SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 2)

Image

Title : Rose for Love

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nasha

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : SNSD  Tiffany, Super Junior Yesung

Other Cast : SNSD Sunny, Jessica, Yuri, Taeyeon,  Super Junior Sungmin, Leeteuk

Aniyong !  Kali ini aku membawa lanjutan dari fanfic YeFany

Langsung aja yah hehe

3… 2…. 1…

Cekidot…

Malam yang kelam ditengah suasana yang menggundah.  Malam tanpa bulan, tanpa bintang dan sunyi. Dari jendela kamar lantai dua yang terbuka, Tiffany masih terpaku, tersungkup melipat kedua  tangannya diatas meja belajar.  Ia terus menatap  setangkai  mawar yang diletakkannya didalam gelas yang berisi air.  Dipandangnya  bunga itu dalam waktu yang lama. Indah.

Mawar pertama dari seorang namja. Cinta sejati? Itu hanya mitos bukan? Tiffany menolak mempercayai hal ini ! Ia bisa menerima jika yang memberikan bunga itu ialah  seorang wajangnim ganteng dan baik hati. Tapi ini? Seorang namja menyebalkan dengan sikapnya yang sok. Siapa pun katakan ! Yeoja manis seperti Tiffany sangat mustahil  akan mempunyai cinta sejati berupa namja jadi – jadian begitu, kan?

Aneh. Semakin dalam pikirannya melupakan namja itu, semakin dalam pula memori dalam benaknya untuk mengingat sosok menyebalkan itu. Tiffany terlalu paranoid menghadapi mitos, bukan? Ia sadar akan itu tapi  masalahnya  yang mengatakan cerita tentang mawar tersebut ialah Halmoninya sendiri ! Tiffany sangat mempercayai Halmoninya.  Lebih menguatkan lagi bahwa ternyata pengalaman itu terjadi sendiri pada halmoninya.

“Yoboseyo, Halmoni.” Sapa Tiffany ditelepon. Yeoja itu akhirnya menelpon sang halmoni.

“Yoboseyo, Fany… Aigooo kenapa tengah malam begini menelpon nenek !” Suara Halmoni Hwang terdengar meracau. Wajar karena sekarang waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam.

“Mianhae halmoni, hanya ada sesuatu yang mengangguku…” ucap Tiffany pelan hendak mengeluarkan isi hatinya.

“Wae? Apa yang menganggu  cucuku yang cantik ini ?”

“Begini, apa halmoni ingat tentang cerita Halmoni tentang mawar pertama dari seorang namja ?”

“Nde? Wae ? Apa jangan – jangan kau sudah bertemu dengannya? Dia memberimu bunga mawar?” Halmoni Hwang terdengar antusias.

Tiffany menghela nafas, “Iya Halmoni dan ternyata dia menyebalkan ! Dia itu sok bintang !”

“Eitss jangan berkata begitu ! Apa kau sudah lama mengenalnya ? Apa kau sudah tahu sifat namja itu sebenarnya ?!”

“Tidak perlu tahu lebih dalam ! Melihat wajahnya sekilas saja… Ya ampun !”

Halmoni kedengaran menarik nafas, “Menurutmu apa yang membuatnya bersikap menyebalkan?”

Tiffany menunjukkan raut berpikir keras, “Mungkin penyebabnya adalah Pembawaan ?” terkanya masih berpikir, “Atau kutukan?”

“Hushhh”  Timpal halmoni sedikit kaget, “Dari mana kau tahu tentang kutukan segala?”

Pipi Tiffany menggembung, “Lalu apa?”

“Tiffany dengarkan halmoni !” ucapnya pelan lalu melanjutkan, “Seseorang lahir dalam keadaan bersih dan suci jadi, tidak mungkin ada kutukan atau sifat buruk karena pembawaan sejak lahir, apa kau mengerti?”

“Nde halmoni ! Aku mengerti !”

“Bagus,  Jadi sekarang buang pikiran – pikiran negative itu lalu cepat istirahat !  Besok kau harus sekolah kan?” Nasehat Halmoni.

“Ne Halmoni, Gomawo.”

Tiffany menghela nafas. Fokus matanya masih tertuju pada setangkai mawar yang terendam dalam gelas  diatas meja belajar.  Mawar dari seorang namja yang menurutnya menyebalkan.  Mungkin benar  apa yang dikatakan Halmoninya. Tiffany belum mengenalnya.  Tapi bukankah kesan pertama  saat mengenal seseorang itu penting ? Kesan pertama yang buruk pertanda jika  kedepannya pun akan buruk.  Bahkan lebih.

……………………

Istirahat pertama tiba. Disaat para siswa – siswi termasuk kedua sahabatnya Yuri dan Jessica berbondong – bonding menuju kantin,  Tiffany  malah sibuk dengan kegiatan organisasi. Ia begitu sibuk mengabsen siswa – siswi yang baru saja bergabung dalam organisasi The Voice of SM.  Yeoja berkulit putih itu juga harus mempersiapkan alat dan bahan sebagai syarat terselenggaranya latihan seusai pulang sekolah nanti.

Tiffany berdiri mengawasi kegiatan sesekali menganalisa sebuah buku berisikan untaian lagu ditangannya.    Yeoja itu tampak sangat serius.   Hingga lengah dengan seseorang yang sejak tadi berdiri dihadapannya.

“Permisi, bolehkah aku berbicara sesuatu ?” Suara serak – serak basah itu membuat Tiffany sontak mendelik. Entah mengapa telinganya terasa  gatal saat mendengar suara itu.

Tiffany menatap datar namja dihadapannya, “Apa ? Katakanlah, Kim Yesung –ssi.” Ucap Tiffany kembali sibuk membaca buku lagunya.

“Ini soal ucapanku yang kemarin…” Yesung berucap pelan.

“Ucapan ? ucapan apa ? Dibagian mana yang kau maksud ?” Tiffany berbicara seraya focus membalik halaman pada bukunya. Sesekali Ia mengerutkan kening saat membaca materi yang belum dipahaminya.

Wajah Yesung menampakkan raut gelisah, “Kemarin saat kau merebut mawar yang akan kuberikan untuk Sunny ! Ternyata dia sudah punya namjachingu… Aku mengataimu aneh dan norak, mian !”

Terdiam. Hanya respon hampa yang Tiffany tunjukkan. Entah yeoja itu             mendengarkan permohonan maaf tadi atau sengaja    menulikan  pendengaran. Yang jelas, sekarang  Tiffany masih tampak sibuk dengan dunianya sendiri.  Pandangannya hanya terfokus pada objek berupa sebuah buku lagu yang  tengah dibacanya.  Yeoja itu seperti tengah kehilangan selera untuk berbicara dengan Yesung barang sepatah   kata pun.   Ia mengacuhkan namja dihadapannya.   Namja itu lantas menatap jengkel.

Mata Tiffany terbelakak lebar ketika  tangan Yesung  tiba – tiba saja menarik buku yang tengah serius dibacanya, “Yak ! Apa yang kau lakukan Yesung-ssi?”

Yesung menutup buku tebal bersampul merah itu cepat, “Aku sedang berbicara denganmu ! Jangan berlagak seperti anak autis !”

Tiffany menatap tak percaya, “Kau kesini mau minta maaf atau menghinaku ?” tanya-nya penuh penekanan menatap kesal dalam diam.

Yesung diam saja dan balas menatap dalam diam. Namja itu lantas membiarkan Tiffany menyahutinya kembali, “Saat aku berbicara, apakah kau pernah mendengarku dengan serius ?! Tidak ! Tidak karena kau menganggap semua  ucapanku  itu tidak  penting dan hanya membuang – buang waktumu dan sekarang ? Kau meminta padaku untuk didengarkan? Ya Ampun… Apakah  seorang Kim Yesung-ssi  hanya mau dihormati tanpa harus menghormati ?”

Hening. Yesung masih menatap dalam diam. Terdiam mencerna pernyataan yeoja dihadapannya.  Pernyataan yang membuat namja itu menyadari bagaimana anggapan Tiffany selama ini tentanganya.

Sebisa mungkin Tiffany hendak merebut buku nada itu dari acungan tangan Yesung.   Namun sayang, Ia gagal.  Namja itu lebih tinggi beberapa centi darinya. Sial !

“Berikan buku itu !” geram Tiffany sedikit  melompat- lompat hendak meraih buku dari tangan namja dihadapannya.

“Jawab dulu pertanyaanku !”

Tiffany menatap heran bercampur kesal, “Pertanyaan apa?”

“Jangan pura – pura lupa !” ujar Yesung menatap dalam, “Aku ingin minta maaf ! Ucapanku yang  tadi itu jelas kan?!”

Belum sempat Tiffany mengucapkan sesuatu, Namja itu tiba-tiba saja menimpali, “Ku anggap kali ini berbicara denganmu adalah hal terpenting ! hingga aku rela meluangkan waktuku yang berharga ini hanya untuk mengucapkan kata mianhe, cukup?” ucap Yesung sudah jengah berlama – lama.

“Mwo?” Pekik Tiffany kesal. Tuhan ! Namja itu menganggap seolah dirinya, Tiffany sedang mengemis  untuk meminta diperhatikan. Ini gila  !

“Aku tidak butuh waktu-mu yang berharga !  Jadi tak perlu repot – repot…”  Tiffany menghentikan kalimatnya. Ia sepertinya tertegun secara tiba- tiba.  Tanpa berkedip sedikit pun Tiffany menatap sendu kearah pintu. Matanya mulai memerah dan cairan bening itu menetes perlahan.

Ekspresinya berubah.  Ada nuansa kesedihan yang menghampiri raut wajah Tiffany yang tadinya kesal. Yesung sangat sadar itu. Ia segera berbalik badan mengikuti arah       pandang   Tiffany,  kearah pintu.  Seketika juga namja itu  mengerutkan kening lekat. Sunny?

Sunny bersama seorang namja. Bersama namjachingunya, sedang saling menautkan lengan seolah mengisyaratkan ‘Dia adalah milikku.’ Yesung merasa  seperti dunia akan runtuh. Didetik itu pula  Ia merasa jika hubungan persahabatannya dengan Sunny terselamatkan. Setidaknya  rasa canggung  diantara  keduanya urung menyapa.  Tentu   saja karena perasaan cinta itu batal menguak.

Sekali lagi Yesung mengalihkan pandangannya kearah Tiffany. Tampak wajah yeoja itu memerah menahan tangis. Tiffany menundukkan wajah saat suara Sungmin terdengar menyapa.

“Tiffany – ssi, jadi dia orang yang kau maksud ?” ucap Sungmin melihat kearah namja dihadapannya.

Yesung mendelik bingung, “Mwo ?”

Apa Tiffany mengadu pada semua orang tentang kekesalannya ?

Terdiam.  Tampak Tiffany tertunduk nyaris terisak.   Air matanya menetes sedikit demi sedikit.   Wajahnya semakin memerah  Yesung memperkirakan jika sedikit lagi yeoja itu akan menangis sesanggukan.

Mata   Tiffany  terbelakak   sempurna  saat   merasakan   tarikan ditangannya. Yeoja itu merasa seperti tengah berada dalam dekapan seseorang.  Tiffany bisa menebak siapa orang itu.    Seseorang yang bersedia  melangkah terburu – buru bersama dirinya yang masih menundukkan wajah penuh kesedihan.  Masa bodoh tentang kemana    seseorang   itu  akan membawanya.  Entahlah, hatinya benar – benar remuk hingga akal sehatnya  enggan bekerja.

Bisikan  para siswa – siswi  mulai terdengar.  Tiffany mengacuhkannya. Ia masih sibuk menunduk melewati jalan kodidor sekolah yang panjang.  Mengikuti kemana langkah    namja yang tengah mendekapnya itu menuju.

Tahu apa suara – suara itu tentang perasaannya?  Mereka hanya mengenal Tiffany yang ceria dan penuh percaya diri, kan ?  Bukan seorang Tiffany yang gampang rapuh hanya karena cintanya pada seorang namja bertepuk sebelah tangan…

……………….

Kerikil – kerikil kecil terasa tertindas dibawah sepatunya. Tiffany berjalan hati – hati  dengan langkah perlahan.  Sesekali Ia mengibaskan rambutnya yang tertiup angin sepoi.   Kemudian kembali berjalan menuruni sebuah bukit kecil.  Bukit kecil berisi tanah kering dengan     pasir – pasir yang siap merosot kapan saja. Ada banyak ketakutan saat melewatinya. Sedikit berkurang saat namja itu, Yesung mengulurkan tangannya  kearah Tiffany.

Tiffany memandang  uluran tangan itu. Beberapa detik berlalu dan yeoja itu berhasil menggapainya. Menggapai dan menggenggam erat seraya berjalan melewati rumput – rumput liar,  dahan pohon,  dedaunan kering  juga bunga – bunga yang tersebar di  area perbukitan.    Hingga mereka sampai disebuah  tempat perpijakan dataran tinggi.

Yesung mendudukkan tubuhnya diatas rerumputan bukit yang didepannya terhempas pemandangan alam,  termasuk sekolah mereka. SM Senior High School.  Namja itu menatap Tiffany yang masih dibelakangnya.

“Kenapa masih berdiri ?” tanyanya memacah keheningan alam.

Tiffany menyeka air matanya yang belum juga berhenti mengalir.   Ia berjalan lemas dan   ikut mendudukkan tubuhnya disamping Yesung.

“Ini dimana?” Tanya Tiffany menahan isakaan.

“Di bukit belakang sekolah,” Jawab Yesung santai hendak melanjutkan, “Pasti kau baru pertama kali kes…”

“HUAAA… Hikzz….  Hikzz…. Apa dia tidak bisa membaca pikiranku ? Apa sikapku selama ini belum cukup untuk  menunjukkan sebuah rasa  padanya ? HUH?”  Teriak Tiffany tiba- tiba membuat burung – burung yang beristirahat di atas pepohonan terbang menjauh.

Yesung  menatap bingung dengan maksud dari ucapan yeoja yang tengah terisak disampingnya.    Ternyata selain banyak bicara, yeoja itu juga cengeng sekali.  Tunggu ! Tapi kenapa Ia menangis ? Karena namja tadi, mungkin ! Yesung sangat ingat       perubahan drastis dari ekspresi Tiffany saat namja itu mendekat. Namja yang tengah bergandengan dengan Sunny. Lalu apakah?

“Sungmin Oppa ! Kenapa kau jadian dengan yeoja itu ! Kenapa tidak denganku saja ? Hikz…” Tiffany mengeluarkan isi hatinya begitu dramatis. Ia menarik nafas sesak dan melanjutkan, “Aku sudah menyukaimu sejak masa orientasi ! Aku bahkan rela masuk organisasi menyanyi The Voice agar bisa bertemu denganmu !  Dan sekarang, setelah harapan palsu yang kau berikan itu… Kau malah jadian dengan yeoja lain…. Seharusnya kau membenciku dari dulu dan bukan bersikap lembut padaku… bukan bersikap perhatian seolah kau juga menyukaiku !   Apa kau dengar, Oppa… hikz… huaaaa.”

Sekilas cerita yeoja yang masih terisak itu terdengar klise.  Benar dugaannya, para yeoja memang senang melebih – lebihkan sesuatu. Yesung hanya diam terpaku mendengar alur cerita tentang sepenggal kisah cinta Tiffany. Mengatakan sesuatu sangat percuma dalam situasi seperti ini. Terlalu malas.

Yesung mengulurkan tangan  kearah yeoja disampingnya, hendak memberikan selembar sapu tangan biru muda. Tiffany menatap sapu tangan tersebut cukup lama.  Hingga cairan bening itu kembali menetes. Sontak  Ia cepat – cepat  meraih sapu tangan milik namja itu yang masih terulur dihadapannya.

Hmmrrrtttt… Semprotan lendir berhasil memenuhi sebuah sapu tangan biru. Yesung menatap geli saat Tiffany tanpa henti membilas hidungnya dengan sapu tangan biru yang Ia berikan.  Yeoja macam apa dia ? Tidakkah Ia malu mengingat seorang namja tengah memperhatikan kelakuan menjijikkan itu?

“Kenapa melihatku seperti itu ?” Timpal Tiffany saat merasa diperhatikan dengan begitu intens oleh namja disampingnya, “Yah aku memang jorok ! Wae? Aku akan mengganti sapu tangan ini dengan yang baru ! Tenanglah !”

Kembali menatap pemandangan dihadapanya. Pandangan Yesung beralih kesana, “Sudah ! sapu tangan itu untukmu saja, aku masih punya banyak !”

Beberapa menit waktu berselang. Suasana hening masih bertabur disana. Tiffany sibuk menerawang kejadian masa lampau. Ia sadar betul betapa dirinya masih menyukai Sungmin !  Hingga detik ini. Lagi – lagi Tiffany menunduk menyadari perasaan itu. Ia melirik sedikit namja disampingnya yang masih terpaku menatap pemandangan alam.  Namja itu melakukan banyak hal hari ini untuknya.

“Gomawo sapu tanganmu… juga mawar kemarin.” Ujar Tiffany memecah kesunyian.

Yesung mengerutkan kening, “Mawar ? Mawar yang mana ?” Namja itu menampakkan raut berpikir keras. Tak lama Ia pun tersadar, “Oh jangan jangan… Tiffany –ssi  jangan bilang kau mengambil mawar itu. Bunga yang sudah kubuang ke tong sampah !”

“Annyoo, Kau yang bilang akan memberikan mawar itu  padaku kan? Kenapa malah seenaknya dibuang ?!  Mawar  Bunga yang indah, kenapa harus disia-siakan ?!” Balas Tiffany tak terima.

“Jeongmall?” Yesung memasang raut kekagetan yang dibuat – buat.  Tiffany mengerucutkan bibir. Ia sedikit malu mengakui ini.

Namja itu kemudian menggingit bibir bawah mengingat sesuatu, “Ah iya ! Mereka memang indah.  Aku sering melewati kebun mawar saat pulang sekolah ! Sang pemilik mungkin merawatnya dengan baik…”

Kebun mawar ? Tiffany sama sekali belum mendapati kebun mawar di sekitar lingkungan perumahan kota. Mungkin namja itu sedang berhayal, “Dimana kau melihatnya ?”

“Didekat perempatan Song Woo, disana terdapat kebun dengan pagar putih. Disudut kebun itu juga terdapat pohon cemara dan sepasang ayunan !” Yesung mengingat.

Tiffany tertegun. Pagar putih, cemara dan sepasang ayunan dan jalan itu…” Itu bukan kebun tahu ! Itu rumahku !” geram Tiffany melipat kedua tangannya didada.

Sedikit tergelak, Yesung berucap, “Oh itu rumahmu… jadi kau itu pencinta bunga mawar ruapanya?”

“Menurutmu?” Sinis Tiffany sebal saat namja itu menertawainya.

“Menurutku? Tiffany itu  tak lain adalah yeoja cengeng pencinta bunga mawar yang rela masuk organisasi The Voice SM karena seorang namja bernama Sungmin.”

“Dan kau sendiri, kenapa menolak ?” Timpal Tiffany cepat.

Yesung mengghela nafas, “Aku tidak suka keramaian. Aku lebih suka melakukan hal yang menyenangkan ditempat seperti ini. Tempat yang tenang dan damai.  Ada rasa dimana setiap helai Kedaimaian akan membawamu menuju penjiwaan musik yang lebih alami.”

Taka ada jawaban. Tiffany hanya membisu.  Ia melirik pelan namja disampingnya  yang tampak tengah merasakan hambusan sepoi angin itu dari samping. Menjiwai kedamaian. Yah, Setiap orang mempunyai caranya masing – masing untuk mencapai tujuan.

Ringtone lagu ‘Fun’ dari girls generation terdengar memecah keheningan. Tiffany segera merogoh saku almamater abu – abu tua yang Ia kenakan.  Ditatapnya layar sebuah hanphone touch screen, ‘Yuri?’

“Yoboseyo.” Sapa Tiffany pelan.

“Kau dimana? Sekarang kan jam pelajaran Taeyeon Sosaengnim !”

“Mwoo?” pekik Tiffany seraya melihat jam tangannya, “Ya Tuhan, jadi ini sudah jam…”

“Cepatlah Tiffany-ya…”

“Nde… nde…”

Buru – buru Tiffany menutup sebuah panggilan. Ia kemudian menatap namja disampingnya, “Kurasa aku harus pergi !”

“Pergilah ! Tapi aku yakin jika kau pasti sudah lupa jalan kembali ke sekolah, bukan?” balasnya enteng.

“Yak ! Kau mau mengerjaiku ?”

“Hei, Jangan berpikiran buruk dulu…”

……………………

“Min Hyuk Lee.”

“Nde Sosangnim.” Sahut seorang namja mengangkat tangannya.

“Mi Young Hwang.” Panggil Sosangnim dengan name tag bertuliskan Kim Tae Yeon. Sosangnim bermata sipit dan berbibir tipis itu menyapukan pandangan kearah jejeran  siswa – siswi dihadapannya, “Mi Young… Tiffany…” ulangnya sekali lagi.

Taeyeon Sosaengnim menghela nafas seraya melihat buku absen yang dipegangnya kembali, “Myu…”

“Nde Sosaengnim.” Sahutan suara dengan nafas berkejaran terdengar dari arah pintu. Pandangan para siswa – siswi beralih menuju kearah pintu. Tampak seorang Yeoja tengah memegangi dadanya yang kembang-kempis. Keringatnya bercucuran serta rambut yang tertata abstrak. Ia tersenyum ramah kemudian mulai melangkah masuk. Perlahan Ia membungkuk menyesal, “Mianhae Sosaengnim.”

Taeyeon Sosaengnim memandang heran, “Dari mana saja, Tiffany-ssi?”

“Dari.. Errr.. Kamar mandi… mmm iya.” Jawab Tiffany gelagapan.

“Ya sudah Silahkan duduk !” perintah Taeyeon Sosaengnim dengan wajah juteknya. Tiffany menghela nafas panjang jemudian berbalik.

“Tunggu !” sanggah Taeyeon Sosaengnim tiba-tiba.

Agak takut-takut, Tiffany menoleh perlahan. “Nde?”

“Setelah pelajaran ini, aku ingin berbicara denganmu !”

“Oh baiklah Sosaengnim.” Tiffany sedikit menunduk kemudian kembali berbalik menuju bangkunya.

Dengan hati – hati Tiffany duduk dibangkunya. Yeoja itu mengaduk tas selempang diatas meja kemudian mengeluarkan sebuah buku paket kesenian serta buku catatan bersampul ungu. Ia mulai memperhatikan  Taeyeon Sosaengnim yang tengah bercuap-cuap didepan kelas. Menjelaskan tentang alat music tradisional dari korea. Biasanya Penjelasan tentang materi tersebut cukup menarik perhatian Tiffany namun   kini,  Penjelasan itu terasa biasa – biasa saja. Mungkin karena Ia merasa ada yang lebih menarik dari itu. Materi yang lebih menarik untuk dibahas dalam benaknya, Yaitu materi tentang ‘Mistery Cinta’ terdengar menggelikan, Sumpah !

“Hush… Fany-ah..” bisik teman sebangkunya Jessica. Tiffany menoleh sedikit seraya memopang kepalanya. Ia lantas mengangkat alis.

“Kau kemana saja ?” sambungnya.

“Nanti kuceritakan.” Jawab Tiffany masih berbisik. Sesekali Ia mencatat materi dipapan tulis.

“Matamu sembab ! Kau habis menangis?” Tanya Jessica kembali. Tiffany hanya mengidikkan bahu.

Jessica memajukan wajahnya ingin tahu, “Kudengar dari Sungmin, katanya kau tadi pergi dengan seorang namja. Siapa dia?”

Tiffany tersenyum menyipitkan mata, “Rahasia !”

“Yak !!!”

“Jessica-ssi, Tiffany-ssi ! Jika ingin mengobrol silahkan keluar !”  seru Taeyeon Sosaengnim dari depan kelas. Kedua siswi itu terpaksa bungkam.

….……………….

Seorang Sosaengnim membetulkan kaca mata minus-nya. Buku – buku yang berserakan mulai ditata rapih setelah jam pelajaran beakhir. Taeyeon Sosaengnim menghela nafas kemudian memandang seorang siswi yang tengah duduk dihadapannya.

“Tiffany-ssi, kau sudah berhasil merekrut pemenang kompetisi.” Tanya Taeyeon Sosaengnim.

“Mianhae, pemenang kompetisi itu menolak masuk. Jadi aku tidak bisa memasksa.” Jawab Tiffany memejamkan matanya. Yeoja itu takut  jika Sosaengnimnya akan marah. Dan benar ! Terdengar suara tepukan meja yang cukup keras. Tiffany tersontak.

“Fany-ssi, tidak bisakah kau memirkan sebuah cara ?” Tegas Sosaengnim menatap tajam.

“Mianhe Sosaengnim, pemenang itu katanya tidak suka berorganisasi. Ia ingin mencari kedamaian !” jelas Tiffany dengan nada bergetar.

Taeyeon Sosaengnim kembali menghela nafas. Wajahnya memancarkan raut kekecewaan. Hal yang membuat rasa bersalah dalam diri Tiffany semakin menjadi.

“Oke.. Aku harus menerima ini, aku sudah menduga kemungkinan itu ! Jadi, Untuk melihat dan mengembangkan bakat dan kemampuan vocal siswa – siswi oraganisasi The Voice, Aku akan mengadakan kompetisi menyanyi sesama anggota organisasi, atau bisa dikatakan kompetisi dalam lingkup organisasi.”

Tiffany mendelik, “Kompetisi ? kapan ?”

“Minggu depan ! Kuharap kau bisa ikut dan jurinya adalah aku sendiri !” pungkas Taeyeon Sosaengnim.

“Aku pasti akan ikut Sosaengnim !”

“Dan kuharap kau  akan memberitahu pengumuman ini pada teman – temanmu dalam organisasi. Dan satu lagi !” ucapnya menjeda kemudian menyambung dengan suara pelan setengah berbisik, “Kau bisa membujuk pemenang itu sekali lagi kan?”

Tiffany membulatkan mata, “Mwo? Ah, nde ! Tapi aku tidak bisa menjamin apakah akan berhasil !”

“Ya sudah ! yang penting coba dulu ! Aku sangat berharap akan hal itu.”

“Nde…” Jawab Tiffany ragu. Membujuk pemenang itu lagi ? Bagaimana caranya?

………………

Usai turun dari mobil jemputan Han Ahjussi, Tiffany berjalan pelan menuju pagar besi rumahnya. Dibukanya sebuah pintu pagar kemudian  mulai melangkah masuk. Yeoja itu melirik sebentar kedua  temannya, Yuri dan Jessica. Mereka masih sibuk mengamati tanaman bunga mawar yang tumbuh  lebat memadati pekarangan rumah minimalis bertingkat dua itu.

Langkah Tiffany terhenti didepan pintu masuk rumah. Ia menunduk saat kakinya terasa menendang sesuatu. Setangkai bunga mawar. Benda yang membuat kening yeoja itu berkerut.

“Masih banyak namja di dunia ini ! Apa perlu kucarikan satu untukmu ?”

Tiffany terus menatap tulisan diatas kertas biru muda yang tergantung bersamaan dengan setangkai mawar merah. Lucu?

“Aishhh…”

Entah apa yang terjadi sebuah senyum merekah begitu saja. Buru – buru Tiffany memasukkan bunga mawar itu kedalam tas selempangnya. Perasaan cemas menghampiri hati yeoja itu saat Yuri dan Jessica terlihat tengah berjalan menuju depan pintu, tempat dimana Ia berpijak sekarang. Kedua temannya itu pasti akan kesal  jika tahu tentang dirinya yang menerima dengan senang hati bunga mawar pemberian dari Yesung. Namja aneh super menyebalkan yang diceritakannya pada mereka.

“Annyeong ! Berapa lama kita harus berdiri disini ?” tanya Jessica agak menyindir. Tiffany tersentak dari lamunannya kemudian buru – buru membukakan pintu. “Ne…”

Pintu terbuka. Terlihat ruangan serba putih dengan banyak jendela disetiap sisinya. Tampak cahaya yang begitu terang namun terasa redup masuk memantul pada setiap barang – barang yang terdapat diruang tamu. Sofa merah dari kain belunru itu terlihat mengkilap saat seberkas sinar menaburi sisinya. Hiasan guci dan seni pahat begitu anggun menghiasi sudut dan dinding ruangan. Ruangan dengan penataan simple.

Tiffany masuk kesebuah ruang privasi setelah kedua kakinya memijaki tangga. Ia memutar kenop pintu berwarna putih. Tertampak ruangan serba pink dengan spring bad disamping pintu serta meja belajar disamping jendela. Ruangan yang rapih namun terasa hampa saat setumpuk Perasaan gusar memenuhi pikirannya. Entah sejak kapan namun perasaan itu membuat Tiffany sontak menghentakkan tubuh letih itu diatas ranjangnya yang empuk. Ia merenggangkkan otot tangangnnya yang kaku kemudian berbaring menatap langit- langit kamar.

Pintu kamar putih dalam kemar itu terbuka kembali. Lagi- lagi memunculkan suara decitan kecil nyaring. Tampak kedua temannya Yuri dan Jessica berjalan menuju kearahnya dengan tatapan cemas.

“Dari tadi saat pelajaran Taeyeon sosaengnim, kau kemana saja ?” Tanya Yuri sembari mendudukkan tubuhnya diatas ranjang diikuti oleh Jessica yang langsung mengambil tempat disamping  Yuri.

Tiffany menghela nafas menerawang plafon kamarnya, “Aku pergi membujuk pemenang kompetisi.”

“Owh, Jadi kau menemui namja menyebalkan itu lagi ? Lalu bagaimana hasilnya ?” Timpal Jessica memasang wajah malas.

“Hasilnya Sama saja, Ia menolak ! Dan aku tidak bisa memaksa dan kalian tahu? Taeyeon Sosaengnim malah menyuruhku membujuknya lagi !”

Wajah Yuri mengerut heran, “Tunggu ! kenapa taeyeon Sosaengnim sangat bersikeras ingin si pemenang kompetisi itu masuk dalam organisasi ?

Tiffany mengindikkan bahu, “Entahlah ! Mungkin karena suaranya merdu dan penghayatannya bagus. Bayangkan ! Park JungSu Sosaengnim saja  sampai menitihkan air mata saat mendengar suaranya. Menakjubkan bukan?”

“Mwo? Park Jung su sosaengnim menitihkan air mata?” Jessica membelakakkan mata.

“Nde.. Tentu saja, aku melihatnya sendiri…”

Jessica menepukkan telapak tangannya, “Benarkah ? Sayang sekali aku duduk dibagian belakang saat kompetisi berlangsung. Kalau aku melihat kejadiannya, pasti sudah ku photo !”

“Untuk apa?!”  seru Yuri dengan kening berkerut.

“Yah untuk mengetahui hubungan semua itu dengan Taeyeon Sosaeongnim. “ Jawab Jessica cepat.

Tiffany menagangkat alis, “Lalu Hubungannya ?”

“Berarti ini semua karena Taeyeon Sosaengnim ingin melatih siswa idola park Jungsu sosaengnim yang tidak lain dan tidak bukan adalah si pemenang kompetisi itu.”

“Memangnya kenapa?”

“Fany-ah jangan bilang kau ketinggalan gossip tentang hubungan Taeyeon Sosaengnim dan Park Jungsu Sosaengnim !

Yuri mengambil sebuah bantal bermotif bunga mawar merah lalu melemparkan benda itu kewajah yeoja berambut curly didepannya, “Yak, Sica-ah, Tiffany bukan tabloid berjalan sepertimu !”

“Sudahlah ! kenapa kita jadi menggosipkan para sosaengnim ?” Tiffany menengahi.

“Lalu kita harus membahas apa? Kesedihanmu karena melihat Sungmin Oppa jadian dengan yeoja lain?” Sindir Jessica membuat perasaan Tiffany kembali bergejolak,  “Yakk ! Jangan mengungkit masalah itu ! Kau ingin kutendang keluar dari kamarku sekarang juga ?! ”

Jessica dan Yuri meringis saling pandang. Mereka tertawa saat melihat Tiffany yang tengah mengerucutkan bibirnya kesal.

………………….

‘Aku berhutang benda padamu ! Temui aku di ruang music saat jam Istirahat tiba…’  

– Tiffany Hwang –

Benda ? Yesung menampakkan raut berpikir keras. Namja itu menatap kembali tulisan  pada robekan kertas sampul coklat muda yang terselip didalam laci mejanya. Sebaris kalimat yang mungkin hanya sebuah pesan angin. Untaian kata tersurat yang cukup membuatnya penasaran. Penasaran dalam arti, lebih kepada maksud si pemilik tulisan.

Beberapa menit waktu yang panjang terlewati. Jam pertama pelajaran Lee sosaengnim pada pagi hari ini telah berakhir. Akhirnya pelajaran bahasa Inggris yang memusiingkan pun terlewati sudah. Yesung segera bangkit dari tempat duduknya saat  teringat pesan robekan kertas dari Tiffany.

Sepasang kaki itu mulai melangkah keluar ruangan.  Yesung berjalan melewati koridor panjang dan berkelok. Beberapa menit kemudian langkahnya terhenti didepan sebuah ruangan. Mata namja itu menyipit saat indra pendengarannya menangkap suara dentingan piano yang tengah mengalun ringan. Ada beberapa lagu yang digabung menjadi satu. When You Wish upon a start, You raise me up, summertime. Beberapa lagu barat  dan mungkin sedikit dikombinasikan dengan musik khas timur tengah.

Benar, dia yang memainkannya. Tiffany menoleh menghentikan permainan pianonya saat menyadari seseorang tengah memperhatikannya. Yeoja itu tersenyum singkat. Ia lantas bangkit dari tempat duduknya.

“Ini aku kembalikan.” Ucap Tiffany mengulurkan tangan yang tengah mengenggam sapu tangan biru, “Ini sapu tangan baru untuk mengganti punyamu yang kotor.”

Yesung menatap bingung uluran tangan Tiffany, “Baiklah ! Karena sudah berniat mengembalikannya, maka kuterima.” Balasnya mengambil sapu tangan tersebut dari genggaman yeoja dihadapannya.

“Gomawo…” ucap Tiffany memperlihatkan puppy eyes.

“Nde…” Yesung menjawab datar kemudian berbalik menuju pintu keluar ruangan.

Tiffany menatap punggung Yesung dalam diam.  Ia menerawang dalam kaca mata batinnya. Ada sorotan berbeda dalam diri namja itu. Entahlah…

“Tunggu !” seru Tiffany menahan langkah namja  yang akan beranjak keluar, “Kau… mm kau tidak ingin meminta maaf padaku ?”

Yesung mengangkat alis. Ia tersenyum mengingat sesuatu. Tersenyum? Namja seperti dia ternyata bisa tersenyum juga !

“Harusnya aku yang bertanya.” Ucap namja itu menjeda, “Apa kau tidak ingin menjawab permintaan maafku yang kemarin ?”

Entah siapa yang benar, Tiffany hanya menatap bingung. Yah, yeoja itu memang belum menjawab kalimat permintaan maaf  dari Yesung kemarin. Tapi apa susahnya mengucapkan kalimat itu kembali?

Tiffany tersontak dalam lamunan panjang saat sebuah tatapan memandang intens kearahnya. Yesung menyipitkan matanya seraya kembali mendekat keposisi dimana Tiffany berdiri. Ia seperti mengamati alis Tiffany yang nyaris bertaut.

“Teruslah bingung seperti itu, jangan menangis lagi… Mianhe.”

Deretan kalimat barusan nyatanya membuat Tiffany terdiam diantara pikirannya yang tumpang tindih. Menerima atau menolak kalimat penyesalan. Yeoja itu bukanlah seorang yang akan memaafkan begitu saja sebelum mencapai tujuan. Akan ada konsekuensi dari setiap perbuatan yang telah diperankan. Sekecil apa pun itu…

“Aku mengerti sikapmu selama ini padaku. Agar aku berhenti membujukmu untuk ikut dalam organisasi itu bukan? Sekarang, aku akan berhenti memintamu untuk melakukan semua itu. Aku akan menerima keputusanmu, menerima kekalahanku. Sebisa mungkin aku akan  berusaha menjelaskan semua ini pada Taeyeon Sosaengnim. Aku tahu kau ingin bahagia dengan caramu…”

Kalimat yang terangkai menjadi satu paragraf pun terhenti. Tiffany menghela nafas. Ia tersenyum singkat seolah senyum tanda perpisahan. Segera yeoja itu melangkah melewati tubuh seorang namja yang masih berdiri kaku.

“Kuharap kita bisa bekerjasama dilain waktu !” Suara Yesung sontak memberhentikan langkah Tiffany sejanak.

“Apakah boleh kukatakan jika aku menunggu untuk itu?” jawab Tiffany melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun.

Cahaya terang beserta helaian sepoi menyambut tubuh tegang Tiffany saat keluar dari ruang musik.  Ia melangkah pelan seraya menggigit bibir bawah penuh keraguan. Keputusannya benar !

Banyak jalan menuju Roma. Cara kasar yang sedikit memaksa telah gagal. Setidaknya masih ada cara yang lebih halus. Terkadang, kau harus memutar balikkan sesuatu agar terlihat kreatif. Yeah tentu !

…………………………

Masih berdiri menatap majalah dinding dihadapannya, Tiffany  menghela nafas senang. Ia baru saja menempelkan sebuah pengumuman penting. Akan diadakan kompetisi menyanyi  yang dikhususkan untuk anggota The Voice SM. Tinggal mencari partner namja. Mengingat Syarat mengikuti lomba selain harus berstatus anggota, peserta juga harus sepasang. Seorang namja dan yeoja.  Tiffany harus berduet dengan Sungmin. Yah itu harus dan ia sangat senang untuk itu.

Bagiamana dengan Sunny ? Ia juga anggota The Voice SM, bukan?

Tenang ! Karena menurut kabar dari Jessica, Sunny sekarang sedang terkena radang tenggorokan.  Mustahil jika Yeojachingu Sungmin itu mengikuti acara kompetisi menyanyi yang akan berlangsung tiga hari mendatang.

Kesempatan itu muncul. Sungmin pasti akan memilihnya…

Dengan langkah penuh keyakinan Tiffany berjalan menuju kelasnya. Ia lantas duduk diatas bangku favoritnya. Bangku dibarisan ketiga samping jendela.  Secercah senyum pun merekah saat Ia mengeluarkan ponselnya.

Tidak ada pesan masuk. Sedikit kecewa. Padahal Tiffany berharap Sungmin akan membahas proyek duet dalam kompetisi itu.

“Jelaskan pada kami ! Kau benar – benar menyukai Yesung ? pemenang kompetisi itu? Bukankah kau membencinya ?” Suara cempreng milik yeoja berkepang dua menggema disepanjang ruangan kelas yang sepi. Dia adalah Jessica temannya.  Jessica masuk kedalam ruangan sembari  berbicara tanpa basa –basi.

Tiffany tersentak saat sahutan suara Jessica menggelegar tanpa permisi. Dengan pertanyaan yang membingungkan pula !

“Tiffany pikirkan lagi ? ! Dia sudah menghina organisasi kita juga berani meremehkanmu ! Lalu kenapa bisa jadian, sih?” Kali ini suara sengau Yuri ikut menimpali.

Benak Tiffany mengganbungkan kedua kalimat desakan dengan tema yang sama. Jadian? Menyukai Yesung? Seolah mengerti, mata Tiffany membulat sempurna, “Si.. siapa bilang ?”

Jessica terlihat melipat kedua tangannya didada. Ia berdiri menyenderkan tubunya pada meja dimana yeoja yang tengah diintrogasi itu duduk, “Berita ini sudah tersebar ! Menurut kabar, Yesung menembakmu dan kau menerima bunganya !  Sungmin Oppa malah mengira bahwa dia adalah namja yang kau sukai !”

Yuri menatap cemas, “Fany-ah, apa itu benar ?”

“Tentu saja hanya gossip ! Mana mungkin itu terjadi?  Aku hanya terlalu kesal hari itu. Entah bagimana, aku  berpapasan dengannya. Aku merebut bunga mawar yang Ia bawa. Kemudian saat Sungmin Oppa dan teman – temannya mendekat, aku pun bertingkah seolah namja bernama Yesung itu sedang memohon agar aku menerima cintanya.” Tiffany melihat kerut samar menghiasi kening kedua temannya. Buru – buru ia menambahkan, “Aku hanya ingin memberi pelajaran pada namja itu. Ternyata dampaknya jadi sejauh ini !”

Jessica terdengar menghembuskan nafas kasar, “Ini juga akibat ulahmu ! Yang kudengar lagi  kemarin, disepanjang  koridor sekolah, Kalian terlihat sedang berjalan bersama dan dia merangkulmu.”

“Tenanglah ! Aku hanya ingin memanas – manasi Sungmin Oppa ! Kalian pasti tahu jika aku begitu kecewa karena Sungmin Oppa jadian dengan Sunny. Ah, Yesung menyukai Sunny.  Namja itu juga kecewa dengan Sunny. Kami sama kecewanya. Bisa dikatakan ini seperti simbiosis mutualisme. ” Jelas Tiffany meringis kaku.

Suasana hening. Tak lama raut wajah Jessica dan Yuri akhirnya mencelos lega, “Syukurlah kalau begitu. Jadi berita itu tidak benar?”

Tiffany mengangguk meyakinkan.

“My gosh, aku bisa gila ! Jangan sampai kau berhubungan dengan orang seperti dia !” Keluh Jessica dengan tatapan dinginnya. Tatapan yang entah mengapa membuat Tiffany ketakutan sendiri.

Tiffany takut…

Tidak ! Ia tidak boleh takut. Tentang mawar pertama. Yesung dan cinta sejati. Itu hanya mitos bualan…

Ini hanya menyangkut profesionalitas-nya sebagai siswi kepercayaan Taeyeon Sosaengnim. Tiffany mendekati Yesung juga karena permintaan Taeyeon Sosaengnim. Jadi tidak ada setitik pun niat  untuk  dirinya jatuh cinta kepada orang seperti Kim Jong Woon.

……………TBC..…………

17 thoughts on “SuGen FF Yefany – Rose for Love (Part 2)

  1. lulu_paramita berkata:

    huaaa kisah cinta Fany Eon kekna agak2 complicate gemanaaaaaa gt.
    Cintanya b’tepk sebelah tangan.
    Skalinya ska ama cowok, eh mlah takt diomelin temennya ck… Kesian. -_-
    part ini keren! Lnjt dong part 3 cptan.

  2. kim eun sub berkata:

    DAEBAK ! Tiffany udah percy ama tuh mitos hehe.udah eon si Yeye emang cinta sejatimu terima aja >< update kilat please!

    • nanashafiyah berkata:

      iyyya sama2 ^_^
      kalo reader senang aku jg ikut senang hehe><
      kebetulan aku ngeship yefany n kbetuln jg lg niat(?) nulis, jdi deh tulisan ini =D
      gomawo y udh mampir ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s