SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 3)

Image

Title : Rose for Love

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Poster : Widhi Thania (widhiadhisthania.wordpress.com)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Tiffany, Super Junior Yesung

Other Cast : SNSD Sunny, Jessica, Yuri, Taeyeon,  Super Junior Sungmin, Leeteuk

Hyyy…

Udah lama aku ga nepost lanjutan FF ini.. hehehe peace…

Miahae, baru sempat ngepost lagi…

Ok ya sudahlah…

Happy Reading ^____^

Part 3

Topik akan diadakannya kompetisi menyanyi dalam lingkup organisasi tarik suara The Voice telah menjadi trand center dikalangan para siswa- siswi. Terlebih saat Taeyeon Sosaengnim mengumumkan bahwa akan ada kejutan bagi sang pemenang kompetisi nantinya. Banyak yang menduga – duga tentang kejutan apa yang akan didapatkan oleh sang pemenang kompetisi ini. Hadiah alat music, uang, jalan jalan atau entahlah… Yang jelas Tiffany tidak mau ambil pusing. Asalkan bisa berduet dengan Sungmin, itu sudah merupakan hadiah yang menakjubkan. Hadiah berupa kesempatan emas yang dilapangkan  oleh Tuhan untuknya.

Kemarin adalah hari yang paling membahagiakan. Tebak ! Sungmin menelpon seorang Tiffany agar bersedia melakukan kolaborasi duet diacara kompetisi ?! Oh My God ! Dan hari ini adalah hari yang paling menegangkan sedunia.  Untuk pertama kalinya, usai jam pulang sekolah nanti, Tiffany harus latihan bersama Sungmin. Ia akan belajar banyak hal dari namja popular itu. Namja pintar dan lembut, baik hati… dan… sekarang tibalah saatnya menuju ruang latihan. Tiffany telah menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Mulai dari rencana lagu, buku music serta rancangan alat.  Ini pasti akan menjadi hari yang amat menyenangkan !

Telah sampai didepan mata. Ruang latihan musik. Tampak beberapa pasangan yang tengah melakukan latihan. Tiffany mencari sosok Sungmin diantara pasangan – pasangan itu. Kosong. Pandangan yeoja itu menyapu sekeliling ruangan. Nihil. Tiffany mendengus, semangatnya agak menurun. Ini bahkan lebih dari sepuluh menit dari jam pertemuan mereka. Sungmin tidak datang ? Mustahil !

Ringtone lagu Fun mendadang bergema nyaring.Sungmin menelpon ? Kenyataan itu membuat senyum Tiffany mengembang, “Yoboseyo…”

“Tiffany-ah, apa kau bisa latihan sendiri saja ? Hari ini aku harus menemani Sunny ke rumah sakit ! Mianhae…” ucap namja diseberang sana.

Tangan Tiffany mendadak kaku, “M- Mwo?” ucapnya terbata, “Oppa !…”

“Mianhae Tiffany-ah, aku harus menutup teleponnya… Mian…”

“Yoboseyo.. yob..” Tiffany menghela nafas pasrah saat seseorang diseberang sana mematiakan sambungannya secara sepihak.  Mata yeoja itu nyaris berair. Ini menyesakkan. Bagaimana mungkin namja itu menganggap jika acara kompetisi lebih bersifat sampingan dibandingkan pergi mengantar seseorang yang mengidap sakit demam ke rumah sakit ? Memangnya Sunny tidak punya keluarga ?

“Shit !” Tiffany mengumpat, mengacak rambut hitam tergerainya asal. Tak lupa, yeoja itu juga menendang kursi didepannya. Masa bodoh dengan orang – orang yang memperhatikannya aneh.

Dengan perasaan kesal dan air mata penuh amarah yang nyaris tertumpah, Tiffany mendudukkan tubuhnya didepan jejeran tuts piano yang terlihat damai. Jari – jari panas Tiffany lantas menekan dengan keras jejeran tuts piano itu hingga menghasilkan suara abstrak. Suara dentingan nyaring piano terus berkumandang seiring dengan air mata Tiffany yang tertumpah. Sedikit terisak kecil, Tiffany sebisa mungkin menahan nafasnya yang kian menyesak. Sangat sakit !

“Kau mau membuat seisi jendela ruangan ini pecah ?” Sebuah suara berat terdengar persis dibelakangnya. Tiffany tetap acuh.  Siapa dia?

Mata Tiffany menatap sendu kearah sebuah tangan yang tiba – tiba saja bergerak tegas diatas piano yang dimainkannya.  Pelan – pelan tangan itu menekan tuts piano tersebut hingga menghasilkan suara yang mengalun merdu. Kini, Sebuah piano yang tadinya menjadi pelampiasan  amarah  yeoja itu, seketika berubah menjadi benda yang meneduhkan hati akibat alunan merdu yang dihasilkan.

“Kau…” ucap Tiffany saat melihat seseorang yang berdiri disampingnya. Yesung.

Namja itu memberhentikan permainannya kemudian menatap heran, “Bukankah harusnya kau latihan ? Kompetisi itu besok lusa, bukan?”

Tiffany diam saja. Ia hanya mengangguk lemah seraya menunduk. Yeoja itu menunduk menumpahkan cairan bening yang masih tertahan dipelupuk matanya.

“Menangis lagi ?” Yesung mengambil sebuah bangku kemudian mendudukkan tubuhnya disamping Tiffany. Yeoja yang masih serius menatap kosong tuts piano dihadapannya.

“Dia tidak datang. Aku sendiri lagi…” Suara Tiffany terdengar parau.

Yesung malah terkekeh, membuatnya harus menadapatkan tatapan sisnis dari yeoja disampinya, “Di sekolah ini mungkin ada banyak yang bersedia menjadi pengganti sementara !”

“Apa maksudmu dengan pengganti sementara ? Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan Sungmin ! Jika bukan Sungmin Oppa yang berduet denganku,   aku juga tidak  mau repot – repot ikut dalam kompetisi.”

“Mau sampai kapan kau bersedih karena orang yang belum tentu mengingatmu ? Mungkin saja sekarang dia sedang bersenang – senang ! Sedangkan kau ?  Hanya duduk termenung sendiri meratapi nasib !”

“Berhentilah berlagak sok tahu !”

“Bukannya sok tahu, tapi ini kenyataan !”

Tiffany menatap tak pecaya, “Kenyataan?”

“Lihat dirimu sekarang ! Menangis seperti orang bodoh, menghentak – hentakkan jarimu diatas tuts piano dan terus – terusan terperangkap dalam kesedihan !”

“Mwo?” Tiffany memicingkan mata setelah menyeka air matanya, “Kau mudah berkata seperti itu karena apa? karena dirimu belum pernah merasa ingin bersama dengan seseorang yang bahkan disaat – saat penting seperti ini lebih memilih pergi dengan hal sepele karena seorang yeoja. Kau mungkin juga belum pernah terperangkap dalam harapan palsu yang diberikan seseorang selama ini !  semua itu apa pernah kau rasakan, eoh?!”

Yesung mendengak menatap langit – langit ruangan, mencari udara yang lebih baik.  Ia terdiam sejenak membiarkan yeoja disampingnya mengatur nafas yang terdengar mulai berantakan. Tak lama namja itu kembali berucap  pelan,  “Aku tidak akan memintamu untuk keluar dari kesedihan. Bersedihlah untuk saat ini. Gunakan kesedihan dan kekesalanmu itu untuk hal – hal yang  lebih bermanfaat.”

“Oh jadi menurutmu memikirkan Sungmin Oppa bukanlah hal yang bermanfaat ?”

Yesung menggeleng, “Sama sekali bukan !” namja itu lantas melanjutkan kalimatnya, “Jangan menjadi pengecut hanya karena seorang namja !”

Tiffany memejamkan matanya seraya menarik panjang nafas. Ia bukanlah seperti apa yang dikatakan Yesung,  pengecut ?  Yeoja itu mendadak bangkit dari posisinya.

“Mau kemana?”

Tiffany menatap sekilas namja disampingnya, “Mengambil buku musik dan sebuah lagu.  Aku akan latihan. Kompetisinya besok lusa kan?” ucapnya seraya melangkahkan tubuh itu menuju sebuah meja bundar.

“Perlu kutemani ?” tanya Yesung saat memandangi Tiffany  yang telah berdiri didepannya seraya menenenteng sebuah tas tangan.

“Terserahmu…”

……………………

Tiffany memperhatikan suasana disekelilingnya. Seperti miniatur pemandangan hijau yang berjejer tertiup sepoi angin. Tepat di bukit belakang sekolah, disitulah ia berada. Duduk bersebelahan dengan namja itu lagi. Terlihat Yesung tengah mengatur nada pada gitarnya, sesekali Ia bernyanyi kecil.  Tiffany berpikir, Kalau dilihat – lihat dari samping, namja itu manis juga… Oh my

“Disini jauh lebih tenang, kurasa sekarang ruang music telah dipenuhi oleh siswa – siswi yang sedang latihan.”

“Eoh?” Tiffany tersontak mengalihkan wajah, saat tiba – tiba Yesung menengok ke-arahnya.  Namja itu mengangkat alis, “Wae? Kau baik – baik saja, kan?”

“Oh, its okay.” Tiffany meringis kaku, “Bisa kita mulai latihannya?”

Yesung mengangguk, “Baiklah !” setujunya kemudian mulai menggesek pelan senar gitarnya. Intro lagu Mariah Carey  berjudul  Thanks God I Found You mengalun perlahan. Tiffany mulai memejamkan matanya. Mencoba mengayati setiap nada yang seolah berkelana dalam indra pendengaran.

(I would give up everything….)

Tiffany mulai bernyanyi seiring dengan nada gitar yang mengiringinya. Ia bernyanyi memejamkan matanya sesekali menatap Yesung yang tengah bermain gitar disampingnya. Alis namja itu tampak bertaut menyesuaikan nada gitarnya dengan lagu yang mengalun. Ada kalanya mata mereka bertemu. Hal yang membuat Tiffany Beberapa kali melakukan kesalahan. Yeah, mungkin karena terlalu gugup !

“I was all by myself for the longest time… so …”   Mendadak nyanyian Tiffany terhenti saat Yesung menghentikan permainan gitarnya.

“Bisakah kau turunkah sedikit lagi suaramu ? misalnya seperti ini…”  yesung mulai bernyanyi dengan gitarnya, “I was all Nanana nanana naa… .. I was all by my myself for the logest time… So cold inside…”

Seperti ada magnet. Suara bass dengan vibra yang  lembut sekali. Siapa  pun pasti akan berbondong –bondong meniliki wajah dari pemilik suara itu, termasuk Tiffany. Kini Ia  mengerti kenapa Yesung bisa menang dalam acara kompetisi sekolah.

“Lakukan dengan benar, aku akan menyanyikan bagian Sungmin…” ucap Yesung setelah permainannya  berhenti.

“Nde..” angguk Tiffany patuh. Dalam hati,  Ia ragu apakah bisa melakukan semua ini dengan benar ditengah degup jantungnya yang semakin kacau balau?

…………………..

“Bagimana latihanmu kemarin dengan Sungmin Oppa ? Apakah menyenangkan ? Kalian melakukan apa saja, huh?” Jessica bertanya antusias kepada yeoja yang tengah mengaduk jus jeruknya tanpa mencoba meminum jus itu sama sekali.

“Hei…” Jessica menghentakkan tangannya diatas meja.

Suara debukan meja berhasil memutuskan benak Tiffany dari lamunan panjang. Yeoja itu lantas menatap temannya dengan tatapan terganggu, “Wae?” geramnya.

“Kau mendengarku tidak, Miss?”

“Yeah, aku dengar ! Tentang Sungmin Oppa, bukan ? Kemarin dia tidak datang karena harus mengantar Sunny ke rumah sakit.” ucap Tiffany kecewa.

Yuri yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya membulatkan mata, “Mwo? Mana bisa begitu?”

“Lalu bagaimana dengan latihanmu ?” Jessica menimpali.

“Latihan ?  Kupikir aku tidak akan latihan, untung saja ada Y…”Tiffany memberhentikan kalimatnya saat menyadari sesuatu. Temannya tidak boleh tahu tentang siapa yang menemaninya kemarin. Tidak untuk sekarang !

“Untung ? Kau baik – baik saja kan ?” Tanya Jessica menatap heran.

“Oh… Annyoo.. Kemarin aku latihan sendiri. Untung  saja aku masih punya semangat.” Tiffany mengoreksi.

Jessica dan Yuri mengangguk mengerti, “Baguslah ! Yang penting kau tidak boleh menyerah dalam mendapatkan Sungmin Oppa. Tidak lama lagi hati Sungmin Oppa pasti akan jatuh padamu. Kami yakin !” Ujar Yuri menatap penuh percaya diri diikuti oleh anggukan setuju dari Jessica.

Tiffany hanya tersenyum hambar menanggapi kalimat temannya. Seperti ada sederet keraguan yang menjalar dalam benaknya. Tentang Sungmin…

Drtr…drt… Handphone Tiffany bergetar. Pertanda satu pesan baru masuk. Buru – buru Ia membuka pesan itu. Dari Sungmin ?

“Aku menunggumu di ruang music saat jam sekolah berakhir ! Mian, kemarin aku tidak datang. Kuharap hari ini kita bisa latihan untuk acara kompetisi besok. Fighting !”

Apa pun yang terjadi, selalu saja seperti ini.  Segala hal dari Sungmin  benar – benar sukses menghasilkan satu senyum singkat menghiasi bibir Tiffany. Selalu saja bayangan akan moment-moment menyenangkan langsung terpampang didepan mata. Moment dimana seorang Tiffany Hwang dapat dengan leluasa menatap wajah Sungmin. Menatap dengan penuh suka cita saat namja itu bernyanyi. Mendengar suaranya yang merdu,  melihat senyumnya yang menawan.  dan…

Segala yang Nampak dalam diri namja itu. Menghayati  sebuah permainan gitar ditengah sepoi angin yang bertiup. Ikut menerawang garis lekukan alis saat Ia mulai berpikir keras. Ditambah lagi pesona kedamaian saat menatap wajahnya dari samping,  seperti kemarin.  Lagi – lagi Tiffany terhanyut.  Tunggu ! Hei sadarlah, dia itu Sungmin, bukan Yesung. Tiffany memukul kepalanya pelan. Bagaimana mungkin Ia bisa mengkombinasikan dua sosok namja dalam pikirannya ?!

…………….

Seraya menggenggam sepasang tali tas ransel yang tersemat di pundaknya, Tiffany berjalan cepat menuju ruang musik. Yeoja itu mendengak kemudian menunduk  berulang kali. Entah mengapa perasaan gelisah tiba – tiba datang menggerogotinya.

Mata Tiffany menyipit, “Yesung –ssi…” sahut Tiffany saat melihat seorang namja baru saja keluar dari ruang music.

Namja benama Yesung itu pun menoleh, “Tiffany – ssi ?”

Tiffany berlari tergesa kearah namja itu. Ia lantas membetulkan poninya yang berantakan, “Mmm sudah mau pulang ?”

“Tidak juga !” Jawab Yesung menatap penuh selidik, “Kau  pasti ingin bertemu dengan, Sungmin?”

Tiffany mengangguk pelan menatap namja dihadapannya lekat. Sungguh, mata seorang Tiffany rasanya sulit terlepas dari pancaran sinar wajah namja itu.

“Dia sudah ada didalam. Kurasa aku juga harus pergi !” Katanya, membuat Tiffany kembali mengangguk.

“Tunggu !” Sahut Tiffany saat Yesung mulai berbalik menjauh. Namja itu kembali menoleh dengan alis terangkat.

“Bye…” Tiffany melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar.

Yesung balas melambaikan tangan juga ikut tersenyum. Ia kembali berbalik ketika Tiffany masuk keruang musik dan menghilang.

……………

“Gitar ? Aku pikir kau lebih suka latihan dengan piano.”  Sungmin mengernyit heran saat Tiffany memberikannya sebuah gitar. Setahunya, Tiffany malah menganggap alat musik yang satu itu terlalu simple dan membosankan.

“Errr… itu, aku hanya sedikit jenuh dengan piano.” Tiffany meringis

Sungmin mengerutkan dahi. Beberapa saat kemudian namja itu pun mengangguk mengerti, “Baiklah kuterima alasanmu !” ucapnya tersenyum seperti biasa. “Kalau begitu kita mulai saja.”

Tiffany mengangguk cepat. Sungmin terlihat tengah melakukan pemanasan, begitu pula dengan Tiffany. Masing – masing dari mereka melantunkan nada dari yang rendah hingga tinggi.

“Do re mi…” Sungmin mulai mencoba permainan gitarnya. Wajah namja itu sungguh mempesona. Karismanya menyeruak pada tingkat maksimum, lebih saat ia bernyanyi diringi dengan permainan musik. Mungkin tidak jauh beda dengan… Err Yesung? Tiffany menggeleng. Yeoja itu sadar jika memikirkan yesung disaat – saat seperti ini merupakan sebuah pantangan.

Suara Ring tone lagu ‘here we go’, berdering tanpa permisi. Begitu mengagetkannya hingga membuat dua orang yang tengah bernyanyi kehilangan konsentrasi mereka. Sang pemilik Ponsel, Sungmin lantas buru – buru mengangkat benda nyaring itu.

“Yoboseyo… Nde… Sunny-ah waeyo?” Sungmin mulai mendengarkan perkataan orang diseberang sana. Demi apa pun, mendengar nama Sunny membuat dada Tiffany serasa dihujam ribuan jarum. Mungkin inilah jawaban dari perasaan gelisah yang terasa kental sejak tadi.

“Nde… Nde tenanglah, aku akan kesana !” Sungmin berucap dengan tergesa. Ia mematikan ponselnya kemudian menatap Tiffany seolah menyiratkan permohonan maaf terdalamnya.

Tiffany menunduk. Entah bagaimana, genangan Kristal bening seolah  tertahan dipelupuk matanya. Yeoja itu lantas mendengak menatap langit – langit ruangan. Air matanya tidak boleh jatuh. Tidak didepan Sungmin !”

“Pergilah !” ucap Tiffany seperti bergumam. Bahkan Sungmin belum berkata apa – apa.

“Nde… Gomawo kau sudah mau mengerti. Kita pasti akan melakukan yang terbaik besok !” Sungmin berkata dengan senyum penuh keyakinan. Tiffany benar- benar muak dengan senyum itu sekarang.

“Nde…” gumam Tiffany kembali.

Namja itu benar- benar pergi. Ia pergi tanpa memikirkan perasaannya. Tiffany kini hanya bisa berdesis lirih, “Bagaimana mungkin kita melakukannya dengan baik Oppa ?!  Bagimana mungkin kita bisa menang saat kau menganggap kompetisi ini adalah sesuatu yang  tidak lebih buruk dari sampah !”

Dan untuk kesekian

kalinya, lagi – lagi air mata itu terbuang percuma.

…………

Bukit belakang sekolah. Pandangannya menatap kosong pada hamparan rerumputan hijau disekelilingnya. Satu persatu tancapan rerumputan diatas gundukan tanah gembur tercabut. Yesung bingung apa yang membuatnya menjadi layaknya seorang autis yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Mencabut rerumputan yang malang tanpa henti.

Yesung tertawa sendiri. Sebegitu pedulinya-kah Ia pada seorang yeoja ? Bahkan sekarang dirinya sungguh takut jika nantinya Tiffany menangis lagi, karena Sungmin. Namja itu sadar jika kekhawatirannya sungguh berlebihan mengingat Tiffany bukanlah siapa – siapa. Tiffany hanyalah seorang yeoja labil yang butuh perlindungan dan tempat bersandar. Atau  Lebih kepada seorang yeoja yang masih saja bersikeras dengan harapan palsunya mengharapkan cinta semu seorang namja. Yesung benci itu, entah mengapa. Dan Ia benar – benar  ingin menyadarkan Tiffany tentang sebuah kenyataan.

Beberapa menit lagi, sinar jingga mentari akan menghiasi langit sore. Petang. Saat dimana mentari hangat mengakhiri tugasnya. Saat yang paling dinantikannya  tiba. Yesung memejamkan mata.

Gelap? Ini benar – benar gelap. Sebuah benda serasa menekan matanya.

“S-siapa?”

“Tebak siapa?” suara nyaring sedikit kekanakan itu terdengar. Yesung tahu persis itu, Tiffany.

Seseorang itu akhirnya melepaskan tangannya. Ternyata benar dia, Tiffany. Yeoja itu lantas duduk perlahan. Tepat disebelah seorang namja yang tengah menatap heran.

“Kenapa masih disini ?” Tiffany bertanya dengan mata yang disipitkan seolah menahan kilauan sinar jingga yang menusuk.

“Kenapa kemari?” balas Yesung.

“Bukannya kau sudah pulang ?”

“Bukannya kau sedang latihan dengan Sungmin ?”

Tiffany menunduk, “Sudah selesai.”

“Secepat itu ? Kupikir akan sampai malam… “ Yesung mengernyit.

“Kupikir juga begitu…” gumam Tiffany tersenyum miris. Tepat, Yesung bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Rupanya Tiffany masih betah tinggal  berlama – lama dengan harapan kosongnya tentang Sungmin.

“Kulihat tadi, kau  baru saja keluar dari ruang music ? Kau sedang latihan apa memangnya ?” Tanya  Tiffany tiba – tiba. Mencoba mengalihkan perhatian, sepertinya.

“Tidak sedang latihan apa – apa.” Jawab Yesung singkat.

“Lalu… kena—-”

“untuk menunggumu.”

“Mwo?”

Yesung menerawang sambil berucap, “Siapa tahu orang yang kau tunggu tidak datang lagi. Bagaimana jika piano yang ada diruang musik tiba – tiba rusak?”

“Tidak akan !”

“Kalau begitu bagaimana jika mata-mu rusak karena menangis setiap hari ?” sambung yesung membuat Tiffany tersentak. Bagaimana bisa namja itu tahu ?

“I.. itu—“

“Kenapa kemari ? Kau belum menjawab pertanyaannku..” potong Yesung.

Beberapa saat Tiffany berpikir, “Mmmm aku suka disini…”

“Wae? Ingin menenangkan diri? Sungmin meninggalkanmu lagi ? Ingin berteriak lagi disini? Mau kupinjamkan sapu tangan ?”

“Yak !!!” Geram Tiffany. Ia lantas memukul lengan namja disampingnya, “Jangan mengungkit hal itu lagi !” serunya dengan sedikit tertawaan geli. Sungguh memalukan.

Tiffany beralih focus memandang suasana petang disekelilingnya. Sebentar lagi matahari terbenam. Sinar jingga perlahan semakin menusuk wajahnya. Tiffany sebenarnya kurang menyukai cahaya sore yang menyengat. Terkecuali saat ini.

“Aku sering menghabiskan waktu petang disini, sambil menyanyikan sebuah lagu saat hari berganti.” Ujar Yesung menatap mentari yang tampak setengah.

“Sendiri?”

Yesung mengangguk, “Emmm.”

Tiffany tersenyum memperlihatkan lekukan eye smile-nya, “Kalau begitu aku akan menemanimu ! Tempat ini bagus juga.”

“Berarti kau harus menggantikan tugas – tugas para rerumputan hijau dan pohon – pohon disekitar sini !”

“Tugas apa?” Kening Tiffany berkerut.

“Mendengarkanku bernyanyi…”

“Eoh ?”

“Seperti ini !” Ucap Yesung mulai mengambil gitar disampingnya. Alat music yang selalu menemaninya setiap saat.

Namja itu menyanyikan sebuah lagu. Tentang seorang yang bersedia menjadi sandaran peluh kapan pun. Meski tanpa alasan jelas.

Girl I love to wacht You… You like a candy to my eyes… Like the movie that you have seen but you gotta watch just one more time…

And you seem so lonely…

But you don’t have to anymore…

If you’re a heart without a home… Rebel without a couse…  If you feel as though… you’re always stranded on the shore… Like a thief in the night…. Let me steal your heart away… baby if for reason, what your looking for…

I’ll be yours…

(Westlife – Heart without a home)

Sinar terakhir sang surya seakan menembus wajah kemerahan Tiffany. Setengah bagian dari wajah itu membentuk sisi gelap siluet. Setengah lagi memperlihatnya sekelebat wajah kekaguman. Titik kecil di bibirnya lantas mengukir senyuman khas. Beberapa detik terlewati dan sinar mentari perlahan lenyap.

Tiffany bertepuk tangan saat lagu yang dimainkan Yesung berhenti, “Wah. Daebak !”

“Kau suka ? Lain kali kau juga harus mengajakku ke-tempat yang indah.”

“Aku punya ! Suatu tempat yang indah.” Yeoja itu mengingat.

“Dimana?” Yesung menatap penasaran.

“Rahasia ! Datanglah ke rumahku nanti malam.”

“Nanti malam?”

“Iya, aku akan menunggumu !”

Yesung berpikir sejenak, ia pun mengangguk, “Baiklah, tunggu aku !”

………………………

Terikat lalu tergerai. Beberapa kali Tiffany mematut penampilannya dicermin. Ia menatap rambut hitam sebahunya yang kini terikat kebelakang. Merasa kurang pas namun bingung mau diapakan. Yeoja itu mendengus seraya meihat jam dinding merah muda yang sudah menunjukkan angka Sembilan lewat.  Sebentar lagi Yesung pasti akan tiba. Yesung ? Tanpa aba – aba Tiffany tersenyum. Sekali lagi Fokus matanya beralih pada busana yang Ia kenakan. Kaos biru pastel dengan celanan jeans. Tidak buruk.

Ringtone lagu ‘fun’ berdering nyaring dari atas kasur spring bad berukuran sedang. Tiffany mendudukkan tubuhnya kemudian buru – buru mengangkat telepon itu dengan wajah harap – harap cemas, “Yoboseyo, Sungmin Oppa ada apa?”

“Fany-ah, bisakah aku bicara denganmu?” ucap seseorang diseberang sana dengan nada parau.

“Bicaralah, aku akan mendengarmu !”

“Bukan disini Fany-ah, aku ingin bertemu denganmu sekarang juga ! Kumohon ini sangatlah mendesak.”

“Sekarang ?” Tiffany menilik jam dindingnya, “Sekarang, aku harus… mmm  pergi ke rumah nenek, jadi kalau besok saja bagimana?”

Sungmin terdengar menarik nafas keras, “Tidak bisa Fany-ah ! Aku ingin bicara denganmu sekarang !” Namja itu menjeda kemudian melanjutkan, “Bagaimana kalau aku menyusul kerumah nenekmu !”

“Mwoooooo?” Tiffany membulatkan mata. Ini gawat !

“Hanya dua jam perjalanan kan? Aku pernah mengantarmu kesana dan kuras….”

“Andwae! Andwae… ini sudah malam, kumohon jangan !”

“Tapi Fany-ah…”

……………… TBC ………………

Sekian part tiga FF Ini… Gomawo bagi reader yang udah nyempetin baca ^___^

Ditunggu Kesan, pesan, kritik dan sarannya, okeh…

Pai pai…

18 thoughts on “SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 3)

  1. kim eun sub berkata:

    waw daebak eon…
    Tiff galau… Huhuhu
    udah ma yeye ajah. Tp kasian min min -_-
    yaudah min min ma aku aja deh #ditendang
    next please!

  2. lulu_paramita berkata:

    co cuittt “><
    yesungnya diam2 menghanyutkan nich… Tiffany udah jengah ama sungmin kekna. Emm saatnya yeppa beraksi (?) hehe. Gomawo udah mau lanjtin ni ff *cipok jauh*
    ditunggu lnjtnya yah.. Ok

  3. mumu berkata:

    Authorrrrrrr!! #tereakpaketok
    kok ngepost lanjtannya lama BGT?!
    AKU UDAH GA SBAR. NEXT PART JANGAN LAMA2 #miangaknyante.
    Part ini keren. Top bgt. Tp agak pendek. Panjngn lg dund.

  4. pikachul berkata:

    Eonnie ~ nananana #plakkk
    udah berbulan2 ff ni kgk dipos2. Jd mkn pnsarn kelanjutnx kek apa?
    Next jangn lm2 jebal ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s