[Oneshoot] FF YoonHae – Eccentric Girl of You

Image

Title : Eccentric Girl of You

Author : Nana Shafiyah a.k.a Na_Nasha

Poster : Widhi Thania (widhiadhisthania.wordpress.com)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast :  Super Junior DongHae, SNSD  YoonA,

Other Cast : SNSD YuRi,  Super Junior Si Won

Annyong…

Adakah yang kangen ama aku  ?  #Plakk-ga-ada

Kali ini aku mau menyuguhkan FF Oneshoot kepada para pyros sekalian. FF ini sebenarnya udah jadi berminggu – minggu yang lalu, tapi nge-postnya kelupaan mulu. Jd kalo ke warnet suka lupa dipindain ke flash disk. Mian, akunya jangan ditimpuk yah yah?

Ya udel, tanpa berlama – lama silahkan di- Happy Reading ajjah…

Peace VVV

………………………….

Saat hatimu begitu sulit kugapai…

Masih adakah kesempatan untuk diriku memperbaiki semua ?

Meninggalkanmu, demi seseorang yang juga adalah kau…

Bodoh?

Kau datang padaku bagaikan sebuah lelucon yang sulit untuk kutanggapi…

Dan diakhir cerita, aku tahu seperti apa dirimu sebenarnya…

‘Eccentric Girl Of You’

Suara bising menjalar disejukur lapangan yang saat ini melengkapi pajangannya dengan sebuah panggung kayu kokoh serta naungan tenda abu – abu lebar. Dalam panggung tersebut terdapat serangkaian alat music yang tampak baru saja ditinggal oleh para pemainnya. Terlihat dari posisi gitar, drum dan piano. Terbilang berantakan. Tapi sekarang bukan itu yang menjadi pusat perhatian.

Sedikit demi sedikit penonton acara sebuah konser menggerubuti sekelompok pemuda yang baru saja turun dari panggung.

“Donghae Oppa, maukah kau menerima bunga ini ? Saranghae.“ Kata salah satu yeoja cantik dengan rambut tergerai. Make Up yang elegant sungguh menampilkan sosok yeoja yang sempurna dibaliknya.

Saat kalimat itu terucap. Persepsi diluar sana sudah  banyak berhamburan. Mereka semua seolah bisa menebak jika namja itu, Lee Dong Hae pasti akan menerima siapa saja yeoja yang ingin menjadi yeojachingunya. Dia itu perayu ulung, seorang playboy istilah kerennya.

“Iya, baiklah… Kau cantik, manis juga mendekati tipeku, Okay…” Donghae tersenyum ala cassanova. Yeoja ber-dress merah ungu dihadapannya tersenyum senang. Ia bahkan nyaris melompat kegirangan dengan mata berkaca – kaca.

“Gomawo Oppa…” girang yeoja itu melebarkan kedua tangannya. Ia maju selangkah namun mendadak tercengang seketika.

“Aku ingin sekali berkata seperti itu tapi nyatanya aku tidak tertarik padamu. Carilah  namja diluar sana yang akan langsung menerima yeoja cantik sepertimu, sayang!”

Yeoja yang nyatanya pengalami penolakan menyakitkan itu hanya terdiam mematung dalam lamunannya. Krytal bening yang tadinya memancarkan aura kebahagiaan, kini justru berubah menjadi pancaran duka mendalam.

“Setidaknya kau tidak terlalu sial hari ini, Nona ! Selamat karena dirimu adalah yeoja pertama yang kutolak. Jeongmal Mianhae.” Donghae berkata seraya melenggang pergi.

Apa ? Bagaimana ini bisa terjadi ? Orang – orang, bisa dikatakan para mahasiswa, Universitas Cung Ang menatap heran. Benar- benar sebuah fenomena langka bagi mereka. Lee Donghae sang vocalist Chung Ang  band university  yang terkenal playboy menolak yeoja, secantik itu?

Saksi mata dari kejadian ‘ Untuk pertama kalinya, prince  Lee Dong Hae menolak seorang princess cantik’ berteriak histeris. Setan apa yang baru saja menghilang dari diri Lee Dong Hae ? Atau jiwanya sekarang telah dirasuki malikat tanpa sayap?

“Hey, whats up man?” sergah seorang namja berambut hitam Gondrong saat masuk kesebuah ruang kelas berdinding putih.

“Hanya merasa bosan ” Jawab namja berponi, menggidikkan bahu tidak peduli.

“Hey, Kau seperti bukan Lee Dong Hae yang kukenal !” tanggapnya  antusias.

“Memang bukan, kyuhyun  ?”

“Eoh? Bagaimana bisa? Kau sudah  bosan bersenang – senang rupanya !” Namja bernama Kyuhyun itu langsung meraih kursi didepan Donghae.

“Aku akan bersenang –  senang dengan caraku !”

Kyuhyun tertawa garing , “Ya Ampun, Pikiranmu sudah tidak waras !”

“Aku memang sudah tidak waras !” Donghae menjeda uncapannya untuk menerawang, “Cinta itu melumpuhkan rasio bukan ? Melihat matanya yang terus merunduk membuat jarimu ingin menegandah kepalanya keatas. Gerak – geriknnya, kau melihat semua itu bagaikan sedang melihat pertunjukan seorang bidadari yang menari diangkasa, menakjubkan ! Merasa harus memilkinya   benar – benar mampu mengabaikan cita – citamu untuk memiliki alam semesta sekalipun. Dia itu permata yang dikirimkan Tuhan. Permata lusuh yang hanya berkilau jika kau melihatnya dari teropong dimataku.” Terang Donghae sang pujangga cinta dari negeri seberang. Demi Tuhan, Kyuhyun hampir saja mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.

Sungguh, Kyuhyun tidak akan tidur semalaman karena ucapan Donghae barusan.  Donghae sang perayu kini mengaku jika cinta itu melumpuhkan logika ? Well, selama ini Donghae begitu realistis tentang cinta. I love You and You love me. Begitulah konsep cinta yang dianut oleh DongHae. Jika mencintai maka harus dicintai.  Tidak ada kata ‘mengagumi’ dalam kamus Lee Donghae.  Jelas, Kisah romansa tentang secret admirer merupakan cerita tekonyol dalam alur  percintaan seorang Lee Donghae.

“Ayolah Donghae-ya, jangan beralih menjadi pribadi yang membosankan !” Kyuhyun berkata tiba – tiba memecah suasana hening dalam ruang kelas itu.

Donghae terkekeh, “Aku tidak peduli dengan hal itu kawan. Membosankan atau tidak. Aku hanya peduli kepada si  penyihir ajaib. Dengan mantranya, dia akan mengunci pandangan liarmu, jangan salahkan siapa pun jika sedetik kemudian, kau malah terejatuh dibawah kakinya.”

Kyuhyun semakin tidak mengerti. Namja itu mengerutkan kening. Donghae berbicara semakin ngawur kemana – mana. Beginilah jadinya jika seseorang tidak menggunakan otaknya untuk berpikir.

“Terserahmu…” Kyuhyun menghela nafas seraya menepuk pundak Donghae keras – keras.

“Yakk ! Sakit Cho Kyuhyun !” pekik Donghae saat tepukan kyuhyun terasa memetis kulitnya.

“Oh kau masih bisa merasakan sakit rupanya ? Kukira perabaanmu juga lumpuh ? Karena cinta ‘menakjubkan’-mu itu, mungkin?” ledek Kyuhyun tertawa evil.

“Sialan !”

…………………

Namanya, Im Yoon Ah

Buku  adalah jendela ilmu yang juga merangkap sebagai  sahabatnya. Tiap hari selalu begitu. Tumpukan  halaman  tebal dengan sampul berbagai warna itu selalu menghiasi meja dihadapannya. Mulai sejak matahari terbit hingga terbenam sosoknya selalu menghiasi ruangan yang dipenuhi oleh rak – rak  yang berisi tumpukan benda – benda memusingkan ( baca : buku ) dan  dikelilingi oleh para mahasiswa yang tengah bersemedi dengan tugas – tugas mereka.

Dia akrab disapa ‘Yoona’

Simple. Namun begitu sulit disebut oleh lidah seorang Lee Donghae. Bahkan nafasnya sesak saat mendengar nama ‘Yoona’ disebut. Ini terlalu berlebihan. Namun wajar jika kembali pada persepsi ‘cinta itu melumpuhkan logika’ ( Mohon maaf kalau ada yang mual – mual -_-)

Donghae telah banyak membaca tentang puisi – puisi membosankan tentang love at the first sight. Benar – benar sebuah hayalan kosong. Penyair hanya berandai – andai dengan wajah cinta. Seperti… seolah… bagaikan… Kata – kata itu klise. Sekali lagi, Klise !

Dari mata turun kehati. Cinta sejatimu adalah  saat dalam hitungan detik kau melihatnya. Semua yang ada disekitarmu hanyalah selingan yang lewat begitu saja. Dunia bagaikan Fatamorgana. Hanya jalan menuju hatinya yang terlihat. Selain itu nihil.

Dengan rambut dijepit keatas, Im Yoona menyapu poni panjang yang menutupi kaca mata tebalnya. Beberapa kali yeoja itu memegang tengkuknya yang mungkin terasa pegal karena menunduk terlalu lama. Demi apa pun, itu adalah wajah lelah yang paling mempesona disepanjang sejarah  fokus pandang Lee Dong Hae.

“Annyong…” Dengan keberanian tingkat kayangan, Dongahe memberanikan diri untuk menyapa.

Yeoja bernama Yoona itu membetulkan kacamatanya seraya melirik kecil kearah Donghae, “Ne…” Jawabnya pelan dan singkat kemudian kembali melanjutkan aktivitas membacanya.

“Apa yang kau baca ? Mmm itu pun kalau boleh aku tahu…”

Yoona terdengar menghela nafas, “Wae ? Ada masalah ?” ucapnya tanpa melirik kearah Donghae yang saat ini sudah duduk disampingnya.

“Anniyo, hanya saja apa kau tidak bosan membaca terus ?  Mmmm apa Kau tidak ingin sekali – kali mengobrol dengan seseorang… Maksudku adalah…”

“Aku lebih nyaman sendiri tanpa suara – suara pengganggu ! Jika tidak berkepentingan sebaiknya keluar sekarang juga atau kuanggap jika kehadiranmu adalah sebuah pencemaran berbahaya bagi lingkungan perpustakaan yang harus dibasmi !” Terang Yoona express tanpa jeda.

Donghae tercengang mendengar penuturan yeoja bermata bulat disampingnya. Untuk pertama kalinya, Donghae bisa berbicara dengan Yoona. Yoona menjawab pertanyaannya dengan kalimat yang sepanjang itu. Bukan dengan kalimat singkat seperti sebelumnya. Namja itu mendengar suara bening Yoona. Meski sedikit bernadakan amarah, semua itu  tetap terdengar menakjubkan. Paling tidak bagi Donghae.

Hingga saat ini dan seterusnya jadwal kuliah kosong. Donghae urung melewatkan kesempatan ini. Kesempatan ketika berada didekat Yoona. Berlagak membaca demi menatap wajah yeoja itu dari samping. Tidak buruk kan?

……………

Hari yang cerah sebentar lagi akan berganti kelam. Yoona tampak masih saja sibuk dengan buku tebal dan tumpukan map kertas dihadapannya. Tugas – tugasnya sungguh menumpuk. Tidak seperti Donghae. Atau malah yeoja itu – lah yang sengaja menyibukkan diri ? Entahlah.

Sang pemilik mata berbinar itu  mulai menguap lebar. Matanya setengah meredup. Kepalanya mengayun sayup – sayup.  Wajah Yoona terlihat begitu lelah seperti membutuhkan perlindungan yang terlampau penuh. Bagimana tidak ? Seharian ini otaknya dipaksa untuk bergelut dengan lembaran – lembaran penuh coretan teori. Dia terlalu memaksakan diri…

‘Plukkk’

Yoona tumbang. Kepalanya terkapar diatas buku bersampul hitam yang terbuka. Buku yang terakhir dibacanya sebelum daya dan upaya yeoja itu berada pada tingkat maksimum. Tingkat paling tinggi hingga terpelanting jauh kebawah.

Donghae menyibakkan poni panjang Yoona yang menutupi sepertiga wajah beningnya. Cantik. Mata yang bersungkup damai. Hidung yang mungil dimana udara menelusp kedalam rongga paru – parunya. Bibir merah jambu yang melengkapi sinar wajahnya. Merah muda seperti lambang dari cinta dan kasih sayang. Semua itu terukir menjadi satu. Dalam wajah Im Yoona.

Donghae ingin terus seperti ini. Memandangi wajah bidadari yang terlelap. Orang – orang bisa mengacuhkan sosok Yoona cenderung penyendiri, namun Donghae pengecualian. Yoona lebih indah dari cerita bidadari cantik diluar sana . Dia seperti ratu dari para bidadari yang berasal dari surga. Bidadari yang jatuh tepat dihati Lee donghae.

Oh Tuhan ! Sebegitu besarnya kah Fantasi tentang sosok Yoona dalam diri Lee Donghae?

Lama waktu terlewati. Donghae menghabiskan setiap detik dalam hidupnya untuk mengarungi setiap lekukan wajah sempurna dihadapannya. Yoona menggeliat pelan membuat Donghae cepat – cepat  kembali pada posisi membaca buku dengan serius.

Yoona memegang kepalanya yang pening melayang. Yeoja itu lantas memekik pelan saat melirik jam tangan biru tuanya, “Oh my god…” desisnya pelan kebingungan sendiri.

Dengan tangan yang berhamburan kemana – mana, Yoona membereskan beberapa kertas yang berserakan seraya menumpuk beberapa buku diatas meja. Buru – buru yeoja itu menegembalikan buku yang usai dibacanya pada bagian rak dimana seharusnya buku itu berada.

“Aduh kenapa bisa ketiduran ? sudah jam sepuluh malam lagi…” Gerutunya pelan namun sangat jelas terdengar dalam ruangan perpustakaan kampus yang sepi. Yah, perpustakaan Chung Ang university memang dibuka hingga tengah malam.

Seusai membereskan buku – buku diatas meja, Yoona melangkah tergesa keluar ruangan. Gelap dan dingin. Begitulah suasana luar ruangan saat ini. Yoona menggosok kedua telapak tangannya mencari kehangatan. Yeoja itu setegah berlari menuju halte bus. Kepalanya menengadah ketengah jalan dengan tatapan penuh harap jika bus segera tiba.

“Tidak seharusnya yeoja seoertimu menunggu bus malam – malam sendiri. “ Dongahe berkata tiba – tiba saat berhasil berdiri disamping Yoona, yeoja yang tampak gelisah.

Yoona terlonjak, “Yeoja sepertiku ? Yeoja seperti apa maksudmu?” tanyanya seperti tidak terima.

Donghae mengerutkan kening bingung. Yeoja seperti apa? Apakah dia mengira?, “Bukan begitu… “ Namja itu terkekeh kemudian mengoreksi, “Maksudku kau terlalu menarik perhatian orang – orang… Errr termasuk orang – orang jahat mungkin.”

“Orang jahat termasuk dirimu.” Timpalnya cepat

“Ah, ani aku bukan orang jahat.”

“Oh ya?” balas Yoona pelan meski terdengar sinis, “Jangan kau pikir jika aku ini seperti yeoja culun yang ada di drama TV. Aku selalu waspada, tidak seceroboh mereka.”

“Eoh?” Donghae mengerutkan kening, “Aku  tidak ingin menyiksa diri  karena berniat menjahatimu.  Membiarkanmu celaka karenaku,  sama  saja dengan membiarkan diriku sendiri  tergantung hidup – hidup diujung tiang bendera.”

Yoona melirik sebal, “Aku bukan yeoja genit diluar sana yang bisa seenaknya kau gombali. Ingat itu ! “

Donghae mendesah. Sungguh ! Pernyataan tadi sama sekali bukan gombalan asal. Melainkan sungguhan.

Percakapan penuh nada sungutan itu terjeda sejenak saat bus hijau yang telah lama dinanti berhenti tepat dihadapan dua orang yang tengah berdiri didepan halte. Yoona beralih menanjaki tangga bus diikuti oleh Donghae yang mengekorinya dari belakang.

Disepanjang perjalanan, Yoona  hanya terpaku memandangi suasana gelap diluar jendela. Donghae yang duduk pada bangku disampingnya juga ikut terdiam. Namja itu bingung harus berkata apa setelah sebelumnya Yoona kesal karena menganggap ucapnnya adalah gombalan asal. Donghae mengigit bibir bawah. Otaknya berkonsentrasi penuh, menimbang dengan hati hati tentang apa yang akan diucapkannya.

“Oh jadi rumahmu melewati jalan ini?” tanya Donghae memecah suasana. Yoona melirik sekilas dengan tatapan aneh. Sekali lagi, Yeoja itu benar- benar terganggu dengan keributan.

“Kau melihat apa?” Donghae bertanya sekali lagi dengan nada ingin tahu.

“Rumahmu masih jauh?”

“Kau sudah menghubungi ummamu jika akan pulang terlambat ?”

“Kurasa aku bisa menjelaskan sesuatu padanya, tentang keterlambatanmu pulang, mungkin ?

“Yoona-ssi …” ujar Donghae menggantung ucapannya saat Yoona menoleh, membungkam lisannya dengan tatapan ‘diam kau !’

“Apa dirimu tergangu?” Donghae meringis, menatap dengan wajah tanpa dosa.

Yoona membalas dengan wajah geli bercampur jengah, “Dengar Ya Lee Donghae –ssi,  Aku bisa pulang sendiri dan aku akan baik – baik saja. Rumahku lumayan dekat daru sini.  Aku sudah memberitahu pada  uamma tentang keterlambatanku sampai dirumah jadi kau tidak perlu repot – repot menjelaskan apa pun padanya.”

Donghae melirik sekilas buku tebal yang berada dalam pangkuan Yoona. Sampulnya  lusuh berwarana coklat kehitaman, sudah kelihatan sangat tua . Jadi dia membaca buku seperti itu?

Bus yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah halte. Yoona berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan melewati tubuh Donghae. Yeoja itu segera turun dari Bus. Dilihatnya lagi – lagi sipenganganggu ikut mengekor kembali.

“Kenapa mengikutiku ?” tanya Yoona dengan langkah buru – buru.

Donghae membetulkan tas ranselnya yang cukup berat, “Kau pulang terlambat karena aku. Mestinya kau kubangunkan saja saat dirimu tumbang diperpustakaan tadi.”

“Semua itu tidak ada sangkut pautnya denganmu.”

“Oh yah? Bagaimana jika seseorang mengganggumu ditengah jalan.  Aku akan merasa bersalah.”

“Tidak akan. Tidak aka nada seseorang yang tertarik dengan orang sepertiku…”

“Akan ada banyak kurasa ! Karena kau begitu mencolok. Semua yang ada pada dirimu sangat menarik perhatian.”

Yoona memberhentikan langkahnya, “ Sebenarnya kau ini bicara apa? Huh ? Oh jadi menurutmu aku menarik perhatian karena rambutku yang berantakan ? Kaca mata jelek yang bertengger disepasang mataku? Aku mencolok karena jaket coklat super tebal yang kukenakan ditambah celana jeans longgar yang lusuh.  Lalu setelah ini kau akan bilang jika kau menyukaiku?“ ujar Yoona mendeskripsikan penampilannya sendiri, “Yeah. Hebat sekali !”

Bingung dan tidak tahu harus meenyanggah apa lagi. Yoona selalu berapi – api saat berbicara padanya. Donghae sebisa mungkin menghindari kata – kata yang memprovokasi. Tapi nihil, tetap saja Yoona kembali tersengut. Sebenarnya yeoja itu kenapa sih?

“Tapi ngomong – ngomong kau ini kenapa bisa bersikap seperti itu pada yeoja diluar sana? Bisa – bisanya Berkencan dengan mereka, apa tidak pusing?”

“Eoh ?” Donghae mengangkat alis. Baru kali ini Yoona bertanya dengan kalimat yang lebih dari sebaris, “Aku ingin  sekali menolak saat menereka mulai mengajak kencan tapi… Entah mengapa aku tidak bisa menolak… Aku tidak tega menolak yeoja, melihat mereka menangis, Itu sama sekali bukan gayaku !  Aku sadar jika sikapku selama ini malah  semakin menyakiti mereka, aku ingin mengakhiri semua terlebih saat ini  diriku mulai menemukan alasan untuk berhenti menjadi seorang playboy. Hanya ingin mencintai seorang Yeoja. Sekali seumur hidup. Itulah alasannya.” Terang Donghae ditengah suasana yang semakin hening, “Wajar jika kau kelihatan tidak menyukaiku. Mungkin itu  juga salah satu alasanmu.”

“Sok tahu !” Timpal Yoona ketus. Yeoja itu kembali mempercepat langkahnya.  Meninggalkan Donghae yang  mengayun langkah  sedikit lambat dibelakangnya.

Satu lagi  alasan yang perlu ditambahkan  dalam  note berjudul,  ‘Yang menarik dalam diri Im Yoona’

Wajahnya selalu tampak kesal. Donghae membenarkan bahwa pemandangan  itu adalah salah satu dari sekian ribu ekspresi Yoona yang wajib terlukis sempurna dalam memorinya. Kebetulan namja itu sudah bosan dengan ekspresi yeoja diluar sana yang selalu tampak manis.  Itulah yang membuat Yoona tampak berbeda !

“Kau namja penganggu ! kenapa masih mengikutiku ?” sungutnya.

“Memangnya kau saja yang boleh melewati jalan ini?” jawab Donghae santai, menyusul langkah Yoona.

Yoona memberhentikan langkahnya. Menatap namja disampingnya tajam, “Tidak. “ ucapnya singkat, “Ini jalan menuju rumahku dan Kau mengikutiku, itu masalahnya !”

“Memangnya salah kalau aku mengikutimu ?”

“Sangat salah karena itu mengangguku !” Geram Yoona menganggap ucapan Donghae malah berputar – putar tanpa arah, “Apa maumu ?”

“Eoh?”

“Apa yang kau inginkan ?”

“Yang aku inginkan ?” Donghae berpikir, “Aku… menginginkan dirimu.”

“M-mwo?” Yoona membulatkan mata. Ia lantas membetulkan kaca matanya dengan tangan bergetar. Raut wajahnya berubah waspada.  Pandangan yeoja itu lantas menyapu suasana disekitar jalanan gelap berkelok  yang sepi.  Hanya terlihat ruko – ruko tanpa penghuni yang berjejer rapih.  Yoona semakin gelisah.

Donghae menyeringai .  Ya Tuhan, pikiran konyol apa lagi yang menghinggap dalam benak yeoja disampingnya ini?

“Memangnya apa yang kau pikirkan ?” Donghae menatap selidik dengan alis terangkat.

Yoona menatap tidak senang, “Kau ini apa – apapaan ! Jangan membuat lelucon ditempat sunyi seperti ini. Itu sama sekali  tidak lucu !”

“Jelas-  jelas  dirimu ketakutan, tapi  masih nekad melewati jalan sepi seperti ini. “ Donghae berucap santai sambil meenengadah langit gelap diatas sana.

Yoona tak menggubris. Ia lebih memilih melanjutkan langkahnya. Yoona menggeleng  cepat. Mustahil, Donghae tidak mungkin memendam obsesi gila untuk  melakukan hal‘itu’ padanya, bukan ?

“Sudah Stopp ! Rumahku disana.” Yoona berujar dengan nada dingin seraya menatap rumah minimalis bercat putih tingkat dua yang dihiasi dengan pekarangan yang luas.

“Kau tidak ingin mempersilahkanku masuk ?” Donghae menyela membuat Yoona kembali menyungut, “Untuk apa? Tidak ada untungnya bagiku.”

“Baiklah terserahmu. Kalau begitu aku pergi, selamat malam.” Donghae tersenyum. Namja itu mundur beberapa langkah kebelakang. Ia melambai lambaikan tangannya berkali – kali , berharap Yoona membalasnya paling tidak dengan seulas senyum masam. Namun lagi lagi yeoja itu hanya memutar bola matanya malas.  Ia lantas berbalik masuk menuju pintu rumahnya.

Donghae berdesis pelan setelah sosok Yoona menghilang, “Apa ada yang salah denganku, Im Yoona?”

………………..

Beruntung, pintu putih yang menjulang tinggi itu tidak terkunci. Yoona berjalan mengendap – endap menuju kamarnya. Ia sesekali menoleh seraya menajamkan kacamatanya. Tidak ada seorang pun ! Syukulah.

“Im Yoona” Panggil suara itu. Suara yeoja paruh baya yang ditakutinya sejak tadi.

“Ne Umma.” Yoona menjawab perlahan. Ia meringis lebar seiring dengan tubuhnya yang kini berhadapan langsung dengan seseorang yang dipanggil ‘umma’ itu.

“Kenapa jam begini baru pulang ? Kau pikir ini masih sore, hmm? Jelaskan sesuatu ! Apa kau keluyuran lagi ? Bagaimana jika kejadian diwaktu lalu terulang lagi ! Sudah berapa kali umma katakan, jangan coba  macam – macam dengan dirimu yang sekarang ! Umma tidak ingin lagi melihatmu pulang dengan wajah memerah dibanjiri air mata ! Lebih bai—-”

“Mian umma. Aku errr… ketiduran diperpustakaan..” Yoona memotong ucapan yeoja paruh baya dihadapannya segera.

“itu bukan alasan ! Diluar sana banyak orang jahat. Termasuk mantan namjachingumu dan teman – temannya itu. Mereka bisa saja—–“

Tringg….  Suara bell pintu rumah sukses membershentikan perdebatan antara umma dan anaknya sejenak. Umma Yoona menatap  anaknya dengan isyarat agar tetap diam ditempat.  Yoona sontak mematung. Sementara Yeoja paruh baya itu kemudian berankjak membukakan pintu.

“Anyong haseyo Ahjumma…” sapa seseorang didepan pintu. Ternyata dia seorang namja. Sepantaran dengan Yoona. ‘Temannya? Ah, atau mungkin namjachingu Yoona yang baru ? rupanya anak itu belum kapok juga !’ geram nyoma Im dalam diam.

“Nde Annyong…” balasnya kemudian.

“Lee Donghae imnida. Aku teman Yoona, apakah dia ada ? tadi bukunya ketinggalan di bus saat pulang kemari. Aku lupa mengembalikannya saat didepan pintu pagar tadi. Yoona sudah terlanjur masuk kerumahnya, dan begitulah…”

“Oh jadi kau teman Yoona?” Nyonya Im menghela nafas lega, Ia pun berkata dengan nada heran,  “Ah mian, tapi apa maksudmu dengan dipintu pagar tadi ?”

“Aku… men—-“

“Oh apa kau yang mengantar anak nakal itu pulang kemari ?” potong nyonya Im dengan wajah antusias. Mendekati tipe namja baik hati, pikirnya.

Anak nakal? Itu terdengar ganjil saat Yoona disebut sebagai ‘anak nakal’, “Ne Ahjumma, tapi karena  ini sudah malam jadi—“

“Ah sudahlah masuk saja !” bujuk nyonya Im menarik lengan Donghae untuk masuk kedalam.

“Silahkan duduk.” Nyonya Im mempersilahkan. Donghae mendudukkan tubuhnya. Namja itu menatap dinding ruangan. Dinding yang dipenhi oleh photo Yoona. Yoona tampak begitu berbeda dalam setiap posenya…

“Aku akan memanggil Yoona dulu.”

Mata Donghaae membulat, “Ah Ahjumma—–“

“Yoona-ah” seru nyonya Im tersenyum ramah pada Donghae, “Yoona-ah ada temanmu diluar !” serunya kembali sementara yeoja paruh baya itu meninggalkan tempat saat seseorang yang dipanggilnya keluar dari ruang tengah.

Yoona menatap sebelah mata namja yang tengah duduk diatas sofa coklat. Ia membetulkan kacamatnya sejenak kemudian duduk dihadapan Donghae, seseorang  yang sama sekali enggan dilihatnya, “Kenapa masih disini?”

“Ingin megembalikan bukumu.” Donghae memperlihatkan sebuah buku bersampul coklat tua. Yoona merengut tak senang, “kenapa bukunya ada ditanganmu? Sengaja?”

Donghae terkekeh, “Apa?” namja itu mencondongkan badannya kedepan hendak meletakkan buku yang dipegangnya, “Benda ini ketinggalan di Bus.”

“Sekarang urusanmu sudah selesai, kan? Jadi lebih baik kau pulang !” perintah Yoona  yang mendadak bertindak gelagapan saat Donghae memcingkan mata kearahnya. Yeoja itu buru – buru menyela, “A-pa yang kau lihat?”

“Apa yang salah ?” Donghae menatap Yoona serius.

“Eoh?”

“Seberapa burukkah Aku dimatamu ?”

“Buruk?—-“

“Apa karena aku playboy ? Dekat dengan banyak yeoja?”

“Tidak, tentu saja ! pikiranku tidak sedangkal itu !” bantah Yoona cepat, “Aku tidak peduli dengan paredikat Playboy yang melekat pada dirimu. Toh semua itu tidak ada ruginya bagiku. Kau tahu? Seenak enaknya kimchi, kalu orang tidak suka, ya tetap saja tidak suka. Sebagus – bagusnya lukisan, jika orang tidak suka tetap saja tidak suka, bukankah begitu ?”

“I-iya…” Donghae mengerutkan kening hendak menyanggkal. Namun kalimat dalam benaknya pergi saat Yoona menatapnya dengan mata berkilat – kilat, memohon agar Dirinya percaya. Pada akhirnya Namja itu hanya berdesis lemah,   “Yeah, Kau benar, Kurasa…”

“Sekarang lebih baik kau pulang !”  Yoona menerawang jengkel. Yeoja itu bangkit dari posisinya. Ia menatap sinis sekilas kearah namja dihadapannya. Dan menghilang tanpa kata.

“Yoona-ah” panggil Donghae hendak berdiri seraya menatap bingung kearah Yoona yang berlari keruang tengah meninggalkannya sendiri. Nyonya Im yang berpapasan langsung melihat sikap aneh Yoona ikut menatap heraan, “Hey, kenapa kau meninggalkan temanmu? Hey Yoona…”

“Ahjumma sudahlah, aku harus pulang !” pamit Donghae.

“Aishh dasar !” decak nyonya Im, “Sudahlah jangan hiraukan anak itu ! sikapnya memang kekanak – kanakan.”

Donghae mengangguk seraya tersenyum hormat pada nyonya Im, “Mianhae aku jadi menganggu kalian ! Lebih baik Aku pulang sekarang. Anyong !”

“Nde, Nde, Kau itu tidak salah apa – apa, Nak. Yoona memang terlalu sensitif.”

Tersenyum kecut. Donghae berpikir, tidak salah apa – apa. Benarkah? Nyatanya namja itu tidak merasa demikian.

……………………

“Oh jadi itu yang namannya Yoona.”

“Apa bagusnya sih dia ? Jelas – jelas aku yang lebih cantik.”

Yoona tahu jika semua orang membicarakan dirinya. Bukan karena kepintarannya, prestasinya atau apa pun, tapi karena namja itu, Lee Donghae.

Berjalan merunduk berlagak mencari koin yang tergeletak ditanah. Tanpa mengetahui arah jalan dihadapannya. Tanpa mengetahui ekspresi orang – orang yang begitu serius memandang aneh gerak tubuhnya. Menganggap seolah dirinya adalah alien, bahkan Yoona tidak Tahu. Oh bukan ! Lebih tepatnya tidak mau tahu.

Dengan sweater coklat pekat yang terjepit erat di kedua lengannya, Yoona berjalan ceoat melewati koridor demi koridor kampus. Sesekali yeoja itu membungkuk  meminta maaf saat tanpa sengaja menyenggol bahu seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. Wajar, karena pandangan yeoja itu benar – benar layu saaat berjalan.

“Eitssss…”

Yoona terlonjak saat tubuhnya tertarik kebelakang.  Tas ransel yang tersemat dipundaknya nyaris terjatuh. Tarikan yang begitu kuat dan sangat tiba – tiba. Entah siapa sang pelaku yang kekurangan aktivitas itu.

Tubuh Yoona terbentur, atau lebih tepatnya dibenturkan pada permukaan lorong salah satu karidor. Tampak yeoja pirang dengan alis tebal tengah membekapnya. Yeoja itu tersenyum menyeringai.

“Kau Im Yoona ? Apa menariknya dirimu?” katanya tersenyum remeh.

“Siapa kau?” Yoona menatap waspada.

“Masih bertanya ?  Aku ini yeojachingu Lee Donghae. Y-U-R-I.”

Yoona terkekeh, “ Ya ampun, yeojachingu atau  teman kencan ? Yang keberapa?”

Yeoja yang kelihatan mulai tersengut itu lantas mencengkram wajah Yoona, “Yeoachingu atau teman kencan, kau pikir aku peduli ?” tandasnya sinis, “Pencapaian tingkat kepopuleranku menjadi menurun. Karena apa? Karena yeoja bodoh sepertimu berani mengusikku. Aku tidak akan sudi disingkirkan oleh yeoja culun sepertimu, cih.”

“Kalau begitu kau tanyakan saja pada namjachingumu yang popular itu. Kupikir dia benar – benar sudah sterss karena status buruk sebagai maniak yeoja yang disandangnya selama ini. semua itu tidak ada hubungannya denganku !” Tegas Yoona menatap tajam.

“Kau bilang apa ?! Maniak Yeoja ?! Hei jaga ucapanmu, pabo?!”

“Marah –marah hanya karena namja yang tak lagi mempedulikanmu ! Pikir lagi, Siapa yang pabo sebenarnya? Huh?”

“Ya Ampun ! Baru didekati oleh Lee Dong Hae saja sikapmu sudah sok !”

Memutar matanya malas. Percakapan membuang  waktu yang tidak jelas asal – usulnya . Praktis, Yoona memilih mengacuhkan segala pernyataan tidak pentiing itu. Berusaha melangkah pergi. Menghilang secepatnya dari situasis memuakkan ini.

“Awwhhh…” pekik Yoona saat bibirnya terasa mencium lantai yang dingin. Kakinya tersandung sesuatu. Sakit sekali. Yoona merasakan betapa kerasnya denyutan perih pada kedua lututnya. Keterlaluan ! Seenaknya saja menendang kaki orang !

“Rasakan itu ! kau terlalu sok pintar Im Yoona, Yeoja kampungan !”  Yuri melipat kedua tangannya didaada seraya menatap penuh nada ejekan. Ia melihat disekeklilinganya. Tampak bebrapa orang sedang memperhatikan sekelebat adengan nista itu,  “Dasar Yeoja pabo, menjijikkan…” ucapnya kemudian beranjak pergi.

Mata Yoona memanas, begitu pula dengan hatinya. Meskpun begitu, dirinya merasa  baik – baik saja. Yoona kuat. Yeoja itu mendorong dirinya untuk bangkit. Ini tidak apa – apa.  Tidak sakit sama sekali. Yoona masih bisa berjalan menyeret kakinya disepanjang koridor sekolah.

“Namja itu ! Dia harus menjelaskan semua ini.“ Gumam Yoona dengan penekanan emosi.

…………………………….

Nada gesekan gitar menggema disekujur ruangan. Disaat kebanyakan orang lebih memilih melemparkan obrolan santai untuk mengisi waktu luang, Donghae  masih terhanyut sendiri dengan lagu yang dimainkanya. Lagu yang berasal dari naluri terdalamnya. Sangat dalam hingga baru sempat terjamah…

You look so beautiful today

When You’re sitting  there its for me to look away…

So I try to find the words that I could say…

I know distance doesn’t matter

But you feel so far away

And I cant Lie…

But everytime I leave, my heart turns gray…

And I, I wanna come back home to see your face tonight… (Simple Plan – I cant wait Forever)

Tanpa Ia sadari Yoona dengan penampilan yang penuh keringat sudah muncul dihadapannya. Entah sejak kapan.

“Coba beri alasan ?! Kenapa semua orang begitu berlebihan ?!” Yoona tiba – tiba menyeru dengan suara yang menggelegar, mengacuhkan orang – orang yang tengah menatapnya aneh.

Donghae menaikkan alis bingung, “Wae? Kau kenapa?”

Yeoja itu  terkekeh, “Masih bertanya aku kenapa? Huh? Memangnya kau buta? Aku menjadi bahan gunjingan orang- orang diluar sana, apa kau tidak tahu? Aku yang dibully oleh mantan pacarmu, kau tidak bisa memperkirakannya ? Aku yang diremehkan oleh semua orang, kau percaya itu?” Yoona terdiam sejenak menarik nafas, “Dan sekarang kau malah bertanya aku kenapa?”

“Yoona-ah—“

“Kau menyebalkan Lee Donghae.” Tak disangka – sangka Yoona mengeluarkan Kristal bening dari mata bulatnya. Yoona menyeka air matanya kasar kemudian berlari kencang menuju pintu keluar ruangan.

Donghae mengejar Yoona yang berlari keluar. Namja itu menengok kesana kemari namun sosok Yoona menghilang. Ia berdecak. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yoona yang serumit itu. Donghae hanya ingin Yoona tahu tentang perasaannya, tidak lebih. Dan sekarang Yoona malah menganggap itu lebih buruk dari bencana besar.

“Yoona-ah—“ Donghae berjalan melewati ruangan yang berjejer rapih. Ia tidak peduli dengan tatapan orang – orang yang menatapnya aneh. Namja itu begitu panik sekarang. Tidak ada yang lebih penting dari perasaan Yoona.

Ditengah kerumunan Donghae terus mencarii sosok Yoona. Ia tidak peduli dengan orang – orang yang terkena senggolan kerena sikap paniknya.

“Yuri-ya, kau melihat Yoona ? Yeoja berkaca mata dengan jaket coklat?” Tanya Donghae pada yeoja yang kebetulan melihat tingkah bingungnya. Bukan kebetulan jika sedari tadi Yuri terus memperhatikan tingkah Donghae sejak namja itu keluar dari kelas. Yuri pun hanya dapat memperagakan lagak kebetulan. Sekedar mencari kepastian.

“Kenapa kau malah mencarinya oppa?” Kesal Yuri merengutkan wajah.

Donghae menghela nafas, “Sudahlah jangan bahas  itu sekarang ! Aku sedang tidak berselera untuk berdebat denganmu !” pungkas namja itu terburu – buru kemudian beranjak pergi melanjutkan langkah seraya terus meyapu pandangannya.

“Oppa !” Yuri berteriak kesal. Seketika itu juga, Ia merasa bahwa mimpi – mimpinya bersama Donghae hanyalah sebuah mimpi semu. Hayalan kosong yang telah musnah.

…………………..

Setiap tiga detik sekali, Yoona menoleh kanan kiri. Yeoja itu takut jika Donghae mengikutinya dari belakang. Sungguh, Ia benar – benar tidak berselera melihat wajah namja itu sekarang.  Tidak ingin berlama – lama berkelut dengan pikirannya sendiri, Yoona lantas duduk pada salah satu kursi batu melingkar yang letaknya dibawah kokohan pohon rindang. Pandangan Yoona begitu serius mengarah pada sebuah buku tua bersampul coklat lusuh. Buku langka yang didapatnya dari halmoninya yang merupakan seorang dosen filsafat. Buku yang sangat berharga karena sangat membantu seseorang agar lebih berpikir sistematis, analisis, kritis. Bagaimana pun Yoona sangat menyayangi buku itu. Peninggalan terakhir halmoninya.

Sluppp… Yoona memekik kaget saat seseorang yang entah siapa merampas buku coklat itu dari tangangannya.

“Hai manis, sendiri saja.”  Seorang namja  beserta kedua kaki tangannya menyeringai penuh arti kearah Yoona. Dasar mereka,  mahasiswa kurang kerjaan !

“Hei, kembalikan bukunya !” Sungut Yoona kesal.

Namja itu mencondongkan tubuhnya kedepan. Menatap wajah Yoona dengan seksama, “Kapan kau akan membuka kaca matamu itu cantik ?”

“Cepat kembalikan bukunya, Choi Siwon !” tegas Yoona bangkit dari posisinya.

“Lepas dulu kaca matamu sayang,… Eh sekalian rambutmu yang terjepit kebelakang itu.”

“Jangan harap !”

Yoona  melompat berusaha menggapai – gapai buku dari tangan namja itu.  Namun sial, Siwon dan kedua kaki tangannya saling mengoper buku dari satu tangan menuju tangan lain. Yoona kelabakan.

Yoona mengepalkan kedua tangannya jengah, “Apa yang kau lakukan, brengsek ! dasar namja tidak punya harga diri !”

Namja bernama Siwon itu praktis menolehkan tatapan sangar, “Apa kau bilang? tidak punya harga diri ?!” ujarnya membentak

Yoona menyela dengan suara bergetar, “Aku  ini bukan siapa – siapamu lagi ! Ingat itu Siwon !”

“Kaupikir aku masih  tertarik dengan yeoja kuno sepertimu, HUH?” Siwon mencengkram dagu Yoona membuat yeoja itu memekik kesakitan.

“Aku hanya ingin menegurmu bodoh ! Ternyata kau  itu sombong sekali !” lanjutnya semakin kasar.

Yoona terkekeh miris, “Ya ampun mimpi apa aku hingga bisa – bisanya ditegur oleh namja tidak waras sepertimmu !”

“Tidak waras ?” Siwon balas terkekeh, “ Lihat ? Siapa  yang akan menjadi tidak waras jika buku  kesayanganmu ini aku lenyapkan.” Ucapnya menghempaskan cenkramannya pada dagu Yoona.

“Mwo?”

“ Musnahkan bukunya !” Perintah Siwon pada kedua kaki tangannya.

“Andwae !”

“Musnahkan bukunya atau cium aku…” Siwon menyeringai menelunjuk bibir tipisnya.

“Mwo?”

“Sekarang !”

“Yakk !” sungut Yoona Tidak terima…

“Pilih mana?” Siwon tersenyum miring  pada sebuah buku yang berada ditangan temannya. Sial !

Yoona menggigit bibir bawah, kedua tangannya mengepal kuat. Ia menatap tajam kearah Siwon dengan ekspresi kegugupan mendalam. Bukan karena tikaman mata kelam Siwon yang jelas mengintimidasinya. Bukan karena senyum remeh dari namja sialan itu yang seolah menginjak harga dirinya, bukan pula karena kerumunan orang yang semakin ramai memadati tempatnya berdiri, dimana adegan menjijikkan itu berlangsung… Tapi… Tatapan seseorang dibelakang Siwon. Menerawang penuh kekesalan.  Entah bagaimana membuat Yoona takut sendiri…

“Yoona…” desis orang itu pelan. Lee Dong Hae.

Yoona menggeleng cepat. Yeoja itu menutup mata perlahan, mulai mendekatkan wajahnya kewajah Siwon. Sahutan ledekan dari kerumunan mahasiswa mulai mengiringi jarak yang semakin menyempit diantara mereka.

‘Plakkk’ satu tamparan keras berhasil mendarat, tepat dipipi kiri Siwon. Semua orang memekik shock. Namja bermata bulat itu lantas menggesek pipinya yang memerah seraya menancapkan tatapan pembunuh kearah Yoona.

“Kau pikir aku ini yeoja murahan, huh? Kutegaskan sekali lagi, Aku ini bukan siapa – siapamu. Cukup sampai disini, ara?!” Sahut Yoona dengan nafas berkejaran. Dibalik itu, Ia mengutuk dirinya sendiri. Tak ada seorang pun didunia ini yang ingin mencari masalah dengan bajingan seperti Siwon, Selain yeoja bodoh bernama Im Yoona, tentu saja.

Siwon praktis merebut buku lusuh coklat dari tangan temannya. Dengan penuh aura kemarahan, Siwon melempar buku malang itu keras – keras keatas hingga  tersangkut pada ujung sebuah pohon diatas mereka.

“Kau harus banyak berdoa agar tidak bertemu denganku lagi, sayang !” Siwon berbisik seraya melangkah pergi diikuti oleh kedua kaki tangannya. Yoona membatu mendengar penuturan Siwon. Mata yeoja itu perlahan menengadah keatas. Tepat kepada sebuah buku tersangkut sempurna.

Dengan sejenak perasaan Ricuh Yoona menaiki sebuah meja batu dibawah pohon. Sekuat tenaga Ia mulai melompat, berusaha menggapai sebuah ranting.  Cukup mudah karena Yoona berhasil menggapainya. Ia kemudian meraih ranting diatasnya. Beserta tenaga yang kian menipis, sebisa mengkin yeoja itu menjaga keseimbangan ditengah tiupan angin yang cukup kencang.

…………………………

“Yoona-ah…”

Rahang Donghae mengeras saat melihat adegan dimana Siwon hendak melakukan hal melecehkan pada Yoona. Ada perasaan sakit dan tidak rela. Donghae ingin sekali menghajar namja berbadan atletis itu sekarang juga ! Tapi terhalang saat Yoona terlebih dulu  menampar si brengsek itu dengan sangat keras. Donghae puas. Puas sekali.

Tidak cukup disitu.  Siwon naik pitam. Ia lantas melempar sebuah buku  lusuh hingga  benda itu tersangkut  di ujung ranting pohon. Pohon lebat yang cukup tinggi diatas mereka. Donghae bisa melihat betapa ketakutannya Yoona saat Siwon menggumamkan sesuatu disamping telinganya… Entah mengapa melihat ekspresi wajah Yoona yang seperti itu, membuat perasaan Donghae memanas. Siwon, sebenarnya dia itu siapa? Mantan Yoona?

Demi Dewa Dewi di angkasa, Itu sama sekali tidak penting !

Donghae mempertajam fokus pandangnya kearah Yoona. Yeoja itu kini beralih menatap buku bersampul coklat yang tersangkut diatas sana. Yoona mulai memanjat sebuah meja batu. Oh, tidak jangan bilang…

Yoona, apa yang dia lakukan ?!! Donghae terperanjat seketika saat Yeoja berkaca mata itu memanjat sebuah pohon. Ternyata, Dia benar – benar anak nakal. Persis seperti apa yang dikatakan Nyonya Im.

Meski nyaris mati ditempat karena adegan Yoona yang akan mencium Siwon barusan, Donghae secepatnnya berlari dengan tubuh yang masih bergetar kaku. Namja itu ikut menggapai sebuah ranting pada pohon tinggi berdaun lebat diatasnya.

Donghae mengarahkan fokus pandangnya pada yeoja yang tengah menggerak – gerakkan kakinya pada ujung ranting dimana sebuah buku coklat tersangkut. Donghae merasa hal itu cukup berbahaya mengingat angin kencang yang menyenggol ranting bisa saja membuat Yoona kehilangan keseimbangan. Bagaimana  pun Donghae tidak akan membiarkan Yeoja itu terluka sedikit pun.

Dengan tenaga penuh, Dongahe mempercepat pergerakannya dari satu ranting ke ranting lain menuju tempat Yoona berada. Yoona membulatkan mata terkejut saat melihat Donghae sudah berpegangan pada ranting disampingnya.

“Mau apa ?!” seru Yoona seperti kesal.

“Mundur ! Biar aku yang mengambilnya !” Seru Donghae tak kalah keras. Tanpa banyak basa basi lagi, Donghae mengendap perlahan menuju ujung ranting paling luar.

“Yak ! Kenapa kau bersikap seperti ini ?!” Yoona berteriak dengan mata ketakutan. Donghae tak menggubrisnya.

‘Krekkk…’ suara patahan ranting terdengar saat Yoona menggerak – gerakkan tubuhnya sambil menahan sakit.

“Yoona wae?!” sahut Donghae yang masih tertahan diujung ranting.

“Aduh… seperti ada yang menggigit.. awwwhh…” Yoona meringis. Donghae menengadah keatas, seketika itu juga raut wajahnya berubah semakin panik. Oh Tuhan ! Sarang semut dari kuncup dedaunan menggantung persis diatas kepala Yoona.

“Yoona pergi dari situ !” peringat Donghae

“Bagaimana dengan bukunya ?.. awhhss”

“Aku yang akan mengambilnya !” balas Dongahe sedikit geram. Namja itu ikut meringis saat dirasakannya gigitan perih pada pergelangan kakinya. Nampaknya semut – semut penjaga pohon sudah mulai terusik.

“Bagiamana dengan… Isshh…“

“Yoona, Turun!” sahut Donghae yang masih berusaha mennggapai ujung ranting.

“Bagimana… Bagaimana denganmu ?!”

“E-eoh?” Donghae mengalihkan tatapnnya kearah Yoona dengan pandangan tertegun. Bingung.

Ini nyata. Selama ini, Donghae menganganggap jika kepedulian Yoona hanya sebatas mimpi buram ditengah malam. Tapi detik ini, mungkin namja itu harus membuka mata,  sekejap saja untuk mendengarkan nada kekhawatiran Yoona akan dirinya.

‘Krekkk’ suara retakan ranting terdengar semakin tajam. Yoona sadar jika pergerakannya dalam mengusir semut – semut yang menjalari tubuhnya adalah penyebab itu semua. Yah, tentu saja jika Donghae bergerak – gerak seperti Yoona, namja itu sudah terjatuh sejak tadi, mengingat posisinya sekarang berada pada ranting terujung yang lebih strategis untuk terjatuh. Namun sepertinya Donghae sangat kebal dalam menahan gigitan semut. Omo !

Donghae kembali meraih buku coklat di ujung ranting. Namja itu berhasil menggapainya. Ia lantas menjatuhkan buku tersebut kebawah. Yoona bernafas lega.

‘Krek… krekk… krek…” Bukan hanya suara, kali ini ranting yang dipijaki Yoona benar –benar rapuh. Yoona menunduk, melihat ranting yang dipijakinya dalam keadaan nyaris patah. Yeoja itu hanya menatap pasrah dengan ketakutan yang teramat sangat. Beberapa detik ranting itu benar- benar patah dan…

“Yoona pegangan !” Donghae berusaha menarik tangan Yoona yang tengah bergelantungan pada ranting.

“Ummaa… hikzz…” tangis Yoona menatap kebawah.

Donghae berusaha menarik Yoona keatas. Hampir berhasil, namun apa daya ranting yang dipijaki Donghae pun mulai retak.

‘Krekkk…’

Donghae memekik, Yoona lebih dari itu tepat saat gaya gravitasi mulai menjalankan perannya. Yoona benar- benar tidak bisa membayangkan nasibnya besok jika saja… Ya Tuhan ! Haruskah ini diungkap juga? Jika saja tubuh Donghae tidak berada dibawahnya. Jika saja tubuh Lee Dongahe tidak mengalasi tubuh Im Yoona. Dapat dipastikan, Yeoja itu harus rela jika tubuh kurusnya berhantaman langsung dengan tanah keras di rerumputan kering.

“Mian…” Donghae berucap pelan.

Yoona diam saja. Yeoja itu mengerjap – erjapkan matanya seolah shok dengan apa yang berusan terjadi. Ia begitu serius menatap wajah namja yang berada dibawah tubuhnya. Bahkan gigitan semut yang masih menyerang, tak dirasakannya sama sekali. Adalah kali pertama, Yoona menatap wajah seorang namja sedekat ini.  Yoona perlahan mengamati wajah lelah itu…

“Kau itu…” tanggap Yoona namun sesuatu mencegahnya.

‘Krekk’

Donghae memutar badannya kesamping, berguling seraya memeluk tubuh Yoona erat. Namja itu melirik ketempat pertama kali mereka terjatuh. Baru saja susulan ranting berukuran sedang, terhempas kebawah. Donghae menarik nafas lega karena berhasil lolos dari timpaan benda berat itu. Namun tidak dengan Yoona. Yoona membelakakkan mata saat menatap Donghae yang kini posisinya berganti. Berada diatas tubuhnya… Apa lagi ini?

Terdengar himpitan nafas berkejaran yang menyapu wajahnya. Juga… sesuatu yang menakjubkan. Donghae menatap wajah Yoona se- intens ini. Sangat sulit bergerak. Tatapan Yoona seolah mengunci segalanya.

Seperti ada yang mendorong wajahnya, Donghae semakin memperpendek jarak tatapannya. Yoona memejamkan mata perlahan. Dan… seketika itu juga benda berwarna merah muda itu menyentuh bibirnya…

“Sudah kubilang jauhi aku !” Yoona mendorong tubuh Donghae yang berada diatasnya keras – keras. Yeoja itu lantas menggesek bibirnya yang sedikit basah. Memalukan !

Donghae beranjak bangkit mensejajarkan posisinya dengan Yoona. Yeoja itu bahkan tidak menolak ciuman tadi, sesuatu yang malah membuat Donghae semakin bingung dengan sikap Yoona, “Wae? Alasannya?” Tanyanya menatap serius.

“Kau mau tahu ?” Yoona menghela nafas. Ia kembali menatap sinis.

“Yoona –ah,” Donghae mengangkat alis penuh selidik, ” Kau, mempunyai dendam padaku?”

Yoona terkekeh kaku. Yeoja itu tidak menyangka jika Donghae mempunyai pikiran seperti itu. Pikiran yang mungkin saja tepat, “Aku sudah lelah melihat wajahmu ! Dengan sedikit kejujuran mungkin akan ampuh untuk mengusirmu.”

“Apa maksudmu ?” Donghae mengerutkan kening.

“Kau mau tahu, alasannya, huh? Kau mau tahu alasan aku seperti ini ?” Yoona tersenyum miris.

“Jangan bilang kau lupa…” sambungnya.

Yoona menatap Tajam. Yeoja itu perlahan membuka kaca matanya dengan kasar. Ia lantas membuka rambut panjang hitam lebat yang terjepit asal.  Secepatnya Yoona menggelengkan kepala, menggerai posisi rambutnya. Donghae menyipitkan mata. Angin yang bertiup dari arah berlawanan seolah menyorot sisi lain dari seorang Im Yoona.

Seketika itu juga, Donghae tertegun hebat, “Ba – Bagaimana mungkin?”

Flas back…

“Donghae Oppa, maukah kau menerima bunga ini ? Saranghae.“

“Iya, baiklah… Kau cantik, manis juga mendekati tipeku.. Okay…” Donghae tersenyum ala cassanova. Yeoja berdress merah ungu dihadapannya tersenyum senang. Ia bahkan nyaris melompat kegirangan dengan mata berkaca – kaca.

“Gomawo Oppa…” girang yeoja itu melebarkan kedua tangannya. Ia maju selangkah namun mendadak tercengang seketika.

“Aku ingin sekali berkata seperti itu tapi nyatanya aku tidak tertarik padamu. Carilah  namja diluar sana yang akan langsung menerima yeoja cantik sepertimu, sayang!”

 “Setidaknya kau tidak terlalu sial hari ini, Nona ! Selamat karena dirimu adalah yeoja pertama yang kutolak. Jeongmal Mianhae.” Donghae berkata seraya melenggang pergi.

Flash back end

“ Aku… Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Menjadi yeoja malang yang pertama kau tolak cintanya. Untuk pertama kalinya aku mencoba bersungguh – sungguh tapi apa yang aku dapat ? Dirimu mempermalukanku, kau tahu itu huh?!” ujar Yoona dengan nada tidak terima.

Tidak mungkin. Seperti kiamat akan menimpanya detik itu juga. Donghae membatu ditempat. Im Yoona yang selama ini dikenalnya, adalah…

“Yoona jangan bercanda !” ujar Donghae dengan suara bergetar.

Yoona menatap penuh raut menyangkal, “Bercanda ? Siapa yang membuat lelucon dalam masalah ini? Lihat ! Sekarang dengan penampilanku yang berantakan seperti biasa, kau bilang jika dirimu menyukaiku ? Kau tahu betapa susahnya si culun sepertiku  berdandan sejak pagi buta, hanya untuk apa? Menghadiri sebuah konser dan tampil cantik dihadapan orang yang dicintainya tapi apa yang kudapatkan setelahnya? Kosong !”

“Aku benci dirimu yang menerima cinta setiap yeoja yang datang ! Tapi denganku, denganku mengapa kau menolaknya ?! Tahukah dirimu betapa sakitnya itu? Seorang yeoja ditolak dihadapan  banyak orang dengan cara menyakitkan?!”

“Setidaknya jika kau tidak suka denganku, Kau tak perlu berbicara terang – terang didepan orang – orang yang ada disana. Kau bisa pura – pura menerimaku lalu mencampakanku dibelakang. Itu lebih baik ketinmbang aku harus menjadi bahan ejekan dan tertawaan karena ditolak olehmu. Bisakah dirimu sedikit memikirkan perasaan orang lain saat itu?!”

Donghae maju beberapa langkah mendekap tubuh lemah seorang yeoja rapuh. Yoona berontak  membuat Donghae  harus berusaha kuat mengeratkan dekapannya. Yoona menyerah disaat tenaganya menipis. pada akhirnya, Yeoja itu beralih memukul dada bidang Donghae tanpa henti.

“Mianhae.. Mianhae karena  saat itu aku tidak mengenalimu… Aku terlalu jatuh pada pesona seorang yeoja yang sering menghabiskan waktunya didalam perpustakaan. Aku bersalah karena mataku terlalu fokus padanya… Sampai lengah dengan sosok lain dibaliknya…”

“Kau jahat… Donghae Oppa… Kenapa aku bisa jatuh cinta kepada orang sepertimu ?” lirih Yoona lemah.

Leher Donghae tercekat menyadari kenyataan yang menimpanya sekarang. Namja itu sulit mengatakan apa pun. Andai Lidahnya saat ini setajam biasanya, andai lidahnya saat ini tidak sekaku sekarang, Donghae ingin sekali mengatakan jika dirinya tidak bermaksud sama sekali mengatakan kalimat penolakan pada Yoona.

Sungguh, karena Donghae hanya ingin memberi gambaran menakutkan kepada para yeoja  yang akan menyatakan cinta dikemudian hari. Ingin memberi gambaran tentang perasaan sakit mendalam karena di tolak oleh namja brengsek sepertinya. Setelah itu tidak akan ada lagi yeoja yang melakukan hal yang sama…

Donghae seperti itu Demi Yoona.

Donghae seperti ini Karena Yoona.

Sebegitu mirisnya kah ? Hanya ingin memperlihatkan pada penghuni alam semesta bahwa betapa kerasnya tekad seorang Lee Dong Hae untuk merasakan cinta kasih yang wajar…

“Mianhae Yoong… Mian… ”

Yoona semakin terlarut dalam isakannya. Masa bodoh dengan orang – orang yang tengah menatap aneh kearah mereka.

“Kau itu namja terjahat di muka bumi ini yang terlalu rajin mengusik kehidupanku … “

Donghae mengelus puncak kepala Yoona  dengan tangan bergetar, “Lalu…” bisiknya menarik nafas dalam, “Bisakah sekali saja kau tersenyum padaku ? Setidaknya untuk mengurangi aura jahat yang bersemayam dalam tubuhku… Dan aku akan berusaha membahagiakanmu…”

“Tersenyum ? Tidak…”  Yoona berdesis lemah, “Aku tidak janji !”

Yoona melepaskan dekapannya. Yeoja itu menunduk pasrah. Dengan keikhlasan yang menggila, Yoona berusaha menarik kedua titik pada lekukan bibirnya untuk… menyunggingkan seulas senyum.  Setidaknya Ia bisa belajar. Belajar memperlihatkan segores senyum pada seorang namja yang akan berusaha memperkenalkan wujud dari lukisan kebahagian. Hanya Untuknya…

Donghae balas tersenyum dengan seuntas torehan hati dalam benak ketulusannya…

‘Yoona mianhae jika kehadiranku menganggumu, aku tidak mampu memberikanmu  sesuatu yang lebih dari pada memberikanmu rasa yang akan menjadikan dirimu satu – satunya dan berusaha menjadikan diriku menjadi sebaik – baiknya namja yang akan melindungimu. aku tahu yang kau butuhkan. Perasaan dicintai, dan aku memilih untuk, mencintaimu.’ —— Lee Dong Hae

“Pada akhirnya Aku pun mengerti, setitik hal mengenai dirimu yang sesungguhnya.”

……………The End………

Alhamdulillah Hyaaa, akhirnya FF Ini bisa terselesaikan ^___^

Ini adalah FF Oneshoot pertama aku, setelah sebelumnya buat chapter mulu kkk.

Rencananya sih  mau buat FF lagi tapi bingung castnya siapa. Mau pake cast SuGen lain atau yang cast nya YoonHae  lagi apa Yachh ? Eummm masih galau sih hehe. Enaknya siapa coba?

Ok reader sekalian, segitu dulu aja kali ya…

Ditunggu pesan dan kesan, kritik maupun sarannya…

Bye – bye ^_________________^

~Nasha~

70 thoughts on “[Oneshoot] FF YoonHae – Eccentric Girl of You

  1. inggridAnjani berkata:

    Keren thor asli! Alur ceritanya menarik banget, baru nemu yg begini. Keren, pengennya sih ada sequel :p

  2. hikari berkata:

    Keren Na🙂 semuanya terasa, rasa sakit, kecewa, jatuh cinta, bahagia dan juga rasa-rasa yang lain. Two Thumbs untuk Na🙂
    Tenang, gak sampai mual-mual dan muntah kok baca gombalnya Donghae🙂
    Keep Writing ya Na🙂
    Thank You🙂

  3. hikari berkata:

    Keren Na🙂 semuanya terasa, rasa sakit, kecewa, jatuh cinta, bahagia dan juga rasa-rasa yang lain. Two Thumbs untuk Na🙂
    Tenang, gak sampai mual-mual dan muntah kok baca gombalnya Donghae🙂
    Keep Writing ya Na🙂
    Thank You🙂

  4. Charolita Ita berkata:

    Good Job thor🙂 ^^
    Gk nyangka org yg ditolak Donghae itu Yoong…
    Bkin ff yoonhae yg bnyak ya thor~ Gomawo~

  5. im pizza berkata:

    wahh…gx nyangka,q kira yg d tolak wktu it yuri..nytany yoona,daebak bnget bsa bkin aq gx sdar kek gni..tp sngguh ffny nyris buat aq trkesima..bkin OS yoonhae lg donk ^~^

  6. sintayoonhae berkata:

    OMG DAEBAK…. gk nyangka loh klw gadis tu trnyata yoona,,, bagus bgt thor… gombalan’a bgus bgt kok thor puitis bgt hahaha,,,,, bkin lgi ff yoonhae lgi ya thor biar bnyk #readermaksa… YH IS REAL😀

  7. Santi PyrotecnicsElfYoonhaesuju berkata:

    Annyeong thor ku readers bru,,🙂

    ff’y kren v ada sdkit kslhan thor seperti “donghae v di tls dongahae” “sepertimu jdi seortimu” v kslurhan ff ini bnr” bgs thor,,🙂
    bkn yg bnyak ff YH’y ne thor,,🙂

  8. Yoonhae shipper (rhiana) berkata:

    Puuuaaas puaaas puasss bca nie ff,,
    bnar2 kren thor,,
    klo mw buat ff yoonhae ajja yg jd cast ny truz di tmbh sugen couple lain ny!!hee

  9. Emaesa berkata:

    Awal crita aku sdikit ga ngrti😦 tpi mulae pertengahan aku baru ngrti … Hehehe

    Setelah dipahami dn di baca bner” ternyata crita’y keren🙂

  10. yoonflower berkata:

    please YOONHAE lg dong….

    keren… seru… kalo FF nya YOONHAE lg… bakal sering aq baca…. kekekke…. no Yoonhae, no reading… kekeke…

    YOONHAE YES… READING YES…

  11. vhya pyrotechnic berkata:

    Daebak thor.
    ffnya keren banget.
    Masa Hae oppa gg bisa ngenalin Yoona eonnie. Padahal yoona eonnie walaupun culun atau gg kan tetap cantik.
    iyakan donghae oppa?#colekdaguHaeoppa

    bikin ff yoonhae lagi ne thor.
    Fighting

  12. Yoonhae berkata:

    Bagusss author tpi YoonHae momentnya kurang, heheh. Kalo mau buat ff cast’nya YoonHae lagi aja tpi nanti yang jadi pemeran antagonisnya jgn dari member snsd ya thor. Makasih

    • nanashafiyah berkata:

      kurangkah ? Hmm mungkin ini oneshoot kali yah , jadinya aku nyingkat ceritanya langsung ke inti masalah..
      Okey, requestnya di tampung… Masalah peran antagonis, mungkn aku sbnarnya ga sreg aja kalo make pemeran dr non sugen.. Hehe
      tp gpp ntar aku usahain yah🙂
      makasih udh baca + komen

  13. Haenafa_Lee berkata:

    Simpel, tapi kereenn..
    Gak nyangka, ternyata gadis yang ngasih bunga itu Yoona.
    Ditunggu, FF YoonHae selanjutnyaa.. ^^

  14. Aamel yeoja Kpopers SonElf berkata:

    keren buangetttt………..thor…..
    tapi,wonppa kisahnya gimana?trus kok gk di jelasin thor tentang masa lalu yoona sama wonppa……..nae penasaran thor…..
    oh iya,kalau bisa di buar squel ya…..
    sekian aja……….gomawo…..:D

  15. Nur khayati berkata:

    Apa yg d maksud E0mma.a Y00na mantan.a Y00na & anak buah.a itu Siw0n??
    Kasian Y00na, jd ye0ja prtama yg d t0lak D0nghae d depan umum., Pdhal D0nghae n0lak ‘Y00na’ ye0ja cantik yg bilang cinta ke dia, krna trtarik sama ‘Y00na’ si ye0ja culun,.
    Kirain Y00na bakal n0lak D0nghae, trnyata akhir.a d terima.,.
    Keep writing bikin FF Y00nHae lg Chingu.,^^

  16. RachelYH berkata:

    Woah keren kak!
    Gak nyangka kalau yeoja cantik dan manis yg ditolak sma Donghae oppa itu Yoona eonni!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s