tidak pernah melihatmu.”

Yesung tekekeh, “Bukankah saat sekolah dulu, kau juga merasa seperti itu?” ucapnya seperti menyindir.

Tiffany mendengus. Dia benar – benar  namja aneh.

“Tiffany-ya !” seruan suara Jessica terdengar. Terlihat kedua temannya tengah mengibas- ibaskan tangan memanggil.

“Aku kesana dulu… dan emmm bolehkah aku mengambil kursinya ?” ucap Tiffany ragu.

“Ya sudah. Kalau begitu sampai ketemu..” balas Yesung masih dengan senyumannya yang menawan. Masih seperti yang dulu.

Seperti senyuman itu, mungkinkah perasaannya juga masih seperti yang dulu? Entahlah !

…………………….

Acara pun dimulai. Pintu altar terbuka. Tampak Taeyeon Sosaengnim dengan balutan pakaian putih menjulang dengan kain melangsai berjalan disepanjang karpet merah. Tampak disana telah berdri park jung soo Sosaengnim. Upacara sacral pun dimulai. Upacara pengucapan janji sehidup semati hingga pemasangan cincin. Demi apa pun semua orang larut dalam hikmad acara tersebut. Termasuk Tiffany yang tidak berkedip sama sekali.

Acara yang ditunggu – tunggu pun tiba. Acara  tersebut tak lain ialah acara pelemparan bunga dari sang pengantin kepada para gadis lajang yang hadir. Tiffany, Yuri , Jessica beserta tamu undangan yang hadir sudah bersiap didepan panggung. Mereka mengangkat kedua tangan, berpose akan mengangkap sebuket bunga mawar putih yang bisa saja terlempar kesegala arah.

Plukk…. Taeyeon dan Jungsoo Sosaengnim melempar buket bunga itu. Para tamu undangan sebiasa mungkin menangkapnya. Tapi kebanyakan dari mereka malah menatap heran. Kemana bunganya? Siapa yang mendapatkannya? Kenapa bunga itu menghilang?

“Bunga itu ada disini !” Seru seseorang dengan suara bass. Tiffany menoleh mencari tahu sumber suara. Ia tahu persis siapa pemilik suara itu. Yesung.

Benar ! Yesung dengan jas hitamnya berjalan menggenggam sebuket mawar putih kearah depan panggung. Orang – orang menatap heran.  Sepasang pengantin itu rupanya melempar bunga tersebut terlalu jauh. Hingga yang mendapatkannya ialah seorang namja. Padahal biasanya seorang yeoja yang berdiri persis didepan panggung.

“Oppa sih mendorong tanganku terlalu keras !” Sungut Taeyeon saat mengetahui bunga yang dilemparnya barusan  terhempas jauh ke belakang. Namja disampingnya pun meringis membentuk huruf V pada jari kanannya.

Tiffany masih menatap wajah namja dengan sebuket mawar ditangannya. Tiffany menginginkan bunga itu. Sangat.  Ia ingin sekali  menerima bunga mawar dalam wujud pemberian orang lain. Yeoja itu Jarang merasakannya. Bahkan Tiffany hanya pernah menerima setangkai bunga mawar dari…. Yesung.

Namja itu tersenyum dan mendekat. Tiffany hanya mematung. Ia merasa seperti Yesung sedang melangkah menuju tempat dimana ia berpijak. Oh Tuhan !

Benar, Yesung mendekat. Entah sejak kapan namja itu sudah berdiri persis dihadapannya. Tiffany masih menatap seolah dirinya tengah berada dialam mimpi. Jessica menyikut lengan Tiffany membuat yeoja itu tersentak.

Yesung mengulurkan tangan yang menggenggam sebuket mawar putih. Namja itu manatap Tiffany dengan senyum penuh arti.

Tiffany menerima bunga itu dengan tangan bergetar. Sulit baginya untuk mencerna apa yang terjadi. Yesung memberikan sebuket bunga mawar putih dari sang pengantin untuknya?

‘Saranghae…

Aku mengatakannya sekarang, namun entahlah untuk nanti. Aku tidak bisa memperkirakan sejauh mana perasaan ini akan tetap terpatri. Aku tidak bisa mengingkari jalan takdir begitu pula dirimu…’

Tiffany hafal kalimat itu. Perkataan Yesung dalam suratnya dua tahun lalu. Kalimat yang membuat Tiffany tercengang seketika. Tentang perasaan cinta dan Jalan takdir. Takdir yang sering mempermainkan cerita cinta. Bertemu lalu berpisah, kemudian bertemu kembali. Entah dengan perasaan Cinta yang sama atau memudar.  Jika memang jalannya, kesempatan itu pasti terbuka lebar. Tergelarkan  untuk seseorang  yang masih  bertahan dengan kekosongan hati. Terbelenggu oleh rasa yang selama ini dipendamnya sendiri.

“Nado Saranghae… Yesung Oppa…”

Tubuh Tiffany merapat. Kembali yeoja itu merasakan pelukan yang sempat menghilang selama ini. Yesung memeluknya tiba – tiba. Yesung memeluknya, bahkan dihadapan banyak orang. Tiffany memejamkan mata. Merasakan dekap hangat yang telah lama dirindukannya.

Thanks God I found You.

Thanks To You and the Roses for Love. Saranghae !

……………The End……………

Kyaaaa.. *Tebar gope-an*

Alhamdulillah, Akhirnya FF ini bisa terselesaikan… yeiyyy

Thanks buat semua reader ^_______^ yang udah baca, especially buat YeFany Shipper.  Saranghae…

See You Next FF…

Bye – Bye

20 thoughts on “SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 6 – END)

  1. rena fanytastic berkata:

    awalnya sempet kira sungmin benar benar mempermainkan tiffany tpi ternyata hanya pura pura sapa,endingnya bagus.next ff ditunggu

  2. chakan yeoja berkata:

    akhirnya yefany brsatu…horee..#jingkrakjingkrak
    thor,buat ff cast yefany lg ya,.qu tnggu krya slanjutnya..😉

  3. RyeosomniaFanytastic berkata:

    Thor, sumpah ini keren banget!!!! Bikin ff yang castnya yefany lagi dong, aku suka banget sama ni couple hehe🙂 ditunggu ya..🙂

  4. smartoblique berkata:

    Wahhhh daebak.. Endingnya nipu dan ga terduga… Wahh salut ama ff-mu yg endingnya selalu kereeenn.. Cerita dan alur yg keren ditambah ending yang daebak..
    TOP BGT…
    Fighting buat next ff yahh chingu..!!🙂

  5. Aulia berkata:

    Akhr-a klnjtn ne ff mncul jga.ending krg mantap na dkit bgt moment yefany pdhl udh ngbyangn akn da scane sdkt dramatis brujung adgan romantis yefany yg bsa bkin melting trnyt gk da.dkit gk puas tp gpp kek gni ja udh lmyn buat snyum gaje.dtggu ff mu dgn cast yefany yg laen ne.

  6. novijuni berkata:

    uwa………. romantis banget.. mendapat bunga dr seseorang yg kt suka terlebih bunga pengantin……..wah keren banget….

  7. Selin Ayu Angelina berkata:

    Aku cemas banget kalo mereka gabakal menyatu .. Tapi takdir berkata lain buat mereka berdua hidup selama lamanya🙂 .. Aku berharap banget mereka berdua menikah beneran😀 #Symphony Shipper (y)

  8. 1248ksunmi berkata:

    The best yesung fiction ever
    Ngeship banget ama yefany karena kebetulan keduanya bias utama
    Jarang2 dapet ff yefany bagus tapi ini sepuluh jempol juga belum cukup, daebak author
    Ditunggu ff yefany lainnya, kalo perlu ff yg mereka orang dewasa atau kalao perlu lagi marriage life gtu ekeke
    Pokoknya fighting deh thor

  9. icha anissa jenni berkata:

    Kyaaa akhirnya yesung opa dan fany eonny jadi pasangan juga..
    Eonny buat sekuel nya donk..
    Pleasee….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s