SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 4)

Image

Title : Rose for Love

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Poster : Widhi Thania (widhiadhisthania.wordpress.com)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Tiffany, Super Junior Yesung

Other Cast : SNSD Sunny, Jessica, Yuri, Taeyeon,  Super Junior Sungmin, Leeteuk

Annyong…

Mian kalo lanjutan FF ini agak lama heheh, soalnya baru bisa nge-post sih ^_____^

Oke deh tanpa banyak ba-bi-bu langsung aja yah….

Happy Reading ^______^

Part 4

Tuttt… Tiffany mematikan sambungan teleponnya sepihak. Yeoja itu lantas menekan tombol atas pada handphonnya keras-keras. Nonaktif. Sungmin tak akan bisa menghubunginya. Yah, Ya ampun, kenapa dirinya jadi linglung begini?

“Fany-ya, temanmu ada diluar.” Sahut suara dari lantai bawah.

Tiffany  menggingit bibir bawah. Otaknya mulai mencerna tentang kejadian yang baru saja  terjadi. Sangat benar ! Pilihannya tepat.  Memenuhi janji yang dibuatnya sendiri, “Ne Umma !”

Sekali lagi Tiffany menatap wajahnya dicermin. Beberapa detik hingga yeoja itu lebih memilih untuk menggerai rambutnya saja. Ia lantas buru – buru menyambar sweater coklat tua yang tergeletak diatas meja belajanya.

Usai melangkah menuruni tangga melingkar.  Tiffany berjalan menuju ruang tamu.  Yeoja itu kemudian tersenyum pada kedua orang yang tengah menatapnya. Ummanya, dan seorang namja berjaket biru tua dengan celana jeans hitam.  Rambut berponinya tampak sedikit menutupi matanya yang tajam.

“Annyong, Yesung –ssi…” sapa Tiffany pada namja  itu. Yesung balas menyapa.

“Latihan menyanyi-nya jangan terlalu larut yah ! Kalau sudah mendapat inspirasi, cepat cepat pulang. Umma tidak mau kau terlambat ke sekolah besok !” Pesan umma Hwang pada anaknya.

Tiffany mengangkat alis. Latihan menyanyi? Inspirasi?

“Tiffany-ssi aku membawa gitar ini untuk kita latihan !”  Ucap Yesung memperlihatkan sebuah benda silicon hitam yang berbentuk gitar. Namja itu tersenyum seolah mengsyaratkan agar Tiffany membenarkan ucapannya.

“Ah ne, baguslah !” seru Tiffany akhirnya.

“Kalau begitu kami pergi dulu Ahjumma.” Yesung menunduk pada yeoja paruh baya dihadapannya.

“Nde, nde… Jaga baik – baik Tiffany. Kalau anak itu nakal, kau jewer saja dia !”  tanggap  yeoja paruh baya itu.

Menjewer Tiffany ? Baiklah dengan senang hati. Yesung tertawa memperlihatkan smirk-nya seolah berkata ‘jangan macam-macam’. Tiffany memasang raut sebal. Namja itu seperti  merasa berkuasa sekarang !

………………

Lampu jalan berderang disepanjang trotoar. Sedikit cahaya Jalan ditengah malam yang gelap dengan tiga atau empat mobil yang berlalu lalang. Sesekali jalan itu sepi. Meninggalkan suara tekanan angin yang agak mencengkram.

Yesung berjalan seraya menatap Jari – jari jenjang Tiffany terus saja bergerak meraba- raba angin diantara udara dingin yang menusuk. Yeoja itu tersenyum penuh kekaguman, “Meskipun bintang – bintang tak bisa terlihat dari Seoul malam ini,  Aku sangatlah  bisa merasakan keberadaan mereka.” Ucapnya menerawang menghadap langit – langit angkasa.

“Menurutmu itu ‘menarik’ ? Sangat sangat ‘menarik’?” Yesung bertanya dengan nada penuh penekanan  yang terdengar meledek ditelinga yeoja yang ikut berjalan disampingnya. Yeoja itu langsung menatap malas, “Yeah, Setidaknya  mereka masih lebih menarik darimu !”

“Sesuatu yang semu lebih menarik perhatianmu ? Dibanding yang nyata ?” Yesung mengangkat alis kemudian melajutkan, “Mungkin begitulah dirimu.”

Tiffany mengerutkan kening bingung.  Namja itu bicara apa? Dari nada bicaranya, Ia terdengar sok tahu sekali, “Jadi, menurtmu aku ini bagaimana?”

“Eoh?” sontak Yesung pelan. Tidakkah Ia sadar ? jika dia adalah seseorang yang…”Kau itu…”

Tatapan Tiffany berubah ingin tahu.  Yesung masih berpikir cukup lama. Namja itu malah menggantung ucapannya. Tak ada jawaban, Tiffany beralih  menghela nafas pelan.

Tring… Ring tone suara handphone menggema memecahkan suasana. Yesung buru- buru merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil bersuara nyaring. Namja itu lantas memandang heran kearah handphone dan Tiffany bergantian. Membuat Tiffany sontak menautkan alis.

“Yoboseyo… Nde Ahjumma… Tiffany… Dia ada disampingku… Ohh” ucap Yesung ditelepon kemudian menatap Tiffany bingung, “Umma-mu ingin bicara. Ponselmu tidak aktif ya?”

Tiffany tertegun. Ia memang sengaja menonaktifkan ponselnya. Takut jika Sungmin menelpon dan itu berarti Tiffany harus membatalkan sebuah janji  dengan Yesung. Ia paham jika hatinya begitu sulit menolak Permintaan Sungmin. Tapi kali ini  entah bagaiamana, Tiffany benar -benar enggan membuat Yesung kecewa.

“Yoboseyo Umma… Iya ponselku lowbat… mwooo?” Tiffany  membulatkan mata. Ia cepat – cepat merunduk  membuang muka seraya berbisik ditelepon, “Yuri? Lalu apa yang Umma katakan ?…. Umma tidak menyebutkan nama ‘Yesung’ kan?… Oh… syukurlah… Kalau dia menelpon lagi bilang saja aku sedang sibuk latihan… please… bye…”

“Wae? Umma-mu menyuruh kita pulang ?” Tanya Yesung saat Tiffany mematikan ponselnya.

“Aniyo… Bukan sesuatu  yang penting !”

“Ada yang kau sembunyikan ?” tebaknya dengan mata disipitkan.

“Ah—Aniyoo.” Tiffany membantah cepat. Ya Tuhan… Namja itu kenapa jadi seperti ini sih?

Yesung berpikir memperhatikan gerak – gerik yeoja yang tampak gelisah. Merasa sedikit canggung dengan sikap Tiffany, Yesung  akhirnya  mengangguk, “Oh…”

“Lihat itu !” Seru Tiffany meramaikan suasana. Ia menelunjuk sebuah bulan sabit yang menggantung diangkasa. Yeoja itu tersenyum seraya menatap antusias kearah langit gelap.  Apa istimewanya benda itu?

“Ayo cepat ! Sebentar lagi sesuatu yang indah akan muncul !” serunya sekali lagi dengan ritme yang semakin menggebu.

“Sesuatu yang indah ?” Yesung mengernyit heran. Namja itu bahkan tidak merasakan apa –apa sejak tadi. Termasuk tanda – tanda  Indah yang dieluh – eluhkan Tiffany.

Tiffany menarik tangan Yesung secara mendadak. Namja itu semakin bingung saat Tiffany malah mengajaknya berlari menuju suatu tempat. Ia tentu kenal tempat apa yang coba ditunjukkan Tiffany. Tempat dimana bumi membelah dengan sempurna. Dimana desingan air dan udara tergabung menjadi satu. Dan percikan – percikan yang amat menusuk kulit menimpali tanpa henti.

“Kita sampai…” Tiffany memasang wajah antusias, sangat berharap bahwa Yesung juga akan bersikap sama antusiasnya. Sedikit meleset dari harapan, namja itu malah menatap heran, “Untuk apa kita ke sungai Han malam – malam begini ?”

Tiffany menghela nafas penuh kesabaran, “Untuk berenang.”

“Eoh?”

“Ya tentu saja untuk menikmati pemandangan. Mendengar suara desir air dan memandangi purnama yang bersinar bulat ! Aku sering menghabiskan waktuku disini.” Tiffany kembali menatap langit. Yeoja itu tersenyum penuh kekaguman, “Wahhh bulan purnama sudah muncul !”

Pandangan Yesung turut pada focus pandang yeoja disampingnya. Bulan purnama yang memancar dari bulatan sempurna. Pemandangan yang biasa – biasa saja terkecuali saat ini. Sangat istimewa saat sinar sang rembuan menerangi insan yang memiliki pancaran  jauh lebih terang dibandingkan dengan cahaya apa pun didunia ini. Dan sekarang cahaya itu ada disampingnya. Tengah menatap benda – benda mengangumkan diangkasa.

“Aku mempunyai sebuah lagu saat melihat purnama…” Tiffany tersenyum.

“Berarti kau harus menyanyikannya untukku.”

“Suaraku payah.”

Yesung mengangkat alis mendengar pernyataan Tiffany, “Oh ya ? Itu adalah kebohongan terkonyol yang pernah kudengar…”

Tiffany terkekeh. Dalam hati Ia sangat membenarkan pernyataannya. Itu sama sekali bukan hal yang konyol. Suaranya mendadak menciut  saat debaran jantung itu kian terasa, “Baiklah..” Tiffany menarik nafas dalam. Sebisa mungkin memaksa pita suaranya untuk bekerja…

‘And than a hero comes along… with the strength to carry on…And you cast you fear aside… and you now you can survive… So when you feel like hope is gone… look inside you and be strong…

………………

‘And than a hero comes along… with the strength to carry on…And you cast you fear aside… and you now you can survive… So when you feel like hope is gone… look inside you and be strong’

Brukkk’

Suara kedebug keras membentur trotoar jalan. Benda berat berbahan besi terlempar entah kemana. Benda itu menghilang meningganlkan serpihan – serpihan beling yang menusuk. Bau amis menyeruak seiring dengan cairan merah yang mengalir memenuhi aspal jalan.

Ia tahu jika orang itu mencintainya. Miris. Terlalu bimbang dengan segala hal hingga menciutkan sikap tegasnya… Dan Ia benar – bebar menyadari jika keputusan yang diambilnya selama ini salah. Meninggalkan seseorang yang selalu ada untuknya, dan memilih orang salah. Memilih Orang yang dengan sesuka hati lenyap tanpa bekas…

“Tiffany-ah… Mianhae… jeongmal mianhae…” lirihnya sebelum semua gelap. Sebelum mata itu tertutup.

……………….

And you’ll finally see the truth… That the hero lies in You…  ‘

Suara indah itu akhirnya berganti dengan nada – nada sunyi keheningan malam. Tiffany tersenyum penuh harap. Ia menatap Yesung yang hanya menunduk. Seperti tengah merenungkan sesuatu. Apa lagu tadi terdengar buruk?  Menyadari seseorang tengah memperhatikan, namja itu balas menatap, “Wae?” tanyanya.

Tiffany menggeleng, “Tidak apa – apa.” ucapnya terdiam menggigit bibir bawah, “Kau diam saja?”

“Memangnya aku harus berkata apa ?”

“Yaa katakan Apa saja.”

“Apa saja?” Yesung mengerutkan kening.

“Iya, apa saja…”

“Misalnya ?” balas namja itu terdengar bergumam. Sorot matanya menyiratkan sesuatu. Damai dan terselubung…

“Mi-Misalnya seperti…” Tiffany berpikir lama seraya memandangi wajah tegas penuh tanda tanya dari namja disampingnya. Tatapan Yesung begitu lurus dan focus, membuat Tiffany sulit berkutik. Tuhan ! Ia seperti harus menjawab sebuah pertanyaan membingungkan dalam acara cerdas cermat.

“Se-se-perti… seperti… !”

Terlalu kaku untuk berucap. Tiffany berusaha mengisi paru – parunya dengan udara, setidaknya untuk mengucapkan sepatah kata. Namun segalanya tertahan.  Suasana terasa panas, ditambah saat melihat matanya yang… begitu menenggelamkan dunia. . Seperti ada yang salah, wajah dihadapannya perlahan kian mendekat, mempersempit jarak. Menghentikan waktu hingga sukses menghambat perputaraan dunia.

Tiffany memejamkan mata pelan. Merasakan ada segelintir kehangatan yang menjalar disekujur tubuhnya. Terhirup wangi khas yang menawarkan perlindungan. Tiffany bahkan  kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, yeoja itu merasakan sebuah sensasi berbeda diantara segala hal yang terjadi disepanjang kehidupannya. First kiss.

Ini benar – benar konyol. Sebegitu mudahnya- kah hati Tiffany berubah haluan ?  Melupakan Sungmin, namja pertama yang berlabuh dihatinya. Merombak skenario yang ada hanya karena sosok namja tidak jelas seperti, Yesung ?

……………

Suasana ruang gedung kesenian tampak ramai. Gedung tersebut telah dipadati oleh puluhan siswa anggota The Voice SM yang ingin mengikuti kompetisi menyanyi yang diselenggarakan oleh Taeyeon Sosaengnim. Kompetisi yang membuat penasaran karena kejutan yang akan diadaptkan sang pemenang.

Saat beberapa pasang siswa sibuk dengan latihan mereka, seorang yeoja disudut ruangan tampak gelisah. Ia melirik jam tangan merah mudanya seraya menatap putus asa. Berkali – kali alat komunikasi bertengger ditelinganya, namun lagi – lagi nihil. Wajah putus asa itu kian nampak.

“Kalau begini lebih baik tidak usah !” ucapnya kesal sendiri.

“Tiffany-ah, Kau ingin mundur disaat – saat seperti ini? Bagaimana jika Taeyeon Sosaengnim mencarimu ?” yeoja berambut pirang dihadapannya berkata dengan nada tidak terima.

Tiffany menghela nafas, “Lihat jam berapa ini Sica-ah? Kompetisinya setengah jam lagi dan Sungmin Oppa belum datang juga ?”

“Tidak… tidak… aku yakin Sungmin Oppa pasti datang. Bukankah semalam Sungmin Oppa latihan denganmu, Fany-ah ?” Timpal Jessica.

Tiffany menggigit kuku jemarinya yang mengigil. Yeoja itu merunduk gelagapan. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Ia sungguh khawatir dengan keadaan Sungmin. Mengingat  semalam, suara namja itu terdengar parau ditelepon. Oh my God, Tiffany tidak akan memaafkan dirinya sendiri  jika memang sesuatu yang buruk terjadi pada Sungmin…

“Sungmin oppa kecelakaan..” Seru seorang siswi diantara kerumunan  orang – orang berseragam sekolah.

`~Degg~

“Apa? Sungmin Oppa kecelakaan? Bagaimana bisa?”

“Iya, itu baru saja terjadi semalam…”

Antara percaya dan tidak, Tiffany  menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Ia bergeleng pelan dengan cairan bening yang berkilauaan didalam matanya. Tubuh Tiffany bergetar terasa lemas. Tidak… Sungmin pasti baik – baik saja. Sesuatu yang buruk tidak boleh terjadi !

Dengan wajah harap – harap cemas, Jessica melangkah mendekati segerombol orang yang tengah membicarakan tentang kecelakaan Sungmin. Teman dekat Tiffany itu tampak pucat saat mendengar penuturan salah satu siswi.

Tiffany menutup telingatanya rapat saat Jessica kembali berjalan menuju kearahnya. Suram, hanya ekspresi itu yang tergambar. Tiffany sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh temannya. Sebuah bencana, yang mungkin terjadi karena… dirinya. Andai saja semalam Tiffany menyanggupi permintaaan Sungmin Oppa…. Andai saja…

“Fany –ah” Jessica berbicara menahan isakan. Sungguh ! Tiffany benar – benar ingin jika Tuhan menulikan pendengarannya sekarang juga !

“Fany-ah, sungmin oppa memang kecelakaan semalam ! Dan dan.. ternyata dia mengendarai motornya dalam keadaan mabuk… dan… akhirnya…” Jessica menggantung ucapannya. Mata temannya itu memarah mengeluarkan tetes demi tetes air mata kesedihan. Tiffany lebih dari itu. Ia ingin sekali berteriak sekencang – kencangnya. Meruntuki dirinya sendiri tentang sikapnya semalam…

Jelas sudah, Ia adalah biang keladi dari kecelakaan Sungmin. Lebih baik  dirinya yang bodoh ini lenyap saja dari hadapan semua orang…

“Tiffany-ah…” Seruan  Jessica  terdengar lemah,  mendapatkan respon nihil.  Tiffany  terus beranjak pergi  dan berlari entah kemana.

Terus melangkah tanpa memikirkan anggapan orang tentang keanehan sikapnya yang sesanggukan sendiri. Tiffany layaknya seorang anak hilang yang berkeliaran mencari Ibunya. Mungkin lebih dari itu. Karena sekarang Ia merasa seperti telah kehilangan dirinya sendiri…

Langkah Tiffany tertahan mendadak. Jelas ada yang menggenggam tangannya dari arah belakang. Bukan Jessica tapi…

“Yesung-ssi…” gumam Tiffany lirih. Yeoja itu menunduk lemah. Air matanya yang sedari tadi tertahan, tertumpah begitu saja. Tiffany menyeka dengan kasar. Namun tetap saja butiran bening itu menimpali tanpa henti.

Ia kelihatan terpukul. Yesung mendekap tubuh lemah yeoja dihadapannya. Sangat bergetar ketakutan. Namja itu mempererat dekapannya saat tangisan Tiffany kian menjadi. Bahkan menggema disepanjang lorong koridor belakang sekolah yang sepi.

Sejak tadi didepan gedung kesenian, namja itu tahu jika keanehan melanda Tiffany. Terlihat gelisah, beberapa saat pucat dan terpelanting mendengar kabar buruk… kabar tentang Sungmin rupanya terlalu menggemparkan hatinya. Yesung sadar jika sosok Sungmin hingga saat ini masih terbekap erat dalam ruang hati yeoja itu.

“Ini semua karenaku…” Isak Tiffany.

“Semua akan baik – baik saja… Sungmin akan kembali…”

………………..

Seraya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, Jessica berjalan kearah bangku peserta kompetisi. Yeoja itu menegang saat sebuah suara memanggilnya.

“Jessica-ssi mana Tiffany ? Kenapa aku tidak melihatnya? Tolong cari dia, suruh anak itu kesini. Aku sudah menyuruhnya untuk bernyanyi dihadapan BoA sosaengnim… “ Taeyeon Sosaengnim  terlihat panik.

“ Aishh Dia itu kan  vocalist utama paduan suara… kenapa harus menghilang disaat – saat seperti ini?” kesalnya mendengak mengamati satu – persatu siswa yang berlalu lalang dalam gedung kesenian. Taeyeon sosaengnim lantas menatap  siswi dihadapannya, “Jessica –ssi, Cepat cari dia !”

“Nde Sosaengnim.”

Jessica berjalan bergelantungan ditengah hatinya yang menggundah. Berkali kali yeoja itu menyeka peluh dipelipisnya. Pandanganya menatap kosong. Ia membiarkan kakinya berjalan tanpa arah. Berbelok dari satu koridor ke koridor lain. Pikiran yeoja itu terlalu  gamang untuk mengira – ngira  tentang keberadaan Tiffany. Kenyataan yang baru saja didengarnya tentang kecelakaan Sungmin, sahabatnya membuat semua hal didunia ini menjadi buram…

Ini salah, dan seharusnya begitu ! Jessica mengucek matanyanya lekat –lekat. Pemandangan yang menggemparkan. Tiffany sedang apa dia disana ? Bersama Yesung dan…

Jessica mengepalkan kedua tangannya erat. Rahangnya mengeras menahan amarah. Tiffany ? Mengapa disaat – saat seperti ini temannya itu tidak memikirkan keberadaan Sungmin dan malah… berdekatan dengan namja lain?

“Tiffany-ah?” seru Jessica dengan tatapan miris. Ia mendekat kearah Tiffany yang tampak melonggarkan dekapannya.

“Oh jadi ini…” ucapnya penuh penekanan, “Ini yang kau bilang menjalankan sesuatu  dengan caramu ?  Setelah ini apa kau akan bilang jika semua  yang terjadi sekarang adalah perintah Taeyeon Sosaengnim, begitu? Mendekati namja bernama Kim Jong Woon dengan caramu? Huh? Ingin memanas – manasi Sungmin ? Simbiosis mutulisme?” Jessica menyergah tegas.

“Sica-ah.. aku…”

“Sudahlah  ! Sekarang ikut aku ! Kita perlu bicara.” Jessica menarik tangan kiri Tiffany.

Yesung tersontak dan balas menarik tangan kanan Tiffany, “Kau tidak bisa seenaknya begitu !” ujarnya tak terima.

“Lepaskan tangannya. Kau tidak berhak sama sekali !” balas Jessica cepat.

Yesung menatap Tiffany. Yeoja itu terdiam tak berkutik. Ia kemudian mendengak, menatap Yesung dengan isyarat  rasa sesal yang mendalam. Ada getir kesedihan yang memenuhi matanya. Dan sekarang namja itu bingung tentang situasi saat ini… Karena Tiffany bukan siapa – siapanya…

Genggaman tangan Yesung merenggang begitu saja. Namja itu menatap pasrah membiarkan Jessica membawa Tiffany pergi menjauh.

……………….

“Kita bicarakan nanti, setelah kompetisi ini usai.” Bisik Jessica memandang dingin kearah temannya. Tiffany.

Kompetisi menyanyi dalam lingkup organisasi The Voice telah dimulai. Masing – masing peserta tampak mempersiapkan diri mereka. Selain peserta,  Taeyeon Sosaengnim juga rekannya, BoA sosaengnim, juri tamu dari Kirin art school juga juga tengah sibuk mengecek point – point penilaian dalam beberapa lembar kertas.

Beberapa peserta mulai tampil. Mereka sungguh mengangumkan dimata Tiffany. Setidaknya lebih baik dibandingkan dirinya sekarang.  Andaikan Sungmin ada disini… Pastilah saat ini mereka tengah mempersiapkan diri menunggu penampilan nomer 05 disebut.

“Kita sambut peserta nomer 04 ! Peserta  05 silahkan mempersiapkan diri…” kata Mc seketika menusuk hati.

“Maju saja… Taeyeon sosaeengnim mengharapkanmu bernyanyi… meskipun tanpa Sungmin…” Jessica berujar lagi – lagi dengan nada dingin.

Tiffany menarik nafas panjang saat Mc mulai memanggil peserta nomer 05. Yeoja itu memantapkan kakinya untuk melangkah menuju panggung. Ia tidak boleh mengecewakan siapa pun.

Agak ragu Tiffany menatap lautan penonton. Aneh saat menyadari bahwa Ia hanya sendiri sedangkan peserta yang lain bernyanyi sepasang.

“Oh diakan teman duetnya Sungmin Oppa, yang baru saja mengalami kecelakaan itu kan? Wah, harusnya dia terkena diskulifikasi karena bernyanyi sendiri, iakan? …”

“Bukankah harusnya dia berduet dengan seseorang, benar – benar tidak adil !”  terdengar beberapa bisikan yang membicarakan kabar semacam itu.

Mengacuhkan semua, adalah pilihan terbaik. Tiffany beralih memejamkan matanya, mengosongkan pikiran dan mulai focus mendengar intro lagu yang akan dinyanyikannya.

“Im a give.. if..”

Lirik yang dinyanyikan Tiffany terpotong saat suara bass seorang namja ikut bergabung dalam lagu yang dinyanyikannya.

Yesung. Namja itu bernyanyi dan mendekat. Ini benar – benar nyata. Yesung ada dihadapannya dalam satu panggung. Bernyanyi mengisi kekosongan yang ditinggalkan Sungmin.

Entah harus senang, sedih atau menyesal… Tiffany menikmati ini… Saat suaranya menyatu dengan namja itu. Seperti menemukan kebahagiaan sendiri. Hanya ada Yesung dan Tiffany. Tanpa memikirkan dunia gelap yang menanti diluar sana.

“Thank’s god I found you, I was lost without you my every wish every dream somehow become reality…”

Suara pelan penuh tekanan terngiang bebas dalam pendengan Tiffany. Mata Tiffany tak henti – hentinya menatap Yesung yang sesekali memjamkan mata hendak menghayati lagu. Tiffany hampir saja kehilangan konsentrasi. Bernyanyi dengan namja yang belakangan ini sosoknya mulai merasuk dalam indra penglihatannya. Yeoja itu benar- benar bingung dari mana Yesung mendapat inisiatif seperti ini.

“Im Overwhenhelmed with gratitude.. cause baby im so thankful I found you… “

Suara Vibra Yesung mengakhiri semua. Lagu berhenti digantikan oleh tepuk tangan yang meriah. Tiffany sedikit lega. Penampilannya tidak mengecewakan. Namun satu hal yang ditakutkannya. Bahwa setelah ini akan ada banyak nuansa amarah yang menggerubut.

“You.”

……………….

“Bagaimana bisa ?” Tanya Tiffany antusias usai mengangkihiri penampilannya. Usai turun dari panggung tadi, yeoja itu langsung membawa Yesung ketempat yang jauh dari keramaian. mengingat suasana gaduh yang tercipta didalam geruang aula.

Yesung tersenyum menerawang, “Aku sudah bicara pada Taeyeon sosaengnim. Beliau sangat setuju bahkan antusias…”

“Jeongmal?” Tiffany menatap tak percaya. Yesung mengangguk.

“Kau terkejut ? Aku hanya tidak ingin kau terkena diskualifikasi…” ujarnya menilik kearah yeoja disampingnya.

Tiffany diam saja dan hanya mengangguk pelan, “Gomawo.. dan Mianhae atas semua yang terjadi padamu, karenaku, karena sikap kasar temanku…”

Pelan- pelan kedua tangan Yesung memutar pundak Tiffany menghadap kearahnya, “Aku tidak mengerti kenapa aku bisa sejauh ini ikut campur terhadap urusan orang lain. Tapi karena sudah terlanjur aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Tiffany mendengak lirih, “Wae?”

“Kau masih berharap pada Sungmin?” Yesung bertanya serius  membuat yeoja dihadapannya tertegun, “Aku… “ Tiffany menunduk. Mengingat wajah Sungmin membuat tetes demi tetes cairan bening dari matanya terjatuh.  Sulit tertahan dan sulit berhenti.

Yesung mengigit bibir bawah. Namja itu menyesal. Seharusnya dia tidak menanyakan hal itu meski rasa penasaran dalam benaknya kian membuncah.

“Aku… “ Lagi – Lagi Tiffany mencoba berkata sesuatu. Namun  tertahan oleh isakannya sendiri.

Secepatnya yesung menarik tubuh Tiffany dalam dekapan hangatnya. Tiffany semakin terisak. Yeoja itu tak menyangka jika kisah cintanya akan mengalami masalah seperti ini.

“Bagaimana jika Sungmin Oppa kenapa – napa?” Tiffany berucap parau.

Yesung mengelus lembut puncak kepala Tiffany, “Dia akan baik – baik saja. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu !”

Drt… Handphone Tiffany bergetar. Satu pesan masuk.

From : Jessica

‘Tiffany kau dimana? Temui aku didepan kelas  sekarang !’

Tiffany menunduk murung saat membaca kata  demi kata pesan dari temannya. Ia kemudian menatap Yesung dengan penuh perasaan sesal.

“Aku harus pergi menemui Jessica…” Tiffany mencoba berucap namun yang terdengar hanya gumaman lemah.

“Pergilah.” Yesung mencoba tersenyum didepan Tiffany. Tiffany balas tersenyum.

“Kalau ada waktu temuilah aku dibukit belakang sekolah sore nanti.” Lanjutnya kembali.

Tiffany mengangguk,” Baiklah…” Ucapnya sebelum berbalik dan berjalan menghilang.

…..…………TBC……………….

Nah, nah segitu dulu yah…

Sekian part 4 ini, see You next part, Ok ^___^

Bye….

24 thoughts on “SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 4)

  1. ggradez berkata:

    Uwaa! Makasi banyak author bikin ff ini.
    Part paling romantis, Tiffany sama Yesung..mereka…aish!
    Dan, aku mulai sebal pada Sungmin, Sica, dan Yul.
    Beneran so sweet, author. Gemes sendiri bacanya. :))
    Maap komennya cuma di part ini. Ditunggu next partnya! Fighting!

  2. lulu_paramita berkata:

    uhww so sweet. Lucu bngt si mereka… Eum tp yeppa kesian tiff juga. Ln jt part 5 udah penasaran !

  3. pikachul berkata:

    Eonni lanjut secepatnya! Jebal ff ini makin seru n romatis ja… Nga mau byk koment, aku tunggu kelanjutan na, sangat…

  4. riri riwa berkata:

    Tiff eon sadarlah ada yeppa disampingmu! Lupakan sungmin segera #maksa
    yefany bikin envy nih -_-
    mereka harus bersatu thor harus #maksa lg hehe
    next please :@

  5. kim eun sub berkata:

    Author aku udh nunggu lama ni, ok gpp yg penting yefany tambah so sweet.
    Sica eon jng benci yeye dong. Tiffany aja suka#plakk
    makin penasaran. Update kilata*ditimpuk*

  6. Aulia berkata:

    Huwaa suka.suka.gni alur crta yg aq pgn.feel-a dpt bgt.kbnykan ff yefany yg aq bca kyk ff ecek”,bhsa aneh,alur-a gk jlz pa g feel crta-a gk dpt.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s