SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 5)

Image

Title : Rose for Love

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Poster : Widhi Thania (widhiadhisthania.wordpress.com)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Tiffany, Super Junior Yesung

Other Cast : SNSD Sunny, Jessica, Yuri, Taeyeon,  Super Junior Sungmin, Leeteuk

Annyong ^___^

Mian lanjutan FF ini agak lama, baru sempet nge post soalnya hehhehe..

Oke Lah kalo beggg beggg… :-p

~ Happy Reading ~

~~~~~~~~~~~~~~~~

Part 5

 “Kalau ada waktu temuilah aku dibukit belakang sekolah sore nanti.” Lanjutnya kembali.

Tiffany mengangguk,” Baiklah…” Ucapnya sebelum berbalik dan berjalan menghilang.

Part 5

“Jawab ! Bagaimana bisa Yesung bisa berduet mulus denganmu ? Bagimana bisa namja itu mengetahui nada suaramu ? Bahkan dengan mudah mengambil alih bagian Sungmin? huh?” Jessica berdiri didepan tembok sebuah kelas seraya melipat kedua tangannya didada.

Tiffany menunduk terdiam.

“Apa kalian sering latihan bersama ?” Jessica berucap penuh selidik.

“Ah itu… “

“Sudahlah… sudah… Kumohon jangan bicara !” Jessica menatap lekat kearah Tiffany, “Saat malam kecelakaan Sungmin Oppa, kau ada dimana?”

Jantung Tiffany seperti berhenti berdetak. Wajahnya mendadak gelagapan dengan air mata yang sulit tertumpah, “Jessica-ya, biarkan aku menjelaskan sesuatu !”

“Menjelaskan? Menjelaskan apa? Kau akan bilang jika kau  mendekati Yesung karena perintah Taeyeon Sosaengnim  dan pada akhirnya kau malah menyukai orang itu? Kau akan bilang jika kau memilih namja tidak jelas itu dan meyingkirkan Sungmin Oppa yang jelas – jelas telah mengenalmu lebih baik.”

“Mengenal lebih baik, hanya sebagai sahabat Sica – ya?”

“Lalu kutanyakan,” Jessica terdiam sejenak,  “Apakah ada yang murni  dengan ikatan persahabatan antara namja dan yeoja?”

“Mwo?”

“Sungmin Oppa,  kau bisa membuatnya mencintaimu…”

“Kau jangan bercanda?! Lalu bagimana dengan Sunny?”

“Sunny  ? Yeoja itu sudah meninggalkan Sungmin Oppa ! Jadi untuk apa dipertahankan? Sekarang Sungmin lebih membutuhkanmu, jadi sekarang kuharap kau bisa berada disampingnya !”

Tiffany menyeka air matanya yang lagi – lagi terjatuh. Ia masih mengharapkan Sungmin? Yeoja itu ingin sekali berada disamping Sungmin sekarang. Ingin sekali, tapi…

“Lupakan Yesung, dia itu bukanlah orang yang baik untukmu.”

“Apa?” Tiffany berdesisi pelan. Jessica belum mengenal Yesung, bagimana mungkin Ia bisa berkata seperti itu?

“Lupakan namja itu.” Ulang Jessica kembali. Tiffany masih terdiam mencerna ucapan temannya.

“Atau Kau ingin melihat Sungmin, sahabatmu sendiri menderita ?” Jessica mendesak membuat Tiffany sulit mengedipkan mata.

“Tapi…”

“Saat malam kecelakan Sungmin, dia ingin bertemu denganmu bukan? Tapi nyatanya kau kemana ? Bersama Yesung ?”

Tiffany gelagapan. Ia Ingin menyangkal sebisa mungkin… Tapi tatapan Jessica yang mengintimidasi, sulit membuatnya mengarang apa pun.  “Dari mana kau tahu ?” lirih Tiffany akhirnya.

“Dari Yuri.. Yuri saat ini berada dirumah sakit. Ia melihat kontak terkhir juga SMS Sungmin yang coba dikirimkan kepadamu namun tak mendapat  tanggapan sama sekali… Ummamu berkata bahwa malam itu kau pergi bersama seorang namja dan itu Yesung bukan?” Jessica menerka kemudian melanjutkan, “Malam itu mungkin Sungmin ingin berkata sesuatu padamu, tapi kau menolaknya. Dan kau bisa lihat ? Sungmin Oppa malah memimilih mabuk – mabukan dan…”

Berakhirlah sudah. Tiffany sulit berkutik. Jessica dan Yuri sudah mengetahui semuanya. Kecelakaan Sungmin dan keberadaan Yesung… Dan itu membuat Tiffany semakin terpojok.

“Mianhae…” Bibir Tiffany kelu. Hanya kata itu yang mampu terucap.

“Lupakan dia, kumohon ! Ini adalah satu – satunya cara untuk menebus kesalahanmu !”

“Sica-ya…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat.  Ditengah keheningan sore di bukit belakang sekolah, dirinya malah gelisah menunggu seseorang datang menyapa. Entah bagaimana, seluruh tubuhnya bergetar seperti mengigil. Perutnya terasa melilit seiring dengan angin yang berhembus sepoi. Baru pertama kalinya Yesung merasakan efek aneh. Terlalu gugup.

Tertampak kosong. Yesung memang tidak punya  apa – apa untuk diberikan pada orang itu. Tidak mempunyai coklat, kalung, cincin, gelang atau sesuatu yang berharga. Hanya satu. Setangkai bunga mawar  yang digenggamnya sekarang. Bunga kesayangan seorang Tiffany…

Yesung terus menatap penuh harap setangkai bunga mawar merah yang berada dalam genggamannya. Namja itu sangat berharap jika Tiffany akan datang, mendengar kabar bahwa mereka telah memenangkan kompetisi yang diadakan Taeyeon sosaengnim siang tadi,  juga… Mendengar sebuah kesungguhan yang akan terlontar dari lisannya sendiri.

“Yesung – ssi..” Seru seorang yeoja dari belakang. Suaranya yang sedikit sengau membuat Yesung mengerutkan kening. Ada apa dengannya ? Dengan Tiffany !

Yesung berbalik menyembunyikan setangkai mawar dibalik punggungnya. Namja itu lantas mengulum sebuah senyuman. Tiffany terlihat mendekat dengan wajah tertunduk. Beberapa kali yeoja itu menyematkan rambutnya yang tertiup angin.

“Sudah lama menunggu ?” Tiffany bertanya datar. Belum sempat namja dihadapannya menjawab, Tiffany bergegas menimpali, “Untuk selanjutnya jangan menungguku lagi.” Tiffany mendengak dengan tatapan tajam.

Yesung mengerutkan kening, “Aku yang menyuruhmu datang jadi…”

“Maksudku jangan menenmuiku lagi. Anggap jika kita tidak penah bertemu !” Tiffany kembali menimpali.

“Alasannya? Kau harus memberikan alasan yang jelas ? Apa ada yang salah?” Yesung terus mendesak.

“Kau bertanya apa ada yang salah ?” Tiffany terdiam sejenak, “Banyak ! Pertama, sejak mengenalmu jadwalku terganggu. Sejak mengenalmu, terlalu banyak kebohongan yang kubuat dan yang paling penting semenjak mengenalmu persahabatanku nyaris hancur, cukup?”

Yesung mematung masih mencerna ucapan Tiffany yang menurutnya sangat membingungkan.

“Jadi jangan menemuiku lagi. Ini terakhir kalinya kita bertemu ! Kumohon padamu, Yesung –ssi…”

Tiffany berbalik pergi tanpa melihat reaksi Yesung selanjutnya. Berlama – lama melihat wajah namja itu semakin membuatnya tak tega. Kesempatan yang tepat saat Tiffany berusaha menyingkirkan perasaan yang mengaggunya. Dan Yesung adalah penyebab utama, selain dirinya sendiri, tentu saja.

Terus melangkah dengan rasa terpaksa yang teramat sangat. Tiffany menyeka dengan kasar air mata yang sedari tadi tertahan. Ia tidak boleh selemah ini. Melupakan Yesung, maka penyesalan itu tidak akan datang, bukan? Penyesalan.

Tuhan.. kenapa hati kecil itu seakan berontak ? Tiffany menyukai Yesung. Bukan, kali ini bukan lagi sekedar perasaan suka. Tepat saat perasaan ingin memiliki membuncah dalam hantinya. Lebih dari itu, perasaan Cinta itu ternyata benar adanya. Tentang mitos mawar  pertama. Akankah menjadi kenyataan ? Tapi kenyataan itu nyaris menghilang sekarang. Dan seorang Tiffany adalah penyebab utamanya.

Begitulah yang terjadi. Tiffany berbalik hendak kembali menuju tempat dimana terakhir kali dirinya melihat Yesung. Dari semak kering, Tiffany mengedarkan pandangannya menuju ujung bukit. Tampak Yesung masih berdiri disana. Namja itu terpaku menatap setangkai mawar dalam genganggaman tangannya. Mawar ? Untuk siapa?

Tiffany mencintai Yesung, Lalu bagaimana dengan perasaannya pada Sungmin ?

Tiffany mengigit bibir bawah. Keraguan menyelimutinya ketika Ia hendak melangkah. Mendadak Tiffany tertegun. Langkahnya terhenti saat Yesung membuang setangkai bunga mawar dalam genggamannya. Namja itu menatap langit senja yang keruh. Sosoknya  kemudian berjalan cepat melewati tempat dimana Tiffany bersembunyi. Bahkan Yesung lengah akan kehadiran Tiffany yang saat itu hanya bersembunyi sejadi – jadinya dari balik semak.

‘Jika kamu mencintai sesesorang, maka kamu harus mengatakannya begitu saat – saat  itu tiba. Karena jika tidak, saat- saat berharga itu akan lenyap. Menghilang selamanya.   Menyisahkan dirimu, dan penyesalan.’

Benarkah ? Kata – kata Halmoninya berputar begitu saja.  Tiffany menunduk memegang dadanya yang menyesak. Manusia terbodoh yang bernafas didunia ini. Adalah dirinya sendiri…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dibawah cahaya bulan yang minim, Namja itu masih berkutat dengan angan – angannya yang mengalir bersama bongkahan air dipinggir sugai. Ia mengusap – usap telapak tangannya berharap mencari kehangatan lain ditengah malam yang  dipenuhi oleh nuansa dingin dan sunyi. Hanya terdengar suara desir air serta segerombol kunang – kunang yang berlalu lalang. Suara hewan – hewan kecil diluar sana pun  saling menimpali tanpa henti.

‘Jangan temui aku lagi ! Apa belum jelas apa yang kukatakan sore tadi?’

Dibacanya pesan yang sudah sejam lalu dikirmkan oleh seseorang. Yesung sadar jika Tiffany merasa terganggu.  Jelas tapi itu hanya sekedar alasan pasti yang samar. Mungkin karena Sungmin. Sungmin, kenapa dirinya menjadi kesal saat mendengar nama itu ?

‘Temui aku sebagai patner duet. Ada sesuatu yang penting ingin kukatakan ! Aku akan menunggumu dipinggir sungai’

Tidak ada balasan lagi. Kini Sudah dua jam lebih tapi itu bukan masalah. Menunggu dibawah purnama. Yesung menatap benda bulat bersinar diatas kepalanya. Tampak sekali jika permukaan benda itu tidak rata. Ia tersenyum sendiri jika mengingat Tiffany sangat mengagumi benda langit itu.

“Kenapa masih disini, huh?” Seru seseorang dengan nafas tersenggal.

Yesung praktis menoleh kearah pemilik suara dibelakangngnya. Namja itu mengerutkan kening saat dilihatnya Tiffany dengan rambut acak – acakan juga wajah  yang bersimbah keringat sedang mengatur nafasnya yang berkejaran.

Tiffany duduk menyejajarkan posisinya. Ia menatap Yesung sekilas namun segera dialihkannya saat namja itu membalas tatapannya.

“Ada perlu apa?” Tanya Tiffany dingin seraya menerawang kedalam aliran sungai yang deras, seolah hal itu merupakan tontonan yang lebih menarik ketimbang harus melihat wajah namja disampingnya.

“Beberapa saat yang lalu, Taeyeon sosaengnim menelponku…”

“Untuk?” tanya Tiffany penasaran.

“Membicarakan hadiah kompetisi. Tentang beasiswa ke sekolah Kirin.” Yesung menunduk, “Kau ingat, yang bersama Taeyeon Sosaengnim saat acara kompetisi, dia adalah BoA sosaengnim guru sekolah kirin, dia adalah orang yang memberikan hadiah pada pemenang. Awalnya BoA sosaengnim bingung antara ingin merekrutmu atau aku…  tapi dia,…memilih aku…”

Tiffany diam saja. Ia  bingung harus Berkata apa. Entah, merasa seperti nyaris kehilangan sesuatu.

“Dan.. Kau menerimanya ?” Tiffany menatap penuh harap.  Tidak ! Apa memamangnya yang Ia harapkan?

“Tidak…” jawab Yesung Singkat.

“Wae?”

“Entahlah… hanya tidak ingin !”

Miris. Tiffany menggoreskan garis datar dibibirnya, “Aku tahu kau sangat menginginkannya. Masuk kesekolah Kirin adalah impian bagi setiap orang yang memiliki bakat menyanyi termasuk dirimu,  bukan? Aku juga mengiginkannya, jadi jangan coba – coba berbohong !”

“Kau bilang jika dirimu menginginkannya ?” Yesung berkata dengan setengah berteriak.

“Memang ! Tapi bukan berarti aku harus menghalangi langkahmu…”

“Tiffany—-”

“Aku baik – baik saja ! Tak usah repot- repot menghawatirkanku. Tanpamu, aku masih bisa bertahan ! Jadi kuperingatkan, jangan lagi menemuiku. Karena aku bukan siapa – siapamu.” Timpal Tiffany mengakhiri seuntas percakapan sengit diantara mereka. Yeoja itu kemudian bangkit dari posisinya. Yesung menoleh dan ikut bangkit.

“Kumohon pergilah dari hadapanku ! Jangan membuatku merasa bersalah. Jangan membuatku merasa  seolah ingin menahanmu lebih lama. Sebelum nalar ini menuntunku untuk berkata ‘ jangan pergi’ kumohon pergilah sekarang juga !”

Untuk kesekian kali, Tiffany harus terisak dihadapan Yesung. Oh Tuhan ! Mengapa Kau izinkan air mata ini meluncur saat dihadapannya?

“Aku tidak ingin menjadi penghalangmu, ambillah beasiswa itu. Bukankah sebelum ini aku juga sudah berencana untuk  melupakanmu? Huh? Kau lupa ? Tidak peduli ? Atau pura – puara lupa?” Tiffany menyerukan sederet kalimat, yang jujur membuat dadanya kian menyesak.

Hening… Tak ada suara – suara yang terdengar setelahnya. Yesung menatap sendu wajah Tiffany. Ia  sudah mendengar dengan sangat baik setiap ichi dari sederet kalimat yang dilontarkan Tiffany barusan.

“Tak bisakah kau bercermin dan melihat sinar dimatamu ?” Yesung bertanya tiba – tiba.

Tiffany mendelik lemah.

Kedua tangan Yesung tanpa komando menghapus air mata yang membasahi pipi merah yeoja dihadapannya. Tampak yeoja itu mesih terdiam, tersiksa dalam isakannya sendiri .

“Dirimu sama sekali bukan penghalang.”

Tiffany mematung saat merasakan gesekan lembut pada kedua pipnya. Tiffany ingin berontak, tapi hatinya terlalu tenang, lemah untuk bergerak. Seperti layaknya mendapatkan perlindungan penuh.  Ini salah !

“Aku selalu takut. Takut jika kau harus menangis karena Sungmin… Sungmin membuatmu menagis dan aku, marah !” Yesung menjeda ucapannya, mengangakat wajah Tiffany agar menatap kearahnya, “Sekarang kau kembali menangis. Menangis karena aku dan itu berarti Aku  sangat harus membenci diriku sendiri.” Yesung berucap pelan membuat Tiffany tertegun.

Siapa pun, katakan ! Bagimana mungkin Tiffany bisa melupakan semua, jika namja itu terus menatapnya seperti sekarang ini?

“Aku akan  pergi tapi kumohon jangan menangis lagi. Aku benar – benar bosan melihat pipimu yang basah,,,”Yesung tersenyum datar, “Sesuai keinginanmu, aku tidak akan lagi menganggumu… Tidak akan lagi mencoba muncul dihadapanmu,…” ucapnya terdiam memikirkan kalimat selantutnya.

Tiffany masih menatap serius tanpa berkedip sama sekali. Sesuai harapan, Yesung akhirnya memenuhi permintaan bodoh  itu…

“… Selamat tinggal…”

Selangkah demi selangkah Yesung mundur kebelakang, meninggalkan Tiffany yang masih mematung. Perlahan siluet namja itu kian mengecil. Berubah menjadi bayangan semu yang sulit digapai…

“Selamat tinggal?” Tiffany berdesis. Ia menjatuhkan tubuh lemasnya diatas rerumputan hijau.  Angin yang menusuk seakan menciutkan hatinya. Air mata itu terjatuh lagi. Kemudian tak ada lagi yang menghapusnya sekarang. Dia telah pergi…

Dan diakhir cerita, Yesung akhirnya memilih untuk memenuhi keinginan palsu Tiffany…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mata yang terasa perih. Seperih raganya kini. Tiffany berjalan agak sempoyongan melewati koridor jalan menuju kelasnya. Mungkin angin malam yang menyambarnya saat di sungai itulah penyebabnya. Sekarang semua terasa aneh, mengawali hari – harinya seperti semula. Tepatnya sebelum dirinya  bertemu dengan Yesung, telah menjadi momok yang meragukan. Menata kehidupan yang lebih menyenangkan.

“Beruntung sekali yah dia. Mendapatkan beasiswa di sekolah music kirin yang terkenal itu.”

“Menurutku biasa saja malah ! Yang kudengar Seleksi disekolah itu saja sangat menyeramkan, lalu bagiamana Proses belajarnya?”

“Tapi sekolah itu memiliki prestise yang bagus !”

Tiffany  tahu persis apa yang sedang dibahas oleh ketiga siswi yang bersandar didepan tembok kelas. Cerita yang berhubungan dengan perkataan Yesung semalam. Namja itu pasti sudah mengambil keputusan. Dia memang pantas mendapatkannya.

Terus menunduk Tiffany berjalan malas dengan tatapan sendu. Hingga sesuatu memutuskan tatapan kelam itu saat dia, Yesung berjalan  berpapasan langsung dengan tubuhnya. Tiffany terdiam seketika. Ia buru – buru menyingkir, memberi hormat pada para Sunbae. Yesung lewat begitu saja dengan wajah dingin menggetarkan. Tak ada lagi kata – kata yang lebih pantas untuk menyapa Tiffany dibandingkan, diam. Tak ada lagi uluran tangan yang coba menopang saat dirinya membutuhkan sandaran. Yesung seakan benar – benar menghapus  segala memory dalam otaknya tentang Tiffany. Sempurna, Sesuai keinginan…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sungguh, Yesung tidak akan mungkin menjalankan hal terkonyol yang pernah Ia lakukan seperti sekarang ini. Terkecuali karena Tiffany. Mengikutinya siang ini menuju suatu tempat. Ia tahu persis kemana Tiffany akan menuju. Ketempat… Sungmin.

Namja itu sungguh merasa bersalah dengan dirinya sendiri. Sedikit demi sedikit dicobanya untuk menyamarkan sosok Tiffany dalam benaknya. Cukup berhasil namun hanya sementara. Yesung sudah menahan diri untuk tidak menegur yeoja itu pagi tadi. Entah mengapa rasa bersalah seakan menghujam dadanya. Terlebih saat menatap wajah teduh Tiffany. Sangat sakit.

Barusan, menjelang siang tadi, Taeyeon Seosaengnim memberi kabar bahwa Yesung harus belajar di sekolah Kirin mulai besok. Mendadak karena sekolah yang terkenal disiplin itu sangat enggan menunda – nunda. Taeyeon sosaengnim sendiri yang akan mengurus surat pepindahan siswa. Pertengahan semester kian dekat dan semua pihak tidak ingin jika siswa penerima beasisiwa lebih tertinggal jauh di sekolah barunya,

Ini agaknya sudah melanggar janji yang telah Ia ucapkan. Namun Yesung ingin berbicara  sebuah hal yang terlupakan.  Sebelum dirinya beranjak pergi. Bagaimana pun kata ‘selamat tinggal’ belum sepenuhnya meresmikan semua. Ada banyak  hal yang ingin diucapkan namja itu pada Tiffany.  Sebelum semuanya benar- benar berakhir.

Rumah sakit? Yesung tersenyum miris. Ia sudah bisa menduganya dari awal. Tertampak Tiffany menuju sebuah ruangan. Yesung hanya bisa memberhentikan langkahnya saat Tiffany menghilang dibaik pintu ruang rawat.

Sesuai rencana, Yesung ingin menunggu Tiffany keluar ruangan. Barulah setelah itu menampakkan diri. Namun sial, rasa penasaran terlalu menggelayut dalam pikirannya. Yesung  mendekat melihat dari kaca jendela ruangan.

Tiffany tersenyum… Berbicara dengan raut seolah sedang membicarakan topic paling menarik yang pernah ada.

Karena Sungmin ?

Yesung mengigit bibir bawah, Rahangnya mengeras. Oh… bukan salah Yesung jika Ia sendiri merasakan, semacam perasaan… Tidak suka… benci atau perasaan yang  lebih dalam dari itu.

“Sedang apa disini ?” tanya suara mengagetkan.

Yesung tersentak gelagapan, “Ah Yu…ri-ssi…”

“Sedang apa?” ucap yeoja yang bernama Yuri. Ia kemudian berpikir menyipitkan mata, “Jangan dilihat kalau tidak suka !”

“Eoh?”

“Kurasa Tiffany sudah memilih Sungmin, apa itu belum jelas?”

Tatapan Yesung menerawang kearah jendela yang menembus ruangan didalam sana. Jelas dan sangat jelas. Terlihat dari luar, senyum yeoja itu belum juga luntur. Tiffany memilih Sungmin. Dan itu berarti Semua kesempatan telah tertutup.

“Aku tahu.”

Yuri memiringkan kepelanya, “Kau tahu ? lalu kenapa  masih mengejarnya ?

”Aku ingin berbicara sesuatu. Ah ! tapi itu bukanlah hal terpenting sekarang.” Ucap Yesung mengambil sesuatu dari dalam saku seragamnya, “Aku sudah bisa memperkirakan ini…”

“Apa itu?” selidik Yuri menatap amplop berwarna biru muda yang digenggam namja itu.

Yesung mengulurkan tangan, “Jika kau berkenan, tolong berikan ini pada Tiffany…”

Yuri mengangkat alis menatap sepucuk surat dihadapannya, “Baiklah….” Ia berujar mengambil surat itu,

“Kalau begitu aku pergi, Gomawo…” pamit Yesung kemudian melangkah menjauh menelusuri lorong dengan kehampaan hati yang mendera. Sejenak ada  secuil kelegaan yang menelusup kedalam hatinya. Meskipun Didetik itu juga perasaan mengganjal terasa  menahannya. Menjauh dari Tiffany adalah pilihan yang terbaik… setidaknya untuk sekarang, dan seterusnya… Mungkin.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Tiffany menatap namja yang tengah terbaring dihadapannya. Namja  yang tubuhnya dibalut oleh perban yang melilit panjang disekeliling kepala serta lututnya. Ada perasaan iba. Tiffany tidak menyangka tentang apa yang dipikirkan  Sungmin saat mengendarai motornya hingga kecelakaan itu tejadi.

“Wae ingin bertanya kenapa aku bisa begini?” pungkas Sungmin  seolah dugaannya tepat. Tiffany tersontak. Yeoja itu tersenyum kemudian mengangguk.

Sungmin terdiam memikirkan sesuatu, “Kau sudah mendengar kabar tentang Sunny, bukan ? Ia berciuman dengan mantannya persis didepan mataku. Memutuskan hubungan kami begitu saja.” Ucapnya dengan raut penuh duka.

Tiffany mengangguk kemudian menundukkan wajah. Didetik ketiga, Yeoja itu mendengak kembali, tersenyum memberikan dukungannya, “Sudahlah, masa lalu, biarkan saja berlalu…”

“Bukan… Maksudku bukan itu…”

“Eoh ?”Kening Tiffany mengerut bingung.

“Saat kecelakaan itu aku memutuskan melupakan Sunny ! tapi entah mengapa wajahmu terbayang… Fany-ah aku terus memikirkanmu dan…”

“Kau memikirkanku?” Tiffany bergumam merasa bersalah. Ia ingat pada malam itu dirinya menolak telepon dari Sungmin yang jelas – jelas ingin bertemu.

Sungmin menatap mata sendu Tiffany, “Aku menyesal… “ Sungmin menjeda ucapannya. Mendadak suasana hening hingga namja itu menghela nafas panjang, “Kau menyukaiku ?”

Tiffany tersentak kaget. Ia pun tertawa seakan ucapan  Sungmin barusan  lebih kepada sederet  kalimat konyol yang pernah didengarnya, “Menyukaimu? Kupikir kau tidak akan pernah menyadarinya !”

“Mianhae… kupikir pilihanku salah… Aku menyesal lebih memilih Sunny…”

Terdiam kaku. Hanya itu, “La.. lalu?”

“Saranghae…”

Deg… Tiffany mematung. Pikirannya masih mencerna ucapan Sungmin beberapa detik yang lalu. Harusnya Tiffany senang. Yah, harusnya seperti itu.

“Kenapa diam saja ? Tidak ingin menanggapinya ?”

“Apa? Aku…” Tiffany tergagap. Bagiamana ini? Ya Tuhan.

..…………TBC……………

Tbc dulu aja yaaa

Lanjutannya kapan – kapan #plakk

Bye byee ^___^

20 thoughts on “SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 5)

  1. RyeosomniaFanytastic berkata:

    Tbc mulu sih thor. Penasaran tingkat dewa nih hehhe..
    Daebak thor
    lanjutinnya cepetan ya

  2. Aulia berkata:

    Ish fany pabo,udh jlz” suka yesung npa msh mksa brsma sungmin yg udh nyia”in dy.yulsic g jd pmaksa bkin fany mkin trdesak.lnjt” dtggu next part crt-a.

  3. shflydina berkata:

    haissss… ksian tiffany rela nnggalin yesung demi shabatnya ma sungmin.. ckckck

    tpi seru ma klanjutannya thor.. ditrima atw gak y si sungmin?? mdahan enggak deh.. hehehe

    d tunggu klanjutannya thor.. jngan lma” y…

  4. lulu_paramita berkata:

    itu kenapa terakhrnya nanggung bngt eonnie?
    Tiffany yesung kesian. Hubungn mrk direcokin mulu huhu. Tiffany mohon, jujurlah pd sahabt2 mu itu.
    Next kutunggu ^~^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s