[Oneshoot] FF SunSun – Tears Love and the Snow White

Image

Title : Tears Love and the Snow White

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Poster :  asriredityani @ http://theartlockers.wordpress.com/ 

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Sunny, Super Junior Sungmin

Other Cast : Super Junior Kyuhyun

Leght  : Oneshoot ( 4700 words )

Hayyy…

Tralala Aku balik dengan membawa FF SunSun😀

Ini pertama kalinya Aku buat FF tentang mereka hihi ^__________^

Semoga kalian suka ^_*

~~~~~~~~ Happy Reading ~~~~~~~

Memandangi wajahmu selalu menjadi anugrah bernilai yang tercermin dalam bingkisan rasa.

Keajaiban langka  adalah dimana kamu berdiri dihadapanku…

Aku tahu meskipun dirimu  menggeram, menatapku dalam kemarahan… Hatimu  tersenyum

Sulit bagiku untuk melihat namun sangat mudah bagiku untuk merasa.

Wajahmu, berlinangan air mata saat salju mulai menembus langit gelap…

Tatapanmu menerawang seolah menebak, sejak kapan langit menggantung diatas sana ?

Kau menangis menatap salju… Tahukah kamu ? Aku yang begitu  giat memperhatikanmu dari kejauhan ditengah  jarak terlampaui,  Aku menopang dagu terkesima…  Menyadari bahwa  Pandanganmu selalu bisa menangkap tatapanku sekilas, hanya sekilas namun cukup  berhasil membuatku tertawa sendiri bahkan nyaris melompat dari atap rumah bertingkat.

Cukuplah pandangi aku, yakin jika satu – satunya nyawa yang akan menaungimu dalam dekapan perlindungan,

Adalah Aku…

Adalah Aku, maka kemarilah…  Atau aku yang akan datang, mengikat hatimu untuk kudekap sendiri…

Maaf jika aku terlalu egois, tapi begitulah ‘Cinta’

Lalu aku akan mengajarkanmu…

~~~~~~~~~~~~~~~~

Bersandar mengekspresikan perasaan  disepanjang tiang teras  koridor ruangan.  Yeoja itu selalu berdiri disana. Sungmin memandanginya , bahkan terlalu giat. Semuanya, ekspresi sedih, senang, kecewa dan marah, Sungmin bisa menatap semua itu tanpa terkecuali.

Sunny. Tiga hari semenjak salju pertama turun, dia tidak ada disana. Teras rumah susun bertingkat  yang berada  di lantai lima tampak sunyi. Hanya tersusun tempelan semen yang sebagian masih berupa batu bata merah agak menghitam. Perlahan jendela kaca disalah satu kamar ruangan, bergerak sedikit. Sungmin berkesiap menerka – nerka, dari atas lantai tujuh rumah yang sama. Itu pasti dia. Seseorang yang sejak tadi ingin dilihatnya. Seorang Yeoja yang sering berdiri menatap salju dari teras lantai lima.  Beberapa detik jendela bergerak. Hanya bergerak tapi tidak terbuka. Sungmin menghela nafas kecewa. Ternyata perkiraannya salah. Tak ada siapa pun yang nampak, termasuk yeoja itu. Hanya sambaran angin, mungkin.

Sungmin ingin sekali menyambangi ruangan tempat Sunny tinggal, namun sepetinya Namja itu harus mengumpulkan nyali. Karena Sunny selalu menatapnya datar. Ah, bukan hanya Sungmin tetapi juga lingkungan sekitar yeoja itu. Terutama sekarang, saat musim salju tiba , tatapan Sunny bertambah kelam. Disaat semua orang berbahagia menatap salju pertama, yeoja itu selalu menangis. Sungmin ingin segera berlari menuju lantai bawah. Membawa Sunny dalam dekapannya tapi… tapi entah mengapa sesuatu seperti menahannya. Seperti ada dinding tidak kasat mata diantara dirinya dan Sunny. Sungmin benci itu. Dan sekarang Ia hanya bisa memandang Sunny dari kejauhan.

Ditengah dorongan rasa penasaran yang menerpa, Sungmin berjalan menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Segera  Ia mengarahkan tubuhnya menuju sebuah ruangan di lantai lima yang tampak gelap. Seperti tidak ada penghuni didalam sana.

“Kau, sedang apa disini?” Suara lembut bernada heran terdengar dari arah belakang. Sungmin berbalik, mendapati Sunny yang menatapnya sekilas kemudian memilih melanjutkan langkah kearah pintu ruangannya.

Sungmin terpaku sejanak. Perasaan hawatir perlahan menghilang sedikit, “Anyyong.” Sapa Sungmin sedikit gugup.

Sunny berbalik setelah sebelumnya hendak memegang knop pintu, “Ne,” jawabnya bergumam lemah. Ia berbalik dengan wajah yang semakin pucat dari sebelumnya. Mata sipit yeoja itu terkatup seolah menahan kabut yang menelusup. Nafasnya kembang kempis sedikit demi sedikit. Sunny memijit pelipisnya. Tubuh mungil yeoja itu bahkan goyah, mengayun kesegala arah tak karuan.

Kedebuk bunyi tubuh Sunny menabrak sesuatu yang menahannya. Sungmin membelakakkan mata saat Sunny ambruk dalam dekapannya.

“Bangunlah… Sunny-ssi, “ panik Sungmin menepuk – nepuk pipi yeoja yang semakin tak sadarkan diri itu.

Sungmin menarik nafas. Ia mengangkat tubuh Sunny masuk kedalam ruangan didepannya, ruang  tempat tinggal Sunny. Seperti dugaan, ruangan tersebut sangat minim penerangan. Sungmin meletakkan tubuh Sunny diatas sofa merah kemudian bergegas menggeser gorden coklat yang menutupi jendela persegi. Masih buram, Sungmin akhirnya memilih menyalakan lampu tidur diatas meja.

Tampak tubuh Sunny yang tengah dibalut oleh mentel bulu abu – abu, mengigil kedinginan. Bibirnya bergetar serta kuku tangannya sudah berwarna ungu kebiruan. Sungmin panik dan segera menyalakan penghangat ruangan. Rasanya  suhu di awal musim salju kali ini lebih ekstream dibanding  musim  salju tahun lalu.

“Oppa… Oppa kau sedang apa disana… Aku melihatmu…” racau Sunny dengan mata tertutup. Sesekali tubuhnya menggeliat gelisah. Sungmin yang berdiri dihadapannya mengerutkan kening. Sedari tadi namja itu mencari dimana letak dapur. Ingin rasanya membuatkan sesuatu yang menghangatkan.

Sungmin akhirnya berjongkok meraba pelipis Sunny, sangat dingin. Sunny kedinginan dan Sungmin yakin jika yeoja itu baru saja menerobos salju.

“Oppa kenapa kau tega sekali padaku ? Aku hampir mati menunggumu ditengah salju, Aku  menunggumu, tapi kenapa? Kenapa kau tidak datang ?” Sunny kembali mengigau, sementara Sungmin terus mendengarkan kalimat membingungkan yang terucap.

“Aku membawa harapan dalam mengukir hari yang menyenangkan, tapi kenapa kau malah menghabiskan waktumu dengan yeoja sialan itu, huh? Cih, ternyata semua namja didunia ini sama saja !” cerca Sunny ditengah nafasnya yang menyesak.

“Sunny-ssi.” Sungmin semakin mendekatkan wajahnya, berharap yeoja itu segera sadar. Beberapa detik kemudian mata Sunny bergetar seperti berusaha membuka. Sungmin berkesiap penuh harap. Beberapa detik berlalu, Sunny akhirnya membuka mata . Yeoja itu bergeleng lemah. Ia menatap bingung suasana disekelilingnya kemudian berucap, “Kau?” desisnya lemah.

Sungmin handak menjelaskan sesuatu tentang keberadaannya  didalam ruangan Sunny, namun sesuatu menahannya. Sebuah suara ketukan yang bersumber dari arah pintu. Sungmin menatap Sunny sekilas kemudian beranjak membuka pintu.

“Annyong.” Sapa Sungmin pada seorang namja dihadapannya. Bukannya balas menyapa, namja bermata kelam itu  malah menerobos masuk begitu saja. Ia menengok kekanan dan kekiri seperti hendak mencari keberadaan seseorang. Hingga arah pandandangannya tertuju pada seorang yeoja yang tengah terbaring lemas diatas sofa.

“Oh, jadi sekarang Kau malah seenaknya berbaring disofa bahkan bersama seorang namja sedangkan Aku menunggumu sendiri ditengah salju, huh?!” ujar namja itu dengan volume tinggi.

Sunny membulatkan mata, Ia berusaha bangkit dari posisinya, “Mwo?” gumamnya tidak percaya. Kristal bening perlahan menjalar menutupi mata beningnya, “Oppa, Aku menunggumu lebih lama bahkan sebelum kau menungguku  !” Sunny memberikan penjelasan seperti menyuruh namja dihadapannya untuk percaya. Sunny menatap penuh harap. Seolah memohon agar namja dihadapannya itu memaafkan kesalahan yang bahkan Sungmin yakin jika itu sama sekali bukan kesalahan.

“Kau bersama Yeoja itu, aku melihatmu, Kyuhyun Oppa !” Sunny menunduk berucap lemah.

Namja bernama Kyuhyun terbelakak, sedetik kemudian matanya memicing, “Bisa kusimpulkan jika Kau marah karena melihatku ‘bermesraan’ dengan seorang yeoja ?” ucapnya tersenyum miring, “Cengeng sekali ! Rupanya kau malah melampiaskan kekesalanmu. Berduaan dengan seorang  ‘namja’, ” Kyuhyun menekan kata ‘namja’ seraya menatap picik kearah Sungmin yang masih mematung.

“Kyuhyun Oppa, mianhae…” mohon Sunny dengan mata memerah.

“Cukup ! lebih baik kita akhiri ! “ Kyuhyun berbalik menuju kearah pintu dengan langkah cepat. Dengan bodohnya, Sunny malah mengejar namja sialan itu. Sunny menyebut nama ‘ Kyuhyun Oppa’ seperti orang kesetanan. Wajahnya memerah basah oleh air matanya sendiri.

“Kyuhyun Oppa, tunggu !” Sunny menekan dadanya yang sesak seraya terus berlari. Hingga tenaganya kian menipis. Ia lantas memegang lututnya, tanda bahwa kedua kaki yeoja itu sudah tak sanggup lagi melangkah.

Sungmin menatap punggung Sunny dari kejauhan. Namja itu menunduk merasa bersalah.

“Mianhae…”

~~~~~~~~~~~~~~~~

Seminggu semenjak hari itu. Dia, Sunny kembali menerawang menatap kabut abu – abu diatas sana.  Bersandar lemah pada tiang teras lantai lima ruangan tempat tinggalnya. Butiran – butiran kesedihan yang akrab terlihat, kini semakin deras. Sunny menangis. Meski dari kejauhan, Sungmin bisa melihat itu. Dua lantai diatas Sunny, seperti selangkah didekatnya. Sungmin bisa merasakan betapa sedihnya yeoja yang kini menatap sendu kearah segerumul salju yang turun tanpa henti. Juga betapa hampanya hati seorang yeoja yang hingga detik ini masih berdiri merasakan cuaca dingin yang menusuk. Tanpa ada seseorang disampingnya.

Sungmin sungguh merasa beralah atas kesedihan Sunny. Semua sudah terlanjur, dan namja itu harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi.  Hari ini Sungmin meyakinkan diri sendiri bahwa namja itu akan menghilangkan kesedihan Sunny. Namun sial, sore ini Sunny tak nampak lagi diteras rumahnya. Ataukah jangan – jangan yeoja itu sudah diujung kesedihan yang maksimal sehingga… sehingga, oh tidak ! jangan katakan jika nantinya Sunny akan, akan bunuh diri ?!

Sungmin panik atas pikirannya sendiri. Ia berbalik namun langkahnya terhenti saat seorang yeoja bersweater cream menatapnya heran seraya melipat kedua tangannya didada. Sungmin membelakakkan mata, sejak kapan yeoja itu ada disana?

“Sunny-ssi?”

Seseorang yang dianggil Sunny itu terkekeh, “Jangan panggil aku seperti itu, Kita kan sudah lama saling kenal. Ah, setidaknya kita sudah tidak asing lagi satu sama lain.”

Sungmin mengerutkan kening, “Apa maksudmu?”

“Jangan pura  – pura tidak tahu, Sungmin Oppa. Aku sering melihatmu dari lantai lima. Kita bertetangga jadi apa salahnya saling menyapa, dan lagi kau  juga pernah menggotong tubuhku saat Aku pingsan kemarin, masuk kerumahku, dan bertemu Kyuhyun. ”

“Mianhae…” Sungmin menunduk. Ia merasa Sunny masih kesal padanya. Karena  namja bernama Kyuhyun.

“Kau meminta maaf ? Baiklah akan kumaafkan, tapi…” Sunny memberhentikan ucapannya. Yeoja itu menatap wajah penasaran Sungmin, “Temani aku berjalan – jalan. Aku bosan didalam ruangan terus – menerus. Aku tidak punya teman dan kau tahulah, Aku baru saja putus.”

“Jadi?” Sungmin mengangkat alis.

“Temani Aku sebentar.”

Sungmin tertegun. Bibirnya mendadak kelu, bingung harus menjawab apa. Nyaris namja itu meloncat kebawah.  Oh katakan, ini seperti mimpi ! Mimpi yang terkabul.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Jadi Kau benci  salju?” Sungmin bertanya pada yeoja  mungil yang tengah berjalan disampingnya. Melangkah  mengarungi jalan bersalju.

Sunny menggesek kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan kemudian menjawab, “Tidak juga,”

“Eh?”

“Maksudku bukan karena musim dinginnya, tapi kejadian pada saat salju turun, aku selalu saja tersakiti oleh seorang namja, selalu begitu. Dan sekarang terulang, lagi…” ucapnya menunduk dengan suara bergetar.

Sungmin ikut tertunduk menyesal, “Mianhae, aku tidak seharusnya bertanya seperti itu.” ucapnya cepat – cepat mengalihkan perhatian. Ia melemparkan bola salju kewajah Sunny. Membuat  yeoja itu terkejut setengah hidup.

Sunny menatap kesal seraya tersenyum konyol, “Dasar iseng !”

Sunny berjongkok hendak membuat bola salju. Segera yeoja itu melempar bola es yang dingin kewajah namja dihadapannya. Bola es sukses mendarat pada sasaran bahkan sampai termakan.  Sunny tertawa puas.

“Apakah  ice cream rasa tawarnya enak?” sahut Sunny meledek. Sungmin menyeringai.

Sunny berlari saat Sungmin mengejarnya hendak melakukan aksi balas dendam. Segenggam bola es telah mereka siapkan ditangan masing – masing. Saling lempar melepar terjadi. Sunny tertawa dengan lepasnya seolah beban dalam dirinya telah melayang bersama angin.

“Hyak, rasakan…” Sunny melempar bola raksasa yang sukses membuat Sungmin kehilangan arah.  Sunny tertawa terpingkal.

Sungmin berlari mengejar Sunny yang berusaha kabur dari lemparan bola es. Namja itu berhasil menangkap tubuh mungil dihadapnnya. Sungmin melingkarkan tangannya pada pinggang Sunny hingga yeoja itu tak mampu lagi bergerak.

“Ampun… ampun, lepaskan aku !” ucap Sunny diiringi tertawaan.

Sungmin melepas dekapannya. Namun lagi – lagi namja itu harus terkena lemparan bola es. Sunny mengerjainya lagi.

“Yak,  pura – pura menyerah ! Kau curang !” sahut Sungmin tidak terima. Sunny malah menjulurkan lidah seraya memasang ancang – ancang untuk melempar bola es kembali.

Segalanya terhenti. Sunny berteriak histeris saat Sungmin menggotong tubuh yeoja itu diatas pundaknya. Seolah Sunny adalah karung beras.

“Yak turunkan aku !” teriak Sunny namun namja yang menggotongnya malah terus berjalan menuju sebuah gundukan salju yang lebih lebat.

“Kau akan tahu bagaimana bermain bola es yang sesungguhnya.”

“Yak turunkan, Sungmin pabo !” umpat Sunny membuat Sungmin terkekeh.

Sungmin lantas menurunkan Sunny diatas tumpukan salju yang dingin. Bukanya melempar bola es, Sungmin malah ikut terduduk diatas tumpukan salju. Namja itu tersenyum kearah yeoja yang tengah menatapnya heran.

“Kau tahu cara membuat boneka salju ?” tanya Sungmin tersenyum.

Sunny menggeleng, “Aku tidak pernah tertarik membuat boneka salju.”

“Oh ya?”

Sunny menerawang, “Konon, boneka salju dibuat untuk orang yang kita cintai. Orang tuaku sudah tidak ada. Disini hanya tinggal halmoniku. Tidak mungkin kan, aku membawa halmoni  untuk bermain boneka salju kemari?” Sunny tertawa kecil. Sungmin balas tertawa.

“Dan namjachingu ? Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, setiap salju turun, entah mengapa kesemuanya selalu menampakkan sisi brengsek dari dalam diri mereka masing – masing.”

Sungmin terdiam masih mencerna kalimat yang baru saja didengarnya. Ia tersenyum miris kemudian berkata, “Kalau begitu biar Aku yang membuatkannya untukmu.”

Sunny terkekeh, “Memangnya Kau mencintaiku?”

“Tentu saja.”

“Eoh ?” Sunny mengangkat alis.

“Aku selalu memperhatikanmu, apa kau tidak tahu ?” Sungmin menatap serius membuat Sunny bertingkah gelagapan. Wajah yeoja itu semakin merah.

“I-itu… Aku…”

Sungmin  tertawa tiba – tiba, membuat Sunny bingung sekaligus geram sendiri, “ Yak ! Kenapa ketawa?”

“Mukamu memerah, itu lucu…”

“Euhhhh” Kesalnya memanyunkan bibir.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetes butiran air mata terus saja mengalir deras. Begitu derasanya seiring dengan cuaca dingin yang menerpa.  Satu demi satu benda panjang yang terbuat dari olahan terigu masuk kesebuah lubang yang siap melahap kelezatan rasa masakan. Kuah kaldu panas yang super pedah mengiang ditelinga, mencekat lidah dan tenggorokan.

“Eupsss… kenapa pedas sekali ?” Sunny mengipas lidahnya yang sedikit bercucuran air liur. Yeoja itu membasuh cairan lendir yang keluar perlahan dari hidungnya.

“Mie super pedas sangat cocok dinikmati dalam cuaca seperti ini.” Sungmin berkilah.

Sunny meminum ceret dihadapannya, membuat mata Sungmin terbelakak. Bukan apa – apa tapi namja itu juga butuh air untuk menghilangkan rasa pedas.

“Jangan habiskan, Aku juga mau, jebal !” Mohon Sungmin dengan wajah meminta dikasihani.

Sunny tersenyum jahil dan semakin bersemangat menghabiskan air dalam ceret. Sungmin semakin panik.

“Yak…” ucapan Sungmin terhenti saat menatap siapa yang tengah berdiri didepannya, dan Sunny. Namja itu, Kyuhyun.

Sunny meletakkan ceret air diatas meja dengan tangan bergetar. Pandangannya kembali menerawang saat melihat Kyuhyun dengan mata pisaunya tengah menatap mereka dengan penuh aura kekesalan.  Dan juga penampilan Kyuhyun. Terlihat berantakan. Kyuhyun bukan lagi namja rapih, maha higienis seperti biasa, senyumanya menghilang entah kemana. Kini hanya menyisahkan  sosok amburadul  juga beraroma tidak mengenakkan. Kyuhyun mabuk, benarkah itu?

“Kyu-hyun Op-pa,” Ucap Sunny tergagap.

“Ikut aku !” Kyuhyun menarik tangan Sunny. Sungmin menatap tidak terima dan balas menggenggam tangan sunny lainnya.

“Kau tidak boleh bersikap kasar !” Tegas Sungmin.

Kyuhyun berdecih, “Kau, kenapa ikut campur ! Ini, antara Aku dan Sunny!”

“Cukupppp!!!” Sunny menghempaskan tangan kedua namja yang masing – masing mengengggam tangannya. Ia kemudian menarik nafas keras, “Kita bicara diluar !” ucapnya menatap Kyuhyun tajam.

Sungmin menatap Punggung kedua orang yang berlalu begitu saja.  Terseret masuk kedalam drama romansa seorang Lee Sunny adalah pilihannya dari awal. Mungkin tidak seharusnya Sungmin menjalankan rencana piciknya, juga tidak seharusnya Sungmin melakukan hal  itu. Hal yang mungkin saja dapat membahayakan Sunny. Seperti sekarang !

Sungmin mengacak rambutnya frustasi. Menganggap jika namja berjiwa labil seperti Kyuhyun benar – benar tidak pantas untuk seorang yeoja rapuh seperti Sunny. Sedikit – sedikit Kyuhyun bisa saja menghancurkan yeoja itu. Kyuhyun seperti halnya bajingan yang…. Oh tidak, berbahaya !

Secepat kilat Sungmin melangkahkan kakinya keluar. Ia menegok kanan kiri. Hanya ada pohon – pohon kering bersamaaan dengan salju yang turun perlahan. Sungmin terus berlari menendang gundukan salju yang menghalangi jalannya. Hingga suara – suara  perdebatan sengit terdengar  dari balik tembok jalan.  Jelas, seperti suara namja dan yeoja yang sedang beradu argumen.  Sungmin seketika berlari kencang kearah sumber suara. Tepat mereka ada disana. Saling menyungut, menyahuti dan menimpali satu sama lain.

“Apa maksudmu menjijikkan? Kau bilang aku menjijikkan ?!” Sunny menatap tidak percaya. Tetes demi tetes butiran bening keluar dari pelupuk matanya. Kyuhyun ! Dia benar – benar bajingan !

“Iya kau menjijikkan, yeoja murahan… Didepanku kau berlagak sok suci ! tapi dibelakangku… dibelakangku…”

‘Plakkk’ Sunny menampar pipi kanan Kyuhyun dengan sangat Keras. Kyuhyun memegang pipinya yang memerah.

“Kau menamparku, Sunny-ya?” Kyuhyun berkata pelan namun tajam. Ia  melangkah kedepan. Semakin menghimpit tubuh yeoja yang tengah bergetar ketakutan itu menuju tembok dihadapannya.

“A-pa maumu?” Sunny menahan nafas gugup.

“Mauku ?” Kyuhyun tersenyum miring, seraya menelunjuk bibir merah jambu yang semakin memucat, “Biarkan aku merasakan bibirmu…”

“Apa?”

“Kau membiarkan namja lain merasakannnya, kenapa aku tidak boleh ?” Kyuhyun menatap tajam.

“A- pa maksudmu ?”

“Jangan pura – pura bodoh !” Timpal  Kyuhyun menegaskan. Perlahan namun pasti semakin mendekatkan wajahnya dan…

Boggg ! Suara debukan keras terdengar saat tubuh Kyuhyun mulai menjauh dari penglihatan Sunny. Mata yeoja itu terbelakak melihat Sungmin yang menghajar Kyuhyun dengan sekuat tenaga hingga tersungkur. Percikan darah tampak mewarnai sudut bibir dari namja yang perlahan mencoba bangkit.

Kyuhyun berdiri sempoyongan. Namja itu menggesek dengan kasar percikan yang darah terus saja mengalir. Sedangkan Sunny tumbang, terduduk lemas diatas tumpukan salju. Nalar dan pikirannya begitu sulit mencerna kenyataan yang baru saja terjadi. Sulit sekali.

“Kau, Jaga sikapmu !” tegas Sungmin dengan nafas berkejaran.

Kyuhyun menggerakkan otot wajahnya yang baru saja terkena pukulan,  “Ternyata kalian berdua itu sama – sama menjijikkan.” Sindirnya terkekeh.

“Yakkkk!” Sungmin menyeru menatap tajam. Perasaannya kian memanas. Sangat brengsek   seandainya Kyuhyun menganggap seolah  Sunny adalah yeoja murahan.  Kyuhyun baru tiga bulan berhubungan dengan Sunny. Kyuhyun tidak tahu apa – apa dibandingkan Sungmin yang setiap harinya  terus memperhatikan yeoja itu selama bertahun – tahun. Lalu sekarang,  bisa – bisanya Kyuhyun  dengan lancang berkata tentang hal yang  tidak pantas seperti itu ?!

“Oh, bahkan kalian tidak lebih baik dari seonggok sampah !”

Sungmin menarik nafas dalam. Ia betul – betul ingin mengakhiri semua ini. Cukup dirinya yang dicerca hinaan, diibaratkan lebih buruk dari sampah, menjijikkan atau apapun. Asal bukan Sunny. Sungguh, yeoja itu tidak tahu apa – apa.

Sungmin memejamkan mata penuh kekesalan, “Kau ! Bisakah hanya menggunakan otakmu untuk berpikir ?!”

“Menggunakan otak atau tidak, kalian tetaplah menjijikkan.” Kyuhyun tersenyum remeh.

Sungmin bergerak cepat, mencengkram kerah mantel coklat tua  yang melekat dileher Kyuhyun. Keringat dingin mengucuri wajah namja  yang terkenal dengan senyum miring itu,  “Kau ! seberapa dalam kau mengenal Sunny?!” Gertak Sungmin menatap tajam.

“Mwo?” Kyuhyun  balas menatap tajam.

“Dengar ! Semua yang kau lihat, sepenuhnya salahku…  Akulah yang melakukan semua itu pada Sunny. Dia sama sekali tidak tahu apa – apa . Saat Itu Sunny sedang pingsan, kau tahu karena apa?” Tatapan Sungmin berubah sendu, “Dia pingsan Karena menunggu sibodoh sepertimu ditengah salju…”

Sunny yang sedari  tadi terduduk lemas, beralih mengerutkan kening mendengar penuturan Sungmin ? Pingsan ?

Nafas Kyuhyun menyesak, “Kau !”

Sungmin mengatur nafas berkejaran seraya bergeleng takut. Segera namja itu  melepaskan cengkramannya dari leher Kyuhyun, “Ya, saat kau datang keruangan tempat Sunny tinggal, Aku ada disana, karena Dia tiba – tiba saja jatuh pingsan dan…”

Flash Back

Sungmin akhirnya berjongkok meraba pelipis Sunny, sangat dingin. Sunny kedinginan dan Sungmin yakin jika yeoja itu baru saja menerobos salju.

 “Sunny-ssi.” Sungmin semakin mendekatkan wajahnya, berharap yeoja itu segera sadar.

Sungmin menyipitkan mata, seolah melihat sekelebat bayangan dari arah jendela. Seseorang memperhatikan mereka tapi siapa? ‘Mungkin Dia’ pikir Sungmin tersenyum miris.

 Perlahan namun pasti Ia menempelkan bibirnya diatas bibir yeoja yang masih  terlarut  diantara alam bawah sadarnya.  Sungmin mencium bibir Sunny cukup lama.

Beberapa detik kemudian mata Sunny bergetar seperti berusaha membuka. Sungmin berkesiap penuh harap. Lantas Sunny akhirnya membuka mata seraya bergeleng pelan. Yeoja itu menatap bingung suasana disekelilingnya kemudian membuka mulut, “Kau?” desisnya lemah.

 “Oh, jadi sekarang Kau malah seenaknya berbaring disofa bahkan bersama seorang namja sedangkan Aku menunggumu sendiri ditengah salju, huh?!”

Flash Back end

“Jadi kumohon salahkan Aku atas semua yang terjadi. Jangan mengatakan hal buruk tentang Sunny, semua adalah salahku. Mianhae.” Sungmin tertunduk merasa bersalah.

“J-jadi?”

“Sunny-ya, jeongmal mianhae.”

Sunny bangkit, berusaha berdiri kokoh persis dihadapan Sungmin. Ia menggeleng tidak percaya. Yeoja itu ingin menangis tapi, menagis terasa begitu sulit. Ingin tertawa atas semua lelucon yang terungkap. Tapi sepertinya semua itu sangat tidak pantas untuk ditertawakan. Miris.

‘Plakkk’ Kini satu tamparan keras mendarat dipipi Sungmin. Namja itu menatap nanar.

“Pergi !” Sunny menunjukkan raut acuh bercampur amarah.

“Sunny-ah.”

“Pergi dan jangan tampakkan wajahmu lagi dihadapanku…” sambungnya yang seketika mencabik perasaan Sungmin hingga namja itu tak yakin jika Ia bisa bernafas didetik sekarang.

Sungmin menarik nafas ingin mengatakan sesuatu. Baru saja sebelum Sunny membungkam lisannya, “Sekarang !” tegas Sunny pelan. Sungmin terdiam. Namja itu berbalik. Satu – satunya tindakan yang paling tepat saat ini. Karena Sunny terlanjur membencinya…

“Mian…”Desis Sungmin kemudian berlalu pergi.

Sunny terjatuh diatas tumpukan salju. Ia menatap kepergian Sungmin. Diluar dugaan jika seseorang yang dianggapnya paling perhatian selama ini melakukan hal licik seperti itu. Sunny senang ketika dalam waktu yang lama, seseorang  memperhatikannya dari kejauhan. Sunny senang saat namja itu  tersenyum begitu melihat dirinya tersenyum dan menagis tatkala melihatnya menangis. Menikmati suka dan duka berdua ditengah kesepian. Sunny senang. Sangat menghargai itu. Tapi kenapa Sungmin malah menghancurkan segala persepsi yang terlanjur merasuk?

“Sunny-ah, Lihatlah aku…” Suara pelan terdengar seiring dengan dekapan hangat yang dirasakannya. Kyuhyun memeluknya. Pelukan yang entah mengapa terasa hampa. Sunny terisak dan itu pasti.

“Maaf karena pernah berkata bahwa aku ‘bermesraan’ dengan yeoja lain. Yeoja yang sebenarnya kau lihat saat itu adalah Sooyoung, sahabatku semasa kecil. Sooyoung adalah tunangan Siwon Hyung. mereka akan menikah bulan depan. Mianhae aku terlalu marah saat melihat Sungmin eummm… Menciummu…”

Sunny diam saja. Bingung harus menyanggah apa.  Ia tentu senang jika kebenaran mulai terkuak namun disisi lain perasaan mengganjal bersinggah dihatinya. Seperti ada yang hilang.  Ada yang lenyap dari setiap detik dalam hidupnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dengan langkah yang terburu – buru, seorang yeoja berjaket tebal dengan hoondie yang membungkus kepalanya berlari kecil hendak menggapai kenop pintu. Tangannya bergetar hebat merasakan cuaca yang kian hari semakin dingin. Ia masuk kedalam sebuah ruangan,  menyalakan pemanas kemudian duduk diatas sofa merah. Pandangannya mengarah pada tumpukan salju diluar sana. Tumpukan demi tumpukan  yang semakin menutupi jalan. Ia tersenyum. ‘Bola es dan boneka salju’ pikirnya.

“Yak, Lee Sunny, apa yang sebenarnya kau pikirkan ?” umpat yeoja itu seraya  menggetuk kepalanya pelan.

Suara ketukan pintu mendadak membuyarkan lamunan Sunny tentang seseorang. Ia menghela nafas, beranjak membukakan pintu.

Mata Sunny membulat saat sebuah tangan terulur mulus, menyodorkan  setangkai mawar merah didepan pintu rumahnya.  Pemilik tangan yang berasal dari arah samping itu pun akhirnya menampakkan diri.

“Kyuhyun Oppa?” Sunny tersenyum melihat seorang namja bermantel tebal dihadapannya.

“Apa Aku boleh masuk ?”

Sunny berpikir sejenak kemudian menjawab, “Bagaimana kalau kita berjalan – jalan saja, banyak salju putih diluar. Melakukan sesuatu diluar  kurasa lebih menyenangkan.” Pungkas Sunny. Kyuhyun langsung mengangguk setuju, “Baiklah, kaja !”

Pintu tertutup. Sunny  yang berjalan selangkah dibelakang Kyuhyun, langsung menggerakkan kakinya menuju lantai bawah. Pandangan yeoja itu melirik sekilas keatas. Memandang lurus keatas lantai tujuh. Sunny menghela nafas berat saat  Ia tidak mendapati sesuatu yang ingin dilihatnya. Sudah berhari – hari  sosok itu menghilang.

Kyuhyun menggandeng tangan Sunny yang terbungkus sarung tangan. Bahkan yeoja itu masih menggigil. Kyuhyun lantas memasukkan tangan tersebut kedalam kantung mantelnya. Sunny menatap sekilas seraya tersenyum.

“Tidak biasanya kau ingin berjalan jalan ditengah salju seperti ini. Apa ada yang ingin kau amati?” Kyuhyun bertanya cukup lama namun tak ada tanggapan. Namja itu lantas melirik wajah Sunny. Masih menerawang. Kyuhyun berpikir, sesuai dugaan jika ini akan terjadi.

“Sunny-ah… Sunny-ah…” Panggil Kyuhyun beberapa kali hingga yeoja disampingnya tersadar.

“Ah… Ne, Oppa tadi bicara apa?”

Kyuhyun mengangkat alis, “Aku bertanya, apa yang kau pikirkan?”

“Aku?” Sunny berpikir cukup lama, “Aku berpikir tentang permainan saling melempar bola salju, juga membuat boneka salju untuk orang yang kau cintai…” Sunny berkata sambil tersenyum. Tak lama senyum itu pudar. Merasa ada yang salah saat Kyuhyun malah mengerutkan kening mendengar penuturannya  barusan.

Sunny berkata gelagapan,“Mmm… Maksudku adalah kita belum pernah melakukan hal – hal seperti…”

“Tidak usah, Nanti kau sakit,” potong Kyuhyun semakin mempercepat langkah.

Bukannya menolak, tapi Kyuhyun tahu jika permainan bola es dan boneka salju mengingatkan Sunny pada sosok Sungmin. Kyuhyun yakin itu. Ia pernah melihat sendiri dengan mata kepala yang  masih waras, ketika Sunny dan Sungmin bermain salju dengan wajah riang,  tanpa mempedulikan seseorang yang memperhatikan mereka. Maksudnya memperhatikan dengan hati yang hancur.

“Sebaiknya Kita pulang saja. Aku ada urusan.” Ucap Kyuhyun tiba – tiba membuat Sunny menatap heran.

“Eoh?”

“Mian Karena Aku harus secepatnya pergi. Kau bisa pulang sendiri kan?” Kyuhyun memegang kedua pundak Sunny. Hendak meyakinkan.

Sunny mengangguk, “ Nde Oppa…”

“Kalau begitu, hati – hati…” Kyuhyun perlahan mundur selangkah demi selangkah. Sunny memandang  namja itu, hingga siluetnya menghilang dari jangkauan penglihatan.

Mungkin perkataan Kyuhyun tadi ada benarnya. Bermain bola es dan boneka salju ditengah suhu minus bisa saja membuat kondisi badan siapa pun menurun drastis. Sunny menghela nafas dan memilih untuk pulang.  Butuh lima belas menit untuk sampai kerumah susun bertingkat yang Ia tinggali.  Sunny berjalan cepat saat dirasanya tekanan suhu berhembus semakin dingin. Yeoja itu baru saja akan meraih kenop pintu dihadapnnya. Nyaris saat pandangannya menangkap selipan dibawah pintu.

“Temuilah Aku ditaman belakang rumah, Aku menunggumu. “

–Sungmin–

Secarik kertas biru muda terselip dibawah pintu. Sunny meraih benda itu. Mendadak nafasnya tercekat. Darahnya terasa berdesir deras. Sungmin ?

Cepat – cepat Sunny berbalik menuju pintu tangga. Tanpa pikir panjang yeoja itu berlari  ditengah deras salju yang turun. Menuju taman belakang rumah. Menemui seseorang yang… Yang baru sedetik  belakangan ini disadarinya, bahwa betapa  Ia merindukan sosok itu.

Salju semakin lebat. Cuaca dungin menusuk semakin terasa. Sunny masih terduduk dibawah pohon tandus seraya melilit tubuh yang terlanjur menggigil dengan kedua tangannya. Suara gemerutup dari jejeran gigi putih dalam mulutnya semakin berkoar.  Tubuh Sunny sepertinya akan membeku sebentar lagi meski yeoja itu telah memakai jaket hangat super tebal.  Karena penghangatnya telah hilang, mungkin. Tetapi sebentar lagi akan datang. Ia sangat Yakin. Juga percaya !

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Segores senyum datar tersungging dari bibir tipis seorang namja berwajah oval. Bola mata hitam pekatnya mengamati setiap sudut dari cafe tempatnya bersinggah. Cafe yang dipenuhi penghangat dimana – mana. Terpasang kaca lebar dan tinggi pada setiap dindingnya. Kaca transparan yang dipenuhi oleh embun musim dingin.

“Ada apa kemari ?” Tanya seorang namja berjaket hitam seragam. Tampak  didadanya tertempel name tag bertuliskan ‘Le Sungmin’

“Ternyata selain kuliah kau juga  bekerja disini !” Kyuhyun mencoba berbasa basi.

“Cepat katakan, Aku tidak punya banyak waktu…” ucap Sungmin tampak jengah.

Kyuhyun tampak menimbang nimbang cukup lama. Sungmin semakin geram,  namja beraut tenang menghanyutkan dihadapannya itu benar – benar  membuang waku.

Baru saja sungmin akan berkata sesuatu, Kyuhyun lebih dulu menyanggah. “Temuilah dia.”

Sungmin tertegun. Dia yang dimaksud Kyuhyun, tentulah Sungmin tahu.

“Kupikir Dia masih mengingatmu.” Kyuhyun tertunduk.

“Apa?”

“Dia selalu bercerita tentangmu. Sejak di Sekolah menengah, Kau selalu memperhatikannya dari lantai tujuh rumahmu, bukan?  Dia tahu semua tentangmu, gerak – gerikmu karena apa? Karena Dia juga memperhatikanmu…” jelas Kyuhyun.

Sungmin menghela nafas merasa bersalah, “Mianhae, tapi Aku tidak bisa. Sunny sudah menyuruhku menjauh dan.. “ ucapnya terpotong. Sungmin benar – benar bungkam saat lehernya tercekat karena tarikan Kyuhyun pada kerah mantelnya.

Kyuhyun menatap dalam seseorang yang hingga saat ini sulit bernafas karena cengkraman tangannya, “Dengar Lee Sungmin ! Aku tidak sudi repot – repot datang kemari jika bukan karena Sunny yang  mengharpkanmu bertemu dengannya. Aku tidak akan segila ini melangkahkan kakiku  menuju tempatmu berada jika bukan karena Sunny yang masih terbayang – bayang oleh namja pengecut  sepertimu.  Aku juga tidak akan sebegitu tololnya menekan amarahku saat menaruh secarik kertas dibawah pintu rumah Sunny, atas namamu, ‘Lee Sungmin’ agar menemuinya di Taman belakang, Cih !  Kau benar – benar tidak tahu diri !”

“A—apa maksudmu? Menemuinya ditaman belakang?” Sungmin tergagap tidak percaya.

Kyuhyun melepaskan cengkramannya seraya menunduk bersalah, “Aku… Aku menyuruh Sunny menunggu ditaman belakang, dengan mengatas namakanmu. Aku yakin sekarang Dia ada disana.”

“Mwo?!” desis Sungmin, merasa malaikat maut akan menjemputnya sekarang juga.

“Jadi cepat temui dia… Cuaca semakin buruk, Aku takut Dia kenapa – napa karena menunggumu…”

Sungmin menggeleng. Ini tidak mungkin !

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bunyi langkah kaki memercik disepanjang jalan yang dipenuhi oleh tumpukan salju. Derai nafas berkejaran semakin lama, kian jelas terdengar. Sungmin menatap panik suasana disekitarnya. Taman belakang lokasi rumah susun.  Namja itu semakin panik saat sosok yeoja yang dicarinya tak juga nampak. Hanya ada salju yang bertebaran dipermukaan bumi. Serta suara gemericik langkah kakiya yang  terombang ambing dalam ketidakpastian.

“Sunny-yaa” Sungmin berteriak, berlari kesana kemari menyahuti nama Sunny namun tak ada jawaban.

“Sunny-ya, dengar Aku, Kau dimana?!

“Sunny –ah Aku merindukanmu, cepat keluar, tampakkankah dirimu !”

“Sunny-ah Saranghaeyo !”

Namja itu hampir saja putus asa jika saja sebongkah bola es tidak menghantam wajahnya saat itu.  Sungmin melemparkan pandangannya kearah sumber lemparan. Tepat dibelakang sebuah pohon tandus.

“Kenapa lama sekali ?!” Ucap  sang pelaku pelemparan. Ia tampak  mengerucutkan bibirnya  lucu. Sunny.

Sungmin tersenyum lega. Namja itu langsung berlari, berhambur memeluk erat yeoja dihadapannya. Terasa bergetar menggigil. Sungmin semakin mengeratkan dekapannya.

“Aww… Oppa kau mencekikku…” protes Sunny dengan nada tercekat.

Sungmin terkekeh kemudian menatap wajah teduh yeoja dihadapannya. Menatap mata bening Sunny. Masih seperti dulu, “Kukira kau tidak ingin bertemu denganku lagi !”

Sunny terkekeh,”Ini semua salahmu !”

“Eoh?” Sungmin mengerutkan kening.

“Kau tidak bertanggung jawab Oppa !” Sunny menarik nafas menatap salju yang turun dari langit, “Kau mengajarkanku cara mencintaimu tapi… Tapi kau pergi tanpa mengajarkanku cara melupakanmu.”

“Mian. Aku tidak tahu, ini ungkapan penyesalan yang keberapa. ” Sungmin berdesis pelan, “Mianhae karena tidak bisa mengajarkanmu bagaimana cara mencintai seseorang dengan  baik…”

Sunny terdiam. Matanya berkaca – kaca. Ia bahkan tidak tahu alasan dibalik tangisannya. Tapi sinar wajah namja dihadapannya membuat semua hal didunia ini jauh dari prakiraan logika.

“Lalu, Aku akan mengajarkanmu…” Sunny berkata tiba – tiba  membuat waktu seakan terhenti  di detik itu juga.

“Baiklah, Nona manis…”

Sungmin perlahan memajukan wajahnya.  Seiring dengan derai nafas yang berhembus tanpa arah. Aroma yang menyapu kulit wajah. Harum nafas itu kian terasa. Sunny berjinjit menggapai sesuatu diatas sana. Bibir mereka bertemu. Menyatu dalam kesadaran penuh.

“Saranghae.”

Tulus, Sebuah rasa yang menjalar dalam raganya kini. Setiap kata yang terukir adalah tentang dia, Lee Sunny.

Kepadamu Aku belajar tentang Cinta…

Cinta  kasih  tanpa ego dan kemunafikan…

Maka duduk manis dan  tetaplah disampingku…

Lalu,  sekali lagi ajarkan Aku …

Bagaimana  mengukir wujud ‘Cinta’ yang sesungguhnya…

**End**

Yeyeyeyeye  Yeyeyeyeyeye Yeeyeyyy

Gimana endingnya ? *krik krik garing*

Semoga FF ini sesuai dengan harapan kalian. Amiiiin *___*

Oke, tanpa perlu berlama – lama, Aku pamit dulu aja kali yah

Bye Bye ^_________^

SunSun Jjang !

17 thoughts on “[Oneshoot] FF SunSun – Tears Love and the Snow White

  1. lulu_paramita berkata:

    eonnie ini sweet ><
    Kesian kyu., trnyata sunny lbh milih minniee…
    Meski oppa minmin ternyata diam2 menghanyutkan -_-

  2. Nanda sonElf_Pumpkin berkata:

    daebakk~
    romantis banget SunSun couple. pokoknya gak bisa berkata-kata lagi deh *lebay😀. ternyata kyuhyun baik juga.
    akhirnya SunSun bersatu🙂
    banyakin SunSun lagi ya,soalnya udah jarang banget cast nya mereka

  3. cici berkata:

    daebakk…
    keren banget ceritanya,, sampe senyum-senyum sendiri bancanya..
    banyakin cerita tentang sunsun dong yah..
    please..!

  4. Eksa Derisa berkata:

    FF nya keren, daebak, kece deh.. soalnya SunSun😀 kapan” bikin SunSun lagi ya thor… yg chapter gituu hehehe😀

    /SunSun Shipper/

  5. riri riwa berkata:

    Daebakk eonni ternyata sungmin… Ehehe pantes kyu marah :-]
    tp gpp sihh yg penting sunsun bersatuuuu… Buat lg sunsun nee.. Udah jarang bgt updetan ff ttng mereka =]
    Author fighting !
    Suunsun jjang!

  6. cherrysone39 berkata:

    Omona, ini keren pakai banget! Sweet banget deh, seriusan. Cuma gmn tuh nasib kyu kalau dy ngerelain sunny sm sungmin? Huehehehe.. Kyu sama Taeyeon aja.. #jiwakyutaeyeoskumat..
    Aku baca ff yang lainnya, ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s